Anda di halaman 1dari 30

Dasar filosofis:

1.
Indonesia adalah Negara Hukum (Pasal 1 ayat (3).
2.
Ciri Negara Hukum minimal terdapat 4 unsur: Supremasi
Hukum, Pembagian kekuasaan, jaminan HAM, dan peradilan
yang merdeka.
3.
Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka
untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan
hukum dan keadilan (Penjelasan UU No. 48 Tahun 2009)
4.
Kemerdekaan atau kemandirian bersifat objektif yakni
berdasarkan Ketuhanan dan nilai-nilai Pancasila.
5.
Konsekuensi dari dasar itu maka Hakim harus
memperhatikan prinsip etik dalam mengadili yakni
kecermatan, persamaan, keterbukaan, dan kearifan.

Pancasila

Islam

Ketuhanan YME

Kekuasaan sebagai amanah

Kemanusiaan yang adil dan


beradab

Persamaan, Pengakuan dan


Perlindungan HAM, Peradilan
bebas

Persatuan Indonesia

Perdamaian, Ketaatan Rakyat.

Kerakyatan yang dipimpin oleh


hikmah dalam permusyawaratan
dan perwakilan

Musyawarah

Keadilan sosial bagi seluruh


rakyat Indonesia

Keadilan, Kesejahteraan

Ciri NEGARA HUKUM yang


Demokratis (J.B.J.M. Ten
Berge)
Konstitusional

Demokratis

1. Asas Legalitas: UU secara


1. Perwakilan Politik
umum harus memberikan
2. Pertanggungjawaban politik
jaminan (terhadap warga) dan
kepada konstituennya.
tindakan (pemerintah)
3. pembagian dan pemisahan
sewenang-wenang dan segala
kewenangan di antara organ
jenis tindakan yang tidak
pemerintahan.
benar.
4. Pengawasan dan kontrol
2. perlindungan HAM
5. kejujuran dan keterbukaan
3. Pemerintah terikat pada
pemerintahan untuk umum
hukum
6. Rakyat diberi kemungkinan untuk
4. Monopoli paksaan
mengajukan keberatan.
pemerintah untuk menjamin
penegakan hukum. Hukum
harus dapat ditegakkan ketika
hukum itu dilanggar.
5. Pengawasan oleh hakim
yang merdeka.

Manusia hakekatnya fitrah, namun keadaan


diri, lingkungan, dan sistem bisa
mempengaruhi perilaku seseorang.
Kekuasaan secara sosiologis cenderung
korup.
Negara itu anonim yang dikonstruksi oleh
hukum menjadi subjek hukum yang
digerakkan oleh orang-orang yang berkuasa.
Hukum memiliki tujuan-tujuan baik
(kesejahteraan, kemanfaatan, dan kepastian)
Hakim melalui lembaga peradilan
menegakkan cita sosial itu.

Amanat Konstitusi (Pasal 1 ayat (3), Pasal 24)


UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman.
UU No. 3 Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung.
Undang Nomor 8 Tahun 2004 tentang Peradilan
Umum
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara
UU No. 8 Tahun 2011 tentang Mahkamah
Konstitusi.
UU No. 18 Tahun 2011 tentang Komisi Yudisial.

Sebelum amandemen UUD 1945

Setelah amandemen UUD 1945

Pasal 24 : (1) kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah


Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut
undang-undang, dan (2) susunan dan kekuasaan badanbadan kehakiman itu diatur dengan undang-undang. Pasal
11 UU No. 14/1970: (1) Badan-badan yang melakukan
peradilan tersebut Pasal 10 ayat (1) organisatoris,
administratif dan finansialada di bawah kekuasaan masingmasing departemen yang bersangkutan. (2) MA mempunyai
organisasi, administrasi dan keuangan tersendiri.

