Anda di halaman 1dari 21

PROSPEK DAN POTENSI HIDROGEN

SEBAGAI ENERGI TERBARUKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar


pada Fakultas Teknik
Universitas Gadjah Mada

Oleh:
Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng.

PROSPEK DAN POTENSI HIDROGEN


SEBAGAI ENERGI TERBARUKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar


pada Fakultas Teknik
Universitas Gadjah Mada

Diucapkan di Depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar


Universitas Gadjah Mada
pada Tanggal 11 Agustus 2009
di Yogyakarta

Oleh:
Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng.

3
PROSPEK DAN POTENSI HIDROGEN
SEBAGAI ENERGI TERBARUKAN
Saya memilih judul ini, selain energi merupakan salah satu
bidang yang saya tekuni, pencarian dan usaha peningkatan
penggunaan sumber-sumber energi terbarukan giat dilakukan karena
makin berkurangnya sumber energi fosil, yaitu minyak bumi, gas
alam, dan batu bara. Karena kekhawatiran manusia terhadap
berkurangnya sumber energi fosil tersebut, kegiatan pencarian
sumber-sumber energi alternatif sempat membuat bingung
masyarakat, yaitu dengan munculnya kontroversi blue energy dan
banyugeni pada bulan Mei, Juni, dan Juli tahun 2008.
Blue energy menggunakan konsep pembuatan bahan bakar cair
dari gas hidrogen dan senyawa karbon (C, CO2, dll.). Gas hidrogen
yang diperlukan diperoleh dari elektrolisis air menggunakan listrik
yang dibangkitkan dari sumber energi terbarukan atau dari energi
nuklir, dan senyawa karbonnya diambil dari udara, gas buang industri,
dll. Konsep ini, saat ini masih relatif sulit untuk dilaksanakan dan
belum layak secara ekonomi. Selain itu, menurut tinjauan
termodinamis, sistem ini secara neto tidak menghasilkan energi, tetapi
memerlukan energi. Jadi, diperlukan energi dari sumber lain. Dengan
perkataan lain, sistem ini hanya memproduksi energi carrier
(pembawa energi) yang lebih fleksibel untuk digunakan. Merupakan
suatu kenyataan bahwa air tidak dapat dibakar, kecuali air tersebut
diuraikan menjadi hidrogen dan oksigen, atau uap air pada suhu dan
tekanan tinggi direaksikan dengan bahan yang mengandung karbon
untuk menghasilkan hidrogen dan karbon monoksida. Hidrogen yang
diperolehnya dapat digunakan sebagai bahan bakar.
Seperti telah kita ketahui bersama, kebutuhan energi di
Indonesia meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya
penduduk, meningkatnya aktivitas dan mobilitas manusia, dan
berkembangnya industri. Kebutuhan energi di Indonesia pada tahun
2030 diperkirakan sebesar 3 x 109 SBM (setara barel minyak) atau 1,9
x 1019 Joule/tahun (Sediawan, 2008). Saat ini, pemenuhan kebutuhan
energi, sebagian besar masih disuplai dari bahan bakar fosil.
Penggunaan bahan bakar fosil selalu menghasilkan CO dan/atau CO2.
CO2 merupakan komponen utama gas rumah kaca sebagai perangkap
panas matahari di dekat permukaan bumi, sehingga menyebabkan

4
terjadinya pemanasan global. Sebaliknya, penggunaan hidrogen
sebagai bahan bakar tidak dihasilkan zat pencemar udara, tetapi justru
menghasilkan air, suatu zat yang sangat dibutuhkan umat manusia.
Energi dan Hukum Termodinamika
Kita semua tidak asing dengan kata energi. Tetapi tidak banyak
di antara kita yang memahami secara tepat arti yang sesungguhnya
dari kata tersebut. Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja.
Untuk memberi penjelasan tentang arti energi, dapat digambarkan
sebagai berikut. Misalnya 1 (satu) kg benda dinaikkan elevasinya
setinggi 1 (satu) m di atas ketinggian mula-mula benda itu berada.
Untuk menaikkan benda tersebut, maka seseorang atau suatu alat
harus melakukan kerja. Dengan kata lain, kerja telah diberikan kepada
benda untuk mengangkatnya dari suatu level ke level yang lebih
tinggi. Kerja ini merupakan jumlah energi yang telah diberikan kepada
benda tersebut. Satuan energi menurut Sistem Internasional (SI)
adalah Joule (J). Satuan lain yang biasa digunakan adalah Kilowattjam (kWh), British thermal unit (Btu), Tonne of oil equivalent (toe),
Barrel, dan Calorie. Satu J adalah kerja yang dilakukan jika gaya
sebesar 1 (satu) Newton bekerja pada sebuah benda sehingga benda
tersebut bergeser sejauh 1 (satu) m searah dengan gaya. Satu N adalah
gaya yang diperlukan untuk meningkatkan atau menurunkan
kecepatan 1 (satu) kg benda sebesar 1 (satu) m/detik setiap detik
(Beggs, 2005). Jenis-jenis energi adalah energi potensial (karena
elevasinya), energi kinetik (karena geraknya), internal energy/energi
dakhil (karena gerakan molekul dan atom), dan energi yang timbul
karena proses yang terjadi di dalam sistem, yaitu panas dan kerja
(Daubert, 1987). Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan.
Energi hanya dapat diubah dari bentuk yang satu ke bentuk lainnya.
Pernyataan ini dikenal sebagai Hukum Termodinamika Pertama.
Sebagai contoh, dalam PLTN energi inti atom dari uranium diubah
menjadi panas. Panas digunakan untuk membangkitkan uap air. Uap
air lalu digunakan untuk memutar turbin (energi mekanik). Turbin
kemudian menggerakkan dinamo yang hasil akhirnya adalah listrik.
Hukum Termodinamika Kedua menjelaskan konsep bahwa setiap
kejadian di alam semesta memiliki arah dan cenderung berlangsung
menurun dari tingkat energi tinggi ke tingkat energi yang lebih rendah

