Anda di halaman 1dari 23

GIZI BURUK

MARASMUS

Aisyah Arrasyid May Lanni


220110120139

Epidemiologi gizi merupakan penerapan teknik epidemiologi dalam upaya


memahami penyebab (kausa) pemyakit di dalam populasi yang terpajan dengan
satu atau lebih faktor gizi yang diyakini sangat penting.

Epidemiologi gizi adalah ilmu


yang mempelajari determinan
dari suatu
masalah
atau
kelainan gizi.

DEFINISI DAN TUJUAN


EPIDEMIOLOGI GIZI

Mempelajari distribusi dan besarnya


masalah
gizi
pada
populasi
manusia.
Menguraikan penyakit dari masalah
gizi dan menentukan hubungan
sebab akibat.
Memberikan
informasi
yang
dibutuhkan untuk merencanakan
dan
melaksanakan
program
pencegahan,
kontrol
dan
penanggulangan masalah gizi di
masyarakat.

J M, Gibney, Margetts BM, Kerney JM, Arab L. Gizi Kesehatan Masyarakat.Oxford: EGC; 2009.

INSIDENSI & PREVALENSI

GIZI BURUK

MARASMU
S

INSIDENSI DAN PRAVELENSI


GIZI BURUK
Gizi buruk (malnutrisi) merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan,
khususnya di berbagai negara berkembang (WHO, 2004)

The United Nations Childrens Fund (UNICEF) pada tanggal 12 September


2008, menyatakan malnutrisi sebagai penyebab lebih dari 1/3 dari 9,2 juta
kematian pada anak-anak dibawah usia 5 tahun di dunia

UNICEF juga memberitakan tentang terdapatnya kemunduran signifikan dalam


kematian anak secara global di tahun 2007, tetapi tetap terdapat rentang yang
sangat jauh antara negara-negara kaya dan miskin, khususnya di Afrika dan
Asia Tenggara(CWS, 2008)

Pada tahun 2012, Indonesia Negara kekurangan gizi nomor 5 di dunia. Peringkat
kelima karena jumlah penduduk Indonesia juga di urutan empat terbesar dunia,
Jumlah balita yang kekurangan gizi di Indonesia saat ini sekitar 900 ribu jiwa.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jabar, tahun 2005 sebanyak 25.735
balita berstatus gizi buruk. Lima balita di antaranya kurang protein
(kwasiorkor), 102 balita kekurangan kalori (marasmus), dan busung lapar
(marasmus kwasiorkor) 20 balita.

Prevalensi nasional untuk gizi buruk dan kurang adalah


18,4%.
Bila dibandingkan dengan target pencapaian program perbaikan gizi
pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2015
sebesar 20% dan target MDG untuk Indonesia sebesar 18,5%, maka
secara nasional target-target tersebut sudah terlampaui

(Depkes RI, 2008)

Secara nasional, 10
kabupaten/kota dengan
prevalensi Gizi Buruk dan Gizi
Kurang pada Balita tertinggi
berturut-turut adalah:
No
Kabupaten/Kota
Pravelensi

Secara nasional, 10
kabupaten/kota dengan
prevalensi Gizi Buruk dan Gizi
Kurang pada Balita terendah
berturut-turut adalah:
No
Kabupaten/Kota
Pravelensi

Aceh Tenggara

(48,7%)

Kota Tomohon

(4,8%)

Rote Ndao

(40,8%)

Minahasa

(6,0%)

Kepulauan Aru

(40,2%)

Kota Madiun

(6,8%)

Timor Tengah
Selatan

(40,2%)

Gianyar

(6,8%)

Simeulue

(39,7%)

Tabanan

(7,1%)

Aceh Barat Daya

(39,1%)

Bantul

(7,4%)

Mamuju Utara

(39,1%)

Bandung

(7,5%)

Tapanuli Utara

(38,3%)

Kota Magelang

(8,2%)

Kupang

(38,0%)

Kota Jakarta Selatan

(8,3%)

