Anda di halaman 1dari 21

J. Biol. Indon. Vol 7, No.

2 (2011)
ISSN 0854-4425
ISSN 0854-4425

JURNAL
JURNAL
BIOLOGI
BIOLOGI
INDONESIA
INDONESIA
Akreditasi: No 816/D/08/2009
Vol. 7, No. 2 Desember 2011
Deforestation in Bukit Barisan Selatan National Park, Sumatra, Indonesia
Suyadi

195

Study of Pteridophyte Diversity and Vegetation Analysis in Jatikerep Legonlele and


Nyamplung, Karimunjawa Island Central Jawa
Fahreza Saputra & Labibah Qotrunnada

207

Javan Leaf Monkey (Trachypithecus auratus) Movement in a Fragmented Habitat, at


Bromo Tengger Semeru National Park, East Java, Indonesia
M.Hari Subarkah, Novianto Bambang Wawandono, Satyawan Pudyatmoko,
Subeno , Sandy Nurvianto, & Arif Budiman

213

Impact of Invasive Ant Species in Shaping Ant Community Structure on Small Islands in
Indonesia
Akhmad Rizali, Abdul Rahim, Bandung Sahari, Lilik Budi Prasetyo, &
Damayanti Buchori

221

Relationship Different Riparian Vegetation Cover with Stream Conditions in Cikapinis


Stream, West Jawa
Della Kemalasari & Devi N. Choesin

231

Affect of Canopy Stratum and Methods of Breaking Seed Dormancy on Seedling


Growth of Calliandra tetragona Beth. and Acacia tamarindifolia (L.) Willd.
Indriani Ekasari

243

Shoot Tip Culture of Nepenthes albomarginata Lobb ex Lindl. In Vitro


Lazarus Agus Sukamto, Mujiono, Djukri, & Victoria Henuhili

251

Variasi Gen Mitokondria Cytochrome b pada Dua Jenis Burung Kakatua Putih (Cacatua
alba dan C. moluccensis)
Dwi Astuti

263

BOGOR, INDONESIA

J. Biol. Indon. Vol 7, No. 2 (2011)


Jurnal Biologi Indonesia diterbitkan oleh Perhimpunan Biologi Indonesia.
Jurnal ini memuat hasil penelitian ataupun kajian yang berkaitan dengan masalah biologi
yang diterbitkan secara berkala dua kali setahun (Juni dan Desember).
Editor Pengelola
Dr. Ibnu Maryanto
Dr. I Made Sudiana
Deby Arifiani, S.P., M.Sc

Dr. Izu Andry Fijridiyanto


Dewan Editor Ilmiah
Dr. Abinawanto, F MIPA UI
Dr. Achmad Farajalah, FMIPA IPB
Dr. Ambariyanto, F. Perikanan dan Kelautan UNDIP
Dr. Aswin Usup F. Pertanian Universitas Palangkaraya
Dr. Didik Widiyatmoko, PK Tumbuhan, Kebun Raya Cibodas-LIPI
Dr. Dwi Nugroho Wibowo, F. Biologi UNSOED
Dr. Parikesit, F. MIPA UNPAD
Prof. Dr. Mohd.Tajuddin Abdullah, Universiti Malaysia Sarawak Malaysia
Assoc. Prof. Monica Suleiman, Universiti Malaysia Sabah, Malaysia
Dr. Srihadi Agungpriyono, PAVet(K), F. Kedokteran Hewan IPB
Y. Surjadi MSc, Pusat Penelitian ICABIOGRAD
Drs. Suharjono, Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Dr. Tri Widianto, Pusat Penelitian Limnologi-LIPI
Dr. Witjaksono Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Alamat Redaksi

Sekretariat
d/a Pusat Penelitian Biologi - LIPI
Jl. Ir. H. Juanda No. 18, Bogor 16002 , Telp. (021) 8765056
Fax. (021) 8765068
Email : jbi@bogor.net; ibnu_mar@yahoo.com
Website : http://biologi.or.id
Jurnal ini telah diakreditasi ulang dengan nilai A berdasarkan SK Kepala LIPI 816/
D/2009 tanggal 28 Agustus 2009.

J. Biol. Indon. Vol 7, No.2 (2011)

JURNAL BIOLOGI
INDONESIA

Perhimpunan Biologi Indonesia.

J. Biol. Indon. Vol 7, No. 2 (2011)

J. Biol. Indon. Vol 7, No.2 (2011)


KATA PENGANTAR

Jurnal Biologi Indonesia yang diterbitkan oleh PERHIMPUNAN BIOLOGI


INDONESIA edisi volume 7 nomer 2 tahun 2011 memuat 17 artikel lengkap, tujuh
artikel diantaranya telah dipresentasi pada seminar ATCBC di Bali 2010. Penulis
pada edisi ini sangat beragam yaitu dari Balai Penelitian Besar Penelitian Bioteknologi
dan Sumber daya Genetik Pertanian Bogor, Balai Tanaman Sayuran Lembang,
Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor Kementerian Pertanian, BATAN.
Fak. MIPA-Biologi Universitas Indonesia, Fakultas Kehutanan UGM
Yogyakarta, Fakultas Kehutanan dan Fakultas Pertanian IPB Bogor, Sekolah Tinggi
Hayati dan Departemen Tehnik Kimia ITB Bandung, Fakultas Pertanian Universitas Borneo, Tarakan, Universitas Negeri Yogyakarta, Fakultas Sain dan Tehnologi
Universitas Islam Hidayatullah Jakarta, Kebun Raya Cibodas LIPI, Puslit Biologi
LIPI, Puslit Oseanografi LIPI, PEKA dan Asosiasi Pelestari Curik Bali, Taman
Safari Cisarua Bogor. Topik yang dibahas pada edisi ini meliputi bidang Botani,
mikrobiologi, zoologi, remote sensing.
Editor

J. Biol. Indon. Vol 7, No. 2 (2011)


UCAPAN TERIMA KASIH
Jurnal Biologi Indonesia mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada
para pakar yang telah turut sebagai penelaah dalam Volume 7, No 2, Juni 2011:
Drs. Roemantyo, Puslit Biologi-LIPI
Dr. Dwi Astuti, Puslit Biologi-LIPI
M.Fathi Royani, MA., Puslit Biologi-LIPI
Dr. Iwan Saskiawan, Puslit Biologi-LIPI
Drs. Ary Wahyono, Puslit Kemasyarakatan-LIPI
Muhamad Irham MSc., Puslit Biologi-LIPI
Dr. Enung Fuad, Puslit Bioteknologi-LIPI
Drs. Boeadi, Puslit Biologi LIPI (Purna Bakti)
Dr. Edi Mirmanto, Puslit Biologi-LIPI

