Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Uraian Umum
Oleh karena alkaloid tidak merupakan kelompok yang homogen,
baik ditinjau secara kimia, biokimia, ataupun fisiologi, maka sangat sukar
memberi batasan. Oleh karenanya, kecuali suatu kenyataan bahwa
semua alkaloid merupakan senyawa organik yang mengandung nitrogen,
maka ada syarat-syarat lain yang harus ditambahkan pada setiap
batasan-batasan umum alkaloid. Semua alkaloid dapat dibentuk dengan
tumbuh-tumbuhan, hanya ada beberapa dapat diperoleh dari hewan dan
praktis alkaloid-alkaloid seluruhnya sudah dibuat di dalam laboratorium
dengan cara sintesis kimia. Alkaloid pada umumnya bersifat basa, oleh
karena adanya gugusan nitrogen, amin dan banyak digunakan dalam
bidang farmasi dan kedokteran oleh karena mempunyai aktivitas fisilogi.
Walaupun menemui kesulitan untuk menetapkan batasan yang tepat,
namun istilah tersebut sangat berguna dan umumnya digunakan pada
senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen basa yang berasal dari
tanaman saja. Hal ini disebabkan karena penyelidikan yang telah
dilakukan sekarang belum lengkap. Oleh karenanya, sebelum dapat
ditentukan secara pasti mengenai terdapatnya alkaloid, perlu dilakukan
penelitian yang intensif.

Alkaloid umumnya mempunyai satu atom nitrogen, meskipun ada


beberapa seperti argotamin sampai lima atom nitrogen. Gugusan nitrogen
tersebut dapat berupa amin primer (RNH 2), dapat berupa amin sekunder
(R2NH) atau tertier (R3N). Gugusan-gugusan tersebut semuanya bersifat
basa, tetapi derajat kebasahannya sangat bervariasi tergantung pada
struktur molekulnya, juga tergantung pada adanya serta letak gugusan
fungsional lainnya. Senyawa ammonium kwaterner (R 4N+) XT, seperti
tubokuranim klorida atau muskarin secara teknis bukan alkaloid karena
atom nitrogen tidak lagi mengikat atom hidrogen, dan sifat-sifat kimiawi
senyawa tersebut sangat berbeda. Walaupun demikian senyawa tersebut
sudah biasa dimasukkan golongan alkaloid.
Umumnya alkaloid tidak larut dalam air, tetapi dapat bereaksi
dengan asam membentuk garam yang bisa/mudah larut. Alkaloid bebas
pada umumnya dapat larut dalam eter atau kloroform atau senyawa non
polar lainnya, akan tetapi di dalam pelarut yang tidak dapat tercampur
dalam garam alkaloid tidak dapat larut. Sifat-sifat tersebut di atas
memungkinkan untuk sosialisasi alkaloid dan memurnikannya, juga dapat
untuk mengetahui kadar kwantitatif.
Pada umumnya alkaloid merupakan suatu kristal padat, meskipun
ada beberapa yang amorf, dan beberapa alkaloid seperti konoin, nikotin
dan spartein oleh karena tidak mempunyai gugusan oksigen di dalam
molekulnya maka berbentuk cairan. Sedang garam-garam alkaloid

biasanya berupa kristal bentuk maupun sifat kristal ini sering digunakan
untuk identifikasi secara mikroskopik.
Beberapa struktur inti yang menyusun alkaloid
6
5

6 1 2
N

6 1
N
H

Benzen Piridin Piperidin

1
N

N-43

Purin

1
N

Tropan

Fenantren

3
2

Insokuinalin

6 7
N

1
N

Pirolidin

Kuinolin

1
N

Indol

3 N

Imidancol

Siklopentanon aldehida
Fenantren

Alkaloid biasanya diklasifikasikan menurut struktur dasar kiminya


dari mana alkaloid tersebut diturunkan. Arekolin, pelletierin, lobelin, kodin
dan nikotin adalah turunan dari piridan dan piperidin, atropine, hisiamin
dan hiosin adalah turunan dari tropan, yang merupakan hasil, kondensasi
antara pirolidin dan piperidin. Alkaloid-alkaloid Cinchona; kinin, kuinidin,
sinkonin dan sinkonidin mengandung kuinolin sebagai inti dasar. Hidrastin,
d-tubokurarin, ematin dan beberapa alkaloid opium tertentu mempunyai

