Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. Maksud Praktikum
Adapun maksud dari praktikum farmasetika I ini adalah agar mahasiswa
dapat memahami dan memiliki keterampilan dalam pembuatan obat dalam
bentuk sediaan larutan (Solutions).

B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan kegiatan praktikum ini yaitu :

Agar mahasiswa dapat memahami resep dokter

Agar mahasiswa memiliki keterampilan, kemampuan, dan pengetahuan


mengenai bahan obat dalam bentuk sediaan larutan

Agar mahasiswa dapat menghitung dosis dengan benar

Agar mahasiswa dapat menimbang bahan dengan benar

Agar mahasiswa dapat mengerjakan sediaan obat sesuai dengan yang


diminta dokter

Agar mahasiswa dapat mengetahui fungsi serta efek samping dari sediaan
obat yang dibuat

BAB II
DASAR TEORI
LARUTAN (SOLUTIO)

Menurut Farmakope Indonesia edisi III, Larutan adalah sediaan cair yang
mengandung bahan kimia terlarut, kecuali dinyatakan lain. Sedangkan menurut
Farmakope Indonesia edisi IV, Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu
atau lebih zat kimia yang terlarut.
Larutan terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan suatu cairan,
maka zat padat tadi terbagi secara molekular dalam cairan tersebut. Pernyataan
kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu 200,
kecuali dinyatakan lain menunjukkan 1 bagian bobot zat padat atau 1 bagian
volume zat cair larut dalam bagian volume tertentu pelarut. Pernyataan kelarutan
zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu kamar.
Pernyataan bagian dalam kelarutan berarti 1 g zat padat atau 1 ml zat cair
dalam sejumlah ml pelarut.
Kelarutan suatu zat yang tidak diketahui secara pasti dapat dinyatakan
dengan istilah berikut :
Jumlah
Istilah kelarutan

bagian

pelarut

diperlukan untuk melarutkan

Sangat mudah larut

Kurang dari 1

Mudah larut

1 10

Larut

10 30

Ahak sukar larut

10 100

Sukar larut

100 1000

Sangat sukar larut

1000 10.000

Praktis tidak larut

Lebih dari 10.000

yang

Sediaan larutan dibagi menjadi dua yaitu :


1.

Larutan Oral
a. Potiones adalah sediaan obat minum yang dimaksudkan untuk
penggunaan peroral.
b. Elixir adalah sediaan larutan dengan bahan obat dan bahan campuran
(tambahan) dengan pelarut yang digunakan campuran air-etanol.
c. Sirup adalah larutan yang mengandung sirup gula > 60%.
d. Netralisasi adalah sediaan larutan yang dibuat dari campuran asam dan
basa sampai reaksi selesai (netral).
e. Saturatio adalah sediaan obat yang diminum dari campuran asam dan
basa dimana gas CO2 yang terjadi ditahan sebagian sehingga larutan
jenuh dengan CO2.
f. Potio Effervescent adalah sediaan obat minum yang dibuat dari campuran
asam dan basa dimana gas CO2 yang terjadi ditahan sehingga larutan
lewat jenuh.
g. Guttae adalah sediaan obat minum yang diberikan dalam bentuk tetesan.

2.

Larutan Topikal
a. Collyrium adalah obat cuci mata.
b. Guttae Ophtalmicae adalah obat tetes mata.
c. Gargarisma adalah obat kumur mulut yang harus diencerkan lebih
dahulu.
d. Litus Oris adalah obat oles bibir.
e. Guttae Oris adalah obat tetes mulut.
f. Guttae Nasales adalah obat tetes hidung.
g. Inhalationes.
h. Injections (obat suntik).
i. Lavement.
j. Vaginal Douche adalah larutan antiseptik vagina.
k. Ephitema adalah obat kompres.

PELARUT
Pada dasarnya sebagian besar pembawa sediaan cair untuk pemakaian oral
adalah air suling atau air demineral atau aquadest. Pelarut lain yang digunakan
merupakan pembantu pelarut. Pemilihan pelarut atau larutan pembawa bagi
sediaan larutan ditentukan oleh sifat bahan obat. Seperti telah disebutkan bahwa
bahan obat kebanyakan merupakan asam atau basa organic lemah; kelarutannya
sangat dipengaruhi oleh tetapan disosiasi dan pH larutannya. Biasanya zat-zat
yang tidak berbentuk garam sukar larut dalam air. Sebagai contoh misalnya
fenobarbital. Dalam suasana basa dapat merupakan larutan dalam air, karena pada
pH tersebut fenobarbital merupakan garam yang larut dalam air. Tetapi bila pH
diturunkan menjadi kurang dari 8, maka akan terbentuk asam fenobarbital yang
tidak larut dalam air. Oleh karenanya, pada larutan yang bereaksi asam perlu
ditambahkan pembantu pelarut, dalam hal ini digunakan etanol. Pembantu pelarut
yang umum digunakan untuk sediaan oral adalah etil alcohol, propilenglikol,
gliserin atau campuran dari pelarut-pelarut tersebut.

DAPAR
Dapar diperlukan untuk menjaga kelarutan dan kestabilan maksimum
bahan obat pada daerah pH rentang tertentu. Pada umumnya kadarnya tidak boleh
melampaui 0,1 M. untuk beberapa antibiotika yang cepat terurai dalam bentuk
sediaan cair, maka penambahan dapar dimaksudkan untuk mengurangi atau
memperlambat penguraian tersebut.

PEMANIS
Rasa manis suatu pembawa dapat berasal dari sukrosa. Pemanis sukrosa
pada sediaan dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Manis ringan
Mengandung pemanis kurang dari 50% sukrosa ekivalen; digunakan untuk
elixir, suspense dan emulsi.

