Anda di halaman 1dari 21

KATEGORI NOMINA

A. Kategori Nomina Bahasa Jepang dan Bahasa Indonesia

Menurut Sunarni (2010:81) kategori gramatikal dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
kategori gramatikal yang berkolerasi dengan nomina terdiri dari : 1. Tei takrif dan futei tak
takrif, 2. Suu jumlah, 3. Sei jenis dan kaku kasus dan kategori gramatikal yang
berkolerasi dengan verba terdiri dari : 1. Ninsho persona, 2. Taikyokusei negasi, 3. Jisei
kala, 4. Asupekuto aspek, 5. Hou modalitas dan 6. Tai voice, 7. Ichi to shihai
persesuaian dan penguasaan.
Kategori gramatikal yang berkolerasi dengan nomina, diantaranya:
1. Takrif

Takrif adalah hal yang bersangkutan dengan nomia atau frase nomina yang refrennya
atau acuannya telah ditentukan atau diaanggap sama- sama diketahu oleh pembicara
dan pendengar dalam situasi komunikasi. Dapat disimpulkan yang ketakrifannya
adalah persamaan konsep dari pembicara (penulis) dan mitra bicara ( pembaca)
terhadap referannya.
2. Jumlah

Kridalaksana (2008: 100) jumlah adalah kategori gramatikal yang membeda-bedakan


jumlah titik, ada bahasa yang membedakan singularis, dualis dua, plularis; ada
bahasa yang membedakan singularis, dualis, trialis 3 dan pluralis. Jumlah biasanya
ditandakan pada nomina, verbal, pronomina, atau atribut.
3. Jenis atau gender

Kridalaksana (2008; 99) jenis atau gender adalah, klasifikasi kata yang kadangkandang bersangkutan dengan kelamin, kada-kadang tidak. Jenis ini diungkapkan
secara gramatikal pada bentuk nomina, pronomina, dan ajektiva.

4. Kasus

Kridalaksana (2008; 108-110) kasus adalah kategori gramatikal dari nomina, frase
nominal, pronomina, atau ajektiva yang memperlihatkan hubungannya dengan kata
lain dalam konstruksi sintaksis. Yang dimaksud dengan kata lain adalah verba, dalam
sebuah kalimat yang memiliki valensi atau hubungan yang bersumber dari verba
dapat dilihat dalam wujud peran. Peran secara semantis dapat berupa agentif, objektif
benefaktiv dll. Lebih sederhannya , kasus dapat dikatakan bahwa nomina melakukan
apa yang dinyatakan dengan verba dan apa akibat dari hasil perbuatan nomina
tersebut. Adanya hubungan antara nomina dan verba tersebut berhubungan pula pada
partikelnya, partikel iini disebut partikel kasus.
Menurut kridalaksana kasus dalam bahasa Indonesia terdapat 27 kasus, yaitu sebagai
berikut :
1. Kasus Abesif, kasus yang menandai makna tiada, tanpa pada nomina atau

sejenisnya
2. Kasus Ablatif, kasus yang menandai makna gerak dari, cara atau tempat

pada nomina atau yang sejenisnya.


3. Kasus Absolutif (bahasa ergatif),
4. Kasus Adesif, kasus yang menadai makna tempat pada, dengan,

danseterusnya. Pada nomina atau yang sejenisnya.


5. Kasus Akusatif, kasus yang menandai nomina atau yang sejenisnya

sebagai objek langsung yang berperan penderita atau sasaran.


6. Kasus Alatif, kasus yang menandai makna gerak kearah pada nomina

atau yang sejenisnya.


7. Kasus Datif, kasus yang menandai bahwa nomina adalah penerima suatu

perbuatan atau objek tak langsung.


8. Kasus Elatif, kasus yang menadai makan dari pada nomina atau

sejsenisnya.
9. Kasus Ergatif, bentuk kasus dari subjek atau pelaku verba transitif dalam

bahsa-bahasa tertentu, seperti Bahasa Baska, Hindi, dansebagainya. Dalam

bahasa ini subjek verba intransitif mempunyai bentuk kasus yang sama
dengan objek atau penderita verba transitif (dalam bahas bukan ergatif,
subjek verba intransitif dan subjek verba tarnsitif berkasus nominatif,
sedangkan objek verba transitif berkasus akusatif).
10. Kasus Esif, kasus yang menandai makna keadaan yang terus menerus

pada nomina atau yang sejenisnya.


