Anda di halaman 1dari 3

Tatalaksana tetanus

Tindakan umum
Jika memungkinkan, pasien dengan tetanus sebaiknya diberi ruangan khusus atau
terpisah dengan pasien lainnya. Pasien tetanus sebaiknya ditempatkan di tempat yang teduh,
tenang dan terproteksi dari stimulasi auditori dan taktil. Semua luka harus dibersihkan dan
didebridemen (WHO,2010).
Imunoterapi
Jika ada, TIG 500 unit dengan injeksi intramuscular atau intravena (tergantung preparat
yang tersedia) diberikan sesegera mungkin. Sebagai tambahan, vaksin TT 0,5 cc melalui
injeksi intramuscular dapat diberikan pada sisi yang lain (tetanus tidak menginduksi imunitas,
pasien tanpa riwayat vaksinasi TT sebelumnya sebaiknya menerima vaksinasi dosis kedua 1-2
bulan setelah dosis pertama diberikan, dan dosis ketiga 6-12 bulan kemudian) (WHO,2010).
Antibiotic
Pilihan anntibiotik terutama metronidazole (500 mg setiap 6 jam IV atau oral), penisilin
G (100.000-200.000 IU/kg/hari IV, diberikan terbagi dalam 2-4 dosis). Selain itu,
tetracyclines, macrolides, clindamycin, cephalosporins dan chloramphenicol juga dapat
digunakan (WHO,2010).
Kontrol spasme otot
Penggunaan benzodiazepine lebih disukai. Untuk dewasa, diazepam IV dapat diberikan
deng an tambahan dosis 5 mg, atau lorazepam dengan tambahan 2 mg, ditetapkan untuk
mencapai control terhadap spasme otot tanpa efek sedari yang berlebihan dan hipoventilasi
(untuk anak, mulai pada dosis 0,1-0,2 mg/kg setiap 2-6 jam). Jumlah besar mungkin saja
diperlukan hingga 600 mg/hari) (WHO,2010).
Preparat oral dapat digunakan tetapi harus dimonitoring secara hati-hati dan teliti untuk
menghindari depresi napas atau henti napas (WHO,2010).
Magnesium sulfat dapat digunakan tunggal atau dikombinasi dengan benzodiazepine
untuk mengontrol spasme dan disfungsi autonom dengan 5 gr (atau 75 mg/kg) IV sebagai
dosis awa, kemudian 2-3 gr/jam sampai spasme otot dapat dikontrol/ditatalaksanai dengan

baik. Untuk menghindari overdosis, monitoring refleks patella dimana areflexia (tidak adanya
refleks patella) dapat terjadi pada batas akhir dosis terapeutik (4mmol/L). Jika areflexia
terjadi, dosis sebaiknya diturunkan (WHO,2010).
Obat-obat lainnya yang dapat digunakan untuk mengontrol spasme otot termasuk
baclofen, dantrolene (1-2 mg/kg IV atau oral setiap 4 jam), barbiturate terutama short acting
(100-150 mg setiap 1-4 jam pada dewasa, 6-10 mg/kg pada anak), dan klorpromazin (50-150
mg IM setiap 4-8 jam pada dewasa, 4-12 mg IM setiap 4-8 jam pada anak) (WHO,2010).
Kontrol disfungsi autonom
Magnesium sulfat dapat digunakan seperti tersebut di atas, atau morfin. Golongan blocker seperti propanolol juga digunakan sebelumnya tetapi dapat menyebabkan hipotensi
dan kematian mendadak, hanya esmalol yang saat ini direkomendasikan (WHO,2010).
Kontrol jalan napas
Obat-obatan yang digunakan untuk mengontrol spasme otot dan menyebabkan sedasi
dapat menimbulkan depresi pernapasan. Jika ventilasi mekanik tersedia, hal ini tidak masalah.
Jika tidak tersedia, pasien harus dimonitor secara teliti dan mengatur agar pengontrolan
spasme otot dan disfungsi autonom dapat maksimal sekaligus menghindari depresi atau gagal
napas. Jika spasme yang terjadi (termasuk spasme laryngeal) menghalangi jalan napas,
ventilasi mekanik direkomendasikan ketika memungkinkan (WHO,2010).
Nutrisi dan cairan yang adekuat
Nutrisi dan cairan yang adekuat harus disediakan, diamana spasme pada tetanus
mengakibatkan meningkatnya metabolisme. Nutrisi yang baik pada pasien tetanus dapat
meningkatkan harapan hidupnya (WHO,2010).

Prognosis
Sebelum vaksin dan ventilasi mekanik tersedia, monitoring yang teliti dan peran serta
perawat meningkatkan harapan hidup pasien. Jika pasien dapat bertahan 1-2 minggu dari spasme
dan komplikasi lainnya, kemungkinan untuk sembuh akan meningkat dengan pesat, terutama
pada pasien usia muda (WHO,2010).

Referensi
WHO, 2010. Current recommendations for treatment of tetanus during humanitarian
emergencies.

WHO

Regional

Office

for

the

Americas.

http://whqlibdoc.who.int/hq/2010/WHO_HSE_GAR_DCE_2010.2_eng.pdf
2011]

Available
[accessed

at
May