10

Buru

(37,6%)

10

Bondowoso

(8,7%)

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20850/4/Chapter%20II.pdf

PENGERTIAN & PENYEBAB

MASALAH GIZI :

MARASMU
S

MASALAH GIZI
Masalah gizi adalah masalah kesehatan masyarakat yang timbul
akibat dari defisiensi kebutuhan gizi yang terjadi pada satu individu
atau suatu kelompok masyarakat. Masalah gizi secara umum di
Indonesia dikategorikan menjadi dua, yaitu kurang gizi mikro dan
kurang gizi makro. (Dinkes Purworejo 2006).
Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi, atau
nutrisinya di bawah standar rata-rata. Status gizi buruk dibagi menjadi tiga bagian,
yakni gizi buruk karena kekurangan protein (disebut kwashiorkor), karena
kekurangan karbohidrat atau kalori (disebut marasmus), dan kekurangan keduaduanya.

Status Gizi adalah suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh


keseimbangan asupan zat gizi dengan kebutuhan.

MARASMUS
Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat.
Gejala yang timbul diantaranya muka seperti orangtua (berkerut),
tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di

bawah kulit), ), rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit,


gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya.
Anak tampak sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah
makan, karena masih merasa lapar.
Depkes RI. 2008

PENYEBAB KURANG GIZI

KELOMPOK BERESIKO

MASALAH GIZI :

MARASMU
S

KELOMPOK BERESIKO MARASMUS

Marasmus dapat terjadi pada semua umur, akan tetapi lebih banyak terjadi
pada awal masa bayi; hal ini berhubungan dengan kegagalan pemberian
ASI dan perkembangan gastroinstestinal. Faktor psikologis ikut berperan
seperti adanya penolakan ibu dan penolakan yang berhubungan dengan
anoreksia
Penderita gizi buruk yang paling banyak dijumpai adalah tipe marasmus.
Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori
protein. Marasmus sering dijumpai pada usia 0-2 tahun. (Suriadi,2001:196: )

(Depkes RI, 2004)

DAMPAK

MASALAH GIZI :

MARASMU
S

Dampak jangka pendek terhadap perkembangan anak diantaranya :


Menjadikan anak apatis
Gangguan bicara
Gangguan tumbuh kembang
Mudah terkena penyakit ISPA, diare
Dampak jangka panjang adalah :
Penurunan skor intelligence quotient (IQ)
Penurunan perkembangan kognitif
Penurunan integrasi sensori
Gangguan pemusatan perhatian
Gangguan penurunan rasa percaya diri
Merosotnya prestasi akademik di sekolah

Kurang gizi menyebabkab rendahnya kualitas sumber daya manusia dan


produktivitas
Kualitas SDM yang rendah berpotensi menjadi penyebab kemiskinan
Fase akut dari penanggulangan masalah gizi buruk adalah akan mengancam
jiwa
Fase jangka panjang akan menjadi ancaman hilangnya sebuah generasi
penerus bangsa

UPAYA PENANGGULANGAN

MASALAH GIZI :

MARASMU
S

UPAYA PENANGGULANGAN

Langkah awal penanggulangan masalah gizi buruk sistem kewaspadaan dini


dengan indikator dan alat ukur yang sensitif sistem surveilance gizi buruk
Menurut WHO, survailans gizi merupakan kegiatan pengamatan keadaan gizi,
dalam rangka untuk membuat keputusan yang berdampak pada perbaikan gizi
penduduk dengan menyediakan informasi yang terus menerus tentang keadaan
gizi penduduk, berdasarkan pengumpulan data langsung sesuai sumber yang
ada, termasuk data hasil survei dan data yang sudah ada.

