Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM LAPANGAN
GELOMBANG LAUT

DISUSUN OLEH :

Disusun Oleh :
KELOMPOK 7
OSEANOGRAFI A

ATIKA KUMALA DEWI

26020211130042

NOVA PUTRI DEWANTI

26020211120002

ANGGA DWI SAPUTRA

260202111300

RIZKI APRILIAN

26020211130013

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI


JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013

LEMBAR PENILAIAN
Kelompok 8
ATIKA KUMALA DEWI

26020211130042

NOVA PUTRI DEWANTI

26020211120002

ANGGA DWI SAPUTRA

260202111300

RIZKI APRILIAN

260202111300

No

Keterangan

Tujuan Praktikum

Tinjauan Pustaka

Materi Metode

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan

Daftar Pustaka

Nilai

Nilai Akhir

Semarang, 22 Juni 2013


Asisten

Praktikan

Rahadimas

Maharani Catterina
260202101
Mengetahui,
Dosen Praktikum

Indra Budi Prasetyawan, S.si, M,si


NIP. ____
____________________

I.

TUJUAN PRAKTIKUM

Tujuan dari praktikum gelombang kali ini antara lain :


1. Mengetahui Cara Pengukuran Gelombang Pasut
2. Mencari Tinggi gelombang dan periode gelombang acak, mengetahui cara
menghitung H dan T gelombang acak dengan rata-rata pengukuran yang ada
3. Mengetahui pergerakan periodic gelombang-pasut dan factor penyebab
terbentuknya gelombang-pasut

II.
2.1.

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI GELOMBANG
Gelombang adalah pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak
lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal. Gelombang
laut disebabkan oleh angin. Angin di atas lautan mentransfer energinya ke
perairan, menyebabkan riak-riak, alun/bukit, dan berubah menjadi apa yang kita
sebut sebagai gelombang (Triatmodjo,1999)
Sedangkan

menurut

(Agus,2012)

dalam

jurnalnya

Gelombang

merupakan faktor penting di dalam perencanaan pelabuhan, rekayasa pantai dan


lepas pantai. Gelombang di laut bisa dibangkitkan oleh angin, gaya tarik matahari
dan bulan, letusan gunung berapi, atau gempa di laut, kapal yang bergerak dan
sebagainya. Gelombang yang berada di laut sering nampak tidak beraturan karena
puncak permukaan laut yang sering berubah-ubah, hal ini bisa diamati dari
permukaan airnya yang diakibatkan oleh arah perambatan gelombang yang
sangat bervariasi serta bentuk gelombang yang juga tidak beraturan terutama jika
dipengaruhi angin. Arah perambatan gelombang dapat ditaksirkan sebagai arah
rata-rata dari gelombang-gelombang individu. Permukaan laut sangat sulit
diamati karena gelombang-gelombang individu tersebut. Gelombang yang
merambat lebih cepat akan menyusul gelombang yang merambat lebih lambat.
Interaksi antar gelombang-gelombang individu tersebut dapat saling menguatkan,
saling menghilangkan, saling bertabrakan, berolak atau menjadi percikan.
Teori yang paling sederhana digunakan untuk menerangkan perambatan
gelombang laut dikenal sebagai small amplitude wave theory atau linear wave
theory. Teori ini dapat digunakan untuk menganalisa gerakan gelombang,
gelombang-gelombang merambat tanpa terjadi deformasi dan profil permukaan
maupun kecepatan pertikel air membentuk sinusoidal.
Gelombang/ombak yang terjadi di lautan dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa

macam

tergantung

kepada

gaya

pembangkitnya.

Pembangkit

gelombang laut dapat disebabkan oleh: angin (gelombang angin), gaya tarik
menarik bumi-bulan-matahari (gelombang pasang-surut), gempa (vulkanik atau
tektonik) di dasar laut (gelombang tsunami), ataupun gelombang yang
disebabkan oleh gerakan kapal.

