Anda di halaman 1dari 48

CASE REPORT SESSION

EPISTAKSIS
OLEH :

DEWI TRISNAWATI
MEIDIZA ARIANDINY
FINNA DWI PUTRI

Preseptor :
dr. Ade Asyari, Sp.THT-KL

Anatomi Hidung
Hidung terbagi 3 bagian, yaitu
- bagian luar
- Septum
- bagian dalam

Pembuluh darah

Definisi Epistaksis
Epistaksis berasal dari bahasa Yunani epistazo
yang berarti hidung berdarah.
Epidemiologi Epistaksis
Epistaksis diperkirakan terjadi pada 7 14%
populasi umum tiap tahun, sembuh sendiri dan
tidak dilaporkan, meningkat pada anak-anak umur
dibawah 10 tahun, dan dewasa di atas 50 tahun,
Laki-laki lebih sering mengalami epistaksis
dibanding wanita

Etiologi Epistaksis
-Trauma

-Kelainan Pembuluh
Darah

-Infeksi lokal

-Tumor

-Penyakit Kardiovaskuler

-Kelainan darah

-Kelainan tekanan atmosfir

-Gangguan

HormonalKongenital
-Infeksi Sistemik

-Perubahan Udara at

Diagnosis
Anamnesis

Perjalanan penyakit
Riwayat trauma
Riwayat penyakit sistemik

Rinoskopi anterior : Vestibulum, mukosa hidung dan septum nasi, dinding


lateral hidung dan konkha inferior
Rinoskopi posterior : Penting pada epistaksis berulang dan sekret hidung
Pemeriksaan kronik untuk menyingkirkan neoplasma
Fisik
Pengukuran Tekanan darah
Rontgen sinus dan CT-Scan atau MRI
Endoskopi hidung untuk melihat atau menyingkirkan kemungkinan
Pemeriksaan penyakit lainnya
Penunjang

Diagnosis Banding

Termasuk perdarahan yang bukan berasal dari hidung


tetapi darah mengalir keluar dari hidung seperti
hemoptisis, varises oesofagus yang berdarah,
perdarahan di basis cranii yang kemudian darah mengalir
melalui sinus sphenoid ataupun tuba eustachius.

Penatalaksanaan

perbaiki
keadaan umum

cari sumber
perdarahan

menghentikan
perdarahan

mencegah
komplikasi

mencegah
berulangnya
epistaksis

Perdarahan anterior
Penderita sebaiknya duduk tegak agar tekanan
vaskular berkurang dan mudah membatukkan
darah dari tenggorokan.

Epistaksis anterior yang ringan biasanya bisa


dihentikan dengan cara menekan cuping
hidung selama 5-10 menit.

Bila sumber perdarahan dapat terlihat


Kauterisasi secara kimia dengan
menggunakan larutan nitras argenti perak
(AgNO3) 25 30%

Cont..
Bila dengan kaustik, perdarahan anterior masih
terus berlangsung, diperlukan pemasangan
tampon anterior dengan kapas atau kain kasa
yang diberi vaselin yang dicampur betadin atau
zat antibiotika.

Pemakaian pelumas ini agar tampon mudah


masuk dan tidak menimbulkan pendarahan
baru saat di masukan atau di cabut.

Tampon di masukan sebanyak 2-4 buah,


disusun dengan teratur dan harus menekan
asal pendarahan. Tampon dipertahankan
selama 2x24 jam, harus dikeluarkan untuk
mencegah infeksi hidung.

Tampon anterior

Perdarahan Posterior
Perdarahan posterior diatasi dengan pemasangan
tampon posterior atau tampon Bellocq

Dibuat dari kasa dengan ukuran lebih kurang 3x2x2 cm


dan mempunyai 3 buah benang, 2 buah pada satu sisi
dan sebuah lagi pada sisi yang lainnya. Tampon harus
menutup koana (nares posterior).

Teknik pemasangan tampon bellocq


Untuk memasang tampon Bellocq, dimasukkan kateter karet melalui nares anterior
sampai tampak di orofaring dan kemudian ditarik keluar melalui mulut.

Ujung kateter kemudian diikat pada dua buah benang yang terdapat pada satu sisi
tampon Bellocq dan kemudian kateter ditarik keluar hidung. Benang yang telah
keluar melalui hidung kemudian ditarik, sedang jari telunjuk tangan yang lain
membantu mendorong tampon ke arah nasofaring.

