Anda di halaman 1dari 10

POKOK BAHASAN 9

PERUBAHAN SOSIAL

Tujuan Pokok Bahasan:


Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami :
1. Pengertian tentang arti perubahan sosial
2. Pengertian tentang pola-pola perubahan sosial
3. Pengertian tentang perubahan sosial diabad ke 20
4. Pengertian tentang perubahan sosial di Asia Tenggara

Arti Perubahan Sosial


Dalam hidup bermasyarakat, dinamika masyarakat selalu terjadi,
Salah satu bentruk dinamika masyarakat adalah perubahan sosial. Norma
dijadikan sebagai pedoman perilaku.Akan tetapi, orang tidak dapat terusmenerus berpedoman pada pada satu norma saja. Pertama, individu itu
dinamis (cenderung berkembang dan berubah), antara lain karena
bertambahnya

usia,

semakin

tingginya

pendidikan,

bertambahnya

pengalaman, dan adanya peristiwa-peristiwa traumatik atau yang


memuaskan. Kedua, lingkunganpun berubah (dengan ditemukannya ilmu
pengetahuan dan teknologi serta semakin canggihnya sarana komunikasi,
dan lain-lain). Misal, dulu belum ada keluarga berencana, telepon
genggam dan faksimil, televisi, pesawat terbang, dan wanita yang
bersekolah sekarang semuanya sudah menjadi bagian dari kehidupan
sehari-hari.
Salah satu penelitian mengenai perubahan norma mengungkapkan
bahwa dulu masalah khitan tidak pernah dipersoalkan, tetapi sekarang
diperdebatkan dari sudut agama, kesehatan, hak asasi anak, dan
sebagainya (Aldeeb, 1994). Penelitian lain juga mengungkapkan bahwa

85

lulusan wanita dari Radcliff College, AS, angkatan 1964 lebih meragukan
peran wanita dalam perkawinan daripada lulusan wanita angkatan 1947
dari college yang sama (Stewart & Ostrove, 1993).
Dalam kehidupan sehari-hari perubahan norma dapat kita lihat,
misalnya dalam peningkatan usia perkawinan, hubungan pria-wanita yang
lebih longgar dan semakin serba boleh, kecepatan maksimum kendaraan
di jalan raya (dulu 60 kn, sekarang 100 km), semakin banyaknya jabatan
yang dapat diisi oleh wanita, dan berbagai perubahan peraturan dalam
tata-niaga,

perbankan

dan

perekonomian,

perubahan

peraturan

pemakaian radio amatir.


Perubahan-perubahan norma itu, yang semula berawal dari
perubahan individu, pada gilirannya juga berpengaruh kembali pada
perubahan individu itu sendiri. Jadi, perubahan sosial pada hakikatnya
adalah kombinasi antara perubahan individu dan perubahan norma.
Pendapat dan temuan para pakar mengenai hubungan antara perubahan
individu dan perubahan sosial ini antara lain sebagai berikut:
1. Menurut Smelser & Smelser (1990), perubahan sosial terjadi di
berbagai tingkat, mulai dari tingkat pribadi, tingkat keluarga, lingkungan
kecil sampai bangsa dan dunia. Tiap tahap ditandai oleh interaksi
antara perubahan pribadi dan perubahan lingkungan. Kita harus
mempelajari keduanya dan interaksi antar keduanya untuk dapat
memperkenalkan perubahan sosial. Misalnya, wanita mengusahakan
peningkatan derajat melalui berbagai proses dan kelompok. Mulai dari
usaha pribadi (melarikan diri dari rumah, bersekolah, dan sebagainya),
melibatkan wanita-wanita lain (organisasi wanita), sampai melibatkan
organisasi-organisasi

sosial,

politik,

keagamaan,

pendidikan,

organisasi campuran laki-perempuan, dan sebagainya (Mome, 1991).


2. Ibu-ibu muslim di Inggris, walaupun mereka sendiri tidak sempat
mengecap

pendidikan

tinggi,

mengusahakan

agar

anak-anak

perempuan mereka mendapat pendidikan yang lebih tinggi dari


mereka sendiri (Osler & Hussain,1995).

