Anda di halaman 1dari 79

200 / 2011

PETUNJUK PELAKSANAAN
PEMERIKSAAN KINERJA
Tim Penyusun:
Daeng M. Nazier
Hery Subowo
Ria Anugriani
Beni Subena
Agus Bambang Irawan
G. Yorrie Rismanto Adi
Dwi Afriyanti
Harpanto Guno Sabanu
Subeki Supriyadi
Iwan Purwanto Sudjali
Sandra Willia Gusman
Bambang Prayudhi
Denny Wahyu Sendjaja
Yosie
Asad Agung Perkasa

Direktorat Litbang
Badan Pemeriksa Keuangan RI
Jl. Jenderal Gatot Subroto 31
Jakarta -10210

KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
NOMOR
/K/I-XIII.2/12/2011
TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KINERJA
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang

a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang


Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara, pelaksanaan pemeriksaan
atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara antara
lain meliputi Pemeriksaan Kinerja;
b. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (3) Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara, disebutkan bahwa
Pemeriksaan Kinerja dilaksanakan atas aspek ekonomi, aspek
efisiensi, dan aspek efektivitas;
c. bahwa untuk mengefektifkan pelaksanaan pemeriksaan kinerja
sebagaimana dimaksud pada huruf b, agar mendapat hasil
pemeriksaan yang sesuai dengan tujuan dan standar
Pemeriksaan Kinerja, perlu menetapkan Keputusan Badan
Pemeriksa Keuangan tentang Petunjuk Pelaksanaan
Pemeriksaan Kinerja;

Mengingat

1.

2.

3.

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan


Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan
Pemeriksa Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2006 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4654);
Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1 Tahun 2007
tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (Lembaran

4.

5.

6.

7.

Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 42, Tambahan


Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4707);
Surat Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor
31/SK/I-VII.3/8/2006 tanggal 31 Agustus 2006 tentang Tata
Cara Pembentukan Peraturan, Keputusan, dan Naskah Dinas
pada Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia;
Keputusan
Badan
Pemeriksa
Keuangan
Nomor
39/K/SK/I-VIII.3/7/2007 tanggal 13 Juli 2007 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Pelaksana Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia;
Keputusan
Badan
Pemeriksa
Keuangan
Nomor
1/K/I-XIII.2/2/2008 tanggal 19 Februari 2008 tentang Panduan
Manajemen Pemeriksaan sebagaimana telah diubah dengan
Keputusan
Badan
Pemeriksa
Keuangan
Nomor
5/K/I-XIII.2/8/2009 tanggal 26 Agustus 2009 tentang Perubahan
atas Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor
1/K/I-XIII.2/2/2008 tentang Panduan Manajemen Pemeriksaan;
Keputusan
Badan
Pemeriksa
Keuangan
Nomor
09/K/I-XIII.2/7/2008 tanggal 31 Juli 2008 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Tata Cara Penyusunan atau Penyempurnaan
Pedoman Pemeriksaan dan Non Pemeriksaan;
MEMUTUSKAN:

Menetapkan

KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN TENTANG


PETUNJUK PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KINERJA.
Pasal 1

Menetapkan dan memberlakukan Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja di


Lingkungan Badan Pemeriksa Keuangan.
Pasal 2
Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1
disusun dengan sistematika sebagai berikut:
a. BAB I
:
PENDAHULUAN
b. BAB II
:
GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN KINERJA
c. BAB III
:
PERENCANAAN PEMERIKSAAN KINERJA
d. BAB IV
:
PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KINERJA
e. BAB V
:
PELAPORAN PEMERIKSAAN KINERJA
f. BAB VI
:
PENUTUP

Pasal 3
Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dari Keputusan ini.
Pasal 4
Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal :
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
KETUA,

WAKIL KETUA,

HASAN BISRI

HADI POERNOMO

ANGGOTA,

ANGGOTA,

MOERMAHADI SOERJA DJANEGARA

Plh. ANGGOTA,

T AUFIEQURACHMAN RUKI

ANGGOTA,

HASAN BISRI

ALI M ASYKUR MUSA

ANGGOTA,

ANGGOTA,

SAPTO AM AL DAM ANDARI

RIZAL DJALIL
ANGGOTA,

BAHRULLAH AKBAR

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI

..................................................................................................................................

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................................................

iii

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN .........................................................................................................

A. Latar Belakang .......................................................................................................

B.

Tujuan .....................................................................................................................

C.

Dasar Hukum ..........................................................................................................

D. Lingkup Bahasan ....................................................................................................

E.

Sistematika Penulisan .............................................................................................

GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN KINERJA ................................................

A. Pengertian dan Tujuan Pemeriksaan Kinerja ........................................................

B.

BAB III

Perbedaan Pemeriksaan Kinerja dengan


Pemeriksaan Keuangan dan

Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu ...................................................................


C. Konsep Ekonomi, Efisiensi, dan Efektivitas...........................................................
D. Standar Pemeriksaan Kinerja .................................................................................
E. Persyaratan Dasar Pemeriksa .................................................................................
F. Metodologi Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja........................................

3
4
7
7
8

G. Kegiatan Dalam Pemeriksaan Kinerja....................................................................


H. Pendekatan Dalam Pemeriksaan Kinerja................................................................

9
11

PERENCANAAN PEMERIKSAAN KINERJA........................................................

12

A. Tujuan .....................................................................................................................

12

B.
C.

Kegiatan dalam Perencanaan Pemeriksaan.............................................................


Penentuan Topik Potensial Pemeriksaan.................................................................

12
13

D. Penyusunan Program Pemeriksaan Pendahuluan...................................................


E. Pemahaman Entitas dan Pengidentifikasian Masalah.............................................

16
17

F. Penentuan Area Kunci.............................................................................................


G. Penentuan Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan............................................

20
24

H. Penetapan Kriteria Pemeriksaan..............................................................................


I. Penyusunan Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP) dan

26

Program Pemeriksaan Terinci...............................................................................

31
i

BAB IV

PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KINERJA.........................................................


A. Tujuan......................................................................................................................

35
35

B.
C.

35
36

Kegiatan Pemeriksaan............................................................................................
Perolehan dan Pengujian Data........................................................................

D. Penyusunan Temuan Pemeriksaan..........................................................................


E. Pendokumentasian...................................................................................................

39
41

BAB V

PELAPORAN PEMERIKSAAN KINERJA..............................................................


A. Tujuan......................................................................................................................
B. Kegiatan dalam Pelaporan Pemeriksaan.................................................................
C. Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan...................................................

42
42
42
42

BAB VI

PENUTUP......................................................................................................................
A. Pemberlakuan Petunjuk Pelaksanaan......................................................................
B. Perubahan Petunjuk Pelaksanaan............................................................................
C. Pemantauan Petunjuk Pelaksanaan.........................................................................

48
48
48
48

LAMPIRAN

ii

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 3.1

Penentuan Topik Pemeriksaan Kinerja

Lampiran 3.2

Kertas Kerja Pemahaman Entitas

Lampiran 3.3

Kertas Kerja Pengidentifikasian Masalah

Lampiran 3.4

Pemahaman Sistem Pengendalian Internal Dengan Menggunakan Pendekatan COSO

Lampiran 3.5

Kertas Kerja Penentuan Area Potensial

Lampiran 3.6

Kertas Kerja Pemilihan Area Kunci

Lampiran 3.7

Kertas Kerja Penetapan Obyek, Tujuan, dan Lingkup Pemeriksaan

Lampiran 4.1

Kertas Kerja Pengujian Data Pemeriksaan

iii

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab I

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
01

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang


Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara,
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mempunyai kewenangan untuk
melakukan pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan
pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Pada saat ini porsi kegiatan
pemeriksaan BPK lebih banyak melakukan pemeriksaan keuangan
seiring dengan dimulainya era pelaporan keuangan yang lebih
transparan dari Pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun
Pemerintah Daerah. Namun demikian, perhatian publik secara luas
mulai bergeser ke arah nyata dari peristiwa terkini, baik tentang
pencapaian kinerja pemerintah, usaha pemberantasan korupsi,
perusakan alam, dan sebagainya. Sebagai sebuah lembaga
pemeriksa yang independen, BPK menjadi tumpuan masyarakat
luas sebagai sebuah lembaga yang dapat memberikan kontribusinya
untuk menuju Indonesia ke arah yang lebih baik.

Perhatian publik
bergeser ke arah
pencapaian kinerja
pemerintah

02

Untuk menuju Indonesia ke arah yang lebih baik, perlu dilakukan


banyak pembenahan terutama dalam hal perbaikan kinerja
pemerintah. Pemeriksaan kinerja merupakan salah satu cara untuk
meningkatkan kinerja pemerintah terutama dalam memperbaiki
kualitas pelayanan publik yang menjadi tuntutan masyarakat.

Pemeriksaan kinerja
sebagai salah satu
cara meningkatkan
kinerja pemerintah

B. Tujuan
03

Dalam rangka peningkatan porsi pemeriksaan kinerja ke depan,


BPK memerlukan suatu pedoman pemeriksaan kinerja agar
terdapat kesamaan persepsi dan keseragaman metodologi dalam
rangka pemeriksaan yang efisien dan efektif. Penyusunan petunjuk
pelaksanaan pemeriksaan kinerja ini dimaksudkan untuk membantu
pemeriksa dalam melaksanakan pemeriksaan kinerja secara lebih
efektif, efisien, dan dengan cara yang lebih sistematik.

Tujuan penyusunan
juklak

C. Dasar Hukum
04

Dasar hukum penyusunan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak)


Pemeriksaan Kinerja ini, antara lain:
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4400);
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan
Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 85, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4654);

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Dasar hukum
penyusunan Juklak

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab I

Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia


Nomor 1 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4707);
Surat Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor
31/SK/I-VII.3/8/2006 tanggal 31 Agustus 2006 tentang Tata
Cara Pembentukan Peraturan, Keputusan, dan Naskah Dinas
pada Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia;
Keputusan
Badan
Pemeriksa
Keuangan
Nomor
39/K/I-VIII.3/7/2007 tanggal 13 Juli 2007 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Pelaksana Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia;
Keputusan
Badan
Pemeriksa
Keuangan
Nomor
1/K/I-XIII.2/2/2008 tanggal 19 Februari 2008 tentang Panduan
Manajemen Pemeriksaan sebagaimana telah diubah dengan
Keputusan
Badan
Pemeriksa
Keuangan
Nomor
5/K/I-XIII.2/8/2009 tanggal 26 Agustus 2009 tentang
Perubahan atas Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor
1/K/I-XIII.2/2/2008 tentang Panduan Manajemen Pemeriksaan;
dan
Keputusan
Badan
Pemeriksa
Keuangan
Nomor
09/K/I-XIII.2/7/2008 tanggal 31 Juli 2008 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Tata Cara Penyusunan atau Penyempurnaan
Pedoman Pemeriksaan dan Non Pemeriksaan.

D. Lingkup Bahasan
05

Juklak ini mengatur tentang tata cara pelaksanaan pemeriksaan


kinerja mulai dari tahap perencanaan hingga tahap pelaporan.
Tahap tindak lanjut atas rekomendasi BPK tidak dibahas dalam
juklak ini, karena akan dibahas dalam petunjuk teknis tentang
pemantauan tindak lanjut. Juklak ini juga tidak mengatur hal-hal
yang bersifat rinci yang mungkin membutuhkan referensi petunjuk
teknis lainnya untuk diperhatikan.

Lingkup bahasan
juklak

E. Sistematika Penulisan
06

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja ini disusun dengan


sistematika sebagai berikut.
BAB I
PENDAHULUAN
BAB II
GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN KINERJA
BAB III
PERENCANAAN PEMERIKSAAN KINERJA
BAB IV
PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KINERJA
BAB V
PELAPORAN PEMERIKSAAN KINERJA
BAB VI
PENUTUP

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab II

BAB II
GAMBARAN UMUM
PEMERIKSAAN KINERJA
A. Pengertian dan Tujuan Pemeriksaan Kinerja
01

Menurut Undang-Undang Nomor 15 tahun 2004 Pasal 4 ayat (3) tentang


Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, Pemeriksaan
Kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri atas
pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek efektivitas.

Pemeriksaan
kinerja
menurut UU

02

Terminologi baku untuk pemeriksaan kinerja yang digunakan oleh anggota


International Organization of Supreme Audit Institutions (INTOSAI) adalah
performance audit. INTOSAI mendefinisikan pemeriksaan kinerja sebagai suatu
pemeriksaan yang independen atas efisiensi dan efektivitas kegiatan, program,
dan organisasi pemerintah, dengan memperhatikan aspek ekonomi, dengan
tujuan untuk mendorong ke arah perbaikan.

Pemeriksaan
kinerja
menurut
INTOSAI

03

Terminologi lain yang dikenal dari pemeriksaan kinerja adalah value for money
audit, yang digunakan di Inggris, Kanada, dan beberapa negara
persemakmuran, dan diartikan sebagai suatu proses penilaian atas bukti-bukti
yang tersedia untuk menghasilkan suatu pendapat secara luas mengenai
bagaimana entitas menggunakan sumber daya secara ekonomis, efektif, dan
efisien.

Value for
money audit

B. Perbedaan Pemeriksaan Kinerja dengan Pemeriksaan Keuangan dan


Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu
04

Pokok perbedaan antara pemeriksaan kinerja, pemeriksaan keuangan dan


Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDTT) terletak pada tujuan dan hasil
pemeriksaan. Penjelasan untuk kedua aspek perbedaan tersebut dapat
ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

Perbedaan
pemeriksaan
kinerja dengan
pemeriksaan
keuangan dan
PDTT

Tabel 2.1
Perbedaan Pemeriksaan Kinerja, Pemeriksaan Keuangan dan PDTT
Jenis
Pemeriksaan
Kinerja

Keuangan
PDTT

Direktorat Litbang

Tujuan

Hasil

Menilai aspek
ekonomi, efisiensi, atau
efektivitas.
Menilai kewajaran
laporan keuangan.
Memberikan simpulan
atas suatu hal yang
diperiksa dan dapat
bersifat eksaminasi
(pengujian), reviu, atau
prosedur yang
disepakati (agreed
upon procedures).

Simpulan dan rekomendasi


atas aspek kinerja yang
dinilai.
Opini atas laporan
keuangan.
Tergantung jenis PDTT
Eksaminasi
Simpulan dengan tingkat
keyakinan positif (positive
assurance) bahwa suatu
pokok masalah telah sesuai
dengan kriteria, dalam
semua hal yang material.

Badan Pemeriksa Keuangan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Jenis
Pemeriksaan

Bab II

Tujuan

Hasil
Reviu
Simpulan dengan
tingkat keyakinan
negatif (negative
assurance) bahwa
tidak ada informasi
yang diperoleh
pemeriksa dari
pekerjaan yang
dilaksanakan
menunjukkan bahwa
pokok masalah tidak
didasari (atau tidak
sesuai dengan) criteria.
Agreed upon
procedures
Simpulan atas hasil
pelaksanaan prosedur
tertentu yang
disepakati dengan
pemberi tugas terhadap
suatu pokok masalah.

C. Konsep Ekonomi, Efisiensi, dan Efektivitas


05

Pada prinsipnya, konsep ekonomi, efisiensi dan efektivitas berhubungan erat


dengan pengertian input, output dan outcome. Input adalah sumber daya
dalam bentuk dana, Sumber Daya Manusia (SDM), peralatan, dan material
yang digunakan untuk menghasilkan ouput. Output adalah barang-barang
yang diproduksi, jasa yang diserahkan/diberikan, atau hasil-hasil lain dari
proses atas input. Proses adalah kegiatan-kegiatan operasional yang
menggunakan input untuk menghasilkan output, sedangkan outcome adalah
tujuan atau sasaran yang akan dicapai melalui output. Gambar 1 berikut ini
menjelaskan hubungan antara input, proses, output, dan outcome.

BIAYA
INPUT

INPUT

EKONOMI

PROSES

EFISIENSI

OUTPUT

Hubungan konsep
3E dengan input,
output dan
outcome

OUTCOME

EFEKTIFITAS

GAMBAR 1
Hubungan input, proses, output dan outcome
06

Ekonomi berkaitan dengan perolehan sumber daya yang akan digunakan


dalam proses dengan biaya, waktu, tempat, kualitas, dan kuantitas yang benar.
Ekonomi berarti meminimalkan biaya perolehan input yang akan digunakan

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Pengertian
ekonomi

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab II

dalam proses, dengan tetap menjaga kualitas sejalan dengan prinsip dan
praktik administrasi yang sehat dan kebijakan manajemen. Organisasi yang
ekonomis memperoleh input pada kualitas dan kuantitas yang tepat, dengan
harga termurah. Penekanan untuk aspek ekonomi berhubungan dengan
perolehan barang atau jasa sebelum digunakan dalam proses.
07

Contoh: Barang A dapat dibeli di toko B seharga Rp100.000.000,00, dengan


cara pembayaran, kualitas, dan layanan purnajual yang sama, barang A dapat
dibeli di toko C seharga Rp90.000.000,00. Jika entitas membeli di toko B,
maka dikatakan entitas tersebut telah melakukan pemborosan atau
ketidakekonomisan sebesar Rp10.000.000,00.

08

Pemeriksaan atas aspek ekonomi meliputi faktor-faktor, apakah:


(1) barang atau jasa untuk kepentingan program, aktivitas, fungsi, dan
kegiatan telah diperoleh dengan harga lebih murah dibandingkan dengan
barang atau jasa yang sama; dan
(2) barang atau jasa telah diperoleh dengan kualitas yang lebih bagus
dibandingkan dengan jenis barang/jasa serupa dengan harga yang sama.

09

Langkah-langkah dalam pengukuran ekonomi adalah sebagai berikut:


(1)
(2)
(3)
(4)

identifikasi input yang diperoleh;


identifikasi biaya dan waktu/pengorbanan untuk mendapatkan input;
penentuan kriteria;
pembandingan data yang diperoleh pada langkah (2) dengan kriteria yang
telah dibuat pada langkah (3); dan
(5) interpretasi hasilnya.

Faktor-faktor
dalam
pemeriksaan
aspek ekonomi

Langkah-langkah
pengukuran
ekonomi

10

Efisiensi merupakan hubungan yang optimal antara input dan output. Suatu
entitas dikatakan efisien apabila mampu menghasilkan output maksimal
dengan jumlah input tertentu atau mampu menghasilkan output tertentu
dengan memanfaatkan input minimal.

Pegertian
efisiensi

11

Untuk menilai efisiensi, pertanyaan-pertanyaan berikut perlu dipertimbangkan


dalam melakukan pemeriksaan:

Pertanyaan untuk
menilai efisiensi

(1) apakah input yang tersedia telah dipakai secara optimal?


(2) apakah output yang sama dapat diperoleh dengan lebih sedikit input?
(3) apakah output yang terbaik dalam ukuran kuantitas dan kualitas dapat
diperoleh dari input yang digunakan?
12

Temuan atas efisiensi dapat dirumuskan dengan menggunakan perbandingan


antara aktivitas/industri/organisasi yang sejenis, periode lain, standar, dan best
practices yang secara tegas telah diadopsi oleh entitas.

13

Contoh: Untuk memproduksi suatu jenis output tertentu dengan jumlah


tertentu yang sama terdapat tiga cara:

Cara perumusan
temuan efisiensi

(1) cara 1 membutuhkan lima unit material A dan dua jam kerja sebagai
input;
(2) cara 2 membutuhkan enam unit material A dan tiga jam kerja sebagai
input; dan
(3) cara 3 membutuhkan tujuh unit material A dan empat jam kerja sebagai
input.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab II

Berdasarkan data tersebut, cara 1 lebih efisien daripada cara 2 dan 3 karena
rasio input dan output (i/o) pada cara 1 lebih kecil dibandingkan dengan rasio
input dan output (i/o) pada cara 2 dan cara 3.
14

15

Pemeriksaan atas efisiensi meliputi aspek, apakah:


(1) program, aktivitas, fungsi, kegiatan telah dikelola, diatur, diorganisasikan,
dan dilaksanakan secara efisien; dan
(2) jasa pelayanan oleh pemerintah telah diberikan dengan kualitas terbaik,
berorientasi pada kebutuhan masyarakat, dan diberikan tepat waktu.
Langkah-langkah pengukuran efisiensi adalah sebagai berikut:
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

identifikasi dan pilih input yang relevan;


identifikasi dan pilih output yang relevan;
penentuan unit pengukuran input dan output;
penentuan rasio pengukuran antara input dan output;
penentuan kriteria;
pembandingan data yang diperoleh pada langkah (4) dengan kriteria yang
telah dibuat pada langkah (5); dan
(7) interpretasi hasil.
16

Efektivitas pada dasarnya adalah pencapaian tujuan. Efektivitas berkaitan


dengan hubungan antara output yang dihasilkan dengan tujuan yang dicapai
(outcome). Efektif berarti output yang dihasilkan telah memenuhi tujuan yang
telah ditetapkan.

17

Contoh: Pemerintah Daerah X mempunyai program pelayanan bus yang


bertujuan untuk mengurangi tingkat penggunaan kendaraan pribadi di dalam
kota. Outputnya berupa pelayanan bus yang diukur dengan jumlah kilometer
pelayanan bus. Dalam rangka pelaksanaan program tersebut, Pemerintah
Daerah X melakukan pembelian bus baru.

18

Misalnya, biaya pengoperasian setahun bus merek A Rp1.000.000.000,00,


sedangkan biaya pengoperasian bus merek B juga Rp1.000.000.000,00.
Kilometer yang dilayani bus A 250.000 km setahun, sedangkan bus B 225.000
km setahun. Akan tetapi, dengan bus A penggunaan kendaraan pribadi turun
sebesar 10%, sedangkan dengan bus B, penggunaan kendaraan pribadi turun
sebesar 30%.

19

Kesimpulan dari sisi efektivitas (hubungan antara output dan outcome)


penggunaan bus B lebih efektif, sedangkan dari sisi efisiensi (hubungan antara
input dan ouput) penggunaan bus A lebih efisien daripada bus B.

20

Perbedaan ini disebabkan bus A memang mempunyai jarak tempuh yang lebih
jauh, tetapi tingkat kenyamanan yang kurang memadai, sehingga masyarakat
tidak serta-merta menggunakan bus A sebagai kendaraan pengganti mobil
pribadi.

21

Untuk melakukan pemeriksaan atas efektivitas suatu entitas, maka


pertanyaan-pertanyaan berikut perlu dipertimbangkan:
(1) apakah output yang dihasilkan telah dimanfaatkan sebagaimana
diharapkan?
(2) apakah output yang dihasilkan konsisten dengan tujuan?
(3) apakah dampak yang dinyatakan berasal dari output yang dihasilkan dan
bukan dari pengaruh lingkungan luar?

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Aspek
pemeriksaan
efisiensi

Langkah-langkah
pengukuran
efisiensi

Pengertian
efektivitas

Pertanyaan untuk
menilai
efektivitas

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

22

Bab II

Langkah-langkah pengukuran efektivitas adalah sebagai berikut:


(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

identifikasi tujuan (outcome) yang telah ditetapkan sebelumnya;


identifikasi output aktual;
penentuan unit pengukuran output dan outcome;
pembandingan antara output dan outcome; dan
interpretasi hasil.

Langkah-langkah
pengukuran
efektivitas

23

Dalam pemeriksaan kinerja, pemeriksa dapat memilih untuk memeriksa: salah


satu aspek saja (1E) misalnya menilai aspek ekonomi, efisiensi atau
efektivitas; kombinasi dua aspek (2E) misalnya menilai aspek ekonomi dan
efisiensi, atau aspek efisiensi dan efektivitas; dan seluruh aspek (3E) baik
ekonomi, efisiensi dan efektivitas.

Pemeriksa dapat
memilih untuk
memeriksa 1E,
2E atau 3E

24

Untuk memilih aspek pemeriksaan kinerja (1E, 2E atau 3E), pemeriksa harus
mempertimbangkan sumber daya yang tersedia dan risiko pemeriksaan.
Semakin luas aspek kinerja yang diperiksa, maka risiko pemeriksaan juga
akan meningkat. Best practice yang umumnya dilakukan adalah hanya
memeriksa 1E atau 2E saja.

