Anda di halaman 1dari 41

BAB I

LAPORAN KASUS

1.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. A.M

Umur

: 4 tahun

Tanggal Lahir

: 26 Mei 2010

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Alamat

: Pondok Gede, Bekasi

Bangsal

: Melati

Masuk RS

: 9 September 2014

IDENTITAS ORANG TUA


Ayah
Nama Lengkap: Tn. S
Usia

: 29 tahun

Suku Bangsa : Jawa


Agama

: Islam

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Buruh

Alamat

: Pondok Gede, Bekasi

Ibu
Nama Lengkap: Ny. I
Usia

: 28 tahun

Suku bangsa : Jawa


Agama

: Islam

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Alamat

: Pondok Gede, Bekasi

Hubungan dengan orang tua : Anak Kandung

a.

ANAMNESIS (Alloanamnesis dan Autoanamnesis)

Anamnesis dengan pasien dan orang tua pasien dilakukan pada tanggal 9 September 2014
pukul 19.00 WIB di Bangsal Melati dan didukung catatan medis.
Keluhan Utama

: Demam

Keluhan Tambahan : Mual


Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang anak perempuan berusia 4 tahun datang ke IGD RSUD Bekasi diantar oleh
orang tuanya dengan keluhan demam sejak 1 minggu yang lalu. Demam hilang timbul dan
terkadang lebih tinggi saat malam hari dibandingkan siang hari. Keluhan demam juga disertai
dengan mual tanpa muntah. Orang tua pasien juga mengeluhkan kedua mata pasien yang
tampak terlihat kuning sejak 1 hari yang lalu. Badan terasa lemas dan napsu makan menurun.
Saat ini pasien sedang dalam pengobatan TB paru. Pasien mulai mengkonsumsi OAT
sejak 1 minggu yang lalu. Namun, baru mengkonsumsi obat sebanyak 3x, mulai timbul
keluhan demam dan mual.
BAK berwarna kuning pekat seperti air teh dan BAB normal. Keluhan batuk dan pilek
saat ini disangkal. Keluhan nyeri perut disangkal. Kejang disangkal. Riwayat suka jajan
sembarangan disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien sebelumnya menderita batuk dan pilek selama 2 bulan dan didiagnosis
menderita TB paru.
Penyakit

Umur

Penyakit

Umur

Diare

Morbili

Otitis

Parotitis

Radang Paru

Demam berdarah

Tuberkulosis

Demam tifoid

Kejang

Cacingan

Ginjal

Alergi

Jantung

Kecelakan

Darah

Operasi

Difteri

Lain-lain

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan serupa.

Riwayat Pemeriksaan Kehamilan dan Kelahiran


KEHAMILAN

KELAHIRAN

Morbiditas
kehamilan

Tidak ditemukan kelainan

Perawatan
antenatal

Periksa ke bidan 1 kali/ bulan,


vaksin TT 2 kali.

Tempat
kelahiran

Bidan

Penolong
persalinan

Bidan

Cara persalinan

Partus pervaginam

Masa gestasi

Cukup bulan (37 minggu)

Keadaan bayi

Berat badan lahir

: 3400 g

Panjang badan

: 50 cm

Lingkar kepala

:-

Langsung Menangis
Nilai APGAR

: tidak

tahu
Kelainan bawaan

: Tidak

ada

Riwayat Pertumbuhan/Perkembangan
Pertumbuhan gigi pertama

: 6 bulan

(Normal : 5-9 bulan)

Psikomotor

Tengkurap

: 3 bulan

(Normal : 3-4 bulan)

Duduk

: 6 bulan

(Normal : 6 bulan)

Berdiri

: 10 bulan

(Normal : 9-12 bulan)

Berjalan

: 13 bulan

(Normal : 13 bulan)

Berbicara

: 11 bulan

(Normal : 9-12 bulan)

Saat ini anak berusia 4 tahun. Tidak ada gangguan perkembangan dalam mental dan
emosi. Interaksi dengan orang sekitar baik.
Riwayat makan dan minum
Di bawah 1 tahun

Umur (bulan)

ASI/PASI

Buah/Biskuit

Bubur Susu

Nasi Tim

02

24

46

68

8 10

10 12

Umur di atas 1 tahun


Jenis Makanan

Frekuensi dan Jumlah

Takaran/hari sesuai AKG

Nasi / Pengganti

3x sehari setiap hari, 6-8


sendok makan/kali
1x sehari, mangkuk/kali
1-2x sebulan, 1 potong/kali
1-2x seminggu, 1 butir/kali
2x sehari, 1 potong/kali
1x sehari, 1 potong/kali
1x sehari, 1 potong/kali
ASI sampai umur 2 tahun

1-1,5 piring

Sayur
Daging
Telur
Ikan
Tahu
Tempe
Susu

mangkuk
Lauk Hewani
1-2 potong
Lauk Nabati
1-2 potong
1 botol susu 500 ml

Riwayat Imunisasi
Pasien belum pernah mendapatkan imunisasi apapun.
Riwayat Keluarga (corak reproduksi)
Hubungan

Umur (Tahun)

Jenis Kelamin

Keadaan Kesehatan

Penyebab Meninggal

Kakek

Tidak tahu

Laki-laki

Sehat

Tidak tahu

Nenek

Tidak tahu

Perempuan

Sehat

Tidak tahu

Ayah

29 tahun

Laki-laki

Sehat

Ibu

28 tahun

Perempuan

Sehat

Lahir

Usia

BBL

PB

LK

LD

3400 gr

50 cm

Lupa

Lupa

kehamilan
An. A

Spontan

(pasien)

(dibidan)

37 mg

Keluarga Berencana
Ibu pasien mengaku tidak mengikuti program KB
Riwayat Sosial Ekonomi
Ayah pasien bekerja sebagai buruh dengan penghasilan Rp 1.500.000 per bulan,
sedangkan ibu adalah ibu rumah tangga. Ayah pasien menanggung 1 orang anak. Biaya
pengobatan ditanggung BPJS.
Data Perumahan
Dinding rumah terbuat dari tembok, kamar berjumlah 2 buah, 1 buah kamar mandi
di dalam rumah. Jarak septic tank kurang lebih 20 meter dari rumah, limbah buangan ke
selokan. Sumber air minum dari air sumur. Pencahayaan kurang baik (karena siang hari harus
memakai lampu) dan ventilasi rumah kurang. Jarak antar rumah saling berdekatan 5 meter
tiap rumah.

b.

PEMERIKSAAN FISIK

Telah dilakukan pemeriksaan fisik pada tanggal 9/9/2014 di bangsal anak Melati.
-

Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Derajat kesadaran

: compos mentis

Tanda vital
Suhu

: 37,30 C

Nadi

: 88x/ menit

Respirasi

: 22 x/menit

Data antropometri

BB

: 14,5 kg

TB

: 99 cm

Menurut CDC
BB/U

: 14,5/16 x 100 % = 90,62 %

TB/U

: 99/101 x 100% = 98,01 %

BB/TB

: 14,5/15,5 x 100% = 93,54 % (gizi normal)

Menurut WHO
BB/U

: antara 0 s/d -2

TB/U

: antara 0 s/d -2

BB/TB

: antara 0 s/d -1 (gizi normal)

Kesan : Status gizi anak baik dan perawakan tubuh anak normal

Kepala

Bentuk

: Normocephaly

Rambut

: Warna hitam, tipis, pertumbuhan rambut merata.

Mata

: Konjungtiva anemis -/- , Sklera ikterik +/+, Pupil


bulat isokor +/+

Hidung

: Pernafasan cuping hidung (-)

Telinga

: Normotia, Keluar cairan (-)

Bibir

: Lembab, sianosis oral (-)

Tenggorokan

: Faring hiperemis (-), Tonsil T1-T1 tenang, kripta (-)

Leher

: KGB tidak teraba membesar.

Thoraks
Paru-paru

o Inspeksi

: Gerak napas kedua hemithoraks simetris, retraksi sela iga (-)

o Palpasi

:Vocal fremitus sama kuat kanan dan kiri

o Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru

o Auskultasi

: Suara napas vesikuler (+/+), ronki (-/-), wheezing (-/-)

o Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat, tidak ada pulsasi abnormal

o Palpasi

: Tidak teraba pulsasi abnormal

o Perkusi

: Batas jantung dan paru paru dalam batas normal

o Auskultasi

: S1-S2 regular, murmur (-), gallop (-)

Jantung

Abdomen

Inspeksi

: Datar

Palpasi

:Supel, Nyeri tekan (-), Hepar dan Lien tidak teraba membesar

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus (+) 3x/menit

Anus dan rektum

: Dalam batas normal

Genitalia

: Tidak ada kelainan

Ekstremitas

:
Superior

Inferior

Akral Dingin

-/-

-/-

Akral Sianosis

-/-

-/-

CRT

< 3

< 3

Oedem

-/-

-/-

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium darah tanggal 9 September 2014 (19.00) :
Nama Test

Hasil

Nilai Normal

Leukosit

7.0

5-10 ribu/uL

Hemoglobin

10.5

11-14.5 g/dL

Hematokrit

33.2

37-47 %

Trombosit

374

150-400 ribu/Ul

AST (SGOT)

957

< 37 /uL

ALT (SGPT)

1982

< 41 /uL

Bilirubin Total

2.10

< 1.2 mg/dL

Bilirubin Direk

1.59

< 0.6 mg/dL

Bilirubin Indirek

0.51

< 0.8 mg/dL

HEMATOLOGI
Darah Rutin DHF

KIMIA KLINIK
Fungsi Hati

BILI Total, Direk, Indirek

10

Diabetes
Glukosa Darah Sewaktu

129

60-100 mg/dL

Natrium (Na)