86

3. Di Ghana (Afrika), Islam merupakan jembatan dari pengobatan


tradisional

ke

pengobatan

modern

(Barat) karena

masyarakat

mengidentifikasikan diri pada Islam dan Islam memperkenalkan


pengobatan modern (Kirby, 1993).
4. Keluarga-keluarga muslim di Malaysia, berada dalam konflik antara
nilai-nilai adat, Islam, Cina, India, dan Eropa di lingkungan mereka
sendiri (Kling, 1995).
5. Dalam keadaan ragu atau kehilangan pedoman atau identitas diri
diperlukan discounting, yaitu pengabaian ciri-ciri kelompok walaupun
masih mempertahankan identitas kelompoknya melalui hal-hal berikut:
a. Paksaan: misalnya harus tetap Islam walaupun ikut KB (pada
masyarakat tertentu ciri Islam adalah tidak setuju KB).
b. Pengecualian: dalam keadaan darurat boleh dilakukan sesuatu
yang lazimnya dilarang, misalnya boleh ber-KB karena keadaan
darurat walaupun Islam tetap melarangnya.
c. Pengingkaran (denial): mengumpulkan ayat-ayat Al Quran dan
hadis untuk membuktikan baha Islam pro-KB, tidak anti-KB.
d. Penyembunyian (concealment): menyembunyikan hal-hal yang
mendukung bahwa Islam anti-KB.
6. Dalam proses perubahan ini diperlukan pemimpin yang kuat untuk
mempertahankan integrasi kelompok selama masa peralihan (Pestello,
1991). Di pihak lain, pemimpin yang kuat tidak berarti pemimpin yang
terlalu ketat, kaku, dan otoriter. Kendali yang terlalu kuat dari pemimpin
dalam menghadapi perubahan sosial dapat menyebabkan anggota
kelompok berontak seperti yang terjadi pada anak-anak remaja yang
memberontak pada orang tuanya yang terlalu keras (Franklin &
Steeter, 1992).
7. Prinsip untuk menjaga keutuhan dan stabilitas kelompok untuk jangka
panjang dalam menghadapi perubahan sosial dan perubahan normanorma yang terlalu cepat adalah harus selalu terbuka untuk negosiasi
dengan

anggota-anggota

menekankan

pada

kelompok.

nostalgia

dan

Pendekatan
tradisional

yang

(upacara,

terlalu
ritual,

87

kebiasaan, kenang-kenangan, dan lain-lain) harus diimbangi dengan


pemberian

kesempatan

pada

setiap

individu

untuk

memilih

alternatifnya sendiri (Settees, 1993).

Pola Perubahan Sosial


Pola Linier
Menurut

Etzioni-Halevy

dan

Etzioni

(1973)

perkembangan

masyarakat mengikuti suatu pola yang pasti. Contoh yang diberikan


Etzioni-Halevy dan Etzioni adalah karya Comte dan Spencer yang
menyatakan bahwa kemajuan progresif peradaban manusia mengikuti
suatu jalan yang alami, pasti, sama, dan tak terelakkan.
Teori Hukum Tiga Tahap yang dikemukakan Comte menyatakan
bahwa sejarah memperlihatkan adanya tiga tahap yang dilalui peradaban.
Pada tahap pertama yang diberinya nama tahap Teologis dan Militer,
Comte melihat bahwa semua hubungan sosial bersifat militer; masyarakat
senantiasa bertujuan menundukkan masyarakat lain. Semua konsepsi
teoritis

dilandaskan

adikodrati.

pada

Pengamatan

pemikiran

dituntun

oleh

mengenai
imajinasi;

kekuatan-kekuatan
penelitian

tidak

dibenarkan.
Tahap ke dua, tahap Metafisik dan Yuridis, merupakan tahap antara
yang menjembatani masyarakat militer dengan masyarakat industri.
Pengamatan masih dikuasai imajinasi tetapi lambat laun semakin
merubahnya dan menjadi dasar bagi penelitian.
Pada tahap ke tiga dan terakhir, tahap Ilmu Pengetahuan dan
Industri, industri mendominasi hubungan sosial dan produksi menjadi
tujuan utama masyarakat. Imajinasi telah digeser oleh pengamatan dan
konsepsi-konsepsi teoritis telah bersifat positif.