11. Kasus Genitif, kasus yang menandai maksa milik pada nomina atau yang

sejenisnya.
12. Kasus Ilatif, kasus yang menandai makna tempat ke pada nomina atau

yang sejenisnya.
13. Kasus Inesif, kasus yang menandai makna dalam pada nomina atau

sejenisnya.
14. Kasus Instruktif, kasus yang menandai makna sebagai alat pada nomian

atau sejenisnya.
15. Kasus Instrumental, (kasus instruktif)
16. Kasus Komitatif, kasus yang menadai makna menyertai,dengana pada

nomina atau sejenisnya.


17. Kasus Lokatif, kasus yang menandai makan tempat pada nomina atau

sejenisnya.
18. Kasus Lurus, istilah umum untuk kasus nominatif dan votatif.
19. Kasus Miring, istilah umum untuk kasus-kasua, selain kasus nominatif dan

vokatif.
20. Kasus Nominatif, kasus yang menadai nomina atau sejenisnya sebagai

subjek.
21. Kasus Obyektif, istilah untuk bentuk kasus miring (nonnominatif),

dipertentangkan dengan kasus subjektif.


22. Kasus Partitif, kasus yang menandai makna bagian dari pada nomina atau

sejenisnya.

23. Kasus Penderita, kasus yang menggambarkan yang dialami oleh perbuatan

atau keadaaan psikologis yang di ungkapkan oleh verba.


24. Kasus Prolatif, kasus yang menandai makna gerak sepanjang pada atau

sejenisnya.
25. Kasus Translatif, kasus yang menadai perubahan keadaan pada nomina

ataua sejenisnya.
26. Kasus Tujuan, hubungan kasus yang menandai obyek atau keadaan

( tujuan) sebagai akibat perbuatan atau keadaan yang dinyatak oleh verba.
27. Kasus Vokatif, bentuk kasus dalam bahasa inflektif untuk menandai orang

atau benda yang diajak bicara.


Berdasarkan bentuk, fungsi dan makna satuan linguistik dapat dikategorikan menjadi dua,
yaitu 1. Kategori leksikal: kelompok satuan bahasa yang dinyatakan dengan morfem bebas,
dan 2. Kategori gramatikal dinyatakan dengan morfem terikat.
Jenis kata merupakan klasifikasi kata berdasarkan pada tataran gramatika. Untuk
mengklasifikasikannya perlu ditentukan kriteria/parameter. Parameter tersebut dapat beragam
bergantung pada pemahaman seseorang terhadap kaidah gramatika suatu bahasa atau
kesadaran seseorang terhadap rasa bahasanya. Oleh sebab itu, terdapat klasifikasi kata yang
bervariatif.
Nomina ( meishi) menurut Takayuki (1993:4) adalah:

Meishi to iu no wa watashitachi o mawari ni aru mono ya watashi tachi ga okonau


koto wa meishi ga tsukararete imasu. Toki ya basho ni tsuite mo sono toki ya basho
o meikaku ni shitari suru tame mo yobikata ga kimerarete imasu. Kono you na namae o
arawasu kotoba o meishi to iimasu.
Nomina adalah kata yang dipakai untuk menyatakan sesuatu yang ada pada kita, dan
sesuatu (peristiwa) yang terjadi pada kita. Cara penyebutannya sudah ditentukan
walaupun merupakan keterangan waktu atau keterangan tempat. Cara penyebutan kata
yang ini disebut dengan nomina.

Sedangkan menurut Matsumura (1998: 1321) menjelaskan bahwa:

Meishi to wa hinshi no hitotsu. Mono ya meishou de, jiritsugo de, katsuyou ga nai go.
Meishi merupakan salah satu jenis kata dan merupakan kata-kata yang dapat berdiri
sendiri namun tidak dapat mengalami perubahan dan berfungsi untuk menyatakan nama
benda.
Berdasarkan dua teori tentang meishi di atas dapat disimpulkan bahwa meishi adalah salah
satu jenis kata yang berfungsi untuk menyatakan orang, benda dan lain-lain, serta dapat menjadi
subjek maupun objek dari keadaan yang digambarkan dalam suatu kalimat.

