Anda di halaman 1dari 103

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem pertanian berlanjut merupakan sistem pertanian yang layak secara
ekonomi

lingkungan

dan

social

budaya.

Pada

tingkat

bentang

lahan

pengelolaannya difokuskan pada pemanfaatan biodiversitas tanaman pertanian


dalam mempertahankan polinator, pengendalian gulma, pengendalian hama dan
penyakit, hidrologi (kuantitas dan kualitas air) dan mengurangi emisi karbon.
Banyak macam penggunaan lahan yang tersebar di seluruh bentang lahan, yang
mana komposisi dan sebarannya beragam tergantung pada beberapa faktor antara
lain iklim, topografi, jenis tanah, vegetasi dan kebiasaan serta adat istiadat
masyarakat yang ada disekelilingnya.
Tapi kebayakan pertanian di indonesia hanya memperhatikan aspek
ekonomi mereka tidak memperhatikan aspek lingkungan salah satunya dengan
menjaga hutan alami tetap alami kalau hutan alami terjaga dengan baik maka
kelangsungan ekosistem disana akan berjalan dengan baik sehingga biodiversitas
tanaman pun akan berjalan baik, dan kebayakan pertanian di Indonesia tidak
menerapkan sistem pertanian berlanjut padahal sistem pertanian berlanjut ini
dapat mengutung baik dari aspek ekonomi maupun lingkungan fieldtrip diadakan
di Ngantang karena disana masih ada hutan alami kami melakukan menelitihan
disana untuk mengetahui apakah disana termasuk pertanian berlajut apakah tidak
dan untuk mengetahui biodiversitas tanaman pertanian yang mempertahankan
polinator, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit, hidrologi
(kuantitas dan kualitas air) dan mengurangi emisi karbon

serta adat istiadat

masyarakat yang ada disekelilingnya.


Serta mempelajari tentang beberapa indikator kegagalan pertanian
berlanjut baik dari segi ekonomi, biofisik dan sosial. Guna meningkatkan
pemahaman akan dasar-dasar konsep Pertanian Berlanjut di daerah Tropis dan
penerapannya di tingkat lanskap maka pengenalan pengelolaan bentang lahan
yang terpadu di bentang lahan sangat perlu dilakukan.

1.2. Maksud dan Tujuan


1. Memahami macam-macam, sebaran dan interaksi antar tutupan lahan
pertanian yang ada di suatu bentang lahan;
2. Memahami pengaruh pengelolaan lanskap pertanian terhadap kondisi
hidrologi, tingkat biodiversitas, dan cadangan karbon.
1.3. Manfaat
1. Mengetahui manfