Anda di halaman 1dari 113

Scan & Edit

By
Ben99
The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

The Silence of the Lambs

Seorang diri Starling menyusuri koridor remang-remang itu. Ia tidak menoleh ke sel-sel di kedua sisi.
Suara langkahnya berkesan keras baginya. Kecuali itu hanya ada suara mendengkur dari satu atau dua sel,
serta tawa terkekeh-terkekeh dari sel lain....
Dr. Lecter mengenakan seragam putih rumah sakit jiwa di selnya yang berwarna sama. Kecuali rambut,
mata, dan mulutnya yang merah, segala sesuatu di sel itu berwarna putih. Wajahnya sudah begitu lama tidak
terkena sinar matahari, sehingga seakan-akan menyatu dengan warna putih yang mengelilinginya; sepintas
lalu timbul kesan wajahnya melayang di atas kerah bajunya. Lecter duduk di meja di balik jaring nilon yang
menghalanginya dari terali. Ia sedang membuat sketsa pada kertas roti dengan memakai tangannya sebagai
model. Sementara Starling me-nonton, Lecter membalikkan tangan dan, sambil me-regangkan jari-jemari,
menggambar sisi dalam le-ngannya. Dengan jari kelingking ia menggosok-gosok salah satu garis yang
dibuatnya dengan arang.
Starling mendekati terali, dan Lecter menoleh.
"Selamat malam, Dr. Lecter."
Ujung lidah Lecter yang merah muncul di antara kedua bibir yang tak kalah merahnya. Sejenak lidahnya
menyentuh bibir atas, tepat di tengah, lalu menghilang kembali.
"Clarice."
Starling mendengar suaranya yang parau, dan dalam hati ia bertanya, sudah berapa lama sejak pria itu ter-
akhir angkat bicara. Keheningan seakan berdenyut-denyut.

ben99 ebooks collections 2


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 Tentang Perubahan atas Undang-
undang Nomor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau
memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau detjda paling
banyak Rp 1 OO.OOO.OOO,- (seratus juta rupiah).
Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu
ciptaan atau barang
2. hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 50.000.000,-(lima puluh juta rupiah).

ben99 ebooks collections 3


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

THOMAS HARIS

Domba-domba Telah Membisu

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 1996

THE SILENCE OF THE LAMBS


by Thomas Harris Copyright © 1988 by Yazoo Fabrications, Inc. All rights reserved including the right of reproduction in whole or in part in any form.

Dipersembahkan pada ayahku


DOMBA-DOMBA TELAH MEMBISU
Alihbahasa: Hendarto Setiadi GM 402 96.420 Hak cipta terjemahan Indonesia: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Selatan 24-26, lakarta
10270 Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, lakarta, Oktober 1996

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)

HARRIS, Thomas
Domba-domba telah membisu/Thomas Harris; alih bahasa, Hendarto
Setiadi.— Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996
480 him. ; 18 cm.

Judul Asli : The Silence of The Lambs ISBN 979-605-420-5


I. Judul JJ. Setiadi, Hendarto

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab percetakan

ben99 ebooks collections 4


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Bab Satu

Ilmu perilaku, seksi FBI yang menangani pembunuhan berantai, terletak di lantai dasar ge-
dung Academy di Quantico, setengah terbenam di dalam tanah. Clarice Starling tiba di sana
dengan wajah merona merah setelah berjalan cepat dari Hogan's Alley di lapangan tembak.
Beberapa batang rumput masih tersangkut di rambutnya, dan pada jaket seragam FBI
Academy-nya pun terdapat noda-noda hijau bekas rumput, karena ia tiarap dalam latihan
menembak tadi.
Di ruang tunggu tidak ada siapa-siapa, sehingga ia menyempatkan diri mengamati
bayangannya pada pintu kaca. Ia tahu ia dapat tampil baik tanpa berdandan. Tangannya
masih berbau mesiu, namun tak ada waktu untuk cuci tangan. Kepala Seksi Crawford telah
menegaskan kata sekarang ketika menyuruhnya datang.
Jack Crawford ternyata seorang diri di ruang kerja bersama yang penuh sesak. Ia sedang
menggunakan telepon di meja orang lain, dan untuk pertama kali setelah satu tahun,
Starling sempat mengamati pria itu. Apa yang dilihatnya membuatnya prihatin.

Biasanya Crawford tampak seperti ahli teknik setengah baya yang fit, tipe orang yang
mungkin membiayai pendidikannya di perguruan tinggi dengan bermain baseball—catcher
andal yang garang dalam menjaga plate. Namun kini ia kelihatan kurus, kerah kemejanya
longgar, dan kulit di bawah matanya yang merah tampak menggembung. Setiap orang yang
bisa membaca koran tahu bahwa seksi Ilmu Perilaku tengah disorot. Starling berharap
Crawford tidak kecanduan alkohol. Tapi di sini, kemungkinan tersebut sangat kecil.
Crawford mengakhiri percakapan teleponnya dengan membentak, "Tidak." Kemudian ia
meraih map yang dikepitnya dan membukanya.
"Starling, Clarice M., selamat pagi," ujarnya.
"Halo." Starling tersenyum tipis, sekadar menjaga tata krama..
"Jangan kuatir. Tidak ada masalah apa-apa. Kau tidak kaget karena dipanggil kemari,
bukan?"
"Tidak." Siapa yang tidak waswas kalau begini? Starling bertanya dalam hati.
"Menurut para instruktur, kemajuanmu cukup bagus. Kau termasuk siswa terbaik di
kelasmu."
"Mudah-mudahan. Mereka tidak pernah mengumumkan hasil yang kami capai."
"Aku suka bertanya pada mereka dari waktu ke waktu."
Pernyataan ini mengejutkan Starling; semula ia menganggap Crawford sebagai petugas
rekrut yang tidak peduli pada kemajuan para siswa baru.
Ia bertemu Agen Khusus Crawford ketika pria itu tampil sebagai pembicara tamu di
University of Virginia. Mutu seminar-seminar kriminologi yang diadakan Crawford
merupakan salah satu faktor yang membawa Starling ke FBI. Starling sempat menulis surat
ketika ia lulus ujian saringan Academy, tapi tak pernah ada balasan. Selama tiga bulan
mengikuti pendidikan di Quantico pun ia tak dihiraukan oleh Crawford.
Starling berasal dari kalangan yang tak pernah minta perlakuan istimewa dan tidak biasa
mengakrabkan diri, namun ia heran dan menyayangkan sikap Crawford. Kini, setelah
berhadapan langsung, ia kembali menyukainya, dan hal itu disadarinya dengan
rasa menyesal.
Ia langsung tahu ada yang tidak beres dengan pria itu. Crawford memiliki kepandaian yang
khas, di samping kecerdasannya, yang tercermin melalui cara ia memilih warna dan
pakaian, sehingga ia dapat tampil berbeda tanpa menyimpang dari standar berpakaian tak
resmi yang berlaku di FBI. Kini ia tampak rapi namun kusam, seakan-akan sedang berganti
kulit.
"Ada tawaran tugas, dan aku teringat padamu," Crawford berkata. "Tugasnya sepele, tapi
menarik. Duduklah. Singkirkan saja barang-barang Berry dari kursi itu. Nah, di sini tertulis
kau ingin langsung masuk ke seksi Perilaku setelah menyelesaikan pendidikan."
"Betul."
"Kau banyak belajar tentang forensik, tapi tidak punya latar belakang dalam penegakan
hukum. Kami butuh orang dengan pengalaman enam tahun di sini, minimal."
"Ayahku dulu mar shall. Aku kenal dunia itu." Crawford tersenyum tipis. "Kau sarjana
psikologi dan kriminologi. Dan berapa lama kau bekerja di pusat perawatan mental—dua
musim panas?" "Ya, dua."
"Lisensi konselormu masih berlaku?" "Masih dua tahun lagi. Aku memperolehnya sebelum
Anda mengadakan seminar di UVA—sebelum aku memutuskan bergabung di sini."

ben99 ebooks collections 5


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Tapi ternyata untuk sementara tidak ada penerimaan pegawai baru."


Starling mengangguk. "Tapi aku beruntung, masih sempat memenuhi persyaratan untuk
diterima sebagai Forensic Fellow^ Dengan demikian, aku bisa bekerja di lab sampai ada
tempat lagi di Academy."
"Kau pernah tulis surat bahwa kau akan datang kemari, bukan? Tapi aku tidak
menanggapinya. Seharusnya aku membalas suratmu." "Anda banyak kesibukan lain." "Kau
paham soal VI-CAP?" "Itu singkatan dari Violent Criminal Apprehension Program Law
Enforcement Bulletin menyebutkan Anda sedang mengembangkan database, tapi sampai
sekarang belum beroperasi."
Crawford mengangguk. "Kami telah mengembangkan kuesioner, untuk semua
pembunuhan berantai yang diketahui di zaman modern." Ia menyerahkan berkas tebal.
"Satu bagian untuk penyelidik, satu untuk korban-korban yang selamat, kalau ada. Bagian
yang biru diisi oleh si pembunuh, kalau dia bersedia, sedangkan yang merah jambu berisi
serangkaian pertanyaan yang diajukan penyelidik kepada si pembunuh. Baik jawaban
maupun reaksinya akan dicatat."
Catat-mencatat. Clarice Starling langsung siaga.
Tawaran pekerjaan yang akan menyusul sudah bisa diciumnya—kemungkinan besar
pekerjaan menjemukan seperti memasukkan data mentah ke dalam sistem komputer baru.
Peluang memasuki seksi Ilmu Perilaku, dalam kapasitas apa pun, sungguh menggoda, tapi
ia tahu bagaimana nasib wanita yang telanjur dicap sebagai sekretaris—cap itu akan
melekat sampai akhir zaman. Starling sadar ia akan menghadapi pilihan, dan ia ingin
mengambil keputusan yang benar.
Crawford sedang menunggu sesuatu—rupanya ia sempat mengajukan pertanyaan. Starling
harus berpikir sejenak sebelum dapat mengingat pertanyaannya:
"Tes apa saja yang sudah pernah kauberikan? Minnesota Multiphasic, pernah? Rorschach?"
"MMPI sudah, Rorschach belum," jawab Starling. "Aku juga pernah melakukan Thematic
Apperception dan memberikan Bender-Gestalt untuk anak-anak." "Kau mudah takut,
Starling?" "Sejauh ini tidak."
"Begini, kami telah berusaha mewawancarai dan memeriksa ketiga puluh dua pembunuh
berantai yang ada dalam tahanan, untuk mengembangkan database guna menyusun profil
psikologis bagi kasus-kasus yang belum terpecahkan. Sebagian besar dari mereka setuju—
sepertinya mereka ingin membanggakan diri. Dua puluh tujuh bersedia bekerja sama.
Empat orang memilih tutup mulut. Keempat-empatnya telah dijatuhi hukuman mati, tapi
masih menunggu keputusan terhadap permohonan grasi, jadi sikap mereka bisa dimengerti.
Tapi orang yang paling kami incar belum berhasil kami dapatkan. Aku ingin kau pergi ke
rumah sakit jiwa besok dan mencoba membujuknya."
Clarice Starling merasa lega, sekaligus waswas. "Siapa orangnya?"
"Psikiater itu—Dr. Hannibal Lecter," sahut Crawford.
Di semua lingkungan beradab, penyebutan nama itu membuat semua percakapan terhenti
sejenak.
Pandangan Starling tetap tertuju pada Crawford, namun ia pun terdiam sesaat. "Hannibal
the Cannibal," ia akhirnya berkata "Ya." "Ya, ehm—oke. Aku senang diberi kesempatan
ini, tapi aku agak heran—kenapa justru aku?" "Terus terang, terutama karena kaulah yang
bisa kudapatkan," ujar Crawford. "Aku tidak yakin dia akan bersedia* diwawancarai. Dia
sudah pernah menolak, tapi melalui perantara—direktur rumah sakit jiwa itu. Aku harus
bisa mengatakan bahwa petugas kami sendiri yang mendatanginya dan menanyainya secara
langsung. Ada alasan-alasan yang tidak perlu kauketahui. Tak ada lagi di seksi ini yang
bisa melakukannya." "Anda dalam keadaan terjepit—Buffalo Bill—dan kejadian-kejadian
di Nevada," Starling berkomentar. "Persis. Cerita lama—kami kekurangan orang." "Tadi
Anda mengatakan besok—berarti tugas ini harus selesai cepat. Sudah ada petunjuk
mengenai kasus-kasus terakhir?" "Sayangnya belum ada. "Andaikata dia menolak lagi,
Anda tetap menginginkan evaluasi psikologis?" "Tidak usah. Sudah terlalu banyak evaluasi
mengenai Dr. Lecter, dan semuanya berbeda.
Crawford menuangkan dua tablet vitamin C ke tangannya, lalu mencampurkan Alka-
Seltzer untuk menenggak keduanya. "Situasinya konyol sekali; Lecter psikiater dan dia
sering menulis untuk jurnal-jurnal psikiatri. Tulisannya bermutu, tapi tak pernah mengenai
kelainan-kelainannya sendiri. Pernah suatu kali dia berlagak mau mengikuti serangkaian tes
yang diadakan direktur rumah sakit jiwa, Chilton—termasuk duduk dengan alat pengukur
tekanan darah pada penisnya sambil memperhatikan gambar-gambar abstrak—tapi
kemudian Lecter mempermalukan Chilton dengan lebih dulu menerbitkan hal-hal yang
dipelajarinya tentang dia. Selain itu, dia hanya menanggapi korespondensi serius dari
mahasiswa-mahasiswa psikiatri dalam bidang-bidang yang tidak terkait dengan kasusnya.
Kalau dia tidak bersedia bicara denganmu, kuminta kau melaporkan fakta-faktanya saja.
Bagaimana penampilannya, seperti apa selnya, apa saja yang dikerjakannya. Dan hati-hati
terhadap pers waktu kau masuk dan keluar. Maksudku bukan wartawan-wartawan yang
serius, tapi wartawan-wartawan gosip. Bagi mereka, Lecter bahkan lebih berharga daripada
Pangeran Andrew."
"Bukankah pernah ada majalah gosip yang menawarkan lima puluh ribu dolar kepada
Lecter untuk beberapa resep? Rasanya aku masih ingat itu," ujar Starling.
Crawford mengangguk. "National Tattler pasti sudah menyuap staf rumah sakit, dan
mereka mungkin akan segera tahu bahwa kau menuju ke sana."
Crawford mencondongkan badan ke depan sampai jarak di antara mereka tinggal sekitar
setengah meter . Starling memperhatikan kacamata Crawford mengaburkan kulit
menggembung di bawah matanya. Pria itu baru saja berkumur dengan Listerine.
"Nah, sekarang perhatikan baik-baik, Starling."
"Ya, Sir?"
"Kau harus sangat berhati-hati dengan Hannibal Lecter. Dr. Chilton, kepala rumah sakit

ben99 ebooks collections 6


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

jiwa itu, akan menjelaskan prosedur yang harus ditaati saat berhadapan dengan Lecter.
Ikuti prosedur itu dengan setepat-tepatnya. Jangan menyimpang sedikit pun untuk alasan
apa pun. Kalaupun Lecter bersedia bicara denganmu, itu sekadar untuk mengorek
keterangan tentang kau. Dia seperti ular yang melongok ke dalam sarang burung. Kita*'
sama-sama tahu kita harus fleksibel saat melakukan wawancara, tapi jangan ceritakan hal-
hal pribadi. Kau tahu, bukan, apa yang dilakukannya terhadap Will Graham?"
"Aku membaca laporannya."
"Dia merobek perut Will dengan cutter ketika Will berhasil memojokkannya. Aku sendiri
heran Will bisa selamat. Masih ingat Red Dragon? Lecter menghasut Francis Dolarhyde
untuk mengincar Will dan keluarganya. Muka Will sekarang mirip lukisan Picasso, gara-
gara Lecter. Dia juga mencederai juru rawat di rumah sakit jiwa. Pokoknya, lakukanlah
tugasmu, tapi jangan lupa siapa dia sesungguhnya."
"Anda tahu siapa dia sesungguhnya?"
"Aku tahu dia monster. Selebihnya tak ada yang tahu pasti. Barangkali kau akan
menemukan jawabannya; aku punya alasan tersendiri waktu memilihmu, Starling. Kau
sempat mengajukan beberapa pertanyaan menarik waktu aku berkunjung ke UVA.
Laporanmu akan diserahkan langsung kepada Direktur- kalau isinya jelas dan
terorganisasidengan baik, Aku yang akan memutuskannya. Dan laporanmu harus sudah
kuterima pukul 09.00, hari Minggu besok. Oke, Starling, Laksanakan tugasmu.”
Crawford mengembangkan senyum, namun matanya tetap redup.

Bab Dua

Dr. Frederick chilton, lima puluh delapan tahun, pimpinan Baltimore State Hospital for the
Criminally Insane, mempunyai meja tulis panjang dan lebar, dan di atasnya tak ada satu
pun benda keras maupun tajam. Meja itu dijuluki "selokan pertahanan" oleh beberapa
stafnya, namun ada pula staf yang tidak mengetahui arti istilah tersebut. Dr. Chilton tidak
beranjak dari kursi di belakang meja ketika Clarice Starling memasuki ruang kerjanya.
"Kami sudah sering dikunjungi detektif di sini, tapi rasa-rasanya belum pernah ada yang
secantik ini," Chilton berkata tanpa bangkit.
Starling langsung tahu .bahwa gilap pada tangan pria itu adalah lanolin yang melekat
karena Chilton habis mengusap-usap rambut, dan ia bersalaman seperlunya saja.
"Mrs Sterling, bukan?"
"Starling, Dokter, dengan a. Terima kasih Anda bersedia menerima saya."
"Rupanya FBI juga sudah mulai memanfaatkan gadis-gadis, seperti semua orang lain, ha
ha." Ia menampilkan senyum yang biasa digunakannya untuk memisahkan dua kalimat.
Giginya tampak kuning akibat nikotin.
"Kantor kami terus mengadakan perbaikan, Dr.
Chilton. Sungguh."
"Anda akan tinggal di Baltimore untuk beberapa hari? Sebenarnya hiburan di kota ini tak
kalah seru dibandingkan di Washington atau New York, asal Anda tahu tempat-tempat
yang tepat."
Starling memalingkan wajah agar tidak perlu melihat senyumnya yang menjengkelkan.
"Saya percaya kota ini cukup menyenangkan, tapi saya diperintahkan menemui Dr. Lecter,
lalu kembali sore ini juga."
"Barangkali ada nomor telepon di Washington di mana saya bisa menghubungi Anda untuk
follow-up,
kalau diperlukan?"
"Tentu. Penanggung jawab proyek ini adalah Agen Khusus Jack Crawford, dan Anda selalu
bisa menghubungi saya melalui dia."
"Hmm, begitu," ujar Chilton. Pipinya yang kemerahan tidak selaras dengan rambutnya
yang merah kecokelatan. "Tolong perlihatkan identitas Anda." Starling dibiarkannya
berdiri sementara ia memeriksa kartu identitasnya tanpa terburu-buru. Kemudian ia
mengembalikannya dan bangkit dari kursi. "Tidak
akan lama. Mari."
"Saya diberitahu Anda akan memberikan pengarahan pada saya, Dr. Chilton," kata
Starling.
"Itu bisa sambil jalan." Chilton mengelilingi meja sambil menatap arlojinya. "Setengah jam
lagi saya mau makan siang."
Sial, seharusnya ia bisa membaca orang ini dengan lebih baik, lebih cepat. Chilton
mungkin tidak sebrengsek yang diduganya. Bisa jadi Chilton mengetahui sesuatu yang
berguna. Seharusnya ia meladeni orang itu dengan senyum manis, meskipun ia tidak biasa
melakukannya.
"Dr. Chilton, kunjungan saya sudah disesuaikan dengan jadwal Anda. Siapa tahu saya akan
memperoleh sesuatu dalam wawancara nanti. Mungkin ada beberapa jawaban Dr. Lecter
yang perlu saya bahas bersama Anda."
"Saya rasa tidak. Oh, saya harus menelepon dulu sebelum kita pergi. Silakan tunggu di
luar."
"Kalau boleh, saya ingin menitipkan mantel dan payung saya di sini."
"Di luar," sahut Chilton. "Serahkan saja pada Alan di ruang tunggu. Biar dia yang
menyimpannya."
Alan memakai seragam mirip piama yang dikenakan para penghuni, la sedang

ben99 ebooks collections 7


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

membersihkan asbak-asbak dengan ujung bajunya.


Ia menerima mantel Starling sambil mengulum lidah.
"Terima kasih," ujar Starling.
"Kembali. Berapa sering kau berak?" tanya Alan. "Maaf?"
"Tahinya panjang-panjang?"
"Biar saya gantungkan sendiri mantel saya."
"Kau bisa melihatnya, kan? Kau tinggal bungkuk dan melihatnya keluar, dan berubah
warna waktu kena udara. Pernah kaulakukan itu? Mirip ekor yang panjang dan cokelat,
ya?" Alan tidak mau melepaskan mantel di tangannya.
"Anda dipanggil Dr. Chilton," ujar Starling.
"Saya tidak memanggilnya," kata Dr. Chilton.
"Gantungkan mantel itu di lemari, Alan, dan jangan dikeluarkan sebelum kami kembali.
Ayo." Chilton berpaling kepada Starling. "Saya pernah punya sekretaris, tapi dia terpaksa
diberhentikan karena ada pemotongan anggaran. Sekarang hanya ada gadis yang menerima
Anda tadi. Dia mengetik tiga jam sehari. Setelah itu hanya ada Alan. Ke mana perginya
para sekretaris, Miss Starling?" Kacamatanya memantulkan cahaya lampu. "Anda
membawa senjata?"
"Tidak, saya tidak membawa senjata."
"Tolong buka tas Anda."
"Anda sudah melihat kartu identitas saya."
"Dan di situ tertulis bahwa Anda masih dalam pendidikan. Tolong buka tas Anda."
Clarice Starling meringis ketika pintu baja pertama menutup di belakangnya, dan
gerendelnya kembali ke posisi mengunci. Chilton berjalan menduluinya, menyusuri koridor
hijau yang berbau Lysol. Starling gusar pada dirinya sendiri karena membiarkan Chilton
menggeledah tasnya, dan ia melangkah sambil mengentakkan kaki agar dapat menguasai
kemarahannya.
"Lecter cukup merepotkan," Chilton berkata tanpa menoleh. "Petugas kami menghabiskan
paling tidak sepuluh menit setiap hari untuk membuka staples dari terbitan-terbitan yang
diterimanya. Kami pernah mencoba menghentikan abonemen-abonemennya, atau paling
tidak mengurangi jumlahnya, tapi dia membuat pengaduan dan dimenangkan oleh
pengadilan. Surat-surat yang diterimanya pada awalnya luar biasa banyak, tapi untung saja
sudah berkurang sekarang, berhubung perhatian pers telah beralih kepada makhluk-
makhluk lain. Mula-mula semua mahasiswa S-2 psikologi yang sedang membuat tesis
seakan-akan berlomba-lomba agar bisa memuat komentar atau analisis dari Lecter. Sampai
sekarang pun jurnal-jurnal kedokteran masih memuat tulisannya, tapi itu lebih banyak
diwarnai unsur sensasi, agar mereka bisa mencantumkan namanya."
"Menurut saya, pembahasannya mengenai adiksi pembedahan dalam Journal of Clinical
Psychiatry cukup bagus," Starling berkomentar.
"Hmm, begitu? Kami telah mencoba mempelajari Lecter. Bagi kami, ini kesempatan emas
untuk membuat penelitian yang akan menjadi tonggak baru dalam dunia psikologi—orang
seperti itu jarang sekali tertangkap dalam keadaan hidup." "Orang seperti apa?"
"Sosiopat sejati, seperti Lecter. Tapi dia tidak bisa ditembus. Dia terlalu lihai untuk tes-tes
standar. Dan dia benar-benar membenci kami. Saya dianggapnya musuh bebuyutan. Dan
sekarang Crawford mengirim Anda. Cerdik sekali, bukan?"
"Apa maksud Anda, Dr. Chilton?" "Crawford menugaskan Anda, seorang wanita muda,
untuk menaklukkan' Lecter. Rasanya Lecter sudah beberapa tahun tidak bertemu wanita—
paling-paling dia sempat melihat salah satu petugas kebersihan, itu pun hanya sekilas.
Kami sengaja menjauhkan petugas wanita dari sana. Wanita di ruang tahanan hanya
membuat masalah."
Persetan kau, Chilton. "Saya lulus dengan pujian dari University of Virginia, Dokter. Itu
bukan sekolah tata krama."
"Kalau begitu, Anda pasti mampu mengingat peraturan yang berlaku di sini: Jangan
ulurkan tangan melewati terali, jangan sentuh terali. Jangan serahkan apa pun selain kertas
tipis. Jangan berikan pena maupun pensil padanya. Dia punya alat tulis sendiri. Kertas-
kertas yang Anda serahkan harus bebas dari staples maupun jepitan kertas. Semua barang
dari dalam dikembalikan lewat celah untuk baki makanan. Tanpa pengecualian. Jangan
terima apa pun yang disodorkannya lewat terali. Mengerti?"
"Mengerti."
Mereka telah melewati dua pinta lagi dan memasuki koridor yang tak terjangkau cahaya
matahari. Bangsal-bangsal tempat para pasien diizinkan berbaur bebas sudah mereka
lewati. Kini mereka berada di bagian pengamanan maksimum yang tidak berjendela,
tempat ruang gerak para penghuni dibatasi dengan ketat. Lampu-lampu koridor dilindungi
kisi-kisi logam yang kokoh, bagaikan lampu-lampu di ruang mesin kapal. Dr. Chilton
berhenti di bawah salah satunya. Samar-samar Starling mendengar suara di balik dinding,
suara yang parau karena terlalu banyak berteriak.
"Lecter tidak diizinkan keluar sel tanpa baju pengekang dan penutup mulut," ujar Chilton.
"Saya akan menjelaskan sebabnya. Selama tahun pertama di sini, Lecter menunjukkan
sikap sangat kooperatif, dan pengamanan di sekitarnya dikendurkan sedikit—harap diingat,
ini terjadi sebelum saya menjabat sebagai kepala rumah sakit. Pada sore tanggal 8 Juli
1976, dia mengeluh dadanya sesak, dan dibawa ke klinik. Baju pengekangnya dilepas
untuk memudahkan prosedur elektrokardiogram. Ketika juru rawat hendak menempelkan
elektroda, inilah yang dilakukan Lecter terhadapnya." Chilton menyerahkan foto yang telah
kumal kepada Starling. "Para dokter berhasil menyelamatkan sebelah mata juru rawat itu.
Sepanjang kejadian itu, Lecter tetap dimonitor oleh alat-alat pemantau. Dia mematahkan
rahang si juru rawat agar dapat menjangkau lidahnya. Denyut nadi Lecter tak lebih dari
delapan lima, bahkan ketika dia menelan lidah wanita itu."
Starling tidak tahu mana yang lebih parah, foto itu atau perhatian Chilton, yang seakan-

ben99 ebooks collections 8


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

akan hendak menelannya dengan matanya.


"Dia dikurung di sini," ujar Chilton, lalu menekan tombol di samping pintu ganda yang
terbuat dari kaca tahan benturan yang tebal. Seorang penjaga berbadan besar membukakan
pintu.
Starling mengambil keputusan sulit dan berhenti segera setelah melewati pintu. "Dr.
Chilton, kami sangat membutuhkan hasil tes-tes ini. Jika Dr. Lecter menganggap Anda
sebagai musuh—jika dia memang menaruh dendam pada Anda, seperti yang Anda
katakan—mungkin lebih baik kalau saya mendatanginya seorang diri. Bagaimana menurut
Anda?"
Pipi Chilton berkedut-kedut. "Boleh saja. Kenapa Anda tidak mengusulkannya di ruang
kerja saya tadi? Saya bisa minta salah satu petugas mengantar Anda ke sini, supaya saya
tidak buang-buang waktu."
"Saya tentu akan mengusulkannya, kalau saja Anda mau memberikan pengarahan sebelum
kita kemari."
"Rasanya kita takkan berjumpa lagi, Miss Starling. Barney, kalau dia sudah selesai dengan
Lecter, panggil saja orang untuk mengantarnya keluar."
Chilton pergi tanpa menoleh lagi.
Kini hanya ada petugas berbadan besar itu, jam yang tak berbunyi di belakangnya, serta
lemari berpintu anyaman kawat yang berisi Mace dan jaket pengekang, topeng penutup
mulut, dan pistol suntik. Pada rak di dinding terdapat pipa panjang dengan lengkungan
berbentuk U di ujungnya, yang digunakan untuk meringkus tahanan yang mengamuk.
Petugas itu sedang menatap Starling. "Anda sudah diberitahu Dr. Chilton, jangan sentuh
terali?" Suaranya tinggi sekaligus parau. Starling teringat pada Aldo Ray.
"Ya, saya sudah diberitahu."
"Oke. Dia ada di sel terakhir sebelah kanan. Berjalanlah di tengah-tengah koridor, dan
jangan pedulikan apa pun. Anda bisa membawakan surat-surat yang ditujukan padanya,
untuk mencairkan suasana." Petugas itu tersenyum sendiri. "Letakkan saja di baki dan
biarkan ditarik masuk. Kalau bakinya ada di dalam, Anda bisa menariknya dengan tali, atau
bisa juga dia yang mendorongnya keluar. Dia tidak bisa menjangkau Anda." Petugas itu
menyerahkan dua majalah, tiga koran, dan beberapa surat yang sudah dibuka.
Koridor itu memanjang sekitar tiga puluh meter, dengan deretan sel di kedua sisi. Beberapa
di antaranya merupakan sel dengan dinding berlapis dan jendela observasi yang panjang
dan sempit, bagaikan celah untuk memanah, di tengah daun pintu. Ada pula yang
menyerupai sel penjara biasa, dengan terali menghadap ke koridor. Clarice Starling
menyadari kehadiran sosok-sosok di dalam sel-sel itu, namun ia memaksakan diri untuk
tidak menoleh. Ia sudah hampir sampai di sel Lecter ketika sebuah suara mendesis,
"Baumu bisa kucium dari sini." Starling berlagak tidak mendengarnya. Ia terus berjalan.
Lampu di sel terakhir menyala. Starling sadar bahwa suara langkahnya telah menduluinya,
dan ia beralih ke sisi kiri koridor untuk memandang ke dalam sambil mendekat.

Bab Tiga
Sel Dr. Lecter terletak berjauhan dari sel-sel yang lain. Sel itu berhadapan hanya
dengan lemari di seberang koridor, dan dalam hal-hal lain pun berbeda. Sisi depannya
dibatasi terali, tapi di sebelah dalam terali itu, lebih jauh dari jangkauan tangan, terdapat
pembatas kedua, yaitu jaring nilon yang terentang dari lantai ke langit-langit dan dari
dinding ke dinding. Di balik terali tersebut, Starling melihat meja yang dibaut ke lantai dan
penuh tumpukan buku softcover serta kertas-kertas, dan kursi bersandaran lurus yang
diamankan dengan cara yang sama.
Dr. Hannibal Lecter sedang berbaring di tempat tidur sambil membaca majalah Vogue
edisi Italia. Majalah itu digenggamnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya
membalik-balik halaman. Tangan kiri Dr. Lecter berjari enam.
Clarice Starling berhenti agak jauh dari terali. "Dr. Lecter." Suaranya terdengar biasa
saja di telinganya.
Pria itu menoleh. '
Sejenak Starling mengira tatapan orang itu berdengung, tapi kemudian ia sadar bahwa
yang didengarnya hanya debur darahnya sendiri. "Namaku Clarice Starling. Bolehkah aku
bicara dengan Anda?" Ia sengaja bersikap sopan, dan itu tersirat dalam nada suaranya serta
jarak yang diambilnya.
Dr. Lecter berpikir sejenak sambil menempelkan jari ke bibir. Kemudian ia bangkit
dan melangkah maju dalam kerangkengnya. Ia berhenti di balik jaring nilon tanpa
memandangnya, seakan-akan jarak itulah yang dianggapnya pantas.
Starling melihat bahwa Lecter pendek dan berbadan kecil; tangan dan lengan pria itu
mengisyaratkan kekuatan terselubung, seperti yang dimiliki Starling.
"Selamat pagi," Lecter berkata, seakan-akan baru membukakan pintu bagi orang tamu.
Suaranya terdengar agak parau, mungkin karena jarang digunakan.
Mata Dr. Lecter berwarna maroon dan memantulkan cahaya sebagai titik-titik merah.
Kadang-kadang titik-titik tersebut seakan-akan memancar bagaikan bunga api. Ia menatap
Starling tanpa berkedip.
Starling maju sedikit. Bulu-bulu di tangannya berdiri dan mendesak lengan bajunya.
"Dokter, kami menghadapi kesulitan dalam menyusun profil psikologis. Aku
bermaksud minta bantuan Anda."
"'Kami' tentu berarti seksi Ilmu Perilaku di Quan-tico. Tampaknya kau salah satu anak
buah Jack Crawford."
"Ya, benar."
"Boleh kulihat kartu identitasmu?" •Permintaan ini tak diduga oleh Starling. "Aku
sudah menunjukkannya di... atas."
ben99 ebooks collections 9
The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Maksudmu, kau menunjukkannya kepada Frederick Chilton, Ph.D.?"


"Ya."
"Kau tahu latar belakang dial" "Tidak."
"Asal tahu saja, latar belakang akademiknya kurang meyakinkan. Kau bertemu Alan
tadi? Orangnya menarik sekali, bukan? Di antara mereka berdua, siapa yang kau pilih
sebagai teman mengobrol?"
"Kalau harus memilih, aku pilih Alan."
"Dari mana aku tahu kau bukan wartawan yang menyogok Chilton agar diizinkan
masuk ke sini? Kukira aku berhak melihat kartu identitasmu."
"Baiklah." Starling memperlihatkan kartu ID-nya
yang dilaminasi.
"Aku tidak bisa membacanya dari sini. Silakan
letakkan di baki."
"Maaf, aku tidak bisa melakukan itu." "Karena kartu itu termasuk benda keras." "Ya."
"Tanya Barney saja."
Petugas itu datang dan mempertimbangkan permintaan Lecter. "Dr. Lecter, saya akan
mengizinkannya. Tapi kalau Anda tidak mengembalikannya saat saya minta—kalau kita
harus merepotkan semua orang dan mengamankan Anda dulu untuk mengambilnya—maka
saya akan marah. Dan kalau saya sampai marah, Anda harus diikat sampai saya merasa
lebih enak. Makanan lewat selang, celana diganti dua kali sehari—pokoknya, lengkap. Dan
surat-surat untuk Anda akan saya tahan satu minggu. Mengerti?" 'Tentu,' Barney."
Kartu ID itu ditarik masuk, dan Lecter segera mengamatinya.
"Siswa? Di sini tertulis 'siswa.' Jack Crawford mengirim siswa untuk mewawancarai
aku?" Lecter mengetuk-ngetukkan kartu itu pada giginya yang kecil dan putih, lalu
menghirup baunya. "Dr. Lecter," ujar Barney.
"Tentu saja." Lecter menaruh kartu itu di baki dan Barney menariknya keluar.
"Aku sedang mengikuti pendidikan di Academy," Starling menjelaskan. "Tapi kita
tidak bicara mengenai FBI—kita bicara soal psikologi. Bisakah Anda memutuskan sendiri
apakah aku memenuhi syarat untuk membahas masalah ini?"
"Hmmmm," Dr. Lecter bergumam. "Terus terang... ini agak licik. Barney, barangkali
Officer Starling ini bisa diambilkan kursi?"
"Dr. Chilton tidak menyinggung soal kursi." "Kau lupa tata krama, Barney?" "Anda
mau diambilkan kursi? Sebenarnya kami bisa saja menyediakan kursi, tapi dia tidak
pernah... ehm, biasanya tak ada yang berlama-lama di sini." "Ya, terima kasih," sahut
Starling. Barney mengambil kursi lipat dari lemari di seberang, menaruhnya di depan sel,
lalu meninggalkan mereka berdua.
"Nah," ujar Lecter. Ia duduk menyamping di mejanya, agar dapat menghadap ke arah
Starling. "Apa yang dikatakan Miggs tadi?"
"Siapa?"
"Multiple Miggs, di sel sebelah sana. Aku mendengarnya mendesis tadi. Apa yang
dikatakannya?" "Dia bilang, 'Baumu bisa kucium dari sini.'" "Hmm, begitu. Aku sendiri
tidak bisa. Kau menggunakan krem kulit Evyan, dan kadang-kadang memakai L'Air du
Temps, tapi hari ini tidak. Hari ini kau tidak memakai wangi-wangian. Bagaimana tang-
gapanmu terhadap ucapan Miggs?"
"Dia menunjukkan sikap bermusuhan karena alasan yang tidak kuketahui. Sayang
sekali. Dia memusuhi orang, orang memusuhi dia. Timbal balik." "Kau memusuhi dia?"
"Aku menyayangkan bahwa dia terganggu. Selain itu, dia cuma angin lalu. Dari mana
Anda tahu soal parfumku?"
"Aku menciumnya waktu kau membuka tas untuk mengambil kartu ID. Tasmu bagus
sekali." "Terima kasih."
"Ini tasmu yang paling bagus, bukan?"
"Ya." Memang benar, Starling telah menabung untuk membeli tas casual berpotongan
klasik tersebut, yang sekaligus merupakan miliknya yang paling mahal.
"Tas itu jauh lebih bagus daripada sepatumu."
"Mudah-mudahan sepatuku akan menyusul."
"Aku tidak meragukannya."
"Anda sendiri yang membuat gambar-gambar yang ditempel di dinding itu, Dokter?"
"Kau pikir aku memakai ahli interior?"
"Gambar di atas tempat cuci tangan, itu kota di Eropa?"
"Itu Florence. Aku menggambar Palazzo Vecchio dan Duomo, dilihat dari Belvedere."
Anda menggambarnya di luar kepala, dengan segala detailnya?"
"Ingatan, Officer Starling, merupakan pengganti
pemandangan bagiku."
"Yang satu lagi adegan penyaliban? Salib di tengah masih kosong."
"Itu Golgotha seusai penurunan Yesus dari salib. Krayon dan Magic Marker di atas
kertas roti. Inilah imbalan yang diterima si pencuri yang dijanjikan surga, ketika Yesus
dibawa pergi."
"Apa itu?"
"Kedua kakinya dipatahkan, sama seperti rekannya yang mencemooh Yesus. Kau
benar-benar buta mengenai Injil Yohannes, ya? Kalau begitu, ada baiknya kau mempelajari
karya Duccio—dia melukiskan adegan penyaliban secara akurat. Bagaimana kabar Will
Graham? Seperti apa dia sekarang?"
"Saya tidak kenal Will Graham."
"Kau tahu siapa dia. Anak emas Jack Crawford. Sebelum kau. Bagaimana wajahnya
sekarang?"
"Aku belum pernah bertemu dengannya."
"Ini namanya 'membuka luka-luka lama,' Officer Starling. Kau tidak keberatan

ben99 ebooks collections 10


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

bukan?"
Keheningan seakan berdenyut-denyut, dan Starling memecahkannya.
"Aku justru berharap kesempatan ini dapat kita gunakan untuk menyembuhkan luka-
luka lama. Aku membawa..."
"Tunggu. Ini bodoh dan salah. Jangan sekali-sekali kaugunakan siasat seperti ini untuk
mengalihkan pembicaraan. Jika siasatmu terbaca, subjekmu akan menutup diri dan suasana
menjadi rusak. Padahal justru suasanalah yang kauandalkan. Pendekatanmu tadi sudah
cukup baik. Kau bersikap sopan dan menghargai sikap yang sama dariku. Kau sudah dapat
mengembangkan rasa percaya dengan berterus terang mengenai ucapan Miggs, biarpun kau
merasa rikuh. Tapi kemudian kau menggunakan siasat yang begitu mudah terbaca untuk
masuk ke kuesionermu. Ini takkan berhasil."
"Dr. Lecter, Anda pakar psikiatri klinis yang berpengalaman. Anda pikir aku begitu
bodoh sehingga berusaha mengecoh Anda dengan mengandalkan suasana? Yang benar
saja. Aku minta Anda menjawab kuesioner ini. Anda bersedia atau tidak, itu terserah Anda.
Tapi apa ruginya Anda mempelajarinya dulu?"
"Officer Starling, kau sempat membaca laporan-laporan yang dikeluarkan seksi Ilmu
Perilaku belakangan ini?"
"Ya."
"Begitu juga aku. Pihak FBI menolak mengirimkan Law Enforcement Bulletin, tapi
aku memperolehnya dari pedagang buku bekas dan aku juga menerima News dari John Jay,
serta jurnal-jurnal psikiatri. Para pelaku pembunuhan berantai dibagi menjadi dua ke-
lompok—terorganisasi dan tidak terorganisasi. Bagaimana pendapatmu?"
"Ini sangat... mendasar, tampaknya mereka..."
"Terlalu disederhanakan. Istilah itu lebih tepat. Sebagian besar psikologi bersifat
kekanak-kanakan, Officer Starling, dan psikologi seperti yang diterapkan di seksi Ilmu
Perilaku kira-kira setingkat dengan frenologi. Bidang psikologi memang kekurangan bibit
unggul. Datangilah fakultas psikologi di perguruan hnggi mana pun dan amatilah para
mahasiswa dan staf pengajar: semuanya penggemar radio amatir, atau orang-orang dengan
gangguan kepribadian lain. Yang pasti, bukan otak-otak paling cemerlang di kampus.
Terorganisasi dan tidak terorganisasi—betul-betul dangkal.-"
"Bagaimana Anda akan mengubah klasifikasi tersebut?"
"Aku tidak akan mengubahnya."
"Omong-omong soal laporan, aku membaca ulasan Anda mengenai adiksi pembedahan
dan ekspresi wajah sisi kiri, sisi kanan."
"Ya, ulasan-ulasan itu sangat bermutu," ujar Dr. Lecter.
"Aku sependapat, begitu juga Jack Crawford. Dia yang memperlihatkan ulasan-ulasan
tersebut padaku. Itu salah satu sebabnya dia sangat mengharapkan bantuan Anda.”
"Crawford? Rupanya dia sangat sibuk kalau dia sampai merekrut tenaga pembantu dari
kalangan siswa."
"Memang, dan dia ingin..."
"Sibuk dengan Buffalo Bill."
"Kukira begitu."
"Bukan. Bukan 'kukira begitu.' Officer Starling, kau tahu persis dia sibuk dengan
Buffalo Bill. Aku sudah menyangka Jack Crawford mengutusmu untuk menanyai aku
tentang itu."
"Bukan."
"Kalau begitu, kau tidak menangani kasus tersebut." "Aku datang kemari karena kami
memerlukan..." "Apa saja yang kau ketahui tentang Buffalo Bill?" "Tak ada yang tahu
banyak." "Apakah semuanya dimuat di koran?" "Kurasa ya. Dr. Lecter, aku belum melihat
informasi rahasia mengenai kasus itu. Tugasku adalah..."
"Berapa banyak wanita yang telah dipakai Buffalo Bill?"
"Sudah lima korban yang ditemukan polisi." "Semuanya dikuliti?" "Dikuliti sebagian,
ya."
"Pihak pers belum pernah memberi penjelasan mengenai namanya. Kau tahu kenapa
dia disebut Buffalo Bill?"
"Ya."
"Katakanlah."
"Aku akan mengatakannya kalau Anda bersedia mempelajari kuesioner ini."
"Aku akan mempelajarinya, tapi itu saja. Nah, kenapa?"
"Mula-mula julukan itu sekadar lelucon di seksi pembunuhan Kansas City." "Ya...?"
"Dia dijuluki Buffalo Bill karena dia menguliti hasil buruannya."
Starling menyadari bahwa ia tak lagi merasa takut; sebagai gantinya, ia merasa
murahan. Kalau diminta memilih, ia cenderung memilih yang pertama.
"Coba berikan kuesionermu."
Starling menyerahkan bagian yang berwarna biru lewat baki. Lecter membalik-balik
halaman. Setelah dibaca sekilas, kuesioner itu dikembalikannya ke baki.
"Oh, Officer Starling, kaupikir kau bisa membedahku dengan alat tumpul ini?"
"Tidak. Kupikir Anda bisa memberikan komentar dan memajukan studi ini."
"Dan kenapa aku harus berbuat demikian?"
"Karena rasa ingin tahu."
"Mengenai apa?"
"Mengenai alasan Anda berada di sini. Mengenai apa yang terjadi dengan Anda."
"Aku tidak mengalami kejadian apa pun, Officer Starling. Akulah yang terjadi. Kau
tidak bisa memilah-milahku menjadi sekumpulan pengaruh. Kau telah menyingkirkan
penilaian baik dan jahat demi ilmu perilaku. Tak seorang pun kau anggap salah. Tataplah
aku, Officer Starling. Sanggupkah kau berkata bahwa aku jahat? Betulkah aku jahat,
Officer Starling?"

ben99 ebooks collections 11


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Kukira Anda telah memperlihatkan perilaku destruktif. Bagiku itu sama saja."
"Jahat sekadar destruktif? Berarti badai pun jahat, kalau semuanya sesederhana itu.
Lalu ada kebakaran. dan hujan es. Perusahaan asuransi menyebut itu semua 'Kehendak
Tuhan.'"
"Disengaja..." ,
"Aku mengumpulkan berita tentang gereja yang ambruk, sebagai hiburan. Kau tahu
kejadian di Sisilia baru-baru ini? Luar biasa! Dinding depannya menimpa enam puluh lima
nenek yang sedang mengikuti misa khusus. Jahatkah itu? Kalau ya, siapa yang bertanggung
jawab? Kalau Dia ada di atas sana, Dia pasti senang sekali, Officer Starling. Tifus dan
angsa— semuanya berasal dari tempat yang sama."
"Aku tidak sanggup menganalisis Anda, Dokter, tapi aku tahu siapa yang bisa."
Lecter mengangkat sebelah tangan untuk menyuruhnya diam. Tangannya bagus,
Starling menyadari, dengan dua jari tengah yang sama-sama lengkap. Ini bentuk
Polydactyly yang paling jarang.
Ketika Lecter kembali angkat bicara, nada suaranya
lembut dan ramah. "Kau ingin memilah-milah kepribadianku, Officer Starling.
Sungguh ambisius. Hmm, kau tahu kesanku mengenai dirimu, dengan tasmu yang bagus
dan sepatumu yang murahan? Kau kelihatan seperti orang udik. Orang udik dengan
semangat menggebu-gebu tapi punya sedikit selera. Matamu seperti permata tiruan—
berkilau-kilau di permukaan saat kau berusaha mengorek jawaban. Dan kau begitu cerdas,
bukan? Kau tidak mau disamakan dengan ibumu. Tulang-tulangmu memang berkembang
baik berkat gizi yang memadai, tapi kau tak bisa menyangkal bahwa kau keturunan buruh
tambang, Officer Starling. Kau berasal dari West Virginia atau daerah Okie, Officer? Kau
sempat terombang-ambing ketika harus memilih antara perguruan tinggi dan kesempatan
yang ditawarkan oleh Korps Wanita Angkatan Darat. Betul, tidak? Aku akan
memberitahukan sesuatu tentang dirimu, Siswa Starling. Di kamarmu ada untaian manik-
manik berwarna emas, dan kau selalu risih setiap kali menyadari betapa norak manik-
manik itu sekarang, bukan begitu? Betapa repotnya kau mengumpulkan semuanya satu per
satu dulu. Setiap kali mengucapkan terima kasih, lalu menusuk dan mengikatnya dengan
susah payah, sementara kau sampai berkeringat karena berkonsentrasi penuh. Repot. Repot.
Menjemu-u-u-u-k-a-an. Kecerdasan bisa merusak banyak hal, bukan? Dan selera baik tak
selamanya merupakan berkah. Kalau kau renungkan percakapan ini, kau akan teringat
wajah pacarmu yang sakit hati namun tak berdaya ketika kau mencampakkannya.
' 'Kalau untaian manik-manik itu berkesan kampungan sekarang, apa lagi yang akan
menyusul? Kau suka bertanya-tanya, bukan, sebelum tidur?" ujar Dr. Lecter dengan nada
ramah sekali.
Starling menoleh ke arah Lecter. "Anda pandai mengamati, Dokter. Aku takkan
menyangkal apa pun yang Anda katakan. Tapi inilah pertanyaan yang akan kuajukan, entah
Anda suka atau tidak: Sanggupkah Anda menggunakan persepsi yang tajam itu terhadap
diri Anda sendiri? Ini sulit. Aku menyadarinya dalam beberapa menit terakhir. Bagaimana?
Amatilah diri Anda dan catatlah secara jujur segala sesuatu yang Anda lihat. Rasanya tak
ada subjek yang lebih pantas atau lebih kompleks. Atau barangkali Anda takut menghadapi
kenyataan?"
"Kau cukup ulet, ya, Officer Starling?" "Dalam batas-batas tertentu, ya." "Dan kau
tidak sudi memandang dirimu sebagai orang kebanyakan. Wah, betapa menyakitkan itu!
Dengar baik-baik, Officer Starling, kau bukan orang kebanyakan. Kau hanya takut
dianggap begitu. Berapa ukuran manik-manikmu, tujuh milimeter?" "Tujuh."
"Aku punya saran untukmu. Belilah beberapa batu mata kucing yang sudah diberi
lubang, lalu pasangkan selang-seling dengan manik-manik emasmu. Kau bisa membuat
kombinasi dua-tiga atau satu-dua, terserah mana yang paling bagus menurutmu. Mata
kucing itu akan mencerminkan warna mata dan pantulan cahaya dari rambutmu. Pernahkah
ada yang mengirim kartu Valentine padamu?" "Yap."
"Musim semi sudah tiba. Hari Valentine tinggal satu minggu lagi, ehm, bagaimana,
kau akan mendapatkan kiriman kartu?" "Siapa tahu."
"Ya, siapa tahu. Aku sendiri memikirkan Hari Valentine. Perayaan itu mengingatkanku
pada sesuatu yang lucu. Hmm, aku bisa membuatmu gembira sekali pada Hari Valentine,
Clarice Starling."
"Bagaimana caranya, Dokter Lecter?"
"Dengan mengirimkan Valentine yang bagus. Tapi aku akan memikirkannya lagi.
Sekarang aku mau istirahat dulu. Sampai jumpa, Officer Starling."
"Dan kuesionerku?"
"Aku pernah didatangi petugas sensus yang ingin mengumpulkan dataku. Hatinya
kumakan dengan kacang fava dan amarone besar. Kembalilah ke sekolah, Starling."
Hannibal Lecter, yang sampai detik terakhir bersikap sopan, tidak mau membelakangi
Starling. Ia mundur dari jaring nilon, lalu kembali berbaring di tempat tidurnya, tanpa
menghiraukan wanita itu.
Starling mendadak merasa lemas, seakan-akan baru menyumbangkan darah. Dengan
perlahan ia mengembalikan semua kertas ke tas kerjanya, kuatir kakinya tidak kuat jika ia
segera bangkit. Starling terpaksa menghadapi
kegagalan yang begitu dibencinya. Ia melipat kursi dan menyandarkannya pada pintu
lemari. Ia hams melewati Miggs lagi. Barney kelihatan sedang membaca di ujung koridor.
Starling bisa saja memanggilnya dan minta dikawal. Tapi persetan dengan Miggs. Orang
itu tak berbeda dari pekerja-pekerja bangunan atau tukang-tukang antar barang yang setiap
hari ditemuinya di kota. Starling mulai menyusuri koridor. Suara Miggs terdengar mendesis
di sampingnya dekat sekali. "Kugigit pergelanganku supaya aku bisl matiiiii—kaulihat
darahnya menetes?"
Starling sebenarnya bisa memanggil Barney, tapi karena kaget ia menoleh ke dalam

ben99 ebooks collections 12


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

sel, melihat Miggs menjentikkan jari, dan merasakan cairan hangat menerpa pipi dan
bahunya sebelum ia sempat memalingkan wajah.
Sambil melangkah, ia menyadari bahwa cairan itu sperma, bukan darah, dan bahwa
Lecter memanggil. Suara Dr. Lecter terdengar di belakangnya, lebih parau dibandingkan
tadi.
"Officer Starling."
Lecter berdiri dan memanggil Starling yang terus berjalan. Starling menggeledah
tasnya untuk mencari tisu.
Di belakangnya, "Officer Starling."
Starling berupaya untuk tidak kehilangan kendali diri. Dengan langkah mantap ia
menuju pintu.
"Officer Starling." Starling mendengar nada baru dalam suara Lecter.
Ia berhenti. Apa sebenarnya yang kucari sampai bisa begini? Miggs membisikkan
sesuatu, tapi Starling tidak memperhatikannya.
Ia kembali berdiri di depan sel Lecter dan melihat sang dokter dalam keadaan geram,
suatu pemandangan yang jarang terjadi. Starling tahu bahwa Lecter bisa mencium bau
cairan yang melekat pada dirinya. Lecter bisa mencium apa saja.
"Aku prihatin kau harus mengalami kejadian ini. Tak ada yang lebih kubenci daripada
sikap tidak sopan."
Pembunuhan-pembunuhan yang telah dilakukan Lecter seolah-olah telah
membersihkannya dari dosa-dosa yang lebih ringan. Atau, Starling berkata dalam hati,
kejadian itu membuat Lecter bergairah. Starling tak bisa memastikan mana yang benar.
Apa pun sebabnya, manfaatkan kesempatan ini! Ia mengangkat tasnya. "Tolong
pelajari ini untukku."
Mungkin sudah terlambat; Lecter telah tenang kembali.
"Tidak. Tapi aku juga tidak mau kedatanganmu sia-sia. Aku akan memberikan sesuatu
yang lain. Sesuatu yang paling kausukai, Clarice Starling."
"Apa itu, Dr. Lecter?"
"Kemajuan, tentu saja. Semuanya serba kebetulan— aku senang sekali. Berkat Hari
Valentine, aku jadi ingat." Lecter mengembangkan senyum yang sukar ditebak maknanya.
Suaranya begitu pelan, sehingga nyaris tak terdengar. "Carilah Valentine-mu di dalam
mobil Raspail. Kau dengar? Carilah Valentine-mu di dalam mobil Raspail. Dan. sekarang
sebaiknya kau segera pergi; kurasa Miggs belum siap beraksi lagi, biarpun dia memang
gila, bukan begitu?"

Bab Empat
Clarice starling merasa bergairah sekaligus hampa. Di antara hal-hal yang dikatakan
Lecter mengenai dirinya ada yang benar, ada pula yang hanya menyerempet kebenaran.
Sepintas lalu ia sempat merasakan hati nuraninya mengamuk bagaikan beruang yang
mengobrak-abrik tenda.
Ia geram karena ucapan Lecter mengenai ibunya, dan ia perlu menyingkirkan
kemarahan itu. Urusan ini urusan pekerjaan.
Starling duduk di dalam mobil Pinto tuanya di seberang rumah sakit dan menarik
napas dalam-dalam. Embun di kaca mobil memberinya sedikit privasi dari para pejalan
kaki di trotoar.
Raspail. Ia ingat nama itu. Raspail bekas pasien Lecter dan juga salah satu korbannya.
Sebelum menemui Lecter, Starling hanya diberi waktu satu malam untuk mempelajari
informasi latar belakang orang itu. Berkasnya tebal sekali, dan Raspail hanya salah satu
dari sekian banyak korban. Starling perlu memljaca keterangan-keterangan detail.
Starling sebenarnya ingin segera mulai bekerja, namun ia sadar tak ada perlunya
tergesa-gesa. Kasus
Raspail ditutup bertahun-tahun lalu. Tak ada yang terancam bahaya. Ia punya waktu.
Sebaiknya ia mencari informasi dan masukan selengkap mungkin sebelum melangkah lebih
jauh.
Crawford mungkin akan menugaskan orang lain untuk penanganan selanjutnya, namun
risiko itu harus dihadapi Starling.
Starling mencoba menghubungi Crawford dari telepon umum, tapi diberitahu bahwa
atasannya itu sedang memperjuangkan rencana anggaran Departemen Kehakiman di depan
Subkomite Anggaran dari House of Representatives.
Ia bisa saja menanyakan detail-detail kasus Raspail kepada divisi pembunuhan
Baltimore Police Department, tapi pembunuhan bukan tindak pidana federal dan ia tahu
bahwa penyelidikan selanjutnya akan segera diambil alih oleh pihak polisi.
Ia menyalakan mesin mobil dan kembali ke Quantico, ke kantor seksi Ilmu Perilaku
dengan tirai-tirai cokelat bermotif kotak-kotak dan lemari-lemari arsip berisi neraka. Di situ
ia duduk sampai sore, setelah sekretaris terakhir pulang, mempelajari arsip mikrofilm
mengenai Lecter.
Raspail, Benjamin Rene, pria, kulit putih, 46, pemain flute utama untuk Baltimore
Philharmonic Orchestra. Ia pasien di praktek psikiatri Dr. Hannibal Lecter.
Tanggal 22 Maret 1975 ia tidak muncul untuk penampilan di Baltimore. Tanggal 25
Maret mayatnya ditemukan dalam posisi duduk di bangku sebuah gereja kecil di pedesaan
dekat Falls Church, Virginia, hanya mengenakan dasi putih dan jas tuksedo. Dalam autopsi
diketahui bahwa jantung Raspail dicabut dan ia juga kehilangan kelenjar thymus dan
pankreas.
Clarice Starling, yang sejak kecil tahu betul mengenai pengolahan daging, mengenali
organ-organ yang hilang itu sebagai kelenjar-kelenjar perut yang bisa dimakan.
Baltimore Homicide berpendapat bagian-bagian tubuh tersebut muncul dalam menu
ben99 ebooks collections 13
The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

makan malam yang diadakan Lecter bagi pimpinan dan konduktor Baltimore Philharmonic,
pada malam setelah Raspail lenyap.
Dr. Hannibal Lecter mengaku tidak tahu-menahu mengenai urusan itu. Pimpinan dan
konduktor Philharmonic menyatakan mereka tidak ingat hidangan yang disajikan malam
itu, biarpun Lecter dikenal selalu menyajikan hidangan istimewa dan kerap menyum-
bangkan artikel kepada majalah-majalah tata boga.
Pimpinan Philharmonic kemudian harus menjalani perawatan di sebuah sanatorium
saraf holistik di Basel, karena menderita anoreksia dan mengalami masalah-masalah yang
berkaitan dengan ketergantungan alkohol.
Menurut kepolisian Baltimore, Raspail orang kesembilan yang diketahui sebagai
korban Lecter.
Raspail meninggal tanpa meninggalkan surat wasiat, dan sanak saudaranya saling
gugat untuk memperebutkan warisan. Pihak pers meliput perkara-perkara hukum itu selama
beberapa bulan, sampai perhatian masyarakat akhirnya mereda.
Sanak saudara Raspail juga bergabung dengan keluarga-keluarga korban Lecter yang
lain, dan berhasil memperjuangkan tuntutan agar semua berkas dan rekaman psikiater itu
dimusnahkan. Mereka beralasan Lecter mungkin mengungkapkan rahasia-rahasia yang
memalukan, dan berkas-berkas itu merupakan dokumentasi.
Pengadilan menetapkan pengacara Raspail, Everett Yow, sebagai wali atas tanah dan
harta bendanya.
Starling harus mengajukan permohonan kepada pengacara itu untuk memeriksa mobil
Raspail. Pengacara itu mungkin ingin mengamankan nama baik Raspail dan, jika telah
mengetahui rencana Starling, mungkin akan memusnahkan barang bukti untuk melindungi
almarhum kliennya.
Starling lebih suka bergerak sendiri, tapi ia memerlukan nasihat dan otorisasi. Ia
seorang diri di kantor Ilmu Perilaku dan bebas melakukan apa saja. Nomor telepon rumah
Jack Crawford ditemukannya di dalam Rolodex.
Ia tidak mendengar telepon berdering, tapi tiba-tiba suara Crawford muncul, pelan dan
tenang.
"Jack Crawford."
"Ini Clarice Starling. Kuharap aku tidak mengganggu makan malam Anda." Tak ada
tanggapan. "Lecter menceritakan sesuatu mengenai kasus Raspail tadi. Aku berada di
kantor untuk menyelidikinya lebih lanjut. Lecter memberitahukan ada sesuatu di dalam
mobil Raspail. Aku harus menghubungi pengacara Raspail dulu, dan karena besok Sabtu—
tidak ada pelajaran—aku ingin tanya apakah..."
"Starling, kauingat instruksiku soal informasi mengenai Lecter?" Suara Crawford
begitu datar.
"Aku harus menyerahkan laporan pukul 09.00 hari Minggu."
"Lakukan itu, Starling."
"Baik, Sir."
Nada monoton yang mendadak terdengar seakan-akan menusuk telinganya. Starling
langsung meringis.
"Keparat!" ia mengumpat. "Dasar bajingan brengsek. Coba kalau kau yang diciprati
Miggs. Apa komentarmu kalau begitu?"

Starling, yang sudah mandi dan memakai baju tidur FBI Academy, sedang menyusun
draft kedua laporannya, ketika teman sekamarnya di asrama, Ardelia Mapp, pulang dari
perpustakaan. Bagi Starling, wajah Mapp yang lebar, cokelat, dan penuh kebijakan ter-
masuk pemandangan paling menyenangkan yang dilihatnya sepanjang hari itu.
Ardelia Mapp melihat keletihan yang tercermin pada wajah rekannya.
"Apa saja yang kaukerjakan hari ini?" Mapp selalu bertanya dengan santai, seakan-
akan jawaban yang diberikan sama sekali tidak penting.
"Mengorek keterangan dari orang sinting sambil berlepotan air mani."
"Coba kalau aku punya waktu untuk main-main— aku tak habis pikir bagaimana kau
bisa mengaturnya, sambil sekolah lagi."
Sesaat kemudian, Starling baru sadar bahwa ia tergelak-gelak. Ardelia Mapp tertawa
sekadarnya saja. Lelucon itu tak seberapa lucu, namun Starling tak bisa mengendalikan
diri. Air matanya sampai berlinang. Tawanya seolah-olah terdengar dari tempat yang jauh
sekali, dan dalam pandangannya Mapp mendadak tampak tua. Senyum rekannya itu
menyiratkan keprihatinan.

Bab Lima

ben99 ebooks collections 14


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Jack Crawford, lima puluh tiga tahun, duduk di kursi berlengan di kamar tidurnya. Ia sedang
membaca. Di hadapannya ada dua ranjang, keduanya diganjal" balok sampai setinggi tempat tidur rumah
sakit. Yang satu ranjangnya sendiri; satu lagi ditempati istrinya, Bella. Crawford mendengarnya bernapas
lewat mulut. Sudah dua hari Belia tidak bergerak maupun berbicara dengan suaminya.
Napasnya terputus sejenak. Crawford mengalihkan pandang dari bukunya dan melirik tanpa menegakkan
kepala. Ia meletakkan bukunya. Belia kembali menarik napas. Crawford bangkit dan membelai istrinya, lalu
mengukur tekanan darah dan denyut nadi. Dalam beberapa bulan terakhir ia sudah ahli menggunakan alat
pengukur tekanan darah.
Crawford enggan beranjak dari sisi istrinya pada malam hari; karena itu, kedua tempat tidur dipasang
berdampingan. Ranjangnya sendiri juga diganjal balok, agar ia mudah menjangkau istrinya dalam gelap.
Selain tempat tidur yang tinggi dan pipa-pipa yang diperlukan untuk membuat Belia nyaman, tak ada
kesan bahwa kamar itu kamar orang sakit. Crawford memang ingin mencegah kesan tersebut. Memang ada
bunga, tapi tidak terlalu banyak. Pil-pil tidak tampak sama sekali. Crawford telah mengosongkan lemari
seprai di koridor, mengisinya dengan obat-obatan dan berbagai peralatan sebelum Belia dibawa pulang dari
rumah sakit. (Itu kedua kalinya ia menggendong istrinya melewati ambang pintu depan, dan ia nyaris tak
sanggup menahan air mata kalau mengingatnya.)
Jendela-jendela dibiarkan terbuka karena adanya gelombang udara panas dari selatan, tapi udara Vir-
ginia terasa segar dan nyaman. Katak-katak kecil bersahut-sahutan dalam kegelapan malam.
Kamar itu bersih sekali, tapi bulu-bulu karpet sudah mulai menggumpal di sana-sini—Crawford tidak mau
menggunakan alat penyedot debu yang bising di dalam kamar. Sebagai gantinya, ia memakai alat pembersih
karpet manual, meskipun hasilnya tidak terlalu baik. Ia melangkah ke lemari dan menyalakan lampu. Dua
buah clipboard tergantung di sebelah dalam. Yang satu berisi catatan tekanan denyut nadi dan tekanan
darah Belia. Catatan Crawford dan catatan juru rawat yang bertugas pada siang hari berselang-seling
dalam kolom panjang. Clipboard yang satu lagi berisi catatan juru rawat mengenai pemberian obat.
Crawford sanggup memberikan obat apa pun yang mungkin dibutuhkan Belia. Sebelum membawa istrinya
pulang, ia sempat berlatih memberi injeksi di bawah bimbingan juru rawat. Mula-mula ia menyuntik buah
limau, lalu pahanya sendiri.
Crawford menatap istrinya selama hampir tiga menit. Selendang sutra yang indah membungkus rambut
Belia bagaikan sorban. Belia sendiri yang memintanya, selama ia masih bisa meminta. Kini Crawford
enggan mengubah kebiasaan itu. Ia mengoleskan gliserin ke bibir Belia dan mengangkat kotoran dari sudut
matanya. Belia tidak bergerak. Belum waktunya membalikkan badannya.
Crawford memandang ke cermin. Dalam hati ia berkata bahwa ia tidak sakit, bahwa ia tidak perlu ikut
dikubur, bahwa ia baik-baik saja. Tiba-tiba ia sadar, dan malu sendiri.
Ia kembali ke kursi, namun tak bisa mengingat apa yang sedang ia baca tadi. Ia meraba buku-buku di
sampingnya dan meraih buku yang masih hangat.

Bab Enam

Senin pagi, Clarice Starling menemukan pesan dari Crawford di kotak suratnya:
CS:

Lanjutkan penyelidikan mengenai mobil Raspail. Gunakan waktu luangmu. Kantor akan menyediakan nomor
kartu kredit untuk telepon interlokal. Hubungi aku sebelum mengontak pengacara atau pergi ke mana pun. Laporan
ditunggu Rabu pukul 16.00.

Direktur sudah menerima laporan mengenai Lecter dengan tanda tanganmu. Selamat.

JC
SAIC/Seksi 8

Starling gembira. Ia tahu kasus lama itu diberikan Crawford kepadanya sebagai latihan. Tapi ia pun sadar bahwa
Crawford ingin membimbingnya. Crawford ingin anak didiknya sukses. Dan bagi Starling, ini jauh lebih berarti
dibandingkan sopan sanfun. Raspail tewas delapan tahun lalu. Barang bukti apa yang dapat bertahan demikian lama di
dalam mobil?
Ia tahu dari pengalaman bahwa berhubung nilai mobil merosot begitu cepat, pengadilan banding mengizinkan
keluarga korban menjual mobil sebelum ada surat pengesahan hakim, dan uang hasil penjualan dimasukkan ke warisan
yang dikuasai pengacara yang telah ditunjuk. Kemungkinan kecil mobil Raspail masih ditahan setelah delapan tahun.
Selain itu, Starling juga menghadapi masalah waktu. Ia punya waktu luang satu jam lima belas menit per hari untuk
memakai telepon selama jam kerja, dan itu pun sudah termasuk istirahat makan siang. Sedangkan Rabu sore laporannya
sudah harus diserahkan kepada Crawford. Berarti secara keseluruhan ia punya tiga jam empat puluh lima menit untuk
melacak mobil itu, jika ia menggunakan waktu belajar dan mengejar ketinggalannya pada malam hari.
Ia memperoleh nilai baik dalam mata pelajaran Prosedur Penyelidikan, dan ia dapat mengajukan pertanyaan-
pertanyaan bersifat umum kepada para instruktur.
Pada waktu makan siang hari Senin, Starling menelepon Baltimore County Courthouse. Petugas yang menerima
telepon menyuruhnya menunggu. Starling sampai tiga kali menelepon, namun sia-sia. Baru pada jam belajar ia akhirnya
berhasil menghubungi petugas pengadilan yang mau membantu. Orang itu mencarikan berkas pengadilan menyangkut
warisan Raspail.
Starling memperoleh konfirmasi bahwa pengadilan mengizinkan penjualan mobil Raspail. Petugas yang membantunya
juga menyebutkan model dan nomor seri kendaraan tersebut, serta nama pemilik berikutnya berdasarkan akta jual-beli.
Pada hari Selasa, setengah jam makan siang Starling terbuang percuma untuk melacak nama itu. Sisa waktunya habis
untuk mengetahui bahwa Maryland Department of Motor Vehicles tidak menggunakan nomor seri untuk melacak satu
kendaraan, melainkan memakai nomor registrasi atau nomor pening terakhir.
Pada Selasa sore, para siswa' yang sedang berlatih di lapangan tembak terpaksa masuk ke dalam ruangan karena
hujan deras yang turun. Saat berkumpul di salah satu ruang konferensi yang lembap akibat keringat dan pakaian basah,

ben99 ebooks collections 15


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

John Brigham, mantan marinir yang kini menjadi instruktur menembak, memutuskan untuk menguji kekuatan tangan
Starling di depan kelas dengan melihat berapa kali Starling sanggup menarik picu Model 19 Smith & Wesson dalam
waktu enam puluh detik.
Starling mencapai angka tujuh puluh empat dengan tangan kiri, menyingkirkan sehelai rambut yang mengganggu
pandangannya, lalu mulai lagi dengan tangan kanan sementara siswa lain menghitung. Ia berdiri dalam posisi Weaver,
dengan kuda-kuda yang kokoh. Matanya terfokus pada alat bantu bidik sebelah depan, sedangkan alat bantu bidik
sebelah belakang dan sasaran sama-sama kabur. Setelah tiga puluh detik, ia membiarkan pikirannya berkelana untuk
mengalihkan perhatian dari rasa nyeri di lengannya. Ia menatap sasaran di dinding, yang ternyata sertifikat pengharga-
an dari Interstate Commerce Enforcement Division untuk instrukturnya, John Brigham.
Starling berbisik kepada Brigham sementara siswa yang satu lagi menghitung setiap bunyi klik yang terdengar.
"Bagaimana caranya melacak mobil..."
".. .enanilimaenamenamenamtujuhenamdelapan-
enam..."
"kalau yang kita ketahui hanya nomor seri..." "...tujuhdelapantujuhsembilandelapanpuluhdelapan-
satu..."
"...dan jenis mobil? Nomor pening terakhir tidak ada."
"...delapansembilansembilanpuluh. Waktunya habis."
"Oke," ujar si instruktur. "Kuminta kalian memperhatikan ini. Kekuatan tangan adalah faktor penting untuk menembak
tepat saat bertugas. Di antara kalian pasti ada yang kuatir mendapat giliran berikut. Ke-kuatiran kalian memang
beralasan. Starling jauh di atas rata-rata dengan kedua tangannya. Dan itu karena dia berlatih. Dia berlatih dengan
meremas-remas alat kecil yang tersedia untuk kalian semua. Sebagian besar dari kalian hanya pandai meremas"—karena
enggan menggunakan terminologi marinir yang telah mendarah daging, Brigham mencari-cari kata pengganti yang lebih
sopan—"tangan," ia akhirnya berkata. "Jangan besar kepala, Starling. Jangan pikir kau sudah hebat. Sebelum lulus, kau
harus bisa mencapai angka di atas sembilan puluh dengan tangan kirimu. Ayo, cari pasangan dan mulai berlatih—
cepat."
"Kau jangan, Starling. Kemarilah. Apa lagi yang kauketahui tentang mobil itu?"
Cuma nomor seri dan model. Dan nama satu bekas pemilik, lima tahun lalu."
"Oke, begini. Kebanyakan orang membuat kesalahan dengan meneliti catatan registrasi untuk melompat dari satu
pemilik ke pemilik berikut. Ini takkan berhasil kalau mobilnya pernah dimutasi ke negara bagian lain. Polisi pun kadang-
kadang melakukan kesalahan ini. Padahal di komputer hanya ada nomor registrasi dan nomor pening. Kita semua sudah
terbiasa memakai nomor pening atau nomor registrasi, bukan nomor seri kendaraan."
Suara klik revolver-revolver latih bergagang biru terdengar nyaring di sekeliling mereka, dan Brigham terpaksa
bicara lebih keras.
"Ada satu cara mudah. R.L. Polk and Company, yang menerbitkan buku telepon untuk berbagai kota— mereka juga
mengeluarkan daftar registrasi mobil berdasarkan model dan nomor seri secara urut. Itu satu-satunya tempat. Mereka
banyak menerima iklan dari pedagang-pedagang mobil. Kenapa kau terpikir untuk bertanya padaku?"
"Anda pernah'bertugas di ICC, jadi mestinya Anda sering melacak mobil. Thanks."
"Mau balas jasa? Tingkatkan kekuatan tangan kirimu—setelah itu kita impas."
Ketika masuk ke kotak telepon umum pada jam belajar, kedua tangan Starling gemetaran begitu hebat, sehingga
catatan yang dibuatnya nyaris tak terbaca. Mobil Raspail sebuah Ford. Di dekat University of Virginia ada dealer Ford
yang sudah bertahun-tahun dengan penuh kesabaran berupaya memperpanjang nyawa Ford Pinto milik Starling. Kini,
dengan kesabaran yang sama, dealer itu membolak-balik daftar terbitan Polk. Ketika kembali mengangkat gagang, ia
melaporkan nama dan alamat orang yang terakhir mendaftarkan mobil Benjamin Raspail.
Clarice hebat sekali, Clarice pegang kendali. Jangan bercanda saja. Telepon orang itu di rumahnya di, tunggu dulu,
Number Nine Ditch, Arkansas. Jack Crawford takkan mengizinkan aku pergi ke sana, tapi paling tidak harus dapat
konfirmasi di mana mobil itu sekarang.
Tak ada yang menyahut, dan sekali lagi tak ada yang menyahut. Nada tunggunya berkesan janggal. Starling mencoba
menelepon pada malam hari, tapi tetap sia-sia.
Pada jam makan siang hari Rabu, seorang pria menerima telepon Starling:
"WPOQ Plays the Oldies."
"Halo, saya menelepon untuk..."
"Saya tidak berminat beli panel alumunium dan saya tidak mau tinggal di Florida, apa lagi yang mau Anda
tawarkan?"
Starling mengenali logat pedesaan Arkansas dalam ucapan pria itu. Ia pun menguasai logat itu, dan waktunya tidak
banyak.
"Yessir, saya akan sangat berterima kasih jika Anda bisa membantu saya. Saya ingin bicara dengan Mr. Lomax
Bardwell? Ini Clarice Starling."
'Telepon dari wanita yang namanya Starling," pria itu berseru kepada seseorang di rumahnya. "Ada perlu apa dengan
Bardwell?"
'Ini kantor perwakilan wilayah Mid-South dari divisi recall Ford. Mr. Bardwell berhak atas perawatan gratis untuk
LTD-nya?"
^aya Bardwell. Saya pikir Anda sales yang mau jualan lewat telepon. Saya tidak perlu perawatan gratis, saya perlu mobil
baru. Waktu itu saya daj istri saya pas lagi ke Little Rock, ke Southland Mai] di sana." "Yessir."
"Nah, pas kami mau pulang, mesinnya jebol. Olinya langsung bocor dan mengalir ke mana-mana, dan truk Orkin yang
ada gambar kumbang besar itu? Truknya melindas genangan oli dan langsung meluncur tak terkendali."
"Astaga."
"Kios untuk bikin pasfoto kilat diterjang sampai hancur berantakan. Orang yang ada di dalamnya keluar seperti orang
linglung. Saya buru-buru menahannya supaya tidak melangkah ke tengah jalan.'
"Ya ampun. Lalu bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Bagaimana dengan mobil Anda?"
"Saya telepon Buddy Sipper yang dagang besi tua. dan saya bilang dia boleh mengambilnya untuk lima puluh dolar,
asal diangkut sendiri. Saya rasa semua suku cadang yang masih bisa dipakai langsung dibongkarnya."
"Anda bisa memberitahukan nomor telepon orang itu, Mr. Bardwell?"
"Untuk apa Anda mau telepon Sipper? Kalau ada yang dapat uang dari mobil itu, seharusnya sayalah orangnya."
"Saya mengerti, Sir. Saya hanya mengerjakan tugas sampai jam lima, dan saya disuruh melacak mobil itu. Tolong
berikan nomor teleponnya."
"Buku telepon saya hilang. Sudah lama. Maklum saya sudah tua. Tapi Central pasti tahu nomornya. Katakan saja Sipper
Salvage."
'Terima kasih banyak, Mr. Bardwell."
Tempat penampungan besi tua yang kemudian dihubungi Starling mengkonfirmasikan bahwa mobil itu sudah dipreteli
dan dipres untuk didaur ulang. Petugas yang menerima teleponnya membacakan nomor seri kendaraan tersebut dari
buku catatan.
Brengsek, Starling mengumpat dalam hati. Jalan buntu. Hadiah Valentine macam apa ini?

ben99 ebooks collections 16


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Starling menempelkan kening ke pesawat telepon yang dingin. Ardelia Mapp mengetuk pintu kotak telepon dan
menyerahkan segelas jus jeruk.
"Terima kasih banyak," ujar Starling, masih dengan logat yang digunakannya tadi. "Aku perlu menelepon satu kali
lagi. Kalau masih sempat, kususul ke kafetaria nanti."
"Aduh, kau masih juga memakai logat udik itu?" sahut Mapp. "Padahal begitu banyak buku yang tersedia untuk
membantumu. Aku sekarang selalu bicara dengan bahasa baku. Kau akan dianggap bodoh kalau bicara seperti tadi."
Mapp menutup pintu kotak telepon.
Starling merasa perlu memperoleh informasi tambahan dari Lecter. Barangkali Crawford akan mengizinkannya
kembali ke rumah sakit jiwa jika ia sudah membuat janji lebih dulu. Starling memutar nomor Dr. Chilton, namun
teleponnya diterima oleh sekretarisnya.
Dr. Chilton sedang rapat dengan petugas visum dan asisten jaksa," ujar wanita tersebut. "Beliau sudah bicara
dengan atasan Anda. Tak ada yang perlu dibahas dengan Anda. Good-bye."

Bab Tujuh

" T EMANMU Miggs, diamati," ujar Crawford.


"Kau sudah menceritakan semuanya, Starling?" Ia menatap Starling dengan pandangan menyelidik yang tak kenal
ampun.
"Bagaimana dia meninggal?" Starling merasa hampa, dan ia harus mengatasinya.
"Menelan lidahnya sendiri, menjelang fajar. Chilton menduga atas saran Lecter. Penjaga yang bertugas malam
mendengar Lecter berbisik-bisik kepada Miggs. Lecter tahu banyak tentang dia. Lecter bicara sebentar dengan Miggs. tapi
si penjaga tidak mendengar apa yang dikatakannya. Miggs menangis sebentar, lalu terdiam. Kau sudah menceritakan
semuanya, Starling?"
"Sudah, Sir. Laporan dan memoku berisi seluruh percakapanku dengan Lecter, bahkan bisa dibilang kata demi kata."
"Chilton menelepon. Dia mengeluh tentangmu." Crawford menunggu sejenak, dan ia tampak senang karena Starling tidak
memberi tanggapan. "Kukatakan j padanya kau bertindak sesuai peraturan. Chilton berusaha mencegah penyelidikan hak-
hak sipil."
"Apakah akan diadakan penyelidikan?"
"Tentu, kalau keluarga Miggs menghendakinya. Civil Rights Division akan menangani sekitar delapan ribu kasus tahun
ini. Mereka dengan senang akan menambahkan Miggs pada daftar mereka." Crawford mengamati anak didiknya. "Kau
tidak apa-apa?"
"Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana."
"Jangan pikirkan kejadian ini. Lecter melakukannya untuk menghibur diri. Dia tahu dia tidak bisa ditindak, jadi kenapa
tidak? Paling-paling Chilton akan mengambil buku-buku dan WC-nya untuk beberapa waktu." Crawford merapatkan
tangan dan membandingkan kedua jempol. "Lecter bertanya tentang diriku, bukan?"
"Dia tanya apakah Anda sibuk. Kujawab ya."
"Hanya itu? Kau tidak menutup-nutupi sesuatu karena takut aku tidak suka?"
"Tidak. Semuanya ada dalam laporanku."
"Betul tidak ada lagi?"
"Aku membuat laporan apa adanya. Anda tidak menyangka aku bertukar gosip supaya dia mau bicara denganku,
bukan?"
"Tidak."
Aku tidak tahu apa-apa mengenai pribadi Anda, dan kalaupun tahu, aku takkan membicarakannya. Kalau Anda
meragukanku, sebaiknya masalah ini kita luruskan sekarang juga."
"Tidak perlu. Lanjutkan saja."
J Anda menduga ada sesuatu, atau..."
'Lanjutkan laporanmu, Starling."
"Petunjuk Lecter mengenai mobil Raspail ternyata Untu- Mobil itu dihancurkan empat bulan lalu di Number Nine Ditch,
Arkansas, dan dijual untuk didaur ulang. Mungkin ada baiknya kalau aku menemuj Lecter lagi dan bicara langsung
dengan dia."
"Petunjuk itu sudah diusut sampai tuntas?"
"Ya."
"Kenapa kau yakin mobil Raspail hanya mobil yang dipakainya sehari-hari?"
"Hanya mobil itu yang terdaftar, dia bujangan, aku berasumsi..."
"Aha, tunggu dulu!" Telunjuk Crawford langsung menuding. "Kau berasumsi. Kau berasumsi, Starling. Coba lihat."
Crawford menuliskan kata assume pada secarik kertas. Beberapa instruktur meniru kebiasaan ini, tapi Starling berlagak
tidak tahu apa-apa.
"Kalau kau berasumsi saat bertugas, kau akan membuat kau dan aku kelihatan seperti keledai," ujar Crawford sambil
menggarisbawahi suku kata ass, w, dan me. Ia menyandarkan badan. "Kau tidak tahu Raspail kolektor mobil?"
"Tidak. Apakah mobil-mobil itu masih termasuk harta warisannya?"
"Entahlah. Kau sanggup mencari tahu?"
"Ya."
"Dari mana kau akan mulai?"
"Aku akan menghubungi pengacara yang ditunjuk sebagai wali."
"Kantornya di Baltimore. Dia keturunan Cina, kalau aku tidak salah," kata Crawford.
"Everett Yow," ujar Starling. "Namanya tercantum dalam buku telepon Baltimore."
"Kau sudah mempertimbangkan masalah surat perintah untuk menggeledah mobil Raspail?"
Nada suara Crawford terkadang mengingatkan Starling pada ulat sok tahu dalam buku Lewis Carroll.
Starling tidak berani menyinggung hal itu. "Berhubung Raspail sudah meninggal dan tidak terlibat kejahatan,
penggeledahan ini sah jika ada izin dari pengacaranya, dan segala temuan dapat dijadikan barang bukti dalam urusan
hukum lain," ia berkata.
"Persis," sahut Crawford. "Begini saja: Aku akan memberitahu perwakilan Baltimore bahwa kau akan ke sana. Sabtu
besok, Starling. Gunakan waktu liburmu. Dapatkan bukti itu, kalau memang ada."

ben99 ebooks collections 17


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Crawford sengaja tidak menoleh ketika Starling pergi. Ia mengambil selembar kertas dari keranjang sampah dan
menaruhnya di meja. Pesan pada kertas itu menyangkut istrinya, dan ditulis tangan dengan huruf-huruf indah:

O wrangling schools, that search what fire Shall burn this world, had none the wit Unto this knowledge to aspire
That this her fever might be it?

Aku turut berduka untuk Bella, Jack.


