Anda di halaman 1dari 7

1.

Pendekatan Fikih Siyasah


Ada tiga pendekatan dalam mengkaji Islam dan Politik, yakni Pendekatan Normatif, SosioHistoris serta Filosofis. Pendekatan normatif diasumsikan bahwa memahami kajian politik
dalam Islam tidak bisa dilepaskan dari disiplin yang sangat dominan, yakni fikih. Namun,
tidak bisa disangkal lagi bahwa kajian politik dalam sejarah Islam dengan menjadikan fikih
sebagai optiknya, tidak bisa dilepaskan dari bidang yang lain, yakni teologi. Membahas
politik dalam Islam secara normative berarti mendarasnya dalam bingkai fikih (juga teologi),
menggambarkan argumentasi masing-masing kelompok yang disarikan dari teks-teks
keagamaan. Sementara pendekatan sosio-historis berarti menggabungkan dua pendekatan
sekaligus yakni sosiologis dan sejarah sebagai sebuah cara pandang. Karena itu, mengkaji
politik Islam dalam kerangka sosiohistoris berarti melihat elemen-elemen dalam panggung
politik Islam dari aspek social (bisa meliputi interaksi, struktur, simbol, institusi dan lainnya)
dan kesejarahan (peristiwa

dengan memperhatikan unsur

tempat, waktu, obyek,

latar belakang, dan pelaku). Yang terakhir, pendekatan filosofis yang tentu saja bermaksud
untuk melihat kandungan nilai atau substansi dalam setiap formasi politik Islam.
Pendekatan utama yang biasa digunakan dalam mengkaji politik Islam adalah fikih.
Seperti yang digambarkan di awal, bahwa pendekatan fikih baru digunakan setelah
pendekatan teologi terlebih dahulu membahas tema politik itu. Para mutakallim yang pertama
kali kali mengangkat isu politik, misalnya yang terefleksikan dalam bahasan imamah
(Assyaukanie, 2005: 251). Pendekatan normatif dalam wilayah teologi ini bisa digunakan
misalnya dalam melihat bagaimana respon kelompok-kelompok dalam Islam ketika
menyikapi suksesi pasca nabi. Ada tiga madzhab teologi yang berbeda dalam menyikapi
peristiwa tersebut. Pertama adalah pengikut Syiah yang menyatakan bahwa imamah
merupakan hak keluarga nabi (ahl al-bayt). Kedua, pengikut Muawiyah yang mengatakan
bahwa imamah adalah pilihan manusia dan campurtangan Tuhan. Ketiga, pengikut khawarij
yang menganggap bahwa masalah imamah harus dikembalikan pada dalil al-Quran. Dengan
menggunakan optik normatif-teologis kajian Islam bisa digunakan untuk mengungkap
argumentasi masing-masing kelompok ihwal proyeksi politiknya. Salah satu karya yang
sangat otoritatif berbicara tentang aliran-aliran teologi dalam Islam adalah Al-Milal wan
Nihal karya Al-Syahrastani.
Pendekatan normatif berikutnya adalah normatif-fiqhiy. Seperti disinggung di awal, fikih
tentang politik baru ditulis kira-kira 4-5 abad kemudian setelah perdebatan tentang imamah.