Pertimbangan
dalam memeriksa
aspek 3E

D. Standar Pemeriksaan Kinerja


25

Pemeriksaan dilaksanakan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan


Negara (SPKN) yang disusun dan ditetapkan BPK melalui Peraturan BPK RI
Nomor 1 Tahun 2007. SPKN yang berlaku bagi pemeriksaan kinerja meliputi:

Standar
Pemeriksaan
Kinerja

(1) Standar Umum


Standar Umum berkaitan dengan persyaratan kemampuan dan keahlian
pemeriksa, independensi organisasi dan individual pemeriksa, kemahiran
profesional berupa kecermatan dan keseksamaan, serta pengendalian
mutu pemeriksaan.
(2) Standar Pelaksanaan
Standar Pelaksanaan berkaitan dengan syarat-syarat bagi pemeriksa
dalam merencanakan dan mengawasi pekerjaan di lapangan. Standar
pelaksanaan meliputi:
a) perencanaan;
b) supervisi;
c) bukti pemeriksaan; dan
d) dokumentasi pemeriksaan.
(3) Standar Pelaporan
Standar Pelaporan berkaitan dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi
dalam pelaporan hasil kegiatan pemeriksaan. Standar pelaporan meliputi:
a) kewajiban penyusunan laporan hasil pemeriksaan;
b) isi laporan hasil pemeriksaan;
c) prasayarat kualitas laporan hasil pemeriksaan; dan
d) distribusi laporan hasil pemeriksaan.

E. Persyaratan Dasar Pemeriksa


26

Pemeriksaan kinerja merupakan kegiatan yang berdasar pada informasi yang


menuntut nilai-nilai profesional untuk mengelola informasi tersebut menjadi
titik sentral. Salah satu bentuk nilai profesional tersebut adalah pentingnya
seorang pemeriksa mempunyai kesempatan untuk mengembangkan
keahliannya dan mempertahankan hasil yang baik dalam pelaksanaan tugas.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Pemeriksa
profesional harus
mengembangkan
keahliannya

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab II

27

Agar dapat mencapai tujuan pemeriksaan kinerja yang telah ditetapkan,


pemilihan personil pemeriksa yang akan ditugasi menjadi salah satu faktor
yang cukup menentukan. Seorang pemeriksa dalam pemeriksaan kinerja harus
mempunyai latar belakang pendidikan formal yang cukup dan mempunyai
keahlian lainnya seperti kemampuan menganalisis, kemampuan
berkreativitas, kemampuan berkomunikasi, baik dalam bentuk lisan maupun
tertulis serta kemampuan terhadap pemahaman atas suatu pengelolaan/
manajemen yang baik. Selain itu, pemeriksa kinerja juga dituntut untuk selalu
memperoleh pendidikan profesional dari berbagai disiplin ilmu secara
berkelanjutan, seperti telah diatur dalam SPKN PSP 01 paragraf 08, untuk
memperoleh informasi/ ilmu yang mutakhir sehingga dapat mendukung
pelaksanaan pemeriksaan.

28

Dalam pelaksanaan suatu pemeriksaan kinerja, BPK dapat menggunakan


tenaga ahli yang berasal dari dalam atau luar BPK. Atas penggunaan tenaga
ahli internal ataupun eksternal tersebut, pemeriksa perlu mempertimbangkan
kualifikasi mereka seperti yang telah diatur dalam Pasal 6 Peraturan BPK RI
Nomor 1 tahun 2008 tentang Penggunaan Pemeriksa dan/atau Tenaga Ahli
dari Luar BPK, dan diatur juga dalam SPKN PSP 01 paragraf 09.

29

SPKN PSP 04 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja paragraf 7


juga telah menetapkan jenis pekerjaan yang harus dilakukan pemeriksa dalam
pelaksanaan pemeriksaan kinerja. PSP tersebut juga mengisyaratkan bahwa
pemeriksa harus memiliki kompetensi dan keahlian yang cukup dalam
menjalankan tugasnya.

30

Lebih lanjut, SPKN PSP 01 Standar Umum Paragraf 10 secara jelas juga
mengatur persyaratan dasar kemampuan/keahlian para pemeriksa yang harus
dipenuhi dalam melakukan tugas pemeriksaan.

Penggunaan
tenaga ahli dari
luar BPK

F. Metodologi Pemeriksaan Kinerja


31

Metodologi pemeriksaan kinerja dapat terlihat pada bagan berikut.

Metodologi
pemeriksaan
kinerja

METODOLOGI PEMERIKSAAN KINERJA


Ukuran Kinerja Pemeriksaan:
- Standar Pemeriksaan
- Panduan Manajemen Pemeriksaan
- Tujuan dan Harapan Penugasan

PERENCANAAN

PELAKSANAAN

PELAPORAN

1. Penentuan Topik Potensial

9. Pengujian Data

13. Penyusunan Konsep


LHP

2. Penyusunan Program
Pemeriksaan
Pendahuluan

10. Penyusunan Konsep


Temuan Pemeriksaan

14. Perolehan Tanggapan


atas
Rekomendasi & Simpulan

3. Pemahaman Entitas
& Pengidentifikasian
Masalah

11. Perolehan
Tanggapan Entitas

4. Penentuan
Area Kunci

15. Penyusunan dan


penyampaian LHP

12. Penyampaian
Temuan Kepada Entitas

5. Penentuan
Tujuan & Lingkup
Pemeriksaan

6. Penentuan
Kriteria Pemeriksaan

7. Pengidentifikasian Jenis
Bukti & Prosedur Pemeriksaan

8. Penyusunan RKP dan P2


Terinci

SUPERVISI KENDALI DAN PENJAMINAN MUTU


(Supervisi, Quality Control & Assurance)
Dokumentasi

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

32

Bab II

Secara garis besar metodologi ini terbagi dalam tiga tahap, yaitu tahap
perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan. Masing-masing tahap mempunyai
uraian detail seperti tertera dalam sistematika di bawah ini:
1. perencanaan
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

penentuan topik potensial pemeriksaan;


penyusunan program pemeriksaan pendahuluan;
pemahaman entitas dan pengidentifikasian masalah;
penentuan area kunci;
penentuan tujuan dan lingkup pemeriksaan;
penentuan kriteria pemeriksaan;
pengidentifikasian jenis bukti dan prosedur pemeriksaan; dan
penyusunan Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP) dan Program
Pemeriksaan (P2) Terinci.

2. pelaksanaan
a. pengujian data;
b. penyusunan dan penyampaian konsep Temuan Pemeriksaan (TP);
c. perolehan tanggapan resmi dan tertulis atas konsep TP; dan
d. penyampaian TP.
3. Pelaporan
a. penyusunan konsep laporan hasil pemeriksaan;
b. perolehan tanggapan atas rekomendasi dan simpulan; dan
c. penyusunan dan penyampaian Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP).

G. Kegiatan Dalam Pemeriksaan Kinerja


33

1. Perencanaan Pemeriksaan
Kegiatan dalam tahap perencanaan pemeriksaan adalah sebagai berikut.

34

a. Penentuan topik potensial pemeriksaan


Langkah awal dalam pemeriksaan kinerja adalah menentukan topik
pemeriksaan. Penentuan topik pemeriksaan diperlukan agar sumber
daya pemeriksaan yang dimiliki BPK dapat dialokasikan pada topik
pemeriksaan yang tepat. Informasi yang dapat digunakan dalam
menentukan topik pemeriksaan antara lain Rencana Strategis BPK,
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan
isu-isu yang berkembang di masyarakat.

35

b. Penyusunan program pemeriksaan pendahuluan


Setelah mengetahui topik pemeriksaan, pemeriksa dapat menyusun
program pemeriksaan pendahuluan. Penyusunan program
pemeriksaan pendahuluan bertujuan untuk:
1) menetapkan hubungan yang jelas dan konsisten antara rencana
strategis BPK dengan rencana pemeriksaan kinerja;
2) mengidentifikasikan dan mendokumentasikan prosedur-prosedur
pemeriksaan untuk memperoleh informasi yang diperlukan pada
tahap perencanaan; dan
3) memudahkan supervisi dan reviu untuk pemerolehan keyakinan
mutu pemeriksaan.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Penentuan topik
potensial
pemeriksaan

Penyusunan
program
pemeriksaan
pendahuluan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

36

Bab II

c. Pemahaman entitas dan pengidentifikasian masalah


Pemahaman entitas diperlukan untuk memperoleh pengetahuan
mengenai entitas yang diperiksa. Pemahaman
entitas dapat
membantu pemeriksa untuk mengidentifikasi masalah yang terkait
dengan obyek pemeriksaan.

Pemahaman
entitas dan
pengidentifikasian
masalah

Pemahaman entitas dan pengidentifikasian masalah akan membantu


pemeriksa dalam hal:
1) penaksiran risiko pemeriksaan;
2) penentuan tujuan pemeriksaan;
3) perencananaan dan pelaksanaan pemeriksaan secara efisien dan
efektif; dan
4) pengevaluasian keandalan bukti pemeriksaan.
37

d. Penentuan area kunci

Penentuan area
kunci

Area kunci adalah area, bidang, atau kegiatan yang merupakan fokus
pemeriksaan. Penentuan area kunci sangat penting agar pelaksanaan
pemeriksaan lebih fokus pada tujuan pemeriksaan dan
memungkinkan penggunaan sumber daya pemeriksaan yang lebih
efisien dan efektif. Pemilihan area kunci dapat dilakukan berdasarkan
faktor-faktor pemilihan (selection factors), yaitu; (1) risiko terhadap
manajemen, (2) signifikansi, (3) dampak pemeriksaan, dan
(4) auditabilitas.
38

e. Penentuan tujuan dan lingkup pemeriksaan


Tujuan pemeriksaan harus didefinisikan dengan jelas, agar
mempermudah tim pemeriksa dalam menarik simpulan pada akhir
pemeriksaan. Tujuan pemeriksaan sangat memengaruhi penentuan
lingkup pemeriksaan karena lingkup pemeriksaan terkait erat dengan
tujuan pemeriksaan yang telah ditetapkan. Penentuan lingkup
pemeriksaan akan memengaruhi prosedur yang diperlukan selama
pelaksanaan pemeriksaan, sumber daya yang dibutuhkan, dan
masalah-masalah penting yang akan dilaporkan.

39

f. Penetapan kriteria pemeriksaan

Penentuan tujuan
dan lingkup
pemeriksaan

Penetapan kirteria
pemeriksaan

Penentuan kriteria pemeriksaan diperlukan untuk menentukan


apakah suatu entitas mencapai kinerja yang diharapkan. Apabila
kriteria dibandingkan dengan kondisi aktual, maka akan timbul
temuan pemeriksaan. Jika kondisi memenuhi atau melebihi kriteria,
hal ini mengindikasikan bahwa entitas telah melaksanakan praktik
terbaik. Sebaliknya, jika kondisi tidak memenuhi kriteria, hal ini
mengindikasikan perlunya tindakan perbaikan.
40

g. Pengidentifikasian jenis bukti dan prosedur pemeriksaan


Setelah mengetahui kriteria pemeriksaan, pemeriksa dapat
mengidentifikasi jenis dan sumber bukti serta prosedur pemeriksaan
yang digunakan untuk memperoleh bukti tersebut. Mengidentifikasi
jenis dan sumber bukti serta prosedur pemeriksaan akan
mempermudah pemeriksa pada saat di lapangan, sehingga
pemeriksaan dapat berjalan dengan efisien dan efektif.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Pengidentifikasian
jenis bukti dan
prosedur
pemeriksaan

10

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

41

Bab II

h. Penyusunan RKP dan P2 Terinci

Penyusunan RKP
dan P2 terinci

Setelah pemeriksa melakukan pemeriksaan pendahuluan dan


memutuskan untuk melakukan pemeriksaan terinci, maka pemeriksa
dapat menyusun RKP dan P2 untuk pemeriksaan terinci. RKP akan
menjabarkan topik pemeriksaan, jenis pemeriksaan, kebutuhan SDM,
dan anggaran pemeriksaan. Sementara P2 terinci akan menjabarkan
prosedur terinci untuk efektivitas biaya pengumpulan data.
2. Pelaksanaan Pemeriksaan
42

43

a. Pengujian data
Pada tahap ini, pemeriksa menganalisis bukti pemeriksaan dari obyek
yang diperiksa untuk memperoleh keyakinan yang memadai dalam
menjawab tujuan pemeriksaan.
b. Penyusunan konsep temuan pemeriksaan
Pemeriksa menyusun konsep Temuan Pemeriksaan (TP) atas kondisi
yang tidak memenuhi kriteria pemeriksaan yang ditetapkan. Temuan
pemeriksaan meliputi unsur-unsur kondisi, kriteria, akibat, dan sebab.

Pengujian data

Penyusunan
konsep temuan
pemeriksaan

44

c. Perolehan tanggapan entitas atas temuan pemeriksaan


Pemeriksa mengomunikasikan konsep TP kepada entitas yang
diperiksa untuk memperoleh tanggapan. Tujuan komunikasi tersebut
adalah untuk memvalidasi konsep TP yang telah dikembangkan oleh
pemeriksa.
3. Pelaporan Pemeriksaan

Perolehan
tanggapan entitas

45

a. Penyusunan konsep LHP


Penyusunan konsep LHP memuat unsur-unsur seperti: pernyataan
bahwa pemeriksaan dilaksanakan sesuai dengan standar; tujuan,
lingkup dan metodologi pemeriksaan; hasil pemeriksaan (temuan,
simpulan dan rekomendasi); tanggapan pejabat terperiksa atas Hasil
Pemeriksaan (HP); dan pelaporan informasi rahasia bila ada.
b. Perolehan tanggapan atas rekomendasi dan simpulan
Setelah menyusun konsep LHP, pemeriksa menyampaikan konsep
LHP tersebut kepada entitas untuk memperoleh tanggapan dari
entitas yang diperiksa. Hal tersebut bertujuan agar laporan dapat
disajikan secara berimbang.
c. Penyusunan dan penyampaian LHP
Pemeriksan akan melakukan finalisasi atas konsep LHP yang telah
mendapatkan tanggapan dari entitas. LHP yang sudah difinalisasi
selanjutnya didistribusikan kepada pihak yang secara resmi
berkepentingan.

Penyusunan
konsep LHP

46

47

Perolehan
tanggapan atas
rekomendasi dan
simpulan

Penyusunan dan
penyampaian
LHP

H. Pendekatan dalam Pemeriksaan Kinerja


48

49
50

Dalam pemeriksaan kinerja terdapat dua pendekatan yang dapat diterapkan


oleh pemeriksa, yaitu:
a. pemeriksaan yang menekankan pada proses/prosedur/metode yang
dilakukan pada entitas/program/kegiatan yang diperiksa, dan
b. pemeriksaan yang menekankan pada hasil yang dicapai oleh
entitas/program/kegiatan yang diperiksa.
Pendekatan pemeriksaan ini akan memengaruhi pemeriksa dalam
menentukan tujuan dan kriteria pemeriksaan.
Penjelasan lebih rinci mengenai pendekatan pemeriksaan ini akan
dijelaskan dalam juknis penetapan kriteria.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Pendekatan dalam
pemeriksaan
kinerja

11

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

BAB III
PERENCANAAN PEMERIKSAAN KINERJA
A. Tujuan
01

Tujuan perencanaan pemeriksaan adalah mempersiapkan suatu RKP


dan P2 atas pemeriksaan terinci. RKP dan P2 ini akan digunakan
sebagai dasar bagi pelaksanaan pemeriksaan terinci sehingga
pemeriksaan dapat berjalan secara efisien dan efektif.

02

Dalam perencanaan pemeriksaan, pemeriksa mengumpulkan


informasi untuk menentukan kebijakan awal mengenai: (1) topik
potensial pemeriksaan, (2) lingkup pemeriksaan, (3) biaya, waktu dan
keahlian yang diperlukan, (4) tujuan pemeriksaan, (5) area
pemeriksaan yang perlu untuk direviu secara mendalam, (6) kriteria
pemeriksaan, dan (7) jenis bukti dan prosedur pengujian yang akan
dilakukan.

Tujuan perencanaan
pemeriksaan

B. Kegiatan dalam Perencanaan Pemeriksaan


03

Kegiatan dalam perencanaan pemeriksaan meliputi: penentuan topik


potensial pemeriksaan, penyusunan program pemeriksaan
pendahuluan, pemahaman entitas dan pengidentifikasian masalah,
penentuan area kunci, penentuan tujuan, dan lingkup pemeriksaan,
penentuan kriteria pemeriksaan, pengidentifikasian jenis bukti dan
prosedur pemeriksaan, penyusunan RKP dan P2 terinci.

04

Kegiatan dalam perencanaan pemeriksaan, terutama pada tahap


pemahaman entitas dan pengidentifikasian masalah sampai dengan
pengidentifikasian jenis bukti dan prosedur pemeriksaan dapat
dituangkan dalam suatu pemeriksaan pendahuluan. Hasil
pemeriksaan pendahuluan digunakan sebagai bahan keputusan untuk
meneruskan pemeriksaan kinerja ini ke tahap berikutnya, yaitu
pelaksanaan dan pelaporan pemeriksaan kinerja. Jika diputuskan
untuk diteruskan ke tahap berikutnya, maka hasil pemeriksaan
pendahuluan ini sekaligus digunakan sebagai dasar dalam
penyusunan RKP dan P2 terinci atas pemeriksaan terinci tersebut.

05

Petunjuk pelaksanaan pada tahap perencanaan pemeriksaan ini terdiri


dari delapan tahap, yaitu:
1) tahap penentuan topik potensial pemeriksaan;
2) tahap penyusunan program pemeriksaan pendahuluan;
3) tahap pemahaman entitas dan pengidentifikasian masalah;
4) tahap penentuan area kunci;
5) tahap penentuan tujuan dan lingkup pemeriksaan;
6) tahap penentuan kriteria pemeriksaan;
7) tahap Pengidentifikasian jenis bukti dan prosedur pemeriksaan;
dan
8) tahap penyusunan RKP dan P2 terinci.

Kegiatan dalam
perencanaan
pemeriksaan

PERENCANAAN
1. Penentuan Topik
Potensial Pemeriksaa

2. Penyusunan Program
Pemeriksaan Pendahuluan

3. Pemahaman Entitas &


Pengidentifikasian
Masalah

4. Penentuan Area
Kunci

5. Penentuan Tujuan dan


Lingkup Pemeriksaan

6. Penentuan Kriteria

7. Pengidentifikasian
Jenis Bukti & Prosedur
Pemeriksaan

8. Penyusunan RKP & P2


Terinci

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

12

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

C.

Penentuan Topik Potensial Pemeriksaan

06

Langkah awal dalam perencanaan pemeriksaan kinerja adalah


menentukan topik potensial pemeriksaan. Setiap unit kerja
pemeriksaan harus membuat usulan topik potensial.

07

Tujuan utama penentuan topik potensial pemeriksaan adalah:


a. agar pemeriksaan kinerja yang dilakukan dapat bermanfaat untuk
meningkatkan kinerja pemerintah dalam memberikan pelayanan
publik;
b. agar kegiatan pemeriksaan menjadi lebih terarah, sehingga
pemeriksaan dapat berjalan secara efisien dan efektif; dan
c. agar sumber daya pemeriksaan yang terbatas benar-benar
dialokasikan pada topik pemeriksaan yang tepat.

08

Input yang diperlukan dalam kegiatan ini meliputi:


a. Rencana Strategis BPK dan kebijakan Badan tentang
pemeriksaan kinerja;
b. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
Pemerintah;
c. Rencana Kerja dan Anggaran (RKA);
d. Laporan hasil pemeriksaan sebelumnya; dan
e. Isu yang sedang berkembang di masyarakat yang dapat diperoleh
melalui media cetak maupun media elektronik.

Input
penentuan topik
potensial

09

Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam penentuan topik


potensial pemeriksaan adalah sebagai berikut.
a. Mengumpulkan data dan informasi
Untuk menentukan topik potensial terlebih dahulu dilakukan
pengumpulan data dan informasi. Data dan informasi tersebut
meliputi rencana strategis BPK dan kebijakan Badan tentang
pemeriksaan kinerja, RPJMN, dan informasi lain seperti RKA,
laporan hasil pemeriksaan sebelumnya, isu yang berkembang di
masyarakat yang dapat diperoleh melalui media cetak maupun
media elektronik.
b. Menginventarisasi topik potensial pemeriksaan

Langkahlangkah
penentuan topik
potensial

10

Hal-hal yang dilakukan untuk menginventarisasi topik potensial


pemeriksaan adalah:
11

1. Pelajari rencana strategis serta kebijakan BPK tentang


pemeriksaan kinerja untuk mengidentifikasi bidang-bidang
yang menjadi topik pemeriksaan kinerja.
Contoh: Berdasarkan rencana strategis BPK Tahun
2006-2010 untuk AKN I pemeriksaan kinerja dilakukan atas
topik yang bersifat strategis bagi hajat hidup orang banyak
(pelayanan umum) seperti pelayanan ketenagakerjaan,
ketransmigrasian,
keimigrasian,
perkeretaapian
dan
kepelabuhanan, serta pelayanan Kepolisian Republik
Indonesia (POLRI).

12

2. Reviu Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN)


Pemerintah untuk mengidentifikasi permasalahan, sasaran,
arah kebijakan dan program-program pembangunan yang
akan dilaksanakan pemerintah.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

13

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

13

Bab III

3. Reviu atas isu-isu yang berkembang di masyarakat


Contoh: Pada tahun 2010 berbagai media banyak menyoroti
permasalahan keamanan tabung gas elpiji 3 Kilogram (Kg)
yang dikeluarkan pemerintah dalam rangka konversi minyak
tanah ke gas. Maka isu mengenai gas elpiji tersebut dapat
diangkat menjadi topik potensial pemeriksaan kinerja.

14

4. Reviu atas hasil pemeriksaan sebelumnya, baik dari


pemeriksaan kinerja, keuangan maupun PDTT untuk
mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang perlu
ditindaklanjuti dengan pemeriksaan kinerja. Permasalahan
ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam penentuan
topik potensial pemeriksaan kinerja. Selain itu, suatu topik
pemeriksaan baru yang belum termasuk dalam lingkup
pemeriksaan sebelumnya, juga dapat diprioritaskan untuk
menjadi topik potensial pemeriksaan.

15

5. Melakukan inventarisasi topik-topik potensial pemeriksaan


berdasarkan hasil reviu atas informasi-informasi yang sudah
terkumpul.

16

c. Memilih topik potensial


Berdasarkan hasil inventarisasi topik-topik potensial, selanjutnya
unit kerja pemeriksaan menentukan topik potensial pemeriksaan.
Unit kerja pemeriksa dapat menggunakan beberapa faktor
di bawah ini sebagai dasar pertimbangan dalam menentukan
topik pemeriksaan.
1) Jumlah anggaran yang dikelola/materialitas keuangan
Berdasarkan faktor jumlah anggaran yang dikelola, suatu
entitas atau program yang mengelola anggaran penerimaan
dan/atau pengeluaran yang besar akan mendapatkan prioritas
yang lebih tinggi untuk dipertimbangkan menjadi topik
pemeriksaan.
2) Kepentingan publik/masyarakat
Suatu entitas/program yang sedang mendapatkan sorotan
masyarakat dan menjadi isu nasional, atau diharapkan dapat
memberikan pelayanan publik yang optimal oleh masyarakat
atau menyangkut kepentingan hajat hidup orang banyak
dapat diprioritaskan menjadi topik pemeriksaan.
3) Kepentingan politik
Suatu program/kegiatan yang keberhasilannya menjadi
prioritas pemerintah dan mengandung kepentingan politik
yang tinggi, perlu diperhatikan untuk dipilih menjadi topik
pemeriksaan. Hal ini untuk memastikan bahwa tingkat
capaian keberhasilan pemerintah atas program/kegiatan
tersebut telah dilaporkan sesuai dengan fakta yang ada.
4) Signifikansi program atau kegiatan
Semakin signifikan suatu program/kegiatan dalam penilaian
keberhasilan kinerja suatu entitas ataupun pemerintah, maka
semakin tinggi prioritasnya untuk dijadikan sebagai topik
pemeriksaan.

