Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MAKALAH MATERIAL KERAMIK

Keramik Semikonduktor

Disusun Oleh :
KELOMPOK 2
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Dwi Ratna Mustafida


Nuryana Amalia
Syaniz Ariana Putri
Febriyan Ramadhan
Damiri Anwar
Teguh Alvianto

( 114.12.0003 )
( 114.12.0031)
( 114.12.0033)
( 114.12.0028)
( 114.12.0034)
( 114.11.0041)

Program Studi:
Teknik Kimia

INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA


Jl. Raya Puspitek Serpong Tangerang Selatan
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi material keramik semikonduktor pada saat ini telah berkembang
dengan pesat. Hal ini ditandai dengan adanya penemuan-penemuan divais yang menggunakan
material keramik semikonduktor. Disamping proses pembuatan yang relatif mudah, keramik
semikonduktor ini memiliki sifat-sifat yang memungkinkan untuk digunakan dalam berbagai
aplikasi diantaranya tahan korosi, kapasitas panas yang baik, konduktivitas panas yang rendah,
sifat listriknya dapat berupa isolator, semikonduktor, konduktor bahkan super konduktor,
kerapatan yang rendah, titik leleh tinggi, dan lain-lain. Beberapa aplikasi yang memanfaatkan
sifat-sifat tersebut contohnya seperti pada transparent conducting oxide (TCO) pada layar Light
Conducting Dioda (LCD),Light Emition Dioda (LED), electrochromic windows, sensor gas, dan
lain-lain (Van Vlack, 1991).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan keramik semikonduktor ?
2. Bahan apa saja yang dapat digunakan sebagai keramik semikonduktor ?
3. Bagaimana sifat fisik dan kimia keramik semikonduktor ?
4. Bagaimana mekanisme terjadi hantaran listrik pada keramik semikonduktor?
5. Apa saja aplikasi Keramik Semikonduktor ?
1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan Penulisan
Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk meneliti lebih lanjut tentang Keramik
semikonduktor dan bagaimana pengembangan keramik semikonduktor tersebut di
Indonesia . Selain itu makalah ini ditulis dalam rangka memenuhi tugas matakuliah
peminatan material logam dan keramik.
1.3.2 Manfaat Penulisan
a. Penulisan karya tulis ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para mahasiswa Institut
Teknologi Indonesia serta referensi untuk penelitian selanjutnya.
b. Penulisan karya tulis ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan dan cakrawala
pemikiran pembaca pada umumnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keramik Semikonduktor


Keramik berasal dari kata Yunani yaitu keramos yang berarti tembikar (pottery) atau
peralatan terbuat dari tanah (earthenware). Keramik adalah bahanpadat anorganik yang
merupakan paduan dari unsur logam dan non logam. Pada umumnya ikatan atom pada material
keramik didominasi oleh ikatan ionik. Atom logam dalam keramik akan menjadi kation
(bermuatan positif) dan atom non-logam menjadi anion (bermuatan negatif). Material keramik
memiliki karakteristik yang memungkinkan digunakan untuk berbagai divais, karena sifatsifatnya (Anonim,2009) seperti:

Kapasitas panas yang baik dan konduktivitas panas yang rendah;

Tahan korosi;

Sifat listriknya dapat berupa isolator, semikonduktor, konduktor bahkan superkonduktor;

Sifatnya dapat magnetik dan non-magnetik;

Keras dan kuat, namun rapuh; dan

Kerapatan yang rendah dan juga titik leleh yang tinggi.


Keramik dapat dibagi menjadi beberapa golongan yaitu isolator,semikonduktor, dan

konduktor. Salah satu cara untuk menunjukkan perbedaanantara konduktor, semikonduktor, dan
isolator yaitu dengan penggambarantingkat-tingkat energi dalam bentuk pita energi untuk
elektron-elektron dalam bahan. Penggambaran pita energi untuk masing-masing material
tersebutditunjukkan pada gambar 2.1 berikut.
.

