Anda di halaman 1dari 4

Recovery/ Reclaim (pungut ulang, ambil ulang)

upaya mengambil bahan-bahan yang masih mempunyai nilai ekonomi tinggi dari suatu limbah,
kemudian dikembalikan ke dalam proses produksi dengan atau tanpa perlakuakn fisika,kimia dan
biologi.
1.
Industri Pulp dan Kertas
Daur Ulang Limbah dengan Produksi Bersih
Konsep Cleaner Production dicetuskan oleh United Nation Environmental Program (UNEP)
pada bulan Mei 1989. UNEP menyatakan bahwa Cleaner Production merupakan suatu
strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif, terpadu dan diterapkan secara
kontinu pada proses produksi, produk dan jasa untuk meningkatkan eko-efisiensi sehingga
mengurangi resiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Di tengah-tengah
produksi kertas yang semakin melonjak, bahan baku kertas dunia menjadi suatu hal yang
harus diperhatikan. Selain itu, peningkatan produksi kertas dapat pula meningkatkan
jumlah limbah yang dihasilkan. Sehingga pemecahan masalah-masalah tersebut harus
segera dilakukan, yaitu dengan menerapkan produksi bersih misalnya melalui tindakan
recovery white water, reuse, recycle atau house keeping. Pada Recovery white water,
kegiatan yang dilakukan adalah mengolah air sisa produksi atau back water dengan
menambahkan zat kimia untuk memisahkan serat dengan air. Serat yang berhasil
dipisahkan akan dipress untuk mengurangi kadar air kemudian dikirim ke tempat
penyimpanan bahan baku untuk diproses kembali ke dalam pulper. Sedangkan white water
akan dikirim ke tangki air untuk digunakan kembali sebagai media pembuburan bahan
baku dalam proses produksi. Alat yang digunakan untuk memisahkan serat dan air ini
disebut

purgomat

dan

pengoperasiannya

dikendalikan

atau

dilakukan

dengan

menggunakan komputer di ruang Distribution Control System (DCS). Pengolahan air sisa
produksi ini merupakan upaya untuk menghemat penggunaan air dari sungai dan
mengurangi terbentuknya limbah cair yang harus diolah. Selain itu serat yang diperoleh
dari proses recovery ini digunakan kembali untuk proses produksi, hal ini dapat
menghemat penggunaan sumber daya alam dan sangat menguntungkan dari segi ekonomi
bagi perusahaan.

White Water Recovery di Stock Preparation 3/6


Kegiatan yang dilakukan adalah mengolah air sisa produksi atau back water dengan
menambahkan zat kimia untuk memisahkan serat dengan air. Serat yang berhasil dipisahkan
akan dipress untuk mengurangi kadar air kemudian dikirim ke tempat penyimpanan bahan baku
untuk diproses kembali ke dalam pulper. Sedangkan white water akan dikirim ke tangki air untuk
digunakan kembali sebagai media pembuburan bahan baku dalam proses produksi. Alat yang
digunakan untuk memisahkan serat dan air ini disebut purgomat dan pengoperasiannya
dikendalikan atau dilakukan dengan menggunakan komputer di ruang Distribution Control
System (DCS).

Pengolahan air sisa produksi ini merupakan upaya untuk menghemat penggunaan air dari
sungai Ciujung dan mengurangi terbentuknya limbah cair yang harus diolah oleh WWT. Selain
itu serat yang diperoleh dari proses recovery ini digunakan kembali untuk proses produksi, hal
ini dapat menghemat penggunaan sumber daya alam dan sangat menguntungkan dari segi
ekonomi bagi perusahaan.

2.
Pada pabrik Amoniak-2, terdapat dua buah unit recovery, yaitu Ammonia Recovery Unit (ARU)
dan Hydrogen Recovery Unit (HRU). ARU berfungsi untuk mengambil NH3 yang berada dalam
purge gas, sedangkan HRU berfungsi untuk melakukan recovery H2 yang berada dalam purge
gas dan untuk mengambil tail gas yang mengandung CH4 dan H2. Proses recovery yang
dilakukan dalam ARU dimulaidengan penyerapan NH3 dengan air pada Scrubber.
Pemasangan Hydrogen Recovery Unit dimaksudkan untuk mengambil kembali hydrogen dan
ammonia yang terbawa di dalam purge gas yang keluar dari synloop dan flash gas yang keluar
dari unit refrigerasi, sehingga dapat menambah produksi ammonia dan meningkatkan efisiensi
pemakaian bahan bakar.

Feed Treating Unit


Gas Alam yang masih mengandung kotoran (impurities), terutama senyawa belerang sebelum
masuk ke Reforming Unit harus dibersihkan dahulu di unit ini, agar tidak menimbulkan
keracunan pada katalisator di Reforming Unit. Untuk menghilangkan senyawa belerang yang
terkandung dalam gas alam, maka gas alam tersebut dilewatkan dalam suatu bejana yang disebut
Desulfurizer. Gas alam yang bebas sulfur ini selanjutnya dikirim ke Reforming Unit.
Reforming Unit
Di reforming unit gas alam yang sudah bersih dicampur dengan uap air, dipanaskan, kemudian
direaksikan di Primary Reformer, hasil reaksi yang berupa gas-gas hydrogen dan carbon dioxide
dikirim ke Secondary Reformer dan direaksikan dengan udara sehingga dihasilkan gas-gas
sebagai berikut :

Hidrogen
Nitrogen
Karbon Dioksida

Gas gas hasil reaksi ini dikirim ke Unit purifikasi dan Methanasi untuk dipisahkan gas karbon
dioksidanya.