2. Manis sedang
Mengandung pemanis 50 100% sukrosa ekivalen; digunakan pada
kebanyakan larutan obat.
3. Manis sekali
Mengandung pemanis lebih dari 100% sucrose ekivalen; digunakan pada
sediaan yang rasanya sangat tidak enak. (Farnasetika Dasar, 2009)

CARA PENIMBANGAN ZAT CAIR


Zat cair atau cairan biasanya ditimbang dalam botol yang digunakan
sebagai wadah yang diberikan. Mula-mula diberi tutup gabus yang cocok, dengan
mencoba tutup ini dengan memegang tutup botol dan menekan tutup gabusnya
dengan ibu jari pada mulut botolnya. Lalu botol beserta gabus diletakkan di
bagian piring timbangan sebelah kanan dan dibagian piring timbangan sebelah kiri
diletakkan butir-butir gotri sebagai tara, selanjutnya di samping kotak tara pada
piring timbangan sebelah kiri diletakkan anak timbangan sesuai cairan yang akan
ditimbang, lalu cairan diisikan pada botol sampai berat yang ditentukan.
Perlu diperhatikan pada waktu menuang dari botol persediaan cairan
supaya etiket botol diarahkan ke atas agar tidak kotor karena tetesan cairan. JIka
ingin menimbang campuran cairan, maka caranya adalah dengan menimbang
cairan berurutan di dalam botol, dimulai dengan cairan yang tidak mudah
menguap, dan yang jumlahnya sedikit. Cairan yang mudah menguap ditambahkan
terakhir untuk menghindari kekurangan karena penguapan dan menghindari
pengotoran pada isi cairan botol persediaan berikutnya karena uapnya masuk ke
dalam cairan dari botol persediaan. Zat cair yang mudah menguap tersebut adalah
Aether, Aethyl Acetas, Chloroformum, Aethylis Nitris cum Spiritu, S.A.S.A.,
Valerianae Tinctura.

CARA MELARUTKAN ZAT


1. Zat-zat yang mudah larut, dilarutkan dalam botol.
2. Zat-zat yang agak sukar larut dilarutkan dengan pemanasan.
Masukkan zat padat yang akan dilarutkan dalam Erlenmeyer, setelah itu
dimasukkan zat pelarutnya, dipanasi di atas tangas air atau api bebas dengan
digoyang-goyangkan sampai larut. Zat padat yang hendak dilarutkan
dimasukkan dalam erlenmeyer dulu, mencegah jangan sampai ada yang
lengket pada leher erlenmeyer. Pemanasan dilakukan dengan api bebas
sambil digoyang-goyangkan untuk menjaga pemanasan kelewat setempat.

3. Untuk zat yang akan terbentuk hidrat maka air dimasukkan dulu dalam
erlenmeyer agar tidak terbentuk senyawa hidrat yang lebih lambat larutnya.
Zat-zat tersebut adalah Glucosum, Borax dan Natrii Bromidum.
4. Untuk zat yang meleleh dalam air panas dan merupakan tetes besar dalam
dasar erlenmeyer atau botol maka perlu dalam melarutkan digoyanggoyangkan atau digojok untuk mempercepat larutnya zat tersebut. Zat
tersebut adalah Codeinum base, Nipagin, Chlorbutanolum, dan Acetanilidum.
5. Zat-zat yang mudah terurai pada pemanasan tidak boleh dilarutkan dengan
pemanasan dan dilarutkan secara dingin. Zat tersebut ialah: Hexaminum,
Natrii Bicarbonas, Chlorali Hydras, Protargol, Luminal Natrium, Veronal
Natrium, Calcii Acetylsalicylas.
6. Zat-zat yang mudah menguap bila dipanasi, dilarutkan dalam botol terutup
dan dipanaskan serendah-rendahnya sambil digoyang-goyangkan. Zat
tersebut ialah: Camphora, Thymolum, Acidum Benzoicum dan Acidum
Salicylicum.
7. Obat-obat keras harus dilarutkan tersendiri, untuk meyakini apakah sudah
larut semua. Dapat dilakukan dalam tabung reaksi lalu dibilas.
8. Perlu diperhatikan bahwa pemanasan hanya diperlukan untuk mempercepat
larutnya suatu zat, tidak untuk menambah kelarutan, sebab bila keadaan
menjadi dingin maka akan terjadi endapan.

CARA PENYARINGAN
Cairan yang akan diserahkan pasien harus jernih, bila terdapat kotoran
yang tidak larut harus disaring. Untuk larutan obat minum atau kulit penyaringan
dilakukan dengan menggunakan kapas hidrofil sedangkan untuk cuci mata atau
tetes mata digunakan kertas saring yang cocok.
Pada corong diletakkan kapas hidrofil atau kertas saring lalu dituangkan
larutan

yang

akan

disaring.

Bagian

filtrate

yang

pertama

(kira-kira

seperempatnya), setelah digojok dalam botol wadahnya dituangkan kembali ke


dalam corong tadi, hal ini untuk menyaring serabut kertas filter atau kapas yang
ikut dengan filtrate pertama, setelah itu larutan seluruhnya disaring. Untuk
menjaga jangan sampai ada zat yang larut terutama zat organik hilang diserap
kertas saring atau kapas karena akan mengurangi kadar zat yang larut, maka
membuat larutan yang lebih dan bagian filtrate yang pertama dibuang. Karena
saringan sudah jenuh dengan zat yang diserap maka filtrate berikutnya tidak ada
lagi zat yang larut yang akan diserap oleh saringan.
Larutan yang digunakan untuk injeksi, penyaringan dilakukan dengan
saringan gelas (G3 atau G4).
Penyaringan untuk larutan zat-zat oksidator (Argenti Nitras, P.K,
Perhydrol) digunakan dengan saringan gelas, asbes atau glas wol untuk
menghindari reduksi zatnya dan teroksidasinya kertas filter atau kapasnya.
Larutan koloidal seperti Protargol, Argentum colloidale tidak disaring bila
diperlukan diendapkan dan dituang larutan yang jernih. (IMO, hal 95 101)

