Anda di halaman 1dari 4

PENEGAKAN DIAGNOSIS CUSHING'S SYNNDROME

Cushing's syndrome dapat didiagnosa dengan 2 cara, yaitu pertama dengan menentukan
seseorang mengalami hiperkorsitolemia atau tidak, dan kedua dengan menentukan penyebab
dari hiperkorsitolemianya. Orang-orang yang dicurigai dengan Cushing's syndrome
dianjurkan untuk dilakukannya screening test. Kelompok orang yang dicurigai adalah:
1. Obesitas sentral dengan tampakkan katabolisme protein

Plethora (kongesti pada wajah)

Atrofi kutikular

Memar dan kebiruan pada kulit

Striae lebar > 1cm

Miopati proksimal

2. Postur tubuh yang pendek dengan obesitas dan pertumbuhan tulang yang terhambat
3. Sindrom metabolik

Diabetes tidak terkontrol

Hipertensi yang resisten

Sindrom polikistik ovarium

4. Osteoporosis pada usia muda, khususnya fraktur pada costae

Wanita premanopaus

Laki-laki < 65 tahun

5. Massa pada adrenal yang tiba-tiba > 2cm


6. Hipogonadotropik hipogonadisme
Dari kelompok orang yang perlu dilakukan screening test ini juga sekaligus akan disingkirkan
kemungkinan adanya pseudo Cushing's syndrome. Screening test yang dapat dilakukan
meliputi insulin tolerance test (ITT), loperamide test (16 mg secara oral), dan
dexamethasone-CRH test. Kemudian setelah disingkirkan kemungkinan adanya pseudo
Cushing's syndrome, maka akan dilihat tanda-tanda klinis dari orang tersebut. Tanda-tanda
klinis dari Cushing's syndrome meliputi:
Tanda khas

Mudah memar

Pletora wajah

Kelemahan otot bagian proksimal

Striae (terutama jika ungu kemerahan dan > 1 cm)

Pada anak-anak, berat bertambah dengan menurunnya tingkat pertumbuhan

Gejala dan tanda Cushing's syndrome lain yang kadang bisa ditemukan di populasi
Gejala

Tanda

Keadaan lanjut

Penumpukan lemak di
Depresi

dorsoservikal pad (buffalo

Hipertensi

hump)
Fatigue

Moon face

Massa pada adrenal

Berat bertambah

Obesitas

Osteoporosis vertebra

Nyeri punggung

Supraklavikula fullness

Sindrom polikistik ovarium

Perubahan nafsu makan

Kulit menipis

Diabetes mellitus tipe 2

Konsentrasi menurun

Edema periferal

Hipokalemia

Nafsu seksual menurun

Berjerawat

Batu ginjal

Ingatan pendek terganggu

Hirsutisme

Infeksi yang tidak biasa

Insomnia

Luka yang lama menyembuh

Iritabilitas
Menstruasi yang abnormal
Pada anak, pertumbuhan

Pada anak, virilisasi genital

lambat

abnormal
Pada anak, postur tubuh
pendek
Pada anak, pubertas
terlambat

Setelah melihat gejala dan tanda-tanda dari Cushing's syndrome, maka perlu dilakukan
pemeriksaan untuk menentukan ada atau tidaknya hiperkorsitolemia. Pemeriksaan yang dapat
dilakukan adalah 24-hours urinary free cortisol (UFC), dexamethasone test (DST), atau
midnight kortisol. Pada kelompok yang telah terkonfirmasi hiperkorsitolemia, maka perlu
pemeriksaan penunjang lain untuk menentukan kadar ACTH. Pemeriksaan ini dilakukan
untuk membedakan Cushing's syndrome yang dependent ACTH atau independent ACTH.

Berikut adalah algoritma penegakan diagnosis dari Cushing's syndrome:

LOPERAMIDE TEST
Loperamide antagonis opiat diketahui dapat menurunkan basal dan CRH-induced ACTH dan
level kortisol pada individu normal, namun tidak pada individu dengan Cushing's syndrome
atau kerusakan adrenal sekunder yang berasal dari hipotalamus. Loperamide juga tidak
memberikan efek pada insulin-hipoglikemia-induced ACTH dan level kortisol. Juga tidak
berefek pada peningkatan level kortisol karena stres.
Pada Cushing's syndrome dependent ACTH, setelah pemberian loperamide oral sebanyak 16
mg, maka tidak ditemukan adanya penurunan kadar kortisol. Sehingga loperamide test dapat
dijadikan salah satu pilihan pemeriksaan penunjang dalam penegakan diagnosis penyakit ini.

Sumber:
Rajput R. 2013. Cushing's Syndrome - An Update in Diagnosis and Management. Journal
Indian Academy of Clinical Medicine Volume 14. Available from: http://www.medind.nic.in/
Accessed on December 15, 2014.
The Endocrine Society. 2008. The Diagnosis of Cushing's Syndrome: An Endocrine Society
Clinical

Practice

Guideline.

The

Endocrine

http://www.endocrine.org/ Accessed on December 18, 2014.

Society.

Available

from: