Anda di halaman 1dari 20

AKUNTANSI KEUANGAN

RESUME: INSTRUMEN KEUANGAN DAN AKUNTANSI


INFLASI MENURUT IAS DAN PSAK

Oleh:
AHMAD SYAHRAL HUDA (I2F013005)
KELAS B

MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS MATARAM
2013

INSTRUMENT KEUANGAN

Instrumen Keuangan

IAS 32

IAS 39

IFRS 7

PSAK 50

PSAK 55

PSAK 60

Definisi dan klasifikasi


Pemisahan liabilitas
keuangan dan ekuitas (Split
Accounting)
Akuntansi untuk instrumen
keuangan majemuk
Akuntansi untuk penarikan
saham dan saham treasury
Saling hapus atas aset dan
liabilitas

Desfinisi, klasifikasi dan


reklasifikasi
Pengakuan dan
penghapusan
Pengukuran setelah
pengakuan awal
Akuntansi Lindung Nilai

Pengungkapan instrumen
keuangan dan resiko

A. Penyajian Instrumen Keuangan (PSAK 50)


1.

Definisi :
Instrumen keuangan sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 50, adalah setiap kontrak

yang menambah nilai aset keuangan entitas dan liabilitas keuangan atau instrumen ekuitas
entitas lain (paragraf 7).
a) Aset keuangan adalah semua aset yang berupa :

Kas

Instrument ekuitas dalam perusahaan lain

Hak kontraktual untuk menerima kas atau aset keuangan

Hak kontraktual untuk menukar instrument keuangan dalam situasi yang secara
potensial menguntungkan untuk perusahaan

Suatu kontrak yang akan atau boleh diselesaikan dengan instrument ekuitas
perusahaan itu sendiri.dan yang berupa:

Bukan derivatif dimana perusahaan wajib atau mungkin berkewajiban untuk


menerima berbagai jumlah instrument ekuitasnya sendiri.

Derivatif yang akan atau boleh diselesaikan selain dengan penukaran jumlah
kas tertentu atau aset keuangan lainnya untuk jumlah yang tetap atas
instrumen ekuitas perusahaan itu sendiri.

b) Liabilitas Keuangan adalah kewajiban kontraktual untuk :

Memberikan kas atau aset keuangan lainnya kepada perusahaan lainnya

Menukar aset keuangan dengan perusahaan lainnya dengan syarat-syarat yang


secara potensial merugikan perusahaan.

Sebuah kontrak yang akan atau diselesaikan dengan instrumen ekuitas perusahaan
itu sendiri.

c) Instrument Ekuitas adalah kontrak apapun yang membuktikan kepemilikan residual


atas aset suatu perusahaan setelah dikurangi dengan seluruh liabilitasnya.
2.

Masalah Penyajian :
PSAK 50 mengatur 5 masalah penyajian instrumen keuangan :
1. Substansi Mengungguli Bentuk
Berdasarkan substansi mengungguli bentuk, PSAK 50 menetapkan bahwa suatu
instrumen keuangan merupakan instrumen ekuitas dari perspektif penerbit jika kedua
kondisi berikut terpenuhi.
a. Instrumen tersebut tidak memiliki kewajiban kontraktual untuk menyerahkan kas
atau aset keuangan lain kepada entitas lain atau untuk mempertukarkan aset
keuangan atau liabilitas keuangan dengan entitas lain dalam kondisi yang
berpotensi tidak menguntungkan penerbit.
b. Jika instrument tersebut

akan atau mungkin diselesaikan dengan instrumen

ekuitas pihak yang diterbitkan entitas, instrumen ini merupakan nonderivatif yang
tidak memiliki kewajiban kontraktual bagi penerbitnya untuk menyerahkan suatu
jumlah yang bervariasi dari instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas atau
derivatif yang akan diselesaikan hanya dengan mempertukarkan sejumlah tertentu
kas atau aset keuangan lain dengan sejumlah tertentu instrumen ekuitas yang
diterbitkan entitas.
2. Split Accounting
Untuk instrumen keuangan majemuk (misalnya obligasi niragun yang dapat
dikonversi atau saham biasa dengan waran), PSAK 50 mensyaratkan pengakuan
terpisah atas komponen ekuitas dan liabilitas. Biasanya ini disebut dengan split
accounting.

3. Saling hapus (Offsetting)


PSAK 50 menetapkan bahwa aset keuangan dan liabilitas keuangan harus saling
hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam laporan posisi keuangan jika entitas :
a. Saat ini memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus
atas jumlah yang telah diakui tersebut, dan
b. Berniat untuk menyelesaikan secara netto atau untuk merealisasikan aset dan
menyelesaikan liabilitasnya secara simultan.
4. Pembelian kembali saham (Share buy back)
PSAK 50 menetapkan bahwa jika suatu entitas mengakuisisi kembali instrumen
ekuitasnya, instrumen-instrumen tersebut harus dicatat sebagai saham yang diperoleh
kembali (saham treasury) dan disajikan sebagai pengurang ekuitas pemegang saham
dalam laporan posisi keuangan.
Keuntungan atau kerugian yang timbul dari pembelian, penjualan, penerbitan atau
pembatalan instrumen ekuitas sebuah entitas tidak dapat diakui dalam laporan laba
rugi komprehensif. Pada umumnya terdapat dua metode untuk menjelaskan pembelian
kembali saham yang dimiliki sebagai saham treasuri :
a. Metode biaya
Berdasarkan metode biaya, saham treasuri dicatat pada biaya perolehan dan
disajikan sebagai pengurang dari ekuitas pemegang saham.
b. Metode nilai nominal
Saham tresuri tersebut dicatat pada nilai nominal dan dikurangi langsung dari
modal saham yang diterbitkan.
5. Biaya Transaksi Ekuitas
PSAK 50 menetapkan bahwa biaya transaksi dari suatu transaksi ekuitas harus dicatat
sebagai pengurang ekuitas. Berdasarkan PSAK 50, biaya yang diatribusikan secara
langsung dengan penerbitan saham tidak bisa diperlakukan sebagai beban. Biaya yang
diatribusikan secara langsung ini harus dicatat sebagai pengurang hasil dengan
mengurangi akun premi saham.

