Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS PEMBERIAN GRASI TERHADAP TERPIDANA

NARKOTIKA
KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 22/G/2012

Proposal

Oleh
Muhammad Nur Asril
NIM 120710101184

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS JEMBER
2014

A. PENDAHULUAN
A.1 Latar Belakang
Hukum adalah keseluruhan norma-norma yang hidup, berkembang, dan berlaku
dalam kehidupan bermasyarakat yang berisi mengenai perintah-perintah dan larangan
yang mengurus tata tertib suatu masyarakat. Tidak hanya memuat aturan tetapi hukum
juga harus memiliki unsur paksaan. Unsur paksaan mendorong semua orang agar dapat
menaati hukum yang berlaku. Ketika seseorang melakukan pelanggaran terhadap hukum
maka ia harus dikenai sanksi.
Hukum dibuat dengan tujuan untuk melindungi kepentingan-kepentingan tertentu
orang-orang dan untuk menciptakan ketertiban, rasa aman dan nyaman dalam kehidupan
bermasyarakat. Demi tercapainya tujuan tersebut, hukum diberlakukan secara adil dan
memiliki kepastian hukum dalam penerapannya. Artinya setiap orang berhak mendapat
perlakuan yang sama dalam hal perlindungan hukum dan seseorang wajib dikenai
hukum apabila ia terbukti melakukan kesalahan.
Negara sebagai organisasi sosial yang terkuat dan tertinggi, maka hanya negara
saja yang memegang hak penegakan hukum pidana baik dalam hak untuk menuntut
pidana terhadap barang siapa yang telah diduga melanggar aturan pidana yang telah
dibentuk oleh badan pembentuk Undang-Undang maupun hak untuk menjalankan
pidana terhadap barangsiapa yang oleh negara telah dinyatakan bersalah dan dijatuhi
pidana atas kesalahannya itu.1
Penegakan hukum pada dasarnya bertujuan untuk mengamankan hasil-hasil
pembangunan serta meningkatkan ketertiban dan kepastian hukum dalam masyarakat
yang berkeadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 sehingga
rakyat merasa diayomi dan dilindungi hak-haknya. Negara membentuk lembagalembaga hukum yang dapat membantu proses penegakan hukum di dalam masyarakat
seperti Mahkamah Agung, Pengadilan, Kejaksaan, Kepolisian. Lembaga-lembaga
hukum tersebut memiliki tugas dan perannya masing-masing dengan tujuan yang sama
yaitu untuk menegakkan hukum berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dan harus
menjunjung tinggi hak asasi manusia.
1

Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana 2: Penafsiran Hukum Pidana Dasar Peniadaan, Pemberatan dan
Peringanan Pidana Kejahatan Aduan Perbarengan dan Ajaran Kausalitas. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2002), hal 151

Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan dalam Pasal 28 D bahwa setiap orang


berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama di hadapan hukum. Perwujudan dari Pasal 28 D UUD 1945 ini
memungkinkan setiap orang tidak terkecuali para pelaku pidana untuk bisa mendapatkan
perlakuan yang baik, adil, dan kepastian hukum dalam proses hukum yang mereka
jalani. Mulai dari para tersangka memiliki hak-hak asasinya tersendiri hingga sampai
berubah status menjadi terdakwa dan terpidana tetap memiliki hak-hak sesuai peraturan
yang berlaku.
Setiap orang yang terlibat dalam suatu kasus hukum memiliki hak-haknya dalam
menjalani proses pencarian kebenaran materil. Kitab Undang-Undang Hukum Acara
Pidana (KUHAP) telah mengatur hak-hak seseorang baik kedudukan statusnya sebagai
tersangka maupun sebagai terdakwa/terpidana. Hak untuk segera diperiksa, hak untuk
melakukan pembelaan, hak untuk mendapatkan bantuan hukum adalah beberapa hak
yang disebutkan dalam KUHAP. Setiap terdakwa juga diberi hak untuk mengajukan
upaya hukum, baik yang berupa upaya hukum biasa, upaya hukum luar biasa yang diatur
dalam KUHAP maupun upaya hukum diluar KUHAP. Upaya hukum adalah hak yang
diberikan hakim kepada para pihak dalam suatu perkara untuk dapat tidak setuju dengan
suatu putusan pengadilan.2
Upaya hukum biasa yaitu berupa pengajuan banding ke Pengadilan Tinggi dan
pengajuan kasasi ke Mahkamah Agung, adalah upaya yang ditempuh terdakwa ketika
putusan belum mempunyai kekuatan hukum tetap. Apabila putusan sudah berkekuatan
hukum tetap, terpidana masih mempunyai kesempatan mengajukan upaya hukum luar
biasa. Upaya hukum luar biasa merupakan pengecualian dari upaya hukum biasa. Upaya
ini diajukan terhadap putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum yang
tetap, dimana upaya hukum biasa tidak dimungkinkan lagi. Upaya hukum luar biasa
terdiri dari kasasi demi kepentingan hukum dan Peninjauan Kembali (PK). Upaya
hukum biasa dan upaya hukum luar biasa diatur tegas dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Perdata.
Tidak hanya itu, upaya yang dapat dilakukan terdakwa ada juga yang diatur di
luar KUHAP antara lain grasi, amnesti, dan abolisi. Dasar hukum grasi, amnesti, dan
abolisi termuat dalam konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 yaitu pasal 14 UUD 1945.
2

Luhut M.P. Pangaribuan, Hukum Acara Pidana: Surat-surat Resmi di Pengadilan oleh Advokat. (Jakarta: Penerbit
Djambatan, 2002), hal 76

Grasi, amnesti, dan abolisi merupakan hak prerogatif Presiden sebagai kepala
negara dalam bidang yudikatif. Grasi, amnesti dan abolisi juga dapat dimasukkan sebagai
dasar penghapus penuntutan maupun dasar penghapus pemidanaan.
A. Hamzah dan Irdan Dahlan menyebutkan grasi sebagai upaya non hukum sebab
grasi adalah wewenang Kepala Negara untuk memberikan ampunan kepada warganya
yang dijatuhi pidana.3 Grasi mungkin tampak seperti upaya hukum, tetapi pada hakekatnya
grasi bukan merupakan upaya hukum. Sebenarnya upaya hukum sudah berakhir ketika
Mahkamah Agung menjatuhkan putusan kasasi atau putusan peninjauan kembali. Grasi
dapat dikatakan sebagai hak yang diberikan kepada terpidana untuk dapat meminta
pengampunan kepada Presiden, namun hak ini sendiri tidak diberikan kepada seluruh
narapidana ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk dapat mengajukan grasi
dan dapat ditolak. Grasi bersifat pengampunan berupa mengurangi pidana atau
memperingan pidana atau penghapusan pelaksanaan pidana. Ketentuan peraturan
perundang-undangan yang memuat aturan grasi secara tersendiri pertama kali yaitu
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Permohonan Grasi. Saat ini UndangUndang Nomor 3 Tahun 1950 sudah tidak berlaku lagi karena dipandang sudah tidak
sesuai lagi dengan perkembangan ketatanegaraan dan kebutuhan hukum masyarakat,
sehingga dibentuklah UndangUndang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi. UndangUndang Nomor 22 tahun 2002 masih berlaku namun ada beberapa pasal yang diubah
ketentuannya dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2010 tentang Perubahan atas
Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi.
Walaupun Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi telah mengalami
perubahan dalam beberapa ketentuan, tetap terdapat pro dan kontra atas pemberian grasi
misalnya grasi yang diberikan kepada Schapelle Leigh Corby. Banyak orang yang
mempersoalkan mengenai alasan dari pemberian grasi Schapelle Leigh Corby. Corby
adalah seorang mantan pelajar sekolah kecantikan dari Brisbane, Australia yang ditangkap
membawa obat terlarang di dalam tasnya di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Indonesia
pada tanggal 8 Oktober 2004. Dalam tasnya ditemukan 4,2 kg ganja. Corby dinyatakan
bersalah dan divonis hukuman penjara selama 20 tahun dan denda Rp 100 juta.4

