Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Truncus arteriosus adalah malformasi kardiovaskuler kongenital dimana


hanya terdapat satu pembuluh arteri utama yang keluar dari basis jantung dan
mengalirkan darah ke arteri coroner, pulmonal, dan sistemik, serta hanya terdapat
satu katup (truncus) semilunar. Pada pertumbuhan janin yang normal, truncus
arteriosus membelah menjadi pembuluh darah besar, yaitu pulmonalis dan aorta.
Pada kelainan bawaan pembelahan ini tidak terbentuk. Truncus tetap merupakan
satu-satunya saluran yang keluar dari jantung. Keadaan ini disebut truncus
arteriosus. Dari truncus ini keluar cabang-cabang pembuluh darah yang menuju ke
paru-paru menjadi arteri pulmonalis.1,2
Truncus arteriosus terjadi 1-2% dari cacat jantung bawaan pada bayi lahir
hidup. Berdasarkan kejadian diperkirakan penyakit jantung bawaan itu sekitar 6-8
per 1000 anak lahir hidup dimana truncus arteriosus terjadi pada sekitar 5-10 dari
100.000 kelahiran hidup. Diantara janin dan bayi yang digugurkan dengan
anomaly jantung, angka kejadian truncus arteriosus sekitar 5%.3
Angka kematian hampir 100% pada umur 1 tahun yang tidak dilakukan
intervensi bedah. Pada kasus pasien yang bias hidup sampai dewasa dengan
truncus arteriosus yang tidak dilakukan intervensi bedah pernah dilaporkan tapi
sangat jarang. Penyebab kematian biasanya karena serangan jantung atau
kegagalan beberapa organ dalam menghadapi pertusi sistemik yang tidak
memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, metabolisme asidosis
yang progresif dan disfungsi miokard.4
Manifestasi klinis yang timbul tergantung pada aliran darah ke paru-paru.
Sejak minggu pertama kehidupan, peningkatan resistensi arteriol pulmonari yang
persisten muncul sewaktu janin lahir dapat menyebabkan sianosis ringan dengan
sedikit tanda dekompensasi jantung, kecuali jika terjadi insufisiensi katup truncus
yang parah. Sementara resistensi pulmonari berangsur-angsur menurun dan aliran

darah ke paru-paru meningkat, sianosis dapat hilang, namun takipnea, takikardia,


keringat berlebihan, kurang nafsu makan dan tanda-tanda lain dari gagal jantung
bisa timbul secara sekunder akibat peningkatan aliran balik ke jantung yang
disebabkan oleh aliran darah yang berlebihan melalui sirkulasi pulmonal. Jika
insufisiensi katup trunkus yang berat terjadi, tanda dan gejala gagal jantung dapat
muncul segera setelah lahir dan volume darah tambahan yang dihasilkan oleh
keadaan tersebut selalu akan meningkatkan beban kerja jantung akibat
peningkatan aliran pulmonal. Pada keadaan tertentu dimana bayi mengalami
stenosis arteri pulmonal, sianosis akan terlihat jelas ketika lahir dan semakin parah
seiring bertambahnya usia, hal ini merupakan akibat dari syndrome eisenmenger.
Pasien juga sering mengalami dispnea saat menyusui.5
Truncus arteriosus jika tidak diobati, truncus arteriosus bisa berakibat
fatal. Pembedahan untuk memperbaiki arteriosus truncus umumnya berhasil,
terutama jika perbaikan terjadi sebelum bayi berusia 2 bulan.6
Pada saat ini akan dilaporkan kasus truncus arteriosus yang dirawat
Cardiac Center RS. Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado.

BAB II
LAPORAN KASUS
I. Indentitas Pasien

Nama
Jenis Kelamin
Umur
Tanggal lahir
Berat Badan Lahir
Tempat Lahir
Oleh
Partus Secara
Kebangsaan
Suku
Agama
Alamat

: A.R.A
: Laki-laki
: 1 bulan 13 hari
: 27 Agustus 2014
: tidak ditimbang
: Rumah (Matani I Tumpaan)
: Bidan
: Spontan Letak Belakang Kepala
: Indonesia
: Jawa - Minahasa
: Islam
: Matani I Tumpaan

II. Identitas Orangtua

Nama Ibu
Umur
Pekerjaan
Pendidikan
Perkawinan
Alamat
Nama Ayah
Umur
Pekerjaan
Pendidikan
Perkawinan
Alamat

: Ny. W.P
: 32 Tahun
: PNS Guru
: Sarjana S1
:I
: Matani I Tumpaan
: Tn. A
: 33 Tahun
: PNS Guru
: Sarjana S1
:I
: Matani I Tumpaan

III. Family Tree

Penderita
2

/12 tahun

IV. Anamnesis

Anamnesis diberikan oleh ibu kandung pasien.


