Anda di halaman 1dari 4

TINJAUAN PUSTAKA

MOLA HIDATIDOSA
Definisi
Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang abnormal dimana tidak ditemukan janin
maupun tidak dan hampir seluruh vili korialis mengalami perubahan hidropik. Jika tidak
ditemukan janin disebut complete mole, sedangkan jika disertai janin atau bagian dari janin
disebut mola parsialis. Secara histologis terdapat proliferasi trofoblast dengan berbagai
tingkatan hiperplasia dan displasia. Vili khorialis terisi cairan, membengkak, dan hanya
terdapat sedikit pembuluh darah.
Epidemiologi
Prevalensi mola hidatidosa lebih tinggi di Asia, Afrika, Amerika latin dibandingkan
dengan negara negara barat. Faktor risiko terjadinya mola yaitu wanita pada remaja awal
atau usia perimenopausal amat sangat beresiko. Wanita yang berusia lebih dari 35 tahun
memiliki resiko 2 kali lipat. Wanita usia lebih dari 40 tahun memiliki resiko 7 kali dibanding
wanita yang lebih muda hal ini dikaitkan dengan kualitas sel telur yang kurang baik pada
wanita usia ini.. Paritas tidak mempengaruhi faktor risiko ini. Risiko lainnya yaitu riwayat
keguguran 2 kali atau lebih, riwayat kehamilan mola sebelumnya juga dapat meningkatkan
kejadian mola hingga lebih dari 10 kali lipat. Secara epidemiologi mola komplit dapat
meningkat bila wanita kekurangan carotene dan defisiensi vitamin A. Sedangkan mola
parsialis lebih sering tejadi pada wanita dengan tingkat pendidikan tinggi, menstruasi yang
tidak teratur dan wanita perokok.
Etiologi
Penyebab mola hidatidosa belum diketahui secara pasti. Faktor-faktor yang mungkin
menjadi penyebab yaitu:
1.

Faktor ovum, misalnya pada spermatozoa yang memasuki ovum yang sudah kehilangan
nukleusnya sehingga terjadi kelainan pada pembuahan

2.

Keadaan sosial ekonomi yang rendah

3.

Paritas tinggi

4.

Kekurangan protein

5.

Infeksi virus

Patogenesis
Ada beberapa teori yang menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblas, yaitu:
1.

Teori Missed abortion


Mudigah mati pada kehamilan 3 5 minggu (missed abortion), karena itu terjadi
gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim
dari vili dan akhirnya terbentuk gelembung-gelembung.

2.

Teori neoplasma dari Park


Dikatakan yang abnormal adalah sel-sel trofoblas, yang mempunyai fungsi abnormal
pula, dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam vili sehingga timbul
gelembung. Hal ini menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematian mudigah.

Klasifikasi
Mola hidatidosa terbagi menjadi dua, yaitu:
a.

Mola hidatiosa komplit (klasik)


Pada mola tipe komplit tidak ditemukan janin. Vili koreialis diubah menjadi masa
gelembung-gelembung bening yang besarnya berbeda. Masa tersebut dapat tumbuh
membesar sampai mengisi uterus yang besarnya sama dengan kehamilan normal lanjut.
Struktur histologinya mempunyai sifat :

b.

a.

Degenerasi hidropik dengan pembengkakan stroma vili

b.

Tidak terdapat pembuluh darah di dalam vili yang bengkak

c.

Proliferasi sel epitel trofoblas dengan derajat yang beragam

d.

Tidak terdapat janin dan amnion

Mola hidatidosa parsial


Jenis mola yang apabila perubahan mola hanya lokal dan tidak berlanjut dan terdapat
janin atau setidaknya kantung amnion. Terdapat pembengkakan vili yang kemajuannya
lambat, sedangkn vili yang mengandung pembuluh darah yang lain yang berperan dalam
sirkulasi fito plasenta, jarang hiperflasi trofoblas hanyak lokal tidak menyeluruh.

Gejala dan tanda klinis


Pada pasien dengan mola hidatidosa dapat ditemukan gejala dan tanda sebagai berikut:
1.