135

135-145 mmol/L

Kalium (K)

3.6

3.5-5.0 mmol/L

Clorida (Cl)

91

94-111 mmol/L

Elektrolit

Pemeriksaan laboratorium darah tanggal 10 September 2014 (06.00) :


Nama Test

Hasil

Nilai Normal

Non Reaktif, TV

Non Reaktif TV <0.13

IMUNOSEROLOGI
HBsAg (Elisa)

:0.00

Reaktif TV > 0.13

Widal
1/40

Negative 1/80

S. Paratyphi AO

Negative

Negative 1/80

S. Paratyphi BO

1/40

Negative 1/80

S. Paratyphi CO

Negative

Negative 1/80

1/40

Negative 1/80

S. Paratyphi AH

Negative

Negative 1/80

S. Paratyphi BH

1/40

Negative 1/80

S. Paratyphi CH

1/80

Negative 1/80

S. Typhi O

S. Typhi H

Pemeriksaan laboratorium darah tanggal 13 September 2014 (10.47) :

11

Nama Test

Hasil

Nilai Normal

AST (SGOT)

181

< 37 /uL

ALT (SGPT)

880

< 41 /uL

KIMIA KLINIK
Fungsi Hati

Pemeriksaan laboratorium darah tanggal 14 September 2014 (06.43) :


Nama Test

Hasil

Nilai Normal

AST (SGOT)

126

< 37 /uL

ALT (SGPT)

775

< 41 /uL

KIMIA KLINIK
Fungsi Hati

Pemeriksaan laboratorium darah tanggal 16 September 2014 (06.41) :


Nama Test

Hasil

Nilai Normal

Non Reaktif 0.02

Non Reaktif TV <0.40

IMUNOSEROLOGI
Anti HAV IgM

Equivocal TV 0.40-0.49
Reaktif TV > 0.50
KIMIA KLINIK
Fungsi Hati
AST (SGOT)

84

< 37 /uL

12

ALT (SGPT)

VI.

572

< 41 /uL

RESUME
Seorang anak perempuan berusia 4 tahun datang dengan keluhan demam
sejak 1 minggu yang lalu. Demam hilang timbul dan terkadang lebih tinggi saat
malam hari dibandingkan siang hari. Keluhan demam juga disertai dengan mual,
serta pada kedua mata tampak terlihat kuning sejak 1 hari yang lalu. Badan terasa
lemas dan napsu makan menurun. Saat ini pasien sedang dalam pengobatan TB
paru. Pasien mulai mengkonsumsi OAT sejak 1 minggu yang lalu. Namun, baru
mengkonsumsi obat sebanyak 3x, mulai timbul keluhan demam dan mual. BAK
berwarna kuning pekat seperti air teh. Pasien sebelumnya menderita batuk dan
pilek selama 2 bulan dan didiagnosis menderita TB paru. Pasien nelum pernah
mendapatkan imunisasi apapun.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang
dan pada pemeriksaan mata, didapatkan sclera ikterik pada kedua mata.

13

VII.

DIAGNOSA KERJA
Hepatitis Drug Induced (OAT)

VIII. DIAGNOSIS BANDING

IX.

Hepatitis A

Thypoid fever

PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa
-

Stop OAT

Edukasi keluarga pasien tentang kondisi anaknya

Rawat inap

Kalori 90 kkcal x 14,5 kg = 1.305 kkcal/hari

Protein 1 gram x 14,5 kg = 14,5 gram/ hari


Medikamentosa

X.

XI.

IVFD D5% 480/24 jam

Inj. Ranitidin 2 x 25 ml

Sequest 2 x 1/3 sach

Curcuma syr 2 x cth

PROGNOSA

Quo ad vitam

: dubia Ad bonam

Quo ad sanationam

: dubia Ad bonam

Quo ad fungsionam

: dubia Ad bonam

FOLLOW UP
9/9/14
S

10/9/14

11/9/14

-Demam

-Mual

-Nafsu makan

-Mual

-Badan lemas

berkurang

-Badan lemas

-Nafsu makan

-Nafsu makan

berkurang

berkurang

-Mata kuning

14

-Mata kuning
O

Tanda Vital

Tanda Vital

Tanda Vital

N : 24x/m

N : 22x/m

N : 24x/m

RR : 88x/m

RR : 88x/m

RR : 88x/m

S : 37,30 C

S : 36,40 C

S : 37,30 C

PF

PF

PF

Mata : CA -/-, SI

Mata : CA -/-, SI

Mata : CA -/-, SI -

+/+

+/+

/-

THT : dbn

THT : dbn

THT : dbn

Leher : KGB tidak

Leher : KGB

Leher : KGB

teraba membesar

tidak teraba

tidak teraba

Thorax : SN ves,

membesar

membesar

Rh-/-, Wh -/-

Thorax : SN ves,

Thorax : SN ves,

Abd : supel, nyeri

Rh-/-, Wh -/-

Rh-/-, Wh -/-

tekan -

Abd : supel, nyeri

Abd : supel, nyeri

Ext : akral hangat

tekan -

tekan -

+/+, oedema -/-

Ext : akral hangat

Ext : akral hangat

+/+, oedema -/-

+/+, oedema -/-

Hepatitis Drug

Hepatitis Drug

Hepatitis Drug

Induced

Induced

Induced

- IVFD D5%

- IVFD D5%

- IVFD D5%

480/24 jam

480/24 jam

480/24 jam

-Inj. Ranitidin 2 x

-Inj. Ranitidin 2 x

-Inj. Ranitidin 2 x

25 ml

25 ml

25 ml

-Sequest 2 x 1/3

-Sequest 2 x 1/3

-Sequest 2 x 1/3

sach

sach

sach

-Curcuma syr 2 x -Curcuma syr 2 x

-Curcuma syr 2 x

cth

cth

cth

-Urdafalk 2 x 100
caps

15

12/9/14

13/9/14

14/9/14

Tidak ada keluhan

Tidak ada keluhan Tidak ada keluhan

Tanda Vital

Tanda Vital

Tanda Vital

N : 22 x/m

N : 27 x/m

N : 25 x/m

RR : 88 x/m

RR : 90 x/m

RR : 88 x/m

S : 36,30 C

S : 360 C

S : 360 C

PF

PF

PF

Mata : CA -/-, SI -/- Mata : CA -/-, SI - Mata : CA -/-, SI -

THT : dbn

/-

/-

Leher : KGB tidak

THT : dbn

THT : dbn

teraba membesar

Leher : KGB

Leher : KGB

Thorax : SN ves,

tidak teraba

tidak teraba

Rh-/-, Wh -/-

membesar

membesar

Abd : supel, nyeri

Thorax : SN ves,

Thorax : SN ves,

tekan -

Rh-/-, Wh -/-

Rh-/-, Wh -/-

Ext : akral hangat

Abd : supel, nyeri

Abd : supel, nyeri

+/+, oedema -/-

tekan -

tekan -

Ext : akral hangat

Ext : akral hangat

+/+, oedema -/-

+/+, oedema -/-

Hepatitis Drug

Hepatitis Drug

Hepatitis Drug

Induced

Induced

Induced

- IVFD D5%

- IVFD D5%

- IVFD D5%

480/24 jam

480/24 jam

480/24 jam

-Inj. Ranitidin 2 x

-Sequest 2 x 1/3

-Sequest 2 x 1/3

25 ml

sach

sach

-Sequest 2 x 1/3

-Curcuma syr 2 x

-Curcuma syr 2 x

sach

cth

cth

-Curcuma syr 2 x -Urdafalk 2 x 100

-Urdafalk 2 x 100

cth

caps

caps

-Urdafalk 2 x 100

-Lesicol 2 x 100

-Lesicol 2 x 100

caps

caps

caps

16

-Lesicol 2 x 100
caps

15/9/14

16/9/14

17/9/14

Tidak ada keluhan

Tidak ada keluhan Tidak ada keluhan

Tanda Vital

Tanda Vital

Tanda Vital

N : 22 x/m

N : 27 x/m

N : 25 x/m

RR : 88 x/m

RR : 90 x/m

RR : 88 x/m

S : 36,30 C

S : 360 C

S : 360 C

PF

PF

PF

Mata : CA -/-, SI -/- Mata : CA -/-, SI - Mata : CA -/-, SI -

THT : dbn

/-

/-

Leher : KGB tidak

THT : dbn

THT : dbn

teraba membesar

Leher : KGB

Leher : KGB

Thorax : SN ves,

tidak teraba

tidak teraba

Rh-/-, Wh -/-

membesar

membesar

Abd : supel, nyeri

Thorax : SN ves,

Thorax : SN ves,

tekan -

Rh-/-, Wh -/-

Rh-/-, Wh -/-

Ext : akral hangat

Abd : supel, nyeri

Abd : supel, nyeri

+/+, oedema -/-

tekan -

tekan -

Ext : akral hangat

Ext : akral hangat

+/+, oedema -/-

+/+, oedema -/-

Hepatitis Drug

Hepatitis Drug

Hepatitis Drug

Induced

Induced

Induced

- IVFD D5%

- IVFD D5%

- IVFD D5%

480/24 jam

480/24 jam

480/24 jam

-Sequest 2 x 1/3

-Sequest 2 x 1/3

-Sequest 2 x 1/3

sach

sach

sach

-Curcuma syr 2 x -Curcuma syr 2 x

-Curcuma syr 2 x

17

cth

cth

1 cth

-Urdafalk 2 x 100

-Urdafalk 2 x 100

-Urdafalk 2 x 100

caps

caps

caps

-Lesicol 2 x 100

-Lesicol 2 x 100

-Lesicol 2 x 100

caps

caps

caps

18/9/14
S

Tidak ada keluhan

Tanda Vital
N : 22 x/m
RR : 88 x/m
S : 36,30 C
PF
Mata : CA -/-, SI -/THT : dbn
Leher : KGB tidak
teraba membesar
Thorax : SN ves,
Rh-/-, Wh -/Abd : supel, nyeri
tekan Ext : akral hangat
+/+, oedema -/-

Hepatitis Drug
Induced

- IVFD D5%
480/24 jam
-Sequest 2 x 1/3
sach

18

-Curcuma syr 2 x 1
cth
-Urdafalk 2 x 100
caps
-Lesicol 2 x 100
caps

XII.