Sebagian dari edisi ini dibiayai oleh DIPA Puslit Biologi-LIPI 2011

J. Biol. Indon. Vol 7, No.2 (2011)


DAFTAR ISI
Deforestation in Bukit Barisan Selatan National Park, Sumatra, Indonesia
Suyadi

195

Study of Pteridophyte Diversity and Vegetation Analysis in Jatikerep Legonlele and


Nyamplung, Karimunjawa Island Central Jawa
Fahreza Saputra & Labibah Qotrunnada

207

Javan Leaf Monkey (Trachypithecus auratus) Movement in a Fragmented Habitat, at


Bromo Tengger Semeru National Park, East Java, Indonesia
M.Hari Subarkah, Novianto Bambang Wawandono, Satyawan Pudyatmoko,
Subeno , Sandy Nurvianto, & Arif Budiman

213

Impact of Invasive Ant Species in Shaping Ant Community Structure on Small Islands in
Indonesia
Akhmad Rizali, Abdul Rahim, Bandung Sahari, Lilik Budi Prasetyo, &
Damayanti Buchori

221

Relationship Different Riparian Vegetation Cover with Stream Conditions in Cikapinis


Stream, West Jawa
Della Kemalasari & Devi N. Choesin

231

Affect of Canopy Stratum and Methods of Breaking Seed Dormancy on Seedling Growth
of Calliandra tetragona Beth. and Acacia tamarindifolia (L.) Willd.
Indriani Ekasari

243

Shoot Tip Culture of Nepenthes albomarginata Lobb ex Lindl. In Vitro


Lazarus Agus Sukamto, Mujiono, Djukri, & Victoria Henuhili

251

Variasi Gen Mitokondria Cytochrome b pada Dua Jenis Burung Kakatua Putih (Cacatua
alba dan C. moluccensis)
Dwi Astuti

263

Kajian Pendahuluan: Perpindahan Gen dari Tanaman Kentang Transgenik Katahdin RB


ke Tanaman Kentang Non Transgenik
A. Dinar Ambarwati, M. Herman, Agus Purwito , Eri Sofiari,& Hajrial
Aswidinoor

277

Virus Influenza Novel H1N1 Babi di Indonesia


NLP Indi Dharmayanti, Atik Ratnawati, & Dyah Ayu Hewajuli

289

Karakterisasi Produk Biosolubilisasi Lignit oleh Kapang Indigenus dari Tanah


Pertambangan Batubara di Sumatera Selatan
Irawan Sugoro, Sandra Hermanto,D. Sasongko,D. Indriani & P. Aditiawati

299

J. Biol. Indon. Vol 7, No. 2 (2011)


Potensi Virus Avian Influenza H5NI Isolat A/Ck/West Java/Pwt-Wij/2006 Sebagai Vaksin
R. Indriani, NLP I Dharmayanti, R.M.A Adjid, & Darminto
Variasi dan kekerabatan genetik pada dua jenis baru belimbing (Averrhoa leucopetala Rugayah
et Sunarti sp nov dan A. dolichorpa Rugayah et Sunarti sp nov., Oxalidaceae)
berdasarkan profil Random Amplified Polymorphic DNA
Kusumadewi Sri Yulita
Pengaruh Dinamika Faktor Lingkungan Terhadap Sebaran Horisontal dan Vertikal Katak
Hellen Kurniati
Merekonstruksi Habitat Curik Bali Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912 di Bali Bagian
Barat
Mas Noerdjito, Roemantyo &Tony Sumampau
Struktur dan Komposisi Vegetasi Hutan Semusim Habitat Curik Bali (Leucopsar rothschildi
Stresemann, 1912) di Kawasan Labuan Lalang, Taman Nasional Bali Barat
Roemantyo
Sumbangan Ilmu Etnobotani dalam Memfasilitasi Hubungan Manusia dengan Tumbuhan dan
Lingkungannya
Eko Baroto Walujo

Jurnal Biologi Indonesia 7(2): 277-287 (2011)

Kajian Pendahuluan: Perpindahan Gen dari Tanaman Kentang Transgenik


Katahdin RB ke Tanaman Kentang Non Transgenik
A. Dinar Ambarwati1, M. Herman1, Agus Purwito2 , Eri Sofiari3, & Hajrial
Aswidinnoor2
1

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik


Pertanian, Jl. Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111
2
Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor,
Kampus Darmaga, Bogor 16680
3
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jl. Tangkuban Perahu 517, Lembang,
Bandung 40391
ABSTRACT
Preliminary study: Gene transfer from transgenic potato Katahdin RB to non transgenic
potato. One of the concerns associated with the release of transgenic crops, is the possibility
of the gene flow from transgenic crops to neighboring crops of the same species or to related
species. In plants, gene flow is a routine process occur through the natural hybridization. The
opportunity for gene flow occur depends principally on two factors, the degree of sexual
compatibility between donor and recipient species, and the physical distance between the
two. The experiment was conducted to determine whether the gene flow from transgenic
potato Katahdin RB to non transgenic was occurred, based on selection using a 50 mg/l
kanamycin, and to estimate gene flow mediated by natural hybridization at different isolation
distances. Preliminary result indicated that a rapid and simple method using MS0 liquid media
with kanamycin 50 mg/l was effective for screening the seeds. There was a gene flow from
transgenic potato Katahdin RB to non transgenic, based on a rapid and simple selection
method using 50 mg/l of kanamycin as selectable marker. The isolation distance used in the
study were 0.8, 1.6, 2.4, 3.2, 4.0, 4.8, 5.6, 6.4, 7.2, 8.0, 8.8, 9.6, 10.4, and 11.2 m from the row of
transgenic potato Katahdin RB. The gene flow through natural hybridization at a isolation
distances of (0.8 - 1.6 m), (2.4 4 m), and (4.8 6.4 m) from transgenic to non transgenic plants
were 13.78, 10.92, and 3.82%, respectively. At a distance of 7.2 8 m, the frequency of gene flow
was declined to 0%. The frequency of gene flow from transgenic potatoes to non transgenic
potatoes markedly decreased by increasing the isolation distance, and was negligible at 7.2 m.
Key words : natural hybridization, transgenic potato RB, kanamycin selection

