Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHUUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini di Indonesia mengenal istilah sistem pertanian berkelanjutan. Menurut
Fitrah (2012) sistem pertanian berlanjut merupakan suatu sistem yang memanfaatkan sumber
daya

meliputi

komponen-komponen

fisik,

biologi

dan

sosial

ekonomi,

yang

direpresentasikan dengan sistem pertanian yang meminimalisir penggunaan input yang


berasal dari bahan-bahan sintetik, erosi tanah terkendali, dan pengendalian gulma, memiliki
efisiensi kegiatan pertanian (on-farm) dan bahan-bahan input maksimum, dan pemeliharaan
kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi tanaman, serta memelihara kualitas
lingkungan sehingga sistem ini dapat menekan dampak negatif terhadap lingkungan dan
digunakan dalam waktu yang lama.
Proses produksi pertanian yang berkelanjutan mengarah pada penggunaan input yang
ramah lingkungan dengan tujuan untuk memperoleh hasil produksi yang optimal dan tetap
menjaga kelestarian lingkungan. Dengan demikian, sistem pertanian berlanjut layak untuk di
aplikasikan di dunia pertanian karena sistem ini layak secara ekonomi dan ramah lingkungan.
Pada tingkat bentang lahan pengelolaan pertanian berlanjut diarahkan pada upaya menjaga
kondisi biofisik bentang lahan tersebut dengan memanfaatkan biodivesitas tanaman guna
mengendalikan gulma, hama dan penyakit, kondisi hidrologi, dan mengurangi emisi karbon.
Indonesia yang memiliki bentang lahan yang beranekaragam, dimana komposisi dan
sebarannya berbeda- beda. Hal ini tergantung dari beberapa faktor seperti iklim, topografi,
vegetasi, jenis tanah, serta keadaan sosial di daerah tersebut. Pada pengaplikasiannya
pertanian berlanjut ini masih belum terlaksana secara menyeluruh di Indonesia, masih banyak
petani yang menerapkan sistem pertanian konvensional. Dimana sistem pertanian
konvensional ini dapat dikatakan tidak berlanjut. Karena dalam penerapannya masih
menggunakan bahan- bahan sintetik yang berlebih sehingga mengakibatkan pencemaran
lingkungan. Selain itu, dalam penerapan sistem pertanian berlanjut masih terjadi kegagalan.
Kegagalan pertanian berlanjut ini dapat dilihat melalui beberapa indikator, yakni ekologi,
ekonomi, dan sosial. Untuk mengenal dan memahami lebih dalam mengenai pertanian
berlanjut dan indikator kegagalan dalam pengelolaan bentang lahan yang terpadu, sehingga

perlu diadakannya kegiatan lapang dan kemudian dianalisis. Maka dari itu, laporan ini akan
membahas mengenai hasil praktikum lapang di Kec. Batu, Kab. Malang guna meningkatkan
pemahaman konsep dasar pertanian berlanjut di daerah tropis dan pelaksanaan di tingkat
lanskap.

1.2 Maksud dan Tujuan


1. Untuk memperoleh segala informasi yang berkaitan dengan pertanian berlanjut dari aspek
ekologis, ekonomi, dan sosial.
2. Untuk memahami macam- macam tutupan lahan, sebaran lahan dan interaksi anatr
tutupan lahan pertanian yang ada di suatu bentang lahan.
3. Untuk memahami pengaruh pengelolaan pertanian terhadap kondisi hidrologi, tingkat
biodiversitas, dan serapan karbon.
4. Untuk memahami kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar area tersebut.
5. Untuk mengetahui apakah pertanian di wilayah Desa Kekep , Kec. Batu, Kab. Malang
dapat dikatakan berlanjut atau tidak.