Jadi, yang

dimaksud nomina adalah kata-kata yang mengacu pada suatu hal atau kejadian. Selain itu,
nomina juga merupakan kata yang digunakan untuk menunjukkan keterangan waktu dan
keterangan tempat.
Menurut Takayuki (1993:4) nomina (meishi) digolongkan menjadi 4 macam, yaitu:
1. Nomina Biasa (/Futsuu Meishi)

Adalah nomina yang menyatakan nama-nama benda, barang, peristiwa, dan


sebagainya yang bersifat umum. Misalnya: tsukue meja, sensei guru, gakusei
murid, neko kucing, hon buku, jinsei kehidupan manusia, hoshi bintang,
koofuku kebahagiaan, dan lain-lain.
2. Nomina Nama Diri (/Koyuumeishi)

Adalah nomina yang menyatakan nama-nama yang menunjukkan benda secara


khusus seperti: nama daerah, nama negara, nama orang, nama buku dan sebagainya.
Misalnya: Nihon Jepang, Toukyou nama tempat, Yamada nama orang, Taheiyou
samudera pasifik, chuugoku negara China, dan lain-lain.
3. Kata Ganti (/Daimeshi)

Adalah

nomina

yang

menunjukkan

sesuatu

secara

langsung

tanpa

menyebutkan nama orang, benda, barang, perkara, arah, tempat, dan sebagainya.
Kata-kata yang dipakai untuk menunjukkan orang disebut pronomina persona (
/ninshoudaimeishi), sedangkan kata-kata yang dipakai untuk menunjukkan

benda, barang, perkara, arah, dan tempat disebut prenomina penunjuk (


/shijidaimeishi).
Contoh:
a. Sebagai pengganti orang, misalnya: watashi saya, anata anda, kamu, kare dia

laki-laki, kanojo dia perempuan


b. Sebagai penunjuk benda, misalnya: kore ini, sore itu dekat, are itu jauh dore

yang mana
c. Sebagai penunjuk tempat, misalnya: soko disini, soko disitu, asoko disana,

doko dimana
d. Sebagai penunjuk arah, misalnya: kochira disini, achira disana, sochira disitu,

dochira dimana
4. Kata Bilangan (/Suushimeishi)

Adalah nomina yang digunakan untuk menunjukkan urutan dan jumlah.


Contoh:
a. Sebagai penunjuk urutan, misalnya: niban nomor dua, ichijikan satu jam,

yonka pelajaran keempat


b. Sebagai penunjuk jumlah, misalnya: hitotsu satu buah (menerangkan benda

seperti telur, buah, dan lainnya), ippon satu batang (untuk benda yang pipih atau
panjang), sansatsu tiga buah (untuk buku dan sejenisnya), ippiki satu ekor
(untuk binatang kecil, seperti kucing), ichimai satu lembar (untuk benda tipis,
seperti perangko dan sejenisnya), ikken satu buah (untuk benda berupa
bangunan, rumah), hitori satu orang (untuk manusia, orang)
Meishi (kata benda) memiliki ciri-ciri seperti berikut :
1. Meishi (nomina) termasuk kelas kata yang berdiri sendiri (jiritsugo) dan tidak

mengenal konjugasi atau deklinasi. Kata-kata yang termasuk kelompok nomina tidak
mengalami perubahan misalnya kedalam bentuk lampau, bentuk negatif, dan
sebagainya. Ciri yang pertama ini membedakan meishi dengan dooshi, keyooshi,

keiyoodooshi, dan jodooshi. Keempat kelas kata yang disebutkan terakhir termasuk
kelas kata yang mengalami konjugasi/deklinasi.
2. Meishi dapat menjadi subjek, objek, predikat dan adverbia, sehingga secara langsung

dapat diikuti jooshi (partikel) atau jidooshi (verba bantu). Nomina yang diikuti joshi
dan nomina yang diikuti jodooshi itu dapat membentuk sebuah bunsetsu.
3. Meishi bila diikuti jooshi (partikel) wa, ga, mo kosa, dake, atau sae dapat menjadi

subjek atau tema dalam suatu kalimat.


Contoh:
a.

Densha ga kimashita.
b.

Chikyuu wa marui.

c.

Sensei mo shusseki saremasu.


d.

Watashi koso shitsurei shimashita.

e.

Kare dake kimashita.


f.

Ame sae futte kita.

4. Meishi bila diikuti jooshi (partikel) yo, diikuti jodooshi (verba bantu) da, desu rashii,

dan diikuti jooshi (partikel) no + verba bantu yooda dapat menjadi predikat. Contoh:
a.
Sore wa watashi no hon yo.

b.
Kore wa sakura da

c.
Chichi wa ongakuka desu.

d.
Kyoo wa hontoo ni haru rashii
e.

Sono keshiki wa e no yooda.


5. Meishi bila diikuti partikel o dapat menjadi objek Misalnya:

Terebi o mimasu. Ringo o tabemasu. Piano o hikimasu.


6. Meishi bila diikuti partikel o, ni e, to, yori, kara, atau de dapat menjadi keterangan

(adverbia).
Contoh :.
a.

Sora o tobu
b.

Yama ni noboru

c.

Ane to dekakeru
d.

Kuuki yori karui


e.

Jakaruta kara kimashita

f.