Hannibal Lecter

Bab Delapan

E VERETT YOW mengendarai Buick berwarna hitam dengan stiker De Paul University menempel di jendela belakang.
Berat badannya membuat mobil itu agak miring ke kiri ketika Clarice Starling mengikutinya keluar Baltimore di
tengah guyuran hujan. Hari sudah hampir gelap; waktu Starling sebagai penyelidik sudah hampir habis dan tidak
mungkin diperpanjang. Starling melampiaskan ketidaksabarannya dengan mengetuk-ngetuk kemudi seirama gerakan
wiper, sementara lalu lintas merayap di Route 301.
Yow cerdas, gemuk, dan mempunyai gangguan pernapasan. Starling menaksir usianya sekitar enam puluh. Sejauh ini
pengacara tersebut cukup kooperatif. Bukan salah Yow bahwa Starling kehilangan waktu satu hari; ia baru pulang dari
perjalanan bisnis ke Chicago selama satu minggu, dan begitu keluar bandara, ia segera menuju kantornya untuk menemui
Starling.
Menurut Yow, Packard klasik milik Raspail sudah disimpan jauh sebelum kematiannya. Mobil tersebut tidak berlisensi
dan belum pernah dijalankan. Yow sendiri baru satu kali melihatnya, tertutup kain di tempat penyimpanan, ketika ia
mengkonfirmasikan keberadaan kendaraan itu untuk membuat inventaris harta warisan, tak lama setelah kliennya tewas
terbunuh. Jika Penyelidik Starling bersedia "mengungkapkan dengan segera dan secara jujur" semua temuan yang
mungkin dapat merugikan almarhum kliennya, ia akan mengantarnya ke tempat penyimpanan mobil itu, demikian
dikatakan Yow. Surat perintah tidak diperlukan, dan segala kerepotan yang menyertainya dapat dihindari Starling dapat
menggunakan Plymouth bertelepon selular dari pool kendaraan FBI selama satu hari, dan oleh Crawford ia juga telah
diberi kartu identitas baru. Kartu itu bertulisan PENYELIDIK FEDERAL— dan masa berlakunya akan habis dalam satu
minggu.
Tujuan mereka adalah Split City Mini-Storage, sekitar empat mil di luar batas kota. Sementara mobilnya merayap di
tengah kemacetan, Starling memakai teleponnya untuk mencari keterangan mengenai tempat penitipan tersebut. Sampai di
tempat tujuan, yang memasang tanda berwarna Jingga manyala, SPLIT CITY MINI-STORAGE—YOU KEEP THE
KEY, ia telah mengetahui cukup banyak fakta.
Split City mempunyai lisensi ekspedisi dari Interstate Commerce Commission, yang dikeluarkan atas nama Bernard
Gary. Tiga tahun lalu, Gary nyaris diseret ke pengadilan karena tuduhan menadah barang curian, dan kini lisensinya sudah
harus diperpanjang.
Yow membelok di bawah tanda itu dan memperlihatkan kuncinya kepada anak muda berseragam di gerbang. Penjaga
itu mencatat nomor polisi kendaraan "tereka, membuka gerbang, dan melambai-lambaikan tangan dengan tidak sabar,
seakan-akan ada hal lebih penting yang harus dikerjakannya.
Split City merupakan tempat suram yang senantiasa diterpa angin. Sama halnya seperti penerbangan hari Minggu dari
La Guardia ke Juarez, tempat itu terutama melayani kebutuhan yang berkaitan dengan perceraian. Sebagian besar barang
yang disimpan di Split City merupakan milik orang-orang yang gagal membina rumah tangga. Unit-unitnya dipenuhi
perabot ruang tamu, perlengkapan makan, kasur bernoda, mainan, dan foto perkawinan yang kandas di tengah jalan. Pihak
kepolisian Baltimore County yakin Split City juga menyembunyikan harta benda milik perusahaan-perusahaan yang
mengaku bangkrut di pengadilan.
Tempat tersebut menyerupai instalasi militer: lahan seluas kurang-lebih lima belas hektar dipenuhi bangunan-bangunan
panjang yang disekat dinding tahan api menjadi unit-unit sebesar garasi satu mobil, masing-masing dengan pintu gulung
yang dibuka ke atas. Tarif sewanya masuk akal, dan tidak sedikit barang yang sudah bertahun-tahun tersimpan di sini.
Keamanannya terjamin. Tempat itu dikelilingi dua lapis pagar tinggi, dan patroli anjing berkeliling dua puluh empat jam
sehari.
Tumpukan daun basah setebal lima belas senti serta cangkir-cangkir kertas dan "sampah lainnya menempel pada pintu
unit 31 yang disewa Raspail-Kedua sisi pintu diamankan dengan gembok kokoh. Pengamanan di sisi kiri ditambah lagi
dengan sebuah segel. Everett Yow membungkuk dengan kaku. Starling memegang payung dan senter.
"Tampaknya pintu ini belum dibuka lagi sejak saya terakhir ke sini lima tahun lalu," kata Yow. "Segel notaris saya masih
utuh. Saat itu saya tidak menduga sanak saudaranya akan begitu rewel, sehingga pembagian harta warisan tertunda
demikian lama."
Yow mengambil alih payung dan senter, sementara Starling memotret gembok berikut segel.
"Mr. Raspail menyewa kantor merangkap studio di kota. Tapi saya sudah menutupnya agar jumlah uang yang
diwariskan tidak berkurang untuk membayar sewa," jelas Yow. "Semua perabot dan perlengkapan lalu diangkut kemari
dan disimpan bersama mobil Raspail dan barang-barang yang sudah lebih dulu ada di sini.. Waktu itu kami membawa
piano, buku-buku dan catatan musik, serta tempat tidur, kalau saya tidak salah."
Yow menancapkan anak kunci. "Gemboknya mungkin beku. Yang ini keras sekali." Ia sulit membungkuk dan menarik
napas secara bersamaan. Ketika mencoba jongkok, kedua lututnya berderak.
Starling merasa lega karena pintu itu diamankan dengan dua gembok American Standard. Gembok tersebut memang
tampak kokoh, tapi ia tahu ia bisa membongkar selongsong kuningannya dengan sekrup dan palu yang biasa dipakai
untuk mencabut paku. Masalahnya, di mana ia bisa mendapatkan palu dan sekrup? Ia bahkan tak bisa menggunakan
segala rong-sokan yang terkumpul di bagasi Ford Pinto-nya.
Ia menggeledah tasnya dan menemukan semprotan untuk mencairkan es yang biasa ia pakai pada kunci Pintu mobilnya.
Anda mau beristirahat sebentar, Mr. Yow? Anda bisa menghangatkan badan di dalam mobil. Biar saya saja yang
mencoba membukanya. Payungnya Anda bawa saja, hujan sudah hampir berhenti."
Starling menggeser Plymouth-nya agar sorot lampu depan terarah ke pintu. Kemudian ia mencabut tongkat pengukur
oli mesin, meneteskan oli ke lubang kunci kedua gembok, dan menggunakan semprotan antibeku untuk mengencerkan oli.
Mr. Yow tersenyum dan mengangguk dari mobilnya. Starling bersyukur bahwa Yow cerdas; ia dapat melaksanakan
tugasnya tanpa dipersulit.
Hari sudah gelap. Ia merasa kikuk karena tersorot lampu mobil, dan bunyi tali kipas yang longgar seakan-akan
menusuk telinganya. Starling tidak lupa mengunci pintu. Mr. Yow memang tampak tidak berbahaya, tapi Starling tidak
mau mengambil risiko tergencet pintu.
Dengan susah payah ia membuka gembok pertama, lalu beralih ke gembok kedua, yang ternyata lebih mudah dibuka.

ben99 ebooks collections 18


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Pintu gulung itu tetap tak dapat diangkat, walaupun Starling sudah berusaha sampai pandangannya berkunang-kunang.
Yow turun untuk membantu, namun akibat gagang pintu yang kecil serta hernia yang dideritanya, bantuannya tidak
berpengaruh banyak.
"Kita bisa kembali minggu depan, dengan anak saya, atau dengan beberapa pekerja," Mr. Yow mengusulkan. "Saya
ingin pulang dulu sekarang."
Starling tidak yakin ia dapat kembali ke sini; jauh lebih mudah bagi Crawford untuk mengangkat telepon dan minta
perwakilan Baltimore menangani urusan ini. "Mr. Yow, saya akan buru-buru. Anda bawa dongkrak di mobil Anda?"*
Dengan dongkrak terpasang di bawah gagang pintu, Starling menggunakan berat badannya untuk menekan kunci ban
yang berfungsi sebagai pengungkit. Pintu itu berderit-derit dan naik satu senti. Starling mendapat kesan pintunya
melengkung ke atas di bagian tengah. Ia bekerja dengan sabar, sampai dapat menyelipkan ban serep sebagai penahan.
Kemudian ia menggunakan dongkrak Mr. Yow dan dongkraknya sendiri di bagian kiri dan kanan pintu, di dekat rel
penahan.
Kedua dongkrak itu diungkitnya secara bergantian. Pintunya berhasil diangkat sampai setengah meter sebelum akhirnya
macet sama sekali dan tak mau bergerak lagi, meskipun Starling telah mengerahkan seluruh berat badannya untuk
menekan batang pengungkit.
Mr. Yow maju untuk mengintip di bawah pintu bersama Starling. Setiap kali membungkuk, ia hanya sanggup bertahan
beberapa detik saja.
"Saya mencium bau tikus," komentarnya. "Padahal saya diberitahu di sini digunakan racun tikus. Kalau saya tidak
salah, hal itu juga tercantum dalam surat kontrak. Pihak pengelola menjamin takkan ada tikus. Tapi Anda juga mendengar
suara mereka, bukan?"
"Ya," ujar Starling. Sorot senternya menerangi sejumlah kardus dan sebuah ban besar dengan pinggiran putih di bawah
kain penutup. Ban itu kempis.
Ia memundurkan mobilnya sampai berkas sinar 'ampu depan menyorot lewat celah di bawah pintu. Kemudian ia
mengambil salah satu keset karet.
"Anda mau masuk ke situ. Officer Starling?"
"Mobilnya harus diperiksa, Mr, Yow."
Pengacara itu mengeluarkan saputangan. "Saya sarankan Anda mengikat kaki celana Anda. Untuk mei]_ cegah tikus-tikus
menyusup."
"Terima kasih atas saran Anda, Sir. Ehm, Mr Yow, seandainya pintu ini tiba-tiba turun, ha ha, atau jika ada kejadian tak
terduga lainnya, dapatkah Anda menghubungi nomor ini? Ini nomor telepon perwakilan kami di Baltimore. Mereka tahu
saya ada di sini sekarang, dan mereka akan kuatir kalau saya tidak memberi kabar. Anda mengerti, bukan?"
"Ya, tentu." Yow menyerahkan kunci Packard kepada Starling.
Starling meletakkan keset di aspal basah di depan pintu, lalu berbaring dalam posisi telentang. Tangannya melindungi
lensa kamera sambil menggenggam beberapa kantong plastik bening untuk menyimpan barang bukti. Kedua kaki
celananya terikat rapat dengan saputangan Yow dan saputangannya sendiri. Hujan gerimis membasahi wajahnya. Ia
mencium bau tikus bercampur bau apak. Anehnya, yang terlintas dalam benak Starling justru ungkapan dalam bahasa
Latin.
Ungkapan itu ditulis di papan tulis oleh instruktur forensiknya pada hari pertama ia mengikuti latihan, dan merupakan
semboyan dokter zaman Romawi kuno: Primum non nocere. Pertama-tama, jangan perparah keadaan.
Dia tidak bilang apa-apa tentang garasi yang penuh tikus sialan.
Dan tiba-tiba terdengar suara ayahnya, yang menegurnya sambil meletakkan tangan di pundak saudara laki-lakinya,
"Kalau kau tidak bisa bermain tanpa menjerit, Clarice, lebih baik masuk saja."
Starling mengancingkan kerah blusnya, menegakku bahu, lalu menyusup lewat celah di bawah pintu.
Ia berada di bawah ekor Packard. Mobil itu diparkir di sisi kiri tempat penyimpanan, nyaris menempel ke dinding.
Kardus-kardus tertumpuk tinggi di sisi kanan, memenuhi tempat yang tersisa. Starling menggeliat-aeliut sambil telentang,
sampai kepalanya masuk ke celah sempit di antara mobil dan tumpukan kardus. Ia mengarahkan senternya ke atas.
Sejumlah besar sarang labah-labah tampak terentang di antara mobil dan kardus-kardus.
Satu-satunya labah-labah yang perlu diwaspadai adalah labah-labah brown recluse, dan jenis itu tidak membuat
sarang di tempat terbuka, kata Starling dalam hati. Yang lainnya tidak perlu dihiraukan.
Di samping spatbor belakang ada tempat untuk berdiri. Starling menggeliat-geliut sampai keluar dari bawah mobil.
Wajahnya dekat sekali dengan . ban berpinggiran putih. Ban itu penuh kotoran kering, namun tulisan GOODYEAR
DOUBLE EAGLE masih terbaca jelas. Starling berdiri, pelan-pelan agar kepalanya tidak terbentur, sambil melindungi
wajah dengan kedua tangan dari sarang labah-labah. Beginikah rasanya memakai cadar?
Suara Mr. Yow terdengar, dari luar. "Oke, Officer Starling?"
'Oke," Starling menyahut. Jawabannya disusul bunyi keresek, dan sesuatu di dalam piano membunyikan beberapa nada
tinggi. Sorot lampu mobil dari luar menerangi kakinya sampai ke betis.
Oh, rupanya Anda sudah menemukan pianonya, Officer Starling," seru Mr. Yow. "Itu bukan saya." "Oh."
Mobil itu besar, tinggi, dan panjang. Inventaris Yow mencatatnya sebagai limusin Packard tahun 1933 Mobil itu
ditutupi karpet, dengan sisi berbulu menghadap ke bawah. Sorot senter Starling menyapunya.
"Anda yang menutup mobil dengan karpet ini, JVIj Yow?"
"Dari dulu sudah begitu dan saya tak pernah membukanya," Yow menjawab dari bawah pintu. "Saya tidak tahan karpet
berdebu. Raspail yang memasangnya. Saya sekadar memastikan mobilnya memang ada. Orang-orang yang saya sewa
hanya menaruh piano di dinding dan menumpukkan kardus-kardus di samping mobil. Kemudian mereka langsung pergi
lagi. Mereka dibayar per jam. Kardus-kardus itu berisi lembaran musik dan buku."
Karpetnya tebal dan berat. Starling menariknya, dan seketika debu beterbangan. Ia bersin dua kali. Sambil berjinjit ia
berhasil melipat karpet sampai ke garis tengah mobil kuno yang tinggi itu. Tirai jendela belakang tertutup. Gagang
pintunya berdebu. Starling harus membungkuk di atas kardus-kardus agar dapat mencapainya. Ia mencoba menekan
gagang. Terkunci. Tak ada lubang kunci .di pintu belakang. Starling harus menggeser banyak kardus agar dapat mencapai
pintu depan, padahal tempatnya terbatas sekali. Ia melihat celah sempit antara tirai dan tiang jendela belakang.
Starling kembali membungkuk. Ia merapatkan wajah ke jendela dan mengarahkan sorot senternya ke dalam mobil.
Namun yang tampak hanyalah bayangan dirinya sendiri. Baru setelah menghalangi sinar dengan tangan' ia bisa melihat
bangku belakang di balik kaca yang berdebu. Sebuah album tergeletak terbuka. Starling melihat sejumlah kartu Valentine
tertempel, kartu-kartu lama berhiaskan renda.
'Terima kasih banyak, Dr. Lecter." Napasnya mengusik debu pada ambang jendela dan membuat kacanya berembun.
Starling tidak mau menyekanya, sehingga ia terpaksa menunggu. Sesaat kemudian sorot senternya kembali bergerak,
menerangi selimut kecil yang tergeletak di lantai, lalu beralih ke sepasang sepatu pria yang penuh debu. Sterling
menggeser berkas sinar ke atas. Ia melihat kaus kaki hitam serta ujung celana tuksedo berisi sepasang kaki.
Takadayangmasukkesinidalamlimatahunterakhir— tenang, tenang, jangan panik.
"Oh, Mr. Yow. Mr. Yow?"
"Ya, Officer Starling?"
"Mr. Yow, kelihatannya ada orang yang duduk di dalam mobil ini."
"Astaga. Saya rasa lebih baik Anda keluar saja, Miss Starling."
"Sebentar lagi, Mr. Yow. Kalau Anda bisa bersabar sejenak..."
Sekaranglah waktunya untuk berpikir. Ini lebih penting daripada segala omong kosong yang bakal kauceritakan pada
bantalmu selama hidupmu. Tarik napas dan kerjakan ini sebaik-baiknya. Jangan sam-Pai ada barang bukti yang rusak.
Dan yang lebih Penting lagi, jangan bikin masalah yang tak perlu. Kalau kuhubungi perwakilan Baltimore dan polisi
datang ke sini dan ternyata tidak ada apa-apa, tamatlah riwayatku. Aku melihat sesuatu yang kelihatan seperti kaki. Mr.
Yow takkan mengajakku kemari kalau dia tahu di sini ada mayat. Starling tersenyum sendiri; ia sudah mulai bisa berpikir
jernih Tak seorang pun masuk ke sini sejak kunjungan Yow yang terakhir. Oke, berarti kardus-kardus ini ditaruh setelah

ben99 ebooks collections 19


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

apa yang ada di dalam mobil. Dan itu berarti kardus-kardusnya bisa kupindahkan tanpa perlu takut mengusik sesuatu
yang penting. "Oke, Mr. Yow."
"Ya. Apakah kita perlu memanggil polisi, ataukah Anda sanggup menanganinya sendiri, Officer Starling?"
"Itu perlu saya selidiki dulu. Tolong tunggu di luar saja."
Masalah kardus ternyata tak kalah rumit dari permainan Rubik's Cube. Starling mencoba menggeser kardus sambil
mengepit senter, tapi senternya jatuh dua kali, dan akhirnya ia menaruhnya di atas mobil. Ia terpaksa memindahkan
kardus ke belakangnya, dan beberapa kotak berisi buku dapat diselipkan ke kolong mobil. Ibu jarinya mendadak perih,
entah karena digigit serangga atau karena kemasukan serpihan kayu.
Kini ia dapat melihat ke kompartemen pengemudi. Seekor labah-labah telah membuat sarang di antara setir yang besar
dan tongkat persneling. Pemisali antara kompartemen depan dan belakang tertutup rapat.
Starling menyesal karena lupa meneteskan oli ke kunci Packard sebelum ia menyusup lewat bawah pintu. Tapi ketika
ditancapkan, kunci itu ternyata berputar dengan mudah.
Karena sempitnya tempat, pintu mobil itu hanya bisa dibuka sepertiga. Pintunya membentur kardus-kardus dengan
keras, membuat tikus-tikus berlarian-
Dari piano kembali terdengar dentingan nada tinggi, gau bacin bercampur bau bahan kimia menyambut Starling. Bau itu
mengingatkannya pada sesuatu, namun ia tak dapat memastikannya.
Ia melongok ke dalam, membuka pemisah di belakang tempat duduk pengemudi, dan mengarahkan senternya ke
kompartemen belakang. Yang pertama terlihat adalah kemeja formal putih. Cahaya senter Starling segera bergerak ke arah
wajah, tapi tidak menemukannya, lalu turun lagi, melewati kancing-kancing yang mengilap, kelepak jas satin, menuju
pangkuan dengan ritsleting terbuka, kemudian kembali ke atas, ke dasi kupu-kupu dan kerah yang rapi, tempat ujung leher
maneken tampak menyembul. Di atas leher ada benda lain yang hanya sedikit memantulkan cahaya. Sepotong kain,
sebuah tudung hitam, di posisi yang seharusnya ditempati kepala, besar, seakan-akan menyelubungi kandang burung nuri.
Kain beludru, kata Starling dalam hati. Tudung itu bertengger pada papan kayu lapis yang menjorok ke atas leher
maneken dari tempat menaruh barang di belakang tempat duduk.
Starling mengambil beberapa foto dari kursi depan. Ia memfokuskan lensa dengan bantuan blitz dan memejamkan mata
setiap kali lampu kilat itu menyala. Kemudian ia menegakkan badan di luar mobil. Dalam keadaan basah dan berlepotan
sarang labah-labah, ia berdiri di tengah kegelapan, memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Yang jelas, ia tidak akan memanggil agen khusus yang memimpin perwakilan Baltimore untuk memeriksa sebuah
maneken dengan ritsleting terbuka" beserta buku berisi kartu Valentine.
Setelah memutuskan untuk masuk lewat pintu bela-kang dan mencopot tudung itu, ia tidak memberi kesempatan pada
dirinya untuk berubah pikiran. ia menjulurkan tubuh lewat dinding pemisah, membuka kunci pintu belakang, lalu kembali
menggeser-geser kardus agar dapat membuka pintu. Rasanya ia menghabiskan waktu banyak untuk pekerjaan sederhana
itu. Bau dari kompartemen belakang ternyata jauh lebih keras ketika ia membuka pintu. Ia meraih ke dalam, mengambil
album Valentine dengan memegang tepi-tepinya, lalu memasukkannya ke dalam kantong barang bukti di atap mobil.
Kemudian ia menggelar kantong lain di bangku belakang.
Per mobil itu berderit-derit ketika ia masuk, dan sosok di dalam pun bergeser sedikit ketika ia duduk di sampingnya.
Tangan kanan yang terbungkus sarung tangan putih tergelincir dari paha dan merosot ke jok. Starling menyentuhnya
dengan ujung jari. Tangan itu keras. Dengan hati-hati ia menurunkan sarung tangan. Pergelangan tangan yang tampak di
baliknya terbuat dari bahan sintetis putih. Starling juga melihat tonjolan di balik celana yang sepintas lalu
mengingatkannya pada suatu kejadian konyol di high school.
Dari bawah jok terdengar terdengar bunyi keresek.
Dengan hati-hati Starling menyentuh tudung di hadapannya. Kain itu menutupi sesuatu yang keras dan licin. Ketika
Starling meraba pegangan di bagian atas, ia langsung tahu benda apa yang tersembunyi dari pandangannya. Ia tahu ia
berhadapan dengan stoples spesimen yang biasa digunakan di laboratorium, dan ia pun tahu apa isinya. Dengan takut
namun tanpa ragu ia menarik tudung itu sampai terlepas.
Kepala di dalam stoples itu terpenggal rapi di bawah rahang. Wajahnya menghadap Starling. Matanya sudah lama
berubah menjadi putih keruh akibat alkohol yang mengawetkannya. Mulutnya terbuka, dan lidah yang menyembul sedikit
tampak kelabu. Selama bertahun-tahun alkohol di dalam stoples telah menguap sedikit, demi sedikit sehingga kepala itu
kini terletak pada dasar stoples, sementara ubun-ubunnya menyembul dari permukaan. Posisi kepala itu agak miring, dan
seakan-akan menatap Starling sambil melongo.
Starling memanfaatkan kesempatan itu untuk memantau perasaannya sendiri. Ia gembira. Semangatnya berkobar-kobar.
Sejenak terlintas dalam benaknya apakah pantas ia merasa demikian. Namun nyatanya ia tetap dapat berpikir jernih,
meskipun sedang duduk di dalam mobil tua bersama sebuah kepala terpenggal dan sejumlah tikus, dan itu membuatnya
bangga.
"Hmm, Toto," ia berkata, "kita tak lagi di Kansas." Sejak dulu ia ingin mengucapkan kata-kata itu dalam keadaan stres,
tapi ucapan itu berkesan dibuat-buat dan ia bersyukur tak ada yang mendengarnya. Ia harus kembali bekerja.
Ia menyandarkan punggung dan memandang berkeliling.
Segala sesuatu di dalam mobil itu iditata dan diatur oleh seseorang. Bunga-bunga kering menggantung dari vas-vas
kristal. Meja limusin itu ditarunkan dan ditutup taplak linen. Di atasnya ada karaf anggur yang berdebu. Seekor labah-
labah telah memanfaatkan karaf serta tempat lilin di sebelahnya untuk membuat sarang.
Starling berusaha membayangkan Lecter, atau siapa pun, duduk di sini bersama orang yang kepalanya kini menemaninya.
Barangkali sambil minum anggur dan melihat-lihat kartu Valentine. Lalu apa lagi? Starling menggeledah sosok di
sampingnya untuk mencari kartu identitas. Ia bekerja dengan hati-hati, agar posisi maneken itu tidak banyak berubah,
namun tidak menemukan apa pun. Di dalam kantong jas ada sisa kain yang dipotong untuk menyesuaikan panjang pipa
celana dengan panjang kaki—setelan jas resmi itu kemungkinan besar masih baru ketika dikenakan pada maneken itu.
Starling menyodok-nyodok tonjolan di celana. Terlalu keras, untuk ukuran high school sekalipun, katanya dalam hati.
Ia merentangkan ritsleting dan mengarahkan senternya. Di balik ritsleting ia melihat dil-do dari kayu yang dipoles.
Ukurannya lumayan besar. Starling bertanya-tanya apakah akhlaknya sudah mulai rusak.
Dengan hati-hati ia memutar stoples dan memeriksa bagian belakang dan samping kepala, tapi tidak menemukan luka
apa pun. Nama perusahaan pemasok perlengkapan laboratorium tampak tergraver pada permukaan kaca.
Ketika kembali mengamati wajah itu, Starling merasa telah belajar sesuatu yang akan membantunya di kemudian hari.
Melihat wajah dengan lidah yang telah berubah warna itu ternyata tidak separah bermimpi tentang Miggs yang menelan
lidahnya sendiri. Ia yakin ia sanggup menghadapi apa pun, asal ada hal positif yang dapat dikerjakannya. Starling masih
muda.
***
Dalam waktu sepuluh detik setelah mobil liputan WPIK-TV yang ditumpanginya berhenti dengan rem mencuit-cuit,
Jonetta Johnson memasang anting-anting, menyapukan bedak ke wajahnya yang cantik, dan mempelajari situasi. Ia dan
kru-nya biasa memantau frekuensi radio kepolisian Baltimore County, dan mereka tiba di Split City mendului mobil-
mobil patroli.
Yang tampak dalam sorot lampu mobil mereka hanyalah Clarice Starling yang berdiri di depan pintu garasi sambil
menggenggam senter dan kartu identitas. Rambutnya basah kuyup.
Jonetta Johnson langsung mengenalinya sebagai anak bani. Ia turun dari mobil, disusul juru kamera, dan langsung
menghampiri Starling. Lampu-lampu sorot segera dinyalakan.
Mr. Yow merosot begitu rendah di kursi mobilnya, sehingga hanya topinya yang terlihat dari jendela.
"Jonetta Johnson, WPIK news, Anda melaporkan kasus pembunuhan?"

ben99 ebooks collections 20


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Penampilan Starling kurang meyakinkan sebagai penegak hukum, dan ia pun menyadarinya. "Saya petugas federal, dan
ini tempat kejadian perkara kriminal. Saya harus mengamankannya sampai pihak berwajib Baltimore..."
Asisten juru kamera telah menggenggam bagian bawah pintu garasi dan berusaha membukanya.
Tahan," ujar Starling. "Saya bicara dengan Anda, Sir- Tahan. Harap mundur. Saya tidak main-main. Bantulah saya di
sini." Starling berharap ia mempunyai lencana, seragam, atau apa pun untuk menegakkan wibawanya.
"Oke, Harry," kata reporter itu. "Ehm, Officer kami ingin bekerja sama dengan segala cara. Tapi terus terang, kru ini
harus dibayar, dan saya perlu tahu apakah ada gunanya mereka disuruh menunggu di sini sampai polisi datang. Barangkali
Anda bisa memberitahu saya apakah ada mayat di dalam? Kameranya mati, ini antara kita saja. Kalau memang ada
sesuatu, kami akan menunggu. Saya berjanji kami takkan merepotkan Anda. Bagaimana?"
"Saya akan menunggu kalau saya jadi Anda," Starling menyahut.
"Thanks, Anda takkan menyesal," balas Jonetta Johnson. "Ehm, saya punya informasi mengenai Split City Mini-
Storage yang mungkin berguna untuk Anda. Tolong arahkan senter ke clipboard ini."
"Mobil liputan WEYE sudah datang, Joney," ujar kru bernama Harry.
"'Coba kita lihat, Officer. Ah, ini dia. Dua tahun lalu ada skandal ketika pihak berwenang hendak membuktikan bahwa
tempat ini mengangkut dan menyimpan—kalau tidak salah, kembang api?" Jonetta Johnson melirik melewati pundak
Starling.
Starling membalikkan tubuh dan melihat juru kamera tadi berbaring telentang. Kepala dan pundaknya sudah berada
dalam garasi, sementara asistennya berjongkok di sebelahnya, siap mengoperkan kamera mini.
"Hei!" seru Starling. Ia berlutut di samping orang itu dan menarik-narik bajunya. "Anda tidak boleh
masuk ke situ. Hei! Saya sudah memperingatkan Anda."*
Kedua orang itu berusaha menenangkannya. "Kami takkan menyentuh apa pun. Kami profesional, kau tidak perlu kuatir.
Polisi toh akan membiarkan kami masuk. Santai saja, Sayang."
Sikap mereka membuat Starling naik pitam.
Ia bergegas ke dongkrak di sisi pintu dan menggerakkan gagangnya. Pintu garasi langsung turun lima senti, diiringi
suara berderit-derit. Starling kembali menggerakkan gagang. Kini bagian bawah pintu telah menempel pada dada si juru
kamera. Karena orang itu belum keluar juga, Starling mencabut gagang dongkrak dan menghampiri juru kamera yang
membandel. Sejumlah lampu sorot telah dinyalakan, dan dalam cahaya yang terang-benderang Starling menggedor-gedor
pintu garasi dengan gagang dongkrak, sehingga si juru kamera dihujani debu dan karat.
"Saya minta perhatian Anda," katanya. "Sepertinya pendengaran Anda agak terganggu, ya? Keluar dari situ. Sekarang
juga. Kalau tidak, Anda akan ditangkap karena menghalangi petugas hukum."
"Hei, tenang saja," ujar asisten juru kamera. Ia meletakkan tangannya pada pundak Starling. Starling langsung
membalik. Para wartawan di balik cahaya yang menyilaukan mulai menyerukan pertanyaan, dan di kejauhan terdengar
bunyi sirene.
Singkirkan tanganmu, Bung, dan mundur." Starling menginjak mata kaki si juru kamera dan memelototi asistennya
sambil menggenggam gagang dong-kak* Ia tidak perlu mengangkat tangan untuk mengancam. Kesan yang diberikannya
di depan kamera-kamera TV sudah cukup buruk.

Bab Sembilan

B AU-BAUAN di sayap pengamanan maksimum terasa lebih keras dalam suasana remang-remang. Pesawat TV di koridor,
yang hidup tanpa suara, memantulkan bayangan Starling pada terali sel Lecter.
Starling tak bisa melihatnya dalam kegelapan di balik terali, namun ia tidak minta penjaga menyalakan lampu dari
posnya. Seluruh sayap akan terang benderang. Ia tahu kepolisian Baltimore tadi menghidupkan semua lampu sementara
mereka membentak-bentak Lecter dan menghujaninya dengan pertanyaan selama berjam-jam. Lecter menolak bicara. Ia
malah membuat burung origami yang bisa mematuk-matuk jika ekornya digerakkan naik-turun. Petugas yang memimpin
interogasi membuang burung kertas itu di tempat abu rokok di lobi. Dengan geram ia lalu memberi isyarat pada Starling
untuk mencoba keberuntungannya.
"Dr. Lecter?" Starling mendengar suara napasnya sendiri, juga suara napas dari sel-sel sepanjang koridor, namun dari
sel Miggs yang kosong tak terdengar suara apa pun. Keheningan itu seakan-akan mengisapnya.
Starling tahu Lecter mengamatinya dari kegelapan-
Dua menit berlalu. Kaki dan punggung Starling terasa pegal akibat pergulatannya dengan pintu garasi, dan pakaiannya
lembap. Ia duduk bersila di lantai, beralaskan mantelnya, cukup jauh dari terali, dan ia menyibakkan rambutnya yang
basah ke belakang agar tidak menempel pada tengkuk.
Seorang pengabar Injil tampak melambai-lambaikan tangan pada layar TV di belakangnya.
"Dr. Lecter, kita sama-sama tahu apa ini. Mereka pikir Anda bersedia bicara denganku."
Hening. Di ujung koridor seseorang menyiulkan Over the Sea to Skye.
Setelah lima menit, Starling berkata, "Aneh rasanya, pergi ke sana. Kapan-kapan aku ingin membicarakannya dengan
Anda."
Starling tersentak ketika baki makanan muncul dari sel Lecter. Di baki itu ada handuk bersih yang masih terlipat.
Starling tidak mendengar Lecter bergerak.
Ia menatap handuk itu, lalu menggunakannya untuk mengeringkan rambut. "Thanks," katanya.
"Kenapa kau tidak bertanya tentang Buffalo Bill?" Suara Lecter terdengar dekat, kira-kira sama tinggi. Rupanya Lecter
pun duduk di lantai.
"Anda tahu sesuatu mengenai dia?"
"Mungkin, kalau aku bisa mempelajari berkasnya."
'Bukan aku yang menangani kasus itu," ujar Starling.
'Kasus ini pun akan diambil darimu, kalau kau sudah selesai dimanfaatkan." "Aku tahu."
'Kau bisa mengusahakan berkas Buffalo Bill. La-Poran dan foto-foto. Aku ingin melihatnya."
Yeah, pasti. "Dr. Lecter, Anda yang memulai ini Sekarang tolong Anda ceritakan orang di dalam Packard."
"Kau menemukan satu orang utuh? Aneh. Yang kulihat hanya kepala. Kira-kira dari mana sisanya?"
"Baiklah. Itu kepala siapa?"
"Apa saja yang sudah kauketahui?"
"Informasiku terbatas pada hasil penyelidikan awal. Pria, kulit putih, sekitar dua puluh tujuh, giginya ditambal dengan
cara Amerika dan Eropa. Siapa dia?"
"Pacar Raspail. Raspail, si pemain flute." "Apa latar belakang kematiannya—bagaimana dia tewas?"
"Kau selalu bertele-tele seperti ini, Officer Starling?",
"Nanti saja kutanyakan ini."

ben99 ebooks collections 21


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Aku akan membantumu menghemat waktu. Bukan aku pelakunya, tapi Raspail. Raspail menyukai pelaut. Yang ini
pelaut Skandinavia bernama Klaus. Raspail tak pernah menyebut nama lengkapnya."
Suara Lecter bergerak turun. Barangkali ia berbaring di lantai, pikir Starling.
"Klaus semula awak kapal Swedia di San Diego. Raspail mengajar di konservatorium di sana selama musim panas. Dia
tergila-gila pada anak muda itu. Klaus melihat, kesempatan baik dan meninggalkan kapalnya. Mereka membeli semacam
karavan dan berkeliaran di hutan dalam keadaan telanjang bulat. Raspail menuduh anak muda itu tidak setia, dan dia
mencekiknya."
"Raspail sendiri yang menceritakan ini?"
"Oh ya, dalam pertemuan-pertemuan terapi yang bersifat rahasia. Kukira dia bohong. Raspail suka melebih-lebihkan
segala sesuatu. Dia ingin menimbulkan kesan berbahaya dan romantis. Kemungkinan besar orang Swedia itu mati lemas
ketika mengadakan hubungan seks yang konyol. Raspail terlalu lemah untuk mencekiknya. Kau melihat sendiri bahwa
kepala Klaus dipenggal tepat di bawah rahang, bukan? Tampaknya ini disengaja untuk menghilangkan bekas lilitan tali
pada lehernya."
"Hmm, begitu."
"Impian Raspail mengenai kebahagiaan telah hancur. Dia memasukkan kepala Klaus ke tas boling dan kembali ke
daerah Timur." -. "Apa yang dilakukannya dengan sisa tubuhnya?"
"Dikubur di perbukitan."
"Dia pernah memperlihatkan kepala di mobil itu pada Anda?"
- "Oh ya. Setelah berkali-kali mendatangiku untuk terapi, dia merasa bisa menceritakan apa saja padaku. Dia sering
mengunjungi Klaus dan memamerkan kartu-kartu Valentine." "Lalu Raspail sendiri... tewas. Kenapa?" "Terus terang, aku
akhirnya muak mendengar keluhan-keluhannya. Ini memang yang terbaik baginya. Terapinya tidak menunjukkan
kemajuan. Kuharap sebagian besar psikiater mempunyai satu atau dua pasien yang hendak mereka oper padaku. Aku
belum pernah membicarakan ini, dan sekarang aku mulai bosan."
Dan jamuan makan malam yang Anda adakan bagi para pimpinan orkestra?"
Kau tidak pernah didatangi tamu tanpa sempat berbelanja? Mau tak mau kumanfaatkan isi lemari es Clarice. Bolehkah
aku memanggilmu Clarice?"
"Ya. Dan aku akan memanggil Anda..."
"Dr. Lecter—kukira itu yang paling pantas, mengingat usia dan posisimu," Lecter memotong.
"Ya."
"Bagaimana perasaanmu ketika masuk ke garasi itu?"
"Waswas."
"Kenapa?"
"Tikus dan serangga."
"Adakah resep khusus yang kaugunakan untuk membangkitkan keberanianmu?" tanya Dr. Lecter.
"Setahuku tidak ada cara yang ampuh, kecuali tekad untuk mencapai tujuan."
"Barangkali kau teringat kejadian-kejadian tertentu pada saat seperti itu, baik disengaja maupun tidak?"
"Mungkin. Aku tak pernah memperhatikannya."
"Hal-hal dari masa kecilmu, barangkali?"
"Aku tidak bisa memastikannya."
"Bagaimana perasaanmu ketika kau mendapat kabar mengenai bekas tetanggaku, Miggs? Kau belum bertanya tentang
itu."
"Aku baru mau menanyakannya."
"Kau gembira ketika mendengar beritanya?"
"Tidak."
"Kau sedihi"
"Tidak juga. Apakah Anda mempengaruhi dia?"
Dr. Lecter tertawa pelan. "Maksudnya, apakah aku mendesak Mr. Miggs untuk melakukan tindak pidana bunuh diri?
Jangan mengada-ada. Tapi aku melihat simetri yang menyenangkan dalam tindakannya menelan lidahnya yang lancang.
Kau sependapat, bukan?'
"Tidak."
"Officer Starling, kali ini kau berbohong. Ini pertama kali kau berbohong padaku. Mengutip ucapan Truman, kejadian
yang menyedihkan."
"Presiden Truman?"
"Lupakan saja. Menurutmu, kenapa aku membantumu?" "Entahlah."
"Jack Crawford menyukaimu, bukan?" "Aku tidak tahu."
"Kurasa itu tidak benar. Apakah kau berharap dia menyukaimu? Coba katakan padaku, apakah kau merasakan dorongan
untuk membuatnya suka padamu, dan apakah dorongan itu membuatmu kuatir? Apakah kau cemas karena merasa harus
membuat dia senang?"
"Semua orang ingin disukai, Dr. Lecter."
"Tidak semuanya. Apakah kau merasa Jack Crawford menginginkanmu secara seksual? Aku yakin dia sudah frustrasi
berat sekarang. Menurutmu, apakah dia membayangkan... skenario, adegan... sanggama denganmu?"
"Aku tak pernah memikirkan hal-hal seperti itu, Dr. Lecter, dan pertanyaan-pertanyaan semacam ini pantasnya
dilontarkan oleh Miggs."
"Sekarang tidak lagi."
"Apakah Anda menyarankan pada Miggs untuk menelan lidahnya?"
Lecter tidak menanggapi pertanyaan itu.
"Crawford jelas-jelas menyukaimu, dan dia yakin kau mampu," kata Lecter. "Tentunya keunikan situasi lni tidak terlepas
dari perhatianmu, Clarice—kau telah memperoleh bantuan dari Crawford dan dariku. Kau mengaku tidak mengetahui
alasan Crawford membantu, mu—barangkali kau tahu alasanku?" "Tidak."
"Apakah karena aku suka memandangmu dan berharap dapat menyantapmu?" "Itukah alasan Anda?"
"Tidak. Aku menginginkan sesuatu yang bisa dj. berikan Crawford, dan aku bersedia mengadakan barter. Tapi dia
tidak mau menemuiku. Dia tidak mau minta bantuanku dalam kasus Buffalo Bill, padahal dia tahu itu berarti akan lebih
banyak lagi wanita muda yang tewas."
"Aku tidak percaya, Dr. Lecter."
"Aku menginginkan sesuatu yang sangat sederhana, dan dia bisa mengupayakannya." Lecter memutar tombol
pengendali lampu di selnya. Buku-buku dan lukisan-lukisannya sudah tak ada. WC-nya pun dicabut. Chilton telah
mengosongkan selnya sebagai hukuman atas kematian Miggs.
"Sudah delapan tahun aku berada di ruangan ini, Clarice. Aku tahu aku takkan keluar dari sini selama aku hidup. Yang
kuinginkan adalah pemandangan. Aku menginginkan jendela agar bisa melihat pohon, atau bahkan air."
"Apakah pengacara Anda pernah mengajukan permohonan..."
"Chilton menaruh TV itu di koridor, disetel pada saluran keagamaan. Begitu kau pergi, penjaganya akan mengeraskan
suaranya, dan pengacaraku tak bisa mencegahnya, mengingat pandangan pengadilan terhadapku sekarang. Aku ingin
dipindahkan ke if' stitusi federal, ingin buku-bukuku dikembalikan, dan
ingin pemandangan. Aku berani membayar mahal untuk itu. Crawford sanggup mengusahakannya. Coba tanya dia.'
"Aku bisa menyampaikan permintaan Anda padanya-"

ben99 ebooks collections 22


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Permintaanku takkan digubris. Dan Buffalo Bdl akan terus beraksi. Tunggu saja sampai dia mengambil kulit kepala
korbannya, dan lihatlah apakah kau suka atau tidak. Hrnmm... aku bisa memberitahukan sesuatu mengenai Buffalo Bill
tanpa perlu melihat berkas kasusnya, dan bertahun-tahun dari sekarang, pada waktu dia ditangkap, kalau dia bisa
ditangkap, kau akan sadar bahwa aku benar dan seharusnya aku bisa membantu. Seharusnya aku bisa menyelamatkan
beberapa nyawa. Clarice?"
"Ya?"
"Buffalo Bill tinggal di rumah berlantai dua," kata ' Dr. Lecter, lalu memadamkan lampunya. Ia tidak mau bicara lagi.

Bab Sepuluh

C LARICE STARLING bersandar pada meja judi dadu di kasino FBI dan berusaha menyimak kuliah mengenai pemutihan
uang lewat perjudian. Tiga puluh enam jam telah berlalu sejak kepolisian Baltimore County mencatat keterangannya
(melalui juru tulis yang merokok tanpa henti dan mengetik dengan dua jari: "Coba buka jendela itu kalau asap rokok
saya mengganggu Anda.") dan mempersilakannya meninggalkan wilayah hukum mereka, disertai peringatan bahwa
pembunuhan bukan tindak pidana federal.
Pertengkaran Starling dengan juru kamera TV ditayangkan dalam siaran berita Minggu malam, dan ia yakin ia berada
dalam kesulitan besar. Sementara itu, baik Crawford maupun kantor perwakilan Baltimore tidak memberi komentar
sedikit pun. Laporan Starling sama sekali tidak ditanggapi.
Kasino tempat ia berdiri sekarang berukuran kecil— semula kasino tersebut beroperasi dalam truk kontainer yang terus
berpindah-pindah sampai disita FBI dan ditempatkan di akademi sebagai alat bantu belajar. Ruang sempit itu dipenuhi
petugas-petugas polisi dari berbagai wilayah hukum; Starling telah menolak ta-
aran tempat duduk dari dua Texas Ranger dan seorang detektif Scotland Yard.
Rekan-rekan sekelasnya sedang berada di gedung Academy, sibuk mencari rambut di karpet motel "Sex-Crime
Bedroom" dan mengamankan sidik jari di "Anytown Bank." Starling sudah begitu sering terlibat pencarian barang bukti
dan sidik jari sebagai Forensic Fellow, sehingga ia disuruh mengikuti kuliah ini, yang merupakan bagian kurikulum siswa
tamu.
Dalam hati ia bertanya, apakah ada alasan lain ia dipisahkan dari kelasnya: barangkali kita diisolasi dulu sebelum
digantung.
Sambil bertopang dagu, Starling berusaha memusatkan pikiran pada teknik-teknik pemutihan uang melalui perjudian.
Namun yang terlintas dalam benaknya adalah betapa FBI tidak suka melihat agen-agennya muncul di TV, kecuali untuk
jumpa pers resmi.
Dr. Hannibal Lecter dan media massa bagaikan gula dan semut, dan pihak kepolisian Baltimore pun dengan senang hati
memberikan nama Starling kepada para wartawan. Berulang-ulang Starling menyaksikan dirinya dalam siaran-siaran
berita Minggu malam. Ada "Starling dari FBI" di Baltimore, yang menggedor-gedor pintu garasi sementara juru kamera
berusaha menyusup masuk lewat bawah pintu. Lalu "Agen Federal Starling," yang menyerang asisten juru kamera sambil
menggenggam gagang dongkrak.
Stasiun TV lain, WPIK, yang tidak memiliki rekaman sendiri, mengumumkan bahwa baik "Starling dari FBI" maupun
FBI sendiri akan dituntut karena mata JUl"u kamera itu kemasukan debu dan serpihan-serpihan karat ketika Starling
menggebrak pintu.
Jonetta Johnson dari WPIK mengungkapkan dalam siaran berita nasional bahwa Starling menemukan kepala
terpenggal di dalam garasi tersebut berkat "hubungan khusus dengan seseorang yang oleh pihak berwajib dijuluki...
monsterV Tampaknya sudah jelas bahwa WPIK mempunyai sumber di rumah sakit jiwa.
KEKASIH FRANKENSTEIN!! demikian judul berita utama National Tattler menghadang para pengunjung toko
swalayan yang mengantre di kasa.
Pihak FBI tidak memberikan komentar resmi, namun Starling yakin kemunculannya di TV telah menimbulkan
perdebatan intern:
Pada waktu sarapan, salah satu rekan sekelasnya, seorang pria muda yang memakai Canoe after-shave, menyebut
Starling sebagai "Melvin Pelvis," plesetan dari Melvin Purvis, agen FBI nomor satu zaman Hoover di tahun tiga puluhan.
Balasan Ardelia Mapp kepada rekan mereka itu membuat wajah si pria pucat pasi, dan ia meninggalkan ruang makan
tanpa menyentuh sarapannya.
Starling kini mendapati dirinya tak bisa terkejut lagi. Selama sehari-semalam ia serasa diselubungi keheningan,
bagaikan penyelam di dasar laut. Ia bertekad akan membela diri, kalau ada kesempatan.
Instrukturnya memutar roda rolet sambil bicara, namun tidak menggulirkan bolanya. Starling menatapnya, dan ia yakin
orang itu belum pernah membiarkan bolanya bergulir. Instrukturnya sedang mengatakan sesuatu: "Clarice Starling."
Kenapa ia berkata "Clarice Starling"? Itu aku.
"Ya," Starling menyahut..
Si instruktur memberi isyarat ke arah pintu. Nah, ini dia, Starting berkata dalam hati sambil membalik dengan waswas.
Tapi yang melongok dari pintu ternyata Brigham, si instruktur menembak. Ia segera memanggil dengan lambaian tangan
ketika Starling melihatnya.
Sekilas Starling yakin ia akan dipecat, tapi itu bukan tugas Brigham.
"Bersiaplah, Starling. Di mana perlengkapan lapanganmu?" Brigham bertanya setelah mereka berada di koridor.
"Di kamarku—Sayap C."
Starling terpaksa mempercepat langkahnya agar tidak ketinggalan.
Brigham membawa koper berisi peralatan sidik jari—koper yang besar, bukan yang untuk latihan— serta tas kanvas
kecil.
"Kau ikut Jack Crawford hari ini. Bawa perlengkapan untuk menginap. Bisa jadi kalian akan pulang malam ini juga,
tapi bawa sajalah."
"Ke mana?"
"Rombongan pemburu bebek menemukan mayat di Sungai Elk subuh tadi. Kemungkinan korban Buffalo Bill.
Kasusnya sudah ditangani kepolisian setempat, tapi Jack tidak mau menunggu hasil penyidikan mereka." Brigham
berhenti di pintu Sayap C. "Dia butuh orang yang bisa mengambil sidik jari mayat terapung. Kau punya pengalaman di
lab—kau pasti sanggup, bukan?"
"Coba kulihat dulu perlengkapannya."
Brigham membuka koper, dan Starling memeriksa isinya. Semuanya ada, kecuali kamera.
"Aku perlu Polaroid CU-5 untuk pemotretan skala satu-satu, Mr. Brigham, juga film dan baterai." "Beres."
Brigham menyerahkan tas kanvas, dan ketika Starling merasakan berat tas itu, ia langsung mengerti kenapa Brigham
yang ditugaskan memanggilnya.

ben99 ebooks collections 23


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Kau belum punya pistol dinas, bukan?"


"Belum."
"Kau harus bawa senjata lengkap. Perlengkapan ini sama seperti yang kaugunakan di lapangan tembak. Pistolnya
milikku. Modelnya sama seperti yang kau-pakai berlatih, tapi gerak picunya sudah dibuat lebih lancar. Coba kautarik-tarik
picunya tanpa peluru di kamarmu nanti malam, kalau ada waktu. Kutunggu di mobil di belakang Sayap C dalam sepuluh
menit, sekalian dengan kameranya. Dan satu lagi, di Blue Canoe tidak ada WC, jadi sebaiknya kau ke kamar kecil dulu.
Cepatlah."
Starling hendak menanyakan sesuatu, tapi Brigham sudah membalik dan pergi.
Pasti Buffalo Bill, kalau Crawford sendiri yang berangkat, kata Starling dalam hati. Apa yang dimaksud Brigham
dengan Blue Canoe? Tapi jangan pikirkan hal-hal lain kalau sedang berkemas. Starling berkemas dengan cepat dan rapi.
"Apakah...?"
"Tenang saja," Brigham memotong ketika Starling masuk ke mobil. "Gagangnya memang membayang di balik
jaketmu, tapi untuk sementara cukuplah." Starling memakai sarung pistol yang menempel pada rusuk, sementara sebuah
speedloader menggantung pada ikat pinggangnya.
grigham mengarahkan mobil ke landasan pacu Quantico. Ia mengemudi dengan kecepatan tepat pada batas maksimum.
Ia berdeham. "Ada satu.hal yang perlu kauketahui tentang tugas lapangan, Starling. Di luar sana kau tidak perlu
memikirkan urusan politik."
"Oh?"
"Tindakanmu mengamankan garasi di Baltimore itu sudah tepat. Kau kuatir soal liputan TV?" "Perlukah aku kuatir?" "Ini
antara kita saja, ya?" "Oke."
Brigham membalas salam marinir yang sedang mengatur lalu lintas.
"Dengan mengajakmu hari ini, Jack terang-terangan menunjukkan dia percaya pada kemampuanmu," kata Brigham.
"Siapa tahu ada orang di Office of Professional Responsibility yang sedang tidak enak perut. Mengerti maksudku?"
"Hmmm."
"Crawford tak pernah menelantarkan anak buah. Dia sudah bicara dengan orang-orang di atas, dan dia menegaskan
bahwa kau memang harus mengamankan tempat itu. Dia membiarkanmu bergerak telanjang—tanpa atribut kedinasan,
dan itu pun sudah dikatakannya. Kepolisian Baltimore juga agak lamban datang ke lokasi. Selain itu, Crawford butuh
bantuan hari ini, dan dia harus menunggu paling tidak satu Jam sebelum Jimmy Price bisa mengirim orang dari 'ab. Jadi,
inilah kesempatanmu, Starling. Tapi asal tahu saja, mayat terapung bukan pekerjaan mudah, fei bukan hukuman untukmu,
tapi orang luar bisa saja mengartikannya begitu, kalau mereka mau. Beginj Crawford selalu punya pertimbangan tersendiri
kalau bertindak, tapi dia tidak suka memberi penjelasan panjang-lebar, itulah sebabnya aku yang memberitahu mu. Kalau
kau mau bekerja sama dengan Crawford kau harus tahu betul siapa dia."
"Aku belum seberapa kenal dengannya."
"Dia sedang banyak pikiran, selain Buffalo Bill. Istrinya, Bella, sakit keras- Dia... tidak mungkin sembuh. Crawford
merawatnya di rumah. Kalau bukan karena Buffalo Bill, dia pasti sudah minta cuti."
"Aku baru tahu."
"Memang tidak dibicarakan. Jangan katakan padanya bahwa kau turut prihatin atau sebagainya. itu tidak membantu...
mereka sempat hidup bahagia."
"Terima kasih Anda memberitahuku."
Wajah Brigham kembali cerah ketika mereka tiba di landasan. "Ada beberapa hal penting yang akan kukatakan pada
akhir kursus menembak, Starling. Usahakan kau bisa hadir." Ia mengambil jalan pintas di antara dua hanggar.
"Oke."
"Keterampilan yang kuajarkan kemungkinan besar takkan pernah terpakai di lapangan. Aku berharap kau takkan perlu
menggunakannya. Tapi kau punya bakat, Starling. Kalau terpaksa menembak, kau bisa menembak. Lakukanlah latihanmu
dengan sebaik-baiknya."
"Oke."
"Jangan sekali-sekali simpan pistol di dalam tas." "Oke."
"Berlatihlah di kamar sebelum tidur. Simpan pistolnya di tempat yang mudah dijangkau."
"Akan kulakukan."
pesawat Beechcraft tua bermesin ganda menunggu apron. Pintunya terbuka dan lampu di kedua ujung yap berkedap-
kedip. Sebelah baling-baling berputar kencang, menyabet-nyabet rumput di sisi landasan.
"Ini yang Anda maksud dengan Blue Canoe?" tanya Starling. "Yap."
"Kelihatannya agak kecil dan tua."
"Memang tua," ujar Brigham riang. "Pesawat ini disita Drug Enforcement waktu jatuh di 'Glades' bertahun-tahun lalu.
Tapi sekarang kondisinya sudah prima lagi. Moga-moga Gramm dan Rudman takkan tahu kita memakainya—seharusnya
kita naik bus." Ia berhenti di samping pesawat dan mengambil bagasi Starling dari bangku belakang. Lalu ia menyerahkan
tas itu dan sekaligus bersalaman.
Dan kemudian, tanpa sengaja, Brigham berkata, "Semoga Tuhan melindungimu, Starling." Kata-kata itu terasa janggal
bagi lidah marinirnya. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia berkata demikian, dan wajahnya mendadak terasa panas.
"Thanks... thanks, Mr. Brigham."
Crawford sudah duduk di kursi kopilot. Ia telah membuka jas dan memakai kacamata hitam. Ia berpaling pada Starling
ketika mendengar pilot menutup pintu.
Starling tak dapat melihat mata di balik kacamata hitam itu, dan ia seperti berhadapan dengan orang asing. Crawford
tampak pucat dan keras, bagaikan akar yang harus didorong dengan buldoser.
"Duduk dan bacalah," ia berkata singkat.
Di kursi di belakangnya ada berkas kasus tebal. Sampulnya bertulisan BUFFALO BILL.
Staring menggenggamnya erat-erat ketika Blue Canoe berderit dan bergetar dan mulai menggelinding.

Bab Sebelas

T epi landasan tampak kabur, lalu tertinggal di bawah. Di sebelah timur, Teluk Chesapeake terlihat bermandikan
cahaya matahari pagi ketika pesawat kecil itu membelok.

Clarice Starling melihat gedung Academy serta pangkalan marinir yang mengelilinginya di Quantico. Sejumlah

pasukan marinir tampak berlari-lari di lapangan latihan. Beginilah pemandangan dari atas. Suatu malam, seusai latihan

menembak, ketika Starling berjalan seorang diri sambil merenung di Hogan's Alley yang telah sepi, ia mendengar

gemuruh pesawat terbang di atasnya dan kemudian, dalam keheningan yang menyusul, suara-suara berseru-seru di langit

ben99 ebooks collections 24


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

yang gelap—pasukan para yang sedang berlatih terjun ma'am, saling memanggil sambil meluncur dalam kejapan. Dalam

hati ia bertanya, bagaimana rasanya, menunggu aba-aba di pintu pesawat, bagaimana rasa-nya menerjang kegelapan pekat.

Barangkali seperti inilah rasanya. Starling membuka berkas di pangkuannya. Buffalo Bill diketahui telah membunuh lima

kali.
Paling tidak lima kali, dan mungkin lebih. Dalam se puluh bulan terakhir ia telah menculik seorang wanit^ membunuhnya,
lalu mengulitinya. (Mata Starling Se gera beralih ke tes histamin bebas pada laporan autopsi, yang mengkonfirmasikan
bahwa korban dibunuh lebih dulu sebelum Buffalo Bill melanjutkan aksinya.)

Masing-masing mayat dibuang di sungai yang berbeda-beda, di sebelah hulu jembatan jalan raya antar negara bagian,

di negara bagian yang berbeda-beda pula. Semua orang tahu Buffalo Bill selalu berpindah tempat. Tapi selain itu tak ada

lagi yang diketahui pihak berwajib, kecuali bahwa ia memiliki paling tidak satu senjata api, kemungkinan revolver Colt

atau tiruannya. Penyelidikan terhadap selongsong-selongsong kosong yang ditemukan menunjukkan ia lebih menyukai

peluru .38 Special daripada peluru .357 yang lebih panjang.

Aliran sungai tidak meninggalkan sidik jari, rambut, maupun serat kain.

Hampir dapat dipastikan ia pria kulit putih: kulit putih karena pembunuh berantai pada umumnya memilih korban dari

kelompok etnik sendiri dan semua korban berkulit putih; pria karena di zaman kita nyaris tak pernah ada wanita yang

menjadi pembunuh berantai.

Dua kolumnis suatu harian besar mengambil judul berita dalam sajak e.e. cummings berjudul

"Buffalo Bill": ...HOW DO YOU LIKE YOUR BLUEEYED BOY MISTER DEATH.
Seseorang, mungkin Crawford, telah menempelku" kutipan tersebut pada sisi sebelah dalam sampul
berkas kasus itu.
Tak ada korelasi nyata antara tempat Bill menculik para wanita muda dan tempat ia membuang
mayat-mayat mereka.
pari kasus-kasus di mana mayat ditemukan cukup cepat sehingga waktu kematian dapat ditaksir

secara akurat, pihak kepolisian mengetahui satu hal lagi: gill tidak langsung membunuh korban-

korbannya, melainkan membiarkan mereka hidup selama beberapa saat. Para korban baru tewas

antara satu minggu sampai sepuluh hari setelah mereka diculik. Itu berarti Bill mempunyai tempat

untuk menawan mereka serta tempat untuk beraksi tanpa terganggu. Dan ini berarti ia bukan pengembara.

Ia lebih tepat dikatakan pemangsa yang bersembunyi di tempat aman. Entah di mana.

Itulah yang paling mengerikan bagi masyarakat umum—kebiasaan Bill menawan para korbannya dalam keadaan hidup

selama seminggu atau lebih, sementara mereka tahu mereka akan dibunuh.

Dua korban mati digantung, tiga ditembak. Tak ada petunjuk mengenai pemerkosaan atau penganiayaan fisik sebelum

mereka tewas, dan laporan-laporan autopsi pun tidak menyebutkan "kerusakan khusus pada alat kelamin", meskipun para

ahli patologi berpendapat hal seperti itu sukar ditentukan pada jenazah yang sudah mulai rusak.

Semua korban ditemukan dalam keadaan telanjang. Dalam dua kasus, baju luar korban ditemukan di tepi jalan di dekat

rumah masing-masing, terbelah di punggung bagaikan baju untuk pemakaman.

Ekspresi Starling tidak berubah ketika mengamati fcto-foto yang terlampir. Dari segi penampilan fisik, mayat yang

sempat terapung di air paling menung ketahanan mental. Kondisinya sungguh menyedihkan seperti lazimnya korban

pembunuhan di luar ruangan Martabat korban yang terinjak-injak menimbulkan kemarahan yang harus dipendam agar

penyidikan ber-jalan lancar.


Pada kasus-kasus pembunuhan di dalam rumah sering kali ditemui petunjuk-petunjuk mengenai tingkah laku korban
yang tidak menyenangkan, dan para korban sang korban—istri yang babak belur, anak-anak yang dianiaya—berkerumun
dan berbisik-bisik bahwa korban telaH mendapat ganjaran setimpal atas perbuatannya, dan sering kali memang demikian
halnya.
Namun tak seorang pun patut mengalami nasib seperti para korban Buffalo Bill. Kulit mereka pun tak utuh lagi ketika
mereka tergeletak di tepi sungai, di antara kaleng-kaleng oli dan sampah lainnya. Wajah para korban yang ditemukan saat
cuaca dingin pada umumnya masih dapat dikenali. Starling sadar mereka tampak meringis bukan karena menahan sakit,
melainkan karena digerogoti ikan dan bulus yang mencari makan.

ben99 ebooks collections 25


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Ia takkan seberapa terusik oleh foto-foto itu kalau saja udara di kabin tidak begitu pengap dan kalau saja pesawatnya

tidak oleng karena sebelah baling-balingnya lebih "menggigit", dan kalau saja matahari tidak begitu terik menusuk-nusuk.
Buffalo Bill bisa diringkus. Starling berpegang pada keyakinan tersebut agar dapat duduk tenang kabin pesawat yang
semakin lama terasa semak-sempit, dengan setumpuk informasi mengerikan di
granny a. Ia bisa membantu menghentikan orang Kemudian mereka bisa memasukkan berkas kasus jjjj ke dalam laci arsip
dan melupakannya.

Ia menatap bagian belakang kepala Crawford. Kalau hendak memburu Buffalo Bill, ia berada bersama orang yang tepat.

Crawford telah berhasil melacak tiga pembunuh berantai, namun bukan tanpa korban. Will Graham, pemburu paling hebat

yang pernah bertugas di bawah Crawford, merupakan legenda di Academy; kini ia menjadi pemabuk di Florida, dengan

wajah yang membuat orang enggan memandangnya, demikian kabar burung yang didengar Starling.

Barangkali Crawford sadar diperhatikan dari belakang. Ia bangkit dari tempat duduknya. Si pilot menyesuaikan posisi

kemudi untuk menyeimbangkan pesawat ketika Crawford pindah ke belakang dan duduk di samping Starling. Crawford

melepaskan kacamata hitamnya menggantinya dengan kacamata bifokal, dan Starling langsung merasa kembali

mengenalnya.

"Aku kepanasan, kau kepanasan?" tanya Crawford. "Bobby, di sini terlalu panas," serunya kepada pilot di depan. Bobby

memutar tombol, dan seketika udara dingin mengalir. Embusannya di kabin yang lembap menghasilkan beberapa butir

salju yang kemudian menempel di rambut Starling.

Lalu Jack Crawford mulai berburu. Matanya menyerupai langit musim dingin yang cerah.
Ia membuka peta Amerika Serikat bagian Tengah dan Timur yang terlampir pada berkas kasus. Lokasi masing-masing
korban ditemukan telah ditandai dengan titik-titik: yang tampak tersebar secara acak, saling berjauhan.

Crawford mengambil bolpoin dari kantong dan menandai lokasi terbaru, tujuan mereka.

"Sungai Elk, enam mil dari U.S. 79," katanya, "Kali ini kita beruntung. Mayatnya tersangkut tali pancingan. Polisi

setempat menduga mayat itu belum lama dibuang. Mereka membawanya ke Potter, ibu kota COUNTY. Aku ingin

secepatnya mengidentifikasi korban, agar kita bisa mencari orang-orang yang mungkin menyaksikan penculikan. Sidik

jarinya akan kita kirim lewat saluran darat." Crawford mengangkat dagu dan menatap Starling. "Jimmy Price bilang kau

mampu menangani mayat terapung."

"Sebenarnya, aku belum pernah menangani mayat terapung utuh," sahut Starling. "Aku sekadar mengambil sidik jari

dari tangan-tangan yang diterima Mr. Price lewat pos setiap hari. Tapi cukup banyak di antaranya berasal dari mayat

terapung."

Orang-orang yang belum pernah bertugas di bawah pengawasan Jimmy Price cenderung menganggapnya orang tua

yang suka menggerutu, namun pada dasarnya baik hati. Tapi sesungguhnya, Jimmy Price memang bertabiat buruk. Ia

penyelia Latent Prints di lab Washington, dan Starling sempat bekerja di bawah bimbingannya sebagai Forensic Fellow.

"Si Jimmy," kata Crawford sambil tersenyum sendiri. "Apa sebutan untuk pekerjaannya?"

"Posisi itu disebut 'lab wretch'. Ada juga yang menyebutnya Tgor'—itu yang tertulis pada celemek karet yang harus

kita pakai."

"Ya, itu dia."

"Kita disuruh membayangkan bahwa kita sedang membedah katak."


»Hmm, begitu...."

"Lalu kita diberi paket dari UPS. Semuanya ikut penonton, bahkan ada yang buru-buru kembali dari rehat kopi—mereka

berharap kita muntah. Aku sanggup mengambil sidik jari mayat terapung. Malahan..."

"Oke, sekarang coba lihat ini. Korban pertama yang kita ketahui ditemukan di Sungai Blackwater di Missouri, di

pinggiran Lone Jack, bulan Juni lalu. Korban bernama Bimmel, dilaporkan hilang di Belvedere, Ohio, tanggal 15 April,

dua bulan sebelumnya. Tidak banyak petunjuk yang berhasil kita peroleh— kita butuh waktu tiga bulan sekadar untuk

mengidentifikasi dia. Korban berikut diculik di Chicago pada minggu ketiga bulan April. Dia ditemukan di sungai

ben99 ebooks collections 26


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Wabash di pusat kota Lafayette, Indiana, hanya sepuluh hari setelah dia diculik, sehingga kita masih sempat memastikan

apa yang terjadi dengannya. Kemudian ada wanita kulit putih, awal dua puluhan, dibuang ke sungai Rolling Fork di dekat

1-65, sekitar tiga puluh delapan mil sebelah selatan Louisville, Kentucky. Sampai sekarang dia belum diidentifikasi. Lalu

korban yang bernama Varner. Dia diculik di Evansville, Indiana, dan dibuang ke sungai Embarras di dekat Interstate 70 di

bagian timur Illinois.

Setelah itu si pembunuh berpindah ke Selatan dan membuang satu korban ke sungai Conasauga di Damascus, Georgia,

tidak jauh dari Interstate 75. Namanya Kittridge—ini foto wisudanya. Si pembunuh luar biasa mujur—sampai sekarang

belum pernah ada saksi yang melihatnya menculik korban-korbannya. Kita belum melihat pola tertentu, kecuali bahwa

semua korban Uang di dekat jalan raya antarnegara bagian."


"Kalau jalur-jalur berlalu lintas paling padat dilacaL mundur dari tempat-tempat dia membuang korbannya apakah ada
titik temunya?"
"Tidak."
"Bagaimana kalau kita... MENGANDAIKAN... bahwa dia membuang korban dan menculik yang berikut dengan sekali
jalan?" tanya Starling. Ia sengaja tidak menggunakan kata ASUMSI yang terlarang. "Korban pertama tentu dibuang dulu,
bukan, sebab siapa tahu ada masalah dengan penculikan berikut? Jadi, kalaupun tertangkap basah, dia hanya bisa
dikenakan tuduhan penyerangan karena tak ada mayat di mobilnya. Nah, bagaimana kalau kita tarik garis penghubung
dari masing-masing lokasi penculikan ke lokasi pembuangan sebelumnya?"

"Ide bagus, tapi dia juga berpikir ke situ. Kalaupun dia MENGERJAKAN kedua hal itu dengan sekali jalan, maka dia

berputar-putar dulu. Kita sudah mengadakan simulasi komputer, mula-mula dengan menganggap dia bergerak ke barat

lewat jalur-jalur Interstate, lalu sebaliknya. Kita juga sudah mencoba berbagai kombinasi berdasarkan perkiraan tanggal

masing-masing penculikan dan pembuangan. Datanya dimasukkan ke komputer dan hasilnya cuma asap. Komputer kita

berkesimpulan dia tinggal di daerah Timur. Dia tidak mengikuti siklus peredaran bulan. Tak ada korelasi dengan

konvensi-konvensi di kota-kota yang bersangkutan. Dia cerdik, Starling."

"Dan terlalu berhati-hati untuk orang yang tidak memedulikan nyawanya sendiri."

Crawford mengangguk. "Ya, terlalu berhati-ha°' Dia sudah tahu cara mengadakan hubungan yan» bermakna, dan dia

ingin terus menikmatinya. Kukira clia takkan berbuat nekat."


Crawford menuang air dari termos dan memberikannya pada pilot mereka. Setelah memberikan segelas pada Starling,
ia mencampurkan Alka-Seltzer untuk dirinya sendiri.
Perut Starling serasa diaduk-aduk ketika pesawat mereka mulai turun.
"Ada beberapa hal, Starling. Aku mengandalkanmu untuk urusan forensik, tapi aku butuh lebih dari itu. Kau tidak
banyak bicara, dan itu tidak apa-apa, aku pun begitu. Tapi jangan pernah beranggapan kau harus punya fakta baru dulu
sebelum bisa membicarakan sesuatu. Jangan ragu-ragu menanyakan apa pun.. Kau akan melihat hal-hal yang luput dari
perhatianku dan aku ingin tahu semuanya. Barangkah kau memang berbakat. Dan inilah kesempatan untuk membukti-
kannya."
Dalam hati Starling bertanya sudah berapa lama -Crawford berniat melibatkannya dalam kasus ini, sudah berapa lama
ia memupuk hasrat Starling untuk membuktikan kemampuan. Crawford memang pemimpin yang pandai menangani anak
buah.

"Kalau kau cukup lama memikirkan dia dan melihat tempat-tempat yang didatanginya, kau akan mengembangkan indra

keenam tentang dia," Crawford melanjutkan. "Percaya atau tidak, pada saat-saat tertentu kau bahkan tidak membencinya.

Lalu, kalau kau beruntung, dari segala sesuatu yang telah kauketahui ada satu hal yang tiba-tiba menarik perhatianmu.

Se
gera beritahu aku kalau itu terjadi, Starling.

Tanpa campur tangan pihak luar pun, kejahatan seperti ini sudah cukup membingungkan. Jangan gugup karena

serombongan petugas polisi. Bukalah matamu Dengarkan bisikan hati nuranimu. Pisahkan kejahatan ini dari semua

yang terjadi di sekelilingmu. Jangan paksakan pola tertentu pada orang ini. Amati semuanya dengan pikiran terbuka,

dan biarkan dia yang menunjukkannya.


"Satu hal lagi: penyelidikan seperti ini tak ubahnya kebun binatang. Kita akan bekerja di berbagai wilayah hukum, dan
beberapa di antaranya dipimpin oleh orang-orang yang tidak kompeten. Kita harus pandai-pandai membawa diri, agar
mereka mau bekerja sama. Sekarang ini kita ke Potter, West Virginia. Aku tidak tahu seperti apa orang-orang yang akan
kita temui di sana. Mungkin saja takkan ada masalah, tapi mungkin juga kita akan disambut seperti petugas pajak."
Pilot di depan melepaskan EARPHONE dan menoleh sedikit. "Kita sudah siap mendarat, Jack. Kau tetap di belakang?"
"Yeah," jawab Crawford. "Selamat bertugas, Starling."

Bab Dua Belas

ben99 ebooks collections 27


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Potter funeral home menempati rumah paling besar di Potter Street di Potter, West Virginia, dan
sekaligus berfungsi sebagai kamar mayat untuk Rankin County. Posisi petugas visum et repertum
dipegang oleh seorang dokter umum bernama Dr. Akin. Jika ia menilai kematiaa .seseorang patut
dipertanyakan, maka mayat bersangkutan dikirim ke Claxton Regional Medical Centre di county
tetangga, di mana terdapat ahli patologi.
Clarice Starling duduk di bangku belakang mobil patroli yang menjemput mereka di lapangan
terbang. Ia terpaksa merapat ke kisi-kisi pemisah agar dapat mendengar suara deputi yang sedang
memberi penjelasan kepada Jack Crawford sambil menyetir.
Sebuah upacara pemakaman sudah siap dilangsungkan di Potter Funeral Home. Orang-orang yang
hendak melayat, masing-masing dengan pakaian terbaik mereka, membentuk antrean tertib dari pintu
sampai ke trotoar.
Di pelataran parkir pribadi di belakang gedung itu, tempat mobil jenazah menunggu, ada dua deputi
muda dan satu deputi tua yang berdiri di bawah pohon elm bersama dua polisi negara bagian. Udara
tidak terlalu dingin, sehingga embusan napas mereka tidak berembun.
Starling mengamati para petugas itu ketika mobil patroli yang ditumpanginya membelok ke pelataran
parkir, dan saat itu juga ia tahu latar belakang orang-orang tersebut. Ia tahu mereka tinggal di rumah-
rumah yang mempunyai kabinet berlaci sebagai pengganti lemari pakaian, dan ia pun dapat
membayangkan isi kabinet-kabinet itu. Ia tahu orang-orang itu mempunyai saudara yang
menggantungkan baju pada dinding karavan yang mereka diami. Ia tahu bahwa deputi tua itu
menghabiskan masa kecilnya di rumah dengan pompa air di serambi depan dan dulu menuju halte bus
sekolah dengan menenteng sepatu agar tidak kotor terkena lumpur, persis seperti yang dilakukan
ayahnya sendiri. Ia tahu mereka membawa makan siang dalam kantong-kantong kertas penuh noda
minyak karena telah digunakan berulang-ulang, dan bahwa kantong-kantong kertas itu dilipat lagi
setelah makan siang dan diselipkan ke kantong belakang celana -jeans masing-masing.
Starling ragu apakah Jack Crawford mengenal dunia orang-orang itu.
Sisi dalam pintu belakang mobil patroli tidak dilengkapi gagang. Hal ini diketahui Starling ketika
Crawford dan penjemput mereka turun dan mulai menuju bagian belakang rumah mayat. Ia terpaksa
menggedor-gedor kaca sampai salah satu deputi di bawah pohon melihatnya, dan si pengemudi
tergopoh-gopoh kembali dan membukakan pintu dengan wajah merah padam.
Ketiga deputi memperhatikannya sambil melirik ketika ia berjalan melewati mereka. Salah seorang
menyapa dengan, "Ma'am." Starling mengangguk singkat dan tersenyum sekadarnya, lalu menyusul
Crawford ke serambi belakang.
Setelah Starling cukup jauh, salah satu deputi muda, seorang pengantin baru, menggaruk-garuk dagu
dan berkomentar, "Dia tidak secantik yang dia pikir."
"Hmm, kalaupun dia menganggap dirinya cantik minta ampun, aku terpaksa mendukungnya," sahut
rekannya yang sebaya. "Aku takkan keberatan berkencan dengan dia."
"Aku mendingan makan semangka, meskipun udara lagi dingin," gumam si deputi tua.
Crawford sedang bicara dengan chief deputy, seorang pria kecil yang kaku, dengan kacamata
berbingkai tipis dan sepatu bot berpinggiran elastis yang tercantum dengan nama "Romeos" dalam
katalog-katalog.
Mereka sudah pindah ke koridor belakang yang remang-remang, tempat sebuah mesin Coke
berdengung dan berbagai barang dirapatkan ke dinding—mesin jahit, sepeda roda tiga, segulung
rumput tiruan, serta tenda kanvas bermotif garis yang terlilit pada tiang-tiangnya. Di dinding ada
gambar Saint Cecilia pada keyboard. Rambutnya dikepang mengelilingi kepala, dan keyboard-nya
bertaburan mawar.
"Terima kasih atas pemberitahuan Anda yang begitu cePat, Sheriff," ujar Crawford.
Si chief deputy tidak meladeni basa-basi itu. Bukan kami yang menghubungi Anda, tapi orang dari
kejaksaan," katanya. "Sheriff Perkins sedang mengikuti tur ke Hawaii bersama Mrs. Perkins. Saya
sempat interlokal ke sana jam delapan tadi pagj berarti jam tiga dini hari waktu Hawaii. Dia akan
menghubungi saya lagi hari ini, tapi dia berpesan bahwa Tugas Nomor Satu adalah mencari tahu
apakah korban warga sini. Bisa jadi kami sekadar terkena getah perbuatan orang luar. Kami pernah
mendapatkan mayat yang dibawa dari Phenix City, Alabama."
"Di sinilah kami bisa membantu Anda, Sheriff Kalau..."
"Saya sudah menghubungi markas komando polisi negara bagian di Charleston. Komandannya akan
mengirim beberapa petugas dari Criminal Investigation Section, atau lebih umum dikenal sebagai
CIS. Mereka akan memberikan segala bantuan yang kami perlukan." Koridor mulai dipenuhi deputi
dan polisi. "Saya minta Anda bersabar dulu. Kami bukannya tidak mau bekerja sama, tapi untuk
sementara..."
"Sheriff, dalam kejahatan seks seperti ini, ada beberapa aspek yang lebih mudah dibahas di antara kita
berdua saja, sebagai sesama pria, Anda mengerti maksud saya, bukan?" Crawford berkata sambil me-
nyinggung kehadiran Starling dengan gerakan dagu. Ia menggiring lawan bicaranya ke salah satu
ruang kerja dan menutup pintu. Starling terpaksa memendam kegusarannya di hadapan para deputi.
Sambil menger-takkan gigi, ia menatap Saint Cecilia dan membalas senyum orang suci itu sambil
menguping pembicaraan di balik pintu. Ia mendengar suara-suara bernada sengit, lalu penggalan-
penggalan percakapan telepon-Tak sampai empat menit kemudian, Crawford dan si chief deputy
sudah keluar lagi.
Si chief deputy pasang tampang kencang. "Oscaf' panggil Dr. Akin. Seharusnya dia memang ikut
upacara, tapi rasanya mereka belum mulai. Beritahu dia ada telepon dari Claxton."
Dr. Akin, petugas visum setempat, memasuki ruang kerja yang sempit. Ia berdiri dengan sebelah kaki
diangkat ke atas kursi dan berbicara sebentar dengan ahli patologi di Claxton. Kemudian ia memberi
lampu hijau kepada Crawford.
Jadi, di ruang pembalseman dengan wallpaper bermotif mawar dan langit-langit tinggi itulah Clarice
Starling untuk pertama kali menghadapi secara langsung bukti perbuatan Buffalo Bill.
Kantong jenazah berwarna hijau terang yang tertutup rapat merupakan satu-satunya benda modern di
ruangan tersebut. Kantong itu terbaring di meja pembalseman kuno, dan tercermin pada pintu kaca

ben99 ebooks collections 28


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

lemari-lemari berisi berbagai perlengkapan dan peralatan.


Crawford kembali ke mobil untuk mengambil transmiter sidik jari, sementara Starling membongkar
peralatannya di tempat cuci tangan yang menempel di dinding.
Terlalu banyak orang di dalam ruangan itu. Beberapa deputi, si chief deputy, semuanya ikut masuk
dan sepertinya tidak berniat meninggalkan tempat tersebut. Ini tidak benar. Kenapa Crawford tidak
mengusir mereka?
Dr. Akin menyalakan kipas angin yang besar dan berdebu.
Clarice Starling masih berdiri di tempat cuci tangan. Ia kini membutuhkan pegangan baru untuk
membang-titkan keberaniannya. Ia teringat sesuatu, dan kenang-811 itu terasa membantu namun
sekaligus menyayat:
Ibunya berdiri di tempat cuci tangan, membilas topi ayahnya yang berlumuran darah dengan air
dingin sambil berkata, "Jangan kuatir, Clarice. Suruh adik-adikmu cuci tangan, lalu datang ke meja
makan Kita harus bicara, setelah itu kita siapkan makan malam.'"
Starling melepaskan syal dan mengikatnya seperti kerudung. Dari tas peralatannya ia mengambil se-
pasang sarung tangan bedah. Ketika ia angkat bicara, untuk pertama kali sejak kedatangannya di
Potter, suaranya lebih keras dari biasanya dan Crawford pun sampai melongok dari pintu.
"Gentlemen. Gentlemen] Saya minta perhatian Anda sejenak." Ia mengangkat tangan untuk
memasang sarung tangan. "Anda telah melaksanakan tugas Anda. Saya yakin keluarga korban akan
berterima kasih pada Anda, tapi sekarang biarkan saya menangani urusan selanjutnya. Silakan tunggu
di luar saja."
Crawford melihat para petugas mendadak terdiam penuh hormat. Beberapa di antaranya berbisik-
bisik: "Ayo, Jess, kita keluar saja." Crawford sadar suasananya telah berubah, di hadapan korban:
siapa pun wanita itu, dari mana pun ia berasal, ia telah terbawa ke sini oleh aliran sungai, dan dalam
keadaan terbaring tak berdaya di atas meja, ia mempunyai hubungan khusus dengan Clarice Starling.
Crawford melihat bahwa di tempat ini Starling dengan mudah memainkan peran wanita tua yang
menunggui jenazah dan memandikannya sebelum pemakaman, seperti lazimnya di daerah pedesaan.
Kemudian tinggal Crawford, Starling, dan si dokter bersama korban. Dr. Akin dan Starling
berpandangan»
j-akan saling mengenal. Keduanya merasa senang sekaligus kikuk. Crawford mengambil Vicks
VapoRub dari saku, menawarkannya kepada yang lain. Starling me-u untuk melihat apa yang
seharusnya ia lakukan. Ketika Crawford dan si dokter menggosokkan Vicks di sekeliling hidung, ia
pun mengikuti contoh mereka.
Ia mengambil kamera dan tas peralatannya di tempat cuci tangan. Di belakangnya ia mendengar
ritsleting kantong jenazah dibuka.
Starling menatap motif mawar pada wallpaper. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu
mengembuskannya pelan-pelan. Setelah itu ia membalik dan menatap jenazah yang telentang di meja.
"Seharusnya tangannya dibungkus kantong kertas," ia berkomentar. "Aku akan melakukannya nanti,
kalau kita sudah selesai." Ia memindahkan tombol kamera dari posisi otomatis ke posisi manual,
kemudian mulai memotret.
Korban seorang wanita muda berpinggul lebar dengan tinggi 167 senti, menurut meteran Starling,
bagian-bagian tubuh tempat kulitnya diambil tampak kelabu terkena air, namun airnya dingin dan
terlihat ie|as bahwa korban baru beberapa hari terendam. Jenazah itu dikuliti secara rapi dari bawah
payudara sampai ke lutut.
Payudaranya kecil dan di antara keduanya, tepat diatas tulang dada, terlihat penyebab kematiannya,
yaitu luka selebar telapak tangan berbentuk bintang.
kepalanya yang bundar dikuliti dari atas alis dan telinga , sampai ke tengkuk. "Dr. Lecter sudah
meramalkan ini akan terjadi “ ujar Starling.
Crawford berdiri sambil menyilangkan tangan mentara Starling memotret. "Ambil foto telinganya»
ujarnya singkat.
Ia mengerutkan bibij. ketika berjalan mengelilingj jenazah. Starling melepaskan sarung tangan untuk
memeriksa kaki korban. Sepotong tali pancingan dan kail bermata tiga yang melilit dan menahan
korban di sungai masih tersangkut pada betis.
"Apa yang kaulihat, Starling?"
"Hmm, dia bukan orang sini—di masing-masing telinganya ada tiga lubang tindik, dan dia memakai
cat kuku berkilau. Sepertinya orang kota. Bulu di kakinya berumur sekitar dua minggu dan
tumbuhnya lembut sekali. Kukira dia biasa menghilangkan bulu kaki dengan lilin. Bulu ketiaknya
juga. Dia juga memutihkan bulu halus pada bibir atasnya. Dia cukup rajin merawat diri, tapi sudah
beberapa waktu tidak dapat melakukannya."
"Bagaimana dengan luka di dada?"
"Entahlah," ujar Starling. "Sepintas lalu kelihatan seperti luka tempat peluru keluar, hanya saja a&
luka lecet dan bekas moncong pistol di bagian atas.
"Bagus, Starling. Luka ini disebabkan peluru yang menembus di atas tulang dada. Gas yang
tersembul pada waktu letusan mengembang di antara kulit dan tulang, dan menghasilkan bentuk
bintang di sekeliling luka."
Dari balik dinding terdengar suara organ yang menandakan upacara pemakaman di depan telah
dimulai tengkuk . 'Kematian akibat kekerasan," Dr. Akin berkomentar Sambil mengangguk-angguk.
"Saya harus ke depan untuk mengikuti upacara, paling tidak sebagian. Keluarga almarhum selalu
mengharapkan kehadiran saya. Lamar akan membantu Anda di sini setelah selesai memainkan organ.
Saya percaya Anda akan mengamankan semua petunjuk untuk ahli patologi di Claxton, Mr.
Crawford."
"Dua kuku di tangan kirinya patah," Starling melanjutkan setelah Dr. Akin pergi. "Kuku itu patah di
dekat pangkal, dan di bawah beberapa kuku lain ada kotoran seperti tanah. Bisa kita ambil sedikit
untuk diperiksa?"
"Ambil contoh kotoran dan beberapa serpihan cat kuku," ujar Crawford. "Kita beritahu mereka,
sesudah ada hasilnya."
Lamar, asisten rumah mayat berbadan langsing dengan hidung merah karena wiski, muncul ketika
Starling sedang bekerja. "Anda pasti pernah jadi ahli merawat kuku di salon kecantikan."

ben99 ebooks collections 29


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Mereka bersyukur tidak menemukan bekas kuku pada telapak tangan korban—suatu tanda bahwa
sama seperti para korban lain, ia pun telah tewas sebelum dikuliti.
Bagaimana, Starling, kita balikkan dia untuk mengambil sidik jari?" tanya Crawford, begitu lebih
mudah."
Kalau begitu, kita mulai dengan gigi, setelah itu antar bisa membantu kita membalikkannya." Foto
saja, atau bagan?" Starling memasang perlengkapan tambahan pada kamera sidik jari.
Foto saja," jawab Crawford. "Bagan justru membingungkan kalau tidak disertai foto sinar-X. Foto
foto itu sudah memadai untuk memperpendek daftar wanita hilang yang masuk hitungan."
Lamar membuka mulut korban sesuai pengarah Starling dan menarik bibir wanita muda itu sementar
Starling menyisipkan kamera polaroid untuk memotret gigi depan. Bagian itu mudah, tapi Starling
jUga harus memotret gigi geraham dengan bantuan cermin sambil memperhatikan cahaya dari balik
pipi untuk memastikan lampu kilat di sekeliling lensa memang menerangi bagian dalam mulut.
Sejauh ini, prosedur tersebut hanya ia saksikan dalam peragaan oleh instruktur forensik.
Starling memperhatikan gambar geraham muncul pada foto polaroid pertama. Kemudian ia mengatur
pencahayaan dan mencobanya sekali lagi. Kali ini hasilnya lebih baik. Sangat baik, malah.
"Ada sesuatu di tenggorokannya," ujar Starling.
Crawford mengamati foto itu. Ia melihat benda gelap menyerupai selongsong, tepat di belakang
langit-langit lunak. "Coba ambilkan senter."
"Pada mayat terapung sering kali ada daun atau benda lainnya di dalam mulut," Lamar berkomentar.
Starling mengambil tang dari tas perlengkapan. Ia menatap Crawford, yang lalu mengangguk singkat.
Dalam sekejap Starling sudah berhasil mengeluarkan benda tersebut.
"Apa itu, semacam buah?" tanya Crawford.
"Bukan, Sir, ini kepompong," jawab Lamar, benar.
Starling menyimpannya dalam stoples. "Ada baiknya kepompong ini Anda perlihatkan kepada Chief
Deputy," ujar Lamar.
Starling tidak mengalami kesulitan dalam mengambil sidik jari. Semula ia telah bersiap-siap
menghadapi kemungkinan terburuk, namun ternyata ia tidak perlu menggunakan berbagai teknik
khusus yang rumit dan merepotkan. Sidik jari korban diambilnya dengan kartu dpis yang dipegang
oleh alat berbentuk tapal kuda. ja juga mengambil sidik telapak kaki, sebab ada kemungkinan satu-
satunya referensi mereka hanya sidik telapak kaki bayi dari sebuah rumah sakit.
Pada kedua bahu korban terdapat dua luka berbentuk segitiga, di tempat kulitnya diambil. Starling
segera memotret.
"Ukur sekalian," kata Crawford. "Gadis dari Akron juga terluka ketika Bill mencopot bajunya. Sebe-
narnya hanya luka gores, tapi bentuknya cocok dengan irisan di blusnya yang ditemukan di tepi jalan.
Tapi ini sesuatu yang baru. Aku belum pernah melihatnya."
"Sepertinya ada luka bakar di bagian belakang betisnya," ujar Starling.
"Orang-orang tua sering mengalaminya," Lamar menimpali. "Apa?" tanya Crawford.
"SAYA BILANG ORANG-ORANG TUA SERING MENGALAMINYA."
"Saya tidak tuli, saya minta penjelasan. Ada apa dengan orang-orang tua?"
"Kadang-kadang ada orang tua yang meninggal ketika sedang memakai bantal pemanas, dan setelah
"tereka mati, bantal itu menimbulkan luka bakar, Padahal tidak seberapa panas. Soalnya tak ada sir-
kujasi di bawah bantal."
Kita minta ahli patologi di Claxton memeriksanya untuk melihat apakah ini luka postmortem—setel^
kematian," Crawford berkata kepada Starling.
"Kemungkinan besar gara-gara knalpot mobil," Lamar menambahkan.
"Apa?"
"KNALPOT MO—knalpot mobil. Seperti waktu Billy Petrie mati tertembak dan dia ditaruh di bagasi
mobilnya. Istrinya mencari dia selama dua atau tiga hari, berputar-putar naik mobil itu. Waktu Billy
akhirnya dibawa ke sini, knalpot mobilnya yang panas sudah menimbulkan luka bakar persis seperti
ini, tapi di pinggang," Lamar menerangkan. "Saya sendiri tak pernah menaruh belanjaan di bagasi,
takut es krimnya meleleh."
"Pemikiran bagus, Lamar. Sayang kau tidak bekerja untuk saya," sahut Crawford. "Kau tahu siapa
yang menemukan korban di sungai?"
"Jabbo Franklin dan saudaranya, Bubba."
"Apa pekerjaan mereka?"
"Berkelahi di the Moose, mengganggu orang-orang yang tidak punya urusan dengan mereka—
seseorang datang ke the Moose untuk cari minum setelah seharian berada di tengah orang berduka,
dan langsung 'Duduk di situ, Lamar, dan mainkan Filipino Baby. Orang dipaksa memainkan Filipino
Baby berulang-ulang di piano tua yang lengket. Itu kesukaan Jabbo. 'Bikin saja lirik baru kalau kau
tidak hafal. J'a bilang, 'dan awas kalau kata-katanya tidak bersajak. Dia veteran perang. Sudah lima
belas tahun saya menunggu dia dibaringkan di meja ini."
"Kita perlu tes serotonin untuk luka bekas mata kail," ujar Crawford. "Saya akan memberitahu ahli
patologi di Claxton."
"Kail-kail ini terlalu rapat," Lamar berkomentar. "Bagaimana?"
"Kakak-adik Franklin memasang tali pancingan de-can kail-kail terlalu dekat satu sama lain. Ini me-
l^ggar hukum. Mungkin ini sebabnya mereka baru melapor tadi pagi."
"Sheriff mengatakan mereka pemburu bebek."
"Mereka pasti bilang begitu," baias Lamar. "Dua-duanya pembohong kelas dunia."
"Menurutmu, apa yang terjadi, Lamar?"
"Kakak-adik Franklin memasang tali pancingan dengan kail-kail yang rapat, dan mereka
mengangkatnya untuk melihat apa sudah ada yang tertangkap."
"Kenapa kau berpendapat begitu?"
"Melihat kondisi korban, belum waktunya dia mengapung."
"Memang."
"Berarti mereka takkan menemukannya kalau mereka tidak mengangkat tali pancingan. Mereka pasti
ketakutan dan akhirnya melapor polisi. Rasanya Dinas Kehutanan juga perlu diberitahu soal ini."
"Ya, rasanya begitu," sahut Crawford.

ben99 ebooks collections 30


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Mereka sering bawa telepon engkol di balik jok Ramcharger mereka. Itu juga bisa dihukum denda
atau kurungan di sini."
Crawford mengerutkan alis. Untuk menelepon ikan," ujar Starling. "Ikan-ikan i*kari tersengat arus
listrik kalau kabelnya dimasukkan e air dan engkolnya diputar. Ikannya mengambang dan tinggal
diangkat."
Betul," kata Lamar. "Anda dari daerah sini?"

"Cara itu dipakai di banyak tempat," jawab Starling.


Starling sebenarnya ingin mengatakan sesuatu sebelum kantong jenazah ditutup kembali, untuk
menun jukkan komitmen. Namun akhirnya ia hanya mengge lengkan kepala dan sibuk memasukkan
semua sampel ke dalam tas.
Keadaannya langsung berubah setelah jenazah korban tak lagi di ctepan mata. Baru sekarang Starling
menyadari benar apa yang baru saja dikerjakannya. Ia melepaskan sarung tangan dan membuka kran
di tempat cuci tangan. Sambil membelakangi ruangan, ia membiarkan airnya membasahi pergelangan
tangan. Air yang keluar dari kran tidak seberapa dingin. Lamar, yang memperhatikannya sejak tadi,
keluar ke koridor. Ia kembali dengan membawa sekaleng Coke dari mesin otomat di luar. Kaleng
yang belum dibuka dan terselubung bunga es itu disodorkannya pada Starling.
"Tidak, terima kasih," ujar Starling. "Nanti saja."
"Bukan, ini untuk ditaruh di tengkuk," balas Lamar, "di bawah tonjolan di belakang kepala. Anda
akan merasa lebih enak. Saya selalu begitu."
Ketika Starling selesai menempelkan memo untuk ahli patologi pada ritsleting kantong jenazah,
transmiter sidik jari Crawford sudah berdetik-detik di meja tulis-
Mereka beruntung korban ini ditemukan tak lama setelah kematiannya. Crawford bertekad mengiden-
tifikasi korban selekas mungkin, lalu mulai mencari saksi di sekitar tempat tinggalnya. Metode
tersebuj memang merepotkan bagi semua pihak yang terlibat, namun sangat cepat.
Crawford membawa transmiter sidik jari Litton policefax. Berbeda dengan mesin faksimile FBI,
policefax ini kompatibel dengan sebagian besar sistem yang digunakan dinas kepolisian di kota-kota
besar. Kartu sidik jari yang dibuat Starling belum kering benar.
"Kau saja yang masukkan kartunya, Starling. Tanganmu lebih terampil."
Jangan sampai tercoreng, itu maksud sesungguhnya. Bukan pekerjaan mudah memasang kartu kom-
posit tersebut pada rol kecil, sementara enam operator di berbagai penjuru telah menunggu, tapi
Starling bisa melakukannya dengan baik.
Crawford sudah menghubungi operator telepon di markas FBI dan Washington. "Dorothy, sudah siap
semua? Oke, sekarang gambarnya kita perkecil sampai satu banding dua puluh supaya tetap tajam—
perhatikan, satu banding dua puluh. Bagaimana Atlanta? Oke, tolong saluran gambar... sekarang."
Kemudian rol mesin faks di meja mulai berputar pelan dan serentak mengirimkan sidik jari korban ke
operator FBI dan markas-markas polisi di kota-kota utama di daerah Timur. Jika Chicago, Detroit,
Atlanta, atau kota-kota lain menemukan sidik jari yang cocok dalam komputer mereka, pencarian
saksi akan segera dimulai.
Setelah itu Crawford mengirim foto gigi dan wajah korban. Kepala korban telah diselubungi handuk
oleh Starling, untuk berjaga-jaga seandainya foto tersebut Jatuh ke tangan koran kuning.
Tiga petugas dari West Virginia State Police Criminal Investigation Section tiba dari Charleston
ketika mereka sudah mau pergi. Crawford sibuk bersalaman dan membagi-bagikan kartu nama
dengan nomor hot line National Crime Information Center. Starling terkagum-kagum betapa cepat
Crawford berhasil menjalin keakraban sebagai sesama pria. Ketiga orang pasti akan menelepon jika
mereka memperoleh sesuatu Sekian dan terima kasih. Barangkali ini bukan soal kekompakan sesama
pria, kata Starling dalam hati; ia sendiri juga terpengaruh.
Lamar melambaikan tangan ketika Crawford dan Starling berangkat ke Sungai Elk bersama deputi
yang menjemput mereka tadi. Kaleng Coke di tangan Lamar masih lumayan dingin. Ia masuk ke
gudang dan menuangkan isi kaleng itu ke dalam gelas.

