Anda di halaman 1dari 10

PENGGUNAAN AKUPUNKTUR DALAM TERAPI

Penusukan jarum adalah suatu cara pengobatan penyakit dengan menggunakan


jarum sebagai alat. Dasar dari penusukan adalah pengaturan Qi. Dengan penusukan
diadakan rangsangan untuk menghasilkan pengaturan Qi yang fisiologis dengan langsung
memperbaiki Jing Qi atau menghilangkan penyebab. Dan Qi yang diperbaiki adalah Jing
Qi dan Qi meridian. Dengan pulihnya Jing Qi, maka daya tahan tubuh menjadi baik,
penyebab penyakit dihilangkan. Hilangnya penyakit dan kuatnya Qi memulihkan keadaan
Yin Yang, dan penderita menjadi sehat kembali.
Untuk memberikan terapi dengan akupunktur, harus menguasai teknik penusukan
yang terdiri atas :
A; Sudut jarum dalam penusukan :
1; Tegak lurus : digunakan pada setiap titik yang terletak pada daerah otot
yang tebal.
2; Miring membentuk sudut 45o : digunakan untuk titik-titik di sekitar tulang
besar.
3; Mendatar 15-25o : digunakan pada titik-titik di daerah kepala dan muka.
Biasanya dengan cara ini dalam sekali penusukan diambil beberapa titik
sekaligus.
B; Dalam dangkalnya penusukan :
Setiap titik dalam setiap meridian disebutkan dalam dan dangkalnya penusukan,
tetapi dalam pemakaiannya tidaklah selalu pasti. Melainkan bisa berubah
mengikuti perubahan dan kebutuhan serta kondisi tubuh penderita. Dalam
kebebasan tersebut, harus tetap diperhatikan hal-hal di bawah ini.
1; Daerah di mana titik-titik terletak : dalam dangkalnya penusukan
mengikuti daerah penyebaran titik-titik. Bila tidak memahami anatomi,
dalam dangkalnya penusukan dapat membahayakan organ vital yang
terletak di bawah titik tersebut.
2; Kondisi penderita : tubuh penderita yang berbeda-beda dalam gemuk dan
kurus, kekuatan-kelemahan Qi Sie, usia muda dan lanjut, jenis kelamin
laki-laki atau wanita, semua mempengaruhi dalam dangkalnya penusukan.
3; Keadaan penderita : yang dimaksudkan adalah sindrom dingin, panas, Si,
dan Se. Penusukan dalam digunakan pada sindrom Se dan sindrom dingin,
penusukan dangkal digunakan pada sindrom Si dan sindrom panas.

4; Letak kelainan patologis : pada penyakit yang letaknya dangkal,


penusukan juga dangkal. Demikian pula sebaliknya.
C; Prosedur penusukan
1; Jarum masuk : satu putaran satu kali penekanan harus sudah melewati
kulit dan telah sampai di lapisan otot. Cara ini akan mengurangi rasa sakit
pada penderita.
2; Perputaran : setelah jarum masuk sampai batas tertentu, harus dilakukan
manipulasi. Perputaran tidak dilakukan hanya satu arah, tetapi bolak-balik,
untuk menghindari kerusakan otot dan jaringan.
3; Pembenaman pencabutan : merupakan salah satu bentuk manipulasi
jarum.
4; Peninggalan jarum : tujuan peninggalan jarum adalah untuk penguatan
atau pelemahan.
5; Pencabutan : pencabutan dilakukan sesuai dengan tujuan pemberian
terapu, penguatan atau pelemahan.
D; Menunggu datangnya Qi :
Sensasi yang dirasakan penderita bila jarum telah mendapatkan Qi (Qi telah
datang) adalah ngilu, tebal, baal, kemeng, berat, pegal, kadang-kadang dirasakan
seperti terkena arus listrik.
Tidak datangnya Qi bisa disebabkan oleh :
1; Pengambilan titik yang salah.
2; Jing Qi kurang atau sangat lemah.
3; Penyakit gawat, dengan prognosis jelek.
E; Teknik penguatan dan pelemahan :
1; Kecepatan penusukan : pada penguatan, penusukan dilakukan dengan
perlahan-lahan, bertahap, pencabutan cepat, dengan sekali tarik ujung
jarum tiba di bawah kulit. Pada pelemahan penusukan cepat, sekali masuk
langsung sampai pada kedalaman tertentu, pencabutan perlahanlahan/bertahap.
2; Perputaran jarum : pada penguatan perputaran sesuai dengan jarum jam
atau dengan sentilan.

