Anda di halaman 1dari 24

RUPTUR CORNEA

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA


Secara garis besar anatomi mata dapat dikelompokkan menjadi empat
bagian, dan untuk ringkasnya fisiologi mata akan diuraikan secara terpadu.
Keempat kelompok ini terdiri dari :
1) Palpebra
Dari luar ke dalam terdiri dari: kulit, jaringan ikat lunak, jaringan otot,
tarsus, vasia dan konjungtiva.
Fungsi dari palpebra adalah untuk melindungi bola mata, bekerja sebagai
jendela memberi jalan masuknya sinar kedalam bola mata, juga
membasahi dan melicinkan permukaan bola mata.
2) Rongga mata
Merupakan suatu rongga yang dibatasi oleh dinding dan berbentuk sebagai
piramida kwadrilateral dengan puncaknya kearah foramen optikum.
Sebagian besar dari rongga ini diisi oleh lemak, yang merupakan bantalan
dari bola mata dan alat tubuh yang berada di dalamnya seperti: urat saraf,
otot-otot penggerak bola mata, kelenjar air mata, pembuluh darah
3) Bola mata
Menurut fungsinya maka bagian-bagiannya dapat dikelompokkan menjadi:
-

Otot-otot penggerak bola mata

Dinding bola mata yang teriri dari: sclera dan kornea. Kornea
kecuali sebagai dinding juga berfungsi sebagai jendela untuk jalannya
sinar.

Isi bola mata, yang terdiri atas macam-macam bagian dengan


fungsinya masing-masing

4) Sistem kelenjar bola mata


Terbagi menjadi dua bagian:
- Kelenjar air mata yang fungsinya sebagai penghasil air mata

- Saluran air mata yang menyalurkan air mata dari fornik konjungtiva ke
dalam rongga hidung
B. DEFINISI
Trauma tembus pada mata adalah suatu trauma dimana seluruh lapisan
jaringan atau organ mengalami kerusakan.
C. ETIOLOGI
Trauma tembus disebabkan benda tajam atau benda asing masuk kedalam
bola mata.
D. TANDA DAN GEJALA
1) Tajam penglihatan yang menurun
2) Tekanan bola mata rndah
3) Bilikmata dangkal
4) Bentuk dan letak pupil berubah
5) Terlihat adanya ruptur pada corneaatau sclera
6) Terdapat jaringan yang prolapsseperti caiaran mata iris,lensa,badan kaca
atau retina
7) Kunjungtiva kemotis
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiology pada trauma mata sangat membantu dalam
menegakkan diagnosa, terutama bila ada benda asing .Pemeriksaan ultra
sonographi untuk menentukan letaknya, dengan pemeriksaan ini dapat
diketahui benda tersebut pada bilik mata depan, lensa, retina.
b. Pemeriksaan Computed Tomography (CT)
Suatu tomogram dengan menggunakan komputer dan dapat dibuat scanning
dari organ tersebut.

F. PENATALAKSANAAN
Bila terlihat salah satu tanda diatas atau dicurigai adanya perforasi bola mata,
maka secepatnya dilakukan pemberian antibiotik topical, mata ditutup, dan
segera dikirim kepada dokter mata untuk dilakukan pembedahan. Sebaiknya
dipastikan apakah ada benda asing yang masuk ke dalam mata dengan
membuat foto. Pada pasien dengan luka tembus bola mata selamanya
diberikan antibiotik sistemik atau intravena dan pasien dikuasakan untuk
kegiatan pembdahan. Pasien juga diberi antitetanus provilaksis, dan kalau
perlu penenang. Trauma tembus dapat terjadi akibat masuknya benda asing ke
dalam bola mata. Benda asing didalam bola mata pada dasarnya perlu
dikeluarkan dan segera dikirim ke dokter mata. Benda asing yang bersifat
magnetic dapat dikeluarkan dengan mengunakan magnet raksasa. Benda yang
tidak magnetic dikeluarkan dengan vitrektomi. Penyulit yang dapat timbul
karena terdapatnya benda asing intraokular adalah indoftalmitis, panoftalmitis,
ablasi retina, perdarahan intraokular dan ftisis bulbi.
G. PATOFISIOLOGI
Trauma tembus pada mata karena benda tajam maka dapat mengenai organ
mata dari yang terdepan sampai yang terdalam. Trauma tembus bola mata bisa
mengenai :
1) Palpebra
Mengenai sebagian atau seluruhnya jika mengenai levator apaneurosis
dapat menyebabkan suatu ptosis yang permanen
2) Saluran Lakrimalis
Dapat merusak sistem pengaliran air mata dai pungtum lakrimalis sampai
ke rongga hidung. Hal ini dapat menyeabkan kekurangan air mata.
3) Congjungtiva
Dapat merusak dan ruptur pembuluh darah menyebabkan perdarahan sub
konjungtiva
4) Sklera

Bila ada luka tembus pada sklera dapat menyebabkan penurunan tekana
bola mata dan kamera okuli jadi dangkal (obliteni), luka sklera yang lebar
dapat disertai prolap jaringan bola mata, bola mata menjadi injury.
5) Kornea
Bila ada tembus kornea dapat mengganggu fungsi penglihatan karena
fungsi kornea sebagai media refraksi. Bisa juga trauma tembus kornea
menyebabkan iris prolaps, korpusvitreum dan korpus ciliaris prolaps, hal
ini dapat menurunkan visus
6) Uvea
Ila luka dapat menyeabka pengaturan banyaknya cahay yang masuk
sehinggan muncul fotofobia atau penglihatan kabur
7) Lensa
Ila ada trauma akan mengganggu daya fokus sinar pada retina sehingga
menurunkan daya refraksi dan sefris sebagai penglihatan menurun karena
daya akomodasi tisak adekuat.
8) Retina
Dapat menyebabkan perdarahan retina yang dapat menumpuk pada rongga
badan kaca, hal ini dapat muncul fotopsia dan ada benda melayang dalam
badan kaca bisa juga teri oblaina retina.