PENDAHULUAN
Kentang transgenik pertama kali
diuji di lapangan uji terbatas atau LUT
(confined field trial) di United
Kingdom pada tahun 1987. Selama

kurun waktu empat tahun berikutnya,


terdapat lebih dari 70 permohonan uji
kentang transgenik di LUT yang telah
disetujui di seluruh dunia (Chasseray &
Duesing 1992), hampir 2% dari seluruh
percobaan LUT kentang transgenik di
277

Ambarwati dkk.

dunia dilakukan di Amerika Tengah dan


Selatan, kurang lebih 8% adalah untuk
sifat toleran herbisida, 58% untuk
ketahanan terhadap serangga hama,
bakteri, cendawan patogen, dan sisanya
untuk sifat perbaikan kualitas dan gengen penanda (Goy & Duesing 1995).
Untuk tanaman transgenik yang
akan dikembangkan di Indonesia dan
digunakan sebagai bahan pangan dan
pakan seperti jagung, kedelai, kentang,
harus memenuhi persyaratan keamanan
hayati. Dalam rangka pengaturan
keamanan hayati telah dikeluarkan
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21
Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati
Produk Rekayasa Genetik (Herman
2009). Dalam PP No. 21 Tahun 2005
yang dimaksud dengan keamanan hayati
adalah keamanan lingkungan, keamanan
pangan, dan/atau keamanan pakan.
Salah satu aspek yang perlu dikaji
sehubungan dengan tanaman transgenik
adalah kemungkinan risiko terjadinya
perpindahan gen (gene flow) ke tanaman sekerabat atau ke kerabat liar
(McPartlan & Dale 1994; Messeguer
2003). Perpindahan gen merupakan
suatu peristiwa yang terjadi secara rutin
melalui persilangan alami. Kemungkinan
terjadinya perpindahan gen tergantung
dari dua faktor, yaitu tingkat kompatibilitas seksual dan jarak isolasi antara
spesies donor dan spesies penerima
(McPartlan & Dale 1994). Jarak isolasi
adalah jarak tanam antara baris tanaman
transgenik ke kentang non transgenik.
Pada tanaman, perpindahan gen
dapat terjadi melalui penyebaran serbuk
sari (pollen), biji, atau organ vegetatif (Lu
2008). Perpindahan gen dapat diukur
278

dengan mengidentifikasi suatu tanaman


dalam suatu populasi, dengan marka
(marker) genetik (transgen) yang khas,
dan mengikuti keberadaan marka
tersebut pada generasi lebih lanjut melalui
teknik molekuler (Latta et al.1998).
Analisis perpindahan gen dengan metode
seleksi secara cepat untuk suatu
transgen, dianggap sebagai cara yang
efisien untuk identifikasi tanaman.
Analisis laboratorium seperti Southern
Blot, ELISA, uji aktivitas enzim
merupakan metode yang mahal,
memerlukan waktu lama, terutama ketika
menganalisis sejumlah besar populasi
tanaman (Howe & Feng 2004). Seleksi
cepat dan sederhana (simple) telah
dilakukan oleh Weide et al. (1989); De
Block et al. (1984) dan McPartlan &
Dale (1994).
Evaluasi perpindahan gen sehubungan dengan penanaman kentang
transgenik telah dilakukan di Kanada dan
Amerika Serikat (Love 1994). Pengujian
tingkat penyerbukan silang pada berbagai
jarak isolasi dari tanaman kentang
transgenik toleran herbisida klorsulfuron
dilakukan oleh Tynan et al. (1990);
McPartlan & Dale (1994), sedangkan
Skogsmyr (1994) mengkaji frekuensi
penyebaran transgen dari tanaman
kentang transgenik yang mengandung
gen penanda gus dan nptII. Banyaknya
faktor yang mempengaruhi terjadinya
perpindahan gen menyebabkan kuantifikasi perpindahan gen tidak mudah
dilakukan (Messeguer 2003). Informasi
mengenai jarak isolasi minimal yang
disyaratkan dari tanaman transgenik ke
tanaman non transgenik diperlukan dalam
strategi manajemen berkaitan dengan

Kajian Pendahuluan: Perpindahan Gen dari Tanaman Kentang

perpindahan gen (Conner 2006),


disamping faktor lain seperti isolasi fisik
atau biologis (Celis et al. 2004).
Di Indonesia, kajian perpindahan gen
dari tanaman kapas transgenik Bt
(CryIAc) ke kapas non Bt sudah
dilakukan di Sulawesi Selatan (Purwito
et al. 2001), sedangkan analisis perpindahan gen untuk tanaman kentang transgenik RB belum pernah dilaporkan di
Indonesia. Pada penelitian ini dilakukan
studi pendahuluan untuk mengetahui
terjadinya perpindahan dari tanaman
kentang transgenik RB ke tanaman
kentang non transgenik, menggunakan
metode seleksi cepat dengan marka
kanamisin 50 mg/l dan tingkat persilangan alami pada berbagai jarak isolasi
antara tanaman kentang transge-nik RB
dengan tanaman kentang non transgenik,
yang berkaitan dengan perpindahan gen.
BAHAN DAN CARA KERJA
Kajian perpindahan gen dilakukan di
Balai Penelitian Tanaman Sayuran,
Lembang, Oktober 2008-Mei 2009.
Materi genetik yang digunakan adalah
tanaman kentang transgenik Katahdin
SP951 yang membawa gen RB sebagai
sumber serbuk sari, dan Katahdin non
transgenik, Granola serta Atlantic.
Transgenik Katahdin SP951 dan Katahdin
non transgenik diperoleh dari Universitas
Wisconsin, Amerika Serikat melalui
kerjasama USAID - ABSP (Agricultural Biotechnology Support Project) II.
Materi yang digunakan adalah biji
hasil persilangan antara tanaman kentang
transgenik Katahdin SP951 dengan
Atlantic. Biji disterilisasi dengan alkohol

