Anda di halaman 1dari 8

Pemeriksaan Analisa Sperma

Spermatozoid atau sel sperma atau spermatozoa (berasal dari BahasaYunani Kuno
yang berarti benih dan makhluk hidup) adalah ejakulat yang berasal dari seorang pria berupa
cairan kental dan keruh yang berisi sekret dari kelenjar prostat, kelenjar lain dan
spermatozoa. Sel sperma jika melebur bersama ovum akan membentuk zigot. Zigot adalah
sebuah sel dengan kromosom lengkap yang akan berkembang menjadi embrio.

Tujuan pemeriksaan spermatozoid/ Analisa Sperma adalah untuk mengetahui kualitas


dan kuantitas spermatozoid. Pemeriksaan sperma penting dalam masalah fertilitas dan
infertilitas, juga untuk pasien postvasektomi.
Analisis
spermatozoa
biasanya
dilakukan
pada
pria,
p a s a n g a n s u a m i i s t r i ya n g s e t e l a h 3 t a h u n m e n i k a h b e l u m m e m i l i k i k e t u
r u n a n . Lebih-lebih bagi pasangan yang istrinya belum pernah hamil sama sekali
selama 3 tahun. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mencari kelainan pada suami/ istri
yang mengakibatkan mereka belum mendapat keturunan (Sutisna dan Sutarmanto, 1995)
Kriteria kesuburan pria secara umum didasarkan pada jumlah spermatozoa motil per
ml ejakulat. Spermatozoa diperoleh dari semen hasil masturbasi atau dari koilus
interuptus. Pria yang akan diperiksabiasanya dianjurkan untuk puasa tidak
melakukan hubungan intim selama 3 haris ebelumnya dan harus segera diperiksa
setelah ejakulasi (Kriswantoro, 1986)
Pemeriksaan analisis sperma meliputi pemeriksaan makroskopis, mikroskopis, kimia
dan imunologi. Parameter - parameter sperma dapat dinyatakan secara : (1) Kuantitatif,

misalnya volume, jumlah spermatozoa/ml, kadar fruktosa, (2) Semi kuantitatif, misalnya
viskositas sperma, motilitas spermatozoa, dan (3) Kuantitatif, misalnya bau dan warna
sperma.
Pengambilan Sampel ::
Terdapat beberapa syarat penting dalam pengambilan dan penampungan sperma, yaitu :
1) Keadaan pria hari pemeriksaan hendaknya cukup sehat, tidak dalam keadaan lelah,
lapar dan cukup beristirahat sebelumnya.
2) Sebelum pemeriksaan pasien diminta untuk tidak mengeluarkan sperma selama 3 - 7
hari.
3) Sperma dikeluarkan secara mastrurbasi di Laboratorium, dan harus di tampung secara
utuh.
4) Sperma ditampung dalam wadah yang terbuat dari gelas atau plastik yang bermulut
lebar, bersih dan kering.
5) Wadah harus tertutup rapat untuk menjaga jangan sampai tertumpah.
6) Pasien diminta mencatat waktu pengeluaran sperma yang tepat dan diserahkan segera
ke laboratorium untuk diperiksa.
7) Pemeriksaan sperma harus segera dilakukan (< 1jam).
8) Kondom tidak dianjurkan untuk menampung sperma karna zat pada permukaan karet
kondom berpengaruh terhadap viabilitas dan pergerakan spermatozoa.
Pada kondisi dimana pria tidak dapat mengeluarkan sperma di laboratorium, maka boleh
yang bersangkutan dapat mengeluarkan di tempat lain, misalnya di rumah/hotel dekat dengan
laboratorium dengan memperhatikan hal-hal berikut :
1. Masturbasi tidak diperkenankan memakai bahan pelicin seperti sabun, minyak dan
lain-lainnya.
2. Wadah penampung harus terbuat dari gelas yang sudah dicuci bersih dan dibilas
berulang-ulang untuk menghilangkan sisa sabun/ditergen yang di pakai. Botol
sebaiknya bermulut lebar, mempunyai volume 20-50 ml. Sebaiknya wadah dalam
keadaan steril dan sudah dipersiapkan oleh laboratorium pemeriksa.
3. Tidak diperkenankan menampung sperma kedalam kondom.
4. Gelas penampung ditutup cukup dengan penutup atau dengan kertas
5. Sperma yang sudah tertampung segera diserahkan kepada petugas laboratorium dalam
waktu setengah sampai satu jam.
6. Dalam perjalanan menuju laboratorium suhu sperma dipertahankan sekitar 25-35oC,
misalnya dalam kantong pakaian yang dikenakan.
7. Pemeriksaan dengan melakukan senggama terputus boleh dilakukan asalkan dengan
memperhatikan persyaratan/persiapan yang tersebut di atas.
Alat dan Reagen ::
Alat yang digunakan, adalah ::
Mikroskop cahaya, bilik hitung (haemocytometer), spluit injeksi, gelas objek, gelas
penutup, pH indicator/ kertas pH, kertas penghisap/tisu, bak preparat, dan alat tulis.

