Anda di halaman 1dari 22

Makalah Mengenai Kimia Inti

OLEH :
1. SITI KUNAINATUL M.

<31>

2. TIAR ADE PERDANA PUTRA

<32>

3. WILLY FAQUROKHIM

<33>

4. WILLY MASRUR

<34>

5. YOHANES YOHANIE F.P.

<35>

6. YULINDRI A.

<36>

SMK NEGERI 2 BUDURAN KELAS XII RPL


SEMESETER 2 THN AJARAN 2013/2014

i|Page

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmatNyalah sehingga saya bisa menyelesaikan makalah ini. Adapun tujuan dari pembuatan
makalah ini adalah untuk mengetahui seperti apa kimia inti itu.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat
banyak kekurangan. Untuk itu kami senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca.
Tak lupa pula kami mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah
memberikan masukan di dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah ini dapat
memenuhi tugas Kimia Inti serta dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Sekian dan terima kasih
Sidoarjo, 18 Maret 2014
Penyusun

Siswa XII RPL No. Absen 31 36

i|Page

DAFTAR ISI
KATA PENEGNTAR ..............................................................................................

DAFTAR ISI .................................................................................................................

ii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...........................................................................

1.2 Rumusan Masalah .....................................................................

BAB 2 PEMBAHASAN ....................................................................................

2.1 Sifat reaksi inti ...........................................................................

2.2 Stabilitas Inti ..............................................................................

2.3 Radioaktivitas ............................................................................

BAB 3 KESIMPULAN ......................................................................................

16

BAB 4 PENUTUP ............................................................................................

17

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................

18

ii | P a g e

iii | P a g e

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kimia inti adalah ilmu yang mempelajari struktur inti atom dan pengaruhnya
terhadap kestabilan inti serta reaksi-reaksi inti yang terjadi pada proses peluruhan radio
nuklida dan transmutasi inti. Inti menepati bagian yang sangat kecil dari volume suatu atom,
tetapi mengandung sebagian besar massa dari atom karena baik proton maupun neutron
berada di dalamnya. Penggunaan teknik-teknik kimia dalam mempelajari zat radioaktif dan
penggunaan keradioaktifan dalam menyelesaikan persoalan kimia dipelajari dalam bidang
radio kimia. Sedangkan bidang ilmu kimia yang mempelajari efek radiasi yang dipancarkan
oleh zat radioaktif terhadap materi dan perubahan kimia yang menyertainya disebut kimia
radiasi.
Dalam mempelajari kimia inti dan penerapannya lazim dimulai dengan pembicaraan
nuklida-nuklida. Nuklida didefinisikan sebagai suatu spesies nuklir tertentu misalnya : , , O16
dan sebagainya.

1. 2 Rumusan Masalah
1.

Bagaimana sifat reaksi inti?

2.

Bagaimana stabilitas inti terjadi?

3.

Apa yang dimaksud dengan radioaktivitas?

4.

Bagaimana penggunaan radioisotop?

5.

Apa pengaruh radiasi pada makhluk hidup?

1|Page

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Sifat reaksi inti


Reaksi inti adalah suatu proses interaksi yang berlangsung dalam waktu 10-10 detik,
antara inti atom sasaran dengan inti lain yang umumnya lebih ringan atau foton berenergi
kinetik tinggi sehingga menghasilkan suatu transformasi pada inti sasaran tersebut. [1]
Reaksi kimia biasa dengan reaksi kimia inti sangatlah berbeda. Penulisan persamaan pada
reaksi inti juga berbeda dari penulisan persamaan reaksi kimia. Selain menuliskan lambang
unsur-unsur kimianya, juga harus secara eksplisit menyatakan proton, neutron, dan
elektron. Lambang partikel dasar adalah sebagai berikut :
atau
proton

atau
neutron

atau

atau

elektron

positron

partikel

Notasi superskrip selalu menyatakan nomor massa (jumlah total neutron dan proton
yang ada) dan subskrip adalah nomor atom (jumlah proton). Berikut tabel perbandingan
antara reaksi kimia dengan reaksi inti:
REAKSI KIMIA
1.

Atom diubah susunannya melalui pemutusan dan pembentukan ikatan kimia

2.