Bab Tiga Belas

"A NTAR saya ke lab' Jeff'" Crawford berkata kepada pengemudi mobilnya. "Setelah itu tunggu
Officer Starling di Smithsonian. Dari sana dia langsung ke Quantico." "Baik, Sir."
Mereka sedang menyeberangi Sungai Potomac, berlawanan arah dengan arus lalu lintas after-dinner,
dalam perjalanan dari National Airport menuju pusat kota Washington.
Anak muda di belakang kemudi tampak penuh hormat kepada Crawford dan menyetir dengan amat
hati-hati. Starling tidak menyalahkannya; semua orang di Academy tahu bahwa orang terakhir yang
membuat kekacauan di bawah komando Crawford kini ditugasi menyelidiki rangkaian kasus
pencurian pada instalasi-instalasi DEW di sepanjang Lingkar Kutub Utara.
Crawford sendiri tampak muram. Sembilan jam telah berlalu sejak ia mengirimkan sidik jari dan foto
korban, tapi korban belum juga berhasil diidentifikasi. Bersama para polisi West Virginia, ia dan
Starling telah memeriksa jembatan dan tepi sungai sampai gelap, namun tanpa hasil.
Starling sempat mendengarnya menelepon dari pes wat untuk meminta juru rawat bertugas malam dj
rumah.
Sedan FBI tanpa tanda pengenal yang mereka tumpangi terasa tenang sekali dibandingkan Blue Ca
noe, dan mereka tak lagi perlu berteriak-teriak.
"Aku akan menyiapkan hotline dan Latent Descriptor Index setelah membawa sidik jarinya ke ID"
ujar Crawford. "Siapkan sisipan untuk berkas kasus Sisipan, bukan 302—kau tahu caranya?"
"Aku tahu."
"Misalkan aku jadi Index, coba ceritakan apa yang baru."
Starling butuh beberapa detik untuk mengumpulkan informasi tersebut—ia bersyukur Crawford
tampak tertarik pada perancah-perancah di Jefferson Memorial yang sedang mereka lewati.

ben99 ebooks collections 31


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Latent Descriptor Index pada komputer Identification Section berfungsi membandingkan ciri-ciri
kejahatan yang tengah diusut dengan kebiasaan-kebiasaan para penjahat yang tercantum dalam arsip.
Jika terdapat kemiripan mencolok, program tersebut akan menyusun daftar tersangka lengkap dengan
sidik jari. Operator komputer lalu membandingkan sidik jari dari arsip dengan sidik jari yang
ditemukan di tempat kejadian perkara. Sampai sekarang FBI belum mendapatkan sidik jari Buffalo
Bill, tapi Crawford ingin berjaga-jaga.
Sistem itu membutuhkan informasi singkat dan jelas. Starling berusaha menyusun keterangan yang
memenuhi syarat.
"Wanita kulit putih, usia sekitar dua puluh, tewas tertembak, tubuh bagian bawah dan paha dikuliti-
"Starling, Index sudah tahu dia membunuh wanita muda berkulit putih dan menguliti tubuh mereka.
juaa bahwa mayat korban dibuang ke sungai. Yang dibutuhkan adalah informasi baru. Apa yang baru
di
sini, Starling?"
"Ini korban keenam, yang pertama dengan kepala dikuliti, yang pertama dengan kulit terkelupas ber-
bentuk segi tiga pada bagian belakang pundak, yang pertama ditembak di dada, yang pertama dengan
kepompong tersangkut di tenggorokan."
"Kau lupa kuku tangan yang patah."
"Tidak, Sir, dia korban kedua dengan kuku patah."
"Kau benar. Begini, dalam sisipanmu untuk berkas kasus, cantumkan bahwa kepompong itu
informasi rahasia. Kita akan menggunakannya untuk menangkal pengakuan palsu."
"Mungkinkah dia sudah pernah melakukannya sebelum ini—menaruh kepompong atau serangga?"
ujar Starling. "Detail kecil seperti ini mudah terlewat dalam autopsi, terutama pada mayat terapung.
Maksudku, penyebab kematian sudah terlihat jelas, ruangannya panas, petugas visum ingin
secepatnya merampungkan pekerjaan... bisa kita cek itu?"
'Kalau perlu. Tapi para petugas visum tentu akan menyangkal bahwa ada yang luput dari perhatian
mereka. Mayat tak dikenal dari Kentucky masih di-SUTipan dalam lemari pendingin di sana. Aku
akan minta dia diperiksa lagi, tapi keempat korban lainnya sudah dikubur. Penggalian mayat selalu
menimbulkan enebohan. Dulu langkah itu terpaksa diambil terhadap Pasien yang meninggal dalam
perawatan Dr. Lecter, Sekadar untuk memastikan penyebab kematian mereka.
Asal tahu saja, ini sangat merepotkan dan pasti ak mengundang protes keras dari sanak saudara
korban.Aku akan melakukannya lagi kalau tak ada pilihan tapi sebelumnya kita lihat dulu apa yang
bisa kau peroleh di Smithsonian."
"Mengambil kulit kepala... itu agak janggal bukan?"
"Ya, itu memang tidak lazim," jawab Crawford. "Tapi Dr. Lecter sudah meramalkan bahwa Buffalo
Bill akan melakukannya. Dari mana dia tahu?" "Sebenarnya dia tidak tahu." "Tapi dia bilang begitu."
"Ini bukan sesuatu yang mengejutkan, Starling. Aku tidak kaget waktu mendengarnya. Seharusnya
tadi aku berkata bahwa mengambil kulit kepala jarang dilakukan sebelum kasus Mengel, masih ingat?
Orang yang menguliti kepala para wanita yang menjadi korbannya. Setelah itu ada dua atau tiga
orang yang ikut-ikutan. Pihak pers, waktu mereka bermain-main dengan julukan Buffalo Bill,
menegaskan lebih dari satu kali bahwa pembunuh ini tidak menguliti kepala korbannya. Itulah
sebabnya aku tidak kaget—Buffalo Bill tentu mengikuti pemberitaan mengenai dirinya. Lecter
sekadar menebak. Dia tidak menjelaskan kapan itu akan terjadi, sehingga dia tidak mungkin salah.
Seandainya kita berhasil menangkap si pembunuh dan ternyata tak ada korban yang kepalanya
dikuliti. Lecter bisa berdalih bahwa kita menangkap Bill sebelum dia sempat melakukannya."
"Dr. Lecter juga menyinggung bahwa Buffalo Bill tinggal di rumah bertingkat. Aku tak sempat
membahasnya lebih lanjut. Kenapa dia bilang begitu?"
"Kalau yang ini bukan tebakan. Kemungkinan besar dia benar, dan sebetulnya dia juga bisa
menyebutkan alasannya, tapi dia ingin bermain-main denganmu. Ini satu-satunya kelemahannya—dia
harus kelihatan pandai, lebih pandai dari orang lain. Sudah bertahun-tahun dia melakukannya."
"Anda pernah bilang aku harus bertanya kalau ada yang tidak aku mengerti—nah, aku perlu
penjelasan mengenai ini."
"Oke, dua korban mati digantung, bukan? Luka lecet bekas tali di sekeliling leher, pergeseran tulang
tengkuk, semuanya menunjukkan korban digantung. Dr. Lecter tahu dari pengalaman bahwa
menggantung orang secara paksa bukan pekerjaan mudah. Orang sering gantung diri pada tombol
pintu. Mereka gantung diri sambil duduk, itu mudah. Menggantung orang lain jauh lebih sulit—
biarpun diikat, mereka pasti akan berdiri kalau ada tempat berpijak. Tangga lipat membuat mereka
curiga. Korban takkan mau memanjatnya dengan mata tertutup, apalagi kalau bisa melihat jeratnya.
Cara yang tepat adalah diajak ke lantai atas. Orang takkan curiga kalau disuruh naik tangga. Katakan
saja mereka mau dibawa ke kamar mandi, misalnya, lalu giring mereka ke atas dengan mata tertutup.
Setelah sampai di atas, tinggal pasang jerat, kemudian tendang mereka dari puncak tangga dengan tali
terikat ke pagar bordes. Itu satu-satunya cara ampuh di dalam rumah. Seseorang di California
mempopulerkan cara ini. Seandainya tidak ada tangga di rumah Bill, dia pasti akan menggunakan
cara lain untuk menghabisi korbannya. Sekarang tolong be-nkan nama>deputi senior di Potter dan
petugas polisi yang pegang komando itu."
Starling membolak-balik halaman buku notesnya sambil menggigit senter kecil, lalu menyebutkan
nama-nama yang diminta.
"Oke," ujar Crawford. "Setiap kali kau pasang hom ne, Starling, selalu sebutkan nama petugas yang
terlibat Kalau mendengar nama sendiri, mereka jadi lebih mudah diajak bekerja sama. Dengan cara
itu, mereka takkan lupa menghubungi kita kalau ada informasi baru. Bagaimana kesimpulanmu
tentang luka bakar itu?"
"Tergantung apakah lukanya postmortem atau tidak."
"Kalau ya?"
"Berarti si pembunuh punya mobil boks atau van atau station wagon, pokoknya kendaraan yang pan-
cang"
"Kenapa?"
"Karena lukanya melintang di bagian belakang betis korban."
Mereka berada di persimpangan Tenth dan Pennsylvania, di depan markas besar FBI yang baru.

ben99 ebooks collections 32


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Gedung itu sebenarnya diberi nama J. Edgar Hoover Building, namun nama tersebut nyaris tak
pernah digunakan dalam percakapan.
"Jeff, saya turun di sini saja," kata Crawford. "Tak perlu masuk ke basement. Dan kau tak perlu turun,
Jeff, tapi tolong bukakan bagasi. Ayo, Starling, coba tunjukkan."
Starling menunggu sementara Crawford mengeluarkan datafax dan tas kerja dari bagasi.
"Bill mengangkut korban dengan kendaraan cukup panjang untuk membaringkan jenazahnya dalam
posisi telentang dengan kaki lurus," kata Starling. "Hanya dalam posisi itu bagian belakang betis bisa
menempel di lantai, di atas pipa knalpot. Dalam bagasi sedan seperti ini, jenazah terpaksa dibaringkan
miring dengan kaki tertekuk dan..."
"Yeah, kupikir juga begitu," Crawford memotong.
Starling mendadak sadar Crawford mengajaknya turun agar dapat bicara empat mata.
"Kau kesal, bukan, waktu aku memberitahu si deputi bahwa dia dan aku sebaiknya jangan bicara di
hadapan wanita?"
"Tentu saja."
"Itu hanya siasat. Aku perlu bicara berdua saja dengannya." "Aku tahu."
"Oke." Crawford menutup bagasi dan membalikkan badan. Starling belum puas.
"Ini bukan persoalan sepele, Mr. Crawford."
Crawford kembali berpaling, sambil membawa mesin fax dan tas kerja. Ia menatap Starling.
"Petugas-petugas itu tahu siapa Anda," Starling menjelaskan. "Anda merupakan tokoh panutan bagi
mereka." Tanpa berkedip ia membalas tatapan Crawford. Ia telah mengeluarkan uneg-unegnya, dan
apa yang dikatakannya memang benar.
"Komentarmu akan kuperhatikan, Starling. Sekarang 'anjutkan penyelidikan."
Starling memperhatikannya menjauh—pria setengah kaya dengan pakaian lusuh karena lama duduk
di Pesawat dan ujung lengan baju kotor terkena lumpur SUngai; pria yang pulang sambil membawa
tas-tas, SlaP menghadapi hal-hal yang menantinya di rumah.
Saat itulah Starling sadar ia bersedia melaku apa saja demi orang itu, bahkan membunuh sekali
Itulah salah satu kelebihan Crawford yang paling menonjol.

Bab Empat Belas


The Smithsonian's National Museum of Natural History telah tutup beberapa jam lalu, tapi
sebelumnya Crawford sudah menelepon dan kini seorang penjaga menunggu kedatangan Clarice
Starling di pintu masuk di Constitution Avenue.
Lampu-lampu di museum diredupkan dan udaranya terasa pengap. Hanya patung kepala suku Laut
Selatan di dekat pintu masuk yang cukup tinggi, sehingga wajahnya dapat diterangi cahaya lampu di
langit-langit.
Orang yang mengantar Starling adalah pria kulit hitam berbadan besar yang mengenakan seragam
rapi Penjaga Smithsonian. Starling menyadari kemiripannya dengan kepala patung tadi ketika orang
itu mendongak dan mengamati lampu lift.
Tingkat dua terletak di atas gajah besar yang diawetkan, sebuah ruangan luas yang tertutup untuk
"tium, .ditempai i bersama oleh departemen Antropologi ""O Entomologi. Para ahli antropologi
menyebutnya l^tai empat. Para ahli entomologi bersikeras lantai ltu lantai rfga. Beberapa ilmuwan
dari departemen A8rikultur mengaku bisa membuktikan lantai tersebut sesungguhnya lantai enam.
Mengingat bangunan tua itu telah berulang kali mengalami penambahan dan pembagian ruangan,
masing-masing pendapat ada benarnya.
Starling mengikuti penjaga yang mengantarnya me. nyusuri koridor-koridor yang diapit tumpukan
petj berisi spesimen antropologi di kedua sisi. Satu-satunya cara mengetahui isi peti-peti tersebut
adalah dengan membaca label yang menempel.
"Ribuan orang ada di dalam kotak-kotak ini," si penjaga berkata. "Kami punya empat puluh ribu
spesimen."
Dengan senternya ia menyoroti nomor yang menempel pada setiap pintu kantor yang mereka lewati.
Gendongan bayi dan tengkorak upacara suku Dayak digantikan oleh Kutu, dan mereka meninggalkan
bagian Manusia, memasuki dunia Serangga yang lebih tua dan lebih teratur. Kini koridor diapit
kotak-kotak logam berukuran besar yang dicat hijau pucat.
"Tiga puluh juta serangga—belum termasuk labah-labah. Jangan campur adukkan labah-labah dengan
serangga," si penjaga mewanti-wanti. "Para ahli labah-labah bisa marah besar. Tuh, ruangan yang
lampunya masih menyala. Jangan pulang sendiri kalau sudah selesai nanti. Kalau Anda tidak diantar
keluar, hubungi saya di nomor ini. Ini nomor extension untuk pos jaga. Saya akan menjemput Anda."
Ia menyodorkan kartu nama, lalu meninggalkannya.
Starling berada di tengah-tengah departemen Entomologi, di ruang bundar jauh di atas gajah besar
tadi. Ada. satu ruang kerja dengan lampu menyala dan pintu terbuka.
"Ayo, Pilch!" Suara laki-laki, melengking karena terlampau bersemangat. "Ayo, cepat!"
Starling berhenti di ambang pintu. Dua pria sedang bermain catur di sebuah meja lab. Keduanya
berusia sekitar tiga puluh, satunya langsing dan berambut hitam. yan§ lainnya gemuk pendek dengan
rambut merah menyerupai kawat halus. Segenap perhatian mereka tertuju pada papan catur. Kedua-
duanya tidak menyadari kedatangan Starling. Mereka pun seakan-akan tidak memedulikan kumbang
badak raksasa yang pelan-pelan melintasi papan sambil menyusup di antara buah catur.
Kemudian kumbang itu sampai di tepi papan.
"Giliranmu, Roden," si langsing berkata seketika.
Rekannya yang gemuk pendek menjalankan gajah dan langsung memutar si kumbang yang kemudian
mulai menuju tepi seberang.
"Apakah giliran juga berganti kalau kumbangnya sekadar melintas di pojok?" tanya Starling.
"Tentu saja," si gemuk pendek menyahut keras-keras, tanpa menoleh. "Dengan sendirinya.
Bagaimana cara Anda bermain? Anda menunggu dia melintasi seluruh papan? Memangnya siapa

ben99 ebooks collections 33


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

lawan Anda? Kung-kang?"


"Saya membawa spesimen yang diceritakan AgenKhusus Crawford."
Aneh, kami tidak mendengar sirene Anda," ujar
S1 gemuk pendek. "Sepanjang malam kami menunggu
™ sini untuk mengidentifikasi kumbang untuk FBI.
Kumbang, itu pekerjaan kami. Kami tak tahu-menahu soal spesimen Agen Khusus Crawford.
Seharusnya
spesimennya diperiksa oleh dokter pribadinya. Giliranmu, pjlchr
"Kapan-kapan saya mau mendengarkan seluruh lawakan Anda," kata Starling, "tapi masalah ini
mendesak, jadi mari kita kerjakan sekarang juga , Giliranmu, Pilch.”
Si rambut hitam menoleh dan melihat Starlin bersandar ke kusen pintu sambil membawa tas kerja
Kumbang tadi ditaruhnya di kotak kayu dan ditutupi daun selada.
Ia bangkit dari kursi, dan ternyata ia berbadan jangkung.
"Saya Noble Pilcher," ia memperkenalkan diri. "Itu Albert Roden. Anda bawa serangga yang perlu
diidentifikasi? Kami dengan senang hati akan membantu Anda." Wajah Pilcher yang panjang
berkesan ramah, tapi matanya yang hitam agak menyeramkan dan sedikit terlalu rapat. Ia tidak
mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Anda...?"
"Clarice Starling."
"Coba lihat apa yang Anda bawa."
Pilcher mengamati isi stoples kecil yang diserahkan Starling.
Roden menghampirinya. "Di mana Anda menemukannya? Anda menembaknya dengan pistol? Anda
melihat mamanya?"
Starling tergoda untuk menghantam rahang Roden dengan sikunya.
"Ssst," desis Pilcher. "Tolong ceritakan di mana Anda menemukannya. Barangkali menempel pada
sesuatu—ranting atau daun, misalnya—atau di dalam tanah?"
"Hmm," Starling bergumam. "Rupanya Anda belum mendapat penjelasan."
"Kami diminta bekerja lembur oleh pimpinan untuk mengidentifikasi kumbang untuk FBI," sahut
Pilcher.
"Disuruh" Roden menimpali. "Kami disuruh lembur."
"Kami sering membantu Bea Cukai dan Departemen pertanian," Pilcher menambahkan.
"Tapi bukan di tengah malam buta," ujar Roden.
"Saya perlu memberitahukan beberapa hal yang berkaitan dengan suatu kasus kejahatan," kata Star-
ling. "Saya berwenang menyampaikan informasi tersebut, asal Anda merahasiakannya sampai kasus
ini selesai diusut. Ini sangat penting. Nyawa orang lain taruhannya, dan ini bukan sekadar omong
kosong. Dr. Roden, dapatkah Anda menjamin akan menjaga rahasia ini?"
"Saya bukan dokter. Apakah ada yang perlu saya tanda tangani?"
'Tidak, kalau janji Anda bisa dipegang. Saya hanya minta tanda terima untuk spesimen ini,
seandainya Anda perlu menahannya di sini, itu saja."
"Tentu saja saya akan membantu. Saya bukan orang yang tidak pedulian."
"Dr. Pilcher?"
"Benar," sahut Pilcher, "dia bukan orang yang tidak pedulian."
"Maksudnya, soal informasi rahasia itu?"
"Mulut saya terkunci rapat."
"Pilch juga belum meraih gelar dokter," ujar Roden. Tingkat pendidikan kami setara. Tapi perhatikan,
dia Membiarkan Anda menyapanya dengan gelar itu." Roden menempelkan ujung jari telunjuk ke
dagunya, seakan-akan hendak menegaskan roman mukanya yang bijak. "Berikan semua detail yang
Anda ketahui Sesuatu yang tidak relevan bagi Anda mungkin justru petunjuk berharga bagi seorang
ahli."
"Serangga ini ditemukan tersangkut di tenggorokan korban pembunuhan. Saya tidak tahu bagaimana
bisa masuk ke situ. Mayatnya ditemukan di Sungai Elk di West Virginia dan diperkirakan tewas
beberapa hari sebelumnya."
"Ini perbuatan Buffalo Bill, saya mendengarnya di radio," kata Roden.
"Serangga ini tidak disinggung di radio, bukan?" Starling bertanya.
"Tidak, tapi penyiarnya menyebutkan Sungai Elk— Anda langsung dari sana, itu sebabnya Anda
datang malam-malam?"
"Ya," sahut Starling.
"Anda tentu lelah. Mau minum kopi?" Roden menawarkan.
"Tidak, terima kasih." "Air putih?" "Tidak." "Coke?"
"Juga tidak. Kami ingin tahu di mana korban disekap dan di mana dia dibunuh. Kami berharap
serangga ini mempunyai habitat khas, atau hidup hanya di wilayah tertentu, atau tidur di satu jenis
pohon saja—kami ingin tahu dari mana serangga ini berasal. Saya minta Anda merahasiakan ini,
sebab jika serangga ini memang sengaja diselipkan, yang mengetahuinya hanya si pelaku, dan kami
dapat me- J manfaatkan ini untuk menangkal pengakuan palsu dan menghemat waktu. Dia sudah
enam kali membunuh, paling tidak. Kami mulai kehabisan waktu."
"Jangan-jangan dia sedang menyekap wanita lain, sernentara kita mengamati serangga ini?" Roden
bertanya kepada Starling. Matanya terbelalak dan ia terbengong-bengong. Starling bisa melihat ke
dalam mulutnya, dan segera mengalihkan pandang.
"Entahlah." Nada suaranya sedikit terlalu melengking. "Entahlah," ia berkata sekali lagi, kali ini lebih
tenang. "Dia akan mengulangi perbuatannya begitu ada kesempatan."
"Jadi, kami harus bekerja secepat mungkin," Pilcher menanggapinya. "Jangan kuatir, kami memang
ahlinya. Anda datang ke orang-orang yang tepat. "Dengan tang kecil ia mengeluarkan benda cokelat
itu dari dalam stoples, lalu meletakkannya pada selembar kertas putih di bawah lampu. Kemudian ia
menarik kaca pembesar yang terpasang pada lengan fleksibel.
Serangga itu panjang dan menyerupai mumi. Tubuhnya terselubung lapisan semi tembus pandang
yang secara garis besar mengikuti bentuk tubuhnya, bagaikan sarkofagus—peti mayat dari batu.
Anggota badannya menempel rapat pada tubuhnya, sehingga mirip ukiran menonjol. Wajahnya yang
mungil tampak bijaksana.

ben99 ebooks collections 34


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Pertama-tama, ini bukan jenis serangga yang biasa mengganggu manusia di alam terbuka, dan
serangga ini juga tidak hidup di air," ujar Pilcher. "Saya tidak tahu seberapa dalam pengetahuan Anda
mengenai serangga, atau seberapa banyak yang ingin Anda dengar."
Anggap saja saya tidak tahu apa-apa. Saya minta Anda menjelaskan semuanya."
Oke, yang Anda temukan ini adalah pupa, serangga muda yang belum berkembang sempurna, di
dalam chrysalis—kepompong yang membungkusnya selam proses metamorfosis dari larva ke
serangga dewasa" Pilcher menerangkan.
"Pupa berkulit keras, Pilch?" Roden mengerutkan hidung agar kacamatanya tidak merosot.
"Yeah, kelihatannya begitu. Coba ambilkan buku Chu tentang serangga muda. Oke, ini tahap pupa
dari serangga berukuran besar. Hampir semua serangga golongan tinggi mengalami tahap pupa.
Banyak yang melewatkan musim dingin dengan cara ini."
"Baca atau kaca, Pilch?" tanya Roden.
"Kaca." Pilcher membawa spesimen itu ke sebuah mikroskop, lalu mengintip melalui lensa pembesar,
la mengamati serangga tersebut sambil menggenggam batang logam dengan ujung berbentuk kaitan,
seperti yang biasa digunakan dokter gigi. "Oke, kita mulai saja: tidak terlihat organ respirasi di daerah
pertemuan kepala dan badan, pada mesothorax ada lubang pernapasan dan sejumlah lempeng perut."
"Hmm," Roden bergumam sambil membalik-balik halaman sebuah manual kecil. "Rahang jepit
fungsional?"
"Tidak."
"Galeae of maxillae pada ventro mesonl" "Yap, yap."
"Di mana letak sungutnya?"
"Berdekatan dengan mesal margin sayapnya. Dua pasang sayap, pasangan sebelah dalam sepenuhnya
tertutup. Hanya tiga lempeng perut paling belakang yang terbuka. Pengait kecil dan runcing di bagian
f*' rut—sepertinya Lepidoptera."
i sini juga ditulis begitu," ujar Roden. "Famili yang meliputi kupu-kupu dan ngengat. Ba-ak sekali
kemungkinan," Pilcher berkomentar. "Kita bakal menemui kesulitan kalau sayapnya j^ket. Aku ambil
buku referensi dulu," kata Roden. "Rasanya aku tak mungkin mencegah kalian membi-carakanku
selama aku pergi."
"Kelihatannya begitu," sahut Pilcher. "Roden sebenarnya cukup menyenangkan," ia memberitahu
Starling begitu rekannya meninggalkan ruangan. "Saya percaya."
"O ya?" Pilcher tersenyum sendiri. "Kami kuliah bersama-sama. Setiap tawaran beasiswa yang ada
langsung kami sambar. Roden dapat beasiswa yang mengharuskannya duduk di tambang batubara
sambil memantau peluruhan proton. Dia terlalu lama duduk dalam gelap. Tapi dia cukup
menyenangkan. Asal Anda tidak menyinggung peluruhan proton."
"Saya akan berusaha."
Pilcher berpaling dari lampu yang terang. "Lepidoptera itu sebuah famili besar. Kira-kira meliputi
tiga puluh ribu jenis kupu-kupu dan seratus tiga puluh ribu jenis ngengat. Serangga ini perlu
dikeluarkan dari kepompong—tak ada cara lain untuk memastikan jenisnya."
"Oke. Anda bisa mengeluarkannya dalam keadaan utuh?"
"Saya kira bisa. Lihat, yang ini sebenarnya sudah mau keluar sendiri, tapi keburu mati.
Kepompongnya ^udah mulai retak di sini. Ini mungkin membutuhkan waktu agak lama."
Pilcher merenggangkan retakan itu. Dengan hatiga muda yang belum berkembang sempurna, di
dalam chrysalis—kepompong yang membungkusnya selam proses metamorfosis dari larva ke
serangga dewasa" Pilcher menerangkan.
"Pupa berkulit keras, Pilch?" Roden mengerutkan hidung agar kacamatanya tidak merosot.
"Yeah, kelihatannya begitu. Coba ambilkan buku Chu tentang serangga muda. Oke, ini tahap pupa
dari serangga berukuran besar. Hampir semua serangga golongan tinggi mengalami tahap pupa.
Banyak yang melewatkan musim dingin dengan cara ini."
"Baca atau kaca, Pilch?" tanya Roden.
"Kaca." Pilcher membawa spesimen itu ke sebuah mikroskop, lalu mengintip melalui lensa pembesar.
Ia mengamati serangga tersebut sambil menggenggam batang logam dengan ujung berbentuk kaitan,
seperti yang biasa digunakan dokter gigi. "Oke, kita mulai saja: tidak terlihat organ respirasi di daerah
pertemuan kepala dan badan, pada mesothorax ada lubang pernapasan dan sejumlah lempeng perut."
"Hmm," Roden bergumam sambil membalik-balik halaman sebuah manual kecil. "Rahang jepit
fungsional?"
"Tidak."
"Galeae of maxillae pada ventro mesonl" "Yap, yap."
"Di mana letak sungutnya?"
"Berdekatan dengan mesal margin sayapnya. Dua pasang sayap, pasangan sebelah dalam sepenuhnya
tertutup. Hanya tiga lempeng perut paling belakan? yang terbuka. Pengait kecil dan runcing di bagian
Pe' rut—sepertinya Lepidoptera."
i sini juga ditulis begitu," ujar Roden. "Famili yang meliputi kupu-kupu dan ngengat. Ba-ak sekali
kemungkinan," Pilcher berkomentar. "Kita bakal menemui kesulitan kalau sayapnya lwigket. Aku
ambil buku referensi dulu," kata Roden. "Rasanya aku tak mungkin mencegah kalian membi-
carakanku selama aku pergi."
"Kelihatannya begitu," sahut Pilcher. "Roden sebenarnya cukup menyenangkan," ia memberitahu
Starling begitu rekannya meninggalkan ruangan. "Saya percaya."
"O ya?" Pilcher tersenyum sendiri. "Kami kuliah bersama-sama. Setiap tawaran beasiswa yang ada
langsung kami sambar. Roden dapat beasiswa yang mengharuskannya duduk di tambang batubara
sambil memantau peluruhan proton. Dia terlalu lama duduk dalam gelap. Tapi dia cukup
menyenangkan. Asal Anda tidak menyinggung peluruhan proton."
"Saya akan berusaha."
Pilcher berpaling dari lampu yang terang. "Lepidoptera itu sebuah famili besar. Kira-kira meliputi
tiga puluh ribu jenis kupu-kupu dan seratus tiga puluh ribu jenis ngengat. Serangga ini perlu
dikeluarkan dari kepompong—tak ada cara lain untuk memastikan jenisnya."
"Oke. Anda bisa mengeluarkannya dalam keadaan utuh?"
"Saya kira bisa. Lihat, yang ini sebenarnya sudah mau keluar sendiri, tapi keburu mati.

ben99 ebooks collections 35


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Kepompongnya *udah mulai retak di sini. Ini mungkin membutuhkan waktu agak lama."
Pilcher merenggangkan retakan itu. Dengan hatihati ia menarik serangga di dalam kepompong. Sayap
sayap serangga tersebut saling menempel. Merentang kan sayap-sayap itu tak ubahnya merentangkan
jaringan kulit yang basah dan menggumpal.
Roden kembali dengan membawa sejumlah buku.
"Siap?" tanya Pilcher. "Oke, femur pada lempeng dada pertama tertutup."
"Tonjolan berbulu di kedua sisi mulut?"
"Tidak ada," jawab Pilcher. "Tolong matikan lampu, Officer Starling."
Starling menunggu di samping sakelar sampai Pilcher menyalakan senternya yang kecil. Ilmuwan itu
mundur dari meja dan menyorot spesimen yang sedang mereka teliti. Mata serangga itu tampak
berpendar dalam gelap, memantulkan berkas cahaya senter.
"Owlet," Roden menyimpulkan.
"Bisa jadi, tapi yang mana?" ujar Pilcher. "Lampunya tolong dinyalakan lagi. Ini Noctuid, Officer
Starling—ngengat malam. Ada berapa banyak Noctuid, Roden?"
"Dua ribu enam ratus... ehm... sampai saat ini dikenal sekitar dua ribu enam ratus jenis."
"Tapi tidak banyak yang sebesar ini. Oke, tunjukkan kehebatanmu."
Roden membungkuk dan mengintip lewat mikroskop.
"Kita masuk ke chaetaxy sekarang—kita teliti kulitnya untuk menentukan spesiesnya," Pilcher
menjelaskan. "Roden-lah yang terbaik dalam bidang ini."
Starling mendapat kesan ucapan itu merupakan pujian tulus. .
Roden menanggapinya dengan mengajak Pilcher berdebat apakah larval warts spesimen itu tersusun
melingkar atau tidak. Perdebatan mereka yang sengit lalu berlanjut ke pola pertumbuhan bulu pada
perut.
"Erebus odora," Roden akhirnya berkata.
"Coba kita lihat," ujar Pilcher.
Mereka membawa spesimen itu ke lift, turun ke tingkat di atas gajah besar, lalu masuk ke ruangan
luas yang penuh kotak-kotak berwarna hijau pucat. Ruangan yang semula berupa bangsal besar itu
kini telah dibagi menjadi dua tingkat untuk menampung koleksi serangga Smithsonian. Mereka ada di
bagian Neo-Tropis sekarang, dan beralih ke bagian Noctuid. Pilcher mengamati catatannya dan
berhenti di hadapan peti setinggi dada.
"Anda harus berhati-hati," katanya sambil melepaskan tutup logam yang berat dan menaruhnya di
lantai. "Kalau kaki Anda sampai tertimpa, Anda bakal pincang selama seminggu."
Dengan jari telunjuk ia menyusuri tumpukan laci, memilih salah satu, dan menariknya keluar.
Pada baki di dalam laci terdapat telur-telur mungil yang telah diawetkan, ulat di dalam tabung kaca
berisi alkohol, kepompong yang telah dikelupas dari spesimen yang mirip sekali dengan spesimen
Starling, serta serangga yang sudah dewasa—ngengat berwarna cokelat-hitam dengan rentang sayap
hampir lima belas senti, tubuh berbulu, dan sungut langsing.
"Erebus odora," Pilcher berkata sekali lagi. "Ngengat Black Witch."
Roden sudah membuka buku. '"Spesies tropis, yang kadang-kadang bisa mencapai Kanada pada
musim gugur,'" ia membaca. '"Larvanya makan daun akasia, catclaw, dan tumbuh-tumbuhan sejenis.
Daerah penyebaran meliputi Hindia.
Barat, Amerika Serikat bagj an selatan, dan dianggap hama di Hawaii."
Brengsek, Starling mengumpat dalam hati. "§e rangga ini hidup di mana-mana."
"Tapi tidak terus-menerus." Pilcher menundukkan kepala. Ia menarik-narik dagu. "Roden, ngengat ini
bertelur dua kali setahun, bukan?"
"Tunggu sebentar... yeah, di ujung selatan Florida dan Texas bagian selatan."
"Kapan?"
"Mei dan Agustus."
"Hmm," Pilcher bergumam. "Spesimen Anda sudah mencapai tahap perkembangan yang lebih lanjut
dibandingkan spesimen kami, dan masih segar. Dia sudah mulai berusaha keluar dari kepompong. Di
kawasan Hindia Barat atau Hawaii, saya takkan heran, tapi di sini sedang musim dingin. Dia pasti
akan menunggu tiga bulan lagi sebelum keluar. Kecuali kalau dia kebetulan tumbuh di rumah kaca,
atau sengaja dikembangbiakkan."
"Dikembangbiakkan bagaimana?"
"Dalam kandang, di tempat hangat, dengan beberapa daun akasia sebagai makanan, sampai larvanya
siap membuat kepompong. Tidak terlalu sulit."
"Apakah ini hobi yang populer? Apakah banyak orang yang melakukannya, selain untuk keperluan
penelitian?"
"Tidak. Pada umumnya hanya para ahli entomologi yang ingin memperoleh spesimen sempurna,
mungkin beberapa kolektor. Lalu ada industri sutra, mereka juga mengembangbiakkan ngengat, tapi
bukan jenis ini."
"para ahli entomologi tentu punya majalah khusus, mal profesi, atau orang-orang yang menjual
perlengkapan," ujar Starling.
"Tentu, dan sebagian besar terbitan dikirim kesini.”
"Saya akan menyusun catatan untuk Anda," kata Roden. "Beberapa orang di sini juga berlangganan
laporan berkala, tapi disimpan dalam lemari terkunci. Itu baru bisa saya dapatkan besok pagi."
"Saya akan mengirim orang untuk mengambil semuanya, terima kasih, Mr. Roden."
Pilcher membuat fotokopi referensi mengenai Erebus odora dan memberikannya kepada Starling,
berikut serangganya. "Saya akan mengantar Anda ke bawah," katanya.
Mereka menunggu lift. "Hampir semua orang menyukai kupu-kupu, tapi membenci ngengat,"
ujarnya. "Tapi ngengat lebih... menarik, memancing rasa ingin tahu."
"Ngengat berperilaku merusak."
"Memang ada yang begitu, banyak malah, tapi mereka hidup dengan aneka macam cara. Seperti kita."
Hening sejenak. "Ada satu jenis ngengat, lebih dari satu malah, yang hidup hanya dari air mata,"
Pilcher menjelaskan. "Hanya itu yang dimakan atau diminum."
"Air mata siapa?"
"Air mata mamalia darat besar, kurang-lebih sebesar manusia. Dulu ngengat didefinisikan sebagai

ben99 ebooks collections 36


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

segala sesuatu yang secara berarrgsur-angsur dan tatipa suara makan, mengkonsumsi, atau merusak
ba-rang lain. Inikah kesibukan Anda sepanjang waktu— Cemburu Buffalo Bill?"
"Saya berusaha sekuat tenaga." Pilcher memoles giginya dengan lidah. "Anda siik keluar untuk
makan cheeseburger dan bir?" "Belakangan ini tidak."
"Maukah Anda menemani saya sekarang? Tempat nya tidak terlalu jauh."
"Tidak, tapi saya akan mentraktir Anda kalau urusan ini sudah selesai—Mr. Roden tentu saja juga
boleh ikut."
"Bertiga terlalu ramai," ujar Pilcher. Lalu, di pintu ia menyambung, "Mudah-mudahan Anda bisa
segera menyelesaikan kasus ini, Officer Starling."
Starling bergegas ke mobil yang sudah menunggunya.

Ardelia Mapp telah menaruh surat-surat untuk Starling di tempat tidurnya, berikut permen Mounds
yang tinggal setengah. Mapp sudah tidur.
Starling membawa mesin tiknya ke ruang cuci, menaruhnya di meja untuk melipat pakaian, lalu
memasukkan kertas berkarbon. Laporan mengenai Erebus odora telah ia susun di luar kepala dalam
perjalanan pulang ke Quantico, dan kini ia mengetikkannya dengan cepat.
Kemudian ia menghabiskan sisa Mounds dan menulis memo kepada Crawford, berisi saran untuk
mengadakan cek silang antara* daftar langganan terbitan entomologi dan berkas FBI mengenai
pelaku kejahatan serta arsip di kota-kota yang terdekat dengan lokasi-lokasi penculikan, ditambah
arsip narapidana dan pelaku kejahatan seks di Metro Dade, San Antonio, dan Houston, daerah-daerah
yang merupakan w1' layah penyebaran utama ngengat itu.
Lalu ada satu hal lagi yang perlu ia kemukakan untuk kedua kali: Dr. Lecter perlu ditanya kenapa ia
berpendapat si pelaku akan mulai mengambil kulit kepala korban-korbannya.
Starling menyerahkan memo itu kepada penjaga yang berdinas malam, kemudian menjatuhkan diri ke
tempat tidur. Berbagai suara masih terngiang-ngiang di telinganya, lebih pelan dibandingkan suara
napas Mapp di seberang ruangan. Di tengah kegelapan ia melihat wajah ngengat yang mungil dan
berkesan bijak. Matanya yang berpendar itu pernah menatap Buffalo Bill.
Dan hal terakhir yang terlintas dalam benaknya adalah: Di dunia yang aneh ini, di belahan dunia yang
kini gelap, aku harus memburu makhluk yang hidup dari air mata.

Bab Lima Belas


Di Memphis Timur, Tennessee, Catherine Baker Martin sedang berkunjung ke apartemen pacarnya.
Malam telah larut, dan mereka menonton TV sambil bergantian mengisap pipa berisi hasyis. Film
yang tengah diputar semakin sering diselingi iklan, dan selingan-selingan itu pun semakin panjang.
"Aku lapar, kau mau popcornT tanya Catherine. "Biar aku saja yang ambil. Mana kuncimu?" "Kau di
sini saja. Aku sekalian mau lihat apakah ibuku menelepon."
Ia bangkit dari sofa. Ia wanita muda yang jangkung, dengan tubuh sintal menjurus gemuk dan rambut
terawat rapi. Ia mengambil sepatunya di bawah meja dan keluar dari apartemen.
Udara malam bulan Februari tidak terlalu dingin. Kabut tipis dari Sungai Mississippi menyelubungi
pelataran parkir yang luas. Tepat di atas ia melihat bulan yang pucat dan melengkung setipis tulang
ikan. Kepalanya agak pusing ketika mendongak. Ia mulai melintasi pelataran parkir, menuju
apartemennya sendiri yang berjarak sekitar seratus meter.
Sebuah mobil boks berwarna cokelat berhenti di dekat pintu apartemennya, di antara sejumlah
karavan jan trailer yang mengangkut perahu. Ia memperhatikannya karena kendaraan tersebut
menyerupai mobil pengantar bingkisan yang sering membawakan hadiah dari ibunya.
Sebuah lampu dinyalakan di tengah kabut ketika ia melintas di samping mobil itu. Lampu itu lampu
berdiri yang ditaruh di aspal di belakang mobil. Di bawahnya ada kursi santai dengan jok tebal
berwarna merah. Kedua barang tersebut tampak seperti susunan perabot di etalase toko mebel.
Catherine Baker Martin berkedip beberapa kali dan terus berjalan. Kata surreal muncul dalam benak-
nya, dan ia menyalahkan hasyis yang diisapnya tadi. Namun ia baik-baik saja. Seseorang baru pindah.
Selalu saja ada orang pindah di Stonehinge Villas. Tirai di apartemennya bergoyang, dan ia melihat
kucingnya duduk di ambang jendela sambil membungkuk dan menempelkan badan ke kaca.
Ia mengeluarkan kunci, tapi sebelum membuka pintu, ia menoleh ke belakang. Seorang pria turun
dari pintu belakang mobil boks. Dalam cahaya lampu, tangannya tampak dibalut gips dan disangga
kain yang dikalungkan ke leher.
Catherine Martin Baker masuk ke apartemennya dan mengunci pintu, lalu mengintip dari balik tirai.
Pria di luar sedang berusaha menaikkan kursi tadi. Dipegangnya kursi itu dengan tangannya yang
sehat, lalu didorong dengan lututnya, namun kemudian terbalik. Pria itu mengangkatnya lagi. Setelah
membasahi uJung jarinya dengan ludah, ia menggosok noda pada jok.
Catherine keluar.
"Mari saya bantu." Nada suaranya ramah, tapj tidak berlebihan.
"Oh. Thanks." Suara pria itu aneh dan tegang Bukan logat setempat.
Lampu di aspal menerangi wajahnya dari bawah sehingga menimbulkan distorsi, tapi badannya
kelihatan jelas. Pria itu mengenakan celana khaki dan kemeja dari bahan kulit tipis, dibiarkan terbuka
di dada. Dagu dan pipinya tak berbulu, selicin dagu dan pipi wanita, sementara matanya tampak
gelap.
Ia membalas tatapan Catherine, dan Catherine merasa kurang senang. Kaum pria sering kali terkejut
setelah menyadari ukuran tubuhnya yang besar; ada yang sanggup menutup-nutupinya, ada pula yang
hanya terbengong-bengong.
"Bagus," kata pria itu singkat. Catherine mencium bau tidak menyenangkan dari tubuh pria itu, dan
dengan jijik ia memperhatikan bahwa kemeja kulitnya masih berbulu di sana-sini, pada pundak dan di
ketiak.
Keduanya dengan mudah mengangkat kursi tadi ke mobil boks.

ben99 ebooks collections 37


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Bisa bantu menggesernya ke depan sekalian?" Pria itu memanjat dan memindahkan sejumlah
barang, antara lain bejana pipih untuk menguras oli mesin, dan katrol kecil yang diputar dengan
tangan.
Kursi itu mereka dorong sampai ke belakang tempat duduk pengemudi.
"Ukuran Anda sekitar empat belas?" pria itu bertanya.
"Apa?"
"Tolong tali itu, yang di dekat kaki Anda."
Ketika Catherine membungkuk, pria itu mengangkat tangannya yang terbalut gips, lalu menghantam
kepala Catherine dari belakang. Catherine menyangka kepalanya terbentur, dan ia baru hendak
mengusapnya ketika pria itu memukul lagi, kali ini di belakang telinga, dan lagi, berulang-ulang,
namun tidak terlalu keras, sampai Catherine roboh dan tergeletak menyamping di lantai.
Pria itu mengamatinya sejenak, lalu melepaskan gips dan kain pengikat lengan. Cepat-cepat ia
memasukkan lampu dan menutup pintu belakang kendaraannya.
Kemudian ia menarik kerah blus Catherine dan menyorot label ukurannya dengan senter.
"Bagus," komentarnya.
Punggung blus dibelahnya dengan gunting, lalu dibuka. Tangan Catherine diborgol di belakang.
Setelah menggelar alas di lantai, pria itu membalikkannya.
Catherine tidak memakai bra. Pria itu menekan-nekan payudaranya yang besar, memeriksa berat dan
kekenyalannya.
"Bagus," ia kembali berkata.
Pada payudara kiri ada noda pink bekas isapan. Pria itu menjilat jari dan menggosok-gosok noda itu
seperti dilakukannya pada jok kursi tadi. Ia mengangguk-angguk ketika melihat noda itu lenyap
waktu ditekan. Kemudian ia menelungkupkan Catherine dan memeriksa kepalanya. Hantaman gips
tadi tidak menimbulkan luka.
Ia menempelkan dua jari pada sisi leher untuk memeriksa denyut nadi, yang ternyata kuat dan ber-
irama.

“ Baguus,” katanya. Perjalanan ke rumahnya yang bertingkat dua cukup jauh, dan ia lebih suka
bekerja di rumah.
Kucing Catherine Baker Martin masih menonton di jendela ketika mobil boks itu berangkat.
Pesawat telepon di belakang kucing ituber dering. Mesin penerima telepon di kamar tidur menyala
secara otomatis, lampunya yang merah kerkedip-kedip dalam gelap.
Penelepon itu ibu Catherine,senator yunior dari Tennesse.

Bab Enam Belas


Pada tahun 1980-an, zaman Keemasan Terorisme, pihak berwajib memberlakukan prosedur standar
untuk menangani penculikan yang menimpa anggota Kongres:
Pukul 02.45 dini hari, agen khusus yang memimpin perwakilan FBI di Memphis melaporkan ke
markas besar di Washington bahwa putri tunggal Senator Ruth Martin menghilang.
Pukul 03.00 dini hari, dua van tanpa tanda khusus keluar dari garasi bawah tanah perwakilan
Washington, Buzzard's Point. Sam menuju Senate Office Building, di mana teknisi sedang
menyambungkan alat-alat pantau dan rekam pada pesawat-pesawat telepon di ruang kerja Senator
Martin dan memasang alat penyadap Title 3 pada telepon-telepon umum yang berdekatan. Pihak
Departemen Kehakiman membangunkan anggota paling junior dari Senate Select Intelligence
Committee untuk menyampaikan pemberitahuan wajib mengenai penyadapan tersebut.
Kendaraan yang satu lagi, yang dilengkapi kaca satu arah dan perlengkapan pengintaian, diparkir di
Virginia Avenue untuk mengawasi bagian depan Water gate West, kediaman Senator Martin di
Washington Dua penumpang van masuk ke dalam bangunan untuk menyambungkan alat-alat pantau
pada telepon pribari' sang senator.
.Pihak Bell Atlantic memperkirakan waktu yan2 diperlukan untuk melacak telepon dari domestic
digital switching system sekitar tujuh puluh detik.
Reactive Squad di Buzzard's Point disiagakan dua puluh empat jam sehari, guna mengantisipasi
pembayaran uang tebusan di wilayah Washington. Setiap komunikasi dilakukan dengan
menggunakan sandi rahasia, untuk mengamankan proses penukaran sandera dari gangguan helikopter
pers—tindakan tak bertanggung jawab semacam itu memang jarang terjadi, tapi bukannya tidak
mungkin.
Hostage Rescue Team pun siap bergerak setiap saat.
Semua orang berharap menghilangnya Catherine Baker Martin berkaitan dengan penculikan
profesional untuk minta uang tebusan; jika memang itu yang terjadi, peluangnya untuk selamat cukup
besar.
Tak seorang pun menyinggung kemungkinan terburuk.
Kemudian, beberapa saat sebelum tengah hari di Memphis, seorang petugas polisi yang tengah
menyelidiki laporan pencurian di Winchester Avenue mencegat laki-laki tua yang sedang
mengumpulkan kaleng bekas. Di dalam kereta dorong orang tua itu ia menemukan blus wanita yang
masih terkancing. Bagian belakangnya terbelah bagaikan baju untuk pemakaman. Nama yang
tercantum pada label binatu adalah Catherine Baker Martin.

pukul 06.30 pagi, Jack Crawford sedang menuju ke selatan dari rumahnya di Arlington ketika telepon
di mobilnya berdering untuk kedua kali dalam dua menit. "Sembilan dua dua empat puluh." "Empat
puluh stand by untuk Alpha 4." Crawford melihat tempat istirahat di pinggir jalan raya, menepi, lalu
berhenti untuk memusatkan' perhatian pada pesawat teleponnya. Alpha 4 adalah sandi untuk direktur
FBI. "Jack, sudah dengar soal Catherine Martin?" "Baru saja ada telepon dari petugas piket malam."
"Kalau begitu, kau sudah tahu soal blusnya. Bagaimana perkembangannya?"
"Buzzard's Point sudah disiagakan," ujar Crawford. "Semua pesawat telepon sudah dipasangi alat

ben99 ebooks collections 38


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

pantau dan rekam. Kita belum tahu pasti apakah ini perbuatan Buffalo Bill atau bukan. Kalau ini ulah
orang yang ikut-ikutan, dia mungkin menelepon untuk minta tebusan. Siapa yang memantau dan
melacak telepon di Tennessee, kita atau mereka?" "Mereka. Polisi negara bagian. Mereka cukup ber-
ngalaman. Phil Adler menelepon dari Gedung Putih. Dia bilang Presiden terus mengikuti
perkembangan. Ada baiknya kalau kita berhasil, Jack."
"Sebaiknya memang begitu. Di mana Senator Martin sekarang?"
"Dalam perjalanan ke Memphis. Dia meneleponku & rumah semenit yang lalu. Tahu sendirilah." I
"Ya." Crawford mengenal Senator Martin dari ra-Pat-rapat penyusunan anggaran.
"Dia menggunakan segenap kekuasaannya." "Tak bisa disalahkan."
"Memang," ujar atasannya. "Aku memberitahunya bahwa kita akan berusaha sekuat tenaga. Dia... dja
memahami situasi pribadimu dan menawarkan pesawat untukmu, supaya kau bisa pulang malam."
"Oke. Tapi Senator Martin terkenal keras, Tommy. Kalau dia mau mengambil alih kendali, kita bakal
beradu kepala."
"Aku tahu. Kalau perlu, bilang saja kau dapat perintah langsung dariku. Berapa banyak waktu yang
kita punya, Jack---enam, tujuh hari?"
"Entahlah. Kalau penculiknya panik setelah tahu siapa korbannya, bisa jadi dia langsung menghabisi-
nya."
"Di mana kau sekarang?"
"Dua mil dari Quantico."
"Pesawat Lear bisa .mendarat di sana?"
"Ya."
"Dua puluh menit." "Ya, Sir."
Crawford menekan beberapa angka pada teleponnya, lalu kembali bergabung dengan lalu lintas.

BAB TUJUH BELAS


Seluruh tubuh Starling terasa pegal akibat tidur tidak tenang. Ia berdiri dengan kimono dan sandal
kelinci, handuk tersampir di bahu, menunggu giliran memakai kamar mandi yang digunakannya
bersama Mapp dan kedua siswa di kamar sebelah. Berita dari Memphis yang ia dengar di radio mem-
buatnya menahan napas sejenak. VTa Tuhan," ia bergumam. "Gawat. OKE! SIAPA PUN YANG
ADA DI DALAM! KAMAR MANDI INI DISITA. KELUARLAH DENGAN MEMAKAI
CELANA. INI BUKAN LATIHAN!" Ia masuk ke shower tanpa menghiraukan protes tetangganya
yang kaget. "Geser sedikit. Gracie, dan tolong sabunnya."
Sambil menjepitkan gagang telepon ke telinga dengan bahu. ia berkemas untuk bermalam dan
menaruh tas berisi peralatan forensik di dekat pintu. Ia memastikan operator telepon tahu ia berada di
kamarnya, dan tidak ikut sarapan agar dapat menunggui pesawat ;telepon. Namun sepuluh menit
menjelang jam pelajaran dimulai belum juga ada kabar, dan ia bergegas ke seksi Ilmu Perilaku sambil
membawa perlengkapannya. ; "Mr. Crawford berangkat ke Memphis empat puluh lima menit lalu,"
kata sekretaris yang ditemuinya dengan manis. "Burroughs ikut, dan Stafford dari lab berangkat dari
National."
"Semalam saya menaruh laporan untuk Mr Crawford di sini. Apakah dia meninggalkan pesan *
untuk saya? Saya Clarice Starling."
"Ya, saya tahu siapa Anda. Saya punya tiga copy nomor telepon Anda di sini, dan di meja Mr.
Crawford ada beberapa lagi, kalau saya tidak salah. Tapi dia tidak meninggalkan apa pun untuk Anda,
Clarice." Wanita itu menatap barang bawaan Starling. "Barangkali ada pesan yang bisa saya
sampaikan kalau Mr. Crawford menelepon?"
"Apakah dia meninggalkan nomor telepon di Memphis, tempat dia bisa dihubungi?"
"Tidak. Dia yang akan menelepon ke sini. Bukankah Anda ada pelajaran hari ini, Clarice? Anda
sedang mengikuti pendidikan, bukan?"
"Ya."
Starling terlambat sampai di ruang kelas. Kedatangannya disambut wajah cemberut Gracie Pitman,
wanita muda yang diusirnya dari shower tadi. Gracie Pitman duduk persis di belakang Starling, dan ia
terus mengerutkan kening ketika Starling menuju kursinya.
Tanpa sarapan Starling duduk selama dua jam, mengikuti kuliah "The Good-Faith Warrant Exception
to the Exclusionary Rule in Search and Seizure.' Baru setelah itu ia bisa pergi ke mesin otomat untuk
membeli segelas Coke.
Pada jam istirahat siang ia memeriksa kotak suratnya, tapi ternyata tak ada pesan apa pun. Saat itulah
ia kembali menyadari bahwa rasa frustrasi mirip sekali dengan rasa obat paten bernama Fleet's yang
harus diminumnya ketika ia masih kecil.
Pada hari tertentu kita bangun sebagai orang yang berbeda. Hari ini seperti itulah rasanya bagi
Starling. Apa yang kemarin dilihatnya di Potter Funeral Home telah menyebabkan perubahan kecil
namun mendasar dalam dirinya.
Starling mempelajari psikologi dan kriminologi di sekolah bermutu. SudJh berkali-kali ia
menyaksikan hal-hal mengerikan yang terjadi di dunia ini. Tapi baru sekarang ia benar-benar tahu:
sesekali muncul makhluk yang berlindung di balik wajah manusia, yang mendapatkan kesenangan
dari tubuh yang kini tergolek di meja autopsi di Potter, West Virginia, di ruangan dengan wallpaper
bermotif bunga mawar. Starling tahu ia akan terus dihantui oleh pengetahuan itu, dan ia perlu
membuat dirinya kebal jika ingin bertahan.
Kesibukan belajar tak dapat mengalihkan pikirannya. Sepanjang hari ia merasa hal-hal penting
sedang terjadi di luar jangkauannya. Ia seolah-olah dikelilingi gemuruh yang terdengar sayup-sayup,
bagaikan suara dari stadion di kejaiman. Hal-hal kecil, seperti orang berjalan di koridor, awan
melintas di langit, atau suara kapal terbang, membuatnya tersentak.
Seusai jam pelajaran, Starling berlari terlalu lama, kemudian berenang. Ia berenang sampai teringat
mayat-mayat terapung, dan setelah itu ia tak mau lagi berada di dalam air.
Bersaipa Mapp dan selusin siswa ia menonton siaran berita jam tujuh di ruang rekreasi. Penculikan
ben99 ebooks collections 39
The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Putri Senator Martin bukan berita utama, namun ditayangkan pertama sesudah liputan mengenai
pembicaraan pengurangan senjata yang berlangsung di Jenewa.
Ada film dari Memphis, dimulai dengan papan nama Stonehinge Villas, yang diambil dari balik
lampu mobil patroli yang berkedap-kedip. Media massa memberikan perhatian besar pada kasus
tersebut, tapi karena tak ada berita baru, para wartawan saling mewawancara di pelataran parkir di
Stonehinge. Pihak berwajib Memphis dan Shelby County tampil di hadapan jajaran mikrofon. Di
tengah kegaduhan, mereka menyebutkan hal-hal yang belum diketahui. Para juru foto kalang-kabut
setiap kali ada petugas yang masuk atau keluar apartemen Catherine Baker Martin.
Sorak-sorai ironis sempat menghangatkan ruang rekreasi ketika wajah Crawford muncul sejenak di
jendela apartemen. Starling tersenyum tipis.
Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah Buffalo Bill sedang menonton. Ia bertanya-tanya, bagaimana
kesan orang itu mengenai wajah Crawford, atau apakah ia tahu siapa Crawford sebenarnya.
Beberapa rekan Starling tampaknya menyimpan pertanyaan serupa.
Lalu Senator Martin muncul di TV dalam siaran langsung bersama Peter Jennings. Ia berdiri di kamar
putrinya, dengan poster-poster yang menampilkan Wile E. Coyote dan Equal Rights Amendment
pada dinding di belakangnya.
Ia wanita jangkung dengan wajah berkesan keras.
"Saya ingin mengimbau orang yang menyekap putn saya," ujarnya. Ia berjalan mendekati kamera,
memaksa juru kamera mengadakan perubahan fokus di luar fencana. Apa yang dikatakannya tak akan
ia ucapkan kepada seorang teroris.
"Anda mempunyai kekuasaan untuk melepaskan putri saya dalam keadaan selamat. Namanya
Catherine, pia sangat lembut dan penuh pengertian. Saya mohon lepaskan putri saya, lepaskan dia
dalam keadaan selamat. Anda yang mengendalikan situasi. Anda mempunyai kekuatan. Anda yang
berkuasa. Saya tahu Anda mengenal cinta dan kasih sayang. Anda bisa melindungi dia dari apa pun
yang mungkin ingin mencelakakannya. Anda kini berkesempatan membuktikan kepada dunia bahwa
Anda dapat bermurah hati, bahwa Anda berjiwa besar dan tidak membalas perlakuan orang lain
terhadap Anda dengan cara yang sama. Namanya Catherine."
Pandangan Senator Martin beralih dari kamera, dan layar TV menampilkan rekaman gadis cilik yang
berjalan tertatih-tatih sambil berpegangan pada bulu leher seekor anjing collie.
Suara Senator Martin kembali terdengar, "Ini Catherine ketika masih kecil. Saya mohon, lepaskan
dia. Lepaskan dia di mana pun di negeri ini, dan Anda akan memperoleh bantuan dan persahabatan
saya."
Kini serangkaian foto—Catherine pada usia delapan tahun, memegang batang kemudi perahu layar.
Perahu itu berada di dok, dan ayah Catherine sedang mencat lambungnya. Dua foto baru setelah ia
tumbuh menjadi seorang wanita muda, satu foto seluruh badan dan satu close up wajahnya.
Kamera beralih kembali pada Senator Martin, "Saya berjanji di hadapan seluruh negeri, Anda akan
memperoleh segala bantuan yang Anda butuhkan. Saya dapat membantu Anda. Saya senator Amerika
Serikat Saya bertugas pada Armed Services Committee. Saya terlibat dalam Strategic Defense
Initiative, sistem persenjataan ruang angkasa yang lazim disebut 'Star Wars'. Jika Anda mempunyai
musuh, saya akan melawan mereka. Kalau ada yang mengganggu Anda saya akan menghentikannya.
Anda bisa menelepon saya kapan saja, siang atau malam. Catherine nama anak saya. Saya mohon,
tunjukkanlah kekuatan Anda." Senator Martin berkata sebagai penutup, "Lepaskanlah Catherine
dalam keadaan selamat."
"Wah, cerdik sekali," ujar Starling. Ia gemetaran bagaikan anjing terrier. "Benar-benar cerdik."
"Apa, soal Star Wars itu?" tanya Mapp. "Kalau makhluk luar angkasa berusaha mengendalikan
pikiran Buffalo Bill dari planet lain, maka Senator Martin bisa melindunginya—itu maksudnya?"
Starling mengangguk. "Banyak paranoid schizophrenics yang mengalami halusinasi ini—
pengendalian oleh makhluk luar angkasa. Kalau memang'itu masalah Bill, barangkali pendekatan ini
bisa memancingnya keluar dari tempat persembunyiannya. Paling tidak, Catherine mendapat
tambahan waktu beberapa hari. Dan kita punya waktu untuk menyelidiki Bill. Tapi mungkin juga
tidak; Crawford berpendapat selang waktu Bill beraksi semakin singkat. Tapi tak ada salahnya
dicoba."
"Aku pasti mau mencoba apa saja seandainya anggota keluargaku yang disekap. Kenapa dia terus
berkata 'Catherine'? Kenapa dia terus mengulangi nama itu?"
"Dia berusaha agar Buffalo Bill memandang
Catherine sebagai manusia. Banyak pembunuh berantai memberi keterangan di penjara bahwa
mereka harus melihat korban sebagai benda sebelum bisa menyembelihnya. Mereka bilang mereka
serasa berhadapan dengan boneka."
"Mungkinkah pernyataan Senator Martin ini didalangi oleh Crawford?"
"Mungkin, mungkin juga oleh Dr. Bloom—itu dia," ujar Starling. Mapp menoleh ke layar TV dan
melihat wawancara dengan Dr. Alan Bloom dari Uoiversity of Chicago mengenai pembunuh berantai,
yang direkam beberapa minggu sebelumnya.
Dr. Bloom tidak mau membandingkan Buffalo Bill dengan Francis Dolarhyde atau Garrett Hobbs,
atau para pembunuh berantai lain yang tercatat dalam sejarah. Ia juga tidak mau menggunakan istilah
"Buffalo Bill". Sesungguhnya ia tidak banyak bicara, namun ia dikenal sebagai pakar terkemuka
dalam bidang ini. dan pihak jaringan TV ingin menampilkan wajahnya.
Ucapan penutupnya digunakan sebagai "gong" di akhir laporan, "Segala sesuatu yang mungkin kita
gunakan untuk mengancamnya masih kalah mengerikan dibandingkan apa yang harus dia hadapi
setiap hari. Yang bisa kita lakukan adalah mengimbau agar dia mendatangi kita. Kita bisa
menjanjikan perlakuan baik dan bantuan, dan kita bisa menjanjikannya dengan hati tulus."
"Hah, omong'kosong. Kata-kata manis tanpa makna. Dia tidak menceritakan apa-apa, tapi di pihak
kin, dia juga tidak membuat Bill gelisah."
"Aku tidak bisa melupakan gadis di West Virginia itu," ujar Starling. "Dia selalu terbayang-bayang di
depan mata."
Pada waktu makan malam, Mapp menghibur Starling dengan komentar-komentarnya yang Jenaka,
dan membuat orang-orang yang menguping percakapan mereka terkagum-kagum mendengarnya
menciptakan plesetan dari karya-karya Stevie Wonder dan Emily Dickinson.

ben99 ebooks collections 40


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Ketika mereka kembali ke kamar, Starling memeriksa kotak suratnya dan menemukan pesan berikut:
Harap hubungi Albert Roden, ditambah nomor telepon.
"Ini satu bukti lagi bahwa teoriku benar," katanya kepada Mapp ketika mereka menjatuhkan diri di
tempat tidur masing-masing.
"Teori apa?"
"Kalau kita ketemu dua laki-laki, bisa dipastikan yang menelepon bukan orang yang diharapkan." "Itu
sih aku sudah tahu." Pesawat telepon berdering.
Mapp menempelkan ujung pensil ke hidungnya.' "Kalau itu Hot Bobby Lowrance, tolong beritahu dia
aku lagi di perpustakaan, oke?" ujar Mapp. "Bilang saja aku akan menelepon dia besok."
Peneleponnya ternyata Crawford. Ia menelepon dari pesawat terbang dan suaranya berkeresek.
"Starling, berkemaslah untuk dua malam dan temui aku satu jam lagi."
Starling menyangka Crawford sudah memutuskan hubungan, sebab ia hanya mendengar bunyi
mendengung, namun sekonyong-konyong suara atasannya terdengar lagi "—tidak perlu bawa
perlengkapan, pakaian saja."
"Di mana aku harus menemui Anda?" "Di Smithsonian." Crawford mulai bicara dengan orang lain
sebelum mematikan pesawat teleponnya.
"Jack Crawford," kata Starling sambil menaikkan tas pakaiannya ke atas tempat tidur.
Mapp mengintip dari balik Federal Code of Criminal Procedure yang tengah dibacanya. Ia
memperhatikan Starling berkemas sambil mengerutkan kening.
"Aku bukannya mau menambah pikiranmu," ujarnya.
"Sudahlah, jangan banyak basa-basi," sahut Starling- Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan rekannya
itu.
Mapp berhasil masuk Law Review di University of Maryland, meskipun bekerja sambil kuliah.
Peringkat akademisnya di Academy adalah nomor dua di kelas mereka, dan kalau sudah menghadapi
buku, ia selalu siap berjibaku. "Seharusnya kau ikut ujian Criminal Code besok dan tes PE dua hari
lagi. Pastikan Supremo Crawford tahu kau bisa disuruh mengulang dari awal kalau dia tidak hati-hati.
Begitu dia berkata, 'Terima kasih atas bantuanmu. Siswa Starling,' kau jangan cuma bilang, 'Sama-
sama.' Tatap wajahnya dan tegaskan, 'Saya minta Anda memastikan secara pribadi bahwa saya tidak
disuruh mengulang karena tidak mengikuti ujian.' Mengerti'.'"
"Aku bisa ikut ujian susulan," ujar Starling sambil membuka jepitan rambut dengan giginya.
"Yeah, dan kalau kau gagal karena tidak sempat „belajar, kaupikir kau takkan disuruh mengulang?
Yang benar saja! Kau akan dicampakkan sebelum sempat berkedip. Rasa terima kasih tidak bertahan
lama Clarice. Paksa dia memberi jaminan bahwa kau tak perlu mengulang apa pun. Nilai-nilaimu
bagus
suruh dia mengatakan itu. Aku tak mau kehilangan teman sekamar yang bisa menyetrika secepat kau
dalam keadaan kepepet."

Starling menjalankan Pinto tuanya dengan kecepatan tetap di jalan raya berjalur empat, satu mil per
jam di bawah kecepatan yang biasa membuat kemudinya bergetar. Bau apak bercampur bau oli panas,
suara kertak-kertak dari bawah, serta desing transmisi membuatnya teringat pada pickup ayahnya. Ia
pun terkenang bagaimana ia duduk di samping ayahnya sementara saudara-saudaranya terus membuat
gaduh.
Kini ia yang pegang kemudi, menyetir menembus kegelapan malam. Pikirannya menerawang. Rasa
takut seakan-akan mencengkeram tengkuknya; berbagai kenangan dari kejadian yang belum lama
lewat men-desak-desaknya dari samping.
Starling kuatir mayat Catherine Baker Martin telah ditemukan. Buffalo Bill mungkin panik ketika
mengetahui siapa korbannya. Mungkin saja ia telah menghabisi Catherine dan membuangnya dengan
kepompong tersangkut di tenggorokan.
Barangkali kepompong itu dibawa Crawford untuk diidentifikasi. Kalau bukan karena itu kenapa ia
minta Starling datang ke Smithsonian? Tapi urusan sepele seperti itu tak perlu ditangani Crawford;
kurir FBI pun sanggup melakukannya. Dan Crawford telah menyuruhnya berkemas untuk dua hari.
Starling mengerti kenapa Crawford tidak memberikan penjelasan melalui saluran radio yang tidak
diamankan, namun ia tetap saja penasaran.
Ia menemukan stasiun radio khusus berita dan menunggu sampai penyiarnya selesai membacakan la-
poran cuaca. Tapi berita yang menyusul ternyata tidak membantu. Berita dari Memphis itu sekadar
mengulangi berita pukul tujuh tadi. Putri Senator Martin dilaporkan hilang. Blusnya ditemukan dalam
keadaan tersayat di punggung, ciri khas Buffalo Bill. Tak ada saksi mata. Sementara itu korban yang
ditemukan di West Virginia tetap belum berhasil diidentifikasi.
West Virginia. Di antara hal-hal yang diingat Clarice Starling mengenai Potter Funeral Home terdapat
sesuatu yang amat berguna. Sesuatu yang abadi, bersinar-sinar di tengah kesuraman. Sesuatu yang
patut disimpan. Starling sengaja mengingat-ingatnya sekarang, dan ia menyadari ia bisa
menggenggamnya bagaikan jimat. Di Potter Funeral Home, saat berdiri di tempat cuci tangan, ia
memperoleh kekuatan dari sumber yang membuatnya terkejut sekaligus senang— kenangan
mengenai ibunya.
§ Ia memarkir Pinto-nya di bawah markas besar FBI di persimpangan Tenth dan Pennsylvania. Dua
kru TV telah memasang peralatan mereka di trotoar; para reporter tampak terlalu rapi di bawah sorot
lampu-lampu. Mereka sedang memberikan laporan dengan J. Edgar Hoover Building sebagai latar
belakang. Starling menghindari larmpu-lampu itu dan berjalan kaki Sejauh dua blok ke Smithsonian's
National Museum Natural History.
Ia melihat beberapa jendela terang di gedung tua itu. Sebuah van bertanda Baltimore County P0i1Ce
tampak berhenti di jalan masuk yang berbentuk setengah lingkaran. Pengemudi Crawford, Jeff,
menunggu di balik kemudi van pengintai di belakangnya. Ketika melihat Starling mendekat, ia
mengatakan sesuatu melalui radio komunikasi yang digenggamnya

Bab Delapan Belas


ben99 ebooks collections 41
The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Penjaga pintu Smithsonian's mengantar Clarice Starl Starling ke tingkat dua di atas gajah besar. Pintu
lift membuka dan mereka melangkah Starling ke tingkat dua di atas gajah besar. Pintu lift membuka
dan mereka melangkah ke ruangan yang luas dan remang-remang. Crawford sudah menunggu dengan
tangan terselip dalam kantong jas hujan.
"Malam, Starling." ["Halo."
BCrawford menoleh kepada penjaga. "Kami sudah tahu jalannya, Officer, terima kasih." PCrawford
dan Starling berdampingan menyusuri koridor yang diapit tumpukan peti dan kotak berisi spesimen-
spesimen antropologi. Beberapa lampu di langit-langit menyala, tapi tidak banyak. Starling berjalan
sambil menundukkan kepala dan merenung, seperti yang biasa dilakukan orang saat melintasi kam-
pus, dan tiba-tiba ia menyadari bahwa Crawford hendak meletakkan tangan pada pundaknya, dan
Crawford akan melakukannya kalau saja hubungan mereka memungkinkannya.
Ia menunggu Crawford angkat bicara. Akhirnya ia herhenti dan menyelipkan tangan ke dalam
kantong.
Mereka saling berhadapan di tengah koridor yang sunyi.
Crawford menyandarkan kepala pada tumpukan peti dan menarik napas panjang. "Kemungkinan
besar Catherine Martin masih hidup," katanya.
Starling mengangguk-angguk, lalu menundukkan kepala. Barangkali Crawford lebih mudah bicara
kalau tidak ditatap langsung. Roman mukanya tampak biasa, namun sepertinya ada sesuatu yang
membuatnya tertekan. Sepintas lalu Starling menyangka istrinya meninggal. Namun mungkin juga
Crawford menjadi murung karena menghabiskan satu .hari bersama ibu Catherine yang tengah
tertimpa musibah.
"Tak banyak yang kuperoleh di Memphis," kata Crawford. "Tampaknya korban diculik di pelataran
parkir. Tak ada yang melihat kejadiannya. Dia masuk ke apartemennya dan entah kenapa kemudian
keluar lagi. Sepertinya dia tidak bermaksud berlama-lama— pintu apartemennya dibiarkan terbuka
dengan memasang pengaman deadlock agar jangan sampai terkunci secara tidak sengaja. Kunci
pintunya ditemukan di atas pesawat TV. Tak ada yang diotak-atik. Kelihatannya dia hanya sebentar di
dalam. Dia tidak sempat memeriksa mesin penjawab telepon di kamar tidur. Lampunya masih
menyala ketika pacarnya akhirnya memanggil polisi.
"Catherine ada di tangannya sekarang, Starling. Jaringan-jaringan TV setuju untuk tidak mengadakan
countdown pada siaran berita malam—Dr. Bloom kuatir itu akan memicu Bill untuk bertindak. Tapi
beberapa tabloid mungkin tak bisa dicegah."
Pada salah satu kasus penculikan sebelumnya, polisi menemukan baju yang tersayat di punggung dan
berbasi
mengidentifikasi korban sementara ia masih ditawan. Starling masih ingat countdown bertepi hitam
yang terpampang pada halaman depan koran-koran kuning. Countdown itu mencapai hitungan
kedelapan belas sebelmu korban ditemukan mengambang di sungai.
"Jadi, Catherine Baker Martin sedang menanti nasib di tempat tetirah Bill, dan kita punya waktu
sekitar satu minggu. Itu batas maksimal—Bloom berpendapat selang waktu Bill beraksi semakin
singkat." I Tidak biasanya Crawford bicara panjang-lebar seperti itu. Dan istilah "tempat tetirah"
terasa dibuat-buat. Starling tak sabar menunggu Crawford men-
fcaskan maksud sesungguhnya, dan ia tak perlu menunggu lama-lama.
"Tapi kali ini. Starling, kali ini kita mungkin agak beruntung."
Starling menatapnya sambil mengerutkan kening, penuh harapan namun sekaligus waspada.
"Kita menemukan serangga lagi. Kawan-kawanmu, Pilcher dan... vang satu lagi." f "Roden."
"Mereka sedang menelitinya."
"Di mana Anda mendapatkannya—Kentucky?—gadis di kamar pendingin itu?"
"Bukan. Mari, biar kutunjukkan. Aku ingin tahu pendapatmu mengenai ini."
"Bagian Entomologi ada di sebelah sana, Mr.Crawford." *
"Aku tahu," jawab Crawford.
Mereka membelok ke pintu Antropologi. Cahaya dan suara-suara menembus pintu berkaca susu itu
Starling melangkah masuk.
Tiga pria dengan jas lab bekerja pada meja di tengah ruangan, di bawah lampu yang terang-ben-
derang. Dari tempat Starling berdiri, tidak terlihat apa yang sedang mereka lakukan. Jerry Burroughs
dari seksi Ilmu Perilaku mengamati tindak-tanduk mereka sambil membuat catatan pada clipboard.
Starling mencium bau yang terasa sudah dikenalnya.
Kemudian salah satu pria berbaju putih memindahkan sesuatu ke tempat cuci tangan dan Starling
segera mengenalinya.
Pada nampan baja tahan karat di meja ia melihat "Klaus," kepala yang ditemukannya di Split City
Mini-Storage.
"Serangga yang kuceritakan tadi berasal dari teng-gorokan Klaus," ujar Crawford. "Tunggu sebentar,
Starling. Jerry, kau sedang bicara dengan ruang operator?"
Burroughs sedang membacakan catatan pada clipboard sambil menjepit gagang telepon. Dengan
sebelah tangan ia menutup pesawat. "Yeah, Jack, gambar rekaan Klaus sedang dikeringkan."
Crawford mengambil alih telepon. "Bobby, jangan tunggu sambungan Interpol. Buka saluran gambar
dan kirim foto-fotonya sekarang juga, berikut laporan medis. Negara-negara Skandinavia, Jerman
Barat, Belanda. Jangan lupa sebutkan bahwa Klaus mungkin awak kapal dagang yang kabur dari
kapalnya. Dan tambahkan bahwa Asuransi Kesehatan Nasional mereka mungkin punya klaim untuk
tulang pipi yang retak. Apa itu namanya, zygomatic arch. Sekalian jgrimkan kedua bagan gigi,
universal dan Federation pentaire. Memang sudah kedaluwarsa, tapi lumayan untuk perkiraan kasar."
Ia mengembalikan telepon kepada Burroughs. "Mana barang-barangmu, Starling'"
"Di ruang penjaga di bawah." "Johns Hopkins yang menemukan serangga itu," Crawford berkata
ketika mereka menunggu lift. "Mereka memeriksa kepalanya untuk kepolisian Baltimore County.
Serangga itu tersangkut di tenggorokan, persis seperti pada gadis di West Virginia." "Seperti di West
Virginia."
"'Sepertinya kau ragu. Johns Hopkins menemukan serangga itu pukul tujuh malam tadi. Aku

ben99 ebooks collections 42


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

dihubungi Kejaksaan Baltimore di pesawat. Mereka mengirimnya ke sini. berikut Klaus, supaya kita
bisa melihatnya in situ. Mereka juga minta pendapat Dr. Angel mengenai usia Klaus dan berapa
usianya ketika tulang pipinya retak. Mereka biasa berkonsultasi dengan Smithsonian, sama seperti
kita."
"Tunggu sebentar. Ini harus kucerna dulu. Maksud Anda. Buffalo Bill mungkin membunuh Klaus?
Bertahun-tahun lalu?" ."Apakah dugaan ini terlalu mengada-ada, terlalu
8erba kebetulan?" "Begitulah kesanku saat ini." "Pikirkanlah beberapa waktu." "Dr. Lecter
memberitahuku di mana Klaus bisa temukan." ujar Starling. "Memang." *
"Dr. Lecter juga memberitahukan bahwa pasiennya, Menjamin Raspail, mengaku membunuh Klaus.
Tapi
Lecter cenderung menganggap Klaus mati tercekik tanpa disengaja saat berhubungan intim." "Itu kata
dia."
"Anda menduga Lecter tahu persis bagaimana Klaus tewas, dan bukan karena Raspail, bukan pula
karena dicekik?"
"Di tenggorokan Klaus ada serangga, di tenggorok-an gadis dari West Virginia ada serangga. Aku
belum pernah melihat itu di tempat lain. Aku belum pernah membaca soal itu, dan belum pernah
mendengarnya. Bagaimana menurutmu?"
"Anda menyuruhku berkemas untuk dua hari. Anda ingin aku bertanya langsung kepada Lecter,
bukan?"
"Kaulah satu-satunya yang bisa mengajaknya bicara, Starling."
Starring mengangguk.
"Kita bicara sambil menuju rumah sakit jiwa," Crawford menambahkan.

Bab Sembilan Belas

Dr. lecter bertahun-tahun menjalankan praktek psikiatri yang sukses sebelum kita menangkapnya
karena pembunuhan," Crawford menjelaskan. "Berulang kali dia membuat evaluasi psikiatris untuk
pengadilan Maryland dan Virginia dan sejumlah pengadilan lain di sepanjang Pantai Timur. Dia
sering menangani pelaku kejahatan yang tidak waras. Itu salah satu penjelasan bagaimana dia tahu.
Kecuali itu, dia mengenal Raspail secara pribadi dan Raspail pun menceritakan berbagai hal saat
mengikuti terapi. Barangkali Raspail yang memberitahunya siapa yang membunuh Klaus."
Crawford dan Starling duduk berhadapan di kursi putar di bagian belakang van. pengintaian. Mereka
sedang menuju ke utara pada jalan raya U.S. 95, ke Baltimore yang berjarak enam puluh kilometer.
Jeff, yang memegang kemudi, tampaknya telah diperintahkan untuk tancap gas.
"Lecter sempat menawarkan bantuan, tapi aku menolak mentah-mentah. Aku sudah pernah menerima
bantuannya. Dia tidak memberikan sesuatu yang berguna dan malah menusuk wajah Will Graham
dengan pisau. Sebagai hiburan.
"Tapi serangga di tenggorokan Klaus, serangga di tenggorokan gadis di West Virginia, itu tidak"biSa
diabaikan. Alan Bloom belum pernah mendengar tentang ini, begitu juga aku. Kau pernah menemui
kasus seperti ini, Starling? Kau lebih banyak membaca buku dan laporan dibandingkan aku."
"Belum. Benda-benda lain, ya, tapi serangga belum pernah."
"Ada dua hal yang perlu kauingat. Pertama, kita berpegang pada anggapan bahwa Dr. Lecter memang
mengetahui sesuatu yang konkret. Kedua, Lecter selalu mencari kesenangan. Jangan pernah lupa. Dia
sendiri harus menginginkan Buffalo Bill ditangkap sementara Catherine Martin masih hidup. Segala
kesenangan dan keuntungan harus diarahkan ke situ. Kita tidak punya apa-apa untuk
mengancamnya—toilet dan buku-bukunya sudah diambil."
"Bagaimana kalau kita menceritakan situasi apa adanya dan menawarkan sesuatu—sel dengan
pemandangan, misalnya. Itu yang dimintanya ketika dia menawarkan bantuan."
"Dia menawarkan bantuan, Starling. Dia tidak bilang dia mau membocorkan rahasia orang lain.
Dengan berterus terang, dia tidak punya kesempatan untuk memamerkan kepandaiannya. Kau ragu.
Kau ingin percaya dia. Begini, Lecter tidak terburu-buru. Dia mengikuti kasus ini seperti menonton
pertandingan baseball. Kalau dia kita minta berterus terang, dia akan menunggu. Dia takkan langsung
buka mulut."
"Biarpun dengan iming-iming imbalan? Sesuatu yang takkan diperolehnya jika Catherine Martin
tewas?"
"Andaikata kita katakan padanya kita tahu dia BjltHiya informasi dan kita minta dia
membeberkannya. Dia akan mendapatkan kesenangan maksimal dengan menunggu dan berlagak
mengingat-ingat, minggu demi minggu. Dia akan membangkitkan harapan Senator Martin dan
membiarkan Catherine mati, lalu menyiksa ibu berikut dan yang berikut, selalu membangkitkan
harapan, selalu berlagak mengingat-ingat—bagi dia itu lebih baik daripada pemandangan. Itulah yang
menghidupinya.
"Aku tidak tahu apakah kita semakin bijak dengan bertambahnya usia, Starling, tapi lambat laun kita
"belajar untuk menghindari situasi yang tidak menguntungkan. Dan situasi ini patut dihindari."
"Jadi, Dr. Lecter harus menganggap kita mendatanginya semata-mata untuk teori dan pendapatnya,"
ujar Starling. "Tepat."
"Kenapa aku diberitahu? Kenapa aku tidak disuruh saja ke sana untuk menanyakannya sesuai
keinginan Anda?"
"Aku lebih suka membuka kartu. Kau akan melakukan hal yang sama pada waktu kaupegang
komando nanti. Cara-cara lain takkan berhasil dalam jangka panjang."
"Berarti serangga di tenggorokan Klaus tidak boleh disinggung-singgung, begitu juga keterkaitan
antara Klaus dan Buffalo Bill."
"Jangan. Kau kembali mendatangi Lecter karena kau terkesal dia bisa meramalkan Buffalo Bill akan
mulai mengambil kulit kepala korbannya. Aku sudah resmi menolak tawaran Lecter untuk membantu,

ben99 ebooks collections 43


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

begitu pula Alan Bloom. Tapi kau bisa coba-coba. Kau


membawa tawaran untuk berbagai fasilitas khusus
hal-hal yang hanya bisa diupayakan oleh seseorang dengan kekuasaan seperti Senator Martin. Lecter
harus percaya bahwa dia perlu bertindak cepat, sebab tawaran itu batal jika Catherine tewas. Jika itu
terjadi Lecter takkan dipedulikan lagi oleh Senator Martin. Dan kalau dia sampai gagal, itu karena dia
tidak sepandai dan sehebat yang digembar-gemborkannya selama ini—bukan karena dia sengaja
tutup mulut untuk mengejek kita."
"Betulkah Lecter takkan dipedulikan lagi?"
"Lebih baik kau bisa menjawab di bawah sumpah bahwa kau tak pernah mengetahui jawaban
terhadap pertanyaan itu."
"Hmm, aku mengerti." Berarti Senator Martin belum diberitahu. Langkah itu menuntut keberanian.
Tampaknya Crawford kuatir mengenai campur tangan pihak luar; tampaknya ia kuatir Senator Martin
akan melakukan kesalahan dengan mengimbau langsung kepada Dr. Lecter.
"Kau betul-betul sudah mengerti?"
"Ya. Tapi bagaimana dia bisa memberikan petunjuk yang cukup jelas untuk mengarahkan kita kepada
Buffalo Bill, tanpa memperlihatkan bahwa dia menyimpan informasi khusus? Bagaimana dia bisa
melakukannya dengan mengandalkan teori dan pemikirannya sendiri?"
"Entahlah, Starling. Dia punya waktu cukup lama untuk memikirkannya. Dia menunggu sampai ada
enam korban."
Pesawat telepon di dalam van berdengung dan berkerlap-kerlip, menandakan percakapan pertama
dari serangkaian telepon yang disambungkan melalui operator FBI atas permintaan Crawford sudah
siap dimulai.
Selama dua puluh menit berikut, ia bicara dengan petugas-petugas kenalannya di Dutch State Police
dan Royal Marechausee, seorang Overstelojtnant di Swedish Technical Police yang pernah belajar di
Quantico, dan seorang kenalan pribadi yang bertugas sebagai asisten Rigspolitichef kepolisian
pemerintah Denmark. Kemudian ia mengejutkan Starling dengan berbicara dalam bahasa Prancis
dengan petugas piket malam di Belgian Police Criminelle. Setiap kali ia menekankan bahwa Klaus
harus diidentifikasi secepat mungkin. Sebenarnya masing-masing wilayah hukum itu sudah menerima
permintaan bantuan melalui teleks Interpol, tapi berkat jaringan pribadi Crawford, permintaan
tersebut akan ditanggapi lebih cepat, i Starling menyadari Crawford memilih van itu karena peralatan
komunikasinya—van tersebut dilengkapi sistem Voice Privacy yang baru—namun sesungguhnya
urusan ini lebih mudah ditangani dari ruang kerjanya. Di sini Crawford terpaksa buka-tutup buku-
buku notesnya pada meja sempit dalam cahaya redup, dan setiap kali kendaraan mereka terguncang,
buku-bukunya ikut bergeser. Pengalaman lapangan Starling belum banyak, tapi ia tahu tidak biasanya
seorang kepala seksi turun tangan untuk urusan sepele seperti ini. Crawford sebenarnya bisa saja
memberikan pengarahan melalui telepon radio. Starling bersyukur atasannya itu memilih alternatif
lain. 1 Starling mendapat kesan bahwa ketenangan di dalam van serta waktu yang diberikan agar misi
ini dapat berjalan secara terencana telah dibayar dengan harga tinggi. Percakapan Crawford melalui
telepon membenarkan dugaannya.
Crawford sedang berbicara dengan Direktur FBI "Tidak, Sir. Apakah mereka setuju? Berapa lama?
Tidak, Sir. Tidak. Tidak ada alat penyadap. Tommy itu rekomendasi saya. Saya tidak mau dia
memakai alat penyadap. Dr. Bloom sependapat. Dia tertahan kabut di O'Hare. Dia akan datang begitu
pesawatnya bisa lepas landas. Oke."
Crawford lalu menelepon juru rawat di rumahnya. Setelah menyelesaikan percakapan yang tak
dipahami oleh Starling, ia melepaskan kacamatanya dan memandang ke luar jendela van selama satu
menit. Kemudian kacamatanya dipasang kembali, dan ia berpaling kepada Starling.
"Kita punya waktu tiga hari untuk Lecter. Kalau tidak ada hasil, kepolisian Baltimore akan mencoba
memaksanya bicara, sampai mereka diperintahkan berhenti oleh pengadilan."
"Lecter tidak bisa dipaksa. Seharusnya mereka sudah tahu dari pengalaman."
"Apa yang dia berikan pada mereka waktu itu? Burung-burungan kertas?"
"Ya, burung-burungan." Burung origami yang telah kusut itu masih tersimpan di tas Starling. Ia
melicin-kannya pada meja kecil dan membuatnya mematuk-matuk.
"Aku tidak menyalahkan polisi Baltimore. Lecter tahanan mereka. Kalau Catherine sampai tewas,
me" reka harus bisa mengatakan kepada Senator Martin bahwa mereka telah mencoba segala cara."
"Bagaimana keadaan Senator Martin?"
"Tabah tapi cemas. Dia wanita yang cerdas, keras dan berakal sehat, Starling. Kau pasti
menyukainya."
"Apakah Johns Hopkins dan seksi pembunuhan Baltimore County akan tutup mulut mengenai
serangga di tenggorokan Klaus? Apakah kita bisa merahasiakannya dari pihak pers?" I "Paling tidak
selama tiga hari." -
"Itu bukan pekerjaan mudah."
"Kita tidak bisa mempercayai Frederick Chilton, atau siapa pun di rumah sakit jiwa itu," ujar
Crawford. "Kalau Chilton tahu, seluruh dunia tahu. Chilton pasti akan mengetahui kedatanganmu,
tapi kau sekadar membantu Baltimore Homicide dalam menuntaskan kasus Klaus—tak ada sangkut
pautnya dengan Buffalo Bill."
"Dan itu kulakukan malam-malam begini?" "Katakan saja aku tidak mengizinkanmu menggunakan
waktu lain. Oh ya, soal serangga di West Virginia akan disebutkan di koran-koran pagi. Kantor
pemeriksa mayat Cincinnati yang membocorkannya, jadi ini bukan rahasia lagi. Ini detail kecil yang
bisa kauberikan pada Lecter, dan sebenarnya tak ada pengaruhnya, asal dia jangan sampai tahu kita
juga menemukan serangga di pnggorokan Klaus."
"Apa yang bisa kita tawarkan sebagai imbalan?" "Soal itu sedang kuusahakan," sahut Crawford, lalu
kembali^mengangkat gagang telepon.

ben99 ebooks collections 44


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

BAB DUA PULUH

Kamar mandi luas, dengan keramik putih, sky light, dan fixture impor dari Italia yang menempel
pada dinding bata yang tidak diplester. Meja rias besar yang diapit tanaman pot, penuh kosmetika,
dengan cermin berembun karena uap dari shower. Terdengar orang bersenandung dari shower
dengan nada terlalu tinggi untuk suaranya. Lagu yang didendangkan adalah Cash for Your Trash
ciptaan Fats Waller, dari musikal Ain't Misbehavin'. Sesekali suara itu menyanyikan liriknya:
"Save up all your old newsPA-PERS. Save and pile 'em like a high skySCRAPER DAH
DAHDAHDAH DAH DAH DAHDAH D AH DAH..."