inti khas isokuinolin. Tipe-tipe lain; ergenovin, reserpin dan strikhinin


berasal dari lingkaran indol, pilokarpin mengandung lingkaran imidazol,
kafein dan teobromin dan mempunyai inti dasar purin. Morfin dan kedein
mempunyai

lingkaran

fenanthren

dan

akonitin

serta

protoveratrin

mempunyai struktur steroid seperti senyawa-senyawa amin dapat


membentuk garam rangkap dengan air raksa (Hg), tembaga (Cu), platina
(Pt) dan logam-logam berat lainnya. Garam-garam rangkap tersebut
biasanya diperoleh berupa endapan dan banyak diantaranya berupa
kristalmikro yang khas. Beberapa pereaksi alkaloid adalah perekasi
Wacnerls (Iod dalam KI) Mayers (Kalium mercuri Indide), Dragendroffs
(Kalim bismuth Iodida) dan beberapa pereaksi lainnya. Alkaloid biasanya
mempunyai rasa pahit)

BAB II
MORPHIN
Nama Resmi

: Morphinum

Nama lain

: Morphin

RM/BM

: C17H19NO3HCl. 3H2O / 375,9


NCH3
H

Rumus Bangun

:
HO

OH

7,8-didehidro-4,5, epoksi-17-metilmorfman.
Pemerian

: Hablur

mengkilap,

berbentuk

kubus,

tak

berwarna, atau serbuk hablru putih atau hampr


putih.
Kelarutan

: Larut dalam 24 bagian air dan dalam 10 bagian


etanol mendidih, praktis tidak larut dalam
kloroform dan eter. Larut dalam 100 bagian
etanol pada suhu 15o larut dalam 50 bagian
etanol pada suhu 10o

Keasaman-kebasaan : Pada 10 ml larutan 2% tambahkan 0,05 ml


merah metal LP : diperlukan tidak lebih dari 0,2
ml natrium hidroksida 0,02 N atau 0,2 ml asam
klorida 0,02 N untuk merubah warna larutan.
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari


cahaya

Kegunaan

: Analgetik dan hipnotik-sedatif

BAB III
ANALISIS KUANTITATIF
A. Metode Analisis
Titrasi bebas air adalah suatu titrasi yang tidak menggunakan
air sebagai pelarut, tetap digunakan pelarut organik, seperti diketahui
dengan menggunakan pemakai pelarut air, asam atau basa dapat
dititrasi dengan basa atau asam baku yang lain. Akan tetapi bila asam
atau basa bersifat lemah seperti halnya asam-asam organik atau
alkoloida-alkolofil, cara titrasi dalam lingkungan berair ini tidak dapat
dilakukan, karena disamping sukar larut dalam air, juga kurang reaktif
dalam air, seperti misalnya garam-garam amina, di mana garam-garam
ini dirombak lebih dahulu menjadi basa bebas yang larut dalam air,
dengan pelarut organik dan direaksikan dan direaksikan dengan asam
baku berlebih yang kemudian pelarutnya diuapkan dan barulah
kelebihan cuaca ditentukan kembali dengan basa baku, sedangkan
senyawa-senyawa

akan

organik

yang

mengandung

nitrogen

ditentukan dengan metode kjeldahl, dimana senyawa-senyawa yang


berupa garam natrium dimasukkan dalam asam yang tidak larut dalam
cair disari dengan pelarut organik, pelarut diuapkan, sisa dikeringkan
dan timbang, cara-cara penentuan ini seringkali menimbulkan
kesalahan-kesalahan, dan dengan cara titrimetri bebas air, hal-hal
seperti ini dapat dihindari, seperti misalnya kurang larutnya zat dalam
air dan kurang reaktifnya sat dalam air dapat diatasi.

