Anda di halaman 1dari 96

SKRIPSI

HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN TINGKAT KECEMASAN


PASIEN STROKE DI RS BHAYANGKARA MAKASSAR

YASRI ODE SULA


2110052

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
YAYASAN GEMA INSAN AKADEMIK
MAKASSAR
2014

PERSETUJUAN SKRIPSI

HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN TINGKAT KECEMASAN


PASIEN STROKE DI RS BHAYANGKARA MAKASSAR

Disetujui Oleh:

Pembimbing Pertama,

Akbar Harisa, S. Kep., Ns, PMNC, MN

Pembimbing Kedua,

Yanti Mustarin, S.Kep., Ns

Makassar, 13 September 2014

HALAMAN PENGESAHAN

HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN TINGKAT KECEMASAN


PASIEN STROKE DI RS BHAYANGKARA MAKASSAR

Telah dipertahankan dan disetujui oleh tim penguji skripsi STIK GIA
Makassar pada hari Sabtu, tanggal13 September 2014

TIM PENGUJI

1. Akbar Harisa, S.Kep., Ns, PMNC, MN

(..............................)

2. Yanti Mustarin, S.Kep., Ns

(..............................)

3. Hj. Nurhaeni Rachim S.Kp., M.Kep

(..............................)

4. Hj. Hasniaty A.G., S.Kp., M.Kep

(..............................)

Mengetahui,
Ketua STIK GIA MAKASSAR

Hj. Hasniaty A.G., S.Kp., M.Kep

ABSTRAK

Yasri Ode Sula. Hubungan Mekanisme Koping dengan Tingkat


Kecemasan Pasien Stroke di Rs Bhayangkara Makassar (Akbar Harisa
& Yanti Mustarin).
Stroke merupakan penyakit yang mematikan, dan perawatannya
membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tinggi, karena stroke bila
sembuh akan mengalami gangguan atau cacat fisik seperti kelumpuhan,
gangguan menelan, bicara maupun eliminasi. Hal ini dapat menimbulkan
koping yang adaptif dan maladaptif yang diikuti dengan kecemasan
terhadap klien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pasien stroke di
RS Bhayangkara Makassar. Desain penelitian yang digunakan adalah
survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam
penelitian ini adalah pasien stroke yang memenuhi kriteria inklusi dan
kriteria ekslusi sebanyak 36 orang. Metode sampling yang digunakan
dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 33
orang. Berdasarkan uji Chi Square melalui pendekatan uji fishers exact
test didapatkan nilai hitung p = 0.030 lebih kecil dari nilai = 0.05. dari
hasil yang diperoleh maka dapat disimpulkan ada hubungan antara
mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pasien stroke di RS
Bhayangkara Makassar.
Kata kunci

: Mekanisme Koping, Kecemasan

Kepustakaan

: 24 ( 2004-2012 )

ABSTRACT

Yasri Ode Sula. The relationship with Level Anxiety Coping Mechanisms
in Stroke Patients Hospital Bhayangkara Makassar (Akbar Harisa &
Yanti Mustarin)
Stroke is a deadly disease, and the treatment takes a long time and
high cost, due to a stroke when cured will be uninterrupted or physical
disability such as paralysis, impaired swallowing, speech or elimination.
This can lead to adaptive and maladaptive coping with anxiety that
followed the client. The purpose of this study was to determine the
relationship with the level of anxiety coping mechanisms of stroke patient
in hospital Bhayangkara Makassar. Design research is an analytic survey
with cross sectional approach. The population in this study were stroke
patients who met the inclusion criteria and exclusion criteria as many as
36 people. The sampling method used in this study is purposive sampling
with a sample size of 33 people. Based on the obtained chi square test
through trial and fishers exact test calculated value = 0.030 is smaller
than the value of = 0.05 level. Of the results obtained is can be
concluded tha there is a relationship between the level of anxiety coping
mechanisms of stroke patients in hospital Bhayangkara Makassar.
Keywords

: Coping Mechanisms, Anxiety

Bibliography : 24 ( 2004-2012 )

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu


Alhamdulilah,

segala puji bagi Allah SWT yang atas limpahan

rahmat dan hidayah-Nya penulis akhirnya dapat menyelesaikan skiripsi


penelitian ini dengan

judul Hubungan Mekanisme Koping Dengan

Tingkat Kecemasan Pasien Stroke Di Rs Bhayangkara Makassar.


Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan sarjana
keperawatan pada program studi ilmu keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Gema Insan Akademik Makassar.
Dalam menyelesaikan skiripsi penelitian ini penulis menyadari
bahwa itu tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan

yang sangat

berharga dari berbagi pihak, baik secara moril maupun materil. Olehnya
itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua Ayahanda
Laode Sula dan Ibunda Alma Wasariwa yang tanpa kenal lelah
memberikan motivasi dan dorongan kepada penulis, serta pada
kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Andi Iwan Darmawan Aras, SE. selaku Ketua Yayasan
Gema Insan Akademik Makassar.
2. Ibu Hj. Hasniaty A.G., S.Kp., M.Kep. selaku Ketua Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Gema Insan Akademik Makassar.

3. Bapak Rasdin, S.Kep., Ns. selaku Ketua Program Studi S1


Keperawatan di STIK GIA MAKASSAR.
4. Bapak Akbar Harisa S.Kep., Ns., PMNC., MN dan Ibu Yanti
Mustarin S.Kep., Ns. selaku pembimbing yang dengan rela dan
tulus memberikan bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Hj. Nurhaeni Rachim S.Kp., M.Kep. dan Hj. Hasniaty A.G. S.Kp,
M.Kep. selaku penguji yang telah banyak meluangkan waktu,
tenaga, pikiran serta bimbingan saran dan koreksi dalam skripsi ini.
6. Seluruh Pengelolah dan Staf Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gema
Insan Akademik Makassar.
7. Seluruh keluarga yang selalu memberikan dorongan dan motivasi.
8. Seluruh Kawan-kawan mahasiswa STIK GIA terutama angkatan
2010
Akhirnya penulis memohon kepada sang maha pengasih (Ar
Rahman) semoga apa yang kita peroleh dapat bernilai ibadah di
sisi-Nya, Aamiin.
Makassar,13 September 2014
Penulis

YASRI ODE SULA


( 2110052)

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ..................................................................

HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................

ii

HALAMAN PENGESAHAN ....................................................

iii

ABSTRAK ..............................................................................

iv

ABSTRACK ............................................................................

KATA PENGANTAR ..............................................................

vi

DAFTAR ISI ...........................................................................

vii

DAFTAR TABEL ....................................................................

viii

DAFTAR GAMBAR ................................................................

ix

BAB 1

PENDAHULUAN ...................................................

A. Latar Belakang.................................................

B. Rumusan Masalah ...........................................

C. Tujuan Penelitian .............................................

D. Manfaat Penelitian ...........................................

E.

Hipotesa Penelitian .........................................

TINJAUAN PUSTAKA...........................................

A. Tinjauan Umum tentang Mekanisme Koping ..

B. Tinjauan Umum tentang Kecemasan ..............

13

C. Tinjauan Umum tentang Stroke .......................

26

BAB II

D. Hubungan MekanismenKoping dengan


Tingkat Kecemasan Pasien Stroke .................

37

BAB III

BAB IV

BAB V

METODOLOGI PENELITIAN ...............................

40

A. Kerangka Konseptual ......................................

40

B. Defenisi operasional ........................................

41

C. Rancangan Penelitian ....................................

42

D. Waktu dan Tempat Penelitian .........................

43

E. Populasi dan Sampel ......................................

43

F. Alat dan Bahan Penelitian ...............................

45

G. Pengambilan Data Penelitian .........................

46

H. Pengelolaan Data ...........................................

47

I.

Analisis Data Penelitian ..................................

47

J. Etika Penelitian ................................................

48

HASIL DAN PEMBAHASAN .................................

50

A. Hasil ................................................................

50

B. Pembahasan ...................................................

52

KESIMPULAN DAN SARAN ................................

58

Kesimpulan ......................................................

58

Saran ..............................................................

59

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

.............................

60

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

3.1 Definisi Operasional ................................................................

41

4.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Mekanisme Koping Pasien


Stroke di RS Bhayangkara Makassar .....................................

50

4.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Kecemasan Pasien


Stroke di RS Bhayangkara Makassar ......................................

51

4.3 Hubungan Mekanisme Koping Dengan Tingkat Kecemasan


Pasien Stroke di RS Bhayangkara Makassar ..........................

51

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

2.1 Kerangka Teori ........................................................................

39

3.1 Kerangka Konseptual ..............................................................

40

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Permohonan Responden
2. Persetujuan Responden
3. Lembar Kuesioner
4. Lembar Observasi
5. Master Tabel
6. Hasil Analisis Data Spss 21
7. Surat Izin Pengambilan Data Awal
8. Surat Izin Penelitian
9. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Stroke adalah gangguan potensial yang fatal pada suplai darah
bagian otak. Stroke merupakan penyakit yang mematikan, dan
perawatannya membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tinggi,
karena stroke bila sembuh akan mengalami gangguan atau cacat fisik
seperti kelumpuhan, gangguan menelan, gangguan bicara maupun
gangguan eliminasi (Neil F Gordon).8 Stroke diklasifikasikan menjadi
dua tipe utama, yaitu stroke hemoragik dan stroke non hemoragik.
Stroke non hemoragik diakibatkan oleh ketidakadekuatan perfusi otak
karena adanya sumbatan total atau sebagian dari arteri. Kejadian
stroke jenis ini kurang lebih 85% dari keseluruhan kasus stroke.
Sedangkan kejadian stroke hemoragik kurang lebih sekitar 15% dari
keseluruhan kejadian stroke. Stroke jenis ini terjadi sebagai akibat
adanya perdarahan didalam jaringan otak itu sendiri atau didalam
ruang subarachnoid atau ventrikel.10
Kejadian stroke menurut American Heart Asotiation (AHA) 2013
kejadian kematian karena stroke mencapai 23 % dari jumlah penderita
stroke.4 World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat
peningkatan jumlah stroke yang meroket di seluruh dunia pada
2020 menjadi 61 juta orang, yang sebelumnya pada 1990 jumlahnya
kurang lebih 38 juta orang. Diperkirakan, tiap tahun terdapat kurang

lebih 15 juta penderita stroke baru. Stroke juga menyebabkan 5,7


juta penderita meninggal pada

2005,

dan diperkirakan meningkat

menjadi 6,5 juta pada 2015, dan 7,8 juta pada 2030.23
Di Indonesia stroke menyerang 38,8 % pasien usia lanjut dan 12,9 %
pada usia yang lebih muda. Jumlah total penderita stroke di Indonesia
diperkirakan 500.000 setiap tahun. Dari jumlah itu sekitar 2,5 % atau
250.000 orang meninggal dunia, dan sisanya cacat ringan maupun
berat.20
Kondisi sakit tidak dapat dipisahkan dari peristiwa kehidupan
manusia. Klien yang sedang mengalami sakit, baik dirawat di rumah
maupun di rumah sakit akan mengalami kecemasan dan stress pada
semua tingkat usia. Klien harus menghadapi berbagai perubahan yang
terjadi akibat kondisi sakit dan pengobatan yang dilaksanakan.
Penyakit yang berat, terutama yang dapat mengancam kehidupan, dan
dapat menimbulkan perubahan perilaku yang lebih luas, ansietas,
syok, penolakan, marah. Hal ini merupakan respon umum yang
disebabkan oleh stres.18
Kecemasan pasien timbul dari rasa kekahwatiran yang tidak jelas
dan menyebar yang berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti, tidak
berdaya, serta obyek yang tidak spesifik kecemasan tersebut
dimanifestasikan secara langsung melalui perubahan fisiologis seperti
(gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat, nyeri abdomen, sesak
nafas) dan perubahan perilaku seperti (gelisah, bicara cepat, reaksi

terkejut) dan secara tidak langsung melalui gejala sebagai upaya untuk
melawan kecemasan.14
Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan penyebab
dari gangguan kecemasan. Antara lain teori psikodinamika, faktorfaktor sosial dan lingkungan, faktor-faktor kognitif, emosional dan
faktor biologis. Pasien dapat mengatasi kecemasannya dengan
menggunakan sumber koping di lingkungan sekitarnya. Sumber koping
tersebut adalah aset ekonomi, kemampuan menyelesaikan masalah,
dukungan sosial

keluarga dan keyakinan budaya dapat membantu

individu dalam menggunakan mekanisme koping yang adaptif. Sumber


koping yang penting bagi pasien adalah dukungan sosial keluarga
terutama dari pasangan hidup.14
Cemas bisa terjadi pada siapa saja baik orang sehat atau orang
sakit. Bagi orang sakit kecemasan akan meningkat, lebih jika yang
menderita didiagnosa menderita penyakit terminal seperti stroke yang
dipandang oleh masyarakat sebagai penyebab kematian.18
Mekanisme koping terdiri dari koping adaptif dan maladaptif.
Koping adaptif bertujuan membuat perubahan langsung dalam
lingkungan sehingga situasi dapat diterima dengan lebih efektif.
Sedangkan koping maladaptif dilakukan untuk membuat perasaan
lebih nyaman dengan memperkecil gangguan emosi pada gangguan
stres.

