Anda di halaman 1dari 4

MARASMUS DAN KWASHIORKOR

Kurang kalori protein merupakan salah satu masalah gizi masyarakat yang utama di
Indonesia. Upaya untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat telah dilaksanakan melalui
berbagai program perbaikan gizi oleh Departemen Kesehatan bekerja sama dengan
masyarakat. Menurut Survai Kesehatan tahun 1986 angka kejadian gizi buruk pada anak
balita 1,72% dan gizi kurang sebanyak 11,4. Berbeda dengan survai di lapangan, insiden gizi
buruk dan gizi kurang pada anak balita yang dirawat mondok di rumah sakit masih tinggi.
Rani di RSU Dr. Pirngadi Medan mendapat 935 (38%) penderita malnutrisi dari 2453 anak
balita yang dirawat. Mereka terdiri dari 67% gizi kurang dan 33% gizi buruk (Lubis, 2002).
KEP merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. KEP disebabkan karena
defisiensi macro nutrient (zat gizi makro). Meskipun sekarang ini terjadi pergeseran masalah
gizi dari defisiensi macro nutrient kepada defisiensi micro nutrient, namun beberapa daerah
di Indonesia prevalensi KEP masih tinggi (> 30%) sehingga memerlukan penanganan intensif
dalam upaya penurunan prevalensi KEP. Penyakit akibat KEP ini dikenal dengan
Kwashiorkor, Marasmus, dan Marasmic Kwashiorkor. Kwashiorkor disebabkan karena
kurang protein (Aritonang, 2004).
Masih tingginya angka mortalitas dan morbiditas karena masalah gizi ini
menunjukkan masih kurangnya juga pengetahuan masyarakat baik tentang gizi ataupun
tentang penyakit ini.

Definisi

Gejala/manifestasi
klinis

Prevalensi

Marasmus
Adalah sebuah bentuk malnutrisi
protein-energi yang bukan hanya
disebabkan oleh tidak cukupnya
masukan
protein
tapi
juga
tidakcukupnya masukan energi/kalori.
- Pertumbuhan yang lambat
- Berat badan yang berkurang sehingga
penderita kurus.
- Penurunan aktivitas
- Lethargy.
- Perubahan tingkah laku
- Hilangnya subcutaneous lemak dan
otot atropi
- Ubun-ubun cekung pada bayi.
- Kelemahan
Dapat terjadi pada segala umur, akan
tetapi yang sering dijumpai pada bayi
yang tidak mendapat cukup ASI dan
tidak diberi makanan penggantinya atau
sering diserang diare. Marasmus juga
dapat terjadi akibat berbagai penyakit
lain seperti infeksi, kelainan bawaan
saluran pencernaan atau jantung,
malabsorpsi, gangguan metabolik,
penyakit ginjal menahun dan juga

Kwashiorkor
Adalah
sebuah
bentuk
malnutrisi protein-energi yang
disebabkan oleh tidak cukupnya
masukan protein tapi memiliki
masukan energi (kalori) yang cukup.
- Mengalami
kegagalan
pertumbuhan pesat.
- Hilangnya massa otot
- Pembengkakan umum/oedema
- Fatty liver
- Kegagalan sistem pertahanan
tubuh sehingga rentan terhadap
infeksi dan penyakit.
- Perubahan pada kulit dan
rambut.
Paling sering terjadi dan menyebar
di negara yang sedang berkembang.
Terjadi
pada
daerah
yang
kekurangan suply pangan dan
kadangkala hanya makan jagung
nasi atau kacang saja. Lebih sering
terjadi pada anak daripada dewasa.
Onset pada infant adalah ketika

Patofis

Treatment

gangguan pada saraf pusat


Sebenarnya malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat
banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolong-kan atas tiga faktor penting
yaitu : tubuh sendiri (host), agent (kuman penyebab), environment
(lingkungan). Memang faktor diet (makanan) memegang peranan penting
tetapi faktor lain ikut menentukan. Gopalan menyebutkan marasmus adalah
compensated malnutrition. Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu
berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok
atau energi. Kemampuan tubuh untuk mem-pergunakan karbohidrat, protein
dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan
kehidupan; karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh
sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan
karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi
kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi se-telah beberapa jam
dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di
hepar dan di ginjal. Selama puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak,
gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton
bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan
menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein
lagi setelah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh
1. Keadaan ini memerlukan diet yang
berisi jumlah cukup protein yang
kualitas biologiknya baik. Diit tinggi
kalori, protein, mineral dan vitamin.
2. Pemberian
terapi
cairan
dan
elektrolit.
3. Penatalaksanaan
segera
setiap
masalah akut seperti masalah diare
berat.

