Anda di halaman 1dari 10

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP)

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN EMFISEMA

Di sebuah Rumah Sakit di Surabaya


Tanggal Pengkajian : 12 Novenber 2010

Jam 11.30 WIB

Identitas Klien
Nama : Tuan A
TTL : 17/11/1970
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 40 tahun, 5 hari
Pekerjaan : Buruh bangunan
Nama Ayah/ Ibu : Tn. M (Alm) / Ny.M
Pekerjaan Istri : Ibu rumah tangga
Alamat : Jl. Kedinding 78, Surabaya
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Pendidikan terakhir : SD
Pendidikan terakhir Istri : SD
Diagnosa : Emfisema

3.1. Riwayat Sakit dan Kesehatan


1. 1.
2. 2.

Keluhan Utama : sesak napas.


Riwayat Penyakit Sekarang :

Tuan A tinggal bersama istri dan dua anaknya. Tuan A mengeluh sesak napas, batuk, dan
nyeri di daerah dada sebelah kanan pada saat bernafas. Banyak sekret keluar ketika batuk,
berwarna kuning kental. Tuan A tampak kebiruan pada daerah bibir dan dasar kuku. Tuan A
merasakan sedikit nyeri pada dada. Tuan A cepat merasa lelah saat melakukan aktivitas.
3. Riwayat Penyakit dahulu :
Tuan A selama 3 tahun terakhir mengalami batuk produktif dan pernah menderita pneumonia
4. Riwayat Keluarga :
Tidak Ada

3.2. Observasi dan Pemeriksaan Fisik


1.

Keadaan Umum : Baik, Kesadaran Kompos Mentis

2.

Tanda-Tanda Vital :
S

: 37,40C

:102 x/mnt

TD

:130/80 mmHg

RR

: 30 x/mnt

3.3. Review of System


1. Pernafasan B1 (breath)
Bentuk dada : barrel chest
Pola nafas : tidak teratur
Suara napas : mengi
Batuk : ya, ada sekret
Retraksi otot bantu napas : ada
Alat bantu pernapasan : O2 masker 6 lpm
2. Kardiovaskular B2 (blood)
Irama jantung : regular; S1,S2 tunggal.
Nyeri dada : ada, skala 6
Akral : lembab
Tekanan darah: 130/80 mmHg (hipertensi)
Saturasi Hb O2 : hipoksia
3. Persyarafan B3 (brain)
Keluhan pusing (-)
Gangguan tidur (-)
4. Perkemihan B4 (bladder)
Kebersihan : normal
Bentuk alat kelamin : normal
Uretra : normal
5. Pencernaan B5 (bowel)
Nafsu makan : anoreksi disertai mual
BB : menurun
Porsi makan : tidak habis, 3 kali sehari

Mulut : bersih
Mukosa : lembab

6. Muskuloskeletal/integument B6 (bone)
Turgor kulit : Berkeringat
Massa otot : menurun

3.4 Pengkajian Psikologi dan Spiritual


Klien kooperatif, tetap rajin beribadah dan memohon agar penyakitnya bisa disembuhkan.

3.5 Pemeriksaan Penunjang


a)
Sinar x dada: Xray tanggal 12 November dengan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya
diafragma; peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula (emfisema);
peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis), hasil normal selama periode remisi (asma).
Kesimpulan : emfisema paru.
b)

pO2 : 75 mmHg ()

c)

pCO2 : 50 mmHg ()

d)

SO3 : 100%

Analisa Data
No
1.

Data
DS:

Etiologi
Infeksi / pneumonia

Klien mengeluh sesak napas

Polusi

DO:

Usia

a) pO2 : 75 mmHg ()

Ekonomi rendah

b) pCO2 : 50 mmHg ()

Merokok

c)

SO3 : 100%

Defisiensi enzim alfa-1antitripsin, enzim protease

Inflamasi

Masalah
Gangguan
pertukaran gas

Elastisitas paru menurun

Destruksi jaringan paru

Pelebaran ruang
udara di dalam paru (bronkus
terminal menggembung)

CO2 meningkat
/ udara terperangkap dalam
paru

Sesak

RR > 20 x/menit

CO2 hiperkapnia

O2

hipoksia

Gangguan pertukaran gas

Pola napas
tidak efektif
Destruktif kapiler paru
2.

DS :
Klien mengeluh berat saat
bernapas

Penurunan perfusi O2
-Sianosis

DO :
Retraksi otot bantu
napas
-

Penurunan
perfusi jaringan perifer

RR : 30 x/menit

Penurunan ventilasi

Peningkatan upaya menangkap


O2
3.
Peningkatan RR

Retraksi otot bantu napas

4.