Titrasi dalam lingkungan bebas air ini mempunyai keuntungankeuntungna seperti misalnya zat-zat yang tidak dapat larut dalam air,
terutama basa-basa organik dapat dititrasi dalam pelarut di mana zat
itu segera akan larut (baik dengan menggunakan pelarut-pelarut
proteolitis maupun pelarut-pelarut yang tidak bersifat proteolitis.
Senyawa-senyawa yang mempunyai sifat basa yang sangat lemah
yang tidak dapat dititrasi dalam air masih memberikan titik akhir yang
cukup tajam dalam berbagai pelarut organik dan dapat langsung
ditentukan; pelarut-pelarut organik mempunyai tetapan dilektrika yang
rendah di mana tetapan disosiasinya relatif lebih kecil tanpa adanya
gejala pengurangan ketajaman titik akhir titrasi. Dengan memilih
pelarut dan zat pentitrasi yang baik memungkinkan penentuan suatu
molekul amfoter hanya melalui golongan fungsional basanya, dan juga
memungkinkan menentukan suatu baswa dalam campuran dengan
asam yang lemah. Sari-sari larutan yang diperoleh dari sediaansediaan obat-obat langsung dapat dititrasi di mana tidak membutuhkan
isolasi basa dari bahan pelarut organik ke dalam pelarut air. Dan
disamping itu semua, titrimetri bebas air memberi keuntungan yang
besar karena dapat digunakan alat-alat gelas yang dipakai untuk titrasi
biasa disamping itu cara ini sangat sederhana, cepat dan teliti, dan
dengan biaya yang tidak terlalu besar.

B. Prinsip dan Metode Titrasi Bebas Air


Prinsip dari metode titrasi bebas air yaitu menetapkan kadar
asam atau basa dengan cara penambahan sejumlah larutan asam
atau basa baku yang setara.
C. Indikator
Ostwald mendefinisikan indikator sebagai asam atau basa
organik yang lemah, dimana warna bentuk molekulnya berbeda
dengan warna bentuk ionnya.
Dalam lingkungan bebas air, tidak ada pengukuran mutlak dari
keaaman atau kebasaan dan dinyatakan bahwa indikator asam atau
basa mempunyai sifat yang tak sama dan mengalami perubahan
dalam hubungan kekuatannya dalam pelarut yang berbeda-beda.
Suatu indikator ideal ialah indikator yang dapat berubah warna
dengan jelas pada titik ekuivalent titrasinya dalam semua keadaan,
tidak tergantung pada kekuatan ion yang ada dalam larutan ataupun
konsentrasi dari garam netral yang ada di dalamnya.
Pada

titrasi

dengan

menggunakan

pelarut

aprotolitius,

perubahan warna dari indikator terjadi karena indikator basa (Ib)


dengan asam (HB) membentuk HBIb yang mempunyai warna yang
berbeda dengan warna Ib sendiri dan sebaliknya indikator asam (HI)
dengan basa (B) membentuk BHI yang warnanya berbeda dengan
warna HI sendiri.

Ib + HB HBIb

HBIb

HI + I

BHI

Pada titrasi dengan pelarut protelitis seperti asam Asetat


glaksial, maka perubahan warnanya dipengaruhi oleh kesetimbangan
yang lebih kompleks. Bila d atau pelarut asam cuka biang terdapat
basa lemah (D) dan indikator I) yang dititrasi dengan asam kuat (HA),
maka kesetimbangan reaksi sebagai berikut :
BHA + HAst IHAst + BHAst
Perubahan warna terjadi karena warna dari IHAst berlainan
dengan warna dari IHA. Di sini terlihat bahwa baik bentuk asam
maupun bentuk basa dari indikator merupakan reaksi asam basa,
sehingga untuk memperoleh warna yang jelas harus terdapat
perbedaan loncatan proton yang jelas. Bila HA masih belum mencapai
titik ekuivalen, maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri dan
diperoleh bentuk IBAst.
Perubahan warna dari indikator dipengaruhi oleh faktor-faktor
seperti pelarut yang digunakan, kekuatan asam dan basa yang dititrasi
atau yang digunakan sebagai pentitrasi, banyaknya pasangan ion lain
yang ada dalam larutan. Dengan demikian perubahan warna indikator
tidak terjadi pada suatu daerah pH yang ditentukan dengan
perhitungan, akan tetapi harus dilakukan percobaan-percobaan
dengan titrasi secara potensiometri atau visual, untuk mengetahui

apakah indikator dapat digunakan dalam titrasi lingkungan bebas ar


atau tidak.
Adapun indikator-indikator yang umum dipakai dalam titrasi
bebas air :
-

Azoviolet
Pemberian titik akhir yang tajam dalam pelarut-pelarut basa, dan
paling baik dalam etilendiamina dan dimetilformamida, tidak baik
digunakan dengan memakai pelarut inert seperti benzen dan eter.
Perubahan warna incubator ini dari merah ke biru.

