Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI I


PERCOBAAN
SISTEM SARAF OTONOM

OLEH :

KELOMPOK

: I (SATU)

GOLONGAN

: FARMASI A2

ASISTEN

: NUR UTAMY AGUS BUDY

LABORATORIUM BIOFARMASI
JURUSAN FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

SAMATA-GOWA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem saraf otonom disusn oleh serabut saraf yang berasal dari otak. Fungsi
sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan ( antagonis ). Dua
perangkat neuron dalam komponen otonom pada sistem saraf perifer adalah
neuron aferen atau sensorik dan neuron eferen atau motorik. Neuron aferen
mengirimkan impuls ke SSP (Sistem Saraf Pusat), di mana impuls itu
diinterprestasikan. Neuron eferen menerima impuls (informasi) dari otak dan
meneruskan impuls ini melalui medulla spinalis ke sel-sel organ efektor. Jalur
eferen dalam sistem saraf otonom dibagi menjadi dua cabang yaitu saraf simpatis
dan saraf parasimpatis.
Dimana kedua sistem saraf ini bekerja pada organ-organ yang sama tetapi
menghasilkan

respon

yang

berlawanan

agar

tercapainya

homeostatis

(keseimbangan). Kerja obat-obat pada sistem saraf simpatis dan sistem


parasimpatis dapat berupa respon yang merangsang atau menekan.
Dalam dunia farmasi sangat erat hubungannya dengan farmakologi
toksikologi karena kita dapat mengetahui mekanisme kerja obat dan efek
farmakologi dalam tubuh kita. Dari uraian diatas, maka dilakukanlah percobaan
Sistem Saraf Otonom ini.

B. Maksud dan Tujuan Percobaan


1. Maksud percobaan
Mengetahui dan memahami efek obat yang bekerja pada sistem saraf otonom
terhadap hewan coba.
2. Tujuan percobaan
Mengetahui efek pemberian dari adrenalin, propanolol, pilokarpin, atropin,
dengan melihat dan memperhatikan respon atau efek yang ditimbulkan pada
mencit.
C. Prinsip Percobaan
Menentukan obat adrenergik, anti adrenergik, kolinergik, dan anti kolinergik,
dari adrenalin yang diberikan secara intra peritorial, propanolol diberikan secara
oral begitupun pilokarpin dan atropin berdasarkan respon dari efek yang
diperlihatkan oleh hewan coba yakni mencit yang berupa vasodilatasi,
bronkodilatasi,

vasokontriksi,

bronkokontriksi,

tremor,

straub,

grooming,

eksoftalamus, berkeringat dan diare dengan memperlihatkan waktunya yaitu menit


0, 15, 30, 45, dan 60 menit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Umum
Sistem Saraf Otonom selanjutnya disebut SSO. Sistem ini merupakan sistem
saraf eferen (motorik) yang mempersarafi organ-organ dalam seperti otot-otot
polos, otot jantung, dan berbagai kelenjar. Sistem ini melakukan fungsi kontrol,
kontrol tekanan darah, motilitas gastrointestinal, sekresi gastrointestinal,
pengosongan kandung kemih, proses berkeringat, suhu tubuh, dan beberapa fungsi
lain. Karakteristik utama SSO adalah kemampuan mempengaruhi yang sangat
cepat (misal: dalam beberapa detik saja denyut jantung dapat meningkat hampir
dua kali semula, demikian juga dengan tekanan darah dalam belasan detik,
berkeringat yang dapat terlihat setelah dipicu dalam beberapa detik, juga
pengosongan kandung kemih). Sifat ini menjadikan SSO tepat untuk melakukan
pengendalian terhadap homeostasis mengingat gangguan terhadap homeostasis
dapat memengaruhi seluruh sistem tubuh manusia. Dengan demikian, SSO
merupakan komponen dari refleks visceral (Ganiswara. 1995 : 34-40).
Sebagai konsekuensi bahwa ada keterlibatan sistem saraf pusat terhadap
sistem saraf perifer, termasuk SSO, dikenal beberapa pusat integrasi dan
pengendalian informasi sebelum diteruskan ke SSO, seperti medulla spinalis,
batang otak, dan hipotalamus. Misalnya: medulla spinalis bertanggung jawab
untuk persarafan otonom yang memengaruhi sistem kardiovaskular dan respirasi,
hipotalamus berfungsi untuk mengintegrasikan persarafan otonom, somatik, dan
hormonal (endokrin) dan emosi serta tingkah laku (misal: seseorang yang marah
meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, dan laju respirasi). Di samping itu,
daerah asosiasi prefrontal mempengaruhi ekspresi emosional, seperti wajah yang
menampakkan kesan kemerahan apabila seseorang merasa malu (Ganiswara. 1995
: 34-42).
Refleks visceral, sama seperti refleks somatik lainnya, terdiri atas komponen
reseptor, integrasi, dan efektor. Pembeda refleks visceral dengan refleks somatik
adalah informasi reseptor refleks visceral diterima secara bawah sadar

