Anda di halaman 1dari 21

PENGENDALIAN KOROSI DAN INHIBITOR KOROSI

A. Pengendalian Korosi Melalui Perencanaan


Dari segi korosi, perancangan dianggap berkaitan dengan perencanaan
yang baik dan pembangunan proyek. Ia meliputi pemilihan material dan
pemilihan cara pengendaliannya dalam batas perancangan keseluruhan.
Perencanaan dan perancangan cara pengendalian korosim adalah merupakan
pemecahan masalah yang baik terhadap persoalan-persoalan yang di hadapi.
1. Desain
Usaha penanggulangan korosi sebaiknya sudah dilakukan sejak tahapan
desain proses. Ahli-ahli korosi sebaiknya ikut dilibatkan dalam desain
proses dari sejak pemilihan proses, penentuan kondisi-kondisi prosesnya,
penentuan bahan-bahan konstruksi, pemilihan lay-out, saat konstruksi
sampai tahap start-upnya. Di antara cara-cara penanggulangan korosi dari
segi desain yang sering digunakan adalah:

isolasi alat dari lingkungan korosif

mencegah hadir/terbentuknya elektrolit

jaminan lancarnya aliran fluida

mencegah korosi erosi/abrasi akibat kecepatan aliran

mencegah terbentuknya sel galvanik

2. Pemilihan Material
Bahan konstruksi harus dipilih yang tahan korosi. Apalagi jika
lingkungannya korosif. Ketahanan korosi masing-masing bahan tidak
sama pada berbagai macam lingkungan. Mungkin sesuatu bahan sangat
tahan korosi dibanding bahan-bahan lain pada lingkungan tertentu. Tetapi
bahan yang sama mungkin adalah yang paling rawan korosi pada
lingkungan yang berbeda dibanding dengan bahan-bahan yang lain. Di
antara bahan-bahan konstruksi yang sering digunakan adalah : Besi,

Aluminium, Timah hitam, Tembaga, Nikel, Timah putih, Titanium,


Tantalum
B. Pengendalian Korosi Melalui Perubahan Lingkungan.
Korosi adalah reaksi logam dan lingkungannya, karena itu upaya
pengubahan lingkungan yang menjadikannya kurang agresif akan bermanfaat
untuk membatasi serangan terhadap logam (Trethewey & Chamberlain,
1991:227).
1) Lingkungan berwujud gas. Biasanya yang dimaksudkan disini adakah
udara dengan rentang temperatur -100 0C hingga +300 0C. Beberapa
metode yang digunakan untuk mengurangi laju korosi di udara bebas
adalah menurunkan kelembaban relatif, menghilangkan komponenkomponen mudah menguap yang dihasilkan oleh bahan-bahan sekitar,
mengubah

temperatur,

menghilangkan

kotoran-kotoran

(termasuk

partikel-partikel padat yang abrasif), endapan-endapanyang akan


membentuk katoda (misalnya jelaga), dan ion-ion agresif (Trethewey
&Chamberlain, 1991:227).
2) Bahan terendam di air bebas yang cukup mengandung ion untuk
menjadikannya sebuah elektrolit. Beberapa metode yang digunakan
untuk mengurangi laju korosidi air adalah menurunkan konduktivitas
ion,mengubah pH, mengurangi kandungan oksigen, dan mengubah
temperatur (Trethewey & Chamberlain, 1991:227).
3) Logam terkubur dalam tanah dan mineral-mineral yang terlarut
membentuk elektrolit. Pengendalian biasanya melalui proses katodik atau
pelapisan permukaan,tetapi lingkungan tersebut dapat dibuat kurang
agesif dengan mengganti tanahurugan yang tidak menahan air,
mengendalikan pH dan mengubah konduktifitasnya(Trethewey &
Chamberlain, 1991:227)