Byooki de yasumu

7. Ada juga meishi yang berfungsi sebagai adverbia tanpa diikuti partikel.

Contoh:
a.

Chichi wa maiasa sanpo suru, Kinoo kaji ga atta.


Sedangkan apabila meishi didikuti joshi (partikel) no maka dapat menerangkan
meishi yang lainnya. Contoh:

b.

Sekai no heiwa

c.

Nihon no rekishi
Menurut Sudjianto (1995: 35) meishi dibagi menjadi 5 jenis diantaranya adalah sebagai
berikut:
1. Futsuu meishi Futsuu meishi adalah kata yang menyatakan suatu benda/perkara. Dalam

jenis meishi ini terdapat kata-kata sebagai berikut:


a. Gutaiteki na mono (nomina konkret) misalnya: uchi (rumah), gakkou (sekolah), ki

(pohon), umi (laut), kuni (negara), hito (orang) dan lain-lain


b. Chuushouteki na mono (nomina abstrak) misalnya: Shiawase (kebahagiaan),

seishin (jiwa), kimochi (perasaan), kioku (ingatan), heiwa (perdamaian) dan lainlain
c. Ichi

ya

hougaku

wo

shimesu

mono

(nomina

yang

menyatakan

letak/posisi/kedudukan dan arah/jurusan) misalnya: Migi (kanan), higashi (timur)


d. Settogo ya setsubigo no tsuita mono (nomina yang disisipi prefiks dan suffiks)

misalnya: Gohan (nasi), okane (uang), manatsu (pertengahan musim) dan lain-lain
e. Fukugou meishi/ fukugou go (nomina majemuk) misalnya: Asa + hi = asahi

(matahari pagi) Chika + michi chikamichi (jalan pintas/terdekat)


f.

Hofukugouka no hinshi kara tenjita mono (nomina yang berasal dari kelas kata
lain) misalnya: Verba hikaru hikari (sinar/cahaya) Adjektiva-i samui samusa
(dinginnya) Adjektiva-na majimeda majimesa (rajinnya).

2. Koyuu meishi

adalah nomina yang menyatakan nama suatu benda, nama orang, nama tempat, buku
dan lain-lain Misalnya : Fuji san (gunung Fuji), Nagaragawa (sungai Nagara), Asahi
shinbunsha (perusahaan surat kabar), Tokyo (kota Tokyo), Monyoushuu (nama buku:
Monyoushuu), Taiheiyou (lautan pasifik)
3. Suushi

adalah nomina yang menyatakan jumlah, bilangan, urutan/kuantitas. Kata-kata yang


termasuk sushi antara lain:
a.

Suuryou no meishi (nomina yang menyatakan jumlah/kuantitas)


1. Hansuushi (numeria pokok) misalnya: Ichi, ni, san, hitotsu, futatsu, yotsu dan

lain-lain
2. Hansuushi + josuushi (numeria pokok + kata bantu bilangan) misalnya: Ichiban

(nomor satu), daisan (ketiga), daigokaime (yang kelima kalinya), dan lain-lain
4. Daimeishi adalah nomina yang menunjukkan orang, benda, tempat/arah. Daimeishi juga

dipakai untuk menggantikan nama-nama yang ditunjukkan. Dalam bahasa Indonesia


disebut dengan pronominal
a. Ninshou daimeishi

Adalah kata-kata yang dipakai untuk menunjukkan orang (pronomina persona).


Ninshou daimeishi (pronomina persona terdiri dari:
1. Jishou, yaitu pronominal persona yang digunakan untuk menunjukkan diri

sendiri. Misalnya: watashi, ore, dan ware


2. Taishou, yaitu pronominal persona yang dipergunakan untuk menunjukkan

orang yang menjadi pokok pembicaraan selain persona kesatu dan persona
kedua . Misalnya: kono kata, sono kata, ano kata
b. Shiji daimeishi

Adalah kata-kata yang dipakai untuk menunjukkan benda, barang, perkara,


arah dan tempat. Shiji daimeshi (pronomina penunjuk) ini terbagi atas:
1. Jibutsu ni kansuru mono (pronominal penunjuk benda) Misalnya: kore, sore,

are, nani
2. Basho ni kansuru mono (pronominal penunjuk tempat) Misalnya: koko, soko,

asoko, doko
3. Houkou ni kansuru mono (pronominal penunjuk arah) Misalnya: kochira,

sochira, achira, dochira


5. Keishiki meishi

adalah nomina yang menyatakan formalitas dan menyatakan arti yang sangat abstrak
Misalnya: Toori (sebagaimana, sepertinya) Tokoro (waktu, hal, sedang, sesuatu, saat) Toki
(pada waktu, ketika saat) dan lain-lain