(subconscious). Anda tidak akan pernah tahu kapan pembuluh darah Anda
melebar (kecuali ketika Anda melihat kulit yang kemerahan). Contoh lain, Anda
juga tidak akan pernah tahu kapan pupil mata anda melebar, kecuali anda melihat
ke cermin. Informasi-informasi seperti ini tidak diketahui secara sadar, dan
merupakan bagian dari refleks visceral. Meskipun demikian, reseptor refleks ini
tidak harus bersifat visceral (Guyton. 2006 : 34-35).
Perjalanan SSO dimulai dari persarafan sistem saraf pusat (selanjutnya
disebut SSP). Neuron orde pertama berada di SSP, baik di sisi lateral medulla
spinalis maupun di batang otak. Akson neuron orde pertama ini disebut dengan
serabut preganglion (preganglionic fiber). Serabut ini bersinaps dengan badan sel
neuron orde kedua yang terletak di dalam ganglion. Serabut pascaganglion
menangkap sinyal dari serabut preganglion melalui neurotransmiter yang
dilepaskan oleh serabut preganglion. Seperti yang telah diketahui, ganglion
merupakan kumpulan badan sel yang terletak di luar SSP. Akson neuron orde
kedua, yang disebut dengan serabut pascaganglion (postganglionic fiber) muncul
dari ganglion menuju organ yang akan diinervasi. Organ efektor menerima impuls
melalui pelepasan neurotransmiter oleh serabut pascaganglion. Kecuali untuk
medulla adrenal, baik sistem saraf simpatis dan parasimpatis mengikuti pola
seperti yang telah dijelaskan di atas (Mycek. 1987: 27-28).
Persarafan simpatis dan parasimpatis sesungguhnya bekerja bersamaan.
Namun demikian, ada suatu kondisi yang memungkinkan simpatis lebih dominan
dari parasimpatis, atau sebaliknya. Keduanya bekerja dengan suatu aktivitas
parsial yang dinamakan tonus simpatis dan parasimpatis, atau aktivitas tonus.
Namun demikian, ada suatu situasi yang mampu memicu persarafan yang satu
menjadi lebih aktif dari yang lain (Mycek. 1987: 27-28).
Divisi parasimpatis, atau disebut divisi kraniosakral, berasal dari sistem
saraf pusat melalui saraf kranial III (okulomotor), VII (fasial), IX (glosofaringeal),
dan X (vagus). Selain berasal dari saraf kranial, saraf parasimpatis juga berasal
dari medulla spinalis bagian bawah, yakni melalui S2 dan S3 (atau S4). Hampir
serabut parasimpatis berada bersama-sama dengan saraf vagus (X), masuk ke

daerah torakal dan abdominal untuk mempersarafi organ visceral ini (Evelyn.
2002 : 45-48).
Divisi parasimpatis yang berasal dari n.III keluar dan mempersarafi sfingter
pupil dan otot siliar mata, sementara yang berasal dari n.VII mempersarafi
kelenjar lakrimal, nasal, dan submandibular, n.IX mempersarafi kelenjar parotis,
serta n.X mempersarafi jantung, paru-paru, esophagus, lambung, usus halus, hati,
kantung empedu, pankreas, ginjal, bagian proksimal kolon, serta bagian atas
ureter. Divisi parasimpatis memiliki ganglion yang berada dekat dengan organ
efektor, semisal ganglion siiar, sfenopalatina, submandibular, sublingual, otak,
ganglion-ganglion yang berada di organ efektor (misalnya untuk organ jantung,
otot bronkus, lambung, kantung empedu). Bagian dari S2 dan S3 keluar
membentuk jalinan splankik pelvis, serta mempersarafi bagian rektum, kandung
kemih, ureter, dan alat kelamin wanita dan pria (Evelyn. 2002 : 45-50).
Serabut preganglion parasimpatis melepaskan neurotransmitter asetilkolin
(ACh) yang ditangkap oleh reseptor kolinergik nikotinik badan sel pascaganglion.
Efek dari penangkapan ACh oleh reseptor nikotinik menyebabkan pembukaan
kanal ion nonspesifik, menyebabkan influx terutama ion Na+. Setelah itu, serabut
pascaganglion parasimpatis menghasilan juga asetilkolin yang ditangkap oleh
reseptor kolinergik muskarinik yang terdapat di semua organ efektor parasimpatis.
Penempelan ACh dengan reseptor muskarinik mengaktifkan protein G, dan dapat
menginhibisi atau mengeksitasi organ efektor (Pringgodigdo. 1977: 127-128).
Divisi simpatis, atau disebut juga divisi torakolumbal, berasal dari sistem
saraf pusat melalui segmen medulla spinalis T1 hingga L2.4 Dari segmen T1
hingga T2 mempersarafi organ visceral di daerah leher, T3 hingga T6 menuju
daerah toraks, T7 hingga T11 menuju abdomen, dan T12 hingga L2 menuju ke
ekstremitas bawah. Saraf simpatis lebih rumit dibandingkan saraf parasimpatis
karena mempersarafi lebih banyak organ (Pringgodigdo. 1977: 127-129).
Setelah meninggalkan medulla spinalis melalui akar ventral, serabut
preganglion melewati white ramus communicans, lalu masuk ke rantai ganglion
simpatik (sympathetic trunk ganglion). Karena letaknya dekat dengan vertebrae,
disebut juga dengan ganglia paravertebral. Selanjutnya, ada tiga cabang, yakni: (1)

bersinaps dengan neuron orde dua di ganglion yang sama; (2) naik atau turun
rantai ganglion simpatis dan bersinaps di sana; (3) tidak bersinaps, hanya
melewati rantai ganglion simpatis dan keluar bersinaps dengan ganglion kolateral
(ganglion pravertebra), yang secara khusus disebut saraf splanknik . Ganglion
kolateral ini terletak di daerah abdomen dan pelvis dan tidak berpasangan seperti
ganglia simpatis lain.
Serabut preganglion yang bersinaps di rantai ganglia simpatis berlanjut
dengan serabut pascaganglion yang masuk ke akar dorsal melalui saraf spinal
yang berkesesuaian melalui gray rami communicantes. Dari sini, serabut
pascaganglion meneruskan perjalanan untuk menuju organ efektor. Sepanjang
jalur serabut postanglion dapat mempersarafi pembuluh darah dan otot polos
sebelum tiba ke organ efektor akhir.
Terdapat beberapa ganglion selain ganglion kolateral dan rantai ganglion
simpatis, di antaranya ganglion servikal superior yang berasal dari T1-T4 yang
naik untuk bersinaps di ganglion yang terletak di atas rantai ganglion simpatis ini.
Menginervasi pembuluh darah dan otot polos di bagian kepala, otot dilator mata,
lendir hidung dan kelenjar saliva, serta mengirimkan cabang yang menginervasi
jantung. Ganglion servikal merupaan ganglion yangmempersarafi organ visceral
di daerah toraks serta berasal dari T1 hingga T6. Ada yang membentuk jalinan
pleksus kardiak dan mempersarafi jantung, beberapa lainnya mempersarafi
kelenjar tiroid dan kulit. Ganglion kolateral seperti ganglion seliak, mesentrik
superior, mesentrik inferior dapat ditemukan sebagai kelanjutan dari saraf
splanknik yang tidak bersinaps di rantai ganglion simpatisSerabut preganglion
simpatis melepaskan neurotransmitter ACh yang ditangkap oleh reseptor nikotinik
yang berada di badan sel neuron pascaganglion.