Hanya elektron dalam orbital aton atau molekul yang terlibat dalam pemutusan dan

pembentukan ikataan
3.

Reaksi diiringi dengan penyerapan atau pelepasan energy yang relative kecil

4. Laju reaksi dipengaruhi oleh suhu, tekanan , konsentrasi dan katalis


REAKSI INTI
1.

Unsur (atau isotop dari unsur yang sama). Dikonversi dari unsur yang satu ke lainnya.

2. Proton, neutron, electron, dan partikel dasar lain dapat saja terlibat.
3. Reaksi diiringi dengan penyerapan atau pelepasan energy yang sangat besar.
2|Page

4. Laju reaksi biasannya tidak dipengaruhi oleh suhu, tekanan dan katalis.[2]
Macam-macam

reaksi

inti

Reaksi

inti

dapat

digolongkan

menjadi

tiga

yaitu:

1) Reaksi transmutasi
Reaksi transmutasi ialah reaksi perubahan suatu nuklida menjadi nuklida lain yang
dilakukan dengan cara menembak atom suatu unsur dengan partikel ringan yang berenergi
tinggi ( proton, neutron, deuterium, alfa ). Transmutasi inti berbeda dengan dari peluruhan
radioaktif

karena

transmutasi

inti

terjadi

akibat

tumbukan

dua

partikel.

[3]

Isotop mangan -54 misalnya, dapat dibuat lewat penembakan besi -56 dengan deuterium.
Berikut reaksinya:
+ +
Reaksi di atas dapat disingkat sebagai (d,) . Di dalam tanda kurung, partikel yang
menembak ditulis terlebih dahulu, diikuti dengan partikel yang terpancar.

2) Reaksi fisi
Reaksi fisi adalah suatu reaksi pembelahan inti yang disebabkan oleh interaksi suatu
unsur atau bahan bakar dengan neutron.[4] Umumnya reaksi pembelahan (fisi) akan
dilepaskan satu atau lebih neutron yang akan bereaksi dengan inti lain dan menimbulkan
reaksi pembelahan baru. Reaksi pembelahan yang baru akan menghasilkan satu atau lebih
neutron lagi dan seterusnya. Sehingga terjadi reaksi pembelahan berantai. [5]
Contoh: + + + 3

3) Reaksi fusi
Reaksi fusi adalah kebalikan dari reaksi fisi yaitu reaksi penggabungan dua inti
menjadi inti lain yang lebih besar.[6] Produk yang dihasilkan dari reaksi fusi tidak bersifat
radioaktif sehingga lebih aman penggunaannya. Saat ini mulai dilakukan pengembangan
pembuatan unsur-unsur yang lebih berat dari Uranium sebagai bahan bakar reaktor atom.
Pada umumnya digunakan Uranium 235.
3|Page

Contoh

h: + +

2.2 Stabilitas Inti


Inti menempati bagian yang sangat kecil dari volume suatu atom. Inti mengandung
sebagian besar massa dari atom karena proton maupun neutron terkandung di dalamnya.
Antara proton dan proton bermuatan sejenis akan saling tolak-menolak dengan gaya
Coloumb yang cukup besar. Antara nukleon-nukleon (proton dan neutron) juga muncul gaya
gravitasi (tarik-menarik) tetapi gaya gravitasi ini sangat kecil jika dibandingkan denga gaya
Coloumb. Karena gaya gravitasi tidak dapat mengimbangi gaya Coloumb maka kita harapkan
proton-proton dalam inti tercerai-berai oleh gaya tolak-menolak. Faktanya ini tidak terjadi
sebab proton-proton tetap bersatu dengan neutron-neutron dalam inti. Dengan kata lain,
inti tetap stabil. Hal ini dikarenakan adanya gaya inti kuat atau gaya nuklir kuat yang
terbentuk di antara semua pertikel inti (antara proton dan proton, antara neutron dan
neutron, dan juga antara proton dan neutron).[7] Selain karena adanya gaya inti, kestabilan
inti juga ditentukan beberapa faktor berikut :
1.