88

Dari apa yang telah dikemukakan Comte tersebutperubahan


yang pasti, serupa, tak terelakkan, dapat kita lihat bahwa pandangannya
mengenai perubahan sosial bersifat unilinear.
Pemikiran uniliniear kita jumpai pula dalam karya Spencer. Spencer
mengemukakan bahwa struktur sosial berkembang secara evolusioner
dari struktur yang homogen menjadi heterogen. Perubahan struktur
berlangsung dengan diikuti perubahan fungsi. Suku yang sederhana
bergerak maju secara evolusioner ke arah ukuran lebih besar,
keterpaduan, kemajemukan, dan kepastian sehingga terjelma suatu
bangsa yang beradab.
Pola Siklus
Pola Siklus menekankan bahwa masyarakat berkembang bagai
roda: kadang di atas, kadang di bawah. Pandangan Etzioni-Halevy dan
Etzioni memandang bahwa kebudayaan tumbuh, berkembang dan
kemudian lenyap; ataupun laksana tahap perkembangan seorang
manusia melewati masa muda, masa dewasa, masa tua, dan akhirnya
punah -.
Pareto mengemukakan bahwa dalam tiap masyarakat terdapat dua
lapisan. Lapisan bawah atau non-elite dan lapisan atas atau elite, yang
terdiri atas kaum aristokrasi dan terbagi lagi dalam dua kelas: elite yang
berkuasa dan elite yang tidak berkuasa. Menurut Pareto aristokrasi
senantiasa akan mengalami transformasi; sejarah menunjukkan bahwa
aristokrasi hanya dapat bertahan untuk jangka waktu tertentu saja dan
akhirnya akan pudar untuk selanjutnya diganti oleh suatu aristokrasi baru
yang berasal dari lapisan bawah. Sejarah, menurut Pareto, merupakan
tempat pemakaman bagi aristokrasi. Aristokrasi yang menempuh segala
upaya untuk mempertahankan kekuasaan akhirnya akan digulingkan
melalui gerakan dengan disertai kekerasan atau revolusi.

Pareto

mengacu pada pengalaman kaum aristokrasi di Yunani,Romawi dan


sebagainya.

89

Gabungan dari beberapa pola


Beberapa ahli melakukan penggabungan pola yang ada. EtzioniHalevy dan Etzioni memberikan contoh tentang teori konflik Karl Marx.
Pandangan Karl Marx menyatakan bahwa sejarah manusia merupakan
sejarah perjuangan terus- menerus antara kelas-kelas dalam masyarakat
sebenarnya mengandung benih pandangan siklus karena setelah suatu
kelas berhasil menguasai kelas lain menurutnya siklus serupa akan
berulang

lagi.