Pola napas tidak efektif


Bersihan jalan
napas tidak
efektif

DS :
Klien mengeluh adanya rasa
penuh di tenggorokan

Sesak (dyspnea)

DO :
Nyeri dyspnea
Produksi sekret
meningkat karena klien tidak
bisa batuk efektif.
Reflek batuk
Ditemukan suara napas menurun
ronchi

Sekret tertahan

DS :
Klien selalu mengeluh
kelelahan dan lemas

Intoleransi
aktivitas
Ronchi

DO ;
RR meningkat setelah
melakukan aktivitas
Cepat lelah saat
beraktivitas

Perfusi jaringan perifer


menurun

Ventilasi menurun

Upaya menangkap O2
meningkat

RR meningkat

Retraksi otot bantu napas

Kelelahan

Intoleransi aktivitas

3.6 Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan alveoli yang reversible.
2. Pola pernapasan berhubungan dengan ventilasi alveoli.
3. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya sekret.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan
oksigen.

suplai

3.7 INTERVENSI
No. Diagnosa
Tujuan
Kriteria Hasil
1. Gangguan pertukaran
1. Pertukaran gas pasien
gas berhubungan
kembali normal
dengan kerusakan
2. Tidak terjadi perubahan
alveoli yang reversible
fungsi pernapasan.
3. Pasien bisa bernapas
normal tanpa
menggunakan otot
tambahan pernapasan.
4. Pasien tidak mengatakan
nyeri saat bernapas.
5. PCO2 , PO2, dan SO2
normal
6. Lakukan latihan
pernapasan dalam dan
tahan sebentar untuk
membiarkan diafragma
mengembangkan secara
optimal.
7. Posisikan pasien dengan
posisi semi fowler agar
pasien bisa melakukan
respirasi dengan
sempurna.
8. Kaji adanya nyeri dan
tanda vital berhubungan
dengan latihan yang
diberikan.

Intervensi

1. Ajari pasien tentang


teknik penghematan
energi.
2. Bantu pasien untuk
mengidentifikasi tugastugas yang bisa
diselesaikan.

1. Kolaborasi :
Berikan oksigen sesuai
indikasi
Berikan penekan SSP
(anti ansietas sedatif
atau narkotik) dengan
hati-hati sesuai indikasi

Rasional
1. Pa
de

1. Me
pa

1. Ev
ke
me
da
kri
2. Me
ke
na
3. Me
de
ma
da
tug
4. Me
pe
sam

do
2.

Pola pernapasan tidak


efektif berhubungan
dengan ventilasi alveoli

1. Tidak terjadi perubahan


dalam frekuensi pola
pernapasan.
2. Tekanan nadi (frekuensi,
irama, kwalitas) normal.
3. Pasien memperlihatkan
frekuensi pernapasan
yang efektif dan
mengalami perbaikan
pertukaran gas pada
paru.
4. Pasien menyatakan
faktor penyebab, jika
mengetahui.

1. Ve
no
1.

Latih pasien napas


perlahan-lahan,
bernapas lebih efektif.

1. Jelaskan pada pasien


bahwa dia dapat
mengatasi hiperventilasi
melalui kontrol
pernapasan secara
sadar.
2. Kolaborasi:

5. Pastikan pasien bahwa


tindakan tersebut
dilakukan untuk
menjamin keamanan.
6. Alihkan perhatian pasien
dari pemikiran tentang
keadaan ansietas (cemas)
dengan meminta pasien
mempertahankan kontak
mata dengan perawat.

1. Tid
pe
pe

Pemberian obat-obatan sesuai


indikasi dokter (ex.
bronkodilator)

1. Un
ke
Se
un
efe
2. Ma
an
me
hip

1. Us
me
pa
3.

Bersihan jalan nafas


tidak efektif
berhubungan dengan
meningkatnya sekret
atau produksi mukus.

Mengatasi masalah
ketidakefektifan jalan napas

Sekret encer dan


jalan napas bersih

1. Berikan posisi yang


nyaman (fowler/ semi
fowler)

1. Anjurkan untuk minum


air hangat
2. Bantu klien untuk
melakukan latihan batuk
efektif bila
memungkinkan
3. Lakukan suction bila
diperlukan, batasi
lamanya suction kurang
dari 15 detik dan
lakukan pemberian
oksigen 100% sebelum
melakukan suction
4. Pasien lebih nyaman,
karena dapat membantu
kelancaran pola

nafasnya
5. Air hangat dapat
mengencerkan sekret
6. Batuk efektif akan
membantu
mengeluarkan sekret.
7. Jalan nafas bersih.
4.