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
PRAKTIKUM II
Resep 1
I. Resep Asli

Dr. Rahmad
SIP. NO. 451/SIP/DKK/2002
Jl. Imam Bonjol 60 Samarinda
Samarinda, 03 Maret 2012
R/ Paracetamolum 50 ml (125 mg/ml)
m.f.elixir S q.dd.cth I
Pro : Diana (5 thn)
a. Resep Standar
b. Kelengkapan Resep
- Paraf dokter tidak tertera
- Alamat pasien tidak tertera
- Nomor telepon dokter tidak tertera

c. Penggolongan Obat :
O :
G :
W:
B : Parasetamol

d. Komposisi Bahan
Tiap 50 ml mengandung :
- Parasetamol

= 1250 mg

- Etanol

11 ml

- Gliserin

2,5 ml

- Oleum citri

2 tetes

- FD & C yellow

1 ml

- Aqua

ad 50 ml

II. Uraian Bahan


1. Parasetamol ( FI III, hal 37 )
a. Sinonim

: Acetaminofenum, Asetaminofen..

b. Khasiat

: Analgetikum ; Antipiretikum.

c. Pamerian

: Hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa


pahit.

d. Kelarutan

: Larut dalam 70 bagian air; dalam 7 bagian etanol


(95%) P; dalam 13 bagian aseton P; dalam 40
bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol
P; larut dalam larutan alkali hidroksida.

f. Farmakologi

: Daya antipiretisnya berdasarkan rangsangan pusat


pengatur kalor di hipotalamus yang mengakibatkan

vasodilatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya


pengeluaran kalor yang disertai keluarnya banyak
keringat.

Daya

antiradang

(anti

flogistis),

kebanyakan analgetik memiliki daya antiradang,


khususnya kelompok besar dari zat-zat penghambat
prostaglandin.
g. Dosis

: - DL anak

- DM dewasa

1x

= 100 mg 200 mg

1h

= 400 mg 800 mg

1h

=4 g

(Martindle 32th, hal 1080)

2. Gliserin ( FI III, hal 271)


a. Sinonim

: Glycerolum, Glycerol.

b. Khasiat

: Zat tambahan sebagai pemanis.

c. Pamerian

: Cairan seperti sirop jernih, tidak berwarna, tidak


berbau, manis diikuti rasa hangat, higroskopis. Jika
disimpan beberapa lama pada suhu rendah,
memadat membentuk massa hablur tidak berwarna
dan tidak melebur hingga suhu mencapai kurang
lebih 200 C.

d. Kelarutan

: Dapat campur dengan air, dengan etanol 95% P,


praktis tidak larut dalam kloroform P dan dalam
minyak lemak.

e. Konsentrasi

: 5% (Scovilles, 504)

3. Oleum Citri ( FI III, hal 455 )


a. Sinonim

: Minyak jeruk

b. Khasiat

: Pengaroma (zat tambahan)

c. Pamerian

: Cairan kuning pucat atau kuning kehijauan,


bau khas, rasa pedas dan agak pahit.

d. Kelarutan

: Larut dalam 12 bagian volume etanol (90%)


larutan agak beropalesensi, dapat bercampur
dengan etanol mutlak

e. Konsentrasi

: 0,2 % - 0,3 % (Vallen Lyod, 99)

4. Etanol ( FI III, hal 65 )


a. Sinonim

: Aethanolum, Alkohol.

b. Khasiat

: Zat tambahan sebagai pelarut.

c. Pemerian

: Cairan tidak berwarna, jernih mudah menguap


dan mudah bergerak,bau khas, rasa panas,

mudah terbakar dengan memberikan nyala


biru yang tidak berasap.
d. Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform


P, dan dalam eter P.

5. FD & C Yellow ( MD 32th, hal 1001


a. Sinonim

: Tartrazin

b. Khasiat

: Zat tambahan sebagai pewarna

c. Kelarutan

: Larut dalam air, dan membentuk larutan


kuning, mudah larut dalam alkohol larut dalam
gliserol, dan propilenglikol, praktis tidak larut
dalam minyak lemak.

d. Konsentrasi

: 0,01 % (Handbook of Pharmacentical


Exiplens, hal 152)

6. Aqua Destilata ( FI III, hal 96 )


a. Sinonim

: Air suling

b. Khasiat

: Pelarut (zat tambahan)

c. Pamerian

: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau,


tidak mempunyai rasa.

III. Perhitungan Dosis


1. Parasetamol
DM Dewasa 1h = 4 g
DM anak 1h = n x DM = 5 x 4 g = 1,176 g = 1176 mg
n+12
5+12

1x = 1176 mg
4
DL

DDR

= 294 mg

= 1x

= 100 mg - 200 mg

1h

= 400 mg - 800 mg

Banyak PCT dlam 1 Cth 12 mg/5ml


1x = 125 mg
1h = 4 x 125 mg = 500 mg

Kesimpulan

: Dosis terapi

IV. Penimbangan Bahan


1.

Parasetamol

Pelarut (Etanol)

= Parasetamol larut dalam 7 bagian etanol


=
=

50 ml
5 ml

x 125 mg = 1250 mg = 1,25 g

1,25 g x 7 = 8,75 g
8,75 g

= 10, 79 ml = 11 ml

0,811 g/ml
2.

Glycerin

5 % x 50 ml = 2,5 ml

3.

Oleum Citri

0,2 % x 50 ml = 0,1 ml x 20 tetes = 2 tetes

4.

FD & C Yellow

0,01 % x 50 ml = 0,005 g = 5 mg

5.

