Anda di halaman 1dari 116

MATERI KULIAH

ASURANSI SYARIAH
PERTEMUAN I (PENGANTAR MANAJEMEN RISIKO)
PERTEMUAN II (LANDASAN TEORI ASURANSI SYARIAH)
PERTEMUAN III (SISTEM OPERASIONAL ASURANSI JIWA & KERUGIAN
UMUM)
PERTEMUAN IV (KONSEP & IMPLEMENTASI AKAD MUAMALAH PADA
ASURANSI SYARIAH))
PERTEMUAN V (SISTEM INVESTASI PADA ASURANSI SYARIAH)
PERTEMUAN VI (KONSEP MARKETING PADA ASURANSI SYARIAH)
PERTEMUAN VII (REASURANSI
REASURANSI SYARIAH)

DOSEN PENGAJAR:
ABDUL WAHAB, M.A.

OWNER:
MUHAMMAD MUJAHID
NIM: 25.12.3.143
SEMESTER
SEMESTER/KELAS:
V (LIMA)/D

JURUSAN D-III
III (DIPLOMA TIGA) PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI & BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
(UINSU)
MEDAN
2014

Asuransi Syariah

PERTEMUAN KE I
PENGANTAR MANAJEMEN RISIKO
1.1

DEFINISI MANAJEMEN RESIKO


Menurut Smith, 1990 Manajemen resiko didefinisikan sebagai proses identifikasi,

pengukuran,dan kontrol keuangan dari sebuah resiko yang mengancam aset dan penghasilan dari
sebuah perusahaan atau proyek yang dapat menimbulkan kerusakan atau kerugian pada perusahaan
tersebut.
Menurut Clough and Sears, 1994, Manajemen risiko didefinisikan sebagai suatu pendekatan
yang komprehensif untuk menangani semua kejadian yang menimbulkan kerugian.
Menurut William, et. al.,1995, p. 27, Manajemen risiko juga merupakan suatu aplikasi dari
manajemen umum yang mencoba untuk mengidentifikasi, mengukur, dan menangani sebab dan
akibat dari ketidakpastian pada sebuah organisasi.
Dorfman, 1998, p. 9 Manajemen risiko dikatakan sebagai suatu proses logis dalam usahanya
untuk memahami eksposur terhadap suatu kerugian
Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola
ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk:
penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan
menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumber daya.
Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain,
menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua
konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul
oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan
hukum. Manajemen risiko keuangan, di sisi lain, terfokus pada risiko yang dapat dikelola dengan
menggunakan instrumen-instrumen keuangan.
Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang berbedabeda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh
masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan,
teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di sisi lain, pelaksanaan manajemen risiko melibatkan
segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff,
dan organisasi).
Tindakan manajemen resiko diambil oleh para praktisi untuk merespon bermacam-macam
resiko. Responden melakukan dua macam tindakan manajemen resiko, yaitu mencegah dan
memperbaiki. Tindakan mencegah digunakan untuk mengurangi, menghindari, atau men-transfer

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 1

Asuransi Syariah
resiko pada tahap awal proyek konstruksi. Sedangkan tindakan memperbaiki adalah untuk
mengurangi efek-efek ketika resiko terjadi atau ketika resiko harus diambil (Shen, 1997).
Manajemen resiko adalah sebuah cara yang sistematis dalam memandang sebuah resiko dan
menentukan dengan tepat penanganan resiko tersebut. Ini merupakan sebuah sarana untuk
mengidentifikasi sumber dari resiko dan ketidakpastian, dan memperkirakan dampak yang
ditimbulkan dan mengembangkan respon yang harus dilakukan untuk menanggapi resiko (Uher,
1996).
Pendekatan sistematis mengenai manajemen risiko dibagi menjadi 3 stage utama, yaitu
(Soeharto, 1999):
a.

Identifikasi resiko.

b.

Analisa dan evaluasi resiko.

c.

Respon atau reaksi untuk menanggulangi resiko tersebut.

1.2

MANFAAT MANAJEMEN RISIKO


Manfaat yang diperoleh dengan menerapkan manajemen resiko antara lain (Mok et. al.,

1996):
a.

Berguna untuk mengambil keputusan dalam menangani masalah-masalah yang rumit.

b.

Memudahkan estimasi biaya.

c.

Memberikan pendapat dan intuisi dalam pembuatan keputusan yang dihasilkan dalam cara
yang benar.

d.

Memungkinkan bagi para pembuat keputusan untuk menghadapi resiko dan ketidakpastian
dalam keadaan yang nyata.

e.

Memungkinkan bagi para pembuat keputusan untuk memutuskan berapa banyak informasi
yang dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah.

f.

Meningkatkan pendekatan sistematis dan logika untuk membuat keputusan.

g.

Menyediakan pedoman untuk membantu perumusan masalah.

h.

Memungkinkan analisa yang cermat dari pilihan-pilihan alternatif.


Menurut Darmawi, (2005, p. 11) Manfaat manajemen risiko yang diberikan terhadap

perusahaan dapat dibagi dalam 5 (lima) kategori utama yaitu:


a.

Manajemen risiko mungkin dapat mencegah perusahaan dari kegagalan.

b.

Manajemen risiko menunjang secara langsung peningkatan laba.

c.

Manajemen risiko dapat memberikan laba secara tidak langsung.

d.

Adanya ketenangan pikiran bagi manajer yang disebabkan oleh adanya perlindungan terhadap
risiko murni, merupakan harta non material bagi perusahaan itu.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 2

Asuransi Syariah
e.

Manajemen risiko melindungi perusahaan dari risiko murni, dan karena kreditur pelanggan dan
pemasok lebih menyukai perusahaan yang dilindungi maka secara tidak langsung menolong
meningkatkan public image.
Manfaat manajemen risiko dalam perusahaan sangat jelas, maka secara implisit sudah

terkandung didalamnya satu atau lebih sasaran yang akan dicapai manajemen risiko antara lain
sebagai berikut ini (Darmawi, 2005, p. 13):
a.

Survival.

b.

Kedamaian pikiran.

c.

Memperkecil biaya.

d.

Menstabilkan pendapatan perusahaan.

e.

Memperkecil atau meniadakan gangguan operasi perusahaan.

f.

Melanjutkan pertumbuhan perusahaan.

g.

Merumuskan tanggung jawab social perusahaan terhadap karyawan dan masyarakat.

1.3
a.

PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN RISIKO


Transparansi
Prinsip ini mensyaratkan agar seluruh potensi risiko yang ada pada suatu aktivitas,

khususnya transaksi, dibeberkan secara terbuka. Risiko yang tersembunyi/disembunyikan akan


menjadi sumber permasalahan terbesar dan, per definisi, tidak akan dapat dikelola dengan baik.
b.

Pengukuran yang Akurat


Prinsip ini mewakili sisi sains dari konsep manajemen risiko, dan mensyaratkan investasi

berkesinambungan untuk berbagai teknik dan alat yang akan digunakan sebagai syarat dari proses
manajemen risiko yang kuat.
c.

Informasi Berkualitas yang Tepat Waktu


Prinsip ini akan turut menentukan akurasi pengukuran dan kualitas keputusan yang diambil.

Sebaliknya, tidak terpenuhinya prinsip ini bisa membawa manajemen pada suatu keputusan yang
berisiko fatal.
d.

Diversifikasi
Sistem Manajemen Risiko yang baik menempatkan konsep diversifikasi sebagai sesuatu

yang penting untuk dicermati. Hal ini menuntut pola pemantauan yang konstan dan konsisten.
Asumsinya adalah bahwa konsentrasi (risiko) dapat muncul setiap saat seiring dengan berbagai
perubahan yang terjadi di dunia.
e.

Independensi
Berdasarkan prinsip independensi, keberadaan suatu kelompok manajemen risiko yang

independen makin dianggap sebagai suatu keharusan. Prinsip ini tidak sekedar berbicara tentang
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 3

Asuransi Syariah
kewenangan dan level tanggung jawab dari kelompok manajemen risiko dan kelompok/unit lainnya
dalam perusahaan, melainkan juga tentang tentang visi perusahaan dan kualitas interrelasi antara
kelompok manajemen risiko dengan kelompok/unit lainnya, dan juga antar kelompok/unit yang
melaksanakan transaksi dengan mengambil risiko tertentu.
f.

Pola Keputusan yang Disiplin


Porsi sains dalam konsep manajemen risiko memang telah memberikan banyak kontribusi

bagi kemampuan manajemen risiko dalam melakukan pengukuran risiko, namun kualitas keputusan
tetap saja tergantung pada bagaimana manajemen memutuskan cara terbaik untuk menggunakan
alat/teknik tertentu dan memahami keterbatasan yang dimiliki oleh alat/teknik tersebut.
g.

Kebijakan
Prinsip ini mensyaratkan bahwa tujuan dan strategi manajemen risiko suatu perusahaan

harus dirumuskan dalam sebuah policy, manual & procedure yang jelas. Policy harus secara jelas
menjabarkan dan mendefiniskan filosofi manajemen risiko perusahaan dan menyediakan
keseluruhan pendekatan yang digunakan serta organisasi dari proses pengambilan risiko. Tujuan
utama dari hal tersebut adalah untuk memberikan kejelasan mengenai proses manajemen risiko,
baik untuk pihak internal maupun untuk pihak eksternal seperti regulator dan para analis.
Prinsip-prinsip tersebut di atas akan menjadi penentu arah dalam menyusun suatu kerangka
kerja, suatu model manajemen risiko yang handal. Lebih jauh, prinsip-prinsip tersebut juga akan
menjadi penentu keberhasilan dari penerapan model manajemen risiko dalam suatu perusahaan.
Tanpa pemahaman mendalam serta konsistensi dalam menggunakan prinsip-prinsip tersebut, maka
penyusunan dan penerapan suatu model manajemen risiko tidak akan memberikan nilai tambah
yang seharusnya dapat diperoleh.

1.4

JENIS/TIPE RISIKO
Secara umum risiko dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a.

Risiko Murni (pure risk)


Risiko di mana kemungkinan kerugian ada, tetapi kemungkinan keuntungan tidak ada (yang

hanya ada kerugian). Contoh: risiko kecelakaan, kebakaran, banjir, dan semacamnya (risiko-risiko
yang bergerak pada satu arah saja yaitu arah kerugian). Asuransi biasanya lebih banyak berurusan
dengan risiko murni. Risiko murni (pure risk) dapat dikelompokkan pada 3 (tiga) tipe risiko, yaitu:
1) Risiko aset fisik
Merupakan risiko yang berakibat timbulnya kerugian pada aset fisik suatu perusahaan.
Contoh: kebakaran, banjir, gempa, tsunami, gunung meletus, dll.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 4

Asuransi Syariah
2) Risiko karyawan
Merupakan risiko karena apa yang dialami oleh karyawan yang bekerja di perusahaan
tersebut. Contoh: kecelakaan kerja sehingga aktivitas perusahaan terganggu.
3) Risiko Legal
Merupakan risiko dalam bidang kontrak yang mengecewakan atau kontrak tidak berjalan
sesuai dengan rencana. Risiko ini akibat kelemahan masalah hukum, mulai dari tuntutan hukum,
tidak adanya kerangka hukum, dan kelemahan perjanjian. Contoh: perselisihan dengan perusahaan
lain sehingga adanya persoalan seperti ganti rugi.
b.

Risiko Spekulatif (speculative risk)


Risiko dimana kita mengharapkan terjadinya kerugian dan juga keuntungan. Kemungkinan

kerugian ada, tetapi disamping itu juga terdapat kemungkinan untung. Risiko ini biasanya berkaitan
dengan risiko usaha atau bisnis. Contoh: perjudian, pembelian saham, valuta asing, saving dalam
bentuk emas, perubahan tingkat suku bunga perbankan.
Risiko spekulatif (speculative risk) dapat dikelompokan sebagai berikut:
1) Risiko pasar
Merupakan risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar yang bervariasi,
seperti akibat suku bunga, nilai tukar, dan komoditas. Contoh: harga saham mengalami penurunan
sehingga menimbulkan kerugian.
2) Risiko kredit/investasi
Merupakan risiko yang terjadi karena counter party (debitur) gagal memenuhi kewajibannya
kepada perusahaan. Contoh: timbulnya kredit macet, persentase piutang meningkat.
3) Risiko likuiditas
Merupakan risiko karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan kas/ketidakmampuan
dalam menempatkan kewajiban (liability). Contoh: kepemilikan kas menurun, sehingga tidak
mampu membayar hutang secara tepat, menyebabkan perusahaan harus menjual aset yang
dimilikinya.
4) Risiko operasional
Merupakan risiko yang disebabkan pada kegiatan operasional yang tidak berjalan dengan
lancar. Contoh: terjadi kerusakan pada komputer karena berbagai hal termasuk terkena virus.
5) Risiko strategi
Risiko yang timbul akibat lemahnya pembentukan dan penerapan strategi perusahaan,
lemahnya pengambilan keputusan dalam dunia bisnis atau kesenjangan reaksi dalam menghadapi
perubahan. Risiko ini dikelola pada level direksi dan memerlukan perencanaan strategi.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 5

Asuransi Syariah
1.4.1 PERIL
Adalah peristiwa atau kejadian yang menimbulkan kerugian. Misalnya: kebakaran,
pencurian, kecelakaan dsb.
1.4.2 HAZARD
Adalah kondisi yang potensial menyebabkan terjadinya kerugian atau kerusakan. Misalnya:
Jalan licin, tikungan tajam adalah keadaan dan kondisi jalan yang memperbesar kemungkinan
terjadinya kecelakaan di tempat tersebut.
Ada beberapa tipe hazard antara lain:
a.

Physical Hazard: adalah keadaan dan kondisi yang memperbesar kemungkinan terjadinya peril
yang bersumber dari karakteristik physik dari obyek. Kondisi ini biasanya dicoba diatasi
dengan tindakan preventif untuk memperkecil kemungkinannya. Misalnya: jalan licin, tikungan
tajam, yang memperbesar kemungkinan kecelakaan dicoba diatasi dengan memasang ramburambu lalu-lintas di tempat tersebut.

b.

Moral Hazard: adalah keadaan dan kondisi seseorang yang memperbesar kemungkinan
terjadinya peril, yang bersumber dari karakter pribadi yang bersangkutan, misalnya: pelupa;
atau bersumber dari perasaan hati orang yang bersangkutan, yang biasanya karena pengaruh
keadaan tertentu. Contoh: orang yang telah mengasuransikan diri dan mobilnya, maka merasa
aman sehingga ia sembrono (lengah) dalam mengendarai mobilnya. Hal ini memperbesar
kemungkinan terjadinya kecelakaan.

1.4.3 EXPOSURE
Adalah sumber-sumber risiko yang kemungkinan besar disebabkan oleh peristiwa yang
sudah terjadi, atau pengulangan kejadian yang sama.

1.5

PENTINGNYA MANAJEMEN RISIKO


Dulu, manajemen risiko diaplikasikan dengan membayar asuransi. Namun sekarang, lebih

banyak lagi hal yang harus dikhawatirkan, dimana asuransi tidak bisa menanggulangi semua
kekhawatiran itu. Berikut ini merupakan isu yang membuat pihak manajemen suatu perusahaan
harus fokus dan konsentrasi terhadap risiko (Sadgrove, 2005:10):
a.

Peraturan semakin ketat


Peraturan yang semakin ketat. Direktur suatu perusahaan dapat dipenjara karena adanya

tuntutan terhadap perusahaan. Bahkan perusahaan juga dapat menanggung denda yang besar atas
tuntutan yang ada. Selain itu, peraturan terhadap manajemen risiko juga berkembang dimana
perusahaan dituntut untuk mengelola risk assessment secara sehat dan aman.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 6

Asuransi Syariah
b.

Asuransi semakin mahal dan sulit didapatkan


Asuransi menawarkan harga yang semakin tinggi. Penanggulangan risiko secara

keseluruhan oleh asuransi juga tidak tersedia dalam jumlah besar. Selain itu, perusahaan asuransi
menuntut kliennya untuk melakukan manajemen risiko secara intensif, dimana hal ini yang
sesungguhnya diharapkan oleh perusahaan pengaju klaim untuk ditanggulangi oleh perusahaan
asuransi. Selain itu, pembayaran asuransi apabila terjadi kecelakaan juga tidak secepat yang
diharapkan. Yang lebih penting lagi, banyak aset yang tidak bisa diasuransikan oleh pihak asuransi,
contohnya trademark.
c.

Perilaku konsumen
Konsumen pada dasarnya sulit untuk menerima apabila terdapat kesalahan dalam produk

yang dibelinya. Selain itu, konsumen juga lebih teliti terhadap risiko. Konsumen akan mudah
kecewa apabila terdapat kesalahan yang mereka anggap merupakan kesalahan perusahaan.
Kekecewaan ini berakibat panjang bagi perusahaan, baik secara finansial maupun reputasi.
d.

Publik yang semakin kritis


Publik yang kritis mengharapkan standar yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Jika

perusahaan tidak dapat mencapai harapan publik, maka perusahaan akan mendapatkan masalah.
e.

Perilaku manajemen
Perusahaan berkembang menjadi semakin profesional. Banyak perusahaan yang lebih

mempertimbangkan cara mencegah risiko dibandingkan cara menanggulanginya. Perusahaan juga


semakin bersikap global dan memikirkan berbagai cara agar membuat perusahaan tersebut dapat
melebarkan sayapnya. Selain itu, banyaknya perusahaan yang berkembang dengan pesat membuat
pemerintah mengalami kekurangan kemampuan dalam menanggulangi masalah pada perusahaan,
sehingga perusahaan harus memikirkan cara sendiri untuk menghindari dan menanggulangi risiko.
Pada umumnya penerapan manajemen risiko sering mengalami kendala yang disebabkan,
antara lain:
a.

Ketika sebagian personel yang posisinya cukup menentukan merasa sudah tahu banyak, enggan
menerima perubahan, apalagi menerapkan manajemen risiko.

b.

Kekeliruan dalam memprioritaskan risiko.

c.

Kegagalan dalam memonitor risiko sebelum dan sesudah risiko terjadi.

d.

Ketakutan dalam menghadapi risiko.

1.6

TAHAP-TAHAP/PROSES DALAM MANAJEMEN RISIKO


Untuk mengimplementasikan manajemen risiko secara komprehensif, ada beberapa tahap

yang harus dilaksanakan oleh suatu perusahaan, yaitu:

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 7

Asuransi Syariah
a.

Identifikasi risiko
Adalah kegiatan mengidentifikasi semua risiko usaha yang dihadapi, baik risiko yang

bersifat spekulatif maupun risiko yang sifatnya murni. Identifikasi risiko dilakukan untuk
mengidentifikasi risiko-risiko apa saja yang dihadapi oleh suatu organisasi. Segala informasi yang
berkenaan dengan usaha dikumpulkan kemudian dianalisis, bagian-bagian mana yang sekiranya
akan muncul sebagai penyebab kemungkinan terjadinya suatu kerugian. Pada tahap ini, pihak
manajemen perusahaan melakukan tindakan berupa mengidentifikasi setiap bentuk risiko yang
dialami perusahaan.
b.

Mengidentifikasi bentuk-bentuk risiko


Pada tahap ini, diharapkan pihak manajemen perusahaan telah mampu menemukan bentuk

dan format risiko yang dimaksud.


c.

Menempatkan ukuran-ukuran risiko


Pada tahap ini, pihak manajemen perusahaan sudah menempatkan ukuran atau skala yang

dipakai, termasuk rancangan model metodologi penelitian yang akan digunakan.


d.

Menempatkan alternatif-alternatif
Pada tahap ini, pihak manajemen perusahaan telah melakukan pengolahan data.

e.

Menganalisis setiap alternatif


Pada tahap ini, dimana setiap alternatif yang ada selanjutnya dianalisis dan dikemukakan

berbagai sudut pandang serta efek-efek yang mungkin timbul.


f.

Memutuskan satu alternatif


Pada tahap ini, setelah berbagai alternatif dipaparkan dan dijelaskan, baik dalam bentuk

lisan dan tulisan oleh para manajemen perusahaan, maka diharapkan pihak manajer perusahaan
sudah memiliki pemahaman secara khusus dan mendalam.
g.

Melaksanakan alternatif yang dipilih


Pada tahap ini, setelah alternatif dipilih dan ditegaskan serta dibentuk tim untuk

melaksanakan ini, maka artinya manajer perusahaan sudah mengeluarkan surat keputusan (SK)
yang dilengkapi dengan rincian biaya.
h.

Mengontrol alternatif yang dipilih tersebut


Pada tahap ini, alternatif yang dipilih telah dilaksanakan dan pihak tim manajemen beserta

para manajer perusahaan.


i.

Mengevaluasi jalannya alternatif yang dipilih


Evaluasi dan pengukuran risiko adalah kegiatan untuk menilai bagian-bagian yang

diperkirakan akan menjadi penyebab terjadinya suatu kerugian. Tujuan evaluasi risiko adalah untuk
memahami karakteristik risiko dengan lebih baik. Jika kita memperoleh pemahaman yang lebih
baik, maka risiko akan lebih mudah dikendalikan. Evaluasi yang lebih sistematis dilakukan untuk
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 8

Asuransi Syariah
mengukur risiko tersebut. Pada tahap ini, setelah alternatif dilaksanakan dan kontrol dilakukan,
maka selanjutnya pihak tim manajemen secara sistematis melaporkan kepada pihak manajer
perusahaan.

1.6.1 RISK IDENTIFICATION (IDENTIFIKASI RISIKO)


Melakukan suatu identifikasi atas segala kemungkinan-kemungkinan terjadi suatu risiko,
yaitu dengan cara mengumpulan data-data atau mencari informasi-informasi lain yang dapat
diperoleh sehubungan dengan risiko yang akan dihadapi tersebut.

1.6.2 RISK EVALUATION/ANALYSIS (EVALUASI/ANALISA RISIKO)


Melakukan evaluasi atau analisa risiko dari akibat yang mungkin ditimbulkan oleh risiko
terhadap organisasi dapat dilakukan secara:
a.

Analisa Kualitatif, yaitu analisa secara fisik terhadap potensi risiko yang ada tanpa
memperhatikan monetary value di dalamnya. Misal: dari flow-chart dapat dievaluasi kualitatif
efek dari terjadinya suatu peristiwa, cara ini dilakukan bila tidak adanya data yang cukup untuk
dapat dihitung.

b. Analisa Kuantitatif, yaitu analisa finansial terhadap akibat yang ditimbulkan oleh kerugian
yang terjadi. Evaluasi ini dapat dilakukan dengan statistik bila tersedia data yang cukup untuk
dasar perhitungan.

Dua faktor yang dianalisa adalah:


a.

Frekuensi terjadinya kerugian (Frequency).

b.

Tingkat besarnya kerugian (Severity).

Tingkatan Frekuensi Risiko:


a.

Kemungkinan sering terjadi (Most Probable).

b.

Kemungkinan ada terjadi (Probable).

c.

Kemungkinan kadang kala terjadi (Fair).

d.

Kemungkinan kecil terjadi (Slight).

e.

Kemungkinan tidak terjadi (Improbable).

Tingkat Besarnya Kerugian


Bencana (Catastrophe)
Tinggi (High)

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Sangat mempengaruhi kesinambungan atau


kehidupan perusahaan.
Sangat mempengaruhi pencapaian tujuan
perusahaan.
Page 9

Asuransi Syariah
Sedang (Medium)
Rendah (Low)
Dapat diabaikan
(Negligible)

Kerusakan menimbulkan masalah dalam jangka


waktu tertentu.
Kerusakan hanya menimbulkan masalah kecil
bagi perusahaan.
Tidak berpengaruh pada kegiatan atau
pendapatan perusahaan.

Hubungan antara frekuensi dengan tingkat keparahan (Frequency dan Severity) risiko dalam
asuransi, menyatakan bahwa:

Pada frekuensi tinggi, umumnya mempunyai nilai kerugian yang rendah.

Pada frekuensi rendah, umumnya dengan nilai kerugian yang besar.


Jadi dapat dilihat bahwa hubungan antara frekuensi dengan nilai kerugian adalah hubungan

terbalik. Contoh:

High frequency Low severity: Kerugian kebakaran pada rumah-rumah tinggal.

Low frequency High severity: Kerugian kebakaran pada bangunan-2 pabrik.

1.6.3 RISK CONTROL (PENGENDALIAN RISIKO)


Ada 2 kategori pengelolahan risiko yaitu:
1.6.3.1 PENGENDALIAN RISIKO SECARA FISIK (PHYSICAL)
Pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara:
a.

Pengurangan Risiko (Risk Reduction/Loss Prevention)


Pengurangan dan pencegahan risiko saling berkaitan erat dan pada dasarnya dapat dicapai

dengan cara mengurangi atau menyingkirkan sebagian atau keseluruhan dari risiko yang ada. Dalam
pelaksanaannya, ada 2 (dua) cara yang dapat digunakan, yaitu :
1) Eleminasi (Penghapusan Risiko)
Menghapuskan atau mengurangi kemungkinan terjadinya risiko yang dihadapi. Misal:
karena takut kecelakaan dijalan, mobil dijual.
2) Minimisasi (Memperkecil Risiko)
Usaha untuk memperkecil risiko dapat dibagi dalam 2 (dua) bagian, yaitu:
a)

Pre Loss Minimisation


Adalah suatu tindakan memperkecil terjadinya suatu risiko yang dilakukan sebelum
terjadinya kerugian. Contoh: menyediakan alat pemadam kebakaran, safebelt, dll.

b) Post Loss Minimisation


Adalah suatu tindakan memperkecil terjadinya suatu risiko yang dilakukan sesudah
terjadinya kerugian. Contoh: Menyelamatkan sisa-sisa barang akibat kebakaran.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 10

Asuransi Syariah
b. Penghapusan Risiko (Risk Avoidance)
Penghapusan risiko atau risk avoidance dapat diartikan sebagai menghapus sama sekali
kemungkinan terjadinya suatu risiko (totally eliminate). Jadi, tidak berbuat atau terjun dalam
aktivitas sejak pertama kali. Contoh: suatu perusahaan dapat menghindarkan risiko kebanjiran
dengan tidak membangun pabrik atau gudang didaerah banjir.
Keuntungan dari Risk Avoidance: Kemungkinan terjadinya kerugian dapat diturunkan
hingga titik NOL, jadi tidak perlu lagi tehnik risk management lebih lanjut karena kemungkinan
terjadinya kerugian sudah dihapuskan sama sekali.
Kerugian dari Risk Avoidance: Kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan (loss
of profit). Tidak mungkin semua kemungkinan terjadinya kerugian dihapuskan. Contoh : kematian
tidak mungkin dapat dihindar.

1.6.3.2 PENGENDALIAN RISIKO SECARA FINANSIAL (FINANCIAL)


Ada 2(dua) cara yang dapat dilakukan dalam pengendalian risiko secara finansial, yaitu :
a.

Retensi Risiko (Risk Retention)


Retensi risiko sebagian atau seluruhnya, dengan menyisihkan atau mencadangkan dana

untuk pembiayaan apa bila risiko tersebut terjadi. Biaya untuk mengasuransikan kerugian yang
dapat diperkirakan mungkin akan sama atau lebih besar daripada jumlah kerugian yang terjadi
tersebut.
b. Transfer Risiko (Risk Transfer)
Perusahaan memindahkan efek dari kerugian yang diderita kepada orang lain atau
perusahaan lain. Bentuk transfer risiko ini yang paling umum adalah asuransi.
Dalam prakteknya ke-4 cara/metode diatas, dapat digunakan secara terpisah dan dapat juga
digunakan secara kombinasi antara 2 metode atau lebih. Misal:

Untuk risiko yang mempunyai dampak kerugian kecil, bisa digunakan metode pencegahan dan
menahannya jika risiko tersebut muncul, sedangkan,

Untuk risiko yang mempunyai dampak kerugian yang cukup besar, bisa digunakan metode
pencegahan dan pemindahan risiko.
Dalam metode pemindahan risiko (Risk transfer Method) ini berarti bahwa seseorang/

perusahaan dapat memindahkan sebagian/seluruh dampak kerugian yang ada jika risiko tersebut
muncul, kepada bahu seseorang/perusahaan lainnya, sehingga kerugian yang muncul nantinya tidak
akan mempengaruhi kegiatan atau kondisi keuangannya.
Dari cara pengendalian risiko secara finansial dengan metode tranfer risk di mana risiko
tersebut ditranfer ke Perusahaan Asuransi, maka timbul suatu pengertian bahwa Asuransi
merupakan salah satu mekanisme pengalihan Risiko (Risk Transfer Mechanism).
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 11

Asuransi Syariah
Pada metode pemindahan risiko inilah Industri Asuransi bekerja, dimana seseorang atau
perusahaan dapat mengalihkan sebagian risiko-risiko yang dimilikinya kepada Perusahaan Asuransi
dengan jalan membeli polis asuransi sesuai dengan jenis risiko yang dihadapinya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa selain risiko adalah suatu ketidak pastian akan
suatu kerugian (Uncertainty of Loss), juga dapat diartikan sebagai objek asuransi (Subject matter of
Insurance).

1.7

METODA DASAR PENGELOLAAN RISIKO


Setelah analisis dan evaluasi risiko, langkah selanjutnya dalam manajemen risiko adalah

mengelola risiko. Risiko harus dikelola. Jika organisasi gagal mengelola risiko, maka konsekuensi
yang diterima bisa cukup serius, misal kerugian besar. Berbagai cara pengelolaan risiko, yaitu:
a.

Penghindaran
Cara paling mudah dan aman untuk mengelola risiko adalah dengan menghindar. Tetapi,

cara semacam ini tidak optimal. Contoh: jika ingin memperoleh keuntungan dari bisnis, maka mau
tidak mau kita harus keluar dan menghadapi risiko tersebut. Kemudian kita akan mengelola risiko
tersebut.
b.

Ditahan (Retention)
Dalam beberapa situasi, akan lebih baik jika kita menghadapi sendiri risiko tersebut

(menahan risiko tersebut/risk retention).


c.

Diversifikasi
Diversifikasi berarti menyebar eksposur yang kita miliki sehingga tidak terkonsentrasi pada

satu atau dua eksposur saja. Contoh: memegang aset tidak hanya satu, tetapi bermacam-macam
(saham, obligasi, properti). Jika terjadi kerugian pada satu aset, kerugian tersebut bisa dikompensasi
oleh keuntungan dari aset yang lainnya.
d.

Transfer Risiko
Keputusan mengalihkan risiko adalah dengan cara risiko yang kita terima tersebut kita

alihkan ke tempat lain sebagian. Jika tidak ingin menanggung risiko tertentu, kita dapat mentransfer risiko tersebut kepada pihak lain yang lebih mampu menghadapi risiko tersebut. Contoh:
membeli asuransi kecelakaan. Jika terjadi kecelakaan, perusahaan asuransi akan menanggung
kerugian dari kecelakaan tersebut.
e.

Pengendalian Risiko
Dilakukan untuk mencegah atau menurunkan probabilitas terjadinya risiko atau kejadian

yang tidak kita inginkan. Keputusan mengontrol risiko adalah dengan cara melakukan kebijakan
antisipasi terhadap timbulnya risiko sebelum risiko itu terjadi. Contoh: untuk mencegah kebakaran,

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 12

Asuransi Syariah
kita memasang alarm asap dibangunan kita. Alarm merupakan salah satu cara kita mengendalikan
risiko kebakaran.
f.

Pendanaan Risiko
Mempunyai arti bagaimana mendanai kerugian yang terjadi jika suatu risiko muncul.

Keputusan pendanaan risiko menyangkut penyediaan sejumlah dana sebagai cadangan (reserve)
guna mengantisipasi timbulnya risiko di kemudian hari seperti perubahan nilai tukar dolar terhadap
mata uang domestik di pasaran. Contoh: jika terjadi kebakaran, bagaimana menanggung kerugian
akibat kebakaran tersebut, apakah dari asuransi, ataukah menggunakan dana cadangan. Sebuah
perbankan mempunyai kebijakan harus memiliki cadangan dalam bentuk mata uang dolar sehingga
jumlah perkiraan akan terjadi kenaikan atau perubahan nilai tukar dapat diantisipasi.

1.8

PENYEBAB RISIKO
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya suatu kerugian merupakan hal yang penting

dalam analisis risiko. Dua faktor yang menimbulkan kerugian adalah bencana (perils) dan bahaya
(hazard).
a.

Bencana (perils)
Adalah penyebab penyimpangan peristiwa sesungguhnya dari yang diharapkan. Bencana

(perils) dapat didefinisikan sebagai penyebab langsung terjadinya kerugian. Bencana yang umum
adalah kebakaran, topan, ledakan, kecelakaan, mati muda, penyakit, kecerobohan, dan
ketidakjujuran.
b.

Bahaya (hazard)
Dapat didefinisikan sebagai keadaan yang melatar belakangi terjadinya chance of loss

(kemungkinan kerugian) dari bencana tertentu. Bahaya meningkatkan risiko kemungkinan


terjadinya kerugian. Macam-macam bahaya, yaitu:
1) Bahaya fisik (physical hazard)
Adalah suatu kondisi yang bersumber pada karakteristik secara fisik dari suatu obyek yang
dapat memperbesar kemungkinan terjadi suatu peril ataupun memperbesar terjadinya suatu
kerugian.
Contoh: gesekan pohon yang terjadi pada saat musim kemarau dan menimbulkan suatu
panas yang mudah sekali menimbulkan percikan api. Kondisi yang demikian, dapat memperbesar
kemungkinan terjadinya bahaya kebakaran. Hutan yang terbakar itu disebabkan oleh kondisi fisik
dari hutan yang bersangkutan, yaitu mengalami kekeringan karena musim kemarau yang
berkepanjangan.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 13

Asuransi Syariah
2) Bahaya moral (moral hazard)
Adalah suatu kondisi yang bersumber dari orang yang bersangkutan yang berkaitan dengan
sikap mental atau pandangan hidup serta kebiasaannya yang dapat memperbesar kemungkinan
terjadinya suatu kerugian. Adanya kerugian ini karena sikap mental dari orang yang bersangkutan,
misalnya karena kelalaian di mana unsur kesengajaan terlihat.
Contoh: seseorang mempertanggungkan rumahnya terhadap risiko kebakaran. Pada suatu
hari rumah yang dipertanggungkan itu terbakar, sebenarnya kebakaran itu dapt dicegah seandainya
ia berusaha memadamkan tatkala api itu masih kecil. Namun hal itu tidak dilakukan, tentu saja api
membesar dan memusnahkan. Dalam kondisi yang demikian itu tampak sikap mental dari orang
yang bersangkutan yaitu memperbesar kemungkinan terjadinya suatu kerugian.
3) Bahaya morale (morale hazard)
adalah bahaya yang ditimbulkan oleh sikap ketidak hati-hatian dan kurangnya perhatian
sehingga dapat meningkatkan terjadinya kerugian. Contoh: seseorang yang memiliki mobil dan ia
telah mengasuransikannya, karena merasa bahwa mobilnya telah diasuransikan maka seringkali
sikapnya kurang hati-hati. Misalnya, dalam menyimpan atau mengendarai mobilnya dibandingkan
apabila mobil tersebut tidak diasuransikan. Sikap yang demikian itu, akan memperbesar
kemungkinan terjadinya suatu peril atau kerugian.
Beda bahaya moral dan morale adalah: bahaya moral timbul apabila si tertanggung
menciptakan kerugian untuk mendapatkan keuntungan berdasarkan polis asuransinya, sedangkan
bahaya morale timbul karena si tertanggung tidak melindungi hartanya atau ia lalai karena merasa
hartanya diasuransikan.
4) Bahaya karena hukum/peraturan (legal hazard)
Seringkali berdasarkan peraturan-peraturan ataupun perundang-undangan yang bertujuan
melindungi masyarakat justru diabaikan atau pun kurang diperhatikan sehingga dapat memperbesar
terjadinya suatu peril.
Contoh: adanya keharusan asuransi kecelakaan kerja untuk para karyawan perusahaan yang
relatif besar karena sudah memenuhi hal tersebut, maka kewajiban-kewajiban hukum lainnya
seperti keselamatan kerja, jam kerja kontinyu sering diabaikan.

1.9

JENIS-JENIS ASURANSI

1.9.1 ASURANSI JIWA


Jenis Asuransi Jiwa adalah janji yang tertulis di dalam polis asuransi, yang dibuat oleh
penanggung kepada tertanggung, untuk memberikan kompensasi keuangan apabila sesuatu terjadi
kepada tertanggung. Penanggung menawarkan berbagai produk yang sesuai dengan persyaratan dan
kebutuhan calon tertanggung. Calon tertanggung bebas untuk memilih setiap jenis produk yang
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 14

Asuransi Syariah
sesuai dengan kebutuhan calon tertanggung. Calon tertanggung bebas untuk memilih setiap jenis
produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
Asuransi jiwa terdiri atas beberapa produk. Masing-masing jenis produk memiliki manfaat
yang berbeda-beda guna melayani berbagai macam kebutuhan dan kemampuan nasabah. Apakah
perbedaan diantara jenis-jenis produk asuransi tersebut?

1.9.1.1 Asuransi Jiwa Tradisional


a.

Asuransi Jiwa Berjangka (Term)


Ciri khas asuransi berjangka, terletak pada proteksi maksimum dengan preminya yang relatif

rendah. Sebab itu, jenis produk ini menarik bagi calon tertanggung yang mempunyai kebutuhan
asuransi yang besar, namun daya belinya terbatas. Siapa yang cocok dengan polis ini?

b.

Calon pemegang polis yang ingin memproteksi masa depan anaknya;

Calon pemegang polis yang baru meniti karir.

Asuransi Jiwa Seumur Hidup (Whole Life)


Ciri khas asuransi jiwa seumur hidup adalah jenis dasar asuransi jiwa permanen yang

memberi proteksi asuransi seumur hidup bagi seseorang. Siapa yang cocok dengan produk ini?

Calon pemegang polis yang ingin memiliki proteksi jiwa sekaligus menghasilkan dana
tabungan yang dapat dipakai untuk kebutuhan darurat;

Calon pemegang polis yang membutuhkan proteksi penghasilan permanen (biaya tagihan
rumah sakit);

c.

Calon pemegang polis yang ingin mendapat sejumlah pertumbuhan modal investasinya.

Asuransi Jiwa Dwiguna (Endowment)


Ciri khas asuransi jiwa dwiguna adalah proteksi yang memberikan jumlah uang

pertanggungan saat tertanggung meninggal dalam periode tertentu dan sekaligus memberikan
seluruh uang pertanggungan jika ia masih hidup pada masa akhir pertanggungan. Karena
memberikan dua manfaat inilah, asuransi ini disebut dwiguna. Produk ini berguna bagi calon
pemegang polis yang ingin tertanggung terlindung dari dampak keuangan karena kematian dini.
Siapa yang cocok dengan produk ini?

Calon pemegang polis yang memerlukan dana bagi pendidikan anak;

Calon pemegang polis yang ingin memiliki sejumlah dana untuk kebutuhan di masa depan;

Calon pemegang polis yang ingin memiliki dana pensiun.

