Anda di halaman 1dari 7

1.

Definisi Rhinosinusitis kronis


Rhinosinusitis adalah radang mukosa hidung dan sinus paranasal sedangkan
Rhinosinusitis kronik didefinisikan sebagai suatu inflamasi dari hidung dan mukosa sinus
paranasal dengan durasi lebih dari 12 minggu. Sinusitis diberi nama sesuai dengan sinus yang
terkena. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis. Bila mengenai semua sinus
paranasalis disebut pansinusitis.
2. Epidemiologi
Rinosinusitis kronis merupakan inflamasi kronis hidung dan sinus paranasal yang sering
dilaporkan pada kunjungan berobat baik pada dokter umum maupun dokter ahli THT.5,6 Di
Indonesia, prevalensi rinosinusitis kronis pada tahun 2004 dilaporkan sebesar 12,6% dengan
perkiraan sebanyak 30 juta penduduk menderita rinosinusitis kronis.
3. Anatomi Dan Fisiologi Sinus Paranasal
Sinus paranasal dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok anterior yang terdiri
dari sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior yang bermuara pada meatus media,
dan kelompok posterior yang terdiri dari sinus ethmoid posterior bermuara pada meatus
superior dan sinus sfenoid yang bermuara pada resesus sfenoethmoidalis.

Gambar 1, Anatomi sinus Paranasal


A. Sinus Maksila

Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila
bervolume 6 8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai
ukuran maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa. Sinus maksila berbentuk segitiga. Dinding
anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila yang disebut fossa kanina, dinding
posteriornya adalah permukaan infra-temporal maksila, dinding medialnya ialah dinding
lateral rongga hidung, dinding superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah
prosesus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding
medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid. Suplai darah
terbanyak melalui cabang dari arteri maksilaris. Inervasi mukosa sinus melalui cabang dari
nervus maksilaris.
B. Sinus Frontal
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan keempat fetus,
berasal dari sel sel resessus frontal atau dari sel sel infundibulum etmoid. Ukuran sinus
frontal adalah 2,8 cm tingginya, lebarnya 2,4 cm, dan dalamnya 2 cm. Sinus frontal biasanya
bersekat sekat dan tepi sinus berlekuk lekuk. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang
relatif tipis dari orbita dan fossa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah
menjalar ke daerah ini. Sinus frontal berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di resessus
frontal. Resessus frontal adalah bagian dari sinus etmoid anterior.
Suplai darah diperoleh dari arteri supraorbital dan arteri supratrochlear yang berasal dari
arteri oftalmika yang merupakan salah satu cabang dari arteri carotis interna. Inervasi mukosa
disuplai oleh cabang supraorbital dan

supratrochlear cabang dari nervus frontalis yang

berasal dari nervus trigeminus.


C. Sinus Etmoid
Pada orang dewasa sinus etmoid seperti piramid dengan dasarnya di bagian posterior.
Ukurannya dari anterior ke posterior 4,5 cm, tinggi 2,4 cm, dan lebarnya 0,5 cm di bagian
anterior dan 1,5 cm di bagian posterior. Sinus etmoid berongga rongga, terdiri dari sel sel
yang menyerupai sarang tawon, yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang
terletak diantara konka media dan dinding medial orbita. Sel sel ini jumlahnya bervariasi
antara 4 17 sel (rata rata 9 sel).
Berdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara
di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior. Sel sel

