Anda di halaman 1dari 6

BAB II

PEMBAHASAN

1.1 KETERANGAN UMUM


Berdasarkan identitas pasien, adalah seorang wanita berusia 57 tahun. Seiring
bertambahnya usia, organ-organ yang berada di tubuh manusia sudah mulai
mengalami penurunan kemampuan bekerja salah satunya adalah organ mata. Mata
merupakan organ fotosensitif yang kompleks dan berkembang dalam menganalisis
cermat tentang bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang dipantulkan obyek. Banyak
kelainan pada mata yang dapat disebabkan oleh proses degeneratif salah satunya
pterigium.

Pterigium

merupakan

pertumbuhan

jaringan

fibrovaskuler

pada

konjungtiva yang bersifat degenaratif dan tumbuh menginfiltrat pada permukaan


kornea yang berbentuk segitiga.
Berkaitan dengan usia, secara epidemiologi usia pasien merupakan faktor riskio
terjadinya pterigium, terutama dekade ke-2 dan ke-3 serta insidensianya lebih
meningkat pada usia diatas 20 tahun (9,1%) dan diatas 40 tahun (65%).
Prevalensi jenis kelamin yang lebih sering terjadi pada pterigium yaitu jenis
kelamin laki-laki 4 kali lebih berisiko daripada perempuan.
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga. Dilihat dari pekerjaanya pasien sering
terpapar debu terutama saat menyapu atau membersihkan rumah. Lokasi rumah

pasien merupakan lokasi pinggir kota dan banyak kendaraan bermotor, mobil, dan
truk berlalu lintas sehingga mudah terpapar debu dan polusi. Prevalensi penderita
pterigium lebih banyak terjadi didaerah yang berdebu dan kering.

1.2 ANAMNESIS
Keluhan Utama : Mata terasa mengganjal saat berkedip
Keluhan mata terasa mengganjal saat berkedip merupakan salah satu gejala yang
sering dikeluhkan oleh penderita pterigium. Gejala pterigium pada tahap awal
biasanya ringan bahkan sering tanpa keluhan sama sekali (asimptomatik). Beberapa
keluhan yang sering dialami penderita pterigium, yaitu :
-

Mata sering berair dan merah

Mata seperti ada benda asing / mengganjal

Timbul astigmatisme

Tajam penglihatan terganggu (pada derajat 3 dan 4)

Anamnesis Khusus :
Pasien mengeluh mata sebelah kanan terasa mengganjal saat berkedip sejak
2 bulan yang lalu. Keluhan semakin lama semakin membuat pasien tidak nyaman
terutama seminggu terakhir ini. Sejak 1 tahun yang lalu, pasien mengeluh ada

selaput pada mata kanan di bagian dekat hidung yang semakin lama semakin
melebar ke bagian hitam bola mata.
Pada pasien ini onset keluhannya adalah berangsur-angsur. Pada penderita
pterigium didahului dengan timbulnya selaput pada mata dekat dengan nasal dan
lama kelamaan akan timbul suatu benjolan pada konjungtiva yang berbentuk segitiga
dan membuat penderita kurang nyaman. Selaput tersebut terjadi akibat perubahan
degenerasi elastik kolagen dan fibrovaskular dengan permukaan menutupi epitel. Hal
ini disebabkan karena struktur konjungtiva bulbi yang selalu berhubungan dengan
dunia luar dan secara intensif kontak dengan ultraviolet dan debu sehingga sering
mengalami kekeringan yang mengakibatkan terjadinya penebalan dan pertumbuhan
konjungtiva bulbi sampai menjalar ke kornea. Pada pterigium juga terjadi perubahan
fenotif, dimana lapisan fibroblast menunjukkan proliferasi yang berlebihan dimana
matrix metalloproteinase yang merupakan ekstraseluler matrix berfungsi untuk
jaringan yang rusak, penyembuhan luka, mengubah bentuk dan fibroblast pterigium
bereaksi terhadap TGF- (Transforming growth factor - ), bFGF (basic fibroblast
growth factor) yang berlebihan, TNF- (tumor necrosis factor - ) dan IGF II. Hal ini
yang menyebabkan bahwa pterigium cenderung terus tumbuh menginvasi ke stroma
kornea dan terjadi reaksi fibrovaskular dan inflamasi.
Keluhan kadang disertai dengan mata merah yang hilang timbul. Keluhan
mata merah timbul apabila pasien beraktivitas dengan menggunakan sepeda motor

tanpa menggunakan helm berkaca atau kaca mata pelindung sehingga mudah
terpapar debu dan sinar matahari.
Etiologi pterigium tidak diketahui dengan jelas, karena penyakit ini lebih
sering terjadi pada orang yang tinggal di iklim panas, daerah kering, daerah angin
kencang dan debu. Sinar ultraviolet adalah mutagen untuk p53 tumor suppressor gen
pada limbal basal stem cell. Defisiensi limbal stem cell dapat meyebakan
pertumbuhan konjungtiva kearah kornea, inflamasi kronis, kerusakan membrana
basement dan pertumbuhan jaringan fibrotik. Akibat proses inflamasi, konjungtiva
bulbi yang kaya akan vaskularisasi pembuluh darah akan teriritasi dan terjadi
pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan mata menjadi merah.
Keluhan juga disertai mata berair dan terasa perih.
Gejala lain dari pterigium adalah mata berair. Benjolan pada pterigium
menekan kelenjar air mata, sehingga pasien mengeluh sering keluar air mata. Mata
yang terasa perih diakibatkan karena adanya corpus alienum di sekitar mata.
Keluhan tidak disertai dengan penurunan tajam penglihatan dan penglihatan
menjadi bengkok-bengkok.
Keluhan tersebut ditanyakan untuk menyingkirkan komplikasi pterigium ke
stadium lebih lanjut. Pada pterigium stadium 3 atau stadium 4, gejala pterigium
disertei visus yang menurun dan astigmatisme.

Anamnesis tambahan :
Pasien sudah pernah berobat ke dokter dan diberi obat tetes mata, namun
tidak ada perbaikan.
Keluhan pterigium dapat memberikan gejala dry eye, sehingga dokter
mengira hanya keluhan mata kering biasa dan dokter memberikan obat tetes mata
untuk mata kering.
Riwayat keluhan serupa sebelumnya tidak ada.
Anamnesis tersebut ditanyakan untuk mengetahui rekurensi dari penyakit
pterigium.
Riwayat trauma atau kemasukan benda asing, operasi mata, penyakit mata
sebelumnya juga disangkal pasien.
Anamnesis

tersebut

ditanyakan

untuk

menyingkirkan

diagnsosis

pseudopterigium. Gejala pseudopterigium mirip dengan pterigium, namum pada


pseudopterigium diakibatkan karena inflamasi permukaan okular sebelumnya seperti
pada trauma, trauma kimia, dan trauma bedah,
Riwayat keluhan serupa pada keluarga disangkal.
Faktor genetik merupakan risiko timbulnya pterigium yang diturunkan secara
autosom dominan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, Sidarta. Prof. dr.SpM. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Jakarta, Balai
Penerbit FKUI. H. 116-117. 2005.
2. Jerome P Fisher, Pterygium. (cited 2014 April 27) Available from :
http//emedicine.medscape.com/article/1192527-overview
3. Voughan & Asbury. Oftamologi Umum edisi 17. Jakarta : EGC. 2010. Hal
119.