(a) Isolator

(b) Semikonduktor

(c) Konduktor

Gambar 2.1 Pita Energi dari (a) Isolator, (b) Semikonduktor, (c) Konduktor
Pada isolator, ujung atas pita valensi dengan ujung bawah pita konduksi dipisahkan oleh
celah pita energi (band gap) yang lebar. Pada konduktor, ujung atas pita valensi dan ujung bawah
pita konduksi saling tumpang-tindih (overlap).Sedangkan pada semikonduktor, celah pita energi
antara pita valensi dan pita konduksi cukup kecil sehingga dengan pemberian sedikit energi
termal saja sudah cukup untuk dapat mengeksitasi elektron dari pita valensi ke pita
konduksi,dengan demikian sifat listriknya akan berubah.Bahan keramik semikonduktor memiliki
nilai konduktivitas listrik berada diantara isolator dan konduktor. Oleh karena itu, keramik
semikonduktor dapat bersifat sebagai isolator ataupun konduktor. Sifat inilah yang
memungkinkan keramik semikonduktor banyak dipakai sebagai divais dalam bidang elektronika.
2.2 Bahan Baku Pembuatan Keramik
2.2.1 Kaolin
Kaolin berasal dari bahasa cina yaitu Kaoling dan disebut juga China Clay. Kaolin
merupakan massa batuan yang tersusun dari material lempung dengan kandungan besi yang
rendah dan umumnya berwarna putih atau agak keputihan. Kaolin merupakan jenis tanah liat
primer yang digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan keramik putih, dan menggandung
mineral kaolinit Al2254 SiO(OH)sebagai bagian yang terbesar. Proses pembentukan (kaolinisasi)
dapat terjadi melalui proses pelapukan dan proses hidrotermal alterasi pada batuan beku felsfatik.
Dilihat dari sifat dan keadaan bahan, kaolin berwarna putih karena kandungan besinya yang
3

sangat rendah, tidak plastis, berbutir kasar, berat jenis 2,60-2,63 g/cm , titik lebur 1850 C, daya
hantar panas dan listrik yang rendah. Kaolin juga mempunyai tingkat keplastisan yang rendah
sehingga taraf penyusutan dan kekuatan keringnya pun lebih rendah dan sangat tahan api. Oleh
karena itu kaolin tidak dapat dipakai begitu saja untuk membuat barang-barang keramik,
melainkan harus dicampur dahulu dengan bahan lain.
Cadangan kaolin di Indonesia diperkirakan sebesar 57.510.000 ton. Cadangan tersebut
mempunyai mutu yang cukup baik sebagai bahan keramik dan untuk pengisi (misalnya untuk
industri kertas), sedang untuk keperluan industri yang lain perlu adanya penelitian lebih lanjut.

Hasil Analisa Komposisi Kimia Basa Kaolin Surabaya dengan menggunakan AAS(Atomic
Absorption Spectrometer) dapat dilihat pada tabel 2.2 dibawah ini :
Tabel 2.2.1 Komposisi kimia basa kaolin

2.2.2 Felspar
Keberadaan feldspar dalam kerak bumi cukup melimpah. Walaupun demikian untuk
keperluan komersial dibutuhkan feldspar yang memiliki kandungan (K2O + Na2O) > 10%. Selain
itu material penggotor oksida besi, kuarsa, oksida titanium dan penggotor lain yang berasosiasi
dengan feldspar diusahakan sesedikit mungkin. Felspar dari alam setelah diolah dapat
dimanfaatkan untuk batu gurinda dan feldspar olahan untuk keperluan industri tertentu. Mineral
ikutannya dapat dimanfaatkan untuk keperluan industri lain sesuai spesifikasi yang ditentukan.
Industri keramik halus dan kaca/gelas merupakan dua industri yang paling banyak
mengkomsumsi feldspar olahan, terutama yang memiliki kandungan K2O tinggi dan CaO
rendah. Sebagai mineral silikat pembentuk batuan, feldspar mempunyai kerangka struktur
tektosilikat yang menunjukkan 4 (empat) atom oksigen dalam struktur tetrahedral SiO2 yang
dipakai juga oleh struktur tetrahedral lainnya. Kondisi ini menghasilkan kisi-kisi kristal
seimbang terutama bila ada kation lain yang masuk kedalam struktur tersebut seperti pengganti
silicon oleh aluminium. Terlepas dari bentuk strukturnya, apakah triklin atau monoklin. Feldspar
secara kimiawi dibagi menjadi empat kelompok mineral yaitu kalium feldspar (KAlSi 3O8),