B. Ketakrifan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jepang

Tei atau takrif atau disebut pula ketakrifan dalam bahasa Inggris disebut definiteness.
Menurut Kridalaksana (1993: 107) takrif atau ketakrifan adalah hal yang bersangkutan
dengan nomina atau frase nominal yang referennya atau acuannya telah ditentukan atau
dianggap sama-sama diketahui oleh pembicara dan pendengar dalam situasi komunikasi.
Bagian yang takrif biasanya mengandung hal tersebut, sedangkan sebagiannya atau berupa
nama diri. Dalam bahasa Indonesia contohnya:
1. Ia tinggal di rumah (tak takrif)
2. Ia tinggal di sebuah rumah (tak takrif)
3. Ia tinggal di rumah Amin (takrif)
4. Ia tinggal di rumah itu (takrif)
Dalam bahasa Jepang tei (takrif) adalah ko no tairitsu gainen ni motozoku bunpou
hanchuu no hitotsu (Tanaka, 1987:151) salah satu kategori gramatika berdasarkan konsep
yang berlawanan dari referensinya. Dari kedua pendapat tersebut terdapat titik singgung,
yaitu yang disebut dengan ketakrifan adalah persamaan konsep dari pembicara (penulis) dan
mitra wicara (pembaca) terhadap referensnya.
Sedangkan menurut Kindaichi (1978:1315) takrif atau ketakrifan adalah
[the]
[le] [der]
Tei kanshi no hitotsu meishi no mae ni tsuke, shiji ya gentei o shimesu, Eigo no the,
Furansu go no le, Doitsu go no der nado.

Artikel takrif yang menempel di depan salah satu nomina, dan merupakan kata yang
membatasi dan menunjukkan, dalam bahasa Inggris the, bahasa Perancis le, bahasa
Jerman der dan lain-lain.
Dalam buku Kyouiku Jiten:202) dijelaskan bahwa kopula da/desu juga dapat menjadi
pemarkah takrif yang bersifat penentu/penunjuk (shitei no jodoshi).
Contoh:
Tanaka san wa gakusei da.
Tanaka adalah seorang murid.
Kemudian menurut Kunihiro (227-229) ketakrifan dalam bahasa Jepang terbentuk dengan
pemakaian ko, so a (kono, sono, ano) untuk mengacu pada sesuatu dan juga dapat terbentuk
dari kasus kepemilikan pronomina (daimeishi no shoyu kaku).
Kata bilangan atau numeralia secara semantis juga mengacu kepada pengungkap
kuantitas. Frase nomina yang menggunakan kata bilangan sebagai unsur pembentuknya dapat
mempengaruhi takrif dan tak takrif sebuah tuturan. Dalam kata bilangan ada pengertian takrif
, misalnya:
Koko ni mikan ga futatsu arimasu
Disini ada dua buah jeruk.
Di

dalam

Tata

Bahasa

Bahasa

Indonesia

(2000:

43-44)

dikatakan

bahwa

pengacuan/referensi adalah hubungan antara satuan bahasa dan maujud yang meliputi benda
atau hal yang berada di dunia yang diacu oleh satuan bahasa itu. Jika frase nomina yang
mengacu pada kekhususan yang terindentifikasi maka itu merupakan pengacuan yang takrif.
Contoh:
a. Utouto to shite me ga sameru to onna wa itsu no manika, tonari no jiisn to hanashi o
hajimete iru. (Koizumi, 1999: 112)
Begitu terjaga dari kantukku entah sejak kapan perempuan itu mulai berbicara
dengan kakek-kakek yang ada disebelahnya.

b. Utouto toshite me ga sameru to onna ga itsu no manika, tonari no jiisan to hanashi o


hajimete iru (modifikasi Koizumi, 1999: 112)
Begitu terjaga dari kantukku entah sejak kapan perempuan itu mulai berbicara
dengan kakek-kakek yang ada di sebelahnya
Terjemahan ke dua kalimat diatas, dalam bahasa Indonesia tampak sama. Tetapi dalam
bahasa Jepang terdapat perbedaan dalam penggunaan partikel wa dan ga. Partikel wa dalam
contoh pertama frase onna wa menunjukkan bahwa kedudukannya sudah diketahui
sebelumnya, baik oleh pembicara maupun mitra wicara. Sedangkan contoh kedua partikel ga
menunjukkan bahwa orang tersebut baru diketahui keberadaannya setelah ia tersadar dari
kantuknya. Dengan demikian kalimat (a) merupakan berita lama dan kalimat (b) merupakan
berita baru bagi pembicara. Berita lama ini disebut tei (takrif), sebaliknya berita baru disebut
futei (tak takrif).

