Anda di halaman 1dari 5

PNEUMOTHORAX

Pneumothorax adalah udara atau gas dalam rongga pleura, yang dapat terjadi secara
spontan sebagai akibat trauma ataupun proses patologis.
Rongga pleura adalah rongga yang terletak diantara selaput yang melapisi paru paru dan
rongga dada. Tekanan di rongga pleura pada orang sehat selalu negatif untuk mempertahankan
paru dalam keadaan berkembang ( imflasi ). Tekanan pada rongga pleura pada akhir inspirasi 4
s/d 8 cm H2O dan pada akhir ekspirasi 2 s/d 4 cm H2O.
Kerusakan pada pleura parietal dan atau pleura visceral dapat menyebabkan udara luar
masuk ke dalam rongga pleura. Paling sering terjadi spontan tanpa ada riwayat trauma thorax
dan karena berbagai prosedur diagnostic maupun terapeutik.
Pneumothorax spontan yang timbul pada umur lebih dari 40 tahun seringkali disebabkan
oleh adanya bronchitis kronik dan empisema, lebih sering pada mereka yang mempunyai
kebiasaan merokok.

ANATOMI FISIOLOGI RONGGA THORAX


Kerangka dada terdiri atas tulang dan tulang rawan. Batas batas yang membentuk rongga di
dalam thorax ialah :
a.

Depan : Sternum dan tulang rawan iga iga.

b. Belakang : 12 ruas tulang punggung beserta cakram antarruas (diskus invertebralis) yang terbuat
dari tulang rawan.
c.

Samping : Iga iga beserta otot interkostal

d. Bawah : Diafragma
e.

Atas : Dasar leher.


Rongga thorax berisikan :
Sebelah kanan dan kiri rongga dada terisi penuh oleh paru paru beserta pembungkus pleuranya.
Pleura ini membungkus setiap belah, dan membentuk batas lateral pada mediastinum.
Mediastinum ialah ruang di dalam rongga dada antara kedua paru paru. Isinya jantung dan
pembuluh pembuluh darah besar, usofagus, duktus torasika, aorta desendens, dan vena kava
superior, saraf vagus, dan frenikus dan sejumlah besar kelenjar limfe.

ETIOLOGI
Pneumothorax terjadi karena adanya kebocoran dibagian paru yang berisi udara melalui
robekan atau pecahnya pleura. Robekan ini berhubungan dengan bronkus. Pelebaran /alveoli dan
pecahnya septa septa alveoli kemudian membentuk suatu bula yang disebut granulomatus
fibrosis. Granulomatus fibrosis adalah salah satu penyebab tersering terjadinya pneumothorax,
karena bula tersebut berhubungan dengan adanya obstruksi empisema.

KLASIFIKASI
1) Berdasarkan terjadinya yaitu:
a.

Artificial
Udara lingkungan luar masuk ke dalam rongga pleura melalui luka tusuk atau pneumothoraks
disengaja (artificial) dengan terapi dalam hal pengeluaran atau pengecilan kavitas proses spesifik
yang sekarang tidak dilakukan lagi. Tujuan pneumothoraks sengaja lainnya ialah diagnostik
untuk membedakan massa apakah berasal dari pleura atau jaringan paru. Penyebab-penyebab
lain ialah akibat tindakan biopsi paru dan pengeluaran cairan rongga pleura.

b. Traumatic
Masuknya udara melaui mediastinum yang biasanya disebabkan trauma pada trakea atau
esophagus akibat tindakan pemeriksaan dengan alat-alat (endoskopi) atau benda asing tajam
yang tertelan. Keganasan dalam mediastinum dapat pula mengakibatkan udara dalam rongga
pleura melalui fistula antara saluran nafas proksimal dengan rongga pleura.
Barotrauma Pada Paru
Pneumotoraks dibagi menjadi Tension Pneumothorax dan non-tension pneumathorax. Tension.
Pneumothorax merupakan medical emergency dimana akumulasi udara dalam rongga pleura
akan bertambah setiap kali bernapas. Peningkatan tekanan intratoraks mengakibatkan
bergesernya organ mediastinum secara masif ke arah berlawanan dari sisi paru yang mengalami
tekanan. Non-tension pneumothorax tidak seberat Tension pnemothorax karena akumulasi udara
tidak makin bertambah sehingga tekanan terhadap organ didalam rongga dada juga tidak
meningkat.
Akumulasi darah dalam rongga toraks (hemotoraks) dapat menimbulkan masalah yang
mengakibatkan terjadinya hemopneumotoraks.

c.

Spontan.
Terjadi secara spontan tanpa didahului kecelakaan atau trauma. Timbul sobekan subpleura dari
bulla sehingga udara dalam rongga pleura melalui suatu lubang robekan atau katup. Keadaan ini
dapat terjadi berulang kali dan sering menjadi keadaan yang kronis. Penyebab lain ialah suatu
trauma tertutup terhadap dinding dan fistula bronkopleural akibat neoplasma atau inflamasi.
Pneumotoraks spontan dapat diklasifikasikan menjadi Pneumotoraks Spontan Primer dan
Pneumotoraks Spontan Sekunder. Pneumotoraks Spontan Primer biasanya disebabkan oleh
pecahnya bleb pada paru (sering terjadi pada pria muda yang tinggi kurus dan pada Marfan
syndrome), sedangkan Pneumotoraks Spontan Sekunder seringkali terjadi akibat Penyakit Paru
Obstruktif Kronis (PPOK).

