Anda di halaman 1dari 22

GAMBARAN PERAN BIDAN DALAM MENSUKSESKAN PROGRAM

AKINO MENUJU NTB BERSAING


ABSTRACT
Kesehatan Ibu merupakan komponen yang sangat penting dalam
kesehatan reproduksi karena seluruh komponen yang lain sangat dipengaruhi
oleh kesehatan ibu. Apabila Ibu sehat maka akan menghasilkan bayi yang sehat
yang akan menjadi generasi kuat. Ibu yang sehat juga menciptakan keluarga
sehat dan bahagia.
Hasil survei dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa Angka Kematian
Ibu (AKI) di Indonesia telah mengalami penurunan. Di NTB sendiri, AKI telah
turun dari 370 per 100.000 KH (Kelahiran Hidup) pada tahun 2002 menjadi 320
per 100.000 KH pada tahun 2007. Akan tetapi penurunan ini belum signifikan
untuk mendongkrak kumulatif angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di
provinsi NTB. (Dikes Provinsi NTB)
Untuk itu diperlukan program terobosan yang mampu mempercepat
perbaikan peringkat IPM Provinsi NTB secara nasional. Pada tanggal 12
Nopember 2009, bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional ke 45,
pemerintah mencanangkan program AKINO (Angka Kematian Ibu Menuju Nol)
yang merupakan bagian dari Gerakan 3A (ABSANO, ADONO, AKINO).
Tersebarnya bidan di setiap desa, peningkatan jumlah Poskesdes, adanya
Desa Siaga Aktif, dan upaya-upaya lainnya dalam program AKINO telah
menunjukkan hasil yakni menurunnya AKI di NTB 109 per 100.000 KH pada
tahun 2010 (data sampai november 2010, karena data Desember 2010 belum
lengkap) dari 121 per 100.000 KH pada tahun 2009. (Dikes Provinsi NTB)
Pencapaian tersebut tentunya memotivasi kita untuk terus berupaya
mencapai hasil maksimal. Komitmen dan kerja keras dari para bidan sangat
diperlukan karena mereka memegang peranan yang sangat penting dalam upaya
tersebut.
Keywords:Kesehatan Ibu, AKI, AKINO, Upaya Pemerintah, dan Peran
Perawat

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan Ibu merupakan komponen yang sangat penting dalam
kesehatan reproduksi karena seluruh komponen yang lain sangat dipengaruhi
oleh kesehatan ibu. Apabila Ibu sehat maka akan menghasilkan bayi yang
sehat yang akan menjadi generasi kuat. Ibu yang sehat juga menciptakan
keluarga sehat dan bahagia.
Untuk mewujudkan itu semua, seluruh pemangku kepentingan dalam
program kesehatan reproduksi di Indonesia (pemerintah pusat maupun daerah,
LSM,

dunia

usaha,

organisasi

profesi,

donor

agency)

hendaknya

meningkatkan aktifitasnya dalam mendukung pencapaian kualitas hidup ibu


yang pada akhirnya juga akan meningkatkan kualitas hidup keluarga.
Sampai sekarang ini Dunia masih menghadapi tingginya angka
kematian ibu maternal. Organisasi Kesehatan Dunia World Health
Organization (WHO,1992) memperkirakan bahwa ada 500.000 kematian ibu
melahirkan di seluruh dunia setiap tahunnya, 99 persen diantaranya terjadi di
negara berkembang. Angka kematian maternal di negara berkembang
diperkirakan mencapai 100 sampai 1000 lebih per 100.000 kelahiran hidup,
sedang di negara maju berkisar antara tujuh sampai 15 per 100.000 kelahiran
hidup. Ini berarti bahwa di negara berkembang risiko kematian maternal satu
diantara 29 persalinan sedangkan di negara maju satu diantara 29.000
persalinan.
Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007
menyebutkan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sebesar 228 per
100.000 kelahiran hidup. Angka ini turun jika di bandingkan dengan hasil
SDKI tahun 2003 yang mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup, meskipun
demikian angka tersebut masih menjadi angka tertinggi di Asia. Sementara

target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) adalah


sebesar 226 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2008).
Hasil survey tersebut tidak memberi informasi tentang AKI untuk
setiap Provinsi, menurut SDKI tahun 2003 AKI di Provinsi Nusa Tenggara
Barat (NTB) adalah sebesar 360 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut
dari tahun ke tahun mengalami penurunan apalagi dalam rentang tiga tahun
terakhir sejak program AKINO (Angka Kematian Ibu Nol) dicanangkan telah
menunjukkan kecenderungan mengalami penurunan meskipun pada tahun
2011 mengalami peningkatan. Kematian ibu maternal pada tahun 2009 tercatat
121 orang, tahun 2010 kematian ibu maternal sebanyak 113 orang dan data
pada tahun 2011 tercatat sudah 119 ibu meninggal pada masa kehamilan,
melahirkan dan nifas. (Dikes NTB, 2011).
Tabel 1.1 Jumlah AKI Maternal di Provinsi NTB Berdasarkan
Kabupaten/Kota TAHUN 2011
Kematian Ibu Maternal Berdasarkan Tahun
2006 2007 2008 2009 2010 2011
1 Kota Mataram
4
0
5
14
7
9
2 Lombok Barat
22
19
20
18
17
9
3 Lombok Utara
0
0
0
8
4
4
4 Lombok Tengah
15
14
18
13
20
14
5 Lombok Timur
17
16
15
35
38
38
6 Sumbawa Barat
2
0
2
4
3
6
7 Sumbawa
10
19
10
12
12
19
8 Dompu
9
11
3
4
1
9
9 Bima
14
10
13
9
9
10
10 Kota Bima
4
6
6
4
2
1
Provinsi NTB
97
95
92
121
113
119
Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi NTB.
No

