Anda di halaman 1dari 14

Studi Kasus Analisa Hasil Pemeriksaan Laboratorium yang kami sajikan berikut ini

berdasarkan hasil pemeriksaan darah dari :


Nama

: Hannan

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 23 tahun 2 bulan

Status

: Belum nikah

Tanggal pemeriksaan : 17 Nopember 2009


Berdasarkan Lembar Hasil Pemeriksaan no. 0911180040/17-11-2009 (lampiran 1)
dapat di uraikan deskripsi sebagai berikut:
Hannan menjalani pengambilan darah pada tanggal 17 Nopember 2009 pukul 09.45
pagi di kantor Balai POM Di Palu. Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan untuk seluruh
personel Balai POM Di Palu dalam rangka memantau paparan negatif pekerjaan terhadap
para pegawai Balai POM Di Palu.

Lembar Hasil Pemeriksaan dari instansi pemeriksa ( PRODIA ) di terbitkan pada


tanggal 18 Nopember 2014. Lembar Hasil pemeriksaan ini melampirkan hasil pemeriksaan
dari saudara Hannan, meliputi parameter Hematologi Rutin (CBC), Nilai-nilai MC, dan
Hitung Jenis Leukosit.
A. HEMATOLOGI RUTIN (CBC)
a. HEMOGLOBIN (Hasil pemeriksaan 16,6 g/dL)
Dalam mengukur hemoglobin seorang pasien, Prodia menggunakan metode
yang direkomendasikan oleh International Commitee for Standardization in
Hematology (ICSH). Pada pengukuran Hemoglobin, Prodia menggunakan metode
sianmethemoglin. Metode ini didasarkan pada pembentukan sianmethemoglobin yang
intensitas warnanya diukur secara fotometri. Reagen yang digunakan adalah larutan
Drabkin yang mengandung Kalium ferisianida (K3Fe[CN]6) dan kalium sianida
(KCN). Ferisianida mengubah besi pada hemoglobin dari bentuk ferro ke bentuk ferri
menjadi methemoglobin yang kemudian bereaksi dengan KCN membentuk pigmen
yang stabil yaitu sianmethemoglobin. Intensitas warna yang terbentuk diukur secara
fotometri pada panjang gelombang 540 nm.
Selain K3Fe[CN]6 dan KCN, larutan Drabkin juga mengandung kalium
dihidrogen fosfat (KH2PO4) dan deterjen. Kalium dihidrogen fosfat berfungsi
menstabilkan pH dimana rekasi dapat berlangsung sempurna pada saat yang tepat.
Deterjen berfungsi mempercepat hemolisis darah serta mencegah kekeruhan yang
terjadi oleh protein plasma.
Prosedur pemeriksaan meliputi ; Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 5 ml
larutan Drabkin lalu ditambah 20 ul sampel darah. Lakukan pencampuran dengan cara
membolak-balikkan tabung beberapa kali. Diamkan pada suhu kamar selama 3-5

menit kemudian ukur intensitas warna dengan fotometer pada panjang gelombang 540
nm dengan blanko reagen.
Kadar Hb dapat dibaca pada kurve kalibrasi atau dihitung dengan
menggunakan faktor, dimana kadar Hb = serapan x faktor. Kurve kalibrasi dan faktor
telah dipersiapkan sebelumnya.
Nilai normal dewasa pria 13.5-18.0 gram/dL, wanita 12-16 gram/dL, wanita
hamil 10-15 gram/dL
Nilai normal anak 11-16 gram/dL, batita 9-15 gram/dL, bayi 10-17 gram/dL,
neonatus 14-27 gram/dL.
Hb rendah (<10 gram/dL) biasanya dikaitkan dengan anemia defisiensi besi.
Sebab lainnya dari rendahnya Hb antara lain pendarahan berat, hemolisis, leukemia
leukemik, lupus eritematosus sistemik, dan diet vegetarian ketat (vegan). Dari obatobatan: obat antikanker, asam asetilsalisilat, rifampisin, primakuin, dan sulfonamid.
Ambang bahaya adalah Hb < 5 gram/dL.
Hb tinggi (>18 gram/dL) berkaitan dengan luka bakar, gagal jantung, COPD
(bronkitis kronik dengan cor pulmonale), dehidrasi / diare, eritrositosis, polisitemia
vera, dan pada penduduk pegunungan tinggi yang normal. Dari obat-obatan:
metildopa dan gentamisin.
Kesimpulan : Jumlah nilai Hemoglobin sdr. Hannan dalam range normal
b. LEUKOSIT TOTAL (Hasil pemeriksaan 7,9 x 10^3/uL)
Perhitungan nilai Leukosit Total di Prodia menggunakan alat otomatik yang
disebut Hematology Analyzer. Sebagai tambahan bahwa sanya di dunia analisis
kesehatan terdapat dua metode yang digunakan dalam pemeriksaan hitung leukosit,
yaitu cara automatik menggunakan mesin penghitung sel darah (hematology analyzer)
dan cara manual dengan menggunakan pipet leukosit, kamar hitung dan mikroskop.