Keluhan Utama :
Sesak sejak 4 minggu sebelum masuk rumah sakit.
Kebiruan saat menangis sejak 2 minggu sebelum masuk
rumah sakit.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Penderita datang ke rumah sakit dibawa oleh kedua orangtua
dengan keluhan sesak 4 minggu sebelum masuk rumah sakit. Penderita
nampak sesak dan berkeringat saat minum susu formula jika terlalu lama.
Susu kadang tidak dihabiskan dan langsung terlihat sangat mengantuk lalu
tidur. Penderita juga tampak kebiruan bila menangis sejak 2 minggu dan
baru diketahui oleh orangtua. Penderita sudah berobat ke dokter umum dan ke
puskesmas namun tidak ada perubahan sehingga penderita dibawa ke RSUP
Prof. Kandou Manado. Orangtua lupa obat apa yang diberikan oleh dokter
umum.
Riwayat Antenatal
Selama hamil ibu teratur kontrol kehamilan di RS. Kalawaan.
Mendapat suntikan Tetanus Toxoid 1x.
Penyakit yang pernah dialami
Morbili
(-)
Varicella
(-)
Pertusis
(-)
Diarrhea
(-)
Cacing
(-)
Batuk/pilek (- )
Kepandaian/Kemajuan Bayi
Pertama kali membalik
Pertama kali tengkurap
Pertama kali duduk
Pertama kali merangkak
Pertama kali berdiri
Pertama kali berjalan
Pertama kali tertawa
Pertama kali berceloteh

: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)

Pertama kali memanggil mama


Pertama kali memanggil papa

: (-)
: (-)

Anamnesis makanan terperinci dari bayi sampai sekarang


ASI
PASI
Bubur susu
Bubur saring
Bubur halus
Nasi lembek

:: Lahir - Sekarang
::::-

Riwayat Imunisasi
Jenis Imunisasi

IMUNISASI
I

DASAR

II

III

BCG

Polio

DPT

Campak

Hepatitis B

Riwayat Keluarga
Hanya penderita yang sakit seperti ini dalam keluarga
Keadaan Sosial, Ekonomi, Kebiasaan dan Lingkungan
Penderita tinggal dirumah permanen, beratap seng, berdinding beton dan
berlantai keramik. Jumlah kamar dalam rumah ada 3 buah, dihuni oleh 6 orang, 4
orang dewasa dan 2 orang anak-anak. WC/KM di dalam rumah. Sumber air
minum yaitu air sumur. Sumber penerangan listrik PLN. Penanganan sampah
yaitu dibuang.
V. Pemeriksaan Fisik (10 Oktober 2014)

Umur

: 1 bulan 13 hari

Berat Badan
Tinggi Badan
Keadaan umum
Keadaan mental
Status gizi
Sianosis
Anemia
Ikterus

: 2900 gr
: 48 cm
: Tampak sakit
: Compos mentis
: gizi cukup
: (-)
: (-)
: (-)

Kejang

: (-)

Tanda Vital
Nadi
Respirasi

: 140 /menit
: 60 /menit

Suhu

: 36,7C

Kulit
-

Warna
Efloresensi
Pigmentasi
Jaringan Parut
Lapisan lemak
Turgor
Tonus
Oedema

: sawo matang
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: kembali cepat
: normal
: (-)

Kepala
-

Bentuk
: mesocephal
Ubun-ubun besar : belum menutup
Rambut
: hitam, tidak mudah dicabut
Mata :
o Tekanan bola mata
: Normal pada perabaan
o Konjungtiva
: Anemis (-)
o Sklera
: Ikterik (-)
o Kornea refleks
: Normal
o Pupil
: Bulat, isokor, 3mm/3mm, RC+/+
o Lensa
: Jernih
o Fundus
: Tidak di evaluasi
o Visus
: Tidak di evaluasi
o Gerakan
: Normal
Telinga
: Sekret -/Hidung
: Sekret +/+, PCH (+)