Gelombang yang sehari-hari terjadi dan diperhitungkan dalam bidang


teknik pantai adalah gelombang angin dan pasang-surut (pasut). Gelombang
dapat membentuk dan merusak pantai dan berpengaruh pada bangunan-bangunan
pantai. Energi gelombang akan membangkitkan arus dan mempengaruhi
pergerakan sedimen dalam arah tegak lurus pantai (cross-shore) dan sejajar pantai
(longshore). Pada perencanaan teknis bidang teknik pantai, gelombang
merupakan faktor utama yang diperhitungkan karena akan menyebabkan gayagaya yang bekerja pada bangunan pantai.
Susunan gelombang di lautan sangat bervariasi dan kompleks. Untuk itu
para ahli mendesain sebuah model gelombang buatan untuk memudahkan dalam
mempelajarinya, walaupun bentuk gelombang ini kemungkinan tidak akan
dijumpai sama seperti gelombang laut yang sebenarnya. Bagian-bagian
gelombang gelombang ideal adalah:
a. Crest : merupakan titik tertinggi atau puncak sebuah gelombang
b. Trough : merupakan titik terendah atau lembah sebuah gelombang
c. Wave height : merupakan jarak vertikal antara crest dan trough atau disebut
juga tinggi gelombang
d. Wave lenght : merupakan jarak berturut-turut antara dua buah crest atau dua
buah trough, disebut juga satu panjang gelombang
e. Wave period : waktu yang dibutuhkan crest untuk kembali pada titik semula
secara berturut-turut, disebut juga periode gelombang
f.

Wave steepnees : perbandingan antara panjang gelombang dengan tinggi


gelombang, disebut juga kemiringan gelombang

Gambar 1 gelombang laut ideal

Gambar 2 Pergerakan gelombang

Ketinggian dan periode gelombang tergantung kepada panjang fetch


pembangkitannya. Fetch adalah jarak perjalanan tempuh gelombang dari awal
pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk daratan yang mengelilingi laut.
Semakin panjang jarak fetchnya, ketinggian gelombangnya akan semakin besar.
Angin juga mempunyai pengaruh yang penting pada ketinggian gelombang.
Angin yang lebih kuat akan menghasilkan gelombang yang lebih besar.
Gelombang yang menjalar dari laut dalam (deep water) menuju ke pantai
akan mengalami perubahan bentuk karena adanya perubahan kedalaman laut.
Apabila gelombang bergerak mendekati pantai, pergerakan gelombang di bagian
bawah yang berbatasan dengan dasar laut akan melambat. Ini adalah akibat dari
friksi/gesekan antara air dan dasar pantai. Sementara itu, bagian atas gelombang
di permukaan air akan terus melaju. Semakin menuju ke pantai, puncak
gelombang akan semakin tajam dan lembahnya akan semakin datar. Fenomena
ini yang menyebabkan gelombang tersebut kemudian pecah.

Gambar 3 fenomena gelombang pecah

2.2.

TIPE GELOMBANG
Gelombang dalam oseanografi secara umum dapat dibagi menjadi 2
bagian yaitu :

a. Gelombang permukaan dan,


b. Gelombang internal.
Gelombang permukaan adalah fenomena yang akan kita temui ketika
mengamati permukaan air laut, dan biasa disebut sebagai ombak. Salah satu
faktor yang menyebabkan terjadinya ombak adalah hembusan angin, disamping
ada pula faktor lain seperti pasang surut laut yang terjadi akibat adanya gaya tarik
bulan dan matahari.
Sementara itu, gelombang internal terbentuk akibat adanya perbedaan
rapat massa atau densitas air laut dengan gaya pembangkit yang dapat berasal
dari angin, pasang surut atau bahkan gerakan kapal laut. Densitas air laut
dipengaruhi oleh tiga parameter yaitu salinitas, temperatur dan. Perbedaan
densitas akan mengakibatkan air laut menjadi berlapis-lapis, dimana air dengan
densitas yang lebih besar akan berada di bawah air dengan densitas yang lebih
kecil. Kondisi ini akan menyebabkan adanya lapisan antar muka (interface)
dimana jika terjadi gangguan dari luar (oleh gaya pembangkit yang ada) akan
timbul gelombang antar lapisan yang tidak mempengaruhi gelombang di
permukaan.
Gelombang internal ini tidak akan bisa dilihat karena ia terjadi di lapisan
dalam, namun dapat dideteksi dengan cara melakukan pengamatan atau
pengukuran langsung piknoklin (lapisan dimana densitas air laut berubah secara
cepat terhadap kedalaman) atau termoklin (lapisan dimana temperatur air laut
berubah secara cepat terhadap kedalaman) dengan menggunakan sensor-sensor
pengukuran temperatur dan salinitas air laut, kecepatan arus laut, atau peralatan
akustik seperti sonar.
1.