1) Asuransi Jiwa Unit Link Single (Premi Tunggal)


Ciri khas Asuransi Jiwa Unit Link Single (Premi Tunggal) adalah premi yang dibayarkan
secara sekaligus atau lump sum. Biasanya premi tunggal diinginkan oleh calon pemegang polis yang
ingin berinvestasi jangka panjang. Siapa yang cocok dengan produk ini?
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 15

Asuransi Syariah

Calon pemegang polis yang suka berinvestasi jangka panjang;

Calon pemegang polis yang memiliki kelebihan uang (idle money) dan bermaksud
meningkatkan kekayaannya.

2) Asuransi Jiwa Unit Link Regular (Premi Berkala)


Ciri khas Asuransi Jiwa Unit Link Regular (Premi Berkala) adalah juga merupakan investasi
jangka panjang, di mana di dalam polis diatur cara pembayarannya, yaitu dilakukan secara berkala
atau regular. Unit dibeli begitu premi diterima. Siapa yang cocok dengan produk ini?
Calon pemegang polis yang lebih memilih untuk bermain di proteksi;
Calon pemegang polis yang suka bermain di investasi tetapi tetap ingin diproteksi;
Calon pemegang polis yang masih bekerja dan ingin menyiapkan tabungan.

1.9.1.2 Rider
a.

Definisi Rider
Rider merupakan sekumpulan provisi khusus atau tambahan dalam polis asuransi jiwa, yang

ditambahkan untuk memperkuat dan melengkapi cakupan dari polis dasar beserta manfaatnya.
Perusahaan asuransi jiwa menawarkan Rider dengan tujuan membuat polis mereka unik dan
menarik bagi nasabahnya. Rider bukan bagian dari Polis Dasar.
b. Karakteristik Rider
Rider tidak otomatis dilampirkan pada polis dasar. Pemegang polis harus terlebih dahulu
meminta hal ini; dan jika disetujui perusahaan asuransi jiwa, pemegang polis harus membayar
premi tambahan untuk manfaat tambahan yang akan diterimanya. Rider adalah hal spesifik yang
ditawarkan perusahaan asuransi jiwa dan setiap perusahaan asuransi jiwa menawarkan Rider-nya
masing-masing untuk bersaing di pasar.
c.

Aturan Penawaran Rider


Rider ditawarkan perusahaan asuransi jiwa selama premi tambahan dibayarkan. Namun,

perusahaan asuransi jiwa memiliki hak untuk menolak atau membatalkan produk tambahan rider
tersebut.
Pemegang polis tidak diperbolehkan membeli Rider tanpa polis dasar. Pemegang polis juga
tidak diperbolehkan membatalkan polis dasar dan hanya memperoleh manfaat tambahan saja.
Jangka waktu berlakunya manfaat tambahan juga tidak boleh melampaui jangka waktu berlakunya
polis dasar.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 16

Asuransi Syariah
d. Jenis Rider yang Penting
1) Penghapusan Premi/Manfaat tambahan Bebas Premi (Waiver of Premium)
Manfaat ini berupa penghapusan pembayaran premi jika tertanggung mengalami cacat total
permanen, dan klaim akan dibayar secara penuh jika tertanggung kemudian meninggal dunia.
2) Kematian Akibat Kecelakaan (Accidental Death)
Besarnya tunjangan yang dibayarkan dari manfaat ini umumnya sama dengan jumlah yang
diasuransikan, karena itu manfaat ini sering disebut dengan ganti rugi ganda (double indemnity).
Manfaat ini menawarkan ganti rugi dua kali lipat dari nominal yang diasuransikan (Uang
Pertanggungan) jika pemegang polis meninggal dunia akibat kecelakaan.
3) Cacat Permanen (Permanent Disability)
Tunjangan ini menawarkan penghapusan premi yang akan jatuh tempo, jika tertanggung
mengalami cacat permanen akibat kecelakaan. Sebagian besar perusahaan asuransi jiwa
menawarkan manfaat ini dengan penghapusan premi sekaligus dalam satu paket (tergantung
kebijakan masing-masing perusahaan Asuransi Jiwa).
4) Penyakit Kritis (Critical Illness)
Manfaat ini direncanakan untuk menjamin tertanggung jika didiagnosa menderita penyakit
kritis seperti kanker, stroke, kelumpuhan, penyakit jantung, gagal ginjal, dan lain-lain. Manfaat ini
menyediakan pembayaran sejumlah jaminan lump sum jika pemegang polis didiagnosa menderita
salah satu penyakit kritis tersebut.
5) Manfaat Tambahan Berjangka (Term Additional Benefit)
Manfaat tambahan ini dilampirkan bersama polis permanen, namun ini tidak dapat
dilampirkan bersama Polis Asuransi Jiwa Berjangka (term policy). Nilai dari manfaat tambahan
berjangka ini umumnya berdasarkan rasio dari nilai dasar asuransi jiwa tertanggung, misalnya 3
banding 1 atau 5 banding 1, tergantung dari kebijakan perusahaan asuransi jiwa.
6) Manfaat Tambahan Rumah Sakit (Hospital Cash/Income Benefit)
Manfaat

ini

dberikan

berdasarkan

lamanya

jangka

waktu

perawatan

tanpa

mempertimbangkan biaya awal yang dikeluarkan untuk rumah sakit. Nilai tunjangan yang diberikan
tergantung dari jumlah yang diasuransikan. Tunjangan ini menawarkan perawatan rumah sakit
akibat penyakit atau kecelakaan.
7) Manfaat Tambahan Suami/Istri dan anak (Spouse and Children Benefit)
Manfaat ini akan memberikan perlindungan bagi istri/suami dan anak dari tertanggung.
Jangka waktu perlindungan bagi setiap anak akan berakhir jika sang anak berumur 21 atau 25 tahun.
Beberapa perusahaan asuransi jiwa memberikan fleksibilitas pada anak untuk mengubah asuransi
berjangkanya menjadi polis asuransi jiwa individu jika ia mencapai umur tertentu.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 17

Asuransi Syariah
8) Manfaat Tambahan Anak (Children Benefit)
Persyaratan untuk tunjangan ini sama dengan tunjangan suami/istri dan anak (Spouse and
Children Benefit).

1.9.2 ASURANSI KERUGIAN UMUM


Jenis Asuransi Kerugian Umum; Asuransi Kerugian terdiri dari berbagai jenis atau cabang
pertanggungan, yaitu:
a.

Asuransi Harta Benda (Property Insurance), terdiri dari:


1) Asuransi Kebakaran (Fire Insurance)
2) Asuransi Paket Rumah Tinggal (Home Insurance)
3) Asuransi Paket Toko (Shophouse Insurance)
4) Asuransi Property All Risks (Industrial All Risks) PAR
5) Asuransi Gempa Bumi (Earthquake Insurance)

b.

Asuransi Rekayasa (Engineering Insurance), terdiri dari:


1) Asuransi Konstruksi (Contractors All Risks) CAR
2) Asuransi Pemasangan Mesin (Erection All Risks) EAR
3) Asuransi Alat Berat (Contractors Plant and Equipments) CPM
4) Asuransi Peralatan Elektronik (Electronic Equipment Insurance) EEI
5) Asuransi Mesin (Machinery Breakdown) MB
6) Asuransi Loss of Profit following Machinery Breakdown LoP MB
7) Asuransi Boiler (Boiler and Pressure Vessel Insurance)
8) Asuransi Pekerjaan Sipil (Civil Engineering and Completed Risks)
9) Asuransi Stocks (Deterioration of Stocks)
10) Asuransi Kendaraan Bermotor (Motor Vehicle Insurance)

c.

Asuransi Aneka (Miscellaneous), terdiri dari:


1) Asuransi Pencurian (Burgary)
2) Asuransi Uang (Money Insurance)
3) Asuransi Kecelakaan (Personal Accident)
4) Asuransi Keluarga (Family Personal Accident)
5) Asuransi Kesehatan (Health Insurance)
6) Asuransi Perjalanan (Travel Insurance)

d.

Asuransi Jaminan (Bonding/Guaratee), terdiri dari:


1) Jaminan Tender (Bid Bond)
2) Jaminan Uang Muka (Advance Payment Bond)
3) Jaminan Pelaksanaan (Performance Bond)

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 18

Asuransi Syariah
4) Jaminan Pemeliharaan (Maintenance Bond)
e.

Asuransi Marine Risks & Marine Liability, terdiri dari:


1) Asuransi Pengangkutan Barang (Marine Cargo Insurance)
2) Asuransi Kapal (Marine Hull)
3) Asuransi Protection and Indemnity (P&I)
4) Asuransi Charterers Liability
5) Asuransi Freight Forwarders Liability
6) Asuransi Builders Risks
7) Asuransi Ship Builders Liability
8) Asuransi Terminal/Port Liability

f.

Asuransi Tanggung Gugat (Liability), terdiri dari:


1) Asuransi Public Liability
2) Asuransi Product Liability
3) Asuransi Comprehensive General Liability (CGL)
4) Asuransi Automobile Liability
5) Asuransi Workmens Compensation
6) Asuransi Employers Liability

g.

Asuransi Professional Liability, terdiri dari:


1) Asuransi Professional Indemnity (PI)
2) Asuransi Contractors Libility
3) Asuransi Directors & Oficers Liability (D&O)
4) Asuransi Medical Malpractice

1.10

KONTRAK ASURANSI

1.10.1 KONTRAK ASURANSI KONVENSIONAL


1.10.1.1 DEFINISI KONTRAK ASURANSI
Banyak definisi mengenai asuransi. Salah satu yang populer adalah asuransi ialah subsitusi
suatu biaya kecil tertentu dengan suatu kerugian besar yang tidak tertentu.
Dari pandangan hukum, kontrak dengan mana satu pihak dengan menerima sesuatu nilai
yang dikenal sebagai premi, memikul suatu risiko kerugian atau tanggung jawab yang menimpa
pihak lain, sesuai dengan suatu rencana (plan) untuk mendistribusikan risiko tersebut, adalah
kontrak asuransi apapun bentuk atau nama yang dipakainya. Banyak kontrak yang sepintas lalu

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 19

Asuransi Syariah
tampak seperti tampak asuransi, tetapi jika diteliti menurut definisi ini ternyata tidak memenuhi
syarat.1

1.10.1.2 UNSUR-UNSUR ESENSIL DARI KONTRAK ASURANSI


Walaupun kontrak asuransi mempunyai beberapa ciri khas, namun ia harus memenuhi
bentuk dan syarat umum yang ditetapkan oleh hukum untuk setiap kontrak, antara lain:2
a.

Perjanjian (penawaran dan penerimaan)


Perjanjian terdiri dari penawaran yang dilakukan oleh atau pihak dan penerimaannya oleh

pihak kedua. Dalam segala macam asuransi, jenis penawaran terpenting adalah aplikasi asuransi
dari calon yang ditanggung. Aplikasi ini dapat secara lisan. Misalnya, seseorang yang memutuskan
hendak mengasuransikan rumahnya terhadap kerugian akibat kebakaran dapat menelpon seorang
agen asuransi. Kontrak lainnya ini orang ini dengan agen tersebut adalah penerimaan polis dan
rekening premi. Dengan demikian, berarti telah terjadi penawaran dan penerimaan atau perjanjian
antara pihak yang ditanggung dengan perusahaan asuransi itu karena agen asuransi telah diberi
wewenang oleh perusahaan asuransi tersebut.
b.

Pihak-pihak yang Kompeten


Untuk sahnya suatu kontrak asuransi seperti juga halnya dengan segala kontrak lain, adalah

itu harus dibuat oleh pihak-pihak yang kompeten (mampu). Ada tiga kelompok orang yang
dianggap tidak kompeten, yaitu anak-anak yang belum dewasa, orang dewasa, orang-orang yang
secara mental tidak kompeten (mampu), dan dewasa bersuami. Usia dewasa tidak sama di setiap
negara. Di New York usia legal itu adalah 141/2tahun.
Seseorang yang telah dinyatakan secara resmi tidak waras adalah tidak kompeten melakukan
perbuatan hukum dan tidak mampu membuat kontrak asuransi yang sah.
c.

Obyek yang Sah atau Legal


Suatu kontrak asuransi biasanya dianggap bertentangan dengan kebijaksanaan negara dan

dengan demikian tidak legal adalah jika pihak yang ditanggung tidak mempunyai kepentingan yang
dapat diasuransikan dalam objek yang diasuransikan itu. Jika tidak ada kepentingan yang dapat
diasuransikan, maka kontrak itu adalah perjudian.
Sebuah contoh lain dari kontrak yang bertentangan dengan kebijaksanaan negara adalah
kontrak yang dibuat oleh pihak musuh.
Pasal 208 kitab Undang-undang Hukum Perniagaan mengatakan bahwa yang dapat menjadi
obyek asuransi ialah semua kepentingan yang:
a)

Dapat dinilai dengan sejumlah uang


1
2

A. Hasymi Ali, Pengantar Asuransi, cet. III, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), h. 101.
Ibid., h.102-103.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 20

Asuransi Syariah
b) Dapat tertimpa macam-macam bahaya
c)

Tidak dilarang oleh undang-undang

d.

Imbalan (Consideration)
Suatu kontrak hanya sah jika masing-masing pihak memberikan nilai atau memikul sesuatu

kewajiban terhadap pihak lainnya. Kontrak asuransi seringkali menyatakan bahwa imbalan dari
pihak yang ditanggung adalah "ketentuan-ketentuan dan ketetapan-ketetapan yang tersebut di sini
dan premi tertentu". Ini tidak berarti bahwa premi harus dibayar sebelum polis berlaku.
Kenyataannya banyak polis asuransi harta sudah berlaku sebelum diterimanya pembayaran premi.
Janji membayar adalah imbalan (consideration). Sebaliknya pada asuransi jiwa, premi pertama
harus dibayar sebelum berlakunya polis.
Perusahaan asuransi juga memberikan imbalan yang berupa janji akan melakukan
pembayaran jika terjadi peristiwa tertentu yang telah ditetapkan.

1.10.1.3 CIRI-CIRI KONTRAK ASURANSI


Ada beberapa ciri khas tertentu dalam kontrak asuransi:
a.

Kontrak Untung-untungan (Aleatory Contract)


Kebanyakan kontrak bersifat commutative, artinya masing-masing pihak menyerahkan

barang-barang atau jasa-jasa yang dianggap sama nilainya. Akan tetapi, kontrak asuransi adalah
bersifat aleatory, artinya pihak-pihak yang membuat kontrak menyadari bahwa jumlah uang yang
akan diserahkan oleh masing-masing pihak tidak akan sama.3
Dalam polis asuransi, pihak yang ditanggung menyerahkan jumlah premi. Jika ia menderita
kerugian, ia mungkin menerima jumlah uang yang jauh lebih besar daripada premi yang
dibayarkannya kepada perusahaan asuransi. Dan jika ia tidak menderita kerugian (yang lebih besar
kemungkinannya demikian), ia tidak akan menerima apa-apa dari perusahaan asuransi. Bagi
perusahaan asuransi, ada kemungkinan ia akan harus melaksanakan pembayaran yang jauh lebih
besar daripada premi yang diterimanya atau (lebih besar kemungkinannya) ia tidak akan membayar
sama sekali. Ciri-ciri khas dari aleatory contract adalah adanya untung-untungan (chance).
b. Kontrak Adhesi
Kebalikan dari kontrak tawar-menawar, kontrak asuransi biasanya merupakan suatu kontrak
adhesi. Perjanjian pada umumnya dibuat oleh para pengacara dan wakil-wakil lain dari perusahaan
asuransi, atau barangkali oleh wakil-wakil pemerintah. Biasanya kontrak ini diberikan kepada calon
yang ditanggung dalam semangat "terima atau tolak". Calon pembeli asuransi tidak bisa

Ibid., h. 103-104.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 21

Asuransi Syariah
mengajukan usul, agar perusahaan asuransi mengubah sedikit pasal ini atau mengganti suatu
perkataan.4
Ciri-ciri ini sebetulnya menguntungkan pihak yang ditanggung jika kontrak itu menjadi
perkara pengadilan. Pengadilan menentukan bahwa karena perusahaan asuransi yang menyusun
kontrak itu, maka setiap kekaburan, arti (ambiguity = arti dua, kemenduaan) dalam kontrak itu harus
ditafsirkan yang menguntungkan pihak yang ditanggung terhadap perusahaan asuransi.
c.

Kontrak Sepihak (Unilateral)


Kontrak dapat bilateral atau unilateral. Pertukaran suatu janji dengan suatu janji adalah

bilateral (belah dua pihak), sedangkan pertukaran suatu tindakan dengan suatu janji adalah
unilateral (sepihak). Kontrak asuransi pada umumnya adalah kontrak unilateral, artinya pihak yang
ditanggung sudah membayar premi, hanya satu pihak terbuka terhadap janji sah yang berlaku untuk
melaksanakan sesuatu selanjutnya. Perusahaan asuransi menjanjikan pelaksanaan (performance).
d. Kontrak Bersyarat (Conditional)
Kontrak asuransi adalah kontrak bersyarat. Memang benar kontrak itu telah terpenuhi
seluruhnya oleh pihak yang ditanggung dengan telah dibayarnya premi dan tinggal perusahaan
asuransi saja yang berkewajiban memenuhi janjinya. Akan tetapi, ini tidak berarti tidak ada lagi
syarat-syarat yang harus dipenuhi pihak yang ditanggung jika ia ingin memperoleh penggantian atas
kerugiannya. Perbedaan antara janji (promis) dengan syarat (condition) adalah bahwa janji itu dapat
dipaksakan berlakunya secara hukum, sedangkan syarat (condition) tidak. Pengaruh dari
dilanggarnya suatu syarat adalah pihak yang ditanggung tidak memperoleh penggantian kerugian
dari perusahaan asuransi. Contoh, pada suatu kontrak asuransi kebakaran, perusahaan berjanji akan
mengganti kerugian yang diderita pihak yang ditanggung karena kebakaran. Pihak yang ditanggung
perlu memenuhi beberapa syarat yang berhubungan dengan pengajuan bukti kerugian karena suatu
kebakaran. Akan tetapi, ia secara hukum tidak wajib mengajukan bukti-bukti kerugian yang diminta
oleh syarat-syarat itu. Ia hanya perlu mengajukannya kalau ia ingin memperoleh penggantian
kerugian tersebut. Sebaliknya, perusahaan asuransi kebakaran dapat dipaksa oleh hukum untuk
memenuhi janjinya membayar ganti rugi, jika pihak yang ditanggung telah memenuhi semua syaratsyarat yang dicantumkan dalam kontrak.5
e.

Sepenuhnya Berdasarkan Kepercayaan


Pada umumnya, kontrak-kontrak apa saja adalah berdasarkan kepercayaan (bonafide,

contract, good-faith contract). Akan tetapi, kontrak asuransi adalah kontrak yang sepenuhnya
berdasarkan kepercayaan.6 Dibutuhkan tingkat tertinggi bonafiditas dalam negosiasi sebelum

Ibid.
Ibid., h. 105.
6
Ibid., h. 106.
5

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 22

Asuransi Syariah
dikeluarkannya polis. Dalam mengambil keputusan pertanggungan, perusahaan asuransi harus
mempercayai benar informasi yang diberikan oleh applicant (pelamar, pembeli asuransi).
f.

Kontrak Pribadi
Orang-orang mengatakan bahwa asuransi harta itu adalah kontrak pribadi seperti halnya

kontrak perkawinan.7 Baik pihak yang ditanggung maupun penanggung (perusahaan asuransi) tidak
saja memperhatikan kontrak itu tetapi juga watak, perilaku, dan bonafiditas, dari masing-masing
pihak. Dalam bahasa biasa dikatakan, sesuatu barang diasuransikan. Tetapi, sesungguhnya yang
diasuransikan adalah si pemilik barang itu. Kontrak asuransi tidak terikat kepada barang itu dan
tidak berpindah kepada pembeli barang itu. Persetujuan penanggung diperlukan untuk
memindahkan sesuatu kontrak asuransi sebelum terjadi suatu kerugian, kecuali dalam hal asuransi
jiwa dan beberapa polis asuransi kesehatan. Oleh karena asuransi jiwa bukan suatu kontrak pribadi,
maka ia dapat dipindahkan tanpa izin perusahaan asuransi.
Jika telah terjadi kerugian, maka kontrak asuransi mana saja akan menjadi tidak lebih dari
suatu klaim uang dan karena itu ia dapat dipindah-tangankan.
g.

Prinsip Ganti-Rugi (Principle of Indemnity)


Kontrak asuransi harta dan asuransi tanggung jawab (liability insurance) pada umumnya

adalah kontrak ganti rugi,8 artinya ia menyatakan akan mengganti kerugian atas kerusakan yang
diderita oleh pihak yang ditanggung. Penggantian lebih rendah (under compensate) dibolehkan
tetapi penggantian lebih tinggi tidak. Salah satu masalah utama penerapan prinsip ganti rugi ini
adalah bagaimana mengukur kompensasi yang tepat agar tidak menimbulkan laba atau rugi.
Sehingga di sini, dibutuhkan tiga doktrin penting yang timbul dari prinsip indemnity ini adalah:
kepentingan yang dapat diasuransikan, pembatasan jumlah penggantian atas suatu polis asuransi,
dan subrogation.9

Ibid.
Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai prisip ganti rugi ini, baca juga Muhammad Muslehuddin,
Menggugat Asuransi Modern: Mengajukan Suatu Alternatif Baru Dalam Perspektif Hukum Islam, alih bahasa Burhan
Wirasubrata, cet. I, (Jakarta: Lentera Basramita, 1999), h. 42-43.
9
Subrogation adalah hak penanggung (perusahaan asuransi) untuk mengambil alih klaim pihak yang
ditanggung terhadap mereka yang bertanggung jawab atas kerugian itu. Mengizinkan pihak yang ditanggung
memperoleh penggantian dari perusahaan asuransi dan kemudian menagihnya lagi dari orang yang bertanggung jawab
atas kerugiannya itu adalah bertentangan dengan prinsip ganti rugi (principle of indemnity). Misalkan pada suatu pagi,
tetangga anda menabrak mobil anda yang sedang parkir. Jika ia membayar kerugian anda sepenuhnya, maka anda tidak
boleh lagi menagih kerugian tersebut dari perusahaan asuransi anda. Sebaliknya, jika anda meminta perusahaan asuransi
anda mengganti kerugian anda tersebut berdasarkan polis asuransi anda, maka anda tidak boleh meminta cek tetangga
anda itu, kecuali untuk jumlah kerugiain yang tidak diganti oleh perusahaan asuransi anda. Akan tetapi, penanggung
(perusahaan asuransi anda) berhak memperoleh cek tetangga anda itu untuk jumlah yang tercantum dalam polis anda,
dan bahkan memintanya jika tetangga itu tidak otomatis membayarnya. Lihat Ibid., h. 107.
8

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 23

Asuransi Syariah

PERTEMUAN KE II
LANDASAN TEORI ASURANSI SYARIAH
Pertumbuhan dan perkembangan bank-bank Islam dan lembaga keuangan syariah (LKS),
khususnya Asuransi Syariah saat ini berkembang dengan pesat. Dimana-mana sudah tidak asing
lagi dengan asuransi syariah. Akan tetapi, umat islam masih bingung dengan bagaimana asuransi
syariah itu bila dilihat dari:
1.

Pengertian

2.

Landasan Yuridis dan Normatif

3.

Mekanisme dan Manajemen Asuransi Syariah

4.

Produk-Produk Asuransi Syariah

5.

Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional


Sehingga dengan mengetahui di atas, asuransi syariah bisa berkembang lebih pesat lagi.

Dan Ummat islam tidak ragu-ragu untuk ikut asuransi syariah.

2.1

ASURANSI SYARIAH

2.1.1 PENGERTIAN ASURANSI SYARIAH


Asuransi adalah serapan dari kata assurantie (Belanda), atau assurance/ insurance (Inggris).
Menurut sebagian ahli, kata istilah assurantie itu merupakan istilah asli bahasa latin yang kemudian
diserap ke dalam bahasa Belanda yaitu assecurare yang berarti menyakinkan orang. Dan kemudian
istilah ini lebih dikenal dalam bahasa Prancis sebagai assurance.
Sebelum mengetahui asuransi syariah, penulis definisikan dulu menurut KUHD. Definisi
Asuransi menurut KUHD pasal 246: Perjanjian, dimana penanggung mengikat diri terhadap
tertanggung dengan memperoleh premi, untuk memberikan kepadanya ganti rugi karena suatu
kehilangan, kerusakan, atau tidak mendapat keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dapat
diderita karena suatu peristiwa yang tidak pasti. Sedangkan dalam Undang-Undang No. 2/1992
Pasal 1 Asuransi (pertanggungan) adalah perjanjian dua pihak, dengan nama pihak penanggung
mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, utk memberikan
penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yg
diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita
tertanggung, yang timbul dari suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya
seseorang yang dipertanggungkan.
Dari definisi asuransi menurut KUHD pasal 246 dan Undang-undang No. 2/1992 ada
beberapa hal dalam asuransi:

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 24

Asuransi Syariah
a.

Adanya kepentingan.

b.

Adanya peristiwa tak tentu.

c.

Adanya kerugian.

d.

Penanggung.

e.

Tertanggung.

f.

Premi.
Menurut H. R. Daeng Naja, ada beberapa hal yang perlu dikemukakan lebih lanjut dari

pengertian dalam pasal 246 KUHD, antara lain:


a.

Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian. Dengan begitu, ia harus tunduk pada
ketentuan mengenai syarat-syarat sahnya perjanjian (Pasal 1320 KUH Perdata).

b.

Perjanjian atau kontrak asuransi pada umumnya bersifat adhesive, artinya kontrak asuransi
dibuat oleh perusahaan asuransi yang bersangkutan, dimana calon tertanggung tidak bisa
mengajukan usul agar perusahaan asuransi tersebut mengubah pasal yang menurutnya tidak
sesuai dengan kehendak tertanggung.

c.

Dalam suatu perjanjian asuransi, terdapat dua pihak yaitu: pihak penanggung dan pihak
tertanggung. Namun dalam prakteknya, sering kali terjadi pihak tertanggung berbeda dengan
pihak yang akan menerima tanggungan jika terjadi kerugian atas sesuatu yang diasuransikan.

d.

Dalam setiap perjanjian asuransi haruslah ditandai dengan adanya pembayaran premi dari pihak
tertanggung, sebagai salah satu tanda bahwa para pihak (khususnya pihak tertanggung) setuju
untuk diadakan perjanjian asuransi, tidak ada premi, tidak ada asuransi.

e.

Dengan terjadinya asuransi, maka secara yuridis formal apabila terjadi peristiwa yang terlah
diperjanjikan dapat diadakan suatu claim pihak penanggung akan memberikan ganti kerugian.
Dalam literatur Arab (fiqh Islam), asuransi dikenal dengan sebutan at-Takaful dan at-

tadamun. Menurut literal, at-Takaful artinya pertanggungan yang berbalasan, atau hal saling
menanggung. Sedangkan at-Tadamun secara harfiah berarti solidaritas, atau hal saling
menanggung hak dan kewajiban yang berbalasan.
Penyebutan lain asuransi selain at-Takaful dan at-tadamun adalah at-Tamin. Kata ini
berasal dari kata amina, artinya aman, tenang dan tentram. Maksudnya adalah dengan menjadi
peserta asuransi merasa aman bisa terhindar atau terkurangi rasa cemas akan menanggung beban
berat manakala terjadi sesuatu terhadap dirinya dan harta bendanya.
Terlepas dari perbedaan istilah, pada intinya asuransi syariah adalah asuransi yang tata cara
akad, sistem pengelolaan dana atau premi dan lain-lain dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip
syariah.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 25

Asuransi Syariah
Menurut Muhammad Iqbal, asuransi syariah adalah suatu pengaturan pengelolaan resiko
yang memenuhi ketentuan syariah, tolong menolong secara mutual yang melibatkan peserta dan
pengelola (operator).
Menurut Isa Abduh, asuransi syariah (at-Tamin) adalah usaha (ekonomi) yang diperoleh
melalui kesepakatan antara kedua belah pihak yakni tertanggung (al-Muamman) yang memberikan
sejumlah uang kepada penanggung (al-Muammin) untuk kemaslahatan tertanggung atau
kemaslahatan orang lain, sesuai dengan perjanjian yang menghendaki adanya penyerahan
(penggatian) dana tatkala nyata-nyata terjadi bahaya pada tertanggung.
Disamping itu, Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI) memformulasikan sebagai berikut:
Usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui
investasi dalam bentuk asset dan atau tabarru yang memberikan pola pengembalian untuk
menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

2.1.2 LANDASAN YURIDIS


Peraturan perundang-undangan tentang perasuransian di Indonesia adalah sebagai berikut:
a.

KUHD

b.

Undang-undang Nomor 2 tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian.

c.

PP. Nomor 63 tahun 1999 tentang Perubahan atas PP. No. 73 tahun 1992 tentang
Penyelenggaraan Usaha Perasuransian.

d.

Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 421/ KMK. 06/2003 tentang Penilaian Kemampuan
dan Kepatutan Bagi Direksi dan Komisaris Perusahaan Perasuransian.

e.

Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 422/ KMK. 06/2003 tentang Penyelenggaraan Usaha
Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.

f.

Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 423/ KMK. 06/2003 tentang pemeriksaan Perusahaan
Perasuransian.

g.

Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 424/ KMK. 06/2003 tentang Kesehatan Keuangan
Perusahaan Asuransi dan perusahaan Reasuransi.

h.

Keputusan Menteri keuangan RI Nomor 245/ KMK. 06/2003 tentang perizinan dan
penyelenggaraan Kegiatan Usaha Perusahaan Penunjang Usaha Asuransi.

i.

Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 426/ KMK. 06/2003 Perizinan dan Kelembagaan
Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.

j.

Fatwa No: 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.

k.

Fatwa No: 51/DSN-MUI/III/2006 tentang Mud}arabah Musyarakah Asuransi.

l.

Fatwa No: 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Mudharabah Musytarakah Asuransi Wakalah bil


Ujrah.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 26

Asuransi Syariah
m. Fatwa No: 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Tabarru pada Asuransi Syariah.
n.

Fatwa No: 51/DSN-MUI/III/2006 tentang Tabarru pada Asuransi Syariah Akad Tabarru
pada Asuransi dan Reasuransi Syariah.
Semua keputusan Menteri Keuangan RI di atas tersurat dan tersirat, mengakui keberadaan

(eksistensi) dan legalitas asuransi syariah di samping asuransi konvensional. Dengan kalimat lain,
secara teoritis maupun empiris, dan secara de facto maupun de jure, di Indonesia berlaku dua sistem
(dual system) perasuransian yaitu asuransi syariah. Pengakuan atas keberadaan asuransi syariah di
samping asuransi konvensional, ini dapat dipahami dari sejumlah pasal yang termaktub di dalam
surat keputusan Menteri Keuangan RI, diantaranya:
a.

Perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi wajib menyampaikan kepada menteri:


1) Laporan perhitungan tingkat solvabilitas triwulan per-31 Maret, 30 Juni, 30 September,
dan 30 Desember, paling lambat 1 bulan setelah berakhirnya triwulan yang bersangkutan.
2) Laporan perhitungan tingkat solvabilitas tahuan per-31 Desember yang dilampiri dengan
laporan auditor independen atas laporan keuangan tahuan yang digunakan untuk
menghitung tingkat solvabilitas periode dimaksud, paling lambat tanggal 30 April tahun
berikutnya.

b.

Bagi perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi yang menjalankan usaha asuransi atau
reasuransi dengan prinsip syariah, laporan perhitungan tingkat solvabilitas sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) huruf a harus dilengkapi dengan surat pernyataan Dewan Pengawas
Syariah (DPS) bahwa pengelolaan kekayaan dan kewajiban telah dilakukan sesuai dengan
prinsip syariah.
Dan juga Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) telah menetapkan

sejumlah fatwa yang berhubungan dengan ihwal perasuransian syariah. Terutama Fatwa DSN-MUI
Nomor: 21/DSN-MUI/ X/ 2001 tentang pedoman umum asuransi syariah di samping akad dalam
asuransi syariah. Prinsip-prinsip umum yang dimaksudkan adalah:
a.

Asuransi syariah (tamim, takaful atau tad}amun) adalah usaha saling melindungi dan tolong
menolong di antara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk asset dan atau
tabarru yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad
(perikatan) yang sesuai dengan syariah.

b.

Akad yang sesuai dengan syariah yang dimaksud pada poin (1) adalah yang tidak mengandung
gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, Dzalim (penganiayaan), risywah (suap), barang
haram dan maksiat.

c.

Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial.

d.

Akad tabarru adalah semua bentuk yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong
menolong, bukan semata untuk tujuan komersial.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 27

Asuransi Syariah
e.

Premi adalah kewajiban perserta asuransi untuk memberikan sejumlah dana kepada perusahaan
asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad.

f.

Klaim adalah hak peserta asuransi yang wajib diberikan oleh perusahaan asuransi sesuai
dengan kesepakatan dalam akad.
Adapun akad dalam asuransi syariah yang diatur dalam dalam fatwa DSN-MUI tersebut

adalah meliputi hal-hal berikut:


a.

Jenis Akad
1) Akad yang dilakukan antara peserta dengan perusahaan atas akad tijarah dan atau akad
tabarru.
2) Akad tijarah yang dimaksud dalam ayat (1) adalah mud}arabah sedangkan tabarru adalah
hibah.
3) Dalam akad, sekuarang-kurangnya harus disebutkan:
a) Hak dan kewajiban peserta dan perusahaan.
b) Cara dan waktu pembayaran premi.
c) Jenis akad ijarah dan akad tabarru serta syarat-syarat yang disepakati, sesuai dengan
jenis asuransi yang diadakan.

b.

Kedudukan para pihak dalam akad tijarah dan tabarru


1) Dalam akad tijarah (mudharabah), perusahaan bertindak sebagai mudharib (pengelola)
dan peserta bertindak sebagai shahib al-Mal (pemegang polis).
2) Dalam akad tabarru (hibah), peserta memberikan hibah yang akan digunakan untuk
tolong menolong peserta lain yang terkena musibah. Sedangkan perusahaan bertindak
sebagai pengelola dana hibah.

c.

Ketentuan dalam akad tijarah dan tabarru


1) Jenis akad tijarah dapat diubah menjadi jenis akad tabarru bila pihak yang bertahan
haknya, dengan rela melepaskan haknya sehingga menggugurkan kewajiban pihak yang
belum menunaikan kewajibannya.
2) Jenis akad tabarru tidak dapat diubah menjadi jenis akad tijarah.

d.

Reasuransi Syariah dan Pengelolaanya


Asuransi syariah hanya dapat melakukan reasuransi kepada perusahaan reasuransi yang

berlandaskan prinsip syariah. Sedangkan pengelolaanya dilakukan sebagai berikut:


1) Pengelolaan asuransi syariah hanya boleh dilakukan oleh suatu lembaga yang berfungsi
sebagai pemegang amanah.
2) Perusahaan asuransi syariah memperoleh bagi hasil dari pengelolaan dana yang terkumpul
atas dasar akad tijarah (mudharabah)

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 28

Asuransi Syariah
3) Perusahaan asuransi syariah memperoleh ujrah (fee) dari pengelolaan dana akad tabarru
(hibah).
e.

Ketentuan Tambahan
1) Implementasi dari fatwa ini harus dikonsultasikan dan diawasi oleh DPS.
2) Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibanya atau jika terjadi perselisihan di antara
para pihak, maka penyelesaianya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah setelah tidak
tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

2.1.3 MEKANISME DAN MANAJEMEN ASURANSI SYARIAH


2.1.3.1 MEKANISME PENGELOLAAN DANA ASURANSI JIWA
a.

Perusahaan sebagai Pemegang Amanah


Sistem operasional asuransi syariah (takaful) adalah saling bertanggung jawab, bantu

membantu, dan saling melindungi antara para pesertanya. Perusahaan asuransi syariah diberi
kepercayaan atau amanah oleh para peserta untuk mengelola premi, mengembangkan dengan jalan
yang halal, dan memberikan santunan kepada yang mengalami musibah sesuai isi akta perjanjian.
Keuntungan perusahaan diperoleh dari pembagian keuntungan dana peserta yang
dikembangkan dengan prinsip mud}arabah para peserta takaful berkedudukan sebagai pemilik
modal (Shahib al-mal) dan perusahaan takaful berfungsi sebagai pemegang amanah (mudharib).
b.

Sistem Pada Produk Saving (Ada unsur tabungan)


Setiap peserta wajib membayar sejumlah uang (premi) secara teratur kepada perusahaan.

Besar premi yang dibayarkan tergantung kepada keuangan peserta. Akan tetapi, perusahaan
menetapkan jumlah minimum premi yang akan dibayarkan. Setiap premi yang dibayarkan oleh
peserta, akan dipisah dalam dua rekening yang berbeda. Rekening tabungan peserta yaitu, dana
yang menjadi milik peserta yang dibayarkan bila perjanjian berakhir atau peserta mengundurkan
diri ataupun peserta meninggal dunia.
Rekening tabarru yaitu kumpulan dana kebajikan yang telah diniatkan oleh peserta sebagai
iuran dana kebajikan untuk tujuan saling menolong dan membantu, yang bibayarkan bila peserta
meninggal dunia atau perjanjian telah berakhir.
c.

Sistem Pada Produk non saving


Setiap premi yang dibayar oleh peserta, akan dimasukkan dalam rekening tabarru

perusahaan. Yaitu, kumpulan dana yang telah diniatkan oleh peserta sebagai iuran dana kebajikan
untuk tujuan saling menolong dan saling membantu, dan dibayarkan bila peserta meninggal dunia
atau perjanjian telah berakhir.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 29

Asuransi Syariah
2.1.3.2 MEKANISME ASURANSI KERUGIAAN UMUM
Dana dibayarkan peserta, kemudian terjadi akad mudharabah (bagi hasil) antara mudharib
(pengelola) dan shahib al-mal (peserta). Kumpulan dana tersebut kemudian diinvestasikan secara
syariah ke bank syariah maupun ke investasi syariah lainnya, lalu dikurangi biaya-biaya
operasional.

2.1.3.3 MANJEMEN ASURANSI SYARIAH


Manajemen asuransi adalah sebuah cara dalam mengelola perusahaan asuransi supaya
operasionalnya berjalan dengan baik dan dapat diharapkan menghasilkan return positif bagi
perusahaan beserta para staf yang bekerja di dalamnya.
Manajemen asuransi tak lain merupakan bagian dari manajemen resiko. Manajemen resiko
dalam perusahaan asuransi lebih diarahkan untuk mengidentifikasi resiko, menghilangkan dan
mengurangi kemungkinan kerugian yang ditimbulkan oleh resiko. Dalam manajemen asuransi
diperlukan:
a.

Marketing

b.

Aktuaria

c.

Underwriting

d.

Costumer Service

e.

Administrasi

f.

Klaim

g.

Investasi

h.

Akuntansi

i.

Hukum
Nilai-nilai Islami yang berkaitan dengan manajemen asuransi syariah, diantaranya yaitu :

a.

Tauhid atau kepercayaan kepada Allah

b.

Kepercayaan akan akhirat, pahala dan hukuman

c.

Kemandirian

d.

Bertanggung jawab

e.

Partisipasi

f.

Keadilan

g.

Percaya diri, martabat dan privasi

h.

Dialog

i.

Efisiensi Biaya

j.

