Anda di halaman 1dari 6

Jalan Cerdas Menuju Indonesia Sehat

Jalan cerdas adalah leverage, pengungkit, yang dengan effort yang sedikit,
mendapatkan hasil yang jauh lebih besar (Senge, 1990)
Sehat? Kenapa harus sehat?
Sehat mempunyai makna sendiri sebagai kondisi optimal pada seseorang baik
secara fisik, mental dan sosial sehingga dapat memiliki produktivitas dan bukan
hanya terbebas dari bibit penyakit saja. Kondisi sehat bisa dilihat dari dimensi
produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat
sebagai salah satu modal produksi atau prakondisi yang dibutuhkan seseorang
sehingga dapat beraktivitas yang produktif. Sedangkan dimensi konsumsi
memandang keadaan sehat sebagai suatu keadaan dimana membutuhkan suatu
pengeluaran unutk mencapai kondisi tersebut. Banyak jalan menuju sehat, seperti
banyaknya jalan menuju Roma. Ada bermacam- macam jalan yang bisa kita
tempuh menuju Roma bukan? Lebih tepatnya ada bermacam-macam agen yang
bisakita pilih untuk membawa kita menuju Roma karena Roma begitu jauh dan
tentunya kita tidak bisa hanya mengandalkan transportasi yang kita miliki unutk
bisa sampai kesana bukan? Ada yang menawarkan paket hemat beli 2 gratis 1 atau
paket keluarga 2 adult 2 children bahkan ada yang menawarkan paket 3 hari
gratis 2 malam. Hal tersebut bermacam-macam seiring dengan harga yang
ditawarkan. Ada yang hanya berkisar 10 ribu US dollar namun ada juga yang
dipatok harga ratusan ribu US dollar. Begitu mudahnya untuk kita hidup di zama
ini, kita hanya tinggal memilih apa yang kita inginkan. Begitu juga dengan sehat.
Sejatinya, sehat yang kita dapatkan tergantung dari diri kita untuk mau memilih
sehat itu sendiri atau malah meninggalkannya. Cara yang paling mudah dan
murah untuk kita sehat ialah dengan cara jogging setiap hari mengelilingi
komplek perumahan ialah hal termudah dan termurah yang bisa kita lakukan.
Atau mungkin jika menginginkan sehat dengan cara yang lebih high class
berolahrga di pusat kebugaran terkenal mungkin bisa menjadi alternatif. Terlepas
dari apapun caranya dan bagaimanapun caranya yang terpenting ialah sehat bukan
suatu tuntutan yang sulit melainkan suatu kebutuhan yang mudah untuk
dilakukan.

Bagimana Masalah Kesehatan di Indonesia?


Masalah kesehatan tak ayal menjadi hal yang paling sering dibicarakan oleh
semua kalangan. Baik kalangan buruh kasar, kalangan pelajar hingga mahasiswa
bahkan kalangan atas pun sering membiacarakan hal tersebut. Sejatinya
bagaimana masalah kesehatan di Indonesia saat ini?
Berbagai penyakit di Indonesia termasuk terbesar di Asia dan dunia dan menjadi
penyebab kematian tertinggi di Indonesia, yaitu:
1. Jantung Koroner. Angka kematian penderita jantung koroner di tanah air
mencapai 7,6 juta orang per tahun (republika.co.id, 26/9-2013).
2. Tuberkolosis (TB). Kematian akibat TB di Indonesia diperkirakan mencapai
61.000 per tahun. Jumlah kasus TB di Indonesia menempatkan Indonesia pada
peringkat kelima kasus terbanyak di dunia (health.kompas.com, 25/2-2011).
3. Diabetes Mellitus (Kencing Manis). . Jumlah penderita diabetes di Indonesia
sebanyak 7,6 juta. Angka ini menempatkan Indonesia pada peringkat ketujuh di
dunia (tempo.co, 6/9-2013).
4. Hipertensi/Tekanan Darah Tinggi. Kematian akibat mencapai 7 juta per
tahun (bisnis.com, 24/3-2014)
5. Stroke. Data Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) tahun 2009
menunjukkan, penyebab kematian utama di RS akibat stroke adalah sebesar 15
persen. Artinya 1 dari 7 kematian disebabkan oleh stroke dengan tingkat
kecacatan

mencapai

65

persen

(indonesiarayanews.com,18/2-2013).

6. Kanker. Di Indonesia tiap tahun diperkirakan terdapat 100 penderita kanker


baru per 100.000 penduduk. Ini berarti dari jumlah 237 juta penduduk, ada sekitar
237.000 penderita kanker baru setiap tahun (YKI, 10/10-2013) dan masih banyak
penyakit lainnya yang notabene merupakan pandemik di Indonesia.