2) Berdasarkan lokasinya, yaitu Pneumotoraks parietalis, mediastinalis dan basalis


3) Berdasarkan derajat kolaps, yaitu Pneumotoraks totalis dan partialis.
4) Berdasarkan jenis fistel.
Pneumotoraks terbuka. Pneumotoraks dimana ada hubungan terbuka antara rongga pleura
dan bronchus yang merupakan dunia luar. Dalam keadaan ini tekanan intra pleura sama dengan
tekanan barometer (luar). Tekanan intra pleura disekitar nol (0) sesuai dengan gerakan
pernapasan. Pada waktu inspirasi tekanannya negatif dan pada waktu ekspirasi positif (+ 2
ekspirasi dan 2 inspirasi).
Pneumotoraks tertutup. Rongga pleura tertutup tidak ada hubungan dengan dunia luar.
Udara yang dulunya ada di rongga pleura kemungkinan positif oleh karena diresorbsi dan tidak
adanya hubungan lagi dengan dunia luar, maka tekanan udara di rongga pleura menjadi negatif.
Tetapi paru belum mau berkembang penuh. Sehingga masih ada rongga pleura yang tampak
meskipun tekanannya sudah negatif (- 4 ekspirasi dan 12 inspirasi).
Pneumotoraks ventil. Merupakan pneumotoraks yang mempunyai tekanan positif berhubung
adanya fistel di pleura viseralis yang bersifat ventil. Udara melalui bronchus terus ke
percabangannya dan menuju ke arah pleura yang terbuka. Pada waktu inspirasi udara masuk ke
rongga pleura dimana pada permulaan masih negatif. Pada waktu ekspirasi udara didalam rongga
pleura yang masuk itu tidak mau keluar melalui lubang yang terbuka tadi bahkan udara ekspirasi
yang mestinya dihembuskan keluar dapat masuk ke dalam rongga pleura, apabila ada obstruksi
di bronchus bagian proksimal dari fistel tersebut. Sehingga tekanan pleura makin lama makin
meningkat sehubungan dengan berulangnya pernapasan. Udara masuk rongga pleura pada waktu

ekspirasi oleh karena udara ekspirasi mempunyai tekanan lebih tinggi dari rongga pleura, lebihlebih kalau penderita batuk-batuk, tekanan udara di bronchus lebih kuat lagi dari ekspirasi biasa.

PATOFISIOLOGI
Saat inspirasi, tekanan intrapleura lebih negative daripada tekanan intrabronkhial, sehingga paru
akan berkembang mengikuti dinding thoraks dan udara dari luar yang tekanannya nol akan
masuk ke bronchus sehingga sampe ke alveoli.
Saat ekspirasi, dinding dada menekan rongga dada sehingga tekanan intrapleura akan lebih tinggi
dari tekanan dialveolus ataupun di bronchus, sehingga udara ditekan keluar melalui bronchus.
Tekanan intrabronkhial meningkat apabila ada tahanan jalan napas. Tekanan intrabronkhial akan
lebih meningkat lagi pada waktu batuk, bersin atau mengejan, karena pada keadaan ini glotis
tertutup. Apabila dibagian perifer dari bronchus atau alveolus ada bagian yang lemah, bronkhus
atau alveolus itu akan pecah atau robek.
Secara singkat proses terjadinya pneumothoraks adalah sebagai berikut:
a. Alveoli disangga oleh kapiler yang lemah dan mudah robek dan udara masuk kearah jaringan
peribronkhovaskuler. Apabila alveoli itu melebar, tekanan dalam alveoli akan meningkat.
b. Apabila gerakan napas kuat, infeksi dan obstruksi endobronkhial adalah faktor presipitasi yang
memudahkan terjadinya robekan.
c. Selanjutnya udara yang terbebas dari alveoli dapat menggoyahkan jaringan fibrosis di
peribronkovaskular kearah hilus, masuk mediastinum, dan menyebabkan pneumothoraks.

MANIFESTASI KLINIS
a. Tachypnea
b. Dyspnea
c. Cyanosis.
d. Dull resonance on percussion.
e. Tachycardia.
f.

Hypotension

PENATALAKSANAAN MEDIK
Penatalaksanaan pneumotorax tergantung dari luasnya pneumothorax. Tujuannya yaitu untuk

mengeluarkan udara dari rongga pleura dan menurunkan kecenderungan untuk kambuh lagi.
Prinsip prinsip penanganan pneumothorax menurut British Sosiety dan American collage of
hest fisician adalah :
a. Observasi dan pemberian tambahan oksigen
b. Aspirasi sederhana dengan jarum dan pemasangan tube trakeostomi dengan atau tanpa
pleurodesis.
c. Trakoskopi dengan pleurodesis dan penanganan terhadap adanya blep atau bula.
d. Torakotomi

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara/ cairan pada area pleural, data menunjukkan
penyimpangan struktur mediastinal (jantung).
2) AGD : variable tergantung pada derajat fungsi paru yang dipengaruhi, gangguan mekanik
pernapasan dan kemampuan mengkompensasi. PaCO2 kadang-kadang meningkat. PaO2
mungkin normal/menurun, saturasi oksigen biasa menurun.
3) Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa (hemotoraks)
4) HB : mungkin menurun menunjukkan kehilangan darah
5) Laboratorium darah lengkap

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidak efektifan pola pernapasan yang berhubungan dengan menurunya ekspansi paru sekunder
terhadap peningkatan tekanan dalam rongga pleura.
2. Resiko tinggi trauma pernapasan berhubungan dengan pemasangan WSD.
3. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan pada informasi.