natrium feldspar (NaAlSi3O8), kalium feldspar (CaAl2Si2O8) dan barium feldspar (Ba Al2Si2O8)
sedangkan secara mineralogi feldspar dikelompokkan menjadi plagioklas dan K-felspar.
2.2.3 Pasir kuarsa
Pasir kuarsa adalah bahan galian yang terdiri atas kristal-kristal silica (SiO2) dan
menggandung senyawa pengotor yang terbawa selama proses pengendapan. Pasir kuarsa juga
dikenal dengan nama pasir putih, merupakan hasil pelapukan batuan yang menggandung mineral
utama seperti kuarsa dan feldspar. Pasir kuarsa mempunyai komposisi gabungan dari SiO2,
Fe2O3, Al2O3, TiO2, CaO, MgO, dan K2O, berwarna putih bening atau warna lain bergantung
0

pada senyawa penggotornya, kekerasan 7 (skala Mohs), berat jenis 2,65 , titik lebur 1715 C ,
bentuk kristal hexagonal.
Tabel 2.2.2 Sifat fisis bahan baku pembuatan keramik

2.3 Sifat Sifat Keramik


Keramik memiliki sifat kimia, mekanik, fisika, panas, elektrik, dan magnetik yang
membedakan mereka dari material lain seperti logam dan plastik. Industri keramik merubah
sifat keramik dengan cara mengontrol jenis dan jumlah material yang digunakan untuk
pembuatan.
a. Sifat Kimia
Keramik industri sebagian besar adalah oksida (senyawa ikatan oksigen), akan tetapi ada
juga senyawa carbida (senyawa ikatan karbon dan logam berat), nitrida (senyawa ikatan
nitrogen), borida (senyawa ikatan boron) dan silida (senyawa ikatan silikon). Sebagai contoh,
pembuatan keramik alumina menggunakan 85 sampai 99 persen aluminum oksida sebagai
bahan utama dan dikombinasikan dengan berbagai senyawa kompleks secara kimia. Beberapa
contoh senyawa kompleks adalah barium titanate (BaTiO3) dan zinc ferrite (ZnFe2O4).
Material lain yang dapat disebut juga sebagai jenis keramik adalah berlian dan graphite dari
karbon.
Keramik lebih resisten terhadap korosi dibanding plastik dan logam. Keramik biasanya
tidak bereaksi dengan sebagian besar cairan, gas, aklali dan asam. Jenis-jenis keramik
memiliki titik leleh yang tinggi dan beberapa diantaranya masih dapat digunakan pada
temperatur mendekati titik lelehnya. Keramik juga stabil dalam waktu yang lama.
b. Sifat Mekanik
Ikatan keramik dapat dibilang sangat kuat, dapat kita lihat dari kekakuan ikatan dengan
mengukur kemampuan keramik menahan tekanan dan kelengkungan. Bend Strength atau
jumlah tekanan yang diperlukan untuk melengkungkan benda biasanya digunakan untuk
menentukan kekuatan keramik. Salah satu keramik yang keras adalah Zirconium dioxide yang
memiliki bend strength mendekati senyawa besi. Zirconias (ZrO2) mampu mempertahankan
kekuatannya hingga temperatur 900oC (1652oF), dan bahkan silikon carbida dan silikon
nitrida dapat mempertahankan kekuatannya pada temperatur diatas 1400oC (2552oF).
Material-material silikon ini biasanya digunakan pada peralatan yang memerlukan panas
tinggi seperti bagian dari Gas-Turbine Engine. Walaupun keramik memiliki ikatan yang kuat
dan tahan pada temperatur tinggi, material ini sangat rapuh dan mudah pecah bila dijatuhkan
atau ketika dipanaskan dan didinginkan seketika.
c. Sifat Fisik