Bahkan

bila

situasi

dipandang

sebagai

sesuatu

yang

menentang dan menguntungkan, upaya koping masih diperlukan


untuk mengembangkan dan mempertahankan tantangan yaitu untuk

mempertahankan keuntungan positif tantangan itu dan menghilangkan


semua ancaman dalam situasi yang berbahaya dan mengancam.
Koping yang berhasil akan mengurangi dan menghilangkan sumber
masalah dan penyembuhan akan terjadi. Jika upaya koping gagal
atau tidak efektif maka keadaan tegang meningkat sehingga menjadi
peningkatan kebutuhan energi lalu sumber penyakit nampak lebih
besar.1
Data yang diperoleh dari Rumah Sakit Bhayangkara Makassar
diruang inap persyarafan pada tahun 2013 jumlah penderita Stroke
dari bulan Januari sampai Desember sebanyak 304 orang, dengan
presentasi yang rawat inap sebanyak 142 orang dan yang rawat jalan
sebanyak 162 orang. Tahun 2014 jumlah penderita stroke dari bulan
januari sampai maret sebanyak 155 orang, dengan presentasi yang
rawat inap sebanyak 36 orang dan yang rawat jalan sebanyak 119
orang. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
tentang Hubungan Mekanisme Koping dengan Tingkat Kecemasan
Pasien Stroke di RS Bhayangkara Mappa Ouddang Makassar.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian masalah dalam latar belakang di atas, maka
dirumuskan

pertanyaan

penelitian

yaitu

Bagaimana

Hubungan

Mekanisme Koping dengan Tingkat Kecemasan Pasien Stroke di RS


Bhayangkara Makassar?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Diketahuinya Hubungan Mekanisme Koping dengan Tingkat
Kecemasan Pasien Stroke di RS Bhayangkara Makassar.
2. Tujuan khusus
a. Diketahuinya Mekanisme Koping Pasien Stroke di RS
Bhayangkara Makassar.
b. Diketahuinya Tingkat Kecemasan Stroke di RS Bhayangkara
Makassar.
c. Diketahuinya Hubungan Mekanisme Koping dengan Tingkat
Kecemasan Pasien Stroke di RS Bhayangkara Makassar.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi pasien
Membantu pasien untuk mempertahankan mekanisme koping
dan bagaimana mengurangi tingkat kecemasan yang dirasakan.
2. Bagi instansi di RS Bhayangkara Makassar
Sebagai informasi tentang bagaimana hubungan mekanisme
koping dengan tingkat kecemasan pasien stroke
3. Bagi institusi pendidikan Keperawatan
Penelitian

ini

diharapkan

dapat

menambahkan

pembendaharaan ilmu pengetahuan dalam ilmu keperawatan


khususnya keperawatan Jiwa dengan klien Stroke

4. Bagi peneliti
Sebagai pengalaman yang sangat berharga bagi peneliti untuk
meningkatkan kemampuan, mengaktualisasikan pengetahuan dan
wawasan keperawatan khususnya keperawatan Jiwa terhadap
klien dengan Stroke

E. Hipotesa Penelitian
1. Hipotesa Nol (Ho)
Tidak ada Hubungan Mekanisme Koping dengan Tingkat
Kecemasan Pasien Stroke di RS Bhayangkara Makassar.
2. Hipotesa Alternatif (Ha)
Ada

Hubungan

Mekanisme

Koping

dengan

Kecemasan Pasien Stroke di RS Bhayangkara Makassar.

BAB II

Tingkat

TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum tentang Mekanisme Koping
1. Definisi Mekanisme Koping
Mekanisme koping diartikan sebagai cara yang dilakukan
individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri
dengan perubahan, serta respons terhadap situasi yang
mengancam (Keliat, 1999). Menurut Lazarus (1985), koping
adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam
upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal
khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu.12
Mekanisme koping adalah cara yang digunakan individu
dalam menyelesaikan masalah, mengatasi perubahan yang
terjadi, dan situasi yang mengancam, baik secara kognitif
maupun perilaku.12
2. Klasifikasi Mekanisme Koping
Menurut Stuart dan Sundeen (1995), Mekanisme koping
berdasarkan penggolongan dibagi menjadi dua, yaitu :12
a. Mekanisme koping adaptif. Merupakan mekanisme koping
yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar, dan
mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan
orang lain, memecahkan masalah secara efektif, tehnik
relaksasi, latihan seimbang, dan aktifitas konstruktif.
b. Mekanisme

koping maladaptif.

Merupakan

koping yang menghambat fungsi integrasi,

mekanisme
memecah

pertumbuhan,

menurunkan

otonomi,

dan

cenderung

menguasai lingkungan.
3. Mekanisme Pertahanan Ego
Mekanisme pertahanan ego adalah sebagai berikut :12
a. Kompensasi.

Proses

dimana

seseorang

memperbaiki

penurunan citra diri dengan secara tegas menonjolkan


keistimewaan dan kelebihan.
b. Penyangkalan

(Denial).

Menyatakan

ketidaksetujuan

terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut atau


menolak untuk menerima atau menghadapi kenyataan yang
tidak enak. Mekanisme pertahanan ini adalah yang paling
sederhana dan premitif.
c. Pemindahan (Displacement). Pengalihan emosi yang semula
ditujukan pada seseorang atau benda lain yang biasanya
netral atau lebih sedikit mengancam dirinya.
d. Disosiasi. Pemisahan suatu kelompok proses mental atau
perilaku dari kesadaran atau identitasnya. Keadaan dimana
terdapat dua atau lebih kepribadian pada diri seorang
individu.
e. Identifikasi (Identification). Proses dimana seseorang untuk
menjadi seseorang yang ia kagumi berupaya dengan
mengambil atau menirukan pikiran-pikiran, perilaku, dan
selera orang tersebut.

f. Intelektualisasi (Intelectualzation). Menggunakan logika dan


alasan yang berlebihan untuk menghindari pengalaman
yang menggangu perasaanya.
g. Introjeksi (introjection). Suatu jenis identifikasi yang kuat
dimana seseorang mengambil dan meleburkan nilai-nilai
serta kualitas seseorang atau kelompok ke dalam struktur
egonya sendiri, yang berasal dari hati nurani.
h. Isolasi. Pemisahan unsur emosional dari suatu pikiran yang
mengganggu dapat bersifat sementara atau berjangka lama.
i.

Proyeksi. Pengalihan buah pikiran atau impuls pada diri


sendiri kepada orang lain terutama keinginan, perasaan,
emosional dan motivasi yang tidak dapat ditoleransi.

j.

Rasionalisasi. Mengemukakan penjelasan yang tampak logis


dan

dapat

diterima

masyarakat

untuk

menghalalkan

(membenarkan) dorongan perasaan, perilaku, dan motif


yang tidak dapat diterima.
k. Reaksiformasi. Pengembangan sikap dan pola perilaku yang
ia sadari, yang bertentangan dengan apa yang sebenarnya
ia rasakan atau ingin lakukan.
l.

Regresi. Kemunduran akibat stres terhadap perilau dan


meruapakan ciri khas dari suatu taraf perkembangan yang
lebih dini.

m. Represi. Pengesampingan secara tidak sadar tentang


pikiran, impuls, atau ingatan yang menyakitkan atau

bertentangan,

dari

kesadaran

seseorang.

Merupakan

pertahan ego primer yang cenderung diperkuat oleh


mekanisme lain.
n. Pemisahan (Splitting). Sikap mengelompokan orang atau
keadaan hanya sebagai semuanya baik atau semuanya
buruk. Orang seperti ini mengalami kegagalan untuk
mengadukan nila-nilai positif dan negatif didalam diri sendiri.
o. Sublimasi. Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia,
artinya dimata masyarakat terdapat suatu dorongan yang
mengalami halangan dalam penyalurannya secara normal.
p. Supresi.

Suatu

mekanisme
analog

proses

pertahanan,

represi

yang

yang
tetapi
disadari.

digolongkan
sebetulnya
Hal

ini

sebagai

merupakan
merupakan

pengesampingan yang disengaja tentang suatu bahan dari


kesadaran seseorang. Kadang-kadang dapat mengarah
pada represi yang berikutnya.
q. Undoing. Tindakan atau perilaku atau komunikasi yang
menghapuskan sebagian dari tindakan atau perilaku atau
komunikasi sebelumnya, merupakan mekanisme pertahanan
primitif.
r. Fiksasi. Berhentinya tingkat perkembangan pada salah satu
aspek tertentu, seperti: emosi tingkah laku, atau pikiran
sehingga perkembangan selanjutnya terhambat.

s. Simbolisasi. Menggunakan benda atau tingkah laku sebagai


simbol pengganti suatu keadaan atau hal yang sebenarnya.
t. Konversi adalah transformasi konflik emosional kedalam
bentuk gejala-gejala jasmani.
4. Gaya Koping
Gaya koping merupakan penentuan dari gaya seseorang
atau cita-cita tertentu dari seseorang dalam memecahkan suatu
masalah berdasarkan tuntutan yang dihadapi. Gaya koping
dicirikan sebagai berikut :12
a. Gaya Koping Positif
Gaya koping positif Merupakan gaya koping yang
mampu mendukung integritas ego. Berikut ini adalah macam
gaya koping positif, yaitu :12
1) Problem solving, Merupakan usaha untuk memecahkan
suatu masalah. Masalah harus dihadapi dan dipecahkan,
dan bukan dihindari atau ditekan dialam bawah sadar,
seakan-akan masalah itu tidak berarti. Pemecahan
masalah ini digunakan sebagai cara untuk menghindari
tekanan atau beban psikologis akibat adanya stressor
yang masuk dalam diri seseorang.
2) Utilizing social support, Merupakan tindak lanjut dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapi ketika masalah itu
belum

terselesaikan.

Hal

ini

tidak

terlepas

dari

keterbatasan manusia dalam menyelesaikan masalah

yang dihadapi.tidak semua orang mampu menyelesaikan


masalahnya sendiri, hal ini karena rumitnya masalah
yang dihadapi.
3) Looking for silver lining, Kepelikan masalah yang
dihadapi terkadang akan membawa kebuntuan upaya
menyelesaikan masalah. Walaupun sudah ada upaya
maksimal, terkadang masalah tersebut belum didapatkan
titik temunya.
b. Gaya koping negatif
Gaya koping negatif merupakan gaya koping yang akan
menurunkan integritas ego, dimana penentuan gaya koping
akan merusak dan merugikan dirinya sendiri, yang terdiri
atas hal-hal sebagai berikut:12
1) Avoidance, Merupakan bentuk dari proses internalisasi
terhadap suatu pemecahan masalah kedalam alam
bawah sadar dengan menghilangkan atau membebaskan
diri dari suatu tekanan mental akibat masalah-masalah
yang dihadapi.
2) Self-blame, Merupakan bentuk dari ketidakberdayaan
atas masalah yang dihadapi dengan menyalahkan diri
sendiri tanpa evaluasi diri yang optimal. Kegagalan orang
lain dialihkan dengan menyalahkan dirinya sendiri
sehingga menekan kreativitas dan ide yang berdampak
pada penarikan diri dari struktur sosial.