Melihat data- data tersebut kita lantas tak boleh hanya berpihak pada sisi pasien
yang serta merta menyalahkan penyakit yang merupakan pandemik di negara kita
dan juga menyalahkan pemerintah atas dasar pemerintah belum memberikan
fasilitas kesehatan yang memadai pada masyarakat. Kita juga harus melihata
masalah dari kacamata sisi yang lainnya. Dari sisi pemerintah kita mungkin
berfikir mengapa bisa begitu banyaknya masyarakat dari kita yang terkena
penyakit tersebut dibandingkan dengan negara lain yang tidak menutup
kemungkinan juga merupakan pandemik dari persebaran penyakit tersbut.
Misalnya saja Malaysia yang merupakan negara tetangga kita sendiri. Jawaban
yang langsung terlintas dalam benak kita ialah satu. Yaitu masyarakat kita sendiri
yang belum mampu menjaga sehat yang mereka miliki. Apa maksudnya? Dalam
kalimat sederhananya ialah masyarakat kita sendiri yang bermain-main dengan
sehat yang mereka miliki seolah olah mereka mengambil resiko untuk sakit.
Mungkin bukan pemandangan yang asing bagi kita melihat warga mmbuang
sampah di pinggir jalan, menumpuk, mendatangkan banyak lalat dan bakteri
penyakit. Lantas saat terjadi wabah diare pada warga yang tinggal di dekat tempat
tersebut masihkan pemerintah menjadi kambing hitam terjadinya penyakit
tersebut. Masyarakat berdalih bahwa tdak tersedianya pembuangan sampah yang
memadai. Saat dibahas di kalangan wakil rakyat, pemerintah mengelak bahwa
tempat pembuangan akhir (TPA) sudah disediakan namun diletakkan di tempat
yang agak jauh dari pemukiman waga agar bau dan bahaya bahaya penyakit tidak
memengaruhi masyarakat. Lantas mana yang bisa dipercaya?
Contoh yang lain ialah kita sering melihat anak anak TK maupun SD yang sering
membeli jajan sembarangan di pinggir jalan. Orang tua yang melihatnya pun
terkesan membiarkan dengan alasan biar sajalah yang penting mereka senang dan
tidak menangis. Suatu konsep yang salah kaprah menurut saya. Dari kecil mereka
sudah terbiasa makan makanan sepeti itu yang tidak jelas kandungan bahannya
dan kebiasaan tersebbut terbawa hingga dewasa, lantas saat mereka terdiagnosis
mengidap kanker ataupun jantung koroner masihkah para orang tua berfikiran
biar sajalah yang penting mereka masih selamat. Naudzubillah bukan? Saat
diitanyakan pada orang tua mengapa anaknya dibiarkan saja saat mengkonsumsi
jajanan di pinggir jalan. Orang tua beralih seharusnya pemerintah mengontrol

dengan tegas produsen-produsen makanan mengenai kandungan bahan makanan


produksinya. Namun sekali lagi saat masalah seperti ini dibawa di wakil rakyat,
pemerintah berkilah bahwa badan yang bertuga mengawasi peredaan bahan
makanan dan obat-obatan dalam hal ini ialah BPOM telah bekerja secara
maksimal. Dan menambahkan bahwa bidang yang harus diawasi pemerintah
bukan hal ini saja sehingga tidak ada salahnya bagi orang tua dapat turut serta
mengawasi bahan bahan makanan yang dirasa kurang meyakinkan yang beredar
di pasaran. Jika eperti ini terus, masyarakat menyalahkan pemerintah namun
pemerintah berkeliyt dan memberikan alasan. Lantas sampai kapan tudingmenuding-ini-salah-siapa-masyarakat-atau-pemerintah bergulir? Menurut saya
acara

tuding-menuding-ini-salah-siapa-masyarakat-atau-pemerintah

harus

dipatahkan saat ini juga. Dari segi kacamata yang berdampingan satu sama lain,
saya mengajak semua orang untuk mulai membetulkan kacamata yang ada,
dengan tidak hanya memakainya pada satu sisi saja seprti kacamata bajak laut,
atau malah meutup kedua mata dengan kacamatanya seperti kacamata kuda tapi
mari kita memakai kacamata dengan cara yang benar.
Pada tahun 2014 ini, pemerintah mengeluarkan suatu sistem baru di bidang
kesehatan. Yaitu BPJS. Program ini menggantikan program JAMKESMAS.
Prinsip dari program ini sejatinya ialah sama. Yaitu dengan program BPJS ini,
pemerintah membuat semua warga Indonesia untuk emndapatkan pelayanan
kesehatan yang setara dengan mungkin tarif yang dibayarkan sedikit berbeda bagi
kalangan kurang mampu dan yang mampu. Bagi kalangan yang kurang mampu,
dengan program ini mereka diberikan keringanan biaya hingga gratis untuk
mendapatkan pelayanan yang memadai. Bagi kalangan yang mampu, mereka
dikenakan biaya yang biasanya atau normal untuk pelayanan kesehatan yang
mereka dapatkan. Gampangannya ialah subsidi silang. Salah satu terobosan
pemerintah, yaitu BPJS ini merupakan suatu bukti bahwa pemerintah tidak
mengesampingkan bidang kesehatan yang mungkin selama ini dirasakan oleh
masyarakat kalangan bawah mayoritasnya. Pemerintah sudah bergerak. Lantas
apa gerakan dari masyarakat? Gerakan dari masyarakat yang bisa mulai dilakukan
kecil-kecilan ialah dengan mengawasi pelaksanaan dari program ini dengan cara
bertindak secara jujur. Maksudnya ialah orang tersebut sejatinya merupakan orang