1.3 Manfaat
Dengan dilaksanakannya fieldtrip mata kuliah Pertanian Berlanjut, manfaat yang
diperoleh antara lain dapat menentukan apakah suatu lansekap yang diamati termasuk dalam
kategori pertanian berlanjut atau tidak. Selain itu, dapat mengaplikasikan dasar teori yang
diperoleh di perkuliahan ruang yang kemudian dapat menilai keberlanjutan suatu lansekap
berdasarkan indikator-indikator pertanian berlanjut melalui pengamatan kondisi karakteristik
lansekap, biodiversitas, kualitas air, cadangan karbon, dan keadaan sosial ekonomi.

BAB II
METODOLOGI

2.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Pelaksanaan fieldtrip Pertanian Berlanjut 2013 dilaksanakan di Desa Tulungrejo,
Kecamatan Ngantang, Malang, Jawa Timur. Waktu pelaksanaan Fieldtrip diadakan pada 23
November 2013.

2.2 Metode Pelaksanaan


2.2.1

Pemahaman Karakteristik Lanskap


1. Alat dan Bahan

Kamera dokumentasi

: untuk mendokumentasikan hasil kegiatan

Klinometer

: untuk mengukur sudut kemiringan lereng

Alat tulis

: untuk mencatat hasil

2. Cara Kerja
Tentukan lokasi yang representatif sehingga kita dapat melihat
lanskap secara keseluruhan

Lakukan pengamatan secara menyeluruh terhadap berbagai bentuk


pengunaan lahan yang ada. Isikan pada kolom penggunaan lahan
dan dokumentasikan dengan foto kamera.

Identifikasikan jenis vegetasi yang ada, isikan dengan hasil


identifikasi pada kolom tutupan lahan.

Lakukan pengamatan secara menyeluruh terhadap berbagai tingkat


kemiringan lereng yang ada serta tingkat tutupan kanopi dan
seresahny

Isikan hasil pengamatan pada form pengamatan lapang dan


didokumentasi

2.2.2

Pengukuran Kualitas Air


1. Alat dan Bahan

Botol bekas ukuran 1,5 L dan 600 ml : untuk mengambil sample air

Kertas label

: untuk memeberi label

Termometer

: untuk mengukur suhu air

Secchi disc

: untuk mengkuru kekeruhan air

Meteran

: untuk mengukur tinggi air di botol

Alat tulis

: untuk mencatat hasil

2. Cara Kerja

Pengukuran air secara kimia ( pH dan oksigen terlarut )


Pengambilan contoh air perlu dilakukan untuk mengukur parameter
dissolve oxygen (DO) dan pH di Laboratorium., yang dilakukan dalam
beberapa langkah, antara lain:

Pada saat pengambilan contoh air, sungai harus dalam kondisi yang
alami (tidak ada orang yang masuk kedalam sungai). Hal ini untuk
menghindari kekeruhan air akibat gangguan tersebut

Ambil contoh air dengan menggunakan botol ukuran 1,5 L (sampai


penuh) dan tutup rapat-rapat

Beri label berisi waktu (jam, tanggal, bulan, tahun), tempat


pengambilan contoh dan nama pengambil contoh

Simpan baik-baik contoh air dan segera bawa ke laboratorium untuk


dianalisa

Pengukuran kualitas air secara fisik ( kekeruhan dan suhu )


Pengamatan kekeruhan air sungai (secara fisik), langkahlangkahnya adalah:

Ambil sample air ke dalam botol air mineral sampai ketinggian 40


cm, aduk air secara merata

Masukan termometer, amati suhu air tersebut dan catat hasilnya

Masukan Secchi Disk ke dalam botol yang berisi air secara


perlahan-lahan, dan amati secara tegak lurs sampai warna hitamputih pada Secchi Disk tidak dapat dibedakan

Ukur beberapa centimeter kedalaman Secchi Disk

Catat hasil pengamatan dan didokumentasikan

2.2.3 Pengukuran Biodiversitas


2.2.3.1 Aspek Agronomi
1. Alat dan Bahan

Petak kuadrat berukuran 1m x 1m : Untuk metode pengambilan contoh

Kamera

: Untuk mendokumentasikan

Kantong plastik

: Untuk wadah sampel

Alat tulis menulis

: Untuk menulis hasil praktikum

2. Cara Kerja
Indikator yang digunakan dalam mengukur biodiversitas dari aspek
agronomi adalah populasi dan jenis gulma pada lahan.