3) Wishfull thinking, Kegagalan dalam mencapai tujuan


yang diinginkan seharusnya tidak menjadikan seseorang
berada dalam kesedihan yang mendalam. Hal ini terjadi
karena

dalam

penentuan

standar

diri,

diset

atau

dikondisikan terlalu tinggi sehingga sulit untuk dicapai.

B. Tinjauan Umum tentang Kecemasan


1. Definisi Kecemasan
Ansietas (kecemasan) adalah kekhawatiran yang tidak jelas
dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan
tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang
spesifik, ansietas dialami secara subjektif dan dikomunikasikan
secara interpersonal.19
Ansietas atau kecemasan merupakan respons individu
terhadap suatu keadaan yang tidak menyenangkan dan dialami
oleh seluruh mahluk hidup.16
Ansietas adalah merupakan respons emosional terhadap
penilaian individu yang subyektif, yang dipengaruhi alam bawah
sadar dan tidak diketahui khusus penyebabnya.17
Kecemasan terjadi sebagai akibat dari ancaman terhadap
harga diri atau identitas diri yang sangat mendasar bagi
keberadaan

individu.

Kecemasan dikomunikasikan secara

interpersonal dan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari,

menghasilkan peringatan yang berharga dan penting untuk


upaya memelihara keseimbangan diri dan melindungi diri.16
Kecemasan tidak dapat dihindarkan dari kehidupan individu
dalam

memelihara

keseimbangan.

Pengalaman

cemas

seseorang tidak sama pada beberapa situasi dan hubungan


interpersonal.

Hal

yang

dapat

menimbulkan

kecemasan

biasanya bersumber dari :16


a. Ancaman integritas biologi meliputi gangguan terhadap
kebutuhan dasar makan, minum, kehangatan, seks.
b. Ancaman terhadap keselamatan diri :
1) Tidak menemukan integritas diri
2) Tidak menemukan status dan prestasi
3) Tidak memperoleh pengakuan dari orang lain
4) Ketidaksesuaian pandangan diri dengan lingkungan
nyata.
2. Tingkatan Kecemasan
a. Menurut Hamilton membagi kecemasan menjadi 4 tingkat
antara lain ansietas ringan, ansietas sedang, ansietas berat
dan ansietas panik yaitu :21

1) Ansietas ringan
Ansietas
seseorang
terhadap

atau

untuk

cemas

dapat

lingkungan

dan

ringan

berespon
kejadian,

diperlukan

secara

efektif

berhubungan

dengan ketegangan otot ringan, sadar akan lingkungan


dan rileks atau sedikit gelisah. Pada cemas ringan
respon

emosional

sedikit

tidak

sabar,

aktifitas

menyendiri, tersimulasi dan tenang. Seorang cemas


ringan dijumpai hal-hal sebagai berikut:
Lapangan presepsi luas, terlihat percaya diri dan
tenang, waspada dan memperhatikan banyak hal,
mempertimbangkan informasi, cenderung untuk tidur.
2) Cemas sedang
Cemas sedang memungkinkan seseorang untuk
memuaskan pada suatu hal dan mengesampingkan
yang lain, kepercayaan diri goyah, ketegangan otot
sedang

sehingga

perhatian

secara

seseorang
selektif.

mengalami
Seseorang

tidak
dengan

kecemasan sedang biasanya menunjukan keadaan


seperti:
Lapang presepsi menurun, perubahan suara:
bergetar, nada suara tinggi, pupil dilatasi, mulai
berkeringat,

kewaspadaan

dan

ketegangan

meningkat, peningkatan tanda-tanda vital, respon


yang muncul adalah:
Respon fisik sering berkemih,pola tidur berubah,
respon kognitif rentang perhatian menurun,respon
emosional mudah tersinggung, banyak pertimbangan.

3) Cemas berat
Kecemasan ini menyebabkan presepsi berkurang
sehingga cenderung terjadi penurunan ketrampilan
kognitif menurun secara signifikan, individu yang
mengalami ansietas berat sulit untuk berpikir dan
melakukan

pertimbangan,

pada

ansietas

berat

individu memperlihatkan kegelisahan, iritabilitas atau


menggunakan cara psikomotor- emosional yang sama
lainnya untuk melepas ketegangan. Hal-hal yang
sering dijumpai pada seseorang yang mengalami
cemas berat adalah:
a) Lapang

presepsi

terpecah-pecah,

terbatas,
ketika

proses

berpikir

diinstruksikan

untuk

melakukan sesuatu tidak dapat berkosentrasi


b) tidak

mampu

mempertimbangkan

informasi

heperventilasi, takikardi, pengeluaran keringat


meningkat
c) berkomunikasi sulit untuk dipahami, berteriak,
gemetar
d) kontak mata buruk, menarik diri, kebutuhan ruang
gerak meningkat
4) Ansietas panik
Kecemasan yang berhubungan dengan ketakutan
dan teror, individu akan mengalami panik dan tidak

mampu

mengontrol

pengarahan,

terjadi

presepsi
peningkatan

walaupun

dengan

aktifitas

motorik,

menurunkan kemampuan untuk berhubungan dengan


orang lain. Panik merupakan disorganisasi kepribadian,
pada keadaan panik hormon stres dan neurotransmeter
berkurang.
Hal-hal yang dijumpai dengan keadaan panik
adalah:
a) Tanda-tanda vital meningkat kemudian menurun
b) Pikiran tidak logis hilang kemampuan mengingat,
individu dalam keadaan panik tidak dapat melihat
atau memahami situasi
c) Halusinasi, waham, ilusi mungkin terjadi dan
keadaan saat panik individu tidak dapat tidur
d) Pikiran tidak logis, terganggu dan tidak rasional.
b. menurut

Kusumawati

dan

Hartono

membagi

tingkat

kecemasan menjadi 4 bagian yaitu:9


1) Kecemasan Ringan
a) Individu waspada
b) Lapang persepsi luas
c) Memejamkan indera
d) Dapat memotivasi individu untuk belajar dan
mampu memecahkan masalah secara efektif
e) Menghasilkan pertumbuhan dan kreatif

2) Kecemasan Sedang
a) Individu hanya fokus pada pikiran yang menjadi
perhatiannya
b) Terjadi penyempitan lapang persepsi
c) Masih dapat melakukan sesuatu dengan arahan
orang lain
3) Kecemasan Berat
a) Lapang persepsi yang sangat sempit
b) Perhatian hanya pada detil yang kecil (spesifik) dan
tidak dapat berpikir tentang hal-hal yang lain
c) Seluruh perilaku dimaksudkan untuk mengurangi
kecemasan dan perlu banyak perintah/arahan
untuk fokus pada area lain.
4) Panik
a) Individu kehilangan kendali diri dan detil
b) Detil perhatian hilang
c) Tidak bisa melakukan apapun meskipun dengan
perintah
d) Terjadi peningkatan aktivitas motorik
e) Berkuranganya kemampuan berhubungan dengan
orang lain
f)

Penyimpangan presepsi dan hilangnya pikiran


rasional, tidak mampu berfungsi secara efektif

g) Biasanya disertai dengan disorganisasi kepribadian

3. Etiologi Kecemasan
a. Faktor Predisposisi (Pendukung)
Ketegangan dalam kehidupan dapat berupa hal-hal
sebagai berikut :17
1) Peristiwa traumatik
2) Konflik emosional
3) Gangguan konsep diri
4) Frustasi
5) Gangguan fisik
6) Pola mekanisme koping keluarga
7) Riwayat gangguan kecemasan
8) Medikasi
b. Faktor Presipitasi
1) Ancaman terhadap integritas fisik
a) Sumber internal
b) Sumber eksternal
2) Ancaman terhadap harga diri
a) Sumber internal
b) Sumber eksternal
4. Tanda dan Gejala Ansietas
Beberapa tanda dan gejala ansietas yaitu:9
a. Tanda dan gejala ansietas ringan
1) Respon fisiologis
a) Sesekali nafas pendek

b) Nadi dan tekanan darah meningkat


c) Gangguan ringan pada lambung
d) Muka berkerut dan bibir bergetar
2) Respon kognitif
a) Lapang presepsi meluas
b) Mampu menerima rangsangan yang kompleks
c) Kosentrasi pada masalah
d) Menyelesaikan masalah secara efektif
3) Respon perilaku dan emosi
a) Tidak dapat duduk tenang
b) Tremor halus pada tangan
c) Suara kadang-kadang meninggi
b. Tanda dan gejala ansietas sedang
1) Respon fisiologis
a) Sering nafas pendek
b) Nadi dan tekanan darah meningkat
c) Mulut kering
d) Anoreksia
e) Diare/konstipasi
2) Respon kognitif
a)

Lapang presepsi menyempit

b)

Tidak mampu menerima rangsangan dari luar

c)

Berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya

3) Respon perilaku dan emosi

a) Gerakan tersentak/meremas tangan


b) Bicara banyak dan lebih cepat
c) Insomnia
d) Perasaan tidak aman
e) Gelisah
c. Tanda dan gejala ansietas berat
1) Respon fisiologis
a) Nafas pendek
b) Nadi dan tekanan darah meningkat
c) Berkeringat dan sakit kepala
d) Penglihatan kabur
e) Ketegangan
2) Respon kognitif
a) Lapang presepsi sangat sempit
b) Tidak mampu menyelesaikan masalah
3) Respon perilaku dan emosi
a) Perasaan adanya ancaman meningkat
b) Verbalisasi cepat
c) Blocking
d. Tanda dan gejala panik
1) Respon fisiologis
a) Nafas pendek
b) Nadi dan tekanan darah meningkat
c) Aktivitas motorik meningkat

d) Ketegangan
2) Respon kognitif
a) Lapang presepsi sangat sempit
b) Kehilangan pemikiran yang rasional
c) Tidak dapat melakukan apa-apa walau sudah diberi
pengarah/ tuntunan
3) Respon perilaku dan emosi
a) Perasaan akan adanya ancaman meningkat
b) Menurunnya berhubungan dengan orang lain
c) Tidak dapat mengendalikan diri
5. Teori Kecemasan
a. Teori Psikoanalitik
Menurut

Freud,

kecemasan

timbul

akibat

reaksi

psikologis individu terhadap ketidakmampuan mencapai


orgasme dalam hubungan seksual. Energi seksual yang
tidak terekspresikan akan mengakibatkan rasa cemas.
Kecemasan dapat timbul secara otomatis akibat dari
stimulus internal dan eksternal yang berlebihan. Akibat
stimulus (internal dan eksternal) yang berlebihan yang
melampaui kemampuan individu menanganinya. Ada dua
tipe kecemasan yaitu kecemasan primer dan kecemasan
subsekuen.16
1) Kecemasan primer, kejadian traumatik yang diawali saat
bayi akibat adanya stimulasi tiba-tiba dan trauma pada

saat

persalinan,

kemungkinan

tidak

kemudian

berlanjut

tercapainya

rasa

dengan

puas

akibat

kelaparan atau kehausan. Penyebab kecemasan primer


adalah

keadaan ketegangan

atau dorongan

yang

diakibatkan oleh faktor eksternal.


2) Kecemasan subsekuen, Sejalan dengan peningkatan
ego dan usia, freud melihat ada kecemasan lain akibat
konflik emosi diantara dua elemen kepribadian yaitu id
dan

seperego.

Freud

menjelaskan

bila

terjadi

kecemasan bahwa posisi ego sebagai pengembang id


dan superego berada kondisi bahaya.
b. Teori interpersonal
Sullivan mengemukakan bahwa kecemasan timbul
akibat ketidakmampuan untuk berhubungan interpersonal
dan sebagai akibat penolakan. Kecemasan bisa dirasakan
bila individu mempunyai kepekaan lingkungan. Kecemasan
pertama kali ditentukan oleh hubungan ibu dan anak pada
awal kehidupannya, bayi berespon seolah-olah dia dan
ibunya adalah satu unit. Dengan bertambahnya usia, anak
melihat ketidaknyamanan yang timbul akibat tindakannya
sendiri dan diyakini bahwa ibunya setujuh atau tidak setuju
dengan perilaku itu.
Adanya trauma seperti perpisahan dengan orang
berarti atau kehilangan dapat menyebabkan kecemasan

pada

individu.

