Anda di halaman 1dari 17

KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA

Dukungan Kementerian BUMN untuk Mewujudkan


Kemandirian Sarana Pertahanan Nasional

oleh :
Deputi Bidang Usaha Industri Strategis dan Manufaktur
Kementerian BUMN
Jakarta, 28 Februari 2013

DAFTAR ISI
1. PENDAHULUAN
2. PROFIL BUMNIP
3. LANGKAH PENYEHATAN
4. DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN

Kementerian BUMN
2

1
PENDAHULUAN

Kementerian BUMN

Struktur BUMN untuk Industri Pertahanan

Lead
Integrators

Tier 1-2
Contractors

Tier 2-3
Contractors

PT DI

PT PAL

PT PINDAD

(Pesawat, roket/ rudal, torpedo)

Kapal perang/selam

(Ranpur, senjata, munisi)

PT LEN

PT DAHANA

PT DKB

PT DPS

PT IKI

PT INTI

PT KS

PT INKA

PT BBI

PT BARATA

Untuk produksi alutsista maka PT DI, PT PAL dan PT PINDAD ditetapkan sebagai penanggung
jawab sistem integrasi (lead integrators) sesuai UU Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri
Pertahanan, sedangkan BUMN yang lain sebagai pendukung pada tier 1, 2 dan 3
Kementerian BUMN

2
PROFIL BUMNIP

Kementerian BUMN

Profil BUMN Industri Pertahanan


Per Desember 2012 (Unaudited)

No

BUMN

(dalam Rp Milyar)

Pendapatan Laba Bersih

Aset

Ekuitas

1 PT Pindad

1,508

77

2,525

674

2 PT Dirgantara Indonesia

2,931

(101)

6,682

2,066

574

(223)

3,895

5,013

(247)

13,102

3 PT PAL Indonesia
Total

(231)
2,509

Portofolio BUMN Industri Strategis & Pertahanan

PT DI

Lead
Integrators

(Pesawat, roket/rudal,
torpedo)

PT PAL

PT PINDAD

Kapal perang/selam

(Ranpur, senjata, munisi)

Matra Udara

Matra Laut

Matra Darat
6

Profil BUMNIP Lainnya


Per Desember 2012 (Unaudited)

Uraian

(dalam Rp Milyar)

Pendapatan Laba Bersih

Aset

Ekuitas

Total 13 BUMNIS

32.901

(326)

44.437

11.982

Total 141 BUMN

1.555.291

134.568

3.522.042

785.877

Kontribusi

2,1%

(Rp Milyar)

-0,2%

1,3%

1,5%

3.522.042

3,500,000

2,500,000

13 BUMNIS
141 BUMN

1.555.291
1,500,000

785.877
500,000

134.568

32.901

44.437

11.982

(326)
-500,000

Pendapatan

Laba Bersih

Aset

Ekuitas
7

Permasalahan BUMN Industri Pertahanan

Keuangan

Fiskal

R&D

Pada umumnya terdapat akumulasi kerugian & saldo modal negatif.


Beban hutang masa lalu yang cukup besar, antara lain RDI & SLA.
Keterbatasan modal kerja dan metode pembayaran proyek.
Belum ada Skema Pendanaan khusus untuk memproduksi Alutsista.

Belum adanya insentif fiskal bagi industri alutsista.


Bea masuk produk jadi, lebih rendah dari bea masuk komponen.
Masa berlaku KITE 1 tahun, sedangkan masa produksi lebih dari 1 tahun.

Biaya R & D yang cukup besar dan memberatkan BUMN


Seringkali hasil R & D tidak jadi dibeli (Bom BT 250, Blast effect Bom, Alkom).
SDM yang ahli dalam R & D semakin tua dan berkurang.
Program pengembangan kemampuan SDM BUMNIP kurang optimal.
Sebagian besar usia > 45 thn & program rekrutmen belum optimal karena
keterbatasan dana.
Kementerian BUMN
8

Permasalahan BUMNIP

Kurangnya komitmen & konsistensi penggunaan produk


alutsista/BUMNIS (tidak ada kesinambungan pesanan).

Pasar

Adanya fasilitas Masterlist impor beberapa produk serta


diijinkannya importir (non produsen) membuat industri nasional
tidak kompetitif.
Belum dibukanya secara luas Ijin ekspor produk militer.

Mesin produksi yang sudah tua rata-rata berusia lebih dari 25

Fasilitas
Produksi

tahun karena kurangnya investasi pengembangan.


Status kepemilikan lahan tempat kerja beberapa diantaranya
belum menjadi milik perusahaan.

Kementerian BUMN
9

3
LANGKAH PENYEHATAN

Kementerian BUMN

Restrukturisasi BUMNIP
a.