Mulut
o Bibir
o Selaput mulut
o Lidah
o Gigi
o Gusi
o Bau pernapasan
Tenggorokan
o Tonsil
o Faring
Leher
o Trakea
o Kelenjar
o Kaku kuduk
o Lain-lain

: Sianosis (+)
: Basah
: Kotor (-)
: Karies (-)
: Perdarahan (-)
: Foetoer (-)
: T1 T1 Hiperemis (-)
: Hiperemis (-)
: Letak di tengah
: Pembesaran KGB (-)
: (-)
: (-)

Thorax
-

Bentuk
Ruang Intercostal
Precordial bulging
Pernapasan paradoksal
Retraksi

: Normal
: Normal
: (-)
: (-)
: (+) SC, IC

Paru-Paru
-

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Simetris, retraksi (+) SC, IC


: Stem fremitus kanan = kiri
: Sonor di kedua lapang paru
: Sp.Bronkovesikuler, Rhonki -/-, Whezing -/-

Detak Jantung
Iktus
Batas kiri
Batas kanan
Batas atas
Bunyi jantung apex
Bunyi jantung aorta
Bunyi jantung pulmo

: 140/menit
: Tidak tampak
: Linea midclavicularis sinistra
: Linea parasternalis dextra
: ICS II III
: M1 > M2
: A1 > A2
: P1 < P2

Bising

: (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS

Jantung

III-IV LPSS

Abdomen
-

Bentuk
Lien

: datar, lemas, BU (+) normal


: tidak teraba

Hepar

: tidak teraba

Genitalia
Anggota gerak
Tulang belulang
Otot-otot

: Laki-laki , normal
: Akral hangat, CRT 2, sianosis diujung jari
tangan dan kaki.
: Deformitas (-)
: Atrofi (-)

Reflex-reflex

: RF +/+, RP -/-, spastis (-), klonus (-)

VI. Resume Masuk

Seorang anak laki-laki umur 1 bulan 13 hari, BB: 2900gr, PB: 48cm.
Masuk Rumah Sakit tanggal 10 Oktober 2014
S : Sesak sejak 4 minggu sebelum masuk rumah sakit.
Kebiruan saat menangis sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit
O : KU: tampak sakit
Kes : CM
HR : 140x/m
RR : 60x/m
SB : 36,7oC
Kepala :

Mata
: bulat isokor 3mm-3mm, RC+/+
Telinga: sekret -/Hidung
: PCH (+)
Tenggorokan : Tonsil: T1-T1 hiperemis (-)
Faring: hiperemis (-)
Thoraks :
Cor

: bising (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS III-IV


LPSS

Pulmo

: simetris, retraksi (+) SC, IC, Sp. Bronkovesikuler,


rh-/-, wh-/-

A : Susp. TOF
P : O2 0,5 L/m
IVFD Kaen 4B (HS-restriksi 20%) 10ml/jam
Oral stop
GDS/24 jam
Balance cairan/24 jam

VII. Follow Up RPI (10 Oktober 2014)

S : Sesak (+), sianosis (+) saat menangis


O: KU: tampak sakit
Kes: CM
HR: 140x/m
SB: 36,7oC
RR: 60x/m
SSP: pupil bulat, isokor, 3mm-3mm, RC+/+, spastic (-), klonus (-),
RF+/+, RP-/CV: bising (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS II-III LPSS, akral hangat,
CRT 3, sianosis (+) saat menangis
RT: simetris, retraksi (+) SC, IC, rh-/-, wh-/GIT: datar, lemas, BU(+) N
Hemato: con.an(-), scl.ict (-)
A: susp. TOF
P: O2 0,5 L/m
IVFD Kaen 4B (HS-restriksi 20%) 10ml/jam
Oral stop
GDS/24 jam
Balance cairan/24 jam
Hasil Laboratorium Tanggal 10 Oktober 2014

Darah : Hematokrit
Hb
Eritrosit
Leukosit
Trombosit

: 34,5 %
: 12,3 g/dl
: 3,88 x106/uL
: 9.700 /mm3
: 434.000/mm3

Follow up (11 Oktober 2014)