Kecemasan

yang

timbul

pada

masa

berikutnya muncul pada saat individu mempresepsikan


bahwa ia akan kehilangan orang yang dicintainya. Harga diri
seseorang merupakan faktor penting yang berhubungan
dengan kecemasan. Orang yang mempunyai predisposisi
mengalami kecemasan adalah orang yang mudah terancam,
mempunyai opini negatif terhadap dirinya atau meragukan
kemampuannya.
c. Teori perilaku
Teori

perilaku

merupakan

hasil

memengaruhi

menyatakan

frustasi

individu

bahwa

akibat

dalam

kecemasan

berbagai

mencapai

hal

yang

tujuan

yang

diinginkan misalnya memperoleh pekerjaan, berkeluarga,


kesuksesan dalam sekolah. Perilaku merupakan hasil belajar
dari pengalaman yang pernah dialami. Kecemasan dapat
juga muncul melalui konflik antara dua pilihan yang saling
berlawanan dan individu harus memilih salah satu. Konflik
menimbulkan

kecemasan

dan

kecemasan

akan

meningkatkan presepsi terhadap konflik dengan timbulnya


perasaan ketidakberdayaan.
Konflik
approach

muncul
dan

kecenderungan

dari

dua

avoidance
untuk

kecenderungan
approach

melakukan

atau

yaitu

merupakan
menggerakan

sesuatu. Avoidance adalah kebalikan yaitu tidak melakukan


atau menggerakan sesuatu melalui sesuatu.
d. Teori keluarga
Studi pada keluarga dan epidemiologi memperlihatkan
bahwa kecemasan selalu ada pada tiap-tiap keluarga dalam
berbagai bentuk dan sifatnya heterogen.
e. Teori biologik
Otak memiliki reseptor khusus terhadap benzodiazepin,
reseptor tersebut berfungsi membantu regulasi kecemasan.
Regulasi tersebut berhubungan aktivitas neurontransmiten
gamma amino butyric acid (GABA) yang mengontrol aktifitas
neuron dibagian otak yang bertanggung jawab menghasilkan
kecemasan.16
6. Reaksi Kecemasan
Kecemasan dapat menimbulkan reaksi konstruktif maupun
destruktif bagi individu:16
a. Konstruktif. Individu termotivasi untuk belajar mengadakan
perubahan terutama perubahan terhadap perasaan tidak
nyaman dan terfokus pada kelangsungan hidup. Contohnya:
individu yang melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih
tinggi karena akan dipromosikan naik jabatan.
b. Destruktif.

Individu

disfungsional.

bertingkah

Contohnya:

laku

individu

maladaptif

dan

menghindari kontak

dengan orang lain atau mengurung diri, tidak mau mengurus


diri, tidak mau makan.

C. Tinjauan Umum tentang Stroke


1. Definisi Stroke
Stroke adalah gangguan fungsi otak yang terjadi dengan
cepat (tiba-tiba) dan berlangsung lebih dari 24 jam karena
gangguan

suplai

darah

keotak.

Dalam

jaringan

otak,

kekurangan aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi biokimia yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel otak.
Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi
yang dikendalikan oleh jaringan itu. Seperti yang kita ketahui,
otak adalah pusat system saraf dalam tubuh manusia. Otak
tidak hanya mengendalikan gerakkan, namun juga pikiran,
ingatan, emosi, suasana hati, bahkan sampai dorongan seksual.
Selama

masih

hidup,

otak

terus-menerus

menerima

rangsangan, mengelola, dan menyimpan informasi dalam


bentuk memori.24
Gangguan aliran darah keotak merupakan masalah yang
paling serius, dan bahkan dapat berakibat fatal. Aliran darah ke
otak pada dasarnya memasok nutrisi ke sel-sel saraf otak. Jika
aliran darah dan pasokan oksigen ke otak berjalan lancar, fungsi
otak pun akan berfungsi normal. Otak membutuhkan darah
segar sekitar 1/5 dari kebutuhan seluruh bagian organ tubuh

lainnya. Padahal, berat otak hanya 1/40 dari berat tubuh. Tanpa
nutrisi dan oksigen, sel-sel otak akan mati.24
Stroke adalah penyakit yang ditandai oleh penurunan
fungsi otak, yang disebabkan oleh terhentinya aliran darah
keotak yang berlangsung selama 24 jam atau lebih atau
berakhir dengan kematian (WHO, 1970).22
2. Klasifikasi stroke
a. Stroke iskemik
Penyumbatan arteri yang menyebabkan stroke iskemik
dapat terjadi akibat thrombus (bekuan darah diarteri serebri)
atau embolus (bekuan darah yang berjalan keotak dari
tempat lain ditubuh)3
b. Stroke hemoragik
Stroke hemoragik terjadi apabila pembuluh darah diotak
pecah sehingga menyebabkan iskemia (penurunan aliran)
dan hipoksia disebelah hilir. Penyebab stroke hemoragik
adalah hipertensi, pecahnya aneurisma, atau malformasi
(hubungan yang abnormal).3

3. Faktor resiko
Faktor resiko stroke dibagi menjadi dua, yaitu faktor resiko
yang tidak dapat diubah dan faktor resiko yang dapat diubah.13
a. Faktor resiko yang tidak dapat diubah

1) Usia tua
2) Jenis kelamin
3) Ras
4) Riwayat keluarga dan riwayat stroke sebelumnya
b. Faktor resiko yang dapat diubah
1) Hipertensi
2) Diabetes melitus
3) Merokok
4) Dislipidemia
5) Obesitas
4. Etiologi
Penyebab terjadinya stroke adalah sebagai berikut :11
a. Trombosis serebral
Trombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami
okulasi sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang
dapat menimbulkan oedema dan kongesti di sekitarnya.
Trombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang
tidur dan bangun tidur. Hal ini terjadi karena penurunan
aktifitas simpatis dan penurunan tekanan darah yang dapat
menyebabkan iskemi serebral. Tanda dan gejala sering kali
memburuk pada 48 jam setelah trombosis.
b. Hemoragi
Pendarahan intrakranial atau intraserebral termasuk
perdarahan dalam ruang subaraknoid atau kedalam jaringan

ptak

sendiri.

Perdarahan

ini

dapat

terjadi

karena

aterosklerosis dan hipertensi. Akibat pecahnya pembuluh


darah

otak

parenkim

menyebabkan

otak

perebesan

darah

yang dapat menyebabkan

kedalam

penekanan,

pergeseran dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan,


sehingga otak akan membengkak, jaringan otak tertekan,
sehingga terjadi infark otak, edema, dan mungkin herniasi
otak.
5. Manifestasi klinis
Tanda dan gejala pada penderita stroke adalah:24
a. Mati rasa mendadak pada wajah, atau rasa lemah
mendadak pada lengan, tungkai kaki, terutama pada satu
sisi tubuh.
b. Merasa lemah dan tidak bertenaga.
c.

Tiba-tiba pusing atau kehilangan keseimbangan.

d. Tiba-tiba menderita sakit kepala yang parah (yang kadang


di sebut penderita sebagai sakit kepala terparah selama
hidup).
e. Bingung atau kesulitan berbicara.
f.

Mulut mencong ke kiri atau ke kanan.

g. Separuh badan terasa pegal, kesemutan, dan panas


seperti terkena cabai/terbakar.
h. Lidah mencong bila di luruskan.
i.

Bicara pelo/tidak jelas.

j.

Sulit menelan atau saat makan/minum mudah tersedak.

k.

Terasa tidak ada koordinasi antara yang dibicarakan dan


yang ada dipikiran.

l.

Tidak bisa atau sulit membaca dan menulis, ada beberapa


hal hilang dari ingatan.

m. Penglihatan terganggu
n. Kemunduran pendengaran.
o. Gerakan tidak terkoordinasi.
p. Mendadak lumpuh setengah badan.
q. Terjadi nyeri kepala sangat hebat dengan karakter tidak
lazim.
r.

Kejang yang tidak dapat di jelaskan penyebabnya, dan

s.

Sakit kepala berat atau vertigo parah tanpa diketahui


penyebnya.

6. Patofisiologi
Infark serebral berkurangnya suplai darah ke area tertentu
di otak.luasnya infark bergantung pada faktor-faktor seperti
lokasi dan besarnya pembuluh darah dan adekuatnya sirkulasi
kolateral terhadap area yang disupai oleh pembuluh darah yang
tersumbat. Suplai darah ke otak dapat berubah (makin lambat
atau cepat) pada gangguan lokal (trombus, emboli, perdarahan
dan spasme vaskular) atau karena gangguan umum (hipoksia
karena gangguan paru dan jantung). Aterosklerosis sering
sebagai faktor penyebab infark pada otak. Trombus dapat

berasal dari plak aterosklerosis, atau darah dapat beku pada


area

yang

stenosis,

tempat

aliran

darah

mengalami

perlambatan atau terjadi turbulensi.11


Trombus dapat pecah dari dinding pembuluh darah
terbawa

sebagai

emboli

dalam

aliran

darah.

Trombus

menyebabkan iskemia jaringan otak yang di suplai oleh


pembuluh darah yang bersangkutan dan edema dan kongesti di
sekitar area. Area edema ini menyebabkan disfungsi yang lebih
besar daripada area infark itu sendiri. Edema dapa berkurang
dalam beberapa jam atau kadang-kadang sesudah beberapa
hari. Dengan berkurangnya edema klien mulai menunjukan
perbaikan. Oleh karena trombosis biasanya tidak fatal, jika tidak
terjadi perdarahan masif. Okulasi pada pembuluh darah
serebral oleh embolus menyebabkan edema dan nekrosis
diikuti trombosis. Jika terjadi septik infeksi akan meluas pada
dinding pembuluh darah maka akan terjadi abses atau
ensefalitis, atau jika sisa infeksi berada pada pembuluh darah
yang tersumbat menyebabkan dilatasi aneurisma pembuluh
darah. Hal ini akan menyebabkan perdarahan serebral, jika
pembuluh darah pecah atau ruptur.11
Perdarahan

pada

otak

disebabkan

oleh

ruptur

arteriosklerotik dan hipertensi pembuluh darah. Perdarahan


intraserebral yang sangat luas akan lebih sering menyebabkan
kematian dibandingkan keseluruhan penyakit serebro vaskular,

karena perdarahan yang luas terjadi destruksi massa otak,


peningkatan tekanan intrakranial dan yang lebih besat dapat
menyebabkan herniasi otak pada falk serebri atau lewat
foramen magnum.11
Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang otak,
hemisfer otak, dan perdarahan batang otak sekunder atau
ekstensi perdarahan pada batang otak. Perembesan darah
pada ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus perdarahan
otak terjadi pada nukleus kaudatus, talamus dan pons.11
Jika sirkulasi serebral terhambat, dapat berkembang
anoreksia serebral. Perubahan yang disebabkan oleh anoksia
serebral dapat reversibel untuk waktu 4-6 menit. Perubahan
ireversibel jika anoksia lebih dari 10 menit. Anoksia serebral
dapat terjadi oleh karena gangguan yang bervariasi salah
satunya henti jantung.11
7. Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan secara per sistem
(B1-B6) dengan fokus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3
(Brain) yang terarah dan dihubungkan dengan keluhankeluhan dari klien.11
a. B1 (Breathing)
Pada inspeksi didapatkan klien batuk, peningkatan
produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu
napas, dan peningkatan frekuensi pernafasan. Auskultasi

bunyi napas tambahan seperti ronkhi pada klien dengan


peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang
menurun yang sering didapatkan pada klien stroke dengan
penurunan tingkat kesadaran koma.
b. B2 (Blood)
Pengkajian pada sistem kardiovaskular didapatkan
renjatan (syok hipovolemik) yang sering terjadi pada klien
stroke. Tekanan darah biasanya terjadi peningkatan dan
dapat terjadi hipertensi masif (tekanan darah >200 mmHg).
c. B3 (Brain)
Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus
dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada sistem
lainnya.
1) Pengkajian tingkat kesadaran. Pada keadaan lanjut
tingkat kesadaran klien stroke biasanya berkisar pada
tingkat letargi, stupor, dan semikomatosa.
2) Pengkajian fungsi serebral. Pengkajian ini meliputi
status mental, fungsi intelektual, kemampuan bahasa,
lobus frontal, dan hemisfer.
3) Pengkajian sistem motorik. Stroke adalah penyakit saraf
motorik atas (UMN) dan mengakibatkan kehilangan
kontrol volunter terhadap gerakan motorik. Oleh karena
UMN bersilangan, gangguan kontrol motor volunter

pada

salah

satu

sisi

tubuh

dapat

menunjukkan

kerusakan pada UMN di sisi yang berlawanan dari otak.