B. Uraian Bahan
1. Air Pro Injeksi

( Dirjen POM, 1979 : 97)

Nama Resmi

: AQUA PRO INJECTION

Nama Lain

: Air untuk injeksi

Rumus molekul

: C17H21NO. HCl

Berat molekul

: 18,02

Rumus struktur

Pemerian

: Keasaman-kebasaan ; ammonium; besi; tembaga;


timbal; kalsium; klorida; nitrat; sulfat; zat
teroksidasi. Memenuhi syarat yang tertera pada
Aqua destillata.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup kedap. Jika disimpan dalam


wadah tertutup kapas berlemak harus digunakan
dalam waktu 3 hari setelah pembuatan.

Kegunaan

: Untuk pembuatan injeksi

2. Atropin Sulfat

(Dirjen POM, 1979 : 98)

Nama Resmi

: ATROPINI SULFAS

Nama Lain

: Atropina Sulfat

Rumus Molekul

: C23H46N2O6.H2SO4.H2O

Rumus struktur

Berat Molekul

: 694,85

Pemerian

: Hablur tidak berwarna atau serbuk putih; tidak


berbau; sangat pahit; sangat beracun.

Kelarutan

: Larut dalam kurang dari 1 bagian air dan dalam


lebih kurang 3 bagian etanol (90%) P; sukar larut
dalam kloroform P; praktis tidak larut dalam eter
P dan dalam benzene P.

Indikasi

: Keracunan

antikolinesterase,

keracunan

kolinergik, medikasi peranestetik (Farmakologi


FKUI, 2007 : 67)
Mekanisme Kerja

: Memiliki

afinitas

kuat

terhadap

reseptor

muskarinik, dimana obat ini terikat secara


kompetitif, sehingga mencegah asetilkolin terikat
pada

tempatnya

di

reseptor

muskarinik.

Mekanisme kerjanya pada mata, atropin menyekat


semua aktivitas kolinergik pada mata, sehingga
menimbulkan midriasis (dilatasi pupil). Pada
pasien dengan glaukoma , tekanan intraocular
akan meninggi secara membahayakan. (Mycek,
mary.j, 2001 ; 46)
Efek samping

: Muka merah, keracunan, pusing, mulut kering,


tidak dapat menelan, sukar berbicara dan perasaan
haus sekali karena air liur tidak ada, penglihatan
kabur (Mycek, mary.j.2001 : 47)

Dosis

: Sekali 1 mg, sehari 3 mg

Interaksi Obat

: Preparat beta-adrenergik dan xanthine, akan


memperkuat

efek

bronkodilatasi.

Efek

anti

kolinergik obat lain dapat ditingkatkan. (Doi,


2002 ; 774)
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari


cahaya.

Khasiat
3. Ephinefrin

: Parasimpatolitikum
(Dirjen POM, 1979 : 238)

Nama Resmi

: EPINEPHRINUM

Nama Lain

: Epinefrina, Adrenalina

Rumus Bangun

Rumus Molekul

: C9H13NO3

Berat Molekul

: 183,21

Pemerian

: Serbuk hablur renik, putih atau putih kuning


gading.

Kelarutan

: Agak sukar larut dalam air, tidak larut dalam


etanol (95%) P dan dalam eter P; mudah larut
dalam larutan asam mineral , dalam natrium
hidroksida P dan dalam kalium hidroksida P,
tetapi tidak larut dalam larutan ammonia dan
dalam alkali karbonat . Tidak stabil dalam alkali

atau netral, berubah menjadi merah jika kena


udara.
Indikasi

: Untuk

menghilangkan

bronkokonstriksi,

sesak

untuk

nafas

akibat

mengatasi

reaksi

hipersensitivitas terhadap obat, maupun alergen


lainnya dan untuk memperpanjang masa kerja
anastetik lokal (Farmakologi,FKUI, 2007; 69)
Mekanisme Kerja

: Disintesis dari tirosin dalam medula adrenalis dan


dilepas bersamaan dengan sedikit norepinefrin
masuk

ke

dalam

aliran

berinteraksi terhadap reseptor


Kerja utama

darah.

Epinefrin

dan reseptor

epinefrin adalah pada sistem

kardiovaskular. Senyawa ini memperkuat daya


kontraksi

otot

jantung

(miokard)

dan

mempercepat kontraksi otot miokard. Oleh sebab


itu, curah jantung meningkat pula. (Mycek, mary.
J, 2001 ; 61)
Efek Samping

: Menimbulkan gejala seperti perasaan takut,


khawatir, gelisah, tegang, nyeri kepala berdenyut,
tremor, rasa lemah, pusing, pucat, sukar bernafas
dan palpitasi. (Farmakologi,FKUI, 2007 ; 70)

Dosis

: 0,2-0,5 mg sekali

Interaksi Obat

: Dosis epinefrin yang besar dapat menimbulkan


perdarahan otak karena tekanan darah yang hebat.
Pemberian vasodilator kerja cepat seperti nitrat
atau natrium nitroprusid; - bloker juga berguna.
(Farmakologi FKUI, 2007 ; 69)

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat berisi nitrogen,


terlindung dari cahaya.

Khasiat
4. Na CMC

: Simpatomimetikum
(Dirjen POM, 1979 : 401)

Nama resmi

: NATRII CARBOXYMETHYLCELLULOSUM

Nama lain

: Natrium karboksimetilselulosa

Rumus molekul

: C23H48N2O6.H2SO4.H2O

Berat molekul

: 694,85

Pemerian

: Serbuk atau butiran; putih atau kuning gading ,


tidak

berbau

atau

hampir

tidak

berbau,

higroskopik.
Kelarutan

: Mudah

mendispersi

dalam

air,

membentuk

suspense koloidal; tidak larut dalam etanol (95%)


P, dalam eter P dan dalam pelarut organik lain.
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

: Pelarut obat

5. Metoklopramid
Nama Resmi

(Dirjen POM, 1995 : 555)


: METOCLOPRAMIDI HYDROCHLORIDUM

Nama Lain

: Metoklopramid Hidroklorida

Rumus Molekul

: C14H22CIN3O2.HCl.H2O

Rumus struktur

Berat Molekul

: 354,28

Pemerian

: Serbuk hablur, putih atau praktis putih; tidak


berbau atau praktis tidak berbau.

Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam air; mudah larut dalam


etanol (95%)P; agak sukar larut dalam kloroform
P; praktis tidak larut dalam eter P.

Indikasi

: Untuk

meringankan

(mengurangi

simptom

diabetik gastroparesis akut dan yang kambuh


kembali), juga digunakan untuk menanggulangi
mual, muntah metabolik karena obat sesudah
operasi, rasa terbakar yang berhubungan dengan
refluks esofagitis, tidak untuk mencegah motion
sickness (Mycek, 2001 ; 60).
Mekanisme Kerja

: Kerja dari metoklopramida pada saluran cerna


bagian atas mirip dengan obat kolinergik, tetapi
tidak seperti obat koliergik, metoklopramida tidak

dapat menstimulasi sekresi dari lambung, empedu


atau pankreas, dan tidak dapat mempengaruhi
konsentrasi gastrin serum. Cara kerja dari obat ini
tidak jelas, kemungkinan bekerja pada jaringan
yang

peka

terhadap

metoklopramida

pada

asetilkolin.
motilitas

Efek
usus

dari
tidak

tergantung pada persarafan nervus vagus, tetapi


dihambat

oleh

obat-obat

antikolinergik

(Mycek,mary, 2001 ; 61)


Efek samping

: Gangguan

penglihatan,

porfiria,

Neuroleptic

Malignant Syndrome (NMS), gangguan endokrin:


galaktore,

amenore,

sekunder,

hiperprolaktinemia,

kardiovaskular:

ginekomastia,

hipotensi,

impoten

efek

pada

hipertensi

supraventrikular, takikardia dan bradikardia. Efek


pada gastrointestinal: mual dan gangguan perut
terutama diare. Efek pada hati: hepatotoksisitas.
Efek pada ginjal: sering buang air, inkontinensi.
(Doi,2011 ; 1090)
Dosis

: Dewasa : sehari 3 kali 1 tablet (1 tablet = 10 mg)


Anak-anak usia 5-14 tahun : sehari 3 kali tablet (1
tablet = 10 mg). Diberikan 30 menit sebelum

makan dan waktu mau tidur. Atau menurut


petunjuk dokter.
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya.

Khasiat

: Parasimpatomimetikum

6. Propanolol

(Dirjen POM,1995: 709)

Nama Resmi

: PROPANOLOLI HYDROCHLORIDUM

Nama Lain

: Propanolol Hidroksida

Rumus molekul

: C16H21NO2.HCl

Berat molekul

: 295,81

Rumus molekul

: C16H21NO2HCl

Berat Molekul

: 295,81

Rumus bangun

OH
OCH2CHCH2NHCH2(CH2)2

Pemerian

: Serbuk hablur, putih atau hampir putih; tidak


berbau; rasa pahit

Kelarutan

: Larut dalam air dan etanol; sukar larut dalam


kloroform; praktis tidak larut dalam eter.

Indikasi

: Angina pektoris, glaukoma, hipertiroid, hipertensi,


infark miokard, migrein dan tremor esesnsial.
(Mycek, 2001 ; 75)

Mekanisme Kerja

: Prototipe antagonis adrenergik


baik resaptor

maupun

dan menyekat

. Sediaan lepas lambat

yang saat ini memungkinkan pemberian dosis


sekali per hari saja. Propanolol mengurangi curah
jantung yang mempunyai efek inotropik dan
kronotropik negatif. Obat ini bekerja langsung
menekan

aktivitas

sino-aurikular

dan

atrioventrikular. Akibat timbulnya bardikardia


ternyata membatasi besarnya dosis obat ini.
(Mycek, mary J, 2001 ; 74)
Efek samping

: Sebagian besar efek samping umumnya bersifat


ringan dan sementara, dan jarang timbul setelah
terapi dihentikan. (Doi, 2002 ; 417)

Kardiovaskular

: Gagal jantung, bardikardia, hipotensi, parestesia


pada

tangan,

memberatnya

blok

A-V,

trombositopenia purpura.
Sistem saraf pusat : Kepala terasa ringan, depresi mental dengan
manifestasi insomnia, lesu, lemah, letih, gangguan
penglihatan, emosi labil, daya ingat berkurang,
sindroma reversible akut ditandai disorientasi
waktu dan tempat.

Saluran cerna

: Mual, muntah, kembung, kejang perut, diare,


konstipasi, trombosis arteri mesentetika, kolitis
iskemik.

Saluran napas

: Bronkospasme

Lain-lain

: Alopesia, reaksi menyerupai LE, ruam kulit


psoriasiform, mata kejang, impotensia pada pria
dan penyakit peyronie jarang dilaporkan terjadi.
(Doi, 2002 ; 418)

Dosis

: Maksimum 329 mg sehari

Interaksi Obat

: Pasien yang mendapat obat-obat yang mendeplesi


katekolamin seperti reserpin, harus diobservasi
secara ketat jika diberi propanolol. Pemberian
antagonis kalsium teutama verapamil intravena
harus diberikan dengan hati-hati pada pasien yang
sedang mendapat adrenoreseptor-beta , karena
kedua obat dapat menekan kontraksi miokard.
Aluminium hidroksida gel sangat mengurangi
absorbs propanolol di usus. (Doi, 2002 ; 417)

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

: Antiadrenergikum.