Pasal 24 Ayat (1): kekuasaan kehakiman


merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan
hukum dan keadilan. Pasal 21 UU No. 48/2009:
Organisasi, administrasi, dan finansial Mahkamah
Agung
dan badan peradilan yang berada di bawahnya
berada di
bawah kekuasaan Mahkamah Agung.

Pasal 25: syarat-syarat untuk menjadi dan untuk


diperhentikan sebagai hakim ditetapkan dengan undangundang.

Pasal 24A Ayat (2): kekuasaan kehakiman tidak


hanya dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung
tetapi juga oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Bagi seorang hakim dipersyaratkan:
hakim agung harus memiliki integritas dan
kepribadian yang tidak tercela, adil, profesional,
dan berpengalaman di bidang hukum.
Dengan demikian, penyelenggara kekuasaan
kehakiman adalah MA dan MK

Pasal 24 menjadi dasar bahwa penyelenggara kekuasaan


kehakiman adalah MA.

Pasal 1 UU No 14/1970: Kekuasaan


Kehakiman yang bebas dari campur tangan
pihak kekuasaan Negara lainnya, dan
kebebasan dari paksaan, direktiva atau
rekomendasi yang datang dari pihak extra
judiciil, kecuali dalam hal-hal yang diijinkan
oleh Undang-undang. Kebebasan dalam
melaksanakan wewenang judiciil tidaklah
mutlak sifatnya, karena tugas dari pada
Hakim adalah untuk menegakkan hukum dan
keadilan berdasarkan Pancasila dengan jalan
menafsirkan hukum dan mencari dasar-dasar
serta azas-azas yang jadi landasannya,
melalui perkara-perkara yang dihadapkan
kepadanya, sehingga keputusannya
mencerminkan perasaan keadilan Bangsa
dan Rakyat Indonesia.

Untuk menjaga kemandirian dan integritas


hakim, amandemen UUD 1945 juga
memunculkan sebuah lembaga baru, yaitu
Komisi Yudisial.
Shimon Shetreet dalam Judicial
Independence: New Conceptual Dimentions
and Contemporary Challenges membagi
independence of the judiciary menjadi empat
hal yaitu substantive independence
(independensi dalam memutus perkara),
personal independence [misalnya adanya
jaminan masa kerja dan jabatan (term of
office and tenure)], internal independence
(misalnya independensi dari atasan dan
rekan kerja) dan collective independence
(misalnya adanya partisipai pengadilan
dalam administrasi pengadilan, termasuk
dalam penentuan budget pengadilan).
Prinsip kekuasaan kehakiman yang merdeka
menghendaki agar hakim terbebas dari
campur tangan, tekanan atau paksaan, baik
langsung maupun tidak langsung dari
kekuasaan lembaga lain, teman sejawat,
atasan, serta pihak-pihak lain di luar
peradilan.
Pasal 1 UU No 4/2004 jo UU No. 48/2009:
Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara
yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan
guna menegakkan hukum dan keadilan
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi
terselenggaranya Negara Hukum Republik
Indonesia.

Penegasan prinsip negara berdasarkan atas hukum


[Pasal 1 ayat (3)] dengan menempatkan kekuasaan
kehakiman sebagai kekuasaan yang merdeka.
Penghormatan kepada hak asasi manusia serta
kekuasaan yang dijalankan atas prinsip due process of
law.
Mengatur mekanisme pengangkatan dan pemberhentian
para pejabat negara, seperti Hakim.
Sistem konstitusional berdasarkan perimbangan
kekuasaan (check and balances) yaitu setiap kekuasaan
dibatasi oleh Undang-undang berdasarkan fungsi
masing-masing.
Setiap lembaga negara sejajar kedudukannya di bawah
UUD 1945.
Menata kembali lembaga-lembaga negara yang ada
serta membentuk beberapa lembaga negara baru agar
sesuai dengan sistem konstitusional dan prinsip negara
berdasarkan hukum.
Penyempurnaan pada sisi kedudukan dan kewenangan
masing-masing lembaga negara disesuaikan dengan
perkembangan negara demokrasi modern.