Efisiensi Waktu

k.

Peduli dan saling berbagi

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 30

Asuransi Syariah
l.

Mengasihi manusia, binatang dan lingkungan

m. Keinginan untuk belajar

2.1.4 PRODUK-PRODUK ASURANSI SYARIAH


Produk-produk asuransi syariah adalah sebagai berikut:
a.

Asuransi Jiwa (life Insurance)


Segala musibah dan bencana yang menimpa manusia merupakah qadha dan qadar Allah

SWT. Namun, manusia wajib ikhtiyar memperkecil resiko yang timbul. Salah satu caranya adalah
dengan menabung. Tetapi upaya tersebut sering kali tidak memadai, karena yang harus ditanggung
lebih besar dari yang diperkirakan.
Asuransi (Takaful) sebagai asuransi yang bertumpu pada konsep tolong menolong dalam
kebaikan dan ketaqwaan, serta perlindungan (at-Tamin), yang menjadikan semua peserta sebagai
keluarga besar yang saling menanggung satu sama lain.
b.

Produk-produk Individu yang ada unsur tabungan


1) Asuransi Dana Investasi
2) Asuransi Dana Siswa
3) Asuransi Dana Haji
4) Asuransi Dana Jabatan
5) Asuransi Hasanah

c.

Produk-produk Individu (non saving)


1) Asuransi Kesehatan
2) Asuransi Kecelakaan Diri Individu
3) Asuransi al-khairat Individu

d.

Produk-produk Kumpulan
1) Asuransi Kecelakaan Diri Kumpulan
2) Asuransi Kecelakaan Siswa
3) Asuransi Wisata dan Perjalanan
4) Asuransi Pembiayaan
5) Asuransi Majlis Taklim
6) Asuransi al-khairat
7) Asuransi Midicare
8) Asuransi Perjalanan Haji dan Umrah

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 31

Asuransi Syariah
2.1.5 DASAR HUKUM
Landasan dasar asuransi syariah adalah sumber dari pengambilan hukum praktik asuransi
syariah. Karena sejak awal asauransi syariah dimaknai sebagai wujud dari bisnis pertanggungan
yang didasarkan pada nilai-nilai yang ada dalam ajaran Islam, yaitu Al-Quran dan sunnah Rasul,
maka landasan yang dipakai dalam hal ini tidak jauh berbeda dengan metodologi yang dipakai oleh
sebagian ahli hukum Islam.

2.1.5.1 AL-QURAN
Diantaranya ayat-ayat Al-Quran yang mempunyai muatan nilai yang ada dalam praktik
asuransi adalah:
a.

Surah Al-Maidah (5): 2

.....


Artinya:
....., dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada
Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
Ayat ini memuat perintah (amr) tolong-menolong antar sesama manusia. Dalam bisnis
asuransi, nilai ini terlihat dalam praktik kerelaan anggota (nasabah) perusahaan asuransi untuk
menyisihkan dananya agar digunakan sebagai dana social (tabarru). Dana sosial ini berbentuk
rekening tabarru pada perusahaan asuransi dan difungsikan untuk menolong salah satu anggota
(nasabah) yang sedang mengalami musibah (peril).
b. Surah Al-Baqarah (2): 185

..... .....

Artinya:
....., Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu.....
Dalam konteks bisnis asuransi, ayat tersebut dapat dipahami bahwa dengan adanya lembaga
asuransi, seseorang dapat memudahkan untuk menyiapkan dan merencanakan kehidupannya dimasa
mendatang dan dapat melindungi kepentingan ekonominya dari sebuah kerugian yang tidak
disengaja.
c. Surah Ali Imran ayat 145 dan 185

.....
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 32

Asuransi Syariah
Artinya:
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan
yang Telah ditentukan waktunya.....

.....
Artinya:
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.....
Kedua ayat diatas menjelaskan bahwa kematian (ajal) adalah sesuatu yang bersifat pasti
adanya dan akan menimpa bagi sesuatu yang memiliki nyawa (nafs), termasuk di dalamnya
manusia. Seorang manusia tidak dapat melepaskan dirinya dan berlari dari kematian. Dalam hal ini,
kewajiban yang harusnya dilakukan oleh manusia adalah meminimalisasikan kerugian yang
diakibatkan oleh kematian dengan cara melakukan perlindungan jiwanya untuk kepentingan ahli
waris. Karena seseorang melakukan perlindungan jiwanya dengan berasuransi akan meringankan
beban ekonomi ahli waris yang ditinggalkannya. Sebaliknya, orang yang tidak melakukan proteksi
pada dirinya secara tidak langsung akan memberikan beban bagi keluarga. Yang ditinggalkannya
karena tidak ada dana yang tersimpan dalam bentuk tabungan untuk keperluan hidup dimasa
mendatang.

2.1.5.2 AL-HADIST
a.

Hadist Tentang Aqilah


Artinya: Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, dia berkata: Berselisih dua orang wanita dari
suku Huzail, kemudian salah satu wanita tersebut melempar batu ke wanita yang lain sehingga
mengakibatkan kematian wanita tersebut beserta janin yang dikandungnya. Maka, ahli waris
dari wanita yang meninggal tersebut mengadukan peristiwa tersebut kepada Rasulullah SAW.,
maka Rasaulullah SAW memutuskan ganti rugi dari pembunuhan terhadap wanita tersebut
dengan pembebasan seorang budak laki-laki atau perempuan, dan memutuskan ganti rugi
kematian wanita tersebut dengan uang darah (diyat) yang dibayarkan oleh aqilah-nya (kerabat
dari orang tua laki-laki). (H. R. Bukhari)

b. Hadist tentang menghindari risiko


Artinya: Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bertanya seseorang kepada Rasulullah SAW,
tentang untanya: Apa (unta) ini saya ikat saja atau langsung saya bertawakal pada (Allah
SWT)? Bersabda Rasulullah SAW: Pertama ikatlah unta itu kemudian bertawakalah kepada
Allah SWT. (H. R. at-Turmudzi)
Rasulullah SAW memberi tuntunan pada manusia agar selalu bersikap waspada terhadap
kerugian atau musibah yang akan terjadi, bukannya langsung menyerahkan segalanya kepada Allah

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 33

Asuransi Syariah
SWT. Hadist diatas, mengandung nilai implicit agar kita selalu menghindar dari risiko yang
membawa kerugian pada diri kita, baik itu berbentuk kerugian materi ataupun kerugian yang
berkaitan dengan jiwa. Risiko kerugian tersebut akan terasa ringan jika dan ditanggung bersamasama oleh semua anggota asuransi. Sebaliknya, jika risiko kerugian hanya ditanggung oleh
pemiliknya, maka akan berakibat terasa berat bagi pemilik risiko tersebut.

2.1.5.3 PIAGAM MADINAH


Rasulullah SAW mengundangkan sebuah peraturan yang terdapat dalam Piagam Madinah
yaitu sebuah konstitusi pertama yang memerhatikan keselamatan hidup para tawanan yang tinggal
di Negara tersebut. Seseorang yang menjadi tawanan perang musuh, maka aqilah dari tawanan
tersebut akan menyumbangkan tebusan dalam bentuk pembayaran (diyat) kepada musuh, sebagai
pesanan yang memungkinkan terbebaskan tawanan tersebut. Sebagaimana kontribusi tersebut akan
dipertimbangkan sebagai bentuk lain dari pertanggungan social (social insurance).

2.1.5.4 PRAKTIK SAHABAT


Praktik sahabat berkenaan dengan pembayaran hukuman (ganti rugi) pernah dilaksanakan
oleh Khalifah kedua, Umar bin Khattab. Pada suatu ketika Khalifah Umar memrintahkan agar
daftar (diwan) saudara-saudara muslim disusun perdistrik. Orang-orang yang namanya tercantum
dalam diwan tersebut berhak menerima bantuan satu sama lain dan harus menyumbang untuk
pembayaran hukuman (ganti rugi) atas pembunuhan (tidak disengaja) yang dilakukan oleh salah
seorang anggota masyarakat mereka. Umarlah orang yang pertama kali mengeluarkan perintah
untuk menyiapkandaftar secara professional perwilayah, dan orang-orang yang terdaftar diwajibkan
saling menggung beban.

2.2

SEJARAH

2.2.1 SEJARAH ASURANSI KONVENSIONAL


Hasil research Mohd. Masum Billah yang dituangkan dalam bukunya Principles &
Practice of Takaful and Insurance Compared, menjelaskan tentang asal usul dan perkembangan
asuransi konvensional dari buku British Insurance, sebagai berikut:
Dalam kehidupan di zaman primitive, kebiasaan hidup saling berdampingan atau bersamasama dalam suatu komunitas merupakan ciri utama, sehingga kebutuhan dan keperluan hidup
mereka secara umum dapat teratasi melalui mekanisme saling menjaga dan saling menolong
diantara mereka, oleh karena itu, mereka tidak memerlukan asuransi, sejalan dengan perkembangan
waktu terjadi urbanisasi (perpindahan ke kota), dimana dalam masyarakat kota seseorang
menghadapi berbagai bahaya dan risiko dan susah mendapat bantuan dari keluarga maupun
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 34

Asuransi Syariah
kelompoknya, sehingga dengan perubahan kehidupan diatas membuat mereka mencari beberapa
solusi yang dapat membuat kehidupan menjadi aman, atau property mereka terlindungi dari risiko
yang tidak diharapkan.
Clayton, menyatakan bahwa ide tentang asuransi tumbuh dan berkembang pada jaman
masyarakat babilionia sekitar tahun 3000 SM (sebelum masehi), dimana pada tahun 2500 SM, raja
babilonia telah mengumpulkan sekitar 282 klausa yang dikenal dengan kode babilonia (Babylonian
code) atau disebut juga kode hammurabi (Hammurabi code). Dari kode tersebut menunjukkan
bahwa, orang babilionia telah mempraktikkan perjanjian bisnis komersil yang menggunakan uang
sebagai transaksi, dimana orang meminjamkan uang kepada pedagang dan mengambil beberapa
persen untuk pembayaran bunga/interest. Transaksi diatas yang sekarang dikenal dengan kontrak
bottomry (contract of bottomry)
Bottomry diintrodusir oleh pedagang babilon sekitar 4000-3000 SM, dimana uang atau
barang dipinjamkan kepada pedagang untuk tujuan perdagangan, atau dapat juga sebagai pinjaman
murni dengan membebankan rate tertentu sebagai bunga, atau keduanya, membebankan bunga atas
pinjaman uang dan sebagai modal akan mendapatkan bagian keuntungan dari hasil perdagangan.
Pembayaran bunga diatas dalam bottomry dapat disamakan dengan premi, dimana peminjam
merupakan tertanggung sedangkan yang meminjamkan bertindak sebagai penanggung (asuransi).
Sekitar tahun 1600-1000 SM, praktik dari bottomry contract diadopsi oleh orang Phonesia
dan setelah juga dipraktikkan di Yunani pada awal abad ke-4 SM. Dapat disimpulkan bahwa,
praktik asuransi konvensional sekarang merupakan lanjutan dari praktek bottomry contract di jaman
dahulu.

2.2.2 SEJARAH ASURANSI ISLAM


Dalam Islam, praktek asuransi pernah dilakukan dilakukan pada masa Nabi Yusuf as, yaitu
pada saat ia menafsirkan mimpi dari Raja Firaun. Tafsiran yang ia sampaikan adalah bahwa Mesir
akan mengalami masa 7 panen yang melimpah dan diikuti dengan masa 7 tahun paceklik. Untuk
menghadapi masa kesulitan (paceklik) itu, Nabi Yusuf as, menyarankan agar menyisihkan sebagian
dari hasil panen pada masa tujuh tahun pertama. Saran dari Nabi Yusuf as, ini diikuti oleh Raja
Firaun, sehingga masa paceklik bisa ditangani dengan baik.
Pada masyarakat Arab sendiri terdapat sistem aqilah yang sudah menjadi kebiasaan mereka
sejak masa pra-Islam. Aqilah merupakan cara penutupan (istilah yang digunakan oleh A. M. Hasan
Ali) dari keluarga pembunuh terhadap keluarga korban (yang terbunuh). Ketika terdapat seseorang
terbunuh oleh anggota suku lain, maka keluarga pembunuh harus membayar diyat (uang darah).
Kebiasaan ini kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad SAW yang dapat terlihat pada hadist
berikut ini:
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 35

Asuransi Syariah
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a dia berkata: Berselisih dua orang wanita dari suku
Huzail, kemudian salah satu wanita tersebut melempar batu ke wanita yang lain sehingga
mengakibatkan kematian wanita tersebut beserta janin yang dikandungnya. Maka, ahli waris dari
wanit yang meninggal tersebut mengadukan peristiwa tersebut kepada Rasulullah SAW., maka
Rasulullah SAW memutuskan ganti rugi dari pembunuhan terhadap janin tersebut dengan
pembebasan seorang budak laki-laki atau perempuan, dan memutuskan ganti rugi kematian wanita
dengan uang darah (diyat) yang dibayarkan oleh aqilahnya (kerabat dari orang tua laki-laki). (H. R.
Bukhari)
Praktik aqilah yang dilakukan oleh masyarakat Arab ini sama dengan praktik asuransi pada
saat ini, di mana sekelompok orang membantu untuk menanggung orang lain yang tertimpa
musibah. Dalam hal kaitannya dengan praktik pertanggungan ini, Nabi Muhammad SAW juga
memuat ketentuan dalam pasal khusus pada Konstitusi Madinah, yaitu Pasal 3 yang isinya: Orang
Quraisy yang melakukan perpindahan (ke Madinah) melakukan pertanggungan bersama dan akan
saling bekerja sama membayar uang darah di antara mereka.
Perkembangan praktik aqilah yang sama dengan praktik asuransi ternyata tidak hanya
diterapkan pada masalah pidana, tetapi juga mulai diterapkan dalam bidang perniagaan. Sering kali
disebutkan dalam beberapa buku yang membahas mengenai sejarah asuransi bahwa asuransi
pertama kali dilakukan di Italia berupa asuransi perjalanan laut pada abad ke-14. Namun,
sebenarnya sebelum abad ke-14, asuransi telah dilakukan oleh orang-orang Arab sebelum
datangnya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Orang-orang Arab yang mahir di
bidang perdagangan telah melakukan perdagangan ke Negara-negara lain melalui jalur laut. Untuk
melindungi

barang-barang

dagangannya

ini

mereka

mengasuransikannya

dengan

tidak

menggunakan sistem bunga dan riba. Bahkan Nabi Muhammad SAW sendiripun telah melakukan
asuransi ketika melakukan perdagangan ke Mekah.
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW turut dalam perdagangan di Mekah dan seluruh armada
dagangannya terpecah belah oleh suatu bencana, hilang di padang pasir. Kemudian para pengelola
usaha yang merupakan anggota dana konstribusi membayar seluruh barang dagangan termasuk
harga unta dan kuda yang hilang, kepada para korban yang selamat dan keluarga korban yang
hilang. Nabi Muhammad SAW yang pada saat itu berdagang dengan modal dari Khodijah juga
telah menyumbang dana pada kontribusi tersebut dari keuntungan yang telah diperolehnya.
Di bidang bisnis inilah asuransi semakin berkembang, terutama dalam hal perlindungan
terhadap barang-barang perdagangannya. Namun, perkembangan ini tidak sejalan dengan
kesesuaian praktik asuransi terhadap syariah. Meskipun demikian, dengan banyaknya kajian
terhadap praktik perekonomian dalam perspektif hukum Islam, asuransi mulai mencoba
diselaraskan dengan ketentuan-ketentuan syariah. Pada paruh abad ke-20, di beberapa Negara
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 36

Asuransi Syariah
Timur Tengah dan Afrika telah mulai mencoba mempraktikan asuransi dalam bentuk takaful yang
kemudian berkembang dengan pesat hingga ke Negara-negara yang berpenduduk non muslim
sekalipun di Eropa dan Amerika.
Pada tahap selanjutnya, perkembangan asuransi syariah selain mengembangkan praktik
tolong menolong melalui dana tabarru juga memasukan unsur investasi (khususnya pada asuransi
jiwa) baik denga akad bagi hasil (mudharabah) maupun fee (wakalah).

2.3

PERBEDAAN ASURANSI SYARIAH DAN ASURANSI KONVENSIONAL

Prinsip
Konsep

Asal Usul

Asuransi Konvensional
Perjanjian antara dua pihak atau
lebih, dimana pihak penanggung
mengikat diri kepada pihak
tertanggung, dengan menerima premi
asuransi, untuk memberikan
pergantian kepada tertanggung.
Dari masyarakat Babilonia 40003000 SM yang dikenal dengan
perjanjian Hammurabi. Dan tahun
1668 M di Coffe House London
berdirilah Liyod of London sebagai
cikal bakal asuransi konvensional.

Sumber Hukum

Bersumber dari pikiran manusia dan


kebudayaan. Berdasarkan hukum
positif, hukum alami dan contoh
peristiwa.

Maghrib
(Maysir, Gharar
dan Riba)

Tidak selaras dengan Syariah Islam


karena adanya unsur Maisir, Gharar
dan Riba. Dan itu semua merupakan
hal yang diharamkan dalam
muamalah.
Hanya diawasi oleh Departemen
Keuangan. Tidak ada DPS (Dewan
Pengawas Syariah), sehingga dalam
praktiknya bertentangan dengan
kaidah-kaidah Syara.

Pengawasan

Akad/Perjanjian

Jaminan/Risk
(Risiko)

Akad jual beli atau tadabbuli (akad


muawadhah, akad idzaan, akad
gharar dan akad mulzim).
Transfer of Risk, dimana terjadi
transfer risiko dari tertanggung
kepada penanggung.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Asuransi Syariah
Sekumpulan orang yang saling
membantu, saling menjamin dan
bekerja sama dengan cara masingmasing mengeluarkan dana tabarru.

Dari al-Aqilah (kebiasaan suku Arab


jauh sebelum Islam datang).
Kemudian disahkan oleh Rasulullah
menjadi hukum Islam, bahkan telah
tertuang dalam konstitusi pertama di
dunia (Konstitusi Madinah) yang
dibuat langsung oleh Rasulullah.
Bersumber dari wahyu Ilahi. Sumber
hukum dalam syariah Islam adalah
al-Quran, Sunnah atau kebiasaan
Rasul, Ijma, Urfatu tradisi dan
Maslahah Mursalah.
Bersih dari adanya praktik Maisir,
Gharar dan Riba.

Selain diawasi oleh Departemen


Keuangan, juga ada DPS yang
berfungsi untuk mengawasi
pelaksanaan operasional perusahaan
agar terbebas dari praktik-praktik
muamalah yang bertentangan dengan
prisnsip-prinsip Syariah.
Akad tabarru dan akad tijarah
(mudharabah, wakalah, wadiah,
syirkah dan sebagainya).
Sharing of Risk, dimana terjadi proses
saling menanggung antara satu
peserta dengan peserta yang lainnya
(taawun).

Page 37

Asuransi Syariah
Pengelolaan Dana Tidak ada pemisahan dana yang
berakibat pada terjadinya dana
hangus (untuk produk saving-life).

Investasi Dana
Premi

Bebas melakukan investasi dalam


batas-batas tertentu yang sesuai
dengan perundang-undangan dan
tidak terbatasi pada halal dan
haramnya objek atau sistem investasi
yang digunakan. Dengan demikian,
dana premi bisa diinvestasikan diluar
skim syariah.

Kepemilikan
Dana

Dana yang terkumpul dari premi


peserta seluruhnya menjadi milik
perusahaan. Perusahaan bebas
menggunakan dan menginvestasikan
kemana saja.

Unsur Premi

Unsur premi terdiri dari tabel


mortalia (mortality tables), bunga
(interest), biaya-biaya asuransi (cost
of insurance).

Loading (komisi
agen)

Loading pada asuransi konvensional


cukup besar terutama diperuntukan
untuk komisi agen, bisa menyerap
premi tahun pertama dan kedua.
Karena itu, nilai tunai pada tahun
pertama dan kedua biasanya belum
ada (masih hangus).
Sumber biaya klaim adalah dari
rekening atau kas perusahaan, sebagai
konsekuensi penanggung terhadap
tertanggung. Murni bisnis dan tidak
ada nuansa spiritual.

Sumber
Pembayaran
Klaim

Sistem Akuntansi

Pada produk-produk saving life


terjadi pemisahan dana, yaitu dana
tabarru atau derma dan dana
peserta sehingga tidak mengenal
istilah dana hangus. Sedangkan untuk
term insurance semuanya bersifat
tabarru.
Dapat melakukan investasi sesuai
dengan ketentuan perundangundangan sepanjang tidak
bertentanggan dengan prinsip-prinsip
Syariah Islam. Bebas dari riba dan
tempat-tempat investasi terlarang.
Dengan demikian, dana premi harus
dinvestasikan dalam skim Syariah
dengan mendapatkan fee pengelola.
Dana yang terkumpul dari peserta
dalam bentuk iuran atau kontribusi,
merupakan milik peserta (shohibul
mal), asuransi syariah hanya sebagai
pemegang amanah (mudharib) dalam
mengelola dana tersebut.
Iuran atau kontribusi terdiri dari
unsur tabarru dan tabungan (yang
tidak mengandung unsur riba).
Tabarru juga dihitung dari tabel
mortalia, tetapi tanpa perhitungan
bunga teknik.
Pada sebagian asuransi syariah,
loading tidak dibebankan pada
peserta tetapi dari dana pemegang
saham, tapi sebagian yang lainnya
mengambil dari sekitar 20-30% saja
dari premi.

Sumber pembayaran klaim diperoleh


dari rekening tabarru atau dana
tabungan bersama dimana peserta
saling menanggung. Jika salah satu
peserta mendapat musibah, maka
peserta lainnya ikut menanggung
bersama risiko tersebut.
Menganut konsep akuntansi accrual Menganut konsep akuntansi cash
basis, yaitu proses akuntansi yang
basis, mengakui apa yang benarmengakui terjadinya peristiwa, atau
benar telah ada, sedang accrual basis
keadaan non-kas. Dan juga mengakui dianggap bertentangan dengan
pendapataan, peningkatan asset,
syariah karena mengakui adanya
expenses, liabilities dalam jumlah
pendapatan harta, beban atau utang
tertentu yang baru akan diterima
yang akan terjadi di masa yang akan
dalam waktu yang akan datang.
datang. Sementara apakah itu benarbenar dapat terjadi hanya Allah yang
tahu.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 38

Asuransi Syariah
Profit yang diperoleh dari surplus
underwriting, komisi reasuransi dan
hasil investasi bukan seluruhnya
milik perusahaan tetapi dilakukan
bagi hasil (mudharabah) dengan
peserta.
Dana Zakat, Infaq Tak ada zakat, infaq dan shadaqah.
Perusahaan wajib mengeluarkan
dan Shadaqah
zakat dari keuntungannya. Juga
dianjurkan untuk mengeluarkan infaq
dan shadaqah.
Misi dan Visi
Secara garis besar misi utama dari
Misi yang diemban dalam asuransi
asuransi konvensinal adalah misi
syariah adalah misi akidah, misi
ekonomi dan misi sosial.
ibadah (taawun), misi ekonomi
(iqtishod) dan misi pemberdayaan
umat (sosial).
Tujuan asuransi adalah untuk meminimalisir resiko yang akan terjadi. Asuransi syariah dan
Keuntungan
(Profit)

Keuntungan yang diperoleh dari


surplus underwriting, komisi
reasuransi dan hasil investasi
seluruhnya adalah keuntungan
perusahaan.

asuransi konvensional memiliki tujuan yang sama, akan tetapi yang berbeda adalah prinsip-prinsip
asuransi itu sendiri, landasan hukum, dan mekanisme pengelolaan asuransi tersebut.

PERTEMUAN KE III
SISTEM OPERASIONAL ASURANSI JIWA & KERUGIAN
3.1

PENDAHULUAN
Perjanjian asuransi yang bertujuan untuk berbagi resiko antara penderita musibah dan

perusahaan asuransi dalam berbagai macam lapangan. Merupakan hal baru yang belum pernah
dikenal dalam kehidupan Rasulullah SAW, para sahabat dan tabiin. Asuransi dalam catatan sejarah
dunia Barat pada abad 12, muncul dari gagasan bangsa Romawi berupa perjanjian asuransi laut
yang kemudian memencar di beberapa daerah Eropa pada abad 14. Asuransi kebakaran berdiri pada
tahun 1680 di London sebagai akibat peristiwa kebakaran besar pada tahun 1666 yang melahap
lebih dari 13.000 rumah dan kira-kira 100 gereja.
Pada tahap selanjutnya, perkembangan asuransi telah memasuki fase yang memberikan
muatan yang besar pada aspek bisnisnya dibandingkan dengan nilai-nilai sosial yang terkandung
sejak awal. Hal ini terjadi setelah bisnis asuransi memasuki masa modern.
Perusahaan-perusahaan asuransi kebakaran serupa berdiri di Eropa pada abad 18, seperti
Prancis, dan Belgia, kemudian disusul Amerika. Asuransi jiwa bagi awak kapal mulai dikenal pada
abad 19, yang berarti pada mulanya asuransi jiwa merupakan bagian dari asuransi laut. Perusahaan
asuransi jiwa meluas dan berkembang pada abad 20 hingga sekarang. Perusahaan asuransi laut dan
kebakaran yang pertama kali berdiri di Indonesia yaitu pada tahun 1843 adalah Bataviansche Zee &
Brand Assurentie Maatshappij. Perusahaan asuransi jiwa Bumi Putera sebagai usaha pribumi pada
tahun 1912.
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 39

Asuransi Syariah
Ijtihad para pemerhati ekonomi yang dilakukan secara kontinyu menghasilkan sebuah
konsep asuransi yang disebut Konsep Asuransi Taawun. Konsep ini merupakan rekomendasi fatwa
Muktamar Ekonomi Islam yang bersidang pertama kali di Mekah pada tahun 1976 M. Konsep ini
dikuatkan pada sidang Majma al Fiqh al Islami al Alami di Jeddah pada tanggal 28 Desember
1985, yang memutuskan pengharaman Asuransi Jenis Perniagaan dan mengharuskan Asuransi jenis
Taawun sebagai alternatif asuransi Islam untuk menggantikan Jenis Asuransi Konvensional.
Majma al Fiqh al Islami al Alami menyerukan agar seluruh umat Islam menggunakan asuransi
Taawun.10
Asuransi Islam pertama berdiri di Sudan pada tahun 1979 sebagai respon dari fatwa tersebut,
kemudian disusul The Islamic Arab Insurance Co. di Arab Saudi pada tahun 1980. The Islamic
Takaful Company of Luxembourg berdiri pada tahun 1983 di Bahamas dan selanjutnya berdiri di
negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Kebutuhan jasa asuransi yang berdasarkan syariah di Indonesia diawali dengan mulai
beroperasinya bank-bank syariah. Hal tersebut sesuai dengan UU No. 7 tahun 1992 tentang
perbankan dan ketentuan pelaksanaan bank syariah. Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia
(ICMI) melalui Yayasan Abdi Bangsa bersama Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Perusahaan
Asuransi Tugu Mandiri pada tanggal 27 Juli 1993 sepakat memprakarsai pendirian Asuransi
Takaful, dengan menyusun Tim Pembentukan Asuransi Takaful Indonesia (TEPATI).
TEPATI telah merealisasikan berdirinya PT Syarikat Takaful Indonesia sebagai Holding
Company dan dua anak perusahaan PT Asuransi Takaful Keluarga (Asuransi Jiwa) dan PT Asuransi
Takaful (Asuransi Takaful Kerugian). Dua perusahaan tersebut dibentuk mengikuti ketentuan UU
No. 2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian, dimana perusahaan asuransi jiwa dan perusahaan
asuransi kerugian harus didirikan secara terpisah. Tugas Holding Company selanjutnya adalah
mengembangkan keuangan syariah lainnya, antara lain leasing, anjak piutang, modal ventura,
pegadaian, dan sebagainya. Fungsi utama Asuransi Takaful adalah sebagai invesment company.
Demikian sekilas tentang sejarah asuransi dan perkembangannya hingga sekarang banyak
berdiri lembaga-lembaga asuransi syariah di Indonesia. Banyak referensi-referensi yang membahas
tentang masalah-masalah asuransi syariah. Diantaranya adalah buku Asuransi Syariah Life and
General (konsep dan sistem operasional). Buku ini ditulis oleh seorang pakar asuransi syariah Ir.
Muhammad Syakir Sula, AAIJ, FIIS. Buku yang diterbitkan oleh Gema Insani Press tahun 2004.
Buku ini adalah buku asuransi yang cukup lengkap.

10

Muhammad Syakir Sula, op.cit., h. 700.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 40

Asuransi Syariah
3.2
a.

LANDASAN SYARI ASURANSI SYARIAH


Persiapan Hari Depan
Allah SWT memerintahkan kepada hamba-Nya untuk senantiasa melakukan persiapan

untuk menghadapi hari esok. Allah berfirman dalam surat al Hasyr ayat 18:
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah dibuat untuk hari esok (masa depan). Dan bertakwalah
kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang kamu kerjakan.
Ayat di atas dikaitkan oleh sebagian umat Islam dengan aktivitas menabung atau
berasuransi. Menabung adalah upaya mengumpulkan dana untuk kepentingan mendesak atau
kepentingan yang lebih besar di masa depan, sedangkan asuransi adalah upaya berjaga-jaga jika
suatu musibah datang menimpa, di mana hal ini membutuhkan perencanaan dan kecermatan.11
Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat ini mempunyai maksud: Allah SWT berfirman, Hai orangorang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Allah SWT memerintahkan untuk bertakwa
kepada-Nya. Pengertian takwa ini mencakup sesuatu yang telah diperintahkan dan meninggalkan
sesuatu yang telah dilarang. Allah SWT berfirman, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa
yang telah dibuat untuk hari esok (masa depan), yaitu, hisablah dirimu sebelum dihisab oleh
Allah, dan lihatlah apa yang telah kamu tabung untuk diri-diri kamu, berupa amal shaleh, untuk hari
di mana kamu akan kembali dan berhadapan dengan Tuhan kamu.12

Artinya:
Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (Q.S. Al Maidah: 2)
Barang siapa yang memenuhi hajat saudaranya, Allah akan memenuhi hajatnya. (H. R. Bukhari,
Muslim, Abu dawud)
Seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam satu masyarakat ibarat seluruh bangunan, yang
mana tiap bagian dalam bangunan itu mengukuhkan bagian yang lain. (H. R. Bukhari, Muslim)
Orang-orang mukmin dalam kecintaan dan kasih sayang seperti satu badan. Apabila salah satu
anggota badan itu menderita sakit, maka seluruh badan merasakannya. (H. R. Bukhari, Muslim)
Barang siapa yang tidak mempunyai perasaan belas kasihan, maka ia juga tidak mendapat belas
kasihan (dari Allah). (H. R. Bukhari, Muslim)
Seseorang tidak dianggap beriman sehingga ia mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi
dirinya sendiri. (H. R. Bukhari)
Allah senantiasa menolong hamba selagi hamba itu menolong saudaranya. (H. R. Ahmad, Abu
dawud)
11
12

Muhammad Syakir Sula, op.cit., h. 86.


Ar-Rifai, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 4, GIP (Jakarta, 2000), h. 658.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 41

Asuransi Syariah
Kaidah-kaidah fiqih yang digunakan para penggagas Asuransi Syariah.
a.

Hukum asal segala sesuatu adalah mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.13

b.

Hukum

asal

semua

bentuk

muamalah

boleh

dilakukan

kecuali

ada

dalil

yang

mengharamkannya.14
c.

Di mana terdapat kemaslahatan, di sana terdapat hukum Allah.15

3.3

SISTEM OPERASIONAL ASURANSI SYARIAH

3.3.1

ASURANSI KERUGIAN SYARIAH


Takaful ditegakkan atas dasar tiga prinsip, yaitu:

a.

Saling bertanggung jawab

b.

Saling bekerja sama dan saling membantu

c.

Saling melindungi

3.3.1.1 KONSEP TAKAFULI (TOLONG MENOLONG)16


Konsep asuransi kerugian mempresentasikan hadits Nabi yang menjadi dasar konsep syariah
yaitu konsep tolong menolong atau saling melindungi dalam kebenaran sebagaimana tersirat dalam
Surat Al-Maidah ayat 2.
Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim: Mukmin terhadap mukmin
yang lainnya seperti bangunan memperkuat satu sama lain.
Hadits riwayat Bukhari yang lain: Orang-orang mukmin dalam kecintaan dan kasih sayang
mereka seperti satu badan. Apabila salah satu anggota badan itu menderita sakit maka seluruh
bagian badan merasakan.
Bentuk tolong menolong ini digunakan dalam kontribusi dan kebajikan (dana tabarru)
sebesar yang ditetapkan. Apabila ada salah satu dari peserta takaful atau peserta asuransi syariah
mendapat musibah, maka peserta lainnya ikut menanggung resiko, dimana klaimnya dibayarkan
dari akuntansi dana tabarru yang terkumpul.
Surplus dana tabarru pada beberapa praktek asuransi syariah, dikembalikan sebagian
kepada peserta melalui mekanisme mudharabah (bagi hasil). Mekanisme dan akad yang mendasari
pengembalian melalui mekanisme mudharabah masih terdapat perbedaan pendapat dikalangan
ulama.

13

Muhammad Syakir Sula, op.cit., h. 1.


Ibid., h. 1.
15
Ibid., h. 91.
16
Ibid., h. 225.
14

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 42

Asuransi Syariah
3.3.1.2 PERJANJIAN (AKAD)
Akad yang mendasari kontrak asuransi syariah kerugian adalah akad tabarru, dimana pihak
pemberi dengan ikhlas memberikan sesuatu (kontribusi/premi) tanpa ada keinginan untuk menerima
apa pun dari orang yang menerima, kecuali hanya mengharapkan keridhaan Allah. Hal ini tentu
akan sangat berbeda dengan akad dalam asuransi konvensional. Akad dalam asuransi konvensional
menggunakan akad muawadah yaitu suatu perjanjian di mana pihak yang memberikan sesuatu
kepada pihak lain, berhak menerima pengganti dari pihak yang diberinya.17
Terdapat perbedaan implementasi akad tabarru dalam praktek asuransi syariah saat ini,
yaitu:
a.

Asuransi syariah yang dalam prakteknya memberikan bagi hasil (mudharabah) apabila terjadi
surplus dana tabarru merujuk kepada sistem yang diterapkan di Syarikat Takaful Malaysia,
yang merupakan asuransi syariah terbesar di dunia saat ini.

b.

Asuransi syariah yang tidak membagikan dengan alasan bahwa tabarru adalah dana yang
sudah diikhlaskan untuk tolong menolong, peserta tidak perlu mengharapkan pengembalian
apa-apa lagi kecuali mengharapkan kebaikan (pahala) dari Allah.18
Konsep perjanjian (akad) yang berlaku di Takaful Group secara Internasional, baik di

Takaful Malaysia, Takaful Jeddah, Takaful Brunei, Takaful Singapura, Takaful Bangladesh,
maupun Takaful Indonesia adalah kontrak (perjanjian) yang didasarkan pada prinsip almudharabah. Perusahaan (al mudharib) mengumpulkan Kontribusi Takaful (rasul mal) yang
dibayar oleh peserta (shahibul mal) dan pengelola dengan berbagai kelas (tahapan saling
menanggung) pada Takaful Konvensional termasuk investasi dari dana kontribusi tadi. Peserta
membayar Kontribusi Takaful sebagai tabarru yang secara khusus bertujuan menolong sesama
peserta yang tertimpa musibah tertentu atau kemalangan. Perjanjian tersebut juga menetapkan
pembagian surplus (profit) antara peserta dan perusahaan, yang muncul dari bisnis Takaful
Konvensional (General Insurance) sehubungan dengan prinsip al-mudharabah.19
Beberapa ulama di Dewan Syariah Nasional (DSNMUI) berpendapat bahwa dana yang
sudah diikhlaskan sebagai tabarru tidak boleh pada saat bersamaan ada akad mudharabah (bagi
hasil), karena ada kaidah syara yang tidak membenarkan ada dua akad dalam satu perjanjian.
Pendapat ulama yang lain menyatakan bahwa tidak dibenarkan suatu akad tabarru diubah menjadi
akad tijarah mudharabah. Sebagian ulama berpendapat bahwa dibenarkan pada satu perjanjian,
di mana ada akad mudharabah dan pada saat bersamaan (include) di dalamnya juga terdapat akad
tabarru.20
17

Muhammad Syakir Sula, op.cit., h. 226.


Ibid., h. 226.
19
Ibid., h. 226.
20
Ibid., h. 227.
18

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 43

Asuransi Syariah
Dalam fatwa DSNMUI21 dengan jelas mengatur ketentuan dalam akad tijarah dan akad
tabarru sebagai berikut:
a.

Jenis akad tijarah dapat diubah menjadi jenis akad tabarru bila pihak yang tertahan haknya
dengan rela melepaskan haknya, sehingga menggugurkan kewajiban pihak yang belum
menunaikan kewajibannya.

b.

Jenis akad tabarru tidak dapat diubah menjadi jenis akad tijarah.
Perbedaan pendapat ini menunjukkan bahwa perlu pengkajian lebih dalam tentang Asuransi

Syariah (Takaful), sehingga akad yang dilakukan saat ini menjadi syari atau lebih disempurnakan
lagi. Tidak tertutup kemungkinan, ke depan para ulama dan pakar menemukan formula akad yang
lebih tepat dan pas, baik segi syari maupun aspek market (marketing).22
Surplus dana tabarru atau dalam bahasa teknik asuransi disebut Surplus Underwriting,
dapat dibagikan kecuali kepada para peserta (nasabah) sebagai bonus atau hadiah, tetapi bukan
menggunakan akad mudharabah (bagi hasil), walaupun dalam akad tabarru tidak ada kewajiban
bagi pengelola untuk memberikan bonus, karena dana tabarru sudah diikhlaskan untuk dana tolong
menolong, dan peserta tinggal berharap pahala dari Allah, sehingga secara syari peserta tidak
berhak lagi untuk berharap apalagi meminta hak bagi hasil dari pengelola.23
Pihak pengelola karena kebaikan atau pertimbangan lain tidak ada larangan seandainya
kemudian memberikan hadiah kembali kepada peserta, misalnya dengan meminjam skim atau cara
pembagian yang biasa digunakan dibagi hasil, atau menggunakan rumus lain, yang pada prinsipnya
itu bukan diartikan sebagai akad mudharabah, tetapi semacam hadiah saja dengan meminjam rumus
yang biasa digunakan di konsep mudharabah, misalnya 70:30, 60:40 dan sebagainya.24

3.3.1.3 MEKANISME PENGELOLAAN DANA


a.

Kedudukan Perusahaan Asuransi Syariah


Kedudukan perusahaan Asuransi Syariah dalam transaksi Asuransi Kerugian adalah sebagai

mudharib (pemegang amanah). Asuransi Syariah menginvestasikan dana tabarru yang terkumpul
dari kontribusi peserta kepada Instrumen yang dibenarkan oleh syara. Mudharib berkewajiban
untuk membayarkan klaim, apabila ada salah satu dari peserta mengalami musibah, juga
berkewajiban menjaga dan menjalankan amanah yang diembannya secara adil, transparan dan
profesional. Mudharib diawasi secara teknis dan operasional oleh komisaris dan secara syari
diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam mengelola dana peserta yang terkumpul pada
kumpulan dana tabarru.
21

Fatwa DSN No: 21/DSN MUI/X/2001 tentang Pedoman Asuransi Syariah.