Tipe gelombang berdasarkan gaya pembangkitnya


a. Gelombang laut akibat angin
Gelombang yang disebabkan oleh angin dapat menimbulkan
energi untuk membentuk pantai, menimbulkan arus dan transpor
sedimen dalam arah tegak lurus dan sepanjang pantai, serta
menyebabkan gaya-gaya yang bekerja pada bangunan pantai.
Gelombang merupakan factor utama di dalam penentuan tata letak
(layout) pelabuhan, alur pelayaran, perencanaan bangunan pantai, dan
sebagainya. (Triatmodjo, 1999)

b. Gelombang laut akibat pasang surut


Gelombang pasang surut yang terjadi di suatu perairan
merupakan penjumlahan dari komponen-komponen pasang yang
disebabkan oleh gravitasi bulan, matahari, dan benda-benda angkasa
lainnya yang mempunyai periode sendiri. Tipe pasang berbeda-beda dan
sangat tergantung dari tempat dimana pasang itu terjadi (Cappenberg,
1992).
Tipe pasang surut yang terjadi di Indonesia terbagi atas dua bagian yaitu
tipe diurnal dimana terjadi satu kali pasang dan satu kali surut setiap hari
misalnya yang terjadi di Kalimantan dan Jawa Barat. Tipe pasang surut
yang kedua yaitu semi diurnal, dimana pada jenis yang kedua ini terjadi
dua kali pasang dan dua kali surut dalam satu hari, misalnya yang terjadi
di wilayah Indonesia Timur (Cappenberg,1992). Pasang surut atau
pasang naik mempunyai bentuk yang sangat kompleks sebab dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti hubungan pergerakan bulan dengan
katulistiwa bumi, pergantian tempat antara bulan dan matahari dalam
kedudukannya terhadap bumi, distribusi air yang tidak merata pada
permukaan bumi dan ketidak teraturan konfigurasi kolom samudera.
Pasang surut juga merupakan faktor yang penting karena bisa
menimbulkan arus yang cukup kuat terutama di daerah yang sempit,
misalkan di teluk, estuary, dan muara sungai. Selain itu elevasi muka air
pasang dan air surut juga sangat penting untuk merencanakan bangunan
bangunan pantai. Sebagai contoh elevasi puncak bangunan pantai
ditentukan oleh elevasi muka air pasang untuk mengurangi limpasan air,
sementara kedalaman alur pelayaran dan perairan pelabuhan ditentukan
oleh muka air surut. Gelombang besar yang datang ke pantai pada saat air
pasang bias menyebabkan kerusakan pantai sampai jauh ke daratan (Pond
and Picard, 1978).

c. Gelombang laut akibat tsunami


Tsunami adalah gelombang yang terjadi karena letusan gunung
berapi atau gempa bumi di laut. Gelombang yang terjadi bervariasi dari
0,5 m sampai 30 m dan periode dari beberapa menit sampai sekitar satu
jam. Tinggi gelombang tsunami dipengaruhi oleh konfigurasi dasar laut.
Selama penjalaran dari tengah laut (pusat terbentuknya tsunami) menuju

pantai, sedangkan tinggi gelombang semakin besar oleh karena


pengaruh perubahan kedalaman laut. Di daerah pantai tinggi gelombang
tsunami dapat mencapai puluhan meter(Pond and Picard, 1978).
d.

Gelombang yang disebabkan oleh badai atau puting beliung


Bentuk gelombang yang dihasilkan oleh badai yang terjadi di laut
merupakan hasil dari cuaca yang tiba-tiba berubah menjadi buruk
terhadap kondisi perairan. Kecepatan gelombang tinggi dengan puncak
gelombang dapat mencapai 7 10 meter. Bentuk gelombang ini dapat
menghancurkan pantai dengan vegetasinya maupun wilayah pantai
secara keseluruhan (Pond and Picard, 1978).

2.

Tipe gelombang berdasarkan sifatnya


Ketinggian dan periode gelombang tergantung kepada panjang
fetch

pembangkitannya.

