Anda di halaman 1dari 44

PERADILAN,

PEMBUKTIAN ILMIAH
dan
KETERANGAN AHLI

MENGENAL PERADILAN
DI INDONESIA

JENIS PERADILAN
UU NO 14 / 1970 : POKOK-POKOK
KEKUASAAN KEHAKIMAN :

PERADILAN
PERADILAN
PERADILAN
PERADILAN

UMUM
MILITER
AGAMA
TATA USAHA NEGARA

PERADILAN UMUM

DISEBUT UMUM : MEMERIKSA BAIK


PIDANA MAUPUN PERDATA
ADA PENGKHUSUSAN : PERADILAN
ANAK, NIAGA, HAM
JENJANG : PN - PT - MA
(MA = puncak semua peradilan, bukan
hanya peradilan umum)

PERADILAN MILITER
DASAR : UU PERADILAN MILITER, 1999
BAGI PELANGGARAN PIDANA OLEH
PELAKU ANGGOTA ABRI
APARAT : POM, ODMIL, MAHMIL

PERADILAN AGAMA
ISLAM
WARIS, CERAI, RUJUK

PERADILAN TATA USAHA NEGARA


BAGI PUTUSAN OLEH PEJABAT TUN

PERADILAN DI INDONESIA

TERBUKA UNTUK UMUM :


FORMAL HARUS DINYATAKAN
TERTUTUP BILA MEMERIKSA KASUS
KEJAHATAN SEKSUAL

HAKIM, JPU, PEMBELA PAKAI TOGA


KECUALI PADA PERADILAN ANAK

DIBAWAH MAHKAMAH AGUNG,


BAIK TEKNIS MAUPUN ADMINISTRATIF

PRADUGA TAK BERSALAH

PIDANA

vs

Individu vs Publik
Publik diwakili Penyidik,
Penuntut Umum
Pembuktian : P.U.
Penengah : Hakim,
sistem Juri
UU : KUHP, KUHAP, dll
Kebenaran materiel
Kepastian : beyond
reasonable doubt
Sanksi : Mati, SH,
Penjara, Sita, Denda

PERDATA

Individu vs Individu
Dapat diwakili
pengacara
Pembuktian : penggugat
Penengah : hakim
UU : KUHPer, KUHD, UU
PT, dll
Kebenaran formil
Kepastian : preponderance of evidences
Sanksi : Ganti rugi,
rehabilitasi

BEBAN PEMBUKTIAN

BERADA DI PENUNTUT (Pidana) /


PENGGUGAT (Perdata)
Asas Praduga Tak Bersalah

TERSANGKA / TERDAKWA TIDAK


DIBEBANI PEMBUKTIAN
TIDAK BOLEH ADA PEMAKSAAN /
PELANGGARAN HAK ASASI
BOLEH DIAM SAJA (Miranda Rule :
You have the right to remain silent )

JENIS KEBENARAN

PADA PERDATA :
CUKUP KEBENARAN FORMIL, YAITU
BERDASAR BUKTI YANG SECARA
FORMIL TAMPAK,
TAK DIPERSOALKAN BAGAIMANA BUKTI
FORMIL TSB DIPEROLEH

PADA PIDANA :
HARUS KEBENARAN MATERIEL,
APA, BAGAIMANA, DAN MENGAPA
PERISTIWA TERJADI

KEBENARAN MATERIEL

A BERBUAT DAN B MATI


KEMUNGKINAN :
TAK ADA HUB. KAUSAL (co-incidental)
AKSIDENTAL (risk, unforeseeable)
KELALAIAN (culpa)
SENGAJA (dolus) :
NIATNYA ?
BELA DIRI ?

TINGKAT KEPASTIAN

PERDATA :
PREPONDERANCE OF EVIDENCE
TIMBANGAN 51 - 49 SUDAH CUKUP

PIDANA :
BEYOND REASONABLE DOUBT
MENDEKATI KEPASTIAN ( > 95 % )
TAK ADA LAGI KERAGUAN YANG
BERALASAN

PERADILAN
PIDANA

PROSES PERADILAN PIDANA

PENYIDIKAN :
POLISI (DAPAT KOORD. DENGAN PPNS)
JAKSA UNTUK PIDANA KORUPSI,
SUBVERSI

PENUNTUTAN :
JAKSA P.U.