sinus etmoid anterior biasanya kecil kecil dan banyak, letaknya dibawah perlekatan konka
media, sedangkan sel sel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar dan lebih sedikit
jumlahnya dan terletak di postero-superior dari perlekatan konka media. Di bagian terdepan
sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut resessus frontal, yang berhubungan
dengan sinus frontal. Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan
lamina kribosa. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan
membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. Di bagian belakang sinus etmoid posterior
berbatasan dengan sinus sfenoid.
Suplai darah berasal dari cabang nasal dari arteri sphenopalatina. Inervasi mukosa berasal
dari divisi oftalmika dan maksilaris nervus trigeminus.
D. Sinus Sfenoid
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus sfenoid
dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya adalah 2 cm tingginya,
dalamnya 2,3 cm dan lebarnya 1,7 cm. Volumenya bervariasi dari 5 7,5 ml.
Bagian atas rongga hidung mendapat perdarahan dari arteri etmoid anterior dan posterior
yang merupakan cabang dari arteri oftalmikus, sedangkan arteri oftalmikus berasal dari arteri
karotis interna. Yang penting ialah arteri sphenopalatina dan ujung dari arteri palatina mayor.
Bagian depan dan atas dari rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari nervus
etmoid anterior yang merupakan cabang dari nervus nasosiliaris, yang berasal dari nervus
oftalmikus (nervus V 1). Rongga hidung lainnya sebagian besar mendapatkan persarafan
sensoris dari nervus maksilla melalui ganglion sphenopalatina. Ganglion sphenopalatina
disamping memberikan persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor/ otonom
pada mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut serabut sensoris dari nervus maksila
(nervus V 2), serabut parasimpatis dari nervus petrosis superfisialis mayor, dan serabut
serabut simpatis dari nervus petrosus profundus. Ganglion sphenopalatina terletak di
belakang dan sedikit diatas dari ujung posterior konka media
Kompleks Ostiomeatal (KOM)
Kompleks ostiomeatal (KOM) terdiri dari sel-sel udara dari etmoid anterior dan
ostiumnya, infundibulum etmoid, ostium sinus maksila, ostium sinus frontal dan meatus media,
seperti terlihat pada gambar 2.9 Struktur lain yang juga merupakan KOM adalah sel agger nasi,
prosesus unsinatus, bula etmoid, hiatus semilunaris inferior dan konka media. Secara fungsional,

KOM berperan sebagai jalur drainase dan ventilasi untuk sinus frontal, maksila dan etmoid
anterior.13

Gambar 2. Kompleks ostiomeatal (KOM), potongan koronal9

Fungsi Sinus Paranasal


Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara lain :
a. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk mamanaskan dan mengatur kelembaban
udara inspirasi. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume
sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk pertukaran udara total
dalam sinus
b. Sebagai panahan suhu (thermal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai (buffer) panas, melindungi orbita dan fossa serebri
dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah.
c. Membantu keseimbangan kepala

Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan
tetapi, bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan memberikan pertambahan berat
sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini tidak dianggap bermakana.
d. Membantu resonansi udara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi udara dan mempengaruhi
kualitas udara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak
memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonansi yang efektif.
e. Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini akan berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak,
misalnya pada waktu bersin dan beringus.
f. Membantu produksi mukus
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan
dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk
membersihkan partikel yang turut masuk dalam udara.

4. Etiologi dan patogenesis


Kegagalan transport mukus dan menurunnya ventilasi sinus merupakan faktor utama
berkembangnya sinusitis. Patofisiologi rinosinusitis digambarkan sebagai lingkaran tetutup,
dimulai dengan inflamasi mukosa hidung khususnya kompleks ostiomeatal (KOM). Secara
skematik patofisiologi rinosinusitis sebagai berikut:73
a. Inflamasi mukosa hidung ->
b. pembengkakan (udem) dan eksudasi ->
c. obstruksi (blokade) ostium sinus -
d. gangguan ventilasi & drainase, resorpsi oksigen yang ada di rongga sinus ->
e. hipoksi (oksigen menurun, pH menurun, tekanan negatif) ->
f. permeabilitas kapiler meningkat, sekresi kelenjar meningkat -Mransudasi, peningkatan
eksudasi serus, penurunan fungsi silia ->
g. retensi sekresi di sinus dan terjadi pertumbuhan kuman.

Sebagian besar kasus rinosinusitis disebabkan karena inflamasi akibat dari infeksi virus dan
rinitis alergi.9-16 Infeksi virus yang menyerang hidung dan sinus paranasal menyebabkan udem