Jika masih terjadi perdarahan, dapat dibantu dengan pemasangan tampon anterior,
kemudian diikat pada sebuah kain kasa yang diletakkan di tempat lubang hidung
sehingga tampon posterior terfiksasi

Tampon posterior

Cont
Penanganan yang paling efektif
untuk setiap jenis perdarahan
adalah dengan meligasi pembuluh
darah yang ruptur pada bagian
proksimal sumber perdarahan
dengan segera.

Tetapi sulit untuk


mengidentifikasi sumber
perdarahan yang tepat pada
epistaksis yang berat atau
persisten.

Komplikasi

Syok

Aspirasi

Infeksi

Laserasi palatum
mole

Bloody tears

Hemotimpanum

Pencegahan

Hindari
memasukkan
benda keras ke
dalam hidung,
termasuk jari.

Jangan
masukkan cotton
bud melebihi 0,5
0,6 cm ke
dalam hidung.

Batasi
penggunaan
obat obatan
yang dapat
meningkatkan
perdarahan

Berhentilah
merokok.
Merokok
menyebabkan
hidung menjadi
kering dan iritasi.

Prognosis

90 % kasus
epistaksis dapat berhenti
sendiri.

Pada pasien hipertensi


dengan/tanpa
arteriosklerosis,
perdarahannya hebat,
sering kambuh dan
prognosisnya buruk

ILUSTRASI KASUS

Identitas pasien
Nama

: Tn. C
Umur
: 59 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
MR
: 88.23.29

Anamnesis
Seorang pasien laki-laki berumur 59 tahun

datang ke IGD RSUP Dr. M. Djamil Padang


pada tanggal 20 September 2014 dengan
Keluhan Utama :

Keluar darah dari hidung kiri 8 jam sebelum


masuk rumah sakit

Riwayat penyakit sekarang


Keluar darah dari hidung kiri 8 jam sebelum

masuk rumah sakit. Sebelumnya pasien


memberi makan burung, tiba-tiba darah
merembes keluar dari lobang hidung kiri.
Pasien dibawa berobat ke RSUD Padang dan
dipasang sumbat hidung, namun darah masih
tetap merembes, kemudian pasien dirujuk ke
RSUP DR. M. Jamil Padang. Jumlah
perdarahan + gelas.

Riwayat keluar darah dari hidung sebelumnya

(+) 2 tahun yang lalu, berhenti sendiri.


Riwayat mengosok-gosok hidung (-)
Riwayat trauma pada hidung (-)
Riwayat bersin-bersin >5x pagi hari (-)
Riwayat telinga berdengung, penglihatan
ganda (-)

Riwayat penyakit dahulu :

Riwayat hipertensi (+) sejak + 5 tahun yang lalu,


tidak terkontrol
Riwayat penyakit keluarga :

Tidak ada anggota keluarga pasien yang sakit


seperti ini
Riwayat pekerjaan, sosial ekonomi dan

kebiasaan :
Pasien bekerja sebagai wiraswasta

Pemeriksaan fisik
Status Generalis

Keadaan Umum : Baik


Kesadaran
: Composmentis cooperative
Tekanan darah : 150/90 mmHg
Frekuensi nadi : 90 x/menit
Frekuensi nafas : 20 x/menit
Suhu
: 36,80C

Pemeriksaan sistemik
Kepala
Mata

: tidak ada kelainan


: konjungtiva tidak anemis,
tidak ikterik
: tidak ditemukan pembesaran

sklera
Leher
KGB
Paru
Inspeksi
: simetris kiri, kanan statis dan dinamis
Palpasi
: fremitus kiri = kanan
Perkusi
: sonor kiri = kanan
Auskultasi : suara nafas vesikuler normal, rhonki /-, wheezing -/-

Jantung

Inspeksi
: ictus tidak terlihat
Palpasi : ictus teraba 2 jari medial LMCS RIC V, tidak
kuat
angkat
Perkusi : batas jantung normal
Auskultasi
: bunyi jantung murni, irama teratur, bising ()
Abdomen

Inspeksi
: distensi (-)
Palpasi
: supel, hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : tympani
Auskultasi
: bising usus + normal
Extremitas