Trauma Tumpul Bola Mata


Struktur wajah dan mata sangat sesuai untuk melindungi mata dari cedera.
Bola mata terdapat di dalam sebuah rongga yang dikelilingi oleh bubungan
bertulang yang kuat. Kelopak mata bisa segera menutup untuk membentuk
penghalang bagi benda asing dan mata bisa mengatasi benturan yang ringan tanpa
mengalami kerusakan.
Meskipun demikian, mata dan struktur di sekitarnya bisa mengalami
kerusakan akibat cedera, kadang sangat berat sampai terjadi kebutaan atau mata
harus diangkat. Cedera mata harus diperiksa untuk menentukan pengobatan dan
menilai fungsi penglihatan.
Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak yang menimbulkan
perlukaan mata. Trauma mata merupakan kasus gawat darurat mata, dan dapat
juga sebagai kasus polisi. Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat

atau menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata. Alat rumah tangga sering
menimbulkan perlukaan atau trauma mata.
Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak disengaja yang
menimbulkan perlukaan mata. Trauma mata merupakan kasus gawat darurat mata.
Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan
kebutaan bahkan kehilangan mata.
Trauma tumpul, meskipun dari luar tidak tampak adanya kerusakan yang
berat, tetapi transfer energi yang dihasilkan dapat memberi konsekuensi cedera
yang fatal. Kerusakan yang terjadi bergantung kekuatan dan arah gaya, sehingga
memberikan dampak bagi setiap jaringan sesuai sumbu arah trauma. Trauma
tumpul dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Kontusio, yaitu kerusakan disebabkan oleh kontak langsung dengan benda dari
luar terhadap bola mata, tanpa menyebabkab robekan pada dinding bola mata
2. Konkusio, yaitu bila kerusakan terjadi secara tidak langsung. Trauma terjadi pada
jaringan di sekitar mata, kemudian getarannya sampai ke bola mata.
Baik kontusio maupun konkusio dapat menimbulkan kerusakan jaringan
berupa kerusakan molekular, reaksi vaskular, dan robekan jaringan. Menurut
Duke-Elder, kontusio dan konkusio bola mata akan memberikan dampak
kerusakan mata, dari palpebra sampai dengan saraf optikus.
Pasien Dengan Trauma Tumpul Mata dapat mengakibatkan hifema.
Hifema adalah darah dalam bilik mata depan sebagai akibat pecahnya pembuluh
darah pada iris, akar iris dan badan silia.
2.3 Etiologi
Gejala yang ditimbulkan tergantung jenis trauma serta berat dan ringannya
trauma, Trauma tumpul dapat menimbulkan perlukaan ringan yaitu penurunan
penglihatan sementara sampai berat, yaitu perdarahan didalam bola mata,
terlepasnya selaput jala (retina) atau sampai terputusnya saraf penglihatan
sehingga menimbulkan kebutaan menetap.
Trauma Tumpul, misalnya: terpukul, kena bola tenis, atau shutlecock,
membuka tutup botol tidak dengan alat, ketapel.
2.4 Tanda dan gejala
1. subyektif yaitu: Penderita mengeluh nyeri disertai penglihatan yang menurun.
2. obyektif yaitu: (1) pelebaran pembuluh darah perikornea, (2) visus menurun,
(3) hifema, (4) darah yang menempel pada endotel kornea, dan (5) tes fluoresin
dapat (+) atau (-).
2.5 Manifestasi Klinis
Berbagai Kerusakan Jaringan Mata Akibat Trauma diantaranya:
1. Orbita
Trauma tumpul orbita yang kuat dapat menyebabkan bola mata terdorong
dan menimbulkan fraktur orbita. Fraktur orbita sering merupakan perluasan