S: sesak (+) , sianosis (+) saat menangis, BAB (+), BAK (+)
O: KU: tampak sakit
Kes: CM
HR: 136x/m
SB: 36,8oC
RR: 48x/m
SSP: pupil bulat, isokor, 3mm-3mm, RC+/+, spastic (-), klonus (-),
RF+/+, RP-/CV: bising (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS II-III LPSS, akral hangat,
CRT 3, sianosis (+) saat menangis
RT: simetris, retraksi (+) SC, rh-/-, wh-/GIT: datar, lemas, BU(+) N
Hemato: con.an(-), scl.ict (-)
A: susp. TOF
P: O2 0,5 L/m
IVFD Kaen 4B (HS-restriksi 20%) 10ml/jam
Oral stop
GDS/24 jam
Balance cairan/24 jam
Pro: konsul kardiologi
Follow up (12 Oktober 2014)
S: Sesak , sianosis (+) saat menangis, BAB(+), BAK (+)
O: KU: tampak sakit
Kes: CM
HR: 140x/m
SB: 36,9oC
RR: 40x/m
SSP: pupil bulat, isokor, 3mm-3mm, RC+/+, spastic (-), klonus (-),
RF+/+, RP-/CV: bising (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS II-III LPSS, akral hangat,
CRT 3, sianosis (+) saat menangis
RT: simetris, retraksi (+) SC minimal, rh-/-, wh-/GIT: datar, lemas, BU(+) N
Hemato: con.an(-), scl.ict (-)

10

A: susp. TOF
P: O2 0,5 L/m
IVFD Kaen 4B (HS-restriksi 20%) 6 ml/jam
Susu 8x10 ml (keb 30ml/kg/hari)/NGT naik bertahap
GDS/24 jam
BC/24 jam

Follow up (13 Oktober 15 Oktober 2014)


S: Sesak , sianosis (+) saat menangis, BAB(+), BAK (+)
O: KU: tampak sakit
Kes: CM
HR: 140x/m
SB: 36,0oC
RR: 40x/m
SSP: pupil bulat, isokor, 3mm-3mm, RC+/+, spastic (-), klonus (-),
RF+/+, RP-/CV: bising (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS II-III LPSS, akral hangat,
CRT 3, sianosis (+) saat menangis
RT: simetris, retraksi (-), rh-/-, wh-/GIT: datar, lemas, BU(+) N
Hemato: con.an(-), scl.ict (-)
A: susp. TOF
P: O2 0,5 L/m
IVFD Kaen 4B (HS) 12-13gtt/m
Susu 8x15ml (keb 40ml/kg/hari)/NGT
GDS/24 jam
BC/24 jam
Hasil Laboratorium Tanggal 13 Oktober 2014
Darah : Creatinin
Ureum
SGOT
SGPT
Natrium
Kalium

: 0,6
: 10,4
: 110,4
: 138,2
: 133
: 4,8

Clorida

: 100

Hasil Laboratorium tanggal 15 Oktober 2014


Darah : MCH
: 31,5 pg
MCHC
: 34,3 g/dL
MCV
: 91,9 fl

11

Hb
Eritrosit
Leukosit
Trombosit

: 12,8 g/dl
: 4,06 x106/uL
: 9.100 /mm3
: 473.000/mm3

Follow up Cardiac Center (16 Oktober 17 Oktober 2014)


S: Sesak , sianosis (+) saat menangis, BAB(+), BAK (+)
O: KU: tampak sakit
Kes: CM
HR: 120x/m
SB: 36,4oC
RR: 42x/m
SSP: pupil bulat, isokor, 3mm-3mm, RC+/+, spastic (-), klonus (-),
RF+/+, RP-/CV: bising (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS II-III LPSS, akral hangat,
CRT 2, sianosis (+) saat menangis
RT: simetris, retraksi (+) SC minimal, rh-/-, wh-/GIT: datar, lemas, BU(+) N
Hemato: con.an(-), scl.ict (-)
A: susp. TOF
P: Terapi lanjut
Follow up (18 Oktober 2014)
S: Sesak , sianosis (+) saat menangis, BAB(+), BAK (+)
O: KU: tampak sakit
Kes: CM
HR: 132x/m
SB: 36,5oC
RR: 44x/m
SSP: pupil bulat, isokor, 3mm-3mm, RC+/+, spastic (-), klonus (-),
RF+/+, RP-/CV: bising (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS II-III LPSS, akral hangat,
CRT 2, sianosis (+) saat menangis
RT: simetris, retraksi (+) SC minimal, rh-/-, wh-/GIT: datar, lemas, BU(+) N
Hemato: con.an(-), scl.ict (-)
A: susp. TOF
P: terapi lanjut
Pro: echocardiography
Follow up (19 Oktober 2014)
S: Sesak , sianosis (+) saat menangis, BAB(+), BAK (+)