Aqua

50 g - ( 1,25+11+2+2,5+4 ) = 29,25 ml = 30 ml

Pengenceran FD & C Yellow :


5 mg x 10 ml = 1 ml
50 mg
Bahan yang diambil (FD & C Yellow) = 50 mg
Pelarut ( Air )

= 10 ml

V. Cara Kerja
1. Disiapkan semua alat dan bahan.
2. Ditara botol 50 gram/50 ml.
3. Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai perhitungan.
4. Dilakukan pengenceran FD & C Yellow (diambil 10 ml).
5. Dilarutkan parasetamol dengan etanol dalam erlenmeyer lalu aduk hingga
homogen dan tambahkan gliserin dan aduk hingga homogen.
6. Dimasukkan pengenceran FD & C Yellow dalam erlenmeyer lalu aduk
dan masukkan dalam botol.
7. Diteteskan Oleum citri 2 tetes lalu kocok larutan.
8. Ditambahkan air hingga batas volume kalibrasi.
9. Ditutup botol, dikemas dan beri etiket putih.

VI. Penandaan
Etiket Putih
Laboratorium Farmasetika I
Akademi Farmasi Samarinda
Apt. Fedri Baysar
No. I

Tgl : 3 Maret 2012

Diana (5 thn)
4 x sehari 1 sendok teh
KOCOK DAHULU

VII.

Edukasi
1. Obat ini berkhasiat untuk membantu menurunkan suhu tubuh, disertai
rasa nyeri.
2. Obat ini diminum 4x sehari 1 sendok teh, sebaiknya diminum setelah
makan karena dapat mengiritasi lambung.
3. Efek samping yang mungkin terjadi adalah gangguan pada hati bila
penggunaan jangka panjang.
4. Obat ini disimpan ditempat sejuk dan terlindung dari sinar matahari.

Resep 2
I. Resep Asli
Dr. Khaerudin
SIP. No. 971/SIP/DKK/2003
Jl. Agus salim 16 Samarinda
Samarinda, 03 Maret 2012

R/ Phenobarbital

80 ml

(20mg/5ml)

M.f. Elixir S. t.dd cth I

Pro : Siti (13 thn)

a. Resep Standar
-

b. Kelengkapan resep
- Paraf dokter tidak tertera
- Alamat pasien tidak tertera
- Umur pasien tidak tertera
- Nomor telepon dokter tidak tertera

c. Penggolongan obat
O :
G : Phenobarbital
W:
B :

d. Komposisi bahan
- Phenobarbital

0,32 g

- Etanol

10 ml

- Gliserin

4 ml

- Oleum Citri

3 tetes

- FD & C Yellow

4 ml

- Aqua

ad

80 ml

II. Uraian Bahan


1. Phenobarbitalum ( FI III, hal 481 )
a. Sinonim

: Phenobarbital, Luminal.

b. Khasiat

: Sedativum.

c. Pamerian

: Hablur / sendok hablur, putih tidak berbau, rasa agak


pahit.

d. Kelarutan

: Sangat sukar larut dalam air, larut dalam etanol


(95%), dalam eter, daam larutan alkali karbonat.

e. Farmakologi

: Resorpsi diusus baik (70 - 90%) dan lebih kurang


50% terikat pada protein, plasma t panjang, lebih
kurang 3-4 hari, maka dosisnya dapat diberikan
sehari sekaligus.

f. Dosis

: DL anak 1x = 15 mg 20 mg
1h = 45 mg 80 mg

DM

1x = 300 mg
1h = 600 mg

2. Gliserin ( FI III, hal 271)

a. Sinonim

: Glycerolum, Glycerol.

b. Khasiat

: Zat tambahan sebagai pemanis.

c. Pemerian

: Cairan seperti sirop jernih, tidak berwarna, tidak


berbau, manis diikuti rasa hangat, higroskopis.
Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah,
memadat membentuk massa hablur tidak
berwarna dan tidak melebur hingga suhu
mencapai kurang lebih 200 C.

d. Kelarutan

: Dapat campur dengan air, dengan etanol 95% P,


praktis tidak larut dalam kloroform P dan dalam
minyak lemak.

e. Konsentrasi

: 5% (Scovilles, 504)

3. Oleum Citri ( FI III, hal 455 )


a. Sinonim

: Minyak jeruk

b. Khasiat

: Pengaroma (zat tambahan)

c. Pamerian

: Cairan kuning pucat atau kuning kehijauan,

bau khas, rasa pedas dan agak pahit.


d. Kelarutan

: Larut dalam 12 bagian volume etanol (90%)


larutan agak beropalesensi, dapat bercampur
dengan etanol mutlak.

e. Konsentrasi

: 0,2 % - 0,3 % (Vallen Lyod, 99)

4. Etanol ( FI III, hal 65 )


a. Sinonim

: Aethanolum, Alkohol.

b.

Khasiat

: Zat tambahan sebagai pelarut.

c.

Pemerian

: Cairan tidak berwarna, jernih mudah menguap


dan mudah bergerak,bau khas, rasa panas,
mudah terbakar dengan memberikan nyala biru
yang tidak berasap.

d.

Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform


P, dan dalam eter P.

5. FD & C Yellow ( MD 32th, hal 1001 )


a. Sinonim

: Tartrazin.

b. Khasiat

: Zat tambahan sebagai pewarna.

c. Kelarutan

: Larut dalam air, dan membentuk larutan


kuning, mudah larut dalam alkohol larut dalam

gliserol, dan propilenglikol, praktis tidak larut


dalam minyak lemak.
d. Konsentrasi

: 0,01

(Handbook

of

Pharmacentical

Exiplens, hal 152)

6. Aqua Destilata ( FI III, hal 96 )


a. Sinonim

: Air suling

b. Khasiat

: Zat Tambahan (pelarut)

c. Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak


mempunyai rasa.

