Anda di halaman 1dari 14

BAB II

KASUS

Pada kasus ini akan dibahas mengenai pasien yang mengalami infark miokard
dengan ST elevasi (STEMI)
DATA PASIEN
Nama

: Tn. S

Umur

: 52 tahun

Alamat

: Tegalan 1/4 Keteguhan Tawangsari, Sukoharjo

Tanggal Masuk

: 20-06-2014, Jam 10:32:05 WIB

KELUHAN UTAMA
Nyeri dada / Chest Pain
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang dengan keluhan nyeri dada sebelah kiri dan sifat nyeri yang
dirasakan sangat intens
Keadaan Umum

: Composmentis

Vital Sign

: Tekanan darah : 110/ 80 mmHg

Pemeriksaan Fisik

Kepala

: Dalam batas normal

Leher

: Dalam batas normal

Thorak

: Dalam batas normal

Abdomen

: Dalam batas normal

Ekstemitas

: Dalam batas normal

Diagnosis dokter IGD : Iskemik Heart Disease (IHD)


Tindakan dari dokter IGD

1. 02 3L/ menit
2. Infus RL 20 Tpm
3. Injeksi antalgin 1g /12 jam
4. Injeksi ranitidin 1 amp/12 jam
5. ISDN 3 x 1 peroral
6. Aspilet 1 x 1 peroral
HASIL ANAMNESIS
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :


1.Riwayat penyakit serupa

: disangkal

2.Riwayat hipertensi

: disangkal

3.Riwayat diabetes melitus

: diakui

4.Riwayat penyakit jantung

: disangkal

5. Riwayat stroke

: disangkal

Riwayat Pribadi :
Tidak ada
Follow up hari pertama 20/6/2014
S:
Dada sebelah kiri sakit seperti ditusuk-tusuk. Miring ke kiri nyeri. Nyeri
kadang berpindah ke dada kanan. Mual (-), Muntah (-), Pusing (-).

O:
Keadaan Umum

: Composmentis

Kepala
Conjungtiva Anemis : (-/-)
Sklera Ikterik

: (-/-)

Pupil

: Isokor / Isokor

Reflek cahaya

: (-/-)

Leher
Kelenjar getah bening

: Tidak ada pembesaran

Kelenjar Thyroid

: Tidak ada pembesaran

JVP

: Tidak ada peningkatan vena jugularis

Thoraks
Pulmo : Suara dasar vesikuler (SDV) (+/+), Wheezing (-/-), Ronki (-/-)
Cor

: Bunyi jantung I/II reguler

Abdmen
Supel (+), Bunyi usus / peristatik usus (+)
-

Ektremitas

Akral hangat, oedem

Pemeriksaan Laboratorium
Paket Darah Lengkap
Leukosit

: 19.6 X 103/uL

Eritrosit

: 4.8 X 106/ uL

Hemoglobin

: 14 g/dL

Hematokrit

: 40%

Indeks Eritrosit
MCV

: 84

MCH

: 29

MCHC

: 35

Trombosit

: 299 X 103/uL

RDW-CV

: 13.1 %

PDW

: 9.5 fL

MPV

: 9.4 fL

P-LCR

: 19.8 %

PCT

: 0.3%

Diff Count
NRBC

: 0.00%

Neutrofil

: 78%

Limfosit

: 14.50%

Monosit

: 7.30%

Eosinofil

: 0.10%

Basofil

: 0.20%

IG

: 0.40%

Golongan darah : O
Kimia Klinik
Gula Darah Sewaktu

: 127 mg/ dL

Ureum

: 34.7 mg/ dL

Kreatinin

: 0.78 mg/ dL

SGOT

: 415.24 U/L

SGPT

: 131.1 U/L

SERO IMUNOLOGI
HBs Ag

: Negatif

A: Berdasarkan anamnesis didapatkan keluhan :