12

O: KU: tampak sakit


Kes: CM
HR: 130x/m
SB: 36,6oC
RR: 54x/m
SSP: pupil bulat, isokor, 3mm-3mm, RC+/+, spastis (-), klonus (-),
RF+/+, RP-/CV: bising (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS II-III LPSS, akral hangat,
CRT 2, sianosis (+) saat menangis
RT: simetris, retraksi (+) SC, xyphoid minimal, rh-/-, wh-/GIT: datar, lemas, BU(+) N
Hemato: con.an(-), scl.ict (-)
A: Truncus Arteriosus
P: O2 0,5 L/m
IVFD Kaen 4B (HS-susu) 7-8 ml/jam
Furosemid 1x3mg pulv
Captopril 3x1mg pulv
Susu 8x15ml (keb 40ml/kg/hari)/NGT
GDS/24 jam
BC/24 jam
Follow up (20 Oktober 2014)
S: Sesak , sianosis (+) semakin jarang, BAB(+), BAK (+)
O: KU: tampak sakit
Kes: CM
HR: 140x/m
SB: 36,7oC
RR: 48x/m
SSP: pupil bulat, isokor, 2mm-2mm, RC+/+, spastic (-), klonus (-),
RF+/+, RP-/CV: bising (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS II-III LPSS, akral hangat,
CRT 2, sianosis (+) saat menangis, semakin jarang
RT: simetris, retraksi (+) SC, xyphoid minimal, rh-/-, wh-/GIT: datar, lemas, BU(+) N
Hemato: con.an(-), scl.ict (-)
A: Truncus Arteriosus
P: IVFD Kaen 4B (HS-susu) 5-6 ml/jam
Terapi lain lanjut
Hasil Laboratorium Tanggal 20 Oktober 2014
Darah : Hematocrit
: 54 %
Hb
: 17,7 g/dl

13

Eritrosit
Leukosit
Trombosit
Creatinin
Ureum
SGOT
SGPT
Natrium
Kalium

: 6,08 x106/uL
: 9000 /mm3
: 134.000/mm3
: 0,3
: 11
: 45
: 42
: 142
: 4,69

Clorida
Calcium

: 92,2
: 9,28

Follow up (21 Oktober 2014)


S: Sesak , sianosis (+) semakin jarang, BAB(+), BAK (+)
O: KU: tampak sakit
Kes: CM
HR: 132x/m
SB: 36,5oC
RR: 44x/m
SSP: pupil bulat, isokor, 2mm-2mm, RC+/+, spastic (-), klonus (-),
RF+/+, RP-/CV: bising (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS II-III LPSS, akral hangat,
CRT 2, sianosis (+) saat menangis semakin jarang
RT: simetris, retraksi (+) SC, xyphoid, rh-/-, wh-/GIT: datar, lemas, BU(+) N
Hemato: con.an(-), scl.ict (-)
A: Truncus Arteriosus
P: Susu 8x19ml (keb 50ml/kg/hari)/NGT
Terapi lain lanjut
Follow up (22 Oktober 2014)
S: Sesak , sianosis (+) semakin jarang, BAB(+), BAK (+), Intake (+) baik
O: KU: tampak sakit
Kes: CM
HR: 136x/m
SB: 36,5oC
RR: 40x/m
SSP: pupil bulat, isokor, 2mm-2mm, RC+/+, spastic (-), klonus (-),
RF+/+, RP-/CV: bising (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS II-III LPSS, akral hangat,
CRT 2, sianosis (+) saat menangis semakin jarang
RT: simetris, retraksi (+) SC, xyphoid, rh-/-, wh-/GIT: datar, lemas, BU(+) N

14

Hemato: con.an(-), scl.ict (-)


A: Truncus Arteriosus
P: Susu 8x22-23ml (keb 60ml/kg/hari)/coba-coba oral
Terapi lain lanjut
Follow up (23 Oktober 2014)
S: Sesak , sianosis (+) semakin jarang, BAB(+), BAK (+), Intake (+) baik
O: KU: tampak sakit
Kes: CM
HR: 120x/m
SB: 36,8oC
RR: 40x/m
SSP: pupil bulat, isokor, 2mm-2mm, RC+/+, spastic (-), klonus (-),
RF+/+, RP-/CV: bising (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS II-III LPSS, akral hangat,
CRT 2, sianosis (+) saat menangis semakin jarang
RT: simetris, retraksi (+) SC, xyphoid, rh-/-, wh-/GIT: datar, lemas, BU(+) N
Hemato: con.an(-), scl.ict (-)
A: Truncus Arteriosus
P: Susu 8x30ml (keb 80ml/kg/hari)/oral
Terapi lain lanjut