Setiap kali terdengar kata-kata, seekor anjing kecil menggaruk-garuk pintu kamar mandi.
Orang yang sedang mandi itu adalah Jame Gumb, pria kulit putih, tiga puluh empat tahun, dua
meter lebih, 102 kg, rambut cokelat, mata biru, tanpa tanda-tanda khusus. Ia mengucapkan nama
depannya seperti
James tanpa s. Dan ia berkeras agar semua orang melakukan hal yang sama.
Setelah membilas tubuhnya, Gumb mengoleskan Friction des Bains dan menggosokkannya dengan
tangan ke dada dan pantat. Untuk bagian-bagian tubuh yang enggan disentuhnya, ia menggunakan
lap piring. Bulu kakinya sudah agak panjang, tapi untuk sementara ia membiarkannya.
Gumb mengeringkan tubuhnya, lalu mengoleskan pelembap kulit. Cerminnya yang memperlihatkan
seluruh badan tertutup tirai plastik di bagian bawah.
Gumb memakai lap piring untuk menjepitkan penis dan buah zakarnya di antara kedua paha. Ia
menyingkirkan tirai plastik dan berpose di depan cermin, meskipun gerakan itu membuatnya tidak
nyaman di daerah selangkangan.
"Lakukan sesuatu untukku, Sayang. Lakukan sesuatu SEGERA." Suaranya yang berat dipaksa
bernada tinggi, dan hasilnya ia anggap cukup baik. Hormon-hormon yang pernah diminumnya—
Premarin untuk beberapa waktu, lalu diethylstilbestrol—tak dapat mengubah suaranya, tapi bulu-
bulu pada dadanya yang agak menonjol memang telah menipis. Gumb juga telah menghilangkan
janggutnya dengan proses elektrolisis dan membentuk garis rambut agar menyerupai huruf V, namun
ia tidak mirip wanita. Ia tampak seperti pria yang siap berkelahi dengan menggunakan kuku maupun
tangan dan kaki.
"Apa yang akan kaulakukan untukkuuu?"
Anjing di luar kembali menggaruk-garuk pintu. Gumb mengenakan kimono dan
membiarkan anjing itu masuk. Ia mengangkat anjing pudel berbulu putih kekuningan.

BAB DUA PULUH SATU

C larice starling tiba di Baltimore State Hospital for the Criminally Insane beberapa menit setelah
pukul sepuluh malam. Ia sendirian. Starling berharap Dr. Frederick Chilton tidak ada di tempat,
tapi ternyata orang itu telah menunggu di ruang kerjanya.
Chilton mengenakan jas santai bermotif kotak-kotak dengan potongan Inggris. Moga-moga dia
tidak bermaksud mengajakku berkencan, ujar Starling dalam hati.
Di depan meja Chilton tidak ada apa-apa selain kursi bersandaran lurus yang disekrup ke lantai.
Starling berdiri di samping kursi dan menyapa pimpinan rumah sakit itu.
Dr. Chilton berpaling dari rak berisi koleksi lokomotif Franklin Mint kebanggaannya.
"Mau minum kopi?"
"Tidak, terima kasih. Maaf saya mengganggu acara Anda malam ini."
"Anda masih juga berusaha mengorek keterangan mengenai kepala itu," kata Dr. Chilton.
"Ya. Saya diberitahu kejaksaan Baltimore bahwa mereka sudah menghubungi Anda, Dokter."
"Oh ya, kerja sama kami sangat erat, Miss Starling. Omong-omong. Anda sedang menyusun artikel
atau tesis?"
"Tidak."
"Karya tulis Anda sudah pernah dimuat dalam jurnal-jurnal profesi?"
"Belum. Saya diminta membantu Baltimore County Homicide oleh kantor U.S. Attorney. Kami
sekadar merangkum petunjuk-petunjuk lepas untuk mempermudah penyidikan selanjutnya." Starling
bersyukur ia tidak menyukai Chilton, sehingga membohonginya pun terasa lebih mudah.
"Anda memakai alat penyadap untuk merekam ucapan Dr. Lecter. Miss Starling?" E "Tidak."
Dr. Chilton mengeluarkan alat perekam berukuran kecil dari laci mejanya dan memasukkan
sebuah kaset. "Kalau begitu, bawalah ini. Sekretaris saya akan membuat transkrip, dan salinannya
akan dikirim pada Anda. Barangkali berguna sebagai pelengkap catatan Anda."
"Maaf, Dr. Chilton, tapi saya tidak bisa melakukannya."
"Kenapa tidak? Pihak berwajib Baltimore menginginkan analisis saya mengenai segala sesuatu
yang dikatakan Lecter sehubungan kasus Klaus ini."
Bujuklah Chilton agar mau bekerja sama, Crawford sempat berpesan. Kita bisa saja
memaksanya dengan membawa surat perintah pengadilan, tapi Lecter pasti segera tahu. Dia
seolah bisa membaca Pikiran Chilton.
"U.S. Attorney menyarankan kami memakai pen dekatan informal dulu. Seandainya saya merekam
ucapan Dr. Lecter tanpa sepengetahuannya, dan kemudian dia mengetahuinya, seluruh suasana
kerja sama yang telah terbina akan mentah kembali. Anda tentu sependapat."
"Bagaimana mungkin dia tahu?"
Dia bakal membacanya di koran, berikut segala hal lain yang kauketahui, brengsek.
Starling tidak menyahut. "Jika pertemuan saya dengan Lecter ada kelanjutannya dan dia harus
memberi kesaksian, Andalah yang pertama melihat bahan-bahan yang terkumpul. Dan saya yakin
Anda juga akan diundang sebagai saksi ahli. Saat ini kami sekadar berusaha memperoleh petunjuk
dari dia."
"Apakah Anda tahu kenapa dia mau bicara dengan Anda, Miss Starling?"
"Tidak, Dr. Chilton."

ben99 ebooks collections 45


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Chilton menatap deretan ijazah yang terpajang di dinding di belakang meja kerjanya. Kemudian ia
kembali berpaling kepada Starling. "Anda yakin Anda tahu apa yang Anda lakukan?"
"Tentu." Kaki Starling gemetaran akibat berlatih terlalu berat. Ia tidak ingin bertengkar dengan
Chilton. Ia perlu menyimpan tenaga untuk menghadapi Lecter.
"Anda datang ke rumah sakit saya untuk wawancara dan menolak berbagi informasi dengan
saya."
"Saya hanya menjalankan perintah, Dr. Chilton. Saya membawa nomor telepon U.S. Attorney.
Silakan Anda bicarakan masalah ini dengan dia, atau biarkan saya melaksanakan tugas."
"Saya bukan juru kunci di sini, Miss Starling-Saya tidak perlu datang kemari malam-malam untuk
kuibiarkan orang keluar-masuk. Saya sudah beli satu karcis pertunjukan Holiday on Ice."

Chilton sadar ia mengatakan satu karcis. Saat itu juga seluruh hidupnya terbeber di hadapan
Starling, jan Chilton pun menyadarinya.
Lemari esnya yang kosong terbayang di depan „jata Starling, begitu pula sisa masakan instan yang
^makannya seorang diri, serta barang-barang yang dibiarkan menumpuk selama berbulan-bulan,
sampai akhirnya dipindahkan. Starling langsung tahu ia tidak boleh memberi ampun, tidak boleh
angkat bicara atau memalingkan wajah. Ia menatap wajah Chilton sambil menelengkan kepala dan
memicingkan mata, dan ia tahu Chilton takkan sanggup melanjutkan percakapan. Hphilton
memanggil petugas bernama Alonzo untuk mengantarnya.

BAB DUA PULUH DUA


Ketika menuju ke sayap pengamanan maksimum bersama Alonzo, Starling berusaha mengabaikan
suara benturan dan teriakan yang seakan-akan menyelubunginya.
Kehadiran orang-orang gila—kesadaran bahwa Catherine Martin sedang sendirian, terikat, bersama
salah satu dari mereka—menyiapkan Starling untuk tugasnya. Namun ia membutuhkan lebih dari
sekadar tekad. Ia harus tenang, teliti, penuh perhitungan. Ia harus menggunakan kesabaran dalam
keadaan terdesak waktu. Jika Dr. Lecter mengetahui jawabannya, Starling harus meraba-rabanya
secara hati-hati.
Starling teringat rekaman mengenai Catherine Baker Martin semasa kanak-kanak yang ditayangkan
dalam siaran berita, gadis cilik di atas perahu layar.
Alonzo menekan tombol pada pintu kokoh terakhir.
"Bimbinglah kami untuk peduli dan tidak peduli, bimbinglah kami untuk diam."
"Maaf?" ujar Alonzo, dan Starling menyadari ia bicara sendiri.
Alonzo meninggalkannya bersama penjaga berbadan besar yang membuka pintu. Ketika Alonzo
berbalik,
Starling melihatnya membuat tanda salib.
"Selamat datang kembali," kata si penjaga, lalu menggerendel pintu di belakang mereka.
"Halo, Barney."
Barney sedang memegang buku Sense and Sensibility karya Jane Austen; semua indra Starling dalam
keadaan siaga penuh, dan tak ada yang luput dari perhatiannya.
"Lampunya mau diatur bagaimana?" tanya Barney.
Koridor di antara deretan sel tampak remang-remang. Di ujung ia melihat cahaya dari sel terakhir
menerangi lantai koridor.
"Dr. Lecter belum tidur."
"Dia selalu bangun kalau malam—biarpun lampunya tidak menyala."
"Biarkan saja seperti sekarang."
"Jalan di tengah koridor, jangan pegang terali, oke?"
"Saya mau mematikan TV." Pesawat TV telah digeser ke ujung, menghadap ke bagian tengah
koridor. Beberapa penghuni sel bisa melihatnya dengan menempelkan kepala ke terali.
"Oke. silakan matikan suaranya. Tapi gambarnya biarkan saja. Beberapa orang di sini suka nonton.
Saya sudah menyiapkan kursi untuk Anda, kalau Anda membutuhkannya."
Seorang diri Starling menyusuri koridor remang-remang itu. Ia tidak menoleh ke sel-sel di kedua sisi.
Suara langkahnya berkesan keras baginya. Kecuali 'tu hanya ada suara mendengkur dari satu atau dua
Sel, serta tawa terkekeh-kekeh dari sel lain.
Bekas sel Miggs sudah diisi penghuni baru. Starling melihat sepasang kaki yang panjang terjulur di
lantai, serta bagian belakang kepala yang bersandar pada terali. Ia menoleh sejenak. Seorang pria
duduk di lantai sel, di tengah sobekan-sobekan kertas karton Wajahnya tanpa ekspresi. Pesawat TV
tercermin di matanya. Air liur mengalir dari sudut mulut.
Starling enggan memandang ke sel Dr. Lecter sebelum yakin kedatangannya diketahui. Ia melewati
sel itu, menghampiri TV, dan mematikan suaranya. Ia merinding.
Dr. Lecter mengenakan seragam putih rumah sakit jiwa di selnya yang berwarna sama. Kecuali
rambut, mata, dan mulutnya yang merah, segala sesuatu di sel itu berwarna putih. Wajahnya sudah
begitu lama tidak terkena sinar matahari, sehingga seakan-akan menyatu dengan warna putih yang
mengelilinginya; sepintas lalu timbul kesan wajahnya melayang di atas kerah bajunya. Lecter duduk
di meja di balik jaring nilon yang menghalanginya dari terali. Ia sedang membuat sketsa pada kertas
roti dengan memakai tangannya sebagai model. Sementara Starling menonton, Lecter membalikkan
tangan dan, sambil meregangkan jari-jemari, menggambar sisi dalam lengannya. Dengan jari
kelingking ia menggosok-gosok salah satu garis yang dibuatnya dengan arang.
Starling mendekati terali, dan Lecter menoleh.
"Selamat malam, Dr. Lecter."
Ujung lidah Lecter yang merah muncul di antara kedua bibir yang tak kalah merahnya. Sejenak
lidahnya menyentuh bibir atas, tepat di tengah, lalu menghilang kembali.
"Clarice."
Starling mendengar suaranya yang parau, dan dalam l,ati ia bertanya, sudah berapa lama sejak pria itu
terakhir angkat bicara. Keheningan seakan berdenyut-denyut....
"Besok bukan hari libur, tapi malam-malam begini kau masih jalan-jalan," ujar Lecter.
"Ini sekolah malam," balas Starling. Ia menyayangkan suaranya tidak bernada lebih tegas. "Aku dari
West Virginia kemarin..." 'Kau terluka?"

ben99 ebooks collections 46


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Tidak. Aku..."
"Kau memakai Band-Aid baru, Clarice."
Kemudian Starling teringat. "Kakiku tergores pinggiran kolam renang tadi." Band-Aid itu tidak
kelihatan, tersembunyi di balik celana panjang. Rupanya Lecter bisa menciumnya. "Aku dari West
Virginia kemarin. Polisi setempat menemukan mayat di sana, korban terakhir Buffalo Bill."
"Bukan yang terakhir, Clarice." i "Terakhir sebelum yang sekarang."
"Ya." "Kulit kepalanya diambil. Persis seperti yang Anda naikan."
"Kau keberatan kalau aku terus menggambar sambil mengobrol?" I "Tidak, silakan."
"Kau melihat jenazahnya?"
"Ya."
"Kau sempat melihat para korban sebelumnya?" "Tidak secara langsung. Hanya dari foto."
"Bagaimana perasaanmu waktu itu?" "Prihatin, kemudian aku sibuk."
"Dan setelah itu?" "Terpukul."
"Kau tetap bisa bertugas dengan baik?" Dr. Lecter menggosok-gosokkan arang pada tepi kertas untuk
meruncingkannya.
"Ya, aku tetap bekerja seperti biasa."
'.'Untuk Jack Crawford? Atau dia ikut juga?"
"Dia ikut."
"Sebentar, Clarice. Tolong tundukkan kepala sedikit, seperti kalau kau tertidur. Sedikit lagi. Terima
kasih, sudah cukup. Duduklah. Kau sempat menceritakan ucapanku pada Jack Crawford sebelum
korban ditemukan?"
"Ya. Dia tak percaya."
"Dan setelah dia melihat korban di West Virginia?" "Dia bicara dengan seorang pakar dari University
of..."
"Alan Bloom."
"Betul. Dr. Bloom menjelaskan bahwa Buffalo Bill sekadar menanggapi sosok yang diciptakan pers.
Dia bilang semua orang bisa meramalkan bahwa hal itu akan terjadi."
"Dr. Bloom sudah tahu sebelumnya?"
"Dia bilang begitu."
"Dia sudah tahu, tapi tidak mengatakan apa-apa. Hmm, begitu. Bagaimana menurutmu, Clarice?"
"Entahlah."
"Kau mempunyai latar belakang psikologi, dan sedikit forensik. Kau mengail di tempat keduanya
bertemu, bukan? Sudah ada yang tertangkap, Clarice.
"Sejauh ini hasilnya belum seperti yang diharapkan."
"Berdasarkan kedua disiplin ilmu itu, apa yang dapat kaukatakan mengenai Buffalo Bill?"
"Menurut buku, dia bisa digolongkan sebagai pelaku sadisme."
"Hidup ini terlalu rumit untuk mengandalkan buku, Clarice; kemarahan tampak seperti gairah, TBC
kulit menyerupai ruam biasa." Dr. Lecter selesai menggambar tangan kiri dengan ta kanan. Ia
berganti tangan, lalu mulai menggambar tangan kanan dengan tangan kiri. "Maksudmu, buku Dr.
Bloom?" Ya."
"Kau mencari keterangan mengenai aku di situ, bukan?"
"Ya-
“Bagaimana dia menggambarkanku?"
"Sebagai sosiopat sejati."
"Kau menganggap Dr. Bloom selalu benar?"
'Aku masih menunggu bukti sebaliknya."
Senyum Dr. Lecter memperlihatkan giginya yang lecil dan putih. "Pakar ada di mana-mana, Clarice.
Dr. Chilton menggolongkan Sammie, di belakangmu K sebagai hebephrenic schizoid yang tak bisa
disem-Hhkan. Dia menempatkan Sammie di bekas sel Biggs. karena menganggap Sammie sudah
berpamitan pada dunia. Kau tahu bagaimana hidup orang hebe-mrenic biasanya berakhir? Jangan
kuatir, dia takkan ■endengarmu."
"Mereka yang paling sukar dirawat," sahut Star-Rg. "Pada umumnya, mereka sepenuhnya menutup
Rri dari lingkungan dan mengalami disintegrasi kepri-Rdian."
Dr. Lecter mengambil sesuatu yang terselip di antara lembaran-lembaran kertas roti dan menaruhnya
pada baki. Starling menariknya keluar.
"Baru kemarin Sammie mengirimkan ini bersam makan malamku," katanya.
Starling meraih potongan kertas karton bertulisan krayon itu.
Tulisan itu berbunyi:

I WAN TOO GO TO JESA I WAN TOO GO WIV CRIEZ I CAN GO WIV JESA EF I AC RELL
NIZE

SAMMIE

Starling menoleh ke belakang. Sammie masih duduk di dinding sel dengan kepala tersandar pada
terali. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.
"Coba ucapkan keras-keras. Dia takkan mendengarmu."
Starling mulai membaca. " I want to go to Jesus, I want to go with Christ, I can go with Jesus if I act
real nice.'"
"Bukan, bukan begitu. Lebih tegas. Seperti 'Pease porridge hot.' Iramanya berbeda, tapi intensitasnya
sama." Lecter bertepuk-tepuk pelan, "Pease porridge in the pot nine days old. Bersemangat. Sungguh-
sungguh. 7 wan to go to J esa, I wan to go wiv Criez-'"
"Aku mengerti," ujar Starling sambil mengembalikan kertas itu ke baki.
"Tidak, kau sama sekali belum mengerti." Dr. Lecter mendadak bangkit, lalu jongkok. Tubuhnya
yang kecil tampak janggal ketika ia berayun-ayun sambil bertepuk tangan. Suaranya menggema, "I
wan t0 go to Jesa..."
Sekonyong-konyong suara Sammie menggelegar di belakang Starling. Sammie berdiri dan

ben99 ebooks collections 47


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

merapatkan wajah ke terali. Urat-urat lehernya tampak tegang:


'l WAN TOO GO TO JESA I WAN TOO GO WIV CRIEZ CAN GO WIV JESA EF I AC RELL
NIIIZE."

Hening. Tanpa sadar Starling telah berdiri dan kursi lipatnya terbalik ke belakang. Kertas-kertas di
pangkuannya berserakan di lantai. "Mari," Dr. Lecter berkata. Sikapnya tegak dan anggun bagaikan
penari, ketika ia mempersilakan Starling duduk kembali. Ia sendiri mengambil tempat lagi di kursinya
dan duduk sambil bertopang dagu. "Kau sama sekali belum mengerti," katanya sekali lagi. ''Sammie
sangat religius. Hanya saja dia kecewa karena Yesus belum datang juga. Boleh aku mem-leritahu
Clarice kenapa kau ada di sini, Sammie?" K Sammie menutup mulut dengan sebelah tangan.
Bolehkah?" ujar Dr. Lecter. "Eaaah." Sammie berkata melalui sela-sela jari. I; "Sammie menaruh
kepala ibunya pada baki kolekte li Highway Baptist Church di Trune. Mereka ber-panyi Give of Your
Best to the Master, dan itulah fciknya yang paling berharga." Lecter menatap ke Bftkang Starling.
"Terima kasih. Sammie. Dan tenang Ba. Silakan nonton TV."
Pria jangkung itu merosot ke lantai dengan kepaia tersandar pada terali seperti sebelumnya. Gambar
dari TV tercermin di matanya, dan wajahnya kin' tercoreng tiga garis mengilap, air mata dan ludah.
"Nah. Cobalah menerapkan pengetahuanmu pada kasus dia, dan barangkali aku bisa menerapkan
pengetahuanku pada kasusmu. Quid pro quo. Dia tidak mendengarkan kita."
Starling harus berusaha keras. "Sajaknya berubah dari 'go to Jesus' ke 'go with Christ,'" katanya.
"Urut-urutan itu berdasarkan nalar: pergi ke, tiba di pergi dengan."
"Ya, progresi linear. Yang membuatku gembira, dia tahu 'Jesa' sama dengan 'Criez.' Itu menunjukkan
kemajuan. Gagasan Tuhan tunggal sebagai Tritunggal sulit diterima, terutama bagi Sammie, yang
tidak tahu pasti berapa orang yang ada dalam dirinya. Eldridge Cleaver menyebutkan parabel 3-in-
One Oil, dan itu bisa membantu."
"Sammie melihat hubungan sebab-akibat antara tindakan dan tujuannya; itu menandakan pemikiran
terstruk-tur," ujar Starling. "Sama halnya dengan kemampuan menyusun sajak. Perasaannya tidak
tumpul—dia menangis. Menurut Anda, dia termasuk catatonic schizoid?'
"Ya. Kau mencium keringatnya? Bau yang mirip bau kambing itu adalah trans-3-methyl-2 hexenoic
acid. Ingat itu, itu bau schizophrenia."
"Dan Anda percaya dia bisa menjalani perawatan?"
"Terutama sekarang, pada waktu dia keluar dari fase apatis. Lihat, pipinya bersinar-sinar!"
"Dr. Lecter, kenapa Anda berkata Buffalo Bill bukan pelaku sadisme?" *
"Karena koran-koran melaporkan luka bekas tali pada pergelangan tangan, tapi bukan pada
pergelangan Kaki. Kau menemukan luka bekas tali pada pergelangan kaki korban di West Virginia?"
I"Tidak."
"Clarice, orang yang menguliti korbannya demi kesenangan, selalu melakukannya dengan korban
dalam posisi terbalik, agar tekanan darah lebih lama terjaga di kepala dan dada, dan korban tetap
sadar. Kau tidak tahu itu?" 'Tidak."
«"Setelah pulang ke Washington, pergilah ke National Gallery dan perhatikanlah Flaying of Marsyas
karya Titian sebelum dikembalikan ke Cekoslowakia. Detail-detailnya begitu hidup—perhatikanlah
Pan yang begitu rajin membawakan ember berisi air." Dr. Lecter, kita sedang menghadapi keadaan
luar Biasa, dan sejumlah kesempatan yang tidak lazim." "Bagi siapa?"
'"Bagi Anda, kalau korban yang ini bisa diselamatkan. Anda melihat Senator Martin di TV?" Ya, aku
menonton siaran berita." "Bagaimana pendapat Anda mengenai pernyataannya?"
Salah arah, tapi tidak berbahaya. Dia bertindak berdasarkan nasihat yang keliru."
'Senator Martin sangat berkuasa. Dan bersedia melakukan apa saja."
"Lalu?"
"Menurutku, pengetahuan Anda dalam hal ini melebihi pengetahuan orang lain. Senator Martin telah
memberi indikasi bahwa jika Anda membantu kami
menyelamatkan Catherine Baker Martin, dia akan mengusahakan kepindahan Anda ke institusi
federal dan kalau memang ada pemandangan, Anda bisa' menikmatinya. Anda mungkin juga akan
diminta meninjau laporan-laporan evaluasi psikiatri dari pasien-pasien baru—dengan kata lain, Anda
akan mendapat pekerjaan. Pengamanan tetap seperti semula." "Aku tidak percaya, Clarice."
"Sebaiknya Anda percaya." "Oh, aku percaya kau berkata jujur. Tapi selain cara menguliti orang
dengan benar, masih banyak hal yang tidak kauketahui mengenai perilaku manusia. Bukankah aneh,
seorang senator Amerika Serikat memilihmu sebagai kurir?"
"Anda yang memilihku, Dr. Lecter. Anda yang ingin bicara denganku. Anda lebih suka bicara dengan
orang lain sekarang? Atau barangkali Anda merasa tidak sanggup membantu?"
"Ini lancang sekaligus tidak benar, Clarice. Aku tidak percaya Jack Crawford rela aku menerima
kompensasi apa pun. Mungkin ada satu hal yang bisa kausampaikan pada Senator Martin, tapi harus
ada imbalan bagiku. Bagaimana kalau kita bertukar informasi, informasiku dengan informasi
mengenai dirimu? Ya atau tidak?"
"Tergantung apa yang ingin Anda tanyakan."
"Ya atau tidak? Catherine sedang menunggu, bukan? Sambil mendengarkan suara batu asah? Kira-
kira apa yang dia harapkan darimu?"
"Baiklah, apa yang ingin Anda ketahui?"
"Apa kenangan terburuk masa kecilmu?"
Starling menarik napas panjang.
"Jangan lama-lama," ujar Lecter. "Aku tidak berminat mendengarkan karanganmu yang paling me-
ngerikan."
"Kematian ayahku," Starling menyahut. "Ceritakanlah."
"Ayahku seorang town marshall. Suatu malam dia memergoki dua pencuri, pecandu obat bius, keluar
dari pintu belakang sebuah toko. Ketika dia turun dari pickup, pengokang senapannya macet dan dia
ditembak."
"Macet?"
"Pengokangnya tidak ditarik sampai habis. Senapannya senapan lama, Remington 870, dan pelurunya
tersangkut di antara magasin dan laras. Kalau itu terjadi, senapannya tidak bisa ditembakkan sebelum

ben99 ebooks collections 48


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

dibongkar. Rupanya pengokangnya terbentur pintu mobil waktu dia turun."


"Dia langsung tewas?"
"Tidak. Dia kuat. Dia bertahan satu bulan."
"Kau mengunjunginya di rumah sakit?"
"Dr. Lecter—ya."
"Ceritakan salah satu detail dari rumah sakit yang kauingat."
Starling memejamkan mata. "Tetangga kami berkunjung, seorang janda tua, dan dia membacakan
bagian akhir dari Thanatopsis untuk ayahku. Mungkin hanya itu yang dia tahu. Oke, sekian saja."
"Baiklah. Kau sangat terus terang, Clarice. Aku Pasti tahu apakah orang berkata jujur atau tidak. Aku
Jadi ingin tahu, bagaimana seandainya kita sempat berkenalan secara pribadi."
"Sekarang giliran Anda. Quid pro quo."
"Menurutmu, apakah gadis di West Virginia itu bisa disebut menarik secara fisik waktu dia masih
hidup?"
"Dia pandai merawat diri."
"Jangan sia-siakan waktuku dengan eufemisme."
"Dia gemuk."
"Besar?"
"Ya."
"Ditembak di dada." "Ya."
"Payudaranya kecil, bukan?" "Untuk ukuran dia, ya." "Tapi besar di daerah pinggang." "Ya, benar."
"Apa lagi?"
"Kami menemukan serangga yang sengaja dimasukkan ke tenggorokannya—hal ini tidak
diumumkan." "Seekor kupu-kupu?"
Starling menahan napas. Ia berharap Lecter tidak menyadarinya. "Seekor ngengat," katanya. "Tolong
jelaskan bagaimana Anda mengantisipasi ini."
"Clarice, aku akan memberitahumu kenapa Buffalo Bill menculik Catherine Baker Martin, dan
setelah itu selamat malam. Untuk sementara, ini petunjuk terakhir dariku. Senator Martin boleh
mengajukan tawaran yang lebih menarik... atau dia boleh menunggu sampai Catherine ditemukan
mengambang dan ucapanku terbukti benar."
"Kenapa dia diculik, Dr. Lecter?"
"Bill menginginkan rompi dengan puting susu," sahut Dr. Lecter.

Bab Dua Puluh Tiga

atherine baker martin tergeletak lima meter lebih di bawah lantai basement. Kegelapan yang
menyelubunginya dikuasai suara napasnya, detak jantungnya. Kadang-kadang rasa ngeri menekan
dadanya, bagaikan pemburu yang menginjak rubah untuk membunuhnya. Kadang-kadang ia sanggup
berpikir jernih: ia sadar ia diculik, namun ia tidak tahu oleh siapa. Ia sadar ia tidak bermimpi; dalam
kegelapan yang pekat, ia bisa mendengar bunyi pelan yang timbul setiap kali ia mengedipkan mata.
Keadaannya sudah lebih baik dibandingkan ketika ia baru siuman. Rasa pening yang sempat
dialaminya sudah mereda, dan ia tahu ia tidak kekurangan udara. Ia bisa membedakan bawah dan
atas, dan ia pun bisa mengira-ngira posisi tubuhnya.
Pundak, pinggang, dan lututnya pegal karena menindih lantai semen tempat ia tergeletak. Itu sisi
bawah. Sisi atas adalah kasur gulung yang digunakannya untuk menutupi seluruh tubuh ketika ia
terakhir disorot cahaya terang-benderang yang menyilaukan. Kepalanya tak lagi berdenyut-denyut,
dan yang masih terasa nyeri hanyalah jari-jemari tangan kirinya. Ia tahu jari manisnya patah. Ia
mengenakan semacam jump suit yang terbuat dari potongan-potongan kain. Baju itu bersih dan masih
berbau pewangi pakaian. Lantai pun bersih hanya dikotori tulang-tulang ayam dan sayuran sisa yang
dilemparkan orang yang menyekapnya. Benda lain di sekelilingnya hanya kasur gulung tadi serta
ember plastik dengan tali tipis terikat pada gagangnya. Tali itu menuju kegelapan di atas, sejauh
jangkauan tangannya.
Catherine Martin bebas bergerak, namun ia tidak bisa ke mana-mana. Lantai tempat ia tergeletak ber-
bentuk bulat telur, kira-kira dua setengah kali tiga meter, dengan lubang saluran pembuangan yang
kecil di tengah-tengah. Lantai itu merupakan dasar sumur yang dalam. Kini terdengar suara dari atas,
ataukah itu hanya suara detak jantungnya? Bukan, memang suara dari atas. Jelas-jelas dari atas.
Lubang sumur tempat ia disekap berada di basement, tepat di bawah dapur. Ia mendengar suara
langkah pada lantai dapur, dan suara air mengalir. Bunyi cakar anjing menggaruk-garuk linoleum.
Lalu tidak terdengar apa-apa sampai lingkaran cahaya kuning redup tampak pada lubang pintu
kolong, pertanda lampu basement dinyalakan. Kemudian ia kembali diterpa sinar terang-benderang,
dan kali ini ia duduk tegak, dengan kasur melintang pada kakinya yang bersilangan. Ia mencoba
mengintip lewat sela-sela jari, sementara menunggu matanya terbiasa dengan cahaya menyilaukan
itu. Bayangannya bergerak-gerak, mengikuti ayunan lampu yang tergantung jauh di atasnya.
Ia berkedip ketika ember plastik di dekatnya terangkat sambil berayun dan berputar pelan. Ia
berusaha fteredam rasa ngeri yang menghinggapi dirinya, dan dengan susah payah ia bicara.
Keluargaku akan membayar," katanya. "Tunai, gbuku akan membayar, tanpa bertanya apa pun. Ini
nomor—ohV la terperanjat ketika melihat bayangan gelap melayang ke arahnya. Ternyata sebuah
handuk, ini nomor telepon pribadinya. 202..."
"Bersihkan dirimu."Suara aneh yang sama, yang didengarnya berbicara dengan anjing itu.Ember lain
diturunkan dengan tali. Ia mencium air panas berbau sabun.
"Buka baju dan seka badanmu, atau kau kusiram Ipakai slang." Suara itu terdengar menjauh sambil
iberkata kepada anjing di sampingnya, "Dia akan fdisiram, Sayang, dia akan disiram!"
Catherine Martin mendengar suara langkah dan j; bunyi cakar pada lantai di atas basement.
Pandangannya tak lagi kabur seperti ketika pertama kali lampu dinyalakan. Ia bisa melihat dengan
ben99 ebooks collections 49
The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

jelas. Seberapa tinggi tepi lubang sumur, seberapa tinggi lampu yang tergantung pada kabel?
Mungkinkah ia menjangkau lampu itu dengan pakaiannya? Lakukan sesuatu, persetan. Jangan diam
saja. Dinding sumur begitu licin.
Satu-satunya cacat yang terlihat pada dinding itu hanyalah retakan pada plesteran, setengah meter di
luar jangkauan tangannya. Ia menggulung kasurnya serapat mungkin, lalu mengikatnya dengan
handuk. Sambil berdiri pada gulungan itu, ia menjangkau celah tadi dan berhasil mengaitkan kuku
untuk menjaga keseimbangan. Kemudian ia mendongakkan kepala. Lampu yang menerangi lubang
sumur tergantung hampir tiga meter di atas tangannya yang terentan»
Suara langkah terdengar mendekat. Gulungan kasur tempat Catherine Martin berpijak nyaris terbalik,
dan ia mencengkeram celah di dinding untuk menjaga keseimbangan, lalu melompat turun. Sebuah
serpihan jatuh dan menyerempet wajahnya.

Sesuatu diturunkan melewati lampu, sebuah slang. Sejenak air dingin menyembur, seakan-akan
sebagai ancaman.
"Bersihkan dirimu. Semuanya."
Di dalam ember ada waslap, dan sebotol pelembap impor yang mahal mengambang di permukaan air.
Catherine Martin tidak membantah. Lengan dan kakinya merinding, puting susunya mengerut sampai
nyeri karena udara yang dingin. Ia jongkok di samping ember air panas, sedekat mungkin ke dinding,
dan menyeka seluruh tubuh.
"Sekarang keringkan badanmu dan gosokkan krimnya. Ke seluruh badan."
Krim itu terasa hangat karena air mandi. Kelembap-annya membuat pakaian Catherine melekat pada
kulitnya.
"Sekarang angkat semua sampah dan pel lantainya."
Itu pun dilakukannya tanpa membantah. Tulang-tulang ayam dan kacang polong yang berserakan
dimasukkannya ke dalam ember. Kemudian ia membersihkan noda-noda minyak. Di dekat dinding ia
menemukan serpihan yang jatuh dari retakan di atas tadi. Ternyata kuku manusia, kuku yang patah
dan dilapisi cat kuku berkilau-kilau.
Ember ditarik ke atas.
"Ibuku akan membayar," Catherine Martin kembali berkata. "Tanpa banyak pertanyaan. Dia akan
membuat kalian semua jadi kaya. Kalau ini dalam rangka perjuangan, Iran atau Palestina, atau Black
Liberation, dia akan memberikan uang untuk itu. Kalian hanya perlu..."
Lampu dipadamkan. Seketika ia diselubungi kegelapan pekat.
Ia berkedip dan berseru, "Ohhh!" ketika ember plastik yang pertama turun di sampingnya. Ia duduk di
atas kasur dan berpikir keras. Kini ia yakin penculiknya hanya satu orang—orang Amerika kulit
putih. Ia berusaha memberi kesan tidak tahu apa-apa mengenai diri orang itu, bahwa ingatannya
mengenai kejadian di pelataran parkir telah terhapus akibat pukulan-pukulan ke kepalanya. Ia
berharap orang itu percaya ia bisa membebaskan tawanannya tanpa risiko apa pun. Otaknya bekerja
keras, terlalu keras.
Kuku itu, sebelumnya ada orang lain di sini. Wanita, atau gadis. Di mana dia sekarang? Apa yang
terjadi dengannya?
Dalam keadaan normal, ia akan segera tahu. Tapi dalam keadaan sekarang, ia baru sadar setelah
teringat pelembap yang sempat ia oleskan. Pelembap kulit. Seketika ia menyadari siapa yang
menyekapnya. Kesadaran itu menghunjamnya bagaikan belati dan ia menjerit, menjerit, di bawah
kasur. Ia bangkit dan berusaha memanjat, mencakar-cakar dinding, menjerit sampai terbatuk-batuk,
dengan tangan menempel di pipi. Kemudian ia mengempaskan diri ke kasur, badannya melengkung
dari kepala sampai ke tumit, sementara tangannya menjambak-jambak rambutnya sendiri.

Bab Dua Puluh Empat

Keping uang Starling masuk ke celah telepon umum di ruang penjaga yang kusam. Ia menelepon ke
van. "Crawford."
"Aku ada di telepon umum, di luar sayap pengamanan maksimum," ujar Starling. "Dr. Lecter mena-
nyakan apakah serangga di West Virginia seekor kupu-kupu. Dia tidak membahasnya lebih lanjut.
Dia bilang Buffalo Bill menculik Catherine Martin karena, aku mengutip, 'Dia menginginkan rompi
dengan puting susu.' Dr. Lecter ingin melakukan barter. Dia menginginkan tawaran yang lebih
menarik dari Senator Martin."
"Dia memutuskan pembicaraan denganmu?" "Ya."
"Kira-kira kapan dia bisa diajak bicara lagi?"
"Sepertinya dia cenderung menunggu beberapa nan, tapi aku ingin mendesaknya sekarang juga, kalau
aku bisa membawa tawaran baru dari Senator Martin.'
"Ini memang mendesak. Kita sudah mendapatkan identifikasi gadis di West Virginia, Starling. Sekitar
setengah jam lalu ada kiriman kartu sidik jari orang
[jilang dari Detroit, dan ternyata cocok. Kimberly Jane Emberg. dua puluh dua tahun, hilang di
Detroit sejak tujuh Februari. Kita sedang menyisir daerah sekitar rumahnya untuk mencari saksi mata.
Petugas visum Charlottesville menyatakan dia tewas paling lambat tanggal sebelas Februari, mungkin
sehari sebelumnya, tanggal sepuluh."
"Berarti hanya tiga hari dia disekap," kata Starling.
"Bill semakin singkat menyekap korban-korbannya. Tapi rasanya ini bukan kejutan." Nada suara
Crawford tetap datar. "Catherine Martin sudah sekitar dua puluh enam jam di tangannya. Kalau
Lecter memang sanggup membantu, sebaiknya dia melakukannya pada pertemuan kalian yang
berikut. Aku ada di kantor perwakilan Baltimore sekarang, teleponmu disambungkan dari van. Ada
kamar untukmu di HoJo, dua blok dari rumah sakit, kalau-kalau kau perlu tidur sebentar nanti."'
"Lecter curiga, Mr. Crawford. Dia tidak percaya Anda akan membiarkan dia mendapat fasilitas
khusus. Dia menukar informasinya mengenai Buffalo Bill dengan informasi pribadi tentang diriku.
Kukira per-tanyaan-pertanyaannya tidak ada sangkut-pautnya dengan kasus ini. Anda ingin tahu apa

ben99 ebooks collections 50


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

yang ditanyakannya?"
"Tidak."
"Itu sebabnya Anda keberatan aku memakai alat penyadap, bukan? Anda pikir aku lebih mudah mem-
buka rahasia pribadi untuk menyenangkan dia kalau orang lain tidak ikut mendengarnya."
"Atau begini: Bagaimana kalau aku percaya kau sanggup menangani dia, Starling? Bagaimana kalau
aku yakin kaulah yang paling cocok, dan aku tak ingin kau diusik orang-orang yang sok tahu'?
Maukah kau memakai alat penyadap kalau begitu?"
'Tidak, Sir!' Anda memang terkenal jago menangani agen, bukan begitu, Mr. Crawfish? "Apa yang
bisa kita tawarkan kepada Dr. Lecter?"
"Ada beberapa barang yang akan kukirim ke sana. Lima menit lagi aku sudah sampai di sana, kecuali
kalau kau ingin beristirahat dulu sejenak."
"Lebih baik langsung saja," sahut Starling. "Katakan pada pengantar barangnya agar mencari Alonzo.
Katakan pada Alonzo aku menunggunya di koridor di luar Section 8."
"Lima menit," ujar Crawford.
Starling mondar-mandir di lobi, jauh di bawah tanah. Ia satu-satunya sumber kecerahan di ruangan
itu.
Kita jarang memperoleh kesempatan mempersiapkan diri di lapangan rumput atau di jalan setapak
berbatu kerikil; kita melakukannya secara mendadak di tempat-tempat tanpa jendela, di koridor-
koridor rumah sakit, di ruangan-ruangan seperti ruang penjaga ini, dengan sofa berjok plastik dan
asbak yang sekaligus berfungsi sebagai iklan, di mana tirai-tirai menutupi dinding beton. Di ruangan-
ruangan seperti inilah, dalam keadaan terdesak waktu, kita mempersiapkan tindak-tanduk kita, kita
hafalkan di luar kepala agar bisa menggunakannya saat kita dicengkeram ketakutan. Starling sudah
cukup matang untuk mengetahui hal tersebut; ia tidak membiarkan dirinya terpengaruh ruangan itu.
Starling berjalan mondar-mandir. "Tahan, Nak," ia berkata keras-keras. Ia mengatakannya kepada
Catherine Martin dan kepada dirinya sendiri. "Kita lebih baik dari ruangan ini. Kita lebih baik dari
tempat keparat ini," katanya. "Kita lebih baik dari tempat kau disekap. Bantulah aku. Bantulah aku.
Bantulah aku." Sekilas ia teringat orangtuanya yang telah tiada. Ia bertanya-tanya, apakah mereka
akan kecewa jika mereka bisa melihatnya sekarang—pertanyaan yang sering kita ajukan dalam hati.
Jawabannya tidak, mereka takkan kecewa.
Ia membasuh muka dan keluar ke koridor.
Alonzo sudah menunggu dengan paket tersegel dari Crawford. Paket itu berisi peta dan sejumlah
instruksi. Starling segera mempelajari instruksi-instruksi tersebut, lalu menekan bel agar Barney
membukakan pintu untuknya.

Bab Dua Puluh Lima

Dr. lecter duduk di meja, membaca surat-surat yang diterimanya. Starling merasa lebih mudah
menghampiri sel itu jika perhatian Lecter tidak tertuju pada dirinya. "Dokter."
Lecter mengangkat jari untuk menyuruhnya diam. Selesai membaca surat, ia duduk termenung,
dengan ibu jari tangannya yang berjari enam di bawah dagu dan telunjuk di samping hidung.
"Bagaimana pen-dapatmu tentang ini?" tanyanya, lalu menaruh suratnya pada baki makanan.
Pengirim surat itu adalah U.S. Patent Office. "Ini menyangkut arloji penyalibanku," Dr. Lecter
menjelaskan. "Mereka menolak memberikan hak paten, tapi aku disarankan mengajukan permintaan
hak cipta untuk wajah arloji. Coba lihat ini." Ia meletakkan gambar seukuran serbet kertas di baki
makanan, dan Starling menariknya keluar. "Kau mungkin pernah memperhatikan bahwa pada
sebagian besar adegan penyaliban, kedua tangan menunjukkan, katakanlah, pukul tiga kurang
seperempat, atau-paling tidak pukul dua kurang sepuluh, sementara kedua kaki menunjuk
Sangka enam. Pada arloji ini, Yesus berada di salib, I seperti kaulihat di sini, dan lengannya berputar
untuk menunjukkan waktu, seperti pada jam-jam Disney yang populer. Kakinya tetap pada angka
enam, sementara sebuah jarum kecil mengelilingi lingkaran di atas kepala. Bagaimana pendapatmu?."
Mutu gambar anatomis itu sangat baik. Kepala f yang tampak pada gambar itu adalah kepala Starling.
E "Anda akan kehilangan banyak detail kalau gambarnya diperkecil sampai seukuran arloji," ujar
Starling. E "Sayangnya 'itu benar, tapi bagaimana dengan jam dinding? Apakah ini aman tanpa hak
paten?"
"Anda tentu akan menggunakan penggerak quartz, bukan, dan mekanisme itu sudah diberi hak paten.
Aku tidak tahu pasti, tapi kukira hak paten melindungi alat mekanis yang unik, sementara hak cipta
melindungi desain."
"Tapi kau bukan pengacara, kan? Itu tidak lagi menjadi persyaratan untuk masuk FBI."
"Aku membawa proposal untuk Anda," Starling berkata sambil membuka tas kerjanya.
Barney datang. Starling menutup tasnya kembali. Ia iri melihat ketenangan Barney yang seakan-akan
tak terusik oleh apa pun. Sorot mata penjaga itu memperlihatkan ia bebas dari pengaruh obat bius, ':.
sekaligus mengisyaratkan kecerdasannya.
"Maaf," ujar Barney. "Kalau Anda perlu tempat untuk menaruh kertas-kertas, di gudang ada kursi
bermeja, kursi sekolah, yang biasa dipakai para psi-| kiater. Mau saya ambilkan?"
Citra sekolahan. Ya atau tidak?
"Kita bisa bicara sekarang, Dr. Lecter?"
Lecter mempersilakannya dengan isyarat tangan. "Ya, Barney. Terima kasih." Tak lama kemudian
Starling sudah duduk, dan Barney pun kembali ke posnya.
"Dr. Lecter, Senator Martin mempunyai tawaran luar biasa untuk Anda."
"Luar biasa atau tidak, itu aku yang memutuskan. Cepat sekali kau bicara dengan dia?" -
"Ya. Dia tidak mau membuang-buang waktu. Dia menawarkan segala sesuatu yang bisa

ben99 ebooks collections 51


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

diberikannya, jadi ini bukan untuk dirundingkan lagi. Ini tawarannya yang terakhir." Starling menoleh
ke arah Lecter.
Dr. Lecter, orang yang telah membunuh sembilan orang, merapatkan tangan di bawah hidung dan
menatap lawan bicaranya. Matanya menyembunyikan kegelapan tak terperikan.
"Jika Anda membantu kami menemukan Buffalo Bill dan menyelamatkan Catherine Martin, Anda
akan memperoleh hal-hal berikut: transfer ke rumah sakit Veterans Administration di Oneida Park,
New York, ke sel dengan pemandangan hutan di sekeliling rumah sakit. Anda tetap di bawah
penjagaan maksimum. Anda akan diminta mengevaluasi tes psikologi tertulis terhadap sejumlah
narapidana federal, namun belum tentu penghuni institusi yang sama. Evaluasi-evaluasi itu Anda
lakukan tanpa mengetahui identitas orang yang bersangkutan. Anda akan diberi kesempatan membaca
buku." Starling kembali menoleh.
"Yang.paling menarik: setahun sekali Anda akan meninggalkan rumah sakit selama satu minggu dan
pergi ke sini." Ia meletakkan peta pada baki makanan. Dr. Lecter tidak menariknya ke dalam.
"Plum Island," Starling melanjutkan. "Setiap sore -selama satu minggu itu Anda bebas berjalan-jalan
di pantai atau berenang di laut dengan pengawasan dari jarak jauh, paling dekat tujuh puluh lima
meter, tapi pengawasan dilakukan oleh unit SWAT. Itu tawarannya."
"Kalau aku menolak?"
"Barangkali Anda bisa menggantungkan tirai di dinding, supaya sel Anda lebih cerah. Begini, Dr.
Lecter, kami tidak mempunyai apa pun untuk mengancam Anda. Yang kutawarkan adalah
kesempatan untuk melihat cahaya matahari."
Starling tidak menatapnya. Ia tidak ingin beradu pandang. Pertemuan ini bukan konfrontasi.
"Apakah Catherine Martin akan mengunjungiku dan berbicara denganku—semata-mata mengenai
penculiknya—jika aku memutuskan untuk menulis? Hanya denganku?"
"Ya. Itu bisa dipastikan."
"Bagaimana kau tahu? Dipastikan oleh siapa?"
"Aku sendiri yang akan mengantarnya."
"Kalau dia bersedia."
"Soal itu harus ditanyakan langsung padanya, bukan?"
Lecter menarik baki makanan ke dalam sel. "Plum
Island."
"Di ujung Long Island, di semenanjung sebelah utara itu."
"Plum Island. 'Pusat Penyakit Hewan Plum Island. (Federal, penelitian penyakit kuku dan mulut),'
tertulis di sini. Kedengarannya menarik."
"Itu hanya sebagian dari pulau tersebut. Di sana ada pantai indah dan tempat penginapan yang b'
Burung laut bertelur di situ di musim semi."
"Burung laut." Dr. Lecter menghela napas. Kepal nya dimiringkan sedikit, dan ujung lidahnya yan
merah menjilat bibirnya yang berwarna sama, tepat di tengah-tengah. "Jika kita bicara tentang ini,
Clarice, maka aku harus memperoleh sesuatu sebagai imbalan. Quid pro quo. Aku memberitahumu
sesuatu, dan kemudian giliranmu bercerita."
"Silakan," ujar Starling.
Ia harus menunggu satu menit sebelum Lect berkata, "Ulat berubah menjadi pupa di dalam kepom-
pong. Setelah itu dia meninggalkan tempat ganti rahasianya sebagai imago yang indah. Kau tahu apa
itu imago, Clarice?"
"Serangga bersayap dewasa."
"Selain itu?"
Starling menggelengkan kepala.
"Istilah psikoanalisis. Imago adalah gambaran mengenai orangtua yang tertanam di bawah sadar sejak
masa kanak-kanak dan sarat dengan kasih sayang kekanak-kanakan. Kata itu berasal dari patung lilin
leluhur yang dibawa orang Romawi kuno dalam upacara pemakaman. Kukira Crawford pun
seharusnya melihat makna kepompong serangga itu."
"Tak ada yang bisa dilakukan selain membandingkan daftar nama langganan jurnal entomologi
dengan daftar pelaku kejahatan seks yang diketahui."
"Pertama-tama, kita singkirkan julukan Buffalo Bill. Julukan itu menyesatkan dan tidak ada sangkut-
pautnya dengan orang yang kau cari. Supaya lebih mudah, orang itu kita panggil Billy saja. Sekarang
aku akan
memberikan rangkuman pendapatku. Siap?" "Siap."
"Makna kepompong itu adalah perubahan. Dari ulat menjadi kupu-kupu, atau ngengat. Billy berang-
gapan dia ingin berubah. Dia sedang membuat baju wanita dari wanita sungguhan untuk dirinya.
Karena itu korban-korbannya berbadan besar—baju itu harus muat di badannya. Jumlah korban
mengisyaratkan dia menganggapnya sebagai serangkaian pergantian kulit. Dia melakukan aksinya di
rumah berlantai dua; sudah tahu kenapa berlantai dua?"
"Selama beberapa waktu, dia menggantung korbannya di tangga."
"Tepat."
"Dr. Lecter, setahuku tidak ada korelasi antara transseksualisme dan kekerasan—kaum transseksual
pada umumnya orang berperangai pasif."
"Itu benar, Clarice. Kadang-kadang ada kecenderungan untuk terus menjalani pembedahan—secara
kosmetis, kaum transseksual sukar terpuaskan—tapi tak lebih dari itu. Billy bukan transseksual sejati.
Kau sudah dekat, Clarice. Kau sudah hampir menemukan cara untuk menangkapnya. Kausadari itu?"
"Tidak, Dr. Lecter."
"Bagus. Kalau begitu, kau tentu tidak keberatan untuk menceritakan apa yang terjadi sesudah
kematian ayahmu."
Starling menatap meja kecil di hadapannya.
"Kukira jawabannya takkan kautemukan pada kertas-kertasmu, Clarice."
"Ibuku menopang kehidupan kami selama lebih dari dua tahun."
"Bagaimana caranya?"
"Siang hari dia bekerja sebagai pelayan hotel malam hari dia memasak di sebuah cafe." "Setelah itu?"
"Aku dititipkan ke sepupu ibuku dan suaminya di Montana." "Hanya kau?" "Aku yang tertua."

ben99 ebooks collections 52


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Dewan Kota tidak membantu keluargamu?" "Ada cek sebesar lima ratus dolar." "Aneh, tidak ada
asuransi. Clarice, kauhilang senapan ayahmu macet karena terbentur pintu pickup." "Ya."
"Dia tidak naik mobil patroli?" "Tidak."
"Kejadiannya malam-malam." "Ya."
"Dia tidak punya pistol?" "Tidak."
"Clarice, ayahmu bertugas malam, dengan pickup, bersenjatakan senapan tua. Apakah dia memakai
jam absen pada ikat pinggangnya? Alat di mana ada kunci-kunci terpasang pada tiang-tiang di seluruh
kota, dan kita harus pergi ke sana memasukkan kunci ke dalam jam absensi? Supaya Dewan Kota
tahu kita tidak tidur. Apakah ayahmu memakai alat seperti itu?"
"Ya."
"Ayahmu penjaga malam, bukan? Dia bukan petugas polisi. Aku tahu kau bohong atau tidak."
"Dalam uraian tugasnya tertulis night marshal!" "Di mana alatnya sekarang?"
"Alat apa?" "Jam absensi itu." "Aku tidak ingat."
"Maukah kau menceritakannya kalau kau ingat
lagi?"
"Ya. Tunggu—Wali Kota datang ke rumah sakit dan minta agar ibuku menyerahkan jam itu serta
lencana ayahku." Starling tidak sadar ia mengetahui hal tersebut. "Quid pro quo, Dr. Lecter."
"Kau tidak mengarang, bukan? Tidak, nada suaramu takkan begitu pedih kalau begitu. Kita bicara
tentang orang transseksual. Kau mengatakan kekerasan dan perilaku destruktif yang menyimpang
tidak berkorelasi dengan transseksualisme. Itu benar. Tapi kau masih ingat pembicaraan kita
mengenai kemarahan yang tampak sebagai gairah, dan TBC kulit yang menyerupai ruam biasa? Billy
bukan transseksual, Clarice, tapi dia menganggap dirinya begitu, dia berusaha menjadi transseksual.
Kukira dia sudah berusaha menjadi macam-macam."
"Anda bilang aku sudah hampir menemukan cara untuk menangkapnya."
"Ada tiga tempat utama untuk pembedahan transseksual: Johns Hopkins, University of Minnesota,
dan Columbus Medical Center. Aku takkan heran kalau dia sempat mendaftarkan diri untuk
penggantian kelamin di salah satu atau ketiga-tiganya, namun ditolak."
"Atas dasar apa dia ditolak? Apa alasan pihak rumah sakit?"
"Ah, rupanya kau langsung menangkap maksudku. Yang pertama adalah catatan kriminal. Orang
yang pernah melakukan kejahatan langsung ditolak, kecuali jika kejahatannya relatif ringan dan
berkaitan dengan masalah identitas kelamin. Mengenakan pakaian lawan jenis di tempat umum,
misalnya. Kalaupun seseorang berhasil menutup-nutupi catatan kriminal serius, dia akan terjaring
melalui tes kepribadian." "Bagaimana caranya?"
"Kita harus tahu caranya sebelum bisa mempraktek-kannya, bukan?" "Ya."
"Kenapa kau tidak bertanya kepada Dr. Bloom?"
"Aku lebih suka menanyakannya pada Anda."
"Apa yang akan kauperoleh dari sini, Clarice? Promosi dan kenaikan gaji? Apa golonganmu, G-9?
Apa saja yang kauperoleh sebagai petugas golongan G-9?"
"Kunci untuk pintu depan, antara lain. Seperti apa hasil tes orang semacam Billy?" "Kau betah di
Montana, Clarice?" "Lumayan."
"Kau menyukai suami sepupu ibumu?" "Kami berbeda." "Seperti apa mereka?" "Letih karena bekerja
keras." "Apakah ada anak-anak lain?" "Tidak."
"Di mana kau tinggal?"
"Di peternakan."
"Peternakan domba?"
"Domba dan kuda."
"Berapa lama kau tinggal di situ?"
"Tujuh bulan."
"Berapa usiamu waktu itu?"
"Sepuluh." "Dari sana, kau pindah ke...?" "The Lutheran Home di Bozeman." "Katakan yang
sebenarnya." "Aku tidak bohong."
"Kau menutup-nutupi cerita sebenarnya. Kalau kau lelah, kita bisa bicara lagi menjelang akhir
minggu. Aku sendiri sudah agak bosan. Atau kau ingin bicara sekarang?"
"Sekarang saja, Dr. Lecter."
"Baiklah. Anak kecil dipisahkan dari ibunya dan dikirim ke peternakan di Montana. Peternakan
domba dan kuda. Dia merindukan ibunya, tapi juga senang karena dikelilingi binatang-binatang..."
Dr. Lecter memberi isyarat tangan untuk mempersilakan Starling melanjutkan ceritanya.
"Aku menikmatinya. Aku mendapat kamar sendiri dengan selimut Indian sebagai karpet di lantai.
Aku bisa naik kuda—kudanya digiring—penglihatannya sudah jelek. Ada yang tidak beres dengan
semua kuda di sana. Kalau tidak pincang, ya sakit. Beberapa ekor dibesarkan di lingkungan anak-
anak, dan mereka meringkik-ringkik kalau aku berangkat sekolah."
"Tapi kemudian?"
"Aku menemukan sesuatu yang aneh di gudang jerami. Mula-mula kupikir benda itu semacam helm.
Waktu kuperiksa, aku menemukan cap 'W.W. Greener's Humane Horse Killer'. Benda itu terbuat dari
logam dan menyerupai bel, dan di bagian atasnya ada tempat untuk memasang peluru. Sepertinya
kaliber .32."
"Apakah kuda-kuda di sana dipelihara untuk dipotong, Clarice?"
"Ya."
"Dan juga dibunuh di sana?"
"Kuda-kuda untuk lem pabrik dan pupuk, ya. Enam ekor kuda bisa ditumpuk dalam satu truk, kalau
sudah mati. Kuda-kuda untuk makanan anjing dibawa dalam keadaan hidup."
"Kuda yang suka kaunaiki?"
"Kami kabur bersama-sama."
"Seberapa jauh kau berhasil lari?"
"Sebelum Anda menjelaskan soal tes kepribadian itu, kukira cukup sampai di sini dulu."
"Kau tahu prosedur seleksi pendaftar pria yang ingin berganti kelamin?"
"Tidak."

ben99 ebooks collections 53


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Ada baiknya kalau kau membawa salinan tata cara seleksi dari salah satu rumah sakit bersangkutan,
tapi untuk permulaan: rangkaian tes biasanya meliputi Wechsler Adult Intelligence Scale, House-
Tree-Person, Rorschach, Drawing of Self-Concept, Thematic Apperception, MMPI, tentu saja, dan
sejumlah tes lain—tes Jenkins, kalau aku tidak salah, yang dikembangkan oleh NYU. Kau butuh
sesuatu yang bisa memberi hasil dalam waktu singkat, bukan? Bukan begitu, Clarice?"
"Ya, itu paling baik."
"Hmm... hipotesis kita adalah kita mencari pria yang hasil tesnya berbeda dari hasil tes transseksual
sejati. Baiklah—pada House-Tree-Person, carilah orang yang tidak menggambar sosok wanita lebih
dulu. Pria transseksual hampir selalu mulai dengan sosok wanita, dan pada umumnya mereka sangat
memperhatikan dandanan sosok yang mereka gambar. Sosok pria mereka sekadar stereotip—sesekali
memang ada yang menggambar Mr. Amerika—tapi itu jarang terjadi.
"Carilah gambar rumah yang tidak menyiratkan masa depan yang indah—tanpa kereta bayi di. luar,
tanpa tirai, tanpa bunga di pekarangan.
"Ada dua macam pohon yang biasanya digambar transseksual sejati—pohon yang sangat subur dan
yang terpotong-potong. Pohon yang terpotong pada tepi gambar atau tepi kertas, yang
memperlihatkan tema pengebirian, tampak sangat hidup pada gambar yang dibuat oleh orang
transseksual. Penuh bunga dan buah. Ini ciri khas yang sangat penting. Pohon itu sangat berbeda dari
pohon mati dan menakutkan yang biasa digambar oleh orang yang mengalami kelainan mental. Ya,
ini penting—pohon Billy pasti menakutkan. Apakah penjelasanku terlalu cepat?"
"Tidak, Dr. Lecter."
"Pada gambar diri, seorang transseksual hampir tak pernah menggambarkan dirinya dalam keadaan
telanjang. Jangan terkecoh oleh hal-hal yang berkesan paranoid pada kartu-kartu TAT—ini sesuatu
yang lazim di antara kaum transseksual yang sering mengenakan pakaian lawan jenis; sering kali
mereka mempunyai pengalaman buruk dengan pihak berwajib. Perlu rangkuman?"
"Ya, itu akan sangat membantu."
"Usahakanlah untuk memperoleh daftar orang yang ditolak dari ketiga pusat penggantian kelamin.
Pertama-tama, periksa orang-orang yang ditolak karena catatan kriminal—dan di antara mereka,
pusatkan perhatianmu kepada para pencuri. Di antara orang-orang yang berusaha menutup-nutupi
catatan kriminal, carilah mereka yang mengalami gangguan berat di masa kanak-
kali seminggu, sekaligus mencari benda-benda yang mungkin telah diselundupkan. Para petugas
kebersihan selalu terburu-buru; tempat tinggal Dr. Lecter terasa menyeramkan bagi mereka. Barney
selalu melakukan pemeriksaan ulang setelah mereka selesai. Ia memeriksa segala sesuatu dan tidak
mengabaikan apa pun.
Hanya Barney yang dipercaya menangani Dr. Lecter, sebab Barney tak pernah lupa apa yang diha-
dapinya. Kedua asistennya menonton rekaman pertandingan hoki di TV.
Dr. Lecter tidak menghiraukan kesibukan di belakangnya. Ia memiliki kapasitas mental yang luar
biasa dan sanggup menghibur diri sendiri selama bertahun-tahun. Pikirannya tidak terikat rasa takut
maupun kebajikan, sama. seperti pikiran Milton tak terikat oleh hukum-hukum fisika.
Dunia maya di dalam benaknya mempunyai warna-warna dan bau-bauan kuat, namun Jak banyak
bunyi-bunyian. Ia bahkan harus bersusah payah sedikit agar dapat mendengar suara almarhum
Benjamin Raspail. Dr. Lecter sedang memikirkan cara menyerahkan Jame Gumb kepada Clarice
Starling, dan untuk itu ada baiknya mengenang Raspail. Inilah pemain flute gemuk itu pada hari
terakhir hidupnya, terbaring di sofa terapi Lecter, bercerita mengenai Jame Gumb:

"Jame mempunyai ruangan yang mendirikan bulu ronta di rumahnya di San Francisco, dengan
dinding-dinding berwarna ungu dan corat-coret Day-Glo peninggalan zaman hippie di sana-sini,
semuanya serba tak terawat.
"Jame—namanya memang ditulis begitu pada akte kelahirannya; dari situlah asal-usulnya dan kita
harus mengucapkannya 'Jame' seperti 'name', atau dia akan marah sekali, biarpun itu sekadar
kesalahan di rumah sakit dulu—waktu itu pun sudah dipakai tenaga-tenaga murah yang bahkan tidak
sanggup mengeja. Sekarang malah lebih parah lagi, dirawat di rumah sakit berarti mempertaruhkan
nyawa. Pokoknya, Jame sedang duduk bertopang dagu di tempat tidur, di kamarnya yang
mengerikan. Dia baru dipecat dari tempat kerjanya di toko barang antik dan baru melakukan
perbuatan jahat itu lagi.
"Saya berkata padanya bahwa saya tidak tahan dengan perilakunya, apalagi Klaus juga baru muncul
dalam hidup saya. Jame sebenarnya bukan gay, itu hanya pengaruh kehidupannya di penjara. Dia
sebenarnya bukan apa-apa, hanya semacam ruang hampa yang hendak diisinya, dan begitu marah.
Setiap ruangan selalu terasa sedikit lebih kosong kalau dia muncul. Maksud saya, dia membunuh
kakek dan neneknya waktu berumur dua belas, dan orang seperti itu mestinya mempunyai karisma
tertentu, bukan?
"Oke, dia kehilangan pekerjaan, dan dia kembali melakukan perbuatan jahat itu terhadap tunawisma
bernasib malang. Saya sedang pergi. Dia sempat mampir ke kantor pos dan mengambil kiriman-
kiriman untuk bekas majikannya. Dia berharap ada sesuatu yang bisa.dia jual. Dan ternyata memang
ada paket. Dari Malaysia, kalau tidak salah. Dia langsung membukanya dan menemukan kotak berisi
kupu-kupu mati.
"Bosnya biasa mengirim uang kepada kepala-kepala kantor pos di pulau-pulau itu, dan mereka
mengirim kotak demi kotak berisi kupu-kupu mati. Semua kupu-kupu itu diset dalam plastik bening,
dijadikan hiasan yang betul-betul kampungan
dan dia berani menyebutnya karya seni. Serangga-serangga itu tidak bernilai bagi Jame dan dia
mengaduk-aduk semuanya, karena menyangka ada perhiasan di bawahnya—kadang-kadang ada
kiriman gelang dari Bali—dan tangannya terkena bubuk kupu-kupu. Tapi tak ada apa-apa. Dia duduk
di tempat tidur sambil memegangi kepala, dengan wajah dan tangan tercoreng warna-warni kupu-
kupu. Dia benar-benar putus asa—kita semua pernah mengalaminya—dan dia menangis. Lalu dia
mendengar sesuatu. Ternyata ada kupu-kupu hidup dalam kotak yang terbuka. Kupu-kupu itu sedang
berusaha keluar dari kepompong yang dimasukkan ke dalam kotak. Udaranya penuh bubuk kupu-
kupu dan matahari terhalang debu pada jendela—Anda tahu sendiri betapa nyata gambaran yang
diberikan oleh orang yang sedang teler karena obat bius. Dia memperhatikannya mengembangkan

ben99 ebooks collections 54


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

sayap. Kupu-kupu itu besar sekali, katanya. Hijau. Jame membuka jendela. Kupu-kupu itu terbang
dan dia merasa begitu ringan, katanya, dan dia langsung tahu apa yang harus dilakukannya.
"Jame menemukan rumah pantai yang didiami Klaus dan saya, dan waktu saya pulang latihan, dia
sudah ada di situ. Tapi saya tidak melihat Klaus. Klaus tidak ada. Saya tanya di mana
Klaus, dan dia bilang berenang. Saya tahu itu bohong, Klaus tidak pernah berenang, ombak Samudra
Pasifik terlalu besar. Dan waktu saya membuka lemari es, ehm, Anda sudah tahu apa yang saya
temukan. Kepala Klaus menyembul dari balik jus jeruk. Jame juga telah membuat celemek, dari
Klaus. Dia mengenakannya dan bertanya apakah saya menyukainya. Saya yakin Anda pasti heran
bagaimana saya bisa sampai berhubungan dengan orang seperti Jame—dia bahkan lebih labil lagi
ketika Anda bertemu dengannya. Saya kira dia terheran-heran kenapa Anda tidak takut padanya."
Kemudian, ucapan Raspail yang terakhir, "Saya tak habis pikir, kenapa orangtua saya tidak mem-
bunuh saya sebelum saya cukup besar untuk mengelabui mereka."
Gagang belati itu berkedut-kedut ketika jantung Raspail yang tertikam berjuang untuk terus ber-
denyut, dan Dr. Lecter berkata, "Kelihatannya seperti jerami di lubang jangkrik, bukan?" Namun
sudah terlambat bagi Raspail untuk menjawab.
Dr. Lecter bisa mengingat setiap kata, dan lebih banyak lagi. Pikiran-pikiran menyenangkan untuk
mengisi waktu, sementara selnya dibersihkan.
Clarice Starling cerdas, katanya dalam hati. Starling mungkin sanggup meringkus Jame Gumb dengan
informasi yang telah diberikannya, tapi kemungkinannya kecil sekali. Agar bisa menangkap Gumb
sebelum terlambat, Starling butuh informasi yang lebih mendetail. Dr. Lecter yakin ia akan
menemukan petunjukpetunjuk saat membaca berkas kasus tersebut—mungkin berkaitan dengan
latihan keterampilan Gumb di penjara anak-anak setelah ia membunuh kakek dan neneknya. Besok ia
akan menyerahkan Jame Gumb dan pemaparannya akan begitu jelas, sehingga Jack Crawford pun tak
mungkin tidak memahaminya. Besok semuanya akan selesai.
Dr. Lecter mendengar suara langkah di belakangnya dan pesawat TV dimatikan. Kereta roda dua
tempat ia terikat mendadak dimiringkan ke belakang. Inilah awal proses panjang dan menjemukan
untuk melepaskannya di dalam sel. Caranya selalu sama. Pertama-tama Barney dan pembantu-
pembantunya menelungkupkan Lecter di tempat tidur. Sesudah itu Barney mengikat mata kakinya
dengan handuk ke batang besi di kaki tempat tidur, melepaskan pengikat kaki, lalu, dengan dilindungi
kedua pembantunya yang bersenjatakan Mace dan pentungan karet, ia membuka gesper pada
punggung jaket pengaman. Kemudian ia mundur keluar, mengunci jaring nilon serta pintu terali, dan
membiarkan Dr. Lecter membebaskan diri. Setelah itu Lecter menukar semuanya dengan sarapannya.
Prosedur ini diberlakukan sejak Dr. Lecter menganiaya juru rawatnya, dan dianggap menguntungkan
semua pihak.
Hari ini proses tersebut terganggu.

Bab Dua Puluh Tujuh

Dr. lecter terguncang sedikit ketika kereta roda dua yang membawanya melewati ambang pintu sel.
Ternyata Dr. Chilton sudah menunggunya. Pimpinan rumah sakit itu duduk di tempat tidur dan
membaca surat-surat pribadi Dr. Lecter. Chilton telah melepaskan jas dan dasi. Dr. Lecter melihat
semacam medali tergantung di lehernya.
"Dirikan dia di samping toilet, Barney," Dr. Chilton berkata tanpa menoleh. "Kau dan yang lain
tunggu- di pos kalian."
Dr. Chilton membaca surat terakhir dari General Archives of Psychiatry sampai habis, lalu melempar
surat itu ke tempat tidur dan keluar dari sel. Sepintas terlihat kilauan dari balik topeng hoki es ketika
mata Dr. Lecter mengikutinya, tapi kepala Lecter tidak bergerak sedikit pun.
Chilton menghampiri kursi sekolah di koridor dan, sambil membungkuk dengan kaku, melepaskan
alat kecil dari bawah dudukan.
Ia melambai-lambaikannya di depan lubang mata pada topeng Dr. Lecter, kemudian kembali duduk
di tempat tidur.
"Aku curiga dia mencari-cari pelanggaran hak sipil pada kematian Miggs, jadi aku menguping," ujar
Chilton. "Sudah bertahun-tahun aku tidak mendengar suaramu—kalau tidak salah, terakhir waktu kau
memberikan jawaban-jawaban menyesatkan ketika diwawancara, lalu mempermalukanku dalam
artikel-artikel Journal yang kautulis. Rasanya sukar dipercaya bahwa pendapat seorang narapidana
bisa memperoleh perhatian dari komunitas profesional, bukan? Tapi masih di sini. Begitu juga kau."
Dr. Lecter tidak menanggapinya.
"Bertahun-tahun kau tutup mulut, lalu Jack Craford mengutus perempuan itu dan kau langsung luluh.
Apa yang membuatmu bertekuk lutut? Kakinya yang indah? Atau rambutnya yang berkilau? Dia
cantik sekali, bukan? Cantik dan tak terjangkau. Bagaikain matahari terbenam di musim dingin. Aku
tahu kau sudah lama tidak melihat matahari terbenam di musim dingin, tapi percayalah,
perumpamaan ini cukup mengena.
"Waktumu dengan dia tinggal satu hari. Setelah itu interogasi diambil alih Baltimore Homicide.
Merek sedang memasang kursi untukmu di ruang terapi kejutan listrik. Kursi itu dilengkapi toilet
untuk kenya-mananmu, juga untuk memudahkan mereka. Teni saja aku tidak tahu-menahu tentang
ini.
"Bagaimana, kau sudah mengerti? Mereka tahu, Hannibal. Mereka tahu bahwa kau tahu persis siap"
Buffalo Bill. Mereka malah menduga dia bekas pasienmu. Waktu mendengar Miss Starling bertanya
tentang Buffalo Bill, aku sempat terperanjat. Lalu kutelepon teman di Baltimore Homicide. Ternyata
mereka menemukan serangga di tenggorokan Klaus, Hannibal. Mereka tahu Buffalo Bill yang
membunuhnya. Crawford sengaja membiarkan kau menganggap dirimu pintar. Rasanya kau tidak
sadar betapa Crawford membencimu karena kau membantai anak didiknya. Dan sekarang kau ada

ben99 ebooks collections 55


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

dalam genggaman dia. Kau masih merasa pintar sekarang?"


Dr. Lecter memperhatikan mata Chilton mengamati tali pengikat topeng. Chilton ingin melepaskan
topeng itu agar bisa menatap wajah Lecter. Dalam hati Lecter bertanya, apakah Chilton akan
melakukannya dengan cara yang aman, dari belakang. Jika melakukannya dari depan, ia harus meraih
ke belakang kepala Dr. Lecter, dengan sisi dalam lengannya dekat ke wajah Lecter. Mari, Dokter.
Mari mendekat. Ah, tidak jadi.
"Kau tetap berharap pergi ke tempat yang ada jendelanya? Kaupikir kau akan berjalan di pantai dan
melihat burung-burung? Kukira tidak. Aku sudah menelepon Senator Martin, dan ternyata dia tidak
tahu-menahu soal perjanjian denganmu. Aku sampai harus menjelaskan siapa kau. Dia juga belum
pernah mendengar nama Clarice Starling. Semuanya hanya tipuan. Aku yakin kau takkan heran kalau
wanita berlaku sedikit tidak jujur, tapi ini betul-betul mengejutkan, bukan?
"Kalau kau sudah diperas habis, Hannibal, kau akan didakwa lalai melaporkan tindak pidana. Tentu
saja kau akan mengelak, tapi hakim takkan senang. Kau membisu, sementara korban terus berjatuhan.
Hakim takkan berminat memikirkan kesejahteraanmu.
"Takkan ada jendela, Hannibal. Kau akan menghabiskan sisa hidupmu dengan duduk di lantai suatu
rumah sakit jiwa sambil memperhatikan kereta popok berlalu lalang. Gigimu akan tanggal satu per
satu dan kekuatanmu akan habis. Takkan ada lagi yang takut padamu. Kau akan ditaruh di bangsal, di
tempat seperti Flendauer. Kau akan diperlakukan seenaknya oleh yang muda dan dipakai untuk seks
kalau mereka sedang berhasrat. Bacaanmu terbatas pada apa yang kautulis di tembok. Kaupikir
pengadilan akan peduli? Kau lihat sendiri bagaimana nasib yang tua. Mereka menangis kalau tidak
suka aprikot rebus yang dihidangkan.
"Jack Crawford dan daun mudanya. Mereka akan menjalin hubungan secara terbuka setelah istrinya
meninggal. Crawford bakal bergaya seperti anak muda dan mencari olahraga yang bisa mereka
nikmati bersama. Mereka intim sejak Bella Crawford jatuh sakit, soal itu sudah jelas. Mereka sama-
sama akan naik pangkat dan mereka takkan pernah memikirkanmu, biarpun setahun sekali.
Kemungkinan besar Crawford akan datang berkunjung untuk menyampaikan secara pribadi
bagaimana nasibmw nanti. Riwayatmu bakal tamat. Aku yakin dia sudah mempersiapkan pidatonya.
"Hannibal, dia tidak mengenalmu seperti aku mengenalmu. Dia pikir kalau dia minta informasi secara
langsung, kau malah akan menyiksa ibu korban."
Dan itu ada benarnya, kata Dr. Lecter dalam hati. Jack cerdik sekali—roman mukanya yang bodoh itu
memang menyesatkan. Wajahnya penuh bekas luka, kalau kita tahu cara memandangnya. Hmm,
rasanya masih ada tempat untuk menambah beberapa lagi. "Aku tahu apa yang kautakutkan. Bukan
rasa sakit atau kesendirian. Martabat yang diinjak-injak, itu yang kau tidak tahan, Hannibal. Dalam
hal ini kau seperti kucing. Aku diberi kepercayaan mengawasimu, Hannibal, dan itulah yang
kulakukan. Hubungan kita tak pernah diwarnai pertimbangan pribadi dari pihakku. Dan akulah yang
mengawasimu sekarang.
"Tak pernah ada perjanjian untukmu dari Senator Martin, tapi sekarang ada. Atau sebenarnya bisa
ada. Aku sampai berjam-jam menelepon untuk kepentingan-mu dan kepentingan gadis itu. Aku akan
menjelaskan syarat pertama: kau bicara hanya melalui aku. Hanya aku yang menerbitkan laporan
tentang kasus ini, berdasarkan wawancara denganmu. Kau tidak menulis apa pun. Aku mendapat hak
eksklusif atas semua bahan dari Catherine Martin, kalau dia bisa diselamatkan.
"Syarat itu tidak bisa ditawar. Silakan jawab sekarang. Syarat itu kauterima atau tidak?"
Dr. Lecter tersenyum sendiri.
"Sebaiknya kaujawab sekarang, atau kau bisa memberi jawaban kepada Baltimore Homicide. Ini
yang akan kauperoleh: Kalau kau mengidentifikasi Buffalo Bill dan gadis itu masih sempat
diselamatkan, Senator Martin—dan dia bersedia memberi konfirmasi lewat telepon—Senator Martin
akan mengurus kepin-dahanmu ke Brushy Mountain State Prison di Tennessee, di luar jangkauan
pihak berwajib Maryland. Kau akan berada di wilayah hukum dia, jauh dari Jack Crawford. Kau akan
ditempatkan di sel pengamanan maksimum dengan pemandangan ke hutan. Kau akan diberi buku.
Dan kesempatan berolahraga di luar. Detail-detailnya masih harus dibicarakan, tapi
Senator Martin bisa diajak berunding. Sebutkan nama asli Buffalo Bill dan kau bisa berangkat
sekarang juga. Senator Martin setuju kau dijemput Tennessee State Police di lapangan terbang."
Akhirnya Dr. Chilton mengatakan sesuatu yang menarik, tanpa menyadarinya. Dr. Lecter
mengerutkan bibir di balik topeng hoki es. Dijemput polisi. Polisi tidak seteliti Barney. Polisi terbiasa
menangani penjahat. Mereka cenderung memborgol tangan dan merantai kaki. Borgol dan rantai bisa
dibuka dengan kunci borgol. Seperti punyaku.
"Nama depannya Billy," Dr. Lecter berkata. "Selebihnya akan kukatakan langsung kepada Senator
Martin. Di Tennessee."

Bab Dua Puluh Delapan

Jack Crawford menolak tawaran kopi dari Dr. Danielson, namun mengambil gelas plastik untuk
mencampurkan Alka-Seltzer di tempat cuci tangan di belakang pos juru rawat. Segala sesuatu terbuat
dari baja tahan karat: tempat gelas, counter, tempat sampah, bingkai kacamata Dr. Danielson. Benda-
benda logam itu mengingatkan Crawford pada peralatan bedah, dan membuat jari manisnya terasa
tidak nyaman di balik cincin kawin.
Hanya ia dan Dr. Danielson yang berada di ruangan kecil itu.
"Tidak bisa kalau tanpa surat perintah dari pengadilan," Dr. Danielson berkata sekali lagi. Ia bersikap
ketus untuk mengimbangi keramahannya saat menawarkan kopi.
Danielson adalah kepala Gender Identity Clinic di Johns Hopkins, dan ia bersedia menemui Crawford

ben99 ebooks collections 56


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

pagi-pagi sekali, sebelum berkeliling mengunjungi para pasien. "Anda harus memperlihatkan surat
perintah untuk setiap kasus, dan masing-masing akan kami lawan. Tanggapan Columbus dan
Minnesota sama seperti tanggapan saya, bukan?"
"Departemen Kehakiman sedang menghubungi me reka sekarang. Ini harus dilakukan secepat
mungkin Dokter. Kalaupun gadis itu masih hidup, dia aka. segera dibunuh—malam ini atau besok.
Setelah i akan ada korban berikut," ujar Crawford.
"Menyebut Buffalo Bill dalam satu tarikan napas dengan masalah-masalah yang kami tangani di sini
bukan saja bodoh dan tidak adil, tapi juga berbahaya, Mr. Crawford. Saya ngeri membayangkan
akibatnya. Kami membutuhkan waktu bertahun-tahun—dan sampai sekarang pun belum selesai—
untuk memperlihatkan kepada masyarakat umum bahwa kaum transseksual bukan orang gila maupun
orang aneh."
"Saya sependapat dengan Anda..."
"Tunggu dulu. Kekerasan jauh lebih jarang ditemui di kalangan transseksual dibandingkan di
masyarakat umum. Mereka orang baik-baik yang mempunyai masalah serius—masalah yang .takkan
hilang jika tidak ditangani. Mereka patut memperoleh pertolongan, dan kami di sini sanggup
memberikannya. Saya keberatan Anda mengobrak-abrik tempat ini. Kami belum pernah melanggar
kerahasiaan pasien, dan kami takkan pernah melakukannya. Sebaiknya ini kita pakai sebagai titik
tolak, Mr. Crawford."
Dalam kehidupan pribadinya, Crawford sudah terbiasa menghadapi para dokter dan juru rawat untuk
memperjuangkan keuntungan sekecil apa pun bagi istrinya. Ia sudah muak menghadapi dokter. Tapi
ini bukan kehidupan pribadinya. Ini Baltimore dan ini tugas. Berusahalah untuk bersikap ramah.
"Kelihatannya maksud saya belum jelas bagi Anda, Dokter. Salah saya—sekarang masih pagi, dan
saya agak lamban di pagi hari. Sebenarnya, pria yang kami cari justru bukan pasien Anda. Kami
mencari seseorang yang ditolak karena pihak Anda menyadari dia bukan transseksual. Kami tidak
sekadar mereka-reka. Saya akan memperlihatkan secara spesifik, bagaimana dia menyimpang dari
pola transseksual tipikal dalam tes-tes kepribadian Anda. Ini daftar pendek berisi hal-hal yang bisa
dicari staf Anda dalam catatan mengenai orang-orang yang ditolak."
Dr. Danielson menggosok-gosok hidung sambil membaca. Kemudian ia mengembalikan daftar itu.
"Ini tidak lazim, Mr. Crawford. Ini bahkan bisa dikatakan sangat janggal, dan itu termasuk kata yang
tidak terlalu sering saya gunakan. Boleh saya tahu siapa yang memberikan... kesimpulan ini?"
Rasanya lebih baik Anda tidak tahu, Dr. Danielson. "Staf Ilmu Perilaku," sahut Crawford. "Bekerja
sama dengan Dr. Alan Bloom dari University of Chicago."
"Alan Bloom menyetujui ini?" "Dan kami juga tidak semata-mata mengandalkan hasil-hasil tes. Ada
hal lain yang bisa jadi membuat Buffalo Bill mencolok dalam catatan Anda—kemungkinan besar dia
berusaha menutup-nutupi catatan kriminal, atau memalsukan informasi latar belakang lainnya.
Tolong perlihatkan daftar orang-orang yang pernah ditolak oleh Anda, Dokter."
Danielson terus menggelengkan kepala. "Hasil pemeriksaan dan wawancara tergolong rahasia."
"Dr. Danielson, bagaimana mungkin penipuan dan pemberian keterangan palsu digolongkan sebagai
rahasia? Bagaimana mungkin nama dan latar belakang asli seorang penjahat termasuk dalam
hubungan dokter-pasien, padahal dia tak pernah memberitahukanny kepada Anda, dan Anda sendiri
yang harus men carinya? Saya tahu Johns Hopkins sangat teliti. Say percaya Anda pernah mengalami
kasus serupa. Orang orang yang kecanduan dioperasi akan mendaftark diri di tempat mana pun yang
mungkin. Tapi i bukan cerminan lembaga Anda maupun para pasie yang sah. Anda kira FBI tak
pernah menerima lamara dari orang gila? Sering sekali. Minggu lalu ada pri berambut palsu hendak
mendaftarkan diri di St. Louis Dia membawa bazoka, dua roket, dan pisau unt menguliti beruang di
kantong tongkat golfnya." "Dia diterima?"
"Bantulah saya, Dr. Danielson. Kami sudah terdes waktu. Sementara kita bicara di sini, Buffalo Bi
mungkin sedang mengubah Catherine Martin menjadi seperti ini." Crawford menaruh selembar foto
ke atas meja yang berkilau.
"Jangan coba-coba," ujar Danielson. "Ini kekanak-kanakan. Saya bekas dokter bedah militer, Mr.
Crawford. Simpanlah foto Anda."
"Memang, ahli bedah biasa melihat tubuh yang terkoyak-koyak," Crawford berkata sambil meremas
gelas plastiknya. "Tapi saya kira tak ada dokter yang tega melihat nyawa seseorang melayang sia-
sia." Ia membuang gelas plastiknya ke keranjang sampah. "Ini tawaran terbaik yang bisa saya
berikan: saya takkan meminta informasi mengenai pasien Anda, hanya informasi pendaftaran yang
Anda pilah berdasarkan pedoman tadi. Anda dan dewan evaluasi psikiatri Anda jauh lebih cepat
menangani lamaranlamaran yang ditolak daripada saya. Jika Buffalo Bill berhasil kami temukan
berkat informasi Anda, hal tersebut akan saya rahasiakan. Saya akan mencari penjelasan lain untuk
disampaikan kepada pers."
"Mungkinkah Johns Hopkins diikutsertakan dalam program perlindungan saksi, Mr. Crawford?
Mungkinkah kami diberi identitas baru? Dipindahkah ke Bob Jones College, misalnya? Terus terang,
saya sangsi apakah FBI atau lembaga pemerintah mana pun sanggup menjaga rahasia."
"Anda akan terkejut."
"Saya meragukannya. Berkelit dari dalih birokratis yang mencurigakan justru lebih parah akibatnya
daripada berkata terus terang. Tolong jangan sekali-sekali Anda lindungi kami dengan cara itu, terima
kasih."
"Justru saya yang harus berterima kasih kepada Anda, Dr. Danielson, atas komentar-komentar Anda
yang sangat menghibur. Komentar-komentar Anda sangat membantu—tepatnya bagaimana, akan
segera saya jelaskan. Anda ingin bicara terus terang? Baiklah. Orang ini menculik wanita-wanita
muda dan menguliti mereka. Kulit korban-korbannya lalu dipakai seperti baju. Kami tidak ingin dia
berbuat begitu lagi. Kalau Anda tidak segera membantu saya, inilah yang akan saya lakukan: pagi ini
juga Departemen Kehakiman secara terbuka akan meminta surat perintah pengadilan, dengan alasan
Anda menolak memberi bantuan. Permintaan itu akan diajukan dua kali sehari, dan waktunya
disesuaikan dengan jam siaran berita siang dan malam. Setiap keterangan pers dari pihak departemen
akan melaporkan upaya kami untuk menjalin kerja sama dengan Dr. Danielson di Johns Hopkins.
Setiap kali ada perkembangan baru dalam kasus Buffalo Bill—jika Catherine Martin ditemukan
mengambang, jika korban berikut ditemukan mengambang, lalu yang berikutnya—kami akan

ben99 ebooks collections 57


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

memberikan keterangan per mengenai upaya kami mengajak Dr. Danielson d'-Johns Hopkins,
lengkap dengan komentar Anda me ngenai Bob Jones College. Satu hal lagi, Dokter. Anda tahu
Health and Human Services bermarkas di sini, di Baltimore, bukan? Saya sedang memikirkr Office of
Eligibility Policy, dan saya kira pikir; Anda sudah lebih dulu sampai di sana, bukan begitu?
Bagaimana jika Senator Martin, beberapa waktu sete lah pemakaman putrinya, bertanya kepada
orang-orang di Eligibility: Bukankah operasi ganti kelamin yang Anda lakukan di sini sebenarnya
termasuk bedah plastik? Barangkali mereka akan garuk-garuk kepala dan memutuskan, 'Wah, Senator
Martin benar. Ya. Rasanya memang bedah plastik,' lalu program ini tak lagi memenuhi syarat untuk
memperoleh bantuan pemerintah federal." "Anda menghina." "Bukan, saya bicara apa adanya."
"Anda tidak bisa menggertak saya. Saya tidak takut..."
"Bagus, sebab memang bukan itu tujuan saya, Dokter. Saya sekadar berharap Anda tahu saya serius.
Bantulah saya, Dokter. Saya mohon."
"Anda menyinggung Alan Bloom tadi."
"Ya. University of Chicago..."
"Saya kenal Alan Bloom, dan saya ingin membahas persoalan ini dengan sesama profesional.
Beritahu dia saya akan menghubunginya pagi ini. Nanti siang
Anda akan memperoleh keputusan saya. Saya pun peduli pada wanita muda itu, Mr. Crawford. Juga
pada yang lainnya. Tapi banyak yang dipertaruhkan di sini, dan saya kira tidak semua implikasinya
Anda pahami. Mr. Crawford, Anda sempat memeriksakan tekanan darah Anda belakangan ini?"
"Saya melakukannya sendiri."
"Dan Anda juga menulis resep untuk diri Anda sendiri?"
"Itu melanggar hukum, Dr. Danielson."
"Tapi Anda punya dokter."
"Ya."
"Konsultasikanlah temuan Anda dengan dia, Mr. Crawford. Betapa ruginya kita semua kalau Anda
mati mendadak. Saya akan mengabari Anda nanti."
"Tepatnya kapan, Dokter? Bagaimana kalau satu jam lagi?"
"Satu jam."
Pager Crawford berbunyi ketika ia keluar dari lift di lantai dasar. Pengemudinya, Jeff, melambai-lam-
baikan tangan ketika ia menghampiri van. Dia mati dan mayatnya sudah ditemukan, pikir Crawford
ketika mengangkat gagang telepon. Beritanya tidak seburuk yang sempat diduganya, namun tetap
cukup buruk: Chilton turut campur dalam penyelidikan, dan kini Senator Martin ikut turun tangan.
Jaksa Agung negara bagian Maryland, atas perintah Gubernur, mengizinkan ekstradisi Dr. Hannibal
Lecter ke Tennessee. Upaya untuk mencegah atau menunda pemindahan itu menuntut segenap
kekuatan Federal Court, District of Maryland. Direktur FBI menunggu keputusan Crawford, sekarang
juga.
"Tunggu sebentar," ujar Crawford. Ia menempelkan gagang telepon ke paha dan memandang ke luar
jendela van. Fajar di bulan Februari bukan pemandangan berwarna-warni. Semuanya tampak kelabu
Serba suram.
Jeff hendak mengatakan sesuatu, tapi Crawford menyuruhnya diam dengan isyarat tangan.
Ego Lecter. Ambisi Chilton. Kecemasan Senator Martin mengenai keselamatan putrinya. Nyawa
Catherine Martin. Putuskan.
"Biarkan dia dibawa," ia akhirnya berkata.