B. Pengakuan dan Pengukuran (PSAK 55)


1. Definisi, Klasifikasi dan Reklasifikasi
PSAK 55 mengatur prinsip-prinsip dasar pengakuan dan pengukuran instrumen
keuangan dalam laporan keuangan. PSAK 55 diterapkan oleh semua entitas untuk
seluruh jenis instrumen keuangan, kecuali:
4

Penyertaan pada anak perusahaan, perusahaan asosiasi, dan ventura bersama (Join
venture) yang diatur dalam PSAK 4 Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan
Keuangan Tersendiri, PSAK 15 Investasi pada Asosiasi, dan PSAK 12 Bagian
Partisipasi dalam ventura bersama.

Hak dan liabilitas dalam sewa yang diatur dalam PSAK 30 sewa.

Hak dan liabilitas pemberi kerja berdasarkan imbalan kerja yang diatur dalam PSAK
24 Imbalan Kerja.

Instrumen yang diatur dalam PSAK 53 Pembayaran berbasis Saham

Kontrak antara pengakuisisi dan penjual dalam suatu kombinasi bisnis untuk
menjual atau membeli perusahaan terakuisisi di masa depan.

Hak dan liabilitas dalam kontrak asuransi sesuai dengan PSAK 62 kontrak Asuransi.

Instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh entitas yang memenuhi definisi sebagai
putable instrumen yaitu instrumen keuangan (termasuk opsi dan waran) yang
diklasifikasikan sebagai instrumen ekuitas entitas yang melaporkan.

Hak untuk menerima pembayaran beban entitas yang terkait dengan penggantian
liabilitas yang diakui sebagai provisis sesuai dengan PSAK-57, dan

Komitmen pinjaman kecuali beberapa jenis komitmen pinjaman sesuai dengan


paragraf 3 PSAK 55.

2. Pengakuan
PSAK 55 menetapkan bahwa suatu entitas harus mengakui aset keuangan atau liabilitas
keuangan pada laporan posisi keuangan, jika entitas tersebut menjadi salah satu pihak
dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (paragraf 14).
Contoh penerapan ketentuan dasar dalam paragraf 14:

Piutang tanpa syarat dan utang tanpa syarat diakui sebagai aset dan liabilitas jika
entitas menjadi salah satu pihak dalam kontrak penjualan atau pembelian (dengan
pengiriman barang segera) dan sebagai konsekuensinya entitas memiliki hak secara
hukum untuk menerima atau memiliki kewajiban secara hukum untuk membayar.

Aset yang akan diperoleh atau liabilitas yang akan ditanggung sebagai akibat dari
suatu komitmen pasti untuk membeli atau menjual barang atau jasa, umumnya tidak
diakui sampai paling tidak salah satu pihak telah bertindak sesuai perjanjian.

Kontrak forward (kontrak berjangka) diakui sebagai aset atau liabilitas pada tanggal
komitmen, dan bukan pada tanggal penyelesaian.

Opsi keuangan diakui sebagai aset atau liabilitas apabila pemegang atau penerbit
menjadi salah satu pihak dalam kontrak
5

Transaksi di masa depan yang direncanakan, walaupun sangat pasti bukan merupakan
aset atau liabilitas karena entitas belum menjadi salah satu pihak dalam kontrak yang
mensyaratkan adanya penerimaan atau pengiriman aset di masa depan yang muncul
karena transaksi di masa depan.

Semua hak dan liabilitas kontrak dalam transaksi derivatif diakui sebagai aset atau
liabilitas pada laporan posisi keuangan.

PSAK 55 juga mensyaratkan agar derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama
(host contractnya) dan dicatat sebagai derivatif jika semua kondisi berikut dipenuhi :

Karakter ekonomi dan risiko derivatif melekat tidak berkaitan erat dengan
karakteristik ekonomi dan risiko dari kontrak utama.

Instrumen terpisah yang memiliki persyaratan yang sama dengan derivatif melekat
memenuhi definisi sebagai derivatif

Instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) tidak diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi.

3. Pengukuran

Pengukuran Awal
PSAK 55 menetapkan bahwa pada saat pengakuan awal aset keuangan atau liabilitas
keuangan, entitas mengukur pada nilai wajarnya. Untuk aset keuangan atau liabilitas
keuangan yang tidak diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, nilai wajar tersebut
ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan
atau penerbitan aset keuangan atau liabilitas keuangan tersebut, misalnya fee dan
komisi untuk agen, penasehat, perantara efek, dan pedagang efek; badan pengawas
dan bursa efek serta paja dan bea pengiriman.

