Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Dewasa ini, penelitian dan pengembangan tumbuhan obat, baik di
dalam maupun di luar negeri berkembang pesat serta penggunaan obat
tradisional yang berasal dari tumbuhan sekarang semakin populer.
Kini, terlihat ada kecenderungan perkembangan pemanfaatan
tanaman obat di Indonesia melalui gerakan Tanaman Obat Keluarga
(TOGA). Kegiatan ini merupakan tindakan yang tepat pada kondisi
sekarang dengan tujuan agar masyarakat dapat melakukan upaya
peningkatan kesehatan secara mandiri dan tidak hanya tergantung pada
upaya kesehatan farmasi melalui Puskesmas maupun rumah sakit atau
sarana lainnya.
Dalam pemanfaatannya dan penggunaan tumbuhan berkhasiat obat
perlu diketahui secara pasti tata cara mengkomposisikannya dalam
memanfaatkan tumbuhan berkhasiat obat untuk mengatasi berbagai jenis
penyakit secara efektif.
Salah satu tanaman yang digunakan sebagai tanaman obat
tradisional adalah daun rambutan. Tanaman ini dapat digunakan dalam
mengobati penyakit diare.
Diare seringkali dianggap penyakit yang biasa dan sering dianggap
sepele penanganannya. Pada kenyataanya diare dapat menyebabkan
gangguan sistem ataupun komplikasi yang sangat membahayakan bagi

penderita. Beberapa di antaranya adalah gangguan keseimbangan cairan


dan elektrolit, shock hipovolemia, gangguan berbagai organ tubuh, dan
bila tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan kematian. Dengan
demikian menjadi penting bagi perawat untuk mengetahui lebih lanjut
tentang diare, dampak negative yang ditimbulkan, serta upaya penanganan
dan pencegahan komplikasinya.
Dari hal yang telah diuraikan di atas, kami melakukan percobaan
untuk

mengetahui

efek

diare

dari

tanaman

rambutan

dan

membandingkannya efek yang ditimbulkannya dengan obat sintetik.

I.2

Maksud dan Tujuan Percobaan


I.2.1

Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini yaitu mengetahui efek dari obat
modern dan obat tradisional serta bagaimana proses terjadinya
diare.

I.2.2

Tujuan Percobaan
1. Mengetahui efek antidiare suatu obat
2. Mengetahui mekanisme kerja terjadinya diare terhadap hewan
uji mencit.

I.3

Prinsip Percobaan
Percobaan ini dilakukan dengan metode profilaksis, yaitu
mencegah terjadinya diare pada hewan uji dengan cara memberikan obat

diare secara oral untuk obat modern dan obat tradisional kemudian
didiamkan selama 15 menit kemudian diberikan laksativum dengan tujuan
agar hewan tersebut terangsang untuk defekasi, sehingga dapat diketahui
kekuatan efek diare pada obat tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Teori Umum
Diare adalah berak dengan tinja encer, biasanya diikuti dengan
frekuensi berak yang sering. Frekuensi normal berkisar antara 3 kali
perhari sampai 2 kali perminggu. Hampir semua penyakit saluran makanan
bagian bawah disertai gejala diare.
Diare didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana frekuensi
defekasi meningkat abnormal dari keadaan biasanya dengan feses berupa
cairan. Untuk mengerti dasar terjadinya diare sebagai kejadian kehilangan
cairan usus, perlu diketahui dasar pengelolaan air di saluran makanan.
Tiap hari sekitar 9 liter air masuk ke saluran makanan terdiri dari 2 liter
dari makanan dan 7 liter dari sekresi ludah, lambung, empedu, pankreas,
dan usus halus. Sekitar satu liter bersama ampas masuk ke kolon
proksimal selanjutnya kolon bekerja menyerap air dan elektrolit,
mendorong gerak peristaltik akhirnya sampai di sigmotid menjadi lebih
padat, bila ujungnya merengang terjadi reflex defekasi.
Penyebab diare yaitu bakteri melepaskan toksin (vibricholera) yang
menghambat absorpsi NaCl dan air menstimulasi aktivitas sekresi mukosa
usus, bakteri atau virus yang menyebabkan inflamasi, obat yang berkhasiat
laksatif, antibiotic (clindamycin, tetrasiklin, sulfonamide) antibiotik
spectrum luas, golongan antihipertensi (reserpine, metidopa).