C. Proteksi Katodik Anodik


Prinsip Dasar Sistem Proteksi Katodik Anodik
Korosi pada dasarnya merupakan sifat alamiah dari logam untuk
kembali ke bentuk semula. Dengan demikian sebenarnya korosi tidak dapat
dihilangkan sama sekali. Akan tetapi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, proses korosi dapat dikendalikan sampai pada titik minimum yang
dilakukan berdasarkan proses terjadinya. Salah satu metode pengendalian
korosi untuk system perpipaan adalah proteksi katodik.
Proteksi katodik untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Sir
Humphrey Davy pada tahun 1820-an sebagai sarana control korosi utama
pada alat pengiriman naval di Inggris. Kemudian lebih dikenal dan banyak
dipakai pada tahun 1930-an di Gulf Coast Amerika dalam mengendalikan
korosi pada pipa yang membawa hidrokarbon (gas bumi dan produk minyak)
bertekanan tinggi. Di Indonesia metode ini dipergunakan secara lebih luas
sejak tahun 1970-an.
Pada dasarnya proteksi katodik merupakan control korosi secara
elektrokimia dimana reaksi oksida pada sel galvanis dipusatkan di daerah
anoda dan menekan proses korosi pada daerah katoda dalam sel yang sama.
Dengan demikian, teknologi ini sebenarnya merupakan gabungan yang
terbentuk dari unsur-unsur elektrokimia, listrik dan pengetahuan tentang
bahan. Unsur elektrokimia mencakup dasar-dasar proses terjadinya reaksi
korosi, sedangkan unsur kelistrikan mencakup konsep dasar perilaku obyek
yang diproteksi dan lingkungannya jika arus listrik dialirkan.
Untuk mendapatkan gambaran konsep dasar tentang proses korosi dan
aplikasi proteksi katodik secara teoritis dapat dilihat pada Gambar 1. Pada
gambar 1(a) menunjukan ada dua buah logam besi dan zinc yang terpisah dan
di celupkan ke dalam suatu elektrolit. Kedua logam tersebut akan terkorosi
dan kedua reaksi korosi (oksidasi) diseimbangkan dengan reaksi reduksi yang
sama, dimana pada kedua kasus tersebut terjadi pembebasan gas hydrogen.

Kejadian akan berbeda jika kedua logam tersebut dihubungkan satu


sama lain secara elektris seperti terlihat pada Gambar 1(b). disini reaksi
korosi dipusatkan pada elektroda zinc (anode) dan hampir semua reaksi
reduksi dipusatkan pada elektroda besi (katoda). Reaksi anoda zinc pada
rangkaian Gambar 1(b) akan lebih cepat dari pada rangkaian (a). Pada waktu
yang bersamaan, korosi pada besi akan berhenti. Dengan kata lain anoda zinc
telah dikorbankan untuk memproteksi besi.

Pada aplikasi dilapangan , struktur yang dilindungi akan diusahakan


menjadi lebih katoda dibandingkan dengan bahan lain yang dikorbankan
untuk terkorosi. Proses ini dilakukan dengan cara mengalirkan arus searah
dari sumber lain melalui elektrolit ke permukaan pipa dan menghindari
adanya arus yang meninggalkan pipa. Jika jumlah arus yang dialirkan diatur
dengan baik, maka akan mencegah mengalirnya arus korosi yang keluar dari
daerah anoda dipermukaan pipa dan arus akan mengalir dalam pipa pada
daerah tersebut. Sehingga permukaan pipa tersebut akan menjadi bersifat
katodik, dengan demikian maka proteksi menjadi lengkap. Untuk jelasnya,
prinsip kerja proteksi katodik dapat dilihat pada Gambar 2.

Pada gambar tersebut tampak bahwa arus mengalir ke pipa pada daerah
dimana sebelumnya sebagai anoda. Driving voltagesystem proteksi katodik
harus lebih besar dari pada driving voltage sel korosi yang sedang
berlangsung. Supaya system proteksi katodik bekerja, harus ada arus yang
mengalir dari groundbed. Selama terjadinya aliran arus ketanah, maka
material groundbed akan menjadi subjek korosi. Oleh karena kegunaan
groundbed untuk mengeluarkan arus, maka sebaiknya menggunakan bahan
yang laju konsumsinya lebih rendah dari pada pipanya itu sendiri. Atau secara
termodinamika, potensial pipa/struktur yang diproteksi dibuat menjadi imun
yaitu pada -850 mV (CSE).

Ada 2 Jenis Sistem Proteksi Katodik


1. Sistem Anoda Korban (Sacrificial Anode)
System ini dikenal juga dengan galvanic anode, dimana cara kerja
dan sumber arus yang digunakan berasal hanya dari reaksi galvanis anoda
itu sendiri. Prinsip dasar dari system anoda korban adalah hanya dengan
cara menciptakan sel elektrokimia galvanic dimana dua logam yang
berbeda dihubungkan secara elektris dan ditanam dalam elektrolit alam
(tanah atau air). Dalam sel logam yang berbeda tersebut, logam yang lebih
tinggi dalam seri elektromitive-Emf series (lebih aktif) akan menjadi

