Anda di halaman 1dari 3

Mati Mendadak

1. Definisi Mati Mendadak


Definisi WHO untuk kematian mendadak adalah kematian yang terjadi pada 24 jam
sejak gejala-gejala timbul, namun pada kasus-kasus forensik, sebagian besar kematian terjadi
dalam hitungan menit atau bahkan detik sejak gejala pertama timbul.1
Pengertian yang lain adalah seperti, kematian yg terjadi seketika (Instantaneus Death),
misalnya pada orang sehat sedang bertamu, lalu tiba-tiba meninggal. Kematian tak terduga
(Unexpected Death), misalnya pada orang sakit perut, dikira maag biasa & masih bekerja, lalu
meninggal ditempat kerja. .Meninggal tanpa saksi (Unwitness), misalnya orang hidup sendiri di
sebuah rumah, esoknya meninggal di kamarnya.2
2. Pendahuluan
Kematian mendadak akibat penyakit seringkali mendatangkan kecurigaan baik bagi
penyidik, masyakat atau keluarga , khususnya bila yang meninggal adalah orang yang cukup
dikenal oleh masyarakat , orang yang meninggal di rumah tahanan dan ditempat-tempat umum.
Penentuan sebab kematian menjadi penting terkait dengan kepentingan hukum,
perubahan status almarhum dan keluarganya, serta hak dan kewajiban yang timbul dari
meninggalnya orang tersebut. Autopsi sebagai suatu jalan penentuan sebab kematian merupakan
pilihan solusi saat berhadapan dengan suatu kematian mendadak.3
3. Penggolongan Kematian Alamiah
Kematian alamiah dapat dibagi menjadi dua kategori besar yaitu:
(a) Kematian yang terjadi dimana ada saksi mata dan keadaan dimana faktor fisik dan emosi
mungkin memainkan peran, juga dapat terjadi saat aktivitas fisik, dimana cara mati dapat
lebih mudah diterangkan atau kematian tersebut terjadi selama perawatan/pengobatan
yang dilakukan oleh dokter ( Attendaned Physician).
(b) Keadaan dimana mayat ditemukan dalam keadaan yang lebih mencurigakan seringnya
diakibatkan TKP nya (tempat kejadian perkara) atau pada saat orang tersebut meninggal

tidak dalam perawatan atau pengobatan dokter (unattendaned physician), terdapat


kemungkinan hadirnya saksi-saksi yang mungkin ikut bertanggung jawab terhadap
terjadinya kematian.
Pada kematian alamiah kategori pertama, kematian alamiah dapat dengan lebih mudah
ditegakkan, dan kepentingan dilakukannya autopsi menjadi lebih kecil. Pada kematian alamiah
kategori kedua, sebab kematian harus benar-benar ditentukan agar cara kematian dapat
ditentukan.
Pada kematian alamiah kategori kedua, karena keadaan yang lebih mencurigakan, polisi
akan mengadakan penyidikan dan membuat surat permintaan visum et repertum. Pada keadaan
ini hasil pemeriksaan akan dituangkan dalam visum et repertum, dan persetujuan keluarga akan
menjadi prioritas yang lebih rendah dari kepentingan penegakan hukum.3
4. Aspek Medikolegal
Pada tindak pidana pembunuhan, pelaku biasanya akan melakukan suatu tindakan/usaha
agar tindak kejahatan yang dilakukanya tidak diketahui baik oleh keluarga, masyarakat dan yang
pasti adalah pihak penyiidik (polisi) , salah satu modus operandus yang bisa dilakukan adalah
dengan cara membawa jenazah tersebut ke rumah sakit dengan alasan kecelakaan atau meninggal
di perjalanan ketika menuju kerumah sakit (Death On Arrival) dimana sebelumnya almarhum
mengalami serangan suatu penyakit ( natural sudden death).
Pada kondisi diatas, dokter sebagai seorang profesional yang mempunyai kewenangan
untuk memberikan surat keterangan kematian harus bersikap sangat hati-hati dalam
mengeluarkan dan menandatangani surat kematian pada kasus kematian mendadak (sudden
death) karena dikhawatirkan kematian tersebut setelah diselidiki oleh pihak penyidik merupakan
kematian yang terjadi akibat suatu tindak pidana. Kesalahan prosedur atau kecerobohan yang
dokter lakukan dapat mengakibatkan dokter yang membuat dan menandatangani surat kematian
tersebut dapat terkena sangsi hukuman pidana.

Ada beberapa prinsip secara garis besar harus diketahui oleh dokter berhubungan
dengan kematian mendadak akibat penyakit yaitu:
(a) Apakah pada pemeriksaan luar jenazah terdapat adanya tanda-tanda kekerasan yang
signifikan dan dapat diprediksi dapat menyebabkan kematian ?
(b) Apakah pada pemeriksaan luar terdapat adanya tanda-tanda yang mengarah pada
keracunan ?
(c) Apakah almarhum merupakan pasien (Contoh: Penyakit jantung koroner) yang rutin
datang berobat ke tempat praktek atau poliklinik di rumah sakit ?
(d) Apakah almarhum mempunyai penyakit kronis tetapi bukan merupakan penyakit
tersering penyebab natural sudden death ?
Adanya kecurigaan atau kecenderungan pada kematian yang tidak wajar berdasarkan
kriteria tersebut, maka dokter yang bersangkutan harus melaporkan kematian tersebut kepada
penyidik (polisi) dan tidak mengeluarkan surat kematian.3

1. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31673/4/Chapter
%20II.pdf, Universitas Sumatera Utara
2. http://elib.fk.uwks.ac.id/asset/archieve/matkul/Forensik/MATI
%20%20MENDADAK.pdf, ILMU KEDOKTERAN FORENSIK FAKULTAS
KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA
3. http://rludifkunjani.wordpress.com/2010/11/17/aspek-medikolegalkematian-mendadak-akibat-penyakit-natural-sudden-death/, Fahmi Arief
Hakim, dr, SpF, Bagian forensic FK UNJANI