Cara automatik lebih unggul dari cara pertama karena tekniknya lebih mudah,
waktu yang diperlukan lebih singkat dan kesalahannya lebih kecil yaitu 2%, sedang
pada cara manual kesalahannya sampai 10%. Kekurangan cara automatik adalah
harga alat mahal dan sulit untuk memperoleh reagen karena belum banyak
laboratorium di Indonesia yang memakai alat ini.
Hitung leukosit adalah menghitung jumlah leukosit per milimeterkubik atau
mikroliter darah. Leukosit merupakan bagian penting dari sistem pertahanan tubuh,
terhadap benda asing, mikroorganisme atau jaringan asing, sehingga hitung julah
leukosit merupakan indikator yang baik untuk mengetahui respon tubuh terhadap
infeksi.
Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basal dan
lain-lain. Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.000-30.000/l.
Jumlah leukosit tertinggi pada bayi umur 12 jam yaitu antara 13.000-38.000 /l.
Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah
leukosit berkisar antara 4500- 11.000/l. Pada keadaan basal jumlah leukosit pada
orang dewasa berkisar antara 5000 10.000/l. Jumlah leukosit meningkat setelah
melakukan aktifitas fisik yang sedang, tetapi jarang lebih dari 11.000/l. Peningkatan
jumlah leukosit di atas normal disebut leukositosis, sedangkan penurunan jumlah
leukosit di bawah normal disebut lekopenia. Segala macam infeksi menyebabkan
leukosit naik; baik infeksi bakteri, virus, parasit, dan sebagainya. Kondisi lain yang
dapat menyebabkan leukositosis yaitu:

Anemia hemolitik

Sirosis hati dengan nekrosis

Stres emosional dan fisik (termasuk trauma dan habis berolahraga)

Keracunan berbagai macam zat

Obat: allopurinol, atropin sulfat, barbiturat, eritromisin, streptomisin, dan


sulfonamid.
Leukosit

rendah

(disebut

juga

leukopenia)

dapat

disebabkan

oleh

agranulositosis, anemia aplastik, AIDS, infeksi atau sepsis hebat, infeksi virus
(misalnya dengue), keracunan kimiawi, dan postkemoterapi. Penyebab dari segi obat
antara lain antiepilepsi, sulfonamid, kina, kloramfenikol, diuretik, arsenik (terapi
leishmaniasis), dan beberapa antibiotik lainnya.
Kesimpulan : Jumlah nilai Leukosit total sdr. Hannan berada dalam range
normal

c. ERITROSIT (Hasil pemeriksaan 5,70 x 10^6/uL)


Seperti hitung leukosit, untuk menghitung jumlah sel-sel eritrosit, Prodia
menggunakan alat elektronik (automatik) menggunakan Hematology Analyzer .
Hitung eritrosit adalah jumlah eritrosit per milimeterkubik atau mikroliter darah.
Nilai Rujukan

Dewasa laki-laki : 4.50 6.50 (x106/L)

Dewasa perempuan : 3.80 4.80 (x106/L)

Bayi baru lahir : 4.30 6.30 (x106/L)

Anak usia 1-3 tahun : 3.60 5.20 (x106/L)

Anak usia 4-5 tahun : 3.70 5.70 (x106/L)