Ibid., h. 227.
23
Ibid., h. 227.
24
Ibid., h. 227.
22

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 44

Asuransi Syariah
b.

Mekanisme Pengelolaan Dana


Mekanisme pengelolaan dana dibeberapa perusahaan asuransi kerugian (syariah) di

Indonesia dan Malaysia, misalnya Syarikat Takaful Malaysia dan Asuransi Takaful Konvensional,
Tripakarta cabang Syariah, Bringin Sejahtera Cabang Syariah, Binagriah Cabang Syariah, Jasindo
Cabang Syariah, mekanisme pengelolaan dana adalah sebagai berikut:
Dana dibayarkan peserta, kemudian terjadi akad mudharabah (bagi hasil) antara mudharib
(pengelola) dengan shahibul mal (peserta). Kumpulan dana tersebut kemudian diinvestasikan secara
syariah ke Bank Syariah maupun ke Investasi Syariah lainnya, lalu dikurangi biaya-biaya
operasional (seperti klaim, reasuransi, komisi broker, dll), selanjutnya surplus (profit) dilakukan
bagi hasil antara mudharib (pengelola) dan shahibul mal (peserta) sesuai dengan skim bagi hasil
yang telah ditentukan sebelumnya (misalnya 60:40). Bagian yang 60 persen untuk mudharib
(perusahaan) setelah dikurangi biaya administrasi dan management expenses, sisanya menjadi profit
bagi shareholders, sedangkan bagian yang lain, yaitu 40 % menjadi share of surplus for participant
(surplus bagi hasil untuk partisipasi).

3.4

SISTEM OPERASIONAL ASURANSI KONVENSIONAL

3.4.1 ASURANSI JIWA KONVENSIONAL


Sistem Operasional Asuransi Jiwa dalam Asuransi Konvensional, yaitu:
a.

Dana yang terkumpul dari peserta menjadi milik perusahaan.

b.

Investasi dana memakai bunga (riba) sebagai landasan perhitungan investasinya.

c.

Dalam mekanismenya, asuransi konvensional mengenal dana hangus, jika pada masa kontrak
peserta tidak dapat melanjutkan pembayaran premi dan ingin mengundurkan diri sebelum
reversing period, maka dana yang telah dimasukkan tidak diambil kembali.

d.

Pembayaran klaim diambil dari rekening dana perusahaan.

e.

Seluruh keuntungan menjadi hak milik perusahaan.


Asuransi jiwa dalam asuransi konvensional mempunyai tujuan, yaitu pengelolaan atau

penanggulangan resiko. Kejelasan kontrak atau akad dalam praktik muamalah menjadi prinsip
karena akan menentukan sah atau tidaknya secara syariah. Asuransi konvensioanl menerapkan
kontrak yang disebut jual-beli.
Penjelasan pada sistem operasional asuransi konvensional sebagai berikut:
a.

Dalam asuransi konvensional peserta harus terlebih dahulu menjadi anggota perusahaan
asuransi tersebut, dan selanjutnya disebut tertanggung dan penanggung, adapun tertanggung
harus membayar premi secara rutin kepada penanggung. Dana yang terkumpul dari premi
peserta asuransi konvensional seluruhnya menjadi milik perusahaan dan perusahaan bebas
menginvestasikan dana tersebut kemana saja.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 45

Asuransi Syariah
b.

Invenstasi dana memakai bunga (riba) dalam asuransi konvensional bebas tetapi masih dalam
batas-batas perundang-undangan dan tidak dibatasi oleh halal-haramnya objek atau sistem yang
digunakan.

c.

Pada asuransi konvensional dikenal dana hangus, dimana peserta tidak dapat melanjutkan
pembayaran premi dan ingin mengundurkan diri sebelum masa jatuh tempo. Begitu pula
dengan asuransi jiwa konvensional non-saving (tidak mengandung unsur tabungan) atau
asuransi kerugian, jika habis masa kontrak dan tidak terjadi klaim, maka premi asuransi yang
sudah dibayarkan hangus atau menjadi keuntungan perusahaan asuransi.

d.

Dalam asuransi konvensional dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan,
yang artinya semua premi-premi yang dibayarkan tertanggung akan menjadi milik perusahaan
dan jika salah satu tertanggung mengklaim maka perusahaan akan mengambil dari rekening
perusahaan tersebut.

e.

Keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan jika tidak ada klaim maka tertanggung tidak
mendapatkan apa-apa.
Perusahaan asuransi konvensional dinilai memiliki sejumlah kelemahan, diantaranya adalah:

a.

Seseorang yang ikut asuransi harus mendaftarkan diri menjadi anggota dan diwajibkan untuk
membayar premi secara rutin;

b.

Asuransi konvensional bersifat tadabuli (jual beli) pada kenyataannya lebih cenderung sebagai
usaha bisnis berskala besar sementara sisi bantuan sosial hanya menjadi lips service (penghias)
sementara hakikatnya tidak lain merupakan pemerasan dan kerja rentenir;

c.

Akad asuransi konvensional adalah akad gharar (ketidakjelasan) karena masing-masing dari
kedua belah pihak (penanggung dan tertanggung) pada waktu melangsungkan akad tidak
mengetahui jumlah yang ia berikan dan jumlah yang ia ambil. Akad asuransi ini juga disebut
akad idzan (penundukan) pihak yang kuat adalah perusahaan asuransi karena dialah yang
menentukan syarat-syarat yang tidak dimiliki oleh tertanggung;

d.

Mengandung unsur pemerasan, karena pemegang polis apabila tidak bisa melanjutkan
pembayaran preminya, akan hilang premi yang sudah dibayar atau dikurangi. Pada perusahaan
asuransi konvensional, uang masuk dari premi para peserta yang sudah dibayar akan diputar
dalam usaha dan bisnis dengan praktek riba.

3.4.1.1 PERBEDAAN ASURANSI JIWA KONVENSIONAL DAN ASURANSI JIWA


SYARIAH
Dibandingkan asuransi konvensional, asuransi syariah memiliki perbedaan mendasar dalam
beberapa hal, yaitu:

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 46

Asuransi Syariah
a.

Keberadaan Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah merupakan suatu
keharusan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen, produk serta kebijakan investasi
supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. Adapun dalam asuransi konvensional, maka hal
itu tidak mendapat perhatian.

b.

Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). Yaitu nasabah yang satu
menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi
konvensional bersifat tadabuli (jual-beli antara nasabah dengan perusahaan).

c.

Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan
berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharabah). Sedangkan pada asuransi
konvensional, investasi dana dilakukan pada investasi dengan sistem bunga yang bersifat riba.

d.

Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Perusahaan hanya
sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan pada asuransi konvensional, premi
menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan
kebijakan pengelolaan dana tersebut.

e.

Untuk kepentingan pembayaran klaim nasabah, dana diambil dari rekening tabarru (dana
sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong bila ada
peserta yang terkena musibah. Sedangkan dalam asuransi konvensional, dana pembayaran
klaim diambil dari rekening milik perusahaan.

f.

Keuntungan investasi dibagi dua, antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan
selaku pengelola, dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan dalam asuransi konvensional,
keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Jika tak ada klaim, nasabah tak
memperoleh apa-apa.
Asuransi Jiwa merupakan program asuransi yang memberikan perlindungan terhadap resiko

pada jiwa seseorang yang menjadi tertanggung selama masa asuransi. Manfaat perlindungan jiwa
ini adalah sebagai jaminan kepastian terhadap tertanggung dan keluarga dalam menghadapi
berbagai resiko kehidupan seperti sakit kristis, cacat, meninggal. Ketika dalam resiko tersebut,
maka manfaat dari produk asuransi pasti akan tetap menjamin memberikan seluruh manfaat dana
pendidikan, dana pensiun maupun santunan meninggal yang direncanakan tanpa harus melanjutkan
pembayaran preminya.
Adapun prinsip-prinsip asuransi jiwa dalam asuransi konvensional, yaitu:
a.

Akad yang akan dilaksanakan pada asuransi konvensional berdasarkan akad jual beli
(tadabbuli).

b.

Asuransi konvensional dasar perhitungan investasi dana berdasarkan riba.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 47

Asuransi Syariah
c.

Kepemilikan dana. Pada asuransi konvensional dana investasi yang terkumpul dari peserta
(premi) menjadi milik perusahaan, sehingga perusahaan bebas menentukan alokasi investasi
penggunaan dana.

d.

Pembayaran klaim. pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambil dari dana milik
perusahaan.

e.

Keuntungan yang diperoleh perusahaan asuransi konvensional yang diperoleh perusahaan


menjadi milik perusahaan seutuhnya.

f.

Pada asuransi konvensional dikenal adanya dana yang hangus jika peserta tidak dapat
melanjutkan pembayaran premi dan ingin mengundurkan diri sebelum masa jatuh tempo.

PERTEMUAN KE 4
KONSEP DAN IMPLEMENTASI AKAD-AKAD MUAMALAH
PADA ASURANSI SYARIAH
Perjanjian yang digunakan merupakan akad takafuli dan bukan akad tadabuli, bersifat
tolong menolong (taawun) dengan menggunakan prinsip dasar tabarru dan mudharabah serta
tidak mengandung unsur Riba (bunga uang), Maisir (judi), dan Gharar (untung-untungan) yang
dilarang dalam akad-akad keuangan Islami. Konsep asuransi syariah adalah konsep tolong
menolong dalam kebaikan dan ketakwaan sebagaimana telah digariskan dalam QS. Al-Maidah: 2,
yang artinya dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa. Ini berarti dalam
asuransi syariah semua peserta merupakan satu keluarga besar akan saling melindungi dan secara
bersama-sama akan menanggung risiko keuangan dari musibah yang mungkin terjadi. Konsep
asuransi syariah ini dilakukan melalui mekanisme perjanjian (akad). Asuransi syariah adalah usaha
kerjasama saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang dalam menghadapi
terjadinya musibah atau bencana melalui perjanjian yang disepakati bersama. Perjanjian syariah
yang digunakan dalam asuransi syariah bersifat takafuli dan menggunakan prinsip dasar tabarru
dan mudharabah.
Perjanjian bersifat taawun dan merupakan akad takafuli dengan prinsip mudharabah dan di
dalamnya sudah mencakup tabarru, ini mengandung pengertian bahwa akad asuransi syariah
adalah akad takafuli bukan tadabuli, yaitu akad yang menggunakan prinsip tolong menolong
(taawun) dengan adanya dana tabarru dan dalam pengelolaan dana (investasi) mengunakan
prinsip mudharabah melalui instrumen investasi syariah. Akad takafuli yaitu perjanjian sekelompok
orang yang disebut partisipan yang secara timbal balik saling menanggung atau menanggung
bersama risiko diantara partisipan atas dasar saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.
Akad asuransi syariah ini merupakan akad takafuli yaitu akad yang menggunakan prinsip tolong
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 48

Asuransi Syariah
menolong (taawun) dengan adanya dana tabarru dan dalam pengelolaan dana (investasi)
menggunakan prinsip mudharabah.
Akad takafuli dalam perusahaan asuransi syariah, terdiri dari akad tabarru dan akad tijari,
dengan menggunakan prinsip mudharabah dan prinsip tabarru. Akad tabarru untuk kepentingan
sosial, bukan untuk mencari keuntungan dan bersifat social oriented (hibah/charity), sedangkan
akad tijari untuk kepentingan komersial/bisnis, bertujuan mencari keuntungan dan bersifat profit
oriented. Akad tabarru terkait dengan hubungan antara sesama peserta dengan prinsip saling
tolong menolong dan saling menanggung antara satu peserta dengan peserta lainnya (risk sharing),
sedangkan akad tijari terkait dengan hubungan antara pemegang polis dengan perusahaan,
operasional dan fungsi perusahaan asuransi. Implementasi akad tabarru pada asuransi syariah,
yaitu peserta memberikan kontribusi berupa dana tabarru yaitu sebagian dari premi yang
diikhlaskan untuk tolong menolong dan saling menanggung setiap risiko yang ada diantara peserta
(risk sharing), perusahaan asuransi bertindak sebagai operator/administrator dalam hal
pengumpulan dana peserta (pool of fund), bukan untuk mendapatkan keuntungan tetapi untuk
kemaslahatan umat (social oriented). Implementasi akad tijari pada perusahaan asuransi syariah
adalah perusahaan asuransi berperan sebagai underwriter dan administrator, collector serta fund
manager dimana kontribusi dari peserta bukan sebagai pendapatan tetapi merupakan amanah untuk
dikelola secara syariah, perusahaan asuransi akan mendapatkan management fee dari fungsinya
sebagai administrator dan untuk memanfaatkan dana Tabarru/pool of hibah fund, perusahaan akan
mendapatkan bagi hasil atau fee.
Pada prinsipnya akad asuransi syariah menggunakan prinsip tabarru dan mudharabah,
namun dalam perkembangannya secara operasional asuransi syariah tidak hanya menggunakan akad
mudharabah dan akad tabarru tetapi juga tidak menutup kemungkinan menggunakan akad
wakalah, wakalah bil ujrah, musyarakah, mudharabah musytarakah. Perjanjian asuransi syariah
tidak hanya menggunakan akad tabarru dan mudharabah tetapi juga akad-akad lainnya
sebagaimana

yang

terdapat

dalam

Fatwa

DSN-MUI

seperti

tabarru,

mudharabah,

wakalah/wakalah bil ujrah, mudharabah musytarakah serta dalam suatu perjanjian asuransi dapat
mengandung beberapa akad. Berdasarkan produk dasar asuransi syariah, perjanjian asuransi syariah
menggunakan akad tabarru, akad mudharabah, dan akad wakalah bil ujrah. Mekanisme asuransi
syariah berupa perjanjian (akad) dan berlaku untuk jangka waktu tertentu, bisa short term ataupun
long term.

4.1

PERJANJIAN ASURANSI SYARIAH


Perjanjian asuransi syariah dapat terjadi antara:

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 49

Asuransi Syariah
a.

Perusahaan asuransi syariah dengan perseorangan, tertuang dalam bentuk polis asuransi syariah
dan akad yang digunakan tergantung dari produk asuransi syariah yang diambil dan dalam satu
polis asuransi syariah dapat mengandung akad lebih dari satu. Pada umumnya, akad yang
digunakan dalam polis asuransi syariah terdiri dari akad tabarru dan akad tijari, penggunaan
akad ini dipengaruhi produk asuransi syariah.

b.

Perusahaan asuransi syariah dengan lembaga keuangan ataupun instansi lain, tertuang dalam
bentuk perjanjian kerjasama berupa memorandum of understanding (MoU) yang didalamnya
mengandung prinsip akad musyarakah. MoU ini dapat berdiri sendiri maupun ditindak lanjuti
dengan polis asuransi apabila MoU tersebut berkenaan dengan salah satu produk asuransi,
misalnya untuk pembiayaan.

c.

Perusahaan asuransi syariah dengan rumah sakit, merupakan perjanjian kerjasama yang
tertuang dalam bentuk MoU dan mengandung prisip akad musyarakah.

d.

Perusahaan asuransi syariah dengan perusahaan asuransi (co-insurance), merupakan perjanjian


kerjasama antar perusahaan asuransi untuk saling menanggung risiko dan berbagi risiko (risk
sharing) apabila terjadi risiko yang tidak bisa ditanggung oleh satu perusahaan asuransi dengan
presentase pembagian risiko ini telah ditentukan secara nasional melalui lembaga asosiasi
perusahaan asuransi. Perjanjian ini menggunakan prinsip mudharabah musytarakah.

e.

Perusahaan asuransi syariah dengan perusahaan reasuransi, dalam hal reasuransi dan dalam
perjanjian ini menggunakan akad wakalah.
Ini berarti dalam bisnis asuransi syariah berdasarkan produk maupun para pihak yang

terlibat dalam perjanjian antara perusahaan asuransi syariah dengan pihak lain secara mekanisme
menggunakan berbagai akad berdasarkan prinsip syariah dan dimungkinkan dalam perjanjian
tersebut mengandung prinsip akad lebih dari satu akad. Penggunaan akad tersebut terkait dengan
para pihak yang mengadakan perjanjian dan tujuan diadakannya perjanjian, mengingat perjanjian
asuransi syariah dapat terjadi tidak hanya antara perusahaan asuransi syariah dengan
individu/lembaga sebagai peserta asuransi. Berdasarkan para pihak yang terlibat di dalamnya,
secara umum akad yang digunakan dalam asuransi syariah terdiri dari akad tabarru, akad
mudharabah, akad wadiah, akad wakalah/akad wakalah bil ujrah, akad musyarakah, akad
mudharabah musyarakah.
Secara umum, para pihak dalam asuransi syariah terdiri dari peserta, asuransi syariah dan
reasuransi syariah dan masing-masing partisipan memberikan kontribusi modal dengan tujuan
saling menanggung risiko atas dasar tolong menolong. Hubungan ketiganya adalah hubungan
kerjasama dengan menggunakan prinsip risk sharing, dimana peserta asuransi memberikan
delegasinya kepada perusahaan asuransi dalam hal pengelolaan risiko dan perusahaan asuransi

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 50

Asuransi Syariah
sebagai wakil dari peserta mengadakan kerjasama dengan perusahaan reasuransi dengan
memberikan delegasi pengelolaan sebagian portofolio.
Berdasarkan skema hubungan tersebut, asuransi syariah menggunakan akad tabarru dan
akad tijari dimana akad tabarru terjadi diantara para peserta untuk saling menanggung risiko (risk
sharing) dan akad tijari terjadi diantara peserta dengan perusahaan asuransi syariah dalam hal
pengelolaan risiko maupun dana peserta dan antara perusahaan asuransi syariah dengan perusahaan
reasuransi dalam hal reasuransi. Kontribusi peserta dalam hubungan kerjasama tersebut berupa
sejumlah dana (premi) yang diamanahkan kepada perusahaan asuransi syariah untuk dikelola secara
syariah. Premi merupakan titipan peserta kepada perusahaan asuransi syariah, yaitu dana yang
terkumpul dari peserta dalam bentuk iuran atau kontribusi, merupakan milik peserta (shohibul mal),
perusahaan asuransi syariah hanya sebagai pemegang amanah (mudharib) dalam mengelola dana
tersebut.
Untuk produk saving (life insurance) terjadi pemisahan dana yaitu dana tabarru merupakan
derma dan dana peserta, sehingga tidak mengenal dana hangus, sedangkan untuk produk non
saving/term insurance (life insurance) dan general insurance semuanya bersifat dan tabarru.
Untuk produk asuransi perorangan, premi sebagai kontribusi dari peserta dibagi menjadi premi
tabarru merupakan dana yang diikhlaskan oleh peserta untuk dana sosial/santunan kebajikan
diantara peserta sebagai wujud saling menanggung (sharing risk) dan besarnya dipengaruhi oleh
usia peserta, premi tabungan sebagai tabungan/investasi peserta yang ditentukan besarnya jumlah
premi setelah dikurangi dengan premi tabarru dan premi biaya, dan premi biaya untuk operasional
pengelolaan yang besarnya dipengaruhi masa asuransi dan premi yang disetor peserta. Besarnya
kontribusi (premi) disesuaikan dengan kesanggupan, kemampuan dan kebutuhan peserta dan dapat
dibayarkan dengan sistem pembayaran triwulan, setengah tahunan, tahunan ataupun sekaligus untuk
masa asuransi, sistem pembayaran ini disesuaikan dengan kehendak peserta dan disepakati dalam
perjanjian. Adanya premi biaya ini tergantung dari kebijakan perusahaan dan diperbolehkan oleh
Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan tersebut. Premi biaya ini nantinya akan digunakan
untuk biaya operasional perusahaan. Premi biaya adalah kontribusi biaya yang diambil dari
sebagian kecil premi (kontribusi) peserta. Contoh premi biaya yang ditetapkan oleh salah satu
perusahaan asuransi syariah yaitu 39% dari premi tahun pertama, 24% dari premi tahun kedua dan
5% dari premi tahun ketiga dan seterusnya. Namun ada juga produk asuransi syariah yang
mempunyai premi terdiri dari premi tabarru dan premi tabungan sedangkan untuk total biaya
pengelolaan besarnya 40% dari premi tahun pertama. Contoh takaful fulnadi. Premi untuk produk
asuransi kendaraan bermotor yang dipasarkan salah satu perusahaan asuransi syariah, ditentukan
oleh besarnya total kontribusi dan premi ini terbagi menjadi dana tabarru dan ujrah. Premi pada
asuransi umum untuk kendaraan bermotor ditentukan oleh tipe risiko yang diambil peserta dan
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 51

Asuransi Syariah
kontribusi kendaraan bermotor (rate) terhadap risiko tersebut yaitu rate yang berlaku untuk tipe All
Risk (gabungan) sebesar 2,5 % sehingga kontribusi kendaraan bermotor untuk All Risk yaitu 2,5%
dari harga pertanggungan atau harga kendaraan yang dijadikan obyek asuransi, sedangkan untuk
partial risk mempunyai rate sebesar 1,95% sehingga kontribusi kendaraan bermotor untuk All Risk
yaitu 1,95% dari harga pertanggungan atau harga kendaraan, sehingga premi (kontribusi) peserta
mempunyai rumusan sebagai berikut:
Kontribusi ini dibayarkan sekaligus pada awal jangka waktu perjanjian (masa asuransi) dan
harus diperbaharui apabila kontrak diperpanjang dengan premi ditetapkan oleh perusahaan sesuai
dengan risiko jenis takaful yang dipilih. Kontribusi (premi) yang dibayar peserta ini dimasukkan ke
dalam kumpulan dana peserta (insurance fund) yang berfungsi sebagai investasi dan dana kebajikan
(tabarru) untuk membiayai klaim apabila terjadi musibah pada peserta takaful. pada akhir
perjanjian jika ada surplus underwriting, maka akan dibagi secara proporsional kepada seluruh
peserta dengan ketentuan sebagai berikut:
a.

Premi sudah dibayar secara lunas oleh peserta.

b.

Peserta tidak pernah menerima pembayaran klaim atau sedang mengajukan klaim.

c.

Peserta tidak membatalkan perjanjian.

d.

Peserta akan mendapat pengembalian sebagian kontribusi (premi) berdasarkan rumus.


Berdasarkan uraian tersebut, penulis berpendapat bahwa tidak semua jenis akad tersebut

diterapkan dalam kegiatan operasional perusahaan asuransi dengan prinsip syariah. Bentuk-bentuk
akad tersebut diterapkan berdasarkan situasi dan kondisi dari kegiatan usaha yang dilakukan oleh
pihak-pihak dalam asuransi syariah, dan masing-masing akad mempunyai ciri atau ketentuan yang
berbeda dalam penerapannya. Akad yang akan digunakan ini nantinya disebutkan sebagai klausula
dalam polis asuransi syariah, namun akad tersebut juga ada yang tidak dinyatakan secara eksplisit
penggunaannya dalam aplikasi perjanjian asuransi pada perusahaan asuransi syariah dan hanya
disebutkan secara implisit bahwa dalam perjanjian tersebut mengandung prinsip-prinsip akad yang
telah dijelaskan sebelumnya.
Operasional yang dijalankan oleh perusahaan asuransi syariah dapat menggunakan akad
tabarru,

akad

mudharabah/mudharabah

musytarakah,

akad

musyarakah

dan

akad

wakalah/wakalah bil ujrah. Secara operasional pemasaran hanya menggunakan akad tabarru untuk
semua produk yang dipasarkan baik produk individu maupun kumpulan, akad mudharabah
musytarakah untuk produk individu dan akad wakalah bil ujrah untuk produk unitlink. Akad
tabarru dan mudharabah digunakan dalam perjanjian asuransi syariah pada produk asuransi
perseorangan (retail) yang mengandung unsur tabungan (saving) serta produk asuransi kumpulan
(corporate) baik yang mengandung unsur tabungan (saving) maupun tidak mengandung unsur
tabungan (non saving). Penggunakan akad ini ada yang sudah dinyatakan oleh calon peserta pada
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 52

Asuransi Syariah
saat mengajukan aplikasi permintaan asuransi syariah, untuk produk dengan unsur tabungan
menggunakan akad wakalah bil ujrah, akad mudharabah musytarakah dan akad tabarru,
sedangkan untuk produk tanpa unsur tabungan menggunakan akad wakalah bil ujrah dan akad
tabarru. Penyebutan akad tersebut ada juga yang tidak dilakukan secara tersurat, tetapi secara
tersirat dalam aplikasi permohonan peserta asuransi syariah maupun perjanjian asuransi syariah
yang dibuat dan dilaksanakan oleh suatu perusahaan asuransi syariah, yaitu akad mudharabah
musytarakah pada asuransi syariah secara retail dan akad wakalah bil ujrah pada asuransi syariah
unitlink, namun akad tersebut tidak dinyatakan secara tegas dalam perjanjian (polis asuransi) dan
hanya implementasi dari prinsip akad asuransi syariah mengenai dana tabarru dan bagi hasil
investasi (mudharabah). Akad musyarakah digunakan dalam hal perjanjian asuransi syariah
corporate berupa kerjasama dengan lembaga lain, baik lembaga keuangan maupun non keuangan
untuk memberikan proteksi ataupun investasi melalui produk asuransi kumpulan dan tertuang
dalam perjanjian kerjasama (memorandum of understanding), sedangkan akad wakalah digunakan
dalam hal melakukan perjanjian keagenan/mitra kerja perusahaan asuransi syariah. Perusahaan
asuransi syariah yang bergerak di bidang asuransi umum/kerugian menggunakan akad tabarru dan
akad wakalah bil ujrah baik asuransi syariah retail maupun corporate, penggunaan akad ini
dinyatakan secara tegas dalam perjanjian yaitu endorsement polis.
Akad-akad tersebut berlaku ketentuan-ketentuan mengenai hukum perjanjian berdasarkan
menurut Hukum Positif Indonesia maupun Hukum Islam. Berlakunya dua ketentuan hukum ini
mengingat apabila berbicara mengenai syariah di Negara Kesatuan Republik Indonesia terdapat dua
level hukum di dalamnya yaitu Hukum Positif Indonesia dan Hukum Islam. Syarat sahnya
perjanjian asuransi syariah sebagaimana dengan syarat sahnya perjanjian berdasarkan hukum positif
dan hukum Islam adalah:
a.

Adanya kata sepakat untuk saling mengikatkan diri, secara hukum perjanjian Islam berkaitan
dengan keridhaan para pihak yang berakad dan adanya pilihan untuk menentukan transkasi dan
akad yang digunakan. Kata sepakat dalam akad asuransi syariah ini terjadi pada saat dibuatnya
akad, yaitu pada saat diterimanya dan disetujuinya proposal maupun permohonan aplikasi
dalam surat permintaan asuransi syariah serta secara tersurat dalam setiap akad asuransi syariah
yang dibuat yaitu mengenai pernyataan mengikatkan diri (shighat al-aqad) dalam suatu akad
dimana peserta membayar premi dan perusahaan mengelola premi tersebut dengan memberikan
manfaat asuransi sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat yang telah disepakati dan tertuang
dalam polis asuransi syariah.

b.

Kecakapan dalam membuat suatu perikatan, dalam hukum perjanjian Islam berkaitan dengan
syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang berakad yaitu telah dewasa dan berakal (aqil),
dapat membedakan sebagai tanda kesadaran (tamyiz). Mengenai kecakapan dan kedewasaan ini

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 53

Asuransi Syariah
setiap perusahaan asuransi syariah mempunyai kebijakan yang berbeda yaitu ukuran
kedewasaan bagi peserta asuransi syariah yaitu 15 (lima belas) tahun sampai dengan 21 (dua
puluh satu) tahun atau sudah pernah menikah sebelumnya berkisar antara usia. Usia minimal
peserta asuransi syariah pada perusahaan asuransi yang satu berbeda dengan perusahaan
asuransi yang lain tergantung pada kebijakan perusahaan. Ada perusahaan asuransi syariah
yang menerapkan usia minimal peserta adalah 15 (lima belas) tahun dan ada juga yang 17
(tujuh belas) tahun. Untuk program dana pendidikan usia minimal peserta rata-rata 21 (dua
puluh satu) tahun atau pernah menikah sebelumnya, sedangkan anak dibawah umur, belum
dewasa maupun belum pernah menikah sebelumnya tidak berkedudukan sebagai peserta tetapi
sebagai penerima santunan.
c.

Suatu hal tertentu, dalam hukum perjanjian Islam berkaitan dengan obyek akad harus jelas
antara lain telah ada pada waktu akad diadakan, dapat menerima hukum akad, dapat ditentukan
dan diketahui, dapat diserahkan pada waktu akad terjadi. Hal tertentu sebagai obyek dari
perjanjian asuransi syariah ini berupa perlindungan dan investasi sebagai manfaat takaful.

d.

Suatu sebab yang halal, dalam hukum perjanjian Islam causa halal ini berarti tidak menyalahi
hukum syariah yang disepakati adanya akad, sebab yang halal dalam asuransi syariah yaitu
sesuai dengan ketentuan syariah dalam pengertian tidak mengandung dari gharar (penipuan),
maysir (perjudian), riba (bunga), zhulm (penganiayaan), riswah (suap), barang haram, dan
maksiat.

4.2

LATAR BELAKANG MENJADI PESERTA DALAM ASURANSI SYARIAH


Adapun latar belakang menjadi peserta dalam asuransi syariah dengan pertimbangan sebagai

berikut:
a.

Islami dan pengelolaannya berdasarkan syariah, yang didasarkan pada perjanjian dengan
prinsip syariah;

b.

Untuk mempersiapkan dana pendidikan anak melalui investasi syariah berdasarkan suatu akad
dan dikelola secara syariah dengan menggunakan prinsip bagi hasil (mudharabah) sehingga
ada keseimbangan kebutuhan dunia akhirat dengan adanya dana kebajikan (tabarru);

c.

Dengan berasuransi akan memiliki tabungan sekaligus proteksi diri melalui mekanisme
perjanjian syariah;

d.

Dapat digunakan sebagai sarana investasi dan proteksi diri untuk tabungan hari tua;

e.

Adanya keseimbangan dunia akhirat


Kejelasan bentuk akad dalam ber-muamalah sangat menentukan apakah transaksi yang

dilakukan sudah sah atau tidak menurut kaidah syari. Begitu juga dalam berasuransi,
ketidakjelasan bentuk akad akan menimbulkan permasalahan dari sisi legalitas hukum Islam. Akad
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 54

Asuransi Syariah
yang sesuai dengan syariah menurut Fatwa DSN-MUI No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman
Umum Asuransi Syariah, adalah akad yang tidak mengandung dari gharar (penipuan), maysir
(perjudian), riba (bunga), zhulm (penganiayaan), riswah (suap), barang haram, dan maksiat, dalam
akad sekurang-kurangnya harus disebutkan mengenai:
a.

Hak dan kewajiban peserta dan perusahaan;

b.

Cara dan waktu pembayaran premi;

c.

Jenis akad tijarah dan/atau akad tabarru serta syarat-syarat yang disepakati, sesuai dengan
jenis asuransi yang diakadkan.
Menurut penulis, asuransi syariah merupakan sebuah sistem dimana para peserta

mendonasikan sebagian atau seluruh kontribusi/premi yang mereka bayar untuk digunakan
membayar klaim atas musibah yang dialami oleh sebagian peserta, sehingga di satu sisi para peserta
melakukan risk sharing diantara mereka, sedangkan di sisi lain peranan perusahaan asuransi
terbatas pada pengelolaan operasional perusahaan asuransi dan mengelola dana peserta dengan
menginvestasikannya ke dalam instrumen investasi syariah. Selain itu, mengenai akad dalam
lembaga asuransi syariah, jenis akad yang digunakan oleh perusahaan asuransi syariah dipengaruhi
oleh para pihak dalam perjanjian asuransi syariah tersebut maupun produk dasar asuransi syariah.

4.3

AKAD TABARRU
Dalam asuransi syariah merupakan akad tabarru dalam bentuk lending yourself dan giving

something mengingat dalam asuransi syariah ini terdapat beberapa pihak yang terlibat akad
tabarru. Akad tabarru ini mendudukkan perusahaan sebagai pengelola dana tabarru (lending
yourself) dan peserta memberikan konstribusi dana sebagai iuran kebajikan yang akan digunakan
untuk menolong peserta lain yang terkena musibah (giving something). Perjanjian asuransi syariah
merupakan akad takafuli dan didalamnya mengandung prinsip akad tabarru. Perusahaan menerima
amanah dari peserta asuransi syariah untuk mengelola hartanya (premi), yang mana premi tersebut
akan dikelola dalam dua rekening yang berbeda, yaitu rekening tabungan dan rekening tabarru dan
di sisi lain peserta memberikan sebagian dana yang telah disetornya sebagai santunan kebajikan
untuk saling berbagi risiko apabila ada diantara peserta yang mengalami musibah. Rekening
tabarru untuk pengelolaan kumpulan dana tabarru dari seluruh peserta dan nantinya akan
digunakan sebagai santunan kebajikan apabila terjadi klaim diantara salah seorang peserta serta
keuntungan yang didapat dari pengelolaan dana ini akan dikembalikan dalam rekening tabarru. Ini
berarti dalam tabarru lending yourself perusahaan asuransi syariah memberikan jasa kepada
peserta asuransi dengan keahlian dan skill yang dipunyainya untuk mengelola premi dari peserta
termasuk di dalamnya premi tabarru secara profesional, dan di dalam tabarru giving something
seorang peserta memberikan kontribusi berupa premi dan dari sebagian premi tersebut didermakan
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 55

Asuransi Syariah
untuk menyantuni apabila diantara peserta ada yang mengalami musibah melalui premi tabarru.
Adanya tabarru lending yourself dan giving something ini mencerminkan bahwa dalam asuransi
syariah terdapat risk sharing diantara para pihaknya.
Tabarru adalah dana yang dihibahkan oleh peserta kepada kumpulan peserta asuransi
syariah sebagai derma/dana kebajikan untuk tujuan tolong menolong dan saling menanggung
diantara peserta apabila terjadi klaim karena mengalami musibah yang ditentukan/dijamin dalam
polis asuransi syariah, yang pengelolaannya diamanahkan kepada pengelola takaful (perusahaan
asuransi syariah). Dana tabarru ini nantinya akan menjadi santunan kebajikan untuk membiayai
klaim apabila salah seorang dari peserta mengalami musibah atau membayar kerugian yang akan
timbul, sehingga dengan dana tabarru ini berarti terjadi perlindungan bersama antar peserta
asuransi syariah (risk sharing). Mengenai besarnya dana tabarru antara peserta yang satu dengan
peserta lainya mempunyai presetase yang tidak sama, ini dipengaruhi oleh masa perjanjian dan usia
peserta.
Akad tabarru, menurut Fatwa DSN-MUI No. 53/DSN-MUI/III/2006 tentang tabarru pada
asuransi syariah, merupakan akad yang melekat pada semua produk asuransi yaitu akad yang
dilakukan dalam bentuk hibah dengan tujuan kebajikan dan tolong menolong antar peserta, bukan
untuk tujuan komersial. Akad tabarru ini sekurang-kurangnya harus menyebutkan mengenai:
a.

Hak dan kewajiban masing-masing peserta secara individu;

b.

Hak dan kewajiban antara peserta secara individu dalam akun tabarru selaku peserta dalam
arti badan/kelompok;

c.

Cara dan waktu pembayaran premi dan klaim;

d.

Syarat-syarat lain yang disepakati sesuai dengan jenis asuransi yang diakadkan
Akad tabarru yaitu kontrak dimana peserta adalah pihak yang menanggung risiko bersama

bukan perusahaan, dalam hal ini perusahaan bukanlah pemilik dana tetapi hanya mengelolanya
sesuai dengan amanah dari peserta dan pengelola tidak boleh menggunakan danadana tersebut jika
tidak ada kuasa dari peserta. Peserta memberikan kontribusi berupa dana yang diikhlaskan (tabarru
fund) untuk tolong menolong antar peserta dan diantara peserta saling menanggung setiap risiko
yang ada diantara peserta (risk sharing), ada saat membayar dan menerima bantuan untuk membagi
risiko yang ada bagi setiap peserta, sehingga premi yang dibayar bukan merupakan pendapatan bagi
perusahaan dan klaim yang diterima bukan merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh
perusahaan, serta bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan tetapi untuk kemaslahatan umat
(social oriented).
Implementasi akad tabarru menurut masyarakat yang menjadi peserta asuransi syariah
adalah:

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 56

Asuransi Syariah
a.

Wujud dari adanya akad tabarru berupa premi tabarru yang merupakan sebagian premi yang
diikhlaskan untuk santunan kebajikan apabila diantara peserta ada yang mengalami musibah
dan mengajukan klaim terhadap musibah tersebut sehingga pembayaran klaim diambilkan dari
premi tabarru yang terkumpul dari seluruh peserta;

b.

Berupa premi tabarru yang diambilkan dari premi yang disetor dan besarnya berdasarkan
presentase yang telah ditentukan oleh perusahaan, yang nantinya kan digunakan sebagai
santunan kebajikan apabila terjadi klaim dari salah seorang peserta;

c.

Diwujudkan dalam bentuk premi tabarru yang akan digunakan sebagai santunan kebajikan
dan sumber pembayaran klaim;

d.

Berupa premi tabarru sebagai dana yang diikhlaskan untuk santunan kebajikan diantara
sesama peserta;

e.

Premi tabarru untuk dana sosial diantara peserta apabila salah satu peserta meninggal dunia;

f.

Berupa premi tabarru yang ditentukan berdasarkan presentase dari perusahaan sebagai
santunan kebajikan apabila salah seorang diantara peserta mengalami musibah.
Pelaksanaan akad tabarru pada perusahaan asuransi syariah diwujudkan dengan adanya

premi tabarru yang diambilkan dari premi yang disetorkan oleh peserta berdasarkan presentase
yang telah ditetapkan perusahaan, premi tabarru ini merupakan dana yang berasal dari peserta
yang dimasukkan dalam rekening tabarru kemudian diinvestasikan melalui instrumen syariah, dan
akan digunakan untuk membayar klaim sebagai santunan kebajikan diantara para peserta.
Dana tabarru yang dimasukkan dalam rekening khusus tabarru dan diinvestasikan ini
akan mendapatkan hasil investasi. Menurut Fatwa DSN-MUI No. 53/DSN-MUI/III/2006 tentang
tabarru pada asuransi syariah, terdapat 3 (tiga) opsi mengenai perlakuan terhadap dana peserta
dalam rekening tabarru yaitu:
a.

Keuntungan hasil dana tabarru akan kembali dalam akun tabarru (tabarru back to tabarru)
yaitu diperlakukan seluruhnya sebagai dana cadangan dalam akun tabarru

b.

Bagi hasil pengelolaan dana tabarru kepada peserta, yaitu disimpan sebagian sebagai dana
cadangan dan dibagikan sebagian lainnya kepada para peserta yang memenuhi syarat
aktuaria/manajemen risiko

c.