Penatalaksaan
harus
dimulai
dengan koreksi pada keseimbangan
cairan dan elektolit. Kehadiran
infeksi harus segera ditangani
dengan tepat. Ketika pasien telah
stabil, jumlah kecil makanan dapat
diberikan. Makanan harus diberikan
perlahan, pertama pemberian kalori
dan diikuti dengan pemberian
protein. Vitamin dan mineral juga
diberikan. Penatalaksanaan ini
kurang lebih seminggu.

ASKEP MARASMUS
DIAGNOSA dan INTERVENSI
1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan
tidak adekuat (Wong, 2004)
Tujuan :Pasien mendapat nutrisi yang adekuat
Kriteria hasil :meningkatkan masukan oral.
Intervensi :
a. Dapatkan riwayat diet
b. Dorong orangtua atau anggota keluarga lain untuk menyuapi anak atau ada disaat
makan
c. Minta anak makan dimeja dalam kelompok dan buat waktu makan menjadi
menyenangkan

d. Gunakan alat makan yang dikenalnya


e. Perawat harus ada saat makan untuk memberikan bantuan, mencegah gangguan dan
memuji anak untuk makan mereka
f. Sajikan makan sedikit tapi sering
g. Sajikan porsi kecil makanan dan berikan setiap porsi secara terpisah
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status metabolik.
(Doengoes, 2000).
Tujuan : Tidak terjadi gangguan integritas kulit
Kriteria hasil : kulit tidak kering, tidak bersisik, elastisitas normal
Intervesi :
a. Monitor kemerahan, pucat,ekskoriasi
b. Dorong mandi 2xsehari dan gunakan lotion setelah mandi
c. Massage kulit Kriteria hasilususnya diatas penonjolan tulang
d. Alih baring.
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh
Tujuan : Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
Kriteria hasil: suhu tubuh normal 36,6 C-37,7 C,lekosit dalam batas normal
Intervensi :
a. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
b. Pastikan semua alat yang kontak dengan pasien bersih/steril
c. Instruksikan pekerja perawatan kesehatan dan keluarga dalam prosedur kontrol
infeksi
d. Beri antibiotik sesuai program
4. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan melemahnya
kemampuan fisik dan ketergantungan sekunder akibat masukan kalori atau nutrisi
yang tidak adekuat. (Carpenito, 2001:157).
Tujuan :
Anak mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya.
Kriteria hasil :
Terjadi peningkatan dalam perilaku personal, sosial, bahasa, kognitif atau aktifitas
motorik sesuai dengan usianya.
Intervensi :
a. Ajarkan pada orangtua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok
usia.
b. Kaji tingkat perkembangan anak dengan Denver II
c. Berikan kesempatan bagi anak yang sakit memenuhi tugas perkembangan
d. Berikan mainan sesuai usia anak.

Daftar Pustaka
Lubis, Umar Nurchsan.2002. Penatalaksanaan Busng lapar pada balita. Cermin dunia
kedokteran No.134.
Aritonang, Evawany.2004. Kurang Energi Protein ( Protein Energi Malnutrition). Bagian
Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara. USU digital library.
P. J. PRETORIUS, M.MED. (PAED.), M.D.1965. Nutritional Marasmus In Bantu Infants In
The Pretoria Area. National Nutrition Research Institute, CSIR and Department of
Paediatrics,Universily of Pretoria, AND H. NOVIS,* M.B., CH.B., Department of
Paediatrics, Universily of Pretoria.
Ed Rook A, Wilkinson DS, Ebling FJB, Champion RH, Burton JL. Textbook of
Dermatology.
Fourth
edition.
Blackwell
Scientific
Publications.
http://www.dermnetnz.org /systemic/kwashiorkor.htm
Michael Krawinkel. Kwashiorkor is still not fully understood.World Health Organization.
Bulletin of the World Health Organization; 2003; 81, 12; ProQuest Medical Library pg.
910.