Anda di halaman 1dari 12

BLEFARITIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Kepaniteraan


Bagian Ilmu Penyakit Mata

Oleh:
Hasyyati Zatalia
4151121503

BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2014

BLEFARITIS

1. Definisi
Blefaritis atau infeksi pada kelopak mata (palpebral) merupakan suatu
infeksi kronik pada pinggir kelopak mata, biasanya terdapat bilateral.Radang
bertukak atau tidak pada tepi kelopak biasanya melibatkan folikel dan kelnjar
rambut, blefaritis dapat disebabkan oleh infeksi dan alergi yang biasanya berjalan
kronis atau menahun.

2. Anatomi Palpebra
Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta
mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan
kornea. Palpebra merupakan alat penutup mata yang berguna untukmelindungi
bola mata terhapat trauma, trauma sinar dan pengeringan mata. Kelopak

mempunyai lapisan kulit yang tipis pada bagian depan sedang di bagian belakang
ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal. Pada kelopak
terdapat bagian-bagian :
Kelenjar seperti kelenjar sebasea, kelenjar moll atau kelenjar keringat,
kelenjar zeis pada pangkal rambut, dan kelenjar meibom pada tarsus.
Otot seperti : M. Orbikularis okuli yang berjalan melingkar di dalam
kelopak atas dan bawah, dan terletak di bawah kulit kelopak. M. Orbikularis
berfungsi menutup bola mata yang dipersarafi N. fasial. M. Levator palpebra
berfungsi untuk mengangkat kelopak mata atau membuka mata.
Di dalam kelopak terdapak tarsus yang merupakan jaringan ikat dengan
kelenjar di dalamnya atau kelenjar Meibom yang bermuara pada margo palpebra.
Septum orbita yang merupakan jaringan fibrosa berasal dari rima orbita
merupakan pembatas isi orbita dengan kelopak depan.

Gambar 1.Anatomi Palpebra

3. Epidemiologi
Blefaritis terjadi sedara merata di seluruh dunia, merupakan gangguan pada
mata yang umum terjadi.Blefaritis umumnya terjadi pada orang dewasa.Angka
kejadiannya tidak diketahui secara pasti. Blefaritis seboroik lebih umum terjadi
pada kelompok usia diatas 50 tahun. Angka kejadiannya sama baik pada
perempuan ataupun laki-laki. Untuk angka kejadian blefaritis berdasarkan rasnya
tidak diketahui secara pasti.Rosacea biasanya umum terjadi pada orang kulit
putih, mungkin hal ini terjadi karena pemeriksaan lebih mudah dilakukan pada
orang-orang tersebut.Mortalitas yang berhubungan dengan bledaritis tidak
diketahui secara psti, tetapi penyakit yang menyertai blefaritis di dalamnya,
seperti Systemic Lupus Erythematous (SLE).

4. Etiologi
Blefaritis alergi dapat terjadi akibat debu, asap, bahan kimia iritatif dan bahan
kosmetik. Infeksi palpebral dapat disebabkan oleh kuman streptococcus alfa atau
beta, pneumococcus, dan pseudomonas.
Terdapat 2 jenis blefaritis, yaitu :
1. Blefaritis anterior : mengenai kelopak mata bagian luar depan (tempat
melekatnya bulu mata). Penyebabnya adalah bakteri stafilokokus dan
seborrheik.Blefaritis

stafilokok

dapat

disebabkan

infeksi

dengan

Staphylococcus aureus, yang sering ulseratif, atau Staphylococcus epidermidis

atau stafilokok koagulase-negatif. Blefaritis seboroik(non-ulseratif) umumnya


bersamaan dengan adanya Pityrosporum ovale.
2. Blefaritis posterior : mengenai kelopak mata bagian dalam (bagian
kelopak mata yang lembab, yang bersentuhan dengan mata). Penyebabnya
adalah kelainan pada kelenjar minyak.Dua penyakit kulit yang bisa
menyebabkan blefaritis posterior adalah rosasea dan ketombe pada kulit
kepala (dermatitis seboreik).