: edem -/-

Status lokalis THT


Telinga
Pemeriksaan

Daun telinga

Diding liang telinga

Kelainan

Dekstra

Sinistra

Kel kongenital

Tidak ada

Tidak ada

Trauma

Tidak ada

Tidak ada

Radang

Tidak ada

Tidak ada

Kel. Metabolik

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri tarik

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri tekan tragus

Tidak ada

Tidak ada

Cukup lapang (N)

Cukup lapang (N)

Cukup lapang(N)

Hiperemis

Tidak ada

Tidak ada

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Sekret/serumen

Ada / Tidak

Ada

Ada

Bau

Tidak ada

Tidak ada

Warna

Kekuningan

Kekuningan

Jumlah

Minimal

Minimal

Jenis

Lunak

Lunak

Warna

Putih mutiara

Putih mutiara

Reflek cahaya

(+) arah jam 5

(+) arah jam 7

Bulging

Tidak ada

Tidak ada

Retraksi

Tidak ada

Tidak ada

Atrofi

Tidak ada

Tidak ada

Membran timpani

Utuh

Perforasi

Mastoid

Tes garpu tala

Audiometri

Jumlah perforasi

Tidak ada

Tidak ada

Jenis

Tidak ada

Tidak ada

Kwadran

Tidak ada

Tidak ada

Pinggir

Tidak ada

Tidak ada

Tanda radang

Tidak ada

Tidak ada

Fistel

Tidak ada

Tidak ada

Sikatrik

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri tekan

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri ketok

Tidak ada

Tidak ada

Rinne

(+)

(+)

Schwabach

Sama dengan pemeriksa

Sama dengan pemeriksa

Weber

Tidak ada lateralisasi

Kesimpulan

Telinga Normal

Telinga Normal

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Hidung
Pemeriksaan

Hidung luar

Kelainan

Dektra

Sinistra

Deformitas

Tidak ada

Tidak ada

Kelainan kongenital

Tidak ada

Tidak ada

Trauma

Tidak ada

Tidak ada

Radang

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Sinus paranasal

Pemeriksaan

Dekstra

Sinistra

Nyeri tekan

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri ketok

Tidak ada

Tidak ada

Rinoskopi anterior
Pemeriksaan

Kelainan

Dekstra

Sinistra

Vestibulum

Vibrise

Ada

Ada

Radang

Tidak ada

Tidak ada

Cukup lapang (N)

Cukup lapang (N)

Sempit

Sempit

Tidak ada

Ada

Lapang

Ada

Tidak ada

Lokasi

Tidak ada

Ada

Jenis

Tidak ada

Darah, sekret mukopurulen

Jumlah

Tidak ada

Minimal

Bau

Tidak ada

Tidak ada

Ukuran

Eutrofi

udem

Warna

Merah muda

Merah muda

Permukaan

Bergranul

Licin

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Ukuran

Eutrofi

Eutrofi

Warna

Merah muda

Merah

Permukaan

Licin

Licin

Edema

Tidak ada

Ada

Cavum nasi

Sekret

Konka inferior

Konka media

Cukup

Cukup lurus

Deviasi (+)

Permukaan

Licin

Licin

Warna

Merah muda

Merah

Spina

Tidak ada

Tidak ada

Krista

Tidak ada

Tidak ada

Abses

Tidak ada

Tidak ada

Perforasi

Tidak ada

Tidak ada

Lokasi

Tidak ada

Tidak ada

Bentuk

Tidak ada

Tidak ada

Ukuran

Tidak ada

Tidak ada

Permukaan

Tidak ada

Tidak ada

Warna

Tidak ada

Tidak ada

Konsistensi

Tidak ada

Tidak ada

Mudah digoyang

Tidak ada

Tidak ada

Pengaruh

Tidak ada

Tidak ada

lurus/deviasi

Septum

Massa

Rinoskopi posterior
Pemeriksaan

Kelainan

Dekstra

Sinistra

Cukup lapang

Cukup lapang

Warna

Merah muda

Merah muda

Edem

Tidak ada

Tidak ada

Jaringan granulasi

Tidak ada

Tidak ada

Ukuran

Eutrofi

Udem

Warna

Merah muda

Merah

Permukaan

Licin

Licin

Edem

Tidak ada

Ada

Cukup lapang (N)