Perbandingan

jumlah

neutron

terhadap

jumlah

proton

(n/p)

Kestabilan inti dapat dikaitkan dengan perbandingan neutron-proton (n/p) yang terkandung
dalam inti. Atom stabil dilihat dari unsur dengan nomor atom rendah, nilai n/p mendekati 1
(satu). Dengan meningkatnya nomor atom, perbandingan neutron terhadap proton dari inti
stabil menjadi lebih besar dari 1. Inti-inti stabil terletak di suatu daerah pada grafik yang
dikenal sebagai pita kestabilan (belt of stability). Pita kestabilan didapatkan dari nuklidanuklida (inti-inti) stabil yang dihubungkan. Sedangakn inti-inti yang tidak stabil (inti
radioaktif) cenderung menyesuaikan perbandingan neutron terhadap proton, agar sama
dengan perbandingan pada pita kestabilan. Bagi nuklida dengan Z (nomor atom) = 20,
perbandingan neutron terhadap proton sekitar 1,0 sampai 1,1. Jika Z bertambah
perbandingan

neutron

terhadap

proton

bertambah

Daerah di sekitar pita kestabilan dapat dibagi dalam dua daerah, yaitu:

1)

Di atas pita kestabilan

4|Page

sekitar

1,5.[8]

Di daerah ini, inti mempunyai perbandingan neutron terhadap proton lebih tinggi
dibandingkan di dalam pita (untuk jumlah proton yang sama dan nomor atom kurang 83).
Daerah ini disebut juga daerah surplus neutron. Untuk mencapai kestabilan, inti :
a)

Memancarkan neutron. Menurut perhitungan untuk memancarkan neutron, waktu

paro

inti

10-12

detik

sehingga

terlampau

singkat

untu

dapat

diamati.

b) Memancarkan partikel beta. Pemancaran partikel beta mengakibatkan peningkatan


jumlah proton dalam inti dan sekaligus menurunkan jumlah neutron. Dalam hal ini salah
satu neutron dalam inti berubah menjadi proton disertai pemancaran pertikel beta
(

+ ).
Contoh :

2)

Di bawah pita kestabilan


Inti di daerah ini, inti mempunyai perbandingan neutron terhadap proton lebih

rendah dibandingkan di dalam pita (untuk jumlah proton yang sama dan untuk unsur
dengan nomor atom kurang dari 83). Daerah ini disebut juga daerah surplus proton. Untuk
mencapai kestabilan, inti:
a)

Memancarkan positron. Proton berubah menjadi neutron dan memancarkan

positron. Contoh :
b)

Penangkapan elektron (electron capture). Tertangkapnya suatu electron oleh

inti. Elektron yang ditangkap bergabung dengan proton membentuk neutron, sehingga
nomor

atom

menurun

sebanyak

satu

sementara

nomor

massa

tetap

sama.

Contoh: +

2.

Energi Ikatan Inti


Massa suatu inti selalu lebih kecil dari jumlah massa proton dan neutron. Selisih

antara massa inti yang sebenarnya dan jumlah massa proton dan massa neutron
penyusunnya disebut defek massa (m). Massa yang hilang ini merupakan ukuran energi
pengikat neutron dan proton. [9] Gaya-gaya inti kuat mengikat nukleon-nukleon bersatu

5|Page

dalam sebuah inti stabil. Karena itulah diperlukan energi untuk memisahkan sebuah inti
stabil menjadi proton-proton dan neutron-neutron pembentuknya. Makin stabil sebuah inti
maka semakin besar pula energi yang diperlukan untuk memutuskan inti tersebut menjadai
proton-proton dan neutron-neutron pembentuknya. Energi yang diperlukan untuk
menguraikan inti menjadi proton-proton dan neutron-neutron pembentuknya disebut
energi ikatan inti.[10] Berdasarkan hubungan kesetaraan massa-energi Enstein (E = mc,
dimana e adalah energi, m adalah massa, dan c adalah kecepatan cahaya), kita dapat
menghitung

kebanyakan

menuliskan

energi

yang

dilepaskan.