Amenorhoe dan tanda tanda kehamilan

2.

Perdarahan pervaginam dari bercak sampai perdarahan berat. merupakan gejala utama
dari mola hidatidosa, sifat perdarahan bisa intermiten selama berapa mingu sampai
beberapa bulan sehinga dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.

3.

Uterus sering membesar lebih cepat dari biasanya tidak sesuai dengan usia kehamilan.

4.

Tidak dirasakan tanda tanda adanya gerakan janin maupun balotement

5.

Hiperemesis, pasien dapat mengalami mual dan muntah cukup berat.

6.

Preeklampsi dan eklampsi sebelum mingu ke 24

7.

Keluar jaringan mola seperti buah angur, yang merupakan diagnosa pasti

8.

Tirotoksikosis

Diagnosis
Adanya mola hidatidosa harus dicurigai bila ada wanita dengan amenorea, perdarahan
pervaginam atau keluarnya vesikel mola dari vagina, uterus yang lebih besar dari usia
kehamilan dan tidak ditemukannya tanda kehamilan pasti, seperti tidak terabanya bagianbagian janin juga gerakan janin dan ballotemen serta tidak terdengarnya bunyi jantung janin.
Untuk memperkuat diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan Human Chorionic Gonadotropin
(HCG) dalam darah atau urin. Peninggian HCG terutama setelah hari ke 100.
Diagnosis pasti dari mola hidatidosa biasanya dapat dibuat dengan ultrasonografi
dengan menunjukkan gambaran yang khas berupa vesikel-vesikel (gelembung mola) dalam
kavum uteri atau badai salju (snow flake pattern)
Tatalaksana
Terapi mola hidatidosa terdiri dari:
1.

Perbaikan keadaan umum


Umumnya pasien mola hidatidosa mengalami perdarahan, oleh karena itu dilakukan
pemberian transfusi darah untuk memperbaiki syok atau anemia.

2.

Pengeluaran jaringan mola


a.

Kuretase
Kuretase dilakukan pada saat keadaan umum sudah diperbaiki. Untuk memperbaiki
kontraksi diberikan pula uterotonika, misalnya oksitosin. Tindakan kuret cukup
dilakukan satu kali, asalkan sudah bersih. Kuret kedua dilakukan jika ada indikasi.

b.

Histerektomi

Tindakan histerektomi dilakukan pada wanita yang telah cukup umur, cukup anak,
dan paritas tinggi karena dengan alasan tersebut bisa menjadi faktor predisposisi
untuk terjadinya keganasan.
3.

Terapi profilaksis dengan sitostatika


Terapi profilaksis diberikan pada mola hidatidosa dengan risiko tinggi untuk berkembang
menjadi ganas. Biasanya diberikan methotrexate atau actinomycin D.

Pada pasien dengan mola hidatidosa dilakukan pengawasan (follow up) berkisar satu atau dua
tahun. Selama periode ini, pasien dianjurkan untuk tidak hamil karena akan mengacaukan
pemeriksaan. Monitor perdarahan yang terjadi dan tanda vital diperlukan untuk mengawasi
terjadinya syok. Pemeriksaan beta HCG, ginekologi, dan radiologi secara berkala juga
dilakukan. Beta HCG akan mencapai kadar normal dalam waktu 8 12 minggu setelah
pengeluaran mola, bila kadar HCG tetap atau meningkat perlu dicurigai berkembang menjadi
ganas.
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien mola hidatidosa, antara lain:
a.

Perdarahan hebat hingga syok

b.

Infeksi

c.

Perforasi uterus

d.

Keganasan (PTG)

Prognosis
Kematian pada mola hidatidosa dapat disebabkan karena perdarahan, infeksi,
eklamsia, payah jantung, atau tirotoksikosis. Sebagian wanita akan sehat kembali setelah
jaringan dikeluarkan tetapi ada sekelompok wanita yang kemudian menderita degenerasi
keganasan menjadi koriokarsinoma. Proses degenerasi ganas dapat berlangsung antara tujuh
hari sampai tiga tahun dengan terbanyak dalam waktu enam bulan.