Kabupaten/Kota

Yang dimaksud kematian Ibu adalah kematian perempuan pada saat


hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan
tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian
yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan
karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dan lain-lain (Budi
Utomo, 1985).
3

Penyebab kematian ibu adalah karena terjadinya komplikasi selama


kehamilan atau persalinan (medis). Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) 2001, penyebab langsung kematian ibu di Indonesia
diantaranya adalah perdarahan (28%), eklamsi (24%), infeksi (11%),
persalinan lama (5%) dan abortus (5%). (Jurnal Kebidanan dan
Keperawatan, 2010)
Tabel 1.2 Penyebab kematian ibu di NTB tahun 2010 dapat dilihat
dalam tabel berikut:
Penyebab Kematian
Perdarahan
Abortus
Infeksi jalan lahir
Eklamsi/pre eklamsi
Lain-lain
Partus lama

Tahun
2009
33.9
0.8
4.1
18.2
40.5
2.5

2008
35.2
1.1
4.4
15.4
38.5
5.5

2010
29.17
1.04
2.08
20.83
45.83
-

Sumber: Dikes Provinsi NTB.


Penyebab tidak langsung yang juga menjadi penentu angka
kematian ibu adalah rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan
ibu hamil, pemberdayaan perempuan yang kurang baik,latar belakang
pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan politik,
adanya masalah ketidaksetaraan gender, nilai budaya, perekonomian serta
rendahnya perhatian laki-laki terhadap ibu hamil dan melahirkan.
1.2 Tujuan
Mengidentifikasi peran dan fungsi bidan dalam mensukseskan
program Akino menuju NTB Bersaing
1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang bisa di dapatkan dari hasil penulisan ini adalah
Sebagai acuan dalam meningkatkan kualitas bidan/tenaga kesehatan dalam
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan terutam kesehatan ibu dan bayi
guna menekan anggka kematian ibu menuju Nol (AKINO)
1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka kami tertarik untuk meneliti


tentang Bagaimanakah peran bidan dalam mensukseskan program akino
menuju NTB bersaing?

BAB 2
TELAAH PUSTAKA
2.1 Pemerintah NTB Mencanangkan Program AKINO (AKI Menuju
Nol)
Menurunkan kesakitan dan kematian ibu telah menjadi salah satu
prioritas utama dalam pembangunan sektor kesehatan sebagaimana
5

tercantum dalam Program Pembangunan Nasional. Upaya untuk


meningkatkan kesehatan maternal dan neonatal menjadi sangat strategis
bagi upaya pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.
Pada tanggal 12 Nopember 2009, bertepatan dengan peringatan
Hari Kesehatan Nasional ke-45, pemerintah NTB mencanangkan program
AKINO (Angka Kematian Ibu Menuju Nol) yang merupakan bagian dari
Gerakan 3A (ABSANO, ADONO, AKINO). Gerakan AKINO merupakan
sinergisitas berbagai upaya untuk mempercepat penurunan angka
kematian ibu berbasis desa/kelurahan, sehingga berdampak pada
peningkatan usia harapan hidup di daerah ini, dan pada akhirnya dapat
meningkatkan skor Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Secara teknis, keberhasilan AKINO diukur dari indikator dan
target berikut, yaitu :
Tabel 2.1 Tabel Indikator Gerakan AKINO 2010-2013
INDIKATOR

INPUT

PROSES

ASPEK
1.
SDM
2.
3.
Sarana/
4.
Prasarana 5.
6.
7.
Pembiayaan
8.
9.
Pelayanan 10.
11.
12.
13.
Rujukan

OUTPUT
OUTCOME

SUB INDIKATOR

Desa

Persentase Bidan di desa


Persentase Bidan tinggal di desa
Persentase Poskesdes
Persentase Desa Siaga Aktif
Persentase Puskesmas PONED
Persentase RS PONEK
Tersedianya dana persalinan untuk
masyarakat miskin
Persentase Poyandu Aktif
Persentase K4
Persentase Persalinan ditolong Nakes
Persentase Persalinan di Fasilitas Kes.
Persentase KN lengkap
Persentase Komplikasi Neonatal

Tertangani
14. Persentase Komplikasi Obstetri
tertangani
15. Persentase Desa/Kelurahan tidak ada

AKINO
kematian ibu
Kematian 16. Jumlah kematian ibu

TARGET

TARGET

2010
90
75
70
70
100
100

2013
100 %
90 %
80 %
80 %
100 %
100 %

100

100 %

70
95
90
70
90

80 %
100 %
90 %
75 %
95 %

80

85 %

80

85 %

89.3

91.7 %

116

102 org

Sumber: Dikes Provinsi NTB.