Anak usia 6-10 tahun : 3.80 5.80 (x106/L)


Penurunan nilai eritrosit : kehilangan darah (perdarahan), anemia, leukemia,

infeksi kronis, mieloma multipel, cairan per intra vena berlebih, gagal ginjal kronis,
kehamilan, hidrasi berlebihan

Peningkatan nilai eritrosit : polisitemia vera, hemokonsentrasi/dehidrasi,


dataran tinggi, penyakit kardiovaskuler
Eritrosit atau sel darah merah merupakan komponen darah yang paling
banyak, dan berfungsi sebagai pengangkut / pembawa oksigen dari paru-paru untuk
diedarkan ke seluruh tubuh dan membawa kardondioksida dari seluruh tubuh ke paruparu.Nilai normal eritrosit pada pria berkisar 4,7 juta - 6,1 juta sel/ul darah, sedangkan
pada wanita berkisar 4,2 juta - 5,4 juta sel/ul darah.Eritrosit yang tinggi bisa
ditemukan pada kasus hemokonsentrasi, PPOK (penyakit paru obstruksif kronik),
gagal jantung kongestif, perokok, preeklamsi, dll, sedangkan eritrosit yang rendah
bisa ditemukan pada anemia, leukemia, hipertiroid, penyakit sistemik seperti kanker
dan lupus, dll.
Kesimpulan : Jumlah nilai eritrosit dari sdr. Hannan berada pada range normal
d. TROMBOSIT (Hasil pemeriksaan : 222 x 10^3/uL)
Perhitungan nilai Trombosit di Prodia juga dilakukan menggunakan alat automatik
yakni Hematologi Analizer. Penghitung sel dengan alat otomatis mampu mengukur
secara langsung hitung trombosit selain hitung lekosit dan hitung eritrosit. Sebagian
besar alat menghitung trombosit dan eritrosit bersama-sama, namun keduanya
dibedakan berdasarkan ukuran. Partikel yang lebih kecil dihitung sebagai trombosit
dan partikel yang lebih besar dihitung sebagai eritrosit. Dengan alat ini, penghitungan
dapat dilakukan terhadap lebih banyak trombosit. Teknik ini dapat mengalami
kesalahan apabila jumlah lekosit lebih dari 100.000/mmk, apabila terjadi fragmentasi
eritrosit yang berat, apabila cairan pengencer berisi partikel-partikel eksogen, apabila
sampel sudah terlalu lama didiamkan sewaktu pemrosesan atau apabila trombosit
saling melekat. Penghitungan jumlah trombosit secara langsung dengan menggunakan
alat hitung otomatis hematologi analizer yang prinsipnya adalah impedansi, teknik ini

berdasar pengukuran besarnya resistensi elektronik antara dua elektrode. Alat tersebut
mempunyai keuntungan tidak melelahkan petugas laboratorium, jika harus banyak
melakukan pemeriksaan hitung trombosit. Selain itu, alat hitung otomatis memberikan
keuntungan lain dengan adanya tampilan flag yang menunjukkan hal hal yang perlu
mendapat perhatian.
Trombosit merupakan bagian dari sel darah yang berfungsi membantu dalam
proses pembekuan darah dan menjaga integritas vaskuler. Beberapa kelainan dalam
morfologi trombosit antara lain giant platelet (trombosit besar) dan platelet clumping
(trombosit bergerombol). Nilai normal trombosit berkisar antara 150.000 - 400.000
sel/ul darah. Trombosit yang tinggi disebut trombositosis dan sebagian orang biasanya
tidak ada keluhan. Trombosit yang rendah disebut trombositopenia, ini bisa
ditemukan pada kasus demam berdarah (DBD), Idiopatik Trombositopenia Purpura
(ITP), supresi sumsum tulang, dll.
Intrepetasi Klinis

PENURUNAN JUMLAH : ITP, myeloma multiple, kanker (tulang, saluran


gastrointestinal, otak), leukemia (limfositik, mielositik, monositik), anemia
aplastik, penyakit hati (sirosis, hepatitis aktif kronis), SLE, DIC, eklampsia,
penyakit ginjal, demam rematik akut. Pengaruh obat : antibiotik (kloromisetin,
streptomisin), sulfonamide, aspirin (salisilat), quinidin, quinine, asetazolamid
(Diamox), amidopirin, diuretik tiazid, meprobamat (Equanil), fenilbutazon
(Butazolidin), tolbutamid (Orinase), injeksi vaksin, agen kemoterapeutik.