17

18

19

20

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

14

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

21

22

23
24

25

Bab III

5) Auditabilitas
Dalam mempertimbangkan suatu topik pemeriksaan, unit
kerja pemeriksaan juga perlu mempertimbangkan aspek
auditabilitas dari suatu topik pemeriksaan. Aspek
auditabilitas ini dapat dipandang dari sisi internal maupun
eksternal. Sisi internal erat kaitannya dengan ketersediaan
sumber daya pemeriksaan baik secara kuantitas maupun
kuantitas. Sedangkan sisi eksternal terkait dengan faktorfaktor dari luar BPK yang menghambat suatu topik untuk
diperiksa. Misalnya terdapat perubahan struktur organisasi
secara besar-besaran pada entitas yang akan diperiksa.
6) Dampak terhadap lingkungan
Dalam menentukan topik pemeriksaan, unit kerja pemeriksa
perlu mempertimbangkan aspek lingkungan. Entitas yang
memiliki dampak yang tinggi terhadap lingkungan antara
lain: entitas yang berwenang menyusun peraturan terkait
lingkungan; memiliki proses bisnis yang memanfaatkan
sumber daya alam; atau memiliki proses bisnis yang
memengaruhi lingkungan.
Pemeriksa juga dapat mengembangkan faktor-faktor lainnya yang
dianggap penting dalam menentukan topik pemeriksaan.
Dengan menggunakan pertimbangan profesionalnya, pemeriksa
dapat memberikan skor untuk setiap faktor di atas dengan bobot
sebagai berikut.
1) Bobot 1 untuk nilai yang rendah,
2) Bobot 2 untuk nilai sedang, dan
3) Bobot 3 untuk nilai tinggi.
Output dari kegiatan penentuan topik potensial adalah
teridentifikasinya topik-topik potensial pemeriksaan beserta urutan
prioritas dan dasar pemilihan topik yang akan menjadi dasar dalam
menyusun rencana kegiatan pemeriksaan (RKP) dan menyusun
perencanaan selanjutnya. Contoh kertas kerja penentuan topik
pemeriksaan dapat dilihat pada Lampiran III.1.

Output
penentuan topik
potensial

D. Penyusunan Program Pemeriksaan Pendahuluan


26

27

Suatu pemeriksaan pendahuluan dalam pemeriksaan kinerja,


sebaiknya dilakukan untuk memperoleh suatu perencanaan
pemeriksaan yang baik dan matang. Perencanaan yang baik dan
matang akan mendukung proses pemeriksaan yang efisien dan efektif
sehingga terwujud hasil pemeriksaan yang optimal. Penyusunan
Program Pemeriksaan (P2) pendahuluan merupakan langkah awal
yang harus disiapkan oleh tim pemeriksaan kinerja pada tahap
perencanaan.
Tujuan utama penyusunan P2 pendahuluan adalah:
1) menetapkan hubungan yang jelas dan konsisten antara rencana
strategis BPK dengan rencana operasional pemeriksaan kinerja;
2) mengidentifikasikan dan mendokumentasikan prosedurprosedur pemeriksaan untuk memperoleh informasi yang
diperlukan pada tahap ini; dan
3) memudahkan supervisi dan reviu untuk pemerolehan keyakinan
mutu pemeriksaan.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Tujuan penyusunan
P2 Pendahuluan

15

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

28

P2 Pendahuluan harus disusun sejalan dengan perencanaan strategis


yang telah ditetapkan. Hasil dari kegiatan perencanaan operasional
sangat memengaruhi lingkup, tujuan, dan proses pemeriksaan kinerja
selanjutnya. Oleh karena itu, perencanaan operasional harus disusun
dengan cermat.

29

Input yang diperlukan dalam kegiatan Penyusunan Program


Pemeriksaan Pendahuluan adalah:
1) hasil dari kegiatan pada tahap penentuan topik potensial
pemeriksaan;
2) Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP);
3) Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN);
4) Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP); dan
5) pengarahan khusus pimpinan.

Input penyusunan P2
Pendahuluan

30

Sumber data yang dapat digunakan dalam menyusun lingkup dan


sasaran pemeriksaan pendahuluan antara lain:
1) hasil pemeriksaan sebelumnya atas entitas yang diperiksa;
2) informasi dari media massa baik media cetak maupun elektronik;
dan
3) hasil wawancara dengan pemeriksa terdahulu dan pihak lain yang
dianggap memiliki pemahaman yang memadai atas sasaran yang
akan dituju dalam pemeriksaan kinerja.
Setelah memperoleh informasi yang cukup, pemeriksa menyusun P2
Pendahuluan yang akan menjadi pedoman pemeriksa dalam
menjalankan penugasan pemeriksaan kinerja.

Sumber data untuk


penyusunan P2
Pendahuluan

31

Beberapa Informasi yang dapat dituangkan dalam P2 Pendahuluan


adalah sebagai berikut:
1) dasar pemeriksaan;
2) standar pemeriksaan;
3) organisasi/program yang diperiksa;
4) tahun anggaran yang diperiksa;
5) identitas dan data umum entitas yang diperiksa;
6) alasan pemeriksaan;
7) jenis pemeriksaan;
8) tujuan pemeriksaan;
9) sasaran pemeriksaan;
10) metodologi pemeriksaan;
11) langkah atau prosedur pemeriksaan pendahuluan.

Informasi dalam P2
Pendahuluan

32

Output atas hasil kegiatan Penyusunan P2 Pendahuluan adalah


berupa suatu Program Pemeriksaan Pendahuluan. P2 Pendahuluan ini
akan digunakan pemeriksa sebagai pedoman dalam tahap
perencanaan operasional untuk mengidentifikasi:
1) permasalahan/isu terkait dengan entitas/program yang akan
diperiksa;
2) area kunci yang akan menjadi fokus dalam pelaksanaan terinci
pemeriksaan kinerja;
3) tujuan dan lingkup pemeriksaan kinerja;
4) kriteria pemeriksaan yang akan digunakan, dan
5) jenis bukti dan prosedur pemeriksaan

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

16

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

33

Bab III

Seluruh data dan informasi yang diperoleh untuk penyusunan P2


Pendahuluan ini harus didokumentasikan. Data dan informasi
tersebut dapat digunakan untuk pelaksanaan pemeriksaan
pendahuluan. Seluruh dokumen yang digunakan dalam proses ini
disimpan sebagai Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) indeks A.

E. Pemahaman Entitas dan Pengidentifikasian Masalah


34

35

36

37

38

Sebelum melakukan pengidentifikasian masalah, pemeriksa terlebih


dahulu harus memperoleh pemahaman yang memadai atas harapan
penugasan dan entitas yang diperiksa.
Pemeriksa memerlukan pemahaman entitas agar dapat memahami
kegiatan pokok, proses bisnis, isu dan permasalahan yang dihadapi,
peraturan yang terkait dengan entitas/kegiatan/program yang
diperiksa termasuk juga isu lingkungan hidup dan data umum entitas
lainnya.
Pemahaman entitas serta pemahaman atas harapan penugasan dapat
membantu pemeriksa dalam hal:
a) penentuan arah pemeriksaan kinerja;
b) penaksiran risiko dan identifikasi masalah pemeriksaan yang
signifikan; dan
c) perencanaan pemeriksaan yang matang sehingga pelaksanaan
pemeriksaan dapat dilakukan secara efisien dan efektif.
Tujuan dari kegiatan pemahaman entitas dan pengidentifikasian
masalah adalah:
a) memperoleh
data,
informasi,
serta
latar
belakang
entitas/program/ kegiatan dan fungsi pelayanan publik yang
diperiksa mengenai hal-hal yang berhubungan dengan input,
proses, output, serta outcome; dan
b) mengidentifikasi
masalah-masalah
yang
ada
dalam
entitas/kegiatan/program yang akan diperiksa.
Input yang diperlukan dalam kegiatan ini dapat berupa antara lain:
a) Hasil analisis pemilihan topik potensial pemeriksaan yang
dilakukan pada tahap penentuan topik potensial pemeriksaan;
b) Peraturan perundang-undangan seperti: Undang-Undang (UU),
Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Presiden (Perpres)
Keputusan Menteri (Kepmen), Keputusan Dirjen, Surat Edaran
Direktur, Keputusan Kepala Dinas, Surat Edaran Kepala Dinas,
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART)
BUMN/BUMD, Keputusan Direksi, dan Company Profile
BUMN/BUMD yang terkait dengan program/kegiatan yang
diperiksa;
c) System dan Operational Prosedure (SOP), dan petunjuk
operasional yang terkait dengan program/ kegiatan yang
diperiksa;
d) Hasil evaluasi terhadap program entitas dan rencana kerja
pemeriksa internal dan laporan hasil pemeriksaan sebelumnya;
e) Hasil-hasil diskusi dengan manajemen dan stakeholder; dan
f) Hasil liputan media masa dan penelaahan informasi dari internet
yang terkait dengan program/ kegiatan yang diperiksa.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Tujuan pemahaman
entitas dan
pengidentifikasian
masalah

Input yang
diperlukan dalam
pemahaman entitas
dan
pengidentifikasian
masalah

17

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

39

Tidak semua input yang terdaftar di atas harus diperoleh pemeriksa,


tergantung dari lingkup entitas yang diperiksa dan pertimbangan
pemeriksa.

40

Untuk dapat mengidentifikasi permasalahan signifikan pada entitas,


terdapat dua pendekatan utama yang dapat digunakan yaitu:
1) pendekatan yang berorientasi pada hasil; dan
2) pendekatan yang berorientasi pada proses.

Pendekatan untuk
mengidentifikasi
permasalahan
signifikan

41

Dalam menggunakan pendekatan yang berorientasi pada hasil,


Pemeriksa
dapat
mengembangkan
pemeriksaan
dengan
menggunakan beberapa pertanyaan sebagai berikut:
1) Bagaimanakah kinerja atau hasil apa yang telah dicapai oleh
entitas?
2) Apakah persyaratan-persyaratan untuk melakukan kegiatan
pada suatu entitas telah dipenuhi?
3) Apakah tujuan dari entitas/program/kegiatan telah tercapai?
Dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan di atas, pemeriksa
melakukan analisis awal tentang hasil kinerja entitas yang telah
dicapai (dilihat dari aspek ekonomi, efisiensi dan efektivitas)
dibandingkan dengan hasil observasi awal tentang kriteria yang ada
(misal: tujuan, sasaran, peraturan, dan lain-lain). Kesimpulan awal
hasil analisis ini dapat dikembangkan lebih lanjut dalam langkah
perencanaan operasional berikutnya, yaitu untuk penentuan area
kunci, tujuan, lingkup, dan kriteria pemeriksaan.

Pendekatan yang
berorientasi pada
hasil

42

Dalam pendekatan yang berorientasi pada proses, pemeriksa


melakukan verifikasi dan analisis awal tentang segala proses yang
melekat pada entitas yang akan diperiksa. Pemeriksa dapat
memanfaatkan berbagai macam sumber data dan informasi untuk
mendapatkan data yang relevan. Beberapa proses yang telah
teridentifikasi tersebut merupakan titik awal dari tahap perencanaan
pemeriksaan kinerja.
Kegiatan utama dalam pendekatan ini adalah memverifikasi apakah
terdapat permasalahan yang ada dalam proses yang telah
teridentifikasi, dan menganalisis faktor-faktor penyebabnya.
Verifikasi dan analisis atas masalah dalam proses tersebut dilakukan
dengan tetap memperhatikan aspek 3E. Selanjutnya pemeriksa
memformulasikan dugaan awal atau hipotesis tentang penyebab
terjadinya masalah dan akibatnya tersebut, untuk dilakukan
pengujian lebih lanjut. Dugaan awal atau hipotesis tersebut
dipengaruhi oleh pertimbangan profesional pemeriksa, berdasarkan
hasil analisisnya.

Pendekatan yang
berorientasi pada
proses

43

Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pemahaman entitas


dan pengidentifikasian masalah dapat dirinci sebagai berikut.

Langkah-langkah
dalam pemahaman
entitas dan
pengidentifikasian
masalah

a. Reviu hasil analisis pemilihan topik potensial pemeriksaan pada


tahap penentuan topik potensial yang secara khusus terkait
dengan entitas/program/ kegiatan yang diperiksa.
b. Analisis SOP dari entitas yang diperiksa, yang relevan dengan
tujuan pemeriksaan.
c. Jika diperlukan, lakukan observasi singkat di lokasi kegiatan
utama entitas, misalnya, pabrik atau gudang untuk
BUMN/BUMD, atau kantor untuk instansi pemerintah. Kegiatan
ini dilaksanakan untuk mengukur tingkat kepatuhan atas
Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

18

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

implementasi SOP dan Sistem Pengendalian Internal (SPI).


d. Jika diperlukan, lakukan wawancara dengan manajemen.
Wawancara ini dilakukan dalam rangka untuk memperoleh
informasi yang bersifat umum, seperti misi entitas yang
diperiksa, target kegiatan pada tahun berjalan yang diperiksa,
anggaran yang tersedia, realisasi kegiatan, dan sebagainya.
e. Reviu
peraturan-peraturan
yang
mendasari
entitas/program/kegiatan yang diperiksa, laporan kemajuan
pelaksanaan program, serta hambatan-hambatan dalam
pencapaian program.
f. Identifikasi dan reviu tujuan dan sasaran dari program yang
diperiksa, kemudian teliti apakah dalam mencapai tujuan
tersebut terdapat tolok ukur, standar, atau Key Performance
Indicator (KPI) untuk menentukan kelemahan dan keberhasilan
program tersebut.
g. Lakukan inventarisasi atas tolok ukur, standar, atau KPI yang
telah diterapkan oleh entitas
dalam melaksanakan
program/kegiatan.
Misalnya, dalam pelaksanaan Program Peningkatan Kualitas
Pelajar SMU terdapat tolok ukur sebagai berikut:
1) Standar rata-rata Nilai Ebtanas Murni (NEM) adalah 6,5.
2) Standar nilai rata-rata mata pelajaran ilmu pasti
(Matematika, Fisika, dan Kimia) adalah 7.
3) Standar nilai rata-rata mata pelajaran PMP adalah 8.

44

h. Buatlah simpulan mengenai pemahaman entitas dan


permasalahan yang berhasil diidentifikasi dalam tahap ini.
Permasalahan ini merupakan identifikasi awal bagi
pengembangan arah dan tujuan pemeriksaan pada tahap
perencanan selanjutnya.
Output dari kegiatan Pemahaman Entitas dan Pengidentifikasian
Masalah dapat meliputi:
(a) gambaran umum dari entitas/program/kegiatan yang diperiksa
yang antara lain meliputi input, proses, output, dan outcome;
(b) penilaian awal pemeriksa tentang capaian kinerja entitas;
(c) identifikasi tentang permasalahan yang dihadapi entitas, serta
hipotesis awal tentang faktor-faktor penyebab dan akibatnya;
(d) hasil reviu peraturan perundang-undangan yang mendasari
entitas/program/kegiatan yang diperiksa;
(e) informasi mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kinerja
entitas; dan
(f) kesimpulan umum tentang identifikasi masalah berupa area
potensial yang dapat dianalisis lebih lanjut sebagai area kunci.

45

Seluruh pengkajian pemeriksa mengenai tahap Pemahaman entitas


dan Pengidentifikasian Masalah harus didokumentasikan dalam
KKP. Contoh KKP kegiatan pemahaman entitas dan
pengidentifikasian masalah dapat dilihat pada Lampiran III.2 dan
Lampiran III.3.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Output kegiatan
pemahaman entitas
dan
pengidentifikasian
masalah

Pengkajian pemeriksa
dalam tahap ini harus
didokumentasikan

19

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

F. Penentuan Area Kunci


46

Lingkup pemeriksaan kinerja sangatlah luas, sedangkan sumber


daya pemeriksaan, yaitu tenaga pemeriksa, sumber dana, dan waktu
pemeriksaan, sangat terbatas. Standar Pemeriksaan Keuangan
Negara (SPKN) dalam Pernyataan Standar Pemeriksaan (PSP) 04
Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja paragraf 8 (delapan)
mensyaratkan pemeriksa untuk mempertimbangkan signifikansi
suatu masalah dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan atas
pemeriksaan kinerja. Suatu masalah dianggap signifikan apabila
masalah itu relatif penting bagi pencapaian tujuan pemeriksaan dan
bagi calon pengguna laporan hasil pemeriksaan. Untuk
melaksanakan SPKN dan juga mempertimbangkan adanya
keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi oleh pemeriksa, serta
menyesuaikan dengan tahap dalam Juklak Pemeriksaan Kinerja,
maka dalam tahap perencanaan pemeriksaan, Pemeriksa perlu
menentukan suatu area kunci.

47

Area kunci adalah area, bidang, program, atau kegiatan yang


merupakan fokus pemeriksaan dalam entitas yang diperiksa.
Penentuan area kunci sangat penting agar pelaksanaan pemeriksaan
dapat lebih fokus pada tujuan pemeriksaan, sehingga
memungkinkan penggunaan sumber daya pemeriksaan yang lebih
efisien dan efektif. Dalam kegiatan penentuan area kunci, pemeriksa
akan dapat memahami suatu permasalahan yang sudah
teridentifikasi pada tahap sebelumnya, secara lebih mendalam.

Pengertian area kunci

48

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pemahaman entitas dan


identifikasi masalah, yang di dalamnya terdapat informasi tentang
visi, misi, proses bisnis, tugas utama dari entitas, serta
permasalahan-permasalahan yang dapat menghambat pencapaian
tujuan entitas/program/kegiatan,
pemeriksa dapat menentukan
beberapa area potensial yang dapat dikembangkan dalam
pemeriksaan. Area potensial yang telah teridentifikasi tersebut,
selanjutnya akan dipilih berdasarkan urutan prioritasnya untuk
ditentukan sebagai fokus utama obyek pemeriksaan yang disebut
area kunci. Untuk menentukan urutan prioritas area kunci yang akan
dipilih, digunakan suatu pendekatan faktor-faktor pemilihan
(selection factors).
Faktor-faktor pemilihan tersebut terdiri dari empat faktor utama
yang terdiri dari:
a) risiko terhadap manajemen, yaitu risiko yang dihadapi oleh
manajemen atas tidak tercapainya aspek 3E (Ekonomi, Efisiensi
dan Efektivitas);
b) signifikansi suatu program, yaitu penilaian apakah suatu
kegiatan dalam suatu area audit secara komparatif mempunyai
pengaruh yang besar terhadap kegiatan lainnya dalam obyek
pemeriksaan secara keseluruhan;
c) dampak pemeriksaan, yaitu pengaruh hasil pemeriksaan
terhadap perbaikan atas area yang diperiksa; dan
d) auditabilitas, yaitu berhubungan dengan kemampuan tim
pemeriksa untuk melaksanakan pemeriksaan sesuai standar.
Dalam mempertimbangkan auditabilitas, pemeriksa juga perlu
mempertimbangkan risiko pemeriksaan. Semakin tinggi risiko
pemeriksaan, maka auditabilitasnya akan semakin rendah.

Faktor pemilihan area


kunci

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

20

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

Dengan menggunakan faktor-faktor pemilihan tersebut, pemeriksa


melakukan pembobotan atas masing-masing area potensial yang
akan diperiksa untuk menentukan urutan prioritas yang akan dipilih
sebagai area kunci. Berdasarkan hasil atas urutan prioritas yang
telah dianalisis, pemeriksa menentukan area kunci yang akan
menjadi fokus dalam pelaksanaan pemeriksaan kinerja.
49

Tujuan penentuan area kunci adalah:


1) memahami area-area kunci yang memiliki risiko tinggi untuk
diperiksa; dan

Tujuan penentuan
area kunci

2) menentukan urutan prioritas area kunci yang akan dipilih dengan


menggunakan pendekatan faktor-faktor pemilihan yang terdiri
atas (1) risiko manajemen, (2) signifikansi, (3) dampak
pemeriksaan, dan (4) auditabilitas.
50

Dalam menentukan area kunci, khususnya pada saat


mempertimbangkan
risiko
manajemen,
pemeriksa
dapat
mempertimbangkan kualitas Sistem Pengendalian Internal (SPI)
entitas/program.kegiatan yang diperiksa. Hal ini dikarenakan
pengendalian yang lemah atas suatu entitas/program/kegiatan akan
mengakibatkan tujuan entitas/program/kegiatan (meliputi efektivitas,
efisiensi, atau ekonomi) semakin sulit tercapai. Salah satu alat yang
dapat digunakan untuk menilai kualitas SPI adalah The Committee of
Sponsoring Organizations of The Treadway Commission (COSO).

51

Sesuai dengan COSO, SPI terdiri atas lima komponen yang saling
terkait, yaitu:
(a) Lingkungan pengendalian
Lingkungan pengendalian adalah kondisi lingkungan organisasi
yang menetapkan corak suatu organisasi dan memengaruhi
kesadaran akan pengendalian. Lingkungan pengendalian
merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian internal,
meliputi integritas dan nilai etika, komitmen terhadap
kompetensi, partisipasi dewan komisaris atau komite
pemeriksaan, filosofi dan gaya operasi manajemen, struktur
organisasi, pemberian wewenang dan tanggung jawab, serta
kebijakan dan praktik sumber daya manusia.
(b) Penaksiran risiko
Proses penaksiran risiko meliputi identifikasi, analisis, dan
pengelolaan risiko yang dihadapi oleh manajemen, yang dapat
menghambat pencapaian tujuan organisasi.
(c) Aktivitas pengendalian
Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang
membantu menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan.
Aktivitas pengendalian dapat meliputi reviu kinerja, pengolahan
informasi, pengendalian fisik, serta pemisahan tugas.
(d) Informasi dan komunikasi
Informasi dan komunikasi adalah pengidentifikasian,
penangkapan, dan pertukaran informasi yang memungkinkan
setiap orang dapat melaksanakan tanggung jawab mereka.
Sistem informasi menghasilkan laporan atas hal-hal yang terkait
dengan operasional, keuangan, dan kepatuhan terhadap
peraturan.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

21

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

(e) Pemantauan
Seluruh sistem pengendalian organisasi harus dipantau untuk
menilai kualitas sistem pengendalian tersebut. Kelemahan dalam
sistem pengendalian harus dilaporkan kepada manajemen
tingkat atas. Selain itu, harus dilakukan evaluasi yang
independen atas SPI. Frekuensi dan lingkup evaluasi tergantung
pada penaksiran risiko dan efektivitas prosedur pengawasan.
52

Dalam menilai sistem pengendalian internal dengan pendekatan


COSO, pemeriksa tidak harus menanyakan seluruh pertanyaan yang
ada dalam kuesioner COSO, pemeriksa dapat melakukan modifikasi
kuesioner dengan menggunakan pertimbangan profesionalnya untuk
menentukan pertanyaan-pertanyaan mana yang paling sesuai dengan
kebutuhan pemeriksaan suatu entitas/program/kegiatan.
Daftar pertanyaan yang dapat membantu pemeriksa untuk
memahami SPI entitas berdasarkan pendekatan COSO ini dapat
dilihat pada Lampiran III.4.

53

Input yang diperlukan dalam kegiatan penentuan area kunci dapat


berupa:

Input yang diperlukan


dalam kegiatan
penentuan area kunci

1) hasil kegiatan pemahaman entitas dan pengidentifikasian


masalah;
2) hasil diskusi dengan pimpinan/manajemen entitas atau komite
audit entitas;
3) hasil diskusi dengan pimpinan/manajemen satuan kerja
pemeriksa;
4) hasil olahan database entitas yang dikelola oleh BPK;
5) hasil kajian atau kumpulan informasi yang disediakan oleh unit
non pemeriksa BPK seperti pada dokumen kajian hukum
terhadap suatu organisasi/program/fungsi pelayanan publik
(Direktorat Binbangkum); hasil kumpulan pengaduan
masyarakat (Biro Humas dan Luar Negeri) dan/atau hasil kajian
atau studi atau kajian pemeriksaan yang dibuat oleh Litbang
BPK; dan
6) hasil wawancara, observasi, dan metodologi pengumpulan data
lainnya yang digunakan oleh pemeriksa dalam mengumpulkan
data dan informasi dalam tahap perencanaan pemeriksaan ini.
54

Seperti telah disebutkan dalam paragraf sebelumnya, bahwa dalam


penentuan area kunci ini terdapat beberapa kegiatan utama yang
meliputi:

Langkah-langkah
penentuan area kunci

1. Menentukan area-area potensial yang dapat diperiksa.


Berdasarkan output dari tahap identifikasi masalah telah
teridentifikasi beberapa permasalahan utama yang ada pada
entitas.
Permasalahan-permasalahan
tersebut
kemudian
diklasifikasikan ke dalam beberapa area potensial yang akan
dijadikan area pemeriksaan. Area-area tersebut adalah area yang
dianggap signifikan terhadap keseluruhan program yang akan
diperiksa.
2. Membuat urutan prioritas atas beberapa area yang telah
ditentukan berdasarkan faktor-faktor pemilihan.
Tidak semua area potensial yang telah ditetapkan sebelumnya
akan ditindaklanjuti dalam pemeriksaan terinci. Area-area
Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

22

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

tersebut akan diranking dengan menggunakan faktor-faktor


pemilihan, yaitu faktor risiko manajemen, signifikansi, dampak
pemeriksaan, dan auditabilitas. Pemeriksa dapat melakukan
pembobotan
berdasarkan
pertimbangan
profesionalnya
(professional judgment). Pembobotan dilakukan dengan
menggunakan matriks pembobotan dengan skor terhadap faktorfaktor pemilihan sebagai berikut:
bobot 1 untuk nilai yang rendah;
bobot 2 untuk nilai sedang; dan
bobot 3 untuk nilai tinggi.
Berdasarkan hasil pembobotan tersebut, pemeriksa dapat
menyusun urutan prioritas dari masing-masing area potensial.
3. Menentukan area kunci berdasarkan urutan prioritas yang telah
dibuat.
Pemeriksa dapat memilih satu atau beberapa area potensial
menjadi area kunci berdasarkan urutan prioritasnya dengan
memperhatikan faktor ketersediaan sumber daya, seperti jumlah
pemeriksa, waktu, anggaran, dan kesiapan pemeriksa.
55

Teknik penentuan area kunci yang lebih detail dapat dilihat pada
Petunjuk Teknis Penentuan Area Kunci, yang merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari Juklak ini.