Untuk mencapai tujuan Gerakan AKINO, telah dilaksanakan
sejumlah program yang berhubungan dengan kesehatan ibu, meliputi
komponen AKINO berikut :
6

Tabel 2.2 Tabel Komponen Program AKINO tahun 2010


KOMPONEN
Komitmen

UPAYA 2010
Penyusunan Rancangan PERDA Peningkatan dan
Perlindungan Kesehatan Ibu, bayi dan anak balita.
Kesepakatan sharing pembiayaan revitalisasi Posyandu
antara Provinsi dan kabupaten/Kota
Persalinan gratis di Sarana kesehatan (Puskesmas dan RSU

Penguatan kelembagaan

ruang Kelas III).


Revitalisasi Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA)
Penguatan manajemen program (Workshop, pertemuan,

Koordinasi dan

lokakarya, seminar).
Pengembangan Dai lapangan
Pengembangan Kemitraan Bidan-Dukun

Kemitraan
Supply

Demand
Kualitas pelayanan

Optimalisasi penempatan Bidan di Desa (PTT, CPNS)


Optimalisasi Pembangunan Poskesdes (DHS II, Bank
Mandiri, Cukai Tembakau).
Pemenuhan sarana (Bidan Kit, alat poskesdes), Obat
Pemilihan Bidan AKINO
Pembangunan RSU Rujukan Pulau Sumbawa
Penguatan Desa Siaga Aktif
Pencanangan Posyandu Bersaing
Pemberdayaan masyarakat dalam perbaikan gizi (NICE)
Pelatihan teknis kebidanan
Pelatihan Tim Puskesmas PONED

Sumber: Dikes Provinsi NTB.


Sedangkan lingkup Bidang Binkesmas Dinas Kesehatan Provinsi
NTB pada tahun anggaran 2010, telah dilaksanakan sejumlah kegiatan
yang fokus pada penguatan manajemen program, sebagai berikut :
Tabel 2.3 Tabel Kegiatan dalam Program AKINO Tahun 2010
ASPEK PROGRAM
Pertemuan /Workshop

KEGIATAN
Pembinaan dan fasilitasi kesehatan remaja
Pertemuan PKRET yang responsif gender
Review program kesehatan reproduksi
Workshop memperkuat pelayanan kesehatan reproduksi
peduli remaja untuk puskesmas fokus
Workshop Puskesmas model PKRET.
Kemitraan bidan dan dukun
Pertemuan pemantapan pelaksanaan pelayanan persalinan
di fasilitas kesehatan
Pertemuan percepatan penurunan AKI di provinsi
Konsultasi Gerakan AKINO
Pertemuan koordinasi PONEK/PONED di provinsi
Pertemuan P4K dengan organisasi wanita/agama di
provinsi
Pertemuan evaluasi pelayanan persalinan di fasilitas
kesehatan tk. Provinsi

Pemantauan pelaksanaan P4K


Evaluasi pasca pelatihan PONED Provinsi
Pertemuan evaluasi program kesehatan ibu
Pemantapan kemitraan bidan dan dukun bagi dukun di
Penyusunan Panduan
Pelatihan
Kualitas Data

puskesmas
Penyusunan rencana aksi universal akses kesehatan
reproduksi provinsi NTB
Pelatihan PKPR bagi petugas puskesmas di Kab/Kota
Pertemuan validasi data kab/Kota se-NTB
PWS KIA
Pertemuan evaluasi perencanaan pemutakhiran data
kematian di kabupaten / Kota
Bintek program untuk pemutakhiran data kematian
Sosialisasi pencatatan dan pelaporan pelayanan KB di

KIE
Perbaikan Gizi

tingkat Kabupaten.
Media KIE (Buku, Buku Saku, Baliho, leaflet) AKINO
Buku KIA
Penanggulangan gizi buruk dan KEK Ibu Hamil dalam
rangka desa siaga

Sumber: Dikes Provinsi NTB


2.2 Cakupan Pertolongan oleh Bidan/Tenaga Kesehatan
Salah satu faktor tingginya AKI di Indonesia adalah disebabkan
karena relatif masih rendahnya cakupan pertolongan oleh tenaga kesehatan.
Kondisi geografis, persebaran penduduk dan sosial budaya merupakan faktor
penyebab rendahnya aksesibilitas terhadap tenaga pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan.
Safe Motherhood Technical Consultation di Sri Langka 1997,
merekomendasikan bahwa intervensi yang sangat kritis dalam menurunkan
AKI adalah tersedianya tenaga penolong persalinan terlatih. Dengan demikian
setiap persalinan terjadi secara aman tanpa kematian ibu maupun bayi. (Buku
Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002)
Selain itu, WHO juga telah memberikan kontribusi yang berfokus
pada sektor kesehatan agar dapat menjamin bahwa setiap persalinan ditolong
oleh tenaga kesehatan terlatih. (JurnalManajemen Pelayanan Kesehatan,
2007)
Melalui program AKINO, pemerintah NTB telah menjawab sebagian
besar permasalahan dan hambatan dalam menurunkan AKI. Pemerintah telah
memprogramkan berbagai kegiatan dan untuk pelaksanaan program-program
8