4) Pengkajian sistem sensorik. Kehilangan sensori karena
stroke dapat berupa kerusakan sentuhan ringan atau
mungkin lebih berat, dengan kehilangan propriosepsi
(kemampuan untuk merasakan posisi dan gerakan
bagian

tubuh)

serta

kesulitan

dalam

menginterpretasikan stimuli visual, taktil, dan auditorius.


d. B4 (Bladder)
Setelah stroke klien mungkin mengalami inkontinensia
urine

sementara

karena

konfusi,

ketidakmampuan

mengomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk


mengendalikan kandung kemih karena kerusakan kontrol
motorik dan postural.
e. B5 (Bowel)
Didapatkan adanya kesulitan menelan, nafsu makan
menurun, mual muntah pada fase akut. Mual sampai
muntah disebabkan oleh peningkatan produksi asam
lambung sehingga menimbulkan masalah pemenuhan
nutrisi.
f. B6 (Bone)
Stroke adalah penyakit UMN dan mengakibatkan
kehilangan kontrol volunter terhadap gerakan motorik. Oleh
karena neuron motor atas menyilang, gangguan kontrol

motor

volunter

pada

salah

satu

sisi

tubuh

dapat

menunjukkan kerusakan pada neuron motor atas pada sisi


yang berlawanan dari otak.disfungsi motorik paling umum
adalah hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena
lesi pada sisi otak yang berlawanan. Hemiparesis atau
kelemahan salah satu sisi tubuh, adalah tanda yang lain.10
8. Penanganan stroke
Keberhasilan

penanganan

stroke

di

tentukan

oleh

beberapa hal, diantaranya:22


a. Kecepatan penderita dirujuk secara aman ke rumah sakit
yang memiliki fasilitas yang memadai.
b. Penanganan stroke yang bersifat kerja tim dokter yang
meliputi ahli saraf, ahli penyakit dalam, ahli radiologi, ahli
bedah saraf dan perawat.
c.

Serta kelengkapan sarana penunjang diagnostik stroke


yang di miliki sarana layanan kesehatan

9. Langkah untuk mencegah terjadinya stroke


Stroke merupakan mimpi buruk bagi penderita maupun
keluarganya. Namun, setiap orang bisa mengurangi resiko
terjadinya penyakit ini, yakni dengan menerapkan pola hidup
sehat dan mengobati berbagai penyakit kronis secara teratur
kedokter.22

Beberapa pola hidup sehat yang dapat dilakukan guna


menekan resiko terjadinya stroke di antaranya:22
a. Melakukan olahraga secara teratur dan meningkatkan
aktifitas fisik yang menyehatkan.
b. Memilih mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat
dan bergizi seimbang.
c. Menghindari mengkonsumsi makanan cepat saji yang tinggi
kadar kalori, garam, dan lemaknya tetapi miskin kadar
gizinya.
d. Menghindari

dan

atau

dari

kebiasaan

merokok,

mengkonsumsi alkohol dan narkotika, zat psikotropika,


maupun zat adiktif lainnya (napza).
e. Mengobati penyakit kronis seperti hipertensi, kelainan irama
jantung, dan DM tipe 2 secara teratur ke dokter.

D. Hubungan Mekanisme Koping dengan Tingkat Kecemasan


Pasien Stroke
Stroke adalah penyakit gangguan fungsional otak berupa
kematian sel-sel saraf neurologik akibat gangguan aliran darah
pada salah satu bagian otak. Secara spesifik hal itu terjadi karena
terhentinya aliran darah keotak karena sumbatan atau perdarahan.
Gangguan saraf /kelumpuhan tergantung bagian mana yang
terkena.15

Cemas bisa terjadi pada siapa saja baik orang sehat atau
orang sakit. Bagi orang sakit kecemasan akan meningkat, lebih jika
yang menderita didiagnosa menderita penyakit terminal seperti
stroke yang dipandang oleh masyarakat sebagai penyebab
kematian.18
Kecemasan pasien timbul dari rasa kekahwatiran yang tidak
jelas dan menyebar yang berkaitan dengan perasaan yang tidak
pasti, tidak berdaya, serta obyek yang tidak spesifik kecemasan
tersebut dimanifestasikan secara langsung melalui perubahan
fisiologis seperti (gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat,
nyeri abdomen, sesak nafas) dan perubahan perilaku seperti
(gelisah, bicara cepat, reaksi terkejut) dan secara tidak langsung
melalui gejala sebagai upaya untuk melawan kecemasan.14
Berbagai
penyebab

teori

dari

telah

dikembangkan

gangguan

kecemasan.

untuk

menjelaskan

Antara

lain

teori

psikodinamika, faktor-faktor sosial dan lingkungan, faktor-faktor


kognitif dan emosional dan faktor biologis. Pasien dapat mengatasi
kecemasannya dengan menggunakan sumber koping di lingkungan
sekitarnya.

aset

ekonomi,

kemampuan menyelesaikan masalah, dukungan sosial

keluarga

dan

Sumber

keyakinan

koping

budaya

tersebut

dapat

adalah

membantu

individu

dalam

menggunakan mekanisme koping yang adaptif. Sumber koping


yang penting bagi pasien adalah dukungan sosial keluarga
terutama dari pasangan hidup. 14

Perilaku koping seperti mengingkari marah, pasif atau agresif


umum dijumpai pada pasien. Upaya koping mungkin efektif atau
tidak

dalam

mengatasi

stres

yang

dapat

mengakibatkan

kecemasan. Jika upaya koping gagal atau tidak efektif maka


keadaan

tegang

meningkat

sehingga

menjadi

peningkatan

kebutuhan energi lalu sumber penyakit nampak lebih besar.6

Kerangka Teori

Kemampuan Koping

Adaptif

Maladaptif

c. Koping yang

a. Koping psikologis

mendukung

b. Koping psikososial

d. Fungsi integrasi

c. Terganggunya sistem

e. Pertumbuhan

pertahanan tubuh

f. Mencapai tujuan

Pasien Stroke tidak

Pasien

mengalami

mengalami Kecemasan

Kecemasan

Gambar 2.1

Stroke

akan

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Kerangka Konseptual
Berdasarkan landasan teoritis yang telah diuraikan pada
tinjauan kepustakaan maka dapat dirangkumkan kerangka berfikir
peneliti dalam bentuk sebuah kerangka konsep seperti yang terlihat di
bawah ini :
Variabel Independen

Variabel Dependen

Tingkat Kecemasan

Mekanisme Koping

Pasien Stroke

Keterangan :
= Variabel independen
= Variabel dependen
= Berhubungan

Gambar 3.1

B. Definisi Operasional
No

Variabel

Definisi

Kriteria

Skala

Operasional

Objektif

Pengukuran

Independen
1.

Mekanisme

Cara

yang Adaptif

jika Ordinal

Koping

digunakan individu skor 125


dalam

maladaptif jika

menyelesaikan

skor < 125

masalah,
mengatasi
perubahan

yang

terjadi dan situasi


yang mengancam
baik secara kognitif
maupun perilaku.
Dependen
2.

Tingkat

Respons

Cemas

Kecemasan

emosional

sedang

pasien

terhadap penilaian skor 21-27

stroke

individu

yang Cemas

subyektif,

yang jika skor 28-41

dipengaruhi

alam

bawah sadar dan


tidak

diketahui

penyebabnya
terutama

pada

paien Stroke.
Tabel 3.1

Ordinal
jika

berat

C. Rancangan Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian ini bersifat
Survei Analitik dengan menggunakan pendekatan Cross

Sectional

yaitu suatu rancangan yang mengkaji hubungan variabel independen


dengan variabel dependen pada saat bersamaan, untuk mendapatkan
gambaran yang jelas Hubungan Mekanisme Koping dengan Tingkat
Kecemasan Pasien Stroke di RS Bhayangkara Makassar.

D. Waktu dan Tempat Penelitian


1. Waktu Penelitian
Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 2014
sampai tanggal 23 Agustus 2014.
2. Tempat Penelitian
Penelitian telah dilaksanakan di RS Bhayangkara Makassar.

E. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien Stroke
yang di rawat di ruang rawat inap saraf RS Bhayangkara Makassar
dengan jumlah responden sebanyak 36 responden.
2. Sampel
Pengambilan

sampel

pada

penelitian

ini

adalah

menggunakan purposive sampling. Jumlah sampel pada penelitian


ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus slovin.

n=

+ 1

36
360,05 + 1

36
360,0025 + 1

36
0,09 + 1

36
1,09

= 33

Keterangan :
n = Sampel yang diinginkan
N = Jumlah populasi
= tingkat kepercayaan yang diinginkan (0,05)
jadi, jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 33 responden
dengan kriteria sebagai berikut :
a. Kriteria inklusi
Adalah karakteristik sampel yang dimaksud atau yang layak untuk
diteliti
1) Pasien yang menderita stroke
2) Pasien rawat inap
3) Pasien yang bisa membaca
4) Pasien yang bersedia menjadi responde
b. Kriteria ekslusi
1) Pasien stroke dengan gangguan komunikasi

2) Pasien stroke yang mengalami gangguan kesadaran


3) Pasien rawat jalan
4) Pasien stroke yang tidak bisa membaca
5) Pasien stroke yang tidak bersedia menjadi responden

F. Alat dan Bahan Penelitian


Dalam penelitian ini alat ukur yang digunakan lembar kuesioner
dan obsevasi. Pada penelitian ini menggunakan skala likert untuk
mekanisme koping, dengan jumlah pernyataan sebanyak 50 Item.
Setiap item diberikan 4 tingkatan skor antara 1 sampai dengan 4,
kriteria untuk memperoleh nilai median pada variabel dapat dihitung
untuk kemampuan koping, dengan kriteria :
Skor tertinggi x jumlah pertanyaan (4x50) = 200
Skor terendah x jumlah pertanyaan (1x50) = 50
200-50 merupakan rentang nilai responden, jika nilai ini diurut dari
yang terkecil sampai terbesar maka nilai mediannya 125.
Dan skala Hamilton Rating Scale For Anxiety (HRS-A) untuk
Kecemasan. Jumlah pertanyaan yang diobsevasikan pada tingkat
kecemasan sebanyak 14 item. Setiap item yang observasi diberi 5
tingkatan skor antara 0 sampai dengan 4, penentuan derajat
kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dari item 1-14.
hasil skor 21-27= cemas sedang
hasil skor 28-41 = cemas berat

G. Pengambilan Data Penelitian


1. Data primer
Data primer diperoleh dengan cara melakukan pengisian
pada kuesioner dan lembar observasi responden yang berisikan
identitas umum pasien Stroke di RS Bhayangkara Makassar
sebagai berikut :
a. Mengurus

kelengkapan

surat

pengantar atau

surat

izin

penelitian kepada RS Bhayangkara Makassar.


b. Peneliti memberikan penjelasan tentang tujuan penelitian.
c. Setelah responden memahami tujuan penelitian, maka peneliti
mengajukan surat persetujuan untuk ditanda tangani dilembar
persetujuan.
d. Jika responden telah menyatakan bersedia, maka kuesioner
diberikan dan responden diminta untuk mempelajari terlebih
dahulu tentang cara pengisian kuesioner.
e. Setelah

kuesioner

diisi

oleh

responden,

selanjutnya

dikumpulkan dan dipersiapkan untuk diolah.


2. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari Rekam Medis yaitu RS
Bhayangkara Makassar yang digunakan sebagai data pelengkap
dan penunjang data primer yang ada relevansinya untuk keperluan
penelitian.