ANALISA KASUS

Konsumsi OAT

Memacu kematian sel


(melalui apoptosis)

Terjadi kerusakan hepar


karena obat dapat
mempengaruhi protein
transport pada membran
kanalikuli

Reseptor mengalami
pengelompokan
sendiri

Penumpukan asam
empedu dalam hepar

Translokasi fasitoplasmik
ke membran plasma

BAB II

Demam

Peningkatan
SGOT-SGPT

Sclera ikterik

Urin warna pekat

Mual

19

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis (MTB).1,2
Hepatotoksisitas (drug induced hepatitis) didefinisikan sebagai adanya kerusakan atau
jejas pada sel-sel hepar akibat dari zat-zat maupun agen-agen kimiawi.11
Konsep Dasar TB
a. Epidemiologi TB
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia
ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan tuberkulosis
sebagai Global Emergency.1,2
Februari 2011 Indonesia diberi penghargaan oleh WHO atas keberhasilan
menurunkan jumlah penderita TB, sehingga menempatkan Indonesia menjadi peringkat
kelima setelah selama satu dasawarsa menempati peringkat ketiga, negara dengan pendertia
TB terbanyak di dunia.1,3
b. Sejarah TB dan Penemuan OAT
20

Tuberkulosis ditemukan pertama kali oleh Robert Koch pada tahun 1882. Penyakit
tuberkulosis sudah ada dan dikenal sejak zaman dahulu, manusia sudah berabad-abad hidup
bersama dengan kuman tuberkulosis. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya lesi
tuberkulosis pada penggalian tulang-tulang kerangka di Mesir. Demikian juga di Indonesia,
yang dapat kita saksikan dalam ukiran-ukiran pada dinding candi Borobudur.1
Sejarah eradikasi TB dengan kemoterapi dimulai pada tahun 1944 ketika seorang
perempuan dengan penyakit TB paru lanjut menerima injeksi pertama Streptomicin. Segera
disusul dengan penemuan asam para amino salisilik (PAS). Dilanjutkan dengan penemuan
Isoniazid pada tahun 1952. Kemudian diikuti penemuan berturut-turut pirazinamid pada
tahun 1954 dan etambutol 1952, rifampisin 1963 yang menjadi obat utama TB sampai saat
ini.2,4
c. Patofisiologi TB
Paru merupakan port dentre lebih dari 98% kasus infeksi TB. Karena ukurannya
yang sangat kecil, kuman TB dalam percik renik (droplet nuclei) yang terhirup, dapat
mencapai alveolus. Masuknya kuman TB ini akan segera diatasi oleh mekanisme imunologis
non spesifik. Makrofag alveolus akan menfagosit kuman TB dan biasanya sanggup
menghancurkan sebagian besar kuman TB. Akan tetapi, pada sebagian kecil kasus, makrofag
tidak mampu menghancurkan kuman TB dan kuman akan bereplikasi dalam makrofag.
Kuman TB dalam makrofag yang terus berkembang biak, akhirnya akan membentuk koloni
di tempat tersebut. Lokasi pertama koloni kuman TB di jaringan paru disebut Fokus Primer
GOHN.2,6
Dari fokus primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju kelenjar limfe
regional, yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke lokasi fokus primer.
Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran limfe (limfangitis) dan di
kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena. Jika fokus primer terletak di lobus paru bawah
atau tengah, kelenjar limfe yang akan terlibat adalah kelenjar limfe parahilus, sedangkan jika
fokus primer terletak di apeks paru, yang akan terlibat adalah kelenjar paratrakeal. Kompleks
primer merupakan gabungan antara fokus primer, kelenjar limfe regional yang membesar
(limfadenitis) dan saluran limfe yang meradang (limfangitis).2,4
Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya kompleks
primer secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi TB. Hal ini berbeda dengan pengertian
masa inkubasi pada proses infeksi lain, yaitu waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman
hingga timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi TB biasanya berlangsung dalam waktu 4-8
minggu dengan rentang waktu antara 2-12 minggu. Dalam masa inkubasi tersebut, kuman
tumbuh hingga mencapai jumlah 103-104, yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang
respons imunitas seluler.2,5
Selama berminggu-minggu awal proses infeksi, terjadi pertumbuhan logaritmik
kuman TB sehingga jaringan tubuh yang awalnya belum tersensitisasi terhadap tuberkulin,
mengalami perkembangan sensitivitas. Pada saat terbentuknya kompleks primer inilah,
infeksi TB primer dinyatakan telah terjadi. Hal tersebut ditandai oleh terbentuknya

21

hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein, yaitu timbulnya respons positif terhadap uji


tuberkulin. Selama masa inkubasi, uji tuberkulin masih negatif. Setelah kompleks primer
terbentuk, imunitas seluler tubuh terhadap TB telah terbentuk. Pada sebagian besar individu
dengan sistem imun yang berfungsi baik, begitu sistem imun seluler berkembang, proliferasi
kuman TB terhenti. Namun, sejumlah kecil kuman TB dapat tetap hidup dalam granuloma.
Bila imunitas seluler telah terbentuk, kuman TB baru yang masuk ke dalam alveoli akan
segera dimusnahkan.2,7
Setelah imunitas seluler terbentuk, fokus primer di jaringan paru biasanya mengalami
resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah mengalami nekrosis
perkijuan dan enkapsulasi. Kelenjar limfe regional juga akan mengalami fibrosis dan
enkapsulasi, tetapi penyembuhannya biasanya tidak sesempurna fokus primer di jaringan
paru. Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini.4,5
Kompleks primer dapat juga mengalami komplikasi. Komplikasi yang terjadi dapat
disebabkan oleh fokus paru atau di kelenjar limfe regional. Fokus primer di paru dapat
membesar dan menyebabkan pneumonitis atau pleuritis fokal. Jika terjadi nekrosis perkijuan
yang berat, bagian tengah lesi akan mencair dan keluar melalui bronkus sehingga
meninggalkan rongga di jaringan paru (kavitas). Kelenjar limfe hilus atau paratrakea yang
mulanya berukuran normal saat awal infeksi, akan membesar karena reaksi inflamasi yang
berlanjut. Bronkus dapat terganggu. Obstruksi parsial pada bronkus akibat tekanan eksternal
dapat menyebabkan ateletaksis. Kelenjar yang mengalami inflamasi dan nekrosis perkijuan
dapat merusak dan menimbulkan erosi dinding bronkus, sehingga menyebabkan TB
endobronkial atau membentuk fistula. Massa kiju dapat menimbulkan obstruksi komplit pada
bronkus sehingga menyebabkan gabungan pneumonitis dan ateletaksis, yang sering disebut
sebagai lesi segmental kolaps-konsolidasi.3,5
Selama masa inkubasi, sebelum terbentuknya imunitas seluler, dapat terjadi
penyebaran limfogen dan hematogen. Pada penyebaran limfogen, kuman menyebar ke
kelenjar limfe regional membentuk kompleks primer. Sedangkan pada penyebaran
hematogen, kuman TB masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh tubuh.
Adanya penyebaran hematogen inilah yang menyebabkan TB disebut sebagai penyakit
sistemik.3
Penyebaran hamatogen yang paling sering terjadi adalah dalam bentuk penyebaran
hematogenik tersamar (occult hamatogenic spread). Melalui cara ini, kuman TB menyebar
secara sporadik dan sedikit demi sedikit sehingga tidak menimbulkan gejala klinis. Kuman
TB kemudian akan mencapai berbagai organ di seluruh tubuh. Organ yang biasanya dituju
adalah organ yang mempunyai vaskularisasi baik, misalnya otak, tulang, ginjal, dan paru
sendiri, terutama apeks paru atau lobus atas paru. Di berbagai lokasi tersebut, kuman TB akan
bereplikasi dan membentuk koloni kuman sebelum terbentuk imunitas seluler yang akan
membatasi pertumbuhannya.3
Di dalam koloni yang sempat terbentuk dan kemudian dibatasi pertumbuhannya oleh
imunitas seluler, kuman tetap hidup dalam bentuk dorman. Fokus ini umumnya tidak