PENINGKATAN JUMLAH : Polisitemia vera, trauma (fraktur, pembedahan),


paskasplenektomi, karsinoma metastatic, embolisme pulmonary, dataran tinggi,
tuberculosis, retikulositosis, latihan fisik berat. Pengaruh obat : epinefrin
(adrenalin)

Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :

Kemoterapi dan sinar X dapat menurunkan hitung trombosit,

Pengaruh obat (lihat pengaruh obat),

Penggunaan darah kapiler menyebabkan hitung trombosit cenderung lebih rendah,

Pengambilan sampel darah yang lamban menyebabkan trombosit saling melekat


(agregasi) sehingga jumlahnya menurun palsu,

Tidak segera mencampur darah dengan antikoagulan atau pencampuran yang


kurang adekuat juga dapat menyebabkan agregasi trombosit, bahkan dapat terjadi
bekuan,

Perbandingan volume darah dengan antikoagulan tidak sesuai dapat menyebabkan


kesalahan pada hasil :
o

Jika volume terlalu sedikit (= EDTA terlalu berlebihan), sel-sel eritrosit


mengalami krenasi, sedangkan trombosit membesar dan mengalami
disintegrasi.

Jika volume terlalu banyak (=EDTA terlalu sedikit) dapat menyebabkan


terbentuknya jendalan yang berakibat menurunnya jumlah trombosit.

Penundaan pemeriksaan lebih dari 1 jam menyebabkan perubahan jumlah


trombosit

Kesimpulan : Jumlah nilai trombosit sdr Hannan berada pada range normal.

e. HEMATOKRIT (Hasil pemeriksaan 51,2 %)


Hematokrit atau volume eritrosit yang dimampatkan (packed cell volume,
PCV) adalah persentase volume eritrosit dalam darah yang dimampatkan dengan
cara diputar pada kecepatan tertentu dan dalam waktu tertentu. Tujuan
dilakukannya uji ini adalah untuk mengetahui konsentrasi eritrosit dalam darah.

Nilai

hematokrit

atau

PCV

Di

Prodia

ditetapkan

secara

automatik

menggunakan hematology analyzer


Nilai normal HMT:
Anak

: 33-38%

Laki-laki Dewasa

: 40-52%

Perempuan Dewasa

: 36-44%

Penurunan HMT, terjadi dengan pasien yang mengalami kehilangan darah akut,
anemia, leukemia, penyakit hodgkins, limfosarcoma, mieloma multiple, gagal
ginjal kronik, sirosis hepatitis, malnutrisi, defisiensi vit B dan C, kehamilan,
SLE, athritis reumatoid, dan ulkus peptikum.
Peningkatan HMT, terjadi pada hipovolemia, dehidrasi, polisitemia vera, diare
berat,asidosis diabetikum,emfisema paru, iskemik serebral, eklamsia, efek
pembedahan, dan luka bakar.
Kesimpulan : Nilai persentase Hematokrit sdr. Hannan berada pada range
normal
f. LAJU ENDAP DARAH (Hasil pemeriksaan 6 mm/jam)
Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED di Prodia ialah metode ICSH
yang merujuk pada metode Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan metode
Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet
Westergreen yang dua kali panjang pipet pada metode Wintrobe. International
Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk
menggunakan metode Westergreen.
Laju Endap Darah (LED) atau dalam bahasa Inggrisnya Erythrocyte
Sedimentation Rate (ESR) merupakan salah satu pemeriksaan rutin untuk darah untuk
mengetahui tingkat peradangan dalam tubuh seseorang. Proses pemeriksaan

sedimentasi (pengendapan) darah ini diukur dengan memasukkan darah kita ke dalam
tabung khusus LED dalam posisi tegak lurus selama satu jam. Sel darah merah akan
mengendap ke dasar tabung sementara plasma darah akan mengambang di
permukaan. Kecepatan pengendapan sel darah merah inilah yang disebut LED. Atau
dapat dikatakan makin banyak sel darah merah yang mengendap maka makin tinggi
Laju Endap Darah (LED)-nya.
Laju endap darah (erithrocyte sedimentation rate, ESR) adalah kecepatan
sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan satuan mm/jam. LED
merupakan uji yang tidak spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi
akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen,
rheumatoid, malignansi, dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan).
Prosedur Metode Westergreen