Sebagian besar keramik adalah ikatan dari karbon, oksigen atau nitrogen dengan material
lain seperti logam ringan dan semilogam. Hal ini menyebabkan keramik biasanya memiliki
densitas yang kecil. Sebagian keramik yang ringan mungkin dapat sekeras logam yang berat.
Keramik yang keras juga tahan terhadap gesekan. Senyawa keramik yang paling keras adalah
berlian, diikuti boron nitrida pada urutan kedua dalam bentuk kristal kubusnya. Aluminum
oksida dan silikon karbida biasa digunakan untuk memotong, menggiling, menghaluskan dan
menghaluskan material-material keras lain.
d. Sifat Panas
Sebagian besar keramik memiliki titik leleh yang tinggi, artinya walaupun pada
temperatur yang tinggi material ini dapat bertahan dari deformasi dan dapat bertahan dibawah
tekanan tinggi. Akan tetapi perubahan temperatur yang besar dan tiba-tiba dapat melemahkan
keramik. Kontraksi dan ekspansi pada perubahan temperatur tersebutlah yang dapat membuat
keramik pecah. Silikon karbida dan silikon nitrida lebih dapat bertahan dari kontraksi dan
ekspansi pada perubahan temperatur tinggi daripada keramik-keramik lain. Oleh karena itu
material ini digunakan pada bagian-bagian mesin seperti rotor pada turbin dalam mesin jet
yang memiliki variasi perubahan temperatur yang ekstrim.
e. Sifat Elektrik
Beberapa jenis keramik dapat menghantarkan listrik. Contohnya Chromium dioksida
yang mampu menghantarkan listrik sama baiknya dengan sebagian besar logam. Jenis
keramik lain seperti silikon karbida, kurang dapat menghantarkan listrik tapi masih dapat
dikatakan sebagai semikonduktor. Keramik seperti aluminum oksida bahkan tidak
menghantarkan listrik sama sekali. Beberapa keramik seperti porcelain dapat bertindak
sebagai insulator (alat untuk memisahkan elemen-elemen pada sirkuit listrik agar tetap pada
jalurnya masing-masing) pada temperatur rendah tapi dapat menghantarkan listrik pada
temperatur tinggi.
f. Sifat Magnetik
Keramik yang mengandung besi oksida (Fe2O3) dapat memiliki gaya magnetik mirip
dengan magnet besi, nikel dan cobalt. Keramik berbasis besi oksida ini biasa disebut ferrite.
Keramik magnetis lainnya adalah oksida-oksida nikel, senyawa mangan dan barium. Keramik
ber-magnet biasanya digunakan pada motor elektrik dan sirkuit listrik dan dapat dibuat
dengan resistensi tinggi terhadap demagnetisasi. Ketika elektron-elektron disejajarkan

sedemikian rupa, keramik dapat menghasilkan medan magnet yang sangat kuat dan sukar
demagnetisasi (menghilangkan medan magnet) dengan memecah barisan elektron tersebut.
Keramik industri dibuat dari bubuk yang telah diberi tekanan sedemikian rupa kemudian
dipanaskan pada temperatur tinggi. Keramik tradisional seperti porcelain, ubin (keramik
lantai) dan tembikar dibuat dari bubuk yang terdiri dari berbagai material seperti tanah liat
(lempung), talc, silika dan faldspar. Akan tetapi, sebagian besar keramik industri dibentuk
dari bubuk kimia khusus seperti silikon karbida, alumina dan barium titanate.
2.4 Mekanisme Hantaran Listrik Semikonduktor
Suatu hal yang penting untuk memahami semikonduktor adalah proses konduksi
elektronik. Konduksi elektronik bahan dipengaruhi oleh jarak pita konduksi dan pita valensi
bahan. Pada konduktor, kedua pita tersebut saling menumpuk. Pada isolator jarak keduanya
cukup jauh. Sedangkan pada semi konduktor jarak keduannya tidak terlalu jauh dan tidak terlalu
dekat dan ini memungkinkan tumpang tindih jika dipengaruhi, misalnya panas, medan magnet
dan tegangan yang cukup tinggi. Jarak kedua pita tersebut adalah celah energi, seperti gambar
dibawah ini:

Terlihat bahwa celah energi pada isolator intan adalah 6 eV dan intan merupakan bahan
isolator dengan resistivitas yang tinggi. Jarak antara pita valensi dan pita konduksi juah sehingga
walaupun elektron-elektron bebas pada pita konduksi sudah tereksistansi(terlepas dari orbitnya),
elektron-elektron valensi tidak akan meloncat ke pita konduksi. Bahan konduktor celah
energinya sempit sehingga jika ada elektron lepas dari orbitnya maka pada pita valensi akan

segera mengisinya. Sedangkan bahan semi konduktor mempunyai celah energi yang lebih sempit
dari pada isolator yaitu 0, 12 hingga 5, 3 eV. Misalnya, Si sebagai salah satu bahan semi
konduktor mempunyai celah energy 1,1 eV. Oleh karena itu untuk menjadikan bahan
semikonduktor agar dapat menghantarkan listrik dipelukan energi yang tidak terlalu besar.
Prinsip Dasar
Semi konduktor merupakan elemen dasar dari komponen elektronika seperti dioda,
transistor dan sebuah IC (Integrated Circuit). Disebut semi atau setengah konduktor karena
bahan ini memeng bukan konduktor murni. Bahan-bahan logam seperti tembaga, besi, timah
disebut sebagai konduktor yang baik karena logam memiliki susunan atom yang sedemikian rupa
sehingga elektronnya dapat bebas bergerak bebas.
Sebenarnya atom tembaga dengan lambang kimia Cu memiliki inti 29 ion (+) dikelilingi
oleh 29 elektron(-). Sebanyak 28 elektron menempati orbit-orbit bagian dalam membentuk inti
yang disebut nucleus. Dibutuhkan energi yang sangat besar untuk dapat melepaskan ikatan
electron-elektron ini. Satu buah elektron lagi yaitu elektron ke-29 berada pada orbit paling
luar.Orbit teluar ini disebut pita valensi dan elektron yang berada pada pita ini dinamakan
elektron valensi. Karena hanya ada satu electron dan jaraknya jauh dari nucleus ikatannya
tidaklah terlalu kuat. Hanya dengan sedikit saja elektron terluar ini mudah lepas dari
ikatannya.Ikatan atom tembaga pada suhu kamar, elektron tersebut dapat bebas bergerak atau
berpindah-pindah dari satu ke nucleus lainnya. Jika diberi tegangan potensial listrik, elektronelektron tersebut dengan mudah berpindah kearah potensial yang sama. Phenomena ini
dinamakan sebagai arus listrik. Isolator adalah atom yang memiliki elektron valensi sebanyak 8
buah, dan dibutuhkan energi yang bersar untuk dapat melepaskan elektron-elektron ini. Dapat
ditebak, semikonduktor adalah unsur yang susunan atomnya memiliki electron valensi lebih dari
1 dan kurang dari 8. tentu saja yang paling semikonduktor adalah unsur yang atomnya
memiliki 4 elektron valensi.

2.5 Aplikasi Keramik Semikonduktor

Beberapa aplikasi yang memanfaatkan sifat-sifat tersebut contohnya seperti pada


transparent conducting oxide (TCO) pada layar Light Conducting Dioda (LCD), Light Emittion
Dioda (LED), electrochromic windows, sensor gas, dan lain-lain (Van Vlack, 1991). Material
semikonduktor merupakan jantung elektronika dan divais optoelektronika. Keramik dipakai
sebagai bahan kapasitor, divais thermolistrik, divais piezoelektrik, dan serat optik.
Pesatnya perkembangan teknologi material semikonduktor keramik, menghasilkan
berbagai penemuan baru khususnya dalam bidang elektronika. Salah satu teknologi yang
berkembang saat ini yaitu pembuatan sensor dari bahan semikonduktor keramik. Aplikasi
teknologi semikonduktor keramik dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak, contohnya sensor
kelembaban, sensor suhu, sensor gas, dan aplikasi lainnya. Pada saat ini di Indonesia alat
semacam itu terutama sensor gas didatangkan dari luar negeri oleh karena itu, harganya relatif
mahal dan berarti Indonesia kehilangan devisa setiap kali mengimpor produk tersebut.
1. Sensor gas