Fetch

adalah

jarak

perjalanan

tempuh

gelombang dari awal pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk


daratan yang mengelilingi laut. Semakin panjang jarak fetchnya,
ketinggian gelombangnya akan semakin besar. Angin juga mempunyai
pengaruh yang penting pada ketinggian gelombang. Angin yang lebih
kuat akan menghasilkan gelombang yang lebih besar.
Gelombang yang menjalar dari laut dalam (deep water) menuju
ke pantai akan mengalami perubahan bentuk karena adanya perubahan
kedalaman laut. Apabila gelombang bergerak mendekati pantai,
pergerakan gelombang di bagian bawah yang berbatasan dengan dasar
laut akan melambat. Ini adalah akibat dari friksi/gesekan antara air dan
dasar pantai. Sementara itu, bagian atas gelombang di permukaan air
akan terus melaju. Semakin menuju ke pantai, puncak gelombang akan
semakin tajam dan lembahnya akan semakin datar. Fenomena ini yang
menyebabkan gelombang tersebut kemudian pecah.
Ada dua tipe gelombang, bila dipandang dari sisi sifat-sifatnya,
yaitu:
a.

Gelombang pembangun/pembentuk pantai (Constructive wave).

b.

Gelombang perusak pantai (Destructive wave).

Yang termasuk gelombang pembentuk pantai, bercirikan


mempunyai ketinggian kecil dan kecepatan rambatnya rendah. Sehingga
saat gelombang tersebut pecah di pantai akan mengangkut sedimen
(material pantai). Material pantai akan tertinggal di pantai (deposit)
ketika aliran balik dari gelombang pecah meresap ke dalam pasir atau
pelan-pelan mengalir kembali ke laut (Ramlan, 2012)
Sedangkan gelombang perusak pantai biasanya mempunyai
ketinggian dan kecepatan rambat yang besar (sangat tinggi). Air yang
kembali berputar mempunyai lebih sedikit waktu untuk meresap ke
dalam pasir. Ketika gelombang datang kembali menghantam pantai akan
ada banyak volume air yang terkumpul dan mengangkut material pantai
menuju ke tengah laut atau ke tempat lain. Hubungan antara kecepatan
angin dan sifat-sifat gelombang yang dihasilkan di lautan ( McLellan
dalam Hutabarat dan Evan, 1985 )
Tabel Hubungan antara kecepatan angin dan sifat-sifat gelombang

Gelombang laut dalam : d/L > 0,5

3.

Gelombang transisi

: 1/20 < d/L < 0,5

Gelombang dangkal

: d/L < 1/20

Gelombang berdasarkan gaya pemulih (restoring force)


a. Dalam hal ini, gaya pemulih berusaha untuk mengembalikan
permukaan air yang terganggu ( akibat terbentuknya gelombang ) ke
posisi semula ( pada waktu laut dalam keadaan tenang ).
b. Untuk gelombang-gelombang kecil yang panjang gelombangnya < 1,63
cm, gaya pemulihnya adalah tegangan permukaan.

c. Untuk gelombang dengan

panjang gelombangnya > 5 cm, gaya

pemulihnya adalah gravitasi.


d. Gelombang dengan panjang gelombang antara 1,63-5 cm , tegangan
permukaan dan gravitasi kedua-duanya berperan sebagai gaya pemulih.
e. Gelombang yang gaya pemulihnya tegangan permukaan disebut
gelombang kapiler , sedangkan gelombang yang gaya pemulihnya
gravitasi , disebut gelombang gravitasi.
2.3 Mekanisme Terbentuknya Gelombang oleh Angin
Mekanisme terbentuknya gelombang oleh angin:
a. Di atas permukaan laut tenang angin berhembus
b. Mula-mula terbentuk gelombang-gelombang kecil yang disebut ripples atau riak.
c. Ripples berperan membentuk kekasaran muka lair yang dapat membantu transfer
energi dari angin.
d. Angin terus berhembus akan membentuk gelombang yang panjang (besar)
dan memiliki tinggi gelombang yang semakin besar.
e. Angin terus berhembus disini gelombang tidak bertambah besar lagi karena
terjadi fully developed sea, yaitu kodisi di mana terjadi keseimbangan antara
energi terdispersi (energi yang dipakai) dengan energi yang ditransfer kepada
gelombang.
(Triatmodjo,1999).