70% dan dikecambahkan dalam cawan


petri yang berisi media MS0 (MS tanpa
penambahan zat pengatur tumbuh). Biji
yang berkecambah 0.3 0.5 cm
diseleksi, baik pada media MS0 padat
dengan penambahan 50, 75 dan 100 mg/
l kanamisin maupun pada media MS0 cair
dengan penambahan kanamisin 50 dan
75 mg/l. Biji berkecambah yang dapat
tahan atau lolos pada seleksi kanamisin,
ditanam dalam pot kecil berisi media
campuran arang sekam, tanah dan pupuk
kandang dalam perbandingan volume
2:1:1. Untuk mengkonfirmasi terjadinya
perpindahan gen pada tanaman yang lolos
seleksi kanamisin, dilakukan analisis
PCR. Daun tanaman diambil untuk
diisolasi DNAnya (Fulton et al. 1995)
kemudian dilakukan analisis molekuler
PCR, dengan primer 1-5(5-CTCATTTT
ACCCCTACAA-3) dan primer 3-5 (5CGCAAAACCTGGGAAAAT-3) serta
primer cf1 (5-TAAGCATGAGTT
GGAATAACT-3) dan primer cr1 (5CGGTCAGAAGAGGATAAGGGA-3').
Umbi kentang transgenik Katahdin
SP951, Katahdin non transgenik, Granola
dan Atlantic ditumbuhkan sampai muncul
tunas ( 2-3 cm) kemudian ditanam di
lapang. Tanah diolah dalam bedengan
berukuran 0.4 x 6 m untuk setiap baris
nomor tanaman yang akan diuji, kemudian
dibuat lubang tanam yang berjarak 40 cm
pada tiap bedengan. Jarak antar baris
bedengan adalah 0.8 m. Bibit tanaman
ditanam pada setiap lubang, dan
pemupukan dilakukan dengan pupuk
kandang 30 ton/ha, NPK (15-15-15) 800
kg/ha, dengan dosis diberikan pada saat
tanam dan 1/4 bagian pada saat tanaman
berumur 30 hari. Pemeliharaan terhadap
279

Ambarwati dkk.

organisme pengganggu tumbuhan (OPT)


dilakukan dengan penyemprotan
insektisida maupun fungisida. Tanaman
transgenik Katahdin SP951 ditanam
dalam satu baris bedengan, ditengahtengah plot. Sedangkan tanaman non
transgenik Katahdin, Granola, dan
Atlantic ditanam secara berseling pada
satu baris bedengan, dengan berbagai
jarak isolasi mengikuti pola tanam pada
budidaya kentang, yaitu 0.8, 1.6, 2.4, 3.2,
4.0, 4.8, 5.6, 6.4, 7.2, 8.0, 8.8, 9.6, 10.4,
dan 11.2 m dari baris tanaman transgenik.
Plot percobaan dan pertanaman di lapang
disajikan pada Gambar 1.
Seleksi secara cepat dilakukan
menggunakan kanamisin sebagai marka
seleksi. Semua buah yang terbentuk pada
tanaman non transgenik pada berbagai
jarak isolasi, diproses untuk mendapatkan
biji. Semua biji disterilkan dengan alkohol
70% dan direndam dalam larutan GA3
1500 ppm selama satu malam untuk
pematahan dormansi. Biji dikecambahkan dalam cawan petri yang berisi media
MS0 (MS tanpa penambahan zat
pengatur tumbuh) cair. Biji yang
berkecambah 0.3 0.5 cm dipindahkan
ke media seleksi yaitu MS0 cair dengan
penambahan kanamisin 50 mg/l,
sedangkan biji yang tidak berkecambah
dianggap tidak mempunyai viabilitas
untuk tumbuh sehingga tidak diseleksi.
Biji yang tahan dan tumbuh membentuk
tunas daun hijau atau tidak mengalami
bleaching selama diseleksi dalam media
kanamisin, dianggap telah lolos seleksi.
Perpindahan gen melalui tingkat
persilangan alami diamati pada jarak
isolasi 0.8 1.6 m, 2.4 4 m, 4.8 6.4 m
dan 7.2 8 m dari tanaman transgenik
280

ke tanaman non transgenik, berdasarkan


biji berkecambah yang lolos seleksi
kanamisin.
HASIL
Uji pendahuluan introgresi gen
melalui persilangan alami dengan
metode seleksi secara cepat
Uji pendahuluan seleksi secara cepat
untuk biji hasil persilangan, menunjukkan
bahwa semua biji yang diseleksi ternyata
semuanya tahan dan dapat tumbuh,
setelah 3 minggu pada media MS0
padat dengan kanamisin 50, 75, maupun
100 mg/l (Gambar 2). Seleksi dengan cara
ini ternyata tidak efektif karena tidak bisa
menyeleksi biji tahan dan tidak tahan,
sehingga perlu dicari alternatif lainnya.
Seleksi pada media MS0 cair, baik
dengan kanamisin 50 maupun 75 mg/l
dapat menyeleksi biji berkecambah yang
tahan dan tidak tahan. Biji berkecambah
yang lolos seleksi kanamisin selanjutnya
dianalisis secara molekuler untuk
memastikan ada tidaknya introgresi gen
RB. Dari semua tanaman yang lolos
seleksi kanamisin 50 mg/l maupun 75 mg/
l ternyata positif mengandung gen RB,
dengan munculnya produk amplifikasi
berukuran 619 bp untuk produk N-term
dan 840 bp untuk produk C-term (Gambar
3). Untuk tahap selanjutnya seleksi
dilakukan menggunakan media MS0 cair
dengan kanamisin 50 mg/l karena sudah
bisa menyeleksi biji yang tahan dan tidak
tahan.
Kajian perpindahan gen
Penelitian pada berbagai jarak isolasi
yaitu 0.8 - 11.2 m antara tanaman