5
(Manurung, 2008). Sebagai contoh, besi selalu cenderung berubah
menjadi karat, dan karat tidak mungkin kembali menjadi besi secara
spontan. Besi dibuat dari bijih besi dengan memasukkan jumlah energi
yang besar, dan bila besi berubah menjadi karat maka ia kembali pada
tingkat energi yang lebih rendah. Semua proses di alam semesta
cenderung menuju ke arah ketidakteraturan/keacakan yang diukur
sebagai entropi.
Sumber Energi dan Ketersediaannya
Di alam semesta terdapat dua jenis sumber energi, yaitu sumber
energi tidak terbarukan dan sumber energi terbarukan. Sumber energi
tidak terbarukan adalah sumber energi yang keberadaannya di alam
terbatas dan akan habis dalam kurun waktu tertentu, yaitu minyak
bumi, gas alam, dan batubara, yang lebih dikenal dengan istilah bahan
bakar fosil. Sumber energi terbarukan merupakan bahan yang dapat
menghasilkan energi dan bahan tersebut dapat diperbaharui secara
terus menerus sehingga keberadaannya di alam ini tidak akan habis.
Misalnya sumber energi yang berasal dari tanaman dan hewan, panas
matahari/surya, angin, air, panas bumi, dan gelombang laut.
Cadangan minyak bumi di Indonesia sebesar 9 miliar barel, atau
sebesar 0,4% dari cadangan minyak bumi dunia, dan produksi
reratanya sejak tahun 2000 s.d. 2008 sebesar 414,6 juta barel per
tahun. Jika kondisi ini tetap berlangsung, maka cadangan minyak
bumi Indonesia akan habis dalam waktu 22 tahun ke depan. Cadangan
gas alam Indonesia sebesar 182 triliun kaki kubik, atau sebesar 1,7%
dari cadangan gas alam dunia, dan produksinya sebesar 3,0 triliun kaki
kubik per tahun, sehingga cadangan gas alam Indonesia masih cukup
untuk 61 tahun lagi. Cadangan batubara nasional sebesar 19,3 miliar
ton atau 0,4% dari cadangan batubara dunia. Produksi batubara di
Indonesia sebesar 130 juta ton per tahun. Dengan demikian, cadangan
batubara Indonesia diperkirakan masih cukup untuk kebutuhan 147
tahun ke depan (Putrohari, 2009). Saat ini, sekitar 80% dari konsumsi
energi dunia masih bergantung pada bahan bakar fosil (Goldemberg,
2006). Dan diperkirakan bahwa cadangan minyak dunia akan habis
pada tahun 2050 (Saxena dkk., 2009).

6
Sumber energi terbarukan di Indonesia cukup melimpah. Areal
pertanian di Indonesia dengan 2,4 juta ha tanaman padi, 4,28 juta ha
tanaman jagung, 6,9 juta ha kebun kelapa sawit dengan 35% di
antaranya milik rakyat, 344,4 ribu ha tanaman tebu, dan tanamantanaman lainnya dengan total biomassa dari tanaman-tanaman
tersebut setara dengan energi sebesar 49,81 GW. Potensi pembangkit
listrik tenaga air sebesar 75,67 GW, mini/mikro hidro sebesar 458,75
MW, panas bumi 27 GW, tenaga angin 9,29 GW, dan tenaga surya
rerata sebesar 4,8 kWh/m2/hari (Putrohari, 2009). Di samping sumbersumber energi terbarukan tersebut di atas, energi terbarukan dapat
diperoleh dari laut. Di balik ganasnya gelombang samudra, di situ
tersimpan energi terbarukan yang sangat besar. Kecuali dari
gelombang laut, energi terbarukan juga dapat dihasilkan dari pasang
surut air laut, energi yang timbul akibat perbedaan suhu permukaan air
dengan suhu dasar laut, dan energi arus laut. Dengan luas lautan
mencapai 5,8 juta km2 berdasarkan perhitungan secara kartografis,
Indonesia memiliki potensi sumber energi terbarukan berbasis
gelombang laut yang melimpah. Berdasarkan survei yang telah
dilakukan, daerah yang berpotensi untuk dikembangkan sumber energi
lautnya adalah sepanjang Pesisir Barat Sumatera, Selatan Jawa, Nusa
Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat (Anonim, 2009a).
Komposisi Jenis Energi
Konsumsi energi di Indonesia meningkat rata-rata sebesar 7%
per tahun dengan adanya pertambahan penduduk, meningkatnya
kegiatan ekonomi dan perkembangan industri. Komposisi pemakaian
jenis energi di Indonesia saat ini adalah minyak bumi 51,66%, gas
alam 28,57%, batubara 15,34%, tenaga air 3,11%, dan panas bumi
1,32% (Anonim, 2009b). Data tersebut menunjukkan bahwa minyak
bumi masih mendominasi pemakaian jenis energi di Indonesia.
Mengingat cadangan minyak bumi, gas alam, dan batubara di
Indonesia yang terus menyusut karena laju penggunaannya cukup
tinggi, maka harus dilakukan diversifikasi penggunaan energi untuk
menghemat pemakaian energi fosil dan untuk memenuhi kebutuhan