Follow up (24 Oktober - 25 Oktober 2014)


S: Sesak (-), sianosis (-), BAB(+), BAK (+), Intake (+) baik
O: KU: tampak sakit
Kes: CM
HR: 120x/m
SB: 36,5oC
RR: 40x/m
SSP: pupil bulat, isokor, 2mm-2mm, RC+/+, spastic (-), klonus (-),
RF+/+, RP-/CV: bising (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS II-III LPSS, akral hangat,
CRT 2, sianosis (-)
RT: simetris, retraksi (-), rh-/-, wh-/GIT: datar, lemas, BU(+) N
Hemato: con.an(-), scl.ict (-)
A: Truncus Arteriosus
P: Susu 8x30ml (keb 80ml/kg/hari)/oral
Terapi lain lanjut

15

Follow up (26 Oktober 2014)


S: Sesak (-), sianosis (-), BAB(+), BAK (+), Intake (+) baik
O: KU: tampak sakit
Kes: CM
HR: 132x/m
SB: 36,5oC
RR: 40x/m
SSP: pupil bulat, isokor, 2mm-2mm, RC+/+, RF+/+, RP-/CV: bising (+) ejeksi sistolik gr.III/6, PM ICS II-III LPSS, akral hangat,
CRT 2, sianosis (-)
RT: simetris, retraksi (-), rh-/-, wh-/GIT: datar, lemas, BU(+) N
Hemato: con.an(-), scl.ict (-)
A: Truncus Arteriosus
P: Susu 8x30ml (keb 80ml/kg/hari)/oral
Pro: Rawat jalan

BAB III
PEMBAHASAN

Truncus arteriosus adalah cacat jantung langka yang hadir pada saat lahir
(kongenital). Jika bayi memiliki arteriosus truncus, itu berarti bahwa hanya
terdapat satu pembuluh darah besar pada bayi yang mengarah keluar dari jantung.
Biasanya, terdapat dua pembuluh darah terpisah yang mengarah ke luar jantung.
Selain itu, dua ruang bawah jantung kehilangan sebagian dinding yang
memisahkan mereka. Sebagai akibat dari truncus arteriosus, darah yang
mengandung sedikit oksigen yang seharusnya didistribusikan ke paru-paru dan
darah yang kaya akan oksigen yang seharusnya terdistribusi ke seluruh tubuh,
menjadi tercampur. Hal ini menimbulkan masalah peredaran darah yang tergolong
parah.
Sesuai anamnesis penderita sesak napas dan berkeringat yang dialami
penderita sejak 4 minggu sebelum masuk rumah sakit. Sesak dan berkeringat
dialami jika penderita minum susu terlalu lama. Penderita kadang tidak dapat
menghabiskan susunya dan terlihat sangat mengantuk dan akhirnya tidur. Pada
pasien ini juga ditemukan sianosis saat penderita terlalu lama minum susu dan

16

saat menangis Hal ini sesuai dengan teori tanda dan gejala dari truncus arteriosus
yang meliputi, kulit yang berwarna biru (sianosis), kondisi minum yang buruk,
kantuk berlebihan, pertumbuhan yang cenderung buruk, sesak napas (dyspnea),
pernapasan cepat (takipnea), denyut jantung yang tidak teratur (aritmia), serta
keringat berlebihan (diaforesis). Tanda dan gejala truncus arteriosus seringkali
berkembang dalam beberapa minggu pertama kehidupan.5
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, heart rate
140x/menit, respirasi 60x/menit, suhu badan 36,7oC, konjungtiva tidak anemis,
dan sklera tidak ikterik. Terdapat pernapasan cuping hidung. Suara pernafasan
bronkovesikuler, tanpa adanya ronkhi maupun wheezing. Terdengar bising ejeksi
sitolik, didapatkan sianosis di bibir dan ujung jari tangan dan kaki. Hal ini sesuai
dengan teori pemeriksaan fisik pada truncus arteriosus, dimana ditemukan jantung
yang hiperaktif, tanda-tanda sianosis, CHF dalam berbagai tingkat. Teraba pulsasi
perifer bounding dan melebar. Bunyi click sistolik seringterdengar pada apeks
dan ULSB, S2 tunggal. Murmur sistolik regurgitan kasar grade 2-4/6 dari VSD
dapat terdengar di sepanjang left sternal border. Jika PBF besar akan terdengar
rumbleapikal dengan atau tanpa irama gallop. Regurgitasi katup trunkus terdengar
sebagai murmur decresendo pada awal diastolik.
Pada pemeriksaan echocardiography didapatkan sebuah pembuluh arteri
besar yang keluar dari jantung (truncus arteriosus). Hal ini sesuai dengan teori
dimana pada pemeriksaan penunjang gambaran echocardiography