H. Pengolahan Data
1. Editing
Setelah data terkumpul maka dilakukan kelengkapan data,
kesinambungan dan keseragaman data dalam usaha melengkapi
data yang masih kurang.
2. Koding
Dilakukan untuk memudahkan pengolahan data yaitu
melakukan pengkodean pada lembar kuesioner yang telah diisi
yaitu setiap keluhan/ jawaban dari responden.
3. Tabulating
Setelah dilakukan pengkodean, kemudian data dimasukkan
kedalam tabel menurut sifat-sifat yang dimiliki yang sesuai dengan
tujuan penelitian untuk memudahkan penganalisaan data.

I. Analisis Data Penelitian


Setelah

data

diperoleh

selanjutnya

data

dianalisa

dengan

menggunakan komputer SPSS versi 21


1. Analisis Univariat
Dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum dengan
cara

mendeskripsikan

tiap

variabel yang digunakan dalam

penelitian yaitu distribusi frekuensinya.


2. Analisis Bivariat
Dilakukan untuk mengetahui adanya hubungan variabel
dependen dan independen dengan menggunakan uji statistik yang

digunakan adalah uji Chi Square test dengan tingkat kemaknaan


= 0.05.

0
=

Keterangan :
X2=Uji Chi-Square
01 = frekuensi observasional
E1 = frekuensi ekspektasi
= jumlah data

J. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti perlu mendapat adanya
rekomendasi dari institusinya atas pihak lain dengan mengajukan
permohonan izin kepada institusi/ lembaga tempat penelitian dan
dalam pelaksanaan penelitian tetap memperhatikan masalah etik
meliputi:
1. Informed Consent (Lembar Persetujuan)
Lembar persetujuan telah diberikan pada responden yang
diteliti yang memenuhi kriteria inklusi disertai judul penelitian serta
manfaat penelitian dengan tujuan agar responden mengerti maksud
dan tujuan dilakukannya penelitian, bila responden menolak maka
peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak responden

2. Anonimity (Tanpa Nama)


Untuk

menjaga

kerahasiaan

responden,

peneliti

tidak

mencantumkan nama responden, tetapi lembar tersebut diberikan


kode tertentu.
3. Confidentiality (Kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi dari responden dijamin, peneliti hanya
melaporkan data tertentu sebagai hasil penelitian.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada penelitian ini data dikumpul dari 33 sampel yang
bersedia menjadi responden. Setelah data terkumpul dilakukan
pemeriksaan kelengkapan dan kemudian data diolah, maka berikut
ini peneliti akan menyimpulkan analisis data univariat terhadap
setiap variabel dengan menghasilkan distribusi frekuensi dan
presentasi. Adapun analisis univariat dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Analisis Univariat
a. Mekanisme Koping

Table 4.1
Distribusi frekuensi responden berdasarkan mekanisme
koping pasien stroke di RS Bhayangkara Mappa
Ouddang Makassar 2014
Mekanisme Koping

Adaptif
Maladaptif
Total
Sumber : Data Primer 2014

11
22
33

33,3
66,7
100,0

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan bahwa data


jumlah responden sebanyak 33 orang yang menderita
penyakit

stroke

mekanisme

sebanyak

kopingnya

11

adaptif

orang
dan

(33,3%)
yang

yang

maladaptif

sebanyak 22 orang (66,7%), hal ini berarti yang mempunyai

mekanisme koping maladaptif lebih banyak dari pada yang


adaptif.
b. Tingkat Kecemasan

Tabel 4.2
Distribusi frekuensi berdasarkan tingkat kecemasan
pasien stroke di RS Bhayangkara Mappa
Ouddang Makassar 2014.
Tingkat Kecemasan
n
%
Sedang
15
45.5
Berat
18
54.5
Total
33
100.0
Sumber : Data Primer, 2014
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukan bahwa dari jumlah
responden sebanyak 33 orang yang tingkat kecemasannya
sedang sebanyak 15 orang (45.5%) dan yang tingkat
kecemasannya berat sebanyak 18 orang (54.5%). Hal ini
berarti yang tingkat kecemasan berat lebih banyak daripada
yang sedang.
2. Analisis Bivariat
Tabel 4.3
Hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan
pasien stroke di RS Bhayangkara Mappa
Ouddang Makassar 2014
Tingkat Kecemasan
Sedang
Berat
n
%
n
%
Adaptif
2
6.1
9
27.3
Maladaptif 13
39.4
9
27.3
Total
15
45.5
18
54.5
Sumber Data Primer, 2014
Mekanisme
Koping

Total
n
11
22
33

%
33,3
66.7
100,0

value
0.030

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukan bahwa dari 11 orang


yang mekanisme koping adaptif dengan kecemasan sedang 2

orang (6.1%) dan yang berat sebanyak 9 orang (27.3%)


sedangkan dari 22 orang (66.7) yang mekanisme koping
maladaptif dengan kecemasan sedang sebanyak 13 orang
(39.4%) dan yang berat sebanyak 9 orang (27.3%).
Berdasarkan uji Chi Square melalui pendekatan uji
fishers exact test didapatkan nilai hitung p = 0.030 lebih kecil
dari nilai = 0,05. Dari analisis tersebut dapat diartikan bahwa
Ho ditolak dan Ha diterima. Hal itu berarti ada hubungan
mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pasien stroke di
RS Bhayangkara Makassar.

B. Pembahasan
1. Analisis univariat
a. Mekanisme Koping
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan bahwa data
jumlah responden sebanyak 33 orang yang menderita
penyakit

stroke

mekanisme

sebanyak

kopingnya

11

adaptif

orang
dan

(33,3%)
yang

yang

maladaptif

sebanyak 22 orang (66,7%), hal ini berarti yang mempunyai


mekanisme koping maladaptif lebih banyak dari pada yang
adaptif. Hal ini disebabkan karena responden terlalu sering
memikirkan kondisi penyakit yang dideritanya mengingat
dampak kecacatan yang ditimbulkan akibat penyakit stroke.
Hal inilah yang mempengaruhi koping mereka. Hal ini sesuai

dengan yang dikemukakan oleh Santosa, (2005), mengatakan


bahwa kehilangan bagian tubuh, perubahan struktur dan fungsi
serta penyakit yang kronis dapat mempengaruhi mekanisme
koping seseorang menjadi tidak efektif.
b. Tingkat kecemasan
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukan bahwa dari jumlah
responden sebanyak 33 orang yang tingkat kecemasannya
sedang sebanyak 15 orang (45.5%) dan yang tingkat
kecemasannya berat sebanyak 18 orang (54.5%). Hal ini
berarti yang tingkat kecemasan berat lebih banyak daripada
yang sedang. Hal ini dikarenakan adanya ancaman yang
ditimbulkan akibat stroke seperti kematian dan cacat fisik.
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Moira (1996)
mengatakan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan
emosional yang biasanya melibatkan ketakutan, ketegangan
dan kekhawatiran serta umumnya dihubungkan dengan
antisipasi adanya suatu ancaman.
2. Analisis Bivariat
Berdasarkan

tabel

4.3

hasil

penelitian

dengan

menggunakan uji chi square melalui pendekatan uji fishers


exact test diperoleh hasil hitung = 0.030 lebih kecil dari nilai
= 0.05, yang berarti ada hubungan mekanisme koping dengan
tingkat kecemasan pasien stroke di RS Bhayangkara Makassar.
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Asmadi (2009)

mengatakan bahwa tingkat kecemasan mempunyai karakteristik


atau manifestasi yang berbeda satu sama lain. Manifestasi
kecemasan yang terjadi bergantung pada kematangan pribadi,
pemehaman dalam menghadapi ketegangan, harga diri, dan
mekanisme koping yang digunakan.
Hal ini dapat dilihat terdapat 9 orang (27.3%) yang
mekanisme kopingnya maladaptif dengan tingkat kecemasan
yang berat. Hal tersebut dikarenakan pada pasien stroke
banyak mengalami permasalahan-permasalahan yang bersifat
fisik, psikologis dan sosial. Jika permasalahan tersebut tidak
diperhatikan akan menimbulkan kecemasan yang luar biasa.
Seperti yang kita ketahui bahwa penyakit stroke merupakan
penyakit yang mematikan, dan perawatannya membutuhkan
waktu yang lama dan biaya yang tinggi, karena stroke bila
sembuh akan mengalami gangguan atau cacat fisik seperti
kelumpuhan, gangguan menelan, gangguan bicara maupun
gangguan eliminasi.
Hal ini dapat dilihat dalam teori yang dikemukakan oleh
Shimberg (1998) menyatakan bahwa penyakit stroke dapat
mempengaruhi psikologis penderita stroke. Sebagian penderita
memperlihatkan rasa ketakutannya ketika keluar rumah. Hal ini
terjadi karena mereka merasa malu ketika bertemu dengan
orang lain, sekalipun dengan teman lamanya, perasaan ini

timbul akibat adanya gangguan yang ditimbulkan akibat


penyakit stroke.
kecemasan yang dialami pasien stroke memerlukan upaya
penyesuaian dan penanganan agar individu adaptif. Jika
individu mempunyai koping yang efektif maka kecemasan akan
diturunkan dan energy digunakan langsung untuk istirahat dan
penyembuhan. Jika koping tidak efektif atau gagal maka
keadaan tegang akan meningkat, ketidakseimbangan terjadi
dan respon pikiran serta tubuh akan meningkat berupaya untuk
mengembalikan keseimbangan.
Terdapat 13 orang (39.4%), yang kemampuan koping yang
maladaptif dengan kecemasan sedang. Hal ini disebabkan
karena pasien dapat mengurangi ketegangannya dengan cara
melakukan pendekatan-pendekatan sosial terutama dengan
dukungan dari keluarganya, yang selalu menemani pasien
setiap saat selama dirawat dirumah sakit.
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Oktaviana
(2001) menyatakan dukungan sosial diartikan sebagai suatu
bentuk tingkah laku yang menimbulkan perasaan nyaman dan
membuat individu bahwa ia dihormati, dihargai, dicintai dan
bahwa

orang

lain

bersedia

memberikan

perhatian

dan

keamanan. Pernyataan tersebut didukung oleh pernyataan Cob


(Kuntjoro, 2002) yang mendefinisikan dukungan social sebagai

adanya kenyamanan perhatian penghargaan atau menolong


orang dengan sikap menerima kondisinya.
Terdapat 2 orang (6.1%), yang kemampuan koping yang
adaptif dengan kecemasan sedang, ini disebabkan oleh
penerimaan terhadap apa yang telah dialami oleh responden
dengan baik. Klien yang menggunakan mekanisme koping yang
adaptif pada umumnya karena klien sudah mengalami stroke
lama sehingga sudah menjadi pola dalam kehidupanya. Hal ini
sesuai dengan Mok dan Tam (2001) yang menyatakan bahwa
salah satu penggunaan mekanisme koping tergantung dari
pengalaman masa lalu yang pernah dialami klien.
Mekanisme koping bersumber dari ego yang sering di
sebut sebagai mekanisme pertahanan mental, diantaranya yaitu
sublimasi atau penerimaan yakni perilaku yang ditampilkan oleh
responden

merupakan

tindakan

konstruktif

dalam

menyelesaikan masalah. Responden yang memiliki mekanisme


koping adaptif sebagaian besar menggunakan mekanisme
pertahanan ego sublimasi atau penerimaan. Dimana ketika
responden mulai menerima terhadap apa yang dialaminya
secara konstruktif akan mengurangi ketegangan terhadap
masalah yang dialami yang secara langsung akan berpengaruh
terhadap tinggkat kecemasan.