mengandung

Ramalannya
pemikiran

siklis,

mengenai
karena

masyarakat
masyarakat

komunis
komunis

pun
yang

didambakan Marx merupakan masyarakat yang menurut Marx pernah ada


sebelum adanya feodalisme da kapitalisme masyarakat yang tidak
mengenal pembagian kerja, yang di dalamnya konflik diganti dengan
kerjasama. Namun dalam pemikiran Marx kita pun menjumpai pemikiran
linear: menurutnya perkembangan pesat kapitalisme akan memicu konflik
antara kaum buruh dengan kaum borjuis yang akan dimenangkan kaum
buruh yang kemudian akan membentuk masyarakat komunis. Pandangan
Marx mengenai perkembangan linear pun tercermin dari pandangannya
bahwa negara jajahan Barat pun akan melalui proses yang telah dialami
masyarakat Barat.
Etzioni-Halevy dan Etzioni memberi contoh lain pemikiran Max
Weber yang dinilai mengandung pemikiran siklus yaitu pembedaannya
antara tiga jenis wewenang: karismatis, rasional-legal dan tradisional.
Weber melihat bahwa wewenang yang ada dalam masyarakat akan
beralih-alih: wewenang kharismatis akan mengalami rutinitas sehingga
beralih menjadi wewenang tradisional atau rasio-legal; kemudian akan
muncul lagi wewenang kharismatis, yang diikuti dengan rutinisasi; dan
seterusnya. Di lain pihak, Weber pun melihat adanya perkembangan linear
dalam masyarakat, yaitu semakin meningkatnya rasionalitas.

90

Perubahan Sosial di Abad XX


Berakhirnya Perang Dunia II diikuti perubahan-perubahan sosial
besar di kawasan Asia, Afrika dan Amerika Selatan dimana mayoritas
masyarakat hidup. Akibatnya, muncul berbagai teori mengenai perubahanperubahan di negara-negara yang diberi berbagai julukan seperti
Masyarakat-masyarakat Dunia Ketiga, Negara-negara Terkebelakang,
Negara-negara Sedang Berkembang, atau Negara-negara Selatan.
Giden

mengemukakan

bahwa

proses

peningkatan

kesalingtergantungan masyarakat dunia yang dinamakannya globalisasi


ditandai oleh kesenjangan besar antara kekayaan dan tingkat hidup
masyarakat industri dan masyarakat Dunia Ketiga. Selain itu ia mencatat
tumbuh dan berkembangnya negara-negara industri baru, dan semakin
meningkatnya komunikasi antar negara sebagai dampak teknologi
komunikasi yang semakin canggih.
Teori perubahan sosial pada abad 20 yang terkenal adalah:
1. Teori Modernisasi
Teori Modernisasi menganggap bahwa negara-negara terbelakang
akan menempuh jalan sama dengan negara industri maju di Barat
sehingga kemudian akan menjadi negara berkembang pula melalui
proses modernisasi. Teori ini berpandangan bahwa masyarakat yang
belum berkembang perlu mengatasi berbagai kekurangan dan
masalahnya sehingga dapat mencapai tahap tinggal landas ke arah
perkembangan ekonomi. Menurut Etzioni-Halevy dan Etzioni transisi
dari keadaan tradisional ke modernitas melibatkan revolusi demografi
yang ditandai menurunnya angka kematian dan angka kelahiran;
menurunnya ukuran dan pengaruh keluarga; terbukanya sistim
stratifikasi; peralihan dari stuktur feodal atau kesukuan ke suatu
birokrasi; menurunnya pengaruh agama; beralihnya fungsi pendidikan
dari keluarga dan komunikasi ke sistem pendidikan formal; munculnya

91

kebudayaan massa; dan munculnya perekonomian pasar dan


industrialisasi.
2. Teori Ketergantungan
Menurut teori ketergantungan yang didasarkan pada pengalamanpengalaman negara Amerika Latin bahwa perkembangan dunia tidak
merata; negara-negara industri menduduki posisi dominan sedangkan
negara-negara Dunia Ketiga secara ekonomi tergantung padanya.
Perkembangan negara-negara industri dan keterbelakangan negaranegara Dunia Ketiga, menurut teori ini, berjalan bersamaan: di kala
negara-negara industri mengalami perkembangan, maka negaranegara Dunia Ketiga yang mengalami kolonialisme, khususnya di
Amerika Lain, tidak mengalami tinggal landas tetapi justru menjadi
semakin terkebelakang.
3. Teori Sistem Dunia
Teori yang dirumuskan Immanuel Wallerstein mengatakan bahwa
perekonomian kapitalis dunia tersusun atas tiga jenjang: negaranegara inti, negara-negara semi-periferi, dan negara-negara periferi.
Negara-negara inti terdiri atas negara-negara Eropa Barat yang sejak
abad 16 mengawali proses industrialisasi dan berkembang pesat,
sedangkan negara-negara semi- periferi merupakan negara-negara di
Eropa Selatan yang menjalin hubungan dagang dengan negaranegara inti dan secara ekonomis tidak berkembang. Negara-negara
periferi merupakan kawasan Asia dan Afrika yang semula merupakan
kawasan ekstern karena berada di luar jaringan perdagangan negaranegara inti tetapi kemudian melalui kolonisasi ditarik ke dalam sistem
dunia. Kini negara-negara inti (yang kemudian mencakup pula Amerika
Serikat dan Jepang) mendominasi sistem dunia sehingga mampu
memanfaatkan sumberdaya negara lain untuk kepentingan mereka
sendiri, sedangkan kesenjangan yang berkembang antara negaranegara inti dengan negara-negara lai sudah sedemikian lebarnya
sehingga tidak mungkin tersusul lagi.