Kita

mulai

dengan

E = (m) c Dimana E dan m, adalah E = energi produk

nergi reaktan m = massa produk massa reaktan Energi ikatan per nukleon =
Jadi, prediksi massa untuk ialah 53,41473 + 74,64121 sma = 128,05594 sma dan massa
defeknya adalah
m = 126,9004 sma - 128,05594 sma
= -1,1555 sma
Energi yang dilepasakan ialah
E = (m) c
= (-1,1555 sma)(3,00 x 108 m/s)2
E = -1,04 x 1017 sma m2/s2
Dengan faktor konversi
1 kg = 6,022 x 1026 sma
1J

= 1 kg m2/s2

E = (-1,04 x 1017 sma m2/s2) x x


= - 1,73 x 10-10 J

Selain dari perbandingan jumlah antara proton dan neutron dan energi ikatan inti,
kestabilan

suatu

inti

dapat

diprediksi

dengan

aturan-aturan

sebagai

berikut:
i.

Bilangan Sakti (Magic Numbers) Dalam kestabilan inti, inti akan stabil jika

dalam inti tersebut terdapat jumlah proton dan jumlah neutron sama dengan bilangan sakti
(magic numbers), atau

konfigurasi

Bilangan-bilangannya adalah :
Proton = 2, 8, 20, 28, 50 dan 82

6|Page

kulit

tertutup

untuk proton

dan neutron.

Neutron = 2, 8, 20, 28, 50, 82 dan 126


Nuklida yang mempunyai neutron dan proton sebanyak bilangan sakti, stabil
terhadap reaksi inti dan peluruhan radioaktif.[11]
ii.

Aturan Ganjil Genap nti dengan jumlah proton genap dan jumlah neutron

genap lebih stabil dari inti yang mengandung jumlah proton dan neutron yang ganjil.
iii.

Isotop unsur-unsur dengan nomor atom lebih besar dari 83

Semua isotop dari unsur-unsur dengan nomor atom lebih besar dari 83 bersifat radioaktif.
Semua isotop tiknetium (Tc, Z = 43) dan prometium (Pm, Z=61) adalah radioaktif.[12]

2.3 Radioaktivitas
Radioaktivitas merupakan proses pemancaran sinar-sinar Alpha (), Beta (), dan
Gamma () yang menyertai proses peluruhan inti. Inti dengan lebih dari 83 proton dan inti di
luar pita stabilitas cenderung tidak stabil. Pemancaran (emisi) spontan oleh inti tak stabil
berbentuk partikel, atau radioasi elektromagnetik, atau dua-duanya.[13] Jenis-jenis
radiasi terbagi atas tiga bagian antara lain, yaitu :
a.

Radiasi Alpha ()

Ernest Rutherford adalah seorang tokoh penemu sinar Alpha () dan sinar Beta ().
Radiasi sinar Alpha () dipancarkan oleh unsur yang nomor massanya besar dengan tenaga
ikat yang rendah. Tenaga ikat merupakan tenaga ikat antara elektron terluar dan inti atom.
Unsur yang memancarkan radiasi Alpha, nomor massanya akan berkurang 4 dan nomor
atomnya berkurang 2, sehingga radiasi Alpha disamakan dengan pembentukan inti Helium
yang bemuatan +2 dan massanya 4.
Sinar Alpha () mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

Bermuatan positif sehingga dalam medan listrik dibelokkan ke

Daya tembusnya kecil ( < < )

Daya ionisasi besar ( > > )

b.
7|Page

Radiasi Beta ( )

kutub negatif

Radiasi Beta ( ) terdiri atas dua macam, yaitu Beta bermuatan negatif (kelebihan
elektron) dan Beta bermuatan positif (kekurangan elektron). Radiasi Beta negatif lebih
dominan dari pada Beta positif. Sehingga yang lebih masyhur digunakan adalah radiasi Beta
negatif. Pada radiasi Beta negatif, nomor atomnya akan bertambah satu sedangkan nomor
massanya konstan.
Sinar Beta ( ) mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

Dibelokkan ke kutub positif karena muatannya yang dominan adalah negatif

Daya tembusnya lebih besar dari Alpha

Daya ionisasinya lebih besar dari Alpha


c.