Pengukuran setelah pengakuan awal


Untuk tujuan pengukuran aset keuangan setelah pengakuan awal, PSAK 55
mengklasifikasikan aset keuangan menjadi empat kategori:

Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi (yang mencakup
sekuritas yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan dan sekuritas
yang ditetapkan.

Investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo


Pinjaman yang diberikan dan piutang
Aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual.

Aset keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi
adalah aset keuangan yang pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas
untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi.
Terdapat empat kondisi yang harus diperhatikan:
a. Untuk kontrak yang memiliki satu atau lebih derivatif melekat, entitas dapat
menetapkan keseluruhan kontrak dari instrumen campuran sebagai aset keuangan
yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi (misalnya, investasi dalam obligasi
dengan suku bunga tetap dan investasi dalam obligasi yang dapat dikonversi yang
diklasifikasikan sebagai kelompok diperdagangkan);
b. Instrumen campuran yang harus diukur secara terpisah berdasarkan paragraf 11
namun tidak dapat diukur secara terpisah, maka harus ditetapkan sebagai aset
keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi (misalnya, investasi
jangka panjang dalam obligasi yang dapat dikonversi dimana entitas tersebut
memutuskan untuk tidak mengakui secara terpisah derivatif melekat dari kontrak
utamanya);
c. Aset keuangan dapat ditetapkan pada nilai wajar melalui laba rugi, jika
diputuskan demikian, hal ini dapat mengeliminasi ketidakkonsistenan pengukuran
atau pengakuan (misalnya, ketika suatu entitas meminjam dengan suku bunga
tetap dan meminjamkan dengan suku bunga tetap serta telah menetapkan liabilitas
untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, maka aset tersebut juga dapat
ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, sehingga laporan laba
rugi komprehensifnya akan menunjukkan realitas ekonomi bahwa aset itu
dilindungi nilai secara wajar dan tidak ada eksposur pada perubahan dalam suku
bunga); dan
d. Kelompok aset keuangan dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai
wajar,

sesuai

dengan

manajemen

risiko

atau

strategi

investasi

yang

didokumentasikan dapat ditetapkan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai
wajar melalui laba rugi (misalnya investasi modal ventura).
Perlu dicatat bahwa PSAK 55 tidak memperkenankan entitas untuk mereklasifikasi
setiap aset keuangan dari atau ke kategori aset keuangan yang diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi.
Untuk tujuan pengukuran liabilitas keuangan setelah pengakuan awal, PSAK 55
mengklasifikasikan liabilitas keuangan ke dalam dua kategori:
7

(a) Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi (u=yang
mencakup (i) liabilitas keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok
diperdagangkan (dimiliki untuk dijual) dan (ii) liabilitas keuangan yang
ditetapkan; dan
(b) Liabilitas keuangan lainnya.
Liabilitas keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan
adalah liabilitas keuangan yang terutama bertujuan untuk menghasilkan laba dari
fluktuasi jangka pendek dalam harga atau laba pedagang efek. Misalnya, suatu
entitas yang meminjam saham dari bursa efek untuk melindungi posisi pendeknya
harus mengklasifikasi liabilitas tersebut dalam kelompok diperdagangkan.
Derivatif juga merupakan liabilitas keuangan dalam kelompok diperdagangkan
kecuali derivatif yang merupakan instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan
efektif.
Liabilitas keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi
adalah liabilitas keuangan untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi. PSAK 55
memperkenankan setiap liabilitas keuangan untuk diukur pada nilai wajar melalui
laba rugi, kecuali untuk nilai wajarnya tidak bisa diukur secara andal.
Untuk aset keuangan, PSAK 55 menetapkan bahwa setelah pengakuan awal:
(a) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi dan aset keuangan
yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual harus diukur pada
nilai wajarnya (tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul pada
saat penjualan atau pelepasan lain), kecuali jika aset keuangan tersebut tidak
memiliki kuotasi harga di pasar aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara
andal (paragraf 46);
(b) investasi dimiliki hingga jatuh tempo diukur pada biaya perolehan diamortisasi
dengan menggunakan metode suku bunga efektif (paragraf 46), hal ini juga
berlaku untuk pinjaman yang diberikan dan poiutang; dan
(c) aset keuangan di luar dari penilaian wajar berdasarkan paragraf 46 dan tidak
memiliki jatuh tempo yang tetap harus diukur pada biaya perolehan (paragraf 46).
Paragraf 60 dalam PSAK 55 menegaskan jika ukuran yang andal menjadi tersedia dari
yang sebelumnya tidak tersedia utnuk aset keuangan, aset tersebut harus diukur
kembali pada nilai wajar, dan selisih antara nilai tercatat dengan nilai wajar dicatat
sesuai paragraf 62. Disisi lain, jika karena perubahan intensi atau kemampuan entitas,
atau dalam situasi yang jarang terjadi dalam hal ukuran yang andal atas nilai wajar
8

tidak lagi tersedia, maka lebih tepat untuk mencatat aset keuangan pada biaya
perolehan diamortisasi daripada menggunakan nilai wajar, nilai wajar dari nilai
tercatat atas aset keuangan pada tanggal tersebut menjadi biaya perolehan diamortisasi
baru. Setiap keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui secara langsung dalam
ekuitas harus dicatat dengan cara sebagai berikut:

dalam hal aset keuangan memiliki jatuh tempo yang tetap, maka keuntungan atau
kerugian yang terjadi diamortisasi selama sisa umur investasi yang dimiliki
hingga jatuh tempo tersebut

dalam hal aset keuangan tidak memiliki jatuh tempo yang tetap, maka keuntungan
atau kerugian tetap diakui dalam ekuitas sampai aset keuangan tersebut dijual
atau dilepaskan dan pada saat itu keuntungan atau kerugian diakui pada laporan
laba rugi komprehensif untuk periode tersebut.