22

langsung berlanjut menjadi penyakit, tetapi berpotensi untuk menjadi fokus reaktivasi. Fokus
potensial di apkes paru disebut sebagai Fokus SIMON. Bertahun-tahun kemudian, bila daya
tahan tubuh pejamu menurun, fokus TB ini dapat mengalami reaktivasi dan menjadi penyakit
TB di organ terkait, misalnya meningitis, TB tulang, dan lain-lain.4,5
Bentuk penyebaran hamatogen yang lain adalah penyebaran hematogenik generalisata
akut (acute generalized hematogenic spread). Pada bentuk ini, sejumlah besar kuman TB
masuk dan beredar dalam darah menuju ke seluruh tubuh. Hal ini dapat menyebabkan
timbulnya manifestasi klinis penyakit TB secara akut, yang disebut TB diseminata. TB
diseminata ini timbul dalam waktu 2-6 bulan setelah terjadi infeksi. Timbulnya penyakit
bergantung pada jumlah dan virulensi kuman TB yang beredar serta frekuensi berulangnya
penyebaran. Tuberkulosis diseminata terjadi karena tidak adekuatnya sistem imun pejamu
(host) dalam mengatasi infeksi TB, misalnya pada balita.2,3
Tuberkulosis milier merupakan hasil dari acute generalized hematogenic spread
dengan jumlah kuman yang besar. Semua tuberkel yang dihasilkan melalui cara ini akan
mempunyai ukuran yang lebih kurang sama. Istilih milier berasal dari gambaran lesi
diseminata yang menyerupai butir padi-padian/jewawut (millet seed). Secara patologi
anatomik, lesi ini berupa nodul kuning berukuran 1-3 mm, yang secara histologi merupakan
granuloma.4,5
Bentuk penyebaran hematogen yang jarang terjadi adalah protracted hematogenic
spread. Bentuk penyebaran ini terjadi bila suatu fokus perkijuan menyebar ke saluran
vaskular di dekatnya, sehingga sejumlah kuman TB akan masuk dan beredar di dalam darah.
Secara klinis, sakit TB akibat penyebaran tipe ini tidak dapat dibedakan dengan acute
generalized hematogenic spread. Hal ini dapat terjadi secara berulang.4,6
Pada anak, 5 tahun pertama setelah infeksi (terutama 1 tahun pertama), biasanya
sering terjadi komplikasi. Menurut Wallgren, ada 3 bentuk dasar TB paru pada anak, yaitu
penyebaran limfohematogen, TB endobronkial, dan TB paru kronik. Sebanyak 0.5-3%
penyebaran limfohematogen akan menjadi TB milier atau meningitis TB, hal ini biasanya
terjadi 3-6 bulan setelah infeksi primer. Tuberkulosis endobronkial (lesi segmental yang
timbul akibat pembesaran kelenjar regional) dapat terjadi dalam waktu yang lebih lama (3-9
bulan). Terjadinya TB paru kronik sangat bervariasi, bergantung pada usia terjadinya infeksi
primer. TB paru kronik biasanya terjadi akibat reaktivasi kuman di dalam lesi yang tidak
mengalami resolusi sempurna. Reaktivasi ini jarang terjadi pada anak, tetapi sering pada
remaja dan dewasa muda.3,4
Tuberkulosis ekstrapulmonal dapat terjadi pada 25-30% anak yang terinfeksi TB. TB
tulang dan sendi terjadi pada 5-10% anak yang terinfeksi, dan paling banyak terjadi dalam 1
tahun tetapi dapat juga 2-3 tahun kemudian. TB ginjal biasanya terjadi 5-25 tahun setelah
infeksi primer.12
d. Diagnosis TB

23

Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik, pemeriksaan


fisik/jasmani, pemeriksaan bakteriologik, radiologik dan pemeriksaan penunjang lainnya.
Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala lokal dan gejala
sistemik, bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala respiratorik
(gejala lokal sesuai organ yang terlibat).
1. Gejala respiratorik
a. Batuk lebih dari 2 minggu
b. Batuk darah
c. Sesak napas
d. Nyeri dada
2. Gejala sistemik
a. Demam
b. Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun.
3. Gejala tuberkulosis ekstra paru
Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat.

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan antara lain suara napas bronkial, amforik,
suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma & mediastinum.
Gold standar diagnosis TB adalah pemeriksaan sputum BTA. Semua suspek TB diperiksa 3
spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu sewaktu - pagi - sewaktu (SPS). 2,3
Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB
(BTA). Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis
merupakan diagnosis utama.
Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai
penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Tidak dibenarkan mendiagnosis
TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan
gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis. Gambaran kelainan
radiologik paru tidak selalu menunjukkan aktivitas penyakit.3,4
e. Penggunaan OAT sebagai Kemoterapi pada TB1,2,3
Pengobatan TB merupakan masalah yang rumit mencakup waktu penyembuhan yang
lama, kepatuhan disiplin penderita dalam menjalani pengobatan, daya tahan tubuh dan factor
social ekonomi penderita. Ada banyak faktor penyebab yang mempengaruhi keberhasilan
pengobatan penyakit TB ini antara lain :
1.

Sifat bakteri

Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri penyebab yang memperlihatkan


kecepatan tumbuh yang lambat dan relative lebih resisten terhadap antibiotic bila

24

dibandingkan dengan mikroorganisme lainnya Sifatnya yang persisten mengakibatkan waktu


pengobatan yang lama.
2.

Daya tahan tubuh

Penelitian terhadap hewan percobaan memperlihatkan terdapat antibody yang spesifik


terhadap bakteri ini. Penderita yang pernah terinfeksi seharusnya memiliki antibody dalam
tubuhnya, namun sebagian penderita dapat terinfeksi kembali beberapa tahun setelah
terjadinya infeksi primer. Kemungkinan yang terjadi adalah mekanisme metabolic dalam
tubuh dapat merusak imunitas, sehingga bakteri yang sudah lama tidur (dormant) dapat
bangkit kembali
3.

Kepatuhan Penderita

Pemberian obat TB menimbulkan kesembuhan klinis yang lebih cepat dari


kesembuhan bakteriologik dan keadaan ini menyebabkan penderita mengabaikan penyakit
dan pengobatannya. Pengobatan yang memerlukan waktu lama dapat menyebabkan penderita
menghentikan pengobatannya sebelum sembuh, apalagi bila selama pengobatan timbul efek
samping. Faktor pendidikan dan ekonomi serta sarana pelayanan kesehatan yang jauh dapat
menyebabkan ketidak patuhan penderita akan pengobatan penyakitnya.
Enam puluh tahun setelah Robert Koch menemukan bakteri penyebab TB, pada tahun
1940-an mulai diperkenalkan obat antituberkulosis (OAT) yang sekarang ini dipakai secara
luas, yaitu streptomisin disusul kemudian pada tahun 1947 dengan paraaminosalisilat (PAS)
dan pada tahun 1952 ditemukan isoniazid (INH).
Pada tahun 1967 mulai diperkenalkan rifampisin sebagai OAT baru yang saat ini
dipakai secara luas pada pengobatan jangka pendek tuberkulosis paru bersama dengan OAT
lainnya. Sifat farmakologik OAT yang aman dan regimen terapi yang efisien menjadi dasar
dalam pemilihan OAT yang digunakan pada penderita.
Obat Anti Tuberkulosis yang ideal harus memenuhi persyaratan :
1.

Non toksik

2.

Mudah diserap dan diberikan secara oral

3.

Meresap ke semua jaringan menembus sarang tuberkulosis

4.

Aktif terhadap basil yang berada di dalam dan di luar sel, baik pada suasana asam
maupun suasana basa

5.
1)

Sanggup membunuh basil yang aktif, maupun yang tidak aktif (dormant)
INH (Isoniazid)4,5,7

Monografi
Struktur Kimia :
25

T. P. Sycheva, T. N. Pavlova and M. N. Shchukina (1972). "Synthesis of isoniazid from 4cyanopyridine". Pharmaceutical Chemistry Journal 6 (11): 696698.
Nama resmi
: Isoniazidum
Rumus Molekul : C6H7N3O
Berat Molekul
: 137,14
Pemerian
: Hablur putih atau tidak berwarnaatau serbuk hablur putih ; tidak berbau,
perlahan lahan dipengaruhi oleh udara cahaya.

Sifat Fisika dan Kimia


Kelarutan
: Mudah larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol; sukar larut dalam
kloroform dan dalam eter.
Identifikasi
a. Spektrum serapan infra merah zat yang telah dikeringkan dan di dispersikan
dalam kalium bromide P menunjukan maksimum hanya pada panjang gelombang
yang sama seperti isoniazid BPFI.
b. Masukan lebih kurang 50 mg ke dalam labu terukur 500 ml, tambahkan air sampai
tanda. Masukan 10 ml larutan ini ke dalam labu terukur 100 mL tambahkan 2 mL
asam klorida
0,1 N, encerkan dengan air sampai tanda; spectrum serapan
ultraviolet menunjukan maksimum dan minimum hanya pada panjang gelombang
yang sama seperti pada isoniazid BPFI.
Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja isoniazid belum diketahui, tetapi ada beberapa hipotesis yang dianjurkan,
diantaranya efek pada lemak, biosistesis asam nukleat, dan glikolisis. Selain itu juga
menghambat biosintesis asam mikolat (mycolic acid) yang merupakan unsur penting dinding
sel mikobakterium. Isoniazid kadar rendah mecegah meperpanjangnya rantai asam dan
menurunkan jumlah lemak yang sangat panjang yang merupakan bentuk awal molekul asam
mikolat. Isoniazid menghilangkan sifat tahan asam dan menurunkan jumlah lemak yang
terekstrasi oleh methanol dan mikobakterium.
Farmakokinetika
Absorpsi
makanan.

: Diabsorbsi cepat dan lengkap, dan kecepatannya dapat dihambat oleh

Distribusi
: Keseluruhan jaringan dan cairan tubuh termasuk cairan serebrospinal,
menembus plasenta, dan masuk ke air susu. Ikatan protein berkisar antara 10-15%
Metabolisme : Dimetabolisme di hati, kecepatan metabolisme ditentukan oleh asetilasi
secara genetik.

26

Waktu paruh : Pada asetilator cepat 30-100 menit, asetilator lambat 2-5 jam; mungkin
diperlambat oleh kerusakan hati atau ginjal parah. Waktu untuk mencapai kadar puncak 1-2
jam
Ekskresi

: lewat urin (75-95%), tinja dan air liur.