Bahan yang digunakan, adalah ::


Sperma, minyak imersi, larutan NaCl, aquades, larutan Giemsa, dan ether alcohol.

Cara Pemeriksaan ::
1) Makroskopis ::
Pemeriksaan makroskopis Sperma meliputi volume, warna, kekentalan, bau dan pH
sperma.
Pemeriksan volume sperma dilakukan dengan mengunakan gelas ukur dan baru dapat
dilakukan setelah sperma mencair. Volume sperma yg normal adalah 2 5 ml.
Volume yang < 1ml atau > 6ml dihubungkan dengan infertilitas.
Warna sperma yang normal adalah putih atau kekuningan. Lalu pada keadaan normal
sperma tidak mengandung darah, pus atau lendir.
Sperma yang baru dikeluarkan normalnya sangat kental dan pada suhu ruangan akan
mencair dalam waktu 10 - 20 menit, dan mencair sempurna dalam waktu 20-60 menit.
Sperma yang encer memberi kesan spesimen tidak segar atau komposisinya abnormal.
Bila sperma tdk mencair setelah 60 menit maka dapat mengganggu motilitas
spermatozoa.
Bau sperma yang normal adalah khas seperti bau bunga akasia. Sedangkan pH sperma
diperiksa dengan menggunakan kertas p, biasanya pH sperma berkisar 7,0-7,8. Bila
pH sperma 6,0-7,0 mungkin sperma itu hanya berisi sekret prostat saja tanpa
bercampur sekret dari vesicula seminalis.

Tabel Hasil Pemeriksaan Makroskopis Normal ::

1
2
3
4
5

Pemeriksaan
Warna
pH
Bau
Viskositas
Volume

Normal
Putih, abu-abu, kekuningan
7,2 7,6
Khas
1 2 cm
2,5 5,0 ml

2) Mikroskopis ::
Pemeriksaan mikroskopis meliputi motilitas, jumlah, viabilitas dan morfologi
spermatozoa. Pada pemeriksaan motilitas spermatozoa dinilai persentase sperma yang
bergerak dan dibedakan atas gerakan aktif, tidak aktif (lambat) dan tidak bergerak
(mati).

Motilitas spermatozoa dihubungkan dengan lamanya waktu sejak sperma dikeluarkan.


Makin lama sperma dikeluarkan maka makin berkurang motilitas spermatozoa. Secara
normal sd 1 jam setelah dikeluarkan, sperma berisi 70% atau lebih spermatozoa aktif.
Utk menilai viabilitas spermatozoa dilakukan dgn cara sperma dicampur dgn larutan
eosin 0,5 %. Sperma yg mati akan berwarna kemerah2an sedangkan yg aktif tdk
berwarna. Penurunan persentase sperma yg bergerak dihubkan dgn penurunan
fertilitas.
Kelainan Motilitas Sperma ::
Gradasi menurut W.H.O. untuk pergerakan spermatozoa adalah sebagai berikut :
0 = spermatozoa tidak menunjukkan pergerakan
1 = spermatozoa bergerak ke depan dengan lambat
2 = spermatozoa bergerak ke depan dengan cepat
3 = spermatozoa bergerak ke depan sangat cepat
Bila spermatozoa yang motil kurang dari 50%, maka spermatozoa disebut
astenospermia. Istilah yang digunakan adalah Astenozoospermia. Bila sperma immotil
> 50 % maka dilakukan uji viabilitas (vitality test).
Jumlah spermatozoa dihitung dengan menggunakan kamar hitung Improved Neubauer
dan pipet lekosit. Biasanya jumlah spermatozoa normal adalah 60-150 juta/ml. Bila
jumlah sperma 20 juta/ml maka dapat dihubungkan dengan infertilitas.

Kelainan Jumlah Sperma ::


0 Juta/ml disebut Azoospermia
0 - 5 juta/ml disebut Ekstrimoligozoospermia
< 20 juta disebut oligozoospermia
> 250 Juta/ml disebut Polizoospermia
Jumlah spermatozoa 20 250 juta/ml sudah dianggap masuk dalam batasbatas yang normal.
Morfologi sperma diperiksa dengan cara pengecatan dengan Giemsa. Yang terdapat
dalam sediaan adalah spermatozoa, spermatosit, sel Sertoli, epitel dan lekosit. Yang
diperhatikan adalah bentuk kepala, leher dan ekor spermatozoa. Yang dinilai adalah
persentase dari kelainan bentuk kepala, leher dan ekor.

