Anda di halaman 1dari 15

1

PUSAT PERTANGGUNGJAWABAN
KEUANGAN

usat pertanggungjawaban merupakan organisasi yang dipimpin oleh seorang manajer


yang pertanggungjawaban terhadap aktivitas yang dilakukan. Pada hakikatnya,

perusahaan merupakan sekumpulan pusat-pusat pertanggungjawaban, yang masing-masing


dipresentasikan oleh sebuah kotak dalam bagan organisasi. Pusat pertanggungjawaban
muncul guna mewujudkan satu atau lebih tujuan, yang disebut objective (tujuan jangka
pendek). Banyak organisasi mengendalikan perilaku dari karyawan-karyawannya,
khususnya manajernya melalui sistem pengendalian hasil finansial. Pada sistem ini, hasil
didefinisikan dalam istilah moneter, seperti pendapatan, biaya, keuntungan, dan tingkat
pengembalian.
Pusat-pusat tanggung jawab menerima masukan, dalam bentuk material-material,
kerja, dan jasa. Dengan menggunakan kapital (seperti, inventaris), perlengkapan dan asetaset lainnya , pusat pertanggungjaaban bekerja dengan fungsi-fungsi tertentu dengan tujuan
objektifnya adalah untuk mentransformasikan input menjadi output, baik yang bersifat
nyata (seperti: barang-barang) atau bersifat tidak nyata (seperti: jasa). Dalam sebuah
pabrik, outputnya bersifat barang. Dalam unit-unit staf, seperti sumber daya manusia,
transportasi, pencatatan dan administrasi, maka outputnya berbentuk jasa.

Produk yang dihasilkan bisa saja kemudian diserahkan ke divisi lain, dimana produk
itu kemudian menjadi input bagi divisi penerima, atau juga bias dilempar kepasar, dimana

kemudian produk tersebut menjadi output organisasi perusahaan secara keseluruhan.


Adalah lebih mudah untuk mengukur biaya input daripada untuk menghitung nilai output.

KEUNTUNGAN DARI SISTEM PENGENDALIAN HASIL KEUANGAN


Beberapa alasan yang baik menjelaskan sistem pengendalian hasil keuangan dalam
organisasi.

Tujuan keuangan sangat berpengaruh pada perusahaan yang berorientasi laba. Laba dan
arus kas menentukan kelangsungan hidup perusahaan.

Ukuran keuangan menyediakan suatu ringkasan komprehensif (menyeluruh) dari


kinerja perusahaan, sehingga meningkatkan daya banding dari dampak atas inisiatif dan
mengurangi kemungkinan sinyal yang bertentangan dengan kepentingan mereka.

Kebanyakan ukuran keuangan itu relatif tepat dan objektif.

Pengendalian hasil keuangan dapat menyediakan suatu bentuk pengendalian


manajemen yang tidak kentara.

Pengendalian hasil keuangan dapat digunakan secara luas.

Biaya dari penerapan hasil keuangan biasanya relatif kecil dibandingkan bentuk-bentuk
pengendalian manajemen lainnya.

Sistem pengendalian hasil keuangan memiliki 3 elemen inti yaitu:


1. Pusat-pusat pertanggungjawaban keuangan, yang mendefinisikan pembagian secara
adil terhadap hasil-hasil keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan dalam suatu
organisasi.
2. Sistem perencanaan dan pengendalian, serta proses manajemen formal lainnya,
yang digunakan untuk sejumlah pengendalian yang berhubungan dengan tujuan
termasuk

pengaturan

sasaran-sasaran

kinerja

dan

standar-standar

untuk

mengevaluasi kinerja.
3. Kontrak insentif, yang mendefinisikan hubungan antara hasil dengan bermacammacam pemberian imbalan dan hukuman organisasi. Sistem pengendalian hasil

keuangan juga bergantung pada apa yang biasanya disebut sebagai pengendalian
internal, yang mempercayai keandalan dari informasi organisasi.
JENIS-JENIS PUSAT PERTANGGUNGJAWABAN
Pusat pertanggungjawaban keuangan adalah pusat pertanggungjawaban dimana
tanggung jawab setiap individu didefinisikan setidaknya sebagian dalam istilah keuangan.
Empat jenis pusat pertanggungjawaban yang dapat dibedakan: pusat investasi, pusat
pendapatan, pusat laba, dan pusat biaya. Terdapat empat jenis pusat pertanggungjawaban
keuangan, yaitu :
Pusat Investasi
Pusat investasi adalah pusat pertanggungjawaban
dimana