A. Hamzah dan Irdan Dahlan, Upaya Hukum dalam Perkara Pidana. (Jakarta: PT. Bina Aksara, 1987), hal 134

http://id.wikipedia.org/wiki/Schapelle_Corby, diakses pada tanggal 28 Nopember 2014

Corby mendapatkan pengurangan hukuman 5 (lima) tahun setelah grasinya


dikabulkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Alasan pemberian grasi terhadap
Corby adalah alasan kemanusiaan.5
Pemberian grasi kepada Corby dianggap melukai rasa keadilan masyarakat ketika
dihubungkan dengan jenis pidana yang ia lakukan. Corby sangat dianggap tidak layak
menerima grasi karena ia adalah terpidana narkotika. Narkotika merupakan tindak pidana
extra ordinary crime dan pemberian grasi terhadap Corby dianggap melemahkan
perjuangan pemberantasan terhadap korupsi dan narkotika di Indonesia.
Oleh Karenanya, dengan melihat adanya permasalahan yang telah diuraikan di
atas, penulis menjadi tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai pemberian grasi
terhadap terpidana di Indonesia, maka dari itu penulis mengambil judul skripsi Analisis
Pemberian Grasi Terhadap Terpidana Narkotika Keputusan Presiden Nomor
22/G/2012

A.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diuraikan diatas maka perlu
dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah yang menjadi alasan pemberian grasi terhadap terpidana?
2. Bagaimanakah pengaturan hukum pemberian grasi terhadap terpidana dalam

hukum positif di Indonesia?

A.3 Tujuan
Berdasarkan identifikasi permasalahan yang sudah penulis utarakan diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah sebagai
berikut:
1) Untuk mengetahui hal yang menjadi landasan dari pemberian grasi kepada
terpidana di Indonesia.

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4fd3fb4011a22/inilah-alasan-ma-soalgrasi-corby, diakses pada

28 Nopember 2014

1) Untuk mengetahui pengaturan hukum mengenai grasi dalam hukum positif di


Indonesia.
A.4 Manfaat
Selain tujuan-tujuan tersebut diatas, penulisan skripsi ini juga diharapkan
bermanfaat untuk berbagai hal diantaranya:
a.

Manfaat teoritis
Pembahasan terhadap masalah-masalah dalam skripsi ini diharapkan dapat menambah
pemahaman kepada semua pihak yang berhubungan dengan dunia hukum pada
khususnya.

Skripsi

ini

juga

diharapkan

dapat

memberikan

masukan

bagi

penyempurnaan perangkat peraturan perundang-undangan mengenai grasi.


b.

Manfaat praktis
Dengan penulisan skripsi ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan bahan rujukan
bagi rekan mahasiswa, masyarakat, praktisi hukum, dan juga aparat penegak
hukum/pemerintah agar dapat secara optimal menjalankan prosedur pemberian grasi
sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku sehingga penyelesaian hukumnya dapat
berjalan secara efektif dan menjunjung kepastian hukum.

A.5 Metode Penelitian


1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan untuk menjawab persoalan-persoalan dalam skripsi adalah
menggunakan metode penelitian yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif adalah
penelitian yang dilakukan dan ditujukan kepada peraturan-peraturan tertulis dan penerapan
dari peraturan perundang-undangan atau norma-norma hukum positif yang erat kaitannya
dengan permasalahan yang dibahas

2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah data sekunder. Data
sekunder ini berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum
primer, yaitu:
a. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mempunyai otoritas (autoritatif).
Bahan hukum tersebut terdiri atas:6
1) Peraturan perundang-undangan;
1) Catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan suatu peraturan perundangundangan;
2) Putusan Hakim.
Peraturan perundang-undangan di bidang grasi antara lain Undang-Undang Dasar 1945,
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Permohonan Grasi, Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi, dan UndangUndang Nomor 5 Tahun 2010 tentang
Perubahan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi.
b.

Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan
hukum primer yakni hasil karya para ahli hukum yang terdapat dalam buku-buku teks
yang membicarakan suatu dan/atau beberapa permasalahan hukum, jurnal-jurnal hukum,
dan komentar-komentar atas putusan hakim.
c.

Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan
terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Bahan hukum tersier yang
digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah berupa data yang diperoleh melalui internet
yang berhubungan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini.
6

H. Zainuddin Ali, Metode penelitian Hukum. (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm 47

3. Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah
penelitian kepustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan dengan
mengumpulkan, mengkaji dan mengolah secara sistematis melalui literatur atau dari bahanbahan kepustakaan serta dokumen-dokumen yang berkaitan seperti buku bacaan, peraturan

perundang-undangan, majalah, internet, pendapat sarjana, dan bahan-bahan kuliah lainnya


yang berkaitan erat dengan permasalahan dalam skripsi ini.
4. Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah dengan
menggunakan metode analisis data kualitatif normatif yaitu analisis data yang didasarkan
kepada peraturan-peraturan yang berlaku sebagai norma hukum positif dan data-data
lainnya yang kemudian diolah dan diuraikan secara sistematis sehingga dapat menjawab
permasalahan-permasalahan dalam skripsi ini.

B. TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Grasi
Grasi merupakan upaya istimewa, yang dapat dilakukan atas putusan Pengadilan
yang telah berkekuatan hukum tetap. Istilah grasi berasal dari bahasa Latin yaitu gratia
yang berarti ampun, pengampunan dan gratie (dalam bahasa Belanda) atau granted (dalam
bahasa Inggris) dan di Belgia disebut genade dari Kepala Negara dalam rangka
memperingan atau membebaskan pidana si terhukum. Grasi juga disebutkan sebagai salah
satu hak prerogatif Presiden.
Grasi tidak meniadakan kesalahan, tetapi mengampuni kesalahan sehingga orang
yang bersangkutan tidak perlu menjalani seluruh masa hukuman atau diubah jenis
pidananya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata grasi berarti adalah ampunan yang
diberikan Kepala Negara kepada orang yang telah dijatuhi hukuman.7
7

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1990, hlm
284

Menurut Kamus Hukum, grasi adalah wewenang dari kepala negara untuk
memberi pengampunan terhadap hukuman yang telah dijatuhkan oleh hakim untuk
menghapuskan seluruhnya, sebagian, atau merobah sifat atau bentuk hukuman itu.8
Menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002, Grasi adalah
pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan
pidana kepada terpidana yang diberikan oleh Presiden.
Dapat disimpulkan bahwa grasi adalah hak kepala negara untuk memberikan
pengampunan kepada orang yang dipidana. Berdasarkan pasal 11 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 2002 disebutkan Presiden dapat memberikan keputusan atas permohonan
grasi dengan memperhatikan pertimbangan dari Mahkamah Agung.
Permohonan grasi dapat diajukan oleh terpidana yang dijatuhi hukuman pidana
mati, pidana penjara seumur hidup dan penjara paling rendah 2 (dua) tahun. Pemberian
grasi yang diberikan oleh Presiden dapat berupa:
a.

peringanan atau perubahan jenis pidana;

b.

pengurangan jumlah pidana; atau

c.

penghapusan pelaksanaan pidana.

2. Pengertian Terpidana
Orang yang disebut terpidana, ialah orang (subjek hukum) yang telah dijatuhi
pidana oleh pengadilan dengan putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah terpidana adalah orang yang
dikenai hukuman. Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 disebutkan
bahwa Terpidana adalah seseorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang
telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Seseorang yang telah terbukti bersalah melakukan suatu tindak pidana, di pidana
dengan pidana berdasarkan Pasal 10 KUHP. Bentuk-bentuk pidana yang ada di Indonesia
secara umum diatur dalam Pasal 10 KUHP yang terbagi dalam 2 (dua) kelompok besar
yaitu pidana pokok dan pidana tambahan. Urutan pidana dalam Pasal 10 KUHP ini
diurutkan berdasarkan beratnya pidana, dimana yang terberat disebutkan terlebih dahulu.