Al-Mawardi, sebagai peletak dasar fikih politik Islam, berusaha menguraikan tentang
bagaimana masyarakat politik itu berdiri. Fikih banyak berbicara tentang bagaimana
mekanisme kepemimpinan Negara atau khalifah, yang kemudian menjadi tema sentralnya.
(Assyaukanie, 253). Memang ada unsur kesejarahan yang diuraikan dalam pendekatan fikih,
tetapi sejarah dalam pendekatan fikih lebih pada usaha untuk mencari pembenar atas sistem
tertentu (baca: khilafah). Dengan begitu sejarah dalam pendekatan fikih tidak duduk dalam
posisi yang netral sebagai sebuah pendekatan.
Pendekatan fikih disini juga meniscayakan bahwa politik sebagai sesuatu yang ilahi.
Artinya, politik selalu dilekatkan dalam persepsi bahwa ia merupakan perintah Tuhan.
Pemahaman seperti ini yang kemudian terformulasi dalam sebuah gagasan politik Islam yang
sangat eksklusif. Contohnya adalah persyaratan pemimpin yang harus beragama Islam, atau
bahkan bersuku Quraisy seperti yang ditulis oleh al-Mawardi. Lalu pembagian wilayah ke
dalam Darul Islam dan Darul Kufr, konsep Ahl Dzimmah (protected minority), dan lainnya.
Sebagai refleksi pemikiran masa tertentu, fikih pada gilirannya mencerminkan aktivitas
social-politik pada masanya. Jika tidak dipahami secara kontekstual, maka pendekatan fikih
terhadap politik akan sulit dicari relevansinya.
Cara pandang lain dalam memahami politik Islam adalah sosio-historis. Sebagai
sebuah objek penelitian, politik mestinya tidak hanya berbicara tentang mekanisme
pergantian kekuasaan semata. Mengutip Mazhab Annales (via Azra, 2004: 26), sejarah politik
mestinya memberikan analisis pada struktur jangka panjang atau long-term structure yang
didalamnya mencakup bahasan mengenai sistem semiological (semiologi: studi tentang tanda
dan simbol) seperti peristilahan, ritual, perilaku, dan sikap mental politik. Disini, politik harus
menjadi bagian dari general history.
Beberapa karya yang mencoba menempatkan politik Islam sebagai bagian dari
general history atau total history adalah Marshal G.S Hodgson dalam The Venture of Islam:
Conscience and History in a World Civilization dan Ira M. Lapidus dalam A History of
Islamic Societies. Hodgson menggambarkan sejarah Islam sebagai bagian pinggir dari sejarah
dunia. Memahami Islam karenanya tidak bisa hanya membahas Islam per se tetapi ia harus
ditempatkan dalam sejarah peradaban dunia. Sementara Lapidus mendedah mengenai
heterogenitas masyarakat muslim di pelbagai belahan dunia. Bagaimana masyarakat muslim
berdialog dengan dunianya, dan bagaimana interaksi antara pengalaman mereka dengan nilainilai Islam itu terjadi. Kata Azra (2004), dua karya itu menggambarkan general history yang

dalam batas-batas tertentu merujuk pada model sejarah dari pinggir. Sejarah model ini
biasa melihat sejarah sosial yang pada umumnya berbicara mengenai adat, tata cara yang
dikembangkan dalam kehidupan keseharian. Ia menggambarkan sejarah masyarakat Muslim
secara keseluruhan, yang meliputi kawasan non-Arab. Sejarah Islam dari pusat yang
berbicara lebih banyak tentang institusi politik misalnya, merupakan bagian kecil dari Sejarah
Islam dari pinggir. Keduanya bisa saling melengkapi. Buku karya Mahmoud Musthafa
Ayoub, The Crisis of Muslim History: Religion and Politics in Early Islam adalah salah satu
karya yang membahas sejarah Islam dari pusat.
Pembahasan yang lain tentang politik Islam bisa dilihat secara filosofis. Jika
pendekatan fikih lebih banyak berbicara tentang siapa yang menjadi pemimpin, filsafat
menekankan pada kondisi ideal sebuah negara. Yang termaktub dalam al-Quran sebenarnya
adalah substansi, tujuan atau nilai yang mesti diendapkan oleh masyarakat dan pemerintahan
sebuah negara. Idealitas itu misalnya terbaca dalam term-term al-Quran tentang kejujuran
dan akuntabilitas (al-amanah), keadilan, persaudaraan, penghargaan terhadap perbedaan,
persamaan, perdamaian, permusyawaratan dan lainnya. Namun, ihwal bentuk negara, alQuran tidak memerincinya. Al-Farabi menggambarkan pemerintahan yang ideal ini dalam
frasa al-Madinah al-Fadhilah atau kota utama.
Perbedaan antara pendekatan fikih dan filsafat dalam membahas politik bisa
digambarkan secara sederhana. Pertama, fikih menyikapi pemikiran politik sebagai rangkaian
peristiwa sejarah tentang pembentukan Negara (state) dan ketiadaan Negara (anarchy).
Sementara dalam filsafat, politik disikapi dalam konteks gagasan masyarakat ideal (utopia).
Kedua, filsafat lebih berorientasi ke masa depan, sementara fikih berusaha untuk mencari
pembenaran dari sejarah masa lalu. Ketiga, filsafat bisa menerima gagasan yang bersifat
universal, sementara fikih berkutat pada tradisi perpolitikan masyarakat muslim.
(Assyaukanie, 2005: 253)
Dengan berpancang pada ide universal mengenai politik, maka pendekatan filsafat
tidak terlalu memperdebatkan wacana syariat Islam (formalis) sebagai dasar hukum sebuah
negara, suku mana yang memimpin, agama seorang kepala negara dan lain-lainnya.
Penekanan pada aspek substansial menjadi aspek sentral dalam pendekatan ini.
2. Obyek-Obyek Kajian Fiqh Siyasah