dapat

ditemukan 3 penemuan diagnostik, yaitu:


1. Sebuah pembuluh arteri besar yang keluar dari jantung (trunkus
arteriosus), termasuk tipe, letak dan ukuran PA.
2. VSD besar yang ditemukan tepat di bawah trunkus.
3. Hanya terdapat sebuah katup trunkus tanpa ditemukannya katup
pulmonal
Terapi farmakologis pada pasien ini adalah Furosemid 1x3mg pulv dan
Captopril 3x1mg pulv. Terapi ini sesuai dengan teori pasien dengan truncus
arteriosus seperti agen diuretik digunakan untuk mobilisasi edema pada periode
pascaoperasi awal dan memfasilitasi homeostasis cairan, dan juga digunakan
untuk pengobatan hipertensi. Agen diuretik misalnya furosemid (Lasix)
meningkatkan ekskresi air dengan mencegah peningkatan klorida, menghambat

17

reabsorpsi natrium dan klorida di ascending loop Henle tubulus ginjal dan distal.
Glikosida jantung, antiarrhythmic digunakan untuk meningkatkan kontraktilitas
miokard, untuk memperlambat waktu konduksi simpul atrioventrikular, dan untuk
mempotensiasi efek furosemide. Glikosida jantung misalnya digoxin (Lanoxin,
Lanoxicaps) bekerja secara langsung pada otot jantung, meningkatkan kontraksi
sistolik miokard. Itu tidak langsung mengakibatkan peningkatan aktivitas syaraf
sinus karotis dan penarikan simpatik ditingkatkan untuk setiap peningkatan
tekanan diberikan dalam arteri rata-rata. ACE inhibitor, agen mengurangi
afterload; agen ini digunakan untuk menurunkan resistensi vaskular sistemik,
yang bermanfaat pada pasien dengan hipertensi, gangguan fungsi ventrikel, atau
aorta/trunkal regurgitasi katup, misalnya captopril (Capoten) menghambat
aktivitas enzim angiotensin-converting, mencegah konversi angiotensin I menjadi
angiotensin II, yang merupakan vasokonstriktor kuat. Penurunan kadar
angiotensin II menyebabkan aktivitas renin plasma meningkat dan penurunan
beredar aldosteron.
Untuk terapi nonfarmakologi dilakukan diet. Tidak ada pertimbangan diet
khusus ditunjukkan pada pasien dengan truncus arteriosus, selain diet yang
mungkin ditentukan oleh kondisi yang terkait. Lanjutkan minum susu lewat mulut
ketika pasien tidak menggunakan ventilasi mekanis dan memberikan edukasi
kepada orangtua agar tidak tersedak saat minum susu.
Kebanyakan bayi dengan arteriosus truncus akan menjalani operasi
sebelum mereka berusia tiga bulan. Prosedur yang tepat akan tergantung pada
kondisi bayi anda. Umumnya dokter bedah bayi akan:
Menutup lubang antara kedua ventrikel, seringkali dengan membuat sebuah
tambalan.
Memisahkan bagian atas arteri pulmonalis dari pembuluh darah tunggal yang
besar.
Menanamkan tabung (saluran) dan katup untuk menghubungkan ventrikel kanan
dengan bagian atas dari arteri pulmonalis - menciptakan arteri paru yang baru dan
lengkap.
Merekonstruksi pembuluh darah besar-tunggal dan aorta untuk membentuk aorta
yang baru serta lengkap.

18

Menanamkan katup baru yang memisahkan ventrikel kiri dan aorta - jika
diperlukan.

19