3; Arah aliran Qi meridian : untuk tujuan penguatan, arah tajam jarum miring
atau mendatar di mana arah jarum mengikuti arah aliran Qi meridian.
Sedangkan untuk tujuan pelemahan, arah tajam jarum berlawanan arah
dengan arah aliran Qi meridian.
4; Membuka dan menutup bekas tusukan : untuk tujuan penguatan,
pencabutan dengan cepat, begitu jarum keluar dari kulit, langsung
lubangnya ditutup dan ditekan. Hal ini untuk tidak membiarkan Qi bocor.
Sedangkan untuk tujuan pelemahan, bekas tusukan dibuat lebar, setelah
jarum dicabut, bekas dibiarkan terbuka supaya Qi bocor keluar.
5; Ekspirasi dan inspirasi : untuk tujuan penguatan, penusukan dilakukan saat
ekspirasi. Sedangkan untuk tujuan pelemahan, penusukan dilakukan saat
inspirasi.
6; Lamanya jarum ditinggal : untuk tujuan penguatan, setelah datangnya Qi,
jarum tidak lama ditinggal atau cepat dicabut. Sedangkan untuk tujuan
pelemahan, setelah Qi datang, jarum ditinggalkan sampai Qi menyebar
dengan sendirinya.
Dalam pelaksanaan penusukan tidak jarang dijumpai hal-hal yang memerlukan perhatian
khusus atau komplikasi, seperti :
1; Jarum bengkok.
Penyebab terjadinya jarum bengkok :
a; Kesalahan penusuk, penusukan terlalu menggunakan tenaga, penusukan
terlalu cepat dan perputaran tidak rata.
b; Kesalahan penderita, di mana penderita bergerak pada saat dilakukan
penusukan, atau bergerak dari posisi semula.
c; Adanya tekanan atau benturan benda luar.
Cara mengatasinya : jarum dicabut perlahan-lahan mengikuti atah pembengkokan.
Bila pembengkokannya akibat perubahan posisi penderita, maka posisi penderita
harus diperbaiki dahulu.
2; Jarum macet
Penyebab :
a; Penderita terlalu tegang, gugup, takut.
1

b; Perputaran searah sehingga otot terlilit


c; Perubahan sikap dan posisi tubuh penderita.
Cara mengatasinya :
a; Pada penderita yang gugup, jarum ditinggalkan sementara dan
dilakukan pengurutan untuk merangsang Qi meridian.
b; Pada keadaan lilitan otot, jarum dilepaskan dari lilitan dengan
diputar ke arah yang berlawanan.
c; Perubahan letak atau posisi tubuh, diperbaiki posisi tubuhnya
lalu perlahan-lahan jarum diputar dan dicabut.
3; Jarum patah
Penyebab :
a; Adanya karat pada batang jarum.
b; Penggunaan tenaga yang terlalu kuat pada waktu pemasukan jarum.
c; Perubahan posisi penderita atau otot mengejang dengan hebat.
Cara mengatasi :
a; Penderita dan penusuk harus tenang.
b; Jangan mengubah posisi penderita.
c; Bila ujung jarum masih terlihat, bisa digunakan pinset atau magnet
untuk mengeluarkan jarum.
d; Bila jarum tidak terlihat, harus dilakukan insisi untuk mengeluarkan
sisa jarum.
4; Kolaps
Penyebab :
a; Keadaan tubuh penderita terlalu lemah, takut, tegang.
b; Manipulasi terlalu berat, dan tidak tertahankan oleh penderita.
Cara mengatasinya :
a; Tenang
b; Seluruh jarum dicabut
c; Penderita ditidurkan mendatar dengan kepala lebih rendah dari pada
kaki
d; Setelah sadar, diberikan minum hangat dan manis