1. Dada sebelah kiri sakit seperti ditusuk
nyeri dada seperti tertusuk salah satunya nyeri dada viseral. Organ yang
sering terlibat dengan nyeri viseral adalah jantung, pembuluh darah,
eosofagus dan pleura viseral. Gambaran nyeri dada seperti tertusuk,
tertekan, sesak merupakan gejala klasik dari iskemik miokard (Kelly,
2007). Iskemik yang terjadi pada otot miokardium akibat kebutuhan
oksigen melebihi kapasitas suplai oksigen oleh pembuluh darah. Nyeri
yang timbul saat terjadi iskemik miokard akibat reseptor saraf nyeri
terangsang oleh metabolit yang tertimbun atau oleh suatu zat kimia yang
belum diketahui, atau oleh stres mekanik lokal akibat kelainan kontraksi
miokardium (Brown, 2006).
2. Miring ke kiri nyeri
Nyeri yang terjadi saat tubuh miring kekiri dapat menambah beban kerja
jantung karena jantung tertekan oleh tubuh dan dapat memberatkan kerja
jantung saat berkontraksi.
3. Nyeri kadang berpindah ke dada sebelah kanan
Dari beberapa manifestasi klinis di atas dapat kita peroleh beberapa DD yang
mengarah pada keluhan keluhan tersebut yaitu:
Angina pektoris tak stabil
Infark Miokard akut dengan ST elevasi
Infark Miokard Akut tanpa ST elevasi
Untuk menegakkan diagnosis selain anamnesis dan pemeriksaan fisik perlu
dilakukan pemeriksaan penunjang. Yaitu dapat dilakukan pemeriksaan EKG, dan
melakukan pemeriksaan enzim jantung sebagai petanda (biomaker) kerusakan jantung
antara lain kreatinin kinase (CK) MB dan cardiac spesific troponin I ( cTn I). Pada
pasien ini untuk mendiagnosis penyakit yang diderita cukup dengan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan EKG. Pemeriksaan enzim jantung pada pasien ini
tidak bisa dilakukan karena RSUD Sukoharjo tidak memiliki fasilitas untuk
melakukan pemeriksaan enzim jantung. Tetapi, pemeriksaan lain untuk menandai

adanya iskemik atau infark pada sel jantung dapat dilakukan yaitu dengan melakukan
pemeriksaan SGOT. SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) merupakan
enzim yang biasanya ditemukan dalam sel-sel hati dan jantung. SGOT dilepaskan
dalam darah jika terjadi kerusakan pada hati dan jantung sehingga kadar dalam darah
SGOT meningkat. SGOT meningkat dalam darah apabila terjadi kerusakan hati
(misalnya hepatitis) atau kerusakan pada jantung (serangan jantung).
Menurut WHO, pada penderita yang dicurigai adanya infark miokard akut
diagnosis tegak jika ada 2 faktor berikut, yaitu:
1. Adanya nyeri dada yang spesifik
2. Terjadi perubahan EKG yaitu adanya gelombang Q patologis dengan
elevasi segmen-ST
3. Peningkatan kadar enzim pada jantung
Untuk menyingkirkan Diagnoss Banding (DD) pada pasien ini adalah dapat kita lihat
dari pemeriksaan EKG yang dilakukan. Pada penderita angina pektoralis tak stabil,
hasil EKG tidak spesifik, pada penderita NSTEMI menunjukkan ST depresi +/- dan
gelombang T inversi sedangkan pada penderita STEMI adanya elevasi pada
gelombang ST dan biasanya kadang timbul gelombang Q patologis (Mukau, 2011).
ST Elevasi Infark Miokard Akut Anteroseptal
Tatalaksana : dokter IGD

Tujuan

02 3L/ menit

Untuk mengatasi keadaan hipoksemia,


menurunkan

kerja

pernafasan,

menurunkan beban kerja otot Jantung


(miokard)
Infus RL 20 Tpm

Merupakan

larutan

isotonis

untuk

menjaga stabilitas cairan elektrolit


Antalgin 1 gr /12 jam

Sebagai analgetik antipiretik untuk


nyeri akut hebat sesudah luka atau
pembedahan, nyeri karena tumor atau
kolik, nyeri hebat akut atau kronik bila
analgesik lain tidak menolong dan
demam tinggi yang tidak bisa diatasi

dengan antipiretik lain.


Ranitidin 1 amp/12 jam

Untuk mengatasi efek samping dari obat


ISDN, aspilet, antalgin yaitu memberi
rasa mual, muntah dan nyeri perut.