Dan hanya terdapat 9 orang (27.3%), yang kemampuan


yang adaptif dengan kecemasan berat. Hal ini karena
dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan rendahnya harapan akan
self-eficacy.
merupakan

Sebagaimana
penyakit

yang

kita

ketahaui

mematikan,

bahwa

dan

stroke

perawatanya

mebutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tinggi, karena


stroke bila sembuh akan mengalami gangguan atau cacat fisik
seperti kelumpuhan, gangguan menelan, gangguan bicara (Neil
F Gorden). Responden yang mengalami stroke dengan tingkat
ekonomi yang rendah akan memiliki tingkat kecemasan yang
berat karena semakin bertambahnya beban pikiran yang
disebabkan oleh besarnya biaya pengobatan yang tidak sesuai
dengan kondisi ekonomi. Hal ini Sesuai dengan hasil penelitian
Durham (2009) yang menjelaskan bahwa masyarakat kelas
sosial ekonomi rendah prevalensi psikiatriknya lebih banyak.
Selain itu, gangguan atau cacat fisik seperti kelumpuhan,
gangguan menelan dan gangguan bicara yang merupakan
kondisi yang akan dialami oleh seseorang yang telah menderita
penyakit stroke dan sangat kecil kemungkinan untuk bisa
kembali normal. Hal ini yang akan mempengaruhi rendahnya
harapan akan self-eficacy dari penderita stroke yang pada
akhirnya akan berdampak pada tingginya tingkat kecemasan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. Dari 33 responden yang menderita penyakit stroke sebanyak 11
orang (33,3%) yang mekanisme kopingnya adaptif dan yang
maladaptif sebanyak 22 orang (66,7%). Hal ini berarti pasien
stroke di RS Bhayangkara Makassar

sebagian besar

menggunakan mekanisme koping maladaptif.


2. Dari 33 responden yang tingkat kecemasannya sedang
sebanyak 15 orang (45.5%) dan yang tingkat kecemasannya
berat sebanyak 18 orang (54.5%). Hal ini berarti Pasien stroke
di RS Bhayangkara Makassar sebagian besar mengalami
kecemasan berat.
3. Adanya hubungan antara mekanisme koping dengan tingkat
kecemasan pasien stroke di RS Bhayangkara Makassar dimana
diperoleh nilai = 0.030.
B. Saran
1. Bagi Pasien
Agar

klien

yang

menderita

penyakit

stroke

dapat

mengetahui bagaimana menggunakan koping yang adaptif agar


dapat mengurangi tingkat kecemasannya.

2. Bagi instansi di RS Bhayangkara Makassar


Agar

dapat

memperhatiakan

dan

meningkatkan

mekanisme koping yang adaptif untuk mengurangi tingkat


kecemasan pasien stroke agar pasien lebih mudah sembuh
dan dapat menerima keadaannya.
3. Bagi institusi pendidikan Keperawatan
Diharapkan hasil penelitian ini menjadi bahan informasi
dalam

meningkatkan

wawasan

pengetahuan

tentang

bagaimana koping dan kecemasan pasien stroke.


4. Bagi peneliti selanjutnya
agar lebih lanjut dapat dilakukan dengan populasi/sampel
yang lebih besar. Pengumpulan data dengan metode observasi
dilakukan dengan desain yang berbeda, selain itu dapat
dilakukan terhadap variabel yang belum diteliti dan diduga
berhubungan dengan Stroke, yaitu pengetahuan, dukungan
keluarga, dan tingkat kecemasan keluarga.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ali M., (2008), Mekanisme Koping Pasien
http://www.google.com. Diakses tgl 3 Juli 2009.

Stroke,

2. Batticaca F.B., (2011), Asuhan keperawatan pada klien dengan


gangguan sistem persarafan, Salemba medika, Jakarta.
3. Corwin E.J., (2009), Buku Saku Patofisiologi, ed, 3, EGC,
Jakarta.
4. Dinata C.A., Safrita Y. & Sastri S., (2010), Gambaran Faktor
Resiko dan Tipe Stroke, Jurnal Kesehatan Andalas, 01 Januari
2013.
5. Ermawati & dkk., (2009), Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan
Masalah Psikososial,CV TIM, Jakarta.
6. Hasni B., (2012), Hubungan Kemanpuan Koping dengan
Tingkat Kecemasan klien Gagal Ginjal Kronik yang menjalani
Hemodialisa, SKRIPSI STIK GIA MAKASSAR.
7. Hidayat A.A.A., (2008), Riset Keperawatan Dan Teknik
Penulisan Ilmiah, Ed. 2, Salemba Medika, Jakarta.
8. Irfan M., (2012), Fisioterapi Bagi Insan Stroke, Graha Ilmu,
Yogyakarta.
9. Kusumawati F. & Hartono Y., (2011), Buku Ajar Keperawatan
Jiwa, Salemba Medika, Jakarta.
10. Lewis, (2007), Medical Surgical Nursing, 7th Edition, St.Louis
: Missouri, Mosby-Year Book, Inc.
11. Muttaqin A., (2008), Pengantar asuhan keperawatan klien
dengan gangguan sistem persyarafan. Salemba medika,
Jakarta.
12. Nasir A. & Muhith A., (2011), Dasar-Dasar keperawatan
Jiwa:pengantar dan teori, Salemba medika, Jakarta.
13. Pinzon R., (2010), Awas Stroke!, Edisi I, Andi, Yogyakarta.
14. Subiatmini, (2012) Hubungan Dukungan Keluarga dan Perawat
dengan Tingkat Kecemasan pada Pasien Kanker yang
menjalani Kemoterapi, http://digilib.unismus.ac.id. Diakses tgl 10
2013.

15. Suiraoka, (2012), Penyakit Degeneratif: Mengenal, Mencegah


Dan Mengurangi Faktor Risiko 9 Penyakit Degeneratif, Cet.
Pertama, Nuha Medika, Yogyakarta.
16. Suliswati & dkk., (2012). Konsep
Kesehatan Jiwa, EGC, Jakarta.

Dasar

Keperawatan

17. Sumiati & dkk., (2009), Kesehatan Jiwa Remaja dan Konseling,
CV TIM, Jakarta.
18. Sunaryo, (2004), Psikologi untuk Keperawatan,EGC, Jakarta.
19. Stuart G.W., (2012), Buku Saku Keperawatan Jiwa, ed, 5, EGC,
Jakarta.
20. Tamrin R., (2012), mengenal stroke dan pencegahannya,
www.google.com. Diakses tgl 15 Oktober 2013
21. Videbeck s., (2008), buku ajar keperawatan jiwa, ed. 5, EGC,
Jakarta.
22. Wahyu G.G., (2009), Stroke Hanya Menyerang Orang Tua?, B
First, Yogyakarta.
23. Wardhana W.A., (2011), Strategi Mengatasi & Bangkit Dari
Stroke, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
24. Wiwit S., (2010), Stroke & Penanganannya: Memahami,
Mencegah, & Mengobati Stroke, Katahari, Jogjakarta.

Lampiran 1

SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth : Bapak/Ibu


Ditempat

Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama

: Yasri Ode Sula

Nim

: 2110052

Adalah mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi


Ilmu Kesehatan Gema Insan Akademik Makassar yang mengadakan
penelitian tentang Hubungan Mekanisme Koping dengan Tingkat
Kecemasan Pasien Stroke di RS Bhayangkara Makassar

Saya

mohon

kesediaan

bapak/ibu

untuk

mengisi

lembar

pernyataan serta menjawab pertanyaan saya pada lembar kuesioner


sesuai petunjuk yang diberikan. Akan saya jaga kerahasiaannya dan
hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian saja.
Apabila bapak/ibu bersedia, mohon tanda tangani lembar persetujuan dan
mengisi kuesioner yang disertakan pada lembar ini.

Demikian atas perhatian dan kesediaan bapak/ibu saya ucapkan


banyak terima kasih.
Makassar,

Juli 2014

Peneliti
Yasri Ode Sula

Lampiran 2

LEMBARAN PERSETUJUAN RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama :

Dengan ini menyatakan bersedia dan tidak keberatan menjadi


responden dalam penelitian yang dilakukan oleh Yasri Ode Sula
mahasiswa progran studi S1 keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Gema Insan Akademik Makassar dengan judul Hubungan Mekanisme
Koping

dengan

Tingkat

Kecemasan

Pasien

Stroke

di

RS

Bhayangkara Makassar

Dimana pernyataan ini saya buat dengan sukarela tanpa adanya


intimidasi dan pemaksaan dari pihak manapun.

Makassar, Juni 2014

Responden

Lampiran 3
LEMBAR KUESIONER
HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN TINGKAT KECEMASAN
PASIEN STROKE DI RS BHAYANGKARA MAKASSAR
Identitas responden
Nama Responden (inisial)

Nomor Responden

Petunjuk pengisian kuesioner bacalah dengan cermat dan teliti


setiap pernyataan di bawah ini dan beri tanda () pada jawaban yang
saudara/i pilih. Silahkan jawab semua pernyataan di bawah ini.
Nilai 4 : Tidak Pernah (TP)
Nilai 3 : Kadang-kadang (KD)
Nilai 2 : Sering (S)
Nilai 1 : Selalu (SL)
No Pernyataan
1.

Saya mengkritik diri sendiri

2.

Saya merasa ada hal-hal yang tdk baik pada


diri saya

3.

Saya merasa sebagai orang yang gagal sejak


menderita penyakit stroke

4.

Saya merasa belum mampu mengerjakan

TP

KD

SL

sesuatu seperti yang di kerjakan orang lain


5.

Saya merasa ada hal yang belum bisa saya


banggakan pada diri saya

6.

Saya belum bisa menerima keadaan diri saya


sejak menderita penyakit stroke

7.

Saya merasa belum dihargai oleh orang lain


sejak menderita stroke

8.

Saya merasa belum berguna sejak menderita


penyakit stroke

9.

Saya merasa pesimis dengan penyakit saya

10. Saya merasa ada penurunan produktifitas


kerja sejak menderita penyakit stroke
11. Saya merasa malu terhadap penyakit yang
saya derita sekarang
12. Saya mengalami gangguan dalam
berhubungan dengan orang lain
13. Saya mengurung diri sejak menderita
penyakit stroke
14. Saya mempunyai perasaan ingin menghindar
dari penyakit yang saya derita saat ini
15. Saya merasa sedih dengan penyakit saya
saat ini
16 Saya merasa sangat tergantung pada orang
lain

17

Saya melamun jika memikirkan penyakit saya

18

Saya merasa kesal dengan penyakit yang


saya derita sekarang

19

Saya menghindar jika diajak bicara sama


teman saya

20

Saya merasa dikucilkan oleh orang lain sejak


menderita penyakit stroke

21

Saya merasa tegang atau tertekan dengan


penyakit saya saat ini

22

Saya merasa kecewa dengan diri sendiri

23

Saya bingung dalam menghadapi penyakit


saya

24

Saya bicara kasar dengan orang lain sejak


menderita penyakit stroke

25

Saya pernah menyinggung perasaan orang


lain sejak menderita penyakit stroke

26

Saya banyak melamun sejak menderita


penyakit stroke

27

Saya mempunyai perasaan menolak dengan


penyakit saya

28

Saya merasa sedih dengan penyakit yang


saya derita sekarang

29

Saya acuh tak acuh terhadap penderitaan


orang lain sejak menderita penyakit stroke

30

Saya diam bila di ajak bicara orang lain

31

Saya melukai diri sendiri dan orang lain sejak


menderita penyakit stroke

32

Saya merasa gelisah dengan penyakit saya

33

Saya mempunyai sikap bermusuhan dengan


orang lain sejak menderita penyakit stroke

34

Saya menolak saran/nasehat orang lain sejak


menderita penyakit stroke

35

Saya menolak perawatan/pengobatan sejak


menderita penyakit stroke

36

Saya merasa putus asa

37

Saya merasa ada ancaman terhadap diri


saya sejak menderita penyakit stroke

38

Saya marah dengan diri saya sejak menderita


penyakit stroke

39

Saya angkuh terhadap orang lain sejak


menderita penyakit stroke

40

Saya merasa jengkel dengan penyakit saya

41

Saya mempunyai perasaan di benci oleh


orang lain sejak menderita penyakit stroke

42

Saya mempunyai perasaan dikucilkan oleh


orang lain

43

Saya mempunyai perasaan menolak dengan


penyakit saya

44

Saya merasa tidak percaya dengan orang


lain sejak menderita penyakit stroke

45

Saya mempunyai perasaan benci terhadap


orang lain, ketika membicarakan penyakit
saya

46

Saya merasa disishkan oleh teman saya

47

Saya merasa bermusuhan dengan orang lain

48

Saya merasa ada orang lain yang menyakiti


diri saya sejak menderita penyakit stroke

49

Saya mudah tersinggung sejak menderita


penyakit stroke

50

Saya menolak setiap perawatan yang


diberikan oleh perawat sejak menderita
penyakit stroke

Keterangan :
Adaptif

: 125

Maladaptif

: <125

Lampiran 4
LEMBAR OBSERVASI
Tingkat Kecemasan
HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN TINGKAT KECEMASAN
PASIEN STROKE DI RS BHAYANGKARA MAKASSAR
Identitas responden
Nama responden (inisial)