anodic terhadap logam yang kurang aktif dan terkonsumsi selama reaksi
elektrokimia. Logam yang kurang aktif menerima proteksi katodik pada
permukaannya karena adanya aliran arus melalui elektrolit dari logam
yang anodic. Gambar system proteksi katodik dengan anoda korban dapat
dilihat pada Gambar 3.
System anoda korban secara umum digunakan untuk melindungi
struktur dimana kebutuhan arus proteksinya kecil dan resistivitas tanah
rendah. Disamping itu system ini juga digunakan untuk keperluan dan
kondisi yang lebih spesifik seperti:
a. Untuk memproteksi struktur dimana sumber listrik tidak tersedia.
b. Memproteksi struktur yang kebutuhan arusnya relative kecil, yang jika
ditinjau dari segi ekonomi akan lebih menguntungkan dibandingkan
dengan system atus tanding.
c. Memproteksi pada daerah hot spot yang tidak dicoating, misalnya
pada daerah dimana ada indikasi aktifitas korosi yang cukup tinggi.
d. Untuk mensuplemen system arus tanding, jika dipandang arus proteksi
yang ada kurang memadai. Ini biasanya terjadi pada daerah yang
resistivitas tanahnya rendah seperti daerah rawa.
e. Untuk mengurangi efek interferensi yang disebabkan oleh system arus
tanding atau sumber arus searah lainnya.
f. Untuk memproteksi pipa yang dicoating dengan baik, sehingga
kebutuhan arus proteksi relative kecil.
g. Untuk memperoteksi sementara selama kontruksi pipa hingga system
arus tanding terpasang.
h. Untuk memperoteksi pipa bawah laut, yang biasanya menggunakan
bracelet anode dengan cara ditempelkan pada pipa yang dicoating.

Gambar . Sistem Proteksi Katodik Sistem Anoda Korban

Ada beberapa keuntungan yang diperolah jika menggunakan


system anoda korban diantaranya:
a.

Tidak memerlukan arus tambahan dari luar, karena arus proteksi


berasal dari anodanya itu sendiri.

b.

Pemasangan dilapangan relative lebih sederhana

c.

Perawatannya mudah

d.

Ditinjau dari segi biaya, system ini lebih murah dibanding system
arus tanding.

e.

Kemungkinan menimbulkan efek interferensi kecil.

f.

Kebutuhan material untuk sitem anoda korban relative sedikit yaitu


anoda, kabel dan test box.
Kelemahan proteksi katodik dengan anoda korban dibandingkan

dengan system arus tanding adalah:


a. Driving voltage dari system ini relative rendah karena arus proteksi

hanya terjadi dari reaksi galvanis material itu sendiri sehingga system
ini hanya dapat digunakan untuk memproteksi struktur yang arus
proteksinya relative kecil dan resistivitas lingkungan rendah. Karena
kondisi yang demikian itu, system ini akan menjadi kurang ekonomis
jika dipakai unguk keperluan memproteksi struktur yang relatif besar.
b. Kemempuan untuk mengontrol variable efek arus sesat terhadap

struktur yang diproteksi relative kecil.

2. Sistem Arus Tanding (Impressed Current)


Berbeda dengan system anoda korban, sumber arus pada system
arus tanding berasal dari luar, biasanya berasal dari DC dan AC yang
dilengkapi dengan penyearah arus (rectifier), dimana kutub negative
dihubungkan ke struktur yang dilindungi dan kutub positif dihubungkan
ke anoda. Arus mengalir dari anoda melalui elektrolit ke permukaan
struktur, kemudian mengalir sepanjang struktur dan kembali ke rectifier
melalui konduktor elektris. Karena struktur menerima arus dari elektrolit,
maka struktur menjadi terproteksi. Keluaran (output) arus rectifier diatur
untuk mengalirkan arus yang cukup sehingga dapat mencegah arus korosi
yang akan meninggalkan daerah anoda pada struktur yang dilindungi.
Dengan keluaran arus dari anoda ini maka anoda tersebut terkonsumsi.
Untuk itu maka sebaiknya menggunakan bahan yang laju konsumsinya
lebih rendah dari magnesium, zinc dan alumunium yang biasa dipakai
untuk system tersebut, umumnya digunakan paduan kombinasi bahan
yang khusus. Tipikal system arus tanding dapat dilihat pada Gambar 4.
System arus tanding digunakan untuk melindungi struktur yang
besar atau yang membutuhkan arus proteksi yang lebih besar dan
dipandang kurang ekonomis jika menggunakan anoda korban. System ini
dapat dipakai untuk melindungi struktur baik yang tidak dicoating,
kondisi coating yang kurang baik maupun yang kondisi coatingnya baik.
Kelebihan system arus tanding adalah dapat didesain untuk aplikasi
dengan tingkat fleksibilitas yang tinggi karena mempunyai rentang
kapasitas output arus yang luas. Artinya kebutuhan arus dapat diatur baik
secara manual maupun secara otomatis dengan merubah tegangan output
sesuai dengan kebutuhan. Kelebihan lain dari system ini, dengan hanya
memasang system di salah satu tempat dapat memproteksi struktur yang
cukup besar.
Kekurangan dari system ini yaitu memerlukan perawatan yang
lebih banyak dibanding system anoda korban sehingga biaya operasional
akan bertambah. System ini juga mempunyai ketergantungan terhadap

kehandalan pemasok energy (rectifier) sehingga kerusakan pada system


ini akan berakibat fatal terhadap kinerja system proteksi. Kekurangan
yang lain system arus tanding adalah cenderung lebih mahal karena
peralatan dan bahan yang digunakan lebih banyak. Disamping itu ada
kemungkinan dapat menimbulkan masalah efek interferensi arus terhadap
struktur disekitarnya.