ISDN 3 x 1 peroral

Untuk pengobatan angina, merupakan


vasodilator koroner yang poten dan
manfaat utamanya adalah mengurangi
alir balik vena sehingga mengurangi
beban ventrikel kiri

Aspilet 1 x1 peroral

Untuk mencegah terbentuknya trombus


yaitu dengan menghambat aggregasi
trombosit

Follow up hari pertama 20/6/2014, Jam 13.15 phone dr. Rosa Sp.Pd
S:
Sesak nafas (+) menurun, nyeri dada saat bergerak dan miring kekiri.
O:
Keadaan umum: Lemah
Vital Sign: TD: 110/80 mmHg
Kepala
Conjungtiva Anemis : (-/-)
Sklera Ikterik

: (-/-)

Pupil

: Isokor / Isokor

Reflek cahaya

: (-/-)

Leher
Kelenjar getah bening

: Tidak ada pembesaran

Kelenjar Thyroid

: Tidak ada pembesaran

JVP

: Tidak ada peningkatan vena jugularis

Thoraks
Pulmo : Suara dasar vesikuler (SDV) (+/+), Wheezing (-/-), Ronki (-/-)
Cor

: Bunyi jantung I/II reguler

Abdmen
Supel (+), Bunyi usus / peristatik usus (+)
Ektremitas
Akral hangat, oedem

Pemeriksaan

penunjang:

EKG

menunjukkan

adanya

tanda

Iskemik.
A:
Terapi ditambah
Tatalaksana : dr. Rosa Sp.PD

Tujuan

Antalgin 1 gr /8 jam

Sebagai analgetik antipiretik untuk


nyeri akut hebat sesudah luka atau
pembedahan, nyeri karena tumor atau
kolik, nyeri hebat akut atau kronik bila
analgesik lain tidak menolong dan
demam tinggi yang tidak bisa diatasi
dengan antipiretik lain.

Ranitidin 1 amp/12 jam

Untuk mengatasi efek samping dari obat


ISDN, aspilet, antalgin yaitu memberi
rasa mual, muntah dan nyeri perut.

ISDN 3 x 1 peroral

Untuk pengobatan angina, merupakan


vasodilator koroner yang poten dan
manfaat utamanya adalah mengurangi
alir balik vena sehingga mengurangi
beban ventrikel kiri

Aspilet 2 x 1 peroral

Untuk mencegah terbentuknya trombus


yaitu dengan menghambat aggregasi
trombosit

Clobazam 2 x 1 peroral

Mengatasi

keadaan

ansietas

dan

psikoneurotik yang disertai ansietas.

Follow up hari kedua 21/6/2014


S:
Nyeri dada (-), sesak (-), pusing (-), mual-muntah (-), BAB (-)
O:
Keadaan umum: Composmentis, baik
Vital Sign: TD: 110/70 mmHg
Kepala
Conjungtiva Anemis : (-/-)
Sklera Ikterik

: (-/-)

Pupil

: Isokor / Isokor

Reflek cahaya

: (-/-)

Leher
Kelenjar getah bening

: Tidak ada pembesaran

Kelenjar Thyroid

: Tidak ada pembesaran

JVP

: Tidak ada peningkatan vena jugularis

Thoraks
Pulmo : Suara dasar vesikuler (SDV) (+/+), Wheezing (-/-), Ronki (-/-)
Cor

: Bunyi jantung I/II reguler

Abdmen
Supel (+), Bunyi usus / peristatik usus (+)
Ektremitas
Akral hangat, oedem

Pemeriksaan

penunjang:

EKG

menunjukkan

adanya

tanda

Iskemik.
A:
Tatalaksana : dr. Rosa Sp.PD

Tujuan

02 4L/ menit

Untuk mengatasi keadaan hipoksemia,


menurunkan

kerja

pernafasan,

menurunkan beban kerja otot Jantung


(miokard)
Infus RL 20 Tpm

Merupakan

larutan

isotonis

untuk

menjaga stabilitas cairan elektrolit


Antalgin 1 gr /8 jam

Sebagai analgetik antipiretik untuk


nyeri akut hebat sesudah luka atau
pembedahan, nyeri karena tumor atau
kolik, nyeri hebat akut atau kronik bila
analgesik lain tidak menolong dan
demam tinggi yang tidak bisa diatasi
dengan antipiretik lain.

Ranitidin 1 amp/12 jam

Untuk mengatasi efek samping dari obat


ISDN, aspilet, antalgin yaitu memberi
rasa mual, muntah dan nyeri perut.

Cefotaksime 1gr/ 12 Jam

Untuk infeksi bakteri gram negatif

ISDN 3 x 5mg peroral

Untuk pengobatan angina, merupakan


vasodilator koroner yang poten dan
manfaat utamanya adalah mengurangi
alir balik vena sehingga mengurangi
beban ventrikel kiri

Aspilet 2 x 80mg peroral

Untuk mencegah terbentuknya trombus


yaitu dengan menghambat aggregasi
trombosit

Dulcolax supp 1x

Untuk mengatasi konstipasi

Omeprazole 3 x 1

Untuk mengatasi tukak lambung

Clobazam 2 x 10mg

Mengatasi

keadaan

ansietas

dan

psikoneurotik yang disertai ansietas.