PEMERIKSAAN DI PERSIDANGAN
HAKIM

EKSEKUSI PUTUSAN HAKIM


JAKSA

TERMINOLOGI

PENYELIDIKAN : mencari dan


menemukan peristiwa yang diduga
tindak pidana
PENYIDIKAN : mencari dan mengumpulkan bukti yang membuat terang
tindak pidana dan menemukan
tersangka (dugaan pidana sudah ada)
TERSANGKA : berdasarkan bukti
permulaan patut diduga sebagai pelaku

TERDAKWA : tersangka yang


dituntut, diperiksa dan diadili
PENGGELEDAHAN BADAN :
pemeriksaan badan dan atau
pakaian tersangka untuk mencari
benda yang diduga keras ada
padanya, untuk disita
PENANGKAPAN : 24 jam
PENAHANAN : pengekangan
sementara kebebasan tersangka
sebelum putusan pengadilan

LAPORAN : pemberitahuan oleh


seseorang oleh karena hak atau
kewajibannya tentang telah/sedang/
diduga akan terjadi suatu pidana
PENGADUAN : pemberitahuan disertai
permintaan menindak oleh pihak
yang berkepentingan
KETERANGAN AHLI : keterangan yang
diberikan oleh seseorang yang
memiliki keahlian khusus tentang hal
untuk membuat terang suatu perkara

PEMBUKTIAN

ADALAH UPAYA MEMBUKTIKAN


BAHWA BENAR TELAH TERJADI
SUATU TINDAK PIDANA, DAN
BAHWA BENAR SI TERDAKWA
ADALAH PELAKU TINDAK
PIDANA TERSEBUT.

SISTEM / TEORI
PEMBUKTIAN
1. POSITIEF WETTELIJKE BEWIJS THEORIE
HANYA BERDASAR UNDANG-UNDANG POS.
SUBYEKTIF HAKIM TIDAK ADA
DIANUT EROPA PD ZAMAN INQUISITOIR

2. CONVICTION INTIME = BERDASARKAN


KEYAKINAN HAKIM MELULU
DIANUT PERADILAN JURY PERANCIS,
PENGADILAN DISTRIK DI INDONESIA

SISTEM / TEORI
PEMBUKTIAN
3. LA CONVICTION RAISONNEE =
BERDASARKAN KEYAKINAN HAKIM
DENGAN ALASAN YANG LOGIS
KEYAKINAN HAKIM TERBATAS

4.NEGATIEF WETTELIJKE BEWIJSTHEORIE


BUKTI SESUAI UNDANG-UNDANG
KEYAKINAN HAKIM
DIANUT KEBANYAKAN NEGARA, TERMASUK
INDONESIA

SISTEM PEMBUKTIAN
DI INDONESIA
PS 183 KUHAP :
MINIMAL 2 ALAT BUKTI SAH +
KEYAKINAN HAKIM

NEGATIEF WETTELIJKE BEWIJS THEORIE

PRINSIP KRIMINALISTIK

dalam upaya menemukan bukti

PRINSIP LOCARD :
EVERY CONTACT LEAVES A TRACE

PRINSIP INDIVIDUALITAS :
DUA OBYEK MUNGKIN TIDAK DAPAT
DIBEDAKAN, TETAPI TIDAK ADA DUA
OBYEK YANG IDENTIK

Apabila tidak ada dua benda atau


orang yang identik, maka jejak
benda / orangnya pun berbeda

BUKTI = EVIDENCE

JENIS :
DIRECT : secara langsung membuktikan
adanya tindak pidana atau identitas pelaku
INDIRECT : tidak secara langsung, namun
beberapa bukti yang terpisah-pisah
berhubungan satu sama lain, sehingga
membuktikan (circumstantial)

BUKTI LANGSUNG

TERTANGKAP TANGAN

SAKSI MATA : UMUM

BUKTI SIRKUMSTANSIAL

SAKSI AHLI

SIDIK JARI,

BARANG BUKTI

GOL.DARAH

TRACE
EVIDENCES

DNA

SAKSI TAK LANGSUNG

EVIDENCE vs PROOF
BUKTI vs PEMBUKTIAN
BUKTI DIAJUKAN
KE PERSIDANGAN DALAM
BENTUK
ALAT BUKTI YANG SAH

ALAT BUKTI SAH


PASAL 184 KUHAP :
KETERANGAN SAKSI
KETERANGAN AHLI
SURAT
PETUNJUK
KETERANGAN TERDAKWA
Hal yg umum diketahui tak perlu dibuktikan

KETERANGAN SAKSI
(PASAL 185 KUHAP)

YG SAKSI NYATAKAN DI SIDANG


TENTANG YG DIALAMI, DILIHAT,
DIDENGAR SENDIRI
UNUS TESTIS NULLUM TESTIS
SATU SAKSI + ABS LAIN = ABS
PENDAPAT / REKAAN : TAK
DIBENARKAN
SAKSI HARUS KOMPETEN
SAKSI TAK DISUMPAH : BUKAN ABS

KETERANGAN AHLI
(PASAL 186 KUHAP)

YG AHLI NYATAKAN DI SIDANG


DAPAT DIBERIKAN PADA WAKTU
PEMERIKSAAN OLEH PENYIDIK / P.U.
DALAM BENTUK LAPORAN DENGAN
MENGINGAT SUMPAH
(B.A.P. SAKSI AHLI)

DAPAT MEMBERIKAN PENDAPAT


SESUAI KEAHLIANNYA,
BERDASARKAN DATA YG BENAR

Admissibility ...