manajer

memegang

pertanggungjawaban

terhadap pendapatan, biaya dan tingkat pengembalian


investasi. Sebagai contoh, wakil direktur Divisi Truk
di General Motors memiliki wewenang yang sangat
besar atas investasi di divisi tersebut. Wakil direktur
ini bertanggung jawab terhadap pengajuan proposal investasi, seperti mendanai
penelitian mesin-mesin yang lebih irit bahan bakar untuk mobil-mobil olahraga.
Setelah proposal tersebut disetujui oleh manajer punak dan dewan komisaris
General Motors wakil direktur Divisi Truk selanjutnya akan bertanggungjawab
untuk memastikan bahwa investasi tersebut dapat memberikan hasil.
Pusat Laba
Merupakan

pusat

pertanggungjawaban

dimana

manajer

memegang

pertanggungjawaban atas laba maupun biaya. Manajer pusat laba tidak memiiki
kendali atas dana-dana investasi. Sebagai
contoh, manajer yang bertugas di salah
satu

taman

bermain

bertanggungjawab

terhadap

Six

Flags

pendapatan

maupun biaya, tapi tidak memiliki kendali

atas investasi utama di taman. Manajer pusat laba sering kali dievaluasi dengan
membandingkan laba aktual dengan laba yang ditargetkan atau dianggarkan.
Pusat Pendapatan
Pusat pendapatan adalah pusat pertanggungjawaban dimana manajer
memegang tanggung jawab akan menghasilkan pendapatan yang merupakan
ukuran output keuangan. Jika pengeluaran sesuai dengan penghasilan, maka unit
tersebut akan menjadi pusat laba. Pada hakikatnya, pusat
pendapatan merupakan unit-unit pemasaran/penjualan
(memiliki toritas atas penjualan saja) yang tak
memiliki wewenang untuk menetapkan harga jual
dan tidak bertanggung jawab atas harga pokok barangbarang yang mereka pasarkan. Penjualan dan pesanan aktual di ukur terhadap
anggaran dan kuota, dan manajer harus terbuka terhadap biaya yang terjadi secara
langsung didalam unitnya; akan tetapi tolak ukurnya adalah pendapatan.
Pusat Biaya
Merupakan
dimana
beberapa

manajer

pusat

pertanggungjawaban

bertanggung

elemen-elemen

dari

jawab
biaya

untuk
atau

pengeluaran. Biaya dan pengeluaran diukur


dalam bentuk uang, namun output tidak diukur
dalam cara yang sama. Pembagian pusat biaya
yaitu:

Pusat biaya teknik/standar (standard or engineered expense center), adalah


elemen biaya yang benar-benar terjadi dan dapat diukur secara pasti/tepat
karena mempunyai hubungan yang erat dengan output yang dihasilkan.
Misalnya: bahan baku, upah tenaga kerja, bahan bakar habis pakai, bahanbahan pembantu lainnya. Ciri-ciri pusat biaya teknik:
a. Input-nya dapat diukur secara moneter
b. Input-nya dapat diukur secara fisik

c. Jumlah rupiah optimal dan input yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1


unit output, dapat ditentukan.

Pusat biaya kebijakan, adalah biaya yang sebagian besar yang terjadi tidak
mempunyai hubungan yang erat dengan output yang dihasilkan. Ada beberapa
pembagian pusat biaya kebijakan yaitu:

MEMILIH

Pusat biaya administrasi dan umum

Pusat biaya penelitian dan pengembangan

Pusat biaya pemasaran

PUSAT

PERTANGGUNGJAWABAN

FINANSIAL

YANG

DIGUNAKAN
Pertanyaan penting untuk menjawab hal ini adalah: yang mana manajer harus
pertanggungjawabkan; untuk bagian laporan keuangan yang mana? pilihan-pilihan ini
sangatlah penting karena mempengaruhi perilaku manajer unutk memperhatikan ukuran
dimana mereka bertanggungjawab. Dari sudut perilaku, jawaban dasar dari pertanyaan di
atas sangat to the point, yakni secara terang-terangan mengharapkan para manajer dapat
bertanggung jawab untuk macam-macam item yang anda ingin mereka berikan
perhatiannya.
Pada tingkat yang luas, struktur pusat pertanggungjawaban keuangan kebetulan sama
dengan otoritas para manajer. Area-area otoritas yang didefinisikan oleh struktur dan
kebijakan organisasi yang mendefinisikan hak dan kewajiban manajer untuk membuat
keputusan tertentu. Keputusan mengenai struktur organisasi tidak perlu mendahului
keputusan-keputusan mengenai jenis-jenis pusat pertanggungjawaban yang seharusnya
digunakan; keputusan struktur pertanggungjawaban mungkin yang pertama kali
diputuskan.