C. Klasifikasi Dan Karakteristik Hewan Coba


1. Klasifikasi Hewan Coba
Mencit

(J Moekom, 1992 ; 103)

Kingdom

: Animalia

Phyllum

: Chordata

Subphyllum

: Vertebrata

Class

: Mammalia

Subclass

: Theria

Ordo

: Rodentia

Famili

: Muridae

Genus

: Mus

Species

: Mus musculus

2. Karakteristik Hewan Coba (Mangkoewidojo, 1988 ; 12)


- Konsumsi pakan per hari
- Konsumsi air minum per hari

5 g (umur 8 minggu)
6,7 ml (umur 8 minggu)

- Diet protein

20-25%

- Ekskresi urine per hari

0,5-1 ml

-Lama hidup

1,5 tahun

- Bobot badan dewasa


-

Jantan

25-40 g

Betina

20-40 g

Bobot lahir

1-1,5 g

- Dewasa kelamin (jantan=betina)


-Siklus estrus (menstruasi)

28-49 hari
4-5 hari (polyestrus)

- Umur sapih

21 hari

-Mulai makan pakan kering

10 hari

- Rasio kawin
- Jumlah kromosom
- Suhu rektal
- Laju respirasi

1 jantan 3 betina
40
37,5oC
163 x/mn

- Denyut jantung
- Pengambilan darah maksimum
- Jumlah sel darah merah (Erytrocyt)

310 840 x/mn


7,7 ml/Kg
8,7 10,5 X 106 / l

- Kadar haemoglobin(Hb)

13,4 g/dl

- Pack Cell Volume (PCV)

44%

- Jumlah sel darah putih (Leucocyte)

8,4 X 103 /l

BAB III
METODE KERJA
A. Alat dan Bahan yang digunakan
1.

Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah alu, erlenmeyer, gelas
ukur, gelas kimia, hot plate, kanula, lumpang, spoit injeksi, timbangan
analitik.

2.

Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah air suling, adrenalin,
aqua pro injenksi, asam sitrat, metoklopramid, Na-CMC, pilokarpin,
propanolol.

B. Cara kerja
1.

Penyiapan hewan coba


Dipilih hewan coba, berupa mencit yang sehat, mencit ditimbang dan
dikelompokkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan berat badan,
mencit diberitanda pada bagian tubuhnya.

2.

Penyiapan bahan
a. Pembuatan suspensi Na-CMC 1% disispkan alat dan bahan,
ditimbang Na-CMC 1 gr dimasukkan air kedalam beker gelas
sebannyak 100 ml lalu panaskan dimasukkan Na-CMC sedikit demi
sedikit kedalam beker gelas lalu diaduk.
b. Pembuatan larutan obat adrenalin 1 mg/ml diambil 5 ml adrenalin
ampul dicukupkan hingga 10 ml dengan aqua pro injenksi diambil
lagi 1 ml dari larutan tersebut dan dicukuppkan lagi hingga 10 ml.

c. Pembuatan obat atropin sulfat 0,25 mg/ml diambil 1 mg/ml atropin


sulfat dicukupkan hingga 10 ml.
d. Pembuatan larutan obat metoklopramid 20 mg/ml diambil 1,5 ml
metoklopramid. Dicukupkan hingga 10 ml dengan aqu pro injeksi
diambil lagi 1 ml dari larutan tersebut dan dicukupkan lagi hinnga 10
ml.
e. Pembuatan obat propanolol 10 mg ditimbang 20 tablet propanolol
dan ditentukan rata-rata tablet, digerus tablet hingga halus, ditimbang
81,12 mg propanolol dan dicampurkan dengan 10 ml Na-CMC.
3. Perlakuan hewan coba
a.

Ditimbang mencit sebelum diberi perlakuan.

b.

Dihitung volume pemberian sebelum obat diberikan.

c.

Disiapkan kanula atau jarum suntik yang diisi obat.

d.

Diberikan perlakuan masing-masing :

e.

Kelompok I

: Melalui peroral

Kelompok II

: Melalui peroral

Kelompok III

: Melalui peroral

Kelompok IV

: Melalui intra peritorial

Dilakukan pengamatan pada mencit tiap 0, 15, 30, 45 dan 60 menit


dengan mengamati vasodilatasi, vasokontraksi, eksoftalamus,
stroub,

salivasisi,

berkeringat,

tremor,

bronkodilatasi, bronkokontriksi dan diuresis.


f.

Dicatat hasil pengamatan.

diare,

grooming,

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Tabel Pengamatan
1. NaCMC
Perlakuan hewan coba
Efek

NaCMC
1%

Adrenalin

Propanolol

Atropin

(IP)

(PO)

(PO)

(PO)

Diare

Salivasisi

++

Grooming

+++

+++

++

+++

Tremor

Diuresis

++

Straub

Vasodilatasi

Vasokontriksi

++

++

++

Bronkodilatasi

+++

+++

Bronkokontriksi

+++

Eksoftalamus

++

++

Keringat

2. Propanolol
Perlakuan hewan coba
Efek

NaCMC
1%

Adrenalin

Propanolol

Atropin

(IP)

(PO)

(PO)

(PO)

Diare

Salivasisi

++

Grooming

+++

+++

++

+++

Tremor

Diuresis

++

Straub

Vasodilatasi

Vasokontriksi

++

++

++

Bronkodilatasi

+++

+++

Bronkokontriksi

+++

Eksoftalamus

++

++

Keringat

3. Atropin
Perlakuan hewan coba
Efek

NaCMC
1%

Adrenalin

Propanolol

Atropin

(IP)

(PO)

(PO)

(PO)

Diare

Salivasisi

++

Grooming

+++

+++

++

+++

Tremor

Diuresis

++

Straub

Vasodilatasi

Vasokontriksi

++

++

++

Bronkodilatasi

+++

+++

Bronkokontriksi

+++

Eksoftalamus

++

++

Keringat

4. Adrenalin
Perlakuan hewan coba
Efek

NaCMC
1%

Adrenalin

Propanolol

Atropin

(IP)

(PO)

(PO)

(PO)

Diare

Salivasisi

++

Grooming

+++

+++

++

+++

Tremor

Diuresis

++

Straub

Vasodilatasi

Vasokontriksi

++

++

++

Bronkodilatasi

+++

+++

Bronkokontriksi

+++

Eksoftalamus

++

++

Keringat

5. Metoklopramid
Perlakuan hewan coba
NaCMC

Efek

1%

Adrenalin

Propanolol

Atropin

(IP)