mukosa dengan tingkat keparahan yang berbeda. Virus penyebab tersering adalah coronavirus,
rhinovirus, virus influenza A, dan respiratory syncytial virus (RSV). Selain jenis virus, keparahan
udem mukosa bergantung pada kerentanan individu. Infeksi virus influenza A dan RSV biasanya
menimbulkan udem berat. Udem mukosa akan menyebabkan obstruksi ostium sinus sehingga
sekresi sinus normal menjadi terjebak (sinus stasis). Pada keadaan ini ventilasi dan drainase sinus
masih mungkin dapat kembali normal, baik secara spontan atau efek dari obat-obat yang
diberikan sehingga terjadi kesembuhan. Apabila obstruksi ostium sinus tidak segera diatasi
(obstruksi total) maka dapat terjadi pertumbuhan bakteri sekunder pada mukosa dan cairan sinus
paranasal. Sekitar 0,5% - 5% dari rinosinusitis virus (RSV) pada dewasa berkembang menjadi
rinosinusitis akut bakterial, sedangkan pada hanya sekitar 5 % - 10% saja. Peneliti lain
mengatakan, infeksi saluran napas atas akut yang disertai komplikasi rinosinusitis akut bakterial
tidak lebih dari 13%.
Bakteri yang paling sering dijumpai pada rinosinusitis akut dewasa adalah Streptococcus
pneumoniae dan Haemaphilus influenzae, sedangkan pada anak Branhamella (Moraxella)
catarrhalis.iU-y-n-15 Bakteri ini kebanyakan ditemukan di saluran napas atas, dan umumnya
tidak menjadi patogen kecuali bila lingkungan disekitarnya menjadi kondusif untuk
pertumbuhannya. Pada saat respons inflamasi terus berlanjutdan respons bakteri mengambil alih,
lingkungan sinus berubah ke keadaan yang lebih anaerobik. Flora bakteri menjadi semakin
banyak (polimikrobial) dengan masuknya kuman anaerob, Streptococcus pyogenes (microaerophilic streptococci), -dan Staphylococcus aureus. Perubahan lingkungan bakteri ini dapat
menyebabkan peningkatan organisme yang resisten dan menurunkan efektivitas antibiotik akibat
ketidakmampuan antibiotik mencapai sinus.3 Infeksi menyebabkan 30% mukosa kolumnar
bersilia mengalami perubahan metaplastik menjadi mucus secreting goblet cells, sehingga efusi
sinus makin meningkat.
Pada pasien rinitis alergi, alergen menyebabkan respons inflamasi dengan memicu rangkaian
peristiwa yang berefek pelepasan mediator kimia dan mengaktifkan sel inflamasi. Limfosit Thelper 2 (Th-2) menjadi aktif dan melepaskan sejumlah sitokin yang berefek aktivasi sel
mastosit, sel B dan eosinofil. Berbagai sel ini kemudian melanjutkan respons inflamasi dengan
melepaskan lebih banyak mediator kimia yang menyebabkan udem mukosa dan obstruksi ostium
sinus. Rangkaian reaksi alergi ini akhirnya membentuk lingkungan yang kondusif untuk
pertumbuhan bakteri sekunder seperti halnya pada infeksi virus.

Klirens dan ventilasi sinus yang normal memerlukan mukosa yang sehat. Inflamasi yang
berlangsung Lama (kronik) sering berakibat penebalan mukosa disertai kerusakan silia sehingga
ostium sinus makin buntu. Mukosa yang tidak dapat kembali normal setelah inflamasi akut dapat
menyebabkan gejala persisten dan-mengarah pada rinosinusitis kronik (gambar 5). Bakten yang
sering dijumpai pada rinosinusitis kronik adalah Staphylococcus coagulase negative (51%),
Staphylococcus aureus (20%), anaerob (3%), Streptococcus pneumoniae, dan bakteri yang sering
dijumpai pada rinosinusitis akut bacterial

Daftar Pustaka
1. Campbell GD. Pathophysiology of Rhinosinusitis. In: (Adult chronic sinusitis and its
complication). Pulmonary critical care update (PCCU), 2004 :16, lesson 20,7
2. Budiman, Bestari j, Rossy Rosalinda. Bedah Sinus Endoskopi Fungsional Revisi Pada
Rinosinusitis Kronis. Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil Padang. 2011. Diunduh dari
http://repository.unand.ac.id/18398/ Pada 28 desember 2014 23.22.
3. Soetjipto, Darmayanti, E.Mangunkusumo . Sinus Parasanal Dalam soepardy A. dkk (Edisi ke
emam). Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Balai Penerbit FK UI Jakarta 2011 ;145-54