92

Perubahan Sosial di Asia Tenggara


Kemajemukan masyarakat di Asia Tenggara telah memunculkan
berbagai konsep dan teori yang dilandaskan pada pengalaman khas
berbagai masyarakat Asia. Hans-Dieter Evers menyunting berbagai tulisan
dan merangkumnya menjadi konsep dual societies, plural societies dan
involution.
Dual Societies
Menurut Bocke dalam masyarakat Timur, kapitalisme bersifat merusak
ikatan-ikatan komunis melemah, dan taraf hidup masyarakat menurun
karena

telah

mengakibatkan

terjadinya

ekonomi

dualistis.

Dalam

masyarakat dualistis dijumpai sejumlah antitesis, yaitu pertentangan


antara (1) faktor produksi pada masyarakat Barat yang bersifat dinamis
dan masyarakat pribumi di pedesaan yang bersifat statis, (2) masyarakat
perkotaan (orang Barat) dengan masyarakat pedesaan (orang Timur), (3)
ekonomi uang dan ekonomi barang, (4) sentralisasi administrasi dan
lokalisasi, (5) kehidupan yang didominasi mesin (masyarakat Barat) dan
didominasi kekuatan alam (masyarakat Timur), dan (6) perekonomian
produsen dan perekonomian konsumen.
Menurut

Evers,

ciri

dualistis

adalah

adanya

masyarakat

yang

terkebelakang yang hidup berdampingan dengan masyarakat maju.


Plural Societies
Furnivall memberikan contoh pada masyarakat Indonesia. Masyarakat
Indonesia terdiri atas sejumlah tatanan sosial yang hidup berdampingan
tetapi tidak berbaur, namum menurutnya kelompok Eropa, Cina dan
pribumi saling melekat laksana kembar siam dan akan hancur bilamana
dipisahkan.

93

Menurut Evers konsep ini bisa dikembangkan dan diuji pada masyarakat
lain.
Involution
Menurut Geertz pengaruh kapitalisme Barat terhadap masyarakat
pedesaan di Jawa tidak menghasilkan perubahan secara evolusioner,
melainkan suatu proses yang dinamakan involusi. Penetrasi kapitalisme
Barat terhadap sistem sawah di Jawa membawa kemakmuran di Barat
tetapi mengakibatkan suatu proses tinggal landas berupa peningkatan
jumlah penduduk pedesaan. Ternyata kelebihan penduduk ini dapat
diserap sawah melalui proses involusi, yaitu suatu kerumitan berlebihan
yang semakin rinci yang memungkinkan tiap orang tetap menerima bagian
dari panen meskipun bagiannya memang menjadi semakin mengecil.
Konsep Geertz ini banyak digunakan oleh ilmuwan sosial lain. Armstrong
dan Terry McGee mengaitkan konsep involusi dengan sistem pasar di
daerah perkotaan Dunia Ketiga, yang senantiasa mampu menyerap
tenaga kerja. Evers (1974) lebih mengaitkan konsep involusi dengan
perubahan

struktural

di

daerah

perkotaan;

meskipun

penduduk

bertambah, namun kurang terjadi diferensiasi sosial.

94