Penggunaan
Isoniazid masih tetap merupakan obat yang sangat penting untuk mengobati semua tipe
tuberculosis. Efek non terapi dapat dicegah dengan pemberian piridoksin dan pengawasan
yang cermat pada penderita. Untuk tujuan terapi, obat ini harus digunakan bersama obat lain
untuk tujuan pencegahan dapat diberikan tunggal.
Efek samping:
Mual, muntah, hipersensitivitas, neuropati perifer, kerusakan hati, gangguan hematologi,
reaksi alergi (demam, kulit kemerahan, dan hepatitis sering terjadi), dan insomnia.
Kontra Indikasi :
Hepatitis yang diinduksi oleh obat atau penyakit hati akut karena penyebab apapun, dan
hipersensitif terhadap INH.
Interaksi Obat :
Kadar obat di jaringan meningkat oleh Para Amino Salisilat (PAS). Isoniazid dapat
meningkatkan efek fenitoin, menghambat Penggunaan metabolisme primidon dan
mengurangi toleransi alkohol.
Isoniazid bersamaan dengan rifampisin dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan
terjadinya gangguan fungsi hati.

2) Rifampisin3,4,5
Monografi
Nama resmi
Rumus Molekul
Berat Molekul
Pemerian

: Rifampicinum
: C43H58N4O12
: 822,95
: Serbuk hablur, cokelat merah

Sifat Fisika dan Kimia


Kelarutan
: Sangat sukar larut dalam air; mudah larut dalam kloroform; larut dalam
etil asetat dan dalam methanol.
pH
: Antara 4 dan 6,5
Stabilitas
Rifampisisn kapsul harus terlindung udara,cahaya dan panas. Kapsul harus disimpan pada
wadah tertutup rapat dan terlindung dari cahaya pada temperatur 15- 300C.

27

Sediaan serbuk rifampisin untuk injeksi harus terlindung dari cahaya dan panas dengan
temperatur 400C.
Identifikasi
Spektrum serapan inframerah zat yang didispersikan dalam minyak mineral P menunjukkan
maksimum hanya pada panjang gelombang yang sama seperti pada Rifampisin BPFI.
Mekanisme Kerja
Rifampisin terutama aktif terhadap sel yang sedang bertumbuh. Kerjanya berikatan kuat
dengan RNA polimerase yang bergantung pada DNA sehingga akan menghambat sintesis
RNA bakteri. Pada mikobakteri resisten terjadi mutasi pada enzim RNA polimerase ini
sehingga tidak lagi mengikat rifampicin.
Farmakokinetika
1. Absorpsi : Secara oral absorbsi baik, makanan dapat memperlambat atau menurunkan
puncak.
2. Distribusi : Karena sangat lifofilik, dapat menembus sawar darah otak. Berdifusi dari
darah ke cairan serebrospinal, difusi cukup kuat tanpa atau dengan adanya inflamasi.
3.

Metabolisme: Di hati, mengalami resirkulasi enterohepatik.

4.

Waktu paruh: 3-4 jam, diperlama oleh adanya gangguan hati.

5.

Ekskresi

: Melalui tinja (60-65%) dan urin (sekitar 30%) sebagai bentuk utuh.

Penggunaan
Rifampisin merupakan obat yang sangat efektif untuk pengobatan tuberculosis dan sering
digunakan bersama isoniazid utnuk terapi tuberculosis jangka pendek. Efek sampingnya
beraneka ragam, tetapi insidennya rendah dan jarang sampai perlu menghentikan terapi.
Efek Samping
Gangguan saluran cerna meliputi mual, muntah, anoreksia, diare. Pada terapi interman dapat
terjadi sindrom influenza, gangguan respirasi (napas pendek), kolaps dan syok, anemia
hemolitik, anemia, gagal ginjal akut, ikterus, flushing, urtikaria, ruam.
Rifampisin mengakibatkan warna oranye yang tidak membahayakan pada urin, keringat, air
mata, dan lensa kontak (soft lens dapat ternodai secara permanent).
Kontra Indikasi
Hipersensitif terhadap rifampisin, pasien dengan gangguan saluran empedu, serta selama
kehamilan trisemester pertama.
Interaksi Obat

28

Rifampisin merupakan pemacu metabolisme obat yang cukup kuat,sehingga berbagai obat
hipoglikemik oral, kortikosteroid, dan kontrasepsi oral akan berkurang efektifitasnya bila
diberikan secara bersamaan dengan rifampisin. Rifampicin mungkin juga menggangu
metabolisme vitamin D sehingga dapat menimbulkan kelainan tulang berupa osteomalasia.

3) Pyrazinamide4,6
Monografi
Nama & Struktur Kimia : pyrazine-2-carboxamide (C5H5N3O)
Sifat Fisikokimia : pyrazine-2-carboxamide merupakan serbuk kristal berwarna putih, sangat
larut dalam air dan larut dalam alkohol. pKa 6,1 dan 9,2
Keterangan : pyrazine-2-carboxamide adalah senyawa sintetik antituberkulosis
Indikasi
Antituberkulosa
Penggunaan bukan sebagai obat tunggal, tetapi dikombinasi dengan paling sedikit satu
macam obat antituberkulosa. Misalnya Rifampisin dan INH.
Stabilitas Penyimpanan
Simpan
pada
suhu
kamar
yang
terkontrol
20C
hingga
25C
Tablet pyrazine-2-carboxamide harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, dilindungi dari
cahaya, kelembaban dan suhu panas yang berlebihan.
Kontraindikasi
Hemodialisa
Efek Samping
Atralgia namun minimal, jika keluhan memberat penggunaan segera dihentikan. Selain itu
pyrazinamide dapat juga menyebabkan hepatoksisitas.
Interaksi
Dengan Obat Lain : Menurunkan efek dimana absorbsi menurun jika digunakan bersama
alumunium hidroksida. Hindari penggunaan bersama dengan antasida yang mengandung
alumunium, beri jarak minimal 4 jam dari pemberian etambutol.
Dengan Makanan : Dapat digunakan bersama dengan makanan karena absorbsi tidak
dipengaruhi oleh makanan, dapat menyebabkan iritasi lambung.
Metabolisme Obat di Hati11,12
Hepar merupakan salah satu organ terpenting untuk memetabolisme obat dan
senyawa-senyawa eksogen, terutama yang berasal dari absorpsi di traktus
gastrointestinal. Oleh karena itu, hepar merupakan organ yang rentan terkena paparan, baik

29

dari obat-obat yang dibawa dari saluran pencernaan melalui vena portal maupun produkproduk metabolit yang dihasilkan oleh hepar itu sendiri, yang selanjutnya masuk ke sirkulasi
sistemik melalui vena hepatik.
Akan tetapi, hati bukanlah target utama dari reaksi obat yang dapat merugikan organorgan dalam tubuh. Hanya sekitar 9,5% reaksi obat yang menimbulkan kerusakan hati.1
Meskipun prevalensi kerusakan hati yang diinduksi obat-obatan mungkin relatif tidak terlalu
tinggi dalam masyarakat, namun angka kematian dalam kasus-kasus tersebut seringkali
cukup tinggi, dan pada banyak kasus juga dapat menimbulkan kegagalan hati.
Obat-obatan dan senyawa-senyawa eksogen lain dapat mempengaruhi hati dengan
berbagai cara. Beberapa zat kimia seperti bahan-bahan yang digunakan di laboratorium dan
industri, bahan kimia alami (microcystins misalnya) maupun obat herbal dapat menyebabkan
hepatotoksisitas. Bahan kimia yang menyebabkan kerusakan pada hati yang disebut
hepatotoxin.
Metabolisme obat di hati biasanya dibagi menjadi dua fase, yakni fase 1 dan fase 2.
Reaksi fase 1 termasuk oksidasi, reduksi, hidrolisis, hidrasi dan banyak lagi reaksi kimia lain.
Fase ini penting untuk meningkatkan kemampuan penyerapan air dari obat-obat tertentu
sehingga mampu memetabolisme agen-agen kimiawi dalam obat-obat tersebut. Fase 2 paling
sering terjadi di sitosol, dimana terjadi konjugasi melalui enzim transferase.
Sejumlah enzim terkait dihasilkan di retikulum endoplasma, yakni cytochrome P-450,
yang penting sebagai enzim pemetabolisme. Cytochrome P-450 adalah komponen oksidase
terminal dari rantai transportasi elektron.
Sistem Enzim yang Berperan Dalam Detoksifikasi10,11
Sistem Tahap I
Sistem detoksifiksi tahap 1, melibatkan terutama enzim supergen sitokrom P-450,
yang secara umum merupakan enzim pertahanan pertama melawan benda asing. Sebagian
besar bahan kimia di metabolisme melalui biotransformasi tahap 1. Pada reaksi umum tahap
1, enzim sitokrom P-450 (CYP450) menggunakan oksigen sebagai kofaktor, NADH, untuk
menambah kelompok reaktif, misal hidroksi radikal.
Sebagai hasil dari tahap ini dalam detoksifikasi, diproduksi suatu molekul reaktif yang
ebih toksik daripada molekul awal. Apabila molekul reaktif ini tida berlanjut pada
metabolism selanjutnya, yaitu tahap 2 (konjugasi), dapat menyababkan kerusakan pada
protein, RNA, dan DNA di dalam sel. Beberapa penelitian menunjukkan bukti terhadap
hubungan antara terjadinya induksi tahap 1 dan berkurangnya aktivitas tahap 2 dengan
meningkatnya resiko penyakit, misalnya kanker, SLE, dan Parkinson.
Sistem Tahap II
Reaksi konjugasi pada tahap 2 umumnya mengikuti aktivasi tahap 1, dimana akan
mengakibatkan xenobiotik yang telah larut air dapat diekskresikan melalui urin atau empedu.
Beberapa macam reaksi konjugasi terdapat dalam tubuh, termasuk glukoronidasi, sulfas, dan