Purifikasi & Methanasi


Karbon dioksida yang ada dalam gas hasil reaksi Reforming Unit dipisahkan dahulu di Unit
Purification, Karbon Dioksida yang telah dipisahkan dikirim sebagai bahan baku Pabrik Urea.
Sisa karbon dioksida yang terbawa dalam gas proses, akan menimbulkan racun pada katalisator
ammonia converter, oleh karena itu sebelum gas proses ini dikirim ke Unit Synloop &
Refrigeration terlebih dahulu masuk ke Methanator.
Compression Synloop & Refrigeration Unit
Gas Proses yang keluar dari Methanator dengan perbandingan gas hidrogen : nitrogen = 3 : 1,
ditekan atau dimampatkan untuk mencapai tekanan yang diinginkan oleh Ammonia Converter
agar terjadi reaksi pembentukan, uap ini kemudian masuk ke Unit Refrigerasi sehingga
didapatkan amonia dalam fasa cair yang selanjutnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan
Urea.
Membran
Modul membran adalah modul untuk memenuhi kebutuhan Nitrogen yang kontinyu dengan
kemurnian yang tidak terlalu tinggi ( biasanya 92% -99.9% ) . Polimer membran yang dibuat
secara khusus memungkinkan gas-gas tertentu tertapis atau dapat melewati bahan membran
tersebut lebih cepat dari gas lainnya, sehingga campuran gas dapat terpisah secara lebih efisien.
Separasi udara dengan menggunakan modul membran ini sesuai dengan kebutuhan pasokan gas
dalam jumlah yang tidak besar.

3.
Garam Amonium (NH4) 2SO4 atau disebut ZA merupakan bahan baku utama dalam proses
deliming di industry kulit. Keberadaan garam ini (sebagai NH3-N total) dalam air limbah akan
mempengaruhi tingkat kesulitan pengolahan, serta akan terjadi peningkatkan konsumsi oksigen
yang dibutuhkan karena terjadinya proses nitrifikasi.
2 NH4 + + 4 O2 2 NO3 - + 4 H + + 2 H2O
Pengambilan Garam Amonium pada air limbah dengan kualitas TSS : 1.050 mg /l, BOD : 4.100
mg /l, NH3- N : 346 mg /l menggunakan centrifuge dengan kapasitas 150 liter, 900 rpm selama 2
menit akan menghasilkan kualitas filtrat dengan TSS 430 mg /l, BOD 2.108 mg /l, NH3-N 284
mg /l. (removal TSS: 59,05%, removal BOD 48,59% dan pengambilan kembali dari NH3-N
82,08%)
Dengan mengambil kembali garam amonium dari air limbah proses deliming pada basis 1.000 kg
kulit kering,akan bisa mengurangi biaya investasi total sebesar Rp. 5.376.123 (dari Rp.
289.671.249 menjadi Rp.284.295.126) dan biaya operasional Rp.301.312 / hari (dari Rp. 920.244
menjadi Rp.622.516). Filtrat tersebut dimungkinkan dapat digunakan untuk substitusi nitrogen
pada pupuk majemuk cair atau kompos.
Buang kapur (deliming)
Kapur yang tertinggal pada kulit yang telah dibuang rambutnya biasanya dibuang dengan cara
dicuci dengan air selama 20-30 menit, dan yang terikat secara kimia dihilangkan dengan asam
dan garam amonium (Sarkar, 1995), kadang-kadang juga ditambahkan sedikit 15 wetting agent
dan surfaktan untuk mempercepat proses buang kapur. Buang kapur secara konvensional dengan
garam amonium dihasilkan N-NH3 sebesar 40%, ini sangat mencemari lingkungan karena bau
dan sifat racun dari amonia. Upaya untuk mengurangi pencemaran terus dilakukan salah satunya
adalah penggunaan CO2 untuk buang kapur. Buang kapur dengan CO2 bertujuan untuk
mengurangi (bukan untuk menggantikan) jumlah garam amonium yang digunakan untuk buang
kapur. Deliming dengan CO2 saja berjalan sangat lambat sehingga masih memerlukan
penambahan garam amonium untuk mempercepat proses (White et al. ------). Deliming dengan
CO2 sangat cocok untuk kulit tipis, CO2 (1-1,5% berat kulit) diinjeksikan langsung ke dalam
drum . Penggunaan CO2 untuk deliming kulit tipis dapat dianggap sebagai teknologi bersih
karena menghasilkan kulit samak dengan kualitas yang bagus (Aloy, 1993). Pada kulit tebal
diperlukan peningkatan suhu cairan sampai 35oC atau memperpanjang waktu deliming (IULTCS,
dengan CO2 pada kulit sapi utuh yang dikapur dengan metode Sirolime dan disamak dengan
krom daur ulang menghasilkan kulit wet-blue yang lebih bersih dan lebih baik mutunya daripada
buang kapur secara konvensional.