7
energi di masa yang akan datang. Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006
tentang Kebijakan Energi Nasional mengamanatkan bahwa pada tahun
2025, komposisi jenis energi di Indonesia adalah batubara 33%, gas
alam 30%, minyak bumi 20%, dan energi terbarukan sebesar 17%.
Ternasuk dalam 17% ini adalah bahan bakar nabati sebesar 5%, panas
bumi 5%, biomassa, nuklir, air, surya, dan angin sebesar 5%, serta
batubara yang dicairkan sebesar 2%. Di sini dapat dilihat bahwa
hidrogen belum menjadi prioritas Pemerintah Indonesia dalam
pengembangan energi terbarukan.
Hidrogen dan Penggunaannya
Hidrogen, dengan lambang kimia H, merupakan unsur paling
sederhana dilihat dari segi susunan proton dan elektronnya. Satu atom
hidrogen hanya memiliki satu proton dan satu elektron. Gas hidrogen
merupakan molekul diatomik, di mana tiap molekul tersusun atas 2
atom hidrogen, yang secara kimia dirumuskan dengan H2. Hidrogen
merupakan gas paling banyak terdapat di alam semesta dan
keberadaannya di Matahari diperkirakan mencapai 75% dari total
massa Matahari (Yanti, 2009). Gas hidrogen tidak berwarna, tidak
berbau, tidak berasa, dan tidak beracun. Hidrogen merupakan unsur
teringan, dengan berat jenis 0,08988 g/L pada kondisi standar.
Keadaan ini kurang menguntungkan untuk penyimpanan dan
transportasi hidrogen karena membutuhkan volume bejana yang besar,
yaitu sekitar 5 kali volume penyimpanan bensin dengan kandungan
energi yang sama pada tekanan yang layak. Sifat lain dari hidrogen
yang kurang menguntungkan adalah mudah terbakar dan mudah
meledak. Nyala pembakaran hidrogen murni dengan oksigen murni
berwarna ultraviolet yang hampir tidak dapat dilihat dengan mata
telanjang. Oleh karena itu, perlu penekanan aspek keselamatan pada
proses-proses yang melibatkan hidrogen.
Hidrogen mempunyai kandungan energi tertinggi per satuan
berat dibandingkan dengan semua jenis bahan bakar, yaitu sebesar 120
MJ/kg. Sebagai pembanding, kandungan energi gas alam adalah 54,4
MJ/kg, LPG 48,8 MJ/kg, bensin 45,6 MJ/kg, solar 45,3 MJ/kg, arang

8
30,0 MJ/kg, dan kayu kering 15,5 MJ/kg (Kelly-Yong dkk., 2007).
Seperti halnya listrik, hidrogen disebut sebagai pembawa energi bukan
sebagai sumber energi, karena energi yang terkandung dalam hidrogen
dapat dengan mudah untuk dimanfaatkan.
Hidrogen dapat digunakan baik langsung sebagai bahan bakar
untuk mesin (termasuk kendaraan bermotor dan mobil) maupun
sebagai bahan bakar untuk fuel cell (sel bahan bakar) penghasil listrik.
Sel bahan bakar adalah alat yang bekerja secara elektrokimia,
menggunakan hidrogen dan oksigen untuk menghasilkan listrik, air
dan sejumlah panas, sehingga sama sekali tidak dihasilkan zat
pencemar lingkungan. Di sini, energi kimia hidrogen diubah langsung
menjadi listrik dan panas menggunakan proses yang terjadi pada suhu
rendah dengan efisiensi 2 atau 3 kali lebih besar dari teknologi
pembakaran lainnya. Pembangkitan listrik pada pembangkit
konvensional menggunakan bahan bakar fosil, mempunyai efisiensi
33 s.d. 35%, tetapi pembangkitan listrik dengan sel bahan bakar
mempunyai efisiensi 60% atau lebih jika dilengkapi dengan sistem
pemanfaatan energi terbuang. Pada mesin kendaraan yang dijalankan
secara normal, konversi energi kimia pada bensin menjadi tenaga
penggerak kendaraan kurang dari 20% (Anonim, 2009c).
Selain sebagai bahan bakar mesin dan sel bahan bakar, hidrogen
banyak digunakan sebagai bahan bakar roket, tenaga pendorong
pesawat ruang angkasa, dan industri kimia (Anonim, 2009d). Industri
kimia yang banyak menggunakan hidrogen adalah industri
pengilangan minyak dan industri pupuk, yang masing-masing
mencapai 37 dan 50%. Penggunaan hidrogen di industri kimia di
antaranya adalah untuk hydrocracking, hidrogenasi lemak tak jenuh
dalam minyak tumbuhan, pembuatan amoniak, pembuatan metanol,
dan pembuatan silikon (Ribeiro dkk., 2008). Hidrogen juga digunakan
di industri semikonduktor.
Hidrogen diperkirakan akan menjadi pemasok energi utama
untuk pembangkitan listrik dengan sel bahan bakar, sebagai bahan
bakar mesin kendaraan, dan untuk penggunaan-penggunaan lainnya di
abad ke-21 karena ramah lingkungan dan kemudahannya dikonversi
menjadi energi (Iwasaki dkk., 2006). Penggunaan hidrogen sebagai

9
bahan bakar sama sekali tidak memberi kontribusi terhadap efek
rumah kaca, hujan asam, dan kerusakan lapisan ozon. Jadi,
penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar tidak mempunyai
kontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Penggunaan hidrogen
sebagai bahan bakar sangat mendukung Protokol Kyoto, yang
mengamanatkan agar industri mengurangi emisi gas rumah kaca
dengan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil (Nath dan Das,
2003).
Penggunaan hidrogen dalam sel bahan bakar merupakan
teknologi yang menjanjikan untuk pemenuhan listrik dan panas dalam
berbagai keperluan. Kendaraan dengan teknologi sel bahan bakar
hidrogen mempunyai efisiensi 3 (tiga) kali lebih tinggi dibandingkan
dengan kendaraan bermesin menggunakan bahan bakar bensin.
Teknologi ini sudah digunakan oleh beberapa produsen mobil utama,
yaitu BMW, American Honda Company, dan Toyota Motors. Tenaga
untuk kendaraan-kendaraan tersebut disuplai dengan sel bahan bakar
yang dikombinasikan dengan baterai hibrida logam nikel (Momirlan
dan Veziroglu, 2005).

Produksi Hidrogen
Hidrogen merupakan zat yang melimpah di alam semesta ini.
Namun, keberadaannya di alam selalu bersenyawa dengan zat lain
seperti oksigen dan karbon. Untuk keperluan komersial, hidrogen
harus dibuat dari zat-zat yang mengandung atom hidrogen dalam
struktur molekulnya, seperti bahan bakar fosil, biomassa, alkohol, atau
air. Semua metode pembuatan hidrogen memerlukan energi yang
berupa listrik, panas, atau cahaya.
Elektrolisis Air
Elektrolisis air pertama kali dilakukan oleh William Nicholson
dan Anthony Carlisle kira-kira pada tahun 1800. Elektrolisis air adalah
penguraian air (H2O) menjadi oksigen (O2) dan hidrogen (H2) dengan
cara pengaliran arus listrik melalui katoda dan anoda yang tercelup di
dalam air. Hidrogen akan muncul di katoda, yaitu elektroda yang
terhubung ke arus negatif, dan oksigen di anoda, yaitu elektroda yang