Bagi hasil pengelolaan dana tabarru kepada perusahaan dan peserta, yaitu disimpan sebagian
sebagai dana cadangan dan dapat dibagikan sebagian lainnya kepada perusahaan dan para
peserta sepanjang disepakati oleh para peserta
Hasil investasi dari dana tabarru yang dikelola oleh perusahaan akan dikembalikan

seluruhnya dalam rekening tabarru dan digunakan untuk santunan kebajikan (pembayaran klaim
meninggal dunia) diantara peserta, sehingga ahli waris/orang yang ditunjuk dari peserta yang
meninggal dunia akan mendapatkan santunan kebajikan, tabungan yang terkumpul dan mudharabah
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 57

Asuransi Syariah
hasil investasi dari rekening tabungan. Perlakuan terhadap hasil investasi dana tabarru ini terdapat
perbedaan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain. Dana tabarru yang
terkumpul ini nantinya akan diinvestasikan ke dalam rekening tabarru dan akan digunakan untuk
santunan kebajikan apabila terjadi klaim atas meninggalnya salah seorang dari peserta asuransi
syariah. Perlakuan atas hasil investasi dana tabarru ini berbeda dengan perlakuan hasil investasi
yang dikelola oleh perusahaan asuransi yang lain yaitu apabila dalam pengelolaan investasi dana
tabarru terjadi surplus, maka hasil investasi ini akan dibagikan kepada peserta berupa pengembalian
surplus tabarru dengan ketentuan peserta tidak menerima pembayaran atau sedang mengajukan
klaim atas polis, peserta tidak membatalkan perjanjian dan terdapat surplus dana tabarru diakhir
manfaat takaful.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis berpendapat bahwa akad tabarru, pada asuransi
syariah terjadi antara perusahaan dengan individu/lembaga/perusahaan lain, baik berkedudukan
sebagai peserta maupun mitra kerja terikat dalam akad tabarru lending yourself, sedangkan
hubungan antara peserta asuransi syariah dalam akad tabarru giving something yaitu dengan
adanya unsur tabarru yang tertuang dalam polis asuransi syariah berupa kontribusi premi tabarru
yang diambilkan dari setiap premi yang disetorkan. Premi tabarru dari setiap peserta ini akan
dikumpulkan dalam rekening khusus tabarru untuk tujuan tolong menolong diantara sesama
peserta, yang nantinya akan digunakan sebagai santunan kebajikan apabila terjadi klaim dari salah
seorang peserta. Premi tabarru ini merupakan kewajiban bagi peserta untuk tujuan tolong
menolong dan saling menanggung risiko (sharing risk) apabila salah seorang dari peserta
mengalami musibah yang tertuang dalam perjanjian, sedangkan hak bagi setiap peserta adalah
menerima santunan kebajikan yang berasal dari kumpulan dana tabarru dalam rekening tabarru
apabila mengalami musibah yang diperjanjikan. Hasil investasi dana tabarru pada perusahaan
asuransi jiwa/asuransi keluarga menggunakan opsi keuntungan hasil dana tabarru akan kembali
dalam akun tabarru (tabarru back to tabarru) yaitu diperlakukan seluruhnya sebagai dana
cadangan dalam akun tabarru, sebagaimana ditentukan dalam Fatwa DSN-MUI No. 53/DSNMUI/III/2006 tentang tabarru pada asuransi syariah, untuk digunakan sebagai santunan kebajikan
dan pembayaran klaim, sedangkan asuransi umum/kerugian terkait dengan hasil investasi dana
tabarru menggunakan opsi yang kedua dari fatwa tersebut yaitu pengembalikan surplus dana
tabarru kepada peserta yang memenuhi syarat aktuaria dan sebagian digunakan sebagai cadangan
dana tabarru.

4.4

AKAD MUDHARABAH
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa akad dalam asuransi syariah bersifat

takafuli (tolong menolong), yang didalamnya mengandung unsur tabarru dan mudharabah.
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 58

Asuransi Syariah
Mudharabah merupakan hubungan kontrak investasi para pemilik modal yaitu penyedia dana
(shahibul maal/investor) dengan pengelola (mudharib), investor mempercayakan modalnya kepada
pengelola untuk digunakan dalam aktivitas perdagangan dalam jangka waktu yang disepakati.
Mudharib dalam hal ini memberikan konstribusi pekerjaan, waktu, dan mengelola usahanya
sesuai dengan ketentuan yang disepakati dalam kontrak. Salah satunya adalah untuk mencapai
keuntungan (profit) yang nantinya akan dibagi antara investor dengan pengelola berdasarkan
proporsi yang disetujui bersama (nisbah). Jika terdapat kerugian karena risiko bisnis (bussiness
risk) dan bukan kelalaian mudharib (character risk), maka kerugian ditanggung oleh shahibul maal
(penyedia modal). Akad mudharabah ini dapat menggunakan prinsip profit and loss sharing
ataupun revenue sharing, dimana bagi hasil ini ditentukan berdasarkan ratio perhitungan bagi hasil
yang telah ditentukan dalam perjanjian. Ratio ini dikenal sebagai nisbah bagi hasil. Besarnya nisbah
bagi hasil ini untuk setiap perusahaan asuransi syariah mempunyai kebijakan tersendiri dan terkait
dengan produk asuransi syariah dalam perusahaan tersebut. Hasil investasi ini akan ditambahkan
pada dana peserta untukdigunakan sebagai biaya klaim, simpanan (dana cadangan), biaya
reasuransi, biaya operasional dan jika terjadi surplus maka akan dibagikan sesuai dengan nisbah
bagi hasil tadi, namun jika mengalami kerugian maka akan diambilkan dari rekening perusahaan
dan bagian peserta tetap dibagikan.
Mekanisme akad mudharabah bermula dari seorang participant (peserta) memberikan
kontribusinya berupa premi kepada perusahaan asuransi dan dimasukkan ke dalam rekening khusus
yaitu takaful account untuk kemudian dana tersebut diinvestasikan melalui lembaga investasi
syariah, hasil investasi ini akan dimasukkan ke dalam takaful account yang akan digunakan dan
apabila takaful account terdapat surplus setelah dikurangi dengan reasuransi, pembayaran klaim dan
operational maka surplus tersebut akan dibagikan kepada peserta dan perusahaan dengan
menggunakan nisbah bagi hasil yang telah ditentukan dan apabila takaful account mengalami defisit
maka akan dilakukan qard hasan oleh perusahaan dengan mengambil dana cadangan dari rekening
perusahaan, sedangkan pembayaran klaim seorang participant diambilkan dari takaful account.
Akad mudharabah dalam asuransi syariah mendudukkan peserta sebagai shahibul maal
(pemilik modal) dan perusahaan bertindak sebagai mudharib (pengelola), yaitu peserta
mempercayakan dananya untuk dikelola. Modal yang dimaksud adalah premi dari peserta yang
dibayarkan kepada perusahaan dimana perusahaan, sebagai pemegang amanah terhadap modal yang
diterimanya dari shahibul maal, akan mengelola atau menginvestasikan dana tersebut melalui
investasi yang sesuai dengan ketentuan syariah sebagaimana telah ditentukan dalam Kep. DJLK No.
Kep. 4499/LK/2000 tentang Jenis, Penilaian, dan Pembatasan Investasi Perusahaan Asuransi dan
Perusahaan Reasuransi dengan Prinsip Syariah, terhadap hasil investasi ini apabila mengalami

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 59

Asuransi Syariah
keuntungan akan dibagikan kepada peserta dan perusahaan sesuai dengan nisbah yang disepakati
dalam perjanjian, misalnya 70:30, atau 60:40, atau 50:50.
Adapun mudharabah menurut pengertian peserta asuransi syariah pada perusahaan asuransi
dengan prinsip syariah adalah:
a.

Bagi hasil dari hasil pengelolaan premi yang besarnya bagian masing-masing telah ditentukan
oleh perusahaan asuransi syariah;

b.

Mudharabah merupakan bagi hasil dari pengelolaan dana peserta (premi), khususnya premi
tabungan dengan menggunakan presentase yang besarnya ditentukan oleh perusahaan;

c.

Hak peserta mendapatkan bagian hasil investasi berdasarkan presentase yang ditentukan
perusahaan;

d.

Keuntungan yang diperoleh dari hasil pengelolaan premi sesuai besarnya presentase bagi hasil
yang ditentukan perusahaan;

e.

Bagi hasil dari pengelolaan dana peserta yang nantinya merupakan suatu keuntungan yang akan
diterima peserta;

f.

Mudharabah merupakan bagi hasil investasi dari hasil pengelolaan dana peserta (premi) yang
terkumpul dengan menggunakan nisbah bagi hasil, 30% untuk perusahaan dan 70% untuk
peserta.

4.5

AKAD WAKALAH/AKAD WAKALAH BIL UJRAH


Wakalah atau Wakilah berarti penyerahan, pendelegasian atau pemberian mandat dengan

menunjuk seseorang mewakilinya dalam hal melakukan sesuatu secara sukarela atau dengan
memberikan imbalan berupa upah (ujrah). Wakalah merupakan perjanjian mengenai pelimpahan,
pendelegasian wewenang atau kuasa dari pihak pertama kepada pihak kedua untuk melaksanakan
sesuatu sebatas atas nama pihak pertama, untuk kepentingan dan tanggung jawab sepenuhnya oleh
pihak pertama. Akad wakalah/wakalah bil ujrah ini dapat terjadi antara perusahaan asuransi syariah
dengan peserta, perusahaan asuransi dengan marketing/agen, ataupun perusahaan asuransi dengan
perusahaan reasuransi.
Akad wakalah merupakan perjanjian pendelegasian dan penunjukkan seseorang dalam hal
ini agen untuk mewakili badan/perusahaan dalam hal mensosialisasikan, memasarkan dan menjual
produk asuransi syariah. Akad wakalah bil ujrah merupakan perjanjian antara perusahaan asuransi
syariah dengan pihak lain, dimana salah satu pihak memberikan amanah dan pihak lain menerima
amanah untuk melakukan suatu perbuatan yang telah ditentukan dengan memberikan ujrah atas jasa
yang telah dilakukan. Akad wakalah/wakalah bil ujrah ini merupakan jenis akad yang bersifat
tabarru yaitu untuk saling tolong menolong dalam hal ini lending yourself dimana perusahaan
maupun mitra kerjanya meminjamkan/memberikan jasa kepada pihak lain dalam hal pengelolaan
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 60

Asuransi Syariah
dana melalui investasi syariah sekaligus asuransi syariah. Dengan demikian, penulis setuju bahwa
asuransi syariah merupakan taawun dan istimar minded sehingga asuransi ini berbeda dengan
asuransi konvensional.
Tidak setiap responden paham akan akad wakalah/wakalah bil ujrah ini, karena menurut
mereka perjanjian asuransi syariah yaitu polis asuransi syariah mengandung prinsip tabarru dan
mudharabah yang merupakan salah satu dari hak dan kewajiban setiap peserta. Namun demikian,
menurut peserta asuransi syariah akad wakalah/wakalah bil ujrah ini mengandung pengertian
sebagai berikut:
a.

Setiap peserta memberikan amanah kepada perusahaan untuk mengelola dananya berupa premi
yang disetor secara syariah dan memberikan perlindungan terhadap dirinya apabila mengalami
musibah yang diperjanjikan dengan memberikan fee kepada perusahaan;

b.

Dalam akad wakalah perusahaan merupakan wakil dari peserta berdasarkan amanah yang telah
diberikan olehnya untuk mengelola premi sesuai ketentuan syariah, selain itu perusahaan
memberikan kuasa kepada agen untuk melakukan fungsi marketing dan field underwriting.
Berdasarkan keterangan responden tersebut, penulis berpendapat bahwa tidak setiap

masyarakat mengenal akad wakalah/wakalah bil ujrah karena asuransi syariah identik dengan akad
tabarru dan akad mudharabah, sedangkan bagi sebagian orang akad wakalah/wakalah bil ujrah
diasumsikan bahwa perusahaan sebagai wakil peserta asuransi syariah dalam hal pengelolaan dana
(premi) berdasarkan amanah yang diberikan pesertanya dan peserta memberikan fee (ujrah) kepada
perusahaan atas jasa yang telah diberikan. Akad wakalah ini juga berlaku dalam operasional
perusahaan yaitu marketing dan field underwriting.
Mekanisme akad wakalah secara sederhana dalam praktik asuransi syariah antara
perusahaan asuransi syariah dengan peserta asuransi syariah adalah peserta memberikan
kontribusi/fee kepada perusahaan untuk kemudian apabila perusahaan menerima fee maka fee yang
diterima akan masuk dalam rekening perusahaan yang dipisahkan dari rekening konstribusi,
sedangkan kontribusi tersebut akan dikelola sehingga menghasilkan keuntungan yang mana
kontribusi dan keuntungan ini akan dimasukkan dalam rekening tertentu dan setelah dikurang
dengan biaya-biaya apabila terdapat surplus maka surplus ini akan dibagikan kepada peserta.
Akad wakalah bil ujrah ini menggunakan Fatwa DSN-MUI No. 52/DSN-MUI/III/2006
tentang Wakalah bil Ujrah pada Asuransi Syariah sebagai pedoman operasional. Ketentuan akad
wakalah bil ujrah dalam Fatwa DSN-MUI No.52/DSN-MUI/III/2006 adalah sebagai berikut:
a.

Obyek akad wakalah bil ujrah antara lain meliputi kegiatan administrasi, pengelolaan dana,
pembataran klaim, underwriting, pengelolaan portofolio risiko, pemasaran, dan investasi;

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 61

Asuransi Syariah
b.

Akad wakalah bil ujrah sekurang-kurangnya harus menyebutkan mengenai hak dan kewajiban
peserta dan perusahaan asuransi; besaran, cara, dan waktu pemotongan ujrah fee atas premi;
syarat-syarat lain yang disepakati, sesuai dengan jenis asuransi yang diakadkan;

c.

Perusahaan asuransi bertindak sebagai wakil (yang mendapat kuasa) tidak boleh mewakilkan
kepada pihak lain atas kuasa yang diterimanya, kecuali mendapatkan ijin dari peserta dan
selaku pemegang amanah wajib menginvestasikan dana yang terkumpul melalui investasi
sesuai syariah.
Akad wakalah bil ujrah ini juga digunakan dalam hubungan kerjasama antara perusahaan

dengan peserta asuransi syariah. Adapun konsep dasar akad wakalah bil ujrah antara perusahaan
asuransi dengan peserta dalam asuransi syariah:
a.

Wakalah bil ujrah adalah akad pemberian kuasa kepada perusahaan asuransi (takaful) untuk
mengelola dana peserta dan/atau melakukan kegiatan lain dengan imbalan pemberian ujrah
(fee);

b.

Peserta bertindak sebagai pemberi kuasa pada perusahaan untuk mengelola dananya berupa
premi yang telah disetorkan menjadi dana investasi dan/atau dana tabarru (kebajikan);

c.

Premi/kontribusi yang dibayar peserta asuransi tidak serta merta menjadi pendapatan
perusahaan asuransi tetapi milik peserta asuransi secara kolektif setelah dikurangi fee
pengelolaan untuk perusahaan asuransi;

d.

Premi tersebut diakumulasikan untuk membagi risiko yang timbul diantara peserta asuransi
(tabarru fund);

e.

Premi/kontribusi yang dibayarkan peserta memiliki komposisi dana tabarru dan ujrah yang
besarnya sebagaimana tercantum dalam polis;

f.

Peranan perusahaan asuransi terbatas pada peran underwriter, collector dan claim payer and
fund manager dengan kompensasi perlindungan (manfaat takaful) bagi peserta;

g.

Sumber pendapatan perusahaan asuransi berasal dari fee pengelolaan dan bagi hasil investasi;

h.

Setiap surplus operasi atau deficit operasi merupakan tanggung jawab peserta asuransi secara
kolektif.
Selain itu, akad wakalah/wakalah bil ujrah digunakan oleh perusahaan dalam menjalankan

kegiatan usahanya, dengan mendelegasikan kepada lembaga perbankan/institusi lain dalam hal
kemudahan pelayanan maupun kepada agen/pemasar untuk melaksanakan fungsi marketing.
Kerjasama antara perusahaan dengan agen/financial consultant ini bersifat kemitraan. Meskipun
marketing berkedudukan sebagai mitra perusahaan untuk melaksanakan dinas luar, agen/pemasar
dalam kegiatan marketing berfungsi sebagai duta perusahaan, menjual produk asuransi syariah dan
financial advisor calon peserta. Kerjasama ini tertuang dalam perjanjian kerja keagenan/, dan dalam
perjanjian ini mengunakan prinsip wakalah. Ini berarti pemasaran (marketing) merupakan
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 62

Asuransi Syariah
manifestasi bentuk akad wakalah dalam asuransi syariah. Persyaratan yang harus dipenuhi dalam
akad wakalah dalam hal pemasaran (marketing) adalah:
a.

Pokok dari perjanjian dengan agen adalah proposal dan penerimaan dari posisi tersebut.

b.

Adalah sebuah syarat dimana seseorang yang telah ditunjuk sebagai seorang agen harus
kompeten dalam melakukan pekerjaannya.

c.

Seseorang dapat menunjuk seorang agen untuk mengerjakan semua transaksi bisnis yang dapat
dilakukannya sendiri.

d.

Seorang agen adalah pemelihara dari kekayaan prinsipalnya dan dalam posisi sebagai wakil.

e.

Seorang agen akan menerima upah selama ia dikontrak.


Marketing/agen merupakan penghubung antara perusahaan dengan peserta dan bekerja

untuk perusahaan berdasarkan perjanjian keagenan dengan prinsip wakalah sebagai mitra usaha,
serta bekerja sebagai financial consultant bagi peserta berdasarkan pendelegasian tugas yang
diterimanya dari perusahaan. Kontrak keagenan ini menggunakan prinsip wakalah, dimana seorang
agen/pemasar sebagai wakil perusahaan dan diberi wewenang untuk melakukan kegiatan/transaksi
atas nama perusahaan asuransi syariah baik sosialisasi, produksi maupun pasca produksi dan
menerima fee/ujrah sebagai haknya yang diberikan perusahaan. PT. Asei Reasuransi Indonesia
(Persero)/unit Syariah menggunakan akad wakalah ini dalam hal perjanjian keagenan.
Akad wakalah bil ujrah ini dinyatakan secara tegas dalam polis asuransi yang dikeluarkan
oleh PT. Asei Reasuransi Indoneisa (Persero)/unit Syariah yaitu bahwa akad yang diberlakukan
dalam polis adalah akad wakalah bil ujrah. Adapun ketentuan akad wakalah bil ujrah tersebut
adalah:
a.

Wakalah bil ujrah adalah akad pemberian kuasa dari peserta kepada perusahaan asuransi
(takaful) untuk mengelola dana peserta dan/atau melakukan kegiatan lain dengan imbalan
pemberian ujrah (fee);

b.

Pengelola takaful menerima akad wakalah bil ujrah dari peserta sebagaimana tercantum dalam
polis;

c.

Dalam akad wakalah bil ujrah ini, kontribusi yang dibayarkan oleh peserta memiliki komposisi
dana tabarru dan ujrah yang besarnya sebagaimana tercantum dalam Ikhtisar Polis;

d.

Pengelola takaful menerima wewenang penuh dari peserta untuk melakukan kegiatan
pengelolaan atas risiko dan dana tabarru;

e.

Dalam hal terjadi defisit dana tabarru, maka Takaful memberikan Al-Qardh Al-Hasan;

f.

Apabila pada akhir periode polis terdapat hasil positif yang diperoleh dari surplus dana
tabarru ditambah hasil investasi dana tabarru dikurangi dana cadangan teknis akan
dialokasikan kepada peserta sebagai pengembalian surplus tabarru dan pengelola Takaful
dengan proporsi sebagaimana tercantum pada ikhtisar polis dengan ketentuan:

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 63

Asuransi Syariah
1) Peserta tidak pernah menerima pembayaran klaim atau tidak sedang mengajukan klaim;
2) Peserta tidak membatalkan perjanjian/polis;
3) Terdapat surplus dana tabarru diakhir manfaat takaful.
Perhitungan pengembalian surplus peserta berdasarkan rumus:
Keterangan:
a.

Presentase pengembalian surplus tabarru (per tahun)

b.

Jumlah hari lunas: jumlah hari dihitung mulai dari tanggal pelunasan sampai dengan tanggal
akhir periode asuransi

c.

365 digunakan jika periode polis satu tahun atau kurang dari satu tahun

d.

Jangka waktu manfaat takaful digunakan jika periode polis lebih dari satu tahun
Semua obyek pertanggungan (manfaat takaful) yang berlaku dalam takaful ini harus sesuai

dengan Prinsip syariah Islam. Pengelola Takaful akan mengembalikan kontribusi sejak awal
manfaat takaful secara proporsional dengan obyek manfaat takafulyang diperkenankan diterima di
takaful. Apabila terdapat obyek manfaat takaful yang tidak sesuai dengan prinsip syariah yang
secara sengaja disembunyikan oleh peserta pada saat penutupan atau diketahui oleh peserta pada
periode manfaat takaful dan tidak disampaikan kepada pengelola takaful, maka pengelola takaful
tidak wajib untuk membayar klaim terhadap obyek manfaat takaful tersebut.
Akad wakalah/wakalah bil ujrah antara perusahaan asuransi syariah dengan mitra usahanya
dilakukan untuk menunjang kegiatan operasional perusahaan asuransi syariah khususnya dalam hal
pemasaran dengan pemberian kuasa dan menunjuk peserorangan/lembaga perbankan/institusi lain
untuk sebagai wakil dari perusahaan dan diberi amanah untuk memberikan pelayanan dalam hal
asuransi syariah. Akad wakalah bil ujrah terjadi antara peserta dengan perusahaan asuransi syariah
melalui polis asuransi dimana peserta memberikan kuasa/amanah kepada perusahaan untuk
mengelola dananya berupa premi yang disetor dan perusahaan berhak untuk menerima fee (ujrah)
atas jasa pengelolaan tersebut dan apabila terdapat surplus dalam pengelolan maka surplus akan
dibagikan berdasarkan ketentuan yang terdapat dalam perjanjian.

4.6

AKAD MUSYARAKAH
Musyarakah (joint-venture/syirkah) merupakan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih

untuk suatu usaha tertentu di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana atau keahlian
dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan
kesepakatan.
Akad musyarakah ini kedua pihak menjadi pemilik modal dan pengelola dan terjadi
percampuran modal di dalamnya, modal ini dapat berupa modal finansial, modal non finansial
(keahlian/ketrampilan, kewirausahaan, barang perdagangan, kepercayaan/reputasi, dan lain-lain)
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 64

Asuransi Syariah
maupun percampuran antara modal finansial dengan non finansial dari para pihak yang berserikat.
Apabila dalam kerjasama ini terdapat keuntungan maka pembagian keuntungan didasarkan pada
nisbah bagi hasil yang telah disepakati oleh para pihak yang berserikat, dan apabila terjadi kerugian
maka pembagiannya didasarkan menurut porsi modal masing-masing pihak yang berserikat.
Bentuk kerjasama dalam asuransi syariah merupakan bentuk kerjasama yang dilandasi oleh
prinsip musyarakah, dimana terdapat pihak yang mempunyai modal berupa dana dan ada pihak lain
yang tenaga, skill, serta profesionalisme. Perjanjian takaful ini merupakan perjanjian kerjasama
mutual yang mana pertimbangan dibutuhkan tidak hanya dari satu pihak tetapi kedua pihak,
sehingga pengelola juga secara sama terikat dengan perjanjian tadi dan dalam ganti rugi maupun
keuntungan.
Akad

musyarakah

dalam

asuransi

syariah

ini

dapat

terjadi

antara

peserta

(individu/sekelompok) sebagai pemilik modal finansial dengan perusahaan asuransi syariah sebagai
pemilik modal non finansial dan bertanggung jawab dalam hal pengelolaan dana. Perjanjian
kerjasama dengan prinsip musyarakah ini dapat terjadi antara lembaga/perusahaan lain baik
lembaga keuangan maupun lembaga non keuangan dengan perusahaan asuransi ataupun antar
perusahaan asuransi (coinsurance), dimana perusahaan tersebut saling menanggung risiko (risk
sharing) dan perusahaan asuransi memberikan manfaat asuransi berupa perlindungan. Kerjasama
antara perusahaan asuransi dalam coinsurance ini dilatarbelakangi apabila salah satu perusahaan
asuransi tersebut dalam memberikan perlindungan dengan manfaat asuransi yang melebihi dari
retensi perusahaan tetapi tidak berkenan menggunakan reasuransi, sehingga untuk dapat
menanggung risiko (berkaitan dengan klaim) tersebut bekerjasama dengan perusahaan asuransi lain.
Kerjasama saling menanggung risiko (risk sharing) antar perusahaan asuransi apabila terjadi klaim
ini mempunyai presentase pembagian yang sudah diperjanjikan dan diatur secara nasional melalui
lembaga asosiasi perasuransian.

4.7

AKAD MUDHARABAH MUSYTARAKAH


Akad mudharabah musytarakah ini merupakan perpaduan antara akad mudharabah dengan

musyarakah, dimana pengelola (mudharib) menyertakan modal atau dananya dalam kerjasama
investasi. Pedoman mengenai akad ini dalam asuransi syariah berdasarkan Fatwa DSN-MUI No.
51/DSN-MUI/III/2006 tentang akad mudharabah musytarakah pada asuransi syariah.
Akad ini boleh dilakukan oleh perusahaan asuransi syariah karena merupakan bagian dari
hukum mudharabah dan dapat diterapkan pada produk asuransi yang mengandung unsur tabungan
(saving) maupun yang tidak ada unsur tabungan (non saving). Perusahaan asuransi dalam akad ini
berkedudukan sebagai pengelola (mudharib) dan pemberi dana (musytarik) bersama-sama dengan
peserta. Dana perusahaan dan dana peserta ini akan diinvestasikan secara bersama-sama dalam
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 65

Asuransi Syariah
portofolio dan hasil investasi ini akan dibagi antara perusahaan dengan peserta melalui salah satu
alternatif cara pembagian, sebagaimana yang ditentukan dalam Fatwa DSN-MUI No. 51/DSNMUI/III/2006 tentang akad mudharabah musytarakah pada asuransi syariah, yaitu:
a.

Alternatif pertama pembagian hasil investasi, yaitu:


1) Hasil investasi dibagi antara perusahaan asuransi (sebagai mudharib) dengan peserta
(sebagai shahibul mal) sesuai dengan nisbah bagi hasil;
2) Bagian hasil investasi sesudah disisihkan untuk perusahaan asuransi (sebagai mudharib)
dibagi antara perusahaan asuransi (sebagai musytarik) dengan para peserta sesuai dengan
porsi modal atau dana masing-masing.

b.

Alternatif kedua pembagian hasil investasi, yaitu:


1) Hasil investasi dibagi secara proporsional antara perusahaan asuransi (sebagai musytarik)
dengan peserta berdasarkan porsi modal atau dana masing-masing;
2) Bagian investasi sesudah disisihkan untuk perusahaan asuransi sebagai musytarik dibagi
antara perusahaan asuransi sebagai mudharib dengan peserta sesuai dengan nisbah yang
disepakati.
Berdasarkan fatwa tersebut, apabila dalam investasi tersebut mengalami kerugian, maka

perusahaan asuransi sebagai musytarik menanggung kerugian sesuai dengan porsi modal atau dana
yang disertakan.

PERTEMUAN KE 5
SISTEM INVESTASI PADA ASURANSI SYARIAH
Di dalam operasional asuransi syariah yang sebenarnya terjadi adalah saling bertanggung
jawab, bantu-membantu dan melindungi di antara para peserta sendiri. Perusahaan asuransi diberi
kepercayaan (amanah) oleh para peserta untuk mengelola premi, mengembangkan dengan jalan
yang halal, memberikan santunan kepada yang mengalami musibah sesuai isi akta perjanjian
tersebut.
Keuntungan perusahaan asuransi syariah diperoleh dari bagian keuntungan dana dari para
peserta, yang dikembangkan dengan prinsip mudharabah (sistem bagi hasil). Para peserta asuransi
syariah berkedudukan sebagai pemilik modal dan perusahaan asuransi syariah berfungsi sebagai
yang menjalankan modal. Keuntungan yang diperoleh dari pengembangan dana itu dibagi antara
para peserta dan perusahaan sesuai ketentuan yang telah disepakati.
Mekanisme pengelolaan dana peserta (premi) terbagi dua sistem yaitu:
a.

Sistem yang mengandung unsur tabungan;

b.

Sistem yang tidak mengandung unsur tabungan.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 66

Asuransi Syariah
5.1

SISTEM YANG MENGANDUNG UNSUR TABUNGAN


Setiap peserta wajib membayar sejumlah uang secara teratur kepada perusahaan. Besar

premi yang akan dibayarkan tergantung kepada kemampuan peserta. Akan tetapi, perusahaan
menetapkan jumlah minimum premi yang dapat dibayarkan. Setiap peserta dapat membayar premi
tersebut, melalui rekening koran, giro atau membayar langsung. Peserta dapat memilih cara
pembayaran, baik tiap bulan, kuartal, semester maupun tahunan.
Setiap premi yang dibayar oleh peserta akan dipisah oleh perusahaan asuransi dalam dua
rekening yang berbeda, yaitu:
a.

Rekening Tabungan, yaitu kumpulan dana yang merupakan milik peserta, yang dibayarkan
bila:
1) Perjanjian berakhir;
2) Peserta mengundurkan diri;
3) Peserta meninggal dunia.

b.

Rekening Tabarru, yaitu kumpulan dana yang diniatkan oleh peserta sebagai iuran kebajikan
untuk tujuan saling tolong-menolong dan saling membantu, yang dibayarkan bila:
1) Peserta meninggal dunia;
2) Perjanjian telah berakhir (jika ada surplus dana).
Kumpulan dana peserta ini akan diinvestasikan sesuai dengan syariah Islam. Tiap

keuntungan dari hasil investasi, setelah dikurangi dengan beban asuransi (klaim dan premi reasuransi), akan dibagi menurut prinsip Al-Mudharabah. Presentase pembagian mudharabah (bagi
hasil) dibuat dalam suatu perbandingan tetap berdasarkan perjanjian kerjasama antara perusahaan
dengan peserta.

5.2

SISTEM YANG TIDAK MENGANDUNG UNSUR TABUNGAN


Setiap premi yang dibayar oleh peserta, akan dimasukkan dalam Rekening Tabarru, yaitu

kumpulan dana yang diniatkan oleh peserta sebagai iuran kebajikan untuk tujuan saling tolongmenolong dan saling membantu, dan dibayarkan bila:

Peserta meninggal dunia

Perjanjian telah berakhir (jika ada surplus dana)


Kumpulan dana peserta ini akan diinvestasikan sesuai dengan syariah Islam. Keuntungan

dari hasil investasi setelah dikurangi dengan beban asuransi (klaim dan premi re-asuransi), akan
dibagi antara peserta dan perusahaan menurut prinsip Al-Mudharabah dalam suatu perbandingan
tetap berdasarkan perjanjian kerjasama antara perusahaan dengan peserta.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 67

Asuransi Syariah
5.3

INVESTASI SYARIAH

5.3.1 PENGERTIAN INVESTASI SYARIAH


Pengertian Investasi Secara umum Suatu kegiatan penempatan dana pada satu atau lebih dari
satu jenis asset selama periode tertentu dengan harapan dapat memperoleh penghasilan dan atau
peningkatan nilai investasi.
Definisi Syariah di tinjau dari sudut etimologi (Bahasa), Syariah bermakna jalan yang lurus.
Sedangkan makna terminology (definisi), Syariah adalah undang-undang atau peraturan-peraturan
yang mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta (ALLAH SWT), serta hubungan antara
manusia dengan manusia.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Investasi Syariah adalah Kegiatan Penempatan dana pada
satu atau lebih jenis asset yang terhindar dari sifat Maysir (QS Al Maidah (5): 90), Gharar, dan
Riba (QS Al Baqarah (2): 275) serta peraturan-peraturan lain yang telah ditetapkan oleh Fiqih
Islam tentang muamalah.
Investasi Syariah, sebuah investasi berbasis syariah yang menggunakan instrumen Islam
dalam pelaksanaannya. Investasi semacam ini sudah sangat menjamur di masyarakat. Dimulai
dengan bank konvensional yang sekarang mempunyai layanan syariah juga. Hal ini juga
dipengaruhi oleh masyarakat kita yang di dominasi oleh muslim sehingga pelayanan perbankan pun
mulai dirubah sesuai dengan syariah dan tuntunan Islam.
Investasi syariah yang paling sederhana bisa di mulai dari menabung atau deposito pada
bank syariah, tentu saja dengan perjanjian/ akad yang berbeda dengan bank konvensional lazimnya.
Jika dalam bank konvensional kita mengenal kata suku bunga, maka dalam bank syariah hal itu
diharamkan, sehingga yang ada adalah sistem bagi hasil. Jadi besarannya tidak dapat ditentukan
akan terus menerus dengan jumlah yang sama.

5.3.2 DALIL YANG MELANDASI INVESTASI SYARIAH


a. Al-Baqarah (2): 275.
Artinya:
Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang
kemasukan syaitan karena gila. Yang demikian itu, karena mereka berkata bahwa jual beli itu
sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Barangsiapa yang mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti (dari mengambil riba),
maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya, dan urusannya (terserah) kepada
Allah. Barangsiapa mengulangi (mengambil riba), maka mereka itu adalah penghuni neraka,
mereka kekal di dalamnya.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 68

Asuransi Syariah
b.

Al-Maidah (5): 90
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk)
berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan
syaitan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.

c.

An-Nisa (4): 29
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan
yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara
kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang
kepadamu.

5.3.3 BENTUK-BENTUK INVESTASI


Ada dua macam bentuk investasi yang dapat anda pilih sesuai dengan perhitungan dan
kemampuan anda dalam menempatkan dana investasi diantaranya sebagai berikut:
a.

Investasi pada aktiva riil


Yaitu investasi dalam bentuk yang dapat dilihat secara fisik. Seperti logam mulia (emas dan
perak), batu mulia (permata, intan, giok, dan berlian), property (real estate, rumah, tanah, toko,
dan lain-lain).

b.

Investasi pada Aktiva Financial


Yaitu investasi dalam bentuk yang biasanya diwakilkan dalam surat-surat berharga, seperti
deposito, sukuk, dan lain-lain.
Dan ada 2 cara dalam berinvestasi pada aktiva financial:
1) Investasi secara langsung
Dengan memiliki surat berharga tersebut maka pemilik surat tersebut dapat menentukan
kebijaksanaan yang juga berpengaruh pada investasi surat berharga yang dimilikinya.
Contohnya: Saham.
2) Investasi secara tidak langsung
Pengelolaan surat berharga tersebut diwakilkan oleh suatu badan atau lembaga yang
mengolah investasi para pemegang surat berharganya untuk sedapat mungkin
menghasilkan keuntungan yang memuaskan para pemegang surat berharga. Contohnya:
Reksadana

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 69

Asuransi Syariah
5.3.4 PRINSIP-PRINSIP DALAM INVESTASI SYARIAH
Beberapa prinsip yang harus perhatikan dalam investasi menurut Islam:

5.3.4.1 HALAL
Suatu bentuk investasi harus terhindar dari bidang bisnis yang syubhat atau haram.
Kehalalan juga menyangkut pada penggunaan barang atau jasa yang ditransaksikan. Contoh industri
yang dikategorikan haram adalah: industri alkohol, industri pornografi, jasa keuangan ribawi, judi,
dll.
Prosedur juga harus terhindar dari hal-hal yang syubhat atau haram tersebut. Selain itu,
kehalalan juga meliputi niat seseorang saat bertransaksi dan selama prosedur pelaksanaan transaksi.
Kehalalan juga ternyata terkait dengan niat atau motivasi. Motivasi yang halal ialah transaksi yang
berorientasi kepada hasil yang dapat memberikan manfaat kepada pihak-pihak yang terlibat di
dalamnya.

5.3.4.2 MASLAHAH
Maslahah (manfaat) merupakan hal yang paling esensial dalam semua tindakan muamalah.
Para pihak yang terlibat dalam investasi, masing-masing harus dapat memperoleh manfaat sesuai
dengan porsinya. Misalnya, manfaat yang timbul harus dirasakan oleh pihak yang bertransaksi dan
harus dapat dirasakan oleh masyarakat pada umumnya.
Manfaat-manfaat investasi itu antara lain:
a.

Manfaat bagi yang menginvestasikan Mendapatkan bagi hasil sesuai dengan besar investasi
yang ditanamkan dan sesuai dengan akad awal menurut prinsip syariah.

b.

Manfaat bagi yang mendapat tambahan investasi

c.

Mendapatkan tambahan modal sehingga memiliki kemampuan untuk meneruskan usahanya.

d.

Untuk melindungi perusahaan dalam lilitan hutang karena tidak mampu mengembalikan modal
yang diterima dan tidak mampu memberikan manfaat bagi investor, maka diatur secara syariah
oleh DSN (Dewan Syariah Nasional) bahwa perusahaan yang memenuhi syarat untuk dijadikan
lahan investasi adalah perusahaan yang:
1) Mendapatkan dana pembiayaan atau sumber dana dari hutang tidak lebih dari 30% dari
rasio modalnya.
2) Pendapatan bunga yang diperoleh perusahaan tidak lebih dari 15%.
3) Memiliki aktiva kas atau piutang yang totalnya tidak lebih dari 50%
Sesuai dengan peringatan Allah dalam firmannya QS. Al-Baqarah:280 bahwa: Orang yang

berhutang tidak pernah tenang dalam tidurnya, maka dengan fatwa yang ditetapkan oleh DSN
tersebut diharapkan perusahaan debitur dapat mengembalikan investasi sesuai dengan perjanjian
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 70

Asuransi Syariah
yang dilakukan. QS Al-Maidah:1 bahwa: Hai orang-orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu
.....

Manfaat Bagi Masyarakat Secara Luas


Besarnya investasi yang ditanamkan dalam berbagai bidang haruslah memberi manfaat bagi
masyarakat. Investasi bisa digunakan untuk penelitian dan pengembangan supaya bisa
meningkatkan produk-produk baru atau meningkatkan kualitas produksi, selain itu investasi juga
dapat bermanfaat dalam mengurangi harga barang sehingga pada akhirnya menguntungkan
pelanggan.
Dengan investasi juga menggairahkan sektor industri sehingga mampu mengurangi jumlah
pengangguran. Maka, sesuai dengan tafsir Al-Misbah, bahwa pada akhirnya harta yang dimiliki
individu memiliki fungsi sosial.
Selain memperhatikan faktor kehalalan dan kemaslahatan, investasi harus terhindar dari
praktek sistem riba, gharar, maysir (spekulasi).
a.

Transaksi dalam investasi yang dilakukan harus terbebas dari riba (bunga). Karena itu inevstasi
kepada perusahaan yang menjalankan sistem riba seperti perbankan, asuransi, pegadaian, dsb,
adalah dilarang. Membeli saham bank konvensional juga adalah terlarang karena mengandung
riba yang diharamkan.

b.