tersebut telah dialokasikan dana sebanyak Rp. 2.104.429.000 bersumber


APBN, APBD dan UNFPA. (Dikes Provinsi NTB)
2.3 Peran Bidan dalam Mensukseskan Program AKINO Menuju Indonesia
Bersaing
Keberadaan bidan yang terlatih menjadi salah satu penentu ada atau
tidaknya kematian ibu. Dengan adanya bidan yang tersebar di setiap desa,
maka setiap ibu mendapat pelayanan kesehatan yang memadai. Oleh karena
itu pemerintah memposisikan bidan dalam poin pertama dalam indikator
gerakan AKINO.
Bidan bertanggungjawab dalam meningkatkan kesadaran masyarakat
agar memiliki kepedulian terhadap kesehatan perempuan terutama pada saat
hamil. Penyuluhan kesehatan yang sudah berjalan sejak dulu harus tetap
dilakukan karena tidak mudah merubah pola hidup masyarakat yang masih
kurang peduli terhadap tenaga kesehatan. Sehingga hasil yang diharapkan
adalah tercipta lingkungan masyarakat yang memiliki kesadaran yang tinggi
terhadap kesehatan.
Di samping itu untuk mensukseskan program AKINO, seorang bidan
harus kreatif dan bisa berinovasi secara mandiri tanpa bergantung penuh
terhadap pemerintah untuk mencapai suatu tujuan. Seperti contoh, seorang
bidan ditugaskan di suatu daerah terpencil dengan perekonomian yang sangat
memprihatinkan memiliki AKI yang cukup tinggi akibat kekurangan gizi.
Salah satu tugas bidan tersebut adalah memberikan penyuluhan tentang gizi
dan bantuan berupa makanan setiap satu bulan karena terbatasnya bantuan
oleh pemerintah. Sekian lama program tersebut direalisasikan, namun
hasilnya tidak memuaskan, masih saja terdapat kematian setiap tahunnya.
Disinilah inovasi dari seorang bidan dibutuhkan, bidan tersebut mencoba
memberikan bantuan kepada warga berupa sejumlah uang dan pelatihan
mengenai suatu industri kecil yang tujuannya warga tersebut dapat
berswadaya sendiri dalam mengurangi angka kematian di desanya dengan
melakukan perbaikan dalam bidang perekonomian. Dan hasilnya warga
tersebut dapat memperbaiki perekonomian mereka sendiri, sehingga secara

mutlak mereka juga dapat memperbaiki gizi warga di desa. Dan, melalui
program ini mereka dapat mengurangi AKI di desa mereka.
Berdasarkan contoh di atas, diharapkan bidan-bidan yang lain dapat
berinovasi sendiri. Selain dibutuhkan pelatihan bagi bidan agar menjadi bidan
yang profesional dalam menjalankan profesi, tapi juga pelatihan mengenai
industri kecil yang mungkin dilakukan di desa yang segala sesuatunya
terbatas.
Sementara itu tidak dapat dipungkiri akan eksistensi para dukun di
NTB ini. Selain karena masih kentalnya adat dan kepercayaan masyarakat
NTB, juga karena relatif terjangkaunya biaya berobat ke dukun sehingga
masyarakat lebih mempercayakan dirinya ke dukun. Namun tidak mungkin
bagi kita untuk menghentikan aktivitas mereka. Disinilah dibutuhkan peran
serta bidan dalam merangkul para dukun untuk bekerja sama mendukung
program pemerintah. Bidan mendekati para dukun agar bisa diajak bekerja
sama, dilibatkan secara langsung dalam upaya mengurangi AKI dan AKB.
Selanjutnya bidan memberikan pelatihan sehubungan dengan peran serta
dukun. Hasil yang diharapkan adalah mereka menjadi dukun yang terlatih.
Sehingga dukun membantu mempromosikan tenaga kesehatan tentunya
dengan tidak melupakan peran dukun itu sendiri.
Dengan demikian hasil yang diperoleh dengan menerapkan ketiga
langkah tersebut adalah menurunnya angka kematian dan kesakitan ibu dan
bayi pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya yang disertai dengan
meningkatnya derajat kesehatan masyarakat NTB secara luas.

10

BAB 3
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan survei
dokumentasi dimana penelitian ini menjelaskan tentang bagaimana gambaran
peran bidan/tenaga kesehatan untuk menekan angka kematian ibu menuju nol
(AKINO) dalam rangka menuju NTB bersaing dalam mewujudkan program
MDGs.

11

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tiga penyebab utama kematian ibu dalam bidang obstetric adalah:
pendarahan 45% dan infeksi 15% dan hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia)
13%. Sisanya terbagi atas penyuebab partus macet, abortus yang tidak aman, dan
penyebab tidak lansung lainnya (SKRT, 1995).
Berbagai faktor penyebab sering kali di jumpai secara bersamaan dan
tumpang tindih sering menyebabkan angka kematian ibu terjadi (Siregar, 1998).
Salah satu sebabnya adalah karena masyarakat masih miskin dan tingkat
pendidikannya rendah. Tingkah laku masyarakat umumnya dicerminkan oleh
keadaan sumber daya manusia yang rendah mutunya itu.
Di samping itu ada penanganan kasus yang sering di temukan trias tiga
terlambat yang memperbesar angka kematian ibu di antaranya:
1. Terlambat untuk memutuskan untuk mencari pertolongan bagi kasus
kedaruratan obstetric
2. Terlambat mencari tempat rujukan yang di sebabkan oleh keadaan
geografis dan alat transportasi
3. Terlambat memperoleh penanganan yang adekuat di tempat rujukan karena
kurangnya sumber daya dan fasilitas kesehatan pada pusat rujukan
Angka Kematian Ibu maternal bermanfaat untuk menggambarkan tingkat
kesadaran akan perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi
kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu
melahirkan, waktu melahirkan maupun masa nipas, Angka kematian ibu