III. Perhitungan Dosis


1. Phenobarbital
DL anak

1x = 15 mg 20 mg
1h = 45 mg 80 mg

DM dewasa 1x = 300 mg
1h = 600 mg

DM anak

1x = n x DM dewasa
20
= 13 x 300 mg = 195 mg
20
1h = 13 x 600 mg = 390 mg
20

DDR

: 1x = 20 mg
1h = 20 mg x 3 = 60 mg

Kesimpulan : Dosis Terapi

IV. Penimbangan Bahan


1. Phenobarbital

= 80 ml

x 20 mg = 320 mg = 0,32 g

5 ml

Pelarut (Etanol) =
=

Phenobarbital larut dalam 10-30 bagian etanol


0,32 g x 25 = 8 g

= 9,85 ml = 10 ml

0,811 g/ml

2. Glycerin

= 5 % x 80 ml = 4 ml

3. Oleum Citri

= 0,2 % x 80 ml = 0,61 ml x 20 tetes = 3 tetes

4. FD & C Yellow = 0,01 % x 80 ml = 0,008 g = 8 mg


5. Aqua

= 80 ml - ( 0,32+10+4+3+4 ) = 58,68 ml = 60 ml

Pengenceran FD & C Yellow :


8 mg x 25 ml = 4 ml
50 mg
Bahan yang diambil (FD & C Yellow) = 50 mg
Pelarut ( Air )

= 25 ml

V. Cara kerja
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Dikalibrasi botol 80 gram/80 ml.
3. Ditimbang bahan sesuai dengan perhitungan.

4. Dilakukan pengenceran FD & C Yellow (diambil 4ml).


5. Dilarutkan phenobarbital dengan etanol dalam erlenmeyer lalu aduk
hingga homogen dan tambahkan gliserin dan aduk hingga homogen.
6. Dimasukkan pengenceran FD & C Yellow dalam erlenmeyer lalu aduk
dan masukkan dalam botol.
7. Diteteskan Oleum citri 3 tetes lalu kocok larutan.
8. Ditambahkan air hingga batas volume kalibrasi.
9. Ditutup botol, dikemas dan beri etiket putih.
VI. Penandaan
Etiket Putih
Laboratorium Farmasetika I
Akademi Farmasi Samarinda
Apt : Fedri Baysar
No.2

Tgl : 3 Maret 2012


Siti (13 thn)
3 x Sehari 1 Sendok Teh
KOCOK DAHULU

TIDAK BOLEH DIULANG TANPA RESEP DOKTER

VII. Edukasi
1. Obat ini berfungsi sebagai obat penenang dan obat tidur.
2. Obat ini diminum 3 x Sehari 1 Sendok teh.
3. Obat ini dikocok sebelum diminum.
4. Obat ini disimpan ditempat sejuk dan terlindung dari sinar matahari.
5. Tidak boleh diulang tanpa resep dokter.
6. Efek samping sembelit, tekanan darah menurun.

Resep 3
I. Resep Asli
Dr. Mahendra
SIP. NO. 992/SIP/DKK/2001
Jl. Kemakmuran Samarinda
Samarinda, 03 Maret 2012

R/

Potio nigra C tussim


Adde
Ascal
m.f. da S. t.dd C I

100
3

Pro : Andi (11 thn)

a.

Resep Standar
- Potio nigra C tussim ( obat batuk hitam) mengandung :
R/ Succus Liquiritae

10

Amm. Chlorid

SASA

Aquadest

ad 300

(FMS, hal 23)

- SASA (Solutio Ammoniae Sprituosa Anisi) mengandung :


R/ Minyak Anisi

Etanol

76

Amonia encer

20

(Formin, hal 158)

- Ascal (diperoleh dari resep standar potio Ascal) mengandung :


R/ Ascal

NaBr

Aqua

ad 100

Ascal dapat dibuat recenter paratus dengan mereaksikan 5 g asetosal


dengan 1,670 g calcium carbonat.
(FMS, hal 8)

b.

Kelengkapan Resep
- Paraf dokter tidak tertera
- Alamat pasien tidak tertera

c.

Penggolongan Obat
O :
G :
W : Ammonium Chlorida
B : Succus Liquiritae, SASA, Asetosal, CaCO3

d.

Komposisi Bahan
- Succus Liquiritae

3,3 g

- Amm. Chlorid

4,1 g

- SASA

2g

- Asetosal

2,5 g

- Calcii Carbonas

0,84 g

- Aqua

ad 100

II. Uraian Bahan


1. Succus Liquiritae (FI III, hal 275)
a. Sinonim

: Glycyrrhizae succus, ekstrak akar manis.

b. Khasiat

: Ekspektoran dan zat tambahan.

c. Pamerian

: Batang berbentuk silindris atau bongkahan besar,


licin agak mengkilap hitam, coklat tua atau serbuk
berwarna coklat, bau lemah, rasa khas.

d. Farmakologi

: Mempermudah keluarnya dahak, bersifat spasmolitis


serta memperbaiki rasa. (OOP V, hal 625)

e. Inkompatibilitas :

Succus

liquiritae

dengan

asam-asam

akan

memisahkan asam Glycyrrhizae yang mengendap.


(Tak tercampurkan obat-obat, hal 101)

2. Ammonium Chlorida (FI III, hal 87)


a. Sinonim

: Ammonia klorida, salmiak.

b. Khasiat

: Ekspektoran.

c. Farmakologi

: Berdaya diuretik lemah sehingga mengakibatkan


keasaman darah merangsang pusat pernafasan. Hal
ini mengakibatkan frekuensi nafas meningkat.

d. Pamerian

: Serbuk butir atau hablur, putih, tidak berbau, rasa


asin dan dingin, higroskopik.

e. Kelarutan

: Mudah larut dalam air dan gliserol dan ulia


disalurkan pernafasan di stimulasi, sekresi dahak
meningkat. (OOP V, hal 624)

e. Dosis

: DL anak 1x = 1h = 75 mg/kg (dibagi dalam 4 dosis)


DM dewasa 1x = -

1h = 10 g

3. Minyak Anisi (FI III, hal 452)


a. Sinonim

: Oleum anisi.

b. Khasiat

: Zat Tambahan dan sebagai obat batuk.

c. Pemerian

: Cairan tidak berwarna atau kuning pucat, bau


menyerupai buahnya, rasa manis dan aromatik,
menghablur jika didinginkan.