Arixtra/ Hari

Untuk

mencegah

terjadiya

tromboembolik

TANGGAL S
H-1
22/06/2014

Nyeri dada (+) T:90/70


berkurang, sakit mmHg,
miring
(+)

STEMI

Terapi lanjut

HR: anteroseptal

kekiri 80x/ menit

berkurang,

sesak (-)

KU: baik, CM
K: SI (-/-) Ca
(-/-)
L: PKGB: (-)
Th: SDV +/+,
BJ I/II reguler
Abd:

Supel

(+), BU (+)
Ekst:

akral

hangat, oedem

H-2
23/06/2014

Nyeri dada (+) T:110/70

STEMI

berkurang, sakit mmHg,

anteroseptal

miring
(+)

kekiri

berkurang,

sesak (-)

KU: baik, CM
K: SI (-/-) Ca
(-/-)
L: PKGB: (-)
Th: SDV +/+,
BJ I/II reguler

Terapi lanjut

Abd:

Supel

(+), BU (+)
Ekst:

akral

hangat, oedem

H-3
24/06/2014

Nyeri dada (-), T:110/70

STEMI

sesak (-)

anteroseptal

mmHg,

Terapi lanjut

KU: baik, CM
K: SI (-/-) Ca
(-/-)
L: PKGB: (-)
Th: SDV +/+,
BJ I/II reguler
Abd:

Supel

(+), BU (+)
Ekst:

akral

hangat, oedem

H-4
25/06/2014

Nyeri dada (-), T:110/80

STEMI

sesak (-)

anteroseptal

mmHg,
KU: baik, CM
K: SI (-/-) Ca
(-/-)

Terapi lanjut

L: PKGB: (-)
Th: SDV +/+,
BJ I/II reguler
Abd:

Supel

(+), BU (+)
Ekst:

akral

hangat, oedem

H-5
26/06/2014
BLPL

Nyeri dada (-), T:110/80

STEMI

sesak (-)

anteroseptal

mmHg,
KU: baik, CM

ISDN 3x5 mg
Aspilet

2x80

mg

K: SI (-/-) Ca
(-/-)
L: PKGB: (-)
Th: SDV +/+,
BJ I/II reguler
Abd:

Supel

(+), BU (+)
Ekst:

akral

hangat, oedem
-

Pasien yang mengalami infark miokard akut yaitu terutama STEMI,


penanganan dan pengobatan yang diberikan tidak hanya seperti yang diatas. Tetapi

perlu pengobatan yang lain agar infark yang terjadi tidak semakin luas, trombus yang
terbentuk tidak semakin banyak, dan sebagainya. Obat-obatan yang dimaksud adalah
sebagai berikut:
Tatalaksana

Tujuan

Oksigen

Suplemen oksigen harus diberikan pada pasien dengan


saturasi oksigen arteri <90%. Pada semua pasien
STEMI tanpa komplikasi dapat diberikan oksigen
selama 6 jam pertama.

Nitrogliserin subligual

Untuk mengurangi nyeri dada, dan menurunkan


kebutuhan

oksigen

miokard

dengan

menurunkan

preload dan meningkatkan oksigen miokard dengan


cara dilatasi pembuluh darah koroner yang terkena
infark atau pembuluh kolateral. Selain nitrogliserin
untuk menghilangkan rasa nyeri dapat juga diberikan
morfin, penyekat beta dan sebagainya.
Reperfusi farmakologis Untuk restorasi cepat patensi arteri koroner. Terdapat 2
(Fibrinolisis)

kelompok yaitu golongan spesifik fibrin (tPA) dan non


spesifik fibrin (streptokinase). Obat-obat ini bekerja
dengan cara memicu konversi plasminogen menjadi
plasmin, yang selanjutnya melisiskan trombus fibrin.

Antitrombotik

Tujuan primer pengobatan adalah untuk memantapkan


dan mempertahankan patensi arteri koroner sedangkan
tujuan sekunder untuk menurunkan tendensi pasien
menjadi

trombosis.

Antitrombotiknya terdiri

dari

heparin, warfarin.

Tetapi dengan pemberian terapi yang telah dilakukan, Keadaan pasien telah
membaik dan diperbolehkan pulang setelah dirawat di Rumah Sakit selama 6 hari.
Penanganan yang diberikan cukup adekuat untuk mengatasi nyeri dada dan sesak
pada pasien ini dengan diagnosa ST elevasi miokard infark.