Gambar . Gambar Proteksi Katodik Sistem Arus Tanding

D. Pelapisan (Coating)
Metode pelindungan logam terhadap serangan korosi adalah dengan
pelapisan. Prinsip umum dari pelapisan yaitu melapiskan logam induk dengan
suatu bahan atau material pelindung. Jenis-jenis pelapisan sebagai pelindung
proses korosi dapat dibagi secara umum tiga bagian yaitu pelapisan organik,
non organik dan logam.
1.

Pelapisan logam dan non organik


Pelapisan dengan ketebalan tertentu material logam dan non organik
dapat memberikan pembatas antara logam dan lingkungannya.
a.

Electroplating (Penyepuhan listrik)


Elektroplating

atau

lapis

listrik

adalah

suatu

proses

pengendapan/deposisi suatu logam pelindung yang dikehendaki

diatas logam lain dengan cara elektrolisa. Biasanya elektrolisa


dilakukan dalam suatu bejana yang disebut sel elektrolisa yang berisi
larutan elektrolit/rendaman (bath). Pada rendaman ini tercelup paling
tidak dua elektroda. Masing-masing elektroda dihubungkan dengan
arus listrik, terbagi menjadi kutub positif dan negatif dikenal dengan
kutub katoda dan anoda.
Selama proses lapis listrik berlangsung terjadi reaksi kimia
pada daerah elektroda/elektrolit; baik reaksi reduksi maupun
oksidasi. Karena ada proses lapis listrik reaksi diharapkan berjalan
terus menerus arah tertentu secara tetap, maka hal yang paling
penting dalam proses ini adalah mengoperasikan proses ini dengan
aru searah. Komponen-komponen yang berperan penting dalam
suatu proses lapis listrik adalah larutan elektrolit (sumber pelapis),
anoda, katoda (bahan uji), dan sirkuit luar.
Mengalirnya arus searah melalui suatu larutan berkaitan
dengan gerak partikel bermuatan (ion). Ujung-ujung keluar
masuknya arus dari/ke larutan disebut elektroda. Seperti diketahui,
pada bagian anoda reaksi yang terjadi adalah reaksi oksidasi
sedangkan pada katoda reaksinya adalah reaksi reduksi. Pergerakan
dari ion-ion larutan yang ada menyebabkan terjadinya kedua macam
reaksi pada sistem elektrolisa tersebut. Ion yang bergerak migrasi ke
anoda disebut anion, sedangkan yang bergerak ke katoda disebut
kation.
Jika arus listrik dialirkan ke dalam larutan elektrolit (larutan
pelapis) akan terjadi aliran ion-ion dalam larutan. Ion positif
bermigrasi ke arah elektroda negatif (katoda) dan ion negatif
bermigrasi ke arah elektroda positif (anoda), bersamaan dengan ini
terjadi proses pemindahan muatan pada kedua elektroda. Migrasi
dari ionion tersebut menimbulkan reaksi reduksi (katoda/benda
kerja) dan reaksi oksidasi (anoda).

Elektroplating adalah suatu proses pelapisan dimana terjadi


pengendapan suatu lapisan logam tipis pada permukaan yang dilapisi
dengan menggunakan arus listrik. Biasanya proses elektroplating
dilakukan dalam suatu bejana atau cawan yang terdiri dari elektroda
yang dihubungkan dengan arus listrik searah (DC) dimana rangkaian
ini disebut sel elektrolisa. Pada bejana atau cawan ini, paling tidak
terdapat elektroda, dimana masing-masing elektroda dihubungkan
dengan arus listrik yang terbagi menjadi kutub positif (anoda) dan
kutub negative (katoda) seperti gambar berikut.

Gambar . Rangkaian Dasar Elektrik untuk Elektroplating

b. Pencelupan Panas (hot dipping)


Dalam metode ini, struktur dicelupkan ke dalam bak berisi
lelehan logam pelapis. Antara logam pelapis dan logam yang
dilindungi terbentuk ikatan metalurgi yang baik karena terjadinya
proses perpaduan antar muka (interface alloying). Pengaturan tebal
pelapisan dalam proses pencelupan ini sulit, lapisan cenderung tidak
merata. Meskipun demikian, seluruh permukaan yang terkena
lelehan logam itu akan terlapisi.
c. Pelapisan dengan Penyemprotan

Logam pelapis berbentuk kawat diumpamakan pada bagian


depan penyembur api, dan begitu meleleh segera dihembus dengan
tekanan tinggi menjadi butir-butir yang halus. Butir-butir halus yang
terlempar dengan kecepatan 100 hingga 150 meter per detik itu
menjadi pipih ketika membentur permukaan logam dan melekat.
Sampai ketebalan tertentu, lapisan dengan cara ini lebih berpori
dibanding pencelupan dan penyalutan listrik.

d. Cladding
Lapisan dari logam tahan korosi dilapiskan ke logam lain
yang tidak mempunyai ketahan korosi terhadap lingkungan kerja
yang kurang baik namun dari segi sifat mekanik, fisik dsb baik.

e. Diffusion (pelapisan difusi)


Teknik mendifusikan logam pelapis atau pelapis bukan logam
ke dalam lapisan permukanan logam yang dilindungi dengan
membentuk selapis logam paduan pada komponen
2.