Obat dengan efek kolinergik (neostigmine, bethanekol) oprtunistik


pathogen pada penderita AIDS, penyakit endokrin, penyakit neurologic,
keracunan timbal hitam (Pb), alergi, defisiensi immunoglobin.
Macam-macam diare, yaitu diare akut yang berlangsung mendadak
pada orang-orang yang sebelumnya tanpa keluhan berlanjut selama 72 jam
atau kurang dari 3 hari, sedangkan diare kronik berlangsung beberapa
minggu atau bulan mungkin intermitten atau dapat terus-menerus,
serangan terjadi lebih dari 14 hari.
Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi
4 kali atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai muntah, badan lesu
atau lemah, panas, tidak nafsu makan, darah dan lendir dalam kotoran.

II.2

Uraian Tanaman
II.2.1 Klasifikasi Tanaman (Nephelii folium)
Regnum

: Plantae (Tumbuhan)

Sub Regnum : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Sub Divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicothyledonae

Sub Kelas

: Chorypetalae-Dialypetalae

Ordo

: Sapindales

Famili

: Sapindaceae

Genus

: Nephelium lappaceum L

Spesies

: Nephelium lappaceum L.

II.2.2 Morfologi
Daun Nephelium lappaceum L. merupakan daun majemuk
menyirip genap (abrupte pinnatus) dengan anak daun genap, yakni
berjumlah 8 helai anak daun, berbentuk jorong. Daun Nephelium
lappaceum L. merupakan daun tidak lengkap karena hanya
memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina),
lazimnya disebut daun bertangkai. Daun bertangkai pendek (0,51cm) berbentuk silindris dan tidak menebal pada pangkalnya,
tulang daun menyirip, , lebar daun 5,5 cm sampai 7 cm, panjang 9
cm samapai 15 cm, ujung daun membulat (rotundatus) tidak
terbentuk sudut sama sekali, pangkal daun tumpul (obtusus).
Permukaan

daun

licin

(laevis)

kelihatan mengkilat (nitidus).

Daging daun Nephelium lappaceum L. adalah seperti perkamen


(perkamenteus).
II.2.3 Manfaat
Rambutan merupakan sebagian tumbuhan yang banyak
manfaat. Seluruh belahan dari tumbuhan ini, mulai kulit, daun, biji,
hingga akar, bisa berguna menjadi obat. Bagian tumbuhan yang
berguna: Kulit buah, kulit kayu, daun, biji, dan akarnya. Uraian
kegunaannya ialah sebagai berikut:
Kulit buah: Buat menangani disentri, demam
Kulit kayu: Buat menangani sariawan

Daun: Buat menangani diare dan menggelapkan rambut


Akar: Buat menangani demam
Biji: Buat menangani kencing manis (diabetes melitus)

II.3

Uraian Hewan Uji


II.3.1 Klasifikasi Mencit (Mus musculus)
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

: Mamalia

Subclass

: Cheria

Ordo

: Rhodentia

Famili

: Muridae

Genus

: Mus

Spesies

: Mus muscul

II.3.2 Karakteristik Mencit


Mencit adalah hewan yang berkembang biak, mudah
dipelihara dalam jumlah yang banyak, mudah ditangani. Bersift
patogit (takut dengan cahaya). Cenderung berkumpul dengan
sesamanya, aktif pada malam hari, suhu tubuh 37,40C. Bila
diperlakukan harus secara halus, mudah dikendalikan, tetapi
mudah pula menggigit, mencit jantan yang baru, bila dimasukkan
dalam kelompok yang stabil maka akan saling berkelahi dan
mencit betina yang sedang menyusui, bila anaknya dipegang

dengan tangan maka induknya akan memakan anaknya. Mencit


bisa mencapai umur 2-3 tahun, masa hidupnya beranak 7-18 bulan
menghasilkan 6-10 persalinan (hitter). Dengan jumlah yang lahir
11-12 ekor. Lama kehamilan 3 minggu (20-21 hari).

II.4

Uraian Bahan
1. Aquadest
Nama resmi

: Aquadestillata

Nama lain

: Air suling

RM/BM

: H2O/18,02

Pemerian

: cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak

berasa
Kegunaan

: kontrol

2. Loperamida
Komposisi

: Loperamide HCl

Indikasi

: Pengobatan diare akut non spesifik dan kronik

Dosis

: Untuk diare non spesifik, awal 2 tab/hari. Dosis


biasa: 2-4 tab 1-2 kali/hari. Maksimal: 8 tab/hari.
Untuk diare kronik : 2-4 tablet/hari dalam dosis
terbagi. Maksimal : 8 tablet/hari. Hentikan bila tidak
ada perbaikan setelah 48 jam.