Pemisahan kekuasaan juga disebut dengan istilah trias politica adalah sebuah ide
bahwa sebuah pemerintahan berdaulat harus dipisahkan antara dua atau lebih
kesatuan kuat yang bebas, mencegah satu orang atau kelompok mendapatkan kuasa
yang terlalu banyak.

Secara teoritis, separation of power adalah pemisahan kekuasaan bersifat horizontal


dalam arti kekuasaan dipisah-pisahkan ke dalam fungsi-fungsi yang tercermin dalam
lembaga-lembaga negara yang sederajat dan saling mengimbangi (checks and
balances).

Menurut Montequieu, tujuan dan perlunya pemisahan kekuasaan ini untuk menjamin
adanya dan terlaksananya kebebasan politik (politikal liberty) anggota masyarakat
negara. Kebebasan politik ditandai adanya rasa tentram, karena setiap orang merasa
dijamin keamanannya atau keselamatannya.

Sedangkan distribution/ devision of power sebagai ajaran yang muncul sesudah


pengembangan dari sistem separation of power adalah pembagian kekuasaan yang
bersifat vertikal dalam arti perwujudan kekuasaan itu dibagikan secara vertikal ke
bawah kepada lembaga-lembaga tinggi negara di bawah lembaga pemegang
kedaulatan rakyat.

Kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna


menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,
demi terselenggaranya Negara Hukum RI (Pasal 24 ayat (1).

Asas kekuasaan kehakiman yang mandiri tidak lepas dari ajaran


Montesqueiu tentang tujuan dan perlunya pemisahan kekuasaan yaitu
untuk menjamin adanya dan terlaksananya kebebasan politik anggota
masyarakat negara.

Montesquieu memberikan arti kebebasan politik sebagaia tranquility of


mind arising from the opinion each person has of his safety. In order to
have this liberty, it is requisite the government be so constituted as one
man need not be afraid of another.[7]Kebebasan politik ditandai adanya
rasa tenteram, karena setiap orang merasa dijamin keamanannya atau
keselamatannya. Untuk mewujudkan kebebasan politik tersebut maka
badan pemerintahan harus ditata sedemikian rupa agar orang tidak
merasa takut padanya, seperti halnya setiap orang tidak merasa takut
terhadap orang lain di sekitarnya.

Kekuasaan kehakiman yang merdeka dapat dikatakan sebagai suatu


refleksi dariUniversal Declaration of Human Rights, danInternational
Covenant on Civil and Political Rights,yang di dalamnya diatur
mengenaiindependent and impartial judiciary. Di dalamUniversal
Declaration of Human Rights, dinyatakan dalamArticle 10,Every one is
entitled in full equality to a fair and public hearing by in independent and
impartial tribunal in the determination of his rights and obligations and of
any criminal charge against him. Setiap orang berhak dalam persamaan
sepenuhnya didengarkan suaranya di muka umum dan secara adil oleh
pengadilan yang merdeka dan tidak memihak, dalam hal menetapkan hakhak dan kewajibannya dan dalam setiap tuntutan pidana yang ditujukan
kepadanya. Di dalamInternational Covenant on Civil and Political Rights,
dalamArticle 14dinyatakan, in the determination of any criminal
charge against him, or of his rights and obligations in a suit at law,
everyone shall be entitled to a fair and public hearing by a competent,
independent and impartial tribunal established by law.

Kekuasaan kehakiman yang merdeka bukan berarti bahwa kekuasaan


kehakiman dapat dilaksanakan sebebas-bebasnya tanpa rambu-rambu
pengawasan, oleh karena dalam aspek beracara di pengadilan dikenal adanya
asas umum untuk berperkara yang baik(general principles of proper justice),
dan peraturan-peraturan yang bersifat prosedural atau hukum acara yang
membuka kemungkinan diajukannya berbagai upaya hukum.
ASAS-ASAS (rechtsbeginsellen) PERADILAN: pokok pikiran yang bersifat umum
yang menjadi latar belakang dari peraturan hukum yang kongkret.