Bentuk abnormal, misalnya adalah kepala yang terlalu besar, terlalu kecil, terlalu
memanjang, kepala 2, ekor pendek, tidak ada ekor atau ekor bercabang. Sperma yang
normal biasanya < 20% dengan kelainan bentuk.
Jumlah lekosit normalnya adalah < 100/ul

Kelainan Bentuk Sperma ::


Pirispermia : spermatozoa yang memp kepala yang memberi gambaran tetesan
air mata dengan ujung yang menitik pada midpiece/ berbentuk buah pear.
Leptospermia : kepala kurus, lebar dari normal, akrosom tak jelas, memberi
gambaran cerutu.
Teratospermia : bentuk kepala yang ganjil, permukaan tak rata misal seperti
gitar, kacang tanah dan lainnya, tidak jelas batas akrosom.
Macrospermia : kepala spermatozoa yang berbentuk oval tetapi ukurannya
25% lebih besar dari kepala normal.
Mikrospermia : kepala spermatozoa yang berbentuk oval tetapi ukurannya
25% lebih kecil dari kepala normal.
Double : spermatozoa yang memp kepala lebih dari 1.
Tail defect adalah spermatozoa yang mempunyai ekor pendek (<9x panjang
kepala), ekor bentuk spiral/koil, atau ekor ganda.
Midpicedefect : spermatozoa dengan midpiece gemuk (>1/2 lebar kepala),
panjangnya < 2x panjang kepala dan tidak 1 garis dengan sumbu panjang
kepala.
Cytoplasmicdroplet : tetesan sitoplasma yang menempel pada kepala atau
midpiece.

Tabel Hasil Pemeriksaan Mikroskopis Normal ::

1
2

Pemeriksaan
Jumlah Sperma
Pergerakan ::
Aktif
Lemah
Tidak bergerak
Morfologi ::
Normal
Abnormal
Jumlah Leukosit

Normal
> 20 juta/ ml
> 50%
< 30%
<20%

> 60%
< 40%

< 100/ ul

3) Kimia::
Untuk menilai karbohidrat yang ada dlm sperma yaitu fruktosa. Kadar fruktosa
berkorelasi dengan kadar testoteron dalam tubuh. Penetapan kadar fruktosa memakai
reaksi Selivanoff sebagai dasar; dimana fruktosa bereaksi dengan resorcinol dengan
menyusun warna merah. Kadar normal fruktosa dalam sperma berkisar 120-450 mg/dl
Fruktosa berasal dari vesicula seminalis. Selain dipengaruhi oleh kadar testoteron
dalam tubuh, kadar fruktosa juga dipengaruhi oleh proses dalam vesicula seminalis
dan duktus ejaculatori.
Kadar fruktosa menurun pada hipoplasia dan radang vesicula seminalis, penyumbatan
partial ductuli ejaculatori.
4) Imunologis ::
Pemeriksaan uji imunologi dilakukan karena kecurigaan adanya antibodi pelapis
sperma pada semen tersebut. Antibodi-pelapis sperma merupakan tanda khas dan
patognomonik untuk infertilitas yang disebabkan faktor imunologi. Antibodi sperma
dalam semen tergolong dua kelas imunologi, yaitu IgA dan IgG. Pengujian terhadap
antibodi tersebut dilakukan pada semen segar dan menggunakan cara reaksi
antiglobulin campuran , yaitu uji MAR (Mixed Antislobulin Reaction) atau cara butir
imun (Immunobead).
Uji MAR IgG dilakukan dengan mencampur semen segar dengan butir lateks yang.
Suatu antiserum IgG manusia yang monospesifik kemudian dibubuhkan kepada
campuran tersebut. Terbentuknya gumpalan campuran antara butir dan sperma motil
merupakan bukti adanya antibodi IgG pada spermatozoa. Diagnosis infertilitas dengan
sebab imunologi merupakan suatu kemungkinan jika 40% atau lebih sperma motil
mempunyai partikel yang melekat. Kemungkinan infertilitas karena sebab imunologi
perlu dipikirkan jika 10--40% sperma motil mempunyai partikel yang melekat. Uji
tambahan seperti uji kontak sperma-getah servik (KSGS) dan titrasi antibodi sperma
dalam serum akan memperkuat atau menolak diagnosis.
Pemeriksaan imunologi semen yang lain adalah uji butir imun. Uji butir imun
dilakukan untuk mengetahui adanya antibodi yang berada di permukaan sperma. Butir
imun merupakan bola poliakrilamida dengan imunoglobulin kelinci-anti

imunoglobulin manusia yang terikat secara kovalen. Adanya antibodi IgG dan IgA
bisa diteliti sekaligus dengan uji ini.
Sperma dicuci terlebih dahulu agar terbebas dari cairan semen dengan cara
sentrifugasi dan kemudian diresuspensi dalam larutan dapar. Suspensi sperma
kemudian dicampur dengan suatu suspensi butir imun. Proporsi sperma dengan
antibodi permukaan kemudian ditentukan dan kelas antibodinya (IgG atau IgA)
diidentifikasi dengan menggunakan 2 jenis butir imun.
Jika uji butir imun positif (bila sperma ditutupi latex) maka perlu dilakukan uji
tambahan seperti uji KSGS dan titrasi antibodi sperma dalam serum untuk
memperkuat atau menolak diagnosis.