Kajian Pendahuluan: Perpindahan Gen dari Tanaman Kentang

0.8 m

0.8 m

4.0

3.2

2.4

1.6

0.8

40 cm

x x x x x x x x x xx x x x x x x x x xx

11.2 m

6m

0.8

1.6

2.4 3.2 4.0

11.2 m

x : Transgenik Katahdin SP951


- : Non transgenik

Gambar 1 Plot percobaan (atas) dan penanaman di lapang pada analisis perpindahan gen
(bawah)

transgenik Katahdin SP951 dengan non


transgenik menunjukkan bahwa buah
hanya terbentuk pada jarak isolasi 0.8
sampai 8 m (Tabel 1). Sebanyak 6 buah
kentang sudah gugur sebelum masak
sehingga tidak dapat diproses untuk
seleksi lebih lanjut, karena belum
terbentuk biji. Biji yang berasal dari 67
buah yaitu sebanyak 7772 biji diproses
untuk diseleksi lebih lanjut. Seleksi biji
hasil persilangan alami dalam media
kanamisin 50mg/l ditampilkan pada
Gambar 4. Biji dengan kecambah 0.3
sampai 0.5 cm (Gambar 4a) dipindahkan
ke media seleksi. Setelah kurang lebih 4
6 minggu diseleksi, daun tanaman yang
tahan akan tetap hijau segar dan
dianggap telah lolos seleksi kanamisin,

sedangkan tunas daun yang tidak tahan,


akan berubah warnanya menjadi kuning
pucat atau putih (Gambar 4b) atau sama
sekali tidak tumbuh tunas daun (Gambar
4 c) dan dianggap tidak lolos seleksi.
Semaian tahan dapat ditanam dan
dipelihara dalam media arang sekam dan
pupuk kandang (Gambar 4d).
Tidak semua biji yang diproses dapat
berkecambah. Kemampuan biji untuk
dapat berkecambah berkisar dari 35.08
sampai 60.52% (Tabel 1). Seleksi hanya
dilakukan pada biji yang mempunyai
viabilitas untuk berkecambah. Hasil
seleksi dengan metode secara cepat
menggunakan kanamisin 50 mg/l,
menunjukkan bahwa 55 sampai 82% biji
berkecambah tidak tahan dalam seleksi,
281

Ambarwati dkk.

Gambar 2 Seleksi biji pada media MS0 padat, semua dapat tumbuh pada kanamisin 50 mg/l (a),
75 mg/l (b) dan 100 mg/l (c).
M

M 1

3 4

840 bp
619 bp

Gambar 3 Hasil amplifikasi PCR: A) N-term end dan B) C term-end pada biji hasil
persilangan yang lolos seleksi kanamisin. M: 1 Kb DNA ladder, 1-3: biji lolos seleksi
kanamisin 50 mg/l, 4 6: biji lolos seleksi kanamisin 75 mg/l, 7: transgenik Katahdin
SP951, 8: Atlantic, 9: H2O.
Tabel 1 Seleksi cepat biji hasil persilangan alami tanaman kentang transgenik dengan non
transgenik pada berbagai jarak isolasi
Seleksi kanamisin 50 mg/l
Biji
berkecambah
yang
diseleksi*

Tunas
daun
hijau**

Tunas
daun
kuning**

Tunas
daun
putih**

Tidak tumbuh
tunas
daun**

2234

1139
(50.98)

157
(13.78)

93
(8.17)

138
(12.12)

751
(65.94)

28

2708

1639
(60.52)

179
(10.92)

184
(11.23)

212
(12.93)

1064
(64.92)

4.8 - 6.4

24

2805

996
(35.08)

38
(3.82)

50
(5.02)

89
(8.94)

819
(82.23)

7.2 - 8.0

25

9
(36)

0
(0)

1
(11.11)

3
(33.33)

5
(55.56)

Jumlah
buah

Jumlah
biji

0.8 -1.6

20

2.4 - 4.0

Jarak
isolasi
(m)

*: Persentase dihitung dari jumlah biji, **: Persentase dihitung dari biji berkecambah yang diseleksi

282

Kajian Pendahuluan: Perpindahan Gen dari Tanaman Kentang

yang ditandai dengan tidak adanya


pertumbuhan lebih lanjut, dan tidak dapat
membentuk tunas daun. Sebanyak 5
sampai 33% biji dapat tumbuh
membentuk tunas daun hijau, namun
demikian dalam perkembangannya tunas
daun mengalami bleaching menjadi
kuning atau putih setelah 1 sampai 2
minggu dalam seleksi kanamisin. Hal ini
mengindikasikan bahwa biji tersebut tidak
tahan. Sebaliknya, biji berkecambah yang
mampu bertahan, akan tumbuh membentuk tunas daun yang tetap berwarna hijau,

setelah 4 sampai 6 minggu dalam media


seleksi kanamisin.
Persentase tingkat persilangan alami
untuk mengetahui terjadinya perpindahan
gen dari tanaman kentang transgenik RB
ke tanaman kentang non transgenik
dengan metode seleksi cepat, ditentukan
berdasarkan biji berkecambah yang dapat
tahan atau lolos seleksi kanamisin dengan
membentuk tunas daun hijau. Pada jarak
isolasi 0.8 sampai 1.6 m dari tanaman
transgenik ke tanaman non transgenik,
terjadi persilangan alami sebesar 13.78%
(Tabel 2). Pada jarak isolasi 2.4 - 4 m

Gambar 4. Seleksi biji hasil persilangan alami. Perkecambahan biji pada media MS0 cair (a),
Biji berkecambah yang diseleksi dalam media MS0 cair + kanamisin 50 mg/l, dengan
tunas daun hijau, kuning atau putih (b) atau tidak dapat membentuk tunas daun (c) dan
semaian yang ditanam dan dipelihara dalam media arang sekam dan pupuk kandang (d).
Tabel 2 Perpindahan gen melalui persilangan alami berdasarkan seleksi kanamisin pada berbagai
jarak isolasi
Jarak isolasi (m)
0.8 -1.6

Biji berkecambah yang


diseleksi
1139

Lolos seleksi
kanamisin*
157 (13.78)

Tumbuh jadi
tanaman**
5 (3.18)

2.4 - 4.0

1639

179 (10.92)

4 (2.23)

4.8 - 6.4

996

38 (3.82)

1 (2.63)

7.2 - 8.0

0 (0)

0 (0)

*: Persentase dihitung dari biji berkecambah yang diseleksi,


**: Tanaman berasal dari tunas lolos seleksi kanamisin

283

Ambarwati dkk.