Biru timol
Indikator

ini

tepat

dimetilformamida,

untuk

piridina

pelarut
atau

t-pelarut

pelarut-pelarut

basa

seperti

lain

kecuali

etilandiemina. Pemakaian indikator ini lebih baik dari pada azoviolet


bila suatu senyawa asam yang sangat lemah dan dititrasi dalam
dimotilformamida atau butilamina. Perubahan waran jelas dari hijau
(basa) ke biru (asam).
-

Merah Kuinaldina
Dipakai dalam pelarut asam cuka biang, perubahan warna dari
merah tua (basa) menjadi tak berwarna (asam)

Alfa-naftol benzeina
Dipakai dalam pelarut asam seperti misalnya asam cuka biang
perubahan warna dari kuning (basa) ke hijau)

Ungu Metil

Pelarutnya

dipakai

asam

cuka

biang

atau

klorobenzeina.

Perubahan warna dari ungu (basa) ke hijau (asam).


-

Ungu kristal
Dipakai dalam pelarut asam cuka biang, perubahan warna secara
berangsur-angsur, sehingga

dalam

pemakaiannya

diperlukan

percobaan blanko. Perubahan warnanya dari ungu-biru-biru-hitamhijau-hijau-kuning-kuning.


-

Sudan III
Dipakai dalam pelarut asam cuka biang, perubahan warnanya
kuning merah biru - dari kuning ke merah perubahannya jelas,
sedangkan dari merah ke biru berangsur-angsur. Ini disebabkan
karena kebasaan Sudan III dalam suasana asam cuka biang
sangat lemah, karena itu untuk memperoleh perubahan warna yang
tajam harus dipakai larutan titra asam perklorat.

Sudan IV
Seperti Sudan III, pelarut asam cuka biang, titernya asam perklorat.
Perubahan warna dari merah ke biru.

Biri brilliant kresil

Hijau melasit

Penitroamilina

Metilrosenilina klorida.

D. PROSEDUR
Timbang seksama lebih kurang 350 mg, larutkan dalam 30 ml
Asam Asetat P, panaskan jika perlu. Dinginkan dan tambahkan 6 ml raksa
(II) asetat LP dan kristal violet LP sebagai indikator, titrasi dengan asam
perklorat 0,1 N.
Ditimbang seksama lebih kurang 350 mg, dilarutkan dalam 30 ml
asam asetat, dimana diketahui bahwa metode titrasi bebas air. Pada
golongan alkaloid yang berlangsung dalam suasana asam yang setara.
Adanya pemanasan disini akan mempercepat proses penglarutan.
Sedangkan proses pendinginan dilakukan untuk memudahkan pada saat
titrasi, ditambahkan 6 ml raksa (II) asetat. Dimana raksa (II) Asetat bersifat
basa sehingga jika dicampurkan dengan Asam Asetat yang bersifat Asam
maka akan menghasilkan garam. Ditambahkan kristal violet. Digunakan
kristal violet disini sebagai indikator agar terjadi perubahan warna pada
saat dititrasi dan ditambahkan asam perklorat 0,1 N penitran.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (1978). Card System dan Reaksi Warna. ITB. Bandung
Dirjen POM (1995), Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Dirjen POM (1979), Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
.
Rovani, Siska H. (1986). Alkaloid. Lembaga Penerbitan UNHAS,
Makassar.
Susanti dan Wunas, Y. (2003), Analisis Kimia Farmasi, Universitas Muslim
Indonesia, Makassar.
Tan, Joan.H. 1995. Obat-Obat Penting. PT. Elex Media. Jakarta