MASALAH HARGA TRANSFER

Arti Luas
Harga produk / jasa yang
ditransfer antar pusat
pertanggungjawaban dalam
perusahaan.

Harga
Transfer

Arti Sempit
Harga produk / jasa yang
ditransfer antar pusat laba dalam
1 perusahaan.

Dalam transfer barang atau jasa ada 2 macam keputusan :


1. Keputusan Pemilihan Sumber (Sourcing Decision)
Keputusan mau membeli sumber dari dalam perusahaan atau dari luar perusahaan
2. Keputusan Penentuan Harga Transfer (Transfer Pricing Decision)
Jika dipilih keputusan membeli dari dalam, akan timbul keputusan berikut : Pada
harga berapa harga transfer diterapkan ?

Istilah harga transfer dijumpai pada perusahaan yang organisasinya berbentuk


desentralisasi dan disusun menurut pusat laba. Pusat laba (atau investasi) sering memasok
produk dan jasa ke pusat laba atau investasi lainnya dalam perusahan yang sama. Ketika
hal itu terjadi ada mekanisme untuk menetapkan harga transfer.
Karena organisasi perusahaan bersifat desentralisasi maka keputusan untuk
menentukan biaya produksi dan harga jual produk adalah menjadi wewenang masingmasing divisi, meskipun tidak mutlak. Untuk itu, dalam hal terjadinya transaksi antar divisi
(transfer pricing) sebaiknya perusahaan (kantor pusat) tidak melakukan intervensi, karena
masing-masing divisi akan diukur kinerjanya dari perolehan laba masing-masing divisi.

Adanya transfer barang dan jasa dihubungkan dengan proses deferensiasi bisnis dan
karena perlunya integrasi dalam organisasi yang telah melakukan diferensiasi bisnis.
Diferensiasi bisnis = diversifikasi jalan yang dibuat seorang manajemen saat ia
menghadapi banyak ketidakpastian, sehingga resiko bisnis meningkat, sehingga untuk
menurunkan resiko, ia membuat diversifikasi. Diversifikasi biasa ditempuh melalui proses
divisonalisasi (proses pembentukan divisi-divisi yang berperan sebagai pusat laba, yang
diserahi fungsi produksi, pemasaran dan diberi tanggung jawab untuk hasilkan laba yang
sepadan dengan investasi yang ditanam dalam bisnis divisi).
Harga transfer pada hakikatnya memiliki tiga karakteristik berikut ini:
Masalah harga transfer hanya timbul jika divisi yang terkait diukur kinerjanya
berdasarkan atas laba yang diperoleh mereka dan harga transfer merupakan unsur
yang signifikan dalam membentuk biaya penuh produk yang diproduksi di divisi
pembeli.
Harga transfer selalu mengandung unsur laba di dalamnya.
Harga transfer merupakan alat untuk mempertegas diversifikasi dan sekaligus
mengintegrasikan divisi yang dibentuk.
Harga transfer

secara langsung mempengaruhi pendapatan dari pusat laba

penjualan (memasok), biaya untuk pusat laba pembelian (menerima), dan akibatnya
terhadap keuntungan dari kedua pusat laba tersebut. Dampak dari harga transfer tergantung
pada besarnya jumlah transfer internal relatif terhadap ukuran setiap entitas.
Ketika jumlah transfer signifikan, kegagalan untuk mengatur harga pengalihan hak
dapat memiliki efek negatif yang signifikan pada sejumlah keputusan penting, termasuk
tentang jumlah produksi, sumber pengadaan, alokasi sumber daya, dan evaluasi dari
manajer dari kedua penjualan dan keuntungan membeli pusat.
Tujuan Harga Transfer
Harga transfer mempunyai tujuan yang banyak, tergantung pada situasi dan tujuan
ini sering terjadi konflik. Tujuan dari harga transfer antara lain:

Menyediakan sinyal ekonomi yang layak sehingga manajer yang terpengaruh akan
membuat keputusan ekonomi yang baik. Secara khusus, harga harus benar
mempengaruhi keputusan manajer pusat laba penjualan tentang berapa banyak
produk/jasa yang dipasok secara internal dan keputusan manajer pusat laba
pembelian tentang berapa banyak produk atau jasa yang dibeli secara internal.