Nomor responden

Alat ukur kecemasan menggunakan Hamilton Rating Scale for Anxiety


(HRS-A) alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok gejala yang masing-masing
kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih spesifik. Masingmasing kelompok gejala diberi penilaian angka (score) antara 0-4, dengan
keterangan sebagai berikut :
Nilai 0

: Tidak ada keluhan (tidak ada gejala sama sekali)

Nilai 1

: Gejala ringan (satu dari pilihan yang ada)

Nilai 2

: Gejala sedang (separuh dari gejala yang ada)

Nilai 3

: Gejala berat (lebih dari separuh gejala yang ada)

Nilai 4

: Gejala berat sekali (semua gejala ada)

Nilai angka (score)


No

Gejala kecemasan
0

1 Perasaan cemas (ansietas) :


Cemas
Firasat buruk
Takut akan pikiran sendiri
Mudah tersinggung
2 Ketegangan :
Merasa tegang
Lesu
Tidak dapat istrahat tenang
Mudah terkejut
Mudah menangis
Gemetar gelisah
3 Ketakutan :
Pada gelap
Pada orang asing
Ditinggal sendiri
Pada binatang besar
Pada keramaian lalu lintas
Pada kerumunan orang banyak
4 Gangguan tidur :
Sukar masuk tidur
Terbangun malam hari

Tidur tidak nyenyak


Bangun dengan lesu
Banyak mimpi-mimpi
Mimpi buruk
Mimpi menakutkan
5 Gangguan kecerdasan :
Sukar kosentrasi
Daya ingat menurun
Daya ingat buruk
6 Perasaan murung (depresi) :
Hilangnya minat
Berkurangnya kesenangan pada
hoby
Sedih
Bangun dini hari
Perasaan berubah-ubah sepanjang
hari
7 Gejala somatik/fisik (otot) :
Sakit dan nyeri otot
Kaku kedutaan otot
Gigi gemerutuk
Suara tidak stabil
8 Gejala somatik/fisik (sensorik) :
Tinnitus (telinga berdenging)

Penglihatan kabur
Muka merah atau pucat
Merasa lemas
Perasaan ditusuk-tusuk
Gangguan kardiovaskular (jantung dan
9
pembuluh darah) :
Takikardi (denyut jantung cepat)
Berdebar-debar
Nyeri di dada
Denyut nadi mengeras
Rasa lesu/lemas seperti mau
pingsan
Detak jantung menghilang (berhenti
sekejap)
10 Gejala respiratori (pernafasan) :
Rasa tertekan atau sempit di dada
Rasa tercekik
Sering menarik nafas
Nafas pendek/sesak
11 Gejala gastrointestinal (pencernaan) :
Sulit menelan
Perut melilit
Gangguan pencernaan
Nyeri sebelum dan sesudah makan

Perasaan terbakar di perut


Rasa penuh atau kembung
Mual
Muntah
Buang air besar lembek
Sukar buang air besar (konstipasi)
Kehilangan berat badan
Gejala uregenital (perkemihan dan
12
kelamin):
Sering buang air kecil
Tidak dapat menehan air seni
Tidak datang bulan (tidak ada haid)
Darah haid berlebihan
Darah haid amat sedikit
Masa haid berkepanjangan
Masa haid amat pendek
Haid beberapa kali sebulan
Menjadi dingin (frigid)
Ejakulasi dini
Ereksi melemah
Ereksi hilang
Impotensi
13 Gejala autonpom :
Mulut kering

Muka merah
Mudah berkeringat
Kepala pusing
Kepala terasa berat
Kepala terasa sakit
Bulu-bulu berdiri
14 Tingkah laku (sikap) dalam wawancara :
Gelisah
Tidak tenang
Jari gemetar
Kerut kening
Muka tegang
Otot tegang/mengeras
Nafas pendek dan cepat
Muka merah
TOTAL SCORE

Keterangan
Total nilai (score)
Kecemasan Sedang

: 21-27

Kecemasan Berat

:28-41

MASTER TABEL
NO

INISIAL

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

TN MA
TN M
TN I
TN N
TN S
NY P
TN N
TN SH
TN SN
TN S
NY T
NY N
TN B
TN S
NY S
TN T
TN SN
TN SM
TN A
TN P
TN A
TN M
TN R
NY P
NY MN
NY DS
TN AS
NY H
TN Y
NY M
TN K
TN D
NY E

MEKANISME KOPING

KECEMASAN

ADAPTIF
MALADAPTIF
MALADAPTIF
MALADAPTIF
MALADAPTIF
ADAPTIF
ADAPTIF
MALADAPTIF
MALADAPTIF
MALADAPTIF
MALADAPTIF
MALADAPTIF
ADAPTIF
MALADAPTIF
ADAPTIF
ADAPTIF
MALADAPTIF
MALADAPTIF
ADAPTIF
ADAPTIF
MALADAPTIF
MALADAPTIF
MALADAPTIF
ADAPTIF
MALADAPTIF
MALADAPTIF
MALADAPTIF
MALADAPTIF
ADAPTIF
MALADAPTIF
MALADAPTIF
ADAPTIF
MALADAPTIF

SEDANG
BERAT
SEDANG
BERAT
BERAT
BERAT
BERAT
SEDANG
SEDANG
SEDANG
BERAT
SEDANG
BERAT
BERAT
BERAT
BERAT
SEDANG
BERAT
BERAT
BERAT
BERAT
SEDANG
SEDANG
BERAT
SEDANG
SEDANG
SEDANG
BERAT
BERAT
SEDANG
SEDANG
SEDANG
BERAT

FREQUENCIES VARIABLES=INISIAL
/STATISTICS=MODE SUM
/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

Notes
Output Created
Comments

03-SEP-2014 10:08:19
Active Dataset
Filter
Weight
Split File
N of Rows in Working Data
File

Input

Missing Value
Handling

Definition of Missing
Cases Used

Syntax

Resources

Processor Time
Elapsed Time

[DataSet0]

Statistics
INISIAL
N

Valid
Missing

33
0

DataSet0
<none>
<none>
<none>
33
User-defined missing values
are treated as missing.
Statistics are based on all
cases with valid data.
FREQUENCIES
VARIABLES=INISIAL
/STATISTICS=MODE SUM
/ORDER=ANALYSIS.
00:00:00.02
00:00:00.06

INISIAL
Frequenc Percent
y
NY DS
1
3.0
NY E
1
3.0
NY H
1
3.0

Valid
Cumulative
Percent
Percent
3.0
3.0
3.0
6.1
3.0
9.1

NY M
NY N
NY
NM

1
1
1

3.0
3.0
3.0

3.0
3.0
3.0

12.1
15.2
18.2

NY P
NY S
NY T
TN A
TN AS

2
1
1
2
1

6.1
3.0
3.0
6.1
3.0

6.1
3.0
3.0
6.1
3.0

24.2
27.3
30.3
36.4
39.4

TN B
TN D
TN I
Valid
TN K

1
1
1
1

3.0
3.0
3.0
3.0

3.0
3.0
3.0
3.0

42.4
45.5
48.5
51.5

TN M
TN
MA
TN N
TN P
TN R

2
1

6.1
3.0

6.1
3.0

57.6
60.6

2
1
1

6.1
3.0
3.0

6.1
3.0
3.0

66.7
69.7
72.7

TN S
TN SH
TN
SM
TN SN
TN T
TN Y

3
1
1

9.1
3.0
3.0

9.1
3.0
3.0

81.8
84.8
87.9

2
1
1

6.1
3.0
3.0

6.1
3.0
3.0

93.9
97.0
100.0

33

100.0

100.0

Total

FREQUENCIES VARIABLES=MEKANISMEKOPING KECEMASAN


/STATISTICS=MODE SUM

/BARCHART FREQ
/ORDER=ANALYSIS.
Frequencies

Notes
Output Created
Comments

03-SEP-2014 10:08:53
Active Dataset
Filter
Weight
Split File
N of Rows in Working Data
File

Input

Missing Value
Handling

Definition of Missing
Cases Used

Syntax

Resources

Processor Time
Elapsed Time

[DataSet0]

Valid
Missing

Statistics
MEKANISM KECEMAS
E KOPING
AN
33
33
0

DataSet0
<none>
<none>
<none>
33
User-defined missing values
are treated as missing.
Statistics are based on all
cases with valid data.
FREQUENCIES
VARIABLES=MEKANISMEKO
PING KECEMASAN
/STATISTICS=MODE SUM
/BARCHART FREQ
/ORDER=ANALYSIS.
00:00:01.33
00:00:01.29

Frequency Table

ADAPTIF
MALADAP
Valid
TIF
Total

BERAT
SEDAN
Valid
G
Total

Bar Chart

MEKANISME KOPING
Frequenc Percent
Valid
Cumulative
y
Percent
Percent
11
33.3
33.3
33.3
22
66.7
66.7
100.0
33

100.0

100.0

KECEMASAN
Frequenc Percent
Valid
Cumulative
y
Percent
Percent
18
54.5
54.5
54.5
15
45.5
45.5
100.0
33

100.0

100.0

CROSSTABS
/TABLES=MEKANISMEKOPING BY KECEMASAN
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ RISK
/CELLS=COUNT ROW COLUMN TOTAL
/COUNT ROUND CELL.

Crosstabs

Notes
Output Created
Comments

03-SEP-2014 10:11:14

Input

Active Dataset
Filter
Weight
Split File
N of Rows in Working Data
File
Definition of Missing

Missing Value
Handling

Cases Used

Syntax

Resources

Processor Time
Elapsed Time
Dimensions Requested

DataSet0
<none>
<none>
<none>
33
User-defined missing values
are treated as missing.
Statistics for each table are
based on all the cases with
valid data in the specified
range(s) for all variables in
each table.
CROSSTABS
/TABLES=MEKANISMEKOPIN
G BY KECEMASAN
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ RISK
/CELLS=COUNT ROW
COLUMN TOTAL
/COUNT ROUND CELL.
00:00:00.06
00:00:00.08
2

Cells Available

174734

[DataSet0]

Case Processing Summary


Cases
Valid
Missing
N
MEKANISME KOPING *
KECEMASAN

Percent
33 100.0%

Percent
0
0.0%

Total
N

Percent
33 100.0%

MEKANISME KOPING * KECEMASAN Crosstabulation


KECEMASAN
Total
BERAT SEDAN
G
Count
9
2
11
% within MEKANISME
81.8%
18.2% 100.0%
KOPING
ADAPTIF
% within KECEMASAN
50.0%
13.3% 33.3%
MEKANISME
KOPING

% of Total
Count
% within MEKANISME
MALADAPT
KOPING
IF
% within KECEMASAN
% of Total
Count

27.3%
9
40.9%

6.1% 33.3%
13
22
59.1% 100.0%

50.0%
27.3%
18

86.7%
39.4%
15

% within MEKANISME
KOPING
% within KECEMASAN
% of Total

54.5%

45.5% 100.0%

100.0%
54.5%

100.0% 100.0%
45.5% 100.0%

Total

Value

Chi-Square Tests
df
Asymp. Sig.
(2-sided)
1
.026

Exact Sig.
(2-sided)

Exact Sig.
(1-sided)

Pearson Chi4.950a
Square
Continuity
3.438
1
.064
b
Correction
Likelihood Ratio
5.276
1
.022
Fisher's Exact Test
.034
.030
N of Valid Cases
33
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
5.00.
b. Computed only for a 2x2 table

66.7%
66.7%
33

Risk Estimate
Value

Odds Ratio for MEKANISME KOPING


(ADAPTIF / MALADAPTIF)
For cohort KECEMASAN = BERAT
For cohort KECEMASAN = SEDANG
N of Valid Cases

6.500
2.000
.308
33

95% Confidence
Interval
Lower
1.127

Upper
37.484

1.126
.084

3.552
1.130