Radiasi Gamma ( )

Tokoh penemu sinar Gamma ( ) adalah Paul Ulrich Villard. Sinar Gamma ( ) tidak
dipengaruhi oleh medan magnet, sehingga tidak bermuatan. Selain itu sinar Gamma ( )
tidak bermassa, sehingga daya tembusnya lebih besar dari sinar Alpha dan Beta. Sedangkan
daya ionisasinya lebih kecil dari sinar Alpha dan Beta.[14]
Inti yang tidak stabil akan mengalami peluruhan. Deret peluruhan radioaktif
merupakan rangkaian reaksi inti yang akhirnya menghasilkan pembentukan isotop stabil.
Kinetika peluruhan radioaktif. Semua peluruhan radioaktif mengikuti kinetika orde
pertama, karena kelajuannya hanya bergantung pada jumlah nuklida. Suhu, tekanan,
konsentrasi, dan keadaan zat tidak mempengaruhi laju peluruhan. Secara sistematis, laju
peluruhan dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
v=xN
dengan, v = laju peluruhan (keaktifan), yaitu banyaknya peluruhan inti dalam satu satuan
waktu.
= tetapan peluruhan ( serupa dengan k dalam persamaan laju reaksi), nilainya
bergantung pada jenis radioisotop.
N = jumlah nuklida radioaktif
Laju peluruhan (keaktifan), yaitu banyaknya peluruhan inti dalam satun satuan waktu.

8|Page

Makin banyak inti yang meluruh per satuan waktu, makin besar v. Secara sistematis,
pernyataan ini dinyatakan dengan :
v= tanda negatif menunjukan berkurangnya N terhadapa waktu, untuk mendapatkan nilai v
yang positif maka kita integralkan v, maka di peroleh:
- = N
= - N
= - dt
=-
=-
ln N ln N0 = - (t 0)
ln = e t
Hukum peluruhan radioaktif

N = N0 e t

Dengan N0 = banyak inti radioaktif pada saat t = 0


N = banyak inti radioaktif setelah selang waktu t
e = bilangan natural = 2,718....
= tetapan peluruhan (satuan s-1) [15]

Salah satu ciri reaksi berorde satu adalah bahwa waktu paruhnya tidak bergantung pada
jumlah zat mula-mula. Berapa pun jumlah zat mula-mula, selalu diperlukan waktu yang
sama sehingga separuh daripadanya meluruh. Waktu paruh dari suatu isotop radioaktif
adalah selang waktu yang dibutuhkan agar aktivitas radiasi berkurang setengah dari aktivitas
semula. Waktu paruh juga dapat didefinisikan sebagi selang waktu yang dibutuhkan agar
setengah dari inti radioaktif ada yang meluruh. Banyaknya inti radiaktif pada selang waktu t
(N) = N0 e t. Jika Jika t = t, maka N = N0, dapat dinyatakan sebagai berikut :
ln = - lt
lt = ln 2
lt = 0,693
t =

9|Page

Dengan mengetahui waktu paruh, kita dapat meramalkan sisa zat radioaktif setelah selang
waktu tertentu. Hubungan antara fraksi zat yang belum meluruh dengan waktu paruh,
setelah selang waktu t = n x t adalah

N = ()n N0
Dimana N0 = jumlah zat mula-mula
N = jumlah zat radioaktif yang masih tersisa pada waktu t
n = = [16]
4. Penggunaan Radioisotop
a. Sebagai Perunut
Sebagai perunut, radioisotop ditambahkan ke dalam suatu sistem untuk mempelajari
sistem itu, baik sistem fisika, kimia ataupun biologi. Oleh karean radioisotop mempunyai
sifat kimia yang sam seperti isotop stabilnya, maka radioisotop dapat digunakan untuk
menandai suatu senyawa sehingga perpindahan/perpindahan senyawa dapat diketahui.
Bidang kedokteran
Berbagai jenis radioisotop digunakan sebagai perunut untuk mendektesi berbagai jenis
penyakit antara lain :
Tc-99 untuk mendeteksi kerusakan jantung
Na- 24 digunakan untuk mendeteksi adanya gangguan peredaran darah
I 131 digunakan untukmendeteksi kerusakan pada kelenjar gondok, hati, dan untuk
mendeteksi tumor otak
Xe digunakan untuk mendeteksi penyakit parau-paru
Fe- 59 digunakan untukmempelajari pembentukan sel darh merah.
Bidang Kimia dan Biologi
Dalam ilmu kimia, perunut radioaktif digunakan untuk mempelajari mekanisme reaksi pada
proses biologi antara lain:
Mempelajari kesetimbangan kimia
Mempelajari reaksi pengesteran
Mempelajari mekanisme reaksi fotosintesis
10 | P a g e

b. Sebagai sumber radiasi


a. Bidang Kedokteran
1. Sterilisasi radiasi
Radiasi dalam dosis tertentu dapat mematikan mikroorganisme sehingga dapat
digunakan untuk sterisasi alat-alat kedokteran. Sterlisasi dengan cara radisasi mempunya
beberapa keunggulan jika dibndingkan dengan sterilsasi konvensional (menggunakan bahan
kimia) yaitu :
a)