Harga transfer dan pengukuran laba sesudahnya harus menyediakan informasi


yang berguna untuk mengevaluasi kinerja dari pisat laba dan manajernya. . Harga
transfer secara langsung mempengaruhi keuntungan dari kedua entitas baik
penjualan maupun pembelian

Harga transfer dapat ditetapkan untuk memundahkan laba antara kesatuan


perusahaan atau lokasi. Tujuan ini berhubungan dengan penghematan pajak.

Mengurang resiko moneter

Mengatrol kreditabel asosiasi

Mengamankan posisi kompetitif anak/ cabang perusahaan dan penetrasi pasar

Mengurangi resiko pengambilalihan oleh pemerintah

Beberapa tujuan harga transfer ini sering mengalami pertentangan. Kecuali dalam
keadaan yang langka, manajer dipaksa untuk membuat pengorbanan karena tidak ada
satu pun metode harga transfer yang melayani semua tujuan dengan baik. Campur
tangan harga transfer melemahkan manfaat dari desentralisasi. Harga transfer
mengurangi kebebasan pusat laba dan menyebabkan kompleksitas dan penundaan
dalam pengambilan keputusan, serta juga meningkatkan biaya organisasi, terutama
dalam hal manajemen waktu yang dibutuhkan untuk meninjau fakta-fakta dari situasi.
Alternatif dari Harga Transfer
Kebanyakan perusahaan menggunakan lima jenis harga transfer, yaitu:
Harga Transfer berdasarkan Harga Pasar (Market-Based Transfer Pricing)
Harga yang dikenakan secara internal biasanya identik dengan harga
yang dikenakan ke pelanggan luar, meskipun beberapa perusahaan menerapkan
diskon atas harga pasar untuk mencerminkan ekonomi dari perdagangan antar

divisi didalam suatu perusahaan. Metode ini merupakan ukuran profitabilitas


dan kinera yang paling baik karena objektif. Sehubungan dengan situasi langka
dimana pasar persaingan sempurna terjadi untuk perdagangan produk dan jasa,
merupakan hasil yang optimal untuk pengambilan keputusan dan evaluasi
kinerja yang bertujuan untuk menetapkan harga transfer berdasarkan harga
pasar kompetitif.
Banyak perusahaan menggunakan quasi harga transfer berdasarkan harga
pasar dengan membiarkan penyimpangan dari harga pasar yang diamati.
Penyimpangan tersebut memungkinkan penyesuaian yang mencerminkan
perbedaan antara penjualan internal dan eksternal. Perbedaan ini dapat
mencerminkan penghematan dari pemasaran, penjualan, dan biaya yang
terkumpul. Penyesuaian harga pasar juga dapat mencerminkan keyakinan bahwa
harga yang diambil oleh pemasok eksternal bukan harga kompetitif yang
berkelanjutan.

Harga Transfer Biaya Marginal (Marginal cost transfer prices)


Ketika produk dan jasa setengah jadi ditukar pada biaya marginalnya,
adalah mudah untuk menetapkan kontribusi total yang dihasilkan oleh barang
dan jasa oleh perusahaan dalam keseluruhan. Total kontribusi yang dihasilkan
oleh produk atau jasa akhir kepada perusahaan secara keseluruhan hanya sama
dengan harga jual produk atau jasa akhir dikurangi biaya marjinal dari produksi
atau tahap proses pelayanan akhir. Metode ini langka digunakan terutama
disebabkan oleh fakta bahwa transfer biaya marjinal memberikan informasi
yang buruk untuk mengevaluasi kinerja ekonomi baik pusat laba penjualan
maupun pembelian, dan relatif sedikit perusahaan yang dapat mengukur biaya
marjinal secara akurat. Perusahaan yang menggunakan harga transfer
berdasarkan biaya marjinal biasanya menentukan biaya marjinal sebagai biaya
variabel standar, tetapi tidak ada perbedaan yang jelas antara biaya tidak
langsung variabel dan tetap.
Meskipun ini mungkin menjadi fitur menarik dari perspektif akuntansi
biaya, dan kadang-kadang dari perspektif penetapan harga untuk keputusan

10

harga jangka pendek, hal ini menciptakan masalah bila dilihat dari perspektif
pusat pertanggungjawaban. Alasannya adalah bahwa total kontribusi tidak
mudah dilacak pada setiap perusahaan yang memasok, entitas pemasok bahkan
memulihkan biaya penuh mereka, yang membuat perusahaan mungkin saja
untuk mengevaluasi mereka sebagai pusat keuntungan.
Harga Transfer Biaya Penuh (Full cost transfer prices)
Metode harga transfer biaya penuh sangat terkenal, harga transfer ini
digunakan oleh 40% perusahaan yang disurvei. Harga transfer berdasarkan
biaya penuh menawarkan beberapa keuntungan.