Untuk liabilitas keuangan, PSAK 55 menetapkan bahwa setelah pengakuan awal:


a. liabilitas yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi harus diukur pada nilai
wajarnya
b. derivatif yang diakui sebagai liabilitas harus diukur pada nilai wajarnya (kecuali
untuk derivatif liabilitas yang terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan
instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif dan nilai
wajarnya tidak bisa diukur secara andal. Harus diukur pada biaya perolehan).
c. Liabilitas keuangan yang ditetapkan sebagai item yang dilindungi nilai
menggunakan pengukuran berdasarkan ketentuan akuntansi lindung nilai.
d. Liabilitas keuangan yang timbul ketika transfer aset keuangan tidak memenuhi
syarat penghentian pengakuan atau transfer yang dicatat menggunakan
keterlibatan berkelanjutan.
e. Kontrak jaminan keuangan dan komitmen pinjaman dibawah suku bunga pasar.
Untuk kedua jenis liabilitas ini entitas harus mengukur dengan memilih nilai mana
yang lebih tinggi antara jumlah yang ditentukan menggunakan PSAK 57 dan
jumlah pada saat pengakuan awal.
f. Semua liabilitas keuangan lainnya harus diukur pada biaya perolehan diamortisasi
sesuai dengan suku bunga efektif.
Untuk aset keuangan dan liabilitas keuangan yang dicatat pada biaya perolehan
diamortisasi, PSAK 55 menetapkan bahwa keuntungan atau kerugian yang timbul dari
perubahan nilai wajar aset keuangan atau liabilitas keuangan yang bukan merupakan
bagian dari hubungan lindung nilai harus diakui sebagai berikut:
9

Keuntungan atau kerugian atas aset keuangan atau liabilitas keuangan yang
diklasifikasikan sebagai instrumen yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi,
diakui pada laporan laba rugi untuk periode pada saat terjadinya.

Keuntungan atau kerugian atas aset keuangan yang diklasifikasikan dalam


kelompok tersedia untuk dijual harus diakui secara langsung dalam pendapatan
komprehensif lain, sampai aset keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau
mengalami penurunan nilai, dan pada saat keuntungan atau kerugian kumulatif
yang sebelumnya diakui dalam ekuitas harus diakui pada laporan laba rugi
komprehensif untuk periode tersebut.

PSAK 55 menetapkan bahwa semua aset keuangan, kecuali aset yang diukur pada
nilai wajar melalui laba rugi, akan diuji penurunan nilai. Aset keuangan diturunkan
nilainya jika nilai tercatatnya lebih besar dari nilai yang dapat diperoleh kembali.
Secara khusus PSAK 55 mensyaratkan setiap entitas untuk mengevaluasi pada setiap
tanggal pelaporan apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau
kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai.
Kerugian penurunan nilai harus diakui sebagai berikut:

Untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan atau biaya perolehan
diamortisasi, jumlah kerugian penurunan nilai harus diakui dalam laporan laba
rugi komprehensif untuk periode tersebut.

Untuk aset keuangan yang tersedia untuk dijual, bukan hanya kerugian penurunan
nilainya saja yang diakui dalam laporan Laba Rugi Komprehensif, jumlah
kerugian kumulatif harus dikeluarkan dari ekuitas dan diakui dalam laporan laba
rugi komprehensif untuk periode tersebut.

Jika pada periode berikutnya, jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan
pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif dengan peristiwa yang terjadi
setelah penurunan nilai diakui, seperti naiknya peringkat kredit debitur, PSAK 55
mensyaratkan agar kerugian penurunan nilai harus dipulihkan untuk dicatat sebagai :

Aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan atau biaya perolehan
diamortisasi, penurunan nilai untuk kerugian penurunan nilai harus dipulihkan
dan diakui dalam laporan laba rugi komprehensif untuk periode tersebut, namun
pemulihan ini tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi
biaya perolehan amortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada
tanggal pemulihan dilakukan.

10

Aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan, rugi penurunan nilai tidak
dapat dipulihkan.

Aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual,


pemulihan kerugian penurunan nilai ini dicatat dengan

cara yang berbeda

bergantung pada apakah aset keuangan tersebut adalah utang atau instrumen
ekuitas.
4. Penghentian Pengakuan

Penghentian Pengakuan Aset Keuangan


PSAK 55 menetapkan bahwa suatu entitas harus menghentikan pengakuan aset
keuangan atau bagian dari aset keuangan jika :
-

Hak kontraktual atau arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir,
atau

Entitas mentransfer aset keuangan dan transfer tersebut memenuhi kriteria


penghentian pengakuan.

Jadi, berdasarkan PSAK 55 tidak semua transfer mengakibatkan penghentian


pengakuan aset keuangan. Entitas tersebut harus melakukan pengujian untuk
menentukan apakah transfer itu mengakibatkan penghentian pengakuan. Ketika
entitas mentransfer aset keuangan, maka entitas harus mengevaluasi sejauh mana
entitas tetap memiliki resiko dan manfaat atas kepemilikan aset keuangan tersebut,
dalam hal ini:
-

Jika entitas secara substansial mentransfer seluruh resiko dan manfaat atas
kepemilikan aset keuangan, maka entitas harus menghentikan pengakuan aset
keuangan.