4. Etanol (FI III, hal 65)


a. Sinonim

: Aethaholum, alkohol.

b. Khasiat

: Zat tambahan, sebagai pelarut.

c. Pemerian

: Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap


dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas. Mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang
tidak berasap.

d. Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform


dan eter.

e. Inkompatibilitas

: Aethanol dengan garam-garam akan terjadi


pemisahan karena tidak larut. (Tak tercampurkan
obat-obatan, hal 10)

5. Asetosal ( FI III, hal 43)


a. Sinonim

: Acidum acetylsalicylicum, Asam salisilat.

b. Khasiat

: Analgetikum dan Antipiretikum.

c. Farmakologi

: Menghambat agregasi trombosit, hal ini tidak


reversible dan berdasarkan keadaan blockade
enzim siklooksigenase yang bertahan selama
hidupnya, trombosit obat ini juga berkhasiat
antiradang akibat gagalnya sintesa prostaglandin-T
(OOP V, hal 298)

d. Pemerian

: Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih,


tidak berbau atau hampir tidak berbau, rasa asam.

e. Kelarutan

: Agak sukar larut dalam air, mudah larut dalam


etanol, larut dalam kloroform.

f. Dosis

: DL anak 1x = 30 mg 40 mg/tahun
1 h = 90 mg 160 mg/tahun
DM dewasa 1x = 1 g
1h = 8 g

6. Calcii Carbonas (FI III, hal 120)


a. Sinonim

: Kalsium Karbonat.

b. Khasiat

: Antasidum.

c. Farmakologi

: Menetralkan asam lambung sambil melepaskan


banyak gas CO2 yang diduga bias merangsang
dinding denga mencetuskan perforasi dari tukak.
(OOP V, hal 253)

d. Pemerian

: Serbuk hablur, putih, tidak berbau, tidak berasa.

e. Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam air, sangat sukar larut


dalam air yang mengandung CO2.

f. Inkompatibilitas

: CaCO3 dengan zat yang bereaksi asam akan


membebaskan CO2. (Tak tercampurkan obatobatan, hal 30)

7. Aquadest (FI III, hal 96)


a. Sinonim

: Aqua destillata, air suling.

b. Khasiat

: Zat Tambahan (pelarut).

c. Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak


mempunyai rasa.

III. Perhitungan Dosis


1. Ammonia Chlorida
Berat badan anak laki-laki umur 11 tahun 6 bulan adalah 26,5 kg. (ISO
42, hal 445)
Berat/bulan = 26,9 kg = 0,195 kg/bulan
138 bulan
Berat badan umur 11 tahun (132 bulan) = 132 bulan x 0,195 kg/bulan
= 25,74 kg
DL anak

1h = 75 mg/kg x 25,74 kg = 1930,5 mg = 1,930 g


1x = 1930,5 mg = 482,62 mg
4

DM Dewasa 1h = n x DM dewasa
20
= 11 x 10 g = 5,5 g
20
1x = 5,5 g = 1,8 g
3
DDR : 1C = 15 ml
Banyaknya ammonia chloride dalam 1 C = 15 ml x 100 g x 2
103 ml 300 g
= 0,29 g

1x = 1 x 0,29 g = 0,29 g = 0,3 g


1h = 3 x 0,3 g = 0,9 g
Kesimpulan

: Dosis subterapi

Rekomendasi : Dosis dinaikkan menjadi


1x = 600 mg
1h = 3 x 600 mg = 1800 mg

2. Asetosal
DL anak 1x = 30 mg/thn x 11 thn = 330 mg
= 40 mg/thn x 11 tahun = 440 mg
1h = 90 mg/thn x 11 thn = 990 mg
160 mg/thn x 11 thn = 1760 mg
DM anak

1x = 11 x 1 g = 0,55 g
20
1h =

DDR

11 x 8 g = 4,4 g
20

: Banyaknya obat dalam 1 C = 15 ml x 3 g x 5 g


103 ml
6g
= 0,36 g
1x = 0,36 g
1h = 3 x 0,36 g = 1,08 g

Kesimpulan

: Dosis terapi

Perbaikan resep
R/ Succus Liquiritae

3,3

Ammonia Chlorid

4,1

SASA

Aqua

ad 100

Adde
Asetosal

2,5

Calcii Carbonas

0,84

IV. Penimbangan Bahan


1. Succus Liquiritae

= 10 g x 100 g = 3,3 g
300 g

2. Ammonia Chlorid

= 6 g x 100 g = 2 g, diganti menjadi


300 g

Jumlah C

= 103 ml = 6,87
15 ml

Jumlah Ammonia dalam 1 C

= 600 mg x 6,87 = 4120 mg = 4100 mg

Pelarut (Air)

= 4,450 g x 2 = 4,1 ml

3. SASA
Oleum anisi

Volume oleum anisi

= 6 g x 100 g = 2 g
300 g
= 4 x 2 = 0,08 g
100
= m = 0,08 = 0,08
P
0,978
= 0,08 x 20 tetes = 1,6 = 2 tetes