Pemberian Obat

: Diberikan sebelum atau sesudah makan.

Kontra Indikasi

: Konstipasi, bayi.

Perhatian

: Hentikan bila tidak ada perbaikan setelah 48 jam.


Kolitis akut, infeksi bakteri atau parasit. Anak < 2
tahun. Disfungsi hati.

Efek Samping

: Mulut kering, nyeri perut, lelah, ruam kulit,


megakolon toksik, pusing.

Kemasan

: Tablet 2 mg

3. Na CMC
Nama resmi

: Carboxymethile Cellulose Natrium

Nama lain

: CMC natrium, garam selulosa karboksilmetil eter


natrium

Pemerian

: Serbuk atau granul putih sampai krem higroskopik

Kelarutan

: Mudah terdispersi dalam air membentuk larutan


koloid, tidak larut dalam etanol dan eter dan dalam
pelarut organik lain

Khasiat

: Adsorbensia dan zat tambahan.

4. Oleum Ricini
Nama Resmi

: Oleum Ricini

Nama Lain

: Minyak Jarak

Pemerian

: Cairan kental, jernih, kuning pucat atau hamper


tidak berwarna, bau lemak; rasa manis kemudian
agak pedas, umumnya memualkan.

Kelarutan

: larut dalam 2,5 bagian etanol (90%) P; mudah larut


dalam etanol mutlak P dan dalam asetat glacial P.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik, terisi penuh.

Penggunaan

: Laksativum

BAB III
METODE KERJA
III.1

Alat dan Bahan


III.1.1 Alat yang digunakan
1. Spoit oral
2. Beker gelas
3. Batang pengaduk
4. Alu dan lumpang
5. Tissue
6. Timbangan berat badan hewan uji
7. Kasa
8. Spidol
9. Kaki tiga dan asbes
III.1.2 Bahan yang digunakan
1. Aquades
2. Na. CMC
3. Loperamide tablet
4. Infus Daun Rambutan
5. Oleum Ricini

III.2

Cara Kerja
III.2.1 Penyiapan hewan uji
a. Dipilih hewan uji berupa mencit yang sehat.

b. Diberi tanda pada ekor hewan uji dengan spidol yang tidak
dapat menghilangkan tanda tersebut sesuai dengan replikasi
dan perlakuan.
c. Ditimbang berat badan hewan uji tersebut pada timbangan
analitik.
III.2.2 Pembuatan sediaan obat (Loperamide)
a. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
b. Diambil tablet, digerus halus lalu dilarutkan dengan suspensi
Na.CMC
III.2.3 Pembuatan Na. CMC
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Ditimbang Na. CMC lalu dilarutkan dengan air panas 10 ml
dalam gelas piala, aduk ad homogen, lalu diencerkan ad 100
ml.
III.2.4 Pembuatan infus daun rambutan 20%
a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
b. Daun rambutan dipotong kecil-kecil kemudian ditimbang
sebanyak 20 gram.
c. Dilarutkan dengan air

200 ml lalu dibuat infus kemudian

dicukupkan volumenya hingga 50 ml.


III.2.5 Perlakuan terhadap hewan uji
a. Ditimbang berat badan hewan uji mencit.
b. Diberi tanda hewan uji mencit dengan spidol.

c. Mencit yang telah ditimbang kemudian dihitung dosis


pemberian obat dan kontrol (air)
d. Dimasukkan ke dalam mulut hewan uji spoit secara perlahanlahan, dipastikan obat masuk ke dalam saluran pencernaan
(bukan di paru-paru), setelah obat sudah masuk ditarik
perlahan-lahan spoit tersebut.
e. Setelah diberi obat, didiamkan selama 15 menit kemudian
diberikan ol.ricini kepada masing-masing hewan uji sebanyak
0,4 ml.
f. Setelah diberikan perlakuan, hewan uji dimasukkan ke dalam
wadah yang telah disiapkan yang telah dilapisi tissue terlebih
dahulu untuk menampung dan mengamati feses yang
dikeluarkan, meliputi waktu keluarnya feses, frekuensi
keluarnya feses dan volume feses yang keluar.
g. Diamati hewan uji tersebut selama 1 jam.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1