2.4 Parameter gelombang


Parameter-parameter gelombang:
a. Length (L)

panjang gelombang; jarak dari puncak ke puncak atau jarak


dari lembah ke lembah

b. Depth (d)

kedalaman perairan; jarak dari sea water level (SWL) ke


dasar laut

c. Amplitudo (a)

simpangan terjauh; jarak dari puncak ke sea water level


(SWL)

d. Height (H)

tinggi gelombang; jarak dari puncak ke garis horisontal


yang bersinggungan dengan lembah

e. Celerity (C)

cepat rambat gelombang

f. Periode (T)

waktu yang dibutuhkan untuk membentuk satu gelombang

g.

elevasi muka air; jarak dari muka air sampai ke sea water
level (SWL)

h. t

waktu

i. k

wave number; bilangan gelombang ( )

j.

frekuensi sudut gelombang ( )

k. u

kecepatan partikel air komponen x

l. w

kecepatan partikel air komponen z

m. (zeta)

posisi relatif horisontal terhadap titik pusat gerakan


partikel

n. (epsilon)

posisi relatif vertikal terhadap titik pusat gerakan partikel

Gambar gelombang dan parameter gelombang.


Nilai parameter gelombang didapat melalui proses penaksiran. Penaksiran
gelombang atau hindcasting gelombang dimaksudkan untuk memperkirakan tinggi
gelombang (H) dan perioda gelombang (T) akibat adanya angin yang mempunyai besar,
arah, dan durasi tertentu. Data angin didapat dari stasiun pengukuran angin terdekat dari
lokasi studi dengan kurun waktu 10 tahun terakhir. Angin yang berhembus di atas
permukaan air akan memindahkan energinya ke air. Kecepatan angin akan menimbulkan
tegangan pada permukaan laut, sehingga permukaan air yang semula tenang akan
terganggu dan timbul riak atau gelombang kecil di permukaan air. Apabila kecepatan
angin bertambah, riak tersebut akan menjadi semakin besar dan apabila angin berhembus
terus akhirnya akan terbentuk gelombang. Semakin besar dan semakin lama angin
berhembus, akan semakin besar gelombang yang terbentuk.
(Diktat Kuliah gelombang,2007)

2.5 Karakteristik Gelombang


Teori yang paling sederhana adalah teori gelombang linier atau teori gelombang
amplitudo kecil, yang pertama kali dikemukakan oleh Airy pada tahun 1845
(dalam Triatmodjo,1999), dimana :
Cepat rambat gelombang :
C=L/T
Hubungan cepat rambat dan panjang gelombang dirumuskan sebagai berikut :

(Triatmodjo,1999)
2.6 Energi Gelombang
Energi gelombang laut adalah satu potensi laut dan samudra yang belum banyak
diketahui masyarakat umum adalah potensi energi laut dan samudra untuk
menghasilkan listrik. Negara yang melakukan penelitian dan pengembangan potensi
energi samudra untuk menghasilkan listrik adalah Inggris, Francis dan Jepang.
(Deni et al, 2010)
Secara umum, potensi energi samudra yang dapat menghasilkan listrik dapat
dibagi kedalam 3 jenis potensi energi yaitu energi pasang surut (tidal power), energi
gelombang laut (wave energy) dan energy panas laut (ocean thermal energy). Energi
pasang surut adalah energi yang dihasilkan dari pergerakan air laut akibat perbedaan
pasang surut. Energi gelombang laut adalah energi yang dihasilkan dari pergerakan
gelombang laut menuju daratan dan sebaliknya. Sedangkan energi panas laut
memanfaatkan perbedaan temperatur air laut di permukaan dan di kedalaman. Meskipun
pemanfaatan energi jenis ini di Indonesia masih memerlukan berbagai penelitian
mendalam, tetapi secara sederhana dapat dilihat bahwa probabilitas menemukan dan