Setiap transaksi harus bebas dari gharar, yaitu penipuan dan ketidak-jelasan. Dengah demikian,
transaksi bisnis harus transparan, tidak menimbulkan kerugian atau unsur penipuan disalah satu
pihak baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Gharar dapat pula diartikan sebegai bentuk
jual beli saham dimana penjual belum membeli (memiliki) sahamnya tetapi telah dijual kepada
pihak lain. Karena itu, Islam melarang praktek margin trading, short selling, insider trading,
Demikian pula najasy (rumor) untuk mengelabui investor.

c.

Setiap transaksi harus terbebas dari kegiatan maysir (spekulasi). Maysir dalam konteks ini
bukanlah hanya perjudian biasa, tetapi adalah segala bentuk spekulasi di pasar uang atau pasar
modal. Islam melarang spekulasi uang, karena menurut Islam uang bukan komoditas. Karena
itu Islam melarang spekulasi valuta asing. Uang adalah alat pertukaran yang menggambarkan
daya beli suatu barang atau harta. Sedangkan manfaat atau keuntungan yang ditimbulkannya
berdasarkan atas aktivitas riil, seperti penjualan harta (bay) atau pemakaian barang (ijarah).

d.

Risiko yang mungkin timbul harus dikelola sehingga tidak menimbulkan risiko yang besar atau
melebihi kemampuan menanggung risiko (maysir). Untuk itu diperlukan ilmu manajemen
resiko. Ini adalah aplikasi konsep fath zariah dalam ilmu ushul fiqh. Dalam Islam setiap
transaksi yang mengharapkan hasil harus bersedia menanggung risiko sesuai kaedah Al-Kharaj
bidh Dhaman dan Al-Ghurm bil ghurmi.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 71

Asuransi Syariah
e.

Manajemen yang diterapkan manajemen Islami yang tidak mengandung unsur spekulatif dan
menghormati hak asasi manusia serta menjaga lestarinya lingkungan hidup.

5.3.5 INSTRUMEN ATAU PRODUK INVESTASI SYARIAH


5.3.5.1 SAHAM SYARIAH
Saham syariah merupakan instrumen investasi saham yang dalam transaksinya
menggunakan prinsip-prinsip syariah. Tuntutan untuk perusahaan yang menerbitkan saham syariah
adalah bahwa perusahaan tersebut harus menjalankan usahanya dengan produk yang halal dan
menggunakan tuntunan perdagangan dengan syariah Islam. Kita sudah bisa menemukan saham
syariah yang diperdagankan di bursa saham sekarang ini, dan layaknya produk makanan, saham
syariah pun diberlakukan sertifikasi halal yang diterbitkan oleh MUI.

5.3.5.2 SURAT UTANG SYARIAH


Surat utang syariah disebut juga sukuk. Yaitu surat utang yang dikeluarkan oleh suatu
lembaga dengan menggunakan prinsip sewa menyewa dalam Islam yang disebut juga sebagai
Ijarah. Ijarah berasal dari Bahasa Arab yang berarti Sewa menyewa.

5.3.5.3 REKSADANA SYARIAH


Reksadana syariah adalah instrumen syariah yang merupakan reksadana dimana komponen
penempatan dananya pada investasi berbasis syariah, baik pada pasar uang syariah, surat utang
syariah dan saham syariah. Reksadana ini pun sudah banyak diterbitkan dengan berbagai macam
komposisi.

5.4

LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH


Lembaga bisnis Islami (syariah) merupakan salah satu instrument yang digunakan untuk

mengatur aturan-aturan ekonomi Islam. Sebagai bagian dari sistem ekonomi, lembaga tersebut
merupakan bagian dari keseluruhan sistem sosial. Oleh karenanya, keberadaannya harus dipandang
dalam konteks keseluruhan keberadaan masyarakat (manusia), serta nilai-nilai yang berlaku dalam
masyarakat yang bersangkutan. Islam menolak pandangan yang menyatakan bahwa ilmu ekonomi
merupakan ilmu yang netral-nilai.25 Padahal ilmu ekonomi merupakan ilmu yang syarat orientasi
nilai.
Sebenarnya, bisnis secara syariah tidak hanya berkaitan dengan larangan bisnis yang
berhubungan dengan, seperti masalah alkohol, pornografi, perjudian, dan aktivitas lain yang
menurut pandangan Islam seperti tidak bermoral dan antisosial. Akan tetapi, bisnis secara syariah
25

Muhamad, Prinsip-prinsip Akuntansi Dalam Al-Quran (Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 5.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 72

Asuransi Syariah
ditunjukan untuk memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian tujuan sosial-ekonomi
masyarakat yang lebih baik. Bisnis secara syariah dijalankan untuk menciptakan iklim bisnis yang
baik dan lepas dari praktik kecurangan.
Dalam segenap aspek kehidupan bisnis dan transaksi, dunia Islam mempunyai sistem
perekonomian yang berbasiskan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Syariah yang bersumber dari Al
Quran dan Al Hadits serta dilengkapi dengan Al Ijma dan Al Qiyas. Sistem perekonomian Islam,
saat ini lebih dikenal dengan istilah Sistem Ekonomi Syariah.
Al Quran mengatur kegiatan bisnis bagi orang-perorang dan kegiatan ekonomi secara makro
bagi seluruh umat di dunia secara eksplisit dengan banyaknya instruksi yang sangat detail tentang
hal yang dibolehkan dan tidak dibolehkan dalam menjalankan praktek-praktek sosial-ekonomi. Para
ahli yang meneliti tentang hal-hal yang ada dalam Al Quran mengakui bahwa praktek perundangundangan Al Quran selalu berhubungan dengan transaksi. Hal ini, menandakan bahwa betapa
aktivitas ekonomi itu sangat penting menurut Al Quran.
Ekonomi Syariah menganut faham Ekonomi Keseimbangan, sesuai dengan pandangan
Islam, yakni bahwa hak individu dan masyarakat diletakkan dalam neraca keseimbangan yang adil
tentang dunia dan akhirat, jiwa dan raga, akal dan hati, perumpamaan dan kenyataan, iman dan
kekuasaan. Ekonomi Keseimbangan merupakan faham ekonomi yang moderat tidak menzalimi
masyarakat, khususnya kaum lemah sebagaimana yang terjadi pada masyarakat kapitalis. Di
samping itu, Islam juga tidak menzalimi hak individu sebagaimana yang dilakukan oleh kaum
sosialis, tetapi Islam mengakui hak individul dan masyarakat.
Dari kajian-kajian yang telah dilakukan, ternyata Sistem Ekonomi Syariah mempunyai
konsep yang lengkap dan seimbang dalam segala hal kehidupan, namun sebagian umat Islam, tidak
menyadari hal itu karena masih berpikir dengan kerangka ekonomi kapitalis-sekuler, sebab telah
berabad-abad dijajah oleh bangsa Barat, dan juga bahwa pandangan dari Barat selalu lebih hebat.
Padahal tanpa disadari ternyata di dunia Barat sendiri telah banyak negara mulai mendalami sistem
perekonomian yang berbasiskan Syariah.
Lembaga Keuangan Syariah sebagai bagian dari Sistem Ekonomi Syariah, dalam
menjalankan bisnis dan usahanya juga tidak terlepas dari saringan Syariah. Oleh karena itu,
Lembaga Keuangan Syariah tidak akan mungkin membiayai usaha-usaha yang di dalamnya
terkandung hal-hal yang diharamkan, proyek yang menimbulkan kemudharatan bagi masyarakat
luas, berkaitan dengan perbuatan mesum/asusila, perjudian, peredaran narkoba, senjata illegal, serta
proyek-proyek yang dapat merugikan syiar Islam. Untuk itu dalam struktur organisasi Lembaga
Keuangan Syariah harus terdapat Dewan Pengawas Syariah yang bertugas mengawasi produk dan
operasional lembaga tersebut.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 73

Asuransi Syariah
Dalam operasionalnya, Lembaga Keuangan Syariah berada dalam koridor-koridor prinsipprinsip:
a.

Keadilan, yakni berbagi keuntungan atas dasar penjualan riil sesuai kontribusi dan resiko
masing-masing pihak.

b.

Kemitraan, yang berarti posisi nasabah investor (penyimpan dana), dan pengguna dana, serta
lembaga keuangan itu sendiri, sejajar sebagai mitra usaha yang saling bersinergi untuk
memperoleh keuntungan;

c.

Transparansi, lembaga keuangan Syariah akan memberikan laporan keuangan secara terbuka
dan berkesinambungan agar nasabah investor dapat mengetahui kondisi dananya;

d.

Universal, yang artinya tidak membedakan suku, agama, ras, dan golongan dalam masyarakat
sesuai dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil alamin.
Lembaga Keuangan Syariah, dalam setiap transaksi tidak mengenal bunga, baik dalam

menghimpun tabungan investasi masyarakat ataupun dalam pembiayaan bagi dunia usaha yang
membutuhkannya. Menurut Dr. M. Umer Chapra , penghapusan bunga akan menghilangkan sumber
ketidak-adilan antara penyedia dana dan pengusaha. Keuntungan total pada modal akan dibagi di
antara kedua pihak menurut keadilan. Pihak penyedia dana tidak akan dijamin dengan laju
keuntungan di depan meskipun bisnis itu ternyata tidak menguntungkan.
Sistem bunga akan merugikan penghimpunan modal, baik suku bunga tersebut tinggi
maupun rendah. Suku bunga yang tinggi akan menghukum pengusaha sehingga akan menghambat
investasi dan formasi modal yang pada akhirnya akan menimbulkan penurunan dalam produktivitas
dan kesempatan kerja serta laju pertumbuhan yang rendah. Suku bunga yang rendah akan
menghukum para penabung dan menimbulkan ketidakmerataan pendapatan dan kekayaan, karena
suku bunga yang rendah akan mengurangi rasio tabungan kotor, merangsang pengeluaran konsumtif
sehingga akan menimbulkan tekanan inflasioner, serta mendorong investasi yang tidak produktif
dan spekulatif yang pada akhirnya akan menciptakan kelangkaan modal dan menurunnya kualitas
investasi.
Ciri-ciri sebuah Lembaga Keuangan Syariah dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut:
a.

Dalam menerima titipan dan investasi, Lembaga Keuangan Syariah harus sesuai dengan fatwa
Dewan Pengawas Syariah;

b.

Hubungan antara investor (penyimpan dana), pengguna dana, dan Lembaga Keuangan Syariah
sebagai intermediary institution, berdasarkan kemitraan, bukan hubungan debitur-kreditur;

c.

Bisnis Lembaga Keuangan Syariah bukan hanya berdasarkan profit orianted, tetapi juga falah
orianted, yakni kemakmuran di dunia dan kebahagiaan di akhirat;

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 74

Asuransi Syariah
d.

Konsep yang digunakan dalam transaksi Lembaga Syariah berdasarkan prinsip kemitraan bagi
hasil, jual beli atau sewa menyewa guna transaksi komersial, dan pinjam-meminjam (qardh/
kredit) guna transaksi sosial;

e.

Lembaga Keuangan Syariah hanya melakukan investasi yang halal dan tidak menimbulkan
kemudharatan serta tidak merugikan syiar Islam.
Dalam membangun sebuah usaha, salah satu yang dibutuhkan adalah modal. Modal dalam

pengertian ekonomi syariah bukan hanya uang, tetapi meliputi materi baik berupa uang ataupun
materi lainnya, serta kemampuan dan kesempatan. Salah satu modal yang penting adalah sumber
daya insani yang mempunyai kemampuan di bidangnya.
Sumber Daya Insani (SDI) yang dibutuhkan oleh sebuah lembaga keuangan syariah, adalah
seorang yang mempunyai kemampuan profesionalitas yang tinggi, karena kegiatan usaha lembaga
keuangan secara umum merupakan usaha yang berlandaskan kepada kepercayaan masyarakat.
Untuk SDI lembaga keuangan syariah, selain dituntut memiliki kemampuan teknis
perbankan juga dituntut untuk memahami ketentuan dan prinsip syariah yang baik serta memiliki
akhlak dan moral yang Islami, yang dapat dijabarkan dan diselaraskan dengan sifat-sifat yang harus
dipenuhi, yakni:
a.

Siddiq, yakni bersikap jujur terhadap diri sendiri, terhadap orang, dan Allah SWT;

b.

Istiqomah, yakni bersikap teguh, sabar dan bijaksana;

c.

Fathonah, yakni professional, disiplin, mentaati peraturan, bekerja keras, dan inovatif;

d.

Amanah, yakni penuh tanggungjawab dan saling menghormati dalam menjalankan tugas dan
melayani mitra usaha;

e.

Tabligh, yakni bersikap mendidik, membina, dan memotivasi pihak lain untuk meningkatkan
fungsinya sebagai kalifah di muka bumi.
Selain peningkatan kompetensi dan profesionalisme melalui pendidikan dan pelatihan, perlu

juga diciptakan suasana yang mendukung di setiap lembaga keuangan syariah, tidak terbatas hanya
pada layout serta physical performance, melainkan juga nuansa non fisik yang melibatkan gairah
Islamiyah.
Hal ini perlu dilakukan sebagai environmental enforcement, mengingat agar sumber daya
yang telah belajar dan mendapatkan pendidikan serta pelatihan yang baik, ketika masuk ke dalam
pekerjaannya menjadi sia-sia karena lingkungannya tidak mendukung.
Bisnis berdasarakan syariah di negeri ini tampak mulai tumbuh. Pertumbuhan itu tampak
jelas pada sektor keuangan. Dimana kita telah mencatat tiga bank umum syariah, 78 BPR Syariah,
dan lebih dari 2000 untuk Baitul Mal wa Tamwil. Lembaga ini telah mengelola berjuta bahkan
bermiliar rupiah dana masyarakat sesuai dengan prinsip syariah. Lembaga keuangan tersebut harus

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 75

Asuransi Syariah
beroperasi secara ketat berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Prinsip ini sangat berbeda dengan
prinsip yang dianut oleh lembaga keuangan non-syariah.
Adapun prinsip-prinsip yang dirujuk adalah:26
a.

Larangan menerapkan bunga pada semua bentuk dan jenis transaksi.

b.

Menjalankan aktivitas bisnis dan perdagangan berdasarkan pada kewajaran dan keuntungan
yang halal.

c.

Mengeluarkan zakat dari hasil kegiatannya.

d.

Larangan menjalankan monopoli.

e.

Bekerja sama dalam membangun masyarakat, melalui aktivitas bisnis dan perdagangan yang
tidak dilarang oleh Islam.
Di atas telah disebutkan bahwa lembaga keuangan syariah bukan hanya bank, secara garis

besar dapat digambarkan di bawah ini lembaga-lembaga keuangan syariah yang ada, yaitu:

5.4.1 BANK SYARIAH


5.4.1.1 PENGERTIAN
Bank merupakan suatu lembaga keuangan yang mempunyai fungsi utamanya adalah
menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan jasa pengiriman uang. Pada awalnya, istilah
bank memang tidak di dikenal di dunia islam, yang lebih dikenal adalah jihbiz yang mempunyai arti
penagih pajak yang pada waktu itu, jihbiz dikenal dengan penagih dan penghitung pajak pada benda
yang kena pajak yaitu barang dan tanah.
Pada zaman Bani Abbasiyyah, jihbiz lebih dikenal dengan profesi penukaran uang yang
pada waktu itu diperkenalkan mata uang yang dikenal dengan fulus yang terbuat dari tembaga,
dengan adanya fulus para gubernur pemerintahan cenderung mencetak fulusnya masing-masing
sehingga akan berbeda-beda nilai dari fulus tersebut, kemudian ada sistem penukaran uang. Selain
melakukan penukaran uang jihbiz juga menerima titipan dana, meminjamkan uang, dan jasa
pengiriman uang.

5.4.1.2 SEJARAH BANK SYARIAH


Ide untuk menggunakan bank dengan sistem bagi hasil telah muncul sejak lama dan ditandai
dengan munculnya para pemikir islam yang menulis mengenai bank syariah, mereka diantaranya
Anwar Quraeshi (1946), Naiem Siddiqi (1948), dan Mahmud Ahmad (1952) dan ditulis kembali
secara terperinci oleh Mawdudi (1961), selain itu tulisan-tulisan Muhammad Hamidullah pada
tahun 1944-1962 bisa dikatakan sebagai pendahulu mengenai perbankan syariah.

26

Muhamad, Lembaga Keuangan Umat Kontemporer (Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 25.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 76

Asuransi Syariah
Perkembangan bank syariah modern tercatat di Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940,
yang pada waktu itu adalah usaha pengelolaan dana jamaah haji secara non-konvensional. Pada
tahun 1940 di Mesir didirikan Mit Ghamr Lokal Saving Bank oleh Ahmad El-Najar yang dibantu
oleh Raja Faisal dari Arab Saudi. Dalam jangka waktu empat tahun Mit Ghamr berkembang dengan
membuka sembilan cabang dengan nasabah mencapai satu juta orang.
Gagasan lain muncul dari konferensi negara-negara Islam se-dunia di Kuala Lumpur pada
tanggal 21-27 April 1969 yang diikuti oleh 19 negara peserta.
Di Indonesia sendiri sudah muncul gagasan mengenai bank syariah pada pertengahan 1970
yang dibicarakan pada seminar Indonesia-Timur Tengah pada tahun 1974 dan Seminar
Internasional pada tahun 1976. Bank syariah pertama di Indonesia adalah Bank Muamalat yang
merupakan hasil kerja tim Perbankan MUI yang ditandatangani pada tanggal 1 Nopember 1991.

5.4.1.3 PRODUK-PRODUK BANK SYARIAH


Secara garis besar produk perbankan syariah dapat dibagi menjadi tiga yaitu Produk
penyaluran dana, produk penghimpunan dana, dan produk jasa yang diberikan bank kepada
nasabahnya.
a.

Penyaluran Dana

1) Prinsip Jual Beli (Bai)


Jual beli dilaksanakan karena adanya pemindahan kepemilikan barang. Keuntungan bank
disebutkan di depan dan termasuk harga dari harga yang dijual. Terdapat tiga jenis jual beli dalam
pembiayaan modal kerja dan investasi dalam bank syariah, yaitu:
a)

Bai Al Murabahah: Jual beli dengan harga asal ditambah keuntungan yang disepakati antara
pihak bank dengan nasabah, dalam hal ini bank menyebutkan harga barang kepada nasabah
yang kemudian bank memberikan laba dalam jumlah tertentu sesuai dengan kesepakatan.

b) Bai Assalam: Dalam jual beli ini nasabah sebagai pembeli dan pemesan memberikan uangnya
di tempat akad sesuai dengan harga barang yang dipesan dan sifat barang telah disebutkan
sebelumnya. Uang yang tadi diserahkan menjadi tanggungan bank sebagai penerima pesanan
dan pembayaran dilakukan dengan segera.
c)

Bai Al Istishna: Merupakan bagian dari Bai Asslam, namun bai al ishtishna biasa digunakan
dalam bidang manufaktur. Seluruh ketentuan Bai Al Ishtishna mengikuti Bai Assalam namun
pembayaran dapat dilakukan beberapa kali pembayaran.

2) Prinsip Sewa (Ijarah)


Ijarah adalah kesepakatan pemindahan hak guna atas barang atau jasa melalui sewa tanpa
diikuti pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa. Dalam hal ini bank meyewakan peralatan
kepada nasabah dengan biaya yang telah ditetapkan secara pasti sebelumnya.
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 77

Asuransi Syariah
3) Prinsip Bagi Hasil (Syirkah)
Dalam prinsip bagi hasil terdapat dua macam produk, yaitu:
a)

Musyarakah: Adalah salah satu produk bank syariah yang mana terdapat dua pihak atau lebih
yang bekerjasama untuk meningkatkan aset yang dimiliki bersama dimana seluruh pihak
memadukan sumber daya yang mereka miliki baik yang berwujud maupun yang tidak
berwujud. Dalam hal ini, seluruh pihak yang bekerjasama memberikan kontribusi yang dimiliki
baik itu dana, barang, skill, ataupun aset-aset lainnya. Yang menjadi ketentuan dalam
musyarakah adalah pemilik modal berhak dalam menetukan kebijakan usaha yang dijalankan
pelaksana proyek.

b) Mudharabah: Adalah kerjasama dua orang atau lebih dimana pemilik modal memberikan
mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola dengan perjanjian pembagian keuntungan.
Perbedaan yang mendasar antara musyarakah dengan mudharabah adalah kontribusi atas
manajemen dan keuangan pada musyarakah diberikan dan dimiliki dua orang atau lebih,
sedangkan pada mudharabah modal hanya dimiliki satu pihak saja.
b. Penghimpun Dana
Produk penghimpunan dana pada bank syariah meliputi giro, tabungan, dan deposito.
Prinsip yang diterapkan dalam bank syariah adalah:
1) Prinsip Wadiah
Penerapan prinsip wadiah yang dilakukan adalah wadiah yad dhamanah yang diterapkan
pada rekening produk giro. Berbeda dengan wadiah amanah, dimana pihak yang dititipi (bank)
bertanggung jawab atas keutuhan harta titipan sehingga ia boleh memanfaatkan harta titipan
tersebut. Sedangkan, pada wadiah amanah harta titipan tidak boleh dimanfaatkan oleh yang dititipi.
2) Prinsip Mudharabah
Dalam prinsip mudharabah, penyimpan atau deposan bertindak sebagai pemilik modal
sedangkan bank bertindak sebagai pengelola. Dana yang tersimpan kemudian oleh bank digunakan
untuk melakukan pembiayaan, dalam hal ini apabila bank menggunakannya untuk pembiayaan
mudharabah, maka bank bertanggung jawab atas kerugian yang mungkin terjadi.
Berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh pihak penyimpan, maka prinsip mudharabah
dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a)

Mudharabah mutlaqah: prinsipnya dapat berupa tabungan dan deposito, sehingga ada dua jenis
yaitu tabungan mudharabah dan deposito mudharabah. Tidak ada pemabatasan bagi bank
untuk menggunakan dana yang telah terhimpun.

b) Mudharabah muqayyadah on balance sheet: jenis ini adalah simpanan khusus dan pemilik
dapat menetapkan syarat-syarat khusus yang harus dipatuhi oleh bank, sebagai contoh
disyaratkan untuk bisnis tertentu, atau untuk akad tertentu.
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 78

Asuransi Syariah
c)

Mudharabah muqayyadah off balance sheet: Yaitu penyaluran dana langsung kepada pelaksana
usaha dan bank sebagai perantara pemilik dana dengan pelaksana usaha. Pelaksana usaha juga
dapat mengajukan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi bank untuk menentukan jenis
usaha dan pelaksana usahanya.

c.

Jasa Perbankan
Selain dapat melakukan kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana, bank juga dapat

memberikan jasa kepada nasabah dengan mendapatan imbalan berupa sewa atau keuntungan, jasa
tersebut antara lain:
1) Sharf (Jual Beli Valuta Asing)
Adalah jual beli mata uang yang tidak sejenis namun harus dilakukan pada waktu yang sama
(spot). Bank mengambil keuntungan untuk jasa jual beli tersebut.
2) Ijarah (Sewa)
Kegiatan ijarah ini adalah menyewakan simpanan (safe deposit box) dan jasa tata-laksana
administrasi dokumen (custodian), dalam hal ini bank mendapatkan imbalan sewa dari jasa tersebut.

5.4.2 BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH


5.4.2.1 PENGERTIAN
Menurut Undang-Undang (UU) Perbankan No. 7 tahun 1992, BPR adalah lembaga
keuangan yang menerima simpanan uang hanya dalam bentuk deposito berjangka tabungan, dan
atau bentuk lainnya yang dipersamakan dalam bentuk itu dan menyalurkan dana sebagai usaha
BPR. Pada UU Perbankan No. 10 tahun 1998, disebutkan bahwa BPR adlah lemabaga keuangan
bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah.
Pengaturan pelaksanaan BPR yang menggunakan prinsip syariah tertuang pada surat Direksi
Bank Indonesia No. 32/36/KEP/DIR/tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah
tanggal 12 Mei 1999. Dalam hal ini pada teknisnya BPR syariah beroperasi layaknya BPR
konvensional namun menggunakan prinsip syariah.

5.4.2.2 SEJARAH
BPR merupakan penjelmaan dari Bank Desa, Lumbung Desa, Bank Pasar, Bank Pegawai
Lumbung Nagari (LPN), Lembaga perkreditan Desa (LPD), Badan Kredit Desa (BKD), Badan
Kredit Kecamatan (BKK), Kredit Usaha Rakyat Kecil (KURK), Lembaga Perkreditan Kecamatan
(LPK), Bank Karya Produksi Desa (BKPD), dan atau lembaga lainnya yang dapat dipersamakan
dengan itu.
Lembaga-lembaga keuangan yang disebutkan merupakan lembaga yang berpengaruh atas
berdirinya BPR Syariah, keberadaan lembaga keuangan tersebut memunculkan pemikiran untuk
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 79

Asuransi Syariah
mendirikan Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang berdiri pada tahun 1992, namun pada
kenyatannya cakupan wilayah untuk BMI sangat terbatas pada wilayah tertentu seperti kecamatan,
kabupaten, dan desa. Maka dalam hal ini, diperlukan adanya BPR untuk menangani masalah
keuangan di wilayah-wilayah yang tidak dijangakau oleh BMI.
Pada awalnya ditetapkan tiga lokasi untuk mendirikan BPR Syariah, yaitu PT BPR Dana
Mardhatillah di Kecamatan Margahayu-Bandung, PT BPR Berkah Amal Sejahtera di Kecamatan
Padalarang-Bandung, dan PT BPR Amanah Rabbaniyah di Kecamatan Banjaran-Bandung. Ketiga
BPR tersebut mendapatkan izin prinsip Menteri Keuangan RI pada tanggal 8 Oktober 1990.

5.4.2.3 TUJUAN
Tujuan didirikannya BPR Syariah adalah sebagai berikut:
a.

Meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat islam, terutama masyarakat golongan ekonomi


lemah yang pada umumnya di daerah pedesaan.

b.

Menambah lapangan kerja terutama di tingkat kecamatan sehingga dapat mengurangi arus
urbanisasi.

c.

Membina semangat ukhuwah islamiyyah melalui kegiatan ekonomi dalam rangka


meningkatkan pendapatan per kapita menuju kualitas hidup yang memadai.
Untuk mencapai tujuan operasional BPR Syariah tersebut diperlukan strategi operasional

sebagai berikut:
a.

BPR Syariah tidak bersifat menunggu terhadapa datangnya permintaan fasilitas melainkan
bersifat aktif dengan melakukan sosialisasi/penelitian kepada usaha-usaha berskala kecil yang
perlu dibantu tambahan modal, sehingga memiliki prospek bisnis yang baik.

b.

BPR Syariah memiliki jenis usaha yang waktu perputaran uangnya jangka pendek dengan
mengutamakan usaha skala menengah dan kecil.

c.

BPR Syariah mengkaji pangsa pasar, tingkat kejenuhan serta tingkat kompetitifnya produk
yang akan diberi pembiayaan.

5.4.2.4 USAHA-USAHA BPR SYARIAH


Usaha BPR Syariah untuk melangsungkan kegiatan operasionalnya antara lain:
a.

Menghimpun dana dari masyarakat dalam simpanan deposito berjangka, tabungan, dan atau
bentuk tabungan lainnya yang dipersamakan dengan itu.

b.

Menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan prinsip syariah sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

c.

Menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia, deposito berjangka, sertifikat
deposito, dan atau tabungan pada bank lain.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 80

Asuransi Syariah
UU BPR Syariah kemudian dipertegas dalam kegiatan operasional BPR Syariah dalam pasal
27 SIK DIR. BI 32/36/1999, sebagai berikut:
a.

Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan yang meliputi:


1) Tabungan berdasarkan prinsip wadiah dan mudharabah.
2) Deposito berjangka berdasarkan prinsip mudharabah.
3) Bentuk lain yang menggunakan prinsip wadiah atau mudharabah.

b.

Melakukan penyaluran dana melalui:


1) Transaksi jual beli melalui prinsip murabahah, istishna, salam, ijarah, dan jual beli
lainnya.
2) Pembiayaan bagi hasil berdasarkan prinsip mudharabah, musyarakah, dan bagi hasil
lainnya.
3) Pembiayaan lain berdasarkan prinsip rahn dan qardh.

c.

Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan BPR Syariah sepanjang disetujui oleh Dewan
Syariah Nasional.

5.4.3 PEGADAIAN SYARIAH


5.4.3.1 RUKUN DAN SYARAT TRANSAKSI GADAI
a.

Rukun Gadai
1) Ada ijab dan qabul (shigat).
2) Terdapat orang yang berakad adalah yang menggadaikan (rahin) dan yang menerima gadai
(murtahin).
3) Ada jaminan (marhum) berupa barang/harta.
4) Utang (marhun bih).

b.

Syarat Sah Gadai


1) Shigat
2) Orang yang berakad
3) Barang yang dijadikan pinjaman
4) Utang (marhun bih)

5.4.3.2 HAK DAN KEWAJIBAN PIHAK YANG BERAKAD


a.

Penerima Gadai (Murtahin)


Hak
1) Apabila rahin tidak dapat memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo, murtahirin
berhak untuk menjual marhun

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 81

Asuransi Syariah
2) Untuk menjaga keselamatan marhun, pemegang gadai berhak mendapatkan penggantian
biaya yang dikeluarkan
3) Pemegang gadai berhak menahan barang gadai dari rahin, selama pinjaman belum dilunasi
Kewajiban
1) Apabila terjadi sesuatu (hilang ataupun cacat) terhadap marhun akibat dari kelalaian, maka
murtahin harus bertanggung jawab
2) Tak boleh menggunakan marhun untuk kepentingan pribadi
3) Sebelum diadakan pelelangan marhun harus ada pemberitahuan kepada rahin
b.

Pemberi Gadai
Hak
1) Setelah pelunasan pinjaman, rahin berhak atas barang gadai yang ia serahkan kepada
murtahin
2) Apabila terjadi kerusakan atau hilangnya barang gadai akibat kelalaian murtahin, rahin
menuntut ganti rugi atas marhun
3) Setelah dikurangi biaya pinjaman dan biaya-biaya lainnya, rahin berhak menerima sisa
hasil penjualan mahun
4) Apabila diketahui terdapat penyalahgunaan marhun oleh murtahin, maka rahin berhak
untuk meminta marhunnya kembali
Kewajiban
1) Melunasi pinjaman yang telah diterima serta biaya-biaya yang ada didalam kurun waktu
yang telah ditentukan
2) Apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan rahin tak dapat melunasi pinjamannya,
maka harus merelakan penjalan atas marhun miliknya

5.4.3.3 AKAD PERJANJIAN TRANSAKSI GADAI


a.

Qadr al-Hasan
Akad ini digunakan nasabah untuk tujuan komsumtif. Oleh karena itu, nasabah akan

dikenakan biaya perawatan dan penjagaan barang gadaian kepada pegadai.


b.

Mudharabah
Akad ini diberikan bagi nasabah yang ingin memperbesar modal usahanya atau untuk

pembiayaan lain yang bersifat produktif.


c.

Bai Muqayyadah
Akad ini diberikan bagi nasabah untuk keperluan yang bersifat produktif.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 82

Asuransi Syariah
d.

Ijarah
Obyek dari akad ini adalah pertukaran manfaat tertentu, bentuknya adalah murtahin

menyewakan tempat penyimpanan barang.

5.4.3.4 MEKANISME OPERASIONAL PEGADAIAN SYARIAH


Teknis pelaksanaan kegiatan pegadaian syariah adalah, sebagai berikut:
a.

Jenis barang yang digadaikan


1) Perhiasan
2) Alat-alat rumah tangga, dapur, makan-minum, kebun, dan sejenisnya
3) Kendaraan

b.

Biaya biaya
1) Biaya administrasi pinjaman
2) Jasa simpanan

c.

Sistem cicilan atau perpanjangan

d.

Ketentuan pelunasan pinjaman dan pengambilan barang gadai

No.
A
B
C
D
E
e.

Besarnya Taksiran

Nilai Taksiran

100.000 - 500.000
500000
510.000 - 1.000.000
> 500.000 1.000.000
1.050.000 5.000.000
> 1.000.000 5.000.000
5.050.000 10.000.000 > 5.000.000 10.000.000
10.050.000
> 10.000.000
Proses pelelangan barang gadai

Biaya
Adm.
5.000
6.000
7.500
10.000
15.000

Tarif Jasa
Simpanan
45
225
450
2.250
4.500

Kelipatan
10
50
100
500
1.000

Pelelangan baru dapat dilakukan jika nasabah tak dapat mengembalikan pinjamannya.
Teknisnya harus ada pemberitahuan 5 hari sebelum tanggal penjualan.

5.4.3.5 JASA DAN PRODUK PEGADAIAN SYARIAH


a.

Pemberian pinjaman atau pembiayaan atas dasar hukum gadai

b.

Penaksiran nilai barang

c.

Penitipan barang (ijarah)

d.

Gold counter

5.4.4 ASURANSI SYARIAH


5.4.4.1 PENGERTIAN
Kata asuransi berasal dari bahasa inggris, insurance. Dalam bahasa arab istilah asuransi
biasa diungkapkan dengan kata at-tamin yang secara bahasa berarti tuma ninatun nafsi wa zawalul
khauf, tenangnya jiwa dan hilangnya rasa takut.
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 83

Asuransi Syariah
Asuransi menurut UU RI No.2 th. 1992 tentang usaha perasuransian, yang dimaksud dengan
asuransi yaitu perjanjian antara dua belah pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung
mengikatkan diri dengan pihak tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan
penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang
diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung,
yang timbul dari suatu peristiwa yang tak pasti atau untuk memberikan suatu pembayaran yang
didasarkan atas meninggal atau hidupnya seeseorang yang dipertanggungkan.
Sedangkan pengertian asuransi syariah menurut fatwa DSN-MUI adalah usaha saling
melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam
bentuk asset dan atau tabarru memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu
melalui akad yang sesuai dengan syariah.

5.4.4.2 PENDAPAT ULAMA TENTANG ASURANSI


Pada ulasan asuransi, pada awalnya para ulama berbeda pendapat dalam menentukan
keabsahan praktek hukum asuransi, disanalah menjadi kontroversial, dan terhadap masalah ini dapat
dipilah menjadi dua kelompok, adanya ulama yang mengharamkan asuransi, dan ada juga yang
memperbolehkan asuransi. Berikut alasan/argumentasinya:
a.

Alasan ulama yang mengharamkan praktek asuransi, adalah:


1) Asuransi mengandung unsur perjudian yang sangat dilarang di islam
2) Asuransi mengandung unsur ketidakpastian
3) Asuransi mengandung unsur riba yang dilarang dalam islam
4) Asuransi termasuk jual-beli atau tukar-menukar mata uang tidak secara tunai
5) Asuaransi obyek bisnisnya digantungkan pada hidup matinya seseorang, yang berarti
mendahului takdir Allah SWT
6) Asuransi mengandung unsur eksploitasi yang bersifat menekan

b.

Argumentasi ulama dalam memperbolehkan asuransi, adalah:


1) Tidak terdapat nash Al-Quran atau Hadist yang melarang asuransi
2) Dalam asuransi terdapat kesepakatan dan kerelaan antara kedua belah pihak
3) Asuransi menguntungkan kedua belah pihak
4) Asuransi mengandung unsur kepentingan umum, sebab premi-premi yang dapat
diinvestasikan dalam kegiatan pembangunan
5) Asuransi termasuk akad mudharobah antara pemegang polis dengan perusahaan asuransi
6) Asuransi termasuk syirikah at-taawuniyah, usaha bersama yang didasarkan pada prinsip
tolong-menolong

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 84

Asuransi Syariah
5.4.4.3 AKAD PADA ASURANSI SYARIAH
Akad pada operasional asuransi syariah dapat didasarkan pada akad tabarru, yaitu akad
yang didasarkan atas pemberian dan pertolongan dari satu pihak kepada pihak yang lain.
Dengan akad tabbaru berarti peserta asuransi telah melakukan persetujuan dan perjanjian
dengan perusahaan asuransi untuk menyerahkan pembayaran sejumlah dana (premi) ke perusahaan
agar dikelola dan dimanfaatkan untuk membantu peserta lain yang kebetulan mengalami kerugian.
Akad tabarru ini mempunyai tujuan utama yaitu terwujudnya kondisi saling tolong-menolong
antara peserta asuransi untuk saling menanggung (tafakul) bersama.
Akad lain yang dapat diterapkan dalam bisnis asuransi adalah akad mudharabah, yaitu satu
bentuk akad yang didasarkan pada prinsip profit dan loss sharing atas untung dan rugi, dimana dana
yang terkumpul dalam total rekening tabungan dapat di investasikan oleh perusahaan asuransi yang
risiko investasi ditanggung bersama antara perusahaan dan nasabah.

5.4.5 BAITUL MAAL WATTAMWIL (BMT)


5.4.5.1 PENGERTIAN
Baitul Maal wat Tamwil (BMT) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu, adalah lembaga
keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuh kembangkan derajat dan
martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin, ditumbuhkan atas prakarsa dan modal awal
dari tokoh-tokoh masyarakat setempat dengan berlandaskan pada sistem ekonomi yang salaam.

5.4.5.2 ASAS DAN PRINSIP DASAR


Prinsip dasar BMT, adalah:
a.

Ahsan (mutu hasil terbaik), thayyiban (terindah), ahsanu amala (memuaskan semua pihak),
dan sesuai dengan nilai-nilai salaam: keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan.

b.

Barokah,

artinya

berdaya

guna,

berhasil

guna,

adanya

penguatan

jaringan,

transparan(keterbukaan), dan bertangggung jawab sepenuhnya kepada masyarakat.


c.

Spiritual communication (penguatan nilai ruhiyah)

d.

Demokratis, partisipatif, dan inklusif.

e.

Keadilan social dan kesetaraan jender, non-diskriminatif

f.

Ramah lingkungan

g.

Peka dan bijak terhadap pengetahuan dan budaya lokal, serta keanekaragaman budaya.

h.

Keberlanjutan, memberdayakan masyarat dengan meningkatkan kemampuan diri dan lembaga


masyarakat lokal.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 85

Asuransi Syariah
5.4.5.3 SIFAT, PERAN, DAN FUNGSI
BMT bersifat terbuka, independen, tidak partisan, berorientasi pada pengembangan
tabungan dan pembiayaan untuk mendukung bisnis ekonomi yang produktif bagi anggota dan
kesejahteraan social masyarakat sekitar, terutama usaha mikro dan fakir miskin.
Peran BMT di masyarakat sebagai berikut:
a.

Motor penggerak ekonomi dan social masyarakat banyak

b.

Ujung tombak pelaksanaan sistem ekonomi syariah

c.

Penghubung antara kaum aghnia (kaya) dan kaum dhuafa (miskin)

d.

Sarana pendidikan informal untuk mewujudkan prinsip hidup yang barakah, ahsanu amaia
dan salaam melalui spiritual communication dengan dzikir qalbiyah ilahiah.
Fungsi BMT di masayarakat

a.

Meningkatkan kualitas SDM anggota, pengurus, dan pengelola menjadi lebih professional,
salaam, dan amanah sehingga semakin utuh dan tangguh dalam berjuang dan berusaha
menghadapi tantangan global.

b.

Mengorganisir dan memobilisasi dana sehingga dana yang dimiliki oleh masyarakat dapat
termanfaatkan secara optimal di dalam dan luar organisasi untuk kepentingan rakyat banyak.

c.