Etanol

= 76 x 2 = 1,52 g
100

Volume etanol

= m = 1,52 g = 1,87 ml = 2 ml
P
0,811

Ammonia liq

= 20 x 2 = 0,4 g
100

Volume Ammonia liq

=m
P

= 0,4 = 0,42 ml = 0,5 ml


0,955

4. Asetosal

= 3g x 5 g = 2,5 g
6g

5. Calcii Carbonas

= 1/3 x 2,5 = 0,833 g = 0,840 g

6. Aqua

ad

103

V. Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Dikalibrasi botol 103 ml.
3. Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai perhitungan.
4. Dilarutkan ammonia chloride dengan air di dalam Erlenmeyer hingga
larut, dimasukkan dalam beker gelas.
5. Dibuat ascal. Masukkan asetosal ke dalam mortir, kemudian digerus
hingga halus, tambahkan kalsium karbonat, lalu tambahkan air sedikit
demi sedikit sambil terus digerus sampai CO2 nya hilang. Masukkan ke
dalam botol dengan disaring.
6. Dimasukkan succus ke dalam mortir, lalu ditambahkan air sama banyak
(3,5 ml), lalu digerus sampai tercampur, kemudian tambahkan air sedikit

demi sedikit sampai larut dan tercampur seluruhnya. Masukkan ke dalam


gelas beker (campuran no.4), aduk hingga homogen.
7. Dimasukkan campuran dalam gelas beker ke dalam botol.
8. Dibuat SASA dengan cara mencampurkan etanol dengan ammonia liq, di
aduk di Erlenmeyer hingga larut lalu diteteskan oleum anisi, dimasukkan
ke dalam botol, terakhir ditambahkan air hingga 103 ml.
9. Ditutup dan kemas botol, diberi etiket putih.

VI. Penandaan
Etiket Putih

Laboratorium Farmasetika I
Akademi Farmasi Samarinda
Apt : Fedri Baysar
No.3

Tgl : 12 Maret 2012

Andi (11 thn)


3 x sehari 1 sendok makan
KOCOK DAHULU

VII. Edukasi
1. Obat ini mengobati batuk dengan mempermudah keluarnya dahak
(ekspektoran)

serta

analgetik

dan

antipiretik

nyeri/pusing dan demam yang mungkin timbul.

untuk

mengurangi

2. Obat ini diminum 3 x sehari 1 sendok makan, sebaiknya diminum sesudah


makan, karena kemungkinan naiknya asam lambung akibat pemakaian
asetosal.
3. Efek samping dari obat ini adalah gangguan lambung (mual, muntah) serta
dapat menimbulkan sembelit akibat penggunaan CaCO3.
4. Obat ini sebaiknya disimpan ditempat yang sejuk dan terlindung dari sinar
matahari.

BAB IV
PEMBAHASAN
RESEP 1
Pada praktikum kali ini membuat sediaan berupa eliksir (elixira), yaitu
sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap, selain obat
mengandung juga zat tambahan seperti gula atau pemanis lain, zat warna, zat
pewangi dan zat pengawet dan digunakan sebagai obat dalam (FI III, hal 8).
Pada praktikum farmasetika I ini, pembuatan elixir dilakukan sesuai
dengan resep yang ada. Pada resep 1, praktikan membuat sediaan dengan bahan
Parasetamol, etanol, gliserin, oleum citri, FD & C yellow dan Aqua.
Zat-zat aktif yang digunakan dalam resep ini, yaitu :

Parasetamol yang berkhasiat sebagai analgetikum dan antipiretikum.

Zat-Zat tambahan lain yang digunakan adalah :

Etanol yang berguna sebagai pelarut.

Oleum citri yang berguna sebagai pengaroma.

Gliserin yang berguna sebagai pemanis.

FD & C yellow yang digunakan sebagai pewarna.

Aqua destillata yang berguna sebagai pelarut.

Dalam proses pengerjaannya adalah disiapkan alat dan bahan yang


diperlukan praktikum, Dikalibrasi botol 50 gram/50 ml. Ditimbang bahan-bahan

yang diperlukan sesuai perhitungan. Dilakukan pengenceran FD & C Yellow


(diambil 1 ml). Dilarutkan parasetamol dengan etanol dalam erlenmeyer lalu aduk
hingga homogen dan tambahkan gliserin dan aduk hingga homogen. Dimasukkan
pengenceran FD & C Yellow dalam erlenmeyer lalu aduk dan masukkan dalam
botol. Diteteskan Oleum citri 2 tetes lalu kocok larutan. Ditambahkan air hingga
batas volume kalibrasi. Ditutup botol, dikemas dan beri etiket putih.

RESEP 2
Pada praktikum kali ini membuat sediaan larutan dengan menggunakan
bahan Phenobarbital, Etanol, Oleum citri, Gliserin, FD & C yellow dan Aqua.
Zat-zat aktif yang digunakan dalam resep ini, yaitu :

Phenobarbital yang berkhasiat sebagai hipnotikum dan sedativum.

Zat-Zat tambahan lain yang digunakan adalah :

Etanol sebagai zat pelarut.

Oleum citri sebagai pengaroma.

Gliserin sebagai pelarut, pemanis.

FD & C yellow sebagai pewarna.

Aqua sebagai pelarut.

Dalam pengerjaannya pertama-tama disiapkan alat dan bahan , lalu


dikalibrasi botol 80 gram/80 ml. Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai
perhitungan. Dilakukan pengenceran FD & C Yellow (diambil 4 ml). Dilarutkan
phenobarbital dengan etanol dalam erlenmeyer lalu aduk hingga homogen dan
tambahkan gliserin dan aduk hingga homogen. Dimasukkan pengenceran FD & C
Yellow dalam erlenmeyer lalu aduk dan masukkan dalam botol. Diteteskan
Oleum citri 3 tetes lalu kocok larutan. Ditambahkan air hingga batas volume
kalibrasi. Ditutup botol, dikemas dan beri etiket putih.