Peradilan dilakukan "DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA". Pasal 2
ayat (1)
Peradilan negara menerapkan dan menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila.
Pasal 2 ayat (2).
Semua peradilan di seluruh wilayah negara Republik Indonesia adalah peradilan negara
yang diatur dengan undang-undang. Pasal 2 ayat (3).
Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan. Pasal 2 ayat (4).
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, hakim wajib menjaga kemandirian peradilan.
(Pasal 3 ayat (1).
Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang. Pasal 4 ayat
(1).
Pengadilan membantu pencari keadilan dan berusaha mengatasi segala hambatan dan
rintangan untuk dapat tercapainya peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya
ringan.Pasal 4ayat (2).

Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa
keadilan yang hidup dalam masyarakat. Pasal 5 ayat (1).
Hakim dan hakim konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, jujur, adil,
profesional, dan berpengalaman di bidang hukum. Pasal 5 ayat (2).
Hakim wajib menaati Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim. Pasal 5 ayat (3).
Tidak seorang pun dapat dihadapkan di depan pengadilan, kecuali undang-undang menentukan lain.
Pasal 6 ayat (1).
Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan karena alat pembuktian yang sah
menurut undang-undang, mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung
jawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya. Pasal 6 ayat (2).
Tidak seorang pun dapat dikenakan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan, kecuali
atas perintah tertulis dari kekuasaan yang sah dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undangundang. Pasal 7.
Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, atau dihadapkan di depan pengadilan wajib
dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan telah
memperoleh kekuatan hukum tetap. Pasal 8 ayat (1).
Dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana, hakim wajib memperhatikan pula sifat yang baik
dan jahat dari terdakwa. Pasal 8 ayat (2).
Setiap orang yang ditangkap, ditahan, dituntut, atau diadili tanpa alasan berdasarkan undang-undang
atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkannya, berhak menuntut ganti
kerugian dan rehabilitasi. Pasal 9 ayat (1).
Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan
dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan
mengadilinya. Pasal 10 ayat (1).

Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menutup usaha


penyelesaian perkara perdata secara perdamaian. Pasal 10 ayat (2).
Pengadilan memeriksa, mengadili, dan memutus perkara dengan
susunan majelis sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang hakim, kecuali
undang-undang menentukan lain. Pasal 11 ayat (1).
Dalam perkara pidana wajib hadir pula seorang penuntut umum, kecuali
undang-undang menentukan lain. Pasal 11 ayat (4).
Pengadilan memeriksa, mengadili, dan memutus perkara pidana dengan
kehadiran terdakwa, kecuali undang-undang menentukan lain Pasal 12
ayat (1).
Dalam hal terdakwa tidak hadir, sedangkan pemeriksaan dinyatakan
telah selesai, putusan dapat diucapkan tanpa dihadiri terdakwa. Pasal 12
ayat (2).
Semua sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka untuk umum,
kecuali undang-undang menentukan lain. Pasal 13 ayat (1).
Putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila
diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.Pasal 13 ayat (2).
Putusan diambil berdasarkan sidang permusyawaratan hakim yang
bersifat rahasia. Pasal 14 ayat (1).
Dalam sidang permusyawaratan, setiap hakim wajib menyampaikan
pertimbangan atau pendapat tertulis terhadap perkara yang sedang
diperiksa dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari putusan. Pasal
14 ayat (2).