12

dipopulasi sampai saat ini belum pernah bisa dihitung di propinsi Nusa Tenggara
Barat.
Selama ini dipakai angka kematian ibu secara nasional yang diperoleh dari
hasil survei-survei terbatas maupun SKRT. Data tentang angka Kematian Ibu
Maternal bermanfaat untuk menggambarkan tingkat kesadaran akan perilaku
hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat
pelayanan kesehatan terutama untuk ibu melahirkan, waktu melahirkan maupun
masa nipas, Angka kematian ibu dipopulasi sampai saat ini belum pernah bisa
dihitung di propinsi NTB.
Berdasarkan data PWSKIA Tahun 2007, selama ini dipakai angka
kematian ibu secara nasional yang diperoleh dari hasil survei-survei terbatas
maupun SKRT. Jumlah kematian maternal di propinsi NTB Tahun 2007 sebesar
95 orang yang terdiri dari kematian ibu hamil 7orang, yang tertingi kematian ibu
bersalin 84 orang dan kematian ibu nipas 8 orang kematian tertinggi terdapat di
Kabu[aten Lombok Barat, Kabupaten Sumbawa sebanyak 19 orang dan tidak ada
kematian di Kota Mataram dan KSB.
Penyebab Kematian Ibu Maternal di propinsi NTB pada tahun 2007
disebabkan karena pendarahan 45% dengan persentase tertinggi menyusul kasus
lain-lain 36% serta diikuti Preeklamsia 14%, Infeksi 4% dan penyebab kematian
terendah yaitu infeksi 1%. Angka kematian ibu (AKI) melahirkan di provinsi
NTB tidak dapat turun seperti yang di harapkan, berdasarkan data dari Dinkes.
Provinsi NTB dua tahun terakhir didapatkan data tentang kematian ibu karena
melahirkan adalah 92 orang pada tahun 2008, angka itu terus bertambah hingga
pada tahun 2009 angka kematian ibu (AKI) di NTB mencapai angka 121 orang.
Untuk beberapa lama telah dikembangkan upaya besar untuk
menurunkan angka kematian ibu hamil dan melahirkan.
Dalam suasana seperti ini kita harus mengembangkan
strategi komunikasi yang jitu untuk lebih lanjut menurunkan
tingkat kematian ibu mengandung dan melahirkan yang masih
tinggi itu. Aliansi Pita Putih Indonesia (APPI) di Jakarta membahas
pengembangan dan penyempurnaan strategi yang selama ini
telah

dimanfaatkan.

Strategi

itu
13

diharapkan

bisa

menjadi

pedoman penting berbagai organisasi yang ikut bergabung


dalam gerakan yang luhur itu sampai ke daerah-daerah.
Sehingga dengan strategi itu setiap organisasi diharapkan
bisa mengembangkan program dan kegiatannya secara luas dan
mengena. Karena itu strategi yang dikembangkan dikemas
dengan pendekatan yang memperhatikan situasi yang bersifat
lentur,

yaitu

dengan

kombinasi

pendekatan

modern

dan

pendekatan tradisional yang harus mengutamakan pendekatan


yang

berorientasi

pada

ciri-ciri

khusus

kedaerahan

dan

kemandirian yang makin tinggi.


Pendekatan

yang

berorientasi

kepada

ciri-ciri

khusus

kedaerahan dan kemandirian itu dilatarbelakangi oleh adanya


perkembangan terakhir yang terjadi di tanah air, yaitu bahwa
masyarakat akan bergerak menjadi masyarakat modern dengan
lebih banyak akan menganut sistem yang berubah dari sistem
yang semula sangat sentralistik menjadi masyarakat yang akan
sangat sarat dengan pengertian dan sikap yang desentralistik.
Ciri itu juga akan dilatarbelakangi dengan kemandirian
karena pikiran-pikiran demokrasi yang memberikan penghargaan
yang tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang beradab.
Pendekatan

yang

dimasa

lampau

bisa

dilakukan

melalui

pendekatan dengan sifat sentralistik, dimasa mendatang harus


dianut

pendekatan

yang

sangat

desentralistik

dengan

memperhatikan kondisi masing-masing wilayah yang menyatu


secara nasional karena sifat-sifat yang humanistik.
Perubahan sikap dan tata nilai yang biasanya bisa berlanjut
dengan baik melalui sistem di Perintah dan pendekatan langsung
sentralistik akan berubah menjadi pendekatan yang lebih bersifat
transformatik. Karena itu pendekatan people centered akan
memainkan peranan yang sangat penting. Pendekatan people
centered

memberikan

penghargaan

yang

tinggi

terhadap

manusia seperti halnya memanusiakan manusia sebagai bagian


14

dari penghormatan terhadap harga diri manusia. Pendekatan ini


mempunyai implikasi yang luas karena kita menangani kasus
kematian

karena

kehamilan

dan

kelahiran.