Sterilisasi radiasi lebih sempurna dalam mematikan mikroorganisme

b) Sterilisasi radiasi tidak meninggalkan residu bahan kimia

2. Terapi tumor atau kanker


Berbagai jenis kanker atau tumor dapat diterapi dengan radiasi. Sebenarnya, baik sel
normal maupun sel kanker dapat dirusak oleh radiasi tetapi sel kanker ternyata lebih sensitif
(lebih mudah rusak). Oleh karena itu, sel kanker atau tumor dap[at dimatikan dengan
mengarahkan radiasi secara tepat pada sel-sel kanker tersebut. Radioisotop yang banyak
digunakan untuk terapi pada sel-sel kanker adalah Co-60, suatu pemancar gamma.

b. Bidang Pertanian
1. Pemulian tanaman
Pemulian tanaman atau pembentukan bibit unggul dapat dilakukan dengan
menggunakan radisi.
2. Penyimpanan makanan
Kita mengetahui bahwa bahan makan seperti kentang dan bawang, jika disimpan
lam akan bertunas, Radiasi dapat menghambat pertumbuhan bahan-bahn seperti itu. Jadi,
sebelum bahan tersebut disimpan diberi radiasi dengan dosisi tertentu sehingga tidak akan
bertunas, dengan demikian dapat disimpan lebih lama. Radiasi juga digunakan ntuk
pengawetan bahan makanan untuk mencegah pertumbuhan bakteri atau jamur.
11 | P a g e

c. Bidang Industri
1. Pemeriksaan tanpa merusak
Radiasi sinar gamma dapat digunakan untuk mmeriksa cacat pada logam atau
sambungan las, yaitu dengan meronsen bahan tersebut. Teknik ini berdasrkan sifat bahwa
semakin tebal bahan yang dilalui radiasi, maka intensitas radiasi yang diteruskan semakin
berkurang. Jadi, dari gambar (hasil ronsen) yang dibuat dapat terlihat apakah logam
terdistribusi merata atau ada bagian-bagian yang keropos di dalamnya. Pada bagian yang
berongga itu film akan lebih hitam.
2. Pengawetan bahan
Radiasi juga telah banyak digunakan untuk mengawetkan bahan, seperti kayiu,
barang-barang seni dan lain-lain. Radiasi juga dapt meningkatkan mutu tekstil kerena
mmengubah struktur serat sehingga lebih kuat atau lebih baik mutu peyerapan warnanya.
Berbagai jenis makan juga dapat diawetkan dengan dosisi yang aman sehingga dapat
disimpan lebih lama.[17]
5. Dampak Biologis dari Radiasi
Dampak radioisotop terhadap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Radiasi
terhadap tubuh manusia mengakibatkan terjadinya kerusakan sel yang secara umum dapat
digolongkan menjadi :
1. Tahap kerusakan efek somatik
Pengaruh efek somatic langsung tampak pada orang yang terkena paparan radiasi.
Kerusakan organ tubuh karena efek somatic disebabkan karena sel-sel pembentuk jaringan
tidak membelah lagi. Bias juga karena pembelahannya tertunda atau pembelahan sel-selnya
tidak normal, sehingga jaringan yang terkena radiasi tersebut mati. Beberapa factor fisis
yang mempengaruhi terjadinya efek somatik ialah:
a)