yang mampu dan dirasa tidak perlu mendapatkan bantuan BPJS maka tidak
perlulah untuk berpura-pura menjadi orang miskin yang tidak mampu membayar
biaya pengobatan hanya untuk menghemat uang yang dimiliki. Tidak hanya itu
gerakan-gerakan yang mulai bisa dilakukan ialah dengan mulai menerapkan halhal kecil yang memang kecil jika dilihat tapi jika dilakukan secara terus menerus
dan sudah menjadi kebiasaan maka bisa menjadi sebuah gerakan besar di bidang
kesehatan. Contohnya mulai membuang sampah di tempat yang telah disediakan
yaitu di tempat pembuangan akhir. Tidak hanya membuang sampah di tempat
yang telah disediakan, alangkah lebih baiknya lagi jika masyarakat mampu
mendaur ulang sampah yang ada dan mungkin bisa dijual menjadi barang yang
berguna. Paket hemat 2 gratis 1 bukan? Sudah mengurangi limbah sampah,
menjauhkan bibit-bibit penyakit namun juga bisa menghasilkan uang dari
sampah- sampah yang ada. Janganlah menjadi takut karena menjadi berbeda dari
yang lain karena sesungguhnya yang berbeda itulah yang spesial dan bernilai.
Langkah-langkah kecil itulah salah satu contoh jalan cerdas menuju Indonesia
sehat. Mungkin kita berfikit bukankah itu sulit? Sulit memang diawal tapi bahagia
diakhir lebih baik ketimbang mudah diawal namun menangis di akhir. Sekali lagi,
sehat itu sejatinya pilihan. Suatu pilihan karena mau sehat atau sakit seseorang
berawal dari orang itu sendiri, bagaimana pribadi orang tersebut memandang
sehat yang dimilikinya. Apakah ia akan menjaganya ataukah ia akan
mengobralkannya menjadi sakit. Life is choice. Isnt it?
Tak terasa, essay ini menuju pada akhirnya, yaitu sebuah kesimpulan. Sehat
bukanlah barang mahal yang sangat susah didapatkan, sehat ialah sebuah pilihan
yang meruapakan muara dari bagaimana pribadi kita meandang sehat itu sendiri.
Pilihan untuk menjadi sehat bukanlah sesulit seperti mencari jarum di tumpukan
jerami. Sebaliknya pilihan sehat ialah langkah-langkah kecil yang tegas untuk
berani mngatakan tidak pada hal-hal kecil yang berakibat sakit. Misalnya tidak
untuk membuang sampah sembarangan! Katakan tidak untuk memakan makananmakanan yang tidak meyakinkan kandungan bahannya! Mulilah kita katakan ya
untuk hidup sehat! Dan mulailah katakan ya untuk olahraga! Bersama-sama kita
mengontrol pemerintah program program tersebut dan janganlah menolak untuk
mulai dikontrol pemerintah. Karena sejatinya Indonesia sehat tidak akan terwujud

apabilan hanya 1 pihak saja yang bekerja. Dibutuhkan dari kedua belah pihak
untuk sama-sama bekerja dan saling mengontrol satu sama lain agar tercapainya
tujuan bersama. Marilah kita terapkan langkah-langkah kecil kita dalam jalan
cerdas menuju sehat untuk menuju Indonesia yang lebih sehat lagi!

DAFTAR PUSTAKA
Harahap, Syaiful. W (2014). Diambil tanggal 16 Oktober 2014 dari
http://baranews.co/web/read/18868/pemerintahan.sby.rs.meningkat.600.persen.ju
mlah.penduduk.yang.sakit.meroket.#.VD8Fv_mUegY
Junadi, Purnawan. Jalan-Cerdas- Menuju-Indonesia-Sehat-pdf. Diambil tanggal
15 Oktober 2014 dari https://staff.blog.ui.ac.id/purnawan/files/2008/04/jalancerdas-menuju-sehat-a.pdf.