(PO)

(PO)

(PO)

Diare

Salivasisi

++

Grooming

+++

+++

++

+++

Tremor

Diuresis

++

Straub

Vasodilatasi

Vasokontriksi

++

++

++

Bronkodilatasi

+++

+++

Bronkokontriksi

+++

Eksoftalamus

++

++

Keringat

Keterangan : (-)
(++)

= tidak pernah

(+)

= sering

= sangat sering

(+++) = sangat sering sekali

B. Perhitungan
1. Larutan adrenalin (1 mg/ml)
Dosis mencit 20 g = 1mg/ml x 0,0026
= 0,0026 mg
Dosis mencit 30 g =

x 0,0026

Pengenceran, misalkan ditimbang 1 mg


1 mg / ml ad 10 ml

0,2 mg

10 ml

0,02 mg

10 ml

0,002 mg
2. Larutan propanolol
Dosis mencit 20 g

= 0,0026 x 10 mg/ml
= 0,026 mg/ml

Dosis mencit 30 g

x 0,026 mg/ml

= 0,039 mg atau 0,04 mg


Berat rata-rata tablet

= 1,0026 g

10 ml

Serbuk yang ditimbang

x 1,0260 g

= 0,0004 g

Disuspensikan dengan NaCMC, misalkan ditimbang 1 mg


1 mg / ml ad 10 ml

0,4 mg

10 ml

0,04 mg

10 ml

0,004 mg
Volume pemberian

x 1 ml

= 0,67 ml

3. Larutan atropin 0,25 mg / ml


Dosis mencit

= 0,25 x 0,0026
= 0,00065 mg

Pengenceran, misalkan ditimbang 1 mg


1 mg / ml ad 10 ml

0,6 mg

10 ml

10 ml

0,06 mg

10 ml

0,006 mg

10 ml

4. Larutan pilokarpin 1 % dalam 5 ml


Dosis mencit

= 1% / 100 ml x 5 ml
= 50 mg / 100 ml
= 10 mg / ml

Pengenceran, misalkan ditimbang 1 mg


1 mg / ml ad 10 ml

0,2 mg

10 ml

0,02 mg
C. Pembahasan
Sistem saraf

otonom adalah serangkaian organ yang kompleks dan

berkesinambungan serta terutama terdiri dari jaringan saraf. Dalam mekanisme


sistem saraf, lingkungan internal dan stimulus eksternal dipantau dan diatur. Suatu
sel saraf disebut neuron yang terdiri dari badan sel ( cell body ), dendrit dan
neurit. Dendrit menerima dan menyalurkan stimulus masuk ke dalam badan sel,
neurit mengirim stimulus keluar dari badan sel. Kumpulan neuron yang berada di
dalam susunan saraf pusat disebut nukleus, dan yang berada di luar susunan saraf

pusat dinamakan pseudounipolar. Ujung saraf yang menerima stimulus disebut


reseptor dan ujung terminal saraf yang berada pada otot dan organ disebut efektor.
Neuron eferen sistem saraf otonom membawa impuls saraf dari SSP ke organ
efektor melalui 2 tipe, yaitu:
a. Neuron praganglion yang merupakan sel saraf pertama dan badan selnya
terdapat dalam SSP. Neuron praganglion keluar dari batang otak atau
medula spinalis dan membuat hubungan sinapsis pada ganglion (suatu
pengumpulan badan sel yang terdapat dalam sistem saraf tepi).
b. Neuron pasca ganglion mempunyai badan sel yang berasal dari ganglion.
Neuron ini biasanya tidak bermielin dan berakhir pada organ efektor
seperti otot polos visera, otot jantung, dan glandula eksokrin.
Neuron aferen yaitu serabut saraf aferen SSO penting dalam pengaturan
refleks pada sistem ini. Contoh, penekanan pada sinus karotikus dan lengkung
aorta akan memberikan sinyal pada SSP untuk mempengaruhi cabang eferen
sistem saraf otonom untuk memberikan respons.
Neuron simpatis merupakan neuron praganglion sistem saraf simpatis berasal
dari region torakal lumbal medula spinalis dan bersinapsis pada dua lengkungan
yang menyerupai cincin pada ganglion yang berjalan parallel pada setiap sisi
tulang belakang sedangkan neuron paraimpatis yaitu serabut praganglion
parasimpatis berasal dari region kranial dan rakral medulla spinalis yang
bersinapsis pada ganglion didekatnya atau pada organ efektor.
Menurut efek utamanya maka obat otonom dapat dibagi dalam 5 golongan,
yaitu:

1. Parasimpatomimetik atau kolinergik. Efek obat golongan ini menyerupai efek


yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf parasimpatis.
2. Simpatomimetik atau adrenergik. Efek obat golongan ini menyerupai efek
yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf simpatis.
3. Parasimpatolitik

atau

penghambat

kolinergik.

Golongan

obat

yang

menghambat timbulnya efek akibat aktivitas susunan saraf parasimpatis


4. Simpatolitik atau penghambat adrenergik. Golongan obat yang menghambat
timbulnya efek akibat aktivitas susunan saraf simpatis.
5. Obat ganglion, golongan obat yang merangsang atau menghambat penerusan
impuls di ganglion
Pada percobaan kali ini akan dilihat bagaimana efek yang ditimbulkan oleh
beberapa obat seperti Adrenalin, Atropin, Propanolol, Metoklopramid terhadap
hewan coba mencit (Mus musculus).
Adrenalin dapat menghambat disintesis dari tirosin dalam medula adrenalis
dan dilepas bersamaan dengan sedikit norefinefrin masuk kedalam aliran darah
dan berinteraksi reseptor dan .
Metoklopramid pada saluran cerna bagian atas mirip dengan obat kolinergik,
tetapi tidak seperti obat koliergik, metoklopramid tidak dapat menstimulasi
sekresi dari lambung, empedu atau pankreas, dan tidak dapat mempengaruhi
konsentrasi gastrin serum. Cara kerja dari obat ini tidak jelas, kemungkinan
bekerja pada jaringan yang peka terhadap asetilkolin. Efek dari metoklopramid
pada motilitas usus tidak tergantung pada persarafan nervus vagus, tetapi
dihambat oleh obat-obat antikolinergik.