30

konjugasi glutation, serta asam amino. Reaksi ini memerlukan kofaktor yang tercukupi
melalui makanan. Banyak yang diketahui mengenai peran dari system enzim tahap 1 pada
metabolisme kimia seperti halnya aktivasinya oleh racun lingkungan dan komponen makanan
tertentu. Walaupun begitu, peran detoksifikasi tahap 1 pada praktek klinik tidak terlalu
diperhatikan. Kontribusi dari sistem tahap 2 lebih diperhatikan dalam penelitian dan praktek
klinik. Dan hanya sedikit yang diketahui saat ini mengenai peran system detoksifikasi pada
metabolism zat endogen.
Mekanisme hepatotoksisitas
Mekanisme kerusakan hati karena obat yang mempengaruhi protein transport pada
membran kanalikuli dapat terjadi melalui mekanisme apoptosis hepatosit karena asam
empedu. Terjadi penumpukan asam-asam empedu di dalam hati karena gangguan transport
pada kanalikuli yang menghasilkan translokasi fasitoplasmik ke membran plasma, dimana
reseptor-reseptor ini mengalami pengelompokan sendiri dan memacu kematian sel melalui
apoptosis. Disamping itu, banyak reaksi hepatoseluler melibatkan sistem sitokrom P-450
yang mengandung heme dan menghasilkan reaksi-reaksi energi tinggi yang dapat membuat
ikatan kovalen obat dengan enzim, sehingga menghasilkan ikatan baru yang tidak punya
peran.
Kompleks enzim obat ini bermigrasi ke permukaan sel di dalam vesikel-vesikel untuk
berperan sebagai imunogen-imunogen sasaran serangan sitolitik sel T, merangsang respons
imun multifaset yang melibatkan sel-sel sitotoksik dan berbagai sitokin. Obat-obat tertentu
menghambat fungsi mitokondria dengan efek ganda pada beta oksidasi dan enzim-enzim
rantai respirasi. Metabolit-metabolit toksis yang dikeluarkan dalam empedu dapat merusak
epitel saluran empedu.
Kerusakan dari sel hepar terjadi pada pola spesifik dari organella intraseluler yang
terpengaruh yang dapat dipengaruhi melalui 6 cara :
a.

b.

c.

d.

Kerusakan hepatosit : Ikatan kovalen dari obat ke protein intraseluler dapat


menyebabkan penurunan ATP, menyebabkan gangguan aktin. Kegagalan
perakitan benang-benang aktin di permukaan hepatosit menyebabkan rupturnya
membran hepatosit.
Gangguan protein transport : Obat yang mempengaruhi protein transport di
membran kanalikuli dapat mengganggu aliran empedu. Hilangnya proses
pembentukan vili dan gangguan pompa transport misal multidrug resistance
associated protein 3 (MRP3) menghambat ekskresi bilirubin, menyebabkan
kolestasis.
Aktivasi sel T sitolitik : Ikatan kovalen dari obat pada enzim P-450 dianggap
imunogen, mengaktifkan sel T dan sitokin dan menstimulasi respon imun
multifaset.
Apoptosis hepatosit : Aktivasi jalur apoptosis oleh reseptor Fas TNF
menyebabkan berkumpulnya caspase interseluler, yang berakibat pada kematian
sel terprogram (apoptosis).

31

e.

f.

Gangguan mitokondria : Beberapa obat menghambat fungsi mitokondria dengan


efek ganda pada oksidasi (mempengaruhi produksi energi dengan cara
menghambat sintesis dinucleotide adenine nicotinamide dan dinucleotide adenine
flavin, yang menyebabkan menurunnya produksi ATP) dan enzim rantai respirasi.
Kerusakan duktus biliaris : metabolit racun yang diekskresikan di empedu dapat
menyebabkan kerusakan epitel duktus biliaris.

Terdapat 3 karakteristik penting dari sistem P-450 dalam drug induced toxicity:
1. Perbedaan Genetik
Setiap protein P-450 berbeda dan bervariasi dalam proses metabolism obat pada setiap
individu. Variasi genetik dalam metabolism P-450 harus dipertimbangkan untuk setiap
pemberian obat.
2. Perubahan dalam Aktivitas Enzim
Banyak substansi yang yang dapat mempengaruhi mekanisme enzim P-450. Obat-obatan
yang diketahui dapat memodifikasi enzim sitokrom P-450 disebut sebagai inhibitor dan
inducer. Inhibitor enzim tersebut dapat memblok aktivitas metabolik dari enzim P-450.
3. Penghambatan Kompetitif
Beberapa obat dapat menghambat P-450 sehingga menghalangi bio transformasi kompetitif
mereka. Hal ini dapat menyebabkan akumulasi obat yang harus dimetabolisme oleh enzim.
Jenis interaksi obat juga dapat mengurangi tingkat generasi substrat beracun.
2.4 Mekanisme Kerusakan Hati12,13
Ada berbagai macam obat yang dapat menyebabkan injury pada hepar, baik secara
klinis maupun patologis.
1. Interferensi uptake bilirubin, ekskresi dan konjugasi
Tipe ini bisa dilihat sebagai suatu varian dari toksisitas kolestasis. Sebagai contoh,
Rifampicin dapat mengganggu transportasi bilirubin sehingga menimbulkan
hiperbilirubinemia.7
2. Sitotoksik injury
Tipe ini mengacu pada kerusakan dari parenkim dan merupakan tipe hepatotoksisitas yang
relatif lebih serius daripada tipe sebelumnya.8
3. Cholestatic injury
Jenis ini meliputi terperangkapnya aliran empedu dan menimbulkan jaundice yang dapat
terlihat mirip dengan obstruksi bilier. Tipe ini relatif kurang serius dibanding sitotoksik
injury, dengan tingkat kematian yang lebih rendah.
4. Campuran sitotoksik dan cholesatic injury
Kerusakan hati yang bersifat sitotoksik terkdang dapat disertai dengan kolestasis, misalnya
setelah penggunaan terapi asam aminosalisilat.9

32

5. Lemak hati
Lemak hati (steatosis) dapat dianggap sebagai jenis cedera sitotoksik, tetapi juga bisa menjadi
bentuk kerusakan hati kronis.
6. Sirosis
Sirosis makronodular dapat langsung terjadi setelah kerusakan hati akut, dan kolestasis
jaundice dapat mengakibatkan sirosis bilier primer.
7. Phospholipidosis
Hal ini mungkin dapat terjadi akibat dari penggunaan obat-obatan seperti Coralgil, (4, 4'diethylaminoethoxyhexestrol dihidroklorida), dan ditandai oleh hepatosit yang penuh dengan
lipid (10)
8. Tumor hepar
Lesi neoplastik dapat muncul akibat penggunaan obat-obatan. Adenoma dari sel hati telah
terbukti memiliki keterkaitan dengan penggunaan kontrasepsi steroid (11)
9. Lesi vascular
Oklusi vena hepatika, seperti efek thrombogenic dari kontrasepsi
mengakibatkan kerusakan hati.

steroid, dapat

10. Hepatitis kronis aktif


Ini merupakan penyakit hati necroinflammatory yang bersifat progresif yang mungkin
memiliki banyak penyebab termasuk obat.
11. Nekrosis hepatik subakut
Sindrom ini terdiri penyakit hati yang progresif, disertai dengan sirosis dan jaundice.
2.5 Faktor Resiko12
a. Ras : beberapa obat memiliki perbedaan toksisitas terhadap ras tertentu. Misal, ras
kulit hitam akan lebih rentan terhadap toksisitas isoniazid. Laju metabolisme
dikontrol oleh enzim P-450 dan itu berbeda pada tiap individu
b. Umur : reaksi obat jarang terjadi pada anak-anak. Resiko kerusakan hepar meningkat
pada orang dewasa oleh karena penurunan klirens, interaksi obat, penurunan aliran
darah hepar, variasi ikatan obat, dan volume hepar yang lebih rendah. Ditambah lagi,
kurangnya asupan makanan, infeksi, dan sering mondok di rumah sakit menjadi
alasan penting akan terjadinya hepatotoksisitas obat.
c. Jenis Kelamin : walaupun alasannya tidak diketahui, reaksi obat pada hepar lebih
banyak pada wanita.
d. Konsumsi alkohol : peminum alkohol akan lebih rentan pada toksisitas obat karena
alkohol menyebabkan kerusakan hepar dan perubahan sirotik yang mengubah
metabolisme obat. Alkohol menyebabkan deplesi simpanan glutation yang
menyebabkannya lebih rentan terhadap toksisitas obat