Juknis Penentuan
Area Kunci

56

Output dari kegiatan penilaian terhadap area kunci adalah


teridentifikasikannya area kunci yang menjadi fokus pemeriksaan.

Out put penentuan


area kunci

57

Seluruh pengkajian pemeriksa mengenai tahap penentuan area kunci


di tingkat entitas harus didokumentasikan. Tim dapat
mengembangkan suatu template yang membantu pendefinisian
pengendalian internal dan risiko kecurangan di dalam suatu entitas
dalam rangka penentuan area kunci yang terdokumentasi sebagai
KKP. Contoh KKP kegiatan penentuan area kunci dapat dibaca pada
Lampiran III.5 dan III.6.

Pengkajian pemeriksa
dalam tahap ini harus
didokumentasikan

G. Penentuan Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan


58 Tujuan pemeriksaan kinerja harus benar-benar dipertimbangkan dan
dinyatakan secara jelas. Tujuan tersebut harus didefinisikan dengan
jelas agar dapat mempermudah tim pemeriksa dalam mengambil
kesimpulan pada akhir pemeriksaan. Apabila tujuan pemeriksaan
telah ditetapkan secara tepat dan jelas, maka pekerjaan-pekerjaan
pemeriksaan akan lebih terarah kepada kegiatan-kegiatan untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam tujuan
pemeriksaan. Oleh karena itu, tujuan pemeriksaan kinerja harus bisa
didefinisikan secara tepat, sehingga dapat dihindari pelaksanaan
prosedur pemeriksaan yang tidak perlu. Manfaat penentuan tujuan
dan lingkup pemeriksaan adalah:
(1) membantu mengidentifikasikan masalah-masalah yang akan
diperiksa dan akan dilaporkan;
(2) membantu memfokuskan kegiatan pengumpulan bukti
pemeriksaan;
(3) menyiapkan parameter atau ukuran pembatasan pemeriksaaan
seperti periode yang akan diperiksa atau lokasi pemeriksaan
lapangan yang akan dipilih; dan
Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Manfaat penentuan
tujuan dan lingkup
pemeriksaan

23

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

(4) mempermudah tim pemeriksa dalam mengambil kesimpulan


pada akhir pemeriksaan.
59 Input
0 yang diperlukan dalam kegiatan Penentuan Tujuan dan
Lingkup
4
Pemeriksaan adalah:
(1) output dari kegiatan pemahaman entitas dan pengidentifikasian
masalah; dan
(2) output dari kegiatan penentuan area kunci.
60 Langkah-langkah
0
yang diperlukan dalam menentukan tujuan dan
5
lingkup pemeriksaan adalah sebagai berikut.
1. Menentukan tujuan pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan terkait erat dengan alasan dilakukannya
suatu pemeriksaan. Tujuan pemeriksaan harus benar-benar
dipertimbangkan dan dinyatakan secara jelas. Isi dari tujuan
pemeriksaan harus bisa mengungkapkan hal yang ingin dicapai
dari pemeriksaan tersebut.
Dalam menentukan tujuan pemeriksaan kinerja, pemeriksa dapat
memilih untuk memeriksa: salah satu aspek saja (1E) misalnya
menilai aspek ekonomi, atau efisiensi atau efektivitas; kombinasi
dua aspek (2E) misalnya menilai aspek ekonomi dan efisiensi
atau efisiensi dan efektivitas; dan seluruh aspek (3E) baik
ekonomi, efisiensi dan efektivitas.
Dalam memformulasikan tujuan pemeriksaan tersebut,
pemeriksa dapat membuat berbagai macam pertanyaan
pemeriksaan terhadap organisasi/program/fungsi pelayanan
publik yang hendak diperiksa. Pemeriksa hendaknya
menentukan tujuan pemeriksaan dengan berdasar pada informasi
yang diperoleh dan keahlian serta pengalaman yang dimiliki.
2. Menentukan lingkup pemeriksaan
Yang dimaksudkan dengan lingkup di sini adalah:
(a) luas sasaran pemeriksaan yang akan dilakukan, dalam hal ini
pemeriksa harus mempertimbangkan hal-hal penting yang
diinginkan pemberi tugas dan harus mengacu kepada tujuan
pemeriksaan;
(b) permasalahan yang akan diperiksa, yaitu masalah ekonomis,
efisiensi, dan efektivitas; pemeriksa dapat menggunakan satu
kriteria permasalahan, atau dua kriteria, atau ketiga-tiganya
sesuai dengan permasalahan yang ada di lapangan; dan
(c) waktu yang diperlukan dalam pemeriksaan dan besarnya
sampel yang akan diambil.
Penentuan lingkup pemeriksaan harus terkait dengan tujuan
pemeriksaan yang telah ditetapkan dan merupakan hal yang
penting dalam proses perencanaan. Hal tersebut sangat
memengaruhi prosedur yang diperlukan selama pelaksanaan
pemeriksaan, sumber daya yang dibutuhkan, dan masalahmasalah penting yang akan dilaporkan.
Peranan pertimbangan pemeriksa sangat penting dalam
menyeleksi dan menentukan kegiatan/program yang akan
diperiksa karena terdapat berbagai kegiatan atau program yang
harus diperiksa. Langkah-langkah dalam penentuan lingkup
audit adalah sebagai berikut:

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Input yang diperlukan

Langkah- langkah
dalam menentukan
tujuan dan lingkup
pemeriksaan

24

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

(a) Tentukan lingkup pemeriksaan atas dasar informasi yang


diperoleh pada pemeriksaan sebelumnya.
Keputusan mengenai penentuan lingkup pemeriksaan dapat
berubah sesuai dengan perubahan informasi yang didapat.
Oleh karena itu, lingkup pemeriksaan harus ditentukan
secara jelas pada tahap awal perencanaan pemeriksaan
sehingga kebutuhan terhadap sumber daya dan prosedur
pemeriksaan yang tepat dapat ditentukan.
Contoh: Dalam pemeriksaan tahun sebelumnya terhadap
Dinas Kesehatan Kabupaten A, dilaporkan bahwa terdapat
empat lokasi pembangunan Puskesmas yang tidak
dimanfaatkan. Berdasarkan laporan tersebut, maka
direncanakan pemeriksaan pada tahun berjalan untuk
memperluas lokasi pemeriksaan fisik pembangunan
Puskesmas tersebut.
(b) Lakukan perubahan dalam lingkup pemeriksaan apabila
informasi yang diperoleh dalam pelaksanaan pemeriksaan
mengharuskan demikian.
Hal ini terjadi jika informasi awal yang digunakan dalam
menentukan lingkup pemeriksaan selama perencanaan awal
kurang akurat dan kurang lengkap. Dalam kondisi demikian,
pemeriksa harus membicarakannya dengan manajemen
entitas mengenai perubahan yang cukup signifikan dalam
lingkup pemeriksaan yang terjadi setelah tahap perencanaan
awal.
(c) Apabila perintah (mandat) pemeriksaan kinerja menentukan
lingkup pemeriksaan secara luas, lakukan pertimbangan
profesional untuk merincinya secara lebih khusus (spesifik).
Hal tersebut diperlukan untuk memudahkan pemeriksa dalam
merancang prosedur pemeriksaan dalam rangka mencapai
tujuan pemeriksaan. Sedangkan bila perintah pemeriksaan
menentukan lingkup pemeriksaan secara spesifik, lakukan
pertimbangan profesional apakah lingkup tersebut sudah
tepat.
61 Output
1 dari kegiatan Penentuan Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan
adalah
2 sebagai berikut.
1) Tujuan pemeriksaan
2) Lingkup pemeriksaan meliputi:
(a) area kunci (Fungsi, kegiatan, unit organisasi, dll);
(b) periode waktu yang akan diperiksa; dan
(c) aspek kinerja yang diperiksa (3E, 2E, atau 1E).
62 Seluruh
1
pengkajian pemeriksa mengenai tahap penentuan tujuan dan
lingkup
3
pemeriksaan di tingkat entitas harus didokumentasikan. Tim
dapat mengembangkan suatu template yang membantu pendefinisian
tujuan dan
lingkup pemeriksaan. Secara keseluruhan
pendokumentasian dapat dijadikan sebagai KKP. Contoh KKP
kegiatan menentukan tujuan dan lingkup pemeriksaan dapat dibaca
pada Lampiran III.7.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Output penentuan
tujuan dan lingkup
pemeriksaan

Pengkajian pemeriksa
dalam tahap ini harus
didokumentasikan

25

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

H. Penetapan Kriteria Pemeriksaan


63

Kriteria adalah standar-standar kinerja yang masuk akal dan bisa


dicapai untuk menilai aspek ekonomi, efisiensi dan efektivitas dari
kegiatan yang dilaksanakan oleh entitas yang diperiksa. Kriteria
merefleksikan suatu model pengendalian yang bersifat normatif
mengenai hal-hal yang sedang direviu. Kriteria merepresentasikan
praktek-praktek yang baik, yaitu suatu harapan yang masuk akal
mengenai "apa yang seharusnya".

Pengertian kriteria

64

Apabila kriteria dibandingkan dengan kondisi aktual, maka akan


timbul temuan pemeriksaan. Jika kondisi memenuhi atau melebihi
kriteria, hal ini mengindikasikan bahwa entitas telah melaksanakan
praktik terbaik. Sebaliknya, jika kondisi tidak memenuhi kriteria, hal
ini mengindikasikan perlunya tindakan perbaikan.

Timbulnya temuan
pemeriksaan

65

Kriteria diperlukan sebagai dasar pembanding apakah praktekpraktek yang dilaksanakan telah mencapai standar kinerja yang
seharusnya.

Tujuan penentuan
kriteria

Tujuan Penetapan Kriteria Pemeriksaan adalah untuk:


(1) memberikan dasar yang baik sebagai alat komunikasi dalam tim
pemeriksaan dan dengan manajemen pemeriksa mengenai sifat
pemeriksaan;
(2) memberikan dasar yang baik sebagai alat komunikasi dengan
entitas yang diperiksa sehingga diharapkan entitas akan lebih
mudah menerima temuan dan rekomendasi yang akan diberikan;
(3) menghubungkan tujuan pemeriksaan dengan program
pemeriksaan yang dilaksanakan selama tahap pelaksanaan
pemeriksaan;
(4) memberikan dasar pada tahap pengumpulan data dan
penyusunan prosedur pemeriksaan; dan
(5) memberikan dasar dalam menyusun temuan pemeriksaan.
66

Keberhasilan kriteria dalam memenuhi tujuan pemeriksaan sangat


ditentukan oleh tingkat keterincian kriteria. Oleh karena itu, dalam
perencanaan pemeriksaan, pemeriksa perlu mengembangkan kriteria
yang spesifik. Untuk menghasilkan kriteria yang spesifik, pemeriksa
dapat memulai dari pernyataan-pertanyaan kriteria yang bersifat
umum, kemudian diperinci menjadi pernyataan yang lebih khusus
atau spesifik.

Keterincian kriteria

67

Input yang dapat digunakan untuk menentukan kriteria antara lain


sebagai berikut.

Input yang dibutuhkan


dalam kegiatan ini

1) Output dari kegiatan perencanan sebelumnya, antara lain:


(a) gambaran umum dari entitas/program/kegiatan yang
diperiksa yang antara lain meliputi input, proses, output, dan
outcome;
(b) hasil reviu peraturan perundang-undangan yang meliputi
kewenangan, maksud dan tujuan, dan struktur organisasi;
dan
(c) informasi mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kinerja
entitas.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

26

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

2) Kriteria yang diperoleh dari entitas terkait, termasuk di dalamnya


adalah pengendalian, standar, ukuran, hasil, target, dan
komitmen yang ditetapkan oleh entitas tersebut atau oleh
lembaga legislatif.
3) Kriteria yang diperoleh dari kinerja historis entitas yang
diperiksa.
4) Praktik terbaik (best practice) yang diperoleh dari kegiatan
serupa yang telah berhasil.
5) Standar yang ditetapkan oleh organisasi profesional dengan
melalui proses yang baku (due process)1 dan berterima umum.
6) Indikator-indikator kinerja yang dirancang oleh entitas yang
diperiksa atau oleh pemerintah, misalnya indikator yang
tercantum dalam RPJMN, Renstra, atau RKA-KL
7) Informasi dan ilmu pengetahuan yang telah dibakukan.
8) Kriteria yang digunakan dalam kegiatan pemeriksaan serupa atau
oleh lembaga pemeriksa tertinggi negara lain.
9) Standar kriteria dari organisasi di dalam atau di luar negeri yang
melaksanakan kegiatan atau program serupa.
10) Hasil identifikasi atas tujuan atau sasaran dari program/kegiatan
entitas.
11) Hasil identifikasi tren kinerja rata-rata atau optimal yang telah
dicapai.
12) Hasil pembandingan antara aktivitas program yang masih
berlangsung dengan aktivitas program yang sama yang telah
dilalui.
13) Harapan/tuntuan konsumen atau masyarakat, yang dapat
diperoleh dari media massa atau pengaduan masyarakat.
14) Literatur lainnya.
68

69

Informasi tentang kriteria sebagaimana dimaksud dalam paragraf 67


dapat diperoleh melalui:
1) tenaga ahli;
2) laporan pemeriksaan periode sebelumnya;
3) laporan kinerja entitas periode sebelumnya.;
4) dokumen anggaran, seperti Rencana Kegiatan dan Anggaran
Pemerintah (RKAP);
5) laporan kinerja dari entitas lain yang sejenis;
6) laporan hasil studi kelayakan dan rencana yang telah disetujui;
7) jurnal ilmiah, internet, buku teks; dan
8) hasil kuesioner, wawancara, observasi, dan metodologi
pengumpulan data lainnya dengan entitas yang akan diperiksa.
Tidak semua input yang terdaftar harus diperoleh pemeriksa,
tergantung dari pertimbangan profesional pemeriksa dalam
menentukan sumber kriteria yang dibutuhkan untuk menjawab
tujuan pemeriksaan.

Sumber perolehan
informasi kriteria

Due process yang dimaksud adalah kriteria tersebut merupakan hasil konsultasi dan telah diuji
sehingga diterima oleh pihak-pihak berwenang/berkepentingan dan telah mencerminkan hasil konsensus para
profesional.
Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

27

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

70

Bab III

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menentukan kriteria


dapat dirinci sebagai berikut.
1) Mengidentifikasi apakah entitas telah memiliki kriteria yang
dapat digunakan untuk mengukur kinerja program/ kegiatan yang
dilaksanakan;
2) Menguji apakah kriteria yang dimiliki entitas relevan dengan
tujuan pemeriksaan dan memenuhi karakteristik kriteria yang
baik sebagai berikut.
(a) Andal: apabila kriteria tersebut digunakan oleh pemeriksa
lain untuk masalah yang sama, maka kriteria tersebut harus
bisa memberikan simpulan yang sama.
(b) Objektif: kriteria bebas dari bias baik dari sisi pemeriksa
maupun entitas yang diperiksa.
(c) Bermanfaat: kriteria dapat menghasilkan temuan dan
simpulan pemeriksaan yang memenuhi keinginan para
pengguna informasi.
(d) Dapat dimengerti: kriteria ditetapkan secara jelas dan bebas
dari perbedaan interpretasi.
(e) Dapat diperbandingkan: kriteria tersebut bersifat konsisten
apabila digunakan dalam pemeriksaan kinerja atas entitasentitas atau kegiatan-kegiatan yang serupa atau apabila
digunakan dalam pemeriksaan kinerja sebelumnya atas
entitas yang sama.
(f) Lengkap: kriteria yang lengkap mengacu kepada penggunaan
seluruh kriteria yang signifikan dalam menilai kinerja.
(g) Dapat diterima: kriteria dapat diterima oleh entitas yang
diperiksa, lembaga legislatif, media, dan masyarakat umum.
Semakin tinggi tingkat dapat diterima semakin efektif
pemeriksaan kinerja yang dilaksanakan.
(h) Relevan: kriteria dapat memberikan kontribusi dalam proses
pelaksanaan pemeriksaan terkait dengan pembuatan simpulan
yang sesuai dengan tujuan pemeriksaan.
3) Mengembangkan kriteria pemeriksaan sendiri jika entitas tidak
memiliki kriteria atau dari hasil pengujian, kriteria yang ada
ternyata tidak relevan dengan tujuan pemeriksaan dan belum
memenuhi karakteristik kriteria.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh pemeriksa dalam
mengembangkan kriterianya sendiri adalah:
a. Mempelajari sumber-sumber kriteria dalam rangka
pengidentifikasian kriteria yang relevan dan memadai.
b. Melakukan studi atau observasi atas operasional entitas.
Misalnya, dengan melakukan analisis tren kinerja tahuntahun sebelumnya dan melakukan perbandingan kinerja
entitas yang diperiksa dengan organisasi lain yang mirip
(jenis organisasi maupun ukurannya) atau disebut
benchmarking.
c. Mengkomunikasikan hasil pengembangan kriteria tersebut
dengan pihak berwenang dari entitas yang diperiksa.
Untuk mengembangkan kriteria sendiri, beberapa pendekatan
yang dapat dilakukan oleh pemeriksa adalah:

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Langkah-langkah
penentuan kriteria

Langkah-langkah bila
kriteria yang baik
tidak tersedia

28

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

a. pemeriksa memvisualisasikan beberapa segmen kegiatan


menjadi suatu tugas; setiap penugasan umumnya melalui
beberapa tahap, seperti studi kelayakan, perencanaan,
pembiayaan, pelaksanaan, operasi, dan evaluasi;
b. pemeriksa mencari kriteria dengan mempelajari kebijakan
dan prosedur organisasi; contoh: dalam mengaudit rumah
sakit, waktu tunggu pasien dalam memperoleh tempat tidur
sebelum operasi besar dapat dijadikan kriteria untuk
mengukur efisiensi.
c. jika prosedur tidak dapat dijadikan dasar, pemeriksa harus
mencari dan mengadaptasikan prosedur organisasi sejenis
untuk dijadikan kriteria;
d. pemeriksa dapat menggunakan kriteria atas ekspektasi
pengguna layanan. Hal ini dapat dilakukan dengan
menggunakan kuesioner. Kuesioner ini menanyakan
responden mengenai tingkat ekspektasi kinerja entitas yang
diperiksa. Contoh: pada pemeriksaan rumah sakit, pemeriksa
menemukan waktu tunggu pasien sebelum dirawat.
Pemeriksa dapat mewawancarai pasien dan menemukan
batas waktu tunggu yang layak menurut ekspektasi pasien,
pemeriksa kemudian mendiskusikan ekspektasi ini dengan
manajemen rumah sakit dan kemudian manajemen setuju
atas waktu tunggu yang disepakati.
4) Komunikasikan kriteria yang akan dipakai kepada entitas
sebelum pemeriksaan dilaksanakan untuk mendapatkan
kesepakatan bersama (pemeriksa dan manajemen entitas)
mengenai dasar pengukuran kinerja yang digunakan dalam
pemeriksaan atas obyek yang diperiksa. Hal ini dilakukan agar
diperoleh kesepakatan antara entitas yang diperiksa dengan
pemeriksa, sehingga nantinya tidak ada penolakan terhadap hasil
pemeriksaan.
Jika tidak tercapai kesepakatan antara pemeriksa dan entitas yang
diperiksa mengenai kriteria yang telah dikembangkan, maka
pemeriksa harus melakukan analisis dan diskusi lebih lanjut
sampai diperoleh kriteria yang disepakati kedua belah pihak.
5) Menerapkan kriteria yang telah ditetapkan dalam pemeriksaan.
71

Output
0
yang dihasilkan dari kegiatan Menentukan Kriteria
Pemeriksaan
9
adalah standar yang akan digunakan sebagai
pembanding terhadap praktek-praktek yang berjalan meliputi:

Output penentuan
kriteria

1) kelompok kriteria (ekonomi, efisiensi, atau efektivitas);


2) jenis kriteria (rincian kriteria yang terdapat dalam masing
masing kelompok).
3) penjelasan (deskripsi ringkas setiap jenis kriteria)
4) satuan pengukuran (misalkan kilometer/jam, orang/hari)
5) sumber data (deskripsi tentang dari mana data diperoleh)
6) standar ukuran kinerja (menjelaskan standar yang digunakan dan
artinya).
7) tanggapan entitas (sepakat atau tidak sepakat).

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

29

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

72

Bab III

Seluruh
1
pengkajian pemeriksa mengenai tahap penetapan kriteria
pemeriksaan
0
di tingkat entitas harus didokumentasikan. Tim dapat
mengembangkan suatu template yang membantu pendefinisian
penetapan
kriteria
pemeriksaan.
Secara
keseluruhan
pendokumentasian dapat dijadikan sebagai KKP.

Pengkajian pemeriksa
dalam tahap ini harus
didokumentasikan

I. Penyusunan Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP) dan


Program Pemeriksaan Terinci
73

Setelah pemeriksa melakukan pemeriksaan pendahuluan dan


memutuskan untuk melakukan pemeriksaan terinci, hal yang
dilakukan selanjutnya adalah menyusun Rencana Kerja Pemeriksaan
(RKP) dan program pemeriksaan atas pemeriksaan terinci.

74

Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP) atas pemeriksaan terinci


merupakan rencana kegiatan pemeriksaan terinci BPK dalam satu
tahun yang meliputi topik pemeriksaan, jenis pemeriksaan,
kebutuhan (Sumber Daya Manusia) SDM, dan anggaran
pemeriksaan.

RKP atas pemeriksaan


terinci

75

Tujuan utama penyusunan RKP atas pemeriksaan terinci adalah:


1) menetapkan topik-topik pemeriksaan terinci yang akan
dilakukan selama satu tahun; dan
2) mengetahui alokasi sumber daya, baik berupa SDM, waktu dan
biaya yang diperlukan untuk masing-masing topik pemeriksaan.
Input utama dalam menyusun RKP atas pemeriksaan terinci adalah
usulan topik potensial pemeriksaan terinci yang bersumber dari hasil
pemeriksaan pendahuluan. Untuk unit kerja pemeriksaan di pusat,
usulan topik tersebut merupakan tanggung jawab Auditama
Keuangan Negara (AKN), dhi Tortama, namun untuk kantor
perwakilan Tortama dapat mendelegasikan tanggung jawab ini
kepada Kepala Perwakilan.

Tujuan utama
penyusunan RKP
terinci

77

Output dari kegiatan penyusunan RKP atas pemeriksaan terinci


adalah teridentifikasinya topik pemeriksaan terinci yang disertai
dengan informasi berupa personil pemeriksa baik secara kuantitas
maupun kualitas, jangka waktu pemeriksaan, serta jumlah anggaran
yang diperlukan.

Output penyusunan
RKP terinci

78

P2 terinci adalah pedoman dalam tahap pelaksanaan pemeriksaan


terinci. P2 menjabarkan prosedur terinci untuk efektivitas biaya
pengumpulan data pada pelaksanaan pemeriksaan terinci.