JCT. Simorangkir, Kamus Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2004, hlm.58

Hakim menjatuhkan suatu pidana, terikat untuk menjatuhkan jenis pidana pokok atau
pidana tambahan seperti yang telah ditentukan oleh Pasal 10 KUHP.
Grasi hanya dapat diberikan kepada mereka yang dihukum dengan keputusan
Hakim yang tidak boleh diubah lagi dengan salah satu hukuman dalam Pasal 10
KUHPidana dan tidak diberikan kepada mereka yang dikenakan suatu tindakan. 9 Contoh
tindakan yaitu seperti tindakan perawatan dirumah sakit jiwa, tindakan rehabilitasi,
tindakan perawatan dilembaga tertentu.
3. Pengertian Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik
sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (Undang-Undang
No. 35 tahun 2009). Narkotika digolongkan menjadi tiga golongan sebagaimana tertuang
dalam lampiran 1 undang-undang tersebut. Yang termasuk jenis narkotika adalah:

Tanaman papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium
obat, morfina, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja.

Garam-garam dan turunan-turunan dari morfina dan kokaina, serta campurancampuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebut di atas.10

C. SISTEMATIKA PENULISAN

C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil, Latihan Ujian Hukum Pidana, Jakarta: Penerbit
Sinar Grafika, 2001, hlm 293
10

http://id.wikipedia.org/wiki/Narkoba#Pengertian , diakses pada 29 Nopember 2014

Untuk mempermudah penulisan atau penyajiannya, penulis menjabarkan materi


ataupun isi dari skripsi ini menjadi empat bab dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I

: PENDAHULUAN

Bab ini memuat latar belakang, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan,
keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II

: PEMBERIAN GRASI KEPADA TERPIDANA

Bab ini merupakan bab yang membahas mengenai tinjauan umum tentang grasi,
pengertian grasi, alasan dasar pemberian grasi, bentuk-bentuk grasi, syarat-syarat
pemohon grasi, prosedur dan tata cara permohonan grasi.
BAB III

: PENGATURAN HUKUM MENGENAI PEMBERIAN GRASI


TERHADAP

TERPIDANA

DALAM

HUKUM

POSITIF

DI

INDONESIA
Bab ini memuat mengenai perkembangan peraturan mengenai

grasi, perbandingan

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2010


tentang Grasi
BAB IV

: KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bab terakhir yaitu sebagai penutup yang berisi kesimpulan dan saransaran mengenai permasalahan yang telah dibahas.

DAFTAR PUSTAKA
Buku

Ali, H. Zainuddin. 2009. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Sinar Grafika.


Chazawi, Adami. 2002. Pelajaran Hukum Pidana 2: Penafsiran Hukum Pidana Dasar
Peniadaan, Pemberatan dan Peringanan Pidana Kejahatan Aduan Perbarengan dan
Ajaran Kausalitas. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Hamzah, A. dan Dahlan, Irdan. 1987. Upaya Hukum dalam Perkara Pidana. Jakarta: PT.
Bina Aksara.
Kansil, C.S.T.dan Kansil, Christine S.T. 2001. Latihan Ujian Hukum Pidana. Jakarta:
Penerbit Sinar Grafika.
Pangaribuan, Luhut M.P. 2002. Hukum Acara Pidana: Surat-surat Resmi di Pengadilan
oleh Advokat. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Simorangkirm, JCT. 2004. Kamus Hukum. Jakarta: Sinar Grafika.
Internet
Hukum Online. 2012. Inilah Alasan MA Soal Grasi Corby
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4fd3fb4011a22/inilah-alasan-ma-soalgrasicorby [28 Nopember 2014]
Sangadah, Tri. 2013. Pemberian Grasi Terhadap Terpidana Narkoba
http://digilib.uin-suka.ac.id/8521/1/BAB%20I,%20V,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf
[26 Nopember 2014].
Vinansari, TP. 2013. Tinjauan Yuridis Mengenai Pemberian Grasi Terhadap Terpidana Di
Indonesia.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37573/4/Chapter%20I.pdf [26 Nopember
2014].
Wikipedia. 2014. Schapelle Corby. http://id.wikipedia.org/wiki/Schapelle_Corby [28
Nopember 2014].
Wikipedia. 2014. Narkoba.
Nopember 2014].

http://id.wikipedia.org/wiki/Narkoba#Pengertian [29