Sebab-sebab

penurunan AKI yang harus kita implementaskan banyak sekali,


antara

lain

program

KB

yang

memungkinkan

ibu

yang

mempunyai resiko kelahiran dengan resiko kematian ibunya tidak


jadi melahirkan karena ikut KB. Sebab lain adalah karena
pelayanan kesehatan, terutama pelayanan kebidanan yang harus
kita optimalkan dengan cara menambah bidan di desa.
Organisasi wanita juga bisa menghasilkan partisipasi yang
sangat tinggi dan menyelamatkan banyak sekali ibu yang
melahirkan.

Pelayanan

klinik

yang

makin

sempurna

bisa

menyelamatkan banyak sekali ibu dari kematiannya. Dalam


strategi untuk lebih lanjut menurunkan angka kematian ibu hamil
ini pendekatan positip dengan memberikan pengakuan akan
keberhasilan masa lalu perlu dikembangkan dan diakui secara
nyata dan jujur. Pengakuan ini perlu diberikan kepada daerahdaerah yang sudah sangat berhasil agar mempunyai rasa
percaya diri bahwa mereka bisa lebih lanjut menurunkan tingkat
kematian itu secara mandiri tanpa terlalu banyak mengandalkan
tuntunan dari atas. Dengan rasa percaya diri itu diharapkan
masing-masing daerah dalam alam reformasi yang penuh
dengan tekad kemandirian daerah, terutama daerah-daerah
yang sudah berhasil dimasa lalu, secara mandiri bisa menambah
investasinya pada manusia dengan kepercayaan yang lebih
tinggi.
Kepercayaan

dan

investasi

pada

manusia

itu

akan

menghasilkan kegiatan yang intinya adalah memberikan yang


terbaik untuk program-program kesehatan dan pendidikan.
Pendekatan Sasaran yang tepat untuk mencapai sukses yang
kita

kehendaki,

mencegah

seluruh

kematian

ibu

upaya
hamil
15

KIE

dan

karena

pelayanan
mengandung

untuk
dan

melahirkan, harus disepakati suatu pendekatan dengan sasaran


yang tepat. Untuk kesepakatan itu harus dipergunakan peta
sasaran yang sama agar semua jajaran tidak berbeda pendapat
tentang masalah ini. Peta yang dianjurkan itu adalah peta yang
dibuat dan diperbaharui setiap tahun oleh BKKBN. Sasaran yang
dipilih adalah Ibu dan pasangan usia subur dimana ibu menjadi
titik sentralnya. Untuk mencapai sukses yang diharapkan perlu
dilakukan sekmentasi yang teliti.
Prioritas sasaran perlu diberikan kepada setiap daerah
untuk pegangan sebagai daerah konsentrasi. Sasaran pokok
yang harus diambil dari peta sasaran itu adalah ibu-ibu yang
tinggal didaerah sebagai berikut :
1. Daerah padat penduduk dengan tingkat kelahiran yang
tinggi
2. Daerah miskin padat penduduk
3. Daerah padat pasangan usia subur muda
4. Daerah dengan tempat dan fasilitas pelayanan rendah
5. Daerah padat dengan sdm dalam bidang medis yang
rendah
6. Daerah padat dengan komitmen yang rendah
Dramatisasi dari upaya-upaya itu harus diselenggarakan
dengan pendekatan yang manusiawi dan tidak putus-putusnya.
Tiada hari tanpa berita tentang keterlibatan suatu daerah. Kepala
daerah, baik gubernur dan bupati walikota, secara pribadi harus
diajak untuk turun langsung dan merasakan kebahagiaan sebuah
keluarga

yang

melahirkan

anakanaknya

tanpa

kehilangan

ibunya. Dramatisasi perlu dilakukan andaikan seorang ibu


terpaksa meninggal dunia karena melahirkan. Peristiwa yang
jarang terjadi itu harus dicari dan di-blowup begitu rupa untuk
menghasilkan

dampak

komunikasi

yang

diharapkan

dapat

menyentuh hati nurani masyarakat banyak. Namun harus


dikemas

sedemikian rupa

untuk
16

tidak

menakutkan,

tetapi

memberikan kesan akrab bahwa masyarakat sangat peduli.


Jaringan Pelayanan yang Profesional keseluruhan strategi
yang disusun itu haruslah ditujukan untuk mengembangkan
jaringan KIE dan pelayanan yang profesional, luas dan bermutu.
Jaringan pelayanan itu haruslah bersifat komprehensip terdiri dari
jaringan pemerintah daerah, klinik, rumah sakit, dokter, bidan
dan para medis lainnya, maupun jaringan organisasi desa,
organisasi wanita dan ibu-ibu serta masyarakat pada umumnya.
Seluruh kekuatan masyarakat termasuk jaringan para
ulama

dan

remaja

harus

ikut

serta

secara

aktif

dalam

membentuk jaringan yang luas, komprehensip dan terbuka itu.