Bab Dua Puluh Sembilan

Dr. chilton dan tiga polisi negara bagian Tennes see berbadan tegap berdiri di pelataran parkir
pesawat yang diterpa angin. Matahari baru terbit. Mereka terpaksa setengah berteriak untuk
mengalahkan suara radio dari pintu Grumman Gulfstream serta ambulans di sisi pesawat itu.
Kapten yang memegang komando menyerahkan pena kepada Chilton. Kertas-kertas yang hendak
ditandatangani berkibar-kibar tertiup angin, dan petugas polisi itu harus ikut memegang clipboard.
"Apakah ini tidak bisa dilakukan sesudah kita mengudara?" tanya Chilton.
"Sir, urusan dokumentasi harus diselesaikan pada saat serah terima dilakukan. Itu perintah yang
diberikan pada saya."
Kopilot pesawat selesai memasang ramp pada tangga pesawat. "Oke," ia berseru.
Dr. Chilton dan ketiga polisi pergi ke belakang ambulans. Mereka tampak siaga ketika Chilton mem-
buka pintu, seolah menduga ada sesuatu yang akan meloncat keluar.
Dr. Hannibal Lecter berdiri tegak di gerobaknya, terlilit jaring terpal, dengan wajah tertutup topeng
hoki es. Ia sedang buang air kecil sementara Barney memegangi wadah penampungnya.
Salah satu polisi mendengus. Kedua rekannya memalingkan wajah.
"Sori," kata Barney pada Dr. Lecter, lalu menutup pintu kembali.
"Tidak apa-apa, Barney," ujar Dr. Lecter. "Aku sudah selesai."
Barney merapikan pakaian Lecter dan mendorongnya ke bagian belakang ambulans.
"Barney?"
"Ya, Dr. Lecter?"
"Selama ini kau selalu bersikap sopan padaku. Terima kasih." "Kembali."
"Kalau Sammie sadar lagi, tolong pamitkan aku padanya." . "Tentu."
"Selamat tinggal, Barney."
Penjaga berbadan besar itu membuka pintu dan memanggil para polisi. "Tolong angkat bagian
bawahnya. Kiri-kanan. Kita turunkan bersama-sama. Pelan-pelan."
Barney mendorong Dr. Lecter menaiki r amp dan masuk ke pesawat. Tiga kursi telah dicopot di sisi
kanan. Si kopilot mengikat gerobak Dr. Lecter ke dudukan kursi di lantai.
ben99 ebooks collections 58
The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Dia mau dibaringkan selama kita terbang?" tanya salah satu polisi.-"Mudah-mudahan dia pakai
celana karet."
"Kelihatannya kau terpaksa menahan kencing sampai di Memphis, kawan," rekannya berkata kepada
Lecter.
"Dokter Chilton, boleh saya bicara sebentar dengan Anda?" pinta Barney.
Mereka berdiri di luar pesawat, sementara angin bertiup, membuat debu berputar-putar di sekitar me-
reka.
"Orang-orang ini tidak tahu apa-apa," kata Barney.
"Saya akan mendapat bantuan setelah kami sampai—penjaga-penjaga psikiatri berpengalaman. Dia
tanggung jawab mereka sekarang."
"Anda yakin dia akan diperlakukan dengan baik? Anda tahu sendiri bagaimana dia—dia harus
diancam dengan kebosanan. Hanya itu yang ditakutinya. Memukulnya tidak ada gunanya."
"Saya takkan mengizinkan itu, Barney."
"Anda akan hadir pada waktu dia diinterogasi?"
"Ya." Dan kau tidak, Chilton menambahkan dalam hati.
"Saya bisa mengawal dia ke sana dan kembali hanya beberapa jam setelah shift saya berakhir," ujar
Barney.
"Dia bukan tugasmu lagi, Barney. Saya akan ada di sana. Saya akan memberitahu mereka cara mena-
nganinya, setiap langkahnya."
"Sebaiknya mereka memperhatikan penjelasan Anda," Barney berkomentar. "Dia akan memanfaatkan
setiap kesempatan."

Bab Tiga Puluh

Clarice starling duduk di tepi tempat tidur di kamar motelnya. Selama hampir satu menit setelah
Crawford menutup pembicaraan, ia terus menatap pesawat telepon berwarna hitam di hadapannya.
Rambutnya acak-acakan dan tubuhnya terbelit gaun tidur FBI Academy, karena ia terus bolak-balik
sepanjang tidurnya yang singkat. Perutnya serasa baru ditendang.
Baru tiga jam berlalu setelah ia meninggalkan Dr. Lecter, dan dua jam setelah ia dan Crawford selesai
menyusun daftar ciri untuk dibandingkan dengan la-maran-lamaran di ketiga pusat medis. Dalam
waktu demikian singkat, sementara ia tidur, Dr. Chilton telah mengacaukan semuanya.
Crawford sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya. Ia harus bersiap-siap.
Persetan. PerSETAN. PERSETAN. Gara-gara kau dia akan mati, Dr. Chilton. Gara-gara kau dia akan
mati, Dr. Fuck Face. Lecter masih menyimpan sesuatu, dan seharusnya aku bisa mendapatkannya.
Sekarang kesempatan itu hilang, hilang. Hilang percuma. Kalau Catherine Martin ditemukan
mengambang, kau akan kupaksa melihat mayatnya, aku bersumpah kau akan kupaksa. Satu-satunya
kesempatan telah kaurebut dari tanganku. Aku harus mengerjakan sesuatu yang berguna. Sekarang
juga. Apa yang bisa kulakukan di sini, saat ini juga? Merapikan diri.
Di dalam kamar mandi ada keranjang kecil berisi batang-batang sabun yang masih terbungkus kertas,
beberapa tube shampoo dan lotion, peralatan menjahit, perlengkapan yang biasa disediakan di motel
berkualitas baik.
Ketika melangkah ke shower, Starling teringat dirinya pada usia delapan tahun. Waktu itu ibunya
mendapat pekerjaan membersihkan kamar-kamar motel, dan Starling biasa membawakan handuk,
shampoo, dan sabun yang dibungkus kertas. Ketika ia berusia delapan tahun ada seekor burung
gagak, dan burung gagak ini suka mencuri barang dari kereta petugas kebersihan motel. Burung
tersebut mengambil apa pun yang berwarna cerah. Gagak itu menunggu kesempatan, lalu mengobrak-
abrik peralatan kebersihan di kereta. Kadang-kadang, jika terpaksa kabur untuk menyelamatkan diri,
burung itu mengotori seprai-seprai bersih. Salah satu petugas kebersihan sempat melemparnya
dengan pemutih, tapi hanya menghasilkan bercak-bercak putih pada sayap gagak itu. Gagak berbulu
hitam-putih itu selalu menanti-nanti Clarice meninggalkan keretanya dan membawakan barang-
barang untuk ibunya, yang bertugas menggosok kamar mandi. Ibunya berdiri di ambang pintu kamar
mandi motel ketika memberitahu Starling bahwa ia harus pergi, Pindah ke Montana. Ibunya
meletakkan handuk-handuk di tangan Starling dan duduk di tepi tempat tidur motel, mendekapnya.
Starling masih suka bermimpi mengenai gagak itu, dan kini burung tersebut mendadak terbayang di
depan matanya. Starling mengangkat tangan untuk mengusirnya dan kemudian, seakan-akan perlu
mencari pembenaran untuk gerakan itu, ia mengusap rambutnya yang basah.
Ia berpakaian dengan cepat. Celana panjang, blus, serta sweter tipis. Revolvernya yang bermoncong
pendek menempel pada rusuknya, sementara speed-loader-nya tergantung dari ikat pinggang.
Blazernya perlu dibenahi sedikit. Benang jahitan di atas speed-loader telah berjumbai-jumbai. Ia
merasa harus sibuk, sibuk, sampai ia berhasil menenangkan diri. Ia mengambil peralatan jahit yang
disediakan oleh motel dan mulai mencopot benang.
Crawford mengetuk pintu.

ben99 ebooks collections 59


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Bab Tiga Puluh Satu

Menurut pengalaman Crawford, wanita yang sedang marah tampak jelek. Rasa marah menyebabkan
rambut mereka acak-acakan di belakang dan mengacaukan rona muka; mereka juga jadi lupa
menutup ritsleting. Setiap ciri yang tidak atraktif menjadi lebih menonjol. Starling tampak seperti
biasa ketika ia membuka pintu kamar motelnya, namun ia memang marah.
Crawford sadar ia mungkin akan mengetahui sisi lain dari Starling.
Wangi sabun dan udara panas lembap menyambut Crawford ketika Starling berdiri di ambang pintu.
Selimut pada tempat tidur di belakangnya telah ditarik sampai menutupi bantal.
"Bagaimana pendapatmu, Starling?" "Komentarku hanya persetan, Mr. Crawford. Bagaimana
menurut Anda?"
Crawford memberi isyarat dengan menggerakkan kepala. "Drugstore di pojok sana sudah buka. Kita
minum kopi dulu."
Udara terasa nyaman untuk bulan Februari. Matahari yang baru beranjak dari ufuk timur menyinari
rumah sakit jiwa dengan cahaya kemerahan ketika mereka lewat. Jeff mengikuti mereka dengan van,
radionya bergemeresik. Ia sempat menyodorkan gagang telepon ke luar jendela dan Crawford
berbicara singkat dengan seseorang.
"Apakah Chilton bisa kukenakan tuduhan menghalangi penegakan keadilan?"
Starling berjalan agak di depan. Crawford melihat otot rahangnya mengencang setelah mengajukan
pertanyaan itu.
"Tidak, tuduhan itu akan ditepisnya dengan mudah." "Bagaimana kalau dia mengorbankan Catherine,
bagaimana kalau Catherine tewas karena dia? Aku benar-benar ingin menghajarnya. Izinkan aku terus
menangani kasus ini, Mr. Crawford. Jangan suruh aku kembali ke sekolah."
"Dua hal. Kalaupun kau kupertahankan di sini, itu bukan untuk menghajar Chilton, itu bisa
menunggu. Kedua, kalau kau terus dipertahankan, kau akan terpaksa mengulangi kuliahmu dari awal.
Kau akan kehilangan waktu beberapa bulan. Pihak Academy tidak memberi perlakuan khusus bagi
siapa pun. Aku bisa menjamin kau akan diterima lagi, tapi tak lebih dari itu—kau akan mendapat
tempat, hanya itu yang bisa kujanjikan."
Sejenak Starling mendongakkan kepala. Kemudian ia kembali memandang ke depan. "Barangkali
tidak sepantasnya aku menanyakan hal ini pada atasanku, tapi apakah Anda ada masalah? Apakah
Senator Martin bisa mengotak-atik kedudukan Anda?"
"Starling, dua tahun lagi aku harus pensiun. Kalaupun aku menemukan Jimmy Hoffa dan pembunuh
Tylenol, aku tetap harus berhenti. Jadi, soal kedudukan tidak masuk dalam pertimbanganku."
Crawford sadar betapa ia ingin tampak arif. Ia tahu pria setengah baya dapat begitu dikuasai hasrat
untuk tampil bijaksana sehingga berusaha mengarang-ngarang, dan ia pun menyadari betapa
berbahaya kecenderungan ini bagi anak muda yang mempercayai segala ucapannya. Karena itu ia
bicara dengan hati-hati, dan hanya mengenai hal-hal yang diketahuinya.
Apa yang dikatakan Crawford kepada Starling di jalan suram di Baltimore itu dipelajarinya pada
serangkaian fajar yang dingin membeku di Korea, dalam perang yang berlangsung sebelum Starling
lahir. Ia tidak menyinggung soal Korea, karena ia tidak membutuhkannya untuk menegakkan
wibawanya.
"Sekaranglah masa yang paling sulit, Starling. Manfaatkanlah masa ini dengan baik, dan kau akan
ditempanya. Kau sedang menghadapi ujian paling berat— jangan biarkan kemarahan dan frustrasi
menghalangi akal sehatmu. Inilah yang menentukan, apakah kau bisa memimpin atau tidak.
Bertindak menuruti emosi takkan membuahkan hasil. Chilton memang tolol, dan dia mungkin telah
mengorbankan nyawa Catherine Martin. Tapi mungkin juga tidak. Kitalah satu-satunya kesempatan
yang dimiliki Catherine. Starling, berapa suhu nitrogen cair di lab?'-'
'Apa? Ah, nitrogen cair... minus dua ratus derajat Celsius, kurang lebih. Titik didihnya sedikit lebih
tinggi."
Kau pernah menggunakannya untuk membekukan sesuatu?" "Tentu."
"Kau harus membekukan sesuatu sekarang. Bekukan urusanmu dengan Chilton. Peganglah informasi
yang kauperoleh dari Lecter dan bekukan emosimu. Kuminta kau tetap membidik sasaran utama,
Starling. Hanya itu yang penting. Kau telah bekerja keras untuk mencari informasi, kau telah
membayarnya dan mendapatkannya, dan sekarang kita akan memanfaatkannya. Nilai informasi itu
tetap sama seperti sebelum Chilton ikut campur. Hanya saja Lecter kemungkinan besar akan tutup
mulut setelah ini. Bekukan yang lainnya. Kemarahanmu, frustrasimu, Chilton. Bekukan. Pada
waktunya nanti, kita akan menangani Chilton. Tapi untuk sementara lupakanlah dia. Supaya kau tetap
bisa membidik sasaran utama, yaitu nyawa Catherine Martin. Dan Buffalo Bill. Kalau kau sanggup
melakukan itu, maka kau diperlukan di sini."
"Untuk mempelajari berkas-berkas medis?" • Mereka sudah sampai di depan drugstore. "Hanya kalau
terpaksa. Aku membutuhkanmu di Memphis. Aku sangsi Lecter akan menceritakan sesuatu yang
berguna kepada Senator Martin. Tapi aku ingin kau berada di sana, sekadar untuk berjaga-jaga—
barangkali Lecter mau bicara denganmu kalau dia sudah bosan mempermainkan Senator Martin.
Sebelumnya, kuminta kau mencari keterangan mengenai Catherine. Selidikilah bagaimana Bill
menemukan dia. Kau sebaya dengan Catherine, dan teman-temannya mungkin mau menceritakan hal-
hal yang takkan mereka ceritakan pada orang yang lebih kelihatan seperti polisi.
"Kita juga masih punya jalur lain. Interpol sedang berusaha mengidentifikasi Klaus. Kalau jati diri
Klaus sudah diketahui, kita bisa mengamati lingkungan pergaulannya di Eropa dan California, tempat
dia berhubungan dengan Benjamin Raspail. Setelah ini, aku akan ke University of Minnesota—
persoalan di sana perlu diluruskan—dan nanti malam aku akan berada di Washington. Biar aku saja
yang mengantre untuk beli kopi. Panggil Jeff dan vara-nya. Empat puluh menit dari sekarang, kau
sudah harus ada di dalam pesawat."
Matahari yang merah telah naik sampai tiga perempat tiang telepon. Trotoar masih tampak
lembayung. Starling melambaikan tangan untuk memanggil Jeff.

ben99 ebooks collections 60


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Perasaannya sudah lebih enak, lebih ringan. Crawford memang hebat. Ia sadar pertanyaan mengenai
nitrogen tadi disengaja untuk menyinggung latar belakang forensik yang dimilikinya. Pertanyaan itu
bertujuan membuatnya senang, sekaligus memicu kebiasaan untuk berpikir secara teratur. Starling
sempat bertanya-tanya, apakah pria menganggap manipulasi seperti itu sebagai pendekatan halus.
Anehnya, meskipun tahu telah dimanipulasi, ia tetap terpengaruh. Dan ia pun menyadari bahwa
kepemimpinan merupakan bakat alam yang tidak bisa ditiru dengan teknik-teknik secanggih apa pun.
Di seberang jalan, ia melihat seseorang menuruni tangga Baltimore State Hospital for the Criminally
Insane. Orang itu Barney, yang tampak lebih besar lagi dari biasanya dengan jaketnya yang tebal.
Barney membawa kotak makan siangnya.
Tanpa bersuara Starling berkata, "Lima menit", kepada Jeff yang menunggu di dalam van. Kemudian
!a menghampiri Barney yang sedang membuka pintu mobil tuanya.
"Barney."
Penjaga itu berbalik, tanpa ekspresi. Hanya matanya yang mungkin sedikit lebih lebar dari biasa.
"Apakah Dr. Chilton berpesan bahwa kau tidak perlu kuatir?"
"Apa lagi yang mungkin dikatakannya pada saya?"
"Dan kau percaya?"
Sudut mulut Barney bergerak ke bawah. Ia tidak menjawab ya atau tidak.
"Saya mau minta tolong. Saya ingin kau melakukan sesuatu untuk saya, sekarang juga, tanpa
bertanya. Saya akan bertanya baik-baik. Apa yang tersisa di sel Lecter?"
"Beberapa buku—Joy of Cooking, jurnal-jurnal medis. Berkas-berkas pengadilan sudah diangkut
semua."
"Bagaimana dengan gambar-gambar di dinding?" "Masih ada di situ."
"Saya menginginkan semuanya dan saya sedang terburu-buru."
Barney berpikir sejenak. "Tunggu," katanya kemudian, dan ia kembali menaiki tangga. Langkahnya
berkesan ringan bagi orang sebesar dirinya.
Crawford sudah menunggu di dalam van ketika Barney keluar lagi sambil membawa gambar-gambar
yang telah digulung dan kertas-kertas serta buku-buku yang telah dimasukkan ke kantong belanja.
"Anda menyangka saya tahu ada alat penyadap di kursi yang saya bawakan untuk Anda?" Barney
bertanya sambil menyerahkan bawaannya kepada Starling.
"Entahlah, saya belum sempat memikirkannya. Ini, nakal pena saya untuk mencatat nomor teleponmu
di kantong ini. Barney, menurutmu mereka sanggup menangani Dr. Lecter?"
"Saya meragukannya dan saya sudah mengatakannya kepada Dr. Chilton. Tolong diingat bahwa saya
memberitahu Anda, kalau-kalau dia lupa. Anda bisa dipercaya, Officer Starling. Ehm, kalau Anda
berhasil meringkus Buffalo Bill?"
"Yeah?"
"Tolong jangan dibawa kemari, hanya karena di sini ada tempat kosong, oke?" Ia tersenyum. Giginya
kecil-kecil.
Mau tak mau Starling membalas senyumnya. Ia melambaikan tangan sambil berlari ke van. Crawford
tampak senang.

Bab Tiga Puluh Dua

Grumman gulfstream yang membawa Dr. Hannibal Lecter mendarat di Memphis. Bannya
meninggalkan asap berwarna biru ketika menyentuh landasan. Mengikuti petunjuk dari menara,
pesawat itu segera menggelinding ke hanggar Air National Guard, menjauhi terminal-terminal
penumpang. Dua kendaraan telah menunggu di dalam hanggar pertama, ambulans Emergency
Service serta sebuah limusin.
Dari balik kaca gelap limusinnya Senator Ruth Martin memperhatikan para polisi negara bagian
menurunkan Dr. Lecter dari pesawat. Ia ingin menghampiri sosok terikat dan bertopeng itu untuk
memaksanya buka mulut, tapi ia terlalu cerdas untuk berbuat sebodoh itu.
Telepon Senator Martin berbunyi. Asistennya, Brian Gossage, segera meraihnya.
"FBI—Jack Crawford," ujar Gossage.
Senator Martin mengambil alih gagang telepon tanpa melepaskan pandang dari Dr. Lecter.
"Kenapa saya tidak diberitahu mengenai Dr. Lecter, Mr. Crawford?"
"Saya kuatir Anda akan bertindak seperti sekarang."
"Saya bukan musuh Anda, Mr. Crawford. Kalau Anda memusuhi saya, Anda akan menyesal." "Di
mana Lecter sekarang?" "Saya sedang menatapnya." "Dia bisa mendengar Anda?" "Tidak."
"Senator Martin, dengarkan saya. Kalau Anda ingin memberikan jaminan pribadi kepada Lecter,
silakan. Tapi tolong biarkan Dr. Alan Bloom memberi penjelasan dulu sebelum Anda menemui
Lecter. Bloom bisa membantu Anda, percayalah."
"Saya sudah punya penasihat ahli."
"Moga-moga lebih ahli dari Chilton."
Dr. Chilton mengetuk jendela limusin dari luar. Senator Martin menyuruh Brian Gossage turun untuk
bicara dengannya.
"Persaingan intern hanya membuang-buang waktu, Mr. Crawford. Anda mengutus anak muda yang
masih hijau untuk menemui Lecter, dengan membawa tawaran palsu. Saya bisa berbuat lebih baik.
Dr. Chilton berpendapat Lecter akan menanggapi tawaran langsung, dan itu yang akan saya
berikan—tanpa birokrasi, tanpa melibatkan persoalan pribadi, tanpa mempertanyakan kredibilitas.
Kalau Catherine bisa diselamatkan, semuanya akan memperoleh pujian, termasuk Anda. Kalau dia...
tewas, saya takkan peduli pada alasan apa pun."
"Kalau begitu, manfaatkanlah kami, Senator Martin."
Senator Martin tidak menangkap nada marah dalam suara Crawford, hanya sikap tenang yang
bertumpu Pada profesionalisme. Ia menanggapinya. "Teruskan."
"Jika Anda mendapatkan sesuatu, biarkan kami yang menindaklanjutinya. Pastikan kami memperoleh
segenap informasi yang ada. Pastikan kepolisian setempat bersedia bekerja sama. Jangan sampai
ben99 ebooks collections 61
The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

mereka mengira mereka dapat membuat Anda senang dengan mengucilkan kami."
"Paul Krendler dari Kehakiman sedang dalam perjalanan ke sini. Dia akan mengaturnya."
"Siapa yang memegang komando di sini sekarang?"
"Mayor Bachman dari Tennessee Bureau of Investigation."
"Oke. Kalau belum terlambat, halangilah peliputan pihak pers. Chilton sebaiknya Anda peringatkan
tentang ini—dia suka mencari perhatian. Kami tidak ingin Buffalo Bill mengetahui apa pun. Kalau
dia berhasil ditemukan, kami akan menerjunkan Hostage Rescue Team. Dia harus diringkus dengan
cepat, untuk menghindari situasi penyanderaan. Anda sendiri yang akan bicara dengan Lecter?"
"Ya?" "Maukah Anda bicara dengan Clarice Starling dulu? Dia sedang menuju ke sini."
"Untuk apa? Dr. Chilton telah merangkum semua bahan untuk saya. Kita sudah terlalu lama
membuang-buang waktu."
Chilton kembali mengetuk kaca. Ia mengatakan sesuatu tanpa bersuara. Brian Gossage meraih perge-
langan tangannya dan menggelengkan kepala.
"Saya menginginkan akses kepada Lecter setelah Anda selesai bicara dengannya," ujar Crawford.
"Mr. Crawford, dia berjanji akan memberikan nama Buffalo Bill dengan imbalan berupa berbagai
fasilitas.
Kalau janjinya tidak dipenuhi, saya tidak peduli dia diapakan oleh Anda."
"Senator Martin, saya tahu ini masalah sensitif, tapi saya harus mengatakannya kepada Anda: apa pun
yang Anda lakukan, jangan memohon-mohon kepada Lecter."
"Oke, Mr. Crawford. Maaf, saya tidak bisa bicara lama-lama." Wanita itu meletakkan telepon.
"Kalaupun aku keliru, Catherine takkan lebih mati dari keenam korban sebelumnya yang kalian
tangani," ia bergumam, . lalu melambaikan tangan sebagai isyarat agar Gossage dan Chilton naik ke
limo.
Dr. Chilton telah minta agar pihak berwenang menyiapkan ruang kantor di Memphis, tempat Senator
Martin akan bicara dengan Hannibal Lecter. Guna menghemat waktu, ruang brifing Air National
Guard di dalam hanggar ditata ulang secara tergesa-gesa untuk pertemuan tersebut.
Senator Martin diminta menunggu di hanggar, sementara Dr. Chilton menyiapkan Lecter di dalam
ruang kantor dadakan itu. Namun Senator Martin tidak sanggup menunggu di dalam mobil. Ia
berjalan mondar-mandir sambil menatap atap hanggar yang tinggi dan garis-garis di lantai. Satu kali
ia berhenti di samping pesawat Phantom F-4 lama dan menyandarkan kepala pada sisi pesawat yang
dingin. Pesawat ini lebih tua dari Catherine. Ya Tuhan, jangan berpikiran macam-macam.
"Senator Martin," Mayor Bachman memanggilnya. Chilton melambaikan tangan dari pintu.
Di dalam ruangan itu ada meja untuk Chilton, serta kursi-kursi untuk Senator Martin dan asistennya
serta untuk Mayor Bachman. Juru kamera video telah siap meliput pertemuan itu. Kehadirannya
diakui Chilton sebagai salah satu tuntutan Lecter.
Penampilan Senator Martin cukup meyakinkan. Setelan jas yang ia kenakan mencerminkan
kekuasaannya. Gossage pun telah disuruh memoles diri.
Dr. Hannibal Lecter menduduki kursi besar yang dibaut ke lantai di tengah ruangan. Jaket pengaman
serta ikat kaki ditutupi selimut yang sekaligus menyembunyikan rantai yang menahannya di kursi.
Meski begitu, ia tetap memakai 'topeng hoki es agar tidak bisa menggigit.
Kenapa? Senator Martin terheran-heran—gagasan semula adalah mengembalikan martabat Dr. Lecter
dalam suasana kantor. Senator Martin menatap Chilton sambil mengerutkan kening, lalu berpaling
kepada Gossage untuk minta kertas.
Chilton melangkah ke belakang Dr. Lecter dan, sambil melirik ke kamera, membuka ikatan dan mele-
paskan topeng dari wajah Lecter.
"Senator Martin, perkenalkan Dr. Hannibal Lecter."
Sikap pamer yang diperlihatkan Chilton menyebabkan Senator Martin merinding. Segala
kepercayaannya pada orang itu mendadak lenyap, dan ia sadar ia berhadapan dengan orang bodoh.
Namun terlambat, ia terpaksa maju terus.
Beberapa helai rambut Dr. Lecter jatuh ke antara matanya yang berwarna merah maroon. Wajahnya
sepucat topengnya. Senator Martin dan Hannibal Lecter berpandangan, yang satu cerdas luar biasa
dan yang satu lagi tak dapat diukur dengan cara apa pun yang diketahui.
Dr. Chilton kembali ke mejanya dan angkat bicara sambil menatap semua orang:
"Dr. Lecter telah memberi isyarat kepada saya, Senator, bahwa dia hendak membantu penyelidikan
ini dengan menyumbangkan informasi yang dimilikinya. Sebagai imbalan, dia mengharapkan
kebijaksanaan khusus menyangkut kondisi penahanannya."
Senator Martin mengangkat selembar kertas. "Dr. Lecter, ini surat perjanjian yang akan saya tanda
tangani sekarang. Di sini dikatakan bahwa saya akan membantu Anda. Anda mau membacanya
dulu?"
Senator Martin menduga Lecter takkan menjawab, dan ia sudah berpaling ke meja untuk
membubuhkan tanda tangan ketika Lecter berkata,
"Saya tidak mau menyia-nyiakan waktu Anda dan Catherine dengan tawar-menawar mengenai hal-
hal sepele. Sudah terlalu banyak waktu terbuang oleh orang-orang yang sibuk memikirkan karier
mereka. Saya akan membantu Anda, dan saya percaya Anda akan membantu saya setelah urusan ini
selesai."
"Saya takkan mengecewakan Anda. Brian?" -
Gossage menyiapkan buku notesnya.
"Buffalo Bill sesungguhnya bernama William Rubin. Dia dikenal sebagai Billy Rubin. Dia pertama
kali mengunjungi saya bulan April atau Mei 1975 karena ajakan pasien saya, Benjamin Raspail. Dia
mengaku bertempat tinggal di Philadelphia, saya tidak ingat alamatnya, tapi dia menumpang di rumah
Raspail di Baltimore." "Di mana catatan Anda?" Mayor Bachman menyela.
"Catatan saya dimusnahkan atas perintah pengadilan, tidak lama setelah..."
"Seperti apa tampangnya?" Mayor Bachman bertanya.
"Nanti dulu, Mayor. Senator Martin, satu-satunya..."
"Saya membutuhkan usia dan deskripsi fisiknya, apa saja yang Anda ingat," Mayor Bachman men-
desak.
Dr. Lecter langsung menutup diri. Pikirannya beralih ke hal lain—studi anatomi Gericault untuk The

ben99 ebooks collections 62


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Raft of the Medusa—dan ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mendengar pertanyaan-


pertanyaan berikutnya.
Ketika Senator Martin berhasil meraih kembali perhatiannya, mereka hanya berdua di dalam ruangan
itu. Senator Martin memegang buku notes Gossage.
Dr. Lecter menatapnya. "Bendera itu berbau cerutu," katanya. "Apakah Catherine diberi ASI dulu?"
"Maaf? Apakah...?"
"Apakah dia diberi ASI?"
"Ya."
"Tugas itu membuat haus, bukan...?"
Sorot mata Senator Martin meredup, dan sejenak Lecter menikmati kepedihannya. Cukup dulu untuk
hari ini. Ia melanjutkan, "Tinggi badan William Rubin sekitar satu delapan lima, dan mestinya dia
sekarang berusia tiga puluh lima tahun. Badannya tegap— ketika bertemu saya, beratnya kurang-
lebih sembilan puluh lima kilo, dan saya kira telah bertambah sejak itu. Rambutnya cokelat dan
matanya biru pucat. Berikan dulu informasi ini kepada mereka, setelah itu kita lanjutkan."
"Baiklah," ujar Senator Martin. Catatannya diserahkan keluar.
"Saya .hanya satu kali bertemu dengannya. Dia sempat membuat janji lagi, tapi tidak muncul."
"Kenapa Anda menduga orang ini Buffalo Bill?"
"Waktu itu pun dia sudah membunuh, dan melakukan hal-hal serupa dengan para korbannya, dari
segi anatomi. Dia mengaku mencari bantuan untuk menghentikan perbuatannya, tapi sebenarnya dia
hanya ingin pamer."
"Dan Anda tidak—dia yakin Anda takkan melaporkannya kepada pihak berwajib?"
"Kelihatannya begitu. Dia memang gemar mengambil risiko. Dia tahu saya tetap menjaga rahasia-
rahasia temannya, Raspail."
"Raspail tahu dia melakukan hal-hal tersebut?"
"Raspail sendiri mempunyai kecenderungan abnormal—tubuhnya penuh bekas luka.
"Billy Rubin pernah menyinggung catatan kriminalnya, namun tidak menyebutkan detail-detailnya.
Saya sempat membuatkan catatan medis singkat. Tak ada yang istimewa, kecuali satu hal: Rubin
bercerita dia pernah terkena penyakit antraks gading gajah. Hanya itu yang saya ingat sekarang,
Senator Martin, dan Anda tentunya ingin segera pergi. Kalau ada hal yang teringat, saya akan
mengabari Anda."
"Apakah Billy Rubin pembunuh orang yang kepalanya ditemukan di dalam mobil itu?"
"Saya kira ya."
"Anda tahu namanya?"
"Tidak. Raspail memanggilnya Klaus."
"Apakah hal-hal lain yang Anda ceritakan kepada FBI memang benar?"
"Paling tidak, sama benarnya dengan hal-hal yang diceritakan FBI kepada saya, Senator Martin."
"Saya telah mengatur akomodasi sementara untuk Anda di Memphis sini. Kita akan membicarakan
situasi Anda dan Anda akan dipindahkan ke Brushy Mountain kalau urusan ini... setelah urusan ini
selesai."
"Terima kasih. Saya ingin minta pesawat telepon, kalau-kalau saya teringat sesuatu."
"Akan saya atur."
"Dan musik. Glenn Gould, Goldberg Variations, kalau Anda tidak keberatan?" "Baiklah."
"Senator Martin, petunjuk apa pun yang Anda peroleh, jangan Anda percayakan sepenuhnya kepada
pihak FBI. Jack Crawford tak pernah mau bekerja sama dengan instansi-instansi lain. Orang-orang
seperti itu memang merepotkan. Crawford berharap dialah yang akan menangkap Buffalo Bill."
"Terima kasih, Dr. Lecter."
"Saya suka setelan jas Anda," Lecter berkomentar ketika Senator Martin melangkah keluar.

Bab Tiga Puluh Tiga

Ruangan demi ruangan, basement Jame Gumb menjalar bagaikan labirin yang menyesatkan kita
dalam mimpi. Ketika ia masih malu-malu, lama berselang, Mr. Gumb menikmati kesenangannya di
ruangan-ruangan paling tersembunyi, jauh dari tangga. Di pojok-pojok paling jauh terdapat ruangan-
ruangan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya yang sudah bertahun-tahun tak pernah dibuka.
Beberapa di antaranya bisa dikatakan masih dihuni, walaupun suara-suara dari balik pintu-pintu itu
sudah lama tak terdengar lagi.
Ketinggian lantai berbeda-beda antara satu ruangan dan ruangan lain, kadang-kadang sampai tiga
puluh senti. Ada ambang pintu yang harus dilangkahi, palang yang harus dihindari dengan
membungkuk. Menggiring sesuatu di hadapan kita—sesuatu yang berjalan terhuyung-huyung sambil
menangis, memohon-mohon, dan sesekali membenturkan kepala tanpa sengaja— tidaklah mudah,
malah bisa dikatakan berbahaya.
Setelah bertambah bijak dan percaya diri, Mr. Gumb tak lagi merasa perlu memenuhi kebutuhannya
di pojok-pojok tersembunyi di basement-nya. Kini ia menggunakan sejumlah ruangan basement di
sekitar tangga, ruangan-ruangan besar dengan air mengalir dan listrik menyala.
Kini basement-nya terselubung kegelapan pekat.
Di bawah ruangan berlantai pasir, di dalam lubang sumur, Catherine Martin meringkuk tanpa
bersuara.
Mr. Gumb berada di basement, namun bukan di ruangan ini.
Ruangan di belakang tangga gelap gulita bagi mata manusia, namun dipenuhi berbagai bunyi pelan.
Air terdengar menetes dan pompa-pompa kecil berdengung-dengung. Gema-gema kecil membuat
ruangan itu berkesan luas. Udaranya lembap dan sejuk, dan berbau daun. Sayap-sayap mungil
menyerempet pipi. Bunyi sengau terdengar pelan, erangan nikmat, suara manusia.

ben99 ebooks collections 63


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Ruangan itu tidak diterangi cahaya dengan panjang gelombang yang tampak bagi mata manusia, tapi
Mr. Gumb ada di sini dan ia bisa melihat dengan jelas, meskipun semuanya terlihat sebagai warna
hijau dengan berbagai corak dan intensitas. Ia mengenakan kacamata inframerah (surplus militer
Israel, kurang dari empat ratus dolar) dan ia mengarahkan berkas sinar senter inframerah ke
kerangkeng kecil berkawat anyam di hadapannya. Ia duduk di tepi kursi bersandaran lurus. Segenap
perhatiannya tertuju pada serangga yang sedang memanjat tanaman di dalam kerangkeng. Serangga
muda itu baru saja keluar dari kepompong di dalam tanah lembap di dasar kerangkeng dan memanjat
dengan hati-hati, mencari tempat untuk mengembangkan sayapnya yang masih lembap dan menempel
di punggung. Binatang tersebut memilih ranting horizontal.
«Mr. Gumb terpaksa memiringkan kepala untuk melihat. Sedikit demi sedikit sepasang sayap itu
dipenuhi darah dan udara.
Dua jam berlalu. Mr. Gumb nyaris tidak bergerak. Ia menghidup-matikan senter inframerahnya, dan
setiap kali senternya menyala kembali, ia menikmati kemajuan yang telah dicapai serangga itu. Untuk
mengisi waktu, ia mengarahkan senter ke sekeliling ruangan— menyapu akuarium-akuarium besar
berisi cairan berwarna kecokelatan, menerangi benda-benda di dalamnya. Cahayanya beralih ke meja
kerjanya yang besar dan dilengkapi bantalan logam serta pipa pembuangan, lalu menerpa kerek di
atasnya. Tempat cuci tangan memanjang di dinding. Semuanya tampak hijau. Titik-titik yang
berpendar melintasi pandangannya, ngengat-ngengat kecil yang beterbangan dengan bebas.
Ia kembali berpaling ke kerangkeng. Sayap serangga besar di dalamnya telah terangkat di atas
punggung. Kini sayapnya turun untuk menyelubungi tubuh, dan motif yang terkenal itu terlihat jelas.
Sebuah tengkorak manusia, yang terbentuk oleh sisik-sisik menyerupai bulu, menatapnya dari
punggung ngengat. Di bawah ujung tengkorak yang gelap terdapat sepasang lubang mata yang hitam
serta tulang pipi menonjol. Tengkorak itu bertumpu pada motif yang menyerupai bagian atas tulang
pinggul.
Tengkorak yang bertumpu pada pinggul, semuanya tergambar alam pada punggung seekorngengat.
Mr. Gumb riang gembira. Ia membungkuk sedikit dan meniup serangga di hadapannya, pelan-pelan
saja. Ngengat itu mengeluarkan suara gusar.
Diam-diam Mr. Gumb berjalan ke ruang sumur. Ia membuka mulut agar bunyi napasnya tidak
kentara. Ia tak ingin kesenangannya terusik oleh teriakan-teriakan dari lubang sumur. Lensa
kacamatanya yang menonjol menyerupai mata kepiting. Mr. Gumb sadar kacamata itu sama sekali
tidak indah, namun benda itu sudah sering menghiburnya di dalam basement yang gelap.
Ia membungkuk dan mengarahkan cahaya yang tak tampak ke dalam lubang.
Spesimen di bawah berbaring miring, meringkuk seperti udang. Sepertinya sedang tidur. Ember
plastik masih di sampingnya. Kali ini talinya tidak putus seperti ketika ia berusaha memanjat dinding
yang licin. Sambil tidur, ia menempelkan sudut kasur ke wajah dan mengisap jempol.
Mr. Gumb memperhatikan Catherine dari atas ke bawah, dan ia mempersiapkan diri untuk
menghadapi masalah-masalah yang menantinya.
Kulit manusia sangat sulit diolah jika seseorang mempunyai standar setinggi Mr. Gumb. Berbagai ke-
putusan mendasar harus diambil, dan yang pertama menyangkut penempatan ritsleting.
Ia mengalihkan berkas senternya ke punggung Catherine. Biasanya ritsleting dipasang di sini, tapi
kalau begitu, bagaimana ia dapat mengenakannya seorang diri? Dan ia tidak dapat meminta bantuan
orang lain, meskipun gagasan itu sungguh menggairahkan. Ia mengetahui beberapa tempat di mana
usahanya akan ditanggapi penuh kekaguman—ada sejumlah yacht tempat ia dapat memamerkan hasil
karyanya— tapi itu harus menunggu.
Mr. Gumb tidak dapat menilai warna kulit Catherine dalam cahaya inframerah, tapi ia kelihatan lebih
kurus. Barangkali ia sedang berdiet ketika diculik.
Pengalaman mengajarkan Mr. Gumb untuk menunggu empat hari sampai satu minggu sebelum
mengambil kulit yang diminatinya. Pengurangan berat badan secara drastis membuat kulit lebih
longgar dan lebih mudah dilepaskan.^Selain itu, rasa lapar juga menggerogoti kekuatan subjek-
subjeknya dan menyebabkan mereka menjadi lebih mudah ditangani. Lebih tenang. Beberapa di
antara mereka bahkan menunjukkan sikap pasrah dan tidak peduli. Meski demikian, Mr. Gumb harus
menyediakan ransum sekadarnya untuk menghindari timbulnya perasaan putus asa serta perilaku
destruktif yang dapat merusak kulit.
Ya, spesimen ini telah kehilangan berat badan. Yang satu ini begitu penting bagi rencananya,
sehingga ia tak bisa menunggu terlalu lama, dan ia memang tak perlu menunggu terlalu lama. Besok
sore ia sudah bisa mulai berkarya, atau besok malam. Paling lambat besok lusa. Tidak lama lagi.

Bab Tiga Puluh Empat

Clarice starling mengenali papan nama Stonehinge Villas dari siaran berita TV. Kompleks hunian di
East Memphis itu, yang merupakan campuran flat dan town house, membentuk huruf U mengelilingi
pelataran parkir yang luas.
Starling memarkir Chevrolet Celebrity sewaannya di tengah-tengah lapangan. Melihat mobil-mobil
lain di sekelilingnya—sejumlah Trans-Am dan IROC-Z Camaro—ia menyimpulkan kompleks
tersebut dihuni pekerja-pekerja bergaji besar dan eksekutif-eksekutif tingkat bawah. Karavan-karavan
tanpa sengaja oleh akhir pekan serta perahu-perahu dengan cat mengilap tampak di bagian terpisah
ben99 ebooks collections 64
The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

dari pelataran parkir.


Stonehinge Villas—ejaan tersebut mengganggu Starling setiap kali ia melihatnya. Apartemen-
apartemen itu pasti dilengkapi perabot rotan yang dicat putih dan karpet berwarna peach. Foto-foto di
bawah kaca meja tamu. Dinner for Two Cookbook dan Fondue on the Menu. Starling, yang hanya
memiliki kamar asrama di FBI Academy sebagai tempat tinggal, selalu sewot mengenai hal-hal
seperti itu.
Ia perlu mempelajari latar belakang Catherine Baker
Martin, dan rasanya ini pilihan yang janggal sebagai tempat tinggal putri seorang senator. Starling
telah membaca keterangan biografi singkat yang dikumpulkan FBI, dan di situ Catherine Martin
digambarkan sebagai wanita muda cerdas yang sebenarnya mampu meraih sukses lebih tinggi. Ia
gagal di Farmington dan menghabiskan dua tahun yang suram di Midd-lebury. Kini ia mahasiswa
Southwestern dan bekerja sebagai guru praktek.
Semula Starling cenderung membayangkan Catherine sebagai anak sekolah swasta berotak tumpul
yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain. Namun ia sadar ia perlu
berhati-hati, karena penilaiannya itu diwarnai berbagai prasangka. Starling sendiri sempat merasakan
sekolah asrama berkat sejumlah beasiswa yang diterimanya, dan nilai-nilai yang ia peroleh jauh lebih
baik daripada pakaian yang dikenakannya ketika itu. Ia sering melihat anak-anak keluarga kaya yang
dititipkan di sekolah asrama oleh orangtua mereka yang sibuk sendiri. Beberapa di antara mereka
memang brengsek, tapi Starling segera menyadari bahwa sikap acuh tak acuh selain merupakan cara
untuk menghindari kepedihan, juga sering disalahartikan sebagai dangkal dan tidak peduli.
Lebih baik membayangkan Catherine sebagai anak kecil yang pergi berlayar bersama ayahnya,
seperti dalam film yang ditayangkan di TV ketika Senator Martin memohon belas kasihan. Buffalo
Bill. Dalam hati Starling bertanya, apakah Catherine berusaha menyenangkan ayahnya ketika masih
kecil. Ia bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Catherine ketika orang-orang datang dan
memberitahunya bahwa ayahnya meninggal akibat serangan jantung pada usia empat puluh dua
tahun. Starling yakin Catherine merindukan ayahnya. Rasa rindu kepada ayah, luka hati yang lazim,
menyebabkan Starling merasa dekat dengan wanita muda ini.
Starling merasa perlu menyukai Catherine Martin, sebab ini memacunya untuk mengerahkan segala
daya dan upaya.
Starling segera mengetahui lokasi apartemen Catherine—dua mobil Tennessee Highway Patrol di-
parkir di depannya. Ia melihat sejumlah noda putih pada bagian pelataran parkir yang paling dekat
dengan apartemen Catherine. Rupanya Tennessee Bureau of Investigation telah mengamankan
bercak-bercak oli dengan bubuk batu apung atau bubuk lainnya yang bersifat lembam. Crawford
memang sempat memuji cara kerja TBI.
Starling menghampiri kendaraan-kendaraan rekreasi dan perahu-perahu yang diparkir di bagian
khusus di depan apartemen. Di sinilah Catherine diculik Buffalo Bill. Cukup dekat dengan
apartemennya, sehingga ia merasa tidak perlu mengunci pintu ketika keluar. Ada sesuatu yang
memancingnya keluar, sesuatu yang berkesan tidak berbahaya.
Starling tahu kepolisian Memphis telah mendatangi semua tetangga untuk minta keterangan, namun
tidak ada yang melihat apa pun, jadi penculikan tersebut mungkin berlangsung di antara karavan-
karavan yang tinggi. Buffalo Bill pasti mengintainya dari sini. Sambil duduk di dalam kendaraan.
Tapi Buffalo Bill tahu Catherine ada di sini. Berarti ia telah melihatnya di tempat lain, lalu
mengikutinya sambil menunggu kesempatan beraksi. Tidak banyak wanita muda sebesar Catherine.
Buffalo Bill tak mungkin duduk-duduk di sembarang tempat sambil menunggu korban yang cocok.
Cara itu bisa menghabiskan waktu berhari-hari tanpa membuahkan hasil.
Semua korbannya berbadan besar. Semuanya. Ada yang gemuk, tapi semuanya besar. "Supaya baju
itu muat di badannya." Starling merinding ketika teringat ucapan Dr. Lecter. Dr. Lecter, warga baru
kota Memphis.
Starling menarik napas dalam-dalam, menggembungkan pipi, lalu mengembuskan udaranya pelan-
pelan. Coba lihat, apa yang bisa kita ketahui tentang Catherine.
Seorang polisi Tennessee dengan topi Smokey the Bear membukakan pintu apartemen Catherine
Martin. Ketika Starling memperlihatkan kartu identitasnya, petugas itu mempersilakannya masuk.
"Officer, saya perlu memeriksa tempat ini."
Petugas itu mengangguk. "Kalau teleponnya berdering, biarkan saja. Biar saya yang menerimanya."
Pada counter di dapur terbuka, Starling melihat tape recorder yang disambung ke pesawat telepon. Di
sampingnya ada dua pesawat telepon baru. Satunya tidak dilengkapi tombol-tombol angka—
sambungan langsung ke bagian pengamanan Southern Bell, fasilitas pelacakan telepon di daerah mid-
South.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya polisi muda itu.
"Tempat ini sudah selesai digeledah polisi?" "Apartemennya sudah diserahkan kembali kepada pihak
keluarga. Saya hanya menunggui telepon. Anda bebas memegang barang-barang yang ada di sini,
kalau itu yang Anda maksud."
"Baiklah, kalau begitu saya mau melihat-lihat dulu."
"Oke." Polisi muda itu meraih koran yang diselipkannya di bawah sofa, lalu kembali membaca.
Starling ingin berkonsentrasi. Ia menyayangkan ia tidak sendirian di dalam apartemen, tapi ia sadar ia
beruntung tempat itu tidak penuh polisi.
Ia mulai di dapur. Tampak jelas penghuni apartemen itu bukan orang yang gemar memasak.
Catherine pulang sejenak untuk mengambil popcorn, demikian keterangan yang diperoleh polisi dari
pacarnya. Starling membuka freezer. Di dalamnya ada dua kotak popcorn microwave. Pelataran
parkir tidak kelihatan dari dapur.
"Anda dari mana?"
Starling tidak mendengar pertanyaan itu. "Anda dari mana?"
Petugas polisi di sofa telah menurunkan koran dan sedang menatapnya.
"Washington," jawab Starling.
Di bawah tempat cuci piring—yap, goresan-goresan pada sambungan pipa, tempat penampungan
kotoran telah dibongkar dan diperiksa. Hmm, TBI cukup teliti. Pisau-pisau di counter tidak tajam.
Alat cuci piring sempat dinyalakan, namun belum dikosongkan. Lemari es berisi cottage cheese dan

ben99 ebooks collections 65


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

deli fruit salad. Catherine Martin suka membeli fast-food, kemungkinan besar ia mempunyai tempat
langganan, toko drive-in di sekitar apartemennya. Barangkali ada orang yang sering berkeliaran di
tempat itu. Tak ada salahnya diperiksa.
"Anda dari kejaksaan?" "Bukan, FBI."
"Saya dengar Jaksa Agung mau kemari. Sudah berapa lama Anda di FBI?"
Starling menatap petugas polisi itu. "Begini, Officer, saya perlu menanyakan beberapa hal kepada
Anda setelah saya selesai memeriksa tempat ini. Bagaimana kalau nanti saja kita bicara?" "Oke."
Kamar tidur di apartemen itu bersuasana cerah. Starling menyukainya. Perabot dan perlengkapan
lainnya cukup bagus dan mahal untuk ukuran seorang wanita muda. Ada sekat Coromandel, dua buah
cloisonne pada rak, serta meja tulis dari kayu walnut. Dan sepasang tempat tidur. Starling
mengangkat pinggiran selimut. Roda-roda pada kaki tempat tidur sebelah kiri terkunci, pada kaki
sebelah kanan tidak. Mungkin Catherine merapatkan keduanya kalau ada keperluan khusus.
Barangkali dia punya pacar gelap. Atau mungkin juga mereka suka menginap di sini. Mesin penerima
teleponnya tidak dilengkapi remote. Dia mungkin harus ada di sini kalau ibunya menelepon.
Mesin penerima teleponnya sama seperti milik Starling, Phone-Mate standar. Ia membuka panilnya.
Kaset-kaset untuk telepon masuk dan keluar sudah tidak ada. Keduanya digantikan pesan, TAPES
TBI PROPERTY #6.
Kamar itu sebenarnya cukup rapi, namun berkesan agak berantakan setelah digeledah oleh orang-
orang bertangan besar, orang-orang yang hendak mengemba-!kan semuanya ke tempat semula, tapi
selalu meleset sedikit. Tanpa melihat bekas bubuk untuk mengamankan sidik jari pada semua
permukaan licin pun Starling segera tahu tempat itu telah digeledah.
Starling menyangsikan bahwa penculikan berlangsung di kamar tidur. Kelihatannya Crawford benar.
Catherine disergap di pelataran parkir. Tapi Starling ingin mengenalinya lebih jauh, dan inilah tempat
ia tinggal.
Dalam kabinet di samping ranjang ada buku telepon, Kleenex, kotak berisi alat-alat kecantikan dan,
di balik peti kecil, sebuah kamera Polaroid SX-70 dengan cable release dan tripod kecil terlipat di
sampingnya. Hmmm. Penuh perhatian Starling mengamati kamera itu. Ia berkedip dan tidak
menyentuhnya.
Lemari pakaianlah yang paling menarik perhatian Starling. Catherine Baker Martin, pada label
binatunya tertulis C-B-M, memiliki banyak pakaian dan beberapa di antaranya cukup mahal. Starling
mengenali sejumlah label, termasuk Garfinkel's dan Britches di Washington. Hadiah-hadiah dari
Mami, kata Starling dalam hati. Catherine mempunyai baju-baju berpotongan klasik dengan dua
ukuran, yaitu ukuran berat badannya sekitar 72 dan 82 kg, menurut taksiran Starling. Lalu masih" ada
beberapa potong crisis fat pants dan pullover dari Statuesque Shop. Pada rak gantung ada dua puluh
tiga pasang sepatu. Tujuh pasang Ferragamo ukuran IOC, beberapa pasang Reebok, serta sejumlah
sepatu santai. Pada rak paling atas ada ransel.dan raket tenis.
Harta benda anak orang kaya, seorang mahasiswa dan guru praktek dengan tingkat kesejahteraan
lebih tinggi dari kebanyakan orang.
Surat-surat menumpuk di meja tulis. Dari bekas teman kuliah di daerah Timur dulu. Prangko, label
alamat. Kertas kado di laci paling bawah, dengan aneka warna dan corak. Starling memeriksa
semuanya satu per satu. Ia sedang berpikir untuk mencari keterangan dari karyawan toko drive-in
setempat, ketika jarinya menemukan selembar kertas kado yang lebih tebal dan kaku dari yang
lainnya. Ia melewatinya, lalu kembali lagi. Starling terlatih untuk mengenali hal-hal yang
menyimpang; ia menarik lembaran itu dan mengamatinya. Warnanya biru, terbuat dari bahan yang
serupa dengan pengering tinta, dan motif yang tercetak adalah tiruan kasar gambar Pluto. Semua
anjing pada deretan-deretan itu mirip Pluto, warna kuningnya benar, namun proporsinya agak
meleset.
"Catherine, Catherine," Starling bergumam. Ia mengambil penjepit dari tas dan menggunakannya
untuk memindahkan kertas berwarna itu ke dalam sampul plastik, yang kemudian diletakkannya di
atas tempat tidur.
Di atas meja rias ada kotak perhiasan berlapis kulit, seperti yang lazim ditemui di kamar asrama
wanita muda. Kedua laci di sisi depan berisi perhiasan imitasi, tak ada yang berharga. Dalam hati
Starling bertanya, apakah perhiasan yang asli disimpan di dalam kol dari karet di lemari es, dan kalau
memang begitu, siapa yang mengambilnya.
Ia mencungkil pinggiran tutup kotak itu dan membuka laci rahasia di sisi belakang. Lacinya kosong.
Starling bertanya-tanya, untuk apa laci semacam ini dipasang—semua pencuri sudah tahu rahasianya.
Ia sedang meraih ke balik kotak perhiasan untuk menutup laci, ketika jarinya menyentuh amplop
yang ditempelkan di sisi bawah.
Starling segera mengenakan sepasang sarung tangan katun dan memutar kotak itu. Lalu ia menarik
laci yang kosong dan membalikkannya. Sebuah amplop cokelat ditempelkan ke sisi bawah laci
dengan selotip. Tutupnya sekadar diselipkan, bukan dilem. Starling mengendus-endus. Amplop itu
belum diperiksa untuk mencari sidik jari. Starling menggunakan penjepit tadi untuk membuka
amplop dan mengeluarkan isinya. Ia menemukan lima foto Polaroid dan mengeluarkan semuanya
satu per satu. Foto-foto itu memperlihatkan sepasang pria dan wanita bersanggama. Kepala maupun
wajah mereka tidak tampak. Dua foto diambil oleh si wanita, dua oleh pasangannya, dan satu lagi
sepertinya dibuat dari tripod yang ditaruh pada meja di samping tempat tidur.
Menentukan skala pada sebuah foto adalah pekerjaan sukar, tapi dengan bobot 72 kg pada tubuh yang
panjang, wanita itu bisa dipastikan Catherine Martin. Pasangannya mengenakan semacam cincin
gading berukir pada penisnya. Resolusi foto tersebut tidak memadai untuk mengenali detail-detail
cincin. Pria itu telah menjalani operasi usus buntu. Starling menyelipkan foto-foto ke dalam kantong-
kantong plastik, lalu memasukkan semuanya ke dalam amplop cokelat yang dibawanya. Kemudian ia
mengembalikan laci rahasia ke tempat semula di kotak perhiasan..
"Perhiasan yang asli sudah saya amankan," sebuah suara berkata di belakangnya. "Sepertinya tidak
ada yang hilang."
Starling memandang ke cermin. Senator Ruth Martin berdiri di ambang pintu. Ia tampak letih.
Starling berbalik. "Halo, Senator Martin. Anda mgin beristirahat? Saya sudah hampir selesai."
Meski sedang letih, Senator Martin tetap terlihat rapi. Namun di balik penampilannya itu mengintai

ben99 ebooks collections 66


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

watak yang mudah meletup, dan Starling pun menyadarinya.


"Siapa Anda? Saya pikir pihak kepolisian sudah selesai di sini."
"Saya Clarice Starling, FBI. Anda sudah bicara dengan Dr. Lecter, Senator?"
"Dia menyebutkan sebuah nama." Senator Martin menyalakan rokok dan mengamati Starling dari
atas sampai bawah. "Kita tunggu saja apakah informasinya berharga atau tidak. Dan apa yang Anda
temukan dalam kotak perhiasan itu, Officer Starling? Sesuatu yang berharga?"
"Dokumentasi yang dapat kita periksa dalam waktu beberapa menit," adalah jawaban terbaik yang
dapat dibelikan Starling.
"Dalam kotak perhiasan putri saya? Coba saya lihat."
Starling mendengar suara-suara di ruangan sebelah, dan ia berharap ada yang menyela percakapannya
dengan Senator Martin. "Anda disertai Mr. Copley, agen khusus kami di Memphis yang..."
'Tidak, dan itu bukan jawaban. Saya tidak bermaksud apa-apa, Officer, tapi saya ingin tahu apa yang
Anda ambil dari kotak perhiasan putri saya." Ia menoleh ke belakang dan memanggil seseorang.
"Paul. Pa"l, tolong kemari sebentar. Officer Starling, Anda m"ngkin kenal Mr. Krendler dari
Departemen Kehakiman. Paul, ini gadis yang ditugaskan Jack Crawford untuk menemui Lecter."
Bagian kepala Krendler yang botak tampak kecokelatan karena matahari, dan ia kelihatan segar untuk
orang berusia empat puluh.
"Mr. Krendler, saya tahu siapa Anda. Halo," ujar Starling. Orang penting di Kehakiman, ya Tuhan,
bantulah hambaMu ini.
"Officer Starling menemukan sesuatu di dalam kotak perhiasan putri saya dan memasukkannya ke
amplop cokelat yang dia bawa. Saya kira ada baiknya kita lihat isi amplop itu, bukan?"
"Officer," kata Krendler.
"Bolehkah saya bicara dengan Anda, Mr. Krendler?"
"Tentu saja. Nanti." Krendler mengulurkan tangan.
Wajah Starling terasa panas. Ia tahu Senator Martin sedang stres, tapi ia takkan pernah memaafkan
Krendler atas keraguan yang tergambar di wajahnya. Sampai kapan pun.
"Silakan," sahut Starling. Ia menyerahkan amplop yang diminta.
Krendler mengintip foto pertama dan telah menyelipkan kembali tutup amplop ketika Senator Martin
mengambil alih amplop itu dari tangannya.
Starling tak sampai hati menatap wajah Senator Martin saat mengamati foto-foto itu. Setelah selesai,
Senator Martin menghampiri jendela dan menghadap langit yang mendung, dengan mata terpejam. Ia
tampak tua dalam cahaya yang suram, dan tangannya gemetaran ketika ia mencoba mengisap
rokoknya.
"Senator, saya..." Krendler angkat bicara.
"Kamar ini sudah digeledah polisi," ujar Senator jylartin. "Saya yakin mereka juga menemukan foto-
foto itu dan cukup tanggap untuk mengembalikan semuanya dan tutup mulut."
"Anda keliru," ujar Starling. "Foto-foto ini belum ditemukan." Ia sadar wanita itu sedang mengalami
cobaan, tapi persetan. "Mrs. Martin, kita perlu tahu siapa pria pada foto ini, Anda tentu memahami
hal ini. Kalau memang sang pacar, tak ada masalah. Saya bisa memastikannya dalam waktu lima
menit. Foto-foto ini tak perlu disebarluaskan dan Catherine takkan pernah tahu."
"Biar saya yang menanganinya." Senator Martin menyelipkan amplop itu ke dalam tas, dan Krendler
membiarkannya.
"Senator, apakah Anda yang mengambil perhiasan dari kol karet di dapur?" tanya Starling.
Asisten Senator Martin, Brian Gossage, muncul di pintu. "Maaf, Senator, terminalnya sudah
terpasang. Kita bisa mengikuti pelacakan nama William Rubin di FBI."
"Silakan, Senator Martin," ujar Krendler. "Saya akan segera menyusul."
Ruth Martin meninggalkan ruangan tanpa menjawab pertanyaan Starling.
Starling mengamati Krendler ketika orang itu menutup pintu kamar tidur. Setelan jasnya
mencerminkan puncak keahlian menjahit dan ia tidak bersenjata. Tumit sepatunya tampak mengilap
karena terus tergosok karpet tebal, dan pinggirannya masih menyiku.
Sejenak Krendler berdiri dengan tangan»,pada pegangan pintu, sambil menundukkan kepala.
Anda sangat teliti," katanya ketika berbalik.
Starling tidak bisa dibujuk semudah itu. Ia membalas tatapan Krendler.
"Orang-orang Quantico selalu ahli dalam menggeledah," ujar Krendler.
"Orang-orang Quantico bukan pencuri."
"Saya tahu itu."
"Masa?"
"Sudahlah."
"Foto-foto dan kol karet itu akan ditindaklanjuti, bukan?" tanya Starling. "Ya."
"Bagaimana soal nama 'William Rubin' itu, Mr. Krendler "Menurut Lecter, itu nama asli Buffalo
Bill. Ini transmisi kami ke seksi ID dan NCIC. Coba Anda baca." Krendler menyerahkan transkrip
wawancara Senator Martin dengan Lecter, sebuah salinan buram dari printer dot-matrix."
"Ada komentar?" tanya Krendler setelah Starling selesai membaca.
"Di sini tidak ada apa-apa yang bisa menjeratnya," kata Starling. "Dia bilang pelakunya pria kulit
putih bernama Billy Rubin yang pernah terkena antraks gading gajah. Apa pun yang terjadi, Anda
takkan bisa membuktikan dia bohong. Paling-paling dia akan mengaku keliru. Mudah-mudahan ini
benar. Tapi mungkin saja dia sekadar mempermainkan Senator Martin; dia sanggup melakukan itu.
Anda pernah... bertemu dengannya?"
Krendlef menggeleng sambil mendengus.
"Sejauh yang kita ketahui, Lecter membunuh sembilan orang. Dia takkan pernah bebas—biarpun dia
membangkifkan orang yang sudah mati, dia tetap takkan dilepaskan. Yang bisa dia lakukan hanya
mencari hiburan. Itulah sebabnya kami bermain-main dengannya..."
"Saya tahu bagaimana Anda bermain-main dengannya. Saya sudah mendengarkan rekaman Chilton.
Saya tidak mengatakan Anda keliru—saya mengatakan Anda berhenti sampai di sini. Seksi Ilmu
Perilaku bisa mengusut temuan Anda—sudut transseksual itu. Dan besok Anda akan kembali
bersekolah di Quantico."
Oh, sial. "Ada lagi yang saya.temukan."

ben99 ebooks collections 67


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Lembaran kertas berwarna di tempat tidur telah luput dari perhatian. Starling menyerahkannya
kepada Krendler.
"Apa ini?"
"Kelihatannya seperti kertas bergambar Pluto." Starling menunggu sampai Krendler menanyakan
kelanjutannya.
Pria itu memberi isyarat agar Starling meneruskan penjelasannya.
"Saya menduga ini blotter acid. LSD. Mungkin dari pertengahan tahun tujuh puluhan atau
sebelumnya. Sekarang sudah jadi barang langka. Ada baiknya kita selidiki dari mana dia memperoleh
ini. Kita perlu mengadakan tes untuk memastikannya."
"Anda bisa membawanya ke Washington untuk diserahkan ke lab. Anda berangkat sebentar lagi."
"Kalau Anda tidak mau menunggu, kita bisa meng-uJmya sekarang juga. Kalau polisi punya standar
Narcotics Identification, Kit, kita gunakan tes J, waktunya hanya dua detik."
"Kembali ke Washington, kembali ke sekolah," Krendler menegaskan sambil membuka pintu.
"Saya diinstruksikan Mr. Crawford..."
"Instruksi Anda adalah apa yang saya katakan. Anda tidak di bawah komando Jack Crawford seka-
rang. Anda di bawah pengawasan yang sama seperti semua trainee lain, dan urusan Anda adalah di
Quantico, mengerti? Ada pesawat yang berangkat pukul dua lewat sepuluh. Anda akan berada di atas
pesawat itu."
"Mr. Krendler, Dr. Lecter bersedia bicara dengan saya setelah menolak bicara dengan kepolisian
Baltimore. Bisa jadi dia akan melakukannya lagi. Mr. Crawford berpendapat..."
Krendler kembali menutup pintu, lebih keras dari seharusnya. "Officer Starling, saya tidak perlu men-
jelaskan apa pun kepada Anda, tapi begini. Setiap rekomendasi dari Ilmu Perilaku sekadar bersifat sa-
ran, dari dulu sudah begitu. Dan sekarang pun tetap begitu. Jack Crawford seharusnya sudah
mengambil cuti. Saya tidak menyangka dia tetap sanggup bekerja sebaik ini. Dia gegabah mengambil
risiko dengan menutup-nutupi urusan ini dari Senator Martin, dan sekarang dia kena getahnya. Tapi
dengan reputasi seperti yang dia miliki, Senator Martin pun tak dapat berbuat banyak terhadapnya,
apalagi masa pensiunnya sudah dekat. Kalau saya jadi Anda, saya takkan mencemaskannya."
Sejenak Starling kehilangan kendali diri. "Apakah ada orang lain yang berhasil menangkap tiga pem-
bunuh berantai? Anda kenal orang lain yang menangkap satu saja? Tidak seharusnya Anda
membiarkan 4 Senator Martin menangani urusan ini, Mr. Krendler."
"Anda pasti sangat cerdas, kalau tidak, Crawford takkan membuang-buang waktu dengan Anda.
Dengarkan baik-baik, sebab saya takkan mengulangi ini: Jagalah mulut Anda, atau Anda akan saya
tempatkan sebagai sekretaris. Rupanya Anda belum mengerti juga—satu-satunya alasan Anda
disuruh menemui Lecter adalah untuk mencari berita bagi direktur Anda untuk digunakan di Capitol
Hill. Detail-detail sepele mengenai kejahatan-kejahatan kelas kakap, 'cerita orang dalam' mengenai
Dr. Lecter. Direktur Anda membagi-bagikannya seperti permen sambil memperjuangkan anggaran
yang disusunnya. Para anggota kongres tidak pernah puas mendengar cerita seperti ini. Anda telah
melewati batas, Officer Starling, dan Anda akan ditarik dari kasus ini. Saya tahu Anda diberi ID
sementara. Tolong serahkan pada saya."
"Saya memerlukannya untuk membawa senjata ke dalam pesawat. Pistol inventaris Quantico."
"Pistol. Ya Tuhan! Kembalikan ID itu begitu Anda sampai di sana."
Senator Martin, Gossage, seorang teknisi, dan beberapa petugas polisi berkerumun di depan video
display terminal dengan modem yang disambungkan ke pesawat telepon. Hotline dari National Crime
Information Center mencatat setiap kemajuan yang diperoleh, sementara informasi dari Lecter
diproses di Washington. Berita yang baru saja, masuk dikirim dari National Center for Disease
Control di Atlanta: Antraks gading gajah menyebar melalui debu yang terisap saat menggerinda
gading Afrika, yang biasa digunakan untuk barang-barang dekorasi. Di Amerika enkat, penyakit itu
ditemui di kalangan pembuat Pisau.
Senator Martin memejamkan mata ketika membaca kata-kata "pembuat pisau". Matanya perih dan
kering. Ia meremas-remas Kleenex di tangannya.
Polisi muda yang membiarkan Starling memasuki apartemen sedang membawakan secangkir kopi
untuk Senator Martin. Ia masih mengenakan topinya.
Starling tidak sudi keluar diam-diam. Ia berhenti di hadapan wanita itu dan berkata, "Semoga
berhasil, Senator. Mudah-mudahan Catherine selamat."
Senator Martin mengangguk tanpa menoleh. Krendler menggiring Starling ke pintu.
"Saya tidak tahu dia tidak boleh masuk kemari," ujar polisi muda tadi ketika Starling meninggalkan
ruangan.
Krendler menemaninya keluar. "Saya sangat menghormati Jack Crawford," katanya. "Tolong
sampaikan padanya bahwa kami semua turut prihatin dengan... masalah Belia itu. Sekarang
kembalilah ke sekolah dan belajarlah dengan giat, oke?"
"Good-bye, Mr. Krendler."
Kemudian Starling seorang diri di pelataran parkir, dengan perasaan aneh bahwa tak ada yang
dipahaminya di dunia ini.
Ia memperhatikan seekor merpati berjalan di bawah karavan-karavan dan perahu-perahu. Burung itu
memungut kulit kacang dan meletakkannya lagi. Bulunya bergerak-gerak tertiup angin.
Starling merasa perlu bicara dengan Crawford. Sekaranglah masa yang paling sulit, itu yang dikata-
kannya. Manfaatkanlah masa ini dengan baik, dan kau akan ditempanya. Kau sedang menghadapi
ujian paling berat—jangan biarkan kemarahan dan frustrasi menghalangi akal sehatmu. Inilah yang
menentukan, apakah kau bisa memimpin atau tidak.
Starling tidak peduli soal kepemimpinan. Kalau aturan mainnya seperti ini, ia bahkan tak peduli
tentang kedudukannya sebagai Agen-Khusus Starling.
Ia teringat gadis malang yang dilihatnya di meja di rumah duka di Potter, West Virginia Kukunya
dicat kerlap-kerlip seperti sepatu bot untuk main ski.
Siapa namanya? Kimberly.
Persetan, mereka takkan melihatku menangis.
Ya Tuhan, semua orang bernama Kimberly, di kelasnya ada empat orang. Tiga orang bernama Sean.
Kimberly dengan nama opera sabunnya berusaha berdandan, menindik telinganya agar kelihatan

ben99 ebooks collections 68


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

cantik. Buffalo Bill menatap payudaranya yang rata dan menempelkan moncong pistol di antara
keduanya, lalu menarik picu.
Kimberly, saudaranya yang gemuk dan menyedihkan, yang rajin menghilangkan bulu-bulu di
kakinya. Tidak mengherankan—melihat wajah dan tangan dan kakinya, maka kulitnyalah yang paling
patut dibanggakan Kimberly, apakah kau sedang marah? Tidak ada senator yang mencarinya. Tidak
ada pesawat jet yang membawa orang sinting. Sinting adalah kata yang tidak seharusnya ia gunakan.
Banyak hal yang tidak seharusnya ia kerjakan. Laki-laki sinting.
Starling melirik arlojinya. Masih ada waktu satu setengah jam sebelum pesawatnya berangkat, dan
ada satu hal kecil yang masih sempat ia lakukan! Ia ingin menatap wajah Dr. Lecter saat ia berkata
"Billy ln . Kalau ia tahan menatap mata yang aneh itu
untuk waktu cukup lama, kalau ia dapat melihat jauh ke dalam kegelapan yang menelan setiap kilatan
cahaya mata itu, barangkali ia akan menemukan sesuatu yang berguna. Barangkali ia akan melihat
Lecter tertawa mengejek.
Untung saja kartu ID-nya masih kupegang.
Mobilnya meninggalkan jejak ban sepanjang lebih dari tiga meter ketika melaju dari pelataran parkir.

Bab Tiga Puluh Lima


Clarice starling memacu mobilnya di tengah lalu lintas Memphis yang penuh bahaya. Dua tetes air
mata kemarahan telah mengering di pipinya. Ia merasa ringan dan bebas. Pikirannya yang luar biasa
terang memperingatkannya bahwa ia sedang cenderung mencari perkara, sehingga ia pun berjaga-
jaga.
Ia telah melewati gedung pengadilan lama dalam perjalanan dari bandara tadi, dan kini ia
menemukannya kembali tanpa kesulitan.
Pihak berwajib Tennessee tidak mau mengambil risiko dengan Hannibal Lecter. Mereka bertekad
mengamankannya tanpa mempertaruhkan keselamatannya di penjara.
Jawaban mereka adalah bekas gedung pengadilan dan rumah tahanan, sebuah bangunan kokoh
bergaya Gotik yang didirikan ketika tenaga kerja masih gratis. Kini gedung itu berfungsi sebagai
kantor pemerintah kota.
Hari ini bangunan tersebut menyerupai benteng abad pertengahan yang dikelilingi polisi.
Mobil-mobil patroli berbagai instansi—polisi jalan raya, Shelby County Sheriff's Department,
Tennessee Bureau of Investigation, dan Department of Corrections—memenuhi pelataran parkir.
Starling harus melewati pos polisi dulu sebelum dapat memarkir mobil sewaannya.
Kehadiran Dr. Lecter juga menimbulkan masalah keamanan tambahan dari luar. Telepon-telepon
bernada mengancam terus berdatangan sejak keberadaannya dilaporkan dalam siaran berita pagi;
korban-korbannya mempunyai banyak teman dan saudara yang ingin melihat Lecter mati.
Starling berharap agen FBI setempat, Copley, belum datang. Ia tidak mau membuat kesulitan untuk
orang itu.
Ia melihat bagian belakang kepala Chilton di tengah kerumunan wartawan di rumput samping tangga
utama. Ada dua kamera TV mini. Starling menyayangkan ia tidak memakai topi atau penutup kepala
lainnya. Ia memalingkan wajah ketika menghampiri pintu masuk.
Polisi yang berjaga di depan pintu memeriksa ID-nya sebelum ia diizinkan memasuki lobi. Ruangan
itu kini menyerupai pos jaga. Seorang petugas polisi ditempatkan di pintu lift, satu orang lagi di
tangga Sejumlah polisi, yang akan menggantikan rekan-rekan mereka yang bertugas di luar, sedang
membaca Commercial Appeal di sofa-sofa yang terhalang dari pandangan umum.
Meja di seberang lift ditempati seorang sersan. Tanda pengenalnya bertulisan TATE, CL.
"Pers dilarang masuk," Sersan Tate berkata ketika
melihat Starling.
"Saya bukan orang pers," sahut Starling.
"Anda dari kejaksaan?" Sersan Tate bertanya setelah membaca kartu pengenal Starling.
"Saya anggota rombongan Deputy Assistant Attorney General Krendler," ujar Starling. "Yang lain
akan menyusul."
Sersan Tate mengangguk. "Segala macam polisi di West Tennessee datang kemari untuk melihat Dr.
Lecter. Untung saja tidak banyak orang seperti dia. Sebelum naik, Anda perlu bicara dulu dengan Dr.
Chilton."
"Kami sudah ketemu di luar," balas Starling. "Urusan ini sudah kami bicarakan di Baltimore tadi
pagi. Di mana saya harus mencatat identitas saya, Sersan Tate? Di sini?"
Sang sersan menjilat gerahamnya dengan lidah. "Ya, di sini," katanya. "Peraturan penjara, Miss.
Semua pengunjung wajib menyerahkan senjata." . Starling mengangguk. Ia mengeluarkan
selongsong-selongsong peluru dari revolvernya, lalu menyerahkan pistol itu dengan gagang lebih
dulu. Sersan Tate menyimpannya di dalam laci.
"Vernon, antar dia ke atas." Ia menekan tiga angka dan menyebutkan nama Starling lewat telepon.
Lift yang dinaiki Starling—satu-satunya di gedung itu, dipasang pada tahun 1920-an—berderak-
derak sampai ke lantai paling atas. Pintunya membuka dan Starling melangkah ke bordes yang
dilanjut ke koridor pendek.
Lurus saja; Ma'am," ujar polisi yang mengantarnya.
Kaca es- pada pintu di ujung koridor bertulisan SHELBY COUNTY HISTORICAL SOCIETY.
Hampir seluruh lantai paling atas bekas gedung pengadilan merupakan ruangan segi delapan yang
dicat putih, dengan lantai dan lis-lis dari kayu ek yang dipoles. Udaranya berbau lilin dan lem buku.
Dengan perabotannya yang sedikit dan bersahaja, ruangan itu berkesan seperti gereja.
Dua pria berseragam Tennessee Department of Correction sedang bertugas. Yang kecil bangkit di
belakang mejanya ketika Starling masuk. Rekannya duduk di kursi lipat di ujung ruangan,
menghadap k" sel. Ia bertugas mengawasi tahanan agar tidak melaku kan bunuh diri.
"Anda berwenang bicara dengan tahanan ini, Ma'am?" tanya petugas di balik meja. Tanda pengenal-
nya bertulisan PEMBRY, T.W., dan di mejanya ad pesawat telepon, dua pentungan karet, dan sekalen
Chemical Mace. Tongkat panjang disandarkan ke sudut' dinding di belakangnya.

ben99 ebooks collections 69


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Ya," jawab Starling. "Saya sudah pernah menginterogasinya."


"Anda tahu peraturannya? Jangan lewati batas."
"Tentu."
Satu-satunya sentuhan warna di ruangan itu adala* pembatas polisi berupa kuda-kuda dengan garis-
gari jingga dan kuning serta lampu kerlap-kerlip yang ki dimatikan. Pembatas itu berjarak satu
setengah meter dari pintu sel. Barang-barang milik Dr. Lecter tergantung pada gantungan mantel di
dekatnya—topen hoki es dan sesuatu yang belum pernah dilihat Star ling, rompi tahanan Kansas.
Rompi itu terbuat dai kulit tebal. Dengan pengikat pergelangan di pinggan dan gesper di punggung,
rompi tersebut mungkin baj pengaman pal melihat topeng dan rompi hitam itu tergantung di depan
dinding yang putih.
Starling bisa melihat Dr. Lecter ketika menghampiri sel. Lecter sedang membaca di meja kecil yang
dibaut ke lantai. Ia membelakangi pintu. Di hadapannya ada sejumlah buku serta salinan arsip Buffalo
Bill yang diberikan Starling padanya di Baltimore. Sebuah tape recorder kecil dirantai ke kaki meja.
Janggal rasanya melihat Lecter di luar rumah sakit jiwa.
Starling sudah pernah melihat sel seperti ini, ketika ia masih kecil. Sel-sel itu dirakit oleh perusahaan
di St. Louis sekitar pergantian abad, dan tak pernah ada yang membuat yang lebih baik—kerangkeng
baja yang mengubah ruang mana pun menjadi sel. Lantainya terbuat dari lembaran baja yang
dipasang di atas batang-batang baja, dan dinding-dinding serta langit-langit berupa batang-batang
baja sepenuhnya menutupi ruangan itu. Tak ada jendela. Selnya putih bersih dan terang-benderang.
Sekat kertas tipis menghalangi pandangan ke toilet.
Batang-batang putih ini terlihat menonjol di dinding. Kepala Dr. Lecter tampak kecil dan gelap.
Dia seekor cemetery mink. Dia hidup di dalam rongga dada, di dalam jantung yang telah mengering.
Starling segera mengusir pikiran itu.
"Selamat pagi, Clarice," Lecter berkata tanpa menoleh. Ia menyelesaikan halaman yang sedang
dibacanya, menandai halamannya, dan membalik di kursi untuk berpaling kepada Starling.
Tangannya bersandar pada sandaran punggung dan menumpu dagunya. "Dumas berkata bahwa
penambahan seekor gagak ke bouillon di musim gugur, saat burung gagak sudah gemuk berkat brendi
yang diminumnya, akan membantu warna dan rasa air kaldunya. Kukira kau pun membutuhkan
bantuan, bukan begitu, Clarice?"
"Kupikir Anda mungkin menginginkan gambar-gambar dan barang-barang dari sel Anda, sampai
Anda mendapatkan pemandangan yang lebih baik."
"Kau penuh perhatian. Dr. Chilton gembira sekali kau dan Jack Crawford ditarik dari kasus ini. Atau
kau dikirim untuk mengorek informasi untuk terakhir kali?"
Pengawas Lecter telah menghampiri Officer Pembry di meja untuk mengobrol. Starling berharap
mereka tidak dapat mendengar percakapannya dengan Lecter.
"Aku tidak dikirim ke sini. Aku sendiri yang ingin datang."
"Orang-orang akan menyangka kita menjalin asmara. Kau tidak ingin bertanya tentang Billy Rubin,
Clarice?"
"Dr. Lecter, aku sama sekali tidak bermaksud... ehm, meragukan kebenaran keterangan Anda kepada
Senator Martin, tapi apakah menurut Anda aku perlu terus mempelajari gagasan Anda mengenai..."
"Meragukan—aku suka sekali pilihan katamu. Menurutku kau telah mencoba mengelabuiku, Clarice.
Kaupikir saya mempermainkan orang-orang ini?"
"Kupikir Anda telah memberikan keterangan sebenarnya padaku."
"Sayang sekali kau mencoba mengelabuiku, bukan?" Wajah Dr. Lecter menghilang di balik
lengannya, hingga hanya matanya yang terlihat. "Sayang sekali Catherine Martin takkan pernah
melihat matahari lagi.
jylatahari adalah api yang telah menghanguskan segala harapannya, Clarice."
"Sayang sekali Anda kini berubah pikiran dan memilih menikmati penderitaan orang lain," sahut
Starling. "Sayang sekali kita tidak sempat menyelesaikan pembicaraan kita. Gagasan Anda mengenai
imago, struktur pemikiran Anda itu, mempunyai... keanggunan yang masih terus mencengkeramku.
Tapi sekarang hanya tersisa puing-puing, bagaikan lengkungan yang tinggal setengah."
"Setengah lengkungan tidak bisa berdiri. Dan selagi bicara tentang sisa-sisa, apa yang tersisa dari
wewenangmu, Clarice? Apakah lencanamu telah dicopot?"
"Belum."
"Apa itu yang menyembul di balik jasmu, alat absensi seperti milik ayahmu?" "Bukan, itu
speedloader-ka." "Jadi, kau berjalan-jalan dengan membawa senjata?" "Ya."
ing ampuh di dunia. Starling merinding melihat topeng dan rompi hitam itu tergantung di depan
dinding yang putih.
Starling bisa melihat Dr. Lecter ketika menghampiri sel. Lecter sedang membaca di meja kecil yang
dibaut ke lantai. Ia membelakangi pintu. Di hadapannya ada sejumlah buku serta salinan arsip Buffalo
Bill yang diberikan Starling padanya di Baltimore. Sebuah tape recorder kecil dirantai ke kaki meja.
Janggal rasanya melihat Lecter di luar rumah sakit jiwa.
Starling sudah pernah melihat sel seperti ini, ketika ia masih kecil. Sel-sel itu dirakit oleh perusahaan
di St. Louis sekitar pergantian abad, dan tak pernah ada yang membuat yang lebih baik—kerangkeng
baja yang mengubah ruang mana pun menjadi sel. Lantainya terbuat dari lembaran baja yang
dipasang di atas batang-batang baja, dan dinding-dinding serta langit-langit berupa batang-batang
baja sepenuhnya menutupi ruangan itu. Tak ada jendela. Selnya putih bersih dan terang-benderang.
Sekat kertas tipis menghalangi pandangan ke toilet.
Batang-batang putih ini terlihat menonjol di dinding. Kepala Dr. Lecter tampak kecil dan gelap.
Dia seekor cemetery mink. Dia hidup di dalam rongga dada, di dalam jantung yang telah mengering.
Starling segera mengusir pikiran itu.
"Selamat pagi, Clarice," Lecter berkata tanpa menoleh. Ia menyelesaikan halaman yang sedang
dibacanya, menandai halamannya, dan membalik di kursi untuk berpaling kepada Starling.
Tangannya bersandar pada sandaran punggung dan menumpu dagunya. "Dumas berkata bahwa
penambahan seekor gagak ke bouillon di musim gugur, saat burung gagak sudah gemuk berkat brendi
yang diminumnya, akan membantu warna dan rasa air kaldunya. Kukira kau pun membutuhkan
bantuan, bukan begitu, Clarice?"

ben99 ebooks collections 70


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Kupikir Anda mungkin menginginkan gambar-gambar dan barang-barang dari sel Anda, sampai
Anda mendapatkan pemandangan yang lebih baik."
"Kau penuh perhatian. Dr. Chilton gembira sekali kau dan Jack Crawford ditarik dari kasus ini. Atau
kau dikirim untuk mengorek informasi untuk terakhir kali?"
Pengawas Lecter telah menghampiri Officer Pembry di meja untuk mengobrol. Starling berharap
mereka tidak dapat mendengar percakapannya dengan Lecter.
"Aku tidak dikirim ke sini. Aku sendiri yang ingin datang."
"Orang-orang akan menyangka kita menjalin asmara. Kau tidak ingin bertanya tentang Billy Rubin,
Clarice?"
"Dr. Lecter, aku sama sekali tidak bermaksud... ehm, meragukan kebenaran keterangan Anda kepada
Senator Martin, tapi apakah menurut Anda aku perlu terus mempelajari gagasan Anda mengenai..."
"Meragukan—aku suka sekali pilihan katamu. Menurutku kau telah mencoba mengelabuiku, Clarice.
Kaupikir saya mempermainkan orang-orang ini?"
"Kupikir Anda telah memberikan keterangan sebenarnya padaku."
"Sayang sekali kau mencoba mengelabuiku, bukan?" Wajah Dr. Lecter menghilang di balik
lengannya, hingga hanya matanya yang terlihat. "Sayang sekali Catherine Martin takkan pernah
melihat matahari lagi.
jylatahari adalah api yang telah menghanguskan segala harapannya, Clarice."
"Sayang sekali Anda kini berubah pikiran dan memilih menikmati penderitaan orang lain," sahut
Starling. "Sayang sekali kita tidak sempat menyelesaikan pembicaraan kita. Gagasan Anda mengenai
imago, struktur pemikiran Anda itu, mempunyai... keanggunan yang masih terus mencengkeramku.
Tapi sekarang hanya tersisa puing-puing, bagaikan lengkungan yang tinggal setengah."
"Setengah lengkungan tidak bisa berdiri. Dan selagi bicara tentang sisa-sisa, apa yang tersisa dari
wewenangmu, Clarice? Apakah lencanamu telah dicopot?"
"Belum."
"Apa itu yang menyembul di balik jasmu, alat absensi seperti milik ayahmu?" "Bukan, itu
speedloader-ka." "Jadi, kau berjalan-jalan dengan membawa senjata?" "Ya."
"Kalau begitu, kau perlu melebarkan jasmu. Kau bisa menjahit?" "Ya."
"Bajumu itu kaujahit sendiri?"
"Tidak. Dr. Lecter, Anda sanggup mengetahui setiap rahasia orang lain. Anda tidak mungkin bicara
secara mendalam dengan 'Billy Rubin' ini namun hanya tahu sangat sedikit tentang dia."
"Kaupikir begitu?"
Kalau Anda memang pernah bertemu, berarti Anda mengetahui segala sesuatu mengenai dia. Tapi
hari 1111 hanya ada satu detail yang Anda ingat. Dia Pernah menderita antraks gading gajah. Sayang
Anda tidak sempat melihat mereka tersentak ketika ada kabar dari Atlanta bahwa penyakit itu biasa
menyerang pembuat pisau. Reaksi mereka persis seperti yang Anda bayangkan. Anda patut
mendapatkan suite di Peabody untuk itu. Dr. Lecter, kalau Anda pernah bertemu dengannya,
seharusnya Anda mengenalnya luar-dalam. Kukira Anda tidak pernah bertemu dan hanya mendengar
cerita dari Raspail. Informasi dari tangan kedua tentu kurang laku dijual kepada Senator Martin,
bukan?"
Starling melirik ke belakang. Salah satu petugas sedang memperlihatkan sesuatu dalam majalah Guns
& Ammo kepada rekannya. "Kukira cerita Anda di Baltimore belum selesai, Dr. Lecter. Aku percaya
Anda tidak membohongiku waktu itu. Sekarang ceritakanlah sisanya."
"Aku sudah membaca semua berkas kasus, Clarice. Kau sudah membaca semuanya? Segala sesuatu
yang perlu kauketahui ada di situ, kalau kau mau membaca dengan teliti. Inspektur Emeritus
Crawford pun seharusnya sudah menemukan jawabannya. Omong-omong, kau sempat membaca
pidato Crawford yang mencengangkan di National Police Academy tahun lalu? Dia mengutip Marcus
Aurelius mengenai kewajiban, kehormatan, dan ketabahan—kita lihat saja, seberapa tabah Crawford
saat Belia meninggalkannya. Kelihatannya dia menyontek falsafahnya dari Bartlett's Familiar.
Seandainya dia memahami Marcus Aurelius, dia mungkin sudah memecahkan kasus ini."
"Katakanlah bagaimana caranya."
"Kadang-kadang aku lupa generasimu buta huruf, Clarice. Inti ajaran sang Kaisar adalah
kesederhanaan.
Dimulai dengan prinsip-prinsip. Untuk setiap hal yang kauhadapi, tanyalah: Apa sifatnya yang
hakiki? Apa sebab-musababnya?"
"Aku tidak memahami maksud Anda."
"Apa yang dia lakukan, orang yang kaucari itu?"
"Dia membunuh..."
"Ah..." Lecter memotong dengan ketus. Sejenak ia memalingkan wajah dari kekeliruan Starling. "Itu
insidental. Apa hal utama, hal pokok yang dilakukannya, kebutuhan apa yang dipenuhinya dengan
membunuh?" "Kemarahan, kebencian, frustrasi sek..." "Bukan."
'Kalau begitu, apa?"
"Dia berhasrat mendapatkan sesuatu yang kaumiliki secara alamiah. Itu sifatnya yang hakiki.
Bagaimanakah awal mula kita mendambakan sesuatu, Clarice? Apakah kita secara sadar mencari-
cari? Cobalah jangan asal menjawab;' "Tidak. Kita sekadar..."
"Tidak. Tepat sekali. Yang kita dambakan adalah yang kita lihat setiap hari. Bukankah kau setiap hari
merasakan tatapan orang-orang yang berpapasan denganmu, Clarice? Kukira tak, mungkin kau tidak
menyadarinya. Dan bukankah kau sendiri pun demikian?"
'Baiklah, kalau begitu tolong beri tahu aku bagaimana..." "
Sekarang giliranmu memberitahu aku, Clarice. Kau sudah tidak bisa menawarkan liburan pantai di
Pusat Penyakit Kuku dan Mulut. Mulai sekarang berlaku quid pro quo. Aku harus berhati-hati kalau
berurusan denganmu. Jadi, silakan cerita, Clarice."
"Cerita apa?"
"Ada dua hal yang belum kaujelaskan. Apa yang terjadi denganmu dan kuda itu, dan bagaimana kau
mengendalikan kemarahanmu."
"Dr. Lecter, kalau ada waktu aku akan..."
"Kita memandang waktu dengan cara berbeda, Clarice. Hanya ini kesempatanmu."

ben99 ebooks collections 71


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Nanti. Begini, aku..."