Sesuaikah bidang keilmuan si ahli ?


Cukupkah kualifikasinya untuk
membuat pendapat tersebut ?
Jenis informasi apa yang digunakan
sebagai dasar membuat pendapat ?
Bagaimana konsensus masyarakat
ilmuwan di bidangnya ?
Adakah limitasinya ?

Daubert
CIRI ILMIAH :
DAPAT DIUJI
TELAH DIBAHAS OLEH PEER /
DIPUBLIKASIKAN
MEMILIKI ANGKA KESALAHAN YG
POTENSIAL
TINGKAT PENERIMAAN YG CUKUP DI
KALANGAN MASY. ILMIAH TERKAIT

SURAT

(PASAL 187 KUHAP)

DIBUAT BERDASARKAN SUMPAH


ATAU DIKUATKAN SUMPAH
MISAL :
B.A. YG DIBUAT PEJABAT UMUM (AKTE)
SURAT YG DIBUAT BERDASARKAN
PROSEDUR YG BERLAKU (REKAM MEDIS)
KETERANGAN AHLI ATAS PERMINTAAN
RESMI (mis. Visum et Repertum)
SURAT-SURAT LAIN

PETUNJUK

(PASAL 188 KUHAP)

PERBUATAN ATAU KEJADIAN ATAU


KEADAAN YG KARENA
PERSESUAIANNYA, BAIK ANTARA
SATU DENGAN LAIN, ATAU DENGAN
PERKARANYA, MEMBUKTIKAN
BERASAL DARI :
KETERANGAN SAKSI
SURAT
KETERANGAN TERDAKWA

KETERANGAN TERDAKWA
(PASAL 189 KUHAP)

YG TERDAKWA NYATAKAN DI SIDANG


TENTANG PERBUATAN YG IA
LAKUKAN, KETAHUI ATAU ALAMI
DAPAT MEMBENARKAN ATAUPUN
MENGINGKARI DAKWAAN
TAK BOLEH SAKSI MAHKOTA
HANYA KET. TERDAKWA TAK DAPAT
MEMBUAT PUTUSAN

SAKSI AHLI

A PERSON IS QUALIFIED TO TESTIFY AS


AN EXPERT IF HE HAS SPECIAL
KNOWLEDGE, SKILL, EXPERIENCE,
TRAINING, OR EDUCATION SUFFICIENT
TO QUALIFY HIM AS AN EXPERT ON THE
SUBJECT TO WHICH HIS TESTIMONY
RELATES

KUALIFIKASI AHLI

DITENTUKAN OLEH HAKIM


TIDAK DIATUR DALAM UU
DIPERLUKAN KOMPETENSI :
HASIL PENDIDIKAN / PELATIHAN
LAMANYA TIDAK DITENTUKAN

KEWENANGAN DITENTUKAN OLEH


DITUNJUKNYA OLEH HAKIM

SIKAP SAKSI AHLI

JUJUR
OBYEKTIF
MENYELURUH
ILMIAH
IMPARSIAL

RAPI, SANTUN, SIAP, TEGAS & YAKIN

PEMBUKTIAN ILMIAH

BIASANYA BUKTI SIRKUMSTANSIAL


MEMBUKTIKAN :
TELAH TERJADI TINDAK PIDANA :
mis. sebab mati, bukti disetubuhi, bukti
kekerasan, dll
SIAPA PELAKU TINDAK PIDANA :
mis. sidik jari, sidik DNA, proyektil

PROOF

BAHWA BENAR TELAH TERJADI


TINDAK PIDANA
ACTUS REUS, MENS REA
KAUSALITAS

BAHWA BENAR TERDAKWA ADALAH


PELAKUNYA
IDENTIFIKASI KORBAN
IDENTIFIKASI PELAKU
DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN

ACTUS REUS MENS REA

ACTUS REUS
TERJADI TINDAK MELAWAN HUKUM
KEJAHATAN / PELANGGARAN

MENS REA
SUASANA KEBATINAN PELAKU
DAPAT KESENGAJAAN (DOLUS)
DAPAT KELALAIAN (CULPA)

KAUSALITAS

PENENTUAN KAUSALITAS

ANALISIS BUT-FOR (JIKA TIDAK..)


SIMPLIFIKASI
ABAIKAN KEJELASAN DAN SPESIFISITAS

FORESEEABILITY
PROXIMATE CAUSE
in jure non remota causa, sed proxima
spectatur

CAUSE IN FACT dan RES IPSA LOQUITUR


the thing speaks for it self

KESIMPULAN

KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU


YANG TERKAIT DAPAT MEMBANTU
PERADILAN / KEADILAN
DALAM MENERAPKAN ILMU
FORENSIK HARUS PERHATIKAN
PROSEDUR, RELEVANSI, AKURASI,
DAN ANALISIS ILMIAH