Jenis radiasi yang mengenai tubuh manusia, misalnya radiasi eksterna radiasi

gamma lebih parah akibatnya bila dibandingkan dengan radiasi Alpha

12 | P a g e

b) Banyaknya dosis serap yang diterima oleh organ tubuh


c) Waktu paparan yang diterima oleh organ tubuh. Dosis yang mematikan apabila
mengenai tubuh dalam waktu yang singkat tidak akan mengakibatkan kematian. Lain halnya
bila terkena paparan dalam waktu yang lama.
d) Distribusi dosis radiasi, apakah tersebar merata ke seluruh tubuh atau hanya
mengenai organ tertentu saja. Efek somatik yang akibatnya tampak dalam waktu singkat
atau relative tidak telalu lama, antara lain adalah :
Kerusakan pada system syaraf pusat
Kerusakan pada system pencernaan
Kerusakan pada organ reproduksi
Kerusakan kelenjar tiroid
Kerusakan mata
Karusakan paru-paru
Kerusakan ginjal
2. Tahap kerusakan efek tertunda
Efek tertunda sebenarnya termasuk efek somatic yang akibanya tidak langsung. Efek
tertunda atau sering disebut efek stokastik,memerlukan waktu untuk dapat diketahui
akibanya. Kerena tenggang waktu yang lama maka tidak mudah untuk menentukan apakh
kelainan yang terjadi pada oragan tubuh tersebut benar-benar merupakan akibat dari
terkena radiasi, atau karena sebab lain. Studi lebih jauh tentang efek tertunda kerena
terkena paparan radiasi sampai saat ini masih terus dilakukan untuk mendapatkan jawaban
yang lebih memuaskan. Beberapa bentuk efek tertunda karena radiasi antara lain adalah :
a) Neoplasma
Neoplasma adalah perunahan bentuk atau perubahan pertumbuhan sel karena
radiasi. Keadaan ini dapat mengakibatkan kelainan pada organ tubuh tertentu, seperti

13 | P a g e

timbulnya kanker paru-paru, kanker kulit, dan sebagainya. Gejal neoplasma timbul dalam
jangka waktu lama (sampai beberapa tahun)
b) Katarak
Paparan radiasi yang mengenai mata dapat menumbulkan kerusakan pada mata,
seperti timbulnya katarak. Factor usia dan dosis radiasi mempengaruhi terjadinya katarak.
c) Kemandulan
Efek tertunda seringkali dapat berupa kemandulan, baik kemandulan permanent
maupun kemndulan parsial. Dalam bebarapa kasus kemandulan dapat sembuh kembali,
asalkan dosis yang diterima tidak terlalu tinggi dan disertai dengan penjagaan gizi yang baik.
d) Berkurangnya Usia Harapan Hidup
Data mengenai berkurangnya usia harapan hidup seseorang yang terkena radiasi
sampai saat ini masih dalam penelitian lebih lanjut, sehingga belum dapat ditarik
kesimpulan yang pasti. Kesulitan dalam melengkapi data adalah kerena banyaknuya factor
lain yang mempengaruhi umur seseorang. Dugaan berkurangnya umur seseorang yang
terkena radiasi adalah berdasarkan teori yang ada dan berdasarkan penelitian pada hewan
percobaan.
e) Hambatan pada Pertumbuhan
Pertumbuhan yang terhambat adalah salah satu bentuk efek tertunda yang nasih
diamati sampai saat ini. Janin dalam kandungan yang terkena radiasi dapat mengalami
hambatan pertumbuhan. Besarnya hambatan pertumbuhan ini dipengaruhi oleh factor
umur janin dan dosis yang diterima.
3. Tahap kerusakan efek genetic
Radiasi memang dapat menimbulkan efek genetic dan hal ini terjadi atau tampak
akibatnya setelah beberapa generasi. Sebenarnya efek genetic termasuk efek somatic yang
tertunda, atau sering juga disebut dengan hereditary effects. Terjadinya mutasi gen pada sel
reproduksi dapat disebabkan oleh radiasi nuklir. Akan tetapi mutasi gen dapat juga
ditimbulkan oleh penyebab lain, bukan oleh radiasi nuklir saja. Oleh karena itu penelitian
mengenai efek genetic nini memerlukan ketelitian dan kesabaran agar diperoleh jawaban
14 | P a g e

yang memuaskan. Secara teoritis kromosom dalam sel memang dapat berubah atau
mengalami mutasi karena radiasi. Hal ini tampak jelas pada hasil eksperimen terhadap
tanaman dan hewan percobaan. Sedangkan efek genetic terhadap manusia, masih banyak
factor lain yang harus ikut dipertimbangkan, karena efek genetika pada manusia
kemungkinan akan menumbulkan generasi (keturunan) yang lebih jelek daripada generasi
induknya. Jadi efek yang berkibat merugikan lebih mungkin terjadi daripada efek yang
menguntungkan.[18]