5. Klasifikasi
Klasifikasi blefaritis adalah sebagai berikut :
1. Blefaritis superfisial
Bila infeksi kelopak superfisial disebabkan oleh staphylococcus maka
pengobatan yang terbaik adalah dengan salep antibiotik seperti sulfasetamid
dan sulfisolksazol.Sebelum pemberian antibiotik krusta diangkat dengan
kapas basah.Bila terjadi blefaritis menahun maka dilakukan penekanan
manual kelenjar Meibom untuk mengeluarkan nanah dari kelenjar Meibom
(Meibormianitis), yang biasanya menyertai.
2. Blefaritis Seboroik
Blefaritis seboroik biasanya terjadi pada laki-laki usia lanjut (50 Tahun),
dengan keluhan mata kotor, panas dan rasa kelilipan. Gejalanya adalah sekret
yang keluar dari kelenjar Meiborn, air mata berbusa pada kantus lateral,

hiperemia dan hipertropi papil pada konjungtiva.Pada kelopak dapat terbentuk


kalazion, hordeolum, madarosis, poliosis dan jaringan keropeng.Blefaritis
seboroik

merupakan

peradangan

menahun

yang

sukar

penanganannya.Pengobatannya adalah dengan memperbaiki kebersihan dan


membersihkan kelopak dari kotoran.Dilakukan pembersihan dengan kapas lidi
hangat.Kompres hangat selama 5-10 menit. Kelenjar Meibom ditekan dan
dibersihkan dengan shampoo bayi. Penyulit yang dapat timbul berupa flikten,
keratitis marginal, tukak kornea, vaskularisasi, hordeolum dan madarosis.
3. Blefaritis Skuamosa
Blefaritis skuamosa adalah blefaritis disertai terdapatnya skuama atau
krusta pada pangkal bulu mata yang bila dikupas tidak mengakibatkan
terjadinya luka kulit.Merupakan peradangan tepi kelopak terutama yang
mengenai kulit di daerah akar bulu mata dan sering terdapat pada orang yang
berambut

minyak.Blefaritis

ini

berjalan

bersama

dermatitik

seboroik.Penyebab blefaritis skuamosa adalah kelainan metabolik ataupun


oleh jamur. Pasien dengan blefaritis skuamosa akan terasa panas dan gatal.
Pada blefaritis skuamosa terdapat sisik berwarna halus-halus dan penebalan
margo palpebra disertai madarosis. Sisik ini mudah dikupas dari dasarnya
mengakibatkan perdarahan. Pengobatan blefaritis skuamosa ialah dengan
membersihkan tepi kelopak dengan shampoo bayi, salep mata, dan steroid

setempat disertai dengan memperbaiki metabolisme pasien. Penyulit yang


dapat terjadi pada blefaritis skuamosa adalah keratitis, konjungtivitis.
4. Blefaritis Ulseratif
Merupakan peradangan tepi kelopak atau blefaritis dengan tukak akibat
infeksi staphylococcus. Pada blefaritis ulseratif terdapat keropeng berwarna
kekunung-kuningan yang bila diangkat akan terlihat ulkus yang yang kecil
dan mengeluarkan dfarah di sekitar bulu mata. Pada blewfaritis ulseratif
skuama yang terbentuk bersifat kering dan keras, yang bila diangkat akan luka
dengan disertai perdarahan. Penyakit bersifat sangat infeksius.Ulserasi
berjalan lebih lanjut dan lebih dalam dan merusak folikel rambut sehingga
mengakibatkan rontok (madarosis).Pengobatan dengan antibiotik dan higiene
yang baik.Pengobatan pada blefaritis ulseratif dapat dengan sulfasetamid,
gentamisin atau basitrasin.Biasanya disebabkan stafilokok maka diberi obat
staphylococcus.Apabila ulseratif luas pengobatan harus ditambah antibiotik
sistemik dan diberi roboransia.Penyulit adalah madarosis akibat ulserasi
berjalan lanjut yang merusak folikel rambut, trikiasis, keratitis superfisial,
keratitis pungtata, hordeolum dan kalazion. Bila ulkus kelopak ini sembuh
maka akan terjadi tarikan jaringan parut yang juga dapat berakibat trikiasis.
5. Blefaritis angularis
Blefaritis angularis merupakan infeksi staphylococcus pada tepi kelopak di
sudut kelopak atau kantus.Blefaritis angularis yang mengenai sudut kelopak

mata (kantus eksternus dan internus) sehingga dapat mengakibatkan gangguan


pada fungsi puntum lakrimal.Blefariris angularis disebabkan Staphylococcus
aureus.Biasanya kelainan ini bersifat rekuren.Blefaritis angularis diobati
dengan sulfa, tetrasiklin dan Sengsulfat. Penyulit pada pungtum lakrimal
bagian medial sudut mata yang akan menyumbat duktus lakrimal.
6. Meibomianitis
Merupakan infeksi pada kelenjar Meibom yang akan mengakibatkan tanda
peradangan lokal pada kelenjar tersebut. Meibomianitis menahun perlu
pengobatan kompres hangat, penekanan dan pengeluaran nanah dari dalam
berulang kali disertai antibiotik lokal.