fraktur dari maksila yang diklasifikasikan menurut Le Fort, dan fraktur tripod
pada zygoma yang akan mengenai dasar orbita. Apabila pintu masuk orbita
menerima suatu pukulan, maka gaya-gaya penekan dapat menyebabkan fraktur
dinding inferior dan medial yang tipis, disertai dengan prolaps bola mata beserta
jaringan lunak ke dalam sinus maksilaris (fraktur blow-out). Mungkin terdapat
cedera intraokular terkait, yaitu hifema, penyempitan sudut, dan ablasi retina.
Enoftalmos dapat segera terjadi setelah trauma atau terjadi belakangan setelah
edema menghilang dan terbentuk sikatrik dan atrofi jaringan lemak.
Pada soft-tissue dapat menyebabkan perdarahan disertai enoftalmus dan
paralisis otot-otot ekstraokular yang secara klinis tampak sebagai strabismus.
Diplopia dapat disebabkan kerusakan neuromuskular langsung atau edema isi
orbita. Dapat pula terjadi penjepitan otot rektus inferior orbita dan jaringan di
sekitarnya. Apabila terjadi penjepitan, maka gerakan pasif mata oleh forseps
menjadi terbatas.
2. Palpebra
Meskipun bergantung kekuatan trauma, trauma tumpul yang mengenai
mata dapat berdampak pada palpebra, berupa edema palpebra, perdarahan
subkutis, dan erosi palpebra.
3. Konjungtiva
Dampak trauma pada konjungtiva adalah perdarahan sub-konjungtiva atau
khemosis dan edema. Perdarahan subkonjungtiva umumnya tidak memerlukan
terapi karena akan hilang dalam beberapa hari. Pola perdarahan dapat bervariasi,
dari ptekie hingga makular.
Bila terdapat perdarahan atau edema konjungtiva yang hebat, maka harus
diwaspadai adanya fraktur orbita atau ruptur sklera.
4. Sklera
Ruptur sklera ditandai oleh adanya khemosis konjungtiva, hifema total,
bilik depan yang dalam, tekanan bola mata yang sangat rendah, dan pergerakan
bola mata terhambat terutama ke arah tempat ruptur. Ruptur sklera dapat terjadi
karena trauma langsung mengenai sklera sampai perforasi, namun dapat pula
terjadi pada trauma tak langsung.
5. Koroid dan korpus vitreus
Kontusio dan konkusio bola mata menyebabkan vitreus menekan koroid
ke belakang dan dikembalikan lagi ke depan dengan cepat (contra-coup) sehingga
dapat menyebabkan edema, perdarahan, dan robekan stroma koroid. Bila
perdarahan hanya sedikit, maka tidak akan menimbulkan perdarahan vitreus.
Perdarahan dapat terjadi di subretina dan suprakoroid. Akibat perdarahan dan
eksudasi di ruang suprakoriud, dapat terjadi pelepasan koroid dari sklera.
Ruptur koroid secara oftalmoskopik terlihat sebagai garis putih berbatas
tegas, biasanya terletak anterior dari ekuator dan ruptur ini sering terjadi pada

membran Bruch. Kontusio juga dapat menyebabkan reaksi inflamasi, nekrosis,


dan degenerasi koroid.
6. Kornea
Edema superfisial dan aberasi kornea dapat hilang dalam beberapa jam.
Edema interstisial dalah edema yang terjadi di substania propria yang membentuk
kekeruhan seperti cincin dengan batas tegas berdiameter 2 3 mm.
Lipatan membrana Bowman membentuk membran seperti lattice.
Membrana descement bila terkena trauma dapat berlipat atau robek dan akan
tampak sebagai kekeruhan yang berbentuk benang. Bila endotel robek maka akan
terjadi inhibisi humor aquous ke dalam stroma kornea, sehingga kornea menjadi
edema. Bila robekan endotel kornea ini kecil, maka kornea akan jernih kembali
dalam beberapa hari tanpa terapi.
Deposit pigmen sering terjadi di permukaan posterior kornea, disebabkan
oleh adanya segmen iris yang terlepas ke depan. Laserasi kornea dapat terjadi di
setiap lapisan kornea secara terpisah atau bersamaan, tetapi jarang menyebabkan
perforasi.
7. Iris dan Korpus Siliaris
Segera setelah trauma, akan terjadi miosis dan akan kembali normal bila
trauma ringan. Bila trauma cukup kuat, maka miosis akan segera diikuti dengan
iridoplegi dan spasme akomodasi sementara. Dilatasi pupil biasanya diikuti
dengan paralisis otot akomodasi, yang dapat menetap bila kerusakannya cukup
hebat. Penderita umumnya mengeluh kesulitan melihat dekat dan harus dibantu
dengan kacamata.
Konkusio dapat pula menyebabkan perubahan vaskular berupa
vasokonstriksi yang segera diikuti dengan vasodilatasi, eksudasi, dan hiperemia.
Eksudasi kadang-kadang hebat sehingga timbul iritis. Perdarahan pada jaringan
iris dapat pula terjadi dan dapat dilihat melalui deposit-deposit pigmen
hemosiderin. Kerusakan vaskular iris, akar iris, dan korpus siliaris dapat
menyebabkan terkumpulnya darah di kamera okuli anterior, yang disebut hifema.
Trauma tumpul dapat merobek pembuluh darah iris atau badan siliar.
Gaya-gaya kontusif akan merobek pembuluh darah iris dan merusak sudut kamar
okuli anterior. Tetapi dapat juga terjadi secara spontan atau pada patologi vaskuler
okuler. Darah ini dapat bergerak dalam kamera anterior, mengotori permukaan
dalam kornea.
Perdarahan dalam kamera okuli anterior, yang berasal dari pembuluh darah
iris atau korpus siliaris, biasanya di sertai odema kornea dan endapan di bawah
kornea, hal ini merupakan suatu keadaan yang serius. Pembagian hifema:
1) Hifema primer, timbul segera oleh karena adanya trauma.
2) Hifema sekunder, timbul pada hari ke 2-5 setelah terjadi trauma.