Untuk melakukan pemeriksaan LED cara Westergreen diperlukan sampel darah


citrat 4:1 (4 bagian darah vena + 1 bagian natrium sitrat 3,2 % ) atau darah EDTA
yang diencerkan dengan NaCl 0.85 % 4:1 (4 bagian darah EDTA + 1 bagian NaCl
0.85%). Homogenisasi sampel sebelum diperiksa.

Sampel darah yang telah diencerkan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam


tabung Westergreen sampai tanda/skala 0.

Tabung diletakkan pada rak dengan posisi tegak lurus, jauhkan dari getaran
maupun sinar matahari langsung.

Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm penurunan eritrosit.

Nilai Rujukan:

Laki-laki : 0 15 mm/jam

Perempuan : 0 20 mm/jam

Hasil Laju Endap Darah/LED/ ESR yang tinggi dapat terjadi karena :

Anemia

Kanker seperti lymphoma atau multiple myeloma

Kehamilan

Penyakit Thyroid

Diabetes

Penyakit jantung

Kesimpulan : nilai LED sdr. Hannan berada dalam range normal


B. NILAI-NILAI MC
Nilai-nilai MC yang mencakup parameter indeks eritrosit, diperoleh dari raihan data
nilai eritrosit, hemoglobin dan hematokrit sebelumnya menggunakan alat hamatologi
analizer.
Mean Corpuscular Volume (MCV) Hasil pemeriksaan 89,8 fL
Perhitungan : MCV (femtoliter) = 10 x Hct (%) : Eritrosit (106 sel/L)
Nilai normal : 80 100 (fL)
Deskripsi :
MCV adalah indeks untuk menentukan ukuran sel darah merah. MCV menunjukkan
ukuran sel darah merah tunggal apakah sebagai Normositik (ukuran normal),
Mikrositik (ukuran kecil < 80 fL), atau Makrositik (ukuran kecil >100 fL).
Implikasi klinik :
Penurunan nilai MCV terlihat pada pasien anemia kekurangan besi anemia pernisiosa
dan talasemia, disebut juga anemia mikrositik.
Peningkatan nilai MCV terlihat pada penyakit hati, alcoholism, terapi antimetabolik,
kekurangan folat/vitamin B12, dan terapi valproat, disebut juga anemia makrositik.
Pada anemia sel sabit, nilai MCV diragukan karena bentuk eritrosit yang abnormal.

MCV adalah nilai yang terukur karenanya memungkinkan adanya variasi berupa
mikrositik dan makrositik walaupun nilai MCV tetap normal.
MCV pada umumnya meningkat pada pengobatan Zidovudin (AZT) dan sering
digunakan sebagi pengukur kepatuhan secara tidak langsung.
Kesimpulan : Nilai MCV sdr. Hannan dalam range normal
Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) (Hemoglobin Korpuskuler rata rata)
Hasil pemeriksaan 29,1 pg
Perhitungan : MCH (picogram/sel) = hemoglobin/sel darah merah
Nilai normal : 28 34 pg/ sel
Deskripsi:
Indeks MCH adalah nilai yang mengindikasikan berat Hb rata-rata di dalam sel darah
merah, dan oleh karenanya menentukan kuantitas warna (normokromik, hipokromik,
hiperkromik) sel darah merah. MCH dapat digunakan untuk mendiagnosa anemia.
Implikasi Klinik:
Peningkatan MCH mengindikasikan anemia makrositik
Penurunan MCH mengindikasikan anemia mikrositik.
Kesimpulan : Nilai MCH sdr. Hannan berada dalam range normal
Mean

Corpuscular

Hemoglobin

Concentration

(MCHC)