Jika entitas secara substansial memiliki seluruh resiko dan manfaat atas
kepemilikan aset keuangan, maka entitas harus tetap mengakui aset keuangan.

PSAK 55 menetapkan bahwa transfer atas resiko dan manfaat harus dievaluasi dengan
membandingkan eksposur entitas, sebelum dan sesudah transfer dilakukan, dengan
variabilitas dalam jumlah dan waktu terjadinya arus kas neto yang berasal dari aset
yang ditransfer.

Penghentian Pengakuan Liabilitas Keuangan


PSAK 55 menetapkan bahwa entitas harus menghentikan pengakuan liabilitas
keuangan (atau bagian dari liabilitas keuangan) jika liabilitas keuangan tersebut
berakhir, yaitu ketika kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan,
11

dibatalkan, atau kadaluwarsa. PSAK 55 lebih jauh menetapkan bahwa pertukaran


diantara pihak peminjam dan pemberi pinjaman yang saat ini ada atas instrumen utang
dengan persyaratan yang berbeda secara substansial adalah suatu penghapusan
liabilitas keuangan awal yang mengakibatkan penghentian pengakuan liabilitas
tersebut dan pengakuan liabilitas keuangan baru.
Demikian juga modifikasi secara substansial atas ketentuan instrumen utang yang saat
ini ada harus dicatat sebagai penghapusan liabilitas keuangan awal dari pengakuan
liabilitas keuangan baru. Pada saat pengehntian pengakuan liabilitas keuangan PSAK
55 menetapkan untuk liabilitas keuangan harus diakui dalam laporan laba rugi
komprehensif untuk periode tersebut.

5. Akuntansi Lindung Nilai


Akuntansi Lindung nilai didefinisikan sebagai penetapan satu atau lebih instrumen
lindung nilai sehingga perubahan nilai wajarnya saling hapus, secara keseluruhan atau
sebagian dengan perubahan nilai wajar atau arus kas item yang dilindung nilai.
Dalam setiap hubungan lindung nilai terdapat 3 unsur yaitu :

Item yang Dilindung Nilai


Dapat berupa aset, liabilitas, komitmen pasti, transaksi yang diperkirakan
kemungkinan besar terjadi, atau investasi netto pada entitas di luar negeri yang
mengekspos entitas terhadap resiko perubahan dalam nilai wajar atau perubahan
dalam arus kas masa depan, dan ditetapkan sebagai yang dilindung nilai.

Instrumen Lindung Nilai


Adalah derivatif yang ditetapkan dimana nilai wajar atau arus kasnya diharapkan
menghapus perubahan nilai wajar atau perubahan arus kas item yang ditetapkan
sebagai item yang dilindung nilai. Aset atau liabilitas nonderivatif dapat ditetapkan
sebagai instrumen lindung nilai hanya untuk lindung nilai atas resiko perubahan nilai
tukar.

Risiko
Adalah variabilitas dalam nilai wajar, atau dalam arus kas atau penjabaran keuntungan
atau kerugian yang mengekspos suatu entitas.

Untuk tujuan akuntansi Lindung Nilai, PSAK mengelompokkan hubungan lindung nilai
ke dalam tiga jenis, yaitu :

Lindung Nilai atas Nilai Wajar

12

Adalah suatu lindung nilai terhadap eksposur perubahan nilai wajar aset atau liabilitas
yang telah diakui atau komitmen pasti yang belum diakui, atau bagian yang telah
diidentifikasi dari aset, liabilitas, atau komitmen pasti yang dapat diatribusikan pada
resiko tertentu dan dapat mempengaruhi laba rugi. Untuk lindung nilai atas nilai
wajar, PSAK 55 menetapkan bahwa :
-

Keuntungan atau kerugian yang berasal dari pengukuran kembali instrumen


lindung nilai pada nilai wajar harus diakui secara langsung dalam laporan laba
rugi, dan

Keuntungan atau kerugian atas item yang dilindung nilai, yang dapat diatribusikan
pada resiko yang dilindung nilai harus menyesuaikan nilai tercatat item yang
dilindung nilai dan diakui secara langsung dalam laporan laba rugi.

PSAK 55 menetapkan bahwa entitas secara prospektif harus menghentikan penerapan


akuntansi lindung nilai atas nilai wajar jika :

Instrumen lindung nilai kadaluawarsa atau dijual, dihentikjan atau dilaksanakan.

Lindung nilai tidak lagi memenuhi kriteria kualifikasi akuntansi lindung nilai, atau

Entitas membatalkan penetapan yang telah dilakukan.

Lindung Nilai atas Arus Kas


Adalah suatu lindung nilai terhadap eksposur variabilitas arus kas yang dapat
diatribusikan pada risiko tertentu yang terkait dengan aset atau liabilitas yang telah
diakui atau yang kemungkinan besar terjadi dan dapat mempengaruhi laporan laba
rugi komprehensif.
Untuk lindung nilai atas arus kas, PSAK 55 menetapkan bahwa:
-

Bagian dari keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang
ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif harus diakui secara langsung dalam
pendapatan komprehensif lain, dan

Bagian yang tidak efektif atas keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung
nilai harus dilaporkan.