Restrukturisasi Manajemen dan SDM


Penggantian Pengurus Perseroan yang memiliki kompetensi dan
pengambil kebijakan yang mendukung pengembangan usaha BUMNIP.
Restrukturisasi SDM perseroan dengan tujuan terciptanya efisiensi dan
mampu meningkatkan produktivitas usaha BUMNIP dengan meminimalisir
dampak negatif bagi perseroan.
Menyeimbangkan komposisi SDM BUMNIP sehingga mencapai tingkat
produktivitas yang optimum.

b.

Restrukturisasi Bisnis
Penyusunan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) BUMNIP guna
mengidentifikasi mengenai posisi existing dan rencana pengembangan
pada masa yang akan datang.
Identifikasi produk-produk unggulan khususnya produk militer pada
masing-masing BUMNIP yang akan dijadikan target arah pengembangan
usaha terkait partisipasi dalam mendukung kemandirian industri
pertahanan.
Partisipasi dan dukungan untuk program offset atas pengadaan produk
alutsista dari Luar Negeri.
Kementerian BUMN
11

Restrukturisasi BUMNIP

c.

Restrukturisasi Keuangan
Telah dilakukan penyehatan neraca perusahaan melalui restrukturisasi
hutang (RDI, SLA, eks BPPN) dengan skema konversi menjadi
tambahan PMN Non-Cash yaitu pada PT DI sebesar Rp 2,95 Triliun
tahun 2011.
Penambahan Modal Negara (PMN) pada BUMN, yaitu :
PT PAL tahun 2011 telah mendapat PMN sebesar Rp 648 miliar dan
tahun 2012 mendapat Rp 600 miliar.
PT DI tahun 2012 telah mendapat PMN sebesar Rp 1,4 Triliun.
PT Pindad tahun 2012 mendapat PMN sebesar Rp 300 miliar.
PT IKI tahun 2012 mendapat PMN sebesar Rp 200 miliar.
Diperlukan kepastian anggaran pengadaan alutsista untuk produk DN.
Insentif fiskal untuk kegiatan R & D serta investasi.
Kementerian BUMN
12

4
DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN

Kementerian BUMN

Arah Masterplan BUMN

Stand Alone

Merger - Konsolidasi

Holding

Merger - Konsolidasi

PT Pindad
PT DI
PT Dahana
PT Krakatau Steel

PT Barata Indonesia
PT Boma Bisma Indra

PT PAL Indonesia
PT DKB
PT DPS
PT IKI

PT LEN Industri
PT INTI

VALUE CREATION

GROWTH

SUSTAINABLE
INCOME

MARKET
DEVELOPMENT

Kementerian BUMN
14

USULAN SOLUSI
Secara ringkas dibawah ini merupakan solusi yang dapat diambil untuk mengatasi
permasalahan yang ada di BUMN Industri Pertahanan :
1.

Kebijakan industri yang pro terhadap pengembangan industri dalam negeri.

2.

Standarisasi terhadap produk yang dijual di wilayah indonesia.

3.

Dukungan investasi & modal kerja untuk penyelesaian dan pengembangan


proyek-proyek industri pertahanan.

4.

Kebijakan fiskal untuk insentif R & D dan restrukturisasi.

5.

Pengembangan SDM secara kolektif diantara instansi terkait sehingga dapat


menekan biaya pengembangan SDM.

6.

Fasilitas restrukturisasi keuangan dan penghapusan asset dispossal.

Kementerian BUMN
15

USULAN KEBIJAKAN
Kebijakan Offset

Diperlukan Peraturan Presiden tentang offset/partisipasi industri strategis dalam


setiap pengadaan alutsista/almatsus dari LN yang dilakukan oleh Pemerintah.

Keterpaduan Riset Harus ada penetapan fokus pengembangan teknologi secara nasional dan
koordinasi serta integrasi program di bidang riset dan penguasaan teknologi
sehingga tercipta efisiensi nasional.
Kebijakan Insentif Dalam pelaksanaannya Pemerintah harus memberikan stimulus dan insentif Fiskal
bagi riset dan pengembangan produk/ teknologi serta pengembangan SDM yang
mendukung kemandirian industri strategis dalam negeri
Kerjasama
Pendidikan

Kerjasama dengan perguruan tinggi dalam rangka pengembangan kemampuan SDM


industri strategis
Mendorong masuknya kurikulum yang mendukung kemandirian industri
strategis/pertahanan dalam pendidikan reguler penjenjangan pegawai,

Dukungan
Lainnya

Kewajiban penggunaan Standar Nasional Industri dan Standar Enkripsi Nasional


Penetapan persyaratan perusahaan yang diijinkan memproduksi alutsista/Almatsus.
Sinkronisasi/revisi peraturan dilingkungan Kemdag, Kemhan dan Polri sehingga
dapat menjamin konsistensi dan kebijakan satu pintu untuk pengadaan alutsista/
almatsus.

Kementerian BUMN
16

TERIMA KASIH
http://www.bumn.go.id
Gedung Kementerian BUMN
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 13
Jakarta