Pelapisan Organik
Pelapisan ini memberikan batasan-batasan antara material dasar
dan lingkungan. Pelapisan organik antara lain cat, vernis, enamel dan
selaput organik dan sebagainya.

E. Inhibitor Korosi
Inhibitor adalah zat yang menghambat atau menurunkan laju reaksi
kimia. Sifat inhibitor berlawanan dengan katalis, yang mempercepat laju
reaksi.

Inhibitor

korosi

adalah

zat

yang

dapat

mencegah

atau

memperlambat korosi logam.


Inhibitor korosi sendiri didefinisikan sebagai suatu zat yang apabila
ditambahkan dalam jumlah sedikit ke dalam lingkungan akan menurunkan
serangan korosi lingkungan terhadap logam. Mekanisme penghambatannya

terkadang lebih dari satu jenis. Sejumlah inhibitor menghambat korosi


melalui cara adsorpsi untuk membentuk suatu lapisan tipis yang tidak nampak
dengan ketebalan beberapa molekul saja, ada pula yang karena pengaruh
lingkungan membentuk endapan yang nampak dan melindungi logam dari
serangan yang mengkorosi logamnya dan menghasilkan produk yang
membentuk lapisan pasif, dan ada pula yang menghilangkan konstituen yang
agresif.
Dewasa ini terdapat 6 jenis

inhibitor, yaitu inhibitor yang

memberikan pasivasi anodik, pasivasi katodik, inhibitor ohmik, inhibitor


organik, inhibitor pengendapan, dan inhibitor fasa uap. Pembahasan
mengenai kimia dari inhibitor korosi dapat menyangkut sifat dari inhibitor,
interaksi inhibitor dengan berbagai lingkungan

yang agresif

serta

pengaruhnya terhadap proses korosi.


Secara umum korosi dapat digolongkan berdasarkan rupanya,
keseragaman atau keserbanekaannya,baik secara mikroskopis maupun
makroskopis. Dua jenis mekanisme utama dari korosi adalah berdasarkan
reaksi kimia secara langsung, dan reaksi elektrokimia. Korosoi dapat terjadi
didalam medium kering dan juga medium basah. Sebagai contoh korosi yang
berlangsung didalam medium kering adalah penyerangan logam besi oleh gas
oksigen (O2) atau oleh gas belerang dioksida (SO2). Didalam medium basah,
korosi dapat terjadi secara seragam maupun secara terlokalisasi. Contoh
korosi seragam didalam medium basah adalah apabila besi terendam didalam
larutan asam klorida (HCl). Korosi didalam medium basah yang terjadi
secara terlokalisasi ada yang memberikan rupa makroskopis, misalnya
peristiwa korosi galvani sistim besi - seng, korosi erosi, korosi retakan,
korosi lubang, korosi pengelupasan, serta korosi pelumeran, sedangkan rupa
yang mikroskopis dihasilkan misalnya oleh korosi tegangan, korosi patahan,
dan korosi antar butir. Dengan demikian, apabila didalam usaha pencegahan
korosi dilakukan melalui penggunaan inhibitor korosi, maka mekanisma dari
jenis-jenis korosi

diatas sangatlah penting artinya. Walaupun demikian

sebagian korosi logam khususnya besi, terkorosi di alam melalui cara


elektrokimia yang banyak menyangkut fenomena antar muka. Hal inilah
yang banyak dijadikan dasar utama pembahasan mengenai peran inhibitor
korosi.
Mekanisme Kerja Inhibitor Korosi
Suatu inhibitor kimia adalah suatu zat kimia yang dapat menghambat atau
memperlambat suatu reaksi kimia. Secara khusus, inhibitor korosi merupakan
suatu zat kimia yang bila ditambahkan kedalam suatu lingkungan tertentu, dapat
menurunkan laju penyerangan lingkungan itu terhadap suatu logam. Pada
prakteknya, jumlah yang di tambahkan adalah sedikit, baik secara kontinu
maupun periodik menurut suatu selang waktu tertentu.
Adapun mekanisme kerjanya dapat dibedakan sebagai berikut :
(1) Inhibitor teradsorpsi pada permukaan logam, dan membentuk suatu
lapisan tipis dengan