dan 4.8 - 6.4 m, berturut-turut terjadi


persilangan alami sebesar 10.92% dan
3.82%, dan pada jarak isolasi 7.2 - 8 m
tidak ada lagi persilangan alami karena
tidak ada biji berkecambah yang lolos
seleksi kanamisin. Persentase tingkat
persilangan alami semakin kecil dengan
bertambah jauhnya jarak isolasi. Pada
Tabel 2 dapat dilihat bahwa tidak semua
biji berkecambah yang lolos seleksi
kanamisin dapat tumbuh menjadi
tanaman dengan akar dan daun. Dapat
dikatakan bahwa terjadinya perpindahan
gen melalui persilangan alami dapat
mempengaruhi viabilitas dan menghambat pertumbuhan tanaman.
PEMBAHASAN
Seleksi introgresi gen melalui
persilangan alami dilakukan menggunakan media MS0 cair dengan kanamisin
50 mg/l karena sudah bisa menyeleksi
biji yang tahan dan tidak tahan. Pertimbangan pemakaian ini mengacu pada proses
transformasi tanaman kentang. Seleksi
transforman RB dilakukan dengan media
ZIG (Cheng & Veilleux 1991) yang
mengandung kanamisin 50 mg/l. Plasmid
biner pCLD04541 yang digunakan untuk
trans-formasi kentang, selain mengandung gen RB juga membawa gen nptII,
sehingga tanaman yang lolos seleksi
kanamisin akan mengandung gen RB
(Song et al. 2003).
Seleksi cepat dan simpel untuk
introgresi gen dilakukan oleh Weide et
al. (1989) di rumah kaca menggunakan
marka seleksi kanamisin. Tanaman
transgenik tomat muda dengan tiga
sampai empat daun, disemprot larutan
284

kanamisin. Daun tanaman yang tidak


tahan berubah menjadi putih dalam waktu
7 hari, sedangkan tanaman dengan daun
tetap hijau dan tidak ada nekrosis
menunjukkan tanaman tahan dan
mengandung produk gen seleksi. De
Block et al. (1984) menguji ketahanan
biji F1 hasil penyerbukan tanaman
tembakau transgenik, yang diseleksi pada
media padat B5 dengan penambahan 100
mg/l kanamisin. Biji yang tahan dapat
berkecambah dan membentuk semaian
setelah 3 minggu,biji yang peka meskipun
dapat berkecambah, tetapi setelah 1
minggu kecambah tidak dapat tumbuh,
mengalami etiolasi dan mati setelah 2
minggu dalam media seleksi. Skrining
ketahanan pada biji dari persilangan alami
tanaman kentang transgenik varietas
Desiree dengan non transgenik dilakukan
oleh McPartlan & Dale (1994). Biji
disterilisasi dan ditanam pada media MS0
padat dengan 200 mg/l kanamisin.
Semaian dikategorikan sebagai peka
apabila mengalami bleaching atau
memutih, sedangkan tanaman yang tahan
masih tetap hijau setelah 2 bulan dalam
media seleksi.
Perpindahan gen melalui persilangan alami pada penelitian ini adalah
sebesar 0 13.78%. Menurut Plaisted
(1980) perkiraan tingkat penyerbukan
silang tanaman kentang pada kondisi
lapang berkisar dari 0 sampai 20%,
meskipun beberapa penelitian lain
menunjukkan bahwa potensi terjadinya
penyerbukan silang relatif kecil, dan
penyebaran serbuk sari pada umumnya
terbatas (Harding & Harris 1994).
Kemungkinan terjadinya transfer gen
melalui persilangan alami ditentukan oleh

Kajian Pendahuluan: Perpindahan Gen dari Tanaman Kentang

jarak fisik antara spesies donor dan


spesies penerima (McPartlan & Dale
1994) serta sistem perkawinan dan model
penyerbukan (Messeguer 2003; Lu
2008). Menurut Treu dan Emberlin
(2000) tingkat penyebaran serbuk sari
pada tanaman kentang berhubungan
dengan jenis serangga penyerbuk atau
polinator. Bumblebees, seperti Bombus
funebris di Peru dan Bombus impatiens
di Amerika Serikat merupakan polinator
yang baik untuk kentang (OECD 1997),
yang bergerak atau berpindah hanya
pada jarak yang pendek diantara bunga,
sehingga sebagian besar serbuk sari
tertahan atau tersimpan disekitar sumber
serbuk sari (Skogsmyr 1994).
McPartlan & Dale (1994) mengamati frekuensi perpindahan gen pada
berbagai jarak isolasi antara tanaman
kentang transgenik Desiree toleran
herbisida dengan non transgeniknya.
Pada kentang transgenik ditanam secara
berseling dengan non transgenik, atau
pada jarak tanam dimana daunnya saling
bersinggungan, frekuensi progeni tanaman non transgenik yang mengandung
gen ketahanan kanamisin berkisar dari
23.1 sampai 28.8%. Pada jarak isolasi 3
dan 10 m, frekuensinya berkurang
masing-masing menjadi 2% dan 0.017%.
Dengan bertambah jauhnya jarak isolasi
sampai 20 m, tidak lagi terjadi
penyerbukan silang antara tanaman
kentang transgenik dan non transgenik.
Pengujian dispersal transgen melalui
serbuk sari dari tanaman kentang
transgenik toleran herbisida klorsulfuron
ke tanaman non transgenik yang
dilakukan di New Zealand (Tynan et al.
1990), menunjukkan pada jarak isolasi

1.5 sampai 3 m frekuensi hibrida yang


mengandung marka transgen sebesar
1%, dan pada jarak 3-4.5 m, frekuensinya turun menjadi 0.05%. Pada jarak
isolasi 4.5 - 6 m dan 9 sampai 10 m tidak
dijumpai hibrida yang toleran klorsulfuron,
atau tidak ada perpindahan gen.
Beberapa penelitian lapang pada tanaman
kentang transgenik yang mengandung
transgen sebagai penanda, menunjukkan
bahwa penyebaran transgen oleh serbuk
sari ke tanaman kentang lainnya sangat
terbatas dan tidak terjadi pada jarak lebih
dari 10 m (Conner & Dale 1996).
Tindakan manajemen untuk meminimalkan pindahnya transgen yang
dimediasi serbuk sari, dapat dilakukan
dengan pembatas fisik, meliputi isolasi
spasial, yaitu menanam spesies lain
diantara plot tanaman transgenik dengan
non transgenik, isolasi temporal yaitu
dengan perbedaan waktu tanam antara
transgenik dengan non transgenik serta
pembatas biologi, seperti penggunaan
tanaman transgenik mandul jantan (Lu
2008). Disamping itu, informasi mengenai
jarak isolasi minimal yang disyaratkan dari
tanaman transgenik ke non transgenik,
diperlukan untuk strategi manajemen
perpindahan gen (Conner 2006).
KESIMPULAN
Perpindahan gen terjadi melalui
persilangan alami dari tanaman kentang
transgenik RB ke tanaman kentang non
transgenik, berdasarkan metode seleksi
secara cepat dengan marka kanamisin
50 mg/l.
Perpindahan gen melalui persilangan
alami pada jarak isolasi (0.8 - 1.6 m), (2.4285

Ambarwati dkk.