5; Akibat penusukan : sering berupa hematoma, ngilu hebat dan berdarah


Cara mengatasinya :
a; Pengurutan meridian bila terjadi ngilu/nyeri hebat pada bekas tusukan
b; Hematoma, dikompres dengan air hangat
c; Keluarnya darah, dihapus dengan kapas alcohol
Selain adanya kemungkinan komplikasi dari penusukan, kita juga harus
mengetahui larangan atau kontra indikasi penusukan, yaitu :
A. Larangan yang berhubungan dengan letaknya
Di bawah titik-titik terlarang terdapt organ vital. Misalnya menusuk titik di antara
belikat yang terlalu dalam akan mengenai paru-paru, menyebabkan penderita sesak
napas. Sesuai dengan kejadian pneumothoraks.
B. Larangan dalam keadaan tertentu
Yang termasuk larangan dalam keadaan tertentu ini meliputi : baru saja
melakukan hubungan seksual, dalam keadaan mabuk, dalam keadaan marah, dalam
keadaan sangat lelah, dalam keadaan lapar atau kekenyangan dan lain-lain.
Selain teknik penusukan yang baik dan betul, seseorang yang memberi terapi
akupunktur harus mampu menentukan pilihan titik untuk penusukan. Seorang
akupunkturis harus bisa menentukan pemilihan titik dengan prinsip sesedikit mungkin
titik yang ditusuk tapi memberikan efek terapi yang optimal. Dalam buku Huang Ti Nei
Qing, disebutkan beberapa resep yang sampai sekarang beberapa di antaranya masih
sering dijadikan resep terapi. Yaitu :
1. Titik U Su
Penggunaannya dalam hubungan ibu pribadi anak
a; Titik Jin untuk kelainan epigastrik
b; Titik Yung untuk penyakit dengan suhu tubuh tinggi
c; Titik Su untuk perasaan badan berat dan ngilu-ngilu persendian
d; Titik Jing untuk batuk, sedak dan demam
e; Titik He untuk diare
2. Titik He dan He bawah : untuk pengobatan kelainan organ Fu
3.
4.
5.
6.

Titik Shu Belakang : untuk pengobatan kelainan organ Cang


Titik Mu Depan : untuk pengobatan kelainan organ Fu
Pada kelainan meridian, diambil titik Su atau titik Luo meridian bersangkutan
Titik Dominan :
1

a; Hegu (LI 4)

: titik dominan daerah kepala

b; Neiguan (Pc 6)

: titik dominan daerah thorak

c; Zusanli (St 36)

: titik dominan perut bagian atas

d; Sanyinjiao (SP 6)

: titik dominan perut bagian bawah

e; Weizhong (Bl 40)

: titik dominan pinggang

f; Chengsan (Bl 57)

: titik dominan anus

g; Dazhu (Bl 11)

: titik dominan tulang

h; Zhangmen (Lv 13)

: titik dominan organ Cang

i; Taiyuan (Lu 9)

: titik dominan pembuluh darah

j; Geshu (Bl 17)

: titik dominan darah

k; Yanglingquan (GB 34)

: titik dominan tendon

l; Zhongwan (CV 12)

: titik dominan organ Fu

m; Danzhong (CV 17)

: titik dominan Qi

n; Xuanzhong (GB 39)

: titik dominan sumsum tulang

7. Titik pertemuan : diambil titik pertemuan apabila meridian yang terkena dua atau
lebih. Dengan ditusuknya titik pertemuan, maka meridian-meridian yang bertemu di
titik tersebut semua akan terpengaruh.

AKUPUNKTUR SEBAGAI TERAPI


Akupunktur sebagai Model Target Organ :
Sebagai sasaran akhir penyampaian rangsang yang juga mempunyai koherensi
listrik yang sama dengan reseptor permukaan tubuh
Akupunktur sebagai Model Meridian :
Sebagai sel aktif listrik yang berderet dengan koherensi terhadap rangsangan yang
sama dan berfungsi sebagai penyampai rangsang
Korelasi titik akupunktur dengan target organ :
1; Hantaran rangsang dari titik akupunktur disampaikan melalui
meridian ke organ target
2; Perubahan kondisi fungsional akan memberi signal melalui

meridian ke titik akupunktur spesifik


Model Biomolekuler akupunktur

Acupoint

Organ
Meridian

Primary stimulus

Spesific path

Active cell

Electron current

In acupoint

Material current

Concept of

Concept of

Spesific effects
Morphofunctional

Concept of

Biochemical
Intercelluler
Stimulation and
Messenger
Signaling
Supression
Titik akupunktur sebagai sel aktif listrik :
Adalah daerah permukaan tubuh yang mempunyai kemampuan polarisasi listrik
dengan pemberian rangsangan yang relatif kecil, sedangkan diluar area titik akupunktur
belum berubah polarisasi listriknya.