10
terhubung ke arus positip. Jumlah gas hidrogen yang diperoleh
sebanyak 2 kali gas oksigennya, dan jumlah keduanya proporsional
dengan energi listrik yang digunakan. Elektrolisis air murni
berlangsung sangat lambat. Hal ini karena konduktivitas listrik air
murni sangat rendah, yaitu sekitar 1/1.000.000 dari konduktivitas
listrik air laut. Kecepatan elektrolisis air menjadi hidrogen dan
oksigen dapat ditingkatkan secara nyata dengan penambahan zat-zat
elektrolit yang berupa garam, asam, atau basa. Jika zat elektrolit
ditambahkan ke dalam air, maka konduktivitas listrik larutan elektrolit
tersebut meningkat dengan tajam. Garam natrium dan lithium sering
digunakan dalam proses elektrolisis air karena harganya relatif murah
dan mudah larut dalam air. Asam yang biasa digunakan sebagai
elektrolit adalah asam kuat misalnya H2SO4, sedangkan basanya
adalah basa kuat seperti KOH dan NaOH (Anonim, 2009d). Pada
elektrolisis air banyak energi yang hilang sebagai panas, sehingga
tidak dapat mengubah 100% energi listrik menjadi energi kimia
hidrogen. Pada proses ini, efisiensi konversi energi listrik menjadi
energi kimia hidrogen tanpa memperhitungkan kehilangan energi pada
pembangkitan listrik adalah 50 s.d. 70%. Jika hidrogen diproduksi
dengan cara elektrolisis air menggunakan listrik dari pembangkit
listrik tenaga nuklir, maka efisiensi totalnya 30 s.d. 45% (Anonim,
2009e).
Termokimia
Cara lain untuk memproduksi hidrogen dari air dapat dilakukan
dengan menguraikan air langsung menggunakan panas pada suhu
sekitar 4.000 K (3.727oC). Suhu peruraian air dengan panas dapat
diperendah dengan proses termokimia, yaitu proses peruraian air
dengan panas menggunakan bantuan zat kimia. Dalam proses ini,
bahan baku yang diperlukan secara kontinyu hanyalah air, karena
bahan kimia yang digunakan dalam reaksi didaur ulang ke dalam
proses. Dari banyak jenis proses termokimia untuk memproduksi
hidrogen, proses iodine-sulfur (proses IS) merupakan proses yang
menjanjikan (Kasahara dkk., 2006). Proses ini terdiri atas 3 (tiga)
reaksi, yaitu: (1) Reaksi Bunsen: I 2 SO2 2 H 2 O 2 HI H 2 SO4 ,
berlangsung pada suhu 130oC, (2) reaksi dekomposisi H2SO4 menjadi

11
H2O, SO2, dan O2: H 2 SO4 H 2 O SO2 1 2 O2 ), dan (3) reaksi
dekomposisi HI menjadi H2 dan I2: 2 HI H 2 I 2 . SO2 yang
diperoleh dari reaksi 2 dan I2 yang diperoleh dari reaksi 3 didaur ulang
ke reaksi Bunsen. Jadi dalam siklus ini, air diuraikan menjadi H2 dan
O2. Efisiensi termal maksimum untuk produksi hidrogen dengan
proses IS adalah 56,8% (Kasahara dkk., 2006).
Steam Reforming
Uap air pada suhu yang tinggi (200oC atau lebih) dapat
direaksikan dengan zat yang mengandung karbon, misalnya gas
metan, alkohol, dan biomassa dengan bantuan katalisator menjadi H2
dan CO. Proses ini disebut steam reforming (Hao dkk., 2003).
Selanjutnya reaksi tersebut diteruskan dengan reaksi water-gas shift,
yaitu reaksi antara CO dengan uap air (H2O) menjadi CO2 dan H2.
Sampai saat ini, produksi hidrogen yang paling ekonomis adalah
steam reforming berkatalis dari gas alam yang diikuti reaksi water-gas
shift (Ribeiro dkk., 2008). Steam reforming gas alam di beberapa
pabrik pupuk dijalankan pada suhu 447 s.d. 800oC dan tekanan 35 atm
pada reaktor unggun tetap dengan katalis nikel. Hidrogen yang
dihasilkan dari proses ini masih bercampur dengan uap air, karbon
monoksida, karbon dioksida, dan nitrogen (Mulyono dkk., 1995).
Pemurnian hidrogen dari pengotornya dapat dilakukan dengan
menyerap gas CO2 menggunakan larutan Benfield atau dengan
pressure swing adsorption (PSA) (Mulyono dkk., 1997; Ribeiro dkk.,
2008).
Biohidrogen sebagai Energi Terbarukan
Syarat agar hidrogen menjadi energi terbarukan, maka ia harus
diproduksi dari sumber-sumber terbarukan, misalkan biomassa limbah
pertanian dan kehutanan, hasil samping pertanian dan kehutanan,
limbah industri pengolahan makanan, tanaman laut dan ganggang.
Keadaan ini akan lebih menguntungkan jika energi yang digunakan
untuk memproduksi hidrogen dari sumber terbarukan tersebut juga
berasal dari sumber-sumber energi terbarukan, misalnya energi hidro,