memanfaatkan potensi energi gelombang laut dan energi panas laut lebih besar dari
energi pasang surut (Deni et al, 2010).
Pada dasarnya pergerakan laut yang menghasilkan gelombang laut terjadi akibat
dorongan pergerakan angin. Angin timbul akibat perbedaan tekanan pada 2 titik yang
diakibatkan oleh respons pemanasan udara oleh matahari yang berbeda di kedua titik
tersebut. Mengingat sifat tersebut maka energi gelombang laut dapat dikategorikan
sebagai energi terbarukan. Gelombang laut secara ideal dapat dipandang berbentuk
gelombang secara ideal dapat dipandang berbentuk gelombang yang memiliki ketinggian
puncak maksimum dan lembah minimum. Pada selang waktu tertentu, ketinggian puncak
yang dicapai serangkaian gelombang laut berbeda-beda, bahkan ketinggian puncak ini
berbeda-beda untuk lokasi yang sama jika diukur pada hari yang berbeda. Meskipun
demikian secara statistik dapat ditentukan ketinggian signifikan gelombang laut pada satu
titik lokasi tertentu (Supiyati, 2009).
Bila waktu yang diperlukan untuk terjadi sebuah gelombang laut dihitung dari
data jumlah gelombang laut yang teramati pada sebuah selang tertentu, maka dapat
diketahui potensi energi gelombang laut di titik lokasi tersebut. Potensi energi gelombang
laut pada satu titik pengamatan dalam satuan kw per meter berbanding lurus dengan
setengah dari kuadrat ketinggian signifikan dikali waktu yang diperlukan untuk terjadi
sebuah gelombang laut. Pada dasarnya prinsip kerja teknologi yang mengkonversi energi
gelombang laut menjadi energi listrik adalah mengakumulasi energi gelombang laut
untuk memutar turbin generator. Karena itu sangat penting memilih lokasi yang secara
topografi memungkinkan akumulasi energi (Pond and Picard,1978).

energi total suatu panjang gelombang merupakan penjumlahan dari energi kinetik
dan energi potensial. Energi kinetik gelombang adalah energi yang disebabkan
kecepatan partikel air karena adanya gerak gelombang. Sedangkan energi
potensial gelombang adalah energi yang dihasilkan oleh perpindahan muka air
karena adanya gelombang..
Besarnya energi kinetik persatuan lebar untuk satu panjang gelombang diperoleh
dengan persamaan (Triadmodjo 1999) :

(Triatmodjo,1999)

2.7

Transformasi Gelombang
Gelombang yang dibangkitkan oleh angin yang merambat dari perairan dalam

menuju perairan dangkal(pantai) mengalami transformasi(perubahan) dari sifat dan


parameter gelombang seperti proses refraksi, shoaling, refleksi, difraksi, sampai
gelombang tersebut pecah (Baharudinet al ,2009).
Transformasi (Deformasi )gelombang antara lain:
a. Refraksi gelombang, terjadi karena adanya pengaruh kedalaman laut. Semakin
ke pantai kecepatan gelombang smakin kecil. Semakin ke pantai seolah-olah
akan sejajar dengan garis pantai.

Gambar Refraksi Gelombang

b. Difraksi gelombang, terjadinya perubahan gelombang karena adanya suatu


rintangan seperti pemecah gelombang atau pulau. Gelombang tapi masih
diteruskan kearah pantai. (Triatmodjo,1989)

Gambar Difraksi gelombang

Difraksi

peristiwa membeloknya gelombang karena adanya penghalang

berupa celah tipis atau sempit dan gelombang itu masuk ke daerah terlindung di
belakangnya.
c. Refleksi gelombang, terjadi karena mengenai atau membentur suatu bangunan,
yang akan dipantulkan sebagian atau seluruhnya. Dia akan kembali lagi kelaut.
Dengan amplitudo tertentu akan membentuk superposisi.

Gambar Refleksi Gelombang

d. Gelombang pecah, terjadi karena menjalar dari tempat yang dalam menuju ke
tempat yang makin lama makin dangkal, pada suatu lokasi tertentu. Karena
terdapat pendangkalan, karena efek ini, tinggi gelombang terlihat lebih tinggi
pada titik tertentu akan terjadi kestabilan gelombang (Putu et al, 2010)
Gelombang pecah adalah suatu sistem yang sangat kompleks.Bahkan dalam
beberapa jarak sebelum gelombang pecah, bentuknya tidak sinusoidal lagi.
Kemudian model matematika untuk gelombang seperti ini lebih komplek dari
pada yang diasumsikan. Jika terjadi gelombang pecah, energi yang diterima dari
angin, berkurang (Hidayat,2012).
Beberapa energi dibalikkan kembali ke laut, jumlahnya bergantung kepada
kemiringan pantai, semakin kecil sudut kemiringan pantai, semakin kecil energi

yang dibalikkan. Aspek terakhir ini tergantung pada jenis gelombang yang
lembut dan swell cenderung membangun pantai, tetapi gelombang badai
mengikis pantai (Triatmodjo,1989)
Kondisi gelombang pecah tergantung pada kemiringan dasar pantai m dan
kecuraman gelombang. Adapun persamaan hubungan antara tinggi dan
kedalaman gelombang pecah adalah sebagai berikut:

Peristiwa gelombang pecah juga menghasilkan sudut datang gelombang datang


ini akan berubah-ubah akibat perubahan garis pantai. Adapun ilustrasi sudut datang
gelombang pecah dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Gambar Proses Pembentukan Gelombang Pecah (Triatmodjo,1999)

Persamaan umum sudut datang gelombang pecah adalah:

(Putu et al, 2012)


Empat jenis utama gelombang pecah :
1. Spilling, dicirikan oleh buih dan turbulensi di puncak gelombang. Spilling biasanya
dimulai beberapa jarak dari pantai dan disebabkan jika lapisan air di puncak
bergerak lebih cepat dari pada gelombang seluruhnya. Biasanya terdapat pada
pantai yang landai. Gelombang pecah terlihat di pantai selama badai, jika
gelombang curam dan pendek.
2. Plunging, adalah jenis gelombang yang paling menakjubkan. Bentuknya yang
klasik, banyak disukai oleh peselancar. Puncaknya menggulung keatas dan terjun
ke bawah, pengurangan energinya pada jarak yang pendek.

Plunging terjadi pada pantai yang relatif landai dan berkaitan dengan swell yang
panjang yang dibangkitkan oleh badai.
3. Collapsing, sama dengan plunging, kecuali pada puncak yang menggulung, muka
gelombang jatuh. Gelombang ini terjadi pada pantai dengan kemiringan yang agak
curam dan dibawah kondisi angin yang sedang.
4. Surging, terjadi pada pantai yang sangat curam, dibentuk dari gelombang yang
rendah dengan perioda panjang, dan muka gelombang dan puncaknya relatif tidak
pecah seperti gelombang yang meluncur ke pantai.

Gambar Gelombang pecah

(Triatmodjo,1999)

DAFTAR PUSTAKA
Denny

Nugroho

Sugianto.2010.Model

Distribusi

Data

Kecepatan

Angin

dan

Pemanfaatannya dalam Peramalan Gelombang di Perairan Laut Paciran, Jawa Timur


Emery, William J. & Thomson, Richard, E., 1998. Data Analysis Methods In Physical
Oceanography. Pergamon Elsevier Science Ltd. p: 42 116.
Hidayat, Nur.2012. Kajian Hidro-Oceanografi Untuk Deteksi Proses-Proses Fisik di
Pantai. Studi Erosi Pantai Batu Beriga Pulau Bangka
Ngakan Putu Purnaditya et al.2012. Prediksi Perubahan Garis Pantai Nusa Dua Dengan
One-line Model
Nining. S.N, 2000, Gelombang Laut, ITB, Bandung.
Ongkosono, O.S.R, Suyarso. (1989). Pasang Surut, Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Jakarta.
Praktikto,W.A (2000). Perencanaan fasilitas Pantai dan laut, BPFE-Yogyakarta,
Yogyakarta.
Sembiring, 1995, Analisis Regresi, ITB, Bandung.
Supiyati. 2008. Analisis Peramalan Ketinggian Gelombang Laut Dengan Periode Ulang
Menggunakan Metode Gumbel Fisher Tippet-Tipe 1 Studi Kasus : Perairan Pulau
Baai Bengkulu.
Triatmodjo Bambang. (1999). Teknik Pantai. Unit Antar Universitas Ilmu Teknik,
Universitas Gaja Mada, Beta Offset, Yogyakarta

DAFTAR PUSTAKA
http://rahmat88aceh.wordpress.com/2009/02/07/peramalan-gelombang-laut-dalam/
http://acehpedia.org/Gelombang_laut
http://www.scribd.com/doc/
http://akmalchaka.blogspot.com/2010/02/teori-gelombang.html
http://diarnenochan.blogspot.com/2011/03/densitas-air-laut.html
http://jurnalkelautan.wordpress.com.
http://oseanografi.blogspot.com/2005/07/densitas-air-laut.html
http://trianda.herisonsurbakti.com/siklus-massa-air-dpi/2011/01/30/

Anda mungkin juga menyukai