"Sekarang. Dua tahun setelah kematian ayahmu, ibumu menitipkan kau pada keluarga sepupunya di
peternakan Montana. Kau berusia sepuluh tahun. Secara tak sengaja kau mengetahui mereka menjual
kuda untuk dipotong. Kau lari bersama kuda yang tidak bisa melihat dengan baik. Lalu?"
"Waktu itu musim panas, kami bisa tidur di tempat terbuka. Kami melewati jalan desa dan berhasil
sampai ke Bozeman."
"Apakah kuda itu mempunyai nama?"
"Mungkin, tapi aku tidak—hal seperti itu tidak ditanyakan untuk kuda yang akan dipotong. Aku
memanggilnya Hannah, nama yang kusukai."
"Kuda itu kaugiring atau kautunggangi?"
"Kedua-duanya. Aku terpaksa menggiringnya ke pagar agar bisa naik ke pelana."
"Kau berjalan dan berkuda sampai ke Bozeman."
"Di sana ada tempat penitipan kuda, tempat penangkaran, atau semacam sekolah berkuda, sedikit di
luar kota. Aku berusaha menitipkan Hannah di sana. Biayanya dua puluh dolar seminggu untuk
kandang terbuka. Untuk kandang tertutup lebih mahal. Mereka langsung tahu Hannah tidak bisa
melihat. Aku menawarkan diri sebagai penuntun. Untuk anak-anak kecil, supaya mereka bisa naik
kuda sambil dituntun sementara orangtua mereka, ehm, berkuda sungguhan. Kubilang aku juga
bersedia tinggal di sana dan membersihkan kandang-kandang. Salah satu dari mereka, pemilik tempat
itu, menyetujui semua usulku sementara istrinya menelepon sheriff."
"Sheriff itu petugas polisi, seperti ayahmu."
"Tapi awalnya aku tetap takut padanya. Wajahnya besar dan merah. Akhirnya dia mengeluarkan dua
puluh dolar untuk biaya penginapan selama satu ming-gu, sementara dia 'meluruskan masalah ini.'
Dia bilang tak ada gunanya menyewa kandang tertutup, karena cuacanya sedang bagus. Kejadian ini
tercium oleh pers, dan beritanya sempat menimbulkan kehebohan. Sepupu ibuku bersedia
melepaskanku. Dan aku dimasukkan ke Lutheran Home di Bozeman."
"Panti asuhan untuk anak yatim?"
"Ya."
"Dan Hannah?"
"Dia ikut. Di panti asuhan itu ada gudang jerami. Hannah dipekerjakan untuk membajak kebun. Tapi
dia harus dituntun terus. Kalau tidak, semua tanaman yang terlalu pendek untuk dirasakan oleh
kakinya akan diinjaknya. Kadang-kadang dia juga membawa anak-anak berkeliling naik kereta."
"Tapi kemudian dia mati."
"Ya."
"Coba ceritakan tentang itu."
"Kejadiannya tahun lalu. Aku diberitahu lewat surat di sekolah. Usianya diperkirakan dua puluh dua.
Dia masih menarik kereta berisi anak-anak pada hari terakhir hidupnya, dan mati waktu tidur."
Dr. Lecter tampak kecewa. "Mengharukan sekali," katanya. "Kau pernah ditiduri ayah angkatmu di
Montana, Clarice?"
"Tidak."
"Apakah dia pernah mencobanya?" "Tidak."
"Kenapa kau kabur bersama kuda itu?"
"Karena Hannah mau dipotong."
"Kau tahu kapan dia hendak dipotong?"
"Aku tidak tahu persis. Tapi aku selalu cemas. Dia sudah mulai gemuk."
"Kalau begitu, apa yang mendorongmu? Apa alasan kau memutuskan kabur pada hari itu?"
"Entahlah."
"Aku rasa kau tahu."
"Aku selalu cemas."
"Apa yang mendorongmu, Clarice? Kau berangkat jam berapa?"
"Pagi-pagi. Waktu masih gelap."
"Berarti ada yang membangunkanmu. Apa yang membangunkanmu? Kau bermimpi?"
"Aku terbangun dan mendengar anak-anak domba mengembik. Aku terbangun dalam gelap dan anak-
anak domba terus mengembik-embik."
"Anak-anak domba itu sedang disembelih?"
"Ya."
"Apa yang kaulakukan?"
"Aku tidak bisa melakukan apa pun untuk mereka. Waktu itu aku hairya..."
"Apa yang kaulakukan dengan kudamu?"
"Aku berpakaian tanpa menyalakan lampu dan menyelinap keluar. Dia ketakutan. Semua kuda di
kandang ketakutan dan berlari-lari. Aku meniup hidungnya, dan dia mengenaliku. Akhirnya dia
menaruh moncongnya di tanganku. Lampu-lampu di gudang jerami dan di samping kandang domba
menyala. Lampu-lampu tanpa pelindung, yang menghasilkan bayangan-bayangan besar. Mobil
pendingin telah datang dan mesinnya menyala terus, menderu-deru. Hannah langsung kugiring
pergi."
"Sebelumnya kau memasang pelana dulu?"
"Tidak, aku tidak memakai pelana. Aku hanya mengambil tali kekang."
"Dan ketika menyusup ke kegelapan, kau tetap mendengar anak-anak domba di tempat terang itu?"
"Sebentar saja. Hanya ada dua belas ekor."
"Sampai sekarang kau masih suka terbangun, bukan? Terbangun dalam kegelapan pekat dan
mendengar anak-anak domba mengembik-embik?"
"Sekali-sekali."
"Apakah kau menganggap jika kau berhasil menangkap Buffalo Bill seorang diri dan menyelamatkan
Catherine, maka kau bisa membuat anak-anak domba berhenti mengembik-embik? Kaupikir mereka
pun akan selamat dan kau takkan terbangun lagi dalam gelap dan mendengar mereka mengembik-
embik? Clarice?"
"Ya. Aku tidak tahu. Mungkin."
"Terima kasih, Clarice." Dr. Lecter tampak puas sekali.

ben99 ebooks collections 72


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

'Katakanlah siapa namanya, Dr. Lecter," ujar Starling.


Dr. Chilton," sahut Lecter. "Kukira Anda berdua sudah sempat berkenalan."
Starling tidak segera sadar bahwa Chilton di belakangnya. Kemudian sikunya ditarik dari belakang.
Starling segera membebaskan diri. Chilton disertai Pembry dan rekannya yang berbadan besar.
"Masuk lift," kata Chilton. Wajahnya tampak merah karena marah.
"Kau tahu Dr. Chilton tidak mempunyai gelar kedokteran?" tanya Dr. Lecter. "Harap ingat ini di
kemudian hari."
"Cepat," Chilton mendesak.
"Bukan Anda yang pegang kendali di sini, Dr. Chilton," kata Starling.
Officer Pembry langsung maju. "Memang bukan, Ma'am. Saya yang bertanggung jawab. Dia
menelepon atasan saya dan atasan Anda. Maaf, tapi saya mendapat perintah untuk membawa Anda
keluar. Silakan ikut saya."
"Sampai jumpa, Clarice. Maukah kau memberitahuku apakah anak-anak domba itu akan terdiam?"
"Ya."
Pembry meraih lengan Starling. Pilihannya hanya, ikut atau melawan.
"Ya," Starling berkata. "Aku akan memberitahu Anda.".
"Kau berjanji?"
"Ya."
"Kalau begitu, kenapa tidak kauteruskan pengejaranmu? Bawalah berkas kasus ini, Clarice, aku tidak
membutuhkannya lagi." Lecter mengulurkan tangan dan menyodorkan berkas itu di antara batang-
batang terali, Starling meraih melewati pembatas dan mengambilnya. Sejenak ujung jari telunjuk
mereka beradu.
Sentuhan itu membuat mata Dr. Lecter berbinar-binar "Terima kasih, Clarice." "Terimakasih, Dr.
Lecter."
Dan bayangan itulah yang terukir dalam benak Starling. Dr. Lecter saat tidak bermain-main. Saat ia
berdiri di dalam selnya yang putih, dengan sikap bagaikan penari, dengan tangan terkunci di depan
dada dan kepala sedikit dimiringkan.

Starling demikian kencang melewati polisi tidur di bandara, sehingga kepalanya membentur langit-
langit mobil. Ia harus berlari untuk mengejar pesawat yang mesti dinaikinya atas perintah Krendler.

Bab Tiga Puluh Enam


Officer pembry dan Boyle merupakan sipir-sipir berpengalaman yang khusus didatangkan dari
Brushy Mountain State Prison untuk menjaga Dr. Lecter. Keduanya tenang dan hati-hati, dan merasa
tidak perlu memperoleh penjelasan dari Dr. Chilton mengenai tugas mereka.
Mereka tiba di Memphis sebelum Lecter dan memeriksa selnya dengan saksama. Ketika Dr. Lecter
dibawa ke bekas gedung pengadilan, ia pun segera digeledah. Ia menjalani pemeriksaan internal oleh
juru rawat pria saat masih memakai baju pengaman. Pakaiannya diperiksa dengan teliti, dan semua
keli-mannya diperiksa dengan detektor logam.
Boyle dan Pembry membuat kesepakatan dengannya. Mereka bicara dengan tenang di dekat telinga
Lecter sementara ia diperiksa.
"Dr. Lecter, kita bisa membina hubungan baik. Kami akan memperlakukan Anda seperti Anda mem-
perlakukan kami. Kalau Anda bersikap sopan, kunjungan Anda di sini akan cukup nyaman. Tapi
kami takkan diam saja kalau Anda berulah macam-macam. Kalau Anda mencoba menggigit, gigi
Anda akan kami rontokkan semua. Kelihatannya Anda mendapat kesempatan bagus di sini. Dan
Anda tentu tidak mau merusaknya, bukan?"
Dr. Lecter menatap mereka dengan ramah. Kalaupun ia bermaksud menyahut, ia tak dapat
melakukannya karena rahangnya terganjal batang kayu ketika si juru rawat mengarahkan senter ke
dalam mulutnya dan meraba-raba pipinya dengan jari terbungkus sarung tangan.
Detektor logam berbunyi ketika dirapatkan ke pipinya.
"Apa itu?" si juru rawat bertanya.
"Tambalan gigi," ujar Pembry. "Coba tarik bibirnya. Wah, Dok, geraham-geraham Anda sudah
hampir kedaluwarsa, ya?" »
"Sepertinya dia sudah uzur," kata Boyle kepada Pembry setelah mereka mengamankan Dr. Lecter di
dalam selnya. "Takkan ada masalah selama dia tidak kumat."
Sel itu, meskipun aman dan kokoh, tidak dilengkapi tempat baki yang bisa ditarik keluar-masuk. Pada
waktu makan siang, dalam suasana tidak enak setelah kunjungan Starling, Dr. Chilton membuat
semua orang repot dengan menyuruh Boyle dan Pembry memasang jaket pengaman dan rantai kaki.
Dr. Lecter menurut saja sambil berdiri membelakangi terali, sementara Dr. Chilton siap siaga dengan
kaleng Mace di tangan. Baru setelah prosedur panjang itu selesai, pintu sel dibuka untuk membawa
baki makanan ke dalam.
Chilton tidak mau menggunakan nama Boyle dan Pembry, meskipun keduanya memakai tanda
pengenal, dan setiapHcali memanggil mereka dengan, "Hei, Anda."
Setelah tahu bahwa Chilton bukan dokter sung-guhan, Boyle berkomentar pada rekannya bahwa
orang itu hanya "semacam guru sekolah sialan".

ben99 ebooks collections 73


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Pembry sempat berusaha menjelaskan kepada Chilton bahwa bukan mereka yang mengiz melainkan
petugas di bawah, tapi Chilton yang sedang marah tidak peduli.
Dr. Chilton tidak hadir pada waktu makan malam. Meskipun agak terkejut, Dr. Lecter tidak keberatan
ketika Boyle dan Pembry memutuskan menggunakan metode mereka sendiri untuk membawa baki
makanan ke dalam sel.
"Dr. Lecter, Anda tidak perlu memakai jas malam ini," ujar Pembry. "Saya mint§ Anda berbalik,
duduk di lantai dan bergeser mundur sampai tangan Anda bisa dijulurkan lewat terali, dengan lengan
lurus ke belakang. Ya, begitu. Angkat sedikit dan luruskan, luruskan siku Anda." Pembry memborgol
Dr. Lecter di luar terali, dengan batang tegak di antara kedua lengan dan batang horizontal sedikit di
atas tangan. "Sakit, ya? Ya, saya tahu, tapi ini hanya makan waktu sebentar. Cara ini lebih mudah
bagi Anda dan kami."
Dr. Lecter tidak dapat bangkit, biarpun sekadar berjongkok, dan dengan kaki terbujur lurus di lantai ia
pun tak bisa menendang.
Baru setelah Dr. Lecter terikat, Pembry balik ke mejanya untuk mengambil kunci sel. Pembry menye-
lipkan pentungan karetnya ke cincin di pinggang, memasukkan sekaleng Mace ke saku, lalu kembali
ke sel. Ia membuka pintu sementara Boyle membawa baki makanan. Setelah pintunya aman, Pembry
membawa kuncinya kembali ke meja sebelum melepaskan borgol dari. tangan Dr. Lecter. Ia tak
pernah mendekati terali dengan membawa kunci selama Dr. Lecter bebas bergerak di dalam sel.
."Nah, mudah sekali, bukan?" ujar Pembry.
"Ya. Terima kasih, Officer," jawab Dr. Lecter. "Saya tidak bermaksud membuat kesulitaj^'
Dr. Lecter menjumput-jumput makanannya sambil menulis dan menggambar serta mencorat-coret
kertas dengan pena berujung lunak. Ia membalikkan kaset dalam tape recorder yang dirantai ke kaki
meja dan menekan tombol play. Glenn Gould memainkan Goldberg Variations karya Bach pada
piano. Musik indah itu mengisi kerangkeng yang terang benderang serta mangan tempat para penjaga
duduk.
Bagi Dr. Lecter, yang duduk tak bergerak di meja, waktu seolah berjalan lambat dan menyebar.
Nada-nada musik seakan-akan saling merenggang tanpa kehilangan tempo. Ia berdiri dan
memperhatikan serbet kertas merosot dari pahanya. Serbet itu melayang perlahan, menyerempet kaki
meja, mengembang, bergerak menyamping, dan membalik sebelum tergeletak di lantai baja. Ia tidak
berupaya mengangkatnya, melainkan berjalan melintasi sel, melangkah ke balik sekat kertas dan
duduk di tutup toilet, satu-satunya tempat pribadi yang dimilikinya. Sambil mendengarkan musik
yang terus mengalun, ia bersandar pada tempat cuci tangan di sampingnya sambil bertopang dagu.
Matanya yang berwarna merah maroon setengah terpejam. Ia berminat pada struktur Goldberg Varia-
tions. Ah, ini dia, progresi bas dari sarabande berulang kembali. Ia mengangguk-angguk mengikuti
irama, sementara lidahnya menyusuri tepi giginya. Menyusuri deretan gigi sebelah atas, lalu sebelah
bawah. Rasanya seperti pesiar yang panjang dan menarik bagi lidahnya, bagaikan berjalan-jalan di
Pegunungan Alpen.
Kini ia beralih ke gusi. Ia menyusupkan lidah ke celah antara pipi dan gusi dan menggerak-
gerakkannya pelan-pela^| seperti yang kadang-kadang dilakukan orang saat mengenang masa lalu.
Gusinya terasa sejuk. Lidahnya berhenti ketika menemukan selongsong logam berukuran kecil.
Di balik alunan musik ia mendengar bunyi berderak dan berdengung yang menandakan lift sedang
menuju inkan Starling berkunjung, Puluhan atau bahkan ratusan nada, kemudian pintu lift membuka
dan suara yang tak dikenalnya berkata, "Saya mau ambil baki."
Dr. Lecter mendengar petugas yang lebih kecil mendekati selnya, Pembry. Ia bisa melihat lewat celah
di antara panil-panil sekat. Pembry berdiri di depan terali.
"Dr. Lecter. Saya minta Anda duduk di lantai sambil membelakangi terali seperti tadi."
"Officer Pembry, Anda keberatan kalau urusan di sini saya selesaikan dulu? Kelihatannya
pencernaan/ saya agak terganggu karena penerbangan ke sini." Rasanya lama sekali ia mengucapkan
kedua kalimat itu. '
"Baiklah." Pembry berseru kepada orang yang baru datang, "Nanti saya hubungi kalau bakinya sudah
bisa diambil."
"Boleh saya lihat dia sebentar?"
"Nanti saya hubungi." Bunyi lift terdengar lagi, lalu hanya musik.
Dr. Lecter mengambil selongsong itu dan mengeringkannya dengan sepotong tisu gulung. Tangannya
tidak gemetaran, telapaknya tidak berkeringat.
Selama bertahun-tahun sebagai tahanan, dengan rasa ingin tahunya yang luar biasa, Dr. Lecter telah
mempelajari banyak keterampilan rahasia penjara. Dalam tahun-tahun menyusul penganiayaannya
terhadap juru rawat di rumah sakit jiwa Baltimore, pengamanan terhadap dirinya hanya dua kali
kebobolan, kedua-duanya saat Barney bebas tugas. Suatu kali seorang peneliti psikiatri meminjamkan
bolpoin berujung runcing dan lupa memintanya kembali. Sebelum orang tersebut meninggalkan
gedung, Dr. Lecter telah mematahkan selongsong plastik bolpoin itu dan membuangnya di WC.
Tempat tinta yang terbuat dari logam diselipkannya ke keliman kasur.
Satu-satunya tepi tajam di selnya adalah goresan pada kepala salah satu baut yang menahan tempat
tidurnya di dinding. Tapi itu sudah cukup. Dengan menggosok-gosok selama dua bulan, Dr. Lecter
membuat dua irisan sejajar sepanjang enam milimeter dari arah ujung yang terbuka. Tempat tinta itu
lalu dibelah dua, dua setengah senti dari ujung yang terbuka. Bagian yang panjang, berikut ujung
untuk menulis, dibuang ke WC. Barney tidak melihat kulit yang menebal di ujung-ujung jari Lecter
akibat menggosok-gosok selama bermalam-malam.
Enam bulan kemudian, seorang penjaga lalai melepaskan jepitan kertas pada sejumlah dokumen yang
•kirim oleh pengacara Dr. Lecter. Dua setengah Sentl dari jepitan baja itu diselipkan ke dalam selong-
song bekas tempat tinta, sisanya dibuang ke WC.
Selongsong kecil yang licin dan pendek itu mudah disembunyikan dalam keliman pakaian, di antara
pipi dan gusi, di dalam anus.
Kini, di balik sekat kertas, Dr. Lecter mengetuk-ngetukkan selongsong itu ke kuku ibu jarinya sampai
kawat di dalamnya merosot keluar. Kawat itu sekadar alat, dan inilah bagian yang paling sulit. Dr.
Lecter menyelipkan kawat itu ke dalam selongsong, dan menggunakannya sebagai pengungkit untuk
menekuk kepingan logam di antara kedua irisan. Ia hams berhati-hati, sebab kadang-kadang

ben99 ebooks collections 74


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

logamnya patah. Tangannya yang kuat bekerja pelan-pelan. Ah. Kepingan kecil itu kini berdiri tegak
lurus pada permukaan selongsong. Ia telah mendapatkan kunci borgol.
Dr. Lecter meletakkan kedua tangan di punggung. Kunci mungilnya dioper-oper dari kiri ke kanan
dan kanan ke kiri, lima belas kali, sebelum akhirnya disimpan kembali di dalam mulut. Ia mencuci
tangan dan mengeringkan keduanya dengan saksama. Kemudian, dengan menggunakan lidah, ia
menyembunyikan kuncinya di sela-sela jari tangan kanan. Ia tahu perhatian Pembry akan tertuju pada
tangan kirinya yang aneh pada waktu hendak memasang borgol.
"Saya siap, Officer Pembry," Dr. Lecter memanggil. Ia mengambil tempat di lantai sel dan
merentangkan tangan ke belakang, sampai tangan dan pergelangannya melewati terali. "Terima kasih
Anda bersedia menunggu."
Ia bisa mendengar Pembry di belakangnya sekarang-Pembry meraba pergelangan Lecter satu per
satu, untuk memeriksa apakah ia menyabuninya. Baru kemudian Pembry memasang borgol erat-erat.
Ia kembali ke mejanya, mengambil kunci sel. Di tengah dentingan piano, Dr. Lecter mendengar bunyi
gemerencing ketika Pembry mengambil ikat kunci dari laci. Kini Pembry datang lagi, berjalan
menembus alunan musik, menerobos udara yang penuh nada bening. Kali ini ia disertai Boyle. Dr.
Lecter mendengar lubang-lubang yang ditimbulkan mereka dalam gema musik.
Pembry kembali memeriksa borgol. Dr. Lecter mencium bau napas Pembry di belakangnya. Kini
Pembry membuka kunci sel dan membuka pintu. Boyle masuk. Dr. Lecter menoleh. Gerakan itu
terasa lambat sekali baginya, dan semua detail kelihatan teramat tajam— Boyle di meja,
mengumpulkan sisa makan malam sambil mendengus karena semuanya berantakan. Tape recorder
yang sedang berputar, serbet kertas di lantai, di samping kaki meja yang dibaut. Dari sudut mata, Dr.
Lecter melihat bagian belakang lutut Pembry serta ujung pentungan yang tergantung dari ikat ping-
gangnya ketika petugas itu berdiri di luar sambil memegang pintu.
Dr. Lecter menemukan lubang kunci pada borgol sebelah kiri, memasukkan kunci, dan memutarnya.
Borgol itu segera terbuka. Ia memindahkan kunci ke tangan kiri, menemukan lubang kunci, lalu
kembali memasukkan kunci dan memutarnya.
Boyle membungkuk untuk memungut serbet di lantai. Tiba-tiba saja pergelangannya telah terborgol,
dan ketika ia rrftnoleh ke arah Lecter, borgol yang satu lagi menyambar kaki meja. Dr. Lecter telah
berdiri. Ia bergegas ke pintu. Pembry hendak masuk, tapi Lecter menerjang dengan bahunya,
sehingga Pem-b'y terjepit pintu. Penjaga itu berusaha meraih Mace
di sabuknya. Lecter menggenggam ujung pentungan dan mengangkatnya. Puntiran itu menyebabkan
ikat pinggang Pembry mengencang. Lecter menghantam tenggorokan lawannya dengan siku dan
menggigit wajahnya. Pembry berusaha mencakar Lecter. Hidung dan bibir atasnya dicengkeram gigi
yang mengoyak-ngoyak. Lecter menyentakkan kepala bagaikan anjing membunuh tikus dan
mencabut pentungan dari ikat pinggang Pembry. Boyle berteriak-teriak di dalam sel. Ia duduk di
lantai sambil merogoh-rogoh kantong untuk mencari kunci borgol. Lecter menghajar perut dan
tenggorokan Pembry dengan ujung pentungan, dan penjaga itu jatuh berlutut. Boyle sudah berhasil
memasukkan kunci borgol. Ia masih berteriak-teriak, dan kini Lecter berpaling padanya. Lecter
membuatnya terdiam dengan menyemprotkan Mace, dan sementara Boyle terengah-engah, ia
mementung tangannya dua kali. Boyle mencoba berlindung di bawah meja, namun karena tak dapat
melihat akibat semprotan Mace, ia merangkak ke arah yang salah, dan Lecter dengan mudah
membunuhnya dengan lima pukulan terarah.
Pembry kini dalam posisi duduk dan ia menangis. Dr. Lecter menatapnya sambil tersenyum. "Siap,
Officer Pembry?" tanyanya.
Pentungan di tangannya berayun datar... tok... menghantam bagian belakang kepala Pembry, dan
orang itu menggelepar-gelepar di lantai, bagaikan ikan.
Denyut nadi Dr. Lecter meningkat sampai lebih seratus, tapi segera normal kembali. Ia mematikan
musik dan pasang telinga.
Ia berjalan ke tangga dan kembali pasang telinga. Ia menguras isi kantong Pembry, mengambil kunci
meja, dan membuka semua laci. Di laci paling bawah ia menemukan senjata dinas Boyle dan Pembry,
sepasang revolver .38 Special. Kecuali itu, ia mendapatkan pisau lipat di saku Boyle.

Bab Tiga Puluh Tujuh


Lobi dipadati petugas polisi. Saat itu pukul 18.30 dan petugas-petugas pos jaga di luar baru saja
melakukan pergantian jaga per dua jam. Orang-orang yang memasuki ruangan dari udara luar yang
dingin menghangatkan tangan pada sejumlah pemanas bertenaga listrik. Beberapa di antara mereka
bertaruh untuk pertandingan basket Memphis State yang sedang berlangsung dan ingin tahu
bagaimana kedudukannya.
Sersan Tate tidak mengizinkan radio dipasang keras-keras di lobi, tapi salah satu petugas memakai
walk-man. Berkali-kali ia mengumumkan skor terakhir, namun kurang sering untuk memuaskan para
petaruh.
Secara keseluruhan ada lima belas petugas polisi bersenjata di lobi, ditambah dua sipir yang akan
menggantikan Pembry dan Boyle pukul 19.00. Sersan Tate sendiri masih menunggu penggantinya
yang akan bertugas dari jam sebelas malam sampai jam tujuh pagi.
Semua pos melaporkan keadaan aman. Dari sekian banyak ancaman terhadap Dr. Lecter yang
diterima melalui telepon, tak satu pun diwujudkan dengan tindakan.
pukul 18.45 Tate mendengar lift bergerak ke atas. Ia melihat panah penunjuk di atas pintu mulai
berputar, lalu berhenti di lantai lima.
Tate memandang berkeliling. "Sweeney sudah naik lagi untuk mengambil baki?"
"Saya di sini, Sarge. Bisakah kau menelepon ke atas untuk menanyakan apakah mereka sudah

ben99 ebooks collections 75


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

selesai?"
Sersan Tate menekan tiga angka dan pasang telinga. "Teleponnya sibuk," katanya. "Coba naik dan
tanya mereka." Ia kembali berpaling pada laporan yang tengah disusunnya untuk shift malam.
Petugas patroli Sweeney menekan tombol lift. Liftnya tidak datang.
"Aneh, dia minta lamb chops tadi," Sweeney bergumam. "Apa lagi untuk sarapan besok? Sesuatu dari
kebun binatang? Dan siapa yang harus menangkapnya? Sweeney."
Panah di atas pintu tetap menunjuk angka lima.
Sweeney menunggu satu menit lagi. "Sial, ada apa ini?" ia mengumpat.
Letusan pistol .38 berdentum di suatu tempat di atas, suaranya bergema di tangga, dua tembakan
beruntun, disusul satu tembakan lagi.
Sersan Tate sudah berdiri sambil memegang mikrofon ketika letusan ketiga terdengar. "Pos
Komando, suara tembakan dari atas di menara. Pos-pos luar kelihatan aman. Kami akan naik."
Orang-orang di lobi berseru-seru, berlari-lari.
Tate melihat panah di atas pintu lift berputar. Panah itu sudah bergerak sampai angka empat. Suara
Tate menggelegar, "Perhatian! Semua kembali ke pos masing-masing di luar, regu pertama tetap di
sini.
Berry dan Howard awasi lift sialan itu kalau sampai turun!" Panah penunjuk berhenti pada angka tiga.
"Regu pertama, ikut saya. Periksa setiap pintu sebelum kalian melewatinya. Bobby, ke luar—ambil
senapan dan rompi dan bawa ke atas."
Pikiran Tate jumpalitan ketika ia mulai menaiki tangga. Ia sadar harus berhati-hati, namun sekaligus
ingin menolong para petugas di atas. Ya Tuhan, moga-moga dia tidak lepas. Sial, tidak ada yang
pakai rompi. Sipir-sipir sialan itu bikin kacau.
Ruang-ruang kantor di lantai dua, tiga, dan empat seharusnya kosong dan terkunci. Pada ketiga lantai
itu orang dapat menyeberang dari menara ke gedung utama dengan melewati ruang-ruang kantor. Di
lantai lima tidak bisa.
Tate lulusan sekolah SWAT Tennessee yang terkenal, dan ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia
berjalan di depan dan membimbing anak buahnya yang muda-muda. Dengan cepat namun hati-hati
mereka menaiki tangga sambil saling melindungi.
"Kalau ada pintu yang kalian lewati sebelum diperiksa, pantat kalian akan kutendang sampai babak
belur."
Pintu-pintu di lantai dua gelap dan terkunci.
Kini ke lantai tiga, koridornya tampak remang-remang. Cahaya dari lift yang terbuka menerangi
sebagian lantai. Tate menyusuri dinding seberang, tanpa cermin yang dapat membantunya melihat ke
dalam lift. Telunjuknya siap menarik picu ketika ia mengintip. Kosong.
Tate berseru ke atas, "Boyle! Pembry! Sial." Ia menempatkan penjaga di lantai tiga dan kembali ber-
gerak naik.
Lantai empat dibanjiri musik piano yang berasal dari atas. Pintu menuju ruang-ruang kantor segera
membuka ketika didorong. Berkas sinar senternya menerangi pintu yang terbuka lebar ke bangunan
besar dan gelap di baliknya.
"Boyle! Pembry!" Ia meninggalkan dua orang di bordes. "Awasi pintu. Bobby sedang mengambil
rompi. Jangan nekat berdiri di ambang pintu."
Tate menaiki tangga batu mendekati sumber musik. Ia sampai di puncak menara, di bordes lantai
lima. Koridor pendek di hadapannya tampak remang-remang. •Cahaya terang menembus kaca es pada
pintu bertulisan SHELBY COUNTY HISTORICAL SOCIETY.
Tate membungkuk di bawah kaca dan melintas di depan pintu. Ia mengangguk kepada Jacobs di sisi
berlawanan, memutar gagang pintu dan mendorongnya keras-keras. Pintu itu berayun sampai
membentur dinding, cukup keras untuk membuat kacanya pecah. Tate cepat-cepat menyelinap masuk
dan menjauhi ambang pintu sambil mengarahkan revolvernya berkeliling.
Tate telah melihat banyak hal. Ia telah menyaksikan kecelakaan mengerikan, perkelahian,
pembunuhan. Selama berdinas, ia telah melihat enam petugas polisi gugur dalam tugas. Namun yang
kini tampak di hadapannya adalah kejadian paling buruk yang pernah ia lihat menimpa seorang
petugas. Daging di atas kerah baju seragam itu tak lagi menyerupai wajah. Bagian depan dan atas
kepala itu berlumuran darah, dengan daging terkoyak-koyak. Sebelah bola mata teigelantung di
samping hidung, lubang matanya penuh darah.
Jacobs melewati Tate. Kakinya tergelincir pada genangan darah di lantai ketika ia berjalan ke sel. ia
menghampiri Boyle yang masih terborgol ke kaki meja. Usus Boyle terburai sebagian, wajahnya ter-
cabik-cabik. Percikan darahnya tampak di mana-mana.
Jacobs menempelkan jari ke leher Boyle. "Yang ini mati," ia berseru di tengah alunan musik.
"Sarge?"
Seruannya menyadarkan Tate yang terdiam sejenak. Tate mengumpat perlahan, lalu segera
menghubungi pos di bawah melalui radio. "Pos Komando, dua petugas jatuh. Saya ulangi, dua
petugas jatuh. Tahanan menghilang. Lecter menghilang. Semua pos luar, awasi jendela. Tahanan
mengambil seprai, mungkin bermaksud membuat tali. Konfirmasikan ambulans dalam perjalanan."
"Pembry mati, Sarge?" Jacobs mematikan musik.
Tate berlutut. Ketika ia hendak meraba denyut nadi di leher, onggokan mengerikan di lantai itu
mengerang dan dari mulutnya keluar gelembung berdarah.
"Pembry masih hidup." Tate enggan menempelkan mulut ke wajah tak berbentuk di hadapannya,
namun tahu ia harus melakukannya untuk membantu Pembry bernapas. Ia takkan menyuruh salah
satu anak buahnya. Pembry lebih baik mati, tapi ia akan membantunya bernapas. Tate menemukan
denyut nadi. Dan embusan napas, perlahan dan tak teratur. Pembry masih sanggup bernapas tanpa
bantuan.
Radio Tate bergemeresik. Letnan polisi di luar gedung mengambil alih komando dan menanyakan
situasi. Tate harus memberi laporan.
"Coba kemari, Murray," Tate memanggil anak buahnya yang masih muda. "Temani Pembry dan
pegang dia di mana dia bisa merasakan tanganmu. Bicaralah dengan dia."
"Siapa namanya, Sarge?" Murray tampak pucat.

ben99 ebooks collections 76


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Namanya Pembry, sekarang bicaralah dengan dia, brengsek." Perhatian Tate beralih ke radio. "Dua
petugas jatuh, Boyle mati dan Pembry cedera berat. Lecter menghilang. Dia bersenjata—dia
mengambil pistol mereka. Sabuk dan sarung pistol ada di meja."
Suara si letnan kurang jelas karena terhalang dinding-dinding tebal. "Konfirmasikan, tangga aman
untuk tandu?"
"Ya, Sir. Hubungi lantai empat sebelum dibawa naik. Di setiap bordes ada penjaga."
"Roger, Sersan. Pos Delapan di luar sepertinya melihat gerakan di balik jendela lantai empat gedung
utama. Semua pintu keluar dijaga, dia tidak mungkin lolos. Pertahankan posisi di bordes. SWAT
sedang menuju ke sini. Kita biarkan SWAT memaksanya keluar. Konfirmasikan."
"Roger. SWAT akan bergerak."
"Senjata apa yang dipegangnya?"
"Dua pistol dan sebilah pisau, Letnan—Jacobs, coba periksa apakah masih ada amunisi di sabuk-
sabuk mereka."
"Kantong amunisi Pembry masih penuh," jawab Jacobs. "Kantong Boyle juga. Si tolol tidak
mengambil Peluru tambahan."
"Jenis pelurunya?"
"Tiga-delapan +PS JHP"
Tate kembali bicara lewat radio. "Letnan, sepertinya dia pegang dua .38 isi enam. Kami sempat
mendengar
tiga tembakan dan kedua kantong amunisi masih penuh, berarti pelurunya mungkin tinggal sembilan.
Beritahu SWAT pelurunya +Ps jacketed hollowpoints. Bajingan itu mengincar wajah."
Plus Ps termasuk hot rounds, namun takkan menembus pelindung tubuh SWAT. Tembakan yang
mengenai wajah kemungkinan besar berakibat fatal, tembakan yang mengenai anggota tubuh akan
melumpuhkan. "Tandu sudah dibawa naik, Tate." Mobil-mobil ambulans tiba dalam waktu sangat
singkat, namun rasanya masih kurang cepat bagi Tate, yang terus mendengar erangan-erangan
memilukan dari mulut Pembry. Murray, sambil memalingkan wajah, masih memegangi tubuh yang
kejang-kejang itu sambil berusaha bicara dengan nada menenangkan, "Kau tidak apa-apa, Pembry,
jangan kuatir." Ia mengatakannya berulang-ulang, dengan suara memelas.
Begitu melihat petugas-petugas ambulans di bordes, Tate berseru, "CorpsmanV seperti yang
dilakukannya waktu perang.
Ia meraih pundak Murray dan menariknya mundur. Para petugas- ambulans bekerja dengan cekatan.
Mereka segera mengikat tangan yang terkepal dan penuh darah itu, memasukkan selang oksigen, dan
menempelkan perban bedah tanpa perekat untuk memberi tekanan pada wajah dan kepala yang
berdarah-darah-Salah satu dari mereka hendak menancapkan jarum untuk memasang kantong plasma
darah, tapi rekannya, yang telah memeriksa tekanan darah dan denyut nadi, menggelengkan kepala
dan berkata, "Bawa turun saja."
Sejumlah perintah disampaikan melalui radio. "Tate, tarik para petugas dari menara dan tutup semua
pintu. Amankan pintu-pintu dari gedung utama, dan aVvasi dari bordes. Saya akan mengirim rompi
dan senapan. Tangkap dia hidup-hidup kalau dia mau keluar, tapi jangan ambil risiko ekstra untuk
menyelamatkan dia. Paham?" "Paham, Letnan."
"Tak ada yang masuk gedung utama selain tim SWAT. Konfirmasikan."
Tate mengulangi perintah itu.
Tate memahami tugasnya. Ini terbukti ketika ia dan Jacobs mengenakan rompi antipeluru dan mengi-
kuti tandu yang dibawa turun ke ambulans. Regu kedua menyusul bersama Boyle. Para penjaga
bordes tampak marah ketika kedua tandu melewati mereka, tapi Tate segera memberi nasihat,
"Jangan mati konyol karena emosi."
Sementara sirene terdengar meraung-raung di luar, Tate. ditemani Jacobs yang berpengalaman,
memeriksa semua ruang kantor dengan hati-hati dan menutup menara.
Angin sejuk berembus di koridor lantai empat. Di balik pintu, di ruangan-ruangan gedung utama yang
luas dan gelap, terdengar bunyi telepon berdering-dering tanpa henti. Tombol-tombol pada pesawat-
pesawat telepon di seluruh gedung kelap-kelip bagaikan kunang-kunang.
Pihak pers telah mendapat kabar bahwa Dr. Lecter terkurung" di dalam gedung, dan wartawan-
wartawan radio dan TV langsung berlomba-lomba memperoleh kesempatan mewawancarai sang
monster. Untuk menghindari ini, pihak SWAT biasanya memutuskan semua sambungan telepon,
kecuali satu yang digunakan oleh juru runding. Namun gedung ini terlalu besar, ruang-ruang
kantornya terlalu banyak.
Tate menutup dan mengunci pintu ruangan-ruangan tempat pesawat telepon berkelap-kelip. Dada dan
punggungnya basah dan terasa gatal di balik rompi.
Ia meraih radionya. "Pos Komando, di sini Tate, menara sudah diamankan, ganti."
"Roger, Tate. Kapten menunggumu di PK."
"Ten-four. Lobi menara masuk."
"Ya, Sarge."
"Saya sedang di lift. Saya akan turun." "Oke, Sarge."
Jacobs dan Tate sedang menumpang lift ke lobi ketika setetes darah mengenai pundak Tate. Satu tetes
lagi jatuh ke sepatunya.
Ia menatap langit-langit lift, menyentuh lengan Jacobs, memberi isyarat agar rekannya tidak bersuara.
Darah menetes dari celah di sekeliling pintu reparasi di bagian atas lift. Perjalanan turun ke lobi terasa
lama sekali. Tate dan Jacobs keluar sambil mundur, dengan senjata terarah ke langit-langit. Tate
meraih ke dalam dan mengunci elevator.
"Ssst," Tate berkata di lobi. Pelan-pelan ia menambahkan, "Berry, Howard, dia di atas lift. Awasi
terus."
Tate keluar lewat pintu utama. Van SWAT yang berwarna hitam tampak di pelataran parkir. Tim
SWAT selalu membawa aneka macam kunci lift.
Dalam sekejap saja mereka sudah siap bergerak. Dua petugas SWAT dengan pelindung tubuh
berwarna hitam dan headset naik tangga sampai ke bordes lantai tiga. Tate disertai dua petugas lain di
lobi.
senapan-senapan mereka terarah ke langit-langit elevator.

ben99 ebooks collections 77


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Seperti semut besar yang suka berkelahi, pikir Tate.


Komandan tim SWAT berbicara melalui headset-nya. "Oke, Johnny."
Di lantai tiga, jauh di atas lift, Officer Johnny Peterson memutar anak kuncinya dalam lubang kunci
dan pintu lift membuka. Lubang lift tampak gelap. Sambil telentang di lantai koridor, ia mengambil
granat asap dari rompi dan meletakkannya di sampingnya. "Oke, aku mau mengintip dulu."
Ia mengambil cermin bertangkai panjang dan menjulurkannya tnelewati tepi lubang, sementara
rekannya mengarahkan berkas senter yang terang ke bawah.
"Aku melihatnya. Dia di atas lift. Di sampingnya ada senjata. Dia tidak bergerak."
Di earphone Peterson terdengar pertanyaan, "Tangannya kelihatan?"
"Sebelah tangannya kelihatan, yang satu lagi tertindih di bawahnya. Badannya terbungkus seprai.
"Peringatkan dia."
"LETAKKAN TANGAN ANDA DI ATAS KEPALA DAN JANGAN BERGERAK," seru Peterson
ke dalam lubang. "Dia tidak bereaksi, Letnan... Oke."
"KALAU ANDA TIDAK MELETAKKAN TANGAN DI ATAS KEPALA, SAYA AKAN
MELEMPARKAN GRANAT ASAP. ANDA SAYA BERI WAKTU TIGA DETIK," Peterson
kembali berseru. Dari rompinya ia mengambil ganjal pintu yang termasuk perlengkapan standar
petugas SWAT. "OKE, HATI-HATI DI BAWAH SANA—SAYA AKAN MELEMPAR." Ia
melemparkan ganjal pintu dan melihatnya membentur sosok di atas lift. "Dia tidak bergerak, Letnan."
"Oke, Johnny, pintu reparasi akan kami buka dengan tongkat dari luar. Kau bisa lindungi kami?"
Peterson berguling ke posisi tiarap. Ia membidik sosok di bawah dengan Colt 10 mm di tangannya.
"Oke, kalian bisa mulai."
Peterson mengintip ke bawah dan melihat garis terang di sekeliling pintu reparasi yang sedang di-
dorong oleh rekan-rekannya di lobi. Sosok yang diam itu setengah menindih pintu reparasi dan
sebelah lengannya bergerak ketika para anggota tim SWAT mendorong dari bawah.
Jari Peterson semakin kencang menempel pada picu Colt-nya. "Tangannya bergerak, Letnan, tapi
sepertinya karena terdorong pintu."
"Roger. Dorong terus."
Pintu reparasi membuka dan didorong sampai bersandar pada dinding lubang lift. Peterson sulit
melihat karena adanya cahaya dari arah berlawanan. "Dia tidak bergerak. Tangannya tidak memegang
senjata."
Suara tenang di telinganya berkata, "Oke, Johnny, tahan dulu. Kami akan masuk, jadi awasi situasi
dengan cerminmu. Kalau ada tembakan, maka itu tembakan kami. Jelas?"
"Jelas."
Di lobi, Tate memperhatikan bagaimana mereka memasuki lift. Penembak dengan senapan berisi
peluru berdaya tembus tinggi mengarahkan senjatanya ke langit-langit elevator. Rekannya memanjat
tangga aluminium dengan membawa pistol otomatis kaliber besar dengan senter terpasang di bawah
laras. Cermin dan pistol berlampu disodorkan lebih dulu melalui pintu reparasi. Kepala dan pundak
petugas itu menyusul. Tak lama kemudian, ia menyerahkan revolver .38 ke bawah. "Dia mati," ia
melaporkan.
Tate bertanya-tanya apakah kematian Dr. Lecter berarti Catherine Martin akan tewas pula. Semua
informasi di dalam kepala Lecter hilang ketika ia mengembuskan napasnya yang terakhir.
Para anggota tim SWAT menariknya ke bawah, dengan kepala lebih dulu, dan mayatnya disambut
terlalu banyak tangan. Sungguh pemandangan yang janggal di dalam sebuah kotak terang benderang.
Lobi mulai ramai. Petugas-petugas polisi mendesak maju agar bisa melihat.
Seorang sipir menerobos kerumunan dan menatap lengan bertato yang terentang lebar. "Ini Pembry,"
katanya.

Bab Tiga Puluh Delapan


Petugas paramedis di dalam ambulans berpegangan untuk menghadapi gerak mengayun kendaraan
yang sedang melaju kencang itu. Ia berpaling ke radionya dan memberi laporan kepada atasannya di
ruang gawat darurat. Suaranya terpaksa dikeraskan untuk mengalahkan sirene yang meraung-raung.
"Dia koma, tapi tanda-tanda kehidupannya cukup baik. Tekanan darahnya bagus. Seratus tiga puluh-
sembilan puluh. Yeah, sembilan puluh. Denyut nadi delapan lima. Beberapa luka parah di wajah
dengan daging terkelupas, sebelah bola mata terlepas. Saya sudah membalut wajahnya dan memasang
selang oksigen. Kemungkinan ada luka tembak di kepala, tapi saya tidak bisa memastikannya."
Pada tandu di belakangnya, kedua tangan berlumuran darah yang semula terkepal tampak mengendur.
Tangan kanan bergeser, meraih gesper pengikat dada.
"Saya tidak berani memberi tekanan terlalu besar pada kepalanya—dia sempat kejang-kejang
sebelum dipindahkan ke tandu. Yeah, dia dalam posisi Fowler sekarang."
Di belakang anak muda itu, tangan tadi meraih perban dan mengusap-usap mata.
Si petugas paramedis mendengar desis selang oksigen di belakangnya. Ia membalik dan melihat
wajah yang berdarah-darah itu di depan hidungnya. Ia tidak melihat pistol yang diayunkan, dan pistol
itu menghantam kepalanya di atas telinga.
Mobil ambulans itu berhenti di tengah jalan bebas hambatan berjalur enam. Para pengemudi
kendaraan di belakangnya bingung. Mereka membunyikan klakson, ragu-ragu untuk mendahului
ambulans itu. Terdengar dua letupan kecil menyerupai bunyi knalpot di tengah lalu lintas, dan
ambulans itu maju lagi, mula-mula oleng, lalu lurus, berpindah ke jalur paling kanan.
Pintu keluar bandara sudah tampak di depan. Ambulans itu merayap di jalur lambat. Berbagai lampu
darurat di sisi luarnya berkedap-kedip, wiper-nya hidup sejenak, lalu mati. Sirenenya meraung sekali
lagi, kemudian terdiam dan lampu-lampu yang berkedap-kedip pun padam. Ambulans itu meluncur
ke pintu keluar, menuju Memphis International Airport yang diterangi lampu sorot, melewati jalan
melingkar sampai ke gerbang otomat tempat parkir bawah tanah yang luas. Sebuah tangan berdarah
muncul untuk mencabut karcis. Sesaat kemudian ambulans itu telah memasuki terowongan dan

ben99 ebooks collections 78


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

menghilang dari pandangan.

Bab Tiga Puluh Sembilan


Dalam keadaan biasa, Clarice Starling pasti ingin melihat rumah Crawford di Arlington, tapi kabar
mengenai pelarian Dr. Lecter yang didengarnya melalui radio mobil segera membuyarkan keinginan
itu.
Ia mengemudi seperti robot. Ia melihat rumah rapi berjaya ranch dari tahun 50-an itu tanpa penuh
minat, dan hanya sepintas saja ia bertanya-tanya apakah jendela redup dengan tirai tertutup di sebelah
kiri adalah tempat Belia berbaring. Bunyi bel pintu terasa terlalu keras.
Crawford membuka pintu pada deringan kedua. Ia mengenakan jaket longgar dan sedang bicara
melalui telepon wireless. "Copley di Memphis," katanya. Ia memberi isyarat agar Starling
mengikutinya dan menuju dapur sambil bergumam ke telepon.
Di dapur, seorang juru rawat mengeluarkan botol kecil dari lemari es dan mengamatinya di depan
lampu. Crawford menatapnya sambil mengangkat alis, tapi wanita itu menggelengkan kepala.
Kehadiran Crawford tidak diperlukan.
Ia mengajak Starling ke ruang kerja, menuruni tangga. Starling segera tahu ruangan itu bekas garasi
dua mobil yang telah dirombak. Ruangannya cukup luas, dengan sofa dan kursi-kursi. Pada meja tulis
yang penuh barang, monitor komputer berpendar hijau di samping alat ukur ketinggian bintang "yang
antik. Karpetnya keras, seakan-akan melapisi lantai beton. Crawford Starling mempersilakan duduk.
Crawford menutupi alat penerima telepon. "Starling, aku tahu ini tidak mungkin, tapi apakah kau
memberikan sesuatu pada Lecter di Memphis?"
"Tidak."
"Coba ingat baik-baik." "Tidak ada yang kuberikan." "Kau mengambil gambar-gambar dan barang-
barang dari selnya."
"Ya, tapi tidak jadi kuserahkan. Semuanya masih dalam tasku. Justru dia yang memberikan berkas
kasus padaku."
Crawford menjepit telepon dengan pundak dan rahang. "Copley, itu hanya omong kosong tak
berdasar. Labrak bajingan itu sekarang juga. Langsung ke atasannya di TBI. Dan pastikan bahwa
hotline kita terpasang bersama yang lain. Burroughs yang akan menanganinya setelah terpasang." Ia
mematikan telepon dan menyelipkannya ke dalam kantong.
"Mau minum kopi, Starling? Coke?"
"Ada apa sebenarnya?"
"Chilton curiga kau memberikan sesuatu pada Lecter, sehingga dia bisa membuka borgol. Bukan
dengan sengaja, katanya—hanya karena lalai." Kadang-kadang mata Crawford tampak menyala-nyala
karena marah. Ia memperhatikan reaksi Starling. "Apakah Chilton sempat merayumu? Itu sebabnya
dia selalu mencari gara-gara?"
"Mungkin. Aku minta kopi saja, tanpa susu, terima kasih."
Crawford pergi ke dapur. Starling menarik napas panjang dan memandang berkeliling. Bagi orang
yang tinggal di asrama atau barak, setiap rumah terasa nyaman. Meskipun Starling sedang diguncang
kesulitan, kesan yang diperolehnya mengenai kehidupan suami-istri Crawford di rumah ini
membuatnya lebih tenang.
Crawford sudah kembali. Dengan hati-hati ia menuruni tangga sambil membawa dua cangkir. Ia satu
senti lebih pendek jika mengenakan sepatu moccasin. Ketika Starling berdiri untuk menerima
kopinya, mata mereka hampir sejajar. Crawford berbau sabun, dan rambutnya tampak mengembang
dan kelabu.
"Copley bilang ambulansnya belum ditemukan. Polisi disiagakan di seluruh wilayah Selatan."
Starling menggelengkan kepala. "Aku belum tahu detail-detailnya. Aku baru mendengar laporan
lewat radio—Dr. Lecter membunuh dua petugas polisi dan melarikan diri."
"Dua sipir penjara." Crawford berpaling pada komputernya. "Boyle dan Pembry. Kau sempat bertemu
mereka?"
Starling mengangguk. "Mereka... mengusirku dari ruang tahanan. Mereka sekadar menjalankan
perintah." Pembry melewati Chilton, rikuh, tegas, namun sopan-Silakan ikut saya, katanya. Bercak-
bercak cokelat pada tangan dan kening. Kini ia mati, pucat di sekitar bercak-bercaknya.
Starling meletakkan cangkirnya. Ia--menarik napas dalam-dalam dan menatap langit-langit sejenak.
"Bagaimana dia lolos?"
"Menurut Copley, dia kabur dengan ambulans. Nanti kita bicarakan lagi. Bagaimana hasil
penyelidikan terhadap blotter acid itu?"
Atas perintah Krendler, Starling menghabiskan sore hari dengan membawa lembaran-lembaran
bergambar Pluto berkeliling di Scientific Analysis. "Belum ada hasil. Sekarang sedang dibandingkan
dengan arsip DEA, tapi barang itu sudah berumur sepuluh tahun. Rasanya sulit melacak asal-usulnya.
Barangkali seksi Dokumen bisa melacak tempat lembaran-lembaran itu dicetak."
"Tapi memang blotter acid, bukan?" "Ya. Bagaimana dia lolos, Mr. Crawford?" "Kau ingin tahu?"
Starling mengangguk.
"Baiklah. Lecter diangkut ke ambulans karena dikira Pembry yang cedera berat."
"Apakah dia memakai seragam Pembry? Ukuran baju mereka kira-kira sama."
"Dia memakai seragam Pembry dan sebagian dari wajahnya. Dan dia juga mengambil sekitar
setengah kilo daging Boyle. Mayat Pembry dibungkusnya dengan seprai kedap air dari selnya, agar
darahnya tidak menetes-netes, dan diletakkan di atas lift. Lecter memakai seragam Pembry, mengatur
penyamarannya, berbaring di lantai, dan melepaskan tembakan ke langit-langit, yang membuat orang-
orang di sana kalang-kabut. Aku tidak tahu pistolnya diapakan, mungkin diselipkan di punggung.
Ambulans datang, polisi di mana-mana dengan senjata di tangan. Para paramedis bergerak cepat dan
bertindak sesuai latihan dalam keadaan darurat—pasang selang oksigen, balut luka-luka yang paling
ben99 ebooks collections 79
The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

parah, beri tekanan untuk menghentikan perdarahan, lalu bawa korban keluar. Mereka melaksanakan
tugas sesuai prosedur. Tapi ambulansnya tak sampai di rumah sakit. Polisi masih terus mencarinya.
Aku kuatir terhadap para paramedis itu. Copley bilang rekaman DISPATCHER sedang diputar ulang.
Ambulansnya dipanggil dua kali. Ada kemungkinan Lecter sendiri juga menelepon sebelum melepas-
kan tembakan, supaya dia tidak perlu berbaring terlalu lama. DR. LECTERSENANGBERMAIN-MAIN."
Starling belum pernah mendengar Crawford berbicara dengan nada getir seperti sekarang. Dan
karena ia mengasosiasikan getir dengan lemah, ia merasa ngeri.
"Kejadian ini tidak berarti Dr. Lecter berbohong." ujar Starling. "Oke, memang ada yang dia
bohongi— kita atau Senator Martin—tapi barangkali bukan kedua-duanya. Dia memberitahu Senator
Martin pelakunya bernama Billy Rubin dan mengaku hanya itu yang diketahuinya. Kepadaku dia
berkata pelakunya seseorang yang menganggap dirinya transseksual. Ucapannya yang terakhir
padaku adalah, 'Kenapa tidak kauteruskan pengejaranmu?' Dia berbicara mengenai teori penggantian
kelamin yang..."
"Aku tahu, laporanmu sudah kubaca. Percuma saja kita membahas teori itu sebelum ada daftar
nama dari klinik-klinik. Alan Bloom sudah menghubungi para kepala departemen secara pribadi.
Mereka bilang mereka sedang mencari. Aku terpaksa percaya."
"Mr. Crawford, apakah Anda mendapat kesulitan karena kasus ini?"
"Aku diminta mengambil cuti," jawab Crawford. "Ada gugus tugas baru, gabungan FBI, DEA, dan
'unsur-unsur tambahan' dari Kejaksaan Agung—berarti Krendler."
"Siapa yang memimpin?"
"Resminya, FBI Assistant Director John Golby. Katakan saja dia dan aku saling berkonsultasi. John
bisa diandalkan. Kau sendiri bagaimana, apakah KAU mendapat kesulitan?"
"Aku disuruh Krendler mengembalikan ID dan senjata dan kembali ke sekolah."
"Itu SEBELUM kau mengunjungi Lecter. Starling, tadi sore dia mengirim memo ke Office of
Professional Responsibility. Memo itu berisi permintaan 'tanpa prasangka' agar pihak Academy
menjatuhkan skorsing terhadapmu sampai ada evaluasi ulang apakah kau memenuhi persyaratan
untuk terus berdinas. Ini balas dendam murahan. John Brigham yang melihatnya waktu rapat fakultas
di Quantico. Dia langsung marah-marah, lalu meneleponku."
"Seberapa parahnya ini?"
"Kau berhak mendapat HEARING. Aku akan menegaskan kemampuanmu dan itu sudah cukup. Tapi
kalau kau terus meninggalkan sekolah, kau pasti akan disuruh mengulang dari awal, apa pun hasil
HEARING nanti. Kau tahu apa yang terjadi kalau kau disuruh mengulang?"
"Tentu, kita dikirim kembali ke kantor wilayah tempat kita direkrut. Kita disuruh mengurus laporan
dan membuat kopi sampai ada tempat kosong di Academy."
Kujamin kau akan mendapat tempat, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa jika kau disuruh mengulang
karena tidak mengikuti kuliah."
"Jadi, aku kembali ke sekolah dan berhenti menangani kasus ini, atau..."
"Yeah."
"Apa yang harus kulakukan?"
"Tugasmu adalah Lecter. Dan sudah kaulaksanakan. Aku tidak ingin kau mengulang. Kau akan
kehilangan waktu, mungkin setengah tahun, mungkin lebih."
"Bagaimana dengan Catherine Martin?"
"Sudah hampir empat puluh delapan jam dia disekap—tengah malam nanti tepat empat puluh
delapan jam. Kalau kita gagal menangkap Buffalo Bill, kemungkinan besar Catherine dihabisi besok
atau lusa, kalau polanya tetap seperti sebelum ini."
"Andalan kita bukan cuma keterangan dari Lecter."
"Sampai sekarang ada enam William Rubin yang berhasil ditemukan, dan semuanya pernah
berurusan dengan polisi. Tapi aku meragukan bahwa salah satu dari mereka yang kita cari. Nama
Billy Rubin tidak ada pada daftar langganan jurnal-jurnal serangga. Asosiasi Pembuat Pisau mencatat
lima kasus antraks gading dalam sepuluh tahun terakhir. Tinggal dua kasus lagi yang harus kita
selidiki. Apa lagi? Klaus belum berhasil diidentifikasi. Interpol melaporkan surat penangkapan
buronan yang dikeluarkan di Marseilles untuk pelaut Norwegia bernama 'Klaus Bjetland.' Kalau ada
kabar dari klinik-klinik, dan kau kebetulan ada waktu, kau bisa membantu. Starling?"
"Ya, Mr. Crawford?"
"Kembalilah ke sekolah."
Starling letih sekali. "Tentu," katanya.
"Tinggalkan mobilmu di tempat parkir di markas besaf, dan Jeff akan mengantarmu ke Quantico
kalau kau sudah selesai."
Sebelum menuju mobilnya, Starling menoleh ke jendela bertirai yang terang, tempat juru rawat
sedang berjaga, lalu kembali berpaling kepada Crawford.
"Aku turut prihatin, Mr. Crawford."
"Terima kasih, Starling."

Bab Empat Puluh

Officer starling, Dr. Pilcher menunggu Anda di Insect Zoo. Saya akan mengantar Anda ke sana," ujar
si penjaga.
Untuk mencapai Insect Zoo dari sisi Constitution Avenue, pengunjung museum harus naik lift ke
tingkat di atas gajah besar,
lalu melintasi lantai luas tempat-memamerkan sejarah manusia.
Peragaan pertama yang dilewati adalah deretan-deretan tengkorak yang diatur menanjak dan
menyebar untuk menggambarkan ledakan populasi manusia sejak zaman Yesus Kristus.
Starling dan penjaga itu melintasi ruangan remang-remang berisi gambar-gambar yang menjelaskan
asal-usul manusia dan berbagai variasinya.
Mereka melewati peragaan-peragaan ritual—tato, kaki ikat, modifikasi gigi, pembedahan Peru,
mumifikasi.
"Anda pernah melihat Wilhelm von Ellenbogen?" si penjaga bertanya sambil mengarahkan senternya

ben99 ebooks collections 80


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

ke dalam salah satu peti.


Rasanya belum," Starling menyahut tanpa memperlambat langkahnya.
Mampirlah kapan-kapan kalau lampu-lampu menyala dan tengoklah dia. Kalau tak salah dia
dikubur di Philadelphia di abad kedelapan belas. Berubah jadi sabun waktu permukaan air tanah naik
dan merendam tubuhnya."
Insect Zoo menempati ruangan luas yang kini remang-remang dan dipenuhi suara serangga. Kandang
demi kandang berisi serangga hidup saling berdempetan. Tempat itu digemari anak-anak dan selalu
ramai pada siang hari. Pada malam hari, saat tak ada gangguan, para penghuninya mulai sibuk.
Beberapa kandang diterangi cahaya merah, dan tanda di atas pintu-pintu darurat tampak merah
manyala dalam kegelapan.
"Dr. Pilcher?" si penjaga memanggil dari pintu.
"Sebelah sini," sahut Pilcher sambil mengangkat senter kecil sebagai tanda.
"Anda yang mengantar tamu kita keluar nanti?"
"Ya, terima kasih. Officer."
Starling mengeluarkan senter dari tas dan menemukan sakelarnya sudah dalam posisi on, baterainya
habis. Rasa kesal yang sempat timbul mengingatkannya bahwa ia letih dan perlu mengendalikan diri.
"Halo, Officer Starling."
"Dr. Pilcher."
"Bagaimana kalau 'Profesor Pilcher'?" "Anda profesor?"
"Tidak, tapi saya juga tidak bergelar doktor. Tapi saya senang kita bisa ketemu lagi. Anda mau
melihat-lihat serangga?"
"Tentu. Di mana Dr. Roden?"
"Dia sibuk dengan chaetaxy selama dua malam terakhir dan akhirnya harus tidur dulu. Anda sempat
melihat serangga itu sebelum kami mulai menelitinya?"
"Tidak."
"Kondisinya sudah parah sekali." "Tapi Anda berhasil, Anda mengidentifikasinya." "Yap. Baru saja."
Pilcher berhenti di sebuah kandang kawat anyam. "Sebelumnya saya ingin memperlihatkan serangga
seperti yang Anda bawa hari Senin. Tidak persis sama, tapi satu famili, burung hantu kecil." Berkas
senternya menerangi ngengat besar berwarna biru bertengger pada ranting kecil, dengan sayap
terlipat^Pilcher meniupnya dan serta-merta wajah burung hantu yang galak muncul ketika ngengat itu
merentangkan sayap. Kedua titik mata pada sayapnya menyala-nyala. "Ini Caligo beltrao— jenis
yang banyak ditemui. Tapi spesimen Klaus itu tergolong istimewa. Mari."
Di ujung ruangan terdapat kotak yang ditempatkan pada ceruk di dinding dan diberi pagar penghalang
di sebelah depan. Kotak itu di luar jangkuan tangan anak-anak dan ditutup kain. Alat pelembap udara
berdengung-dengung di sampingnya.
"Kami sengaja memasang kaca untuk melindungi jari para pengunjung—serangga ini termasuk galak.
Dia juga suka udara lembap, dan kacanya sekaligus mempertahankan tingkat kelembapan." Dengan
hati-hati Pilcher mengangkat kotak itu dan memindahkannya ke depan. Ia melepaskan kain penutup
dan menyalakan lampu kecil di atas kandang.
"Ini Ngengat Tengkorak," katanya. "Tumbuhan tempat dia bertengger adalah nightshade—kami
berharap dia akan bertelur."
Ngengat itu indah sekaligus mengerikan. Sayapnya berwarna cokelat-hitam, punggungnya lebar dan
berbulu, ciri khas yang membuat orang-orang membelalakkan mata karena ngeri kalau mereka
melihatnya di kebun rumah. Tengkorak sekaligus wajah, dengan mata gelap dan tulang pipi,
tergambar jelas di samping mata.
"Acherontia styx," ujar Pilcher. "Namanya diambil dari hama dua sungai di neraka. Orang yang Anda
cari, para korbannya selalu dibuang ke sungai, betulkah itu?"
"Ya," jawab Starling. "Serangga ini termasuk langka?"
"Di bagian dunia ini, ya. Tidak ada yang hidup di alam bebas."
"Dari mana asalnya?" Starling merapatkan wajah ke kawat anyam yang menutupi kandang. Embusan
napasnya membelai bulu-bulu pada punggung ngengat. Serangga itu mengerik dan mengepak-
ngepakkan sayap. Starling bisa merasakan angin yang ditimbulkannya.
"Malaysia. Ada juga yang berasal dari Eropa, namanya atropos, tapi yang ini dan yang ditemukan di
mulut Klaus berasal dari Malaysia."
"Berarti ada yang memeliharanya."
Pilcher mengangguk. "Ya," ia berkata ketika Starling tak lagi menatapnya. "Serangga itu dikirim dari
Malaysia dalam bentuk telur atau lebih mungkin lagi berbentuk pupa. Sejauh ini belum ada yang bisa
mengembangbiakkannya dalam penangkaran. Ada yang berhasil dikawinkan, tapi tidak sampai
bertelur. Bagian yang sukar adalah mencari ulatnya di hutan. Setelah itu tak ada kesulitan lagi."
"Tadi Anda bilang jenis ngengat ini termasuk galak."
"Proboscis-nya tajam dan kokoh, dan Anda akan disengat kalau mengganggunya. Senjata ini tidak
lazim dan tidak terpengaruh alkohol pada spesimen-spesimen yang telah diawetkan. Ini sangat
membantu, sehingga kami berhasil mengidentifikasinya sedemikian cepat." Pilcher mendadak salah
tingkah, seakan-akan malu karena menyombongkan diri. "Serangga ini juga berani," ia cepat-cepat
menambahkan. "Mereka biasa masuk sarang lebah untuk mencuri madu. Suatu ketika kami sedang
mengumpulkan serangga di Sabah, dan serangga-serangga ini mendatangi lampu di belakang youth
hostel. Rasanya aneh mendengar suara mereka, dan kami..."
"Spesimen ini berasal dari mana?"
'"Penukaran dengan pemerintah Malaysia. Saya tidak tahu ditukar dengan apa. Lucu sekali, kami
menunggu dalam gelap sambil..."
"Apa saja dokumen pabean yang diperlukan untuk membawa spesimen ini kemari? Catatannya masih
ada? Apakah harus dilaporkan kalau mau dibawa keluar dari Malaysia? Siapa yang menyimpan do-
kumen-dokumennya?' '
"Rupanya Anda terburu-buru. Begini, saya sudah mencatat semua informasi yang kami miliki, juga
semua tempat di mana Anda bisa memasang iklan untuk penyelidikan lebih lanjut. Mari, saya antar
Anda keluar."
Sambil membisu mereka melintasi ruangan luas itu. Dalam cahaya dari lift, Starling melihat Pilcher

ben99 ebooks collections 81


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

sama letihnya.
"Anda bekerja lembur untuk ini," katanya. "Saya sangat menghargainya. Ehm, saya tidak bermaksud
bersikap kasar tadi, saya hanya..."
"Saya berharap orang itu bisa ditangkap. Saya berharap Anda segera bisa menyelesaikan urusan ini,"
ujar Pilcher. "Saya mencatat sejumlah bahan kimia yang mungkin dibelinya untuk mengawetkan
spesimen. Officer Starling, saya ingin berkenalan lebih jauh dengan Anda."
"Barangkali saya bisa menelepon Anda kalau ada kesempatan."
"Saya setuju sekali," kata Pilcher.
Pintu lift menutup. Pilcher dan Starling menghilang. Lantai yang diperuntukkan bagi sejarah manusia
menjadi hening dan tak satu sosok manusia pun bergerak, baik yang bertato, yang telah menjadi
mumi, maupun yang kakinya terikat.
Tanda di atas pintu-pintu darurat menyala merah di Insect Zoo, dan cahayanya memantul pada
puluhan ribu mata. Alat-alat pelembap udara berdengung dan berdesis. Di balik kain penutup, di
dalam kandang yang gelap, Ngengat Tengkorak turun dari tempat bertenggernya. Serangga itu
merangkak di lantai, dengan sayap terlipat ke belakang bagaikan jubah, dan menemukan potongan
sarang lebah di tempat makannya. Sambil menggenggam potongan tersebut dengan kaki depannya
yang kuat, ngengat itu menjulurkan proboscis-nya yang tajam dan menancapkannya ke dalam sel
madu, lalu mengisap-isap tanpa suara, sementara kegelapan di sekelilingnya dipenuhi bunyi
mengerik-ngerik.

Bab Empat Puluh Satu

Catherine martin meringkuk dalam kegelapan yang menakutkan. Kegelapan berkeriap di balik
pelupuk matanya dan, setiap kali tertidur sejenak, ia bermimpi kegelapan merasuki dirinya Kegelapan
datang mengendap-endap, melalui hidung dan telinga, bagaikan jari lembap yang menyatroni semua
lubang tubuhnya. Ia menaruh tangan pada mulut dan hidung, pada vagina, mengencangkan pantat,
memalingkan sebelah telinga ke kasur dan mengorbankan telinga yang satu lagi. Kegelapan disertai
bunyi, dan ia langsung terjaga. Bunyi riuh yang akrab di telinganya, bunyi mesin jahit. Kecepatannya
berubah-ubah. Cepat, sekarang pelan.
Lampu basement menyala—ia melihat bulatan berwarna kuning redup jauh di atasnya. Ia mendengar
anjing pudel menyalak beberapa kali, lalu ditegur oleh suara aneh itu.
Menjahit. Tidak seharusnya orang menjahit di bawah sini. Orang menjahit di tempat terang. Ia terke-
nang ruang jahit yang cerah di masa kanak-kanaknya... Pembantunya, Bea Love, duduk di mesin
jahit... anak kucingnya mencakar-cakar tirai yang tertiup angin.
Suara itu membuyarkan segala kenangannya.
"Precious, letakkan itu. Apa jadinya kalau kau tertusuk jarum, hmm? Aku sudah hampir selesai. Ya,
Darlingheart. You get a Chew-wy when we get through-y, you get a Chew-wy doody doody doo."
Catherine tidak tahu sudah berapa lama ia ditawan. Ia tahu ia mandi dua kali—terakhir ia disuruh
berdiri di bawah sorot lampu karena si penculik ingin melihat tubuhnya, namun dalam cahaya yang
menyilaukan, ia tidak bisa memastikan apakah orang itu memang menonton dari atas. Catherine
Baker Martin telanjang merupakan pemandangan yang mencengangkan, dan ia pun menyadarinya. Ia
sengaja memamerkan diri. Ia ingin keluar dari lubang sumur. Kalau ia bersedia berhubungan intim,
berarti ia juga sanggup bertarung—kata-kata itu terus diulanginya dalam hati sambil membersihkan
diri. Ia diberi makan sedikit sekali, dan ia sadar ia harus bertindak saat tenaganya masih
memungkinkan. Ia tahu ia akan bertarung. Ia tahu ia sanggup. Apakah lebih baik berhubungan intim
dulu, sesering mungkin, untuk menguras tenaga penculiknya? Kalau saja ia bisa menjepit leher orang
itu dengan kakinya yang panjang, waktu satu setengah detik saja sudah cukup untuk mengirimnya ke
neraka. Sanggupkah aku melakukannya? Persetan, aku sanggup. Buah zakar dan mata. Buah zakar
dan mata. Buah zakar dan mata. Tapi tak ada suara dari atas ketika ia selesai mandi dan mengenakan
baju bersih. Tawaran-tawarannya tidak ditanggapi ketika ember mandinya ditarik ke atas dan
digantikan dengan ember kosong.
Kini, berjam-jam sesudahnya, ia menunggu sambil mendengarkan suara mesin jahit itu. Ia tidak
memanggil. Akhirnya, mungkin seribu tarikan napas kemudian, ia mendengar orang itu menaiki
tangga sambil mengatakan sesuatu kepada anjingnya, sesuatu yang terdengar seperti "...sarapan kalau
aku kembali." Lampu basement dibiarkan menyala. Kadang-kadang penculiknya tidak memadamkan
lampu.
Suara langkah pada lantai dapur di atas. Suara anjing merintih-rintih. Catherine menduga penculiknya
pergi. Kadang-kadang orang itu pergi untuk waktu cukup lama.
Catherine menunggu. Anjing kecil di dapur itu berjalan ke sana kemari sambil merintih. Anjing itu
mendorong-dorong sesuatu di lantai, mungkin mangkuk makannya. Bunyi menggaruk-garuk dari
atas. Lalu suara menyalak, pendek-pendek, kali ini tidak sejelas ketika suara itu terdengar dari dapur.
Karena anjing itu tidak di dapur. Anjing itu telah membuka pintu dan kini berada di basement,
mengejar-ngejar tikus, seperti yang suka dilakukannya saat majikannya pergi.
Di tengah kegelapan di bawah, Catherine Martin meraih ke bawah kasur. Ia meraba-raba, menemukan
tulang ayam yang sengaja ia simpan, dan mengendus-endusnya. Sejenak ia tergoda untuk

ben99 ebooks collections 82


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

menggerogoti kerat-kerat daging yang masih tersisa. Ia memasukkannya ke mulut untuk


menghangatkannya. Kini ia bangkit. Ia agak terhuyung-huyung dalam kegelapan yang membuat
kepalanya pening. Di dalam lubang sumur tidak ada apa-apa selain kasur tipis, baju yang
dikenakannya, ember plastik, serta tali katun yang terentang ke atas.
Catherine telah memikirkannya di saat-saat ia dapat berpikir. Sambil berjinjit ia meraih tali setinggi
mungkin. Lebih baik disentak atau ditarik pelan-pelan? Pertanyaan itu pun telah ia pikirkan masak-
masak. Lebih baik menarik pelan-pelan.
Tali katun itu ternyata meregang, lebih panjang dari yang diduganya. Ia kembali meraih setinggi
mungkin dan menarik sambil menggerakkan tangan ke kiri-kanan. Ia berharap talinya akan putus
tergores bibir lubang di atas. Ia mengayun-ayunkan tangan sampai bahunya pegal, dan terus menarik
sampai talinya tak lagi meregang. Moga-moga putus di atas. Pop, talinya jatuh bergulung-gulung dan
menerpa wajahnya.
Ia jongkok di lantai, dengan tali pada kepala dan pundak. Cahaya dari mulut lubang jauh di atas ter-
lampau redup untuk melihat. Ia tidak tahu seberapa panjang tali itu. Pelan-pelan ia meletakkan tali di
lantai, bergelung-gelung. Jangan sampai kusut. Panjang tali diukurnya dengan menggunakan lengan
bawah. Semuanya ada empat belas hasta. Tali itu putus di bibir lubang sumur.
Ia mengikat tulang ayam beserta sisa dagingnya di tempat tali katun tersimpul pada gagang ember.
Sekarang bagian yang sulit.
Ia harus berhati-hati. Setiap tindakan harus dipikirkan masak-masak. Ia membayangkan dirinya
sedang berlayar dengan perahu kecil di tengah cuaca buruk.
Ujung tali yang bebas diikatnya ke pergelangan tangan. Simpulnya dikencangkan dengan bantuan
gigi-
Ia berdiri sejauh mungkin dari gulungan tali di lantai. Sambil memegang gagang ember, ia
mengayunkannya dan melemparkannya ke arah mulut lubang di atasnya. Ember itu gagal melewati
lubang, membentur bagian bawah penutup lubang, dan jatuh menimpa wajah dan pundak Catherine.
Anjing kecil di atas menyalak lebih keras.
Catherine kembali menggulung tali dan melempar lagi, dan lagi. Pada lemparan ketiga, embernya
jatuh dan menimpa jarinya yang patah. Ia terpaksa bersandar pada dinding dan menarik napas dalam-
dalam untuk mengatasi rasa mual. Lemparan keempat pun gagal, tapi lemparan kelima tidak.
Embernya berada di luar, tergeletak pada penutup kayu di samping pintu kecil yang terbuka. Seberapa
jauh? Ia menarik pelan-pelan. Gagang ember terdengar bergesekkan pada kayu di atasnya.
Anjing kecil itu kembali menyalak keras-keras.
Jangan menarik terlalu keras. Jangan sampai jatuh lagi. Embernya harus dekat ke lubang, tapi jangan
sampai jatuh lagi.
Anjing kecil itu berlari-lari di antara maneken-maneken dan cermin-cermin di salah satu ruang base-
ment. Mengendus-endus potongan benang dan kain sisa di bawah mesin jahit. Mengendus-endus
lemari besar. Menoleh ke arah suara yang didengarnya. Melesat ke bagian yang gelap untuk
menyalak, lalu kembali lagi.
Kini terdengar suara yang bergema pelan di basement.
"Preeee-cious."
Anjing kecil itu menyalak dan melompat di tempat. Tubuhnya yang gemuk bergetar setiap kali ia me-
nyalak.
Kini bunyi ciuman.
Anjing itu menoleh ke lantai dapur di atas, tapi bukan dari sana suara tersebut berasal.
Bunyi mengecap-ngecap, seperti orang makan. "Sini, Precious. Sini, Sweetheart."
Pelan-pelan anjing itu menuju bagian yang remang-remang. Telinganya tegak.
"Sini, Sweetums, sini, Precious."
Pudel itu mencium tulang ayam yang terikat ke gagang ember, dan mencakar-cakar dinding sumur
sambil merintih.
Decap-decap-decap.
Pudel kecil itu melompat ke atas penutup lubang sumur. Bau sedap yang diciumnya ada di sini, antara
ember dan lubang di hadapannya. Anjing itu menyalak-nyalak, lalu merintih-rintih karena bingung.
Tulang ayam di depan matanya berkedut sedikit.
Pudel itu menungging, ekornya kupat-kapit tanpa henti. Ia menyalak dua kali, lalu menerjang tulang
ayam dan mencengkeramnya dengan gigi. Tapi ia merasa terancam oleh ember yang menganga.
Pudel itu menggeram dan mempertahankan tulang ayam. Tiba-tiba ia tertabrak ember sampai jatuh,
lalu didorong-dorong. Pudel itu segera bangkit, tertabrak lagi, bergumul dengan ember. Sebelah
kakinya terjerumus ke dalam lubang, kaki depannya mencakar-cakar kayu. Pantatnya terjepit ember,
tapi akhirnya anjing kecil itu berhasil lolos, sementara ember merosot melewati tepi lubang dan jatuh
beserta tulang ayam. Pudel itu menyalak-nyalak ke bawah. Kemudian ia terdiam dan memiringkan
kepala karena bunyi yang hanya dapat didengar oleh telinganya. Anjing itu melompat ke lantai dan
berlari menaiki tangga sambil mendengking-dengking. Dari atas terdengar suara pintu dibanting.
Air mata Catherine Baker Martin terasa panas di pipi dan membasahi bagian depan bajunya, jatuh ke
dadanya. Ia yakin ia akan mati.

Bab Empat Puluh Dua


Crawford berdiri seorang diri di tengah kamar kerja, kedua tangan diselipkannya ke kantong celana.
Ia berdiri dari pukul 12.30 sampai 12.33, mencari-cari ide. Kemudian ia mengirim teleks kepada
California Department of Motor Vehicles, meminta agar pihak DMV melacak karavan yang menurut
keterangan Dr. Lecter dibeli Raspail di California, karavan yang digunakan Raspail dalam affair-nya.
dengan Klaus. Crawford juga menanyakan surat tilang atas nama pengemudi selain Benjamin
Raspail.
Kemudian ia duduk di sofa sambil memangku clipboard dan menyusun iklan proaktif untuk dimuat di
kolom jodoh di harian-harian utama:

ben99 ebooks collections 83


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Wanita seksi, kulit mulus, penuh gairah hidup, 21, model, mencari teman pria yang menghargai
kualitas DAN kuantitas. Model tangan dan kosmetika, kau mengenalku dari iklan-iklan majalah,
sekarang aku ingin berkenalan denganmu. Kirim foto dan surat pertama.
Crawford berpikir sejenak, menggaruk-garuk kepala, lalu mencoret kata "seksi" dan menggantinya
dengan "padat berisi".
Kepalanya merunduk dan ia tertidur. Layar monitor komputer yang berwarna hijau tercermin sebagai
bujursangkar kecil pada lensa kacamatanya. Kini ada gerakan pada monitor, baris-baris teks
merangkak ke atas, memantul pada kacamatanya. Sambil tidur Crawford menggelengkan kepala,
seakan-akan tergelitik.

PESAN ITU BERBUNYI:

POLISI MEMPHIS MENEMUKAN 2 BENDA SAAT MENGGELEDAH SEL LECTER.

(1) KUNCI BORGOL YANG DIBUAT DARI TABUNG TINTA BOLPOIN. DIIRIS DENGAN

CARA MENGGOSOK, BALTIMORE MINTA SEL RSJ DIPERIKSA, AUTH COPLEY,

SAC MEMPHIS.

(2) SATU LEMBAR KERTAS DITINGGALKAN MENGAMBANG DI TOILET OLEH BURONAN.

LEMBAR ASLI DIKIRIM KE WX DOCUMENT SECTION/LAB. BERIKUT INI TULISAN

YANG DITEMUKAN. GRAPHIC SPLIT KE LANGLEY, UP: BENSON - KRIP-TOGRAFI.

KETIKA TULISAN YANG DIMAKSUD MUNCUL DI LAYAR, YANG TERBACA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

C33H36l L T O6N4
Bunyi bip-bip dari komputer tidak membangunkan Crawford, tapi tiga menit kemudian ia terjaga
karena pesawat teleponnya berdering-dering. Peneleponnya Jerry Burroughs di hotline National
Crime Information Center.
"Sudah lihat monitor, Jack?"
"Sebentar," ujar Crawford. "Yeah, oke."
"Lab sudah menguraikannya, Jack. Gambar yang ditinggalkan Lecter di WC. Angka-angka di antara
huruf-huruf pada nama Chilton, ini biokimia— CBH36N406—rumus suatu pigmen dalam kotoran
manusia yang disebut bilirubin. Lab bilang ini zat warna utama pada tinja."
"Sial."
"Kau benar tentang Lecter. Dia cuma mempermainkan mereka. Malang bagi Senator Martin. Anak-
anak lab bilang, warna bilirubin persis seperti warna rambut Chilton. Humor RSJ, kata mereka. Kau
lihat Chilton di berita jam enam tadi?"
"Tidak."
"Marilyn Sutter sempat menontonnya di atas. Chilton gembar-gembor mengenai 'Pencarian terhadap
Billy Rubin'. Setelah itu dia pergi makan malam bersama reporter TV. Dia sedang di restoran waktu
Lecter kabur. Dasar brengsek."
"Lecter berpesan kepada Starling untuk mengingat-ingat bahwa Chilton tidak punya gelar
kedokteran," ujar Crawford.
"Yeah, aku membaca laporannya. Menurut aku Chilton mencoba merayu Starling, tapi ditolak
mentah-mentah. Chilton memang tolol, tapi dia tidak buta. Bagaimana keadaan Starling?"
"Dia capek. Tapi kelihatannya baik-baik saja." "Apakah dia juga dipermainkan Lecter?" "Bisa jadi.
Tapi petunjuknya akan kita lacak terus. Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh klinik-klinik.
Seharusnya sejak awal catatan mereka kita minta melalui pengadilan. Sekarang kita jadi tergantung
pada mereka, dan aku tidak suka itu. Kalau sampai siang nanti belum juga ada kabar, kita ambil jalur
pengadilan."
"Ehm, Jack... mestinya ada orang yang tahu tampang Lecter, bukan?" "Tentu."
"Kemungkinan besar dia sedang tertawa-tawa." "Tapi takkan lama," sahut Crawford.

Bab Empat Puluh Tiga

Dr. hannibal lecter berdiri di meja registrasi Marcus Hotel yang mewah di St. Louis. Ia memakai topi
cokelat serta mantel hujan yang dikancingkan sampai ke leher. Perban bedah yang rapi menutupi
hidung dan pipinya.
Ia mengisi buku tamu dan membubuhkan tanda tangan "Lloyd Wyman," tanda tangan yang telah
dilatihnya di mobil Wyman.
"Bagaimana Anda hendak membayar, Mr. Wyman?" tanya petugas di balik meja.
"American Express." Dr. Lecter menyerahkan kartu kredit milik Wyman.
Alunan piano yang lembut terdengar dari lounge. Dr. Lecter melihat dua orang dengan hidung
diperban berdiri di bar. Sepasang pria-wanita setengah baya melintas ke lift sambil
menyenandungkan lagu ciptaan Cole Porter. Mata si wanita tertutup kain kasa.
Petugas penerima tamu selesai menggesek kartu kredit. "Anda sudah tahu Anda berhak menggunakan
gedung parkir rumah sakit, Mr. Wyman?"

ben99 ebooks collections 84


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Ya, terima kasih," jawab Lecter. Ia telah memarkir mobil Wyman di sana, dengan Wyman di dalam
tempat bagasi.
Pelayan yang membawakan koper Wyman ke suite :il memperoleh tip lima dolar dari dompet
Wyman. . Dr. Lecter memesan minuman dan sandwich, lalu menyegarkan diri dengan berdiri lama di
bawah shower.
Setelah bertahun-tahun disekap dalam sel, Lecter senang sekali berada di dalam suite yang
dirasakannya teramat luas. Ia berjalan mondar-mandir, kian kemari, dan ia benar-benar
menikmatinya.
Dari jendela suite-ny& ia bisa melihat Myron and Sadie Fleischer Pavilion dari St. Louis City
Hospital di seberang jalan, yang menampung salah satu pusat bedah craniofacial terkemuka di dunia.
Wajah Dr. Lecter terlalu dikenal, sehingga ia tak mungkin menjalani bedah plastik di sini, namun ini
satu-satunya tempat di dunia di mana ia bisa berjalan-jalan dengan wajah diperban tanpa menarik
perhatian.
Ia sudah pernah menginap di sini, bertahun-tahun lalu, ketika melakukan riset psikiatri di Robert J.
Brockman Memorial Library.
Betapa nikmatnya mempunyai jendela. Ia berdiri di jendela dalam gelap, menonton lampu-lampu
mobil melintasi MacArthur Bridge, dan menikmati minumannya. Perjalanan mobil selama lima jam
dari Memphis telah menimbulkan rasa letih yang menyenangkan.
Satu-satunya kesulitan sore itu dialaminya di garasi bawah tanah di Memphis International Airport.
Membersihkan diri dengan kapas, alkohol, dan air suling di bagian belakang ambulans ternyata cukup
merepotkan. Namun setelah mengenakan seragam putih petugas paramedis, ia tinggal menunggu
mangsa di tempat sepi di garasi luas itu. Pria yang diincarnya membungkuk untuk mengambil barang
dari tempat bagasi dan sama sekari tidak sadar ada orang menghampirinya dari belakang.
Dr. Lecter bertanya-tanya, apakah polisi menganggapnya cukup bodoh untuk mencoba naik pesawat
dari bandara.
Satu-satunya masalah dalam perjalanan ke St. Louis adalah mencari tombol lampu, dimmer, dan
wiper di mobil buatan luar negeri yang asing baginya.
Besok ia akan berbelanja barang-barang yang dibutuhkannya—obat untuk memudakan warna rambut,
alat cukur, lampu untuk mencokelatkan kulit, lalu masih ada barang-barang yang dapat dibeli dengan
resep, barang-barang yang akan mengubah penampilannya dengan seketika. Kalau keadaannya sudah
memungkinkan, ia akan bergerak lagi.
Tak perlu terburu-buru.

Bab Empat Puluh Empat

Ardelia mapp berada dalam posisi seperti biasa, duduk bersandar di tempat tidur sambil memegang
buku. Ia sedang mendengarkan radio khusus berita. Ketika Clarice Starling melangkah masuk, ia
mematikan radio. Melihat wajah Starling yang kuyu, ia tidak menanyakan apa-apa, hanya
menawarkan; "Mau minum teh?"
Kalau sedang belajar, Mapp selalu ditemani minuman seduhan dari daun-daun kiriman neneknya,
yang disebutnya "Smart People's Tea".
Dari dua orang paling pandai yang dikenal Starling, yang satu sangat tenang, sementara yang satu lagi
justru paling menakutkan. Starling berharap keadaan menjadi seimbang.
"Kau beruntung tidak masuk hari ini," ujar Mapp. 'Si Kim Won sialan itu benar-benar memacu kami
sampai ambruk. Aku tidak bohong. Sepertinya gravitasi di Korea lebih kuat dibandingkan di sini. Me-
reka datang kemari dan mendadak jadi ringan. Mereka disuruh mengajar olahraga, karena bagi
mereka tidak ada susahnya... o ya, John Brigham sempat mampir." "Kapan?"
"Sore tadi. Dia tanya apa kau sudah pulang. Rambutnya dilicinkan ke belakang. Dia mondar-mandir
seperti anak baru di lobi. Aku mengobrol sebentar dengannya. Dia bilang bila kau merasa ketinggalan
pelajaran, kita bisa menggunakan jam-jam latihan menembak untuk belajar selama beberapa hari.
Dan ia akan membuka lapangan pada akhir pekan untuk memberi kita kesempatan berlatih
menembak. Aku bilang aku akan memberi kabar padanya. Untung saja ada pelatih sebaik dia."
"Yeah, dia memang baik."
"Kau sudah tahu kau diminta ikut dalam pertandingan antarinstansi melawan DEA dan Bea Cukai?"
"Belum."
"Bukan pertandingan wanita. Pertandingan terbuka. Pertanyaan berikut: Kau sudah tahu bahan Fourth
Amendment untuk hari Jumat?"
"Sebagian besar sudah."
"Oke, bagaimana dengan Chimel versus CaliforniaT "Penggeledahan di sekolah-sekolah lanjutan."
"Ada apa dengan penggeledahan di sekolah?" "Entahlah."
"Ini menyangkut konsep 'immediate reach.' Siapa Schneckloth."
"Aduh, mana kutahu."
"Schneckloth versus Bustamonte."
"Ehm, reasonable expectation of privacyl"
"Huh, itu prinsip Katz. Schneckloth adalah izin melakukan penggeledahan. Kelihatannya kita harus
buka buku. Aku punya semua catatan."
"Jangan malam ini."
ben99 ebooks collections 85
The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Oke. Tapi besok pagi kau akan bangun dengan ikiran jernih dan kosong, dan kita mulai menabur
nih-benih untuk panen hari Jumat. Starling, Brigham ilang—seharusnya dia tidak boleh cerita, jadi
aku rjanji—dia bilang kau akan lolos dari hearing. enurut dia, Krendler takkan mengingatmu dua
hari ari sekarang. Nilai-nilaimu bagus, ujian ini akan 'ta lalap bersama." Mapp mengamati wajah
Starling ang letih. "Kau sudah berusaha sekuat tenaga untuk enolong wanita malang itu, Starling. Kau
mengambil siko dan mendapat tekanan dari atas. Sekarang waktunya kau memikirkan dirimu sendiri.
Ayo, tidur-ah. Aku juga sudah hampir selesai." "Ardelia. Thanks." Dan setelah lampu dipadamkan.
"Starling?" "Yeah?"
"Siapa yang lebih tampan, Brigham atau Hot Bobby Lowrance?"
"Ini pertanyaan sulit."
"Brigham punya tato di bahu. Aku melihatnya di balik kemeja. Apa tulisannya?" "Mana kutahu."
"Tapi kau akan memberitahuku kalau kau sudah tahu?"
"Kurasa tidak."
"Kau sudah kuberitahu bahwa Hot Bobby memakai celana dalam bermotif kulit ular piton."
"Kau melihatnya dari jendela waktu dia lagi latihan angkat beban."
"Pasti Gracie yang memberitahu, ya kan? Anak itu memang perlu..."
Starling sudah terlelap.

Bab Empat Puluh Lima

Beberapa menit sebelum pukul 3.00 dini hari, Crawford, yang tidur di samping istrinya, terjaga.
Napas Belia terhenti sejenak dan ia bergerak di tempat tidur. Crawford duduk tegak dan meraih
tangan istrinya. "Belia?"
Wanita itu menarik napas panjang dan mengembuskannya. Untuk pertama kali dalam beberapa hari,
matanya terbuka. Crawford merapatkan wajah, tapi tidak yakin Belia bisa melihatnya.
"Belia, aku cinta padamu, Sayang," katanya.
Rasa takut memenuhi dadanya, berkeliling bagaikan kelelawar di dalam rumah. Kemudian ia berhasil
mengendalikan diri.
Ia ingin mengambilkan sesuatu untuk Belia, apa saja, tapi ia tak ingin Belia merasakan tangannya
dilepas.
Ia menempelkan telinga ke dada Belia. Ia mendengar denyut pelan, tak berirama, lalu jantung Belia
berhenti. Tak ada lagi yang terdengar selain bunyi berdesir. Crawford tidak tahu apakah bunyi itu ada
di dada Belia atau hanya di telinganya sendiri.
"Semoga Tuhan memberkatimu dan menerimamu di sisiNya... bersama keluargamu," ujar Crawford,
kata-kata yang berasal dari lubuk hatinya.
Ia bersandar pada kepala tempat tidur dan mendekap Belia. Dagunya menggeser syal yang menutupi
sisa-sisa rambut istrinya. Ia tidak menangis. Air matanya telah kering.
Crawford mengganti baju Belia dengan baju kesukaannya, lalu duduk di tempat tidur sambil
menempelkan tangan Belia ke pipinya. Tangannya berbentuk persegi, menyiratkan kecerdasan,
tangan yang gemar berkebun, namun kini ditandai bekas-bekas jarum infus.
Setiap kali Belia kembali dari kebun, tangannya berbau wangi.
("Anggap saja seperti putih telur di jarimu," teman-teman Belia di sekolah menasihatinya tentang
seks. Bella dan Crawford masih menertawakan hal itu di tempat tidur, bertahun-tahun silam,
bertahun-tahun kemudian, tahun lalu. Jangan pikirkan itu, ingatlah kenangan yang baik, yang murni.
Itulah kenangan yang murni. Belia mengenakan topi bundar dan sarung tangan putih, dan sedang naik
lift ketika pertama kali Crawford menyiulkan Begin the Beguine dengan aransemen yang dramatis. Di
dalam kamar, Belia sempat menggodanya dengan berkata kantong celananya penuh sesak seperti
kantong anak kecil.)
Crawford pindah ke kamar sebelah—ia masih bisa membalik setiap kali ia mau dan melihat Belia
melalui pintu yang terbuka, tersorot cahaya hangat dari lampu di samping tempat tidur. Ia menunggu
jasad Belia menjadi objek seremonial yang terpisah dari dirinya, terpisah dari orang yang didekapnya
di tempat tidur,
dan terpisah dari teman hidup yang kini dikenangnya. Agar ia bisa memanggil mobil jenazah untuk
menjemputnya.
Dengan tangan kosong tergantung di sisinya, ia berdiri di jendela dan memandang ke timur. Bukan
fajar yang dicarinya; timur adalah arah jendelanya menghadap.