Atropin, memiliki afinitas kuat terhadap reseptor muskarinik, dimana obat ini
terikat secara kompetitif, sehingga mencegah asetil kolin terikat secara kompetitif
pada tempatnya direseptor muskarinik. Pemberian atropin yang merupakan
antagonis kolinergik pada mencit menyebabkan terjadinya efek miosis, groming,
midriasis, tremor, vasodilatasi dan vasokontriksi setelah 15-45 menit.
Propanolol

adalah

prototipe

obat

penyakit.

Propanolol

memiliki

bioavailabilitas rendah dan tergantung dosis sebagai akibat metabolisme lintas


pertama yang ekstensif didalam hati. Sediaan propanolol kerja lama juga ada,
penyerapan obat yang diperpanjang bisa terjadi dalam periode lebih dari 24 jam.
Obat ini mempunyai efek yang sangat kecil yang tak perlu dikhawatirkan pada
reseptor dan muskarinik, tetapi ia dapat menyakat beberapa reseptor serotonin
didalam otak, meskipun kepentingan klinisnya tidak jelas. Obat ini tidak memiliki
keraj agonis parsial yang bisa dideteksi pada reseptor.
Dalam praktikum farmakologi kali ini mengenai obat sistem saraf otonom
atau obat kolinergik, dimana dilakukan pengujian terhadap pengaruh aktivitas
obat-obat sistem saraf otonom pada mencit. Saraf otonom atau dapat disebut juga
sebagai sistem saraftak sadar merupakan saraf-saraf yang bekerja tanpa disadari
atau bekerja secara otomatis tanpa diperintah oleh sistem saraf pusat dan terletak
khusus pada sumsum tulang belakang. Sistem saraf otonom ini terdiri dari neuronneuron motorik yang mengatur kegiatan organ-organ dalam, misalnya jantung,
paru-paru, ginjal, kelenjar keringat, otot polos sistem pencernaan dan otot polos
pembuluh darah.

Percobaan kali ini bertujuan untuk menghayati secara lebih baik pengaruh
berbagai obat sistem saraf otonom dalam pengendalian fungsi-fungsi vegetatif
tubuh dan mengenal suatu teknik untuk mengevaluasi aktivitas obat antikolinergik
pada neoroefektor parasimpatikus. Sehingga digunakan obat antikolinergik
dengan berbagai cara pemberian obat yang berbeda untuk melihat pengaruhnya
terhadap sistem saraf otonom.
Percobaan ini dimulai dengan mempersiapkan berbagai alat yang
dibutuhkan. Kemudian dilakukan pemilihan hewan percobaan yaitu mencit. Setiap
kelompok praktikum masing-masing memilih 1 mencit. Mencit yang telah dipilih,
lalu ditimbang. Penimbangan mencit ini dilakukan dengan meletakkan seekor
mencit yang akan digunakan, diatas neraca ohauss dan diamati angka yang
menunjukkan berat badan mencit. Penimbangan mencit ini bertujuan untuk
mengetahui perhitungan dosis yang tepat pada perlakuan percobaan, karena setiap
individu yang memiliki berat badan yang berbeda akan mendapatkan pemberian
dosis yang berbeda, mengingat berat badan merupakan salah satu faktor penting
yang menentukan pemberian jumlah dosis. Setelah ditimbang setiap mencit
diberikan tanda pengenal yang berbeda. Hal ini bertujuan agar mempermudah
mengenali mencit baik pada saat pemberian perlakuan maupun saat dilakukan
pengamatan terhadap percobaan. Setelah itu, pada pembuatan Na-CMC 1%
ditimbang Na-CMC 1gram dan dimasukkan air kedalam beker gelas sebanyak 100
ml lalu dipanaskan dimasukkan Na-CMC sedikit demi sedikit lalu diaduk.
Pembuatan larutan adrenalin 1mg/ml diambil 5 ml adrenalin ampul, dicukupkan
hingga 10 ml dengan aqua pro injeksi, diambil lagi 1 ml dari larutan tersebutdan

dicukupkan lagi hingga 10 ml. pembuatan larutan atropin sulfat 0,25 mg/ml yaitu
diambil 1 ml atropin sulfat, dicukupkan hingga 10 ml dengan aqua pro injeksi,
diambil lagi 1 ml dari larutan tersebut kemudian dicukupkan hingga 10 ml.
pembuatan larutan pilokarpin 20 mg/ml yaitu diambil 1,5 ml pilokarpin
dicukupkan hingga 10 ml dengan aqua pro injeksi, diambil lagi 1 ml dari larutan
tersebut dan dicukupkan lagi hingga 10 ml. pembuatan larutan propanolol 10 mg
yaitu 20 tablet ditimbang dan ditemukan rata-rata tablet kemudian digerus tablet
hingga halus, ditimbang 81,19 mg propanolol dan dicampurkan dengan 10 ml NaCMC. Setelah pembuatan larutan dilakukan, mencit yang telah ditimbang dan
diberi tanda terlebih dahulu dihitung volume pemberian sebelum obat diberikan
sesuai dengan dosis mencit, lalu disiapkan kanula dan jarum suntik yang masingmasing akan diisikan obat yang berbeda, pada obat adrenalin mencit disuntik pada
bagian IP sedangkan pada obat propanolol, atropin sulfat, pilokarpin, dimasukkan
kedalam kanula lalu diberi perlakuan pada mencit. Pemberian dilakukan dengan
cara memegang atau menjepit tengkuk diantara jari telunjuk dan jari tengah,
dengan membuat posisi abdomen yang lebih tinggi dari kepala. Jarum disuntik
dengan membentuk sudut 10. Penyuntikan harus sedikit menepi dari garis
tengah, untuk menghindari terkenanya kandung kemih. Jangan pula terlalu tinggi
agar tidak mengenai hati. Setelah itu, dilakukan pengamatn pada mencit tiap menit
0, 15, 30, 45, dan 60 menit dengan mengamati vasodilatasi, vasokontriksi,
bronkodilatasi, tremor, grooming, diare, dan diuresis lalu dicatat hasil pengamatan
pada tabel.