C. Penanda Jamak Secara Leksikal dan Gramatikal Numeralia Yang Muncul Sebelum

Verba
Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya
maujud (orang, binatang atau barang) dan konsep. (Alwi, 1998: 275). Pada dasarnya dalam
bahasa Indonesia ada tiga macam numeralia, yaitu:
1. Numeralia Pokok
Adalah bilangan dasar yang menjadi sumber dari bilangan-bilangan yang lain.
Numeralia pokok juga disebut numeralia kardinal. Numeralia pokok terbagi menjadi 6
macam, yaitu:
a. Numeralia Pokok Tentu
Adalah numeralia yang mengacu pada bilangan pokok, yakni:
0 = nol

10 = sepuluh

1 = satu

200 = dua ratus

2 = dua

1000 = seribu

3 = tiga

7.450 = tujuh ribu empat ratus lima puluh

4 = empat

1.000.000 = satu juta

5 = lima

1. 000.000.000 = satu miliar, dst.

b. Numeralia Pokok Kolektif


Adalah numeralia yang dibentuk dengan prefiks ke- yang ditempatkan di
muka nomina yang diterangkan.
Contoh:
Kedua
Kesepuluh, dst.
c. Numeralia Pokok Distributif
Adalah numeralia yang dapat dibentuk dengan cara mengulang kata bilangan. Artinya
ialah (1) ...demi ..., (2) masing-masing.
Contoh:
Satu-satu
Dua-dua
Empat-empat
d. Numeralia Pokok Tak Tentu
Numeralia ini mengacu pada jumlah yang tidak pasti dan sebagian besar
numeralia ini tidak dapat menjadi jawaban atas pertanyaan yang memakai kata tanya
berapa.
Contoh:
Banyak orang

Semua jawaban

Berbagai masalah

Seluruh rakyat

Sedikit air

Segala penjuru

e. Numeralia Pokok Klitika


Disamping numeralia pokok yang telah disebutkan, ada pula numeralia lain
yang dipungut dari bahasa Jawa Kuno, tetapi numeralia itu umumnya berbentuk
proklitika. Jadi, numeralia semacam ini dilekatkan di muka nomina yang
bersangkutan.
Contoh:
Eka satu

ekamatra

satu dimensi

Dwi dua

dwiwarna

dua warna

Tri tiga

triwulan

tiga bulan

Catur empat caturwulan

empat bulan

Panca lima pancasila

lima sila

Sapta tujuh saptamarga

tujuh peraturan prajurit

Dasa sepuluh dasalomba

sepuluh perlombaan

f. Numeralia Ukuran
Dalam bahasa Indonesia mengenal pula beberapa nomina yang menyatakan
ukuran, baik yang berkaitan dengan berat, panjang-pendek, maupun jumlah.
Misalnya, lusin, kodi, meter, liter, atau gram.
2. Numeralia Tingkat
Numeralia tingkat hampir sama dengan numeralia kolektif yang dibentuk
dengan menambahkan ke, bedanya terletak bagaimana cara penggunaannya. Kalau
numeralia kolektif, numeralia ini diletakkan di di muka nomina yang diterangkan
sedangkan numeralia tingkat, ia diletakkan di belakang belakang nomina yang
diterangkan.
Contoh:

Kolektif

Tingkat

Ketiga pemain

pemain ketiga

Kedua jawaban itu

jawaban kedua itu

*kesatu suara

suara kesatu

*pertama suara

suara pertama

Pada numeralia kolektif, tidak ada bentuk kesatu atau pertama, sedangkan
pada numeralia tingkat ada.
3. Numeralia Pecahan
Tiap bilangan pokok dapat dipecah menjadi bagian yang lebih kecil yang
dinamakan numeralia pecahan. Cara membentuk numeralia ini adalah dengan
memakai kata per- diantara bilangan pembagi dan penyebut. Dalam bentuk huruf, perditempelkan pada bilangan yang mengikutinya. Dalam bentuk angka, dipakai garis
yang memisahkan kedua bilangan itu.
Contoh:

7
16

1
2

= seperdua, setengah, separuh

1
10

= sepersepuluh

= tujuh perenam belas, dst

Jumlah (suu) pada dasarnya merujuk pada nomina. Dalam bahasa Jepang kehadiran
sufiks-tachi dalam kodomotachi anak-anak, onnatachi kaum perempuan dan sufiks-ra
dalam karera mereka (laki-laki) banyak, atau kanojora mereka (perempuan) banyak,
shokun anda sekalian, shokoku berbagai negara menunjukkan bahwa sesuatu yang dilekati
tersebut tidak satu, melainkan lebih dari satu jamak. Dalam bahasa Jepang jumlah selain
ditandai secara gramatikal dapat pula ditandai secara leksikal, yaitu dengan kehadiran satuan
lingual yang bersifat leksikal yang berupa numeralia.