Program Pemeriksaan
(P2) terinci

79

Tujuan
0
utama penyusunan Program Pemeriksaan2 (P2)
adalah:
3

76

terinci

Input penyusunan
RKP terinci

Tujuan penyusunan P2
terinci

1) menetapkan hubungan yang jelas antara tujuan pemeriksaan,


metodologi pemeriksaan, dan kemungkinan-kemungkinan
pekerjaan lapangan yang harus dikerjakan pada pemeriksaan
terinci;
2) mengidentifikasikan dan mendokumentasikan prosedur-prosedur
pemeriksaan yang harus dilaksanakan pada pemeriksaan terinci;
3) memudahkan supervisi dan reviu; dan
4) membantu dalam pengumpulan bukti yang cukup, dapat

Program Pemeriksaan berisi tujuan pemeriksaan dan prosedur pemeriksaan untuk mencapai tujuan pemeriksaan.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

30

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

80

81

diandalkan, dan relevan untuk menjawab tujuan pemeriksaan


terinci.
Suatu program pemeriksaan dapat disebut memadai jika mampu
mengidentifikasi aspek-aspek penting pemeriksaan; disusun
berdasarkan informasi pendukung yang jelas dan cermat;
memberikan panduan dalam melaksanakan pengujian secara efektif;
membantu dalam pengumpulan bukti yang cukup, dapat diandalkan,
dan relevan untuk mendukung opini/pernyataan pendapat atau
kesimpulan pemeriksaan; dan mencapai tujuan pemeriksaan.
Kualitas bukti pemeriksaan juga sangat tergantung kepada program
pemeriksaannya. Program pemeriksaan yang efektif akan sangat
membantu dalam mendapatkan bukti pemeriksaan yang memadai
untuk mendukung temuan pemeriksaan. Bukti pemeriksaan
mempunyai peran yang sangat penting terhadap keberhasilan
pelaksanaan pemeriksaan dan oleh karenanya harus mendapat
perhatian pemeriksa sejak tahap perencanaan pemeriksaan sampai
dengan akhir proses pemeriksaan.
Input
0 yang diperlukan dalam kegiatan Penyusunan Program
Pemeriksaan
4
terinci adalah:
1)
2)
3)
4)
5)

82

Bab III

Syarat P2 yang
memadai

Input dari kegiatan


penyusunan P2 terinci

hasil dari pemeriksaan pendahuluan;


RKP pemeriksaan terinci;
SPKN;
PMP; dan
pengarahan khusus pimpinan untuk pemeriksaan terinci.

Setelah
0
seluruh prosedur/langkah dalam perencanaan pemeriksaan
diikuti,
5
maka hasil/output dari masing-masing langkah dituangkan ke
dalam suatu program pemeriksaan terinci. Program pemeriksaan
tersebut kemudian akan menjadi pedoman pemeriksa dalam
menjalankan penugasan pemeriksaan terinci.
Di dalam program pemeriksaan tersebut dituangkan hal-hal sebagai
berikut.
1) Dasar pemeriksaan
Pemeriksa memasukkan ketentuan perundang-undangan yang
menjadi mandat bagi BPK dalam melaksanakan pemeriksaan.
2) Standar pemeriksaan
Diisi dengan standar pemeriksaan yang akan digunakan dalam
melaksanakan pemeriksaan. BPK telah menetapkan SPKN
sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan atas
keuangan negara.
3) Organisasi/Program/Fungsi Pelayanan Publik yang diperiksa
Diisi dengan entitas yang akan diperiksa, pengertian entitas di
sini dapat berupa organisasi/program/fungsi pelayanan publik
yang kinerjanya akan diperiksa.
4) Tahun anggaran yang diperiksa
Bagian dari penjabaran lingkup pemeriksaan yang akan
memasukkan periode/tahun anggaran yang akan diperiksa.
Secara umum, periode yang dipilih adalah hanya untuk satu
periode tahun anggaran. Namun demikian, dimungkinkan juga
untuk pelaksanaan pemeriksaan atas periode yang lebih dari satu

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Langkah-langkah
penyusunan P2 terinci

31

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

tahun jika pada pemeriksaan atas keseluruhan pelaksanaan


program yang memakan waktu lebih dari satu tahun.
5) Identitas dan data umum yang diperiksa
Data umum dari organisasi/program/fungsi pelayanan publik
yang akan diperiksa yang didapat selama proses pemahaman
atas entitas.
6) Alasan pemeriksaan
Diisi dengan alasan pemeriksaan yang bisa berasal dari hasil
analisis perolehan data dan informasi awal maupun yang berasal
dari output penentuan area kunci yang akan diperiksa.
7) Jenis pemeriksaan
Diisi dengan Pemeriksaan Kinerja.
8) Tujuan Pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan umum yang didapat atau ditentukan selama
pelaksanaan proses Penentuan Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan.
9) Sasaran Pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan secara rinci (area kunci) yang menjabarkan
apa yang telah ditentukan dalam tujuan pemeriksaan umum.
10) Metodologi pemeriksaan
Diisi dengan metodologi atau cara serta pendekatan pemeriksaan
yang akan ditempuh dalam menjalankan penugasan pemeriksaan
kinerja.
11) Kriteria pemeriksaan
Diisi dengan kriteria pemeriksaan yang akan dipakai dalam
pemeriksaan.
12) Jenis dan Sumber Bukti serta prosedur pemeriksaan
Diisi dengan jenis dan sumber bukti yang dibutuhkan untuk
menjawab tujuan pemeriksaan. Prosedur pemeriksaan yang
dibuat dengan tujuan memberikan petunjuk kepada para
pemeriksa agar bukti pemeriksaan yang dibutuhkan. Langkah
atau prosedur pemeriksaan sebaiknya dibuat menurut sasaran
pemeriksaan (area kunci) yang telah ditetapkan agar nantinya
secara keseluruhan hasil pemeriksaan dapat menjawab atau
mencapai tujuan pemeriksaan.
Berdasarkan program pemeriksaan terinci yang ditetapkan oleh
Tortama/Kalan, ketua tim pemeriksa membuat pembagian tugas dan
anggota tim menyusun program kerja perorangan dan disampaikan
kepada ketua tim untuk mendapatkan persetujuan.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

32

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab III

83

Output
0
atas hasil kegiatan penyusunan P2 terinci adalah berupa
program
6
pemeriksaan yang memuat:
1) dasar pemeriksaan;
2) standar pemeriksaan;
3) organisasi/program/fungsi pelayanan publik yang diperiksa;
4) tahun anggaran yang diperiksa;
5) identitas dan data umum yang diperiksa;
6) alasan pemeriksaan;
7) jenis pemeriksaan;
8) tujuan pemeriksaan;
9) sasaran pemeriksaan;
10) metodologi pemeriksaan;
11) kriteria pemeriksaan; dan
12) jenis dan sumber bukti serta prosedur pemeriksaan.

Output kegiatan
penyusunan P2 terinci

84

Seluruh
0
kajian pemeriksa mengenai tahap penyusunan program
pemeriksaan
7
terinci di tingkat entitas harus didokumentasikan.
Pendokumentasian P2 atas pemeriksaan terinci disimpan sebagai
KKP indeks A.

Pengkajian pemeriksa
dalam tahap ini harus
didokumentasikan

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

33

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab IV

BAB IV
PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KINERJA
A. Tujuan
01

Tahap pelaksanaan pemeriksaan atau pemeriksaan terinci


adalah tahap kegiatan pemeriksaan yang dilakukan di tempat
kedudukan entitas yang diperiksa. Tahap ini merupakan
kegiatan lanjutan dari kegiatan pemeriksaan pendahuluan atau
perencanaan pemeriksaan. Kegiatan utama pada tahap ini
meliputi analisis, pengumpulan dan pengujian bukti
pemeriksaan apakah bukti-bukti tersebut telah cukup,
kompeten, dan relevan untuk menilai kinerja suatu entitas
dibandingkan dengan kriteria pemeriksaan. Seluruh informasi
yang relevan dengan tujuan pemeriksaan, diungkapkan dalam
temuan pemeriksaan.

02

Tujuan pemeriksaan terinci adalah untuk mendapatkan bukti


yang cukup, kompeten, dan relevan sehingga pemeriksa dapat:
1) menilai apakah kinerja entitas yang diperiksa sesuai dengan
kriteria atau tidak;
2) menyimpulkan apakah tujuan-tujuan pemeriksaan tercapai
atau tidak;
3) mengidentifikasikan kemungkinan-kemungkinan untuk
memperbaiki kinerja entitas yang diperiksa; dan
4) mendukung simpulan, temuan, dan rekomendasi
pemeriksaan.

Tujuan kegiatan
pemeriksaan terinci

B. Kegiatan Pemeriksaan
03

Kegiatan dalam pemeriksaan terinci meliputi: pengumpulan


data, pengujian kompetensi data, pengujian atas kriteria yang
telah ditetapkan, penyusunan dan pengomunikasian konsep
temuan pemeriksaan, perolehan tanggapan resmi dan tertulis
atas konsep temuan pemeriksaan (opsional), dan penyampaian
temuan pemeriksaan.

04

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja pada tahap


pelaksanaan terdiri atas 4 (empat) tahap, yaitu:
1) perolehan dan pengujian data untuk mencapai tujuan
pemeriksaan;
2) penyusunan dan pengomunikasian konsep temuan
pemeriksaan dengan entitas yang diperiksa;
3) perolehan tanggapan resmi dan tertulis atas konsep temuan
pemeriksaan (opsional); dan
4) penyampaian temuan pemeriksaan.

PELAKSANAAN

8. Pengujian Data

9. Penyusunan Temuan
Pemeriksaan

10. Perolehan Tanggapan


Resmi dari Entitas

11. Penyampaian Temuan


kepada Entitas

34

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab IV

C. Perolehan dan Pengujian Data


05

Tujuan dari tahap ini adalah untuk memperoleh bukti


pemeriksaan sebagai pendukung temuan pemeriksaan dan
simpulan pemeriksaan. Selain itu, berdasarkan bukti-bukti yang
sudah diuji, pemeriksa dapat:
1) mengembangkan hasil pengujian untuk menilai apakah
kinerja entitas yang diperiksa telah sesuai dengan kriteria
atau tidak;
2) mengumpulkan hasil pengujian dan membandingkannya
dengan tujuan pemeriksaan;
3) mengidentifikasikan kemungkinan-kemungkinan untuk
memperbaiki kinerja entitas; dan
4) memanfaatkan hasil pengujian untuk mendukung
rekomendasi dan kesimpulan pemeriksaan.

Tujuan perolehan dan


pengujian data

06

Bukti pemeriksaan harus memiliki karakteristik cukup,


kompeten, dan relevan untuk memberikan dasar yang kuat bagi
temuan, simpulan, dan rekomendasi pemeriksaan.
1) Bukti harus cukup untuk mendukung temuan pemeriksaan.
Dalam menentukan cukup tidaknya suatu bukti, pemeriksa
harus yakin bahwa adanya bukti-bukti tersebut akan bisa
meyakinkan seseorang bahwa temuan pemeriksa adalah
valid.
Faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap
pertimbangan pemeriksa dalam menentukan cukup
tidaknya bukti meliputi: materialitas, risiko, efisiensi, dan
besaran serta karakteristik populasi.
2) Bukti kompeten terkait erat dengan keandalan baik data
akuntansi maupun informasi penguat lainnya. Keandalan
data akuntansi berhubungan langsung dengan efektivitas
pengendalian internal. Keandalan informasi penguat
tergantung pada beberapa faktor seperti relevansi, sumber
informasi penguat, ketepatan waktu, dan obyektivitas.
3) Bukti disebut relevan apabila bukti tersebut mempunyai
hubungan yang logis dengan tujuan pemeriksaan.
Seandainya tujuan pemeriksaan untuk menentukan
keberadaan persediaan, maka pemeriksa dapat memperoleh
bukti dengan melakukan perhitungan fisik persediaan.

Karakteristik bukti yang


baik

07

Terdapat empat jenis bukti pemeriksaan yaitu:


1) Fisik
Jenis bukti ini dapat diperoleh dari beberapa hal berikut:
a. pengamatan langsung, misalnya: terhadap aktivitas dari
orang, suatu kejadian, maupun kondisi aset tertentu;
b. pengamatan terhadap proses atau prosedur yang sedang
berjalan; dan
c. inspeksi fisik dari uang kas, kunjungan lapangan ke
suatu proyek, verifikasi persediaan, dan lain-lain.
Sumber-sumber di atas dapat didukung dengan foto atau
dokumen lain seperti berita acara pemeriksaan fisik, dan
deskripsi tertulis dari hasil pengamatan yang telah
dilakukan.

Jenis-jenis bukti

35

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab IV

2) Testimonial/Lisan
Bukti testimonial/lisan merupakan pernyataan yang
diperoleh secara lisan melalui wawancara, diskusi, atau
dalam bentuk pernyataan tertulis sebagai respon dari
pertanyaan atau wawancara. Bukti testimonial/lisan dapat
didokumentasikan dalam bentuk dokumen hasil wawancara,
rekaman percakapan yang disimpan dalam alat perekam
atau magnetic tape beserta transkripnya.
3) Dokumenter
Bukti dokumen adalah bukti dalam bentuk fisik, baik berupa
dokumen resmi ataupun barang elektronik. Bukti ini adalah
yang paling umum diperoleh dari seluruh jenis bukti
pemeriksaan. Bukti dokumen dapat diperoleh dari dalam
maupun luar entitas yang diperiksa. Hal-hal yang termasuk
bukti dokumen misalnya adalah peraturan perundangundangan, dokumen terkait organisasi (rencana strategis
organisasi, visi dan misi organisasi, struktur organisasi),
surat-surat, notulen rapat, dokumen kontrak, arsip, laporanlaporan dari manajemen, dokumen instruksi untuk staf,
Standard Operating and Procedure (SOP), petunjuk
pelaksanaan dan petunjuk teknis, laporan pengendalian
internal, surat elektronik (email) dan rekaman telepon,
faktur-faktur, data-data dari sistem komputer, informasi
manajemen terkait kinerja, hasil reviu dan evaluasi.
4) Analisis
Jenis bukti pemeriksaan ini dapat diperoleh dari entitas atau
dikembangkan sendiri oleh pemeriksa. Bukti analisis yg
diperoleh dari entitas perlu diuji kompetensi dan
validitasnya untuk dapat digunakan sebagai bukti
pemeriksaan. Bukti analisis dapat mencakup analisa rasio
dan tren, perbandingan prosedur dan standar dengan
ketentuan yang dipersyaratkan, perbandingan kinerja
dengan organisasi sejenis, analisis dari pengujian terinci atas
transaksi-transaksi, dan analisis biaya-manfaat.
08

Input yang diperlukan dalam kegiatan Pengumpulan dan


Pengujian Data adalah sebagai berikut:
1) Program Pemeriksaan (P2) atau Progam Kerja Perorangan
PKP);
2) data pemeriksaan; dan
3) kriteria pemeriksaan.

Input yang dibutuhkan


dalam kegiatan
pengumpulan dan
pengujian data

09

Petunjuk pelaksanaan dalam pengumpulan dan pengujian data


terdiri dari kegiatan-kegiatan di bawah ini:
Berdasarkan jenis dan sumber bukti yang telah diidentifikasi
serta program pemeriksaan yang telah ditetapkan, maka
pemeriksa melakukan pengumpulan data. Setelah itu, data diuji
untuk memastikan tercapainya tujuan pemeriksaan. Data
pemeriksaan inilah yang nantinya akan menjadi bukti
pemeriksaan yang akan mendukung temuan pemeriksaan. Agar
dapat menjadi bukti pemeriksaan yang andal terdapat beberapa
hal yang perlu diperhatikan oleh pemeriksa.

Langkah-langkah dalam
pengumpulan dan
pengujian data

36

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab IV

a) Sumber data
Pemeriksa perlu mendapatkan data pemeriksaan
berdasarkan identifikasi jenis dan sumber bukti
pemeriksaan yang telah ditetapkan. Namun demikian,
berdasarkan kondisi yang terjadi di lapangan, pemeriksa
juga dapat memperoleh data di luar yang telah
direncanakan, sepanjang pada akhirnya data tersebut valid
dan andal dalam mendukung hasil pemeriksaan.
b) Cara perolehan data
Dalam mengumpulkan data pemeriksaan, pemeriksa dapat
menggunakan teknik-teknik seperti (1) reviu dokumen fisik
dan elektronik, (2) wawancara/permintaan keterangan,
(3) kuesioner, (4) observasi fisik, dan (5) penggunaan data
elektronik yang tersedia dalam database.
c) Validitas dan reliabilitas data
Data-data pemeriksaan yang diperoleh pemeriksa harus
dapat diyakini validitas dan keandalan datanya agar bisa
disebut sebagai bukti yang kompeten. PSP 04 paragraf 54
memberikan beberapa acuan untuk menilai kompetensi dari
suatu data. Validitas dan keandalan data juga dapat
ditentukan dengan pengujian langsung terhadap data.
10

Langkah-langkah yang diperlukan dalam kegiatan pengujian


bukti pemeriksaan adalah sebagai berikut.
a) Dalam menguji bukti pemeriksaan, pemeriksa dapat
menggunakan teknik-teknik pengujian, antara lain
wawancara2; inspeksi; konfirmasi; reviu analitis (rasio,
tren, pola); bagan arus, dan analisis (analisis regresi,
simulasi dan modelling, analisis muatan data kualitatif).
b) Dalam menentukan teknik pengujian bukti, maka
pemeriksa perlu mempertimbangkan faktor-faktor sebagai
berikut:
1) jenis dan sumber bukti yang diuji; dan
2) waktu dan biaya yang diperlukan untuk menguji bukti.
c) Pemeriksa membandingkan hasil pengujian bukti-bukti
pemeriksaan dengan kriteria pemeriksaan.
d) Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara kondisi dan
kriteria, maka pemeriksa perlu mengidentifikasi sebab dan
akibat dari perbedaan tersebut.
e) Dalam mengidentifikasi sebab akibat, pemeriksa bisa
menggunakan model analisis sebab-akibat sebagai alat
analisis.
Kemudian data-data pemeriksaan keuangan kinerja yang
diperoleh selama pemeriksaan kinerja diuji untuk meyakinkan
apakah suatu organisasi/program/fungsi pelayanan publik
mempunyai pengendalian yang baik atau tidak; apakah suatu
entitas mematuhi ketentuan perundang-undangan; atau apakah
terdapat dugaan kecurangan di dalam entitas yang diperiksa.

Wawancara dalam hal ini lebih ditekankan untuk menguji konsistensi informasi yang diperoleh
sebelumnya.

37

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab IV

11

Output yang dihasilkan dari kegiatan Pengujian Data adalah


kesimpulan hasil pengujian bukti. Kesimpulan ini berupa
jawaban atas kriteria atau sub kriteria pemeriksaan yang telah
ditentukan sebelumnya. Format pendokumentasian simpulan
dapat
mengacu
pada
Keputusan
BPK
Nomor
4/K/I-XIII.2/5/2011 Tahun 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Pengelolaan Kertas Kerja Pemeriksaan yaitu pada Lampiran 3.5
dan 3.6. Pada Petunjuk Pelaksanaan Lampiran 3.6 mengatur
tentang format pendokumentasian Hasil Pelaksanaan Prosedur
Pemeriksaan (HP3) yang berisi: tujuan, prosedur, hasil, dan
simpulan pemeriksaan. Format ini untuk menjawab sub kriteria
pemeriksaan. Sedangkan Lampiran 3.5 digunakan untuk
menjawab kriteria utama pemeriksaan.
Dalam dokumentasi pemeriksaan tersebut pemeriksa juga
mengidentifikasi unsur-unsur temuan dan usulan rekomendasi.

Output dari kegiatan


pengumpulan dan
pengujian data

12

Kegiatan pada tahap Pengujian terhadap Tujuan Pemeriksaan


ini didokumentasikan dalam KKP. Contoh KKP kegiatan
pengujian data dapat dilihat dalam Lampiran IV.1.

Pengkajian pemeriksa
dalam tahap ini harus
didokumentasikan

D. Penyusunan Temuan Pemeriksaan


13

Tujuan dari kegiatan Penyusunan Temuan Pemeriksaan adalah:


1) memberikan informasi kepada entitas yang diperiksa dan
atau pihak lain yang berkepentingan tentang fakta dan
informasi yang akurat dan berhubungan dengan
permasalahan yang diperoleh dari kegiatan pemeriksaan,
temuan pemeriksaan tersebut belum dilengkapi dengan
saran;
2) menjawab tujuan pemeriksaan dengan cara memaparkan
hasil studi/pemeriksaan yang dilakukan pemeriksa dalam
mencapai tujuan pemeriksaan kinerja; dan
3) menyajikan kelemahan pengendalian intern yang
signifikan, kecurangan, dan penyimpangan dari ketentuan
perundang-undangan yang terjadi pada entitas yang
diperiksa.

Tujuan penyusunan temuan

14

Input yang digunakan dalam kegiatan Penyusunan Temuan


Pemeriksaan adalah:
1) tujuan pemeriksaan;
2) kriteria yang telah ditetapkan;
3) bukti pemeriksaan; dan
4) kesimpulan hasil pengujian bukti.
Dalam menyusun suatu temuan pemeriksaan kinerja, hal yang
sangat utama untuk diperhatikan adalah apakah temuan
pemeriksaan yang dibuat oleh pemeriksa merupakan jawaban
atas pertanyaan/dugaan/hipotesis yang telah dituangkan dalam
suatu tujuan pemeriksaan yang telah ditetapkan. Suatu temuan
pemeriksaan seharusnya merupakan kesimpulan hasil
pengujian atas bukti pemeriksaan yang diperoleh pemeriksa
dalam usahanya untuk mencapai tujuan pemeriksaan yang telah
ditetapkan sebelumnya. Bila suatu tujuan pemeriksaan tidak
terpenuhi, disebabkan unsur-unsur temuan pemeriksaan tidak
menggambarkan apa yang seharusnya hendak dicapai dalam

Input dalam penyusunan


temuan pemeriksaan

15

Perlu diperhatikan apakah


TP merupakan jawaban atas
tujuan pemeriksaan

38

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

16

17

suatu pelaksanaan pemeriksaan kinerja maka dapat dikatakan


pelaksanaan pemeriksaan tersebut gagal untuk dilaksanakan
dengan baik.
Ada beberapa butir yang perlu diperhatikan oleh pemeriksa
dalam menyusun suatu temuan pemeriksaan kinerja, yaitu:
1) Temuan pemeriksaan kinerja harus dapat menjawab tujuan
pemeriksaan yang telah ditetapkan;
2) Secara umum, unsur temuan pemeriksaan terbagi atas,
kondisi, kriteria, akibat, dan sebab. Namun demikian, di
dalam penyusunan temuan pemeriksaan kinerja, unsur yang
dibutuhkan tergantung tujuan yang ingin dicapai sehingga
dapat saja unsur sebab dapat menjadi suatu unsur yang
optional. Contoh: jika tujuan pemeriksaan yang ditetapkan
adalah menentukan kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan atau memperkirakan pengaruh suatu
program terhadap perubahan fisik, sosial, atau ekonomi
suatu masyarakat, maka unsur sebab akan menjadi
kurang/tidak relevan untuk disajikan;
3) Suatu temuan pemeriksaan harus didukung oleh bukti
pemeriksaan yang cukup, kompeten, dan relevan;
4) Temuan pemeriksaan sedapat mungkin disajikan dalam
suatu urutan yang logis, akurat, dan lengkap; dan
5) Suatu TP merupakan hasil proses analisis pemeriksaan tim
pemeriksa di lapangan. Pembahasan atas temuan
pemeriksaan ini dilakukan pada akhir tahap pelaksanaan
pemeriksaan. Sangat dimungkinkan pada saat pembahasan
ini, entitas yang diperiksa berjanji memberikan bukti-bukti
baru yang belum dapat diberikan pada saat pembahasan TP
dan mungkin bukti baru tersebut dapat mengubah esensi
dari temuan pemeriksaan. Atas hal itu, maka dimungkinkan
juga pada akhir LHP, suatu TP tidak dijadikan Hasil
Pemeriksaan karena berdasarkan bukti baru yang diberikan
oleh entitas dan diyakini oleh pemeriksa ternyata TP itu
sudah tidak layak lagi untuk disajikan.
Langkah-langkah yang diperlukan dalam kegiatan menyusun
temuan pemeriksaan adalah sebagai berikut.