RESEP 3
Pada resep 3 praktikan membuat sediaan dengan menggunakan bahan
Succus liquiritae, Ammonia chlorid, SASA yang mengandung minyak anisi,
etanol, ammonia encer, kemudian Ascal yang mengandung asetosal dan kalsium
karbonat serta Aqua.
Zat-zat aktif yang digunakan adalah :

Succus Liquiritae berkhasiat sebagai Ekspektoran yang mempermudah


keluarnya dahak, bersifat spasmolitis serta memperbaiki rasa.

Ammonia klorida berkhasiat sebagai Ekspektoran yang berdaya diuretic


lemah sehingga mengakibatkan keasaman darah dan merangsang pusat
pernapasan. Hal ini mengakibatkan frekuensi nafas meningkat.

Kalsium Karbonat berkhasiat sebagai Antasidum yang menetralkan asam


lambung sambil melepaskan banyak gas CO2yang diduga bias merangsang
dinding dengan mencetuskan perforasi dari tukak.

Asetosal berkhasiat sebagai Analgetikum dan Antipiretikum.

Zat-zat tambahan yang digunakan adalah :

Oleum anisi berguna sebagai zat pengaroma.

Etanol berguna sebagai pelarut.

Aqua berguna sebagai pelarut.

Dalam pengerjaannya pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang


diperlukan. Dikalibrasi botol 103 ml. Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan
sesuai perhitungan. Dilarutkan ammonia chloride dengan air di dalam Erlenmeyer
hingga larut, dimasukkan dalam beker gelas. Dibuat ascal. Masukkan asetosal ke
dalam mortir, kemudian digerus hingga halus, tambahkan kalsium karbonat, lalu
tambahkan air sedikit demi sedikit sambil terus digerus sampai CO2 nya hilang.
Masukkan ke dalam botol dengan disaring. Dimasukkan succus ke dalam mortir,
lalu ditambahkan air sama banyak (3,5 ml), lalu digerus sampai tercampur,
kemudian tambahkan air sedikit demi sedikit sampai larut dan tercampur
seluruhnya. Masukkan ke dalam gelas beker (campuran no.4), aduk hingga
homogen. Dimasukkan campuran dalam gelas beker ke dalam botol. Dibuat
SASA dengan cara mencampurkan etanol dengan ammonia liq, di aduk di
Erlenmeyer hingga larut lalu diteteskan oleum anisi, dimasukkan ke dalam botol,
terakhir ditambahkan air hingga 103 ml. Ditutup dan kemas botol, diberi etiket
putih.

BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Setelah menjalani praktikum, praktikan dapat mengambil kesimpulan


bahwa sediaan serbuk pertama mengandung Parasetamol, etanol, gliserin, oleum
citri, FD & C yellow dan Aqua yang dibuat sebanyak 50 ml. Obat ini berkhasiat
untuk membantu menurunkan suhu tubuh, disertai rasa nyeri. Obat ini diminum
4x sehari 1 sendok teh, sebaiknya diminum setelah makan karena dapat
mengiritasi lambung. Efek samping yang mungkin terjadi adalah gangguan pada
hati bila penggunaan jangka panjang. Obat ini disimpan ditempat sejuk dan
terlindung dari sinar matahari.
Setelah menjalani praktikum, praktikan dapat mengambil kesimpulan bahwa
sediaan kedua mengandung Phenobarbital, Etanol, Oleum citri, Gliserin, FD & C
yellow dan Aqua yang dibuat sebanyak 80 ml. Obat ini berfungsi sebagai obat
penenang dan obat tidur, diminum 3 x Sehari 1 Sendok teh. Obat ini dikocok
sebelum diminum, disimpan ditempat sejuk dan terlindung dari sinar matahari.
Efek samping dari obat ini adalah sembelit, tekanan darah menurun. Obat ini tidak
boleh diulang tanpa resep dokter.

Kesimpulan dari resep 3 adalah bahwa sediaan ketiga ini mengandung


bahan Succus liquiritae, Ammonia chlorid, SASA yang mengandung minyak
anisi, etanol, ammonia encer, kemudian Ascal yang mengandung asetosal dan
kalsium karbonat serta Aqua. Obat ini mengobati batuk dengan mempermudah
keluarnya dahak (ekspektoran) serta analgetik dan antipiretik untuk mengurangi
nyeri/pusing dan demam yang mungkin timbul. Obat ini diminum 3 x sehari 1
sendok makan, sebaiknya diminum sesudah makan, karena kemungkinan naiknya
asam lambung akibat pemakaian asetosal. Efek samping dari obat ini adalah
gangguan lambung (mual, muntah) serta dapat menimbulkan sembelit akibat
penggunaan CaCO3. Obat ini sebaiknya disimpan ditempat yang sejuk dan
terlindung dari sinar matahari.

B. SARAN
1. Perhitungan dosis harus tepat dan akurat, karena praktikan tidak dapat
menggunakan dosis subterapi ataupun over dosis.
2. Berhati-hati dalam membuat sediaan agar sediaan yang dihasilkan sesuai
dengan yang diharapkan.
3. Penimbangan harus cermat dalam menmbang sediaan dan juga menggunakan
timbangan yang sesuai.
4. Gunakan waktu dengan sebaik mungkin.
5. Berhati-hati dalam menggunakan alat-alat praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, Muhammad. 1987. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press :
Yogyakarta.
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia III. Depkes RI : Jakarta.
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia IV. Depkes RI : Jakarta.
Raharjda, Kirana. 2002. Obat-Obat Penting. PT Elex Media Komputindo :
Jakarta.
Informasi Spesialite Obat (ISO). Indonesia : ISFI
Charunisaa, Anis Yohana dkk. 2009. Farmasetika Dasar. Padjajaran University
Press.

Anda mungkin juga menyukai