Contoh:
1. Kyoushitsu ni gakusei ga sannin imasu
Di kelas ada tiga orang mahasiswa
2. Sannin no gakusei wa kyoushitsu ni imasu
Tiga orang mahasiswa ada di kelas
3. Gakusei wa minna mou soroimashita
Mahasiswa semuanya sudah terkumpul
4. Zenin mo kite imasu
Semuanya telah datang
5. Subete wa anata ni makasemasu
Semuanya saya serahkan kepada anda
Penunjuk jumlah pada kalimat (1) dan (2) berupa numerialia. Tetapi secara struktur dalam
kalimat (1) numerialia tersebut muncul setelah nomina sebelum predikat. Sedangkan dalam
kalimat (2) muncul di awal sebagai keterangan dari mahasiswa. Jumlah dalam kalimat (3)
ditandai oleh nomina sedangkan dalam kalimat (4) ditandai oleh prefiks zen yang memiliki,
dan kalimat (5) ditandai oleh adverbia. Penandaan-penandaan jumlah kalimat (3), (4), dan (5)
tersebut semuanya memiliki makna seluruh.
Selain itu, satuan lingual yang menunjukkan jumlah yang bersifat leksikal yang lain dapat
ditandai pula dengan kata sapaan minnasama hadirin dalam kalimat minasama ohayou
gozaimasu hadirin selamat pagi.
Penandaan jumlah selain satuan lingual yang bersifat leksikal maupun gramatikal, juga
dapat ditemui pula dalam proses morfemis yaitu dalam reduplikasi, seperti kata yama
gunung diulang menjadi yamayama gunung-gunung, hito orang diulang menjadi hitobito
orang-orang, dst.

D. Kategori Gender dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jepang

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003:353) kata gender berarti jenis kelamin.
Dalam Webster,s New World, Gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara lakilaki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku, sedangkan dalam Women,s Stdies
Encyclpedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat
perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakterisk emosional
antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.
Sedangkan menurut Mansour Fakih (1999 : 8), mengungkapkan bahwa konsep jender
adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang
dikonstruksikan secara sosial maupun kultural. Misalnya bahwa perempuan itu dikenal lemah
lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sedangkan kaum laki-laki mempunyai sifat kuat,
rasional, jantan, dan perkasa. Ciri dari sifat itu merupakan sifat sifat yang dapat
dipertukarkan. Artinya laki-laki dapat bersifat emosional, lemah lembut, keibuan sebaliknya
perempuan dapat bersifat kuat, rasional, dan perkasa
Kemudian menurut Munjin (dalam www.wordpress.co) ada dua masalah yang
menyebabkan terjadinya ekspresi bahasa gender, yaitu dominasi dan perbedaan. Dari
berbagai penelitian di bidang bahasa, kaitannya dengan kehidupan social politik dan budaya
masyarakat, terlihat bahwa perempuan memang berbeda dengan laki-laki. Budaya patriarki
mendudukkan posisi laki-laki menjadi lebih superior pada gilirannya akan melahirkan
perbedaa bahasa yang buka hanya terletak pada perbedaan suara, pemakaian gramatika,
pemilihan kata, tetapi juga pada cara penyampaian.
Ada dua hal yang dianggap andil dalam pembentukan perbedaan ini, yang pertama,
masalah hubungan sosil. Perkawinan dan bermain yang sejenis pada masa anak-anak dan
kemudian berlanjut smpai pershabatan dewasa akan melahirkan kelompok laki-laki dan
perempuan yang mempunyai subbudaya sendiri. Pada masing-masing subbudaya tersebut