6. Patofisiologi
Patofisiologi blefaritis biasanya terjadi kolonisasi bakteri pada mata. Hal
ini mengakibatkan invasi mikrobakteri secara langsung pada jaringan
,kerusakan sistem imun atau kerusakan yang disebabkan oleh produksi toksin
bakteri , sisa buangan dan enzim. Kolonisasi dari tepi kelopak mata dapat
ditingkatkan dengan adanya dermatitis seboroik dan kelainan fungsi kelenjar
meibom.

7. Diagnosis
1. Blefaritis menyebabkan kemerahan dan penebalan, bisa juga terbentuk
sisik dan keropeng atau luka terbuka yang dangkal pada kelopak mata.
2. Blefaritis bisa menyebabkan penderita merasa ada sesuatu di matanya.
Mata dan kelopak mata terasa gatal, panas dan menjadi merah.Bisa terjadi
pembengkakan kelopak mata dan beberapa helai bulu mata rontok.
3. Mata menjadi merah, berair dan peka terhadap cahaya terang. Bisa
terbentuk keropeng yang melekat erat pada tepi kelopak mata; jika keropeng
dilepaskan, bisa terjadi perdarahan.Selama tidur, sekresi mata mengering
sehingga ketika bangun kelopak mata sukar dibuka.
Tanda : Skuama pada tepi kelopak
Jumlah bulu mata berkurang
Obstruksi dan sumbatan duktus meibom
Sekresi Meibom keruh
Injeksi pada tepi kelopak
Abnormalitas film air mata

Gambar 2.Blefaritis

8. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang tidak sepenuhnya dibutuhkan untuk membantu
dalam penegakkan diagnosis dari blefaritis. Pemeriksaan yang dapat dilakukan
diantaranya adalah eyelid margin culture, transilumination studies of the meibom
gland, marginal biopsies, atau analasiss dari glandula sekretorik.
Pemeriksaan secara histologi pada dermatitis seboroik dapat ditemukan
adanya spongiosis, mild perivascular, lymphohistiotic, mononuclear cellular
infiltrates pada dermis superfisial.Blefaritis Staphylococcal adalah suatu
perdangan nongranulomatous krooni, biasanya terjadi dengan ditemukan adanya
neutrodil, akantosis, atau parakeratosis.

9. Penatalaksanaan
Pengobatan pada blefaritis akut adalah menjaga kebersihan dan pemberian
obat antibiotik Tidak ada pengobatan yang lengkap untuk blefaritis kronik.
Pengobatan blefaritis antara lain :
1.

Menjaga higene

2.

Pemakaian shampoo anti ketombe misalnya selenium

3.

Obat tetes mata atau salep antibiotik misalnya eritromisin,

bacitracin, polimiksin, gentamisin

10. Prognosis
Bila dilakukan terapi secara cepat dan tepat, maka prognosisnya akan baik.

10

DAFTAR PUSTAKA

1. Blepharitis.
American
Academy
of
Ophtalmology.
2014.
http://www.aao.org/theeyeshaveit/red-eye/blepharitis.cfm.
(diunduh
tanggal 30 April 2014)
2. R
Scott
Lowery.
Adult
blepharitis.
http://emedicine.medscape.com/article/1211763-overview#showall.
26
April 2013. (diunduh tanggal 30 April 2014)
3. Jackson, W. Bruce. Blepharitis: current strategies for diagnosis and
management.canadianjournalofophthalmology.ca/article/PIIS0008418208
801391/abstract. 9 Januari 2008. (diunduh tanggal 30 april 2014)
4. Codey,
Mary
P.
Blepharitis.
http://www.djo.harvard.edu/site.php?url=/patients/pi/406. Massachusetts
Eye and Ear Infirmary, Harvard Medical School. 30 April 2014. (diunduh
tanggal 30 April 2014).
5. Diseases and condition :Blepharitis. http://www.mayoclinic.org/diseasesconditions/blepharitis/multimedia/blepharitis/img-20006938.
(diunduh
tanggal 30 April 2014)
6. Ilyas Sidarta. Ilmu Penyakit Mata. Edisi keempat. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI. 2013.
7. Kansky, Jack J. Clinical Ophtalmology. Edisi ke tujuh. London, United
Kingdom: Elsevier. 2011.

11