Mengembangkan kesempatan kerja.

d.

Mengukuhkan dan meningkatkan kualitas usaha dan pasar produk-produk anggota.

e.

Memperkuat dan meningkatkan kualitas lembaga-lembaga ekonomi dan sosial rakyat banyak.

5.4.5.4 PENDIRIAN BMT


BMT dapat didirikan oleh:
a.

Sekurang-kurangnya 20 orang.

b.

Satu pendiri dengan lainnya sebaiknya tidak memiliki hubungan keluarga vertikal dan
horizontal satu kali.

c.

Sekurang-kurangnya 70% anggota pendiri bertempat tinggal di sekitar daerah kerja BMT.

d.

Pendiri dapat bertambah dalam tahun-tahun kemudian jika disepakati oleh rapat para pendiri.

5.4.5.5 PERMODALAN BMT


Modal BMT terdiri dari:
a.

Simpanan pokok.

b.

Simpanan Pokok Khusus.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 86

Asuransi Syariah
5.4.5.6 MEKANISME KERJA BMT
Cara kerja BMT adalah sebagai berikut:
a.

Pendamping atau beberapa pemrakarsa yang mengetahui tentang BMT, menyampaikan dan
menjelaskan ide atau gagasan ini kepada rekan-rekannya sebagai upaya untuk menarik
beberapa orang sebagai pemrakarsa awal hingga mencapai lebih dari 20 orang.

b.

Dua puluh orang atau lebih tersebut kemudian menyepakati pendirian BMT di desa, kecamatan,
pasar, atau masjid dan bersepakat mengumpulkan modal awal pendirian BMT.

c.

Modal awal kemudian ditentukan sesuai dengan kesepakatan bersama (tidak harus sama
jumlahnya antara pemrakarsa, hingga mencapai jumlah yang telah ditentukan untuk pendirian
sebuah BMT).

d.

Pemrakarsa membuat rapat untuk memilih pengurus BMT.

e.

Pengurus BMT kemudian merapatkan dan merekrut pengelola/manajemen BMT dari


lingkungan tersebut yang memiliki sifat sidiq, amanah, fathanah dan benar-benar menguasai
visi, misi, tujuan dan usaha-usaha BMT, serta memiliki keinginan keras dan dengan sepenuh
hati untuk mengembangkan BMT.

f.

Pengurus BMT menghubungi PINBUK setempat untuk memberikan pelatihan kepada calon
pengelola/manajemen BMT tersebut (umumnya 2 minggu pelatihan dan magang).

g.

Pengelola yang telah diberi pelatihan kemudian membuka kantor dan menjalankan BMT,
dengan giat menggalakan simpanan masyarakat dan memberikan pembiayaan pada usaha
mikro dan kecil di sekitarnya.

h.

Pembiayaan pada usaha mikro dilakukan dengan menerapkan sistem bagi hasil yang
disampaikan sesuai dengan akad yang telah disepakati.

i.

Hasil dari bagi hasil ini kemudian digunakan oleh para pengelola untuk membayar honor para
pengelola dan membayar kegiatan operasional BMT.

j.

Hasil dari bagi hasil juga digunakan untuk membayar bagi hasil kepada penyimpanan data,
diupayakan agar nilai bagi hasil yang diperoleh para penyimpan dana bias lebih besar dari
bunga bank konvensional.

5.4.6 PASAR MODAL SYARIAH


5.4.6.1 PENGERTIAN
Istilah sekuritas (securities) seringkali disebut juga dengan efek, yakni sebuah nama kolektif
untuk macam-macam surat berharga, misalnya saham, obilgasi, surat hipotik, dan jenis surat lain
yang membuktikan hak milik atas sesuatu barang. Dengan istilah yang hampir sama, sekuritas juga
dapat dipahami sebagai promissory notes/commercial bank notes yang menjadi bukti bahwa satu
pihak mempunyai tagihan pada pihak lain. Adapun yang dimaksud dengan sekuritas syariah atau
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 87

Asuransi Syariah
efek syariah adalah efek sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di bidang
pasar modal yang akad, pengelolaan perusahaan, maupun cara penerbitannya memenuhi prinsipprinsip syariah.
Diantara bank-bank islam yang ada, terdapat dua pendapat yang berbeda dalam menyikapi
surat berharga. Pertama, mayoritas bank islam menolak perdagangan surat berharga. Kedua, bank
islam di Malaysia, dalam beberapa kondisi termasuk juga bank islam di Indonesia, menerima
transaksi surat berharga.
Alasan penyangkalan mereka yang enolak surat berharga adalah karena di dalamnya
terkandung bai ad-dyn (jual beli utang). Sementara itu islam secara tegas telah mengharamkan jual
beli utang. Reaksi yang berbeda dikemukakan oleh pendapat kedua, yakni mereka yang
mengabsahkan transaksi surat berharga. Umumnya mereka menyandarkan pada prinsip bahwa surat
berharga tersebut haruslah di endors (dijamin) oleh pihak penerbit, kemudian surat berharga
tersebut haruslah timbul dari aktivatas yang tidak bertentangan dengan syariah. Jadi, selama kedua
hal ini tidak dilanggar, tarnsaksi surat berharga menjadi sah karenanya.
Terlepas bagaimanapun reaksi yang diungkapkan oleh umat. Yang pasti, islam sangat
menganjurkan umatnya untuk melakukan aktifitas ekonomi (muamalah) dengan cara yang benar
dan baik, serta melarang penimbunan barang, atau membiakan harta menjadi tidak produktif,
sehingga aktifitas ekonomi yang dilakukan depat meningkatkan ekonomi umat. Tujuan utamanya
adalah untuk memproleh keuntungan (falah), baik materi maupun non materi, dunia dan akhirat.
Sementara itu, segala bentuk aktivitas ekonomi yang dilakukan haruslah berdasarkan suka sama
suka, berkeadilan, dan tidak saling merugikan.
Karena itu sehubungan dengan pembahasan sekuritas syariah ini, ada tiga kategori sekuritas.
Pertama, segala jenis sekuritas yang menawarkan predetermined fixed income tidak diperbolehkan
dalam islam, karena termasuk kategori riba. Dengan demikian, interest bearing security baik long
term maupun short term. Akan masuk daftar instrument investasi yang tidak sah. Saham preferen
(preference stock), debenture, treasury securities and consul, dan commercial papers masuk dalam
kategori ini.
Kategori kedua, sekuritas-sekuritas yang berbeda dalam grey area (questionable) karena
dicurigai sarat dengan gharar, meliputi produk-produk derivates, seperti forward, future dan juga
options.
Kategori ketiga, yakni sekuritas yang diperbolehkan, baik secara penuh maupun dengan
catatan-catatan meliputi, saham, dan islamic bonds, profit loss sharing based, government
securities, penggunaan institusi pasar sekunder dan mekanismenya semisal margin trading. Karena
sering sekali catatan-catatannya begitu dominan.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 88

Asuransi Syariah
5.4.7 REKSA DANA SYARIAH
Reksa dana diartikan sebagai wadah yang dipergunkanan untuk menghimpun dana dari
masyarakat investor untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.
Reksa dana merupakan investasi campuran yang menggabungkan saham dan obligasi dalam satu
produk.
Sedangkan

Reksa

Dana

Syariah

merupakan

sarana

investasi

campuran

yang

menggabungkan saham dan obligasi syariah dalam satu produk yang dikelola oleh manajer
investasi. Manajer investasi menawarkan Reksa Dana Syariah kepada para investor yang berminat,
sementara dana yang diperoleh dari investor tersebut dikelola oleh manajer investasi untuk
ditanamkan dalam saham atau obligasi syariah yang dinilai menguntungkan.
a.

Keuntungan Investasi Melalui Reksa Dana


1) Diversifikasi investasi
Diversifikasi yang terwujud dalam bentuk portofolio akan menurunkan tingkat resiko.
Reksa Dana melakukan diversifikasi dalam berbagai instrumen efek, sehingga dapat
menyebarkan resiko atau memperkecil resiko. Investor walaupun tidak memiliki dana yang
cukup besar dapat melakukan diversifikasi investasi dalam efek sehingga dapat
memperkecil risiko. Hal ini berbeda dengan pemodal individual yang misalnya hanya
dapat membeli satu atau dua jenis efek saja.
2) Kemudahan Investasi
Reksa Dana mempermudah investor untuk melakukan investasi di pasar modal.
Kemudahan investasi tercermin dari kemudahan pelayanan administrasi dalam pembelian
maupun penjualan kembali unit penyertaan. Kemudahan juga diperoleh investor dalam
melakukan reinvestasi pendapatan yang diperolehnya sehingga unit penyertaannya dapat
terus bertambah.
3) Efisiensi Biaya dan Waktu
Karena reksa dana merupakan kumpulan dana dari banyak investor, maka biaya
investasinya akan lebih murah bila dibandingkan jika investor melakukan transaksi secara
individual di bursa. Pengelolaan yang dilakukan oleh manajer investasi secara profesional,
tidak perlu bagi bagi investor untuk memantau sendiri kinerja investasinya tersebut.
4) Likuiditas
Pemodal dapat mencairkan kembali saham/unit penyertaan setiap saat sesuai ketetapan
yang dibuat masing-masing reksa dana, sehingga memudahkan investor untuk mengelola
hasilnya. Reksa dana wajib membeli kembali unit penyertaannya, sehingga sifatnya
menjadi likuid.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 89

Asuransi Syariah
5) Transparansi Informasi
Reksa dana diwajibkan memberikan informasi atas perkembangan portofolio dan biayanya,
secara berkala dan kontinyu, sehingga pemegang unit penyertaan dapat memantau
keuntungan, biaya dan resikonya.
b.

Risiko Investasi dengan Reksa Dana


1) Risiko berkurangnya nilai unit penyertaan
Risiko ini dipengaruhi oleh turunnya harga dari efek (saham, obligasi, dan surat berharga
lainnya) yang masuk dalam portofolio reksa dana tersebut.
2) Risiko Likuiditas
Risiko ini menyangkut kesulitan yang dihadapi manajer investasi jika sebagian besar
pemegang unit melakukan penjualan kembali (redemption) atas unit-unit yang
dipegangnya. Manajer investasi akan mengalami kesulitan dalam menyediakan uang tunai
atas redemption tersebut.
3) Risiko Politik dan Ekonomi
Perubahan kebijakan ekonomi politik dapat mempengaruhi kinerja bursa dan perusahaan
sekaligus. Dengan demikian harga sekuritas akan terpengaruh yang kemudian
mempengaruhi portofolio yang dimiliki reksa dana.
4) Risiko Pasar
Hal ini terjadi karena sekuritas di pasar efek memang berfluktuasi sesuai dengan kondisi
ekonomi secara umum. Terjadinya fluktuasi di pasar efek akan berpengaruh langsung pada
nilai bersih portofolio, terutama jika terjadi koreksi atau pergerakan negatif.
5) Risiko Inflasi
Terjadinya inflasi akan menyebabkan menurunnya total real return investasi. Pendapatan
yang diterima dari investasi dalam reksa dana bisa jadi tidak dapat menutup kehilangan
karena menurunnya daya beli (loss of purchasing power).
6) Risiko Nilai Tukar
Risiko ini dapat terjadi jika terdapat sekuritas luar negeri dalam portofolio yang dimiliki.
Pergerakan nilai tukar akan mempengaruhi nilai sekuritas yang termasuk foreign invesment
setelah dilakukan konversi dalam mata uang domestik.
7) Risiko Spesifik
Risiko ini adalah risiko dari setiap sekuritas yang dimiliki. Disamping dipengaruhi pasar
secara keseluruhan, setiap sekuritas mempunyai risiko sendiri-sendiri. Setiap sekuritas
dapat menurun nilainya jika kinerja perusahaannya sedang tidak bagus, atau juga adanya
kemungkinan mengalami default, tidak dapat membayar kewajibannya.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 90

Asuransi Syariah
Dilihat dari portofolio investasinya atau kemana kumpulan dana diinvestasikan, reksa dana
dapat dibedakan menjadi:
a.

Reksa dana pasar Uang


Reksa dana jenis ini hanya melakukan investasi pada efek bersifat utang dengan jatuh tempo
kurang dari satu tahun. Tujuannya adalah untuk menjaga likuiditas dan menjaga modal.

b.

Reksa Dana Pendapatan Tetap


Reksa dana jenis ini melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam
bentuk efek bersifat utang. Reksa dana ini memiliki risiko yang relatif lebih besar dari pada
Reksa Dana Pasar Uang. Tujuannya adalah untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang
stabil.

c.

Reksa Dana Saham


Reksa dana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk
efek bersifat ekuitas. Karena investasinya dilakukan pada saham, maka risikonya lebih tinggi
dari dua jenis reksa dana sebelumnya namun menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi.

d.

Reksa Dana Campuran


Reksa dana jenis ini melakukan investasi dalam efek bersifat ekuitas (contoh: saham) dan efek
bersifat utang (contoh: obligasi).
Reksa Dana Syariah ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kelompok investor yang

menginginkan memperoleh pendapatan investasi dari sumber dan cara yang bersih dapat
dipertanggungjawabkan secara religius yang memang sejalan dengan prinsip syariah.
Reksa Dana Syariah dapat mengambil bentuk seperti reksa dana konvensional. Namun
memilki perbedaan dalam operasionalnya, dan yang paling tampak adalah proses screening dalam
mengontruksi portofolio. Filterisasi menurut prinsip syariah akan mengeluarkan saham yang
memiliki aktivitas haram seperti riba, gharar, minuman keras, judi, daging babi, rokok, prostitusi,
pornografi dan seterusnya. Reksa Dana Syariah di dalam investasinya tidak hanya bertujuan untuk
mendapatkan return yang tinggi. Tidak hanya melakukan maksimalisasi kesejahteraan yang tinggi
terhadap pemilik modal, tetapi memperhatikan pula bahwa portofolio yang dimiliki tetap berada
pada aspek investasi pada perusahaan yang memiliki produk halal dan baik yang tidak melanggar
aturan syariah.

5.4.7.1 PERBEDAAN REKSA DANA SYARIAH DAN KONVENSIONAL


Ada beberapa hal yang membedakan antara reksa dana konvensional dan reksa dana syariah.
Dan tentunya ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan dalam investasi syariah ini.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 91

Asuransi Syariah
a.

Kelembagaan
Dalam syariah islam belum dikenal lembaga badan hukum seperti sekarang. Tapi lembaga

badan hukum ini sebenarnya mencerminkan kepemilikan saham dari perusahaan yang secara
syariah diakui. Namun demikian, dalam hal reksa dana syariah, keputusan tertinggi dalam hal
keabsahan produk adalah Dewan Pengawas syariah yang beranggotakan beberapa alim ulama dan
ahli ekonomi syariah yang direkomendasikan oleh Dewan Pengawas Syariah Nasional Majelis
Ulama Indonesia. Dengan begitu proses didalam akan terus diikuti perkembangannya agar tidak
keluar dari jalur syariah yang menjadi prinsip investasinya.
b.

Hubungan Investor dan Perusahaan


Akad antara investor dengan lembaga hendaknya dilakukan dengan sistem mudharabah.

Secara teknis, al-mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama
menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan
secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila
rugi, ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian si pengelola.
Seandainya kerugian tersebut karena kecurangan atau kelalaian pengelola maka pengelola harus
bertanggungjawab atas kerugian tersebut. Dalam hal ini transaksi jual beli, saham-saham dalam
reksa dana syariah dapat diperjual belikan. Saham-saham dalam reksa dana syariah merupakan yang
harta (mal) yang dibolehkan untuk diperjual belikan dalam syariah. Tidak adanya unsur penipuan
(gharar) dalam transaksi saham karena nilai saham jelas. Harga saham terbentuk dengan adanya
hukum supply and demand. Semua saham yang dikeluarkan reksa dana tercatat dalam administrasi
yang rapih dan penyebutan harga harus dilakukan dengan jelas.
c.

Kegiatan Investasi Reksa Dana


Dalam melakukan kegiatan investasi reksa dana syariah dapat melakukan apa saja sepanjang

tidak bertentangan dengan syariah, diantara investasi tidak halal yang tidak boleh dilakukan adalah
investasi dalam bidang perjudian, pelacuran, pornografi, makanan dan minuman yang diharamkan,
lembaga keuangan ribawi dan lain-lain yang ditentukan oleh Dewan Pengawas Syariah. Dalam
kaitannya dengan saham-saham yang diperjual belikan dibursa saham, BEJ sudah mengeluarkan
daftar perusahaan yang tercantum dalam bursa yang sesuai dengan syariah Islam atau saham-saham
yang tercatat di Jakarta Islamic Index (JII). Dimana saham-saham yang tercantum didalam indeks
ini sudah ditentukan oleh Dewan Syariah.
Dalam melakukan transaksi reksa dana syariah tidak diperbolehkan melakukan tindakan
spekulasi, yang didalamnya mengandung gharar seperti penawaran palsu dan tindakan spekulasi
lainnya.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 92

Asuransi Syariah
5.4.8 OBLIGASI SYARIAH
Obligasi syariah di dunia internasional dikenal dengan sukuk. Sukuk berasal dari bahasa
Arab sak (tunggal) dan sukuk (jamak) yang memiliki arti mirip dengan sertifikat atau note.
Dalam pemahaman praktisnya, sukuk merupakan bukti (claim) kepemilikan. Sebuah sukuk
mewakili kepentingan, baik penuh maupun proporsional dalam sebuah atau sekumpulan aset.
Berbeda dengan konsep obligasi konvensional selama ini, yakni obligasi yang bersifat
hutang dengan kewajiban membayar berdasarkan bunga, obligasi syariah adalah suatu surat
berharga berjangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang
obligasi syariah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi
syariah berupa bagi hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo
(lihat Fatwa DSN, 2004).
Jika ditinjau dari aspek akad, obligasi dapat dimodifikasi ke berbagai jenis seperti obligasi
saham, istihsna, murabahah, musyarakah, mudharabah ataupun ijarah, namun yang lebih populer
dalam perkembangan obligasi syariah di Indonesia hingga saat ini adalah obligasi mudharabah dan
ijarah.
Obligasi syariah di Indonesia mulai diterbitkan pada paruh akhir tahun 2002, yakni dengan
disahkannya Obligasi Indosat obligasi yang diterbitkan ini berdasarkan prinsip mudharabah.
Obligasi mudharabah mulai diterbitkan setelah fatwa tentang obligasi syariah (Fatwa DSN-MUI
No.32/DSN-MUI/ /2002) dan obligasi syariah mudharabah (Fatwa DSN-MUI No.33/DSN-MUI/
/2002). Sedangkan obligasi syariah ijarah pertama kali diterbitkan pada tahun 2004 setelah
dikeluarkannya fatwa tentang obligasi syariah ijarah (Fatwa DSN-MUI No.41/DSN-MUI/ /2003).
Penerapan mudharabah dalam obligasi cukup sederhana. Emiten bertindak selaku
mudharib, pengelola dana dan investor bertindak sebagai shahibul mal, alias pemilik modal.
Keuntungan yang diperoleh investor merupakan bagian proporsional keuntungan dari pengelolaan
dana oleh investor.
Dalam perdagangan obligasi syariah tidak boleh diterapkan harga diskon atau harga
premium yang lazim dilakukan oleh obligasi konvensional. Prinsip transaksi obligasi syariah adalah
transfer service atau pengalihan piutang dengan tanggung bagi hasil, sehingga jual beli obligasi
syariah hanya boleh pada harga nominal pelunasan jatuh tempo obligasi.
Di Indonesia penerbitan obligasi syariah umumnya menggunakan akad mudharabah.
Prinsip-prinsip pokok dalam mekanisme penerbitan obligasi syariah dapat dilihat pada hal-hal
sebagai berikut:
a.

Kontrak atau akad mudharabah atau akad syariah lainnya yang sesuai dituangkan dalam
perjanjian perwali amanatan.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 93

Asuransi Syariah
b.

Rasio atau persentase bagi hasil (nisbah) dapat ditetapkan berdasarkan komponen pendapatan
(revenue) atau keuntungan (profit; operating profit, EBIT atau EBITDA).

c.

Nisbah ini dapat ditetapkan konstan, meningkat, ataupun menurun, dengan mempertimbangkan
proyeksi pendapatan emiten, tetapi sudah ditetapkan di awal kontrak.

d.

Pendapatan bagi hasil berarti jumlah pendapatan yang dibagihasilkan yang menjadi hak dan
oleh karenanya harus dibayarkan oleh Emiten pada pemegang obligasi syariah yang dihitung
berdasarkan perkalian antara nisbah pemegang obligasi syariah dengan pendapatan/keuntungan
yang dibagihasilkan yang jumlahnya tercantum dalam keuangan konsolidasi emiten.

e.

Pembagian hasil pendapatan ini keuntungan dapat dilakukan secara periodik (tahunan,
semesteran, kuartalan, bulanan)

f.

Karena besarnya pendapatan bagi hasil akan ditentukan oleh kinerja aktual emiten, maka
obligasi syariah memberikan indicative return tertentu.

5.4.8.1 LANDASAN DASAR OBLIGASI SYARIAH


a.

Firman Allah SWT:


1) Al-Baqarah ayat 275
Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba...
2) Al-Mujamil ayat 20
Dan sebagian mereka berjalan di muka bumi mencari karunia Allah

b.

Sabda Rasulullah SAW:


Tiga bentuk usaha yang didalamnya mengandung barakah: yaitu jual-beli secara tangguh,
mudharabah/kerjasama dalam bagi hasil dan mencampur gandum dengan kedelai (hasil
keringat sendiri) untuk kepentingan keluarga bukan untuk dijual. (H. R. Ibnu Majah)

c.

Fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) No.32/DSNMUI/IX/2002, tentang obligasi syariah.

5.4.8.2 PERBEDAAN OBLIGASI SYARIAH DAN OBLIGASI KONVENSIONAL


a.

Dari sisi orientasi, obligasi konvensional hanya memperhitungkan keuntungannya semata.


Tidak demikian pada obligasi syariah, disamping memperhatikan keuntungan, obligasi syariah
harus memperhatikan pula sisi halal-haram, artinya setiap investasi yang diharamkan dalam
obligasi pada produk-produk yang sesuai dengan prinsip syariah.

b.

Obligasi konvensional, keuntungannya di dapat dari besaran bunga yang ditetapkan, sedangkan
obligasi syariah keuntungan akan diterima dari besarnya margin/fee yang ditetapkan ataupun
dengan sistem bagi hasil yang didasakan atas aset dan produksi.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 94

Asuransi Syariah
c.

Obligasi syariah disetiap transaksinya ditetapkan berdasarkan akad. Diantaranya adalah akad
mudharabah, musyarakah, murabahah, salam, istisna, dan ijarah. Dana yang dihimpun tidak
dapat diinvestasikan kepasar uang dan atau spekulasi di lantai bursa. Sedangkan untuk obligasi
konvensional tidak terdapat akad disetiap transaksinya.

5.4.9 LEMBAGA ZAKAT


5.4.9.1 PENGERTIAN
Zakat dalam arti fikih berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan
kepada orang-orang yang berhak. Dalam sebuah hadist tentang penempatan Muaz di Yaman,
Rasulullah berkata Terangkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah yang dikenakan
pada kekayaan orang-orang kaya. Dalam beberapa ayat zakat diterangkan sebagai sedekah.

5.4.9.2 SEJARAH
Pada tahun ke-9 Hijriyah mulai ada kewajiban tentang zakat, sedangkan shodaqoh dan fitrah
pada tahun ke-2 Hijriyah. Akan tetapi ada ulama yang berpendapat bahwa kewajiban tentang zakat
ada sebelum tahun ke-9 Hijriyah. Pada awalnya zakat bersifat sukarela dan belum ada peraturan
ketentuan khusus tentang zakat, pada tahun ke-9 Hijriyah kemudian disusun peraturan dan standar
tentang zakat karena pada waktu itu islam telah kuat. Pada masa itu pengelola zakat tidak
mendapatkan gaji resmi tapi mendapatkan bayaran dari dana tersebut.
Zakat pada masa itu merupakan salah satu pendapatan negara, berbeda dengan pajak dan
tidak diperlakukan seperti pajak. Zakat merupakan kewajiban dan salah satu rukun islam,
pengeluaran untuk zakat ada pada Al Quran surat At taubah ayat 60.
Pada zaman Rasulullah zakat dikenakan pada benda-benda berikut:
a.

Benda logam yang terbuat dari emas dan perak seperti koin, perkakas, ornamen, atau dalam
bentuk lainnya.

b.

Binatang ternak seperti unta, sapi, domba, dan kambing.

c.

Berbagai jenis barang dagangan termasuk budak dan hewan.

d.

Hasil pertanian termasuk buah-buahan.

e.

Luqta, harta benda yang ditinggalkan musuh.

f.

Barang temuan.

5.4.9.3 PERBEDAAN ZAKAT DENGAN PAJAK


Berikut adalah tabel perbedaan zakat dengan pajak:

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 95

Asuransi Syariah
ZAKAT
a. Merupakan kewajiban agamadan merupakan
salah satu bentuk ibadah.
b. Diwajibkan kepada seluruh umat islam saja
di suatu negara.
c. Kewajiban agama bagi umat islam yang
harus dibayar dalam keadaan seperti
apapun.
d. Sumber dana besar zakat ditentukan
berdasarkan kitab suci Al Quran dan Sunnah
dan tidak boleh diubah oleh seseorang
maupun pemerintah.
e. Butir-butir pengeluaran dan orang-orang
yang berhak menerima harta zakat juga
dinyatakan oleh Al Quran dan Sunnah zakat
diperoleh dari orang berharta dan diterima
kepada golongan yang ditentukan Al Quran
dan Al Hadist.
f. Zakat dikenakan bukan terhadap uang saja
tetapi juga terhadap baranag-barang
komersil, hasil pertanian, barang tambang,
dan ornamen.

PAJAK
a. Merupakan kebijakan ekonomi yang
diterapkan untuk memperoleh pendapatan
pemerintah.
b. Dikenakan kepada seluruh masyarakat tanpa
mempertimbangkan agama maupun ras.
c. Dapat ditangguhkan oleh pemerintah yang
berkuasa.
d. Besarnya pajak dapat diubah dari waktu ke
waktu berdasarkan keperluan pemerintah
suatu negara.
e. Pemebelanjaan pajak biasanya dapat diubah
atau dimodifikasi menurut kebutuhan
pemerintah.
f. Pajak biasa memberikan manfaat kepada
orang kaya sekaligus orang miskin.
g. Pajak dikenakan terhadap uang.

5.4.9.4 ORGANISASI LEMBAGA PENGELOLA ZAKAT


UU RI Nomor 38 tahun 1998 tentang pengelolaan zakat Bab III pasal 6 dan 7 menyatakan
bahwa lembaga pengelola zakat di Indonesia terdiri dari dua macam, yaitu Badan Amil Zakat
(BAZ) yang dibentuk oleh pemerintah dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk oleh
masyarakat.

5.4.10 KOPERASI SYARIAH


Koperasi sebagai sebuah istilah yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia dari kata
Cooperation (Inggris). Secara semantic koperasi berarti kerja sama. Kata koperasi mempunyai
padanan makna dengan kata syirkah dalam bahasa Arab.27 Syirkah ini merupakan wadah kemitraan,
kerjasama, kekeluargaan, kebersamaan usaha yang sehat baik dan halal yang sangat terpuji dalam
islam.
Menurut Row Ewell Paul koperasi merupakan wadah perkumpulan (asosiasi) sekelompok
orang untuk tujuan kerja sama dalam bidang bisnis yang saling menguntungkan diantara anggota
perkumpulan.
Bung Hatta dalam buku Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun mengkategorikan
delapan nilai sebagai spirit koperasi yaitu:
a.

Kebenaran untuk menggerakan kepercayaan (trust)


27

Muhamad, Lembaga Ekonomi Syariah, (Graha Ilmu, 2007), h. 92.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 96

Asuransi Syariah
b.

Keadilan dalam usaha bersama

c.

Kebaikan dan kejujuran mencapai perbaikan

d.

Tanggung jawab dalam individualitas dan solidaritas

e.

Paham yang sehat, cerdas dan tegas

f.

Kemauan menolong diri sendiri

g.

Menggerakan keswasembadaan dan otoaktif

h.

Kesetiaan dalam kekeluargaan.


Dalam implementasinya tujuh nilai yang menjiwai koperasi versi Hatta, dituangkan dalam

tujuh prinsip operasional koperasi secara internal dan eksternal, yaitu:


a.

Keanggotaan sukarela dan terbuka

b.

Pengendalian oleh anggota secara demokratis

c.

Partisipasi ekonomis anggota

d.

Otonomi dan kebebasan

e.

Pendidikan, pelatihan dan informasi

f.

Kerjasama antar koperasi

g.

Kepedulian terhadap komunitas.

5.4.11 WAKAF TUNAI


Wakaf diambil dari kata waqafa yang berarti menahan atau berhenti. Dalam hukum islam
wakaf berarti menyerahkan suatu hak milik yang tahan lama (zatnya) kepada seseorang atau nadzir
(penjaga wakaf), baik berupa perorangan maupun badan pengelola dalam hal ini bisa bank syariah
maupun lembaga swasta dalam ketentuan hasil atau manfaatnya digunakan sesuai dengan syariat
islam. Harta yang telah diwakafkan keluar dari hak milik yang mewakafkan, dan bukan pula
menjadi hak milik nadzir tetapi menjadi hak milik Allah dalam pengertian masyarakat umum.
Dalam wakaf terdapat 4 rukun, yaitu:
a.

Al Wakif: Orang yang melakukan perbuatan wakaf hendaklah dalam keadaan sehat rohaninya
dan tidak dalam keaddan terpaksa atau dalam keaddan jiwanya tertekan.

b.

Al Mauquf: Harta benda yang diwakafkan harus jelas wujudnya atau zatnya yang bersifat abadi,
artinya bahwa harta itu tidak habis sekali pakai dan dapat diambil manfaatnya dalam jangka
waktu yang lama.

c.

Al Mawqul alaih: Sasaran yang berhak menerima hasil atau manfaat wakaf dapat dibagi
menjadi dua macam, wakaf khairi dimana wakaf dimana wakifnya tidak membatasi sasaran
wakafnya untuk pihak tertentu tapi untuk kepentingan umum, sedangkan wakaf dzurri adalah
wakaf dimana wakifnya membatasi sasaran wakafnya untuk pihak tertentu, yaitu keluarga
keturunannya.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 97

Asuransi Syariah
d.

Sighah: Pernyataan pemberian wakaf, baik dengan lafadz, tulisan, maupun isyarat.
Tujuan dari penggalangan wakaf tunai adalah:

a.

Menggalang tabungan sosial dan mentranformasikan tabungan sosial menjadi modal sosial
serta membantu mengembangkan pasar modal sosial.

b.

Meningkatkan investasi sosial.

c.

Menyisihkan sebagian keuntungan dari sumber daya orang kaya/berkecukupan kepada fakir
miskin dan anak-anak generasi berikutnya.

d.

Menciptakan kesadaran diantara orang-orang kaya/berkecukupan menggali tanggung jawab


sosial mereka terhadap masyarakat sekitarnya.

e.

Menciptakan integrasi antara keamanan dan kedamaian sosial serta meningkatkan


kesejahteraan.
Berikut adalah perbedaan antara wakaf dengan shadaqah/hibah:
WAKAF

SHODAQOH

a. Menyerahkan kepemilikan suatu barang


kepada orang lain.
b. Hak milik atas barang dikembalikan kepada
Allah.
c. Objek wakaf tidak boleh diberikan atau
dijual kepada pihak lain.
d. Manfaat barang biasanya dinikmati untuk
kepentingan sosial.
e. Objek wakaf biasanya kekal zatnya.
f. Pengelolaan objek wakaf diserahkan kepada
administratur
yang
disebut
nadzir/mutawalli.

a. Menyerahkan kepemilikan suatu barang


kepada pihak lain.
b. Hak milik atas barang diberikan kepada
penerima shadaqah/hibah.
c. Objek shadaqah/hibah boleh diberikan atau
dijual pada pihak lain.
d. Manfaat barang dinikmati oleh penerima
shadaqah/hibah.
e. Objek shadaqah/hibah tidak harus kekal
zatnya.
f. Pengelolaan shadaqah/hibah diserahkan
kepada penerima.

PERTEMUAN KE 6
KONSEP MARKETING PADA ASURANSI SYARIAH
6.1

PENGERTIAN PEMASARAN

6.1.1 SECARA UMUM


Pemasaran berasal dari kata pasar, yang dalam konteks tradisional diartikan dengan tempat
orang yang berjual beli. Pemasaran adalah proses, cara, pembuatan, dan memasarkan suatu barang
dagangan. Dalam literatur Arab-Islam, pasar disebut assuq, jamaknya aswaq. Sedangkan pemasaran
disebut dengan at-taswiq. Tentang konsep pasar dan pemasaran, pada dasarnya tidak ada perbedaan
atau bahkan sama saja antara konsep pasar dalam sistem ekonomi Konvensional dengan konsep
pasar dalam sistem ekonomi Syariah. Yang membedakan antara keduanya yaitu terutama terletak

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 98

Asuransi Syariah
pada sistem akad dan barang-barang dagangkan yang diakadkan di samping asas-asas akad dan
tujuan dari akad atau transaksi ekonomi itu sendiri.
Peter F. Drucker, yang sering disebut sebagai guru manajemen, mengatakan bahwa
pemasaran bukanlah meruipakan perluasan dari penjualan. Pemasaran sama sekali bukan aktivitas
yang khusus. Pemasaran merupakan keseluruhan bisnis. Pemasaran adalah keseluruhan bisnis yang
dilihat dari sudut pandang hasil akhir yang dicapai, yaitu sudut pandang pelanggan. Ia juga
mengemukakan bahwa pemasaran adalah fungsi yang berbeda dan merupakan fungsi yang unik dari
suatu bisnis. Kemudian Dracker juga menyebutkan bahwa dalam setiap bisnis, Only marketing
and innovation generate revenue, the rest creates cost (hanya pemasaran dan inovasi yang
menghasilkan pendapatan, yang lain hanya menciptakan biaya).
Salah satu definisi pemasaran yang cukup formal di kalangan pakar pemasaran di
Amerika, dari organisasi professional pemasaran, berbunyi:
Managemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, penetuan
harga, promosi, pendistribusian barang, jasa, dan ide untuki menciptakan pertukaran dengan
kelompok yang dituju, dimana proses ini dapat memuaskan pelanggan dan tujuan
perusahaan. (American Marketing Association: AMA, 1985).

6.1.2 SECARA SYARIAH


Pemasaran syariah adalah sebuah disiplin bisnis strategi yang mengerahkan proses
penciptaan, penawaran, dan perubahan value dari satu inisiator kepada stakholders-nya, yang dalam
keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah dalam islam. Kata kunci
dalam definisi pemasaran syariah ini adalah bahwa dalam seluruh proses, baik proses penciptaan,
proses penawaran maupun proses perubahan nilai (value), tidak boleh ada yang bertentangan
dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah dalam islam.
Di dalam islam juga sudah dijelaskan yang terkait dengan muamalah yang terdapat dalam
kaidah fiqh yang paling basic yaitu al-ashlu fil muaamalatil ibahah illah ayyadulla daliilun `alaa
tahriimihaa (pada dasarnya bentuk muamalah (business) boleh dilakukan kecuali ada dalil yang
mengharamkannya).

6.2

DALIL-DALIL SYARI PEMASARAN


Dari pengertian pemasaran syariah di atas dapat kita simpulkan bahwa pemasaran sama

dengan perwakilan (simsar) atau wakalah dalam fiqh islam. Dengan demikian, secara syari dalildalil tentang pemasaran dengan seluruh lingkup atau elemen-elemen pemasaran yang ada di
dalamnya dapat kita temukan dalam dalil-dalil syari tentang wakalah, simsar atau perwakilan.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 99

Asuransi Syariah
6.2.1 PENGERTIAN WAKALAH (PERWAKILAN)
Wakalah atau wikalah berarti penyerahan, pendelegasian, atau pemberian mandat. Contoh
kaliamat, aku serahkan urusanku kepada Allah SWT mewakili pengertian tersebut. Wahbah azZuhaili, dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu al-Juz ar-Rabi, mengatakan bahwa wakil dalam
segi bahasa mengandung dua makna yaitu: penjagaan atau penyerahan kuasa.
Namun yang dimaksud dengan wakalah dalam pembahasan bab ini adalah pelimpahan
wewenang dari seorang kepada orang lain dengan mengurusi tentang pemasaran dalam suatu
perusahaan yang meliputi sebagai berikut:
a.

Strategi pemasaran (yaitu segmentasi, targeting, dan positioning)

b.

Taktik pemasaran (yaitu differensiation, marketing mix, dan selling)

c.

Peningkatan value (yaitu brand, service, dan process).

6.2.2 LANDASAN HUKUM WAKALAH (PERWAKILAN/PEMASARAN)


a.

Al-Quran
Yang menunjukkan adanya landasan wakalah dalam al-Quran yaitu Demikianlah kami

bangkitkan mereka agar saling bertanya diantara mereka sendiri. Berkata salah seorang diantara
mereka, sudah berapa lamakah kamu di sini? mereka menjawab, kami sudah di sini satu atau
setengah hari. Berkata (yang lain lagi), Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu
berada di sini. Maka, suruhlah salah seorang kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu
ini, dan hendaklah ia lihat manakah makanan yang lebih baik dan hendaklah ia membawa makanan
itu untukmu. Hendaklah mereka berlaku lemah lembut, dan janganlah sekali-kali menceritakan
halmu kepada seseorang pun.
b.

Al-Hadits
Banyak hadist yang dapat dijadikan landasan keabsahan wakalah. salah satu haditsnya yaitu

(Yang artinya):
Rasulullah mewakilkan kepada Abu Rafi dan seorang Anshar untuk mewakilinya
mengawini Maimunah binti al-Harits.
Nabi sendiri sebelum ditunjuk sebagai Rasul, berniaga ke negeri Syam (Syiria), dengan
membawa barang dagangan Khadijah (shareholders), seorang janda kaya, bangsawan, dan
rupawan. Rasulullah mewakili segenap kepentingan stakeholders dalam menjual dan memasarkan
produk bawaannya.
c.

Ijma
Dari sudut ijma para ulama pun bersepakat dengan ijma atas dibolehkannya wakalah

(perwakilan). Mereka bahkan ada yang cenderung mensunnahkannya dengan alasan bahwa hal

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 100

Asuransi Syariah
tersebut termasuk jenis taawun (tolong menolong) atas dasar kebaikan dan takwa. Dalam firman
Allah SWT, sebagai berikut:
Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
janganlah kamu tolong menolong dalam (mengerjakan) dosa dan permusuhan.
d.

Kaidah fiqh
Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang
mengharamkannya.