18

1) Berdasarkan kesimpulan hasil pengujian bukti, apabila


terdapat perbedaan (gap) yang signifikan antara kondisi
dan kriteria, tentukan apakah perbedaan tersebut positif
atau negatif. Perbedaan positif terjadi apabila kondisi yang
ditemukan sama atau lebih baik daripada kriteria.
Perbedaan negatif terjadi apabila kondisi yang ditemukan
tidak mencapai kriteria.

19

2) Sangat dimungkinkan, pemeriksa menemukan suatu


kondisi yang telah memenuhi atau melebihi kriteria yang
disebut
temuan
positif.
Pemeriksa
perlu
mempertimbangkan relevansi temuan positif dengan tujuan
pemeriksaan. Apabila temuan tersebut relevan terhadap
tujuan pemeriksaan, maka pemeriksa perlu mengungkap
hal tersebut dalam Laporan Hasil Pemeriksaan.

Bab IV

Point yang perlu


diperhatikan dalam
menyusun TP

Langkah-langkah
penyusunan TP

39

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

20

Bab IV

3) Dalam hal pemeriksa menemukan kondisi yang tidak


memenuhi kriteria, yang disebut sebagai temuan negatif,
pemeriksa perlu mengidentifikasi unsur-unsur temuan
hingga menjadi suatu temuan pemeriksaan.
4) Jika ditemukan indikasi yang mengandung unsur kerugian
negara/fraud yang relevan dengan tujuan pemeriksaan,
maka
pemeriksa
perlu
melakukan
pendalaman
pemeriksaannya sampai menjadi temuan pemeriksaan.
Indikasi yang tidak relevan dengan tujuan pemeriksaan,
perlu didokumentasikan secara memadai dalam KKP dan
akan ditindaklanjuti pada jenis pemeriksaan lain yang
sesuai.

21

5) Pemeriksa mengomunikasikan konsep temuan pemeriksaan


dengan manajemen entitas untuk mendapatkan klarifikasi.
Tujuan dari komunikasi konsep TP dengan manajemen
entitas ini adalah untuk memvalidasi konsep TP yang telah
dikembangkan oleh pemeriksa.
6) Sesuai dengan Panduan Manajemen Pemeriksaan BPK
tahun 2008, perolehan tanggapan resmi dan tertulis dari
manajemen entitas yang diperiksa atas konsep TP bersifat
opsional. Tanggapan resmi dari manajemen harus diperoleh
dari manajemen entitas atas konsep LHP.
7) Pemeriksa menyampaikan Temuan Pemeriksaan kepada
manajemen entitas yang diperiksa.

22

Output yang dihasilkan dari kegiatan Penyusunan Temuan


Pemeriksaan adalah:
1) Konsep Temuan Pemeriksaan;
2) Temuan Pemeriksaan; dan
3) tanggapan resmi dan tertulis atas Temuan Pemeriksaan
(opsional).

Output dari penyusunan TP

E. Pendokumentasian
23

Kegiatan Penyusunan Temuan Pemeriksaan didokumentasikan


dalam suatu KKP. Pendokumentasian hasil dari kegiatan ini
dikelompokkan dalam KKP indeks B.

Pengkajian pemeriksa
dalam tahap ini harus
didokumentasikan

40

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab V

BAB V
PELAPORAN PEMERIKSAAN KINERJA
A. Tujuan
01 Tujuan dari bagian petunjuk pelaksanaan pelaporan pemeriksaan ini
adalah memberikan bantuan kepada pemeriksa dalam menyusun suatu
laporan pemeriksaan kinerja. Laporan hasil pemeriksaan tersebut
diharapkan dapat (1) mengomunikasikan hasil pemeriksaan kepada pihak
yang berwenang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku, (2) membuat hasil pemeriksaan terhindar dari kesalahpahaman,
(3) membuat hasil pemeriksaan sebagai bahan untuk melakukan tindakan
perbaikan oleh instansi terkait, dan (4) memudahkan pemantauan tindak
lanjut untuk menentukan pengaruh tindakan perbaikan yang semestinya
telah dilakukan.

Tujuan juklak dalam


pelaporan pemeriksaan
kinerja

B. Kegiatan dalam Pelaporan Pemeriksaan


02 Bagian dari juklak ini meliputi penyusunan konsep LHP termasuk
penyusunan rekomendasi dan simpulan pemeriksaan, perolehan
tanggapan resmi atas rekomendasi dan simpulan, dan penyusunan serta
penyampaian LHP.

PELAPORAN

12. Penyusunan Konsep


LHP

13. Perolehan Tanggapan


atas
Rekomendasi & Simpulan

14. Penyusunan dan


Penyampaian LHP

C. Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan


03 Input yang diperlukan dalam penyusunan Konsep Laporan Hasil
Pemeriksaan (KLHP) adalah Temuan Pemeriksaan dari kegiatan pada
tahap sebelumnya.
04 Petunjuk pelaksanaan ini disusun agar pemeriksa dapat menyusun suatu
laporan hasil pemeriksaan kinerja yang berfungsi dengan baik sebagai
suatu laporan yang utuh. SPKN PSP 05 mensyaratkan bahwa suatu
laporan hasil pemeriksaan kinerja harus mencakup hal-hal di bawah ini.
1) Pernyataan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai dengan Standar
Pemeriksaan.
Pemeriksa dalam menjalankan tugas pemeriksaannya diwajibkan
untuk mengikuti standar pemeriksaan yang ada. Dalam pelaksanaan
pemeriksaan keuangan negara, pemeriksa BPK dan/atau yang
bekerja untuk dan atas nama BPK berpegang pada SPKN.

Input dalam penyusunan


konsep LHP

Isi LHP kinerja menurut


SPKN

41

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

2) Tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan


Suatu laporan hasil pemerikaan harus memuat tujuan, lingkup, dan
metodologi pemeriksaan. Pemeriksa harus menjelaskan alasan
mengapa suatu entitas diperiksa, apa yang diharapkan tercapai dari
pelaksanaan pemeriksaan, apa yang diperiksa, dan bagaimana cara
pemeriksaan dilakukan.
05 3) Hasil pemeriksaan berupa temuan pemeriksaan, simpulan, dan
rekomendasi.
06
a. Temuan pemeriksaan
Salah satu bagian pokok dari LHP merupakan temuan
pemeriksaan yang merupakan potret kenyataan yang
ditemukan pemeriksa dalam melaksanakan suatu pemeriksaan
kinerja. Apabila dijumpai temuan positif, maka temuan positif
tersebut dapat disajikan sebelum mengungkapkan temuan
negatif. Temuan positif dapat disajikan pada bagian Ringkasan
Eksekutif
dan atau sebagai pengantar pada bab hasil
pemeriksaan di LHP.
07
b. Simpulan pemeriksaan
Selain itu, LHP juga harus memuat suatu simpulan pemeriksaan
dan rekomendasi yang diberikan oleh Badan
Pemeriksa
Keuangan terhadap hasil pemeriksaan, dengan tujuan untuk
memperbaiki kinerja entitas yang diperiksa. Simpulan hasil
pemeriksaan harus dapat menjawab tujuan pemeriksaan yang
telah ditetapkan sebelumnya. Penarikan simpulan dapat
dilakukan dengan metode kuantitatif ataupun kualitatif. Apabila
pemeriksa menggunakan metode kuantitatif (pembobotan)
dalam penarikan simpulan pemeriksaan, maka asumsi yang
digunakan harus dijelaskan pada bagian metodologi
pemeriksaan. Metode kualitatif dilakukan berdasarkan
pertimbangan profesional pemeriksa dengan menggunakan
seluruh data yang telah diperoleh.

Bab V

Temuan pemeriksaan

Simpulan pemeriksaan

Contoh simpulan dapat dilihat pada kotak di bawah ini.


Tujuan Pemeriksaan:
Untuk menilai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
ABC dalam mengelola pelayanan medis, administrasi
dan manajemen dan pelayanan farmasi periode Tahun
2009.
Simpulan Pemeriksaan:
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pengelolaan
pelayanan medis, administrasi dan manajemen, dan
pelayanan farmasi belum efektif. Hal tersebut meliputi:
(i) program kerja pelayanan medis, administrasi dan
manajemen, dan pelayanan farmasi tidak ada; (ii) Standar
Pelayanan Minimal (SPM) rumah sakit belum disusun;
(iii) SPI pada pelayanan medis, administrasi dan
manajemen dan pelayanan farmasi lemah; (iv) serta
pemanfaatan sumber daya pada pelayanan medis,
administrasi dan manajemen dan pelayanan farmasi belum
dilaksanakan maksimal.

42

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

08

c. Rekomendasi
Pemeriksa harus menyampaikan rekomendasi kepada entitas
untuk memperbaiki kinerja atas bidang yang bermasalah guna
meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan entitas yang
diperiksa.
Suatu rekomendasi akan bersifat sangat konstruktif/membangun
apabila:
diarahkan untuk menyelesaikan masalah yang ditemukan;
berorientasi pada tindakan nyata dan spesifik;

Bab V

Rekomendasi

ditujukan kepada pihak yang mempunyai wewenang untuk


bertindak;
dapat dilaksanakan; dan

apabila dilaksanakan, biayanya memadai.


09 4) Tanggapan pejabat yang bertanggung jawab atas hasil pemeriksaan.
Pemeriksa harus mendapatkan tanggapan tertulis dan resmi atas
temuan, simpulan, dan rekomendasi pemeriksaan dari pejabat
berwenang entitas yang diperiksa. Tanggapan pejabat yang
bertanggung jawab tersebut harus dievaluasi dan dipahami
secara seimbang dan obyektif, serta disajikan secara memadai
dalam laporan hasil pemeriksaan.
Tanggapan yang diberikan, seperti janji atau rencana tindakan
perbaikan harus dicantumkan dalam laporan hasil pemeriksaan,
tetapi tidak dapat diterima sebagai pembenaran untuk
menghilangkan temuan dan rekomendasi yang berhubungan
dengan temuan tersebut.
Apabila tanggapan dari entitas yang diperiksa tersebut
bertentangan dengan temuan, simpulan, dan rekomendasi dalam
laporan hasil pemeriksaan, dan menurut pendapat pemeriksa
tanggapan tersebut tidak benar, maka pemeriksa harus
menyampaikan ketidaksetujuannya atas tanggapan tersebut
beserta alasannya secara seimbang dan obyektif. Sebaliknya,
pemeriksa harus memperbaiki laporannya apabila pemeriksa
berpendapat bahwa tanggapan tersebut benar.
10 5) Pelaporan informasi rahasia (bila ada).
Berdasarkan ketentuan perundang-undangan dimungkinkan
beberapa informasi yang bersifat rahasia tidak diungkapkan dalam
LHP.

Tanggapan pejabat atas


konsep LHP

11 Input utama yang dibutuhkan dalam penyusunan konsep LHP adalah


Temuan Pemeriksaan. Terkait dengan hal tersebut, yang penting
diperhatikan adanya perbedaan waktu antara penyampaian TP dengan
penyampaian Hasil Pemeriksaan (HP). Dengan adanya perbedaan
waktu tersebut, maka dapat dimungkinkan bahwa temuan yang sudah
disampaikan dalam Temuan Pemeriksaan dapat saja tidak disajikan
dalam LHP jika manajemen entitas yang diperiksa dapat memberikan
bukti yang kemudian dapat diyakini oleh pemeriksa.

Beda waktu antara


penyampaian TP dengan
penyampaian HP

12 Adapun langkah-langkah dalam pembuatan Konsep Hasil Pemeriksaan


(KHP) hingga menjadi HP diuraikan pada bagan di bawah ini.

Langkah-langkah pembuatan
KHP menjadi HP

43

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab V

PENYUSUNAN LHP
TIM PEMERIKSA *)
TP

PEMBERI TUGAS/ BADAN

P2 (Khususnya
Tujuan
Pemeriksaan)

ENTITAS YANG
DIPERIKSA

Bukti Baru
Penyusunan
Konsep LHP
Simpulan pemeriksaan
Rekomendasi
Laporan HP

Konsep LHP

Pemberian
tanggapan atas
rekomendasi dan
simpulan BPK

Konsep LHP

Tanggapan atas
rekomendasi dan
simpulan BPK

Tanggapan atas
rekomendasi dan
simpulan BPK

Analisis atas
tanggapan

Bertentangan
dengan KLHP?

Ya

Tidak

Ya
Tanggapan
tersebut benar

Surat
Ketidaksetujuan
atas tanggapan

Tidak
Dilanjutkan ke
Proses HP Final
dan penyampaian
ketidaksetujuan
atas tanggapan

Proses HP
Final
HP Final
HP Final
Proses
Distribusi

HP Final
Ya

Disetujui

Tidak

HP Final
Selesai

*) Peran Tim Pemeriksa, Tortama atau Kalan, terkait dengan mekanisme penyusunan LHP,
mengacu pada Panduan Manajemen Pemeriksaan BPK 2008.

44

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

13 Bagan Penyusunan LHP di atas menunjukkan beberapa prosedur yang


harus ditempuh dalam penyusunan suatu Hasil Pemeriksaan. Secara
sistematis prosedur tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Penyusunan konsep LHP
Pelaksanaan penyusunan konsep LHP dilakukan berdasarkan
dokumen Temuan Pemeriksaan dan Program Pemeriksaan
khususnya Tujuan Pemeriksaan. Konsep LHP harus dapat
menjawab tujuan pemeriksaan yang ada pada Program
Pemeriksaan. Konsep LHP yang disusun oleh pemeriksa terdiri dari
Laporan Hasil Pemeriksaan, Rekomendasi, dan Simpulan
Pemeriksaan.
14 2. Penyampaian konsep LHP ke entitas
Jika konsep LHP setelah pembahasan disetujui oleh Badan, konsep
LHP dikembalikan oleh BPK. Pemeriksa menyampaikan Konsep
LHP kepada entitas yang diperiksa untuk dimintai tanggapan atas
rekomendasi.

Bab V

Uraian sistematika prosedur


penyusunan HP

15 3. Perolehan tanggapan atas rekomendasi dan simpulan pemeriksaan


dari entitas yang diperiksa
Entitas memberikan tanggapan atas rekomendasi dan simpulan
yang diberikan BPK, dan mengirimkan tanggapan tersebut kepada
pemeriksa.
16 4. Penyiapan konsep LHP yang sudah dilengkapi tanggapan entitas
Pemeriksa menganalisis tanggapan yang diberikan oleh entitas yang
diperiksa. Jika tanggapan tersebut tidak bertentangan dengan
Konsep LHP, pemeriksa langsung memproses konsep menjadi LHP
Final. Sebaliknya, apabila tanggapan entitas yang diperiksa
bertentangan dengan Konsep LHP, pemeriksa akan memeriksa
kebenaran tanggapan tersebut. Jika tanggapan yang bertentangan
dengan konsep tersebut benar, maka Pemeriksa akan menyusun
ulang Konsep LHP. Sedangkan, jika tanggapan tersebut terbukti
tidak benar, maka pemeriksa langsung memproses konsep menjadi
LHP Final dan mengirimkan surat ketidaksetujuan atas tanggapan
kepada entitas yang diperiksa.
17 5. Penyusunan HP final
Pemeriksa menyusun Konsep LHP yang telah lengkap menjadi
LHP Final. Pemeriksa mengirimkan LHP Final kepada Badan untuk
memperoleh persetujuan. LHP Final yang telah disetujui oleh
Badan dikirim kembali kepada pemeriksa.
18 6. Pendistribusian HP Final
LHP Final yang telah disetujui oleh Badan didistribusikan kepada
pihak yang secara resmi berkepentingan, yaitu:
1) Lembaga Perwakilan: DPR/DPD atau DPRD;
2) Entitas yang diperiksa;
3) Pimpinan Departemen/Lembaga Negara yang terkait dengan
entitas yang diperiksa; dan
4) Pihak berwenang lain yang berhak menerima LHP berdasarkan
peraturan perundang-undangan.

45

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab V

19 Output yang dihasilkan dari kegiatan Penyusunan Konsep Laporan


Hasil Pemeriksaan adalah:
1) Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan; dan
2) Laporan Hasil Pemeriksaan.

Output penyusunan LHP

20 Kegiatan Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan


didokumentasikan dalam Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) dengan
diberi kode indeks C.

Seluruh kegiatan pemeriksa


dalam tahap ini harus
didokumentasikan

46

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bab VI

BAB VI
PENUTUP
A. Pemberlakuan Petunjuk Pelaksanaan
01

Juklak Pemeriksaan Kinerja mulai berlaku saat ditetapkan melalui


Keputusan BPK.

Saat pemberlakuan
juklak

B. Perubahan Petunjuk Pelaksanaan


02

Perubahan Juklak dapat berupa perubahan juklak dimaksud atau


penjelasan atas substansi juklak tersebut.

03

Perubahan atas Juklak ini akan dilakukan melalui Keputusan BPK


tentang Perubahan atas Juklak dimaksud.

Perubahan juklak
dapat berupa
perubahan juklak
atau penjelasan
substansi

C. Pemantauan Petunjuk Pelaksanaan


04

Juklak ini merupakan dokumen yang dapat berubah sesuai dengan


perubahan peraturan perundang-undangan dan/atau kondisi lain. Oleh
karena itu, pemantauan atas Juklak ini akan dilakukan oleh Tim
Pemantauan Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja. Selain itu,
masukan atau pertanyaan terkait dengan Juklak ini dapat disampaikan
kepada:

Pemantauan juklak
ini dilakukan oleh
tim pemantauan
pada Direktorat
Litbang

Direktorat Penelitian dan Pengembangan


Direktorat Utama Perencanaan, Evaluasi, Penelitian dan Pengembangan,
Pendidikan dan Pelatihan Pemeriksaan Keuangan Negara
Lantai II Gedung Arsip, BPK-RI
Jl. Gatot Subroto 31 Jakarta 10210
Telp. +62-21-25549000 ext. 3306/3307/3308
Email: litbang.pk2@bpk.go.id

Ditama Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

47

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.1
:
KEPUTUSAN BPK RI
NOMOR
:
/K/I-XIII.2/11/2011
TANGGAL
:
NOVEMBER 2011
__________________________________________________

CONTOH
Pemeriksaan Kinerja
AKN/ Perwakilan.
Tahun..
BPK RI
PENENTUAN TOPIK PEMERIKSAAN KINERJA
Topik
Pemeriksaan
Kinerja

Materialitas
Keuangan
Deskripsi

Skor

Kepentingan Publik
Deskripsi

Skor

Kepentingan politik
Deskripsi

Skor

Signifikansi program
Deskripsi

Skor

Auditabilitas
Deskripsi

Skor

Dampak
lingkungan
Deskripsi

Jml

Skor

., ..

Tortama/Kalan

Kesimpulan
(dipilih/ tdk
dipilih)

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.2

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR
TANGGAL

:
:

9/K/I-XIII.2/12/2011
30 DESEMBER 2011

________________________________________________________

No. Indeks
Pemeriksaan Kinerja
Atas ..........
Tahun..

Dibuat oleh

Direviu oleh

Disetujui oleh

BPK RI
CONTOH
KERTAS KERJA PEMAHAMAN ENTITAS
Tujuan dari kegiatan pada tahap ini adalah agar pemeriksa dapat memperoleh pemahaman atas
entitas yang diperiksa yang diperlukan sebagai dasar pertimbangan pelaksanaan tahap perencanaan
selanjutnya. Pemeriksa dapat mengembangkan point-point yang ada dalam template KKP sesuai
dengan kebutuhan pemeriksa di lapangan.
Hasil penelaahan dokumen dan wawancara dengan manajemen:
1.

Visi dan Misi entitas


..
..
..
..

2.

Tujuan entitas
..
..
..
..

3.

Tugas pokok dan fungsi entitas


..
..
..
..

4.

Dasar hukum dan peraturan yang memengaruhi pelaksanaan program atau fungsi pelayanan
publik entitas
..
..
..
..

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

5.

Sasaran dari program/kegiatan entitas


..
..
..
..

6.

Struktur organisasi entitas


..
..
..
..

7.

Input, proses, output, dan outcome dari entitas yang diperiksa


..
..
..
..

8.

Anggaran yang dikelola entitas


..
..
..
..

9.

Key Performance Indicator yang digunakan oleh entitas dalam menilai kinerja
..
..
..
....

10.

Ringkasan hasil reviu atas peraturan perundang-undangan yang relevan dengan tupoksi
entitas
..
..
..
..

11.

Ringkasan program kegiatan yang ditetapkan dalam tahun berjalan


..
..
..
..

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.3
:
KEPUTUSAN BPK RI
NOMOR
:
9/K/I-XIII.2/12/2011
TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
____________________________________________

CONTOH
Pemeriksaan Kinerja
Atas ..........
Tahun..

No. Indeks
Dibuat oleh
Direviu oleh
Disetujui oleh

:
:
:

BPK RI

KERTAS KERJA PENGIDENTIFIKASIAN MASALAH


Tujuan dari kegiatan pada tahap ini adalah agar pemeriksa dapat mengidentifikasi permasalahan
yang ada pada entitas sebagai dasar pertimbangan pelaksanaan tahap perencanaan selanjutnya.
Hasil wawancara dengan manajemen, pemahaman entitas, dan isu yang berkembang di media
massa:
No.

Litbang Pemeriksaan

Permasalahan

Sumber Informasi

Badan Pemeriksa Keuangan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.4

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR

9/K/I-XIII.2/12/2011

TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
______________________________________________________

CONTOH
Pemeriksaan Kinerja Atas ..........
Tahun..

No. Indeks
Dibuat oleh

Direviu oleh

Disetujui oleh

BPK RI

PEMAHAMAN SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL


DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN COSO
No.
1.

Pemahaman SPI
Lingkungan Pengendalian
a. Integritas dan Nilai Etika
(1) Apakah jajaran pimpinan entitas memiliki komitmen terhadap
integritas dan nilai etika?
(2) Apakah entitas memiliki kode etik yang bersifat komprehensif?
(3) Apakah kode etik tersebut secara periodik disosialisasikan pada
seluruh personil?
(4) Apakah para personil memahami tindakan yang etis/tidak etis?
(5) Apakah para personil mengetahui apa yang harus dilakukan dalam
menyikapi penyimpangan?
(6) Apabila tidak ada kode etik tertulis, apakah budaya manajemen
(misalnya melalui komunikasi lisan pada saat rapat, bertatap muka,
atau contoh dalam kegiatan sehari-hari) dapat mendorong terciptanya
integritas dan perilaku bermoral?
(7) Apakah pihak pimpinan entitas mampu memberi contoh yang baik
sesuai kode etik?
(8) Apakah hubungan keseharian internal dan eksternal entitas
didasarkan atas prinsip kejujuran dan kewajaran?
(9) Apakah pimpinan entitas memberikan respons yang memadai
terhadap pelanggaran kode etik?
(10) Apakah tindakan disiplin terhadap pelanggaran dikomunikasikan
secara luas sehingga menimbulkan dampak menjerakan (deterrent
effect)?
(11) Apakah manajemen telah memiliki aturan yang jelas (kapan, siapa,
dan dalam hal apa) mengenai kemungkinan pengambilan
kebijaksanaan yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku?
(12) Apakah kebijaksanaan tersebut didokumentasikan dan dijelaskan
secara memadai?
(13) Apakah penyimpangan dari ketentuan yang ada telah diselidiki?
(14) Apakah penyimpangan dari
ketentuan yang ada telah
didokumentasikan?
b. Komitmen terhadap Kompetensi
(1) Apakah telah terdapat job description yang menjelaskan tugas suatu
pekerjaan/posisi tertentu sesuai kebutuhan entitas?
(2) Apakah manajemen entitas telah melakukan analisis, baik formal
maupun informal, mengenai jenis pekerjaan dan perlu/tidaknya
supervisi atau pelatihan?
(3) Apakah terdapat ketentuan mengenai tingkat kompetensi
(pengetahuan dan keahlian) yang dibutuhkan untuk suatu pekerjaan
tertentu?
(4) Apakah ada bukti yang dapat meyakinkan bahwa seorang personil
telah ditempatkan sesuai keahlian dan pengetahuan yang
dibutuhkan?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.4

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR

9/K/I-XIII.2/12/2011

TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
______________________________________________________

No.