Intoleransi aktivitas
berhubungan dengan
ketidakseimbangan
antara kebutuhan dan
suplai oksigen.

1. Pasien bernafas dengan


efektif.
2. Mengatasi masalah
intoleransi aktivitas pada
pasien
1. Pasien bisa
mengidentifikasi
kan faktor-faktor
yang
Menurunkan
toleransi
aktivitas.
2. Pasien
memperlihatkan
kemajuan,
khususnya dalam
hal mobilitas.

1. Ukur tanda vital saat


istirahat dan segera
setelah aktivitas serta
frekuensi, irama dan
kualitas.
2. Hentikan aktifitas bila
respon klien : nyeri
dada, dyspnea,
vertigo/konvusi,
frekuensi nadi,
pernapasan, tekanan
darah sistolik menurun.
3. Meningkatkan aktifitas
secara bertahap.

1. Ajarkan klien metode


penghematan energi
untuk aktifitas. ubah
posisi setiap 2 sampai 4
jam
2. Mengakaji periode
istirahat
3. Mendapatkan tanda
vital pasien normal,
baik saat istirahat
ataupun setelah
beraktifitas.
4. Masalah intoleransi
aktivitas pada pasien
dapat teratasi untuk
mengukur
tingkat/kualitas nyeri
guna intervensi
selanjutnya

3.8 Implementasi
Lakukan tindakan sesuai dengan intervensi yang akan diberikan.

3.9 Evaluasi
1. Diagnosa 1 : a. Pasien bisa bernapas normal tanpa menggunakan otot tambahan pernapasan
b. Pasien tidak mengatakan nyeri saat bernapas.
2. Diagnosa 2: a. Pasien memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif dan mengalami
perbaikan pertukaran gas pada paru.

1. Un
ke
mu
ag
2. Pe
se
me
me
ke
kli
3. Me
kli
ser
me
ya
me
pe

b. Pasien menyatakan faktor penyebab, jika mengetahui.


3. Diagnosa 3: Sekret encer dan jalan napas bersih
4. Diagnosa 4: a. Pasien bisa mengidentifikasikan faktor-faktor yang menurunkan toleran
aktivitas.
b. Pasien memperlihatkan kemajuan khususnya dalam hal mobilitas.
c. Pasien memperlihatkan turunnya tanda-tanda

3.10 WOC Emfisema


DOWNLOAD : WOC EMFISEMA

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kami ambil dari penjelasan isi makalah diatas adalah sebagai
berikut :
1. Emphysema (emfisema) adalah penyakit paru kronis yang dicirikan oleh kerusakan pada
jaringan paru, sehingga paru kehilangan keelastisannya. Gejala utamanya adalah
penyempitan (obstruksi) saluran napas, karena kantung udara di paru menggelembung
secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang luas.
2. Terdapat 3 (tiga) jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan
yang terjadi dalam paru-paru : PLE (Panlobular Emphysema/panacinar), CLE
(Sentrilobular Emphysema/sentroacinar), Emfisema Paraseptal.
3. Asuhan keperawatan pada penderita emfisema secara garis besar adalah membantu
menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen klien.

3.2 Saran
Sebagai perawat diharapkan mampu untuk melakukan asuhan keperawatan terhadap penderita
emfisema. Perawat juga harus mampu berperan sebagai pendidik. Dalam hal ini melakukan
penyuluhan mengenai pentingnya hal-hal yang dapat memperberat penyakit, hal-hal yang harus
dihindarkan dan bagaimana cara pengobatan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Baughman,D.C& Hackley,J.C.2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC


Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2001
Mills,John& Luce,John M.1993. Gawat Darurat Paru-Paru.Jakarta : EGC

Perhimpunan Dokter Sepesialis Penyakit Dalam Indonesia. Editor Kepela : Prof.Dr.H.Slamet


Suryono Spd,KE
Soemarto,R.1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi.Surabaya : RSUD Dr.Soetomo
Nurhayati.2010.(online). http://ksupointer.com/2010/emfisema-bisa-timbulkan-kematian. diakses
pada tanggal 15 November 2010
Flyfreeforhelp.2010.(online).
http://lifestyle.okezone.com/read/2010/02/22/27/306051/search.html. diakses pada tanggal 15
November 2010
,2010.(online).http://www.soft-ko.co.cc/2010/10/emfisema_06.html. diakses pada tanggal
19 November 2010