33

e. Penyakit hepar : pada umumnya, pasien dengan penyakit hati kronis tidak semuanya
memiliki peningkatan resiko kerusakan hepar. Walaupun total sitokrom P-450
berkurang, beberapa orang mungkin terpengaruh lebih dari yang lainnya. Modifikasi
dosis pada penderita penyakit hati harus berdasarkan pengetahuan mengenai enzim
spesifik yang terlibat dalam metabolisme. Pasien dengan infeksi HIV dan Hepatitis B
atau C, resiko efek hepatotoksik meningkat jika diberikan terapi antiretroviral. Pasien
dengan sirosis juga resikonya meningkat terhadap dekompensasi pada obat
f. Faktor genetik : gen unik mengkode tiap protein P-450. Perbedaan genetik pada
enzim P-450 menyebabkan reaksi abnormal terhadap obat, termasuk reaksi
idiosinkratik. Debrisoquine merupakan obat antiaritmia yang menyebabkan rendahnya
metabolisme karena ekspresi dari P-450-II-D6. Hal ini dapat diidentifikasi dengan
amplifikasi PCR dari gen mutasi.
g. Penyakit lain : seseorang dengan AIDS, malnutrisi, dan puasa lebih rentan terhadap
reaksi obat karena rendahnya simpanan glutation
h. Formulasi obat : obat-obatan long-acting lebih menyebabkan kerusakan hepar
dibandingkan dengan obat-obatan short-acting.
2.6 Manifestasi Klinis Hepatoksisitas12,13
Gambaran klinis hepatotoksisitas karena obat sulit dibedakan secara klinis dengan
penyakit hepatitis atau kolestasis dengan etiologi lain. Riwayat pemakaian obat-obatan atau
substansi hepatotoksik lain harus dapat diungkap. Onset umumnya cepat, gejala berupa
malaise dan ikterus, serta dapat terjadi gagal hati akut berat terutama bila pasien masih
meminum obat tesebut setelah awitan hepatotoksisitas. Apabila jejas hepatosit lebih dominan
maka konsentrasi aminotransferase dapat meningkat hingga paling tidak lima kali batas atas
normal, sedangkan kenaikan konsentrasi alkali fosfatase dan bilirubin menonjol pada
kolestasis. Mayoritas reaksi obat idiosikratik melibatkan kerusakan hepatosit seluruh lobul
hepatik dengan derajat nekrosis dan apoptosis bervariasi. Pada kasus ini gejala hepatitis
biasanya muncul dalam beberapa hari atau minggu sejak mulai minum obat dan mungkin
terus berkembang bahkan sesudah obat penyebab dihentikan pemakaiannya.
2.7 Diagnosis12
Berdasarkan international concensus criteria maka diagnosis hepatotoksisitas karena
obat berdasarkan :
-

Waktu dari mulai minum obat dan penghentian obat sampai awitan reaksi nyata
adalah sugestif (5-90 hari dari awal minum obat) atau kompatibel (kurang dari lima
hari atau lebih dari 90 hari sejak mulai minum obat dan tidak lebih 15 hari dari
penghentian obat untuk reaksi hepatoseluler dan tidak lebih dari 30 hari dari
penghentian obat untuk reaksi kolestatik) dengan hepatotoksisitas obat.
Perjalanan reaksi sesudah penghentian obat adalah sangat sugestif (penurunan enzim
hati paling tidak 50% dari konsentrasi di atas batas atas normal dalam 8 hari) atau
sugestif (penurunan enzim hati paling tidak 50% dari konsentrasi di atas batas atas

34

normal dalam 30 hari untuk reaksi hepatoseluler dan 180 hari untuk reaksi kolestatik)
dari reaksi obat.
Alternatif sebab lain telah dieksklusi dengan pemeriksaan teliti, termasuk biopsi hati
tiap kasus.
Dijumpai respons positif pada pemaparan ulang dengan obat yang sama paling tidak
kenaikan dua kali lipat enzim hati.

Dikatakan reaksi drugs related jika semua ketiga kriteria terpenuhi atau jika dua dari
tiga kriteria pertama terpenuhi dengan respons positif pada pemaparan ulang obat.
Mengidentifikasi reaksi obat dengan pasti adalah hal yang sulit tetapi kemungkinan
sekecil apapun adanya reaksi terhadap obat harus dipertimbangkan pada setiap pasien dengan
disfungsi hati. Riwayat pemakaian obat harus diungkap dengan seksama termasuk di
dalamnya obat herbal atau obat alternatif lainnya. Obat harus selalu menjadi diagnosis
banding pada setiap abnormalitas tes fungsi hati dan/atau histologi. Keterlambatan
penghentian obat yang menjadi penyebab berhubungan dengan resiko tinggi kerusakan hati
persisten. Bukti bahwa pasien tidak sakit sebelum minum obat, menjadi sakit selama minum
obat dan membaik secara nyata setelah penghentian obat merupakan hal esensial dalam
diagnosis hepatotoksisitas karena obat.

2.8 Hepatotoksisitas obat anti tuberkulosis (OAT)12


Obat anti tuberculosis terdiri dari isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan
etambutol/streptomisin, dan tiga obat yang disebut pertama bersifat hepatotoksik. Faktorfaktor resiko hepatotoksisitas yang pernah dilaporkan adalah usia lanjut, pasien perempuan,
status nutrisi buruk, konsumsi tinggi alkohol, memiliki dasar penyakit hati, karier hepatitis B,
prevalensi hepatitis viral yang meningkat di negara sedang berkembang, hipoalbuminemia,
tuberculosis lanjut, serta pemakaian obat yang tidak sesuai aturan dan status asetilatornya.
Telah dibuktikan secara meyakinkan adanya keterkaitan HLA-DR2 dengan tuberkulosis paru
pada berbagai populasi dan keterkaitan varian gen NRAMP1 dengan kerentanan terhadap
tuberkulosis, sedangkan resiko hepatotoksisitas karena obat anti tuberkulosis berkaitan juga
dengan tidak adanya HLA-DQA1*0102 dan adanya HLA-DQB1*0201 disamping usia lanjut,
albumin serum < 3,5 gram/dl dan tingkat penyakit yang moderat atau tingkat lanjut berat.
Dengan demikian resiko hepatotoksisitas pada pasien dengan obat anti tuberkulosis
dipengaruhi faktor-faktor klinis dan genetik. Pada pasien TBC dengan hepatitis C atau HIV
mempunyai resiko hepatotoksisitas terhadap obat anti tuberkulosis lima dan empat kali lipat.
Sementara pasien tuberkulosis dengan karier HbsAg-positif dan HbeAg-negatif yang inaktif
dapat diberikan obat standar jangka pendek INH, rifampisin, etambutol dan/atau pirazinamid
dengan syarat pengawasan tes fungsi hati paling tidak dilakukan setiap bulan. Sekitar 10%
pasien tuberkulosis yang mendapatkan isoniazid mengalami kenaikan konsentrasi
aminotransferase serum dalam minggu-minggu pertama terapi yang nampaknya
menunjukkan respons adaptif terhadap metabolit toksik obat. Isoniazid dilanjutkan atau tidak

35

tetap akan terjadi penurunan konsentrasi aminotransferase sampai batas normal dalam
beberapa minggu. Hanya sekitar 1% yang berkembang menjadi seperti hepatitis viral; 50%
kasus terjadi pada 2 bulan pertama dan sisanya baru muncul beberapa bulan kemudian.
2.9 Pengobatan dan Prognosis Hepatotoksisitas12
Dikatakan reaksi drug related jika semua tiga kriteria pertama terpenuhi atau jika dua
dari tiga kriteria pertama terpenuhi dengan responpositif pada pemaparan ulang obat.
Mengidentifikasi reaksi obat dengan pasti adalah hal yang sulit, tapi kemungkinan sekecil
apapun adanya reaksi terhadap obat harus dipertimbangkan pada pasien dengan disfungsi
hati. Riwayat pemakaian obat harus diungkap dengan seksama termasuk di dalamnya obat
herbal atau obat alternatif. Obat harus menjadi diagnosis banding pada setiap abnormalitas tes
fungsi hati atau histologi. Keterlambatan penghentian obat yanng menjadi penyebab
berhubungan dengan resiko tinggi kerusakan hati persisten. Bukti bahwa pasien tidak sakit
sebelum minum obat dan membaik secara nyata setelah obat tersebut dihentikan merupakan
hal esensial dalam diagnosis hepatotoksisitas imbas obat.
Terapi untuk mengatasi hepatotoksisitas imbas obat belum ada antidotum yang
spesifik untuk setiap obat. Oleh karena itu terapi efek hepatotoksik yang baik adalah segera
menghentikan penggunaan obat-obat yang dicurigai.
Dalam kebanyakan kasus, fungsi hati akan kembali normal jika menyinggung obat
dihentikan awal. Selain itu, pasien mungkin memerlukan pengobatan suportif. Kegagalan hati
fulminan dari hepatotoksisitas yang diinduksi obat mungkin memerlukan transplantasi hati.
Di masa lalu, glukokortikoid dalam fitur alergi dan asam ursodeoxycholic dalam kasus
kolestasis telah digunakan, tetapi tidak ada bukti yang baik untuk mendukung efektivitas
mereka.
Ketinggian di tingkat bilirubin serum lebih dari 2 kali ULN dengan kenaikan
transaminase yang terkait adalah sebuah tanda sial. Hal ini menunjukkan hepatotoksisitas
berat dan cenderung mengarah pada kematian dalam 10% sampai 15% dari pasien, terutama
jika obat yang menyinggung tidak berhenti. Hal ini karena memerlukan kerusakan yang
signifikan ke hati untuk mengganggu ekskresi bilirubin, maka kerusakan kecil (tanpa adanya
obstruksi bilier atau sindrom Gilbert) tidak akan menyebabkan ikterus. Prediktor miskin
lainnya dari hasil adalah usia tua, jenis kelamin perempuan, SGOT tinggi.
Terapi efek hepatotoksik obat terdiri dari penghentian segera obat-obatan yang
dicurigai. Jika dijumpai reaksi alergi berat dapat diberikan kortikosteroid, meskipun belum
ada bukti penelitian klinis dengan kontrol. Demikian juga penggunaan ursodiol pada keadaan
kolestatik. Prognosis gagal hati akut karena reaksi idiosinkratik obat buruk, dengan angka
mortalitas lebih dari 80%.