Dalam hal ini dilakukan studi pembuatan keramik untuk sensor gas dengan menggunakan
bahan campuran CuO dan Fe2O3 yang membentuk CuFe2O4. Selain itu bahan tersebut sangat
melimpah di Indonesia diantaranya mineral yarosit (Fe2O3) yang berasal dari Garut yang telah
berhasil diolah menjadi oksida logam yang memiliki kemurnian 91,8%. Bahan semikonduktor
keramik ini pun berpotensi untuk dijadikan sensor gas berdasarkan sifat semikonduktifnya.
Untuk aplikasi sensor gas, saat ini material semikonduktor keramik pada umumnya
diproduksi dalam bentuk film tebal (thick film)dan film tipis (thin film). Salah satu metode yang
digunakan dalam pembuatan film tebal ini yaitu metode screen printing. Pembuatan film tebal
dengan metode screen printing sangat mudah dilakukan dan efektif serta memungkinkan
miniaturisasi. Pembuatan sensor gas dalam bentuk film tipis dapat dilakukan, namun pembuatan
sensor gas dalam bentuk film tipis membutuhkan biaya yang relatif mahal dan tidak mungkin
dilakukan miniaturisasi. Selain itu, karena sensor gas ini merupakan sensor yang berkaitan
dengan reaksi permukaan, besar permukaan yang hasilkan akan lebih besar sensor yang dibuat

dalam bentuk film tebal, maka jika sensor tersebut dibuat dalam bentuk film tebal, maka diharap
sensor yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik.

2. Light Emitting Diode (LED)

suatu semikonduktor yang memancarkan cahaya monokromatik yang tidak koheren ketika
diberi tegangan maju.
3. Electrochromic Windows

Elektrokromik adalah sifat bahan yang memperlihatkan perubahan spectrum absorpsi


qtqu transmisi cahaya apabila dikenai tegangan listrik.
Macam-macam Semikonduktor dan penggunaanya

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bahan semikonduktor adalah bahan yang mempunyai level konduktiviti (kemampuan
menghantarkan arus listrik) diantara bahan konduktor dan isolator Jadi, bahan
semikonduktor mampu menghantarkan listrik lebih baik daripada isolator, tapi lebih
rendah dibandingkan konduktor.

Keramik memiliki sifat kimia, mekanik, fisika, panas, elektrik, dan magnetik yang
membedakan mereka dari material lain seperti logam dan plastik. Industri keramik
merubah sifat keramik dengan cara mengontrol jenis dan jumlah material yang
digunakan untuk pembuatan.

keramik semikonduktor dapat bersifat sebagai isolator ataupun konduktor karena


memiliki celah pita energi antara pita valensi dan pita konduksi cukup kecil sehingga
dengan pemberian sedikit energi termal saja sudah cukup untuk dapat mengeksitasi
elektron dari pita valensi ke pita konduksi,dengan demikian sifat listriknya akan
berubah.

Beberapa aplikasi yang memanfaatkan sifat-sifat tersebut contohnya seperti pada


transparent conducting oxide (TCO) pada layar Light Conducting Dioda (LCD),
Light Emittion Dioda (LED), electrochromic windows, sensor gas, dan lain-lain.
Keramik dipakai sebagai bahan kapasitor, divais thermolistrik, divais piezoelektrik,
dan serat optik.

DAFTAR PUSTAKA
http://naidra.student.fkip.uns.ac.id/klasifikasi-material-teknik-baru/) diakses: 9 Desember 2014
Firmansyah dodiy,dkk.2010.Penerapan variasi konsentrasi Fe terhadap konduktivitas besi nikel (Ni1xFexO. Malang : Universitas Negeri Malang
file:///C:/Users/Dwi%20Ratna/Downloads/semikonduktor.pdf diakses : 10 Desember 2014 pukul : 14.00
WIB
http://irma-teknikkimia.blogspot.com/2013/04/proses-industri-kimia-keramik.html diakses : 10
Desember 2014 pukul : 11.00 WIB
anonim.2014.82998564-Keramik Semikonduktor.pdf-adobe reader, Sumber
http://www.scribd.com/doc/82998564/keramik-semikonduktor diakses :5 Desember 2014