ketebalan beberapa molekul inhibitor. Lapisan ini

tidak dapat dilihat oleh mata biasa, namun dapat menghambat


penyerangan lingkungan terhadap logamnya.
(2) Melalui pengaruh lingkungan (misal pH) menyebabkan inhibitor dapat
mengendap dan selanjutnya

teradsopsi pada permukaan logam serta

melidunginya terhadap korosi. Endapan yang terjadi cukup banyak,


sehingga lapisan yang terjadi dapat teramati oleh mata.
(3) Inhibitor lebih dulu mengkorosi logamnya, dan menghasilkan suatu zat
kimia yang kemudian melalui peristiwa adsorpsi dari produk korosi
tersebut membentuk suatu lapisan pasif pada permukaan logam.
(4) Inhibitor menghilangkan kontituen yang agresif dari lingkungannya.
Berdasarkan sifat korosi logam secara elektrokimia, inhibitor dapat
mempengaruhi polarisasi anodik dan katodik. Bila suatu sel korosi dapat dianggap
terdiri dari

empat komponen yaitu: anoda, katoda, elektrolit dan penghantar

elektronik, maka inhibitor korosi

memberikan kemungkinan menaikkan

polarisasi anodik, atau menaikkan polasisasi katodik atau menaikkan tahanan

listrik dari rangkaian melalui

pembentukan endapan tipis pada

permukaan

logam. Mekanisme ini dapat diamati melalui suatu kurva polarisasi yang
diperoleh secara eksperimentil.

Jenis Inhibitor dan Mekanisme Kerjanya


1. Inhibitor Memasifkan Anoda
Inhibitor anodik adalah zat yang ditambahkan ke dalam elektrolit,
sehingga mampu menahan terjadinya reaksi anodik dioksida. Inhibitor ini
berakbat potesial korosi bergerak ke arah positive. Cotoh: kromat, nitrat dan nitrit
yang merupakan inhibitor anodic oksidator (efektif tanpa oksigen), sedangkan
inhibitor non oksidator (efektif dengan adanya oksigen terlarut) seperti boraks,
fosfat, silikat.
Salah satu contoh inhibitor yang memasifkan anoda adalah senyawa-senyawa
kromat, misalnya Na2CrO4 Salah satu reaksi redoks yang terjadi dengan logam
besi adalah:
Oksidasi : 2 Fe + 3 H2O Fe2O3 + 6 H(+) + 6e
Reduksi : 2 CrO42- + 10 H(+) + 6e Cr2O3 + 5 H2O
Red-oks : 2 Fe + 2 CrO42- + 4 H(+) Fe2O3 + Cr2O3 + 2 H2O
Padatan atau endapan Fe2O3 dan Cr2O3 inilah yang kemudian bertindak
sebagai pelindung bagi logamnya. Lapisan endapan tipis saja, namun cukup
efektif untuk melindungi permukaan logam yang lemah dari serangan zat-zat
agresif. Untuk ini diperlukan kontinuitas pembentukan lapisan endapan mengingat
lapisan tersebut bisa lepas yang disebabkan oleh adanya arus larutan. Berbagai
data penelitian dengan berbagai kondisi percobaan menganggap bahwa Cr(III)
nampak dominan pada spesimen yang didukung oleh pembentukan lapisan udara,
sementara itu Cr(IV) teramati di daerah luar dari spesimen pengamatan yang
didukung oleh suatu

lapisan pelindung yang

mengandung Cr(III). Ini

menunjukkan bahwa terjadinya reduksi Cr(IV) menjadi Cr(III) pada permukaan


spesimen. Secara keseluruhan tebal lapisan yang terdiri dari spesimen kromium
dan aluminium memperlihatkan lapisan dalam bentuk Cr(IV) memiliki ketebalan
sekitar satu perenam dari tebal lapisan keseluruhan. Hasil penelitian dengan
menggunakan teknik pendar fluor dari adsorpsi sinar x memperlihatkan
disagregasi lapisan yang mengandung Cr(IV) sebanding dengan pertumbuhan
Cr2O3 yang mengisi celah-celah lapisan anodik (dalam hal ini Al2O3) diatas
permukaan logam Al. Cara yang sudah lazim tentang studi pembentukan lqpisan
pasif pada permukaan logam akibat reaksi antar muka logam dengan inhibitor
dapat menggunakan

diagram potensial pH dan secara kinetik dengan

menggunakan kurva polarisasi. Inhibitor jenis CrO42- dan NO2- cukup banyak
digunakan untuk perlindungan logam besi dam aluminium terhadap berbagai
medium korosif. Namun dari studi teoritis maupun eksperimentil, kedua jenis
inhibitir tersebut kurang baik digunakan dalam medium yang mengandung H2S
dan Cl- . Dengan adanya H2S, sebagian dari CrO42- bereaksi dengan H2S yang
menghasilkan belerang. Nampaknya Cr2O3 yang terbentuk tidak dapat terikat
kuat pada logamnya. Sedangkan pada medium Cl-, terjadi kompetisi reaksi dengan
logamnya. Misalnya ion klorida dapat membentuk kompleks terlarut dengan
senyawa

Fe(III) yang

ada pada permukaan logam

besi, sehingga lapisan

pelindung Cr2O3 - Fe2O3 sukar dipertahankan keberadaannya.