12
panas matahari, atau angin. Hidrogen yang diproduksi dari biomassa
dan hidrogen yang diproduksi dengan bantuan mikroorganisme
disebut biohidrogen.
Produksi gas hidrogen dari biomassa dapat dilakukan dengan
pirolisis, gasifikasi, dan gasifikasi dengan penambahan uap air super
kritis. Pirolisis adalah peruraian (lysis) suatu zat menggunakan panas
(pyro). Jika biomassa dipanasi sampai suhu sekitar 350oC tanpa
adanya oksigen, maka ia akan terurai menjadi arang dengan penyusun
atom C, gas yang terdiri atas CO, CO2, H2, H2O, dan CH4, dan uap tir
dengan perkiraan rumus molekul CH1,2O0,5. Uap tir ini berfasa gas
pada suhu pirolisis tetapi akan mengembun menjadi butiran halus tir
jika didinginkan (Reed dan Das, 1988). Gasifikasi adalah reaksi
oksidasi biomassa dengan jumlah oksigen terbatas dan hasilnya
merupakan bahan bakar gas. Dalam kondisi tertentu, jumlah oksigen
dibatasi kurang dari 40% jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk
pembakaran sempurna, dan hasil utamanya adalah CO dan H2 (Evans
dan Milne, 1987). Kecuali CO dan H2, pada gas hasil gasifikasi
biomassa terdapat pula CO2, CH4, dan senyawa lainnya. Reaksi yang
terjadi pada proses gasifikasi biomassa dengan penambahan uap air
super kritis sangat kompleks karena terjadi reaksi berantai yang
menghasilkan campuran gas dan cairan. Tiga reaksi utama yang
terjadi adalah (Kelly-Yong dkk., 2007):
(1) Steam reforming: Biomassa H 2 O H 2 CO
(2) Reaksi water-gas shift: CO H 2 O CO2 H 2
(3) Reaksi metanasi: CO 3H 2 CH 4 H 2 O
Reaksi metanasi dapat dihambat dengan cara menggunakan air fasa
cair sebagai pengganti uap air dan menggunakan katalis nikel.
Penggunaan media air super kritis pada gasifikasi biomassa
mempunyai banyak keuntungan. Proses ini dapat dilakukan untuk
biomassa dengan kadar air tinggi (>50%), sehingga tidak perlu
dilakukan pengeringan untuk biomassa yang akan diproses. Dengan
demikian dapat dilakukan penghematan biaya. Fleksibilitas ini
memungkinkan penggunaan bahan baku biomassa dengan kadar air
tinggi. Pada tahun 1993-2000, eksperimen yang seksama untuk proses
ini telah dilakukan oleh Hawaii Natural Energy Institue (HNEI).
Eksperimen dijalankan pada suhu gasifikasi 650oC dan tekanan di atas

13
tekanan kritis air (22 MPa) menggunakan beberapa macam jenis
biomassa, diantaranya adalah serbuk gergaji. Hasil eksperimen
tersebut sangat baik, dengan efisiensi gasifikasi mendekati 100% dan
kandungan gas hidrogennya mencapai 57% mol (Antal dkk., 2000).
Minowa dan Ogi (1998) dari National Institute for Resources and
Environment (NIRE) of Japan telah melakukan studi mengenai proses
ini dengan seksama menggunakan selulosa dan kayu Oak Jepang pada
suhu gasifikasi 350oC dan tekanan dalam reaktor 17 MPa. Produknya
merupakan campuran gas hidrogen dan karbon dioksida. Dalam
percobaan tersebut diperoleh hasil bahwa prosentase arang dan tir
yang terbentuk berkurang dengan tajam dan hasil gasnya mencapai
94% berat jika menggunakan selulosa sebagai bahan baku. Jika kayu
digunakan sebagai bahan baku, maka hasil gas yang diperoleh
mencapai 55% berat. Penambahan garam seperti KOH dalam proses
ini dapat memperkecil arang dan tir yang terbentuk. Pada suatu
percobaan menggunakan limbah biomassa yang dioperasikan pada
suhu 600oC dan tekanan 25,3 MPa dengan penambahan garam KOH,
diperoleh hasil bahwa 100% bahan baku terkonversi menjadi gas
tanpa pembentukan arang dan tir (Kelly-Yong dkk., 2007).
Efisiensi Energi pada Gasifikasi
Efisiensi energi didefinisikan sebagai jumlah energi yang dapat
diperoleh dari produk yang dihasilkan dibagi dengan total energi yang
digunakan dalam proses. Untuk proses gasifikasi dengan penambahan
uap air super kritis, efisiensi energi didefinisikan sebagai
perbandingan antara energi kimia yang dimiliki produk, yaitu H2, CO,
CO2, dan CH4 ditambah dengan panas yang dibawa produk dan panas
reaksi, dengan keseluruhan energi kimia yang terkandung dalam
umpan ditambah dengan energi yang dibutuhkan untuk pemanasan
biomassa. Gasifikasi limbah kelapa sawit yang merupakan selulosa
dengan penambahan uap air super kritis, secara stoikiometri
menghasilkan H2 61,29% mol, CO 3,23% mol, CO2 32,25% mol, dan
CH4 3,23% mol (Kelly-Yong dkk., 2007). Jika gasifikasi ini dilakukan
pada suhu 727oC dan tekanan 30 MPa, dan panas yang digunakan
diperoleh dari pembakaran kayu dengan efisiensi panas terpakai 75%,
dan jika alat gasifikasinya dilengkapi dengan fasilitas penggunaan
kembali panas terbuang, maka efisiensi energi teoritisnya mencapai

14
72,91%. Jika alat gasifikasinya tidak dilengkapi dengan fasilitas
penggunaan kembali panas terbuang, maka efisiensinya turun menjadi
46,54%. Dengan demikian, penggunaan kembali panas terbuang
mempunyai peran yang sangat penting pada proses gasifikasi (KellyYong dkk., 2007).
Produksi Hidrogen Secara Biologis
Kecuali diproduksi dari biomassa, seperti yang telah diuraikan
di atas, hidrogen terbarukan dapat pula diproduksi dari karbohidrat
dengan bantuan enzim. Tiga jenis enzim yang dapat digunakan dalam
proses ini adalah nitrogenase, Fe-hydrogenase, dan NiFe hydrogenase
(Saxena dkk., 2009).
Produksi hidrogen secara biologis dapat diklasifikasikan
menjadi 2 (dua) golongan. Golongan pertama, yaitu proses yang
memerlukan sinar dan golongan ke dua merupakan proses yang tidak
memerlukan sinar atau harus terjadi pada kondisi gelap. Proses yang
membutuhkan sinar meliputi biophotolysis langsung atau tidak
langsung dan photo fermentation, sedangkan proses yang tidak
memerlukan sinar terutama adalah dark fermentation.
Biophotolysis merupakan dekomposisi air menjadi hidrogen
pada ganggang mikro atau cyanobacteria dengan bantuan sinar
matahari (Tanisho dkk., 1998). Produski hidrogen oleh ganggang,
bakteri sulfur ungu, dan bakteri non-sulfur juga dapat terjadi dengan
reaksi fotosintesis antara air dan karbon dioksida dengan bantuan sinar
matahari menghasilkan karbohidrat, hidrogen, dan oksigen. Pada
photo fermentation, bakteri Rhodobacter spheroides memproduksi
hidrogen dari limbah organik dengan bantuan sinar pada berbagai
spektrum. Pada dark fermentation, bakteri Enterobacter cloacae atau
Clostridium sp. dapat menghasilkan hidrogen sepanjang hari dari
substrat sumber karbon dan memberikan produk samping berupa asam
butirat, asam laktat, dan asam asetat. Proses ini berjalan secara
anaerobik (Hussy dkk., 2003).
Keuntungan cara fermentasi dalam produksi hidrogen adalah
degradasi padatan dan zat organik kompleks yang terdapat pada
limbah dan produk-produk pertanian dapat terjadi dengan cepat.
Namun demikian, fermentasi hanya mengkonversi kira-kira 15% dari
energi yang terkandung pada bahan baku tersebut menjadi hidrogen