4 m), dan (4.86.4 m) dari tanaman


kentang transgenik RB ke tanaman non
transgenik, berturut- turut s 13.78, 10.92,
dan 3.82%. Pada jarak isolasi (7.2 8
m) sudah tidak terjadi persilangan alami
(0%).
Persentase perpindahan gen melalui
persilangan alami semakin menurun
dengan bertambah jauhnya jarak isolasi.
DAFTAR PUSTAKA
Celis, C., M. Scurrah, S. Cowgill, S.
Chumbiauca, J. Green, J. Franco,
G. Main, D. Kilzebrink, RGF.
Visser, & HJ. Atkinson. 2004.
Environmental biosafety and
transgenic potato in a centre of
diversity for this crop. Nature 432:
222-225.
Conner, AJ. & PJ. Dale. 1996. Reconsideration of pollen dispersal data
from field trials of transgenic potatoes. Theor. Appl. Genet. 92(5):
505-508.
Conner, AJ. 2006. Biosafety evaluation
of transgenic potatoes: Gene flow
from transgenic potatoes. International Symposium, Ecological and
Environmental Biosafety of
Transgenic Plants.127-140.
Chasseray, E. & J. Duesing. 1992. Field
trials of transgenic plants an
overview. Agro-Food-Industry
Hi-Tech 3(4):5-10.
Cheng, J. & RE. Veilleux . 1991. Genetic
analysis of protoplast cultureability
in Solanum phureja. Plant
Science. 75: 257-265.
De-Block, M., L. Herrera-Estrella, M.
Van Montagu, J. Schell, & P.
286

Zambryski. 1984. Expression of


foreign genes in regenerated plants
and in their progeny. The EMBO
J. 3(8):16 81-1689.
Fulton, TM., J. Chunwongse, & SD.
Tanksley. 1995. Microprep protocol
for extraction of DNA from plants.
Plant Mol. Biol. Rep. 13(3):207209.
Goy, PA. & JH. Duesing. 1995. From
pots to plots: genetically modified
plants on trial. Bio/Technology
13:454-458.
Harding, K. & PS. Harris. 1994. Risk
assessment of the release of
genetically modified plants. A
review. MAFF.
Herman, M. 2009. Pengaturan keamanan tanaman PRG di Indonesia.
Dalam: Purwantara B & M.
Thohari (eds.). Tanaman Produk
Rekayasa Genetik dan Kebijakan Pengembangannya. Volume
2. Status global tanaman produk
rekayasa genetik dan regulasinya. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Biotekno-logi dan
Sumber Daya Genetik Pertanian.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen
Pertanian. 105-132.
Howe, AR. & PCC. Feng. 2004. Assay
for the detection of selectable
marker expression in plants. Patent
Application Publication. 1-10.
Latta, RG., YB. Linhart, D. Fleck, & M.
Elliot. 1998. Direct and indirect estimates of seed versus pollen movement within a population of ponderosa pine. Evolution 52:61-67.

Kajian Pendahuluan: Perpindahan Gen dari Tanaman Kentang

Love, SL. 1994. Ecological risk of


growing transgenic potatoes in the
United States and Canada. Amer.
Potato J. 71:647-658.
Lu, BR. 2008. Transgene escape from
GM crops and potential biosafety
consequences: An environmental
perspective. Collection of
Biosafety Reviews 4:66-141.
Messeguer, J. 2003. Gene flow
assessment in transgenic plants.
Plant Cell, Tissue and Organ
Culture 73:201-212.
McPartlan, HC. & PJ. Dale. 1994. An
assessment of gene transfer by
pollen from field grown transgenic
potatoes to non transgenic potatoes
and related species. Transgenic
Research 3:216-225.
[OECD] Organization for Economic
Cooperation and Development.
1997. Consensus Document on the
Biology of Solanum tuberosum
subsp. tuberosum (Potato). OECD
Environmental Health Safety
Publications, Series on Harmonization of Regulatory Oversight
in Biotechnology. No 8. Environment Directorate. Paris. 27.
Purwito, A., H. Aswidinnoor, & N. Amin.
2001. Gene flow kapas transgenik
di Sulawesi Selatan: Jarak dan
frekuensi persilangan luar pada
kapas transgenik. Laporan Kajian
Kapas Bt sub bidang Analisis
Risiko Lingkungan. Makalah
dipresentasikan dalam Diskusi
Ilmiah tentang Evaluasi Pelepasan
Terbatas Kapas Bt di Sulawesi
Selatan. Bogor, 21 November 2001.

Plaisted, RL. 1980. Potato. In : Fehr WR.