Pemahaman SPI
c. Gaya operasi dan filosofi manajemen
(1) Apakah manajemen entitas menerapkan prinsip kehati-hatian?
(2) Apakah manajemen entitas hanya akan bertindak setelah melalui
analisis mendalam terhadap risiko dan kemungkinan manfaat yang
diperoleh?
(3) Apakah terdapat perputaran personil (masuk-keluar) yang tinggi pada
fungsi utama entitas, misalnya, bagian operasional, akuntansi,
pengolahan data, dan pemeriksaan intern?
(4) Apakah pola perputaran personil tersebut telah dibuat secara
konsisten?
(5) Apakah perputaran personil kunci dalam suatu fungsi dilakukan tanpa
perencanaan terlebih dahulu?
(6) Apakah manajemen memandang penting fungsi pengolahan data,
fungsi akuntansi, keandalan laporan keuangan, dan perlindungan
terhadap kekayaan entitas?
(7) Apakah fungsi akuntansi dipandang hanya sebagai unit pencatat atau
sebagai alat untuk menguji pengendalian atas berbagai aktivitas
entitas?
(8) Apakah aset yang dimiliki entitas (termasuk aset intelektual dan
informasi) dilindungi dari akses oleh pihak yang tidak berwenang?
(9) Apakah terdapat interaksi yang sering antara pimpinan entitas dengan
manajemen pelaksana di daerah (baik kunjungan ke daerah,
komunikasi via telepon, atau pertemuan di pusat)?
(10) Apakah pertemuan koordinasi antarunit pelaksana dengan
penanggung jawab selalu dilakukan?
(11) Apakah laporan yang disampaikan oleh pegawai benar-benar
menggambarkan keadaan sebenarnya?
(12) Apakah manajemen akan bereaksi jika ada gejala praktek yang tidak
baik yang disampaikan melalui laporan?
d. Struktur Organisasi
Struktur organisasi tidak boleh terlalu sederhana sehingga pemantauan
terhadap kegiatan entitas tidak akan memadai dan tidak boleh pula terlalu
kompleks karena dapat mengganggu kelancaran arus informasi.
(1) Apakah jajaran pimpinan entitas telah memahami sepenuhnya
tanggung jawab pengendalian yang mereka miliki?
(2) Bagaimana kelengkapan struktur organisasi yang dimiliki entitas dan
kemampuannya dalam menyediakan arus informasi yang diperlukan
untuk mengelola kegiatan operasional?
(3) Apakah struktur organisasi disentralisasi secara memadai?
(4) Apakah struktur organisasi didesentralisasikan secara memadai?
(5) Apakah struktur tersebut dapat memfasilitasi arus informasi ke atas,
ke bawah maupun kepada seluruh kegiatan?
(6) Apakah jajaran pimpinan entitas memiliki pengetahuan, pengalaman,
dan pelatihan guna pelaksanaan tugas mereka?
(7) Apakah hubungan pelaporan yang ada, baik formal maupun informal,
langsung maupun tidak langsung telah dilakukan secara efektif?
(8) Apakah hubungan pelaporan yang ada dapat memberikan informasi
yang memadai kepada para manajer sesuai tanggung jawab dan
wewenang masing-masing?
(9) Apakah manajemen dari semua bagian entitas memiliki akses
terhadap saluran komunikasi kepada pimpinan entitas?
(10) Apakah terdapat mekanisme evaluasi sehubungan dengan perubahan
kondisi lingkungan?
(11) Apakah terdapat kemungkinan perubahan terhadap struktur
organisasi secara berkala sehubungan dengan perubahan kondisi
lingkungan?
(12) Apakah terdapat jumlah personil yang memadai, khususnya untuk
kapasitas supervisor maupun manajemen?
(13) Apakah para manajer dan supervisor memiliki waktu yang memadai
untuk menjalankan tanggung jawabnya secara efektif?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.4

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR

9/K/I-XIII.2/12/2011

TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
______________________________________________________

No.

Pemahaman SPI
e. Tanggung Jawab dan Wewenang
(1) Apakah mekanisme pembebanan suatu tanggung jawab,
pendelegasian wewenang, dan pengembangan kebijakan dapat
mendukung terciptanya akuntabilitas dan pengendalian?
(2) Apakah pembebanan tanggung jawab dan pendelegasian wewenang
dihubungkan/dikaitkan dengan tujuan dan sasaran organisasi, fungsi
operasi, tuntutan peraturan, tanggung jawab atas sistem operasi, dan
wewenang atas suatu perubahan?
(3) Apakah setiap personil entitas memiliki wewenang dan tanggung
jawab?
(4) Apakah pengambilan keputusan dikaitkan dengan wewenang dan
tanggung jawab?
(5) Apakah terdapat standar dan prosedur yang terkait dengan
pengendalian, termasuk job description masing-masing pegawai?
(6) Apakah job description tersebut mengatur juga tanggung jawab
pengendalian?
(7) Apakah telah terdapat jumlah pegawai yang memadai, khususnya
yang berkaitan dengan pengolahan data dan fungsi akuntansi,
dengan tingkat keahlian yang sesuai dikaitkan dengan besar/kecilnya
entitas, jenis, dan kompleksitas dari kegiatan dan sistem.
f. Kebijakan dan Praktek Sumber Daya Manusia
Lakukan pengujian bagaimana kebijakan manajemen dalam merekrut dan
mempertahankan
pegawai
yang
handal
guna
melaksanakan
rencana-rencana entitas dalam rangka mencapai tujuan entitas.
(1) Apakah terdapat prosedur dan kebijakan tertulis dalam penggunaan,
pelatihan, promosi, dan penggajian pegawai?
(2) Jika tidak ada praktek dan kebijakan tertulis, apakah manajemen
mengomunikasikan ekspektasi tentang orang yang akan dipekerjakan
atau berpartisipasi secara langsung dalam proses pemilihan tersebut?
(3) Apakah setiap personil menyadari tanggung jawab dan ekspektasi
terhadap mereka?
(4) Apakah kepada personil baru diberikan pengertian tentang tanggung
jawab dan ekspektasi terhadap mereka?
(5) Apakah para supervisor bertemu dengan para pegawai secara
berkala guna mereviu kinerja mereka?
(6) Apakah para supervisor bertemu dengan para pegawai secara
berkala guna memberikan saran-saran untuk perbaikan?
(7) Apakah terdapat tindakan manajemen yang memadai untuk
merespon penyimpangan terhadap kebijakan dan prosedur yang ada?
(8) Apakah para pegawai mengerti bahwa kinerja yang buruk memiliki
dampak bagi organisasi?
(9) Apakah kebijakan personalia mengacu pada standar etika yang
memadai?
(10) Apakah nilai etika dan integritas merupakan kriteria dalam penilaian
kinerja?
(11) Apakah ada pengecekan yang memadai terhadap latar belakang
calon personil, khususnya menyangkut aktivitas yang pernah
dilakukan?
(12) Apakah ada kebijakan yang mempersyaratkan dilakukakanya
penyelidikan terhadap catatan kriminal calon personil?
(13) Apakah terdapat kriteria promosi dan teknik pengumpulan informasi
pegawai (contoh: evaluasi kinerja) dan kaitannya dengan kode etik
ataupun panduan moral lainnya?
(14) Apakah evaluasi kinerja dan pedoman etika menjadi salah satu
kriteria dalam promosi?
(15) Apakah ketentuan promosi dan kenaikan gaji dijelaskan secara rinci
sehingga setiap personil mengetahui apa yang diharapkan oleh
manajemen?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.4

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR

9/K/I-XIII.2/12/2011

TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
______________________________________________________

No.

Pemahaman SPI
g. Kegiatan Pengawasan
(1) Apakah entitas memiliki pemeriksa intern dan telah ditempatkan pada
kedudukan yang tepat dalam organisasi?
(2) Apakah pemeriksa internal melakukan pemeriksaan dan reviu atas
kegiatan entitas secara independen?
(3) Apakah lingkup kegiatan pemeriksaan intern telah ditetapkan dengan
jelas?
(4) Apakah lingkup kegiatan pemeriksaan intern telah dilaksanakan tepat
waktu serta pelaksanaan tugasnya dapat diandalkan?
(5) Apakah pekerjaan pengawasan intern ditujukan untuk perbaikan
organisasi?
(6) Apakah telah ditetapkan prosedur yang mengatur tindak lanjut atas
hasil pengawasan intern?
(7) Apakah entitas memiliki komite audit yang mereviu pekerjaan
pemeriksaan internal?
(8) Apakah komite audit menjalin koordinasi dengan pemeriksa internal
dan pemeriksa eksternal secara baik?
(9) Apakah fungsi pemeriksa internal mereviu sistem dan kegiatan
entitas?
(10) Apakah fungsi pemeriksa internal menyediakan informasi, analisis,
perkiraan, rekomendasi dan konsultasi kepada manajemen?

2.

Penilaian Risiko
a. Penetapan Tujuan Organisasi
(1) Apakah pimpinan organisasi telah menetapkan tujuan umum
organisasi dalam bentuk visi, misi, tujuan, dan sasaran?
(2) Apakah visi, misi, tujuan, dan sasaran organisasi tersebut sejalan
dengan program yang telah ditetapkan oleh lembaga legislatif?
(3) Apakah visi, misi, tujuan, dan sasaran organisasi tersebut cukup
spesifik
(4) Apakah visi, misi, tujuan, dan sasaran organisasi dapat diaplikasikan
pada organisasi tersebut dan tidak pada seluruh organisasi?
(5) Apakah rencana strategis mendukung visi, misi, tujuan, dan sasaran
organisasi?
(6) Apakah rencana strategis memperhatikan alokasi sumber daya dan
skala prioritas?
(7) Apakah rencana strategis dan anggaran didesain melalui berbagai
tingkatan pimpinan organisasi?
(8) Apakah asumsi yang dibuat dalam menyusun rencana strategis dan
anggaran sudah konsisten dengan pengalaman organisasi masa
lampau dan sekarang?
b.

Penetapan Tujuan Operasional Entitas


(1) Apakah semua aktivitas yang signifikan sudah sejalan dengan tujuan
operasional entitas?
(2) Apakah semua aktivitas telah direviu secara periodik untuk
memastikan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut tidak menyimpang dari
tujuan operasional dan rencana strategis entitas?
(3) Apakah tujuan setiap aktivitas kunci sudah ditetapkan?
(4) Apakah tujuan setiap aktivitas pendukung sudah ditetapkan?
(5) Apakah tujuan tingkat operasional entitas sudah konsisten dengan
praktik-praktik dan kinerja yang baik di masa lampau, dan konsisten
dengan norma-norma bisnis dan industri yang sesuai dengan entitas?
(6) Apakah sumber daya yang diperlukan untuk mendukung pencapaian
tujuan sudah diidentifikasikan?
(7) Jika sumber daya belum tersedia, apakah pimpinan entitas sudah
mempunyai rencana untuk memperolehnya?
(8) Apakah pimpinan entitas sudah mengidentifikasikan hal-hal yang
harus dicapai untuk mencapai tujuan operasional entitas?
(9) Apakah tujuan operasional entitas yang signifikan memperoleh
perhatian yang khusus dari pimpinan entitas dan apakah sudah ada
pemantauan kinerjanya secara reguler?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.4

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR

9/K/I-XIII.2/12/2011

TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
______________________________________________________

No.

Pemahaman SPI
c.

Identifikasi Risiko
(1) Apakah sudah digunakan metode penilaian risiko kualitatif untuk
menentukan urutan risiko relatif secara periodik?
(2) Apakah sudah digunakan metode penilaian risiko kuantitatif untuk
menentukan urutan risiko relatif secara periodik?
(3) Apakah risiko yang diidentifikasikan, diurutkan, dianalisis, dan
diminimalisir sudah dikomunikasi kepada staf?
(4) Apakah diskusi tentang identifikasi risiko terjadi pada tingkat pimpinan
senior entitas?
(5) Apakah identifikasi risiko sudah diperhitungan dalam rencana jangka
pendek dan rencana strategis jangka panjang?
(6) Apakah identifikasi risiko terjadi sebagai pertimbangan dari temuan
pemeriksaan, evaluasi, atau penilaian lainnya?
(7) Apakah identifikasi risiko pada tingkat staf dan pimpinan yunior entitas
telah diangkat pada diskusi tingkat pimpinan senior entitas?
(8) Apakah entitas sudah memperhatikan risiko-risiko yang berkaitan
dengan perkembangandan kemajuan teknologi?
(9) Apakah sudah ada pertimbangan tentang risiko yang timbul dari
perubahan kebutuhan atau ekspektasi dari DPR?
(10) Apakah sudah ada pertimbangan tentang risiko yang timbul dari
perubahan kebutuhan atau ekspektasi dari Pejabat Pemerintah?
(11) Apakah sudah ada pertimbangan tentang risiko yang timbul dari
perubahan kebutuhan atau ekspektasi dari Publik?
(12) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko sebagai akibat dari
ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan baru?
(13) Apakah sudah diperhitungkan risiko-risiko bagi entitas sebagai akibat
dari bencana alam?
(14) Apakah sudah diperhitungkan risiko-risiko bagi entitas sebagai akibat
dari tindak kejahatan?
(15) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko sebagai akibat dari
perubahan ekonomi?
(16) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko sebagai akibat dari
perubahan bisnis?
(17) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko sebagai akibat dari
perubahan politik?
(18) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko yang terkait dengan
kontraktor atau supplier utama?
(19) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko sebagai akibat dari
interaksi dengan entitas lainnya baik di dalam maupun di luar
lingkungan pemerintahan?
(20) Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko sebagai akibat dari
penciutan entitas?
(21) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko yang berkaitan dengan
proses rekayasa dan desain kembali proses operasi?
(22) Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko akibat dari terganggunya
proses sistem informasi?
(23) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko potensial akibat dari
proses yang terdesentralisasi?
(24) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko akibat personil yang
kurang qualified dan kurang terlatih?
(25) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko akibat terlalu
menggantungkan diri pada beberapa kontraktor untuk hal-hal yang
kritis?
(26) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko yang berkaitan dengan
perubahan yang mendasar dari tanggung jawab pimpinan entitas?
(27) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko akibat akses pegawai
terhadap aset-aset yang rentan?
(28) Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko yang berkaitan dengan
SDM, seperti rencana suksesi, ketidakcukupan kompensasi dan
benefit untuk dapat tetap kompetitif dengan pegawai sektor swasta?
(29) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko yang berkaitan dengan
kelanjutan program?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.4

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR

9/K/I-XIII.2/12/2011

TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
______________________________________________________

No.

Pemahaman SPI
(30) Apakah pimpinan entitas telah mempertimbangkan risiko-risiko yang
berkaitan dengan kegagalan di masa lalu dalam mencapai visi, misi,
tujuan, dan sasaran atau kegagalan dalam menyikapi keterbatasan
anggaran.
(31) Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko akibat dari belanja
program yang tidak tepat?
(32) Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko akibat dari pelanggaran
prinsip pengendalian dana, atau ketidakpatuhan lainnya?
(33) Apakah telah diidentifikasikan risiko-risiko inherent berkaitan dengan
misi atau signifikansi dan kompleksitas dari program atau aktivitas
tertentu.
d.

Analisis Risiko
(1) Apakah pimpinan entitas telah menetapkan proses formal untuk
menganalisis risiko termasuk proses informal berdasarkan aktivitas
sehari-hari?
(2) Apakah telah ditetapkan kriteria dalam menetapkan tingkat risiko
rendah, sedang, dan tinggi?
(3) Apakah tingkat manajemen dan staf sudah terlibat dalam analisis
risiko?
(4) Apakah risiko yang diidentifikasi dan dianalisis relevan dengan tujuan
operasional entitas?
(5) Apakah analisis risiko sudah termasuk perkiraan signifikansinya?
(6) Apakah analisis risiko sudah termasuk perkiraan kemungkinan dan
frekuensi terjadinya?
(7) Apakah analisis risiko sudah termasuk penentuan kategorinya,
rendah, sedang, dan tinggi?
(8) Apakah sudah ada penentuan tentang bagaimana mengelola atau
meminimalkan risiko dengan baik termasuk tindakan-tindakan yang
harus diambil?
(9) Apakah pendekatan terhadap pengelolaan dan pengendalian risiko
sudah sesuai dengan sifat entitas?
(10) Apakah pendekatan terhadap risiko sudah didesain untuk menjaga
tingkat risiko pada tingkat yang dapat ditolerir?
(11) Apakah sudah ditetapkan aktivitas pengendalian untuk mengelola
risiko tertentu pada level operasional entitas?
(12) Apakah
sudah
ditetapkan
aktivitas
pengendalian
untuk
meminimalisasi risiko tertentu pada level operasional entitas?
(13) Apakah ada pemantauan atas implementasi atas aktivitas
pengendalian tersebut?

e.

Mengelola Risiko akibat Perubahan


(1) Apakah sudah diperhitungkan seluruh operasional entitas yang dapat
dipengaruhi oleh perubahan?
(2) Apakah perubahan-perubahan yang rutin sudah diperhitungkan dalam
proses identifikasi risiko yang sudah baku?
(3) Apakah perubahan-perubahan yang rutin sudah diperhitungkan dalam
proses analisis risiko yang sudah baku?
(4) Apakah risiko-risiko akibat kondisi yang berubah secara signifikan
sudah diperhitungkan sebagai risiko yang tinggi bagi entitas sehingga
akibatnya dapat diperhitungkan dan diantisipasi?
(5) Apakah entitas telah memberikan perhatian terhadap risiko akibat
rekrutmen pegawai baru yang menempati posisi penting atau tingkat
penggantian pegawai yang tinggi?
(6) Apakah terdapat mekanisme untuk menilai risiko akibat pengenalan
sistem informasi yang baru?
(7) Apakah terdapat mekanisme untuk menilai risiko yang melibatkan
pelatihan pegawai untuk menggunakan sistem baru?
(8) Apakah pimpinan entitas sudah memberikan pertimbangan khusus
tentang risiko akibat pertumbuhan dan ekspansi yang cepat atau
penciutan entitas?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.4

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR

9/K/I-XIII.2/12/2011

TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
______________________________________________________

No.

Pemahaman SPI
(9) Apakah pimpinan entitas sudah memberikan pertimbangan khusus
tentang pengaruh ekspansi/penciutan daerah terhadap kemampuan
sistem dan revisi atas rencana strategis, visi, misi, tujuan, dan sasaran
organisasi?
(10) Apakah sudah ada pertimbangan tentang risiko akibat pengenalan
teknologi dan aplikasi baru?
(11) Apakah sudah dilakukan analisis terhadap risiko-risiko akibat produksi
jasa atau output baru?
(12) Apakah sudah dilakukan penilaian terhadap risiko akibat
pembentukan operasi di wilayah yang baru?

3.

Aktivitas Pengendalian
a. Pelaksanaan reviu oleh manajemen pada tingkat atas (top-level reviews)
(1) Apakah terdapat mekanisme reviu dari pejabat tinggi atau manajer
senior untuk mengawasi pencapaian suatu entitas terhadap rencana
yang telah dibuat?
(2) Apakah pejabat tinggi atau manajer senior mengawasi pencapaian
suatu entitas terhadap rencana yang telah dibuat sesuai mekanisme
yang ada?
(3) Apakah tindak lanjut hasil reviu dilaksanakan oleh unit-unit terkait?
(4) Apakah terdapat mekanisme reviu pada semua tingkat manajemen
fungsional untuk menelaah kinerja suatu aktivitas atau fungsi
terhadap rencana yang telah dibuat?
(5) Apakah manajer yang terkait menelaah kinerja suatu aktivitas atau
fungsi terhadap rencana yang telah dibuat sesuai mekanisme yang
ada?
(6) Apakah tindak lanjut hasil reviu dilaksanakan oleh unit-unit terkait?
b.

Mereviu pengelolaan SDM


(1) Apakah ekspektasi manajemen terhadap pencapaian tujuan telah
didokumentasikan kepada seluruh personil?
(2) Apakah ekspektasi manajemen terhadap pencapaian tujuan telah
dikomunikasikan kepada seluruh personil?
(3) Apakah terdapat rencana strategis mengenai pengelolaan personil?
(4) Apakah telah terdapat prosedur guna memastikan bahwa personil
yang direkrut maupun dipertahankan adalah mereka yang benarbenar memiliki kompetensi?
(5) Apakah kepada pegawai telah diberikan orientasi, pelatihan, dan
dukungan lainnya dalam rangka menjalankan tugasnya?
(6) Apakah sistem kompensasi telah memadai?
(7) Apakah terdapat insentif khusus yang dapat mendorong pegawai
bekerja secara maksimal?
(8) Apakah terdapat mekanisme suksesi (promosi dan mutasi) yang
jelas?

c.

Mereviu pengelolaan informasi untuk memastikan tingkat keakuratan dan


kelengkapan informasi
(1) Apakah pembukuan semua transaksi dilakukan secara sekuensial?
(2) Apakah jumlah-jumlah transaksi telah dicocokan dengan jumlah
pengendali?
(3) Apakah akses ke data dan dokumen lain dikendalikan?

d.

Menetapkan dan memantau indikator dan ukuran kinerja


(1) Apakah indikator dan ukuran kinerja telah dibuat untuk setiap bagian
dan level dalam organisasi sampai kepada individu?
(2) Apakah terhadap indikator tersebut telah dilakukan reviu dan validasi
secara periodik?
(3) Apakah data mengenai kinerja aktual senantiasa ditandingkan dengan
tujuan yang akan dicapai?
(4) Apakah jika terdapat perbedaan antara kinerja aktual dan tujuan akan
dianalisis?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.4

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR

9/K/I-XIII.2/12/2011

TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
______________________________________________________

No.

Pemahaman SPI
e.

Memisahan tugas atau fungsi


(1) Apakah kewenangan untuk mengendalikan seluruh aktivitas kunci
dipisahkan?
(2) Apakah terdapat pemisahan tugas dan tanggung jawab dalam
otorisasi?
(3) Apakah terdapat pemisahan tugas dan tanggung jawab dalam
penyetujuan (approval)?
(4) Apakah terdapat pemisahan tugas dan tanggung jawab dalam
pemrosesan?
(5) Apakah terdapat pemisahan tugas dan tanggung jawab dalam
pencatatan?
(6) Apakah terdapat pemisahan tugas dan tanggung jawab dalam
pembayaran/penerimaan uang?
(7) Apakah terdapat pemisahan tugas dan tanggung jawab dalam
pemeriksaan?
(8) Apakah terdapat pemisahan tugas dan tanggung jawab dalam fungsi
penyimpanan?
(9) Apakah penugasan telah dilakukan dengan memerhatikan efektivitas
mekanisme check and balance?

f.

Mereviu otorisasi kepada personil tertentu dalam melakukan suatu


transaksi
(1) Apakah transaksi yang diakui hanya transaksi-transaksi yang valid
sesuai ketentuan manajemen?
(2) Apakah suatu transaksi hanya dilakukan oleh orang yang memiliki
wewenang?
(3) Apakah suatu transaksi dilakukan sesuai dengan kewenangan yang
bersangkutan?
(4) Apakah prosedur otorisasi telah dikomunikasikan kepada seluruh
pegawai (termasuk kapan otorisasi tersebut dapat digunakan)?

g.

Mereviu pencatatan atas transaksi dengan menguji:


(1) Apakah setiap transaksi telah diklasifikasi dan dicatat secara
memadai guna mendukung pengendalian operasi dan pengambilan
keputusan?
(2) Apakah pengklasifikasian dan pencatatan tersebut telah meliputi
seluruh siklus mulai dari otorisasi, inisiasi, pemrosesan sampai
dengan klasifikasi final dalam pencatatan secara keseluruhan?

h.

Membuat pembatasan akses dan akuntabilitas terhadap sumber daya dan


catatan-catatan:
(1) Apakah terdapat pembatasan terhadap akses atas sumber daya dan
catatan?
(2) Apakah standar, prosedur, dan operasi atas pembatasan akses telah
ditetapkan?
(3) Apakah personil yang kepadanya mendapat hak akses telah
ditetapkan?

i.

Pendokumentasian
(1) Apakah sistem pengendalian intern, semua transaksi dan kejadian
penting lainnya telah didokumentasikan secara memadai?
(2) Apakah dokumentasi tersebut selalu tersedia untuk kepentingan
pengujian?
(3) Apakah dokumentasi terhadap transaksi maupun kegiatan penting
lainnya telah dilakukan secara lengkap dan akurat sehingga
memungkinkan dilakukannya penelusuran?
(4) Apakah dokumentasi tersebut, baik tertulis maupun secara elektronis,
berguna bagi proses evaluasi, analisis, dan pengendalian?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.4

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR

9/K/I-XIII.2/12/2011

TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
______________________________________________________

No.