3) Hifema ringan tidak mengganggu visus, tetapi apabila sangat hebat akan
mempengaruhi visus karena adanya peningkatan tekanan intra okuler.
Tanda dan gejala hifema, antara lain:
1) Pandangan mata kabur
2) Penglihatan sangat menurun
3) Kadang kadang terlihat iridoplegia & iridodialisis
4) Pasien mengeluh sakit atau nyeri
5) Nyeri disertai dengan efipora & blefarospasme
6) Pembengkakan dan perubahan warna pada palpebra
7) Retina menjadi edema & terjadi perubahan pigmen
8) Otot sfingter pupil mengalami kelumpuhan
9) Pupil tetap dilatasi (midriasis)
10) Tidak bereaksi terhadap cahaya beberapa minggu setelah trauma.
11) Pewarnaan darah (blood staining) pada kornea
12) Kenaikan TIO (glukoma sekunder )
13) Sukar melihat dekat
14) Silau akibat gangguan masuknya sinar pada pupil
15) Anisokor pupil
16) Penglihatan ganda (iridodialisis)
Hifema primer dapat cepat diresorbsi dan dalam 5 hari bilik mata depan
sudah bersih. Komplikasi yang ditakutkan adalah hifema sekunder yang sering
terjadi pada hari ke-3 dan ke-5, karena viskositas darahnya lebih kental dan
volumenya lebih banyak. Hifema sekunder disebabkan lisis dan retraksi bekuan
darah yang menempel pada bagian yang robek dan biasanya akan menimbulkan
perdarahan yang lebih banyak.
Penanganan: Istirahat, dan apabila karena peningkatan tekanan intra okuli
yang di sertai dengan glaukoma maka perlu adanya operasi segera dengan di
lakukannya parasintesis yaitu membuat insisi pada kornea dekat limbus, kemudian
di beri salep mata antibiotik dan di tutup dengan verband.

Gambar 2: hifema
8. Lensa

Kerusakan yang terjadi pada lensa paska-trauma adalah kekeruhan,


subluksasi dan dislokasi lensa. Kekeruhan lensa dapat berupa cincin pigmen yang
terdapat pada kapsul anterior karena pelepasan pigmen iris posterior yang disebut
cincin Vosslus. Kekeruhan lain adalah kekeruhan punctata, diskreta, lamelar aau
difus seluruh massa lensa.
Akibat lainnya adalah robekan kapsula lensa anterior atau posterior. Bila
robekan kecil, lesi akan segera tertutup dengan meninggikan kekeruhan yang tidak
akan mengganggu penglihatan. Kekeruhan ini pada orang muda akan menetap,
sedangkan pada orang tua dapat progresif menjadi katarak presenil. Dengan kata
lain, trauma dapat mengaktivasi proses degeneratif lensa.
Subluksasi lensa dapat aksial dan lateral. Subluksasi lensa kadang-kadang
tidak mengganggu visus, namun dapat juga mengakibatkan diplopia monokular,
bahkan dapat mengakibatkan reaksi fakoanafilaktik. Dislokasi lensa dapat terjadi
ke bilik depan, ke vitreus, subskleral, ruang interretina, konjungtiva, dan ke
subtenon. Dislokasi ke bilik depan sering menyebabkan glaukoma akut yang
hebat, sehingga harus segera diekstraksi. Dislokasi ke posterior biasanya lebih
tenang dan sering tidak menimbulkan keluhan, tetapi dapat menyebabkan vitreus
menonjol ke bilik depan dan menyebabkan blok pupil dan peninggian TIO.
9. Retina
Edema retina terutama makula sering terjadi pada kontusio dan konkusio
okuli. Bila hebat dapat meninggalkan bekas yang permanen. Edem retina bisa
terjadi pada tempat kontusio, tetapi yang paling sering terjadi mengenai sekeliling
diskus dan makula. Dapat pula terjadi nekrosis dan perdarahan retina yang pada
proses penyembuhan akan meninggalkan atrofi dan sikatrik.
Pada edem makula, tampak retina di sekeliling makula berwarna putih ke
abu-abuan dengan bintik merah di tengahnya, menyerupai gambaran oklusi arteri
retina sentralis. Edema dapat berkembang menjadi kistik atau macular hole. Bila
edema tidak hebat, hanya akan meninggalkan pigmentasi dan atrofi. Segera
setelah trauma, terjadi vasokonstriksi yang diikuti oleh vasodilatasi, menyebabkan
edema dan perdarahan. Perdarahan dapat terjadi di retina, subhyaloid, atau bahkan
dapat ke vitreus, sehingga pada penyembuhannya menyebabkan retinopati
proliferatif.
Robekan retina jarang terjadi pada mata sehat. Biasanya robekan retina
terjadi pada mata yang memang telah mengalami degenerasi sebelumnya,
sehingga trauma yang ringan sekalipun dapat memicu robekan. Ruptur retina
sering disertai dengan ruptur koroid. Dialisis ora serata sering terjadi pada
kuadran inferotemporal atau nasal atas, berbentuk segitiga atau tapal kuda, disertai
dengan ablasio retina. Ablasio retina pada kontusio dan konkusio dapat terjadi
akibat:
1) Kolaps bola mata yang tiba-tiba akibat ruptur

2)
3)
4)
5)

Perdarahan koroid dan eksudasi


Robekan retina dan koroid
Traksi fibrosis vitreus akibat perdarahan retina atau vitreus.
Adanya degenerasi retina sebelumnya, trauma hanya sebagai pencetus.
10. Nervus Optikus
Kontusio dan konkusio dapat menyebabkan edem dan inflamasi di sekitar
diskus optik berupa papilitis, dengan sekuele berupa papil atrofi. Keadaan ini
sering disertai pula dengan kerusakan koroid dan retina yang luas. Kontusio dan
konkusio yang hebat juga mengakibatkan ruptur atau avulsi nervus optikus yang
biasanya disertai kerusakan mata berat.
2.6 Patofisiologi
Trauma tumpul pada kornea atau limbus menimbulkan tekanan sangat
tinggi dalam waktu singkat didalam bola mata sehingga terjadi penyebaran
tekanan kecairan badan kaca dan jaringan skelera yang tidak elastis yang
mengakibatkan peregangan dan robekan jaringan pada kornea dan skelera, sudut
irido-kornea, badan siliari sehingga terjadi perdarahan.