Keputusan Menteri Kesehatan nomor: 1116/Menkes/SK/VI II/2003


tentang Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemiologi
Kesehatan dan Penyakit, salah satu kegiatannya adalah pelaksanaan
SKD KLB. SKD KLB merupakan kewaspadaan terhadap penyakit
berpotensi KLB serta faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan
menerapkan teknologi surveilans epidemiologi dan dimanfaatkan
untuk meningkatkan sikap tanggap kesiapsiagaan, upaya pencegahan
dan tindakan penanggulangan KLB yang cepat dan tepat
(Depkes RI, 2004)

UPAYA PENANGGULANGAN YANG SUDAH DILAKUKAN

A. Kebijakan
Pencegahan dan penanggulangan gizi buruk merupakan program
nasional sehingga perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan
evaluasi dilaksanakan secara berkesinambungan antara pusat dan
daerah.
Penanggulangan masalah gizi buruk dilaksanakan dengan pendekatan
komprehensif dengan mengutamakan upaya pencegahan dan upaya
peningkatan yang didukung upaya pengobatan dan pemulihan.

Penanggulangan masalah gizi buruk dilaksanakan semua kabupaten


atau kota secara terus menerus dengan koordinasi lintas
instansi/sektor atau dinas dan organisasi masyarakat.
Penanggulangan ini dilaksanakan secara demokratis dan transparan
melalui kemitraan di tingkat kabupaten atau kota, antara pemerintah
daerah, dunia usaha dan masyarakat.
(Nur nasri noor, 2000)

UPAYA PENANGGULANGAN YANG SUDAH DILAKUKAN

B. Program Pemerintah

Program gizi yang dapat dilaksanakan saat ini dijabarkan dalam


rencana aksi nasional pencegahan dan penanggulangan gizi buruk tahun
2005 2009
Revitalisasi posyandu untuk meningkatkan fungsi dan kinerja
posyandu terutama pada pemantauan pertumbuhan balita.
Revitalisasi Puskesmas bertujuan untuk meningkatkan fungsi dan
kinerja puskesmas baik penyelenggaraan upaya kesehatan per
orangan maupun upaya kesehatan masyarakat.
Pelatihan tatalaksana gizi buruk bagi petugas rumah sakit dan
puskesmas.
(Nur nasri noor, 2000)

Pokok kegiatan intervensi gizi dan kesehatan.

o Perawatan atau pengobatan gratis di rumah sakit dan


puskesmas bagi balita gizi buruk di keluarga miskin.
o Pemberian makanan tambahan (PMT) berupa ASI bagi
anak 6-23 bulan dan PMT pemulihan pada anak 24-29
bulan kepada balita gizi kurang keluarga miskin.
o Pemberian suplemen gizi (kapsul vitamin A), tablet, atau
sirup Fe.

IDE KREATIF

YANG DIUSULKAN

Penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif ditingkatkan di


pelayanan kesehatan mulai dari posyandu, puskesmas, rumah
sakit bersalin.
Selain penyuluhan diberikan juga buku tentang angka-angka
kebutuhan gizi balita secara sederhana dalam bentuk gambar
atau menu harian yang disesuaikan dengan tingkat ekonomi
masyarakat di daerah tersebut.

REFERENSI
Depkes R.I. 2004. Kepmenkes tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem
Surveilans Epidemiologi Kesehatan dan Penyakit.
Depkes R.I. 2008. Pedoman Pelaksanaan Respon Cepat Penanggulangan
Gizi Buruk.
Depkes R.I. 2005. Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan
Gizi Buruk 2005-2009.
Gibson, R.S. 2005. Principles of Nutrition Assesment. New York. Oxford,
University Press.
Soekirman & Karyadi, D. (1995). Nutrition surveillance: A planners perspective. Food
and Nutrition Bulletin. United Nations University. Tokyo
Mason, et al. (1984). Nutritional Surveillance. WHO
Timmreck, C.T. (2005). Epidemiologi: Suatu Pengantar,. EGC.
http://www.diskes.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/informasi/sorotan_kita/detai
lsorotan/33
http://www.indonesiafightpoverty.com/2014/04/01/indonesia-masih-dihantui-kasusgizi-buruk/

TERIMA KASIH