15
(Das dan Verziroglu, 2001). Kombinasi antara dark fermentation dan
photo fermentation dalam sistem hibrid dua tahap dapat meningkatkan
produk hidrogen yang diperolehnya (Nat dan Das, 2004). Pada tahap
pertama, biomassa difermentasi menjadi asam asetat, karbon dioksida,
dan hidrogen dalam thermophilic dark fermentation. Selanjutnya pada
tahap ke dua, asam asetat dikonversi menjadi hidrogen dan karbon
dioksida (Nath dan Das, 2006). Dengan proses kombinasi ini,
hidrogen yang dihasilkan diperkirakan mendekati hasil teoritisnya,
yaitu 12 mol hidrogen per mol glukosa atau 24 g hidrogen per 180 g
glukosa. Proses produksi hidrogen secara biologis terjadi pada suhu
lingkungan dan tekanan atmosferis. Dengan demikian, proses ini lebih
hemat energi jika dibandingkan dengan produksi hidrogen dengan
cara lain.
Penyimpanan Hidrogen
Dalam usaha penggunaan hidrogen sebagai energi untuk
berbagai keperluan, cara penyimpanan hidrogen merupakan tantangan
tersendiri. Hidrogen dapat disimpan dalam bentuk gas bertekanan,
cairan kriogenik, atau padatan, misalnya dalam bentuk hidrida logam,
hidrida kompleks atau material karbon. Walaupun hidrogen dapat
disimpan dalam bentuk cair, tetapi proses pencairannya cukup sulit,
karena harus dilakukan pendinginan sampai suhu -252,87oC.
Penyimpanan hidrogen pada suhu ini memerlukan sistem refrigerasi
menggunakan energi yang setara dengan 25-30% dari kandungan
energi hidrogen itu sendiri. Kecuali itu, material yang digunakan
sebagai bejana penyimpan dan cara penanganannya harus khusus.
Untuk mencairkan 0,45 kg hidrogen diperlukan energi listrik sebesar 5
kWh (Anonim, 2009d). Penyimpanan hidrogen dalam bentuk gas
bertekanan lebih murah dari pada penyimpanan pada fasa cair. Untuk
penggunaan dalam skala besar, hidrogen bertekanan dapat disimpan
pada bejana terpendam dan
tangki-tangki gas. Dari tempat
penyimpanan tersebut, hidrogen dapat dialirkan menggunakan pipa ke
para pengguna seperti halnya pengaliran gas alam. Penggunaan bejana
bertekanan sebagai menampung hidrogen untuk kendaraan bermotor
masih belum layak, karena harganya mahal dan kurang aman.

16
Cara penyimpanan hidrogen yang lebih aman adalah dengan
diserap dalam suatu zat kimia sehingga membentuk senyawa kimia
atau dijerap dalam material karbon, misalnya karbon aktif, karbon
nanotube, dan karbon nanofiber. Kapasitas penyimpanan hidrogen
pada material karbon berkisar antara 0,2% sampai dengan 10%
(Sakintuna dkk., 2007). Pada cara penyimpanan ini, untuk
mengeluarkan hidrogen dari zat penyimpannya dibutuhkan energi.
Usaha-usaha penyimpanan hidrogen dengan cara baru yang jauh lebih
aman dari penyimpanan dalam fasa gas dan fasa cair telah banyak
diteliti, misalnya dalam bentuk hidrida logam. Hidrida logam adalah
padatan senyawa kimia yang terbentuk dari ikatan antara hidrogen
dengan logam atau hidrogen dengan campuran logam, misalnya Mg,
Mg-Ni, Mg-Cu, dan Fe-Ti. Penyimpanan hidrogen dengan hidrida
logam mempunyai kapasitas penyimpanan lebih besar dibandingkan
dengan penyimpanan dalam fasa cair atau gas. Hidrida logam MgH2
mempunyai kapasitas penyimpanan 6,5 atom H/cm3 sedangkan
penyimpanan pada fasa gas 0,99 atom H/cm3 dan penyimpanan pada
fasa cair 4,2 atom H/cm3 (Sakintuna dkk., 2007). Hidrogen dapat juga
diproduksi langsung di kendaraan dengan cara steam reforming
metanol (Ogden, 1999).
Biaya Produksi Hidrogen
Elektrolisis air untuk memproduksi hidrogen merupakan cara
yang paling mahal. Biaya produksi hidrogen dengan sistem
elektrolisis photovoltaic mencapai US$ 42/GJ. Jika listrik yang
digunakan untuk melakukan elektrolisis berasal dari pembangkit hidro
dengan tarif listrik termurah (off peak), maka biaya produksinya turun
menjadi US$ 10 s.d. $ 20/GJ. Biaya produksi hidrogen dengan steam
reforming gas alam rata-rata adalah US$ 5-8/GJ (Kelly-Yong dkk.,
2007). Sampai saat ini, steam reforming gas alam merupakan cara
produksi hidrogen yang paling banyak digunakan secara komersial.
Kelly-Yong dkk. (2007) melaporkan bahwa biaya produksi hidrogen
dari biomassa kelapa sawit menggunakan cara gasifikasi dengan
penambahan uap air super kritis lebih murah dari steam reforming gas
alam, yaitu US$ 3-7/GJ atau US$ 0,35/kg. Biaya produksi hidrogen
dengan cara pirolisis biomassa adalah US$ 12,5/GJ (Kelly-Yong dkk.
2007).