15 | P a g e

Bab 3 Kesimpulan
Reaksi inti adalah suatau proses interaksi yang berlangsung dalam waktu 10-10
detik, antara inti atom sasaran dengan inti lain yang umumnya lebih ringan atau foton
berenergi kinetik tinggi sehingga menghasilkan suatu transmformasi pada inti sasaran
tersebut. Reaksi inti dibagi menjadi 3 macam yaitu reaksi penembakan, reaksi fisi, dan reaksi
fusi.
Stabilitas semua inti ditentukan oleh selisih antara tolakan elektrolistik dan tarikan
jarak pendek. Jika tolakan melampaui tarikan, inti terdisintegrasi (meluruh), memancarkan
partikel dan/atau radiasi. Jika tarikan melampaui tolakan, inti menjadi stabil. Faktor utama
yang menentukan suatu inti satabil atau tidak ialah perbandingan neutron-terhadap-proton
(n/p). Radioaktivitas merupakan proses pemancaran sinar-sinar Alpha (), Beta (), dan
Gamma () . Kegunaan reaksi inti antara lain sebagai perunut dan sebagai sumber radiasi
baik dalam bidang kedokteran, pertanian,biologi, maupun yang lainnya. Dampak radioisotop
terhadap manusia dalam kehidupan sehari-hari ada beberapa kelompok yaitu kerusakan
efek somatik, kerusakan efek genetik, dan kerusakan efek genetik.

16 | P a g e

Bab 4. Penutup
Demikian makalah yang dapat kami sampaikan, semoga dapat menambah ilmu dan
bermanfaat bagi kita semua. Segala kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Sehingga kami
sebagai manusa biasa yang banyak kekurangan mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun bagi semua pihak. Semoga apa yang kita kerjakan setiap hari mendapatkan
Ridho Allah SWT. Amin

17 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
[1] Bunbun Bunjali, Kimia Inti, (Bandung : ITB, 2002), hlm. 85.
[2] Raymond Chang, Kimia Dasar Jilid 2, (Jakarta : Erlangga, 2004), hlm. 258.
[3] Raymond Chang, Kimia Dasar jilid 2 hlm. 268.
[4] Duyeh Setiawan. MT, Radiokimia, (bandung: Widya Padjadaran, 2009), hlm.90.
[5] Raymond Chang, Kimia Dasar jilid 2, hlm. 270.
[6] Duyeh Setiawan. MT, Radiokimia , hlm. 92.
[7] Marthen Kanginan, Fisika untuk SMA Kelas XII, (Jakarta : Penerbit Erlangga), hlm. 138
[8] Hiskia Achmad, Kimia Unsur dan Radiokimia, hlm 191
[9] Hiskia Achmad, Kimia Unsur dan Radiokimia, hlm. 193
[10] Marthen Kanginan, Fisika untuk SMA Kelas XII, hlm. 140
[11] Hiskia Achmad, Kimia Unsur dan Radiokimia, (Bandung : Penerbit PT Citra Aditya
Bakti), hlm 190
[12] Raymond Chang, Kimia Dasar Jilid 2, hlm .260
[13] Raymond Chang, Kimia Dasar Jilid 2, hlm.256.
[14] Wisnu Arya Wardahana, Teknologi Nuklir, (Yogyakarta : Andi Offset, 2007), hlm..23-47.
[15] http://www.0351 Fis-37d.5/7/2012(akses senin 7 mei 2012 pukul 10.45 pm).
[16] Marthen Kanginan, Fisika untuk SMA Kelas XII, hlm. 153
[17] Micheal Purba, Kimia untuk SMA Kelas XII, (Jakarta : Penerbit Erlangga, 2006), hlm. 140
143.

[18] Wisnu Arya Wardhana , Teknologi Nuklir Proteksi dan Aplikasinya, (Yogyakarta :
Penerbit Andi, 2007), hlm. 183 189.

18 | P a g e