36

BAB III
KESIMPULAN

Hepatotoksisitas imbas obat merupakan komplikasi potensial yang selalu ada pada
setiap obat yang diberikan, karena hati merupakan pusat disposisi metabolik dari semua obat
dan bahan asing yang masuk ke dalam tubuh. Kejadian jejas hati karena obat mungkin jarang
terjadi, namun akibat yang ditimbulkan bisa fatal. Reaksi tersebut sebagian besar
idiosinkratik pada dosis terapeutik yang dianjurkan.sebagian lagi tergantung dosis obat.
Sebagian besar obat bersifat lipofilik sehingga mudah menembus membran sel intestinal.
Obat kemudian diubah lebih hidrofilik melalui proses biokimiawi di dalam hepatosit,
menghasilkan produk larut air yang diekskresikan ke dalam urin atau empedu.
Biotransformasi hepatik ini melibatkan jalur oksidatif utamanya melalui system enzim
sitokrom P-450.
Obat anti tuberculosis terdiri dari isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan
etambutol/streptomisin, dan tiga obat yang disebut pertama bersifat hepatotoksik. Faktorfaktor resiko hepatotoksisitas yang pernah dilaporkan adalah usia lanjut, pasien perempuan,
status nutrisi buruk, konsumsi tinggi alkohol, memiliki dasar penyakit hati, karier hepatitis B,
prevalensi hepatitis viral yang meningkat di negara sedang berkembang, hipoalbuminemia,
tuberculosis lanjut, serta pemakaian obat yang tidak sesuai aturan dan status asetilatornya.
Telah dibuktikan secara meyakinkan adanya keterkaitan HLA-DR2 dengan tuberkulosis paru

37

pada berbagai populasi dan keterkaitan varian gen NRAMP1 dengan kerentanan terhadap
tuberkulosis, sedangkan resiko hepatotoksisitas karena obat anti tuberkulosis berkaitan juga
dengan tidak adanya HLA-DQA1*0102 dan adanya HLA-DQB1*0201 disamping usia lanjut,
albumin serum < 3,5 gram/dl dan tingkat penyakit yang moderat atau tingkat lanjut berat.
Dengan demikian resiko hepatotoksisitas pada pasien dengan obat anti tuberkulosis
dipengaruhi faktor-faktor klinis dan genetik. Pada pasien TBC dengan hepatitis C atau HIV
mempunyai resiko hepatotoksisitas terhadap obat anti tuberkulosis lima dan empat kali lipat.
Sementara pasien tuberkulosis dengan karier HbsAg-positif dan HbeAg-negatif yang inaktif
dapat diberikan obat standar jangka pendek INH, rifampisin, etambutol dan/atau pirazinamid
dengan syarat pengawasan tes fungsi hati paling tidak dilakukan setiap bulan. Sekitar 10%
pasien tuberkulosis yang mendapatkan isoniazid mengalami kenaikan konsentrasi
aminotransferase serum dalam minggu-minggu pertama terapi yang nampaknya
menunjukkan respons adaptif terhadap metabolit toksik obat. Isoniazid dilanjutkan atau tidak
tetap akan terjadi penurunan konsentrasi aminotransferase sampai batas normal dalam
beberapa minggu. Hanya sekitar 1% yang berkembang menjadi seperti hepatitis viral; 50%
kasus terjadi pada 2 bulan pertama dan sisanya baru muncul beberapa bulan kemudian.
Mekanisme terjadinya jejas hati imbas obat yang mempengaruhi protein-protein
transpor pada membran kanalikuli dapat terjadi melalui mekanisme apoptosis hepatosit imbas
asam empedu. Terjadi penumpukan asam empedu di dalam hati karena gangguan transpor
pada kanalikuli yang menghasilkan translokasi fassitoplasmik ke membrane plasma, dimana
reseptor-reseptor ini mengalami pengelompokan sendiri dan memicu kematian sel melalui
apoptosis. Di samping itu, banyak reaksi hepatoseluler melibatkan system sitokrom P-450
yang mengandung heme dan menghasilkan reaksi-reaksi energi tinggi yang dapat membuat
ikatan kovalen obat dengan enzim. Kompleks enzim-obat ini migrasi ke permukaan sel di
dalam vesikel untuk berperan sebagai imunogen bagi sel T sitotoksik dan berbagai sitokin.
Gambaran klinis hepatotoksisitas imbas obat sulit dibedakan secara klinis dengan
penyakit hepatitis atau kolestasis dengan etiologi lain. Oleh karena itu riwayat pemakaian
obat atau substansi hepatotoksik lain harus diungkap. Onset umumnya cepat, gejala berupa
malaise dan ikterus, serta dapat terjadi gagal hati akut yang berat terutama bila pasien masih
minum obat itu setelah terjadi onset. Bila jejas hepatosit lebih dominan maka konsentrasi
aminotransferase akan meningkat paling tidak lima kali batas atas normal, sedangkan
kenaikan akalifosfatase dan billirubin menonjol pada kolestasis. Mayoritas reaksi obat
idiosinkratik melibatkan kerusakan hepatosit seluruh lobul hepatic dengan derajat nekrosis
dan apoptosis bervariasi. Pada kasus gejala hepatitis biasanya muncul dalam beberapa hari
atau minggu sejak minum obat bahkan sesudah obat penyebab dihentikan. Berdasarkan
Internatonal Concensus Criteria, maka diagnosis hepatotoksisitas imbas obat berdasarkan:
a.

Waktu dari mulai minum obat dan penghentian obat sampai onset reaksi nyata
adalah sugestif (5-90hari dari awal minum obat) atau kompatibel (<5 hari atau
>90 hari Sejak mulai minum obat dan tidak lebih dari 15 hari dari penghentian
obat untuk reaksi hepatoseluler dan tidak lebih dari 30 hari dari penghentian obat
untuk reaksi kolestatik) dengan hepatotoksisitas obat.

38

b.

c.
d.

Perjalanan reaksi sesudah penghentian obat adalah sangat sugestif (penurunan


enzim hati paling tidak 50% dari konsentrasi di atas batas atas normal dalam 8
hari) atau sugestif (penurunan konsentrasi enzim hati paling tidak 50% dalam 30
hari untuk reaksi hepatoseluler dan 180 hari untuk reaksi kolestatik) dari reaksi
obat.
Alternatif sebab lain dari reaksi telah dieksklusi dengan pemeriksaan teliti,
termasuk biopsi hati pada setiap kasus
Dijumpai respon positif pada pemaparan ulang dengan obat yang sama paling
tidak kenaikan 2 kali lipat enzim hati

Dikatakan reaksi drug related jika semua tiga kriteria pertama terpenuhi atau jika dua
dari tiga kriteria pertama terpenuhi dengan respon positif pada pemaparan ulang obat.
Mengidentifikasi reaksi obat dengan pasti adalah hal yang sulit, tapi kemungkinan sekecil
apapun adanya reaksi terhadap obat harus dipertimbangkan pada pasien dengan disfungsi
hati. Riwayat pemakaian obat harus diungkap dengan seksama termasuk di dalamnya obat
herbal atau obat alternatif. Obat harus menjadi diagnosis banding pada setiap abnormalitas tes
fungsi hati atau histologi. Keterlambatan penghentian obat yanng menjadi penyebab
berhubungan dengan resiko tinggi kerusakan hati persisten. Bukti bahwa pasien tidak sakit
sebelum minum obat dan membaik secara nyata setelah obat tersebut dihentikan merupakan
hal esensial dalam diagnosis hepatotoksisitas imbas obat.
Terapi untuk mengatasi hepatotoksisitas imbas obat belum ada antidotum yang
spesifik Oleh karena itu terapi efek hepatotoksik yang baik adalah segera menghentikan
penggunaan obat-obat yang dicurigai.

39

DAFTAR PUSTAKA
1. Eddy, PS. Sejarah dan Epidemiologi Penyakit Tuberkulosis. Simposium
Tuberkulosis. Surabaya, Des. 1982 : 11-20.
2. Raviglione MC, Snider DE, Kochi Arata, Global Epidemiology of Tuberculosis
JAMA 1995 ; 273 : 220-26.
3. WHO.TB A Clinical manual for South East Asia. Geneva, 1997; 19-23.
4. Aditama T.Y. Tuberculosis Situation in Indonesia, Singapore, Brunei Darussalam and
in Philippines, Cermin Dunia Kedokteran 1993 ; 63 : 3 7.
5. Hudoyo, A. Penerapan Strategi DOTS bagi Penderita TB, Dalam Simposium dan
Semiloka TB Terintegrasi. RSUP Persahabatan, Jakarta, 1999.
6. Broekmans, JF. Success is possible it best has to be fought for, World Health Forum
An International Journal of Health Development. WHO, Geneva, 1997 ; 18 : 243
47.
7. Bing, K. Diagnostik dan klasifikasi tuberkulosis paru. RTD Diagnosis dan
Pengobatan Mutakhir Tuberkulosis Pam Semarang, Mei 1989 1-6.
8. Lee WM. Drug-Induced Hepatotoxicity. N Engl J Med 2003; 349: 474-85.
9. Sudoyo, et al. 2006. Buku ajar Imu Penyakit Dalam Jilid 1 edisi 4. FKUI. Jakarta.
10. Liska, DJ. The Detoxification Enzyme Systems. Altern Med Rev 1998; 3(3): 187-198.
11. Navarro, VJ. Drug-Related Hepatotoxicity. N Engl J Med 2006; 354: 731-9.
12. Mehta, N. Drug-Induced Hepatotoxicity. Download dari
http://www.emedicine.medscape.com/article/169814-overview diakses pada 12 Maret
2009

40

41