17
Prospek, Potensi, dan Tantangan Hidrogen Terbarukan
Seperti telah kita ketahui bersama bahwa kebutuhan energi
dunia meningkat dari waktu ke waktu. Saat ini, sekitar 80% dari
kebutuhan energi dunia masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Penggunaan bahan bakar fosil sebagai sumber energi menghasilkan
zat pencemar lingkungan, yaitu SO2 sebagai penyebab utama
terjadinya hujam asam dan CO2 yang merupakan komponen utama
gas rumah kaca di samping CH4 dan N2O sebagai penyebab terjadinya
pemanasan global. Suatu perkiraan yang dilakukan pada tahun 2000
menyatakan bahwa lebih dari 20 juta ton CO2 dilepaskan ke udara
setiap tahunnya (Saxena dkk., 2009). Jika keadaan seperti ini berjalan
terus-menerus, maka akan terjadi perubahan iklim global yang
ekstrim, dengan akibat curah hujan yang berlebih, banjir, kemarau
panjang, dan terganggunya keseimbangan lokal. Pemanasan global
akibat gas rumah kaca dapat melelehkan es di kutub bumi dan di
puncak-puncak gunung yang akibatnya dapat menaikkan permukaan
air laut yang pada akhirnya dapat menenggelamkan pulau-pulau kecil.
Menurut perkiraan dari Intergovernmental Panel on Climate Change,
suatu organisasi internasional yang beranggotakan lebih dari 1.500
ilmuwan, suhu rerata permukaan bumi akan naik 1,4 s.d. 5,8oC pada
tahun 2100 (Anonim, 2009f). Mantan Menteri Lingkungan Hidup,
Prof. Dr. Emil Salim mengatakan bahwa saat ini sudah 29 pulau kecil
di Indonesia tenggelam karena naiknya permukaan air laut akibat
pemanasan global (Anonim 2009g). Pada tahun 2050, ketika suhu
udara global naik 1,6 s.d. 4,2oC, diperkirakan sebanyak 2.000 pulau di
Indonesia akan tenggelam (Ikawati, 2009). Melihat kondisi ini, maka
diperlukan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan H2
memenuhi persyaratan tersebut, sehingga H2 mempunyai prospek
yang cerah sebagai energi masa depan.
Hidrogen terbarukan dapat diproduksi langsung dari biomassa,
bioethanol, atau diproduksi secara biologis dengan bantuan enzim.
Biomassa merupakan sumber energi yang telah digunakan oleh umat
manusia sejak jaman purba. Saat ini biomassa menyumbang 10-14%
kebutuhan energi dunia (Saxena dkk., 2009). Indonesia yang
merupakan negara tropis dengan berbagai jenis tanaman yang dapat
tumbuh dengan subur, mempunyai potensi besar untuk memproduksi
H2 dari biomassa atau dari bioethanol.

18
Tantangan yang dihadapi pada pengembangan hidrogen
terbarukan hingga dapat digunakan secara ekonomis meliputi usaha
penurunan biaya produksi, cara pengiriman hidrogen ke pengguna,
penyimpanan, dan penggunaan akhir untuk mesin, sel bahan bakar,
dan penggunaan lainnya. Di bagian produksi, harus dicari cara-cara
produksi hidrogen dari biomassa atau dari bioethanol yang efektif dan
efisien melalui kegiatan riset dan pengembangan. Kegiatan riset untuk
bagian ini terbuka lebar pada kinetika, katalis, jenis reaktor, dan cara
pemisahan hidrogen dari gas-gas pengotornya hingga mencapai
kemurnian 99,99% lebih yang dibutuhkan untuk keperluan sel bahan
bakar. Pada produksi hidrogen secara biologis, riset dan
pengembangan sangat diperlukan terkait dengan mikroorganisme,
enzim, bahan baku, dan prosesnya. Di bagian pendistribusian dan
penyimpanan H2, masih diperlukan riset dan pengembangan mengenai
cara penyimpanan dan bahan yang digunakan. Pendek kata, masih
terdapat banyak permasalahan yang memerlukan kajian secara teoritis,
teknis, dan ekonomis pada produksi dan penggunaan hidrogen
terbarukan. Oleh karena itu perlu disusun road map pengembangan
hidrogen sebagai energi terbarukan. Kecuali harus melakukan riset
dan pengembangan secara mandiri di bidang hidrogen, Pemerintah
Indonesia dan para peneliti Indonesia sebaiknya menjalin kerja sama
riset internasional dengan negara-negara lain yang telah lebih awal
mengembangkan produksi hidrogen sebagai energi terbarukan.
Jika pengembangan hidrogen sebagai energi terbarukan
dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sistematis, maka target
Pemerintah Indonesia untuk pemenuhan suplai energi 17% dari
sumber energi non fosil pada tahun 2025 insyaAllah dapat terpenuhi.
Keberhasilan pengembangan potensi hidrogen sebagai energi
terbarukan akan berkontribusi terhadap pertumbuhan berkelanjutan
ekonomi Indonesia, karena hidrogen akan berkontribusi terhadap
terjaminnya kebutuhan energi dan membantu pengurangan emisi gas
rumah kaca di masa mendatang.