Adapun hasil yang didapatkan yaitu pada mencit yang diberi adrenalin
mencit mengalami grooming yang hebat, diare, vasokontriksi, vasodilatasi, dan
eksoftalamus. Dilihat dari mekanisme kerja epinefrin, dimana epinefrin
merupakan obat adrenergik dimana epinefrin merupakan obat adrenergik bekerja
ganda mampu memacu langsung reseptor dan . Obat ini memberikan efek
vasokontriksi

dan hasil

pengamatan hampir

semua mencit

mengalami

vasokontriksi terus menerus dan hal ini sudah sesuai dengan literatur.
Pada pemberian Na-CMC mencit mengalami grooming yang hebat,
salivasisi, tremor, diuresis, vasokontriksi, bronkokontriksi dan eksoftalamus.
Sedangkan pada literatur obat Na-CMC hanya sebagai pelarut pada obat yang
sebagai kontrol pada mencit dan ini tidak sesuai literatur.
Pemberian atropin, mencit mengalami grooming yang hebat, tremor, straub,
vasokontriksi, bronkodilatasi, dan eksoftalamus. Obat ini memiliki afibilitas kuat
terhadap reseptor kuat terhadap reseptor muskarinik, dimana obat ini dapat terjadi
vasodilatasi dan bronkodilatasi akibat efek dari atropin.
Pada pemberian propanolol, mencit sering mengalami groming, straub,
vasokontriksi, dan bronkokontriksi. Sedangkan efek yang diberikan pada obat
propanolol hanya menimbulkan bronkokontriksi. Jadi, pada percobaan ini tidak
sesuai dengan literatur.
Vasokonstriksi adalah penyempitan pembuluh darah. Kondisi ini akan
mengurangi jumlah darah yang mengalir ke bagian tubuh dimana menunjukkan
telinga mencit menjadi pucat. Bronkokonstriksi, atau penyempitan saluran udara,
disebabkan oleh otot-otot yang mengelilingi paru-paru menjadi sempit.

Bronkodilatasi terjadinya pelebaran bronkus yang merupakan efek dari


parasimpatik.
Diuresis dan salivasisi menunjukkan aktivitas muskarinik dan saluran
pencernaan. Straub begitu pula tremor, tremor merupakan tingkah hewan menjadi
menggigit/ bergetar. Grooming merupakan aktifitas menggaruk-garuk pada
mencit.
Dari hasil yang diperoleh, sejumlah pengamatan tidak sesuai dengan literatur
karena disebabkan factor kesalahan yaitu kurang terampilnya dalam memberikan
perlakuan pada saat memberikan obat kepada mencit secara peroral maupun
menyuntik dan kurangnya ketelitian pengamatan pada mencit.
Adapun hubungan percobaan ini dengan dunia farmasi yaitu dapat digunakan
dalam pemberian dan pemilihan obat, dapat dilihat bagaimana efek yang
ditimbulkan oleh obat tersebut, misalnya pada sediaan yang digunakan dalam
pengobatan sistem saraf pusat.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan percobaan , diperoleh hasil :
1.

Adrenalin tergolong obat simpatokomimetika (adrenergik) obat ini


memberikan efek vasokontriksi pada mencit

2.

Propanolol tergolong obat simpatokolitikum, obat ini memberikan efek


bronkokontriksi pada mencit

3.

Pilokarpin tergolong obat kolinergik, obat ini memberikan efek salivasisi


pada mencit

4.

Atropin tergolong obat antikolinergik, obat ini memberikan efek


vasodilatasi dan bronkodilatasi pada mencit

B. Saran
1. Asisten
Mohon dampingi praktikan pada saat praktikum, dan alangkah baiknya jika
asisten dapat menjelaskan terlebih dahulu apa-apa yang harus dilakukan pada saat
praktikum agar tidak terjadi kesalahan pada pembuatan larutan obat yang akan
digunakan.
2. Laboratorium
Wastafel dalam lab sebaiknya difungsikan.

DAFTAR PUSTAKA
Dirjen POM, 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ke III. Depkes RI : Jakarta.
Dirjen POM, 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ke IV. Depkes RI : Jakarta.
Ganiswara, G.S. 1995. Farmakologi dan Terapi IV Bagian Farmakologi
Kedokteran UI : Surabaya.
Guyton. 2006. Farmakologi dan Toksikologi. ITB: Bandung.
Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat. Edisi 5. ITB. Bandung.
Pearce, Evelyn C. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta:
Gramedia Pustaka Umum.
Prof.Mr.A.G Pringgodigdo.1977. Ensiklopedia Umum. Yogyakarata : Penerbit
Sinar Wijaya.
Staf pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Tan, H. T. dan Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting. Jakarta: Gramedia Pustaka
Umum.
Tjay hoan Tiondan dian raharja kirana, 1991. Obat-obat penting .Edisi IV.Jakarta :
Pt. Elex media kompatindo.
Wawansumantri. 2009. Sistem Saraf Pada Manusia. Available online at
http://www.scribd.com/doc/13342264/Sistem-Saraf-Pada-Manusia
[diakses tanggal 26 Maret 2010].

SKEMA KERJA
a.

Penyediaan bahan
Disiapkan alat dan bahan

Hitung dosis mencit

Encerkan sediaan obat ( dengan Na-CMC untuk tablet dan aqua pro injeksi
untuk sediaan ampul sesuai dosis mencit.

Homogenkan
b.

Perlakuan pada mencit


Ditimbang mencit

Hitung volume pemberiaan sebelum obat diberikan

Masukkan kanula kedalam mulut mencit untuk obat propanolol, atropin,


dan NaCMC dan untuk adrenalin disuntik mencit pada bagian IP

Diamati mencit
(0 : 15 : 30)
(Pengamatan: vasodilatasi, vasokontriksi, eksoftalamus, straub, salivasisi,
bronkokontriksi, bronkodilatasi, tremor, grooming, diare, keringat dan
diuresis)