Koana

Sempit
Lapang

Mukosa

Konka inferior

Adenoid

Ada/tidak

Tidak ada

Tidak ada

Muara tuba eustachius

Tertutup sekret

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Lokasi

Tidak ada

Tidak ada

Ukuran

Tidak ada

Tidak ada

Bentuk

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Edem mukosa

Massa

Permukaan
Post Nasal Drip

Ada/tidak
Jenis

Orofaring dan mulut


Pemeriksaan

Kelainan

Simetris/tidak

Dekstra

Sinistra

Simetris

Simetris

Merah muda

Merah muda

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Merah muda

Merah muda

Licin

Licin

Palatum mole + Arkus


Faring

Warna

Edem

Bercak/eksudat

Dinding faring

Warna

Permukaan

Tonsil

Ukuran

T1

T1

Warna

Merah muda

Merah muda

Permukaan

Rata

Rata

Muara kripti

Tidak Melebar

Tidak Melebar

Detritus

Tidak ada

Tidak ada

Eksudat

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Warna

Merah muda

Merah muda

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Abses

Tidak ada

Tidak ada

Lokasi

Tidak ada

Tidak ada

Bentuk

Tidak ada

Tidak ada

Ukuran

Tidak ada

Tidak ada

Permukaan

Tidak ada

Tidak ada

Konsistensi

Tidak ada

Tidak ada

Perlengketan dengan pilar

Peritonsil

Tumor

Gigi

Karies/Radiks
Tidak ada

Tidak ada

Kesan

Normal
Warna
Merah muda

Merah muda

Normal

Normal

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Bentuk
Lidah
Deviasi

Massa

Laringoskopi indirek
Pemeriksaan

Kelainan
Bentuk
Warna

Epiglotis

Edema
Pinggir rata/tidak
Massa
Warna

Ariteniod

Edema
Massa
Gerakan

Dekstra

Sinistra

Normal

Normal

Merah muda

Merah muda

Tidak ada

Tidak ada

Rata

Rata

Tidak ada

Tidak ada

Merah muda

Merah muda

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Simetris

Simetris

Ventrikular band

Plica vokalis

Subglotis/trakea

Sinus piriformis

Valekula

Warna

Merah muda

Merah muda

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Warna

Merah muda

Merah muda

Gerakan

Simetris

Simetris

Pingir medial

Rata

Rata

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Sekret

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Sekret

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Sekret ( jenisnya )

Tidak ada

Tidak ada

Pemeriksaan Kelenjar getah bening leher : tidak


ada pembesaran KGB
Inspeksi : tidak terlihat pembesaran kelenjar
getah bening di leher
Palpasi : tidak teraba pembesaran kelenjar
getah bening di leher
Pemeriksaan penunjang : Nasoendoskopi

Diagnosis Kerja : Epistaksis ec deviasi

septum
Diagnosis Banding : Epistaksis ec hipertensi
Pemeriksaan anjuran

Cek darah lengkap,PT,APTT


Konsul Penyakit dalam

Terapi :
Tampon anterior
Cefotaxim 2x1 g
Lasix 1x40 mg
Captopril 2x12,5 mg
Prognosis :
Quo ad vitam
: bonam
Quo ad functionam : bonam
Quo ad sanam
: dubia ad bonam

Diskusi
Telah dilaporkan seorang pasien laki-laki umur 59 tahun dirawat di bangsal
THT RSUP M.djamil Padang dengan diagnosis epistaksis ec deviasi septum.
Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.

Dari anamnesis didapatkan keluar darah dari hidung kiri sebelum masuk
rumah sakit. Darah tetap merembes keluar setelah dipasang sumbat
hidung di rumah sakit daerah. Riwayat trauma tidak ada, riwayat
menggosok-gosok hidung tidak ada. Riwayat hipertensi ada sejak 5 tahun
yang lalu. Pasien pernah menderita penyakit seperti ini 2 tahun yang lalu.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, pasien sadar,


tekanan darah 150/90 mmHg, nadi 90x/ menit, napas 20x/menit, suhu
36,8 c. Status lokalis THT ditemukan KNDS: KN lapang/sempit, KI
eutrofi/udem, KM eutrofi/eutrofi, sekret (+) mukopurulen (warna
kecokelatan, tidak berbau), darah -/+ , septum deviasi -/+. Rinoskopi
Posterior : PND (-).

Pada pasien ini dilakukan pemasangan tampon anterior, diberikan


cefotaxim, lasix dan captopril. Prognosis pasien ini dubia ad bonam.