6.3

MARKETING WARFARE (PERANG PEMASARAN)


Pemasaran adalah perang, di dalam peperangan membutuhkan strategi. Perang yang kami

maksudkan di sini adalah kaitannya dengan strategi dan taktik, bukan perang fisik, seperti yang
disebut dalam salah satu ayat di atas, Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka dari kekuatan
apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat. Inilah salah satu ajaran Islam
dalam al-Quran, bahwa diperlukannya strategi dan taktik, baik dalam peperangan yang
sesungguhnya maupun dalam perang pemasaran.
Art of war (seni berperang) adalah buku tentang strategi militer yang ditulis oleh seorang
ahli strategi militer China, Sun Tsu, pada 2.500 tahun yang lalu. Buku ini mengilhami Khoo Kheng
Hor menulis buku Appliying Sun Tzus Art of War in Marketing (Sun Tzu dalam pemasaran). Ia
menulis bahwa Tsun Tzu berkata, kenalilah musuh Anda, kenalilah diri Anda, kemenangan Anda
pun tidak akan terancam. Kenalilah medannya, kenalilah cuacanya, lengkaplah kemenangan
Anda. Suatu perencanaan bisa membuahkan hasil maksimal bila kita mempunyai informasi yang
tepat waktu, relevan, dan akurat. Informasi yang dimaksud meliputi sebagai berikut:
a.

Musuh Anda, misalnya para pelanggan, pesaing, pemasok, dan distributor Anda. Dalam hal
kebutuhan produk, informasi yang dibutuhkan meliputi sumber-sumber mereka dan cara
mereka memposisikan diri.

b.

Diri Anda, yakni penempatan posisi Anda, pengembangan dan ketersediaan produk, serta
aspek biaya.

c.

Medan, yakni memahami tentang sifat-sifat pasar yang Anda masuki, antisipasi terhadap
berbagai perubahan, dan beragam konsekuensi yang mungkin terjadi.

d.

Cuaca atau Iklim, misalnya iklim ekonomi berupa krisis ekonomi yang tidak mendukung
prospek pemasaran. Selain itu, iklim politik berupa ketidakstabilan di berbagai Negara karena
terjadinya kudeta militer.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 101

Asuransi Syariah
6.4

MARKETING STRATEGY (STRATEGI PEMASARAN)


Strategi dalam pemasaran merupakan suatu cara untuk memenangkan perang. Strategi

penting dan diperlukan dalam bisnis syariah, sepanjang strategi tersebut tidak menghalalkan segala
cara, tidak melakukan cara-cara batil, tidak melakukan penipuan dan kebohongan, dan tidak
menzalimi pihak lain. Strategi dan taktik berbeda tipis dengan tipu daya, dan tipu daya dilarang
dalam islam karena tipu daya mengandung penipuan, kecurangan, dan kezaliman. Sementara hal
tersebut dilarang oleh Allah. Karena itu, dalam strategi maupun taktik pemasaran, haruslah
senantiasa terbebas dari tipu daya. Allah berfirman, yang artinya:
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Allah
sebaik-baik pembalas tipu daya.
Di bawah ini prinsip-prinsip pemasaran dalam perspektif marketing syariah sebgai berikut:
a.

Segmentation (Segmentasi)
Segmentasi disebut sebagai mapping strategy (pemetaan pasar), karena di sini kita

melakukan pemetaan pasar. Pemetaan ini merupakan proses yang kreatif, karena pasarnya
sebenarnya sama, namun cara pandang kita terhadap pasar itulah yang membedakan kita dengan
pesaing.
We are not the first, but we are the best! kalimat indah dan menyentak ini dipakai oleh
beberapa perusahaan sekaligus di Indonesia. Maksudnya, tentu ingin memasukkan di benak
konsumen bahwa perusahaan tersebut adalah terbaik di bidangnya. Marlboro juga pernah beriklan
di Indonesia dengan moto, Nomor satu di Amerika, nomor satu di dunia. Dengan kalimat ini,
rokok putih berfilter ini ingin menyatakan bahwa interms of sales volume, Marlboro juara terbaik di
Amerika dan di dunia. Jadi contoh positioning statement yang pertama tadi menekankan quality,
maka yang kedua lebih menekankan pada quantity.
b. Targeting (Target pasar)
Dalam pemeliharaan target pasar yang tepat, suatu perusahaan harus menggunakan empat
kriteria yaitu ukuran segemen, pertumbuhan segmen, keunggulan kompetitif perusahaan, situasi
kompetitif perusahaan.
Berdasarkan kriteria-kriteria ini, perusahaan harus menyeleksi segmen pasar yang cocok
dengan tujuan dan sumber dayanya, di mana perusahaan mamapu mencapai kinerja yang unggul.
Pekerjaan targeting atau memilih target market adalah langkah berikutnya setelah melakukan
segmentasi pasar. Pekerjaan ini sangat penting, karena kesalahan dalam segmentasi akan
berpengaruh besar terhadap strategi dan taktik pada komnponan marketing lainnya. Dalam
targeting, yang tidak kalah pentingnya adalah sejauh mana suatu perusahaan mampu mengukur
kemampuan dan keunggulan kompetitif serta sumber daya yang dimiliki.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 102

Asuransi Syariah
c.

Positioning (Penentuan posisi)


Positioning adalah pernyataan akan identitas suatu produk, jasa, perusahaan, lembaga, orang

bahkan Negara yang bisa menghasilkan keunggulan di benak orang yang ingin dicapai. Karena itu,
positioning harus membuat produk, jasa, perusahaan, lembaga, orang, atau Negara itu jadi
dipersepsikan berbeda dengan pesaingnya. Perbedaan itu harus benar-benar bisa memisahkan diri
dari yang lain. Yang lebih penting lagi yaitu perbedaan itu disukai, ditunggu, dan kalau bisa
didambakan.
Dalam menentukan posisi produk, suatu perusahaan harus memberikan perhatian terhadap
empat pertimbangan berikut:
1) Positioning harus cocok dengan kekeuatan perusahaan.
2) Positioning harus jelas berbeda dengan positioning pesaing.
3) Positioning harus diterima positif (disukai dan dapat dipercaya) oleh para konsumen
4) Positioning harus sustainable (berkelanjutan) untuk beberapa waktu.
d. Marketing tactic (Taktik pemasaran)
Untuk merealisasikan strategi dan value (nilai) disebut taktik, yang menunjukkan bagaimana
suatu perusahaan mengukuhkan dirinya di pasar, dimana peperangan yang sebenarnya terjadi dan
peperangan di sini memerlukan strategi atau taktik yang rapi, benar, dan teratur.
Ajaran Islam memang mengajarkan agar dalam mengerjakan segala sesuatu harus dengan
rapi, benar, taktis, dan teratur. Setiap pekerjaan apalagi yang berkaitan denga bisnis haruslah
dengan itqan (tepat, terarah, jelas, dan taktis), tidak boleh asal-asalan. Rasulullah bersabda,
sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan, dilakukan
secara itqan (tepat, terarah, teratur, dan taktis).
e.

Differentiation (Diferensiasi)
Secara tradisional, diferensiasi diartikan dengan perbedaan dalam apa yang ditawarkan

perusahaan. Di sini, positioning ada di kelompok strategi, karena merupakan cara memenangkan
perang! Sedangkan, Differentiation diperlukan untuk mengkongkretkan positioning tersebut. Suatu
strategi yang tidak dikonkretkan dalam taktik, akan merupakan sesuatu yang ada di awang-awang,
tidak membumi! Di dalam Differentiation tugas marketing bukan hanya terbatas pada how to win
the war,tapi juga how to win the battle. Karena, war terdiri dari banyak battle! tactic is also
about how to the things right.
f.

Marketing mix (Bauran pemasaran)


Bauran pemasaran yaitu seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk

terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran. Bauran pemasaran meliputi empat
komponen yaitu produk, harga, distribusi, dan promosi(4P-Product, price, place, promotion). Salah
satu yang mendapatkan sorotan dari sudut pandang syariah dalam marketing mix, khusunya
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 103

Asuransi Syariah
promosi, adalah bahwa betapa banyak promosi yang dilakukan saat ini melalui berbagai media
promosi justru mengandung kebohongan dan penipuan. Dari sudut pandang syariah, faktor ini yang
sangat dominan banyak yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah dalam praktiknya di
market.

PERTEMUAN KE 7
REASURANSI SYARIAH
Semakin berkembangnya asuransi syariah di Indonesia, memerlukan adanya reasuransi yang
beroperasional sesuai syariah Islam untuk bekerjasama yang saling menguntungkan kedua belah
pihak. Reasuransi syariah diperlukan oleh asuransi syariah untuk saling membantu bilamana terjadi
klaim dari peserta pada waktu yang tidak dapat diperkiraan sebelumnya. Di mana besarnya klaim
tersebut di luar batas kemampuan membayar asuransi syariah. Kemampuan perusahaan asuransi
syariah untuk menanggung risiko dari suatu pertanggungan disebut retensi, yang merupakan batas
maksimum dari total klaim yang harus dibayar perusahaan asuransi syariah. Bilamana total klaim
yang harus dibayar melebihi retensi yang telah ditentukan perusahaan asuransi, maka perlu adanya
keterlibatan reasuransi syariah untuk ikut menanggung beban sebagian dari klaim tersebut. Jika hal
ini tidak dilakukan, maka perusahaan asuransi syariah akan mengalami gagal bayar (default) yang
berpotensi merugikan peserta karena klaimnya tidak dapat dibayar.
Kerjasama antara reasuransi syariah dengan asuransi syariah, berdasarkan fatwa DSN No.
53/DSN-MUI/III/2006 aktivitas ini menggunakan akad tabarru. Hal ini sesuai dengan tujuan
kerjasama tersebut untuk saling tolong-menolong, dan bukan semata-mata untuk tujuan komersial.
Hubungan asuransi syariah dengan reasuransi syariah, hampir sama dengan hubungan asuransi
syariah dengan peserta. Dalam hubungan asuransi syariah dengan peserta, di mana pihak asuransi
syariah sebagai penanggung kerugian (insuer) yang mungkin menimpa peserta sebagai pihak
tertanggung (insured). Sedangkan dalam reasuransi syariah sebagai pihak penanggung (insuer), dan
sebagai pihak tertanggung asuransi syariah (insured) tanpa adanya keterlibatan langsung antara
reasuransi syariah dengan peserta sebagai pemegang polis dari suatu perusahaan asuransi syariah.
Dengan mengasuransikan kembali sebagian premi yang dikelola perusahaan asuransi
syariah, berarti perusahaan asuransi syariah menyebarkan sebagian risiko kepada reasuransi syariah.
Hal ini untuk menghindari kerugian yang lebih besar karena adanya klaim peserta dan menghindari
gagal bayar dari perusahaan asuransi syariah.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 104

Asuransi Syariah
7.1

KEUNTUNGAN IKUT PROGRAM REASURANSI


Perusahan asuransi syariah yang mengasuransikan kembali sebagian preminya pada

reasuransi syariah akan mendapat keuntungan sebagai berikut:


a.

Penyebaran risiko.

b.

Memperbesar kapasitas perusahaan asuransi syariah dalam menerima risiko.

c.

Meningkatkan daya saing.

d.

Meningkatkan kepercayaan peserta.

7.2

JENIS REASURANSI
Ditinjau dari ruang lingkup pada dasarnya ada 2 jenis reasuransi, yaitu:

a.

Specific/Facultative Reinsurance, yaitu aktivitas penempatan reasuransi yang didasarkan pada


kepentingan masing-masing pihak. Perusahaan asuransi boleh menawarkan atau tidak
menawarkan risiko yang di luar batas kemampuan membayar kepada reasuransi, sebaliknya
reasuransi boleh menerima atau menolak apabila ditawari risiko tersebut.

b.

Automatic/Treaty Reinsurance, yaitu perjanjian reasuransi di mana perusahaan asuransi setuju


atas penempatan kelebihan risiko kepada reasuransi dan reasuransi secara otomatis menyetujui
atas penempatan kelebihan risiko tersebut dari perusahaan asuransi sampai batas jumlah
tertentu yang telah disetujui bersama.

c.

Facultative Obligatory Reinsurance, yaitu gabungan antara facultative insurance dengan treaty
insurance. Perusahaan asuransi boleh menempatkan atau tidak menempatkan kelebihan risiko
kepada reasuransi. Akan tetapi apabila perusahaan asuransi berkehendak menempatkan
kelebihan risiko, maka reasuransi harus menerimanya sampai batas jumlah yang disetujui
bersama.

7.3

REASURANSI SYARIAH YANG BEROPERASI DI INDONESIA


Jumlah perusahaan reasuransi syariah yang beroperasi di Indonesia ada 7 perusahaan, yang

terdiri dari 4 perusahaan reasuransi syariah dalam negeri dan 3 perusahaan reasuransi syariah dari
luar negeri. Pangsa pasar reasuransi di Indonesia masih terbuka lebar, karena reasuransi dalam
negeri masih menguasai 20% dari total premi yang diasuransikan ulang. Sisanya 80% dikuasai oleh
reasuransi luar negeri. Berikut daftar reasuransi syariah yang beroperasi di Indonesia.
a.

PT. Reasuransi Internasional Indonesia (Reindo Syariah Unit)

b.

PT. Reasuransi Nasional Indonesia (Nasre Syariah)

c.

PT Maskapai Reasuransi Indonesia, Tbk (Marein)

d.

PT. Tugu Reasuransi Indonesia (Tugu-Re)

e.

ASEAN Retakaful Labuhan-Malaysia

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 105

Asuransi Syariah
f.

Takaful-re Bahrain

g.

Milea Retakaful Singapore


Reasuransi adalah istilah yang digunakan saat satu perusahaan asuransi melindungi dirinya

terhadap resiko asuransi dengan memanfaatkan jasa dari perusahaan asuransi lain. Terdapat banyak
alasan yang menyebabkan perusahaan asuransi melakukan reasuransi. Pembagian resiko adalah
salah satu alasan reasuransi.
Jika perusahaan asuransi berpendapat bahwa nilai asuransi suatu premi lebih besar daripada
nilai yang dapat ditanggungnya, maka ia dapat membagi resiko yang dihadapinya dengan
mengasuransikan kembali sebagian nilai itu pada perusahaan reasuransi (pada dasarnya hal ini mirip
dengan tidakan hedging pada industri keuangan lainnya). Dengan dilakukannya reasuransi ini, pada
dasarnya perusahaan asuransi telah melakukan perlindungan terhadap kestabilan tingkat
pendapatannya karena reasuransi telah melindunginya dari potensi kerugian yang besar. Alasan lain
adalah untuk mendapatkan keuntungan sebagai perantara dengan mengasuransikan kembali pada
perusahaan reasuransi dengan premi yang lebih rendah daripada tingkat premi yang dikenakan
perusahaan asuransi itu sendiri pada pelanggannya.
Terdapat dua tipe jenis reasuransi, yaitu reasuransi proporsional dan non-proporsional.
Reasuransi proporsional adalah reasuransi dimana perusahaan reasuransi mengambil alih resiko
klaim secara proporsional berdasarkan klaimnya. Semisal jika telah ada perjanjian reasuransi
proporsional antara perusahaan asuransi dengan perusahaan reasuransi sebesar 40%, maka jika
terjadi klaim dari pemegang polis maka perusahaan asuransi hanya perlu mengeluarkan dana
sebesar 60% dari jumlah klaim, sementara sisa 40% dari klaim akan ditanggung oleh perusahaan
reasuransi tersebut. Untuk jenis reasuransi non-proporsional, biasanya perusahaan reasuransi akan
menanggung klaim diatas batas maksimal yang dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi. Semisal
jika perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi telah membuat perjanjian untuk menanggung
klaim diatas batas 1 milyar, maka jika ada klaim sebesar 800 juta, maka perusahaan asuransi akan
menanggung seluruh klaim yang diajukan tersebut. Sebaliknya jika terdapat klaim sebesar 4 milyar,
maka perusahaan asuransi hanya menanggung sesuai perjanjiannya, yaitu 1 milyar dan sisanya akan
ditanggung oleh perusahaan reasuransi tersebut.
Hampir semua reasuransi melibatkan lebih dari satu perusahaan reasuransi, hal ini berkaitan
dengan distribusi resiko. Perusahaan reasuransi yang menentukan kondisi-kondisi kontrak dan
premi reasuransi disebut lead insurer, sementara perusahaan reasuransi lain yang ikut ambil bagian
dalam kontrak itu disebut following reinsurer. (Yustinus Dalle Edhie)

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 106

Asuransi Syariah
7.4

TENTANG ASURANSI
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 2 tahun 1992 tentang Usaha

Perasuransian menyatakan bahwa perusahaan reasuransi adalah perusahaan yang memberikan jasa
dalam pertanggungan ulang terhadap risiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi kerugian dan
atau perusahaan asuransi jiwa.
Sedangkan peranan reasuransi ini dinyatakan dengan tegas dalam Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia nomor 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian bahwa
setiap penutupan asuransi yang jumlah uang pertanggungannya melebihi retensi sendiri harus
memperoleh dukungan reasuransi.
Peranan reasuransi ini makin dipertegas dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik
Indonesia nomor 224/KMK. 017/1993 tentang kesehatan keuangan perusahaan asuransi dan
perusahaan reasuransi bahwa dukungan reasuransi pada perusahaan asuransi harus berdasarkan
reasuransi treaty dan baru dukungan reasuransi fakultatif apabila dukungan reasuransi treaty telah
tidak mencukupi serta sekurang-kurangnya perusahaan asuransi mendapat dukungan reasuransi dari
satu perusahaan reasuransi dan satu perusahaan asuransi didalam negeri.
Pada dasarnya Perusahaan Reasuransi melakukan kegiatan yang sama dengan Perusahaan
Asuransi. hanya perbedaan dalam menerima pemindahan Risiko adalah berasal dari Perusahaan
Asuransi sehingga fungsi Underwriting yang dilakukan lebih mendasarkan Pada Underwriting
Perusahaan Asuransi dan tidak secara langsung atas risiko yang akan diterimanya. Dengan
demikian maka Reasuransi tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan masyarakat
Tertanggung dan membantu Perusahaan Asuransi dalam hal:
a.

Memperbesar kapasitas akseptasi Risiko-risiko tertentu oleh perusahaan Asuransi;

b.

Penyebaran Risiko yang ditanggungnya;

c.

Stabilisasi keuntungan Perusahaan;

d.

Meminimalisir cadangan Teknis yang dibutuhkan;

e.

Mengembangkan kegiatan Perusahaan serta peningkatan asas Profesionalisme dan daya saing
Perusahaan.
Pada dasarnya ada dua bentuk dasar Reasuransi yaitu,

a.

Perusahaan Reasuransi Profesional (Profesional Reinsurer) merupakan badan Usaha yang


semata-mata bertindak sebagai Penanggung ulang dan tidak mempunyai hubungan sama sekali
dengan masyarakat tertanggung atau tidak melakukan penutupcn Asuransi sebagai penanggung
Pertama dalam masyarakat dan yang,

b.

Perusahaan Reasuransi non-profesional (non-profesional reinsurer) dimana kegiatan reasuransi


ini hanya merupakan salah satu unit kegiatan dalam perusahaan Asuransi atau dengan kata lain
kegiatan utama perusahaan adalah sebagai Perusahaan Asuransi akan tetapi juga melakukan

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 107

Asuransi Syariah
kegiatan Reasuransi yang pada umumnya merupakan kegiatan atas dasar saling
menguntungkan dan menerima Risiko tersebut dari Perusahaan Asuransi lainnya yang juga
menerima Risiko dari Perusahaan Asuransi bersangkutan.
Disamping itu pula ada bentuk-bentuk lain yang merupakan penggabungan atau ker ja sama
antara dua atau lebih Perusahaan Asuransi dalam usaha memperbesar kapasitas Akseptasi risiko
secara bersamadan saling menguntungkan terutama dalam risiko-risiko yang nilainya besar atau
risikonya bersifat kompleks serta dalam unit yang relatif besar dimana biasanya bergabung dalam
apa yang dikenal dengan nama Pool Asuransi, Konsorsium Asuransi dan lain sebagainya.

Ruang Lingkup Reasuransi


Pada dasarnya ada 2 (dua) bentuk dasar jenis reasuransi yaitu Proses Penerimaan
Pertanggungan Ulang yang didasarkan Kasus Perkasus dan yang diterima berdasarkan Perjanjian
yang telah disetujui bersama antara Perusahaan Asuransi dengan Perusahaan Reasuransi.

Specific/Facultative Reinsurance
Sesuai dengan namanya maka Reasuransi Fakultatif merupakan kegiatan penempatan
Reasuransi didasarkan pada kemauan masing-masing pihak dimana Perusahaan Asuransi boleh
menawarkan atau tidak menawarkan risiko yang tidak tertampung dalam kemampuannya kepada
Perusahaan Reasuransi tertentu dan Perusahaan Reasuransi tertentu tersebut boleh menerima atau
menolak apabila ditawarkan risiko tersebut.

Automatic/Treaty Reinsurance
Perjanjian Reasuransi atau Reasuransi Otomatis adalah dimana Perusahaan Asuransi telah
setuju terlebih dahulu untuk menempatkan atau memberikan kelebihan risikonya kepada
Perusahaan Reasuransi dan Perusahaan Reasuransi tersebut telah setuju secara otomatis menerima
kelebihan risiko yang dipindahkan kepadanya oleh Perusahaan Asuransi yang bersangkutan sampai
dengan jumlah yang telah disetujui bersama.

Facultative Obligatory Reinsurance


Jenis Asuransi ini adalah merupakan kombinasi an tara kedua bentuk ekstreem tersebut
diatas dimana Perusahaan Asuransi boleh menawarkan atau menempatkan kelebihan risikonya,
boleh juga tidak menempatkannya kepada Perusahaan Reasuransi tersebut; akan tetapi apabila
kelebihan Risiko tersebut ditempatkan maka Perusahaan Reasuransi tadi harus menerima sampai
dengan jumlah yang telah disetujui.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 108

Asuransi Syariah
Program & Kontrak Reasuransi
Program atau Kontrak Reasuransi pada dasarnya dapat didasarkan pada Saham tertentu dari
jumlah risiko dimana Perusahaan Asuransi menanggungnya (A Share Of The Amounts Of The
Risks) atau Menanggung setelah batas tertentu (Excess Of The Loss Beyond Certain Establish
Limits).
Pada dasarnya kontrak atau Program Reasuransi tentunya adalah untuk jenis automatic atau
Treaty Reinsurance ataupun Facultative Obligatory Reinsurance; yang dapat dibagi dalam dua
kelompok dasar yaitu Program Reasuransi secara Proporsional dimana saham Perusahaan
Reasuransi ditetapkan dalam Proporsi atau Persentase yang telah ditetapkan dan Program
Reasuransi secara Non-Proporsional dimana Perusahaan Reasuransi menanggung sampai sejumlah
tertentu yang telah disetujui setelah melalui batas-batas kerugian tertentu.

Proporsional Reinsurance Treaty


Sebagaimana telah disinggung diatas maka Kontrak atau Program Reasuransi Proporsional
adalah dimana Perusahaan Reasuransi berpartisipasi dalam jumlah yang secara relatif maupun
kwantitatif telah ditetapkan secara sebanding, dimana dapat berbentuk.

Quota-Share (Prorata) Reinsurance Treaty


Perusahaan Asuransi setuju untuk memberikan secara proporsional (Persentase Tertentu)
dari jumlah yang telah disetujui bersama untuk setiap kontrak Asuransi yang ditutup oleh
Perusahaan Asuransi yang bersangkutan kepada Perusahaan Reasuransi sampai dengan proporsi
atau jumlah yang telah disetujui.

Surplus Reinsurance Treaty


Perusahaan Reasuransi tidak selalu harus berpartisipasi dalam setiap risiko yang ditutup
Perusahaan Reasuransi, disini Perusahaan Reasuransi baru ikut berpartisipasi setelah melampaui
batas kemampuan akseptasi Perusahaan Asuransi atau melebihi retensi Perusahaan Asuransi sampai
dengan proporsi yang telah disetujui bersama; diaman secara relatif adalah tetap besarnya akan
tetapi secara kwantitatif dapat berbeda akan tetapi tidak melebih jumlah maksimum yang telah
disetujui bersama. Surplus Treaty ini dapat terbagi dalam berbagai tingkatan misalnya First Surplus
Treaty, Second Surplus Treaty dan seterusnya.

Non-Proporsional Reinsurance Treaty


Kontrak Reasuransi non-proporsional adalah merupakan Pertanggungan dimana Perusahaan
Reasuransi menerima Risiko sampai dengan Nilai tertentu setelah melalui batas kerugian tertentu
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 109

Asuransi Syariah
yang diderita Perusahaan Asuransi, dimana jumlah ini merupakan limit tertinggi secara Agregatif
dalam jangka waktu paling lama satu Tahun Underwriting. Atau bisa kurang apabila jumlah
tersebut telah habis dan tidak diperbaharui lagi; jadi disini seolah-olah Perusahaan Asuransi
memberi ASlfransi Untuk suatu nilai tertentu yang dapat dipakai untuk menutup kerugian yang
dideritanya diatas kemampuannya secara akumulatif sampai dengan jumlah tertentu tanpa melihat
jumlah risiko yang diatas kemampuannya.

Excess Of Loss Reinsurance Treaty


Disini ditetapkan juga kerugian maksimum yang dapat ditanggung oleh Perusahaan
Asuransi dan diatas kerugian maksimum ini barulah Perusahaan Reasuransi ikut berpartisipasi
secara kumulatif sampai dengan batas yang telah ditetapkan bersama. Dan apabila telah habis
walaupun Tahun Underwritingnya belum habis apabila tetap menghendaki proteksi tersebut maka
Perusahaan Asuransi harus membeli kembali dan apabila sampai dengan Tahun Underwriting yang
bersangkutan tidak terpakai atau masih ada sisanya maka jumlah tersebut dengan sendirinya
menjadi daluwarsa.

Stop Loss Reinsurance Treaty


Pada dasarnya cara kerja Stop Loss Reinsurance Treaty ini sama dengan Excess Of Loss
Reinsurance Treaty hanya tujuan serta karakteristiknya agak berbeda dimana Stop Loss lebih
ditujukan Untuk melindungi Perusahaan Asuransi atas kerugian yang bersifat Katastropik atau
akumulatif dari risiko-risiko sejenis yang ditanggung.

Aspek Teknis Reasuransi


Aspek teknis yang menonjol dalam kegiatan Reasuransi secara umum terlihat sebagai
berikut:
a.

Yang di-Underwrite adalah Perusahaan Asuransi dan bukan tertanggung sehingga menganut
falsafah "Reinsurance Follow the Fortune of The Insurance".

b.

Suatu program Reasuransi adalah berdasarkan pada Loss Ratio Perusahaan Asuransi serta
Kemampuan Keuangan serta Manajemennya.

c.

Portofolio antara jumlah yang ditanggung sendiri oleh Perusahaan Asuransi serta yang di
Reasuransikan;

d.

Kemungkinan terjadinya kerugian katastropik karena adanya satu risiko yang ditutup lebih dari
satu Perusahaan Asuransi.

e.

Kemampuan mengaksep risiko serta program retrosessinya.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 110

Asuransi Syariah
Salah satu syarat teknis yang ditekankan oleh Pemerintah dimana dinyatakan bahwa
perusahaan reasuransi harus menerapkan reasuransi treaty secara timbal balik sekurang-kurangnya
dengan satu perusahaan reasuransi didalam negeri.
Penempatan reasuransi keluar negeri hanya dapat dilakukan pada perusahaan reasuransi
yang memuhi persyaratan-persyaratan dalam permodalan, izin operasional, memenuhi perundangundangan setempat serta memiliki reputasi yang baik didunia perasuransian internasional.
Tentunya secara khusus masih ada hal-hal yang menyangkut dasar perhitungan teknis
Perusahaan Reasuransi seperti kekayaan Perusahaan (Net Worth), Portofolio bisnis yang diterima
secara menyeluruh, Loss Ratio Perusahaan dibandingkan loss Ratio Industri Reasuransi dan
Asuransi serta lain-lainnya

7.5

REASURANSI SYARIAH

Oleh: Indriyanto Agus Wibowo, Praktisi Reasuransi Syariah

Terkait dengan adanya statement dari DSN yang mencabut status darurat reasuransi
konvensional, dicabutnya status darurat ini bermakna telah tertutupnya pintu bagi asuransi-asuransi
syariah untuk menggunakan jasa reasuransi konvensional dalam mendapatkan dukungan (backup)
kapasitas atas resiko-resiko yang melebihi kemampuan asuransi syariah (own retention).
Makna lain adalah asuransi syariah diharuskan hanya menggunakan reasuransi syariah untuk
memenuhi tambahan kapasitasnya itu. Dalam konteks ini, artinya menjadi haram penggunaan jasa
reasuransi selain asuransi syariah.
Masalah ini penting bagi industri asuransi syariah karena dua implikasi yang akan terjadi
dari pencabutan fatwa ini, sama-sama akan berdampak bagi perkembangan industri perasuransian
syariah kedepan. Dibiarkannya fatwa darurat reasuransi konvensional, berarti memperpanjang
waktu bagi nasabah untuk belum mendapatkan pelayanan asuransi yang penuh secara syariah.
Demikian halnya jika pencabutan fatwa darurat reasuransi segera direalisasikan, apakah reasuransi
syariah telah siap menampung kelebihan (excess) atas seluruh portofolionya, mengingat mekanisme
reasuransi syariah bekerja berdasarkan pada prudent underwriting, yang terkait pada proses
klasifikasi dan seleksi resiko?
Menyimak dari alasan-alasan yang dilontarkan DSN, muatannya terfokus pada upaya
memurnikan praktek asuransi secara syariah yaitu mengembalikan kepada hukum awal asuransi dan
reasuransi yang konvensional sebagai sesuatu yang haram. Yang kedua adalah telah dibukanya
reasuransi syariah nasional yaitu ReINDO syariah dan Nasre syariah, yang disusul dua asuransi
lainnya Tugure dan Marien yang akan membuka unit syariahnya, ditambah tiga reasuransi luar

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 111

Asuransi Syariah
negeri, yaitu ASEAN Retakaful Labuan-Malaysia, Takaful-re Bahrain dan Milea Retakaful
Singapore.
Tentu diperlukan pikiran yang jernih dan mendalam (amiq wal mustaniir) dalam mencari
solusi masalah ini. Disatu sisi, tidak boleh mengabaikan hak nasabah (peserta takaful) atas
kehalalan dan kesyariahan dari produk yang diikutinya, dan disisi lain juga tidak boleh menjadi
penghambat perkembangan industri asuransi syariah yang begitu menggembirakan ini. Disinilah
dituntut kearifan DSN-MUI dalam melihat permasalahan ini.
Menurut kaidah syari, darurat didefinisikan sebagai suatu keadaan emergency dimana jika
seseorang tidak melakukan sesuatu tindakan dengan cepat, maka akan membawanya ke jurang
kehancuran atau kematian. Dalam literatur klasik, darurat sering dicontohkan dengan seseorang
yang tersesat di hutan dan tidak ada makanan lain kecuali daging babi yang diharamkan. Maka
dalam keadaan darurat tersebut, Allah menghalalkan daging babi dengan dua batasan, Barangsiapa
dalam keadaan terpaksa seraya dia (1) tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas (2), maka
tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dengan
sebaliknya, kondisi terpaksa ini dinilai bahwa, apapun yang diperbolehkan karena sesuatu alasan
darurat, menjadi tidak boleh lagi dengan hilangnya alasan tersebut (Syakir, 2004).
Jika menunjuk definisi diatas dan dihubungkan dengan konteks penggunaan reasuransi
konvensional saat ini, maka muncul beberapa pertanyaan lanjutan. Apakah tanpa adanya
penggunaan jasa reasuransi konvensional oleh asuransi syariah, akan menyebabkan kehancuran atau
kematian industri asuransi syariah? Apakah saat ini tidak ada sama sekali reasuransi selain yang
konvensional? Belum cukupnya kapasitas reasuransi syariah apakah menjadikan halal reasuransi
konvensional? Bukankah darurat disyariatkan tidak melampaui batas. Tentu bila dijawab satu
persatu pertanyaan diatas, maka kita sampai pada satu kesimpulan bahwa ber-reasuransi
konvensional oleh asuransi syariah saat ini, tidak lagi memenuhi persyaratan darurat.
Disamping itu, hukum darurat diberlakukan dengan aspek yang sangat ketat, dimana darurat
juga mencakup hal-hal seperti keadaan emergency harus benar-benar telah terjadi, sudah tertutup
peluang untuk mendapatkan halal setelah berupaya sekuat-kuatnya, dan tidak ditemukan alternatif
lainnya sebagai pengganti yang halal. Apakah hal ini terjadi pada praktek pereasuransian syariah
saat ini?
Perlunya mendudukan permasalahan ini sesuai syara, bahwa belum maksimalnya kapasitas
reasuransi syariah dipandang dari sudut asuransi syariah, tidak bisa dilihat lagi sebagai sesuatu yang
dapat melanggengkan fatwa darurat itu. Karena persyaratan darurat itu sendiri telah hilang, dengan
munculnya reasuransi syariah baik diluar maupun didalam negeri, maka gugurlah aspek daruratnya.
Ancaman kematian atau kehancuran asuransi syariah bila tidak segera dilakukan tindakan dengan
cepat, tentu menjadi tidak tepat pada kondisi saat ini.
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 112

Asuransi Syariah
Kekhawatiran yang muncul sebenarnya lebih beralasan bila dihubungkan dengan kurang
kompetitifnya daya saing asuransi syariah bila berhadapan dengan asuransi konvensional, terutama
untuk penutupan-penutupan besar. Asuransi konvensional yang lebih dulu berkembang dan sudah
mapan serta mendapat dukungan reasuransi yang kuat, tentu akan leluasa untuk mendapatkan
penutupan tersebut. Jadi titik masalah sebenarnya adalah bukan lagi masih boleh tidaknya darurat
reasuransi dijalankan, namun bagaimana memperjuangkan kenaikan kapasitas perasuransian
syariah, baik asuransi syariah itu sendiri maupun reasuransi syariah, yang sangat terkait dengan
besaran pemodalan yang dimilikinya, dalam rangka ikut mengembangkan perasuransian syariah
yang sehat dan kuat.

7.6

PROSPEK REASURANSI SYARIAH


Reasuransi Syariah di Indonesia sudah mulai tumbuh dan berkembang, yang ditandai

dengan penambahan beberapa perusahaan Reasuransi baik dari Nasional maupun dari Internasional
(ASEAN), untuk mendukung dan membantu mekanisme dan kegiatan transfer of risk dari
perusahaan asuransi syariah. Beberapa perusahaan reasuransi nasional tersebut diantaranya adalah
ReINDO syariah, Nasre syariah, Tugure dan Marien yang telah membuka unit syariahnya.
Sedangkan tiga perusahaan reasuransi syariah yang berasal dari negara ASEAN diantaranya adalah
Retakaful Labuan-Malaysia, Takaful-re Bahrain dan Milea Retakaful Singapore. Perkembangan
jumlah perusahaan reasuransi syariah ini di Indonesia diharapkan akan dapat meminimalisir
kecemasan dari pelaku asuransi syariah.
Kapasitas yang terkumpul dari ketujuh reasuransi syariah baik nasional maupun ASEAN
tersebut, tentunya diharapkan dapat mencukupi pasar asuransi syariah di Indonesia. Hal ini
dibuktikan pada tahun 2006 oleh perusahaan asuransi Takaful Indonesia yang menjadi satu-satunya
asuransi syariah yang murni syariah, disebabkan mulai tahun itu, Takaful Indonesia telah
menggunakan back-up reasuransi syariah 100% ini merupakan yang pertama dan satu-satunya di
Indonesia. Sehingga kehadiran empat perusahaan reasuransi syariah dalam negeri saja, diyakini
kapasitas penjamin untuk 35 perusahaan asuransi syariah yang ada dapat terpenuhi. Takaful
sebelumnya melempar Rp. 100 miliar pertanggungan Takaful kepada reasuransi konvensional baik
dalam maupun luar negeri. Perkembangan yang sangat membanggakan bagi kalangan perasuransian
di Indonesia.

Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 113

Asuransi Syariah

DAFTAR PUSTAKA / REFERENSI


Ali, A. Hasymi. 2002. Pengantar Asuransi. Jakarta: Bumi Aksara.
Ali, Zainudin. 2004. Hukum Asuransi Syariah. Jakarta: Sinar Grafika.
Antonio, M. Syafii. 2001. Bank Syariah dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press.
Arbi, Syafii. 2003. Mengenal Bank dan Lembaga Keuangan Non-bank. Jakarta: Djambatan
Ar-Rifai. 2000. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 4, Jakarta: GIP.
Drucker, Peter F., 1973. Management, Task, Responsibilities, Practices, Harper and Row, New
York.
Euis Amalia, dkk. 2007. Serial Buku Pedoman Praktyekum Fakultas Syariah dan Hukum No 1,
Buku Modul Praktekum Bank Mini, Konsep dan Mekanisme Bank Syariah. Jakarta: Fakultas
Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi
Syariah.
Http://mycopypast.blogspot.com/2009/07/segmentasi-targeting-dan-positioning.html
Iqbal, Muhaimin. 2006. Asuransi Umum Syariah dalam Praktik Upaya Menghilangkan Gharar,
Maisir dan Riba. Jakarta: Gema Insani.
Kotler, Philip. 2003. Manajemen Pemasaran Global. Jakarta: PT. Prenhallindo.
Kusnanto, Amir. 2011. Bank Syariah dan Lembaga Keuangan Syariah. Malang: Badan Penerbit
STIE Malangkuewara.
M. Amin Suma, 2006. Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional. Jakarta: Kholam Publising.
M. Nadratuzzaman Hosen, AM Hasan Ali, dan A. Bahrul Muhtasib. 2008. Materi Dakwah Ekonomi
Syariah.
Muhamad. 2000. Prinsip-prinsip Akuntansi dalam Al-Quran, Yogyakarta: UII Press.
________. 2000. Lembaga Keuangan Umat Kontemporer. Yogyakarta: UII Press.
Muhammad. 2005. Pengantar Akuntansi Syariah. Ed. 2. Jakarta: Salemba Empat.
________. 2007. Lembaga Ekonomi Syariah. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Muslehuddin, Muhammad. 1999. Menggugat Asuransi Modern: Mengajukan Suatu Alternatif Baru
Dalam Perspektif Hukum Islam, alih bahasa Burhan Wirasubrata, cet. I, (Jakarta: Lentera
Basramita.
Nejatullah. S, Muhammad. 1985. Asuransi di Dalam Islam. Bandung: Pustaka.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian.
Peter F. Drucker, 1973. Management, Task, Responsibilities, Practices, Harper and Row. New
York.
Saladin, Djaslim dan Abdus Salam DZ. 2000. Konsep Dasar Ekonomi Dan Lembaga Keuangan.
Bandung: Linda Karya.
Siamat, Dahlan. 1995. Menejemen Lembaga Keuangan, Jakarta: Intermedia.
________. 2001. Manajemen Lembaga Keuangan. Ed. Ketiga. Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI.
Sudarsono, Heri. 2003. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Yogyakarta: EKONISIA Kampus
Fakultas Ekonomi UII.
Sula, Muhammad Syakir. 2004. Asuransi Syariah. Jakarta: Gema Insani.
Suma, M. Amin. 2006. Asuransi Syariah dan Asuransi Syariah. Jakarta: Kholam Publising.
Syakir Sula, Muhammad. 2004. Asuransi Syariah. Jakarta: Gema Insani.
Muhammad Mujahid (D3-PS/V D)

Page 114