Pemahaman SPI
Langkah pengujian pada aktivitas pengendalian dalam lingkungan yang
terkomputerisasi pada dasarnya serupa dengan langkah pengujian pada
aktivitas pengendalian dalam lingkungan yang tidak terkomputerisasi. Teknik
pemeriksaan berbantuan komputer dapat digunakan untuk melaksanakan
langkah pengujian dimaksud.

4.

Informasi dan Komunikasi


a. Informasi
(1) Apakah informasi diidentifikasi, diperoleh, diproses, dan dilaporkan
melalui suatu sistem informasi?
(2) Apakah informasi yang relevan diperoleh baik dari sumber ekstenal
maupun dari informasi yang dikelola secara internal?
(3) Apakah terdapat mekanisme untuk memperoleh informasi eksternal
(seperti kondisi pasar, perkembangan dalam bidang peraturan, dan
perubahan kondisi ekonomi)?
(4) Apakah informasi internal diidentifikasi dalam kaitannya dengan
pencapaian tujuan entitas?
(5) Apakah informasi internal secara teratur dilaporkan dalam kaitannya
dengan pencapaian tujuan entitas termasuk faktor-faktor
keberhasilan?
(6) Apakah pimpinan entitas memperoleh informasi yang dibutuhkan
guna melaksanakan tanggung jawabnya?
(7) Apakah terdapat mekanisme penyediaan informasi yang memadai
bagi orang yang tepat secara tepat waktu guna membantu mereka
melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien?
(8) Apakah para manajer memperoleh informasi analitis yang membantu
mereka dalam mengidentifikasi tindakan yang perlu diambil?
(9) Apakah informasi yang jelas dan tepat tersedia bagi berbagai
tingkatan pimpinan entitas?
(10) Apakah informasi dirangkum secara memadai guna menyediakan
data yang lebih mendetail?
(11) Apakah informasi tersedia sewaktu-waktu yang memungkinkan
pemantauan yang efektif terhadap suatu aktivitas dan kejadian, baik
intern maupun ekstern untuk selanjutnya bereaksi terhadap kondisi
ekonomi, faktor usaha, dan masalah pengendalian?
(12) Apakah pengembangan atau perbaikan sistem informasi dilaksanakan
berdasarkan rencana strategis sistem informasi dikaitkan dengan
strategi umum entitas dan pencapaian tujuan umum maupun kegiatan
entitas?
(13) Apakah komite pengarah teknologi informasi telah dibentuk dalam
rangka identifikasi informasi yang dibutuhkan?
(14) Apakah prioritas dan kebutuhan akan informasi ditentukan oleh pihak
eksekutif?
(15) Apakah perencanaan teknologi informasi telah dikembangkan dan
dikaitkan dengan inisiatif strategi?
(16) Apakah pimpinan entitas mendukung pengembangan sistem
informasi melalui komitmen terhadap sumber daya yang memadai,
baik manusia maupun keuangan?
(17) Apakah sumber daya yang memadai (para manajer, analis,
programer, dengan kemampuan yang sesuai) tersedia sesuai
kebutuhan?
b.

Komunikasi
(1) Apakah tugas dan tanggung jawab pengendalian pegawai
dikomunikasikan melalui jaringan komunikasi yang efektif?
(2) Apakah saluran komunikasi seperti pada saat pelatihan, rapat atau
dalam pelaksanaan pekerjaan baik secara formal maupun informal
telah dilaksanakan secara memadai?
(3) Apakah setiap pegawai mengetahui tujuan kegiatan masing-masing
dan cara mencapai tujuan tersebut?
(4) Apakah setiap pegawai mengerti bagaimana tugas mereka
berpengaruh ataupun dipengaruhi oleh tugas pegawai yang lain?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.4

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR

9/K/I-XIII.2/12/2011

TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
______________________________________________________

No.

Pemahaman SPI
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
c.

5.

Apakah terdapat saluran komunikasi bagi setiap orang untuk


melaporkan adanya dugaan penyimpangan?
Apakah terdapat jalur komunikasi kepada pihak yang lebih tinggi
di luar atasan langsung, seperti bagian ombudsman ataupun
corporate counsel?
Apakah para pegawai benar-benar menggunakan saluran komunikasi
yang ada?
Apakah terhadap orang yang melaporkan dugaan penyimpangan
disediakan umpan balik dan diberi kekebalan terhadap tuntutan balik?
Apakah pimpinan entitas menerima dengan baik saran yang diberikan
oleh pegawai dalam rangka peningkatan produktivitas, kualitas, atau
sejenisnya.
Apakah terdapat mekanisme bagi pegawai untuk menyampaikan
saran-saran perbaikan?
Apakah pimpinan entitas memberikan penghargaan kepada para
pegawai yang memberikan saran yang baik?
Apakah komunikasi antarbagian telah dilakukan secara memadai?
Apakah pimpinan entitas mengomunikasikan kepada pihak luar
tentang standar etika yang dimiliki entitas?
Apakah pihak ketiga mengetahui standar etika dan ekspektasi dalam
rangka hubungan mereka dengan pihak entitas?
Apakah penyimpangan yang dilakukan oleh pegawai pihak luar
dilaporkan kepada personil yang berwenang?
Apakah pegawai senantiasa melaporkan masalah yang terjadi dan
laporan tersebut ditindaklanjuti/diinvestigasi?
Apakah tindak lanjut atas penyimpangan dikomunikasikan kepada
sumbernya?
Apakah pimpinan puncak sadar akan sifat dan jumlah keluhan yang
masuk?

Bentuk dan alat komunikasi


(1) Apakah pimpinan entitas menggunakan metode komunikasi efektif
yang antara lain meliputi manual kebijakan dan prosedur, arahan
manajemen, memorandum, pemberitahuan, situs internet dan
intranet, pesan-pesan melalui video-tape, e-mail, dan pidato-pidato?
(2) Apakah terdapat rencana strategis sistem informasi yang sejalan
dengan rencana strategis organisasi?
(3) Apakah terdapat mekanisme untuk mengidentifikasi kebutuhan
informasi yang mendesak?
(4) Apakah peningkatan dan keunggulan teknologi dimonitor, dianalisis,
dievaluasi, dan diperkenalkan untuk membantu organisasi sehingga
dapat merespon lebih cepat dan efisien?
(5) Apakah pimpinan entitas memonitor secara kontinu kualitas informasi
yang diperoleh, dipelihara, dan dikomunikasikan telah sesuai dengan
materi, waktu, akurasi, dan akses yang dibutuhkan?
(6) Apakah terdapat dukungan manajemen bagi pengembangan
teknologi informasi yang ditunjukkan dengan komitmen organisasi
dalam menyediakan sumberdaya manusia dan keuangan?

Pemantauan
a. Pemantauan Berkelanjutan (ongoing monitoring)
(1) Apakah pemerintah atau manajemen memiliki strategi untuk menjamin
efektivitas pelaksanaaan pemantauan berkelanjutan. Beberapa hal
yang perlu dipertimbangkan:
(a) Apakah strategi yang dimiliki pemerintah atau manajemen
menjamin umpan balik (feed back) secara rutin, pemantauan
kinerja, dan pencapaian tujuan SPI?
(b) Apakah strategi pemantauan mencakup metode yang memberi
penekanan kepada pejabat pelaksana atau manajer operasi
dalam memantau efektivitas SPI?
(c) Apakah strategi pemantauan mencakup identifikasi kegiatan
operasi utama yang membutuhkan reviu dan evaluasi tersendiri?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.4

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR

9/K/I-XIII.2/12/2011

TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
______________________________________________________

No.

Pemahaman SPI
(d) Apakah strategi juga meliputi perencanaan untuk evaluasi berkala
atas aktivitas pengendalian bagi kegiatan atau operasi utama
tersebut?
(2)

Dalam pelaksanaan tugas rutinnya, apakah pegawai memperoleh


informasi mengenai berfungsi tidaknya SPI. Beberapa informasi yang
dapat dipertimbangkan adalah:
(a) Apakah pejabat
pelaksana atau manajemen operasi
membandingkan produksi, persedian, penjualan, dan informasi
lainnya yang didapatkan dari kegiatan rutin dengan sistem yang
menghasilkan informasi?
(b) Apakah pejabat
pelaksana atau manajemen operasi
menindaklanjuti setiap ketidakcocokkan atau masalah lain yang
ditemukan dari hasil sistem informasi?
(c) Apakah integrasi dan rekonsiliasi informasi operasi yang
digunakan untuk mengelola pelaksanaan dengan data yang
dihasilkan oleh sistem pelaporan keuangan dilakukan?
(d) Apakah pegawai pelaksana diharuskan untuk bertanggung jawab
atas kecermatan laporan keuangannya?

(3) Apakah pihak ketiga juga dilibatkan dalam pelaksanaan pemantauan?


(a) Apakah keluhan-keluhan masyarakat dan pihak lain dapat segera
diketahui penyebabnya?
(b) Apakah komunikasi dengan pihak yang berkepentingan
dilakukan?
(c) Apakah pemerintah/pembuat peraturan menginformasikan hal-hal
yang terkait dengan kepatuhan atau hal lain yang
menggambarkan berfungsinya SPI?
(d) Apakah aktivitas SPI yang semestinya menjaga atau dapat
mendeteksi setiap masalah yang muncul, tetapi tidak berfungsi
dengan baik, dilakukan pengujian kembali?
(4) Apakah struktur organisasi dan kegiatan supervisi yang ada dapat
membantu pemantauan terhadap fungsi SPI?
(a) Apakah pembagian tugas dan tanggung jawab digunakan untuk
membantu pendeteksian kecurangan?
(b) Apakah pemeriksa intern adalah badan yang independen dan
mempunyai kewenangan untuk melaporkan secara langsung
kepada pimpinan organisasi?
(5) Apakah data yang dicatat oleh sistem informasi maupun keuangan
telah dibandingkan secara periodik dengan fisiknya?
(a) Apakah persediaan dan aset lainnya diperiksa secara berkala?
(b) Apakah setiap perbedaan antara yang tercatat dengan jumlah
yang ada telah dikoreksi?
(c) Apakah sebab-sebab terjadinya perbedaan, dijelaskan, dan
diperbaiki?
(d) Apakah frekuensi perbandingan merupakan fungsi dari penjagaan
aset?
(e) Apakah tanggung jawab penyimpanan sumber daya dan
kekayaan diberikan kepada individu tertentu?
(6)

Apakah tanggapan atas rekomendasi pemeriksa baik internal maupun


eksternal ditujukan untuk memperkuat/perbaikan pengendalian
intern?
(a) Apakah pejabat pelaksana yang mempunyai kewenangan
memberi keputusan mengenai rekomendasi yang akan
diimplementasikan?
(b) Apakah tindakan yang ingin ditindaklanjuti untuk memverifikasi
implementasi?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.4

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR

9/K/I-XIII.2/12/2011

TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
______________________________________________________

No.

Pemahaman SPI

(7)

Apakah terdapat mekanisme pertemuan dengan para pegawai dalam


rangka memperoleh umpan balik mengenai efektivitas SPI?
(a) Apakah isu-isu yang relevan, informasi, dan umpan balik terkait
dengan efektivitas pengendalian intern yang dinyatakan dalam
pelatihan, seminar, sesi perencanaan, dan pertemuan-pertemuan
lain didapatkan dan digunakan oleh manajemen untuk menjawab
masalah-masalah atau memperkuat struktur pengendalian intern?
(b) Apakah saran-saran dari pegawai terkait dengan pengendalian
intern dipertimbangkan dan dilaksanakan secara proporsional?
(c) Apakah manajemen mendorong para pekerjanya untuk
mengidentifikasi kelemahan pengendalian intern?
(d) Apakah manajemen mendorong para pekerjanya untuk
melaporkan kelemahan SPI kepadanya, dalam rangka
pengawasan?

(8) Apakah para pegawai secara rutin diminta untuk menyatakan secara
eksplisit mengenai kesesuaian perilaku mereka terhadap kode etik?
(a) Apakah kepada para pegawai secara berkala diminta untuk
melaksanakan kode etik?
(b) Apakah ada tanda bagi pembuktian telah dilakukannya fungsi
pengendalian untuk fungsi-fungsi pokok seperti rekonsiliasi?
(9)

Apakah terdapat efektivitas dari kegiatan pemeriksaan intern?


(a) Apakah kegiatan pemeriksaan intern di dalam organisasi
mempunyai tingkat kompetensi dan pengalaman di bidangnya?
(b) Apakah posisi-posisi dalam organisasi tepat?
(c) Apakah pegawai dapat berhubungan dengan dewan direksi
ataupun komite audit?
(d) Apakah lingkup, tanggung jawab dan perencanaan pemeriksaan
mereka memenuhi kebutuhan organisasi?

b. Evaluasi Terpisah (Separate Evaluation)


(1) Apakah lingkup dan frekuensi pelaksanaan evaluasi khusus terhadap
pengendalian intern telah memadai?
(a) Apakah hasil penilaian risiko dan efektivitas pemantauan
berkelanjutan, dipertimbangkan dalam menentukan lingkup dan
frekuensi evaluasi terpisah?
(b) Apakah seksi atau bagian tertentu pengendalian intern dievaluasi
secara periodik?
(c) Apakah lingkup dan kedalaman cakupan sudah cukup?
(d) Apakah evaluasi dilakukan oleh pegawai dengan keahlian yang
dibutuhkan?
(e) Apakah kejadian-kejadian tertentu seperti perubahan rencana
atau strategi manajemen yang mendasar, ekspansi usaha,
perubahan yang signifikan pada operasi atau informasi anggaran
telah diadakan evaluasi?
(2) Apakah metodologi untuk mengevaluasi pengendalian intern telah
memadai dan logis? Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:
(a) Apakah terdapat instrumen yang digunakan seperti checklist,
kuisioner, atau instrumen lain?
(b) Apakah evaluasi terpisah mencakup reviu atas desain
pengendalian dan pengujian langsung terhadap aktivitas
pengendalian intern?
(c) Apakah tim evaluasi juga dilibatkan dalam merencanakan proses
evaluasi?
(d) Apakah proses evaluasi dipimpin oleh eksekutif yang mempunyai
kewenangan, keahlian, dan pengalaman yang dibutuhkan?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.4

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR

9/K/I-XIII.2/12/2011

TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
______________________________________________________

No.

Pemahaman SPI

(3)

Apabila evaluasi ini dilakukan oleh pemeriksa intern, apakah mereka


memiliki sumber daya, kemampuan dan independensi yang memadai.
Hal-hal berikut perlu menjadi bahan pertimbangan:
(a) Apakah unit pemeriksa intern mempunyai pegawai dengan
kompetensi dan pengalaman untuk melakukan evaluasi?
(b) Apakah secara organisasi pemeriksa intern independen dan
melaporkan hasil evaluasi kepada tingkat tertinggi yang ada
dalam organisasi?
(c) Apakah tanggung jawab, lingkup pekerjaan, dan rencana
pemeriksaan
pemeriksa intern dapat memenuhi kebutuhan
organisasi?
(d) Apakah penyimpangan yang ditemukan dalam evaluasi telah
dilaporkan kepada puncak pimpinan?
(e) Apakah penyimpangan yang ditemukan dalam evaluasi telah
diselesaikan secara tepat?

(4)

Apakah terdapat kecukupan proses evaluasi? Beberapa hal berikut


dapat dijadikan pertimbangan:
(a) Apakah evaluator mempunyai kecukupan pemahaman terhadap
aktivitas organisasi?
(b) Apakah pemahaman terhadap bagaimana sistem seharusnya
bekerja dan bagaimana sistem bekerja dimiliki oleh evaluator?
(c) Apakah analisis dengan menggunakan hasil evaluasi sebagai
pengukuran terhadap kriteria yang telah ditetapkan dilakukan oleh
evaluator?
(d) Apakah pekerjaan evaluasi didokumentasikan secara memadai?

c. Penyelesaian hasil pemeriksaan


(1) Apakah terdapat mekanisme yang dapat menjamin bahwa terhadap
temuan-temuan pemeriksaan ataupun reviu lainnya telah dilakukan
penyelesaian dengan tepat? Antara lain:
(a) Apakah manajer mereviu dan mengevaluasi temuan-temuan
pemeriksaan ataupun reviu lainnya termasuk penyimpanganpenyimpangan dan kemungkinan perbaikannya?
(b) Apakah manajemen menentukan hal-hal yang perlu dilakukan
dalam menanggapi temuan dan rekomendasi?
(c) Apakah tindakan perbaikan dilakukan dalam jangka waktu yang
telah ditentukan?
(d) Dalam hal terjadi ketidaksetujuan terhadap temuan atau
rekomendasi, apakah manajemen mampu menunjukkan bahwa
temuan atau rekomendasi tersebut tidak valid ataupun tidak bisa
dilaksanakan?
(e) Apakah manajemen mempunyai pemikiran untuk melakukan
konsultasi kepada pemeriksa ketika mereka percaya bahwa hal
tersebut
akan
membantu
proses
penyelesaian
hasil
pemeriksaan?
(2)

Apakah manajemen tanggap terhadap temuan dan rekomendasi


pemeriksaan ataupun reviu lainnya yang bertujuan kepada perbaikan
pengendalian intern? Hal tersebut dapat terlihat dari:
(a) Apakah eksekutif yang berwenang mengevaluasi temuan dan
rekomendasi serta menentukan tindakan yang tepat untuk
memperbaiki atau meningkatkan pengendalian?
(b) Apakah tindakan pengendalian intern yang diinginkan
ditindaklanjuti dalam rangka verifikasi pengendalian?

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.4

KEPUTUSAN BPK RI

NOMOR

9/K/I-XIII.2/12/2011

TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
______________________________________________________

No.

Pemahaman SPI

(3)

Apakah tindak lanjut terhadap temuan dan rekomendasi pemeriksaan


ataupun reviu lainnya telah dilakukan secara memadai? Antara lain
dapat diketahui dari:
(a) Apakah masalah-masalah pada transaksi atau kejadian tertentu
dikoreksi secara tepat?
(b) Apakah penyebab permasalahan yang terjadi dapat diselidiki oleh
manajemen?
(c) Apakah tindak lanjut untuk meyakinkan bahwa tindakan perbaikan
yang diperlukan telah dilakukan?
(d) Apakah manajemen puncak selalu mendapatkan informasi
terhadap status dan posisi penyelesaian hasil pemeriksaan?
(e) Apakah penyebab terjadinya permasalahan sebagaimana
dituangkan dalam temuan dan rekomendasi telah diselidiki?
(f) Apakah penyebab terjadinya permasalahan sebagaimana
dituangkan dalam temuan dan rekomendasi telah dilakukan
perbaikan?

KESIMPULAN:

Litbang Pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Catatan

LAMPIRAN III.5
:
KEPUTUSAN BPK RI
NOMOR
:
9/K/I-XIII.2/12/2011
TANGGAL
:
30 DESEMBER 2011
________________________________________________

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

No. Indeks
Pemeriksaan Kinerja Atas ....
Tahun Anggaran

Dibuat oleh

Direviu oleh

Disetujui oleh

BPK RI

CONTOH
KERTAS KERJA PENENTUAN AREA POTENSIAL
Tujuan Kegiatan ini adalah menentukan area-area potensial yang akan menjadi area kunci dalam
pelaksanaan pemeriksaan
No
1
1.
2.
3.
4.

Hasil Identifikasi Masalah


2

Area Potensial
3

Catatan:
1. Kolom 2 Hasil Identifikasi Masalah diisi dengan output berupa masalah-masalah utama yang didapatkan
dari langkah Pemeriksaan Kinerja sebelumnya yaitu Identifikasi Masalah.
2. Kolom 3 Area Potensial diisi dengan Area/Program/Kegiatan/Bidang yang berkaitan dengan masalah utama
yang didapatkan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.6
NOMOR
TANGGAL

CONTOH

:
:
:

KEPUTUSAN BPK RI
9/K/I-XIII.2/12/2011
30 DESEMBER 2011

No. Indeks

Pemeriksaan Kinerja Atas ..


Kabupaten ABC
Tahun Anggaran.

Dibuat oleh
Direviu oleh
Disetujui oleh

:
:
:

BPK RI

KERTAS KERJA PEMILIHAN AREA KUNCI


Tujuan kegiatan ini adalah menentukan urutan prioritas dari area potensial yang akan dipilih menjadi obyek pemeriksaan kinerja (area kunci).
No.

Area Kunci

(1)

(2)

Risiko Manajemen
(3)

Faktor Pemilihan
Signifikansi
Dampak Pemeriksaan
(4)
(5)

Auditabilitas
(6)

1.
2.
3.
Catatan:
1. Kolom 2 diisi dengan area-area potensial yang didapatkan dari hasil identifikasi masalah.
2. Kolom 3, 4, 5, dan 6 diisi dengan menggunakan skor 1 = rendah, 2 = sedang, 3 = tinggi.
3. Kolom 7 merupakan penjumlahan dari kolom 3, 4, 5, dan 6.
4. Kolom 8 merupakan urutan prioritas dari area-area potensial yang akan dipilih sebagai obyek pemeriksaan.
5. Kolom 9 merupakan kesimpulan area potensial yang akan dipilih sebagai obyek pemeriksaan (area kunci).

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Total
Skor
(7)

Urutan
Prioritas
(8)

Kesimpulan
Dipilih/Tidak
(9)

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN III.7
NOMOR
TANGGAL

:
:
:

KEPUTUSAN BPK RI
9/K/I-XIII.2/12/2011
30 DESEMBER 2011

CONTOH
Pemeriksaan Kinerja
Atas ..........
Tahun..

No. Indeks
Dibuat oleh
Direviu oleh
Disetujui oleh

:
:
:

BPK RI

KERTAS KERJA PENETAPAN TUJUAN DAN LINGKUP PEMERIKSAAN


Tujuan dari kegiatan Penetapan Obyek, Tujuan, dan Lingkup Pemeriksaan adalah memberikan arah yang
jelas pada proses pelaksanaan pemeriksaan untuk menghindari prosedur-prosedur yang tidak perlu, dan
lebih fokus untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam tujuan pemeriksaan yang telah ditetapkan.
Dengan demikian pemeriksa akan lebih mudah mengambil keputusan pada akhir pemeriksaan. Pemeriksa
dapat mengembangkan butir-butir yang ada dalam template KKP sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

1. Area kunci yang dipilih


..
..
..
2. Tujuan pemeriksaan
..
..
..
3. Periode waktu pemeriksaan
..
..
..
4. Lingkup pemeriksaan
..
..
..

Ditama Revbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

LAMPIRAN IV.1
NOMOR
TANGGAL

:
:
:

KEPUTUSAN BPK RI
9/K/I-XIII.2/12 /2011
30 DESEMBER 2011

CONTOH

Pemeriksaan Kinerja
Atas ..........
Tahun..

No. Indeks
Dibuat oleh
Direviu oleh
Disetujui oleh

:
:
:

BPK RI

KERTAS KERJA PENGUJIAN DATA PEMERIKSAAN


Tujuan kegiatan pengujian data adalah menentukan bukti-bukti pemeriksaan yang penting dan perlu sebagai
bahan penyusunan suatu temuan pemeriksaan, kesimpulan pemeriksaan, dan usul rekomendasi.
1. Daftar sumber data yang diperoleh:
..
..
.........................................
2. Teknik analisis yang digunakan :
..
..
.........................................
3. Ringkasan hasil analisis:
..
..
.........................................
4. Usul rekomendasi :
..
..
.........................................

Ditama Revbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak Pemeriksaan Kinerja

TIM PENYUSUN PETUNJUK PELAKSANAAN


PEMERIKSAAN KINERJA
1. Daeng M. Nazier
2. Hery Subowo
3. Ria Anugriani
4. Beni Subena
5. Agus Bambang Irawan
6. G. Yorrie Rismanto Adi
7. Dwi Afriyanti
8. Harpanto Guno Sabanu
9. Subeki Supriyadi
10. Iwan Purwanto Sudjali
11. Sandra Willia Gus man
12. Bambang Prayudhi
13. Denny Wahyu Sendjaja
14. Yosie
15. Asad Agung Perkasa

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Direktorat Litbang
Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
Jl. Jenderal Gatot Subroto 31
Jakarta 10210 Indonesia
+62-21-25549000 ext. 3306/3307/3308
Email: litbang-pemeriksaan@bpk.go.id