Lindung Nilai atas Investasi Neto pada Entitas di Luar Negeri


PSAK 55 menetapkan bahwa lindung nilai atas investasi neto pada entitas di luar
negeri harus dicatat dengan cara yang serupa seperti lindung nilai atas arus kas:
-

Bagian dari keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang
ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif harus diakui secara langsung dalam

13

ekuitas, diklasifikasikan dengan cara yang sama seperti penjabaran keuntungan


atau kerugian dalam mata uang asing; dan
-

Bagian yang tidak efektif harus segera diakui pada laporan laba rugi
komprehensif.

Keuntungan atau kerugian yang diakui harus dipulihkan dalam laporan laba rugi
komprehensif ketika investasi dalam operasi luar negeri tersebut dilepaskan.

C. Pengungkapan (PSAK 60)


1. Pendahuluan
PSAK 60 bertujuan untuk mengatur entitas untuk memberikan pengungkapan dalam
laporan keuangannya yang memungkinkan pengguna untuk mengevaluasi signifikansi
instrumen keuangan bagi posisi dan kinerja keuangan entitas tersebut disamping sifat dan
tingkat risiko yang muncul akibat instrumen keuangan tersebut selama periode berjalan
dan pada tanggal pelaporan serta bagaimana entitas tersebut mengelola resiko itu.
Ruang Lingkup Pengungkapan berlaku untuk semua entitas dengan seluruh jenis
instrumen keuangan, kecuali:
o Penyertaan dalam entitas anak, entitas asosiasi dan ventura bersama, kecuali
PSAK 4, 12, dan 15 menginjinkan menerapkan sesuai PSAK 55 (r2006)
o Hak dan kewajiban imbalan kerja (PSAK 24)
o Kontrak asuransi (PSAK 28) Instrumen, kontrak dan kewajiban keuangan dari
transaksi berbasis saham (ED PSAK 53)
o Instrumen ekuitas puttable Instrument (ED PSAK 50 (r 2010))

Pengungkapan yang diatur dalam PSAK 60 dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :


-

Pengungkapan akuntansi dan

Pengungkapan resiko.

2. Pengungkapan Akuntansi
PSAK 60 mensyaratkan bahwa suatu entitas mengungkapkan informasi akuntansi yang
memungkinkan pengguna laporan keuangannya untuk mengevaluasi signifikansi
informasi laporan posisi keuangan dan kinerja keuangannya.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
PSAK 60 mensyaratkan informasi informasi berikut terkait dengan unsur-unsur
laporan posisi keuangan yang diungkapkan :

Pembagian aset keuangan dan liabilitas keuangan


14

Nilai tercatat dari masing-masing kategori berikut harus diungkapkan dalam


laporan posisi keuangan atau dalam CALK;

Aset keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi

Investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo

Pinjaman dan piutang

Aset keuangan yang tersedia untuk dijual

Liabilitas keuangan pada nilai wajar melalui laba atau rugi

Liabilitas keuangan yang diukur dalam biaya amortisasi..

Aset keuangan atau liabilitas keuangan pada nilai wajar melaui laba atau rugi
Jika suatu entitas telah menetapkan pinjaman atau piutang pada nilai wajar melalui
laba rugi, PSAK 60 mensyaratkan pengungkapan :
-

Resiko kredit maksimum dari pinjaman atau piutang pada tanggal pelaporan

Saldo derivatif kredit atau instrumen serupa untuk mengurangi resiko kredit
maksimum tersebut.

Jumlah perubahan nilai wajar dari pinjaman atau piutang selama periode
berjalan dan secara kumulatif

Jumlah perubahan nilai wajar dari segala derivatif kredit atau instrumen serupa
terkait yang terjadi selama periode berjalan dan secara kumulatif sejak piutang
tersebut dirancang

Jika suatu entitas menetapkan liabilitas keuangan pada nilai wajar melalui laba
rugi, entitas tersebut harus mengungkapkan :
-

Jumlah perubahan nilai wajar dari liabilitas keuangan, selama periode berjalan
dan secara kumulatif.

Selisih antara nilai tercatat liabilitas keungan itu dan jumlah yang harus
dibayarkan secara kontraktual oleh entitas itu pada tanggal jatuh tempo pada
pemegang kewajiban.

Metode yang digunakan untuk menentukan nilai wajar

Lain Lain
-

Jika terdapat reklasifikasi suatu aset keuangan sebagai aset yang diukur pada
harga perolehan bukan pada nilai wajarnya, atau pada nilai wajarnya bukan
pada

harga

perolehan

atau

biaya

amortisasi

maka

entitas

harus

mengungkapkan jumlah yang direklasifikasi kedalam atau dihapus dari


masing-masing kategori serta alasan reklasifikasi tersebut.

15

Jika terjadi pengalihan aset keuangan dengan suatu cara yang mengakibatkan
sebagian atau seluruh aset keuangan tersebut tidak memenuhi syarat
penghapusan dari pengakuan, maka entitas harus mengungkapkan sifat aset
itu, resiko dan manfaat kepemilikikan yang tetap dimiliki, nilai tercatat serta
liabilitas terkait, nilai tercatat dari aset awal, saldo aset yang tetap diakui, serta
nilai tercatat dari liabilitas terkaitnya.