(Konsentrasi

Hemoglobin Korpuskuler rata rata) Hasil pemeriksaan 32,4 g/dL


Perhitungan : MCHC = hemoglobin/hematokrit
Nilai normal : 32 36 g/dL
Deskripsi:
Indeks MCHC mengukur konsentrasi Hb rata-rata dalam sel darah merah; semakin
kecil sel, semakin tinggi konsentrasinya. Perhitungan MCHC tergantung pada Hb dan

Hct. Indeks ini adalah indeks Hb darah yang lebih baik, karena ukuran sel akan
mempengaruhi nilai MCHC, hal ini tidak berlaku pada MCH.
Implikasi Klinik:
MCHC menurun pada pasien kekurangan besi, anemia mikrositik, anemia karena
piridoksin, talasemia dan anemia hipokromik.
MCHC meningkat pada sferositosis, bukan anemia pernisiosa.
Kesimpulan : Nilai MCHC sdr. Hannan berada dalam range normal.

C. Hitung Jenis Leukosit (Basofil 0,1%; Eosinofil 6,2% ; Neutrofil 47,7% ; Limfosit
40,3% ; Monosit 5,7%)
Perhitungan jenis leukosit yang sejatinya merupakan menghitung komponen
dari leukosit berupa Basofi, Eosinofil, Neutrofil, Limfosit, Monosit. Di Prodia,
perhitungan jenis leukosit juga dilakukan menggunakan alat hematologi analizer.
Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis
leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang
khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit,
eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih
spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit.

Hitung jenis leukosit hanya

menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah
absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit
total (sel/l).
Jenis
Basofil

Eosinofil

Neutrofil

Nilai normal
0-1%
40-100/L

Melebihi nilai normal


inflamasi, leukemia, tahap
penyembuhan infeksi atau
inflamasi
2-4%
Umumnya pada keadaan
100-300/L
atopi/ alergi dan infeksi
parasit
50-70%
Inflamasi, kerusakan
(2500-7000/L)
jaringan, peyakit Hodgkin,
Bayi Baru Lahir 61% leukemia mielositik,

Kurang dari nilai normal


stress, reaksi
hipersensitivitas,
kehamilan, hipertiroidisme
stress, luka bakar, syok,
hiperfungsi adrenokortikal.
Infeksi virus,
autoimun/idiopatik,
pengaruh obat-obatan

Limfosit

Monosit

Umur 1 tahun 2%
Segmen 50-65%
(2500-6500/L)
Batang 0-5% (0500/L)
25-40%
1700-3500/L
BBL 34%
1 th 60%
6 th 42%
12 th 38%
2-8%
200-600/L
Anak 4-9%

hemolytic disease of
newborn, kolesistitis akut,
apendisitis, pancreatitis
akut, pengaruh obat
infeksi kronis dan virus

kanker, leukemia, gagal


ginjal, SLE, pemberian
steroid yang berlebihan

Infeksi virus, parasit,


anemia hemolitik, SLE<
RA

Leukemia limfositik,
anemia aplastik

Kesimpulan :
1. Nilai Basofil dan Monosit sdr. Hannan berada pada range normal.
2. Nilai Eosinofi sdr. Hannan melebihi nilai normal, hal ini bisa mengindikasikan
saudara hannan pada saat pemeriksaan mengalami infeksi oleh parasit. Namun
simtomp yang dialami oleh saudara Hannan pada saat pemeriksaan tidak ada keluhan.
Hal ini butuh kajian lebih lanjut oleh tenaga medis yang berkompoten.
3. Nilai

Limfosit

sdr.

Hannan

juga

melebihi

nilai

normal,

hal

ini

bisa

mengidentifikasikan saudara Hannan sedang mengalami paparan spesifik oleh virus.


Namun tak ada satupun simtomp yang dikeluhkan oleh saudara hannan pada saat
pemeriksaan. Hal ini butuh kajian lebih lanjut oleh tenaga medis yang berkompoten.
4. Nilai Neutrofil sdr. Hannan berada di bawah range nilai normal. Hal ini bisa saja
mengindikasikan saudara hannan terpapar virus atau berada dalam pengaruh obat
yang mensupresi sistem imun. Hal ini butuh kajian lebih lanjut oleh tenaga medis
yang berkompeten.