19
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009a, Energi Gelombang Laut: Selama Ada Ombak,
Energi Akan Didapat, http://www.esdm.go.id/news-archives/
56-artikel/2585-energi-gelombang-laut-, 17 Juni 2009.
Anonim, 2009b, National Energy Policy and Recent Development in
Indonesia, http://www.esdm.go.id/berita/umum/, 18 Juni 2009.
Anonim, 2009c, Hydrogen and Our Energy Future, http://www.
hydrogen.energy.gov, 15 Juni 2009.
Anonim, 2009d, Fuel From Water, http://www.fuelfromwater.com,
15 Juni 2009.
Anonim, 2009e, Electrolysis of Water, http://en.wikipedia.org/wiki/
electrolysis_ of_water, 15 Juni 2009.
Anonim, 2009f, Global Temperature Rise Acceleration, http://
www. earth-policy.org/Indicators/Temp/, 25 Juni 2009.
Anonim, 2009g, Konferensi Internasional Milenium Agenda Riset
2009, Koran Jakarta, 20 Juni 2009, hal. 2.
Antal Jr., Allen, S.G., Schulman, D., and Xu, X., 2000, Biomass
Gasification in Supercritical Water, Ind. & Eng. Chem. Res.,
39, 4040-4053.
Beggs, C., 2005, Energy: Management, Supply and Conservation,
Elsevier Butterworth-Heinemann, Oxford, 4-7.
Das, D. and Verziroglu, T.N., 2001, Hydrogen Production by
Biological Processes: A Survey of Literature, Int. J. Hydrogen
Energy, 26, 13-28.
Daubert, T.E., 1987, Chemical Engineering Thermodynamics,
McGraw-Hill Book Company, New York, 44-48.
Evans, R.J. and Milne, T.A., 1987, Molecular Characterization of the
Pyrolysis of Biomass Fundamentals, Energy & Fuel, 1(2), 123138.
Goldemberg, J., 2006, The Promise of Clean Energy, Energy
Policy, 34, 2185-2190.
Hao, X.H., Guo, L.J., Mao, X., Zhang, X.M., and Chen, J.X., 2003,
Hydrogen Production from Glucose Used as a Model
Compound of Biomass Gasified in Supercritical Water, Int. J.
Hydrogen Energy, 28, 55-64.

20
Hussy, I., Hawkes, F.R., Dinsdale, R., Hawkes, D.L., 2003,
Continueous Fermentative Hydrogen Production from a Wheat
Starch Co-product by Mixed Microflora, Biotech Bioeng, 84(6),
619-616.
Ikawati, Y., 2009, Mandiri Memantau CO2, Kompas, 22 Mei 2009,
hal. 14.
Iwasaki, Y., Suzuki, Y, Kitajima, T., Sakurai, M., and Kameyama, H.,
2006, Hydrogen Production from Ethanol Using a CO2
Absorption Ceramic and Base Metal Catalysts, J. Chem. Eng.
Japan, 39(5), 513-524.
Kasahara, S., Onuki, K., Nomura, M., and Nakao, S., 2006, Static
Analysis Thermochemical Hydrogen Production IS Process for
Assessment of the Operation Parameters and the Chemical
Properties, J. Chem. Eng. Japan, 39(5), 559-568.
Kelly-Yong, T.L., Lee., K.T., Mohamed, A.R., and Bhatia, S., 2007,
Potential of Hydrogen from Oil Palm Biomass as a Source of
Renewable Energy Worldwide, Energy Policy, 35, 5692-5701.
Manurung, R., 2008, Bahan Bakar Air Menyalahi Hukum Alam,
Kompas 31 Mei 2008, hal. 6.
Minowa, T. and Ogi, T., 1998, Hydrogen Production from Cellulose
Using a Reduced Nickel Catalist, Catalyst Today, 45, 411-416.
Momirlan, M. and Veziroglu, T.N., 2005, The Properties of
Hydrogen as Fuel Tomorrow in Sustaiable Energy System for a
Cleaner Planet, Int. J. of Hydrogen Energy, 30, 795-802.
Mulyono, P., Sutijan, dan Budhijanto, 1995, Analisis Data Kinetika
Primary Reformer, Kumpulan Makalah Pelatihan: Analisis
Kinetika Reaksi dan Deaktivasi Katalisator pada Primary
Reformer, Jurusan Teknik Kimia UGM, Yogyakarta.
Mulyono, P., Sutijan, Sediawan, W.B., dan Budhijanto, 1997,
Pemodelan Matematis Penyerapan CO2 dengan Larutan
Benfield dalam Menara Bahan Isian, Prosiding Seminar
Nasional Teknik Kimia FT UGM 1997, Yogyakarta, 211-218.
Nath, K. and Das, D., 2003, Hydrogen from Biomass, Current
Science, 85, 265-275.
Nath, K. and Das, D., 2004, Improvement of Fermentative Hydrogen
Production: Various Approaches, Appl. Microbiol Biotechnol,
65, 520-529.

21
Nath, K. and Das, D., 2006, Amelioration of Biohydrogen
Production by a Two-Stage Fermentation Process, Ind.
Biotechnol, 2, 44-47.
Ogden, J.M., 1999, Developing an Infrastructure for Hydrogen
Vehicles: A Southern California Case Study, Int. J. Hydrogen
Energy, 24(8), 709-730.
Putrohari, R.D., 2009, Potensi Geothermal vs Minyak Bumi,
http://rovicky.blogspot.com, 17 Juni 2009.
Reed, T.B. and Das, A., 1988, Handbook of Biomass Downdraft
Gasifier Engine Systems, The Biomass Energy Foundation
Press, Colorado, 21-29.
Ribeiro, A.M., Grande, C.A., Lopes, F.V.S., Loureiro, J.M., and
Rodrigues, A.E., 2008, A Parametric Study of Layered Bed
PSA for Hydrogen Purification, Chem. Eng. Science, 63, 52585273.
Sakintuna, B., Lamari-Darkrim, F., and Hirscher, M., 2007, Metal
Hydride Materials for Solid Hydrogen Storage: Review, Int. J.
of Hydrogen Energy, 32, 1121-1140.
Saxena, R.C., Adhikari, D.K., and Goyal, H.B., 2009, Biomass-based
Energy Fuel Through Biochemical Routes: A Review,
Renewable & Sustainable Energy Reviews, 13(1), 167-178.
Sediawan, W.B., 2008, Energi Alternatif dan Bahan Kimia Berbasis
Biomassa dengan Teknologi Bersih, Prosiding Seminar
Nasional Teknologi Oleo dan Petrokimia Indonesia, Fakultas
Teknik Universitas Riau, 1-14.
Tanisho, S., Kurumoto, M., and Kadokura, N., 1998, Effect of CO2
Removal on Hydrogen Production by Fermentation, Int. J.
Hydrogen Energy, 23, 559-563.
Yanti, M., 2009, Bom Hidrogen dan Reaksinya, http://www.google.
co. id, 3 April 2009.