Pertama,

menyediakan

ukuran yang kelangsungan hidupnya dapat bertahan dalam jangka yang


panjang. Kedua, harga transfer berdasarkan biaya penuh relatif mudah
diterapkan karena perusahaan memiliki sistem di tempat untuk menghitung
biaya produksi penuh. Akhirnya, harga transfer berdasarkan biaya penuh yang
tidak menyimpang untuk tujuan evaluasi karena pusat laba atas penjualan
diperbolehkan untuk memulihkan setidaknya biaya produksi total.
Harga transfer ini juga memperbolehkan penjualan pusat laba untuk
memperoleh keuntungan dalam internal perusahaan. Harga transfer ini juga
menyediakan perkiraan harga transfer yang dapat digunakan pada situasi
dimana harga pasar kompetitif tidak ada.
Dalam penentuan harga transfer berdasarkan biaya, terdapat berbagai
pilihan tipe biaya yang digunakan sebagai dasar: biaya sesungguhnya atau biaya
standar. Tipe biaya manapun yang dipilih, biaya penuh yang dipakai sebagai
dasar penentuan harga transfer dapat direkayasa dengan salah satu dari tiga
metode biaya: full costing, variable costing, activity based costing.
Harga Transfer Negoisasi (Nagotiated transfer prices)
Alternatif harga transfer yang cukup populer digunakan oleh 22%
perusahaan yang merespon survei. Harga transfer ini mengijinkan penjualan dan
pembelian manajer pusat laba untuk bernegoisasi diantara pusat-pusat
pertanggungjawaban lainnya. Hal ini memberikan kepada manajer tingkat

11

wewenang dan pengendalian yang paling besar atas laba dari unit mereka.
Kebijakan ini bisa efektif jika kedua pusat laba memiliki beberapa daya tawar,
yaitu pusat laba penjualan memiliki beberapa kemungkinan untuk menjual
produknya di luar perusahaan dan pusat laba pembelian memiliki beberapa
sumber pasokan dari luar. Manajer juga harus memperhatikan biaya dan kondisi
pasar.
Namun, harga transfer negosiasi dapat menyebabkan beberapa masalah.
Pertama, negosiasi harga dari sejumlah transaksi yang berpotensi besar dalam
hal manajemen waktu adalah mahal, dan juga memerlukan pemeriksaan ulang
dan revisi harga yang cukup sering. Kedua, negosiasi sering menimbulkan
konflik antara manajer pusat laba. Harga transfer berdasarkan negosiasi sering
kali membelokkan usaha manajer divisional dari aktifitas-aktifitas produktif
yang sebenarnya menjadi kepentingan perusahaan ke aktifitas-aktifitas yang
memberikan manfaat bagi divisi tersebut. Dan ketiga, hasilnya sering tergantung
pada kemampuan negosiasi dan daya tawar dari para manajer yang terlibat, dan
hasil akhir mungkin tidak mendekati optimal secara ekonomi. Selain itu, karena
harga transfer tersebut mencakup markup laba, maka biaya aktual dari produk
final dapat menjadi sulit untuk di tentukan, dan laba antar divisi dalam suatu
perusahaan harus dieliminasi dari persediaan untuk laporan keuangan dan retur
pajak penghasilan konsolidasi.
Variasi Lainnya
1. Salah satu variasi harga transfer yang lain, yaitu berdasarkan biaya marjinal
ditambah biaya lump-sum tetap. Biaya lump-sum ini dirancang untuk
mengkompensasi pusat laba penjualan untuk mengikat beberapa kapasitas
tetap untuk memproduksi produk yang ditransfer secara internal. Masalah
utama dengan metode biaya marjinal ditambah biaya lump-sum adalah
bahwa manajer yang terlibat harus menetapkan sebelumnya biaya lump-sum
berdasarkan perkiraan kapasitas bahwa setiap pelanggan internal akan
membutuhkannya pada periode yang akan datang.