juga mempunyai pola-pola dan gaya bahasa yang hanya cocok untuk kelompok mereka.
Masalah akan timbul manakala kedunya ingin berkomunikasi. Kedua, adalah hal yang
berkaitan dengan factor biologis dan sosialisasi. Sebagai missal, anak laki-laki dilarang main
dengan bunga karena bunga melambangkan suatu yang lembut, dan lembut itu adalah
perempuan. Sebaliknya perempuan dilarang pakai celana, main bola, pedang-pedangan,
karena permaina itu milik anak laki-laki dan bila ada anak perempuan yang tetap bermain, ia
akan dijuluki perempuan tomboy.
Contoh:
Penggunaan gender dalam ekspresi ungkapan yang terdapat pada surga terletak di
telapak kaki ibu, ibu kota, induk semang, nenek moyang, dewi malam (bulan),
dan putri malu (jenis tumbuhan). Tidak mungkin ekspresi ungkapan itu diganti surga
itu terletak di telapak kaki ayah, bapak kota, bapak semang, kakek moyang,
dewa malam, dan putri malu.
Adakalanya kata benda (nomina) dalam bahasa Indonesia yang mengandung unsur
makna gender laki-laki aupun perempuan dapat terbentuk. Misalnya: aktor dan aktris,
wartawan dan wartawati, santriwan dan santriwati, dan lain-lain
Dalam bahasa Jepang, kategori gramatikal terkait sei jenis dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu jenis yang terkait secara alamiah (shizensei) dan jenis yang terkait secara
gramatikal (bunpousei). Jenis yang disebutkan pertama banyak ditemukan berkategori
nomina secara leksikal, seperti chichi bapak, otousan bapak, kare dia laki-laki, kanojo
dia perempuan, haha ibu dan okaasan ibu.
Jenis secara gramatikal (bunpousei) ditemukan dalam verba yang berkolerasi dengan
nominanya. Dalam bahasa Jepang secara gramatikal nomina dapat dikelompokkan menjadi
nomina hidup dan nomina mati. Eksistensi kedua nomina ini ditandai oleh verba eksistensi
iru ada, dan aru ada, seperti contoh berikut:

1. Obaasan no ie ni neko ga nihiki iru


Di rumah nenek ada dua ekor kucing
2. Obaasan no ie ni furui mono ga takusan aru
Di rumah nenek ada banyak benda kuno
3. Obaasan wa okusan ga futari iru/aru
Nenek memiliki dua anak
4. Takushi ga iru
ada taksi
5. Takushi ga aru
ada taksi
6. Mada shuuden ga iru kana
masih adakah kereta terakhir
Kalimat (1) keberadaan neko kucing ditandai oleh verba iru ada untuk benda hidup,
sedangkan keberadaan furui mono barang kuno dalam kalimat (2) ditandai oleh verba aru
ada untuk benda mati. Keberadaan dalam kalimat (3) ditandai oleh kedua verba eksistensi
tersebut. Verba eksistensi iru ada dalam kaliamt (3) sama dengan kalimat (1), sedangkan aru
ada dalam kalimat tersebut menunjukkan makna posesif.
Begitu pula dalam kalimat (4) dan (5). Iru ada dalam kalimat (4) menunjuk keberadaan
untuk sopir taksi sedangkan aru ada dalam kalimat (5) menunjuk pada taksi yang masih
berada di tempat parkir di perusahaan atau sudah rusak ada dipinggir jalan.
Dan iru ada dalam kalimat (6) pun bukan menunjuk pada kereta api, tetapi merujuk pada
masinis atau merujuk ke kereta terakhir yang masih beroperasi.
Dalam bahasa Jepang, ikhwal jenis selain hal di atas dapat ditemukan pula dalam bentuk
perbedaan penggunaan partikel akhir dalam tuturan laki-laki dan perempuan.
Contoh:

7. Hen da aneh
8. Hen da na aneh
9. Hen da wa aneh
10. Hen yo aneh
11. Iku ze pergi
12. Iku zo pergi
13. Iku na pergi
14. Iku wa pergi
Kalimat (8), (11), (12), dan (13) merupakan tuturan laki-laki, sedangkan (9), (10), dan (14)
tuturan dari perempuan.

DAFTAR PUSTAKA
Fakih, Mansoer. 2001. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.Koizumi, Tamotsu. 1993. Nihongo Kyoushi no Tame no Gengogaku Nyumon.
Tokyo: Taishukan Shoten
Kindaichi, H. 1978. Kokugo Daijiten. Tokyo: Gakken.
Tomita, Takayuki. 1993. Kyoujuhou Manual 70rei II. Bojinsha
Matsumura, Yamaguchi. 1998. Kokugo Jiten. Tokyo: Obunsha
Sudjianto. 1995. Gramatika Bahasa Jepang Modern. Jakarta: Kesaint Blanc
Alwi, Hasan dkk. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta:
Balai Pustaka
Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik (Edisi Ketiga).Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama
Munjin.2014. Ekspresi Bahasa dan Gender Sebuah Kajian Sosolinguistk. (online).
(www.wordpress.com. Diunduh, tanggal 16 Nopember 2014)
Sunarni, Nani dan Jonjon Johana. 2010. Morfologi Bahasa Jepang: Sebuah Pengantar.
Bandung: Sastra Unpad Press.