Setiap ilmu mempunyai obyek dan metode. Sehingga jika kita berbicara tentang ilmu
maka kita harus tahu obyeknya, pembahasan serta metodenya. Abdul Wahhab Khallaf
menjelaskan bahwa obyek fiqih siyasah adalah membuat peraturan dan perundang-undangan
yang dibutuhkan untuk mengurus negara sesuai dengan pokok-pokok ajaran agama.
Realisasinya untuk tujuan kemaslahatan manusia dan untk memenuhi kebutuhan manusia.
Hasbi Ash-Shiddieqy mengatakan bahwa obyek dari kajian fiqh siyasah yaitu berkaitan
dengan pekerjaan mukallaf dan segala urusan pentadbirannya, dengan mengingat
persesuaian pentadbiran itu dengan jiwa syariah, yang kita tidak peroleh dalilnya yang
khusus dan tidak berlawanan dengan suatu nash dari nash-nash yang merupakan syariah
amah yang tetap. Sedangkan menurut Ibn Taimiyah menyatakan bahwa kajian dari fiqh
siyasah yaitu tentang aturan hubungan antara penguasa dengan rakyatnya, tentang pemerintah
yang memiliki kewajiban untuk menyampaikan amanahnya serta kewajiban dan hak-hak
mereka dalam mencapai suatu tujuan negara yang berdasar pada Al-Quran surat Al-Nisa
ayat 58-59.
Berdasar dari pandangan para ulama tersebut, Secara garis besar ada 3 obyek
pembahasan dari fiqh siyasah:
1. Peraturan dan perundang-undangan negara sebagai pedoman dan landasan idiil dalam
mewujudkan kemaslahatan ummat
2. Pengorganisasian dan pengaturan untuk mewujudkan kemaslahatan umat
3. Mengatur hubungan antara penguasa dan rakyat serta hak-hak dan kewajibankewajiban mereka dalam mencapai tujuan negara.
Berkenaan dengan luasnya objek kajian fiqh siyasah, maka dalam tahap
perkembangan fiqh siyasah ini, dikenalkan beberapa pembidangan fiqh siyasah, yaitu:
a. Fiqh siyasah Dustury adalah siyasah yang berhubungan dengan peraturan dasar
tentang bentuk pemerintahan, dan batasan kekuasaan, cara pemilihan kepala negara,
ketetapan hak-hak yang wajib bagi individu dan masyarakat, serta hubungan penguasa
dan rakyat.
b. Fiqh Mally (Departemen Keuangan) adalah siyasah yang mengatur hak-hak orangorang miskin, mengatur sumber mata air, dan perbankan.
c. Fiqh Dawliy (Departemen Luar Negeri) yaitu siyasah yang mengatur tentang
peperangan dan aspek-aspek yang berhubungan dengannya, seperti perdamaian.

3. Metode Mempelajari Fiqh Siyasah


Metode yang digunakan pada metode fiqh siyasah itu tidak berbeda dengan fiqh pada
umumnya yaitu metode ushul fiqh dan kaidah-kaidah fiqh. Penerapan dalil kulli (umum)
memiliki kandungan universal tidak terikat oleh dimensi ruang dan waktu, yang mana
dalil ini dijadikan sebagai alat kontrol terhadap ketetapan produk berpikir.

Metode

tersebut tentunya harus dapat mengatasi problematika kemanusiaan yang bermoral agama
(secara horizontal), secara vertikal menyesuaikan nilai-nilai ketuhanan. Menggunakan
metode ushul fiqh dan qawaid al-fiqhiyyah dalam bidang fiqih siyasah lebih penting
dibanding dengan fiqh-fiqh lain, karena problem siyasah hampir tidak diatur secara
terperinci oleh Al-Quran maupun Al-Hadits.Metode secara umum ada beberapa metode
Ushul fiqh yang dapat diaplikasikan dalam mempelajari fiqh siyasah diantaranya adalah:
1.

Qiyas (Analogi)