KH

Data Pengamatan

JK

BB

Dosis

(g)

(ml)

Dosis

Waktu

Waktu

O.Ri

Suntik

Suntik

(ml)

Obat

O.Ri

Waktu Defekasi

Perlakuaan/

Obat
Loperamida

20

0,26

0,4

15.51

16.09

II

20

0,52

0,4

15.45

16.14

III

14

0,3

0,4

15.48

16.04

15.50

15.53

15.55

16.11

Keterangan

KH

: Kode Hewan

BB

: Berat Badan

JK

: Jenis Kelamin

O.Ri

: Oleum Ricini

Kode Hewan Uji III (Kontrol)

IV.2

Waktu Defekasi

Konsistensi

Frekuensi

15.50

Padat, agak cair

Sedikit

15.53

Padat

Sedikit

15.55

Padat

Sedikit

16.11

Padat

Sedikit

Pembahasan
Dalam percobaan kali ini yaitu pengujian efek diare dengan
pemberian obat diare pada hewan uji dalam hal ini mencit dengan metode
profilaksis, dimana dibandingkan obat loperamide dengan pemberian infus
obat tradisional daun rambutan.
Sebelum diujikan pada hewan uji, terlebih dahulu dibuat infus daun
rambutan dan suspensi obat yang akan digunakan dalam percobaan.

Infus Daun
Rambutan
Kontrol

Setelah itu, hewan uji ditimbang untuk mengetahui bobot yang akan
digunakan dalam perhitungan dosis.
Pada percobaan ini tidak dibutuhkan teknik khusus hanya saja
teknik dasar yang perlu diperhatikan adalah penanganan hewan uji yang
baik.
Bila masing-masing hewan uji telah ditimbang, selanjutnya
diberikan obat loperamide dan infus sesuai dengan dosis yang telah
ditentukan sebelunya,

setelah itu ditunggu selama 15 menit hingga

obatnya berefek kemudian diberi oleum ricini yang berfungsi sebagai


laksativ atau sebagai pencahar, lalu diamati apakah obat tersebut dapat
mencegah terjadinya diare pada hewan uji atau tidak.
Pada hasil percobaan dapat dilihat bahwa hewan uji yang diberikan
pencegahan dengan loperamida dan infus memberikan hasil yang baik
karena tidak ada feses yang dihasilkan oleh hewan uji tersebut. Sedangkan
pada kontrol terdapat 4 feses dengan konsistensi yang padat dan frekuensi
yang sedikit.

BAB V
PENUTUP
V.1

Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, loperamid HCl
sebagai obat modern dan infus daun rambutan sebagai obat tradisional
sangat bagus digunakan untuk mencegah diare.

V.2

Saran
Diperlukan pengawasan dari pembimbing dan bantuan dalam
praktikum untuk memperkecil kesalahan yang munkin dilakukan praktikan
seperti kesalahan dalam perhitungan dosis.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman. http://omtani.blogspot.com
Diakses tanggal 27 Oktober 2013.
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan RI:
Jakarta.
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan RI:
Jakarta.
Hariana, Arief. 2004. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Seri I. Penebar Swadaya:
Jakarta.
Tim Farmakologi. 2013. Penuntun Praktikum Farmakologi. Poltekkes Kemenkes
Makassar Jurusan Farmasi: Makassar.

LAMPIRAN
1. Loperamid
Loperamid 2 mg
Konversi ke mencit : 2 mg x 0,0026 = 0,0052 mg
Pengenceran 2 mg

100 ml = 0,02 % b/v

Na. CMC
1 g dilarutkan dalam 20 ml air panas, dicukupkan ad 100 ml
2. Infus Daun Jambu biji 20 %
200 ml x 0,0026 = 0,52 ml / 20 g

Pemberian obat anti Diare


Hewan Uji I (Loperamida)

Kelompok II (Infus Daun Rambutan)

Kelompok III (Kontrol)

SKEMA KERJA

Ditimbang berat badan mencit, diberi


kode

Diberi per oral obat loperamida,


infus, dan air (kontrol), ditunggu
selama 15 menit.

Diberi secara oral oleum ricini

Diamati, dicatat waktu defekasi,


serta frekuensi dan konsistensi feses
selama 1 jam.