Jika terdapat agunan, maka pengungkapannya berupa nilai tercatat dari aset
keuangan yang dijaminkan dalam liabilitas atau liabilitas kontinjensi, dan
syarat ketentuan pinjaman tersebut.

Laporan Laba Rugi Komprehensif dan Laporan Perubahan Ekuitas


PSAK 60 mensyaratkan pengungkapan :
-

Laba netto atau rugi neto dalam (i) aset keuangan atau liabilitas keuangan pada
nilai wajar melalui laba rugi dengan menyajikan secara terpisah laba atau rugi neto
dalam aset keuangan atau liabilitas keuangan, (ii) aset keuangan yang dimiliki
untuk dijual (iii) investasi yang jatuh tempo (iv) pinjaman dan piutang (v)
liabilitas keuangan yang diukur dalam biaya amortisasi.

Jumlah pendapatan bunga dan jumlah beban bunga untuk aset keuangan atau
liabilitas keuangan yang bukan pada nilai wajar melalui laba rugi.

Penghasilan dan beban jasa

Pendapatan bunga atas aset keuangan yang mengalami penurunan nilai yang
masih harus dibayar

Saldo kerugian penurunan nilai untuk setiap kelas aset keuangan.

Pengungkapan Lainnya

Kebijakan Akuntansi
Dalam rangkuman kebijakan akuntansi utama, PSAK 60 mensyaratkan
pengungkapan dasar pengukuran yang digunakan dalam menyusun laporan
keuangan serta kebijakan akuntansi lainnya yang diperlukan guna memahami
laporan keuangan.

Akuntansi Lindung Nilai


PSAK 60 mensyaratkan pengungkapan :
-

Penjelasan tentang masing-masing jenis lindung nilai

Penjelasan tentang instrumen keuangan yang dirancang sebagai instrumen


lindung nilai dan nilai wajarnya pada tanggal pelaporan

Sifat risiko yang dilindung nilai.


16

Nilai Wajar
Nilai wajar adalah hal yang sangat ditekankan dalam pengukuran dan
pengungkapan instrumen keuangan.
PSAK 60 meminta entitas untuk mengungkapkan nilai wajar sesuai dengan
hierarki yang mencerminkan data input yang digunakan dalam melakukan
pengukuran. Hierarki nilai wajar adalah sebagai berikut:
1) Harga kuotasian yang tidak disesuaikan dalam pasar aktif untuk aset atau
liabilitas yang identik. (Tingkat satu)
2) Input selain harga kuotasian (tingkat satu) yang dapat diobservasi baik secara
langsung atau secara tidak langsung (tingkat dua)
3) Input untuk aset liabilitas yang bukan berdasarkan data pasar yang dapat
diobservasi. (tingkat tiga)

3. Pengungkapan Resiko
Pengungkapan Kualitatif
Untuk masing-masing jenis risiko yang muncul akibat instrumen keuangan, PSAK 60
mensyaratkan bahwa suatu entitas mengungkapkan hal-hal berikut:
-

Resiko yang dihadapi dan bagaimana resiko tersbut muncul

Tujuan, kebijakan dan proses yang dilakukan untuk mengelola risiko serta metode
yang digunakan untuk mengukur risiko tersbut.

Segala perubahan butir a dan b dari periode sebelumnya.

Pengungkapan Kuantitatif
Untuk masing-masing jenis risiko yang muncul akibat instrumen keuangan, PSAK 60
mensyaratkan bahwa suatu entitas mensyaratkan hal-hal berikut:
a. Rangkuman data kuantitatif tentang resiko yang dihadapinya pada tanggal
pelaporan.
b. Pengungkapan yang disyaratkan dalam PSAK 60 sepanjang tidak disediakan pada
butir a kecuali risiko tersbut tidak material
c. Konsentrasi risiko jika butir a belum jelas

17

AKUNTANSI DALAM KEADAAN HIPERINFLASI MENURUT IAS DAN PSAK


Dalam keadaan ekonomi yang sedang mengalami hiperinflasi, pelaporan posisi keuangan dan
laba rugi dalam keadaan yang belum disesuaikan akan menjadi tidak bermanfaat. Uang
kehilangan daya belinya sehingga tanpa adanya penyesuaian, laporan keuangan akan
menyesatkan.
Untuk menjamin terpenuhinya prinsip laporan keuangan yang fairly stated, IAS
mengeluarkan standar IAS 29 tentang Financial Reporting in Hyperinflationary Economies
yang mengatur cara penyajian kembali laporan keuangan dalam kondisi hiperinflasi. IAS 29
ini belum diadopsi dalam PSAK tahun 2009, namun akan diadopsi dalam PSAK tahun 2012.
Saat ini dewan standar PSAK telah mengeluarkan Eksposure Draft PSAK nomor 63 tentang
Pelaporan Keuangan Dalam Ekonomi Hiperinflasi. ED PSAK 63 ini mengadopsi semua
ketentuan dalam IAS 29 kecuali tanggal berlaku efektif.
Akuntansi Dalam Keadaan Hiperinflasi Menurut IAS
Penerapan IAS 29 dilakukan pada entitas yang mata uang fungsionalnya sedang mengalami
kondisi hiperinflasi. Dalam IAS 29, tidak ada batasan tertentu tingkat inflasi yang dapat
dinyatakan sebagai hiperinflasi. Untuk itu, IAS 29 mengeluarkan parameter yang dapat
dijadikan indikasi bahwa suatu Negara sedang mengalami hiperinflasi, yaitu:
a. Penduduknya lebih memilih untuk menyimpan kekayaan mereka dalam bentuk aset
nonmoneter atau dalam mata uang asing yang relatif stabil. Jumlah mata uang lokal
yang dimiliki segera diinvestasikan untuk mempertahankan daya beli;
b. Penduduknya mempertimbangkan jumlah moneter bukan dalam mata uang lokal
tetapi dalam mata uang asing yang relatif stabil. Harga-harga mungkin dikuotasikan
dalam mata uang asing tersebut;
c. Harga yang berlaku dalam penjualan dan pembelian secara kredit ditentukan dengan
memasukkan faktor ekspektasi hilangnya daya beli selama periode kredit, bahkan jika
periode kreditnya singkat;
d. Suku bunga, upah dan harga dikaitkan dengan indeks harga; dan
e. Tingkat inflasi kumulatif selama tiga tahun mendekati atau melebihi 100%.
Apabila kondisi diatas terjadi di suatu Negara, maka entitas yang mata uang fungsionalnya
adalah mata uang Negara yang mengalami hiperinflasi tadi harus menyajikan kembali
laporan keuangannya dalam unit pengukuran yang berlaku pada akhir periode pelaporan baik
18