12

2. Harga transfer dengan tarif ganda, dimana pusat laba penjualan dikreditkan
dengan harga pasar, tetapi pusat laba pembelian membayar hanya biaya
produksi marjinal (atau penuh). Harga transfer dengan tarif ganda memiliki
dua keuntungan dasar, yaitu :
Para manajer baik dari pusat laba penjualan dan pembelian menerima
petunjuk ekonomi yang tepat untuk pengambilan keputusan mereka,
Memastikan bahwa transaksi internal akan berlangsung, sehingga
memungkinkan untuk mempertahankan proses produksi yang terintegrasi
secara vertikal.
Namun, harga transfer dengan tarif ganda tidak umum digunakan karena
beberapa alasan, yaitu :
Harga transfer dengan tarif ganda dapat menghancurkan insentif internal
yang tepat dari entitas ekonomi.
Sering sulit untuk menjelaskan kepada manajer pusat laba bagaimana
penghitungan ganda telah melebih-lebihkan keuntungan pusat laba mereka,
namun keuntungan tersebut kadang-kadang menyebabkan manajer pusat
laba menuntut kompensasi yang sepadan.

3. Harga transfer arbitrer, harga ditetapkan oleh manaemen pusat. Harga


tersebut umumnya dipilih untuk meminimalkan pajak atau tujuan tingkat
perusahaan lainnya. Keuntungan dari metode ini adalah bahwa suatu harga
dapat ditetapkan sedemikian rupa sehingga akan mencapai tujuan yang
dianggap paling penting oleh manajemen pusat. Sedangkan kerugiannya
adalah metode ini dapat mengalahkan tujuan penting dari desentralisasi
tanggungjawab atas laba-membuat karyawan divisional sadar akan laba.
Metode ini juga sangat menghambat otonomi dan insentif laba bagi manajer
divisi.
Karena harga transfer arbitrer umumnya mencakup markup, maka
menentukan biaya actual dari produk final dapat menjadi sulit, dan laba
antar divisi dalam satu perusahaan harus dieliminasi untuk laporan keuangan
dan retur pajak penghasilan konsolidasi.

13

Penggunaan Secara Bersama-sama dari Berbagai Metode Harga Transfer


Ketika perusahaan menggunakan secara bersama-sama berbagai metode harga
transfer, mereka biasanya menggunakan salah satu metode untuk tujuan internal
(baik pengambilan keputusan dan evaluasi) dan metode lain untuk memindahkan
keuntungan diantara yurisdiksi pajak. Tetapi, sering merupakan hal yang sulit untuk
menggunakan metode ini untuk tujuan di atas karena hukum memaksakan
ketidakleluasaan perusahaan yang beroperasi di banyak negara. Lebih mudah bagi
manajer untuk mengklaim bahwa mereka tidak memanipulasi laporan laba-rugi
untuk menghindari pajak jika mereka menggunakan metode harga transfer yang
sama untuk tujuan pajak seperti yang digunakan untuk keperluan internal.

14

DAFTAR PUSTAKA

Merchant, Kenneth A, Wim A. Van der Stede, Management Control System, 3rd ed.,
Pearson.
Anthony, Robert N., Vijay Govindarajan, Sistem Pengendalian Manajemen, Buku 1.,
Salemba Empat, Jakarta:2002.
Hansen, Don R Maryanne M. Mowen, Management Accounting, Buku 2, Edisi 7, Salemba
Empat, Jakarta:2005.
Garrison, Ray H, Eric, Peter. Managerial Acounting, Buku 2, Edisi 11, Salemba Empat,
Jakarta:2007.
Carter, William K. Carter, Milton Usry, Akuntansi Biaya, Buku 2, Edisi 13, Salemba
Empat, Jakarta:2005.
Gudono, Akuntansi Manajemen, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta:1993.
http://www.academia.edu/5361005/Transfer_Pricing_Especially_in_Indonesia_
http://dhedee29.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/34457/TRANSFER+PRICE.pdf
http://hpcrates.blogspot.com/2012/04/pusat-pertanggungjawaban-keuangan-dan.html
http://cafe-ekonomi.blogspot.com/2009/11/makalah-pusat-pertanggungjawabanunsur.html
http://sondis.blogspot.com/2013/03/pengertian-harga-transfer-transfer.html
http://pojokinfo.wordpress.com/2008/03/03/penetapan-harga-transfer-dalammeningkatkan-laba-perusahaan/

15