Makin luas jaringan itu bisa menyangkut masyarakat banyak
makin baik. Jaringan harus menjadikan peristiwa hamil sebagai
suatu peristiwa maha penting yang terjadi dalam kehidupan
suatu keluarga dan semua pihak memberikan perhatian yang
diperlukan, khususnya dalam menjaga agar anak lahir dengan
selamat dan ibunya berhasil mengatasi masalah kelahiran itu
dengan baik. Seluruh kekuatan harus aktif untuk mencari dan
mengembangkan kelompok-kelompok yang tidak menunggu
tetapi bergerak secara aktif untuk mencari ibu-ibu mengandung
yang dipandang mempunyai resiko meninggal dunia kalau
melahirkan. Strategi itu harus diyakinkan begitu rupa karena
kasus yang dihadapi adalah kasus biasa yang bukan merupakan
kejadian luar biasa. Masyarakat harus dilatih untuk bisa melihat
dan mengetahui sesuatu sebagai suatu kejadian luar biasa kalau
tanda-tanda itu nampak.
Masyarakat harus dibuat akrab dengan keadaan luar biasa
itu sebagaimana para dokter dan para bidan. Langkah-langkah
untuk mengetahui tanda-tanda bahaya harus diberikan kepada
masyarakat secara terbuka tetapi sederhana sehingga mudah
dimengerti

dan

mudah

pula

dilihat

dengan

kaca

mata

masyarakat biasa. Karena kematian akibat melahirkan adalah


17

peristiwa langka, harus dilakukan penonjolan kejadian luar biasa


itu secara terus menerus tiada henti di lingkungan masyarakat
luas agar mereka mengetahui bahwa sesuatu kejadian bisa
menjadi kejadian luar biasa. Penonjolan kejadian itu harus
disertai dengan mempertontonkan pertolongan sehingga tidak
menyebabkan

masyarakat

takut

tetapi

justru

sebaliknya

masyarakat bertambah yakin untuk ikut menangani masalah


kelahiran dengan cara yang baik dan menurut aturan yang wajar.
Penonjolan

yang dilakukan itu harus sesuai dengan latar

belakang sosial budaya masyarakatnya sehingga mereka bisa


meniru dan melaksanakan sesuai dengan adat istiadat dan
kemampuan yang ada padanya.
Dengan pokok-pokok strategi ini diharapkan kita bisa
merangsang masyarakaat untuk menjadikan peristiwa hamil dan
melahirkan

suatu

peristiwa

luar

biasa.

Karena

luar

biasa

diharapkan semua pihak ikut serta memberikan perhatian dan


mencegah supaya anak lahir dengan selamat dan ibunya juga
bisa terus hidup sehat agar bisa memberikan yang terbaik untuk
anaknya. Peristiwa mengandung dan melahirkan adalah suatu
investasi pada manusia yang harus dijaga dengan sungguhsungguh karena kita memberikan penghargaan yang tinggi
kepada manusia dan kemanusiaan.
Salah satu penyebab terus meningkatnya angka kematian ibu di provinsi
NTB adalah karena masyarakat masih miskin dan tingkat pendidikannya rendah.
Tingkah laku masyarakat umumnya dicerminkan oleh keadaan sumber daya
manusia yang rendah mutunya itu.
Strategi yang selama

ini telah dimanfaatkan sangat

penting untuk dikembangkan dan sempurnakan yakni dengan


mengoptimalkan peran keluarga yang berpendidikan. Strategi itu
diharapkan bisa menjadi pedoman penting berbagai organisasi
yang ikut bergabung dalam gerakan yang luhur itu sampai ke
daerah-daerah. Dengan strategi itu setiap organisasi pelayanan
18

kesehatan

diharapkan

bisa

mengembangkan

program

dan

kegiatannya secara luas dan mengena. Karena itu strategi yang


dikembangkan

dikemas

memperhatikan

situasi

dengan

yang

bersifat

pendekatan
lentur,

yaitu

yang
dengan

kombinasi pendekatan modern dan pendekatan tradisional yang


harus mengutamakan pendekatan yang berorientasi pada ciri-ciri
khusus kedaerahan dan kemandirian yang makin tinggi.

BAB 5
KESIMPULAN
5.1 Simpulan
Pada tanggal 12 Nopember 2009, bertepatan dengan peringatan Hari
Kesehatan Nasional ke-45, pemerintah NTB mencanangkan program AKINO
(Angka Kematian Ibu Menuju Nol) yang merupakan bagian dari Gerakan 3A
(ABSANO, ADONO, AKINO). Gerakan AKINO merupakan sinergisitas
berbagai upaya untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu berbasis
desa/kelurahan, sehingga berdampak pada peningkatan usia harapan hidup di
daerah ini, dan pada akhirnya dapat meningkatkan skor Indeks Pembangunan
Manusia (IPM).
Secara teknis, keberhasilan AKINO diukur dari indikator dan target
berikut, yaitu :
Tabel 5.1 Tabel Indikator Gerakan AKINO 2010-2013
INDIKATOR