entitas tersebut menggunakan pendekatan nilai historis ataupun nilai wajar.


Prosedur penyajian kembali laporan keuangan dalam kondisi hiperinflasi dilakukan sebagai
berikut:
I. Pendekatan Biaya Historis
a.

Laporan posisi keuangan


1. Jumlah dalam laporan posisi keuangan disajikan dalam general price index (indeks
harga umum) bila belum dinyatakan dalam unit pengukuran kini
2. Pos-pos moneter (uang yang dimiliki atau yang akan dibayarkan dalam bentuk uang)
tidak disajikan kembali
3. Aset dan kewajiban yang terikat perjanjian untuk perubahan harga disajikan kembali
sesuai dengan perjanjian untuk memastikan saldo pada akhir periode pelaporan.
4. Aset non meneter yang disajikan dalam nilai realisasi bersih dan nilai pasar tidak
disajikan kembali.
5. Aset non moneter yang dicatat pada biaya perolehan dikurangi biaya penyusutan
disajikan kembali sesuai dengan jumlah kini pada tanggal akuisisinya.
6. Aset non moneter yang telah disajikan kembali dikurangi sesuai dengan standar
terkait. Ketika jumlah tersebut melebihi jumlah terpulihkan. Misalnya, jumlah aset
tetap, goodwill, paten dan merek dagang yang disajikan kembali dikurangi menjadi
jumlah terpulihkan, dan jumlah persediaan yang disajikan kembali dikurangi menjadi
nilai realisasi neto.
7. Akun ekuitas kecuali laba ditahan dan surplus revaluasi disajikan kembali dengan
menggunakan indeks harga umum. Saldo revaluasi dihapuskan.

b.

Laporan laba rugi komprehensif


Seluruh pos dalam laporan laba rugi komprehensif dinyatakan dalam unit pengukuran
kini pada akhir periode pelaporan. Oleh karena itu, seluruh jumlah perlu untuk disajikan
kembali dengan menerapkan perubahan indeks harga umum dari tanggal pos pendapatan
dan beban tersebut awalnya dicatat dalam laporan keuangan

c.

Keuntungan atau Kerugian Posisi Moneter Neto


Adanya hiperinflasi akan dapat mengakibatkan selisih antara asset moneter dan liabilitas
moneter. Keuntungan atau kerugian posisi moneter ini disajikan dalam laporan laba rugi
komprehensif.

19

II. Pendekatan Biaya Kini


a.

Laporan posisi keuangan


Pos-pos yang disajikan pada biaya kini tidak disajikan kembali karena sudah dinyatakan
dalam unit pengukuran kini pada akhir periode pelaporan.

b.

Laporan laba rugi komprehensif


Laporan laba rugi komprehensif yang menggunakan biaya kini, sebelum penyajian
kembali, secara umum melaporkan biaya kini pada waktu terjadinya transaksi atau
peristiwa yang mendasari. Oleh karena itu, seluruh jumlah tersebut perlu disajikan
kembali dalam unit pengukuran kini pada akhir periode pelaporan dengan menggunakan
indeks harga umum

c.

Keuntungan atau Kerugian Posisi Moneter Neto


Adanya hiperinflasi akan dapat mengakibatkan selisih antara asset moneter dan liabilitas
moneter. Keuntungan atau kerugian posisi moneter ini disajikan dalam laporan laba rugi
komprehensif.

d.

Laporan Arus Kas


Seluruh pos dalam laporan arus kas dinyatakan dalam unit pengukuran kini pada akhir
periode pelaporan

Akuntansi Dalam Keadaan Hiperinflasi Menurut PSAK


Pelaporan keuangan dalam kondisi hiperinflasi sampai saat ini belum diatur dalam PSAK.
Standar IAS 29 ini akan diadopsi pada tahun 2012. Eksposur Draft PSAK nomor 63 tentang
Pelaporan Keuangan Dalam Ekonomi Hiperinflasi telah mengadopsi ketentuan IAS 29
kecuali tanggal berlaku efektif. Dalam adopsi ini, terdapat penyesuaian definisi Indeks harga
umum yang berlaku di Indonesia, yaitu indeks yang mengacu ke indeks harga konsumen
yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik

20