Qiyas mempersamakan suatu masalah yang hukumnya tidak disebut dalam nash
dengan suatu masalah yang ada penjelasan hukumnya dalam nash, karena adanya persamaan
illat hukum pada keduanya. Metode ini dipergunakan jika ada kemiripan kasus hukum baru
dengan kasus hukum lama. Untuk praktek Qiyas harus memperhatikan empat unsur: al-ashl
(pokok), yaitu suatu masalah yang ada hukumnya dalam nash yang menjadi sandaran qiyas;
al-far (cabang), yaitu masalah yang tidak ada nash hukumnya dan membutuhkan penetapan
hukumnya; hukm al-ashl (hukum pokok), yaitu hukum syara yang menjadi nash bagi al-ashl
; dan illat hukm al-ashl (sebab hukum atas pokok), yaitu keterangan atau sifat pada pokok
sebagai alasan penetapan hukumnya, dan dengan alasan itu dapat diketahui hukum bagi far.
Qiyas baik dipergunakan dalam masalah baru dengan kesamaan illat hukum yang lama,
dalam dimensi waktu dan tempat berbeda. Contoh , Nabi saw melakukan dakwah islamiyyah
dengan mengirimkan beberapa surat pada penguasa tetangga negara, untuk diajak
menjalankan ajaran tauhid. Upaya tersebut diujudkan dalam bentuk ekspansi ke negaranegara tetangga oleh Umar bin Khattab ra. dan khalifah-khalifah sesudahnya.
2. Al-Ijma
Al-Ijma merupakn kesepakatan (konsensus) para fuqaha (ahli fiqih) dalam satu
kasus. Misalnya pada masa khalifah Umar ra. Dalam mengatur pemerintahannya Umar ra
melakukan musyawarah maupun koordinasi dengan para tokoh pada saat itu. Hal-hal baru
seperti membuat peradilan pidana-perdata, menggaji tentara, administrasi negara dll,
disepakati oleh sahabat-sahabat besar saat itu. Bahkan Umar ra. mengintruksikan untuk salat

tarawih jamaah 20 rakaat di masjid, merupakan keberaniannya yang tidak diprotes oleh
sahabat lain.

3. Al-Istihsan
Al-Istihsan disebut juga mengambil satu dari dua dalil yang lebih kuat. Ibnu alArabiy menganggap bahwa istihsan adalah melaksanakan satu ketentuan hukum atas dasar
dalil yang kuat diantara dua dalil yang ada. Hal ini dilakukan untuk memilih yang lebih baik
demi memenuhi tuntutan kemaslahatan dan tujuan syariat.
4. Al-Maslahah al-mursalah
Al-Maslahah al-Mursalah adalah sesuatu yang menjadi kepentingan hidup manusia,
sedangkan hal tersebut tidak ditentukan dasarnya dalam nash Al-Quran maupun al-Hadits
baik yang menguatkan atau yang membatalkannya. Contoh, penulisan dan pembakuan bacaan
al-Quran yang ditangani oleh Usman bin Affan ra. yang kemudian dibukukan dan dijadikan
pegangan para Gubernur di beberapa daerah, sehingga menjadi mushaf usmani. Upaya ini
dilakukannya agar ayat Al-Quran tidak hilang dan bacaannya seragam.
5. Istishhab
Istishhab adalah menjadikan ketetapan hukum yang ada tetap berlaku hingga ada
ketentuan dalil yang mengubahnya. Artinya mengembalikan segala sesuatu kepada ketentuan
semula selama tidak ada dalil nash yang mengharamkannya atau melarangnya.
6. Urf
Kata Urf berarti adat istiadat atau kebiasaan. Urf adalah apa yang dikenal oleh
manusia dan menjadi tradisinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, dan atau
meninggalkan sesuatu.
7.

Kaidah fiqihiyyah

kaidah fiqihiyah kulliyah banyak dipergunakan untuk menetapkan problim siyasah.


Kaidah-kaidah tersebut bersifat umum, karena itu dalam aplikasinya harus memperhatikan
pengecualian-pengecualian dan sayarat-sayarat tertentu. Contoh; kaidah-kaidah fiqihiyah
dipergunakan dalam fiqih siyasah adalah :

Hukum selalu konsisten dengan illatnya (alasan-alasannya), ada dan tidak-adanya hukum
tergantung dengan ada dan tidak adanya alasan tersebut
Contoh, menurut Abduh jika disuatu negara masih ada perjudian, dana judi kemudian
diberikan kepada fakir miskin, maka mereka dapat memanfaatkan dana tersebut untuk
kebutuhan primer mereka. Pada suatu saat Umar bin Khattab tidak memvonis pencuri-pencuri
dipotong tangan, karena kejadian tersebut berada masa paceklik. Muallaf qlubuhum
dipandang tidak ada pada saat itu, sehingga satu asnaf tidak diberi jatah zakat.

Perubahan hukum sejalan dengan dimensi ruang dan waktu, keadaan, kebiasaan dan niat
(hukum adalah bersifat kondisional).
Contoh pada masa Orba UUD45 hampir tidak tersentuh oleh perubahan. Sesudah reformasi
amandemen UUD45, dilakukan karena pertimbangan kepentingan/kebutuhan bangsa dan
rakyat Indonesia.

Menghindari bahaya agar dapat memperoleh maslahat (kebaikan secara umum).
Contoh UU Perkawinan di Indonesia dengan menggunakan asas monogami merupakan
keinginan bangsa Indonesia, agar menghargai terhadap perempuan. Praktek ilegal-gami
dilakukan oleh laki-laki karena kepentingan seks dan dilakukan dengan main kucingkucingan.