INPUT

PROSES

ASPEK
17.
SDM
18.
19.
Sarana/ 20.
Prasarana 21.
22.
23.
Pembiayaan

SUB INDIKATOR
Persentase Bidan di desa
Persentase Bidan tinggal di desa
Persentase Poskesdes
Persentase Desa Siaga Aktif
Persentase Puskesmas PONED
Persentase RS PONEK
Tersedianya dana persalinan untuk

masyarakat miskin
Pelayanan24. Persentase Poyandu Aktif
25. Persentase K4
26. Persentase Persalinan ditolong Nakes

19

TARGET

TARGET

2010
90
75
70
70
100
100

2013
100 %
90 %
80 %
80 %
100 %
100 %

100

100 %

70
95
90

80 %
100 %
90 %

27. Persentase Persalinan di Fasilitas Kes.


28. Persentase KN lengkap
29. Persentase Komplikasi Neonatal
Tertangani
Rujukan
30. Persentase Komplikasi Obstetri

OUTPUT
OUTCOME

Desa

tertangani
31. Persentase Desa/Kelurahan tidak ada

AKINO
kematian ibu
Kematian 32. Jumlah kematian ibu

70
90

75 %
95 %

80

85 %

80

85 %

89.3

91.7 %

116

102 org

Sumber: Dikes Provinsi NTB.


Untuk mencapai tujuan Gerakan AKINO, telah dilaksanakan sejumlah
program yang berhubungan dengan kesehatan ibu, meliputi komponen
AKINO berikut :
Tabel 5.2 Tabel Komponen Program AKINO tahun 2010
KOMPONEN
Komitmen

UPAYA 2010
Penyusunan Rancangan PERDA Peningkatan dan
Perlindungan Kesehatan Ibu, bayi dan anak balita.
Kesepakatan sharing pembiayaan revitalisasi Posyandu
antara Provinsi dan kabupaten/Kota
Persalinan gratis di Sarana kesehatan (Puskesmas dan RSU

Penguatan kelembagaan

Koordinasi dan
Kemitraan
Supply

Demand
Kualitas pelayanan

ruang Kelas III).


Revitalisasi Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA)
Penguatan manajemen program (Workshop, pertemuan,
lokakarya, seminar).
Pengembangan Dai lapangan
Pengembangan Kemitraan Bidan-Dukun
Optimalisasi penempatan Bidan di Desa (PTT, CPNS)
Optimalisasi Pembangunan Poskesdes (DHS II, Bank
Mandiri, Cukai Tembakau).
Pemenuhan sarana (Bidan Kit, alat poskesdes), Obat
Pemilihan Bidan AKINO
Pembangunan RSU Rujukan Pulau Sumbawa
Penguatan Desa Siaga Aktif
Pencanangan Posyandu Bersaing
Pemberdayaan masyarakat dalam perbaikan gizi (NICE)
Pelatihan teknis kebidanan
Pelatihan Tim Puskesmas PONED

Sumber: Dikes Provinsi NTB.


Disamping itu untuk mensuksekan program AKINO, seorang bidan
harus kreatif dan berinovasi secara mandiri tanpa bergantung penuh terhadap
pemerintah untuk mencapai suatu tujuan.
Sementara itu tidak dapat dipungkiri akan eksistensi para dukun di
NTB. Selain karena masih kentalnya adat dan kepercayaan masyarakat NTB
20

juga karena relatif terjangkaunya biaya berobat ke dukun sehingga


masyarakat lebih mempercayai pergi berobat ke dukun.
Dalam hal ini dibutuhkan peran bidan dalam merangkul para dukun
untuk bekerjasama dalam mendukung program pemerintah dan bekerjasama
dengan bidan-bidan terlatih dan mendapatkan pelatihan sehubungan dengan
peran serta dukun dalam upaya mengurangi AKI dan AKB.
Dengan demikian, hasil yang bisa diperoleh adalah menurunnya angka
kematian dan kesakitan ibu dan bayi pada khususnya dan masyarakat pada
umumnya yang disertai dengan meningkatnya derajat kesehatan masyarakat
NTB secara has.
5.2 Saran
Untuk menurunkan angka kematian ibu diperlukan dukungan
pemerintah setempat dan peran serta bidan/tenaga kesehatan lainnya dalam
mengatasi masalah kematian ibu. Salah satu bentuk dukungan pemerintah
adalah menempatkan bidan di tempat strategis di desa yang beresiko,
sehingga mampu

menurunkan

angka kematian

ibu yg

mengalami

peningkatan.
Selain itu, salah satu peran bidan dalam mengatasi kematian maternal
adalah dengan memberikan pengetahuan tentang perencanaan persalinan
kepada masyarakat. Selain ibu, suami dan keluarga harus memiliki
pengetahuan mengenai tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas serta
informasi lainnya untuk mengantisipasi resiko kematian ibu sehingga
kematian marternal dapat di tekan.

21

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Angka Kematian Ibu (AKI)
Tim Penyusun. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: YBP-SP
Dinas Kesehatan Provinsi NTB. Data AKI di NTB
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan,Volume 10, No. 3 September 2007 Hal.
148-153.
Jurnal Kebidanan dan Keperawatan, Volume 6, No. 1 Juni 2010 Hal. 33-40
http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/
Minggu, 16 Desember 2012 Pukul 20:30 WITA
http://www.bascommetro.com/2009/05/aki-dan-akb-tahun-2007.html
Sabtu, 15 Desember 2012 Pukul 16:15 WITA

22