& HH. Hadley (eds.). Hybridisation of crop plants. American
Society of Agronomy, Madison.
483-494.
Song, J., JM. Bradeen, SK. Naess, JA.
Raasch, SW. Wielgus, GT.
Haberlach, J. Liu, H. Kuang, S.
Austin-Phillips, CR. Buell, JP.
Helgeson, & J. Jiang. 2003. Gene
RB cloned from Solanum
bulbocastanum confers broad
spectrum resistance to potato late
blight. Proc. Natl. Acad. Sci. USA
100: 9128-9133.
Skogsmyr, I. 1994. Gene dispersal from
transgenic potatoes to conspecifics: A field trial. Theor. App.
Gen. 88:770-774.
Treu, R. & J. Emberlin. 2000. Pollen
dispersal in the crops Maize (Zea
mays), Oil seed rape (Brassica
napus ssp oleifera), Potatoes
(Solanum tuberosum), Sugar beet
(Beta vulgaris ssp vulgaris) and
Wheat (Triticum aestivum). Soil
Association.
Tynan, JL., MK. Williams, & AJ. Conner.
1990. Low frequency of pollen
dispersal from a field trial of
transgenic potatoes. J. Gen.
Breed. 44:303-306.
Weide, R., M. Koornneef, & P. Zabel.
1989. A simple, nondestructive
spraying assay for the detection of
an active kanamycin resistance
gene in transgenic tomato plants.
Theor. Appl. Genet.78:169-172.
Memasukkan: Maret 2011
Diterima: Juni 2011
287

J. Biol. Indon. Vol 7, No.2 (2011)


PANDUAN PENULIS

Naskah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah disusun dengan urutan:
JUDUL (bahasa Indonesia dan Inggris), NAMA PENULIS (yang disertai dengan alamat Lembaga/
Instansi), ABSTRAK (bahasa Inggris, maksimal 250 kata), KATA KUNCI (maksimal 6 kata),
PENDAHULUAN, BAHAN DAN CARA KERJA, HASIL, PEMBAHASAN, UCAPAN
TERIMA KASIH (jika diperlukan) dan DAFTAR PUSTAKA.
Naskah diketik dengan spasi ganda pada kertas HVS A4 maksimum 15 halaman termasuk
gambar, foto, dan tabel disertai CD. Batas dari tepi kiri 3 cm, kanan, atas, dan bawah masingmasing 2,5 cm dengan program pengolah kata Microsoft Word dan tipe huruf Times New Roman
berukuran 12 point. Setiap halaman diberi nomor halaman secara berurutan. Gambar dalam
bentuk grafik/diagram harus asli (bukan fotokopi) dan foto (dicetak di kertas licin atau di scan).
Gambar dan Tabel di tulis dan ditempatkan di halam terpisah di akhir naskah. Penulisan simbol ,
, , dan lain-lain dimasukkan melalui fasilitas insert, tanpa mengubah jenis huruf. Kata dalam
bahasa asing dicetak miring. Naskah dikirimkan ke alamat Redaksi sebanyak 3 eksemplar (2 eksemplar
tanpa nama dan lembaga penulis).
Penggunaan nama suatu tumbuhan atau hewan dalam bahasa Indonesia/Daerah harus
diikuti nama ilmiahnya (cetak miring) beserta Authornya pada pengungkapan pertama kali.
Daftar pustaka ditulis secara abjad menggunakan sistem nama-tahun. Contoh penulisan
pustaka acuan sebagai berikut :
Jurnal :
Hara, T., JR. Zhang, & S. Ueda. 1983. Identification of plasmids linked with polyglutamate
production in B. subtilis. J. Gen. Apll. Microbiol. 29: 345-354.
Buku :
Chaplin, MF. & C. Bucke. 1990. Enzyme Technology. Cambridge University Press. Cambridge.
Bab dalam Buku :
Gerhart, P. & SW. Drew. 1994. Liquid culture. Dalam : Gerhart, P., R.G.E. Murray, W.A. Wood,
& N.R. Krieg (eds.). Methods for General and Molecular Bacteriology. ASM., Washington.
248-277.
Abstrak :
Suryajaya, D. 1982. Perkembangan tanaman polong-polongan utama di Indonesia. Abstrak
Pertemuan Ilmiah Mikrobiologi. Jakarta . 15 18 Oktober 1982. 42.
Prosiding :
Mubarik, NR., A. Suwanto, & MT. Suhartono. 2000. Isolasi dan karakterisasi protease
ekstrasellular dari bakteri isolat termofilik ekstrim. Prosiding Seminar nasional Industri
Enzim dan Bioteknologi II. Jakarta, 15-16 Februari 2000. 151-158.
Skripsi, Tesis, Disertasi :
Kemala, S. 1987. Pola Pertanian, Industri Perdagangan Kelapa dan Kelapa Sawit di
Indonesia.[Disertasi]. Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Informasi dari Internet :
Schulze, H. 1999. Detection and Identification of Lories and Pottos in The Wild; Information
for surveys/Estimated of population density. http//www.species.net/primates/loris/
lorCp.1.html.

J. Biol. Indon. Vol 7, No. 2 (2011)

Kajian Pendahuluan: Perpindahan Gen dari Tanaman Kentang Transgenik Katahdin RB


ke Tanaman Kentang Non Transgenik
A. Dinar Ambarwati, M. Herman, Agus Purwito , Eri Sofiari,& Hajrial
Aswidinoor

277

Virus Influenza Novel H1N1 Babi di Indonesia


NLP Indi Dharmayanti, Atik Ratnawati, & Dyah Ayu Hewajuli

289

Karakterisasi Produk Biosolubilisasi Lignit oleh Kapang Indigenus dari Tanah


Pertambangan Batubara di Sumatera Selatan
Irawan Sugoro, Sandra Hermanto,D. Sasongko,D. Indriani & P. Aditiawati

299

Potensi Virus Avian Influenza H5NI Isolat A/Ck/West Java/Pwt-Wij/2006 Sebagai


Vaksin
R. Indriani, NLP I Dharmayanti, R.M.A Adjid, & Darminto

309

Variasi dan kekerabatan genetik pada dua jenis baru belimbing (Averrhoa leucopetala
Rugayah et Sunarti sp nov dan A. dolichorpa Rugayah et Sunarti sp nov.,
Oxalidaceae) berdasarkan profil Random Amplified Polymorphic DNA
Kusumadewi Sri Yulita

321

Pengaruh Dinamika Faktor Lingkungan Terhadap Sebaran Horisontal dan Vertikal Katak
Hellen Kurniati

331

Merekonstruksi Habitat Curik Bali Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912 di Bali


Bagian Barat
Mas Noerdjito, Roemantyo &Tony Sumampau

341

Struktur dan Komposisi Vegetasi Hutan Semusim Habitat Curik Bali (Leucopsar
rothschildi Stresemann, 1912) di Kawasan Labuan Lalang, Taman Nasional Bali
Barat
Roemantyo

361

Sumbangan Ilmu Etnobotani dalam Memfasilitasi Hubungan Manusia dengan Tumbuhan


dan Lingkungannya
Eko Baroto Walujo

375

Anda mungkin juga menyukai