2. Inhibitor Memasifkan Katoda


Inhibitor

katodik adalah zat yang dapat menghambat terjadiya reaksi

dikatoda, karena pada daerah katodik terbentuk logam hidroksida (MOH) yag
sukar larut dan menempel kuat pada permukaan logam sehinga menghambat laju
korosi. Dan karena adanya inhibitor katodik maka potensial korosi bergeser ke
arah negative. Dua reaksi uatama yang umum terjadi yaitu:
2H2O + O2 + 4e 4OH2H- + 2e H2 (reaksi pembentukan hidrogen dari proton)

Contoh inhibitor katodik adalah Arsen (As3+), antimon (Sb3+), fosfor (P),
kation positive dari logam divalent (seperti Zn2+ , Pb2+ , dan Fe2+) , air sadah yang
mengandung bikarbonat, soda dan polifosfat.
Karena bagi suatu sal korosi, reaksi reduksi oksidasi terbentuk oleh
pasangan reaksi reduksi dan reaksi oksidasi dengan kecepatan yang sama, maka
apabila reaksi reduksi (pada katoda) dihambat akan menghambat pula reaksi
oksidasi (pada anoda). Inilah yang menjadi pedoman pertama di dalam usaha
menghambat korosi logam dalam medium air atau medium asam. Hal yang kedua
adalah melalui penutupan permukaan katoda oleh suatu senyawa kimia tertentu
baik yang dihasilkan oleh suatu reaksi kimia atau melalui pengaturan kondisi
larutan,misalnya pH. Secara umum terdapat 3 jenis inhibitor yang mempasifkan
katoda, yaitu jenis racun katoda, jenis inhibitor mengendap pada katoda dan jenis
penangkap oksigen. Inhibitor racun katoda pada dasarnya berperan mengganggu
rekasi pada katoda. Pada kasus pembentukan gas hidrogen, reaksi diawali
yang teradsorpsi pada permukaan katoda.

3. Inhibitor Ohmik dan Inhibitor Pengendapan


Sebagai akibat lain daripada penggunaan inhibitor pembentuk lapisan
pada katoda maupun anoda adalah semakin bertambahnya tahanan daripada
rangkaian elektrolit. Lapisan yang dianggap memberikan kenaikan tahanan yang
memadai biasanya mencapai ketebalan beberapa mikroinchi. Bila lapisan terjadi
secara selektif pada daerah anoda, maka potensial korosi akan bergeser kearah
harga yang lebih positif, dan sebaliknya potensial korosi akan bergeser ke arah
yang lebih negatif bilamana lapisan terjadi pada daerah katoda. Jenis inhibitor
pengendapan yang banyak digunakan adalah natrium silikat dan berbagai senyawa
fosfat yang pada umumnya baik digunakan untuk melindungi baja keduanya
cukup efektif bila kondisi pH mendekati 7 dengan kadar Cl- yang rendah.

4.

Inhibitor Organik

Dewasa ini sudah berpuluh bahkan mungkin ratusan jenis inhibitor


organik yang digunakan. Studi mengenai mekanisme pembentukan lapisan
lindung atau penghilangan konstituen agresif telah banyak dilakukan baik dengan
cara-cara yang umum maupun dengan cara-cara baru dengan peralatan modern.
Pada umumnya senyawa-senyawa organik yang dapat digunakan adalah senyawasenyawa yang mampu membentuk senyawa kompleks baik kompleks yang
terlarut maupun kompleks yang mengendap. Untuk itu diperlukan adanya gugus
gugus fungsi yang mengandung atom atom yang mampu membentuk ikatan
kovalen terkoordinasi, misalnya atom nitrogen, belerang, pada suatu senyawa
tertentu.