2.8 Pemeriksaan Diagnostik


Pemeriksaan paska-cedera bertujuan menilai ketajaman visus dan sebagai
prosedur diagnostik, antara lain:
1. Kartu mata snellen (tes ketajaman pengelihatan) : mungkin terganggu akibat
kerusakan kornea, aqueus humor, iris dan retina.
2. Lapang penglihatan : penurunan mungkin disebabkan oleh patologi vaskuler
okuler, glukoma.

3. Pengukuran tonografi : mengkaji tekanan intra okuler ( TIO ) normal 12-25


mmHg.
4. Tes provokatif : digunakan untuk menentukan adanya glukoma bila TIO normal
atau meningkat ringan.
5. Pemerikasaan oftalmoskopi dan teknik imaging lainnya (USG, CT-scan, x-ray):
mengkaji struktur internal okuler, edema retine, bentuk pupil dan kornea.
6. Darah lengkap, laju sedimentasi LED : menunjukkan anemia sistemik/infeksi.
7. Tes toleransi glokosa : menentukan adanya /kontrol diabetes
Pada hifema Cara Pemeriksaan yaitu: (1) anastesi lokal bila ada
blefarospasme, (2) tes fluoresin, dan (3) pemeriksaan anterior dengan: lampu
senter, loupe, dan slite lamp biomicroscope.
Penyulit yaitu: glaukoma sekunder, uveitis, hefema sekunder, dan
hemosiderosis.
2.9 Penatalaksanaan
Prinsip penanganan trauma tumpul bola mata adalah apabila tampak jelas
adanya ruptur bola mata, maka manipulasi lebih lanjut harus dihindari sampai
pasien mendapat anestesi umum. Sebelum pembedahan, tidak boleh diberikan
sikloplegik atau antibiotik topikal karena kemungkinan toksisitas obat akan
meningkat pada jaringan intraokular yang terpajan. Antibiotik dapat diberikan
secara parenteral spektrum luas dan pakaikan pelindung fox pada mata. Analgetik,
aneiemetik, dan antitoksin tetanus diberikan sesuai kebutuhan, dengan restriksi
makan dan minum. Induksi anestesi umum harus menghindari substansi yang
dapat menghambat depolarisasi neuromuskular, karena dapat meningkatkan secara
transien tekanan bola mata, sehingga dapat memicu terjadinya herniasi isi
intraokular.
Pada trauma yang berat, ahli oftalmologi harus selalu mengingat
kemungkinan timbulnya kerusakan lebih lanjut akibat manipulasi yang tidak perlu
sewaktu berusaha melakukan pemeriksaan mata lengkap. Anestetik topikal, zat
warna, dan obat lainnya yang diberikan ke mata yang cedera harus steril.
Kecuali untuk cedera yang menyebabkan ruptur bola mata, sebagian besar
efek kontusio-konkusio mata tidak memerlukan terapi bedah segera. Namun,
setiap cedera yang cukup parah untuk menyebabkan perdarahan intraokular
sehingga meningkatkan risiko perdarahan sekunder dan glaukoma memerlukan
perhatian yang serius, yaitu pada kasus hifema.
Kelainan pada palpebra dan konjungtiva akibat trauma tumpul, seperti
edema dan perdarahan tidak memerlukan terapi khusus, karena akan menghilang
sendiri dalam beberapa jam sampai hari. Kompres dingin dapat membantu
mengurangi edema dan menghilangkan nyeri, dilanjutkan dengan kompres hangat
pada periode selanjutnya untuk mempercepat penyerapan darah. Pada laserasi
kornea , diperbaiki dengan jahitan nilon 10-0 untuk menghasilkan penutupan yang