Dalam hal sidang permusyawaratan tidak dapat dicapai mufakat bulat, pendapat hakim yang
berbeda wajib dimuat dalam putusan. Pasal 14 ayat (3).
Pengadilan wajib saling memberi bantuan yang diminta untuk kepentingan peradilan. Pasal 15.
Tindak pidana yang dilakukan bersama-sama oleh mereka yang termasuk lingkungan peradilan
umum dan lingkungan peradilan militer, diperiksa dan diadili oleh pengadilan dalam lingkungan
peradilan umum, kecuali dalam keadaan tertentu menurut keputusan Ketua Mahkamah Agung
perkara itu harus diperiksa dan diadili oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan militer. Pasal
16 .
Pihak yang diadili mempunyai hak ingkar terhadap hakim yang mengadili perkaranya. Pasal 17 ayat
(1).
Hak ingkar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah hak seseorang yang diadili untuk
mengajukan keberatan yang disertai dengan alasan terhadap seorang hakim yang mengadili
perkaranya. Pasal 17 ayat (2).
Seorang hakim wajib mengundurkan diri dari persidangan apabila terikat hubungan keluarga
sedarah atau semenda sampai derajat ketiga, atau hubungan suami atau istri meskipun telah
bercerai, dengan ketua, salah seorang hakim anggota, jaksa, advokat, atau panitera. Pasal 17 ayat
(3).
Ketua majelis, hakim anggota, jaksa, atau panitera wajib mengundurkan diri dari persidangan
apabila terikat hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat ketiga, atau hubungan
suami atau istri meskipun telah bercerai dengan pihak yang diadili atau advokat. Pasal 17 ayat (4).
Seorang hakim atau panitera wajib mengundurkan diri dari persidangan apabila ia mempunyai
kepentingan langsung atau tidak langsung dengan perkara yang sedang diperiksa, baik atas
kehendaknya sendiri maupun atas permintaan pihak yang berperkara. Pasal 17 ayat (5).
Dalam hal terjadi pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (5), putusan
dinyatakan tidak sah dan terhadap hakim atau panitera yang bersangkutan dikenakan sanksi
administratif atau dipidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Pasal 17 ayat
(6).
Perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6) diperiksa kembali dengan susunan
majelis hakim yangberbeda. Pasal 17 ayat (7).

1.

Dilihat dari pembagian badan peradilan umum dan peradilan


administratif: 1. Susunan kekuasaan kehakiman pada negara-negara
yang tergolong Common Law State yang tidak mengenal pembedaan
peradilan umum dan peradilan administratif. 2. Susunan kekuasaan
kehakiman pada negara-negara yang tergolong ke dalam prerogative
state karena di dalamnya terdapat peradilan administratif.

2.

Dilihat dari bentuk negaranya: 1. susunan kekuasaan negara pada


bentuk negara federal, mengenal dua sistem kekuasaan kehakiman
yakni susunan kekuasaan negara fideral dan susunan kekuasaan
negara bagian. 2. susunan kekuasaan negara pada bentuk negara
fideral, mengenal satu sistem tunggal kekuasaan kehakiman untuk
seluruh wilayahnya.

3.

Dilihat dari adanya kewenangan menguji peraturan perundangundangan dan tindakan pemerintah.

4.

Dilihat dari adanya sejarah dan keadaan suatu negara (konfigurasi


politik).

No.

Dasar Yuridis

Bentuk kekuasaan kehakiman

Keterangan

UUD 1945: Pasal 24 dan 25

: -Pasal 24(1) kekuasaan kehakiman


dilakukan oleh sebuah Mahkamah
Agung dan lain-lain badan kehakiman
menurut undang-undang, dan (2)
susunan dan kekuasaan badan-badan
kehakiman itu diatur dengan
undang-undang.
-Pasal 25: syarat-syarat untuk menjadi
dan untuk diperhentikan sebagai
hakim ditetapkan dengan undangundang.

Pengaturan Kekuasaan
kehakiman bersifat
partikularistik (belum
dipikirkan tentang visi
ideal sistem pembagian
kekuasaan kehakiman)

UU No. 7 Th 1947

Pasal 1: - (1) MA secara struktural


diangkat dan diberhentikan oleh
Presiden.
-(2) Jaksa secara struktural diangkat
dan diberhentikan oleh Presiden.
-Dalam ketentuan lain diatur
pembedaan jenis peradilan
berdasarkan asal penduduk antara
pribumi dan asing.