5. Bahan Alam sebagai Alternatif Inhibitor Korosi


Umumnya, inhibitor korosi berasal dari senyawa-senyawa organik dan
anorganik yang mengandung gugus-gugus yang memiliki pasangan elektron
bebas, seperti nitrit, kromat, fospat, urea, fenilalanin, imidazolin, dan senyawasenyawa amina. Namun demikian, pada kenyataannya bahwa bahan kimia sintesis
ini merupakan bahan kimia yang berbahaya, harganya lumayan mahal, dan tidak
ramah lingkungan, maka sering industri-industri kecil dan menengah jarang
menggunakan inhibitor pada sistem pendingin, sistem pemipaan, dan sistem
pengolahan air produksi mereka, untuk melindungi besi/baja dari serangan korosi.
Untuk itu penggunaan inhibitor yang aman, mudah didapatkan, bersifat
biodegradable, biaya murah, dan ramah lingkungan sangatlah diperlukan.
Salah satu alternatifnya adalah ekstrak bahan alam khususnya senyawa
yang mengandung atom N, O, P, S, dan atom-atom yang memiliki pasangan
elektron bebas. Unsur-unsur yang mengandung pasangan elektron bebas ini
nantinya dapat berfungsi sebagai ligan yang akan membentuk senyawa kompleks
dengan logam. Dari beberapa hasil penelitian seperti Fraunhofer (1996), diketahui
bahwa ekstrak daun tembakau, teh dan kopi dapat efektif sebagai inhibitor pada
sampel logam besi, tembaga, dan alumunium dalam medium larutan garam.

Keefektifan ini diduga karena ekstrak daun tembakau, teh, dan kopi memiliki
unsur nitrogen yang berfungsi sebagai pendonor elektron terhadap logam
Fe2+ untuk membentuk senyawa kompleks.
Sudrajat dan Ilim (2006) juga mengemukakan bahwa ekstrak daun
tembakau, lidah buaya, daun pepaya, daun teh, dan kopi dapat efektif menurunkan
laju korosimild steel dalam medium air laut buatan yang jenuh CO2. Efektivitas
ekstrak bahan alam sebagai inhibitor korosi tidak terlepas dari kandungan nitrogen
yang terdapat dalam senyawaan kimianya seperti daun tembakau yang
mengandung senyawa-senyawa kimia antara lain nikotin, hidrazin, alanin,
quinolin, anilin, piridin, amina, dan lain-lain (Reynolds, 1994). Lidah buaya
mengandung aloin, aloenin, aloesin dan asam amino. Daun pepaya mengandung
N-asetil-glukosaminida, benzil isotiosianat, asam amino (Andrade et al., 1943).
Sedangkan daun teh dan kopi banyak mengandung senyawa kafein dimana kafein
dari daun teh lebih banyak dibandingkan kopi.

Mekanisme Proteksi Ekstrak Bahan Alam


Mekanisme proteksi ekstrak bahan alam terhadap besi/baja dari serangan
korosi diperkirakan hampir sama dengan mekanisme proteksi oleh inhibitor
organik. Reaksi yang terjadi antara logam Fe2+ dengan medium korosif seperti
CO2diperkirakan

menghasilkan

Fe2(CO3)3 dan reaksi

antara

FeCO3,

oksidasi

lanjutan

menghasilkan

Fe2+ dengan inhibitor ekstrak bahan

alam

menghasilkan senyawa kompleks. Inhibitor ekstrak bahan alam yang mengandung


nitrogen mendonorkan sepasang elektronnya pada permukaan logam mild
steel ketika ion Fe2+ terdifusi ke dalam larutan elektrolit, reaksinya adalah Fe ->
Fe2+ + 2e- (melepaskan elektron) dan Fe2+ + 2e- -> Fe (menerima elektron).

Produk yang terbentuk di atas mempunyai kestabilan yang tinggi


dibanding dengan Fe saja, sehingga sampel besi/baja yang diberikan inhibitor
ekstrak bahan alam akan lebih tahan (ter-proteksi) terhadap korosi. Contoh
lainnya, dapat juga dilihat dari struktur senyawa nikotin dan kafein yang terdapat
dalam ekstrak daun tembakau, teh, dan kopi, dimana kafein dan nikotin yang
mengandung gugus atom nitrogen akan menyumbangkan pasangan elektron
bebasnya untuk mendonorkan elektron pada logam Fe2+ sehingga terbentuk
senyawa kompleks dengan mekanisme yang sama seperti diatas.

REFERENSI
Angga Setiawan. 2014. Pengendalian Korosi Melalui Perancangan dan dan
Perubahan Lingkungan. https://id.scribd.com/doc/194990715/korosi-ll .
Didownload pada 22 Desember 2014 jam 10.10WIB
Elva Rizky Auliya. 2013. Inhibitor korosi.
https://id.scribd.com/doc/144304434/Inhibitor-Korosi#download.
Didownload pada 22 Desember 2014 jam 09.43 WIB
Rizal Nur Ikhwani. 2014. Pengendalian Korosi Dengan Cara Perlindungan
Katodik
Anodik
Dan
Pelapisan.
https://id.scribd.com/doc/208059523/Pengendalian-Korosi-Dengan-CaraPerlindungan-Katodik-Anodik-Dan-Pelapisan. Didownload pada 22
Desember jam 10.09 WIB
Ulfatu Rohmah. 2012. korosi pada lgam.
https://id.scribd.com/doc/90973992/korosi-pada-lgam. Didownload pada
22 Desember 2014 jam 09.59 WIB