kedap air. Iris atau korpus siliaris yang mengalami inkarserasi dan terpajan kurang
dari 24 jam dapat dimasukkan ke dalam bola mata dengan viskoelastik. Sisa-sisa
lensa dan darah dapat dikeluarkan dengan aspirasi dan irigasi mekanis atau
vitrektomi. Luka di sklera ditutup dengan jahitan 8-0 atau 9-0 interrupted yang
tidak dapat diserap. Otot-otot rektus dapat secara sementara dilepaskan dari
insersinya agar tindakan lebih mudah dilakukan.
Prognosis pelepasan retina akibat trauma adalah buruk, karena adanya
cedera makula, robekan besar di retina, dan pembentukan membran fibrovaskular
intravitreus. Vitrektomi merupakan tindakan yang efektif untuk mencegah kondisi
tersebut.
Pada hifema, bila telah jelas darah telah mengisis 5% kamera anterior,
maka pasien harus tirah baring dan diberikan tetes steroid dan sikloplegik pada
mata yang sakit selama 5 hari. Mata diperiksa secara berkala untuk mencari
adanya perdarahan sekunder, glaukoma, atau bercak darah di kornea akibat
pigmentasi hemosiderin.
Penanganan hifema, yaitu :
1. Pasien tetap istirahat ditempat tidur (4-7 hari ) sampai hifema diserap.
2. Diberi tetes mata antibiotika pada mata yang sakit dan diberi bebat tekan.
3. Pasien tidur dengan posisi kepala miring 60 diberi koagulasi.
4. Kenaikan TIO diobati dengan penghambat anhidrase karbonat. (asetasolamida).
5. Di beri tetes mata steroid dan siklopegik selama 5 hari.
6. Pada anak-anak yang gelisah diberi obat penenang
7. Parasentesis tindakan atau mengeluarkan darah dari bilik mata depan dilakukan
bila ada tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoma sekunder, hifema penuh dan
berwarna hitam atau bila setelah 5 hari tidak terlihat tanda-tanda hifema akan
berkurang.
8. Asam aminokaproat oral untuk antifibrinolitik.
9. Evakuasi bedah jika TIO lebih 35 mmHg selama 7 hari atau lebih 50 mmH
selama 5 hari.
10. Vitrektomi dilakukan bila terdapat bekuan sentral dan lavase kamar anterior.
11. Viskoelastik dilakukan dengan membuat insisi pada bagian limbus.
12. anastesi lokal dengan pentocain tetes mata 2% tiap menit selama 5 menit.
13. kelopak mata atas dan bawah dibuka dengan spekulum untuk mencari benda
asing.
14. pengeluaran benda sing dengan: kapas lidi steril, ujung jarum suntik tumpul
15. salep mata antibiotik 3 kali perhari dan mata dibebat selama 2 hari.

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1. Identitas
Nama, Umur,
jenis
kelamin,TB,BB, Alamat,
status
perkawinan,
Agama, Suku, Pendidikan, Pekerjaan.
2. Riwayat Penyakit
1) Keluhan Utama (saat masuk Rumah Sakit)
Keluhan utama pada pasien dengan trauma tumpul pada mata
adalah Nyeri pada matanya
2) Riwayat Kesehatan sekarang
Selama kurang lebih 3 hari sebelum masuk rumah sakit, klien merasa nyeri
pada kedua matanya, Kemudian klien memberi obat tetes tetapi tidak ada efeknya
juga.
3) Riwayat penyakit dahulu
Pasien belum pernah menderita penyakit tersebut
4) Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga tidak memiliki penyakit seperti yang di alami klien
3. Pengkajian Fungsional
1) Pola persepsi-pemeliharaan kesehatan
Ketika pasien merasa pusing,sesak nafas,jantung berdebar-debar pasien
langsung pergi berobat ke pukesmas
2) Pola nutrisi dan metabolic

Sebelum sakit, intake makanan : frekuensi 3x sehari dan minum : 6-8 gelas
/hari tetapi selama sakit, intake makanan berkurang menjadi : 2x sehari dengan
syarat bebas lemak/kolesterol dan Minum : 5-7 gelas /hari
3) Pola eliminasi
Eliminasi Buang Air Besar (BAK) dan Buang Air Besar (BAB) tidak ada
perubahan yaitu Frekuensi BAK : 4-5x sehari dan BAB : 2x sehari. Tidak ada
keluhan terkait dengan pola eliminasi

4)

Pola istirahat dan tidur


Sebelum sakit klien Tidur jam 21.00-05.00 WIB Lama tidur 8 jam, siang
hari 2 jam dan Selama sakit klien Tidur jam 23.00-03.00 WIB Lama tidur hanya 4
jam, siang hari 1 jam.
5) Pola aktivitas latihan
Kemampuan
perawatan
diri, Makan/minum, Mandi, Toileting, Berpakaian, Mobilitas di
tempat
tidur dan Berpindah.
6) Persepsi sensorik / perceptual
Klien mengatakan penglihatannya berkurang karena nyeri pada mata,
pendengaran baik
7) Pola konsep diri
Pasien mengatakan meras sedih karena tidak dapat melakukan aktivitas
seperti biasa,
8) Pola seksual-reproduksi
Pasien mengatakan mempunyai 3 orang anak dan selama berkeluarga tidak
pernah menggunakan alat kontrasepsi
9) Pola hubungan dan peran
Hubungan dengan anak-anaknya, suami dan dengan pasien lain serta
perawat lain baik
10) Pola koping dan stress
Pasien selalu terbuka atas segala masalah pasrah kepada petugas kesehatan
dan juga menyerahkan kesembuhannya pada tuhan YME
11) Pola nilai dan keyakinan
Klien sering mengikuti pengajian di musola di tempat tinggalnya dan juga
setiap sholat kadang-kadang membaca al quran, sekarang hanya bisa berdoa
dengan tiduran di tempat tidur.
4. Pemeriksaan Fisik (Head to toe)
Bentuk kepala
: mesosopal
Rambut
: hitam, tidak berketombe, sedikit beruban

Mata
Hidung
Mulut
tidak Caries
Leher
Dada
kelainan
Abdomen
Ekstremitas
Anus
Tanda-tanda Vital

: kondisi konjungtiva, sclera,palpebra,iris,dll.