CAPITA SELECTA
AKUPUNKTUR ANALGESIA
Terdiri atas Endogenous Opionid Substance, yaitu :
1; Endorfin
2; Enkefalin
3; Dinorfin
Cara kerja akupunktur analgesia :
a; Rangsangan frekuensi tinggi intensitas rendah membuat serabut A beta
sebagai penyalur rangsang dan dalam teori Gate Control terjadi
hambatan nyeri ditingkat spinal. Kondisi ini dapat di blok dengan
Sipro Heptadin, karena neurokimia yang bekerja adalah Met Enkefalin

dan Dinorfin.

b; Rangsang frekuensi rendah intensitas tinggi membuat serabut A Delta


dan C sebagai penyalur rangsang melalui cornu posterior medulla
spinalis ke arah periaquaductal gray matter untuk menghasilkan
peningkatan nilai ambang nyeri tingkat sentral. Kondisi ini dapat di
blok dengan Naloksan, neurokimia yang bekerja : Beta Endorfin

Titik-titik yang digunakan untuk akupunktur analgesia :


a; Hegu (L14) : EA 4 Hz dalam 30 menit, menurunkan rasa nyeri daerah
mandibula kontralateral. Dapat dihilangkan dengan nalokson 0,5
mg/kgBB IV
b; Neiguan (Pc 6) : EA selama 30 menit akan memberikan efek analgesik
dinding Thorax setara morfin 3 mg/kgBB sc
c; Zusanli (St 36) : EA 2 Hz selama 30 menit akan menurunkan rasa
nyeri daerah epigastrik. Efek analgesi hilang dengan pemberian
Nalokson 1 mg/kgBB IV
d; Sanyinjiao (Sp 6) : EA stimulasi 2 Hz selama 30 menit menurunkan
rasa sakit 67,8 % dibanding kontrol

AKUPUNKTUR ANALGESIA PADA PERSALINAN


Indonesian Journal of Acupuncture (Saraswati, 1999), menyatakan bahwa percepatan
persalinan dan pengurangan nyeri pada persalinan dengan teknik akupunktur
kemungkinan karena :
Efek pada Serviks : proses pematangan serviks lebih cepat dan berkurangnya
nyeri saat dilatasi

Efek pada persepsi nyeri melalui aktivasi terhadap 1 atau lebih sistem peptida
opioid

Efek Psikologis: Berperan dalam mengurangi kompleks takut-tegang-nyeri


1

AKUPUNKTUR PADA KANKER


Tujuan terapi akupunktur pada penderita kanker :
1. Memperkuat daya tahan tubuh
2. Mengurangi nyeri
3. Mengembalikan fungsi utama organ tubuh
4. Mengurangi stress
Patofisiologi akupunktur pada kanker :
1. Peningkatan sistem kekebalan tubuh humoral
2. Peningkatan endomorfin yang dapat dipakai untuk mengurangi nyeri
3. Peningkatan produksi sel darah oleh sumsum tulang
4. Peningkatan fungsi organ tubuh : lambung, usus besar, jantung, paru

Aktivasi system kekebalan tubuh pada penderita kanker :


Dapat merangsang produksi sistem komplemen yaitu sitokin yang pada akhirnya
mengakibatkan timbulnya :
a; Interferon
b; Interleukin
c; TNF (Tumor Necrosing Factor)
Teknik perangsangan akupunktur pada penderita kanker :
a; Rangsangan frekuensi rendah pada titi-titik general (St 36, LI 4, Pc 6,
Sp 6) akan menimbulkan peningkatan endomorfin dan mengakibatkan
timbulnya interlekuin
b; Rangsangan

frekuensi

sangat

tinggi,

menimbulkan

kerusakan

membran sel lokal dan timbulnya reaksi inflamasi dan memproduksi


sistem komplemen