Bab Empat Puluh Enam


Siap, Precious?” Jame Gumm bersandar pada kepala tempat tidur, anjing kecilnya melingkar di
perutnya.
Mr. Gumb baru selesai keramas dan kepalanya masih dibungkus handuk. Tangannya menggapai-
gapai di bawah seprai, menemukan remote control VCR, dan menekan tombol play.
Ia telah menyusun program sendiri dengan menggabungkan dua rekaman video pada satu kaset. Ia
menontonnya setiap hari, kalau sedang melakukan persiapan penting, selalu sebelum mengambil
kulit.
Bagian pertama direkam dari film Movietone News, film berita hitam-putih tahun 1948. Film tersebut
memperlihatkan perempat final kontes Miss Sacramento, tahap pendahuluan pada jalan panjang
menuju kontes Miss America di Atlantic City.
Ini kompetisi baju renang, dan semua peserta membawa bunga ketika mereka berbaris di tangga dan
ben99 ebooks collections 86
The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

menaiki panggung satu per satu.


Pudel Mr. Gumb sudah sering menyaksikannya, dan anjing kecil itu memejamkan mata begitu musik
mulai terdengar, karena tahu punggungnya akan diremas-remas.
Para peserta kontes sangat bergaya Perang Dunia II. Mereka mengenakan baju renang Rose Marie
Reid, dan beberapa di antara mereka berwajah cantik. Kaki mereka pun berbentuk menawan, paling
tidak beberapa, tapi semuanya kurang kencang dan bahkan kelihatan agak kendur di sekitar lutut.
Gumb meremas pudelnya.
"Precious, ini dia, inidia inidia!"
Dan itu dia, menghampiri tangga dengan baju renang berwarna putih, memberi senyum memikat
kepada anak muda yang membantu di.tangga, lalu segera melangkah maju dengan sepatu hak tinggi,
sementara kamera membidik bagian belakang pahanya: Mom. Itu Mom.
Mr. Gumb tak perlu menyentuh remote control, semuanya sudah ia edit ketika membuat rekaman itu.
Dalam gerak mundur, Mom menuruni tangga, mengambil kembali senyumnya dari anak muda tadi,
menjauhi tangga, sekarang maju lagi, maju-mundur, maju-mundur.
Ketika ia tersenyum, Gumb ikut tersenyum.
Mom tampil sekali lagi bersama sekelompok kontestan, tapi gambar itu selalu kabur kalau dihentikan.
Lebih baik diputar seperti biasa dan melihat sekilas saja. Mom bersama peserta-peserta lain,
mengucapkan selamat kepada para pemenang.
Bagian berikut direkamnya dari televisi kabel di sebuah motel di Chicago—ia terpaksa membeli VCR
dan menginap semalam lagi agar dapat merekamnya. Film itu diputar berulang-ulang pada malam
hari oleh saluran-saluran TV kabel murahan, sebagai latar belakang iklan-iklan seks yang melintas di
bagian bawah layar. Adegan-adegan film dari tahun empat puluhan dan lima puluhan disambung-
sambung, antara lain memperlihatkan pertandingan voli di perkemahan nudis. Ada juga penggalan-
penggalan film seks dari tahun tiga puluhan, di mana para pelaku pria memakai hidung palsu dan
masih mengenakan kaus kaki. Iringan musiknya dipilih asal saja. Kini terdengar The Look of Love,
yang sama sekali tidak cocok dengan adegan yang terlihat.
Mr. Gumb tak dapat berbuat apa-apa mengenai iklan-iklan yang melintas di layar.
Ah, ini dia, sebuah kolam renang—melihat tanaman di sekelilingnya, mestinya ini di California.
Hiasan taman bermutu baik, semuanya bergaya tahun lima puluhan. Sejumlah gadis cantik berenang
telanjang. Beberapa di antara mereka mungkin pernah tampil dalam film kelas B. Riang gembira
mereka keluar dari kolam dan berlari, jauh lebih cepat dari musik pengiring, ke tangga luncuran,
memanjat, lalu-—uiiiih! Payudara mereka berayun-ayun ketika mereka meluncur, tertawa, dengan
kaki lurus ke depan.
Sekarang giliran Mom. Ini dia, keluar dari air di belakang gadis berambut keriting. Wajahnya tertutup
sebagian oleh iklan Sinderella, sebuah butik seks, tapi kini ia kelihatan menjauhi kamera. Tubuhnya
basah mengilap. Di perutnya ada luka kecil bekas operasi Caesar. Ia menaiki tangga, lalu meluncur
turun—uiiih! Begitu menawan, dan walaupun Mr. Gumb tak dapat melihat wajah wanita itu, ia tahu
itu Mom, direkam setelah terakhir kali ia benar-benar melihatnya. Kecuali dalam pikirannya, tentu
saja.
Adegan di layar TV beralih ke iklan marital aid dan mendadak berakhir.
Anjing pudel Mr. Gumb memejamkan mata dua detik sebelum dipeluk erat-erat oleh majikannya itu.
"Oh, Precious. Kemarilah ke Mommy. Mommy bakal caantik sekali."
Banyak yang harus dikerjakan, banyak yang harus dikerjakan, banyak yang harus dikerjakan untuk
besok.
Untunglah suara spesimen yang disekap di bawah tidak terdengar dari dapur, biarpun dia berteriak-
teriak sekuat tenaga. Tapi kini, ketika Mr. Gumb menuruni tangga ke basement, ia bisa
mendengarnya. Semula ia berharap tawanannya sedang tidur. Anjing pudel yang digendongnya
menggeram-geram.
"Kau saja lebih tahu sopan santun," Mr. Gumb berbisik ke telinga anjingnya.
Ruang sumur bisa dicapai melalui pintu di sebelah kiri kaki tangga. Mr. Gumb tidak menghiraukan
teriakan-teriakan yang terdengar dari sana, menengok pun tidak—baginya, suara dari lubang sumur
itu sedikit pun tidak menyerupai bahasa Inggris.
Mr. Gumb membelok ke ruang kerja di sebelah kanan, menurunkan pudelnya, dan menyalakan
lampu. Beberapa ngengat mengepak-ngepakkan sayap, lalu bertengger pada kawat pelindung lampu
di langit-langit.
Mr. Gumb sangat rapi di ruang kerjanya. Semua larutan dicampurnya dalam wadah baja tahan karat.
Ia tak pernah menggunakan wadah aluminium.
Ia telah terbiasa mempersiapkan segala sesuatu jauh sebelum waktunya. Sambil bekerja, ia berkata
kepada dirinya sendiri:
Kau harus rapi, kau harus teliti, kau harus cekatan, sebab masalah-masalahnya sangat besar.
Kulit manusia cukup berat—enam belas sampai delapan belas persen berat seluruh tubuh—dan licin.
Satu kulit utuh sukar ditangani dan mudah terlepas dari tangan saat masih basah. Waktu juga penting;
begitu dilepaskan, kulit segera mulai mengerut, terutama pada orang dewasa muda, yang kulitnya
paling kencang.
Ditambah lagi dengan sifat kulit yang tidak elastis sempurna, biarpun berasal dari spesimen muda.
Sekali direnggangkan, kulit takkan kembali ke proporsi semula. Kulit yang dijahit licin namun ditarik
terlalu keras saat dipasang pada maneken akan menggembung dan mengisut. Duduk di mesin jahit
sambil mencucurkan air mata takkan ada gunanya. Lalu masih ada garis-garis pembelah, dan letak-
letaknya harus diketahui dengan tepat. Daya regang kulit tidak sama untuk semua arah; jika'kulit
ditarik ke arah yang salah, bekasnya takkan hilang.
Kulit yang masih basah, luar biasa sulit dikerjakan. Mr. Gumb harus bereksperimen dan acap kali
terpaksa menahan kecewa sebelum keterampilannya mencapai tingkat memadai.
Ia telah sampai pada kesimpulan bahwa cara-cara lamalah yang terbaik. Prosedur yang digunakannya
adalah sebagai berikut: Mula-mula ia rrierendam bahan bakunya dalam akuarium berisi sari
tumbuhan yang dikembangkan penduduk asli Amerika—semuanya bahan alami tanpa garam-garam
mineral. Kemudian ia memakai metode yang menghasilkan kulit rusa yang lembut tak tertandingi—
penyamakan klasik dengan menggunakan otak. Penduduk asli Amerika percaya bahwa otak setiap

ben99 ebooks collections 87


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

binatang cukup besar untuk menyamak kulitnya sendiri. Mr. Gumb tahu ini tidak benar, dan ia sudah
lama berhenti mencobanya, biarpun dengan primata berotak paling besar. Freezer-nya kini penuh otak
sapi, sehingga tak perlu kuatir kehabisan persediaan.
Mr. Gumb sanggup mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan proses penyamakan; sudah
cukup lama ia berlatih.
Masalah-masalah struktural yang akan dihadapinya pun tak membuatnya gentar.
Ruang kerjanya menyambung ke koridor yang menuju bekas kamar mandi tempat Mr. Gumb
menyimpan katrol dan jam, juga ke studio dan ruang kosong yang luas dan gelap di baliknya.
Mr. Gumb membuka pintu studio dan disambut cahaya terang benderang—lampu-lampu sorot dan
lampu neon, semuanya lampu khusus yang memancarkan cahaya menyerupai cahaya siang, terpasang
pada balok-balok di langit-langit. Sejumlah maneken berpose pada pelataran yang terbuat dari kayu
ek. Semuanya tidak berpakaian lengkap, ada yang mengenakan baju kulit, ada yang mengenakan baju
dari bahan tipis yang akan digunakan sebagai pola. Bayangan delapan maneken tampak pada cermin-
cermin di dua sisi dinding—cermin-cermin besar berlapis emas, bukan potongan-potongan seukuran
keramik. Sebuah meja rias berisi kosmetik, sejumlah wig, serta kepala plastik untuk menyimpan wig.
Inilah studio yang paling terang.
Maneken-maneken itu mengenakan baju pesanan yang tengah dikerjakan, sebagian besar tiruan ran-
cangan Armani dari kulit cabretta hitam.
Pada dinding ketiga ada meja kerja berukuran besar, dua mesin jahit, dua boneka torso untuk menge-
pas baju, serta satu lagi yang dibuat berdasarkan ukuran tubuh Jame Gumb.
Pada dinding keempat terdapat lemari besar hitam dengan motif-motif Cina yang hampir menyentuh
langit-langit setinggi hampir dua setengah meter. Lemari itu sudah tua dan motif-motifnya sudah
pudar; beberapa sisik emas merupakan sisa gambar naga, matanya yang putih masih kelihatan jelas,
dan di sebelahnya tampak lidah merah naga lain yang badannya sudah lenyap. Lapisan lak di bawah
motif-motif itu masih utuh, walaupun sudah retak-retak.
Lemari besar itu tidak ada sangkut-pautnya dengan baju-baju pesanan. Isinya adalah Proyek Khusus,
dan pintunya tertutup rapat.
Anjing pudel kecil itu menjilat-jilat air dari mangkuknya di pojok, lalu berbaring di antara kaki salah
satu maneken sambil menatap Mr. Gumb.
Sebenarnya Mr. Gumb sedang mengerjakan jaket kulit. Ia ingin segera menyelesaikannya agar tak
ada yang mengganggu nanti, namun jiwa kreatifnya sedang meluap-luap, dan ia belum puas dengan
pola Proyek Khusus.
Keterampilan menjahit Mr. Gumb telah jauh melampaui apa yang diajarkan padanya oleh California
Department of Corrections ketika ia masih muda, tapi ini merupakan tantangan besar. Mengerjakan
kulit cabretta yang tipis pun bukan persiapan memadai untuk pekerjaan yang benar-benar halus.
Ia telah membuat dua pola dari bahan tipis, satu sesuai ukurannya sendiri, satu lagi berdasarkan
ukuran yang diambilnya saat Catherine Baker Martin belum siuman. Ketika memasang pola yang
lebih kecil pada boneka torso, masalah-masalahnya segera terlihat. Catherine Martin memang besar
untuk ukuran wanita, dan juga mempunyai proporsi yang baik, namun ia tidak sebesar Mr. Gumb,
dan punggungnya kalah lebar.
Cita-cita Mr. Gumb adalah baju tanpa sambungan. Itu tidak mungkin. Tapi ia telah bertekad membuat
baju dengan bagian depan tanpa jahitan. Berarti semua koreksi harus dilakukan di bagian belakang.
Sulit sekali. Ia telah membuang satu pola dan mulai dari awal lagi. Dengan meregangkan kulitnya
secara hati-hati, ia cukup membuat dua irisan segitiga di ketiak— bukan irisan gaya Prancis,
melainkan irisan vertikal dengan ujung menghadap ke bawah. Dan dua irisan pinggang di belakang,
di sebelah dalam ginjal. Ia sudah terbiasa bekerja dengan memberi kelonggaran sedikit saja untuk
membuat keliman.
Pertimbangannya melampaui aspek visual dan juga mencakup indra peraba; bukan tidak mungkin
bahwa orang yang atraktif akan dipeluk.
Mr. Gumb menaburkan bedak ke telapak tangan, lalu memeluk dengan gaya alami dan santai boneka
torso yang meniru bentuk tubuhnya.
"Ciumlah aku," ia bergurau sambil menatap tempat kosong di mana seharusnya ada kepala. "Bukan
kau, bodoh," katanya ketika anjingnya menoleh.
Gumb membelai-belai punggung boneka sejauh tangannya bisa menjangkau. Kemudian ia berjalan ke
belakangnya dan mengamati bercak-bercak bedak. Tak seorang pun ingin meraba jahitan. Tapi saat
berpelukan, tangan kita tumpang tindih di tengah punggung. Selain itu, ia berkata dalam hati, kita
juga terbiasa dengan garis tulang belakang. Berarti ia tidak dapat membuat sambungan di bahu.
Jawabannya adalah irisan segitiga di bagian atas tulang belakang, dengan ujung sedikit di atas titik
tengah tulang belikat. Jahitan itu sekaligus akan berfungsi sebagai penahan lapisan dalam. Panil-panil
Lycra akan dipasang di balik placket di kedua sisi—jangan lupa membeli Lycra—dan penutup
Velcro di balik placket sebelah kanan. Ia membayangkan gaun-gaun Charles James yang menawan,
dengan jahitan bersusun agar datar sempurna.
Jahitan di punggung akan tertutup oleh rambutnya, atau tepatnya, rambut yang akan dibiarkan
tumbuh panjang.
Mr. Gumb melepaskan pola dari boneka torso dan mulai bekerja.
Mesin jahitnya sudah tua, semula digerakkan dengan pedal kaki, namun sekitar empat puluh tahun
lalu dilengkapi motor listrik. Pada mesin itu terdapat tulisan dari emas "Aku Tak Pernah Lelah. Aku
Melayanimu." Pedal kakinya masih berfungsi, dan Gumb menggerakkannya setiap kali mulai
menjahit. Untuk jahitan halus, ia selalu membuka sepatu agar lebih mudah mengendalikan laju
mesinnya. Beberapa saat hanya ada suara mesin jahit, suara dengkur anjingnya, dan suara mendesis
dari pipa-pipa uap di dalam basement yang hangat.
Setelah selesai membuat jahitan pada pola, ia mencobanya di depan cermin. Anjing kecilnya
menonton dari pojok, sambil memiringkan kepala.
Jahitannya perlu dilonggarkan sedikit di bawah lubang tangan. Lalu masih ada beberapa masalah
dengan facing dan interfacing. Selain itu, semuanya sudah sesuai keinginannya. Luwes, namun
sekaligus ketat. Ia membayangkan dirinya bergegas menaiki tangga luncuran di tepi kolam renang.
Mr. Gumb lalu bereksperimen dengan lampu dan wig untuk memperoleh kesan dramatis, dan ia juga

ben99 ebooks collections 88


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

mencoba kalung mutiara yang indah. Semua orang akan tercengang jika ia memakai gaun dengan
belahan di dada.
Sebenarnya ia tergoda untuk melanjutkan pekerjaannya, tapi matanya letih. Ia tak ingin tangannya
gemetaran, dan ia pun sedang tidak siap menghadapi kegaduhan. Dengan sabar ia membuka semua
jahitan dan menyusun bagian-bagian polanya—pola yang sempurna.
"Besok, Precious," ia berkata kepada anjingnya sambil mengeluarkan otak sapi dari freezer agar
melunak. "Pagi-pagi besok. Mommy bakal caaantik sekali!"

Bab Empat Puluh Tujuh

Starling tidur seperti mati selama lima jam, lalu mendadak terbangun di malam buta, tergugah rasa
takut pada mimpinya. Ia menggigit sudut selimut dan menutup telinga dengan kedua tangan, untuk
memastikan ia betul-betul telah terjaga dan aman. Hening, anak-anak domba tak lagi mengembik-
embik. Perlahan-lahan detak jantungnya kembali normal, tapi kakinya tetap tak mau diam di balik
selimut. Ia tahu emosinya akan segera meledak.
Namun perasaan yang timbul dalam dirinya adalah kemarahan membara, bukan ketakutan
mencekam, dan ia menarik napas lega.
"Brengsek," katanya, lalu mengangkat sebelah kaki. Sepanjang hari tadi ia telah mengalami banyak
hal. Ia diusir oleh Chilton, dihina oleh Senator Martin, dikorbankan dan dimarahi oleh Krendler,
diejek oleh Lecter dan dikejutkan oleh pelariannya, kemudian dibebastugaskan oleh Jack Crawford.
Tapi dari semua kejadian itu, ada satu yang paling menyakitkan: dituduh sebagai pencuri.
Senator Martin adalah ibu yang sedang mengalami cobaan berat, dan ia sudah muak melihat para
petugas
Perlukah ia terus berjaga-jaga terhadap Krendler selama sisa hidupnya?
Di hadapan Senator Martin, orang itu berusaha mencuci tangan. Setiap kali teringat kejadian tersebut,
Starling kembali sakit hati. Krendler tidak percaya bahwa amplop itu berisi barang bukti. Keterlaluan.
Starling membayangkan Krendler, dan ia melihatnya memakai sepatu model oxford angkatan laut
seperti si wali kota, atasan ayahnya, ketika datang untuk mengambil mesin absen.
Yang lebih gawat, Jack Crawford kini tampak kecil di mata Starling. Orang itu menghadapi masalah
yang nyaris tak tertahankan oleh siapa pun. Ia menyuruh Starling memeriksa mobil Raspail tanpa du-
kungan maupun bukti otoritas. Oke, memang Starling sendiri yang menginginkannya—kesulitan yang
timbul hanyalah suatu kebetulan. Tapi Crawford seharusnya tahu akan ada persoalan ketika Senator
Martin melihat Starling di Memphis; persoalan tetap akan muncul, biarpun Starling tidak menemukan
foto-foto itu.
Catherine Baker Martin tergeletak dalam kegelapan yang sama seperti yang menyelubungi dirinya
sekarang. Hal itu terlupakan sejenak, sementara Starling memikirkan masalahnya sendiri.
Bayangan-bayangan mengenai kejadian-kejadian dalam beberapa hari terakhir seakan-akan hendak
menghukum Starling atas kelalaiannya. Semuanya timbul dengan warna terang, warna mencolok,
warna yang muncul dari kegelapan pekat saat petir menyambar pada malam hari.
Kimberly yang kini menghantui pikirannya. Kimber-ly yang gemuk dan malang, yang menindik
telinga a<rar tampak cantik dan menabung untuk menghilangkan bulu di kakinya. Kimberly tanpa
bulu. Kimberly saudaranya. Starling tidak yakin Catherine Baker Martin mau peduli pada Kimberly.
Kini mereka terikat oleh nasib. Kimberly yang terbaring di rumah duka, di tengah Starling tak tahan
lagi. Ia berusaha memalingkan wajah, bagaikan perenang yang menoleh untuk menarik napas.
Semua korban Buffalo Bill wanita, obsesinya adalah wanita, ia hidup untuk memburu wanita. Tapi
tak satu wanita pun memburu Buffalo Bill sebagai pekerjaan utama. Tak satu penyelidik wanita pun
mempelajari semua kejahatannya.
Starling bertanya-tanya, apakah Crawford berani memanfaatkannya sebagai teknisi saat harus
menangani Catherine Baker Martin. Crawford meramalkan Catherine akan dihabisi besok. Dihabisi.
Dihabisi. Dihabisi.
"Sialan!" Starling mengumpat keras-keras, lalu mengayunkan kaki ke lantai.
"Kau bawa orang idiot ke tempat tidur, ya, Starling?" ujar Ardelia Mapp. "Kauselundupkan dia
kemari waktu aku sedang tidur, dan sekarang kau memberikan instruksi padanya—jangan kausangka
aku tidak dengar."
"Sori, Ardelia, aku tidak..."
"Kau harus lebih spesifik, Starling. Yang kaukatakan tadi belum cukup. Merayu idiot persis sama
seperti jurnalisme. Kau harus menjelaskan Apa, Ka-Pan, Di Mana, dan Bagaimana. Kukira soal
Kenapa akan jelas dengan sendirinya." "Kau punya baju kotor yang perlu dicuci?" "Sepertinya kau
menanyakan pakaian kotor?" "Yap, rasanya aku mau cuci pakaian dulu. Mau titip?"
"Cuma ada celana training di belakang pintu." "Oke. Pejamkan mata. Aku mau menyalakan lampu
sebentar."
Bukan catatan Fourth Amendment untuk ujian yang akan datang yang ditaruhnya di atas tumpukan
baju kotor dan digotong ke ruang cuci.
Ia membawa berkas Buffalo Bill, tumpukan kertas setebal sepuluh senti penuh penderitaan,
sampulnya ditulis dengan tinta berwarna darah. Juga terlampir printout hotline mengenai laporannya
tentang Ngengat Tengkorak.
Berkas itu harus dikembalikan besok, dan jika ia menginginkan isinya lengkap, cepat atau lambat ia
harus menyisipkan laporannya. Di ruang cuci yang hangat, diiringi bunyi mesin cuci yang berirama,
ia melepaskan tali karet yang mengikat berkas itu. Kertas-kertasnya ia susun pada rak untuk melipat
pakaian, dan ia berusaha menyisipkan laporannya tanpa memandang foto-foto yang terlihat, tanpa
membayangkan foto-foto yang mungkin akan segera ditambahkan. Petanya terletak paling atas. Tapi

ben99 ebooks collections 89


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

pada peta itu ada tulisan tangan.


Tulisan tangan Dr. Lecter yang anggun melintasi Great Lake, dan berkata:

Clarice, bukankah penyebaran lokasi yang acak ini berkesan terlalu dibuat-buat? Terlalu acak?
Berlebihan? Bukankah ini menyerupai cerita seseorang yang tidak pandai berbohong?
Ta,
Hannibal Lecter

P.S. Jangan buang-buang waktu, kau takkan menemukan apa pun lagi.
Starling menghabiskan dua puluh menit dengan membolak-balik halaman, sebelum yakin memang
tidak ada apa-apa lagi.
Ia menghubungi hotline dari telepon umum di lorong dan membacakan pesan itu kepada Burroughs.
Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah Burroughs tidak pernah tidur.
"Asal tahu saja, Starling, saat ini informasi dari Lecter tidak terlalu laku," ujar Burroughs. "Kau sudah
diberitahu Jack soal Billy Rubin?"
"Belum."
Starling bersandar ke dinding dan memejamkan mata sambil'mendengarkan penjelasan mengenai
lelucon Dr. Lecter.
"Entahlah," Burroughs akhirnya berkata. "Jack bilang klinik-klinik ganti kelamin itu akan terus
ditekan, tapi seberapa keras? Kalau kita amati informasi di komputer, cara informasi itu disusun,
terlihat bahwa semua keterangan Lecter diberi awalan khusus, baik yang kauperoleh maupun yang
didapat di Memphis. Semua informasi dari Baltimore atau dari Memphis, atau kedua-duanya, bisa
dihapus dengan sekali menekan tombol. Sepertinya pihak Kehakiman mau menyingkirkan semuanya
itu. Aku terima memo yang menyatakan serangga di tenggorokan Klaus, ehm, sebentar, 'tersangkut
tidak sengaja'."
"Tapi Anda akan menyampaikannya pada Mr. Crawford, bukan?" tanya Starling.
"Tentu, informasi ini akan tampil di monitornya, tapi untuk sementara aku tidak akan menelepon dia.
Kau juga jangan. Belia meninggal beberapa waktu lalu."
"Oh," ujar Starling.
"Aku juga ada kabar baik untukmu. Orang-orang kita di Baltimore sudah memeriksa sel Lecter di
rumah sakit jiwa. Mereka dibantu penjaga bernama Barney. Mereka menemukan serpihan logam pada
kepala baut di tempat tidur Lecter, tempat dia membuat kunci borgolnya. Tenang saja, Nak. Namamu
akan harum nanti."
Namanya harum. Tapi hidungnya harus digosok Vicks VapoRub.
Fajar menyingsing pada hari terakhir dalam hidup Catherine Martin.
Apa yang dimaksud Dr. Lecter?
Tak ada yang bisa memastikan apa yang dimaksud orang itu. Ketika berkas kasus diserahkan, Starling
menyangka Lecter akan menikmati foto-foto yang terpampang dan menggunakan berkas itu sebagai
tameng untuk menceritakan hal-hal yang telah diketahuinya mengenai Buffalo Bill.
Barangkali sejak awal Lecter sudah berbohong, seperti ia membohongi Senator Martin. Barangkali ia
tidak mengetahui apa pun mengenai Buffalo Bill.
Pengamatannya tajam—nyatanya dia memahami aku luar-dalam. Rasanya sukar menerima kenyataan
bahwa seseorang memahami kita tanpa bermaksud baik terhadap kita. Starling masih muda dan ini
sesuatu yang baru baginya.
Terlalu acak, demikian Dr. Lecter berkomentar.
Starling dan Crawford dan semua orang lain sudah kenyang menatap peta dengan titik-titik yang
menandakan lokasi penculikan dan lokasi mayat ditemukan. Di mata Starling, susunan itu tampak
bagaikan gugus bintang, dan ia tahu seksi Ilmu Perilaku sempat mencocokkannya dengan tanda-tanda
zodiak, namun tanpa hasil.
Jika Dr. Lecter membaca sekadar untuk mengisi waktu, untuk apa ia mengotak-atik peta itu? Starling
membayangkannya membalik-balik laporan tersebut sambil mencemooh gaya tulisan beberapa
kontributor.
Lokasi-lokasi penculikan dan pembuangan mayat tidak menunjukkan pola tertentu. Tanggal-
tanggalnya tidak bertepatan dengan pertemuan-pertemuan bisnis maupun dengan laporan mengenai
pencurian yang berkaitan dengan perilaku menyimpang.
Sementara cuciannya berputar dalam mesin pengering, Starling menelusuri peta dengan jari. Di sini
korban diculik, di sana mayatnya dibuang. Di sini penculikan kedua, di sana mayatnya ditemukan. Di
sini yang ketiga dan—Tapi tanggalnya terbalik atau, bukan, mayat kedua memang ditemukan lebih
dulu.
Fakta itu tercatat di samping tanda bintang pada peta, tanpa diberi komentar. Mayat korban kedua
ditemukan pertama mengapung di Sungai Wabash di pusat kota Lafayette, Indiana, tidak jauh dari
Interstate 65.
Wanita muda pertama yang dilaporkan hilang diculik di Belvedere, Ohio, di dekat Columbus, dan
belakangan ditemukan di Sungai Blackwater di Missouri, di luar Lone Jack. Berbeda dengan para
korban lain, tubuhnya diberi pemberat.
Tubuh korban pertama ditenggelamkan di daerah terpencil. Korban kedua dibuang ke sungai di
sebelah hulu sebuah kota, sehingga pasti cepat ditemukan.
Kenapa?.
Korban pertama sengaja disembunyikan, korban kedua tidak. Kenapa?
Apa yang dimaksud dengan "terlalu acak?"
Utamakan yang utama. Apa kata Dr. Lecter mengenai "hal utama?" Apa maksud dari segala
keterangan Dr. Lecter?
Starling menatap catatan yang dibuatnya ketika terbang ke Memphis.
Dr. Lecter bilang, keterangan di dalam berkas kasus ini sudah memadai untuk menemukan si pem-
bunuh. "Kesederhanaan," katanya. Ada apa dengan "hal utama," apa yang menjadi hal utama? Ah—
"prinsip-prinsip utama" yang harus diperhatikan.
Apa hal utama, hal pokok yang dilakukannya, kebutuhan apa yang dipenuhinya dengan membunuh?

ben99 ebooks collections 90


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Dia berhasrat mendapatkan sesuatu. Bagaimanakah awal mula kita mendambakan sesuatu? Kita
mulai dengan mendambakan sesuatu yang kita lihat setiap hari.
Starling lebih mudah merenungkan pernyataan-pernyataan Dr. Lecter tanpa merasakan tatapannya
yang tajam. Ia lebih mudah memikirkan segala sesuatu di asrama yang aman.
Kalau memang benar bahwa yang kita dambakan adalah sesuatu yang kita lihat sehari-hari,
mungkinkah Buffalo Bill sendiri terkejut ketika membunuh korbannya yang pertama? Mungkinkah ia
membunuh seseorang yang dikenalnya? Itukah sebabnya ia menyembunyikan korban pertama, dan
membiarkan korban kedua ditemukan dalam waktu singkat? Apakah ia menculik korban kedua jauh
dari rumah, lalu membuangnya di tempat korban cepat ditemukan untuk menimbulkan kesan lokasi
penculikan dipilih secara acak?
Setiap kali Starling memikirkan para korban, yang pertama muncul dalam benaknya adalah Kimberly
Emberg, sebab ia sempat melihat Kimberly tergeletak tak bernyawa.
Lalu korban pertama. Fredrica Bimmel, dua puluh dua tahun, Belvedere, Ohio. Ada dua foto. Pada
foto dari buku tahunan, ia tampak besar dan tidak menarik, dengan rambut lebat dan kulit mulus.
Pada foto kedua, yang diambil di kamar mayat Kansas City, ia tak lagi menyerupai manusia.
Starling kembali menelepon Burroughs. Suara orang itu agak serak, tapi ia mendengarkannya dengan
sabar.
"Jadi, apa maksudmu, Starling?"
"Barangkali dia tinggal di Belvedere, Ohio, sama seperti korban pertama. Barangkali mereka bertemu
setiap hari, dan dia membunuhnya secara spontan. Barangkali dia semula sekadar ingin...
mentraktirnya minum dan mengobrol soal kor. Jadi, dia menyembunyikannya dengan saksama,
kemudian menculik korban kedua jauh dari rumah. Yang ini sengaja dibuang di tempat yang mudah
ditemukan, untuk mengalihkan perhatian ke tempat lain. Anda tahu sendiri bagaimana laporan orang
hilang ditanggapi sebelum mayatnya ditemukan."
"Starling, hasilnya akan lebih baik kalau jejaknya masih hangat. Orang-orang mengingat lebih
banyak, para saksi..."
"Itu yang saya maksud. Dia tahu itu."
"Sekarang, misalnya, kau tak bisa berbuat apa-apa tanpa diketahui polisi di kota asal korban
terakhir— Kimberly Emberg dari Detroit. Kimberly Emberg mendadak jadi pusat perhatian sejak
anak Senator Martin menghilang. Tiba-tiba saja semua orang jadi sibuk dengan urusan itu. Tapi ingat,
informasi ini bukan dariku."
"Maukah Anda bicara dengan Mr. Crawford, soal kota pertama itu?"
"Tentu. Aku juga akan memasukkannya ke hotline untuk diketahui semua orang. Aku tidak
mengatakan ini ide buruk, Starling, tapi seluruh kota Belvedere sudah diperiksa begitu wanita
tersebut—siapa namanya, Bimmel, bukan?—begitu Bimmel ditemukan. Bukan cuma oleh kepolisian
setempat, tapi juga oleh perwakilan kita di Columbus. Pagi ini kau takkan bisa membangkitkan minat
terhadap Belvedere atau teori-teori lain dari Dr. Lecter."
"Dia hanya..."
"Starling, kita akan memberikan sumbangan kepada UNICEF atas nama Belia. Kalau mau ikut,
namamu akan kucantumkan di kartunya."
"Tentu, terima kasih, Mr. Burroughs."
Starling mengeluarkan cuciannya dari alat pengering. Baju-baju yang hangat itu terasa lembut dan
berbau wangi. Ia mendekap semuanya erat-erat.
Ibunya membawa setumpuk seprai. Hari ini hari terakhir dalam hidup Catherine. Burung gagak
berbulu hitam-putih mencuri dari kereta dorong. Ia tak mungkin mengusirnya di luar dan sekaligus
berada di dalam ruangan. Hari ini hari terakhir dalam hidup Catherine. Ayahnya mengayunkan tangan
sebagai pengganti lampu sein saat membelokkan pickup-nya ke pekarangan. Waktu masih kecil, ia
menyangka tangan ayahnya memberitahu mobil itu ke mana harus membelok, memberi perintah
untuk membelok.
Starling menitikkan air mata ketika memutuskan langkah selanjutnya. Dan ia membenamkan
wajahnya ke cucian yang hangat.

Bab Empat Puluh Delapan

Crawdfqrd keluar dari rumah duka dan menoleh ke kiri-kanan, mencari-cari mobil yang dikemudikan
Jeff. Namun yang dilihatnya justru Starling, yang mengenakan setelan jas berwarna gelap dan
menunggu di bawah awning. "Tugaskanlah aku," Starling berkata. Crawford baru saja memilih peti
jenazah untuk istrinya dan membawa kantong kertas berisi sepatu Belia yang sebenarnya tidak perlu
dibawa. Ia mengalihkan pikirannya. •
"Aku minta maaf," ujar Starling. "Aku takkan datang sekarang kalau ada kesempatan lain. Tugas-
kanlah aku."
Crawford menyelipkan tangan ke kantong dan tiba-tiba menggerakkan kepala hingga tulang lehernya
berbunyi. Matanya bersinar-sinar. "Tugaskan ke mana?"
"Anda mengirimku untuk mempelajari Catherine Martin—sekarang aku perlu mempelajari yang lain.
Kita tinggal mengusut cara Buffalo Bill berburu. Bagaimana dia menemukan para korbannya, bagai-
mana dia menculik mereka. Soal penyelidikan, aku tidak kalah dari anak buah Anda yang lain, dan
dalam beberapa hal aku malah lebih baik. Semua korbannya wanita, dan tidak ada wanita yang mena-
ngani kasus ini. Aku bisa masuk ke kamar wanita dan mengetahui tiga kali lebih banyak mengenai
dia daripada penyelidik pria, dan Anda tahu itu benar. Tugaskanlah aku."

ben99 ebooks collections 91


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Kau siap disuruh mengulang dari awal?"


"Ya." ,
"Kemungkinan besar kau akan rugi enam bulan."
Starling diam saja.
Crawford menendang-nendang rumput dengan ujung sepatu, lalu menatap Starling. Wanita itu mem-
punyai keberanian, seperti Belia. "Kau mau mulai dari mana?"
"Dengan yang pertama, Fredrica Bimmel, Belvedere, Ohio."
"Bukan dengan Kimberly Emberg yang sempat kaulihat?"
"Dia tidak mulai dengan Kimberly." Perlukah Lecter disebut? Tidak. Dia akan melihatnya di hotline.
"Emberg adalah pilihan yang emosional, bukan begitu, Starling? Ongkos perjalananmu akan diganti
setelah kau pulang. Kau punya uang?" Bank-bank baru buka satu jam lagi.
"Masih ada sisa di Visa saya."
Crawford merogoh kantongnya. Ia memberikan tiga ratus dolar tunai serta sebuah cek.
"Berangkatlah, Starling. Yang pertama saja. Hubungi hotline. Dan telepon aku."
Starling hendak menyodorkan tangan. Namun ia tidak menyentuh wajah maupun tangan Crawford:
rasanya tak ada tempat yang dapat disentuh, jadi ia berbalik dan berlari ke Pinto-nya.
Crawford menepuk-nepuk kantong setelah Starling pergi. Ia telah memberikan seluruh uang yang
dibawanya "Sayangku perlu sepatu baru," ia berkata. "Sayangku tidak perlu sepatu lagi." Ia menangis
di tengah trotoar, seorang kepala seksi FBI, tak kuasa menahan perasaan.
Dari mobil, Jeff melihat pipi atasannya berkilau, dan ia mundur ke sebuah gang, tempat Crawford tak
bisa melihatnya. Jeff turun dari mobil dan menyalakan sebatang rokok. Sebagai hadiah untuk Craw-
ford, ia akan berdiri di sini sampai atasannya itu selesai menangis dan jengkel karena menunggu
begitu lama, sehingga mempunyai alasan untuk mendampratnya.

Bab Empat Puluh Sembilan

Pada pagi hari keempat, Mr. Gumb siap memetik panennya.


Pulang dari berbelanja barang-barang kebutuhan terakhir, ia harus menahan diri untuk tidak bergegas
menuruni tangga ke basement. Ia masuk ke studio dan membongkar kantong-kantong belanja, seam-
binding baru, beberapa panil Lycra untuk dipasang di bawah placket, sekotak garam Kosher. Tak ada
yang terlupakan.
Ia pindah ke ruang kerja dan menyusun pisau-pisaunya pada handuk bersih di samping tempat cuci
piring yang panjang. Pisaunya ada empat: pisau berpunggung lengkung untuk melepas kulit, pisau
runcing yang dapat mengikuti setiap lekuk jari telunjuk, pisau bedah untuk pekerjaan paling halus,
serta sangkur dari masa Perang Dunia Pertama. Sisi sangkur yang melengkung merupakan alat terbaik
untuk membersihkan kulit tanpa mengoyaknya.
Selain itu, ia juga memiliki gergaji bedah Strycker, namun gergaji tersebut jarang sekali digunakan,
dan ia pun menyesal telah membelinya.
Kini ia mengoleskan minyak ke kepala boneka penyimpan wig, menaburkan garam kasar, lalu mena-
ruh boneka itu di sebuah wadah dangkal. Dengan jenaka ia mencubit hidung boneka dan memberinya
ciuman jarak jauh.
Ia sulit mengendalikan diri—rasanya ia ingin menari-nari seperti Danny Kaye. Ia tertawa dan meniup
pelan untuk mengusir ngengat yang terbang di depan wajahnya.
Sudah waktunya menyalakan pompa di akuarium-akuarium berisi larutan segar yang telah
disiapkannya. Oh, sepertinya ada kepompong di dalam tanah, di dasar kandang. Ia menekan-nekan
dengan jari. Ya, ternyata memang ada.
Sekarang giliran pistolnya.
Sudah berhari-hari Mr. Gumb memikirkan cara terbaik untuk membunuh spesimen yang satu ini. Ia
tak mungkin menggantungnya, karena akan menimbulkan bercak-bercak di dada; lagi pula, ia tidak
mau mengambil risiko kulit di belakang telinga terkoyak akibat goresan simpul tali.
Mr. Gumb telah belajar dari percobaan-percobaan sebelumnya. Ia sempat membuat sejumlah
kesalahan yang cukup menyakitkan. Kini ia bertekad menghindari berbagai mimpi buruk yang sudah
dialaminya. Ada satu hal yang ia jadikan pedoman: meski lemah karena lapar dan diam karena takut,
para korbannya selalu melawan ketika melihat peralatannya.
Di masa lalu, ia kerap berburu wanita muda di basement yang gelap gulita dengan menggunakan
kacamata dan senter inframerah, dan ia sangat menikmatinya. Ia menyaksikan mereka meraba-raba
mencari jalan, mencoba bersembunyi di pojok-pojok ruangan.
Ia suka memburu mereka dengan pistol. Ia senang menggunakan pistol. Mereka selalu menjadi
bingung, kehilangan keseimbangan, menabrak-nabrak rintangan. Ia berdiri dalam kegelapan pekat
dengan mengenakan kacamata, menunggu sampai mereka menurunkan tansan dari wajah, lalu
menembak mereka di kepala. Atau di kaki dulu, di bawah lutut, agar mereka tetap bisa merangkak.
Perbuatan itu kekanak-kanakan dan sia-sia, dan ia pun telah menghentikan kebiasaan tersebut.
Untuk proyek yang sedang dikerjakan sekarang, tiga korban pertama diajaknya mandi shower di
lantai atas sebelum ditendang dari tangga dengan leher terikat tali—semuanya berjalan lancar.
Masalah baru muncul pada percobaannya yang keempat. Ia terpaksa menggunakan pistol di kamar
mandi, dan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membersihkan semua percikan darah. Ia
membayangkan gadis itu, basah kuyup, merinding, gemetaran ketika ia mengokang pistol. Ia senang
mengokangnya—klik klik— satu letusan, lalu hening.
Ia menyukai pistolnya, dan itu bisa dimengerti, sebab pistol itu memang bagus, sebuah Colt Python

ben99 ebooks collections 92


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

stainless steel dengan laras sepanjang lima belas senti. Semua pistol Python disetel khusus di custom
shop Colt, dan yang ini pun terasa enak di tangan. Ia mengokangnya, menarik picu, menahan
martilnya dengan ibu jari. Kemudian ia mengisi peluru dan menyimpan senjatanya di counter ruang
kerja.
Mr. Gumb ingin sekali menyuruh mangsanya kali lru keramas, sebab ia ingin melihatnya menyisir
rambut. Ia bisa belajar banyak, untuk membantunya
berdandan kelak, dengan memperhatikan bagaimana rambut spesimen ini tergerai. Tapi yang ini
berbadan jangkung dan tampaknya cukup kuat. Yang ini terlalu berharga untuk disia-siakan dengan
menembaknya.
Ia akan menggunakan cara lain. Ia akan mengambil katrolnya dan menawarkan kesempatan mandi,
dan setelah perempuan itu memasang tali di tubuhnya, ia akan mengatrolnya sampai tergantung di
lubang sumur, lalu menembaknya beberapa kali di bagian bawah punggung. Korbannya akan
pingsan, dan selebihnya akan dikerjakannya dengan kloroform.
Ya, itu cara terbaik. Sekarang ia akan naik dan menanggalkan baju. Ia akan membangunkan Precious
dan mengajaknya menonton video bersama-sama, kemudian mulai bekerja, telanjang bulat di
basement yang hangat, telanjang bulat seperti bayi yang baru lahir.
Kegembiraannya nyaris meluap sewaktu ia menaiki tangga. Cepat-cepat ia melepaskan baju dan
mengenakan kimono. Ia memasukkan kaset video.
"Precious, sini, Precious. Kita bakal sibuk. Ayo, Manis." Ia harus mengurung Precious di kamar tidur
di atas, sementara ia mengerjakan bagian yang bising di basement—Precious membenci kebisingan
dan selalu kalang kabut. Supaya anjing itu tidak bosan menunggu, ia sengaja membelikan sekotak
Cheweez ketika pergi belanja.
"Precious." Anjingnya tidak muncul, dan ia memanggilnya di koridor, "Precious!" dan di dapur, dan
di basement, "Precious!" Ketika memanggil di pintu ruang sumur, ia mendapat jawaban.
"Dia di bawah sini, bangsat!" seru Catherine Martin.
Mr. Gumb langsung dicekam ketakutan akan keselamatan Precious. Kemudian kemarahan
mencengkeram dirinya. Sambil menempelkan kepalan tangan ke pelipis, ia menyandarkan kening ke
kusen pintu dan berusaha mengendalikan diri. Mulutnya mengeluarkan bunyi parau dan anjing
kecilnya menyahut dengan menyalak pelan.
Ia pergi ke ruang kerja dan mengambil pistol.
Tali untuk menarik ember telah putus. Ia tidak tahu bagaimana perempuan itu melakukannya. Ter-
akhir kali talinya putus, ia menduga sebabnya karena perempuan itu berusaha memanjat. Semuanya
berusaha memanjat—hal-hal yang paling tak masuk akal pun mereka coba.
Ia membungkuk dan memandang ke bawah. Nada suaranya terkendali.
"Precious, kau tidak apa-apa? Jawablah."
Catherine mencubit pantat anjing itu. Precious berkaing-kaing dan mencoba menggigit lengan
Catherine.
"Bagaimana?" ujar Catherine.
Mr. Gumb sesungguhnya enggan bicara dengan perempuan itu, namun ia tidak punya pilihan.
"Aku akan menurunkan keranjang. Masukkan dia ke dalamnya."
"Turunkan pesawat telepon atau aku terpaksa mematahkan lehernya. Aku tidak berniat buruk terha-
dapmu, dan aku tidak mau mencelakakan anjing kecil ini. Aku hanya minta telepon."
Mr. Gumb mengangkat pistolnya. Catherine melihat siluet moncong senjata dalam cahaya lampu. Ia
segera merunduk dan mengangkat anjing pudel itu
sebagai perisai. Dari atas terdengar bunyi klik, menandakan pistol telah dikokang.
"Kalau kau menembak, berdoalah supaya aku langsung mati, sebab kalau tidak, lehernya akan kupa-
tahkan. Demi Tuhan, lehernya akan kupatahkan."
Ia mengepit anjing itu, mencengkeram moncongnya dengan sebelah tangan, dan mengangkat
kepalanya. "Mundur, haram jadah!" Anjing kecil itu merintih: rintih. Pistol di atas menghilang dari
pandangan.
Catherine menyibakkan rambut di keningnya yang basah oleh keringat. "Aku tidak bermaksud
menghinamu," katanya. "Aku cuma minta telepon. Kau boleh pergi, aku tidak peduli, aku tidak tahu
tampangmu. Precious akan kurawat baik-baik."
"Tidak."
"Kujamin dia takkan kekurangan apa pun. Pikirkan kepentingan dia, jangan hanya kepentinganmu
sendiri. Dia bakal tuli kalau kau menembak di sini. Aku cuma minta telepon. Pasang kabel-kabel
tambahan dan turunkan pesawatnya ke sini. Anjingmu akan kukirim ke mana pun kauinginkan,
dengan pesawat terbang. Keluargaku memelihara anjing. Ibuku pencinta anjing. Kau bebas pergi, aku
tidak peduli apa yang kaulakukan."
"Kau takkan kuberi air."
"Aku masih punya air di botol, dan airnya takkan kubagi dengan Precious. Maaf, tapi sepertinya kaki-
nya patah." Itu tidak benar—anjing kecil itu, berikut ember yang digunakan untuk mengikat umpan,
jatuh menimpa Catherine dan justru pipi Catherine yang tergores cakar Precious yang meronta-ronta.
Ia tak bisa menurunkannya, sebab orang di atas akan tahu
itu tidak pincang. "Dia kesakitan. Kakinya rtekuk dan dia berusaha menjilatnya. Aku tidak :ga
melihat dia menderita," Catherine berbohong. "Dia harus dibawa ke dokter hewan."
Raungan kemarahan Mr. Gumb membuat anjing kecil itu kembali merintih. "Tahu apa kau soal itu,"
ujar Mr. Gumb. "Awas, kalau kau menyakiti dia, akan kusiram kau dengan air panas."
Catherine Martin mendengar suara langkah menaiki tangga dan ia terduduk sambil gemetaran. Ia tak
sanggup lagi memegang Precious, tak sanggup menahan kencing, tak sanggup melakukan apa pun.
Ketika anjing kecil itu naik ke pangkuannya, ia segera mendekapnya dan bersyukur atas kehangatan
yang diberikannya.

ben99 ebooks collections 93


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Bab Lima Puluh

Bulu burung tampak mengambang di air yang cokelat pekat, bulu-bulu dari kandang-kandang
merpati, terbawa embusan^angin yang membelai permukaan sungai.
Papan-papan iklan yang dipasang para makelar rumah di depan rumah-rumah di Fell Street, jalan
tempat tinggal Fredrica Bimmel di Belvedere, Ohio, sebuah kota industri berpenduduk 112.000 orang
di sebelah timur Columbus, menjanjikan pemandangan sungai karena pekarangan-pekarangan
belakang menghadap ke anak sungai Licking, yang sesungguhnya tidak pantas menyandang sebutan
sungai.
Lingkungan kumuh itu terdiri atas rumah-rumah tua yang besar. Beberapa rumah dibeli murah oleh
pasangan-pasangan muda dan telah direnovasi dengan enamel Sears Best, sehingga rumah-rumah
yang lain justru kelihatan lebih buruk lagi. Rumah keluarga Bimmel belum direnovasi.
Clarice Starling berhenti sejenak di pekarangan belakang Fredrica, dengan tangan terselip di kantong
mantel. Ia menatap bulu-bulu yang mengambang di air. Di tengah ilalang masih terdapat sisa salju
yang tampak biru di bawah langit biru pada hari yang tidak terlalu dingin ini.
Ia mendengar ayah Fredrica memalu di antara kandang-kandang merpati yang membentang dari tepi
air sampai hampir ke rumah. Ia belum bertemu Mr. Bimmel. Para tetangga mengatakan pria itu
berada di rumah. Wajah mereka berkesan kencang ketika mengatakannya.
Starling sendiri sedang mengalami pergulatan batin. Saat menyadari di tengah malam buta bahwa ia
harus meninggalkan Academy untuk memburu Buffalo Bill, berbagai suara yang selama ini
membebani pikirannya mendadak lenyap, jiwanya terasa tenang dan tenteram. Namun kini hati
kecilnya terus berbisik bahwa ia telah melakukan tindakan bodoh.
Masalah-masalah sepele sepanjang pagi tak digubrisnya—baik penerbangan ke Columbus dengan
pesawat yang pengap maupun kekacauan di tempat penyewaan mobil. Ia sempat membentak petugas
yang melayaninya agar bekerja lebih giat, namun perasaannya tetap kosong.
Starling membayar harga tinggi untuk kesempatan ini dan ia bertekad memanfaatkannya sebaik
mungkin. Waktu yang dimilikinya bisa habis sekonyong-konyong, jika perintah Crawford dibatalkan
dan ia disuruh kembali.
Ia perlu bekerja, cepat. Memikirkan penderitaan Catherine pada hari terakhir ini hanya membuang-
buang waktu.
Angin berhenti dan permukaan air tampak selicin kaca. Sebuah bulu berputar-putar di dekat kaki
Star-ling. Bertalianlah, Catherine.
Starling menggigit bibir. Kalau Buffalo Bill sampai menembaknya, mudah-mudahan ia bisa
menembak dengan benar, kata Starling dalam hati.
Bimbinglah kami untuk peduli dan tidak peduli.
Bimbinglah kami untuk diam.
Ia berpaling ke deretan kandang merpati dan menyusuri papan-papan yang tergeletak di lumpur, me-
nuju bunyi palu tadi. Ia melihat ratusan merpati dengan berbagai warna dan ukuran; ada yang besar
dengan kaki pengkar keluar, ada yang menggembungkan tembolok dan membusungkan dada.
Burung-burung itu merentangkan sayap di bawah sinar matahari yang pucat dan mendekur-dekur
ketika Starling lewat.
Ayah Fredrica, Gustav Bimmel, jangkung dan berpinggang lebar. Matanya yang berwarna biru muda
dikelilingi bayangan merah. Topi rajut yang menutupi kepalanya ditarik sampai menutupi alis. Ia
sedang membuat kandang merpati lagi di depan gudang peralatan. Starling mencium bau vodka
ketika pria itu mengamati kartu identitasnya sambil memicingkan mata.
"Tidak ada hal baru yang bisa saya ceritakan kepada Anda," kata Bimmel. "Kemarin dulu, polisi
kemari lagi untuk membahas keterangan saya. Mereka membacakannya kembali. 'Betulkah itu?
Betulkah itu?' Saya bilang, tentu saja betul, kalau tidak betul, untuk apa saya ceritakan waktu itu."
"Saya berusaha memperoleh gambaran di mana... di mana si penculik mungkin bertemu Fredrica. Di)
mana dia mungkin melihatnya dan memutuskan untuk menculiknya."
-Fredrica sempat pergi naik bus ke Columbus ntuk melamar kerja di sebuah toko. Menurut polisi,
sudah diwawancara. Tapi dia tak pernah pulang. Saya tidak tahu ke mana lagi dia pergi hari itu. Pihak
FBI mempelajari semua slip tagihan Master Charge-nya, tapi tidak ada tagihan^ untuk hari itu. Anda
sudah tahu semua itu, bukan?"
"Mengenai kartu kreditnya, saya tahu. Mr. Bimmel, Anda masih menyimpan barang-barang Fredrica?
Barang-barangnya masih di sini?"
"Kamarnya di lantai atas."
"Boleh saya lihat?"
Sejenak Bimmel tampak bingung, di mana harus meletakkan palu. "Baiklah," katanya. "Mari
ikutsaya."

Bab Lima Puluh Satu

Ruang kerja Jack Crawford di markas besar FBI di Washington terasa menyesakkan karena dicat abu-

ben99 ebooks collections 94


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

abu, tapi mempunyai jendela-jendela besar.


Crawford berdiri di jendela sambil memegang clipboard. Ia sedang mempelajari daftar yang dicetak
dengan printer dot-matrix. Sudah lama ia hendak mengganti printer itu.
Ia langsung datang kemari dari rumah duka tadi, dan bekerja sepanjang pagi. Ia telah menelepon
kepolisian Norwegia dan meminta sekali lagi agar mereka segera mengirim catatan perawatan gigi
dari pelaut bernama Klaus yang dilaporkan hilang. Kemudian ia mendesak kantor perwakilan San
Diego untuk memeriksa teman-teman Benjamin Raspail di Konservatorium tempat ia mengajar.
Kantor pabean pun dihubunginya, untuk menanyakan apakah mereka sudah meneliti pelanggaran-
pelanggaran impor menyangkut serangga hidup.
Lima menit setelah Crawford tiba di kantor, FBI Assistant Director John Golby, pemimpin gugus
tugas antarinstansi yang baru dibentuk, mampir sejenak. "Jack, kami turut berduka cita," katanya.
"Kami menghargai kau tetap masuk hari ini. Tanggal upacara sudah ditetapkan?"
"Besok malam Belia disemayamkan. Pemakamannya hari Sabtu, jam sebelas."
Golby mengangguk. "Kami bermaksud mengirim sumbangan ke UNICEF, Jack. Kau ingin
mencantumkan nama Belia atau Phyllis?"
"Bella, John. Tulis Bella saja."
"Ada yang bisa kubantu, Jack?"
Crawford menggelengkan kepala. "Aku cuma ingin bekerja. Aku cuma mau bekerja sekarang."
"Oke," ujar Golby. Ia terdiam sejenak. "Frederick Chilton minta perlindungan FBI."
"Bagus. John, orang-orang di Baltimore sudah bicara dengan Everett Yow, pengacara Raspail? Aku
sempat menyinggung soal dia. Barangkali dia tahu sesuatu mengenai teman-teman Raspail."
"Yeah, sedang dikerjakan sekarang. Aku baru mengirim memo kepada Burroughs. Direktur mema-
sukkan Lecter pada daftar Most Wanted. Jack, kalau kau butuh sesuatu..." Golby mengangkat alis dan
tangan, lalu mundur meninggalkan ruangan.
Kalau kau butuh sesuatu.
Crawford berpaling ke jendela. Pemandangannya bagus. Ia bisa melihat gedung Kantor Pos tua
tempat ia menjalani sebagian latihannya. Di sebelah kiri ada markas besar FBI lama. Ketika diwisuda,
ia bersama para lulusan yang lain berbaris melewati ruang kerja J- Edgar Hoover. Hoover berdiri di
atas peti kecil dan menyalami mereka satu per satu. Setelah itu Crawford tak pernah lagi bertemu
dengannya. Keesokan harinya, ia menikahi Belia.
Mereka berjumpa di Livorno, Italia. Crawford masih jadi tentara, Belia bekerja sebagai staf NATO,
dan waktu itu ia dikenal dengan nama Phyllis. Ketika mereka berjalan-jalan di dermaga, seorang
pelaut di kapal berseru, "Belia," dan sejak itu Crawford pun selalu menggunakan nama tersebut.
Belia telah tiada. Mestinya pemandangan dari jendela-jendela ini juga berubah. Tidak seharusnya
pemandangannya tetap sama. Kenapa kau meninggalkanku? Ya Tuhan, aku tahu ini akan terjadi, tapi
hatiku tetap pedih.
Apa kata orang tentang wajib pensiun pada usia lima-lima? Kita akan jatuh cinta pada pekerjaan, tapi
cinta kita bertepuk sebelah tangan. Crawford sempat menyaksikan hal ini terjadi.
Ia bersyukur Belia telah menyelamatkannya dari nasib itu. Ia berharap Belia ada di suatu tempat, di
mana ia akhirnya merasa nyaman. Ia berharap Belia dapat melihat ke dalam hatinya.
Pesawat telepon berdengung. Nadanya menunjukkan telepon intern.
"Mr. Crawford, telepon dari Dr. Danielson di..."
"Oke." Ia menekan tombol. "Jack Crawford di sini."
"Apakah ini saluran aman, Mr. Crawford?" "Ya, ujung sini aman." "Percakapan ini tidak direkam,
bukan?" "Tidak, Dr. Danielson. Apa yang hendak Anda sampaikan?"
"Pertama-tama, saya ingin menegaskan bahwa ini tidak ada sangkut-pautnya dengan siapa pun yang
pernah dirawat di Johns Hopkins."
"Oke."
"Kalau ada kelanjutan, saya minta Anda menjelaskan kepada umum bahwa orang ini bukan trans-
seksual, dan dia tidak memiliki kaitan apa pun dengan lembaga ini."
"Tentu. Saya jamin itu." Jangan bertele-tele, bangsat. Crawford bersedia mengatakan apa saja.
"Dia mendorong Dr. Purvis."
"Siapa, Dr. Danielson?"
"Tiga tahun lalu, dia mendaftarkan diri untuk program kami. Dia mengaku sebagai John Grant dari
Harrisburg, Pennsylvania."
"Ciri-cirinya?"
"Pria kulit putih, usia tiga puluh satu. Tinggi satu delapan lima, berat sembilan puluh lima kilo. Dia
datang untuk menjalani pemeriksaan, dan hasil tes inteligensi Wechsler cukup bagus—sedikit di atas
rata-rata. Lain halnya dengan tes psikologi dan wawancara. House-Tree-Person dan TAT-nya malah
persis seperti yang Anda ramalkan. Anda membiarkan saya menyangka teori itu dikembangkan oleh
Alan Bloom, tapi sebenarnya ini teori Hannibal Lecter, bukan?"
"Apa lagi yang Anda ketahui mengenai Grant, Dokter?"
'Dia pasti akan ditolak oleh dewan seleksi, tapi pada waktu kami bertemu untuk membahasnya, kepu-
asan kami diperkuat oleh hasil penyelidikan yang kami lakukan."
^Apa yang Anda temukan?" Kami selalu menghubungi polisi di kota asal Para pelamar. Kepolisian
Harrisburg mencarinya karena dua serangan terhadap pria homoseksual. Yang terakhir nyaris tewas.
Alamat yang diberikannya ternyata sebuah penginapan tempat dia tinggal dari waktu ke waktu. Polisi
mendapatkan sidik jarinya di sana serta bon pompa bensin dengan nomor mobilnya. Namanya bukan
John Grant. Kira-kira seminggu kemudian, dia menunggu di luar gedung ini dan mendorong Dr.
Purvis sampai terjatuh, hanya karena dendam."
"Siapa namanya, Dr. Danielson?" "Sebaiknya saya eja saja, namanya J-A-M-E G-U-M-B."

ben99 ebooks collections 95


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Bab Lima Puluh Dua

Rumah Frederica Bimmel berlantai tiga dan berkesan tak terurus. Penutup atapnya terbuat dari
lempengan-lempengan berlapis aspal yang tampak berkarat di tempat-tempat air hujan meluap dari
talang. Tumbuhan liar di talang masih bertahan terhadap cuaca musim dingin. Jendela-jendela di sisi
utara ditutup lembaran plastik.

Seorang wanita setengah baya duduk di karpet, di ruang tamu yang kecil dan terasa hangat. Ia sedang
bermain-main dengan bayi.
"Istri saya," kata Bimmel ketika mereka melewati ruangan itu. "Kami menikah Natal kemarin."
"Halo," ujar Starling. Wanita itu tersenyum tipis. Udara di koridor kembali terasa dingin, dan di
mana-mana terlihat kardus-kardus ditumpuk setinggi pinggang, berisi tudung lampu, peralatan piknik,
majalah Reader's Digest dan National Geographic lama, raket tenis kayu, seprai-seprai, bungkus jok
mobil yang berbau kencing tikus. "Kami akan pindah," kata Mr. Bimmel. Warna barang-barang di
dekat jendela sudah me-mudar akibat sinar matahari. Kardus-kardus telah menggembung karena
ditumpuk selama bertahun-tahun.
Cahaya matahari menerpa pagar tangga ketika Starling mengikuti ayah Fredrica ke atas. Baju pria itu
berbau apak dalam udara dingin. Starling melihat sinar matahari menerobos langit-langit yang
melendut di puncak tangga. Kardus-kardus yang menumpuk di bordes ditutupi plastik.
Kamar Fredrica kecil, di bawah atap di tingkat tiga.
"Anda masih perlu saya?"
"Nanti, saya ingin bicara dengan Anda, Mr. Bimmel. Bagaimana dengan ibu Fredrica? Di berkas
kami ditulis 'meninggal,' tapi tidak disebutkan kapan."
"Apa maksud Anda, bagaimana dengan dia? Dia meninggal waktu Fredrica berumur dua belas
tahun." "Hmm, begitu."
"Anda pikir di bawah tadi ibu Fredrica? Padahal Anda sudah saya beritahu kami baru menikah Natal
kemarin? Itu yang Anda pikir? Kelihatannya hukum biasa mengurusi golongan lain, Nona. Dia tak
sempat mengenal Fredrica."
"Mr. Bimmel, apakah kamar ini masih seperti yang ditinggalkan Fredrica?"
Kemarahan Mr. Bimmel menguap.
"Yeah," ia berkata pelan-pelan. "Kami membiarkannya apa adanya. Jarang ada orang yang bisa
memakai baju-bajunya. Silakan pasang alat pemanas kalau Anda mau. Asal jangan lupa dimatikan
lagi sebelum Anda turun."
Mr. Bimmel tidak mau melihat kamar itu. Ia meninggalkan Starling di bordes.
Sejenak Starling berdiri sambil menggenggam pegangan pintu yang dingin. Ia perlu menyusun pikir-
annya, sebelum kepalanya dipenuhi barang-barang Fredrica.
Oke, anggapan dasar di sini adalah bahwa Buffalo Bill membunuh Fredrica lebih dulu, memberinya
pemberat dan menyembunyikannya di sungai yang jauh dari tempat dia tinggal. Dia
menyembunyikannya lebih saksama dari yang lain—Fredrica satu-satunya yang diberi pemberat—
karena dia ingin yang lainnya ditemukan lebih dulu. Dia ingin memberi kesan bahwa korban-korban
diseleksi secara acak di tempat-tempat yang berjauhan sebelum Fredrica, dari" Belvedere, ditemukan.
Dia merasa perlu mengalihkan perhatian dari Belvedere. Karena dia tinggal di sini, atau di Columbus.
Dia mulai dengan Fredrica karena menginginkan kulitnya. Kita tidak mendambakan benda khayalan.
Kita mendambakan hal-hal yang kita lihat sehari-hari. Dia melihat Fredrica dalam kegiatannya sehari-
hari.
Apa kegiatan sehari-hari Fredrica? Oke...
Starling mendorong pintu. Ini dia, kamar sempit berbau apak di tengah udara dingin. Di dinding ada
kalender tahun lalu, untuk selamanya menunjukkan bulan April. Sepuluh bulan sudah Fredrica
meninggal.
Makanan kucing, keras dan hitam, tampak di cangkir di pojok ruangan.
Starling, yang telah berpengalaman mendekorasi fumah dengan barang bekas, berdiri di tengah
ruangan dan memandang berkeliling. Fredrica pandai memanfaatkan barang-barang yang dimilikinya.
Starling melihat syal bertulisan BHS BAND terpasang pada papan buletin. Di dinding ada poster
Madonna serta poster Deborah Harry dan Blondie. Pada rak di atas meja terdapat gulungan wallpaper
bermotif cerah yang digunakan Fredrica untuk melapisi dinding. Hasilnya tidak seberapa rapi, pikir
Starling, namun lebih baik dibandingkan ketika ia pertama kali mencobanya dulu.
Di rumah lain, kamar Fredrica akan berkesan ceria. Tapi di rumah yang suram ini, kamarnya
menimbulkan kesan berteriak; gema keputusasaan yang tersirat pun tidak luput dari perhatian
Starling. Fredrica tidak memajang foto dirinya. Starling menemukan foto Fredrica dalam buku
tahunan sekolah di rak buku yang kecil. Glee Club, Home-Ec Club, Sew n' Sew, Band, 4-H Club—
barangkali merpati-merpati di luar pernah dijadikan proyek 4-H oleh Fredrica.
Starling juga menemukan sejumlah tanda tangan dalam buku tahunan. "Untuk sobatku," dan
"sahabatku", dan "bahu-membahu di lab kimia," dan "Masih ingat acara jual kue?!!"
Pernahkah Fredrica mengajak teman-temannya kemari? Apakah ia memiliki teman yang cukup akrab
untuk mengabaikan kebocoran di atas tangga? Di samping pintu ada payung.
Lihatlah foto Fredrica ini, di barisan depan kelompok marching band. Fredrica gemuk dan lebar, tapi
seragamnya lebih pas daripada seragam teman-temannya. Ia besar dan mempunyai kulit bagus.
Roman mukanya menyenangkan, tapi ia tidak dapat dikatakan atraktif berdasarkan ukuran
konvensional.
Kimberly Emberg juga tidak bisa disebut menarik, apalagi di mata anak-anak high school, begitu pula
korban-korban yang lain.
Catherine Martin, di pihak lain, pasti dianggap atraktif oleh siapa pun. Ia wanita muda berparas cantik
yang harus berperang melawan lemak saat berusia tiga puluh.
Ingat, Buffalo Bill memandang wanita bukan seperti kaum pria pada umumnya. Apa yang lazim
disebut cantik tidak masuk hitungannya. Buffalo Bill menginginkan wanita yang besar dan berkulit

ben99 ebooks collections 96


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

mulus.
Starling menyadari bahwa tangannya sedang menyusuri keterangan di bawah foto buku tahunan. Ia
mulai sadar akan tubuhnya, akan ruang yang diisinya, sosok dan wajahnya, kesan yang ditimbulkan,
kekuatan yang dimilikinya. Ia mulai sadar akan payudaranya di atas buku, perutnya yang menempel
pada buku, kakinya di bawah. Adakah pengalamannya yang dapat ia terapkan?
Starling melihat bayangan dirinya pada cermin di dinding, dan bersyukur bahwa ia berbeda dari
Fredrica. Namun ia pun sadar, perbedaannya terletak pada cara ia berpikir. Mungkinkah ada yang
luput dari perhatiannya karena cara berpikir itu?
Seperti apa Fredrica hendak menampilkan diri? Apa yang didambakannya, di mana ia mencarinya?
Apa yang hendak dilakukannya mengenai dirinya sendiri?
Starling menemukan sejumlah petunjuk diet, Fruit Juice Diet, Rice Diet, dan petunjuk janggal yang
mengatakan orang tidak boleh makan dan minum bersamaan.
Perkumpulan diet—apakah Buffalo Bill memantau kelompok-kelompok seperti itu untuk mencari
gadis-gadis berbadan besar? Sulit dipastikan. Berkas kasus menunjukkan bahwa dua korban ikut
dalam perkumpulan diet dan daftar keanggotaannya telah dibandingkan. Seorang agen dari kantor
perwakilan Kansas City, yang di kalangan FBI dikenal sebagai Fat Boys' Bureau, serta sejumlah
petugas polisi yang kelebihan berat badan disuruh berlatih di Slenderella, dan di Diet Center, dan
bergabung dengan Weight Watchers serta perkumpulan serupa di kota-kota asal para korban. Starling
tidak tahu apakah Catherine Martin anggota perkumpulan diet. Uang merupakan kendala bagi Fre-
drica untuk berdiet secara terorganisasi.
Fredrica mempunyai beberapa edisi Big Beautiful Girl, majalah untuk wanita berbadan besar. Di sini
ia diajak "datang ke New York, tempat kau bisa berjumpa dengan para pendatang baru dari bagian-
bagian dunia di mana ukuranmu dianggap aset berharga." Hmm. Atau, "pergilah ke Italia atau
Jerman, tempat kau takkan sendirian setelah hari pertama." Ya, pasti. Inilah yang harus dilakukan jika
jariku melebihi ujung sepatu. Ya Tuhan! Fredrica hanya perlu bertemu Buffalo Bill, yang
menganggap ukuran tubuhnya sebagai "aset berharga".
Apa saja yang dilakukan Fredrica untuk memoles diri? Ia memiliki sejumlah kosmetik, sebagian
besar untuk perawatan kulit. Bagus, manfaatkan aset itu. Tanpa sadar Starling menyemangati
Fredrica, seakan-akan masih ada gunanya.
Fredrica menyimpan perhiasan imitasi dalam kotak cerutu White Owl. Ada pin berlapis emas yang
kemungkinan besar warisan dari ibunya. Ia juga memotong ujung-ujung jari dari sarung tangan renda,
untuk meniru gaya Madonna, tapi hasilnya tidak memuaskan.
Tampaknya Fredrica juga penggemar musik. Ia mempunyai alat pemutar piringan hitam merek Decca
dari tahun lima puluhan, dengan pisau lipat terikat pada lengan jarum sebagai pemberat. Di
sampingnya ada sejumlah piringan hitam lama..Tembang- tembang cinta oleh Zamfir, Master of the
Pan Flute.
Ketika menyalakan lampu untuk memeriksa lemari pakaian, Starling terkejut melihat isinya. Baju
Fredrica bagus-bagus, tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk sekolah, bahkan cukup untuk bekerja di
kantor yang agak formal atau di toko eceran yang menuntut pegawainya berpakaian rapi. Starling
segera menemukan alasannya. Fredrica menjahit sendiri baju-bajunya, dan ia cukup berbakat. Di
sebuah rak ada setumpuk pola. Sebagian besar dari majalah Simplicity, namun ada juga dari Vogue
yang kelihatannya rumit.
Kemungkinan besar Fredrica mengenakan baju terbaiknya *untuk wawancara di tempat ia melamar
kerja. Apa yang dipakainya waktu itu? Starling membuka catatannya. Ini: terakhir terlihat dengan
setelan warna hijau. Aduh, apa yang dimaksud dengan "setelan warna hijau?"
Isi lemari Fredrica menunjukkan ciri khas yang menandakan keterbatasan dana—ia kekurangan se-
patu—dan sepatu yang ada pun tak lagi dalam kpndisi baik, karena harus menahan beban besar.
Sepertinya Fredrica juga mencoba berolahraga—ia memiliki sejumlah baju olahraga berukuran
khusus.
Semuanya buatan Juno.
Catherine Martin juga mempunyai celana bermerek Juno.
Starling menjauhi lemari pakaian, lalu duduk di ujung tempat tidur sambil menyilangkan tangan.
Juno merupakan merek umum, tersedia di banyak toko yang menjual pakaian berukuran khusus,
namun tetap menimbulkan pertanyaan. Setiap kota sekecil apa pun mempunyai paling tidak satu toko
yang khusus menjual baju untuk orang gemuk.
Mungkinkah Buffalo Bill memantau toko-toko seperti itu, lalu memilih seorang pelanggan dan
mengikutinya?
Apakah ia mendatangi toko-toko dengan berpakaian seperti wanita? Semua toko baju khusus biasa
didatangi waria dan pria yang gemar mengenakan baju wanita.
Gagasan bahwa Buffalo Bill hendak berganti kelamin baru belakangan memperoleh perhatian dalam
penyelidikan, sejak Lecter menceritakan teorinya kepada Starling. Bagaimana dengan pakaiannya?
Semua korbannya harus mendatangi toko khusus untuk berbelanja baju—Catherine Martin bisa
mengenakan baju ukuran dua belas, tapi yang lain tidak, dan celana training Juno milik Catherine pun
pasti dibeli di toko pakaian khusus orang gemuk.
Catherine Martin bisa mengenakan baju ukuran dua belas. Ia yang terkecil di antara para korban.
Fredrica, korban pertama, adalah yang paling besar. Mengapa Buffalo Bill mengalihkan pilihan dari
wanita besar ke wanita lebih kecil? Apakah karena ia sendiri berhasil mengurangi berat badan?
Mungkinkah
bergabung dengan perkumpulan diet? Kimberly Emberg berada di tengah-tengah, besar, namun de-
ngan pinggang cukup ramping...
Selama ini Starling sengaja tidak memikirkan Kimberly, tapi kini ia teringat kembali. Ia melihat Kim-
berly tergeletak di atas meja di Potter. Buffalo Bill tidak memedulikan kakinya yang telah
dibersihkan dari bulu, atau kuku tangannya yang dicat dengan hati-hati: ia menatap dadanya yang rata
dan tidak memenuhi syarat, jadi ia mencabut pistol dan menembak Kimberly.
Pintu kamar membuka sedikit. Starling merasakan gerakan itu sebelum menyadarinya. Seekor kucing
masuk, seekor kucing besar dengan satu mata berwarna emas dan satu berwarna biru. Kucing itu
melompat ke atas tempat tidur dan menempelkan badan ke Starling. Mencari Fredrica.

ben99 ebooks collections 97


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Kesepian. Gadis-gadis besar dan kesepian yang berusaha memuaskan seseorang.


Polisi sudah sejak dini mencoret kemungkinan perkumpulan mencari jodoh. Apakah Buffalo Bill
memiliki cara lain untuk memanfaatkan rasa sepi? Kecuali keserakahan, tak ada yang lebih
membahayakan selain kesepian.
Faktor kesepian mungkin memberi peluang kepada Buffalo Bill untuk mendekati Fredrica, namun
lain halnya dengan Catherine. Catherine tidak kesepian.
Kimberly kesepian. Jangan mulai berpikir begitu. Kimberly terbujur kaku, dibalikkan di meja petugas
visum agar Starling bisa mengambil sidik jarinya. Berhenti. Berhenti. Kimberly yang kesepian, begitu
hasrat menyenangkan orang lain. Mungkinkah
Kimberly berbalik dengan patuh, sekadar untuk merasakan denyut jantung orang lain pada
punggungnya? Starling bertanya- tanya apakah Kimberly sempat merasakan kulit di antara bahunya
tertusuk-tusuk bulu janggut yang kasar.
Starling menatap lemari pakaian. Tiba-tiba ia teringat punggung Kimberly, teringat potongan kulit
berbentuk segitiga yang hilang dari tulang belikatnya.
Ia melihat segitiga pada pundak Kimberly tergambar dengan garis biru pada salah satu pola di lemari.
Sebuah ide timbul-tenggelam dalam benaknya, lalu muncul cukup lama untuk disambar, dan Starling
melakukannya sambil bersorak dalam hati: DIA MEMBUAT SISIPAN—DIA MENGAMBIL SEGI-
T1GA-SEGITIGA ITU UNTUK SISIPAN, UNTUK MELEBARKAN PINGGANG. BAJINGAN
ITU BISA MENJAHIT. BUFFALO BILL PERNAH BELAJAR MENJAHIT—DIA TIDAK
SEKADAR MENCARI BAJU SIAP PAKAI.
Apa kata Dr. Lecter waktu itu? "Dia membuat baju wanita dari wanita sungguhan." Apa yang di-
katakannya padaku? "Kau bisa menjahit, Clarice?" O ya, aku bisa.
Starling menengadah dan memejamkan mata sejenak. Memecahkan masalah tak ubahnya berburu;
kenikmatan liar—dan kita memburunya semenjak kita lahir.
Ia sempat melihat pesawat telepon di ruang tamu tadi. Ia baru saja hendak turun untuk meminjamnya,
tapi Mrs. Bimmel telah memanggil dari bawah karena ada telepon.

Bab Lima Puluh Tiga

Mrs. bimmel menyerahkan gagang telepon kepada Starling, lalu mengangkat bayinya yang
menangis. Ia tidak meninggalkan ruang tamu. "Clarice Starling." "Jerry Burroughs, Starling..."
"Kebetulan, Jerry. Begini, saya rasa Buffalo Bill bisa Anda bisa diajak ke dapur sebentar? Saya perlu
bicara. Terima kasih... Jerry, dia bisa menjahit. Dia..." "Starling..."
"Dia mengambil potongan kulit berbentuk segitiga dari Kimberly Emberg untuk membuat sisipan.
Dia ahli, dia tidak asal membuat baju. ID Section bisa mencari penjahit, pembuat layar, tukang
gorden, atau tukang jok dalam arsip—lakukan scan Ciri Khusus untuk mencari celah bekas jarum
pada giginya..."
"Oke, oke, oke, aku akan menghubungi ID. Sekarang dengar dulu, aku tidak bisa bicara lama-lama.
Jack menitipkan pesan untukmu. Kita mendapatkan nama dan alamat yang menjanjikan. Tim
Penyelamatan Sandera sudah berangkat dari Andrews naik pesawat. Jack sedang memberi brifing
kepada mereka."
"Mau ke mana mereka?"
"Calumet City, di pinggiran Chicago. Tersangka bernama Jame, seperti 'Name' tapi dengan /, nama
belakang Gumb, alias John Grant, pria kulit putih, tiga puluh satu, satu delapan lima, rambut cokelat,
dan mata biru. Jack mendapat telepon dari Johns Hopkins. Keteranganmu—bagaimana dia berbeda
dari orang transseksual—ternyata tepat dengan data di Johns Hopkins. Tiga tahun lalu ada orang
mendaftarkan diri untuk ganti kelamin. Dia sempat menghajar salah satu dokter setelah ditolak.
Hopkins mencatat nama Grant dan alamat palsu di Harrisburg, Pennsylvania. Polisi menemukan bon
dari pom bensin dengan nomor mobilnya dan dari sanalah kita melacaknya. Dia pernah berurusan
dengan polisi di California— dia membunuh kakek dan neneknya waktu berumur dua belas, dan
ditahan enam tahun di Tulare Psychiatric. Dia dibebaskan enam belas tahun lalu, ketika rumah sakit
jiwa itu ditutup. Sejak itu dia menghilang. Dia beberapa kali menyerang orang homo. Beberapa kali
terlibat perkelahian di Harrisburg, lalu menghilang lagi."
"Hmm, Chicago. Dari mana Anda tahu Chicago?"
"Pabean. Mereka punya beberapa dokumen atas nama Grant. Beberapa tahun lalu Pabean
menemukan koper di LAX yang dikirim dari Suriname. Isinya 'pupae' hidup—betulkah caraku
mengucapkannya?— pokoknya serangga, ngengat. Orang yang dituju adalah John Grant, yang
menumpang alamat di sebuah perusahaan bernama Mr. Hide di Calumet, perusahaan barang-barang
kulit. Mungkin ada kaitan dengan urusan jahit-menjahit yang kausinggung tadi; informasi ini akan
kuteruskan ke Chicago dan Calumet. Kita belum mendapatkan alamat rumah Grant, atau Qumb—
perusahaan itu sudah tutup, tapi kita semakin
dekat." "Ada fotonya?"
"Sampai sekarang baru foto waktu remaja dari Kepolisian Sacramento. Tak banyak gunanya—waktu
itu dia baru dua belas. Tampangnya mirip Beaver Cleaver. Tapi fotonya sudah disebarluaskan melalui
faks."
"Saya bisa ke sana?"
'Tidak. Jack sudah memperingatkan kau akan bertanya. Sudah ada dua marshall wanita dari Chicago
dan seorang juru rawat untuk mengurus Martin kalau dia bisa ditemukan. Kau toh takkan keburu ke
sana, Stalling."
"Bagaimana kalau dia mencoba bertahan di tempat persembunyiannya? Ini bakal makan waktu dan..."

ben99 ebooks collections 98


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Takkan ada penundaan. Begitu ditemukan, dia akan langsung disergap—Crawford sudah
memperoleh izin untuk penyerbuan dengan bahan peledak. Ada masalah khusus dengan orang ini,
Starling. Dia sudah pernah terlibat penyanderaan. Dia menyandera neneknya di Sacramento dulu—
kakeknya sudah dia bunuh waktu itu—dan akibatnya mengerikan. Dia menggiring neneknya ke
hadapan polisi, dan dia diajak bicara oleh seorang pendeta. Berhubung dia masih anak-anak, tak ada
yang menembak. Dia berdiri di belakang neneknya dan menusuk ginjalnya. Perto-lo: gan medis tak
berhasil. Umurnya dua belas waktu llu- Jadi, kali ini tidak ada perundingan, tidak ada Peringatan.
Kemungkinan besar Martin sudah tewas, tapi anggap saja kita beruntung. Anggap saja dia sibuk
dengan ini-itu dan belum sempat menghabisi Martin. Kalau melihat kita, dia akan membunuhnya di
depan mata kita. Tak ada pengaruhnya untuk dia, bukan? Jadi, begitu tempat persembunyiannya
ditemukan, boom!—pintunya diledakkan."
Udara di ruang tamu terlalu panas dan berbau kencing bayi.
menjahit. Dia mengambil potongan kulit—tunggu sebentar—Mrs. Bimmel, bayi Burroughs terus
bicara. "Kita sedang memeriksa daftar-daftar pelanggan majalah entomologi, Paguyuban Pembuat
Pisau, arsip pelaku kejahatan, pokoknya semua sumber—tak ada yang bersantai sebelum urusan ini
selesai. Kau sedang menyelidiki teman-teman Bimmel, bukan?"
"Ya."
"Kehakiman bilang kasus ini bakal sulit kalau dia tidak tertangkap basah. Kita harus mendapatkannya
bersama Martin atau dengan sesuatu yang bisa diidentifikasi—tepatnya, sesuatu dengan gigi atau jari.
Kalau Martin sudah dibunuh dan mayatnya sudah dibuang, dengan sendirinya kita butuh saksi yang
sebelumnya melihat dia bersama korban. Tapi informasi yang kaudapat dari Bimmel tetap bisa kita
pakai. Starling, coba kalau semuanya ini terjadi kemarin. Kau kena tindakan di Quantico?"
"Kelihatannya begitu. Tempat saya diisi orang lain yang juga disuruh mengulang—paling tidak, itu
yang saya dengar."
"Kalau dia bisa ditangkap di Chicago, maka kau punya andil besar. Orang-orang di Quantico memang
keras, dan sudah seharusnya begitu, tapi itu harus mereka hargai. Tunggu sebentar."
Starling mendengar Burroughs mengatakan sesuatu Icepada orang lain. Kemudian suaranya kembali
terdengar lewat telepon.
"Kabar terakhir, mereka bisa sampai di Calumet City dalam empat puluh sampai empat puluh lima
menit, tergantung angin di atas. Tim SWAT Chicago juga diberi izin bertindak jika mereka menemu-
kannya lebih dulu. Calumet Power and Light menemukan empat alamat yang dicurigai. Starling,
carilah keterangan yang bisa membantu mereka di sana. Kalau kau menemukan apa pun mengenai
Chicago atau Calumet, segera hubungi aku." "Oke."
"Sekarang dengar—ini yang terakhir. Kalau kita berhasil, kalau dia tertangkap di Calumet City, kau
harus ada di Quantico pukul 08.00 dengan penampilan rapi. Jack akan menghadap dewan bersamamu.
Brigham juga ikut. Tak ada salahnya bertanya."
"Jerry, satu hal lagi: Fredrica Bimmel punya baju olahraga merek Juno, merek baju untuk orang
gemuk. Catherine Martin juga punya. Ada kemungkinan Buffalo Bill memantau toko-toko khusus
orang gemuk untuk mencari korban. Kita bisa tanya ke Memphis, Akron, dan tempat-tempat lain."
"Oke. Jangan patah semangat." Starling meninggalkan pekarangan yang berantakan di Belvedere,
Ohio, 600 km dari»iempat berlangsungnya operasi penyelamatan di Chicago. Udara yang dingin
terasa nyaman. Ia mengepalkan tinju dan bersorak tertahan untuk Tim Penyelamatan Sandera. Namun
secara bersamaan dagu dan pipinya agak gemetar. Persetan, ada apa ini? Apa yang akan ia lakukan
seandainya ia menemukan sesuatu? Ia akan memanggil bala bantuan, kantor perwakilan Cleveland,
dan SWAT Columbus, juga kepolisian Belvedere.
Menyelamatkan wanita muda itu, menyelamatkan putri Senator Martin sialan dan korban-korban
yang mungkin akan menyusul—ya, itulah yang terpenting. Kalau berhasil, semuanya bakal beres.
Kalau mereka terlambat, kalau mereka menemukan sesuatu yang mengerikan, moga-moga mereka
bisa menangkap Buffa—menangkap Jame Gumb atau Mr. Hide atau apa pun sebutan mereka untuk
bajingan itu.
Namun tak sanggup berbuat sesuatu saat keberhasilan sudah di depan mata, memperoleh ide bagus
terlambat satu hari dan terdampar di tempat yang jauh dari lokasi penangkapan, dikeluarkan dari
sekolah, semuanya itu berbau kekalahan. Starling sudah lama menduga, dengan rasa bersalah, bahwa
keberuntungan tak pernah berpihak pada keturunan keluarga Starling—bahwa sepanjang sejarah, para
anggota keluarga Starling hanya menjadi korban keadaan. Ia bertekad mendobrak situasi itu.
Jika orang yang mereka incar berhasil ditangkap berkat keterangan yang diperolehnya dari Dr. Lecter,
hal tersebut pasti akan menolong dalam urusan dengan Departemen Kehakiman. Mau tak mau
Starling memikirkannya; kariesnya sudah di ambang kehancuran.
Apa pun yang terjadi, ia merasa senang telah menemukan petunjuk dari pola baju di lemari. Ada hal-
hal berharga yang ia dapatkan di sini. Kenangan ibu dan ayahnya memberinya kekuatan. Ia telah
memperoleh kepercayaan Crawford. Hal-hal seperti itu patut ia simpan di tempat khusus.
Tugasnya, atau bahkan kewajibannya, adalah memikirkan Fredrica dan bagaimana cara Gumb men-
jeratnya. Penanganan perkara Buffalo Bill di pengadilan akan menuntut semua fakta.
Pikirkan Fredrica, terjebak di sini sepanjang hidupnya yang singkat. Di manakah ia mungkin mencari
jalan keluar? Apakah harapannya sama dengan harapan Buffalo Bill? Apakah itu yang
mempertemukan mereka? Mungkinkah Buffalo Bill memahami Fredrica, bahkan berempati, namun
tetap mengambil kulitnya? Starling berdiri di tepi air.
Hampir semua tempat mempunyai saat tertentu di mana sudut dan intensitas cahaya menghasilkan pe-
mandangan lebih indah dari biasanya. Kalau terjebak di suatu tempat, kita akan mengenali saat itu
dan menanti-nantinya. Saat ini, menjelang sore, mungkin waktu terbaik untuk Sungai Licking di
belakang Fell Street. Inikah saat Fredrica biasa bermimpi? Lemari es bekas dan sampah lainnya yang
dibuang di seberang sungai tampak kabur karena uap air yang mengambang di atas permukaan.
Angin timur laut, yang berlawanan dengan arah cahaya, mendorong semak-semak menuju matahari.
Sepotong pipa PVC putih membentang dari gudang Mr. Bimmel sampai ke sungai. Starling
mendengar bunyi berdeguk, dan air bercampur darah keluar dari uJung pipa, mengotori salju. Bimmel
muncul. Bagian depan celananya bernoda merah; ia membawa potongan-potongan berwarna pink dan
kelabu dalam sebuah kantong plastik bening.

ben99 ebooks collections 99


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Anak burung dara," katanya ketika menyadari Starling memperhatikannya. "Pernah makan anak bu-
rung dara?"
"Belum," ujar Starling. Ia kembali berpaling ke sungai. "Saya pernah mencicipi burung dara dewasa."
"Kita tak perlu kuatir menggigit peluru kalau makan ini."
"Mr. Bimmel, apakah Fredrica punya kenalan di Calumet City atau di daerah Chicago?"
Bimmel angkat bahu dan menggeleng.
"Setahu Anda, apakah dia pernah ke Chicago?"
"Apa maksud Anda, 'setahu saya'? Anda pikir anak saya pergi ke Chicago dan saya tidak tahu? Ke
Columbus pun dia tidak pernah tanpa sepengetahuan saya."
"Apakah dia mengenal pria yang menjahit, penjahit atau pembuat layar?"