Pengelolaan gulma

Membuat sebuah kerangka persegi berukuran 1m x 1m dari bahan


alumunium.

Kerangka persegi dilempar secara acak ke tempat yang diduga


memiliki populasi gulma yang dapat mewakili keseluruhan lahan.

Foto petak kuadrat dengan kamera sehingga seluruh gulma dalam


petak dapat terlihat jelas

Catat jumlah dan jenis gulma yang ditemukan dalam kerangka


persegi

tersebut.

Untuk

menggunakan buku Flora.

mengetahui

jenis

gulma

dapat

Biodiversitas Tanaman Pangan dan Tahunan

Mentukan titik pada jalur (transek) yang mewakili masing-masing


tutupan lahan dalam hamparan lanskap

Mengamati tanaman budidaya di setiap tutupan lahan yang telah


ditentukan

Gambar sketsa tutupan lahan lanskap

Catat dan dokumentasikan

2.2.3.2

Aspek Hama Penyakit


1. Alat dan Bahan
Sweep net

: untuk menangkap serangga

Kamera

: untuk dokumentasi

Kantong plastik

: untuk tempat serangga

Kapas

: untuk membius serangga

Chloroform/ etil asetat

: untuk membius serangga

Alat tulis

: untuk mencatat

2. Cara Kerja

Menentukan titik-titik pengambilan sampel pada jalur (transek)


yang mewakili mewakili agroekosistem dalam hamparan

Tangkap serangga ndengan menggunakan sweep net dengan metode


3. Membuat jalur transek pada hamparan yang akan dianalisis
yang benar pada agroekosistem yang telah ditentukan

Kumpulkan semua serangga yang tertangkap sweep net dan


masukkan kedalam kantong plastic.

Serangga yang telah terkumpu dibunuh dengan memberikan etil


asetat.

Semua kantong plastik berisi serangga (sudah mati) dibawa ke


Laboratorium Hama. Apabila belum segera diamati hendaknya
semua serangga tersebut disimpan dilemari pendingin.

2.2.4 Pendugaan Cadangan Karbon


Peran lanskap dalam menyimpan karbon bergantung pada besarnya luasan
tutupan lahan hutaalami dan lahan pertanian berbasis pepohonan baik tipe

campuran (agroforestri) atau monokultur (perkebunan). Besarnya karbon yang


tersimpan di lahan bervariasi antar penggunaan lahan tergantung pada
jenis,kerapatan dan umur pohon. Oleh karena itu ada tiga parameter yang diamati
pada setiap penggunaan lahan yaitu jenis pohon, umur pohon, dan biomassa yang
diestimasi dengan mengukur diameter pohon dan mengintegrasikannya kedalam
persamaan allometrik.

2.2.5 Identifikasi keberlanjutan lahan dari Aspek Sosial Ekonomi


Dalam

mengevaluasi

keberlanjutan

dari

aspek

sosial

ekonomi

menggunakan indikator-indikator sebagai berikut (dengan melakukan wawancara


terhadap petani):
1. Macam/ jenis komoditas yang ditanam
2. Akses terhadap sumberdaya pertanian
3. Produksi pertanian dapat memenuhi kebutuhan konsumsi
4. Akses pasar
5. Pengetahuan petani tentang aspek lingkungan
6. Diversifikasi sumber-sumber pendapatan
7. Kepemilikan ternak
8. Pengelolaan produk sampingan (kotoran ternak)
9. Kearifan lokal
10. Kelembagaan
11. Tokoh masyarakat
12. Analisis usaha tani dan kelayakan usaha