-Jaksa merupakan bagian


dari kekuasaan kehakiman
yang diatur dalam satu
paket UU.
-- The founding fathers and
mothers memandang
negara sebagai kekuasaan
manunggal sehingga
kehakiman yang
merupakan bagian dari
kekuasaan negara itu
merupakan sistem yang
tidak bermasalah.
-Peradilan pribumi dikenal
dengan Landraad yang
termasuklah ia peradilan
swapraja dan peradilan
adat. Sementara bagi

MASA RASULULLAH

Masa Rasulullah, Nabi adalah Hakim pertama untuk menegakkan hukum


Allah berdasarkan Al-Quran (QS. an-Nisa: 64; al-Maidah: 51).

Posisi Nabi sebagai Hakim, Muballigh, dan Musyarri.

Sudah mengenal desentralisasi urusan peradilan di daerah-daerah dan


sistem peradilan bertingkat dengan upaya banding pada Rasulullah.

Sudah mengenal prinsip peradilan (terbuka, mendengar kedua belah


pihak, alat-alat bukti dan persaksian yang ketat). Alat bukti: Keterangan
terdakwa dan ahli, sumpah, saksi, bukti tertulis, firasat).

Sumber hukum dalam mengadili: Al-Quran.

Meski belum terjadi pemisahan kekuasaan dalam pemerintahan


Rasulullah, akan tetapi sistem kekuasaan kehakiman oleh Rasulullah dan
sahabat sudah dipandang otonom atau mandiri.

Abu Bakar ra

Umar bin Khottob


ra

Utsman bin Affan ra

Ali bin Abi Tholib


ra

Khalifah memegang
kekuasaan kehakiman
dan melakukan
desentralisasi
kewenangan pada
pemerintah daerah dan
hakim yang ditunjuk
oleh Pemerintah.

Meneruskan dan
mengembangkan sistem
sebelumnya melalui sistem
pemisahan kekuasaan
(eksekutif dan legislatif).

Melanjutkan sistem
sebelumnya.

Mengenal sistem
pembagian kekuasaan.

Disusun Risalat al-Qodha


oleh Abu Musa al-Asyari
atas intruksi khalifah
Utsman.

Desentralisasi
pengangkatan hakim.

Secara formil
mengangkat Umar bin
Khottob sebagai Hakim
Agung.

Dibangun sistem peradilan


pidana yang ditangani Umar
dan perdata oleh Qodhi.

Sudah dibangun gedung


mahkamah sebagai gedung
peradilan dan sarana
prasarana lain

Sistem mengadili ittiba


pada masa Nabi.

Umar sudah merumuskan


dustur sebagai pegangan
proses peradilan.

Sudah mengenal sistem


administrasi peradilan dan
membentuk panitera.

Belum mengenal Rutan


dan gedung Pengadilan.

Mengenal lembaga damai


di luar pengadilan.

Sistem penggajian Hakim


dan pegawai secara umum.

Sumber Hukum: AlQuran, hadits, dan


pendapat para ahli.

Hakim diangkat oleh


eksekutif.

Sudah diterapkan sistem


denda.

Sumber Hukum: Al-Quran,


hadits, dan pendapat para
ahli.

Sumber Hukum: Al-Quran,


hadits, dan pendapat para
ahli.

Sistem kekuasaan
kehakiman mandiri.

Sumber Hukum: AlQuran, hadits, dan


pendapat para ahli.

Perubahan Ketiga UUD 1945 dalam Pasal 24 ayat (2), Pasal 24C, dan Pasal 7B yang
disahkan pada 9 November 2001 membawa konsekuensi harus dibentuknya sebuah
Mahkamah Konstitusi. Kedudukan MK dalam struktur kekuasaan kehakiman
dipertegas lagi dengan UU No. 48 Tahun 2009, Pasal 18 dan 19.
Pasal 21 UU No. 48 Tahun 2009, sistem kekuasaan kehakiman dalam satu atap
(Organisasi, administrasi, dan finansial Mahkamah Agung dan badan peradilan yang
berada di bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung).
Hadirnya KY dalam struktur kekuasaan kehakiman secara fungsional sebagai
lembaga rekruitmen dan pengawas, Pasal 24B UUD 1945 dan UU No. 18 Tahun 2011
tentang KY.
Dibentuknya lembaga-lembaga peradilan baru yang secara struktural berada di
bawah MA dan setingkat lembaga tinggi negara berdasarkan Pasal 24 ayat (3).
Pembentukan lembaga peradialan baru tersebut: Peradilan Tipikor, UU No. 46 Tahun
2009; Peradilan HAM ad-hoc, UU No. 26 Tahun 2000; Sistem Peradilan Pidana Anak,
UU No. 11 Tahun 2012; Peradilan Niaga, UU No. 37 Tahun 2004; Mahkamah
Syariyyah, Keppres No. 11 Tahun 2003;

KEKUASAAN KEHAKIMAN
Mahkamah Agung

Hakim agung harus


memiliki integritas
dan kepribadian
yang tidak tercela,
adil, profesional,
dan
berpengalaman di
bidang hukum
[Pasal 24A (2)]

MA
Pasal 24A
Umum
Agama
Militer
TUN

Calon hakim agung


diusulkan oleh
Komisi Yudisial
kepada DPR untuk
mendapat persetujuan dan
ditetap-kan sebagai
hakim agung oleh
Presiden [Pasal 24A
(3)]

Wewenang
1.berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan
perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undangundang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh
undang-undang [Pasal 24A (1)];
2.mengajukan tiga orang anggota hakim konstitusi [Pasal 24C (3)];
3.memberikan pertimbangan dalam hal Presiden memberi grasi dan
rehabilitasi [Pasal 14 (1)];

A.

Independensi MA (dijamin dalam UUD)


Prinsip Independensi Peradilan
merupakan salah satu prinsip penting
dalam negara demokrasi. Dalam
instrumen hukum internasional, asas ini
bisa dilihat, misalnya di: Universal
Declaration of Human Right (article 10),
ICCPR (article 14), dan Universal
Declaration on the Independence of
Justice, Montreal

B. Hubungan MA dengan Lembaga Negara


Lainnya
Kedudukan MA sederajat dengan lembagalembaga negara lainnya. MA merupakan
muara dari badan-badan peradilan yang
ada di Indonesia. MA juga merupakan badan
penyelenggara kekuasaan kehakiman yang
merdeka (pasal 24 ayat 1 UUD)

C. Fungsi Mahkamah Agung (MA)


Mengadili
Judicial Review
Pengaturan
Pengawasan dan Pembinaan
Pertimbangan dan Nasihat Hukum
Administratif

KEKUASAAN KEHAKIMAN
Mahkamah Konstitusi

Hakim konstitusi
harus memiliki
integritas dan
kepribadian yang
tidak tercela, adil,
negarawan yang
menguasai konstitusi
dan ketatanegaraan,
serta tidak
merangkap sebagai
pejabat negara
[Pasal 24C (5)]

MK
Pasal 24C

mempunyai sembilan
orang anggota hakim
konstitusi yang
ditetapkan oleh
Presiden, yang
diajukan masingmasing tiga orang
oleh MA, tiga orang
oleh DPR dan tiga
orang oleh Presiden
[Pasal 24C (3)]

Wewenang
1.berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap
Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga
negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar,
memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan
tentang hasil pemilihan umum [Pasal 24C (1)];
2.wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat
mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden

WASSALAM