Bab Lima Puluh Empat

Semakin jauh ke barat, kartu identitas FBI semakin dihargai. ID Starling, yang mungkin takkan
dipandang sebelah mata di Washington, segera memperoleh perhatian penuh dari atasan Stacy Hubka
di Franklin Insurance Agency di Belvedere, Ohio. Ia sendiri yang menggantikan tugas Stacy
menerima tamu dan telepon, dan mempersilakan Starling menggunakan ruang kantornya untuk
melakukan wawancara.
Stacy Hubka berwajah bulat. Tingginya sekitar satu enam puluh dengan sepatu hak tinggi. Rambut-
nya kaku oleh hairspray dan ia meniru gaya Cher ketika menyibakkannya ke belakang. Ia
memperhatikan Starling dari atas ke bawah, setiap kali Starling memandang ke arah lain.
"Stacy—bolehkah saya memanggil Anda Stacy?" "Tentu."
"Saya ingin tanya, Stacy, bagaimana kejadian ini bisa menimpa Fredrica Bimmel—di mana laki-laki
itu mungkin bertemu dengannya."
"Saya betul-betul terpukul. Kulitnya dikupas, mengerikan sekali. Anda sempat melihatnya? Kata
orang, dia seperti kain bekas, seperti dikempiskan..."
"Stacy, apakah dia pernah bercerita tentang seseorang dari Chicago atau Calumet City?"
Calumet City. Jam dinding di atas kepala Stacy membuat Starling kuatir. Kalau Tim Penyelamatan
Sandera menempuh perjalanan dalam empat puluh menit, maka sepuluh menit lagi mereka akan men-
darat. Apakah mereka sudah punya alamat yang pasti? Urus saja tugasmu sendiri.
"Chicago?" ujar Stacy. "Tidak, kami pernah ikut pawai di Chicago dalam perayaan Thanksgiving."
"Kapan?"
"Di kelas delapan dulu, berarti... sembilan tahun lalu. Marching band sekolah kami naik bus ke sana
dan langsung pulang sehabis pawai."
"Bagaimana reaksi Anda waktu dia menghilang musim semi lalu?"
"Saya agak heran."
"Masih ingat di mana Anda berada ketika diberi-tahu? Ketika Anda mendengar beritanya? Apa yang
Anda pikirkan waktu itu?"
"Malam pertama dia menghilang, Skip dan saya pergi nonton, lalu mampir di Mr. Toad's untuk beli
minum. Pam dan mereka, Pam Malavesi, datang dan dia bilang Fredrica menghilang. Skip langsung
jawab, Houdini pun tidak bisa melenyapkan Fredrica. Setelah ltu dia menjelaskan siapa Houdini; dia
selalu pamer bahwa dia tahu banyak, dan beritanya tidak terlalu kami tanggapi. Saya pikir Fredrica
cuma marah Pada ayahnya. Anda melihat rumahnya? Minta am-Pun, bukan? Di mana pun dia
sekarang, saya tahu
ia malu karena Anda sudah melihat rumahnya.
Anda pun mungkin kabur kalau harus tinggal di rumah seperti itu."
"Mungkinkah dia kabur bersama seseorang? Apakah Anda sempat berpikir begitu—walaupun kemu-
dian ternyata keliru?"
"Skip bilang, dia mungkin bertemu orang yang suka cewek gendut. Tapi rasanya tidak ada siapa-
siapa. Fredrica memang pernah punya pacar, tapi itu sudah lama sekali. Cowok itu ikut marching
band di kelas sepuluh. Saya menyebutnya 'pacar', tapi mereka cuma mengobrol dan ketawa cekikikan
dan mengerjakan PR bersama-sama. Skip bilang dia, ehm, homo. Fredrica sering diejek karena
berkencan dengan orang seperti itu. Anak itu akhirnya meninggal bersama saudara perempuannya
dalam kecelakaan mobil, dan Fredrica tak pernah mendapatkan orang lain."
"Bagaimana perasaan Anda ketika dia tidak pulang-pulang?"
"Pam pikir dia mungkin jadi korban orang gila. Saya sendiri tidak tahu harus berpikir apa; saya ngeri
setiap kali memikirkannya. Saya tidak mau keluar rumah tanpa Skip setelah gelap. Saya bilang sama
dia, pokoknya, kalau hari sudah gelap, kita yang keluar."
"Anda pernah mendengar Fredrica menyinggung seseorang bernama Jame Gumb? Atau John Grant?"
"Ehmmm... tidak."
"Mungkinkah dia punya teman khusus yang tidak Anda kenal? Apakah ada hari-hari tertentu ketika
dia tidak kelihatan?"
"Tidak. Kalau dia punya pacar, saya pasti tahu. Dia tidak pernah pacaran."
"Barangkali dia sengaja merahasiakannya dari
Anda."
"Untuk apa?"
"Karena takut diejek, mungkin?"
"Diejek oleh kami? Maksudnya, karena kejadian dengan si banci di high school?" Wajah Stacy men-
jadi merah. "Kami tak mungkin mengejeknya. Semuanya begitu baik terhadapnya setelah anak itu
meninggal."
"Anda pernah bekerja bersama Fredrica, Stacy?" "Saya, dia, Pan: Malavesi, dan Jaronda Askew
sama-sama pernah bekerja di Bargain Center waktu' liburan musim panas di high school dulu.
Kemudian Pam dan saya pergi ke Richards' untuk melamar kerja; baju mereka bagus-bagus. Saya dan

ben99 ebooks collections 100


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Pam diterima, lalu Pam mengajak Fredrica. Ayo, mereka perlu satu orang lagi, dan Fredrica datang,
tapi Mrs. Burdine—si manajer merchandising!—dia bilang, 'Begini, Fredrica, kami butuh orang
yang, ehm, bisa jadi contoh untuk para pengunjung; mereka datang dan bilang saya ingin penampilan
saya seperti dia, dan kau memberi saran apakah baju yang ini atau yang itu cocok atau tidak untuk
mereka. Silakan temui saya lagi kalau kau sudah bisa menurunkan berat badan. Tapi sekarang ini,
saya minta kau mengerjakan beberapa baju yang perlu dipermak. Kita mulai dari sini dulu, nanti saya
bicarakan dengan Mrs. Lippman.' Nada suara Mrs. Burdine selalu manis, tapi ternyata dia brengsek.
Sayangnya baru
belakangan saya tahu."
Jadi, Fredrica mengerjakan jahitan untuk
Richards', tempat 4ada bekerja?"
"Dia memang sakit hati, tapi tawaran itu tentu saja tidak ditampiknya. Mrs. Lippman mengerjakan
jahitan untuk semua orang, dan dia kewalahan menangani pesanan-pesanan yang masuk, dan Fredrica
bekerja untuknya. Setelah Mrs. Lippman berhenti, anaknya tidak mau meneruskan usaha itu.
Semuanya diserahkan kepada Fredrica, dan dia terus menjahit untuk semua orang. Dia selalu sibuk.
Kadang-kadang dia menemui saya dan Pam, dan kami ke rumah Pam pada waktu makan siang,
menonton The Young and the Restless. Dia membawa kerjaan dan menjahit sambil duduk di sofa."
"Apakah Fredrica pernah bekerja di toko, mengukur baju, misalnya? Apakah dia bertemu langsung
dengan para pelanggan atau para grosir?"
"Kadang-kadang saja. Saya tidak masuk setiap hari."
"Apakah Mrs. Burdine bekerja setiap hari, barangkali dia tahu?" "Yeah, mungkin."
"Pernahkah Fredrica bercerita bahwa dia mengerjakan pesanan untuk perusahaan bernama Mr. Hide
di Chicago atau Calumet City, memasang lapisan dalam pada pakaian kulit, misalnya?"
"Entahlah, Mrs. Lippman mungkin pernah."
"Anda pernah melihat merek Mr. Hide? Apakah merek itu dijual di Richards', atau di salah satu
butik?"
"Tidak."
"Anda tahu di mana Mrs. Lippman sekarang? Saya ingin bicara dengannya."
"Dia sudah meninggal. Dia pijjdah ke Florida dan meninggal di sana, kata Fredrica. Saya tidak kenal
Mrs. Lippman. Skip dan saya kadang-kadang menjemput Fredrica di sana kalau dia harus membawa
baju banyak. Barangkali Anda mau bicara dengan keluarga Mrs. Lippman. Saya akan menuliskan
alamat mereka."
Wawancara ini terasa sangat membosankan, sebab sesungguhnya Starling sudah tak sabar ingin men-
dapat berita dari Calumet City. Empat puluh menit telah sudah mendarat. Starling bergeser sedikit
supaya tidak perlu melihat jam dinding, lalu kembali mencari keterangan.
"Stacy, di mana Fredrica biasa membeli baju, di mana dia beli celana training Juno miliknya?"
"Sebagian besar bajunya dia jahit sendiri. Saya rasa celana training itu dibelinya di Richards', waktu
celana yang longgar sedang jadi mode. Barangkali dia dapat diskon khusus di Richards', karena
mengerjakan jahitan untuk mereka."
"Apakah dia pernah membeli baju di toko khusus untuk orang yang kelebihan berat badan?"
"Kami mendatangi banyak toko untuk melihat-lihat, seperti orang-orang pada umumnya. Kami pergi
ke Personality Plus dan berlalu. Tim Penyelamatan Sandera seharusnya dia mencari-cari ide,
maksudnya model baju yang cocok untuk orang berbadan besar."
"Apakah Anda pernah diganggu sewaktu sedang melihat-lihat, atau barangkali Fredrica merasa diper-
hatikan?"
Sejenak Stacy menatap langit-langit, lalu menggelengkan kepala.

"Stacy, pernahkah ada waria yang berbelanja di Richards', atau pria membeli baju wanita berukuran
besar, pernahkah ada kejadian seperti itu?"
"Tidak. Saya dan Skip pernah melihat waria di bar di Columbus."
"Apakah Fredrica ikut waktu itu?"
"Tidak. Kami, ehm, kami pergi untuk berakhir pekan."
"Apakah Anda bisa mencatat semua toko khusus yang Anda datangi bersama Fredrica? Anda masih
ingat semuanya?"
"Yang di sini saja, atau yang di Columbus juga?"
"Di sini dan di Columbus. Termasuk Richards', saya ingin bicara dengan Mrs. Burdine."
"Oke. Apakah menyenangkan bekerja sebagai agen FBI?"
"Lumayan."
"Anda sering bepergian? Maksudnya, ke tempat-tempat yang lebih baik dari ini?" "Kadang-kadang."
"Dan setiap hari Anda harus berpenampilan bagus, bukan?"
. "Ehm, ya. Kami dituntut berpenampilan rapi."
"Bagaimana caranya jadi agen FBI?"
"Pertama-tama kita harus masuk college dulu, Stacy."
"Biayanya pasti besar."
"Yeah, memang. Tapi kadang-kadang ada beasiswa. Anda berminat mendapat informasi lebih lanjut?
Saya bisa mengirim brosur-brosur kalau begitu."
"Yeah. Saya cuma teringat, Fredrica begitu senang waktu saya dapat pekerjaan ini. Dia betul-betul
gembira—dia tidak pernah bekerja kantoran—dia pikir ini semacam batu loncatan. Ini—mengurus
arsip dan mendengarkan Barry Manilow sepanjang hari— dia pikir ini pekerjaan hebat. Tahu apa dia,
si bodoh itu." Mata Stacy Hubka berkaca-kaca. Ia membuka mata lebar-lebar dan mendongakkan
kepala agar tidak perlu menyeka air mata.
"Anda bisa menyiapkan daftarnya sekarang?"
"Lebih baik saya kerjakan di meja saya. Saya perlu pakai buku telepon." Kepalanya tetap menenga-
dah ketika ia keluar ruangan.
Pesawat telepon di meja seakan-akan menggoda Starling. Begitu Stacy Hubka keluar, Starling
menelepon ke Washington untuk menanyakan perkembangan terakhir.

ben99 ebooks collections 101


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Bab Lima Puluh Lima

Pada saat yang sama, di atas ujung selatan Lake Michigan, sebuah pesawat jet berkapasitas dua puluh
penumpang dengan tanda pengenal sipil mengurangi kecepatan jelajah maksimum dan mulai
mengambil ancang-ancang untuk mendarat di Calumet City, Illinois.
Kedua belas anggota Tim Penyelamatan Sandera merasakan pesawat bergerak turun. Beberapa di
antara mereka menguap lebar, bukan karena mengantuk, melainkan karena tegang.
Komandan tim Joel Randall, yang duduk di bagian depan kabin penumpang, melepaskan headset dan
melirik catatannya sebelum berdiri untuk angkat bicara. Ia percaya ia membawahi tim SWAT terbaik
di dunia, dan keyakinannya itu mungkin benar. Beberapa anggota timnya belum pernah menjadi
sasaran tembakan, tapi berdasarkan berbagai simulasi dan tes, dapat dikatakan mereka yang terbaik di
antara yang terbaik.
Randall sudah biasa berdiri di dalam pesawat, dan dengan mudah ia menjaga keseimbangan ketika
pesawat mereka terguncang-guncang saat hendak mendarat.
"Gentlemen, transportasi darat kita disiapkan oleh DEA. Mereka menyediakan mobil boks pengantar
bunga dan van tembakan senapan.
"Bobby, pastikan masing-masing pengemudi memiliki headset kita, supaya kita tidak keliru bicara
dengan orang-orang DEA," ujar Randall.
Drug Enforcement Administration menggunakan radio UHF untuk melakukan penyerbuan, sementara
FBI memakai radio VHF. Perbedaan ini pernah menimbulkan masalah di masa lalu.
Mereka dilengkapi untuk menghadapi hampir semua kemungkinan, baik siang maupun malam: untuk
menuruni dinding mereka membawa peralatan panjat tebing; untuk mendengar, mereka punya Wolfs
Ear dan VanSleek Farfoon; untuk melihat, mereka menggunakan peralatan pandangan malam.
Senjata-senjata mereka yang dilengkapi teropong dan disimpan dalam kotak-kotak besar menyerupai
peralatan band.
Operasi ini akan dilaksanakan dengan sangat cermat, dan persenjataan mereka pun mencerminkan hal
ini—tak ada senjata yang bisa ditembakkan mem-babi buta.
Semua anggota tim bersiap-siap ketika sirip pada sayap pesawat diturunkan.

Randall mendapat kabar terakhir dari Calumet melalui headset. Ia menutupi mikrofon dan kembali
bicara pada timnya. "Oke, kita punya dua alamat. Kita ambil yang paling menjanjikan. Yang satu lagi
ditangani SWAT Chicago."
Bandara tempat mereka akan mendarat adalah Lansing Municipal, bandara terdekat ke Calumet, di
sebelah tenggara Chicago. Pesawat mereka telah mendapat izin mendarat. Si pilot menghentikannya
di samping dua kendaraan dengan mesin menyala di ujung landasan, jauh dari gedung terminal.
Sejenak terjadi tegur sapa di samping mobil pengantar bunga. Komandan DEA menghampiri Randall
dan menyerahkan sesuatu yang tampak seperti karangan bunga, tapi sebenarnya palu godam seberat
enam kilo untuk mendobrak pintu, dengan kepala terbungkus kertas berwarna. Daun-daun hijau
terikat pada gagangnya.
"Mungkin kalian bisa mengantarkan ini," katanya. "Selamat datang di Chicago."

Bab Lima Puluh Enam

Hari sudah sore ketika Mr. Gumb memutuskan untuk melaksanakan rencananya. Dengan mata
berkaca-kaca ia menonton rekaman deonya berulang-ulang. Di layar TV yang kecil, Mom terlihat
memanjat tangga luncuran dan... uih... meluncur ke kolam; uih... meluncur ke kolam. Air mata
mengaburkan pandangan Jame Gumb, seakan-akan ia sendiri berada di kolam renang.
Ia tidak tahan lagi membiarkan Precious disekap d basement, terancam bahaya. Precious menderita, ia
tahu itu. Ia tidak yakin ia bisa membunuh makhluk itu sebelum Precious disakiti, tapi ia harus
mencobanya. Sekarang juga.
Ia menanggalkan pakaian dan mengenakan kimono—ia selalu mengambil kulit dalam keadaan
telanjang dan berdarah-darah, seperti bayi yang baru-lahir.
Dari lemari obatnya yang lengkap, ia mengambil salep yang digunakannya untuk mengobati Precious
ketika anjing itu dicakar kucing. Ia juga mengambil sejumlah Band-Aid kecil dan Q-tips serta
"Elizabethan Collar", semacam kerah plastik yang diberikan
dokter hewan agar Precious tidak dapat menoleh dan menggigit-gigit bagian tubuhnya yang terasa
sakit. Di basement ada lempengan kayu untuk menekan lidah, yang dapat untuk membelat kaki Pre-
cious, serta satu tube Sting-Eez untuk mengurangi rasa sakit seandainya makhluk itu mencakar
anjingnya sebelum mati.
Satu tembakan ke kepala, dan ia cuma mengorbankan rambutnya. Precious lebih berharga daripada
rambut. Rambut itu merupakan tumbal, persembahan untuk keselamatan Precious.
Perlahan-lahan ia menuruni tangga dan memasuki dapur. Ia melepaskan sandal dan menuruni tangga
basement yang gelap. Ia sengaja berjalan merapat ke tembok, supaya tangganya tidak berderak.
Ia tidak menyalakan lampu. Di kaki tangga, ia belok kanan ke ruang kerja. Ia berjalan sambil meraba-
raba dalam kegelapan yang akrab baginya dan merasakan lantai berubah di bawah kakinya.
Lengan kimononya menyerempet salah satu kandang serangga, dan ia mendengar seekor ngengat
mengerik dengan gusar. Ia sampai di lemari, lalu mengambil senter inframerah dan memasang kaca-
mata khususnya. Kini dunia sekelilingnya berpendar hijau. Sejenak ia terdiam, menikmati bunyi
gemercik dari aquarium dan suara mendesis dari pipa-pipa uap. Penguasa kegelapan, ratu kegelapan.
ben99 ebooks collections 102
The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Ngengat-ngengat yang beterbangan meninggalkan jejak hijau manyala dalam pandangannya. Kepak
sayap serangga-serangga itu terasa lembut pada pipinya"
Ia memeriksa pistol. Python itu berisi peluru Special lead wad-cutters. Peluru tersebut langsung
mengembang setelah menembus tulang tengkorak dan menyebabkan kematian seketika. Jika makhluk
itu berdiri saat ia menembak, jika ia menembak tepat di ubun-ubun, maka peluru tersebut lebih aman
dibandingkan peluru Magnum yang dapat menembus rahang bawah dan mengoyak payudara.
Ia melangkah dengan hati-hati, lututnya menekuk, jari kakinya mencengkeram papan-papan lantai.
Tanpa bersuara ia melintasi lantai pasir di ruang sumur. Tanpa bersuara, namun tidak terlalu pelan. Ia
tak ingin bau badannya cepat tercium oleh anjing kecil di dasar sumur.
Ujung sumur tampak berpendar hijau, batu-batu dan semen perekat terlihat jelas, begitu pula urat-urat
kayu pada penutup lubang. Arahkan senter dan pandang ke bawah. Itu mereka. Makhluk itu berbaring
membungkuk, bagaikan udang raksasa. Mungkin sedang tidur. Precious meringkuk di sampingnya,
pasti tidur. Oh, moga-moga belum mati.
Kepala makhluk itu tampak jelas. Kalau ditembak di tengkuk, rambutnya bisa diselamatkan. Tapi
risikonya terlalu besar.
Mr. Gumb membungkuk dan memandang ke bawah. Pistolnya terasa berat di bagian depan, begitu
mudah dibidikkan. Ia mengarahkannya dalam berkas cahaya inframerah. Ia membidik bagian kepala
tempat rambut menempel pada pelipis.
Entah karena mendengar suara atau karena men-c'Um bau, penyebabnya tidak jelas, tapi Precious
mendadak bangun dan menyalak-nyalak, melompat-lompat dalam gelap. Catherine Martin cepat-
cepat merangkul anjing kecil itu dan menyelimuti diri dengan kasur. Mr. Gumb hanya melihat
tonjolan-tonjolan di balik kasur, dan ia tidak tahu mana anjingnya dan mana Catherine.
Namun ia sempat melihat Precious melompat. Ia tahu kakinya tidak cedera, dan^ seketika ia
menyadari hal lain: Catherine Baker Martin takkan menyakiti anjing itu. Mr. Gumb merasa lega tak
terperikan. Karena mereka sama-sama menyayangi anjing, ia bisa menembak kaki Catherine, lalu
ketika Catherine mendekap kakinya, ia akan menembak kepalanya tanpa ragu-ragu.
Ia menyalakan lampu, semua lampu di basement, dan mengambil lampu sorot dari gudang. Ia bisa
mengendalikan diri dengan baik, bisa berpikir jernih—ketika melintasi ruang kerja, ia ingat untuk
menghidupkan kran air di tempat cuci tangan, agar tak ada yang menyumbat pipa.
Ketika ia bergegas melewati tangga, siap beraksi, dengan lampu sorot di tangan, bel pintu berdering.
Bel pintunya berdering-dering, dan ia sampai terentak untuk mengenali suara itu. Sudah bertahun-
tahun ia tidak mendengarnya, bahkan tidak tahu apakah belnya masih berfungsi. Bel itu dipasang di
tangga supaya bisa terdengar di atas dan di bawah, sebuah lonceng logam berwarna hitam terselubung
debu. Ia menatapnya dan melihat debu beterbangan. Ada orang di' pintu depan, menekan tombol tua
bertanda SUPERINTENDENT.
Mereka akan pergi.
Ia memasang lampu sorot.
Mereka tidak pergi.
Makhluk di lubang sumur mengatakan sesuatu yang tidak dihiraukannya. Bel pintu berdering tanpa
henti.
Lebih baik ke atas dulu dan mengintip keluar. Pistol Python-nya yang bermoncong panjang tidak bisa
diselipkan ke kantong kimono. Ia meletakkannya di atas counter di ruang kerja.
Ia sudah mulai menaiki tangga ketika bel berhenti berdering. Ia pun berhenti dan menunggu sejenak.
Hening. Ia memutuskan tetap akan melihat ke atas. Ketika ia melintasi dapur, ketukan keras pada
pintu belakang membuatnya tersentak kaget. Di dalam lemari di dekat pintu belakang ada senapan. Ia
tahu senapannya terisi peluru.
Dengan pintu tangga ke basement tertutup rapat, tak ada yang bisa mendengar makhluk di bawah
berteriak-teriak, biarpun sekuat tenaga. Ia yakin akan hal itu.
pengaman terpasang. Ia membuka pintu sedikit.
"Saya menekan bel di depan, tapi tidak ada yang datang," ujar Clarice Starling. "Saya mencari
keluarga Mrs. Lippman, apakah Anda bisa membantu saya?"
"Mereka tidak tinggal di sini," jawab Mr. Gumb, lalu menutup pintu. Ia sudah hendak menuju tangga
ketika pintu digedor lagi, lebih keras dari sebelumnya.
Untuk kedua kalinya ia membuka pintu.
Wanita muda di luar menunjukkan kartu identitas bertulisan Federal Bureau of Investigation. "Maaf,
tapi saya perlu bicara dengan Anda. Saya mencari keluarga Mrs. Lippman. Saya tahu dia pernah
tinggal di sini. Saya perlu bantuan Anda."
"Mrs. Lippman sudah lama meninggal. Setahu saya, dia tidak punya saudara."
"Bagaimana dengan pengacara, atau akuntan? Seseorang yang mungkin menyimpan catatan
usahanya? Anda sempat mengenal Mrs. Lippman?"
"Sepintas lalu saja. Ada apa?"
"Saya menyelidiki kematian Fredrica Bimrnel. Boleh saya tahu nama Anda?"
"Saya Jack Gordon."
"Anda mengenal Fredrica Bimmel waktu dia bekerja untuk Mrs. Lippman?"
"Tidak. Apakah dia besar, gemuk? Barangkali saya pernah melihatnya, saya tidak yakin. Saya tidak
bermaksud kasar tadi—saya baru bangun. Mrs. Lippman memang punya pengacara dulu, mungkin
kartu namanya masih saya simpan, coba saya lihat sebentar. Silakan masuk dulu. Saya kedinginan
dan kucing saya pasti akan kabur kalau pintunya terbuka. Dia akan melesat ke luar sebelum saya bisa
mencegahnya."
Ia menghampiri meja tulis di pojok dapur dan membuka laci. Starling masuk dan mengeluarkan buku
notes dari tas.
"Mengerikan sekali," Mr. Gumb berkata sambil menggeledah laci. "Saya selalu merinding kalau ter-
ingat. Apakah pelakunya akan segera ditangkap?"
"Belum, tapi kami masih mengusahakannya. Mr. Gordon, Anda mengambil alih rumah ini setelah
Mrs. Lippman meninggal?"
"Ya." Gumb membungkuk sambil membelakangi Starling. Ia merogoh-rogoh laci lain.
"Apakah Anda menemukan catatannya di sini-Catatan bisnis?"

ben99 ebooks collections 103


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Tidak, tidak ada apa-apa. Apakah FBI sudah menemukan petunjuk? Polisi di sini tampaknya tidak
Disa berbuat apa-apa. Anda sudah mendapatkan ciri-ciri atau sidik jari si pelaku?"
Seekor Ngengat Tengkorak muncul dari lipatan di bagian belakang kimono Mr. Gumb. Serangga itu
berhenti di tengah-tengah punggung, kira-kira di atas jantung, dan mengatur posisi sayapnya.
Starling menjatuhkan buku notes ke dalam tas.
Mister Gumb. Untung saja mantelku tidak terkancing. Cari alasan untuk keluar dari sini, lalu cari
telepon. Jangan. Dia tahu aku FBI. Begitu aku pergi, dia akan menghabisi Catherine. Menusuk gin-
jalnya. Teleponnya. Teleponnya tidak kelihatan. Tidak ada di sini, tanyakan teleponnya. Tunggu
sampai tersambung, lalu sergap dia. Paksa dia tiarap di lantai, lalu tunggu polisi. Ya, itu cara terbaik.
Dia sedang membalik.
"Ini nomornya," ujar Mr. Gumb. Ia memegang sebuah kartu nama.
Diambil, jangan? Jangan.
"Oke, terima kasih. Mr. Gordon, apakah saya bisa pinjam telepon sebentar?"
Ketika Gumb menaruh kartu nama di meja, ngengat di punggungnya terbang. Serangga itu muncul
dari belakangnya, melewati kepalanya, lalu hinggap pada lemari di atas tempat cuci piring.
Gumb menoleh dan menatapnya. Pandangan Star-'ng terpaku pada wajah pria di hadapannya, dan
umb segera tahu kedoknya telah terbongkar.
Pandangan mereka beradu dan keduanya saling membaca.
Mr. Gumb menelengkan kepala. Ia tersenyum "Saya punya telepon cordless di pantry. Sebentar saya
ambil dulu."
Jangan! Bertindaklah. Starling' meraih pistolnya-gerakan yang telah empat ribu kali dilakukannya.
Gagang pistol digenggamnya dengan dua tangan moncongnya terarah ke dada Gumb. "Jangan ber-
gerak."
Pria itu mengerutkan bibir. "Nah. Pelan-pelan. Angkat tangan." Giring dia keluar. Manfaatkan meja
sebagai penghalang. Giring dia ke depan. Suruh dia tiarap di tengah jalan dan tunjukkan lencana.
"Mr. Gub—Mr. Gumb, Anda saya tahan. Saya minta Anda keluar pelan-pelan."
Gumb malah melangkah ke arah berlawanan. Kalau saja Gumb merogoh kantong atau meraih ke
belakang, kalau saja Starling melihat senjata di tangannya, maka Starling bisa menembak. Tapi Gumb
hanya keluar ruangan.
Starling mendengarnya bergegas turun ke basement. Ia cepat-cepat mengelilingi meja dan menyusul
ke tangga. Gumb tidak kelihatan, tangganya terang benderang dan kosong. Jebakan. Melangkah ke
tangga berarti menjadi sasaran empuk.
Dari basement terdengar jeritan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Starling enggan menuruni tangga. Namun ia harus segera mengambil keputusan.
Catherine Martin kembali menjerit. Starling tidak berpikir panjang. Serta-merta ia maju, sebelah
tangan pada pagar tangga, tangan yang satu lagi menggenggam pistol. Moncong pistol sedikit di
bawah garis pandangan, tangannya berayun dari kiri ke kanan, bergantian membidik dua pintu
terbuka yang berhadapan di kaki tangga.
Lampu basement menyala. Ia tak bisa melewati satu pintu tanpa membelakangi yang lain. Kalau
begitu cepatlah, ke kiri. ke arah jeritan. Memasuki ruang sumur berlantai pasir, menjauhi pintu.
Matanya belum pernah terbelalak selebar sekarang. Satu-satunya tempat bersembunyi adalah di balik
sumur. Ia bergeser ke samping, menyusuri dinding, kedua tangan menggenggam pistol, lengan
terentang lurus ke depan, siap menarik picu. Ia mengelilingi sumur, tapi ternyata tidak ada siapa-siapa
di belakangnya.
Jeritan pelan terdengar dari lubang sumur, disusul suara menyalak seekor anjing. Ia menghampiri
sumur, menoleh ke pintu, lalu memandang ke bawah. Melihat gadis di bawah, kembali menoleh,
memandang ke bawah lagi. Tugas pertama: tenangkan sandera.
"FBI, Anda aman."
"Aman TAHI KUCING. Keluarkanaku. KELUARKANAKU."
"Catherine, kau aman. Jangan ribut. Kau tahu di mana dia?"
"KELUARKANAKU, AKU TIDAK PEDULI DI MANA DIA, POKOKNYA KELUARKANAKU."
'Aku akan mengeluarkanmu. Tapi tenang dulu. Bantulah aku. Jangan ribut, supaya aku bisa men-
dengar. Coba diamkan anjing itu.
'a pasang kuda-kuda di balik sumur dan mengawasi pintu. Jantungnya berdegup-degup. Embusan
naPasnya menerbangkan debu dari dinding batu di hadapannya. Ia tak bisa meninggalkan Catherine
Martin untuk memanggil bantuan sebelum tahu di mana Gumb berada. Ia maju pelan-pelan dan
mengambil posisi di samping pintu. Ia bisa melihat kaki tangga dan sebagian ruang kerja di baliknya.
Ia harus menemukan Gumb, atau memastikan orang itu telah kabur, atau ia harus membawa
Catherine keluar bersamanya. Hanya itu pilihan yang ada.
Ia menengok ke belakang, memandang berkeliling ruang sumur.
"Catherine. Catherine. Apakah ada tangga di sini?"
"Aku tidak tahu. Waktu siuman, aku sudah di bawah sini. Dia menurunkan ember yang diikat tali."
Pada salah satu balok dinding ada kerek kecil. Namun tak ada tali.
"Catherine, aku harus mencari sesuatu untuk mengeluarkanmu. Kau bisa jalan?"
"Ya. Tapi jangan tinggalkan aku."
"Aku akan pergi sebentar saja."
"Jangan tinggalkan aku, brengsek, ibuku akan..."
"Diam, Catherine. Kau harus diam supaya aku bisa mendengar. Kalau mau selamat, diam, mengerti?"
Kemudian, lebih keras, "Para petugas akan segera menyusul, jadi diamlah. Kami takkan
membiarkanmu di bawah sana."
Ia harus mendapatkan tali. Di mana ada tali? Ayo cari.
Dengan langkah cepat Starling melintas di depan tangga, bergegas ke pintu ruang kerja. Pintulah tem-
pat paling berbahaya. Terburu-buru ia masuk, melangkah bolak-balik di dekat dinding, sampai ia
melihat seluruh ruangan. Sosok-sosok familiar tampak mengambang di dalam sejumlah akuarium,
Starling terlalu siaga untuk merasa kaget. Ia melangkah maju, melewati deretan akuarium, melewati
tempat cuci tangan, kandang serangga. Beberapa ngengat besar beterbangan. Starling tak peduli.
Ia mendekati koridor di balik ruang kerja, koridor yang terang benderang. Lemari es di belakangnya

ben99 ebooks collections 104


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

mendadak berdengung, dan ia segera berbalik sambil menekuk lutut, jarinya mengencang pada picu,
lalu mengendur lagi. Masuk ke koridor. Ia tak pernah diajari cara mengintip. Kepala dan pistol maju
berbarengan, tapi rendah. Koridornya kosong. Ada studio yang terang benderang di ujungnya. Ia
kembali maju, melewati satu pintu tertutup, dan berhenti di pintu studio. Dinding-dinding dilapisi
kayu berwarna terang. Mustahil ia dapat menyelinap masuk tanpa terlihat. Pastikan setiap maneken
memang maneken, setiap bayangan hanya bayangan maneken. Gerakan di cermin gerakanmu sendiri.
Pintu lemari besar di studio terbuka lebar. Pintu di dinding seberang membuka ke kegelapan. Tak ada
tali, tak ada tangga. Tak ada cahaya di balik studio. Starling menutup pintu ke bagian basement yang
gelap, mengganjal pegangan pintu dengan kursi, dan menahan kursi dengan mesin jahit. Kalau ia bisa
yakin bahwa sasarannya tidak berada di bagian basement ini, ia bisa mengambil risiko naik sebentar
u"tuk mencari telepon.
Ia kembali ke koridor, menghampiri pintu tertutup Wng dilewatinya tadi. Ia melintas dan membuka
PjMu dengan satu gerakan cepat. Pintunya membentur inding, tak ada siapa-siapa di baliknya. Sebuah
kamar mandi tua. Di dalamnya ada tali, pengait Keluarkan Catherine atau cari telepon? Catherine tak
mungkin terkena peluru nyasar di dasar lubang sumur. Tapi jika Starling tewas, riwayat Catherine
pun akan tamat. Bawa Catherine mencari telepon.
Starling enggan berlama-lama di kamar mandi. Mr. Gumb bisa muncul di pintu dan menyergapnya.
Starling memandang ke kiri-kanan, lalu membungkuk untuk memungut tali. Di dalam kamar mandi
ada bak besar. Bak itu terisi plesteran berwarna merah-ungu yang sudah mengeras. Sebuah tangan
tampak menyembul, gelap dan mengerut. Kuku-kukunya dicat merah muda. Di pergelangan tangan
ada arloji. Starling melihat semuanya sekaligus, tali, bak mandi, tangan, arloji.
Gerakan jarum detik adalah hal terakhir yang dilihatnya sebelum lampu padam.
Jantungnya langsung berdegup-degup keras. Kegelapan membuatnya pening. Ia harus menyentuh se-
suatu—pinggiran bak. Kamar mandi. Keluar dari kamar mandi. Kalau Gumb bisa menemukan pintu,
ia bisa memberondongkan peluru. Tak ada tempat berlindung. Cepat keluar. Merunduklah dan keluar
ke koridor. Semua lampu padam? Ya, semuanya. Kemungkinan besar dipadamkan dari kotak
sekering. Di mana kotak sekering? Dekat tangga. Biasanya di dekat tangga. Kalau ya, berarti Gumb
akan datang dari arah itu. Tapi dia ada di antara aku dan Catherine.
Catherine Martin kembali berteriak-teriak. Tunggu di sini? Sampai kapan? Barangkali Gumb sudah
kabur. Dia tidak tahu pasti apakah bala bantuan akan datang atau tidak. Ya, dia tahu. Tapi tidak lama
lagi orang-orang akan mulai mencariku. Paling lambat malam ini. Letak tangga searah dengan teriak-
an Catherine. Selesaikan sekarang.
Ia mulai menyusuri dinding, tanpa suara, sebelah tangan terangkat ke depan, pistol setinggi pinggang.
Keluar ke ruang kerja. Rasakan ruang melebar, meluas. Setengah jongkok di tengah ruangan, lengan
lurus ke depan, kedua tangan menggenggam pistol, tepat di bawah garis mata. Berhenti, pasang
telinga. Kepala, tubuh, dan lengan berputar berbarengan, bagaikan menara meriam. Berhenti, pasang
telinga.
Dalam kegelapan pekat terdengar desis pipa uap, gemercik air menetes.
Bau kambing menusuk hidung.
Catherine menjerit-jerit.
Mr. Gumb bersandar di dinding. Ia mengenakan kacamata khususnya. Ia tak perlu kuatir tertabrak
Starling—mereka dipisahkan meja peralatan. Ia menyorot Starling dengan senter inframerah dari atas
ke bawah. Wanita itu terlalu langsing, tak berguna baginya. Tapi ia ingat rambutnya, saat di dapur
tadi. Rambutnya indah sekali, dan urusan itu takkan makan waktu lebih dari satu menit. Ia bisa
melepaskannya dengan mudah, mengenakannya seperti wig. Kemudian ia akan memandang ke
lubang sumur dan berseru, "Kejutan!"
Ia senang menonton Starling mengendap-endap menyusuri tempat cuci tangan, perlahan-lahan maju
ke arah teriakan, pistolnya siap menembak. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk memburunya,
dan Itu pasti menyenangkan— dokter hewan agar Precious tidak dapat menoleh dan menggigit-gigit
bagian tubuhnya yang terasa sakit. Di basement ada lempengan kayu untuk menekan lidah, yang
dapat untuk membelat kaki Precious, serta satu tube Sting-Eez untuk mengurangi rasa sakit
seandainya makhluk itu mencakar anjingnya sebelum mati.
Satu tembakan ke kepala, dan ia cuma mengorbankan rambutnya. Precious lebih berharga daripada
rambut. Rambut itu merupakan tumbal, persembahan untuk keselamatan Precious.
Perlahan-lahan ia menuruni tangga dan memasuki dapur. Ia melepaskan sandal dan menuruni tangga
basement yang gelap. Ia sengaja berjalan merapat ke tembok, supaya tangganya tidak berderak.
Ia tidak menyalakan lampu. Di kaki tangga, ia belok kanan ke ruang kerja. Ia berjalan sambil meraba-
raba dalam kegelapan yang akrab baginya dan merasakan lantai berubah di bawah kakinya.
Lengan kimononya menyerempet salah satu kandang serangga, dan ia mendengar seekor ngengat
mengerik dengan gusar. Ia sampai di lemari, lalu mengambil senter inframerah dan memasang kaca-
mata khususnya. Kini dunia sekelilingnya berpendar hijau. Sejenak ia terdiam, menikmati bunyi
gemercik dari aquarium dan suara mendesis dari pipa-pipa uap. Penguasa kegelapan, ratu kegelapan.
Ngengat-ngengat yang beterbangan meninggalkan jejak hijau manyala dalam pandangannya. Kepak
sayap serangga-serangga itu terasa lembut pada pipinya"

Ia memeriksa pistol. Python itu berisi peluru


Special lead wad-cutters. Peluru tersebut langsung mengembang setelah menembus tulang tengkorak
dan menyebabkan kematian seketika. Jika makhluk itu berdiri saat ia menembak, jika ia menembak
tepat di ubun-ubun, maka peluru tersebut lebih aman dibandingkan peluru Magnum yang dapat
menembus rahang bawah dan mengoyak payudara.
Ia melangkah dengan hati-hati, lututnya menekuk, jari kakinya mencengkeram papan-papan lantai.
Tanpa bersuara ia melintasi lantai pasir di ruang sumur. Tanpa bersuara, namun tidak terlalu pelan. Ia
tak ingin bau badannya cepat tercium oleh anjing kecil di dasar sumur.
Ujung sumur tampak berpendar hijau, batu-batu dan semen perekat terlihat jelas, begitu pula urat-urat
kayu pada penutup lubang. Arahkan senter dan pandang ke bawah. Itu mereka. Makhluk itu berbaring
membungkuk, bagaikan udang raksasa. Mungkin sedang tidur. Precious meringkuk di sampingnya,
pasti tidur. Oh, moga-moga belum mati.

ben99 ebooks collections 105


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Kepala makhluk itu tampak jelas. Kalau ditembak di tengkuk, rambutnya bisa diselamatkan. Tapi
risikonya terlalu besar.
Mr. Gumb membungkuk dan memandang ke bawah. Pistolnya terasa berat di bagian depan, begitu
mudah dibidikkan. Ia mengarahkannya dalam berkas cahaya inframerah. Ia membidik bagian kepala
tempat rambut menempel pada pelipis.
Entah karena mendengar suara atau karena men-c'Um bau, penyebabnya tidak jelas, tapi Precious
mendadak bangun dan menyalak-nyalak, melompat-lompat dalam gelap. Catherine Martin cepat-
cepat merangkul anjing kecil itu dan menyelimuti diri dengan kasur. Mr. Gumb hanya melihat
tonjolan-tonjolan di balik kasur, dan ia tidak tahu mana anjingnya dan mana Catherine.
Namun ia sempat melihat Precious melompat. Ia tahu kakinya tidak cedera, dan seketika ia menyadari
hal lain: Catherine Baker Martin takkan menyakiti anjing itu. Mr. Gumb merasa lega tak terperikan.
Karena mereka sama-sama menyayangi anjing, ia bisa menembak kaki Catherine, lalu ketika
Catherine mendekap kakinya, ia akan menembak kepalanya tanpa ragu-ragu.
Ia menyalakan lampu, semua lampu di basement, dan dari gudang. Ia bisa mengendalikan diri dengan baik,
bisa berpikir jernih—ketika melintasi ruang kerja, ia ingat untuk menghidupkan kran air di tempat cuci tangan,
agar tak ada yang menyumbat pipa.
Ketika ia bergegas melewati tangga, siap beraksi, dengan lampu sorot di tangan, bel pintu berdering.
Bel pintunya berdering-dering, dan ia sampai terentak untuk mengenali suara itu. Sudah bertahun-tahun ia
tidak mendengarnya, bahkan tidak tahu apakah belnya masih berfungsi. Bel itu dipasang di tangga supaya bisa
terdengar di atas dan di bawah, sebuah lonceng logam berwarna hitam terselubung debu. Ia menatapnya dan
melihat debu beterbangan. Ada orang di' pintu depan, menekan tombol tua bertanda SUPERINTENDENT.
Mereka akan pergi.
Ia memasang lampu sorot.
Mereka tidak pergi.
Makhluk di lubang sumur mengatakan sesuatu yang tidak dihiraukannya. Bel pintu berdering tanpa henti.
Lebih baik ke atas dulu dan mengintip keluar. Pistol Python-nya yang bermoncong panjang tidak bisa
diselipkan ke kantong kimono. Ia meletakkannya di atas counter di ruang kerja.
Ia sudah mulai menaiki tangga ketika bel berhenti berdering. Ia pun berhenti dan menunggu sejenak. Hening.
Ia memutuskan tetap akan melihat ke atas. Ketika ia melintasi dapur, ketukan keras pada pintu belakang
membuatnya tersentak kaget. Di dalam lemari di dekat pintu belakang ada senapan. Ia tahu senapannya terisi
peluru.
Dengan pintu tangga ke basement tertutup rapat, tak ada yang bisa mendengar makhluk di bawah berteriak-
teriak, biarpun sekuat tenaga. Ia yakin akan hal itu.
Sekali lagi pintu digedor. Rantai pengaman terpasang. Ia membuka pintu sedikit.
"Saya menekan bel di depan, tapi tidak ada yang datang," ujar Clarice Starling. "Saya mencari keluarga Mrs.
Lippman, apakah Anda bisa membantu saya?"
"Mereka tidak tinggal di sini," jawab Mr. Gumb, lalu menutup pintu. Ia sudah hendak menuju tangga ketika
pintu digedor lagi, lebih keras dari sebelumnya.
Untuk kedua kalinya ia membuka pintu.
Wanita muda di luar menunjukkan kartu identitas bertulisan Federal Bureau of Investigation. "Maaf, tapi saya
perlu bicara dengan Anda. Saya mencari keluarga Mrs. Lippman. Saya tahu dia pernah tinggal di sini. Saya
perlu bantuan Anda."
"Mrs. Lippman sudah lama meninggal. Setahu saya, dia tidak punya saudara."
"Bagaimana dengan pengacara, atau akuntan? Seseorang yang mungkin menyimpan catatan usahanya? Anda
sempat mengenal Mrs. Lippman?"
"Sepintas lalu saja. Ada apa?"
"Saya menyelidiki kematian Fredrica Bimrnel. Boleh saya tahu nama Anda?"
"Saya Jack Gordon."
"Anda mengenal Fredrica Bimmel waktu dia bekerja untuk Mrs. Lippman?"
"Tidak. Apakah dia besar, gemuk? Barangkali saya pernah melihatnya, saya tidak yakin. Saya tidak ber-
maksud kasar tadi—saya baru bangun. Mrs. Lippman memang punya pengacara dulu, mungkin kartu namanya
masih saya simpan, coba saya lihat sebentar. Silakan masuk dulu. Saya kedinginan dan kucing saya pasti akan
kabur kalau pintunya terbuka. Dia akan melesat ke luar sebelum saya bisa mencegahnya."
Ia menghampiri meja tulis di pojok dapur dan membuka laci. Starling masuk dan mengeluarkan buku notes
dari tas.
"Mengerikan sekali," Mr. Gumb berkata sambil menggeledah laci. "Saya selalu merinding kalau teringat.
Apakah pelakunya akan segera ditangkap?"
"Belum, tapi kami masih mengusahakannya. Mr. Gordon, Anda mengambil alih rumah ini setelah Mrs.
Lippman meninggal?"
"Ya." Gumb membungkuk sambil membelakangi Starling. Ia merogoh-rogoh laci lain.
"Apakah Anda menemukan catatannya di sini-Catatan bisnis?"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Apakah FBI sudah menemukan petunjuk? Polisi di sini tampaknya tidak Disa
berbuat apa-apa. Anda sudah mendapatkan ciri-ciri atau sidik jari si pelaku?"
Seekor Ngengat Tengkorak muncul dari lipatan di bagian belakang kimono Mr. Gumb.
Serangga itu berhenti di tengah-tengah punggung, kira-kira di atas jantung, dan mengatur posisi sayapnya.
Starling menjatuhkan buku notes ke dalam tas.
Mister Gumb. Untung saja mantelku tidak terkancing. Cari alasan untuk keluar dari sini, lalu cari telepon.
Jangan. Dia tahu aku FBI. Begitu aku pergi, dia akan menghabisi Catherine. Menusuk ginjalnya. Teleponnya.
Teleponnya tidak kelihatan. Tidak ada di sini, tanyakan teleponnya. Tunggu sampai tersambung, lalu sergap
dia. Paksa dia tiarap di lantai, lalu tunggu polisi. Ya, itu cara terbaik. Dia sedang membalik.
"Ini nomornya," ujar Mr. Gumb. Ia memegang sebuah kartu nama.
Diambil, jangan? Jangan.
"Oke, terima kasih. Mr. Gordon, apakah saya bisa pinjam telepon sebentar?"
Ketika Gumb menaruh kartu nama di meja, ngengat di punggungnya terbang. Serangga itu muncul dari
belakangnya, melewati kepalanya, lalu hinggap pada lemari di atas tempat cuci piring.
Gumb menoleh dan menatapnya. Pandangan Star-'ng terpaku pada wajah pria di hadapannya, dan umb segera
tahu kedoknya telah terbongkar.

ben99 ebooks collections 106


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Pandangan mereka beradu dan keduanya saling membaca.


Mr. Gumb menelengkan kepala. Ia tersenyum "Saya punya telepon cordless di pantry. Sebentar saya ambil
dulu."
Jangan! Bertindaklah. Starling' meraih pistolnya-gerakan yang telah empat ribu kali dilakukannya. Gagang
pistol digenggamnya dengan dua tangan moncongnya terarah ke dada Gumb. "Jangan bergerak."
Pria itu mengerutkan bibir. "Nah. Pelan-pelan. Angkat tangan." Giring dia keluar. Manfaatkan meja sebagai
penghalang. Giring dia ke depan. Suruh dia tiarap di tengah jalan dan tunjukkan lencana.
"Mr. Gub—Mr. Gumb, Anda saya tahan. Saya minta Anda keluar pelan-pelan."
Gumb malah melangkah ke arah berlawanan. Kalau saja Gumb merogoh kantong atau meraih ke belakang,
kalau saja Starling melihat senjata di tangannya, maka Starling bisa menembak. Tapi Gumb hanya keluar
ruangan.
Starling mendengarnya bergegas turun ke basement. Ia cepat-cepat mengelilingi meja dan menyusul ke
tangga. Gumb tidak kelihatan, tangganya terang benderang dan kosong. Jebakan. Melangkah ke tangga berarti
menjadi sasaran empuk.
Dari basement terdengar jeritan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Starling enggan menuruni tangga. Namun ia harus segera mengambil keputusan.
Catherine Martin kembali menjerit. Starling tidak berpikir panjang. Serta-merta ia maju, sebelah tangan pada
pagar tangga, tangan yang satu lagi menggenggam pistol. Moncong pistol sedikit di bawah garis pandangan,
tangannya berayun dari kiri ke kanan, bergantian membidik dua pintu terbuka yang berhadapan di kaki tangga.
Lampu basement menyala. Ia tak bisa melewati satu pintu tanpa membelakangi yang lain. Kalau begitu
cepatlah, ke kiri. ke arah jeritan. Memasuki ruang sumur berlantai pasir, menjauhi pintu. Matanya belum
pernah terbelalak selebar sekarang. Satu-satunya tempat bersembunyi adalah di balik sumur. Ia bergeser ke
samping, menyusuri dinding, kedua tangan menggenggam pistol, lengan terentang lurus ke depan, siap
menarik picu. Ia mengelilingi sumur, tapi ternyata tidak ada siapa-siapa di belakangnya.
Jeritan pelan terdengar dari lubang sumur, disusul suara menyalak seekor anjing. Ia menghampiri sumur,
menoleh ke pintu, lalu memandang ke bawah. Melihat gadis di bawah, kembali menoleh, memandang ke
bawah lagi. Tugas pertama: tenangkan sandera.
"FBI, Anda aman."
"Aman TAHI KUCING. Keluarkan aku. KELUARKAN AKU."
"Catherine, kau aman. Jangan ribut. Kau tahu di mana "KELUARKAN AKU, AKU TIDAK PEDULI DI
MANA DIA, POKOKNYA KELUARKAN AKU."
'Aku akan mengeluarkanmu. Tapi tenang dulu. Bantulah aku. Jangan ribut, supaya aku bisa men-dengar. Coba
diamkan anjing itu.
'a pasang kuda-kuda di balik sumur dan mengawasi pintu. Jantungnya berdegup-degup. Embusan naPasnya
menerbangkan debu dari dinding batu di hadapannya. Ia tak bisa meninggalkan Catherine Martin untuk
memanggil bantuan sebelum tahu di mana Gumb berada. Ia maju pelan-pelan dan mengambil posisi di
samping pintu. Ia bisa melihat kaki tangga dan sebagian ruang kerja di baliknya.
Ia harus menemukan Gumb, atau memastikan orang itu telah kabur, atau ia harus membawa Catherine keluar
bersamanya. Hanya itu pilihan yang ada.
Ia menengok ke belakang, memandang berkeliling ruang sumur.
"Catherine. Catherine. Apakah ada tangga di sini?"
"Aku tidak tahu. Waktu siuman, aku sudah di bawah sini. Dia menurunkan ember yang diikat tali."
Pada salah satu balok dinding ada kerek kecil. Namun tak ada tali.
"Catherine, aku harus mencari sesuatu untuk mengeluarkanmu. Kau bisa jalan?"
"Ya. Tapi jangan tinggalkan aku."
"Aku akan pergi sebentar saja."
"Jangan tinggalkan aku, brengsek, ibuku akan..."
"Diam, Catherine. Kau harus diam supaya aku bisa mendengar. Kalau mau selamat, diam, mengerti?"
Kemudian, lebih keras, "Para petugas akan segera menyusul, jadi diamlah. Kami takkan membiarkanmu di
bawah sana."
Ia harus mendapatkan tali. Di mana ada tali? Ayo cari.
Dengan langkah cepat Starling melintas di depan tangga, bergegas ke pintu ruang kerja. Pintulah tempat paling
berbahaya. Terburu-buru ia masuk, melangkah bolak-balik di dekat dinding, sampai ia melihat seluruh
ruangan. Sosok-sosok familiar tampak mengambang di dalam sejumlah akuarium, Starling terlalu siaga untuk
merasa kaget. Ia melangkah maju, melewati deretan akuarium, melewati tempat cuci tangan, kandang
serangga. Beberapa ngengat besar beterbangan. Starling tak peduli.
Ia mendekati koridor di balik ruang kerja, koridor yang terang benderang. Lemari es di belakangnya mendadak
berdengung, dan ia segera berbalik sambil menekuk lutut, jarinya mengencang pada picu, lalu mengendur lagi.
Masuk ke koridor. Ia tak pernah diajari cara mengintip. Kepala dan pistol maju berbarengan, tapi rendah.
Koridornya kosong. Ada studio yang terang benderang di ujungnya. Ia kembali maju, melewati satu pintu
tertutup, dan berhenti di pintu studio. Dinding-dinding dilapisi kayu berwarna terang. Mustahil ia dapat
menyelinap masuk tanpa terlihat. Pastikan setiap maneken memang maneken, setiap bayangan hanya
bayangan maneken. Gerakan di cermin gerakanmu sendiri.
Pintu lemari besar di studio terbuka lebar. Pintu di dinding seberang membuka ke kegelapan. Tak ada tali, tak
ada tangga. Tak ada cahaya di balik studio. Starling menutup pintu ke bagian basement yang gelap,
mengganjal pegangan pintu dengan kursi, dan menahan kursi dengan mesin jahit. Kalau ia bisa yakin bahwa
sasarannya tidak berada di bagian basement ini, ia bisa mengambil risiko naik sebentar u"tuk mencari telepon.
Ia kembali ke koridor, menghampiri pintu tertutup Wng dilewatinya tadi. Ia melintas dan membuka PjMu
dengan satu gerakan cepat. Pintunya membentur inding, tak ada siapa-siapa di baliknya. Sebuah
kamar mandi tua. Di dalamnya ada tali, pengait Keluarkan Catherine atau cari telepon? Catherine tak mungkin
terkena peluru nyasar di dasar lubang sumur. Tapi jika Starling tewas, riwayat Catherine pun akan tamat.
Bawa Catherine mencari telepon.
Starling enggan berlama-lama di kamar mandi. Mr. Gumb bisa muncul di pintu dan menyergapnya. Starling
memandang ke kiri-kanan, lalu membungkuk untuk memungut tali. Di dalam kamar mandi ada bak besar. Bak
itu terisi plesteran berwarna merah-ungu yang sudah mengeras. Sebuah tangan tampak menyembul, gelap dan
mengerut. Kuku-kukunya dicat merah muda. Di pergelangan tangan ada arloji. Starling melihat semuanya
sekaligus, tali, bak mandi, tangan, arloji.

ben99 ebooks collections 107


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Gerakan jarum detik adalah hal terakhir yang dilihatnya sebelum lampu padam.
Jantungnya langsung berdegup-degup keras. Kegelapan membuatnya pening. Ia harus menyentuh sesuatu—
pinggiran bak. Kamar mandi. Keluar dari kamar mandi. Kalau Gumb bisa menemukan pintu, ia bisa
memberondongkan peluru. Tak ada tempat berlindung. Cepat keluar. Merunduklah dan keluar ke koridor.
Semua lampu padam? Ya, semuanya. Kemungkinan besar dipadamkan dari kotak sekering. Di mana kotak
sekering? Dekat tangga. Biasanya di dekat tangga. Kalau ya, berarti Gumb akan datang dari arah itu. Tapi dia
ada di antara aku dan Catherine.
kembali berteriak-teriak. Tunggu di sini? Sampai kapan? Barangkali Gumb sudah kabur. Dia tidak tahu pasti
apakah bala bantuan akan datang atau tidak. Ya, dia tahu. Tapi tidak lama lagi orang-orang akan mulai
mencariku. Paling lambat malam ini. Letak tangga searah dengan teriakan Catherine. Selesaikan sekarang.
Ia mulai menyusuri dinding, tanpa suara, sebelah tangan terangkat ke depan, pistol setinggi pinggang. Keluar
ke ruang kerja. Rasakan ruang melebar, meluas. Setengah jongkok di tengah ruangan, lengan lurus ke depan,
kedua tangan menggenggam pistol, tepat di bawah garis mata. Berhenti, pasang telinga. Kepala, tubuh, dan
lengan berputar berbarengan, bagaikan menara meriam. Berhenti, pasang telinga.
Dalam kegelapan pekat terdengar desis pipa uap, gemercik air menetes.
Bau kambing menusuk hidung.
Catherine menjerit-jerit.
Mr. Gumb bersandar di dinding. Ia mengenakan kacamata khususnya. Ia tak perlu kuatir tertabrak Starling—
mereka dipisahkan meja peralatan. Ia menyorot Starling dengan senter inframerah dari atas ke bawah. Wanita
itu terlalu langsing, tak berguna baginya. Tapi ia ingat rambutnya, saat di dapur tadi. Rambutnya indah sekali,
dan urusan itu takkan makan waktu lebih dari satu menit. Ia bisa melepaskannya dengan mudah,
mengenakannya seperti wig. Kemudian ia akan memandang ke lubang sumur dan berseru, "Kejutan!"
Ia senang menonton Starling mengendap-endap menyusuri tempat cuci tangan, perlahan-lahan maju ke arah
teriakan, pistolnya siap menembak. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk memburunya, dan itu pasti
menyenangkan—Gumb belum pernah mendapatkan buruan bersenjata. Ia pasti akan sangat menikmatinya.
Tapi tak ada waktu. Sayang.
Satu tembakan ke muka sudah memadai dan sangat mudah pada jarak dua setengah meter. Sekarang.
Gumb mengokang pistol sambil mengangkatnya, dan sosok di hadapannya mendadak tampak kabur; pistol di
tangannya menyentak dan punggungnya membentur lantai; senternya menyala dan ia melihat langit-langit.
Starling tiarap di lantai. Matanya silau karena kilatan cahaya, telinganya berdengung-dengung akibat letusan
pistol. Ia bergerak dalam gelap selagi keduanya tidak dapat mendengar, menembakkan peluru-peluru, meraba-
raba untuk memastikan semua peluru telah keluar, meraih speedloader, memasang peluru baru, meraba-raba
lagi, kembali pasang kuda-kuda. Ia telah melepaskan empat tembakan, dua kali dua. Gumb menembak satu
kali. Starling menemukan kedua selongsong yang ia tembakkan. Ditaruh di mana? Di kantong speedloader. Ia
terbaring bagaikan patung. Haruskah ia bergerak sebelum Gumb bisa mendengar lagi?
Revolver yang dikokang menghasilkan suara khas. Starling menembak ke arah bunyi itu tanpa bisa melihat
apa pun di balik kilatan cahaya. Ia berharap Gumb kini menembak ke arah yang salah, sehingga ia bisa
melepaskan tembakan ke arah kilatan cahaya. Pendengarannya mulai pulih, telinganya masih berdengung-
dengung, tapi ia bisa mendengar.
Suara apa itu? Kedengarannya seperti siulan. Seperti air mendidih dalam teko, tapi terputus-putus. Seperti
bunyi napas. Bunyi napasku? Bukan. Napasnya menerpa lantai dan berbalik ke wajahnya. Hati-
"hati, jangan hirup debu. jangan sampai bersin. Ya, bunyi napas. Bunyi dari luka di dada. Dadanya kena
tembak. Starling pernah belajar cara menambal luka dada. Tempelkan sesuatu, kantong plastik, atau apa saja
yang kedap udara, lalu ikat kencang-kencang. Usahakan paru-paru mengembang kembali. Berarti ia berhasil
menembak Gumb di dada. Sekarang bagaimana? Tunggu. Biar dia kaku dan berdarah. Tunggu.
Pipi Starling terasa perih. Ia tidak menyentuhnya; kalau memang ada darah, ia tak ingin tangannya licin.
Sekali lagi terdengar erangan dari lubang sumur. Catherine memanggil, menangis. Starling harus menunggu.
Ia tak bisa menjawab Catherine. Ia tak bisa bicara maupun bergerak.
Sorot senter Mr. Gumb yang tak kasat mata terarah ke langit-langit. Ia berusaha menggesernya, tapi ternyata
tak sanggup, sama halnya ia tak dapat menggerakkan kepala. Seekor ngengat besar dari Malaysia yang terbang
di dekat langit-langit bereaksi terhadap cahaya inframerah itu dan turun sambil berputar-putar. Bayangan
sayapnya di langit-langit hanya tampak di mata Mr. Gumb.
Di tengah bunyi mendesis dalam gelap, Starling mendengar suara Mr. Gumb yang mengerikan, terengah-
engah, "Bagaimana... rasanya... jadi... begitu cantik?"
Lalu ada bunyi lain. Bunyi berdeguk, bunyi geme-retuk, dan desis tadi berhenti.
Starling mengenal bunyi itu. Ia pernah mendengarnya, di rumah sakit ketika ayahnya meninggal.
Ia meraba-raba tepi meja dan berdiri. Sambil meraba-raba, ia menuju ke arah suara Catherine, menemukan
tangga, dan menaikinya dalam gelap.
Rasanya lama sekali. Di laci lemari dapur ada lilin. Dengan bantuan cahaya lilin, ia menemukan kotak
sekering di samping tangga, lalu tersentak ketika lampu-lampu menyala. Untuk mencapai kotak sekering dan
memadamkan lampu, Gumb rupanya meninggalkan basement melalui jalan lain dan turun lagi di belakang
Starling. . Starling harus yakin Gumb telah tewas. Ia menunggu sampai matanya terbiasa dengan cahaya lampu
sebelum kembali ke. ruang kerja, dan ia tetap waspada. Ia bisa melihat kaki Gumb yang telanjang menyembul
dari bawah meja kerja. Pandangan Starling melekat pada tangan di samping pistol, sampai pistol itu ia tendang
jauh-jauh. Mata Gumb terbuka. Ia mati, tewas tertembak di sisi kanan dadanya, tergeletak di tengah genangan
darah kental. Ia mengenakan beberapa barang dari lemarinya, dan Starling tak sanggup menatapnya lama-
lama.
Ia menghampiri tempat cuci tangan, menaruh pistolnya, lalu membilas pergelangannya dengan air dingin dan
membasuh wajah dengan tangannya yang basah. Tak ada darah. Beberapa ngengat beterbangan mengelilingi
lampu. Starling harus melangkahi mayat Gumb untuk memungut pistol orang itu.
Di lubang sumur ia berkata, "Catherine, dia sudah mati. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku akan naik
dan menelepon..."
"Jangan! KELUARKAN AKU. KELUARKAN AKU. KELUARKAN AKU."
"Dengar dulu. Dia sudah mati. Ini pistolnya. Masih ingat pistolnya? Aku akan menelepon polisi dan dinas
pemadam kebakaran. Aku tidak berani mengangkatmu tanpa bantuan. Aku kuatir kau jatuh. Begitu selesai
menelepon, aku akan turun lagi dan menunggu bersamamu. Oke? Oke. Coba tenangkan anjing itu. Oke? Oke."

ben99 ebooks collections 108


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

Kru stasiun-stasiun televisi setempat tiba segera setelah dinas pemadam kebakaran, mendahului polisi
Belvedere. Komandan pemadam kebakaran, yang gusar karena silau akibat lampu-lampu sorot, memerin-
tahkan para peliput keluar dari basement sementara ia menyiapkan kerangka pipa untuk mengangkat Catherine
Martin. Seorang petugas turun ke lubang sumur dan membantu memasang kursi penyelamat. Catherine
muncul sambil menggendong anjing yang terus didekapnya di dalam ambulans.
Pihak rumah sakit tidak mengizinkan anjing itu dibawa masuk. Salah satu petugas pemadam kebakaran
disuruh mengantarkannya ke tempat penitipan binatang, namun akhirnya membawanya pulang.

Bab Lima Puluh Tujuh

Sekitar lima puluh orang berkerumun di Na tional Airport di Washington, menunggu penerbangan tengah
malam dari Columbus, Ohio. Sebagian besar hendak menjemput sanak saudara dan mereka tampak mengantuk
dan mendongkol, dengan ujung baju menyembul dari balik jaket.
Ardelia Mapp berdiri di tengah-tengah kerumunan. Ia memperhatikan Starling ketika teman sekamarnya itu
turun dari pesawat. Starling tampak pucat, di bawah matanya ada bayangan gelap. Beberapa serbuk mesiu
menempel di pipinya. Ia melihat Mapp dan mereka berpelukan.
"Hei, jagoan," kata Mapp. "Ada bagasi yang perlu diambil?"
Starling menggelengkan kepala. "Jeff menunggu di mobil di luar. Ayo kita pulang." Jack Crawford juga ada di
luar. Mobilnya diparkir di belakang van di jalur limusin. Sepanjang malam ia sibuk menjemput saudara-
saudara Belia.
"Aku...," ia angkat bicara. "Kau tahu apa yang kaukerjakan. Kau berhasil." Ia menyentuh pipi Starling. "Apa
ini?"
"Sisa mesiu. Kata dokter, serbuk-serbuk ini akan lepas dengan sendirinya dalam beberapa hari—lebih baik
begitu daripada dicungkil."
Crawford menariknya dan mendekapnya sejenak, sejenak saja, kemudian menjauhkannya dan mencium
keningnya. "Kau tahu apa yang telah kaukerjakan," ia berkata sekali lagi. "Pulanglah. Tidurlah. Tidur sampai
siang. Besok saja kita bicara."
Van pengintaian yang baru terasa nyaman karena dirancang untuk pengintaian jangka panjang. Starling dan
Mapp menduduki kursi-kursi besar di belakang.
Tanpa Jack Crawford di dalam mobil, Jeff mengemudi sedikit lebih kencang. Perjalanan menuju Quantico pun
lancar.
Starling duduk dengan mata terpejam. Setelah beberapa kilometer, Mapp menggoyangkan lututnya. Ia telah
membuka dua botol Coke. Satu botol diserahkannya pada Starling, lalu ia mengeluarkan sebotol kecil Jack
Daniel's dari tas.
Masing-masing mereguk Coke, lalu menghirup wiski. Kemudian mereka menutup leher botol dengan ibu jari,
mengocok-ngocok botol, dan mengarahkan busanya ke dalam mulut.
"Ahhh," ujar Starling.
"Awas kalau sampai tumpah di sini," Jeff me-wanti-wanti.
"Tenang saja, Jeff," kata Mapp. Kepada Starling ia berbisik, "Coba kau lihat Jeff menungguku di toko
minuman tadi. Dia senewen sekali." Ketika Mapp melihat bahwa pengaruh wiski sudah mulai terasa, ketika
Starling merosot sedikit di kursinya, Mapp bertanya, "Bagaimana keadaanmu?"
"Sumpah mati, aku tidak tahu."
"Kau tidak perlu kembali ke sana, bukan?"
"Mungkin satu hari, minggu depan, tapi moga-moga tidak perlu. Orang kejaksaan datang dari Columbus untuk
bicara dengan kepolisian Belvedere. Aku juga sudah memberi Delapan
Jack Crawford terbangun pagi-pagi di sofa ruang kerjanya dan mendengar dengkur saudara-saudara iparnya
yang menginap. Pada detik-detik ini, selagi masih bebas dari beban yang dipikulnya, yang muncul dalam
ingatannya bukanlah kematian istrinya, melainkan ucapan terakhir Belia dengan mata jernih dan tenang,
"Bagaimana kabar tanamanku di luar?"
Ia mengambil sendok gabah Belia dan, masih dengan memakai jubah, keluar ke pekarangan untuk memberi
makan burung-burung, seperti yang ia janjikan. Ia meninggalkan pesan untuk saudara-saudara Belia, dan
berangkat sebelum matahari terbit. Sejak dulu Crawford cukup akrab dengan ipar-iparnya, dan ia pun
bersyukur ada suara-suara yang meramaikan rumahnya, namun kini ia senang bisa pergi ke Quantico.
Ia sedang mempelajari pesan-pesan teleks yang masuk semalam, sambil menonton siaran berita pagi di ruang
kerjanya, ketika Starling menempelkan hidung ke kaca di pintu. Crawford memindahkan tumpukan laporan
dari kursi agar Starling bisa duduk, dan berdua mereka menonton siaran berita sambil membisu. Ini dia.
Bagian luar gedung tua Jame Gumb di Belvedere dengan etalasenya yang kosong dan jendela-jendela tertutup
terali kokoh. Starling nyaris tidak mengenalinya.
"Penjara horor," demikian istilah yang digunakan pembaca siaran berita.
Adegan pembuka disusul gambar-gambar yang memperlihatkan lubang sumur dan basement. Kamera-kamera
foto tampak memblokir pandangan kamera TV. Petugas-petugas pemadam kebakaran dengan gusar mengusir
para wartawan. Ngengat-ngengat beterbangan, mendekati lampu, seekor ngengat tergeletak di lantai,
mengepakkan sayap untuk terakhir kali.
Catherine Martin menolak tandu dan berjalan sendiri ke ambulans, diselubungi mantel petugas polisi. Anjing
kecil yang dipeluknya tampak menyembulkan kepala Sosok Starling dari samping, bergegas ke sebuah mobil,
kepalanya merunduk, tangan terselip dalam kantong mantel.
Rekaman itu telah diedit dan sejumlah detail yang terlalu mengerikan telah dibuang.
Ruangan tempat Gumb menyimpan mayat para korbannya di basement hanya terlihat dari jauh. Sejauh ini
ditemukan enam jenazah.
Dua kali Crawford mendengar Starling mengembuskan napas melalui hidung. Siaran berita diselingi iklan.
"Selamat pagi, Starling."
"Halo," 'Starling menyahut, seakan-akan sudah siang.
"Semalam pihak kejaksaan sudah mengirim kete-ranganmu lewat faks. Kau harus menandatangani beberapa

ben99 ebooks collections 109


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

copy untuk mereka. Jadi, dari rumah Fredrica Bimmel kau menemui Stacy Hubka, setelah itu kau mendatangi
Mrs. Burdine di toko tempat Bimmel pernah bekerja, dan Mrs. Burdine kemudian memberikan alamat lama
Mrs. Lippman, bangunan yang kelihatan di TV tadi."
Starling mengangguk. "Stacy Hubka beberapa kali ke sana untuk menjemput Fredrica, tapi pacar Stacy yang
menyetir dan arah yang diberikannya kurang jelas. Mrs. Burdine yang menyimpan alamatnya."
"Mrs. Burdine tidak menyinggung bahwa ada pria di tempat Mrs. Lippman?" ;
"Tidak."
Rekaman dari Bethesda Naval Hospital muncul di layar TV. Wajah Senator Ruth Martin terlihat di jendela
limusin.
"Catherine dapat menjawab pertanyaan semalam, ya. Dia sedang tidur, dia diberi obat penenang. Kami sangat
bersyukur. Tidak, seperti saya katakan tadi, dia mengalami shock, tapi dapat diajak bicara. Hanya luka memar,
dan satu jarinya patah. Dan dia juga menderita dehidrasi. Terima kasih." Ia memberi isyarat kepada
pengemudinya. "Terima kasih. Tidak, dia sempat menyinggung anjing itu semalam, saya belum tahu anjing itu
akan diapakan, kami sudah punya dua anjing."
Berita itu ditutup dengan kutipan komentar ahli stres yang akan bicara dengan Catherine Baker Martin guna
menentukan gangguan emosional yang dialaminya.
Crawford mematikan TV.
"Bagaimana perasaanmu, Starling?"
"Perasaanku seperti beku. Anda juga?"
Crawford mengangguk, lalu segera mengalihkan pembicaraan. "Senator Martin menelepon semalam. Dia mau
datang untuk menemuimu. Catherine juga, kalau dia sudah pulih."
"Aku selalu di rumah."
"Krendler juga; dia mau kemari. Dia minta memonya dikembalikan."
"Setelah dipikir-pikir, aku tidak selalu di rumah."
"Aku punya saran untukmu. Manfaatkan Senator Martin. Biarkan dia menunjukkan rasa terima kasihnya.
Lakukan secepatnya. Rasa berutang budi tidak bertahan lama. Mengingat sepak terjangmu selama ini, kau
bakal membutuhkan dia."
"Ardelia juga bilang begitu."
"Teman sekamarmu, Mapp? Aku diberitahu Mapp akan membimbingmu untuk ujian susulan hari Senin.
Kabarnya dia satu setengah poin di depan saingan terdekatnya, Stringfellow."
"Untuk pidato perpisahan?"
"Tapi Stringfellow pasti takkan menyerah—Mapp akan dilewati lagi."
"Ardelia tidak mudah dikalahkan."
Di antara barang-barang yang memenuhi meja kerja Crawford terdapat burung origami buatan Dr. Lecter.
Crawford menggerakkan ekornya naik- turun. Burung itu mematuk-matuk.
"Lecter mendadak laku—dia di peringkat pertama daftar orang paling dicari," ujar Crawford. "Tapi untuk
sementara kelihatannya dia akan tetap bebas berkeliaran. Kau harus berhati-hati kalau meninggalkan markas."
Starling mengangguk.
"Sekarang ini dia masih sibuk," kata Crawford, "tapi kalau dia tak lagi sibuk, dia akan mencari hiburan. Satu
hal yang perlu kaucamkan: Dia akan menghabisimu kalau ada kesempatan. Bagi dia, kau tidak berbeda dari
orang lain."
"Kukira dia takkan berbuat begitu—itu kasar, dan dia juga takkan bisa mengajukan pertanyaan. Lain halnya
kalau dia sudah bosan denganku."
"Aku cuma minta kau berhati-hati, itu saja. Lapor ke piket setiap kali mau pergi. Jangan sembarangan
sebutkan lokasimu lewat telepon. Kalau kau tidak keberatan, aku ingin memasang alat pelacak pada
teleponmu. Percakapanmu takkan dipantau sebelum kau menekan tombol."
"Kukira dia takkan mengejarku' Mr. Crawford."
"Kau tidak dengar apa yang kukatakan?"
"Aku dengar, aku dengar."
"Bawa keteranganmu ini dan pelajari lagi. Tambahkan yang menurutmu perlu ditambahkan. Hubungi aku
kalau kau sudah siap membubuhkan tanda tangan, Starling. Aku bangga padamu. Begitu juga Brigham, dan
direktur kita." Pujian itu terdengar kaku, tidak seperti yang diinginkannya.
Crawford menyusul ke pintu ruang kerjanya. Starling telah menyusuri koridor yang lengang. Di tengah
dukanya yang menggunung, Crawford memanggil, "Starling, ayahmu tersenyum padamu."

Bab Lima Puluh Sembilan

Jame gumb menjadi berita sampai berminggu-minggu setelah ia diturunkan ke tempat peristirahatannya yang
terakhir.
Para wartawan sibuk menelusuri kisahnya, dimulai dengan catatan dari Sacramento County:
Ibunya sedang hamil satu bulan ketika gagal mendapat peringkat dalam Miss Sacramento Contest tahun 1948.
Nama "Jame" pada akte kelahirannya merupakan salah ketik yang tak pernah diperbaiki.
Ketika karier sebagai pemain film tak terwujud, ibunya menjadi pemabuk; Gumb berusia dua tahun ketika
dititipkan di panti asuhan oleh pihak Los Angeles County.
Paling tidak, dua jurnal ilmiah menjelaskan bahwa masa kecil yang tidak bahagia itulah yang menyebabkan ia
membunuh wanita di basement-nya untuk mengambil kulit mereka. Kata-kata gila dan jahat tidak muncul
dalam kedua artikel tersebut.
Rekaman kontes kecantikan yang ditonton Gumb setelah dewasa merupakan rekaman asli ibunya, tapi wanita
dalam film di kolam renang bukanlah ibunya; hal itu terungkap melalui suatu penelitian.
Kakek dan neneknya mengambilnya dari panti asuhan yang tidak memuaskan ketika ia berusia sepuluh tahun,
dan dua tahun kemudian ia membunuh mereka.
Gumb diikutsertakan dalam kursus menjahit oleh Tulare Vocational Rehabilitation ketika ia dirawat di rumah

ben99 ebooks collections 110


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

sakit jiwa. Ia menunjukkan bakat besar untuk pekerjaan itu.


Catatan mengenai pekerjaan yang pernah dilakukan Gumb tidak lengkap. Para wartawan menemukan paling
tidak dua restoran tempat ia bekerja tanpa tercatat, dan sesekali ia juga menekuni bidang pakaian. Tidak ada
bukti bahwa ia melakukan pembunuhan dalam masa itu, namun Benjamin Raspail memberikan keterangan
sebaliknya.
Gumb diketahui bekerja di toko cenderamata tempat hiasan-hiasan kupu-kupu dibuat ketika ia berkenalan
dengan Raspail, dan untuk beberapa waktu, hidupnya dibiayai pemusik tersebut. Saat itulah Gumb menjadi
terobsesi dengan ngengat dan kupu-kupu serta perubahan yang dialami serangga-serangga itu.
Setelah ditinggalkan Raspail, Gumb membunuh kekasih Raspail yang baru, Klaus. Ia memenggal kepalanya
dan mengambil sebagian kulitnya.
Kemudian ia mengunjungi Raspail di daerah Timur. Raspail, yang selalu bergairah jika ditemani orang
berlatar belakang kriminal, memperkenalkannya kepada Dr. Lecter.
Hal ini terbukti seminggu setelah kematian Gumb, ketika FBI menyita kaset-kaset berisi rekaman sesi-sesi
terapi Raspail dengan Dr. Lecter dari sanak saudara si pemusik.
Bertahun-tahun lalu, saat Dr. Lecter dinyatakan tidak waras, kaset-kaset tersebut diserahkan kepada keluarga
para korban untuk dimusnahkan. Namun sanak saudara Raspail yang bersengketa menyimpan kaset-kaset itu,
dengan harapan dapat dipergunakan untuk menentang wasiatnya. Mereka kehilangan minat mendengarkan
rekaman-rekaman awal, yang hanya berisi kenangan Raspail mengenai masa sekolahnya yang menjemukan.
Menyusul liputan berita terhadap Jame Gumb, para anggota keluarga memutar rekaman-rekaman yang tersisa.
Ketika mereka menghubungi Everett Yow dan mengancam untuk menggunakan rekaman itu guna kembali
memperkarakan wasiat Raspail, Yow menelepon Clarice Starling.
Rekaman itu antara lain' berisi sesi terakhir, di mana Lecter membunuh Raspail. Yang lebih penting lagi,
rekaman tersebut mengungkapkan berapa banyak yang diceritakan Raspail kepada Lecter mengenai Jame
Gumb:
Raspail memberitahu Lecter bahwa Gumb terobsesi dengan ngengat, bahwa Gumb pernah mengambil kulit
manusia, bahwa ia membunuh Klaus, bahwa ia bekerja untuk perusahaan barang kulit Mr. Hide di Calumet
City, tapi menerima uang dari wanita tua di Belvedere, Ohio, yang memasang lapisan dalam untuk Mr. Hide
Inc. Suatu hari Gumb akan merebut semuanya dari wanita tua itu, Raspail meramalkan.
"Waktu Lecter mengetahui bahwa korban pertama berasal dari Belvedere dan dikuliti, dia langsung tahu siapa
pelakunya," Crawford berkata kepada Starling ketika mereka mendengarkan rekaman itu bersama-sama.
"Kalau saja Chilton tidak ikut campur, dia akan menyerahkan Gumb dan tampil seperti jenius."
"Dr. Lecter sempat menuliskan komentar dalam berkas bahwa lokasi-lokasi kejadian terlalu acak," ujar
Starling. "Dan di Memphis dia bertanya apakah aku bisa menjahit. Apa sebenarnya yang dia inginkan?"
"Dia ingin bermain-main," sahut Crawford. "Dari dulu dia suka bermain-main."
Rekaman berisi suara Jame. Gumb tak pernah ditemukan, dan kegiatannya dalam tahun-tahun setelah
kematian Raspail diketahui sepotong demi sepotong melalui surat-surat bisnis, bon pembelian bensin,
wawancara dengan pemilik-pemilik butik.
Ketika Mrs. Lippman meninggal saat berkunjung ke Florida bersama Gumb, Gumb mewarisi semuanya—
gedung tua dengan tempat tinggal dan ruang toko kosong serta basement luas, dan uang dalam jumlah cukup
besar. Ia berhenti bekerja untuk Mr. Hide, tapi tetap menyewa apartemen di Calumet City selama beberapa
waktu, dan menggunakan alamat bisnisnya untuk menerima kiriman paket atas nama John Grant. Ia tetap
melayani ptlanggan-pe-langgan tertentu, dan terus mengunjungi butik-butik di seluruh negeri, seperti yang
dilakukannya untuk Mr. Hide, guna mengukur baju pesanan khusus yang kemudian dikerjakannya di
Belvedere. Perjalanan-perjalanan ini sekaligus dimanfaatkannya untuk mencari korban dan membuang mayat-
mayat yang sudah tak terpakai. Berjam-jam ia menyusuri jalan raya dengan van berwarna hijau, sementara
baju kulit yang telah rampung terayun-ayun di rak gantung, di atas kantong jenazah di lantai.
Ia menikmati kebebasan sepenuhnya di basement, yang memberinya tempat untuk bermain dan bekerja. Mula-
mula ia sekadar bermain-main—memburu wanita-wanita muda di tengah kegelapan, menyusun tablo di ruang-
ruang terpencil yang kemudian disegel dan dibuka kembali hanya untuk memasukkan limau.
Fredrica Bimmel mulai membantu Mrs. Lippman pada tahun terakhir dalam hidup wanita tua itu. Fredrica
mengerjakan jahitan di tempat Mrs. Lippman ketika ia bertemu Jame Gumb. Fredrica Bimmel bukan wanita
muda pertama yang dibunuh, tapi ia korban pertama yang dibunuh karena kulitnya.
Surat-surat Fredrica Bimmel kepada Gumb ditemukan di antara barang-barang orang itu.
Starling nyaris tak sanggup membaca surat-surat itu, yang begitu penuh harapan dan menyiratkan dambaan
akan kasih sayang: "Sahabatku tercinta yang selalu kusimpan dalam dada, aku cinta padamu!—aku tak pernah
menyangka aku akan berkata begini, dan sekarang ucapanku malah dibalas."
Kapan Gumb membuka kedoknya? Apakah Fredrica menemukan basement-nyal Bagaimana roman muka
Fredrica ketika Gumb berubah? Berapa lama ia dibiarkan hidup?
Yang paling mengerikan, tali persahabatan antara Fredrica dan Gumb tetap terjalin sampai saat terakhir:
Fredrica mengirim surat dari lubang sumur.
Koran-koran tabloid mengubah julukan Gumb menjadi Mr. Hide, dan, karena jengkel bukan mereka yang
menemukan julukan baru itu, mengulangi kisahnya dari awal lagi.
Di tengah markas Quantico yang aman, Starling.

"Jangan berbelit-belit."
"Pilch mendapatkan ujung rumah yang satu lagi. Akhir pekan besok dia mengajakku ke sana. Di sana banyak
kamar, katanya. 'Sebanyak yang mungkin dibutuhkan,' begitu dia bilang, kalau aku tidak salah. Dia bilang,
saudaranya akan menelepon dan mengundangku."
"Wah, wah. Aku baru tahu masih ada orang yang punya kebiasaan seperti itu."
"Menurut gambaran yang dia berikan, semuanya serba menyenangkan—bersantai, jalan-jalan di teluk, masuk
ke rumah dan api sudah menyala di perapian, disambut anjing-anjing yang manis."
"Hmmm, romantis."
"Rasanya agak bertubi-tubi. Kami belum pernah berkencan. Dia bilang paling enak tidur bersama dua atau tiga
anjing kalau udaranya benar-benar dingin. Dia bilang anjing mereka cukup banyak, masing-masing bisa dapat
sepasang."
"Ah, kau langsung tahu Pilcher mau pakai siasat baju anjing, bukan?"
"Dia mengaku pintar masak. Saudaranya juga bilang begitu."

ben99 ebooks collections 111


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

"Oh, dia sudah menelepon."


"Yap."
"Seperti apa orangnya?"
"Lumayan. Sepertinya dia ada di ujung rumah yang satu lagi."
"Lalu kauhilang apa?"
"Aku bilang, 'Ya, terima kasih banyak,' itu saja."
"Bagus," ujar Mapp. "Bagus sekali. Jangan lupa makan kepiting. Tarik Pilcher dan ajak dia berbuat gila-
gilaan."

Bab Enam Puluh Satu


Seorang pelayan room service sedang mendorong kereta menyusuri koridor berkarpet tebal di Marcus Hotel.
Di depan pintu suite 901, ia berhenti. Pelan-pelan ia mengetuk pintu dengan tangannya yang terbungkus
sarung tangan. Ia menelengkan kepala dan mengetuk sekali lagi agar terdengar di tengah alunan musik di
dalam—Bach, Two-and Three-Part Inventions, Glenn Gould pada piano. "Masuk."
Pria dengan perban di hidung, mengenakan kimono. Ia sedang menulis di meja.
"Letakkan di dekat jendela. Tolong perlihatkan anggurnya."
Si pelayan menyerahkan botol anggur. Pria itu memeriksanya di bawah lampu meja tulis, dan menempelkan
leher botol ke pipi. * "Tolong dibuka, tapi jangan dulu ditaruh di es," katanya, lalu menuliskan tip yang cukup
besar di bagian bawah rekening. "Saya belum mau minum sekarang."
'a enggan menerima gelas anggur dari si pelayan Untuk dicicipi. Ia tidak suka bau arloji orang itu.
Dr. Lecter sedang bergembira. Segala sesuatu berjalan sesuai rencana dalam minggu terakhir. Ia telah berhasil
mengubah penampilannya. Tidak lama lagi ia sudah bisa membuka perban dan membuat pasfoto.
Bagian utama ia kerjakan sendiri—menginjeksi silikon dalam jumlah kecil di hidung. Gel silikon dapat dibeli
bebas, namun jarum suntik dan Novo-caine harus dibeli dengan resep. Ia mengatasi kesulitan ini dengan
mengambil resep dari counter apotek yang ramai di dekat rumah sakit. Ia menghapus tulisan cakar ayam pada
resep itu dengan menggunakan tippex, lalu membuat fotokopi dari lembaran kertas yang telah kosong. Resep
pertama yang ditulisnya adalah salinan dari resep yang ia curi, dan ia mengembalikannya ke apotek, sehingga
tidak ada yang hilang.
Kesan lebam pada wajahnya yang halus tidaklah menyenangkan, dan ia pun sadar bahwa silikon di hidungnya
akan bergeser-geser jika ia tidak hati-hati, tapi untuk sementara usahanya sudah memadai, sampai ia tiba di
Rio.
Ketika ia mulai menekuni hobinya—jauh sebelum ia ditangkap pertama kali—Dr. Lecter telah mengadakan
persiapan untuk menghadapi kemungkinan ia menjadi buronan. Di dinding sebuah pondok peristirahatan di
tepi Sungai Susquehanna ia menyimpan sejumlah uang serta surat-surat identitas palsu, termasuk paspor dan
alat-alat bantu kosmetik yang digunakannya ketika membuat pasfoto. Paspor itu sudah kedaluwarsa, namun
dapat diperbarui dengan mudah.
Berhubung ia merasa lebih aman digiring melewati pabean dengan lencana peserta tur menempel di dada, ia
telah mendaftarkan diri untuk ikut tur "South American Splendor" yang akan membawanya sampai ke Rio.
Ia mengingatkan diri bahwa ia harus menulis cek atas nama almarhum Lloyd Wyman untuk membayar hotel.
Dengan demikian, ia akan memperoleh tambahan waktu lima hari sementara ceknya diproses di bank. Itu lebih
baik daripada mengirim tagihan Amex ke komputer.
Malam ini- ia bermaksud menulis beberapa surat, yang akan dikirimnya melalui jasa pengiriman ulang di
London.
Pertama-tama ia mengirim tip besar kepada Barney, disertai ucapan terima kasih atas segala kebaikannya di
rumah sakit jiwa.
Kemudian ia menulis surat kepada Dr. Frederick Chilton yang berada di bawah perlindungan polisi federal.
Dalam surat itu Lecter mengisyaratkan ia akan mengunjungi Chilton dalam waktu dekat. Setelah ia
berkunjung, pihak rumah sakit akan dapat menghemat waktu banyak dengan mentato instruksi pemberian
makan ke kening Chilton, begitu ditulisnya.
Terakhir, ia menuangkan segelas Batard-Montrachet yang nikmat, dan menyurati Clarice Starling:

Nah, Clarice, apakah anak-anak domba sudah berhenti mengembik?


Kau masih berutang informasi padaku, dan itu yang ingin kutagih sekarang.
Man di Times edisi nasional dan International Herald-Tribune tanggal satu bulan mana pun sudah memadai.
Sebaiknya kaumasukkan juga ke China Mail.
Aku takkan heran kalau jawabanmu ya dan tidak. Untuk sementara, anak-anak domba akan membisu. Tapi,
Clarice, keheningan yang kaudam-bakan itu harus kauperjuangkan terus-menerus. Sebab penderitaanlah
pemicunya, penderitaan yang kaulihat, dan penderitaan takkan pernah berakhir. Sampai kapan pun.
Aku tidak berencana mengunjungimu, Clarice; dunia ini lebih menarik dengan kehadiranmu. Pastikan kau
menunjukkan sikap yang sama terhadapku.

Dr. Lecter menempelkan pena ke bibir. Ia memandang langit malam dan tersenyum.

Aku sudah mendapatkan jendela.


Orion tampak di atas cakrawala, di dekat Jupiter, dan sampai tahun 2000 sinarnya takkan lagi seterang
sekarang. (Aku takkan memberitahumu jam berapa sekarang dan seberapa tinggi Orion di langit. Tapi kurasa
kau pun bisa melihatnya. Beberapa bintang kita sama.
Clarice.

Hannibal Lecter

Jauh di timur, di tepi Teluk Chesapeake, Orion tampak tinggi di langit malam yang terang, di atas rumah tua
yang besar. Di sebuah kamar di rumah itu api menyala di perapian, cahayanya menari-nari bersama angin di
atas cerobong asap. Beberapa selimut berserakan di tempat tidur besar, di atas dan di bawah selimut-selimut

ben99 ebooks collections 112


The Silence of the Lambs
Domba-domba Telah Membisu

itu ada anjing-anjing besar. Gundukan-gundukan lain di bawa'h selimut mungkin Noble Pilcher; sulit untuk
memastikannya dalam cahaya yang redup. Tapi wajah di bantal itu, kemerah-merahan terkena cahaya api,
jelas-jelas wajah Clarice Starling, dan ia tidur pulas, nyenyak. Anak-anak domba telah membisu.

- Dalam ucapan dukacita yang dikirimnya kepada Jack Crawford, Dr. Lecter mengutip dari The Fever tanpa
menyebutkan John Donne sebagai pengarang.
Memoar Clarice Starling mengubah baris-baris dari Ash-Wednesday karya T.S. Eliot.

ben99 ebooks collections 113