: tidak ada polip, bersih
: mukosa kering dan pecah-pecah, tidak berbau, dan
: tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe
: sebelah kiri terjadi pembesaran, dan tidak ada
: terdapat asites, nyeri abdomen
: terpasang kateter, tidak ada udem
: bersih, tidak ada haemorhoid
: T
: 110/70 MMhG
N
: 75x/MENIT
RR : 20x/MENIT
S
: 37C

5. Data Penunjang Lain


1) Kartu snellen: pemeriksaan penglihatan dan penglihatan sentral mungkin
mengalami penurunan akibat dari kerusakan kornea, vitreous atau kerusakan pada
sistem suplai untuk retina.
2) Luas lapang pandang: mengalami penurunan akibat dari tumor/ massa, trauma,
arteri cerebral yang patologis atau karena adanya kerusakan jaringan pembuluh
darah akibat trauma.
3) Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal tekanan bola
mata (normal 10-20mmHg).
4) Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop: mengkaji struktur internal dari
okuler, papiledema, retina hemoragi.
6. Program Terapi
1. Terapi farmakologi
2. Terapi invasive
3.2 Diagnosa Keperawatan (sesuai prioritas)
1. Nyeri akut berhubungan dengan imflamasi pada kornea atau peningkatan tekanan
intraokular.
2. Gangguan Sensori Perseptual : Penglihatan b/d gangguan penerimaan sensori /
status organ indera. Lingkungan secara terapetik dibatasi.
3. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder
terhadap interupsi permukaan tubuh.
4. Kurangnya pengetahuan (perawatan) berhubungan dengan keterbatasan informasi.

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak disengaja yang
menimbulkan perlukaan mata. Trauma mata merupakan kasus gawat darurat mata.
Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan
kebutaan bahkan kehilangan mata.
Pasien Dengan Trauma Tumpul Mata (Hifema). Hifema adalah darah dalam
bilik mata depan sebagai akibat pecahnya pembuluh darah pada iris, akar iris dan
badan silia.
Trauma Tumpul, misalnya: terpukul, kena bola tenis, atau shutlecock,
membuka tutup botol tidak dengan alat, ketapel.
Tanda subyektif yaitu: Penderita mengeluh nyeri disertai penglihatan yang
menurun dan tanda obyektif yaitu: (1) pelebaran pembuluh darah perikornea, (2)
visus menurun, (3) hifema, (4) darah yang menempel pada endotel kornea, dan (5)
tes fluoresin dapat (+) atau (-).
Penanganan: Istirahat, dan apabila karena peningkatan tekanan intra okuli
yang di sertai dengan glaukoma maka perlu adanya operasi segera dengan di
lakukannya parasintesis yaitu membuat insisi pada kornea dekat limbus, kemudian
di beri salep mata antibiotik dan di tutup dengan verband.
4.2 Saran
Dari kesimpulan diatas organ mata merupakan organ yang penting bagi
manusia karena dengan mata kita dapat mengetahui apa saja yang kita lihat dan
melakukan sesuatu yang kita inginkan diantaranya belajar, membaca, lihat TV dll.
Untuk itu penulis menyarankan agar kita selalu menjaga alat indra kita.
Sebagai mahasiswa keperawatan kita harus mengetahui tentang kegawat daruratan
mata agar kita dapat melakukan tindakan untuk mengatasi hal tersebut terutam
trauma tumpul pada mata.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2. Jakarta :
EGC
Doengoes, Marylin E., 1989, Nursing Care Plans, USA Philadelphia: F.A Davis Company.
Darling, V.H. & Thorpe, M.R. (1996). Perawatan Mata. Yogyakarta : Yayasan Essentia
Media.
Ilyas, Sidarta. (2000). Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FKUI Jakarta.
Wijana, Nana. (1983). Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FKUI Jakarta

Soemarsono. 1999. Contusio Oculi. Cermin Dunia Kedokteran;15:32-4

Colby K. Blunt injuries to the eye. The Merck Manuals.2007 (diakses dari website
www.merckmanuals.com, pada tanggal 8 Juli 2009
Rubsamen PE. 2004.Trauma in Ophthalmology. Edisi II. Editor: Yanoff M, Duker JS,
Augsburger JJ. Mosby,
Sidarta, Ilyas. 1998.Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Cet. 5. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI
Tucker, Susan Martin et al. 2003. Standar Perawatan Pasien : proses keperawatan,
diagnosis dan evaluasi. Alih bahasa Yasmin Asih dkk. Ed. 6. Jakarta : Egc
Asbury T, Sanitato JJ. 2000. Trauma dalam Oftalmologi Umum edisi 14. Editor
Vaughan DG, Asbury T, Riordan-Eva P. Alih Bahasa: Tambajong J, Pendit BU.
Jakarta: Widyamedika,
Sjukur BA, Yogiantoro M. Lensa. Dalam: Pedoman Diagnosis dan Terapi Lab/UPF
Ilmu Penyakit Mata. Surabaya, RSUD Dokter Soetomo: 1994; 37 4
Prihatno AS. Cedera Mata. 2007 (Diakses dari website www.medicastore.com,
pada tanggal 8 Juli 2009)
Hilman H. Setyowati EE, Hamdanah. Ilmu Penyakit Mata I. SMC press, 1998.
Jalilah NH. Hifema. STIKES Ngudi Waluyo, Ungaran 2007 (diakses dari website
www.indoskripsi.com, pada tanggal 8 Juli 2009)
Khaw PT, Shah P, Elkington AR. 2004.Injury to the eye. Br Med J;328:36-8
Berke SJ. 2004.Post-traumatic glaucoma in Ophthalmology. Edisi II. Editor: Yanoff M,
Duker JS, Augsburger JJ. Mosby,

H. PENGKAJIAN
Hal hal yang perlu diperhatikan:
a. Bagaimana terjadinya trauma mata
Tanggal, waktu dan lokasi kejadian trauma perlu dicatat. Hal ini perlu
untuk mengetahui apakah trauma ini terjadi pada waktu seseorang sedang
melakukan pekerjaan sehari-hari. Perlu juga ditanyakan apakah alat-alat
yang digunakan waktu terjadi trauma, apakah penderita waktu menggunakan
kacamata pelindung atau tidak, kalau seandainya memakai kacamata, apakah
kacamata itu turut pecah sewaktu terjadinya trauma.
b. Menentukan obyek penyebab trauma mata.
Menanyakan secara terperinci komposisi alat sewaktu terjadinya trauma.
Apakah alat berupa paku, pecahan besi, kawat, pisau, jenis kayu, bambo dll.
Perlu juga ditanyakan apakah alat tersebut berupa benda tajam atau tumpul,
atau ada kemungkinan bercampurnya dengan debu dan kotoran lain.
c. Menentukan lokasi kerusakan intra okuler.
Untuk menentukan lokasi kerusakan pada mata, perlu diketahui jarak dan
arah penyebabnya trauma mata, posisi kepala, dan arah penderita melihat
pada waktu terjadi trauma.
d. Menetukan kesanggupan sebelum trauma.
Pada pengkajian ditanyakan apakah ada penyakit mata sebelumnya, atau
operasi mata sebelum terjadi trauma pada kedua matanya. Perlu ditanyakan
apakah perubahan visus terjadi secara tiba-tiba atau secara berangsur-angsur
sebagai akibat ablasio retina, atau vitrium hemorrage.
I.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ansietas

b/d

faktor fisiologis, perubahan status kesehatan: adanya

nyeri;kemungkinan /kenyataan kehilangan penglihatan.


Kemungkinan dibuktikan oleh: ketakutan, ragu-ragu.menyatakan
masalah perubahan hidup.

Hasil yang diharapkan


Tampak rileks dan melaporkan ansetas menurun sampai tingkat dapat
diatasi.
Tindakan / Intervensi

Kaji tingkat ansetas, derajat pengalaman nyeri / timbulnya gejala tibatiba dan pengetahuan kondisi saat ini.

Berikan informasi yang akurat dan jujur.

Diskusikan kemungkinan bahwa pengawasan dan pengobatan dapat


mencegah kehilangan penglihatan tambahan. Dorong pasien untuk
mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan. Identifikasi sumber
/ orang yang menolong.

2. Gangguan Sensori Perseptual : Penglihatan b/d gangguan penerimaan


sensori / status organ indera. Lingkungan secara terapetik dibatasi.
Kemungkinan dibuktikan oleh: menurunnya ketajaman, gangguan
penglihatan. Perubahan respon biasanya terhadap rangsang.
Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi pasien akan :
Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu.
Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.
Mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
Tindakan / Intevensi
Mandiri

Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau kedua mata


terlibat.

Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain di areanya.

Observasi tanda tanda dan gejala-gejala disorientasi: pertahankan


pagar tempat tidur sampai benar-benar sembuh dari anestasia.

Pendekatan dari sisi yang tak dioperasi, bicara dan menyentuh


sering, dorong orang tedekat tinggal dengan pasien.

Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata


dimanan dapat terjadi bila menggunakan tetes mata.

3. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d Prosedur invasif


Kemungkinan dibuktikan oleh : [tidak diterapkan ; adanya tanda-tanda
dan gejala-gejala membuat diagnosa aktual]
Hasil Yang Diharapkan/ Kriteria Evaluasi Pasien Akan :
Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainase purulen,
eritema, dan demam.
Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi
Tindakan/intervensi:

Kaji tanda-tanda infeksi

Berikan therapi sesuai program dokter

Anjurkan penderita istirahat untuk mengurangi gerakan mata

Berikan makanan yang seimbang untuk mempercepat penyembuhan

Mandiri

Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/mengobati


mata.

Gunakan/tunjukkan teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari


dalam keluar dengan bola kapas untuk tiap usapan, ganti balutan.

Tekankan
dioperasi.

pentingnya

tidak

menyentuh/menggaruk

mata

yang

DAFTAR PUSTAKA
Prof.Dr.Sidarta Ilyas . Penuntun ilmu penyakit mata. Jakarta; FK UI. 1993
Dr.Waliban. Dr Bondan Hariono.

Oftalmologi Umum Jilid Satu Edisi 11;

Jakarta 1992
Drs Med Parmono. Diagnosa Pengelolaan dan Prognosa Trauma Tembus
pada Mata, Jakarta; EGC. 1987
Marilynn E. Doenges,Mary Frances Moorhous,Alice C . Geissler, Rencana
Asuhan Keperawatan Edisi 3 ,Cetakan I: Jakarta. EGC 2000

www.berita19.wordpress.com

Pathway :

Trauma Tembus

Palpebra

Levator
apaneurosis

Sal. Lakrimalis

Sindroma
kekurangan
air mata

Conjunctiva

Ruptur
Pembuluh
darah

Ptosis

Perdarahan

Nyeri

Cemas

Sklera

Penurunan
Tekanan
Bola Mata

Uvea

Ggn
pengaturan
cahaya

Prolap jar.
Bola mata
Cemas

Luka

Gangguan Penglihatan

Kornea

Lensa

Prolaps
pd iris

Ggn fokus
sinar pd
retina

Penurunan
visus

Penurunan
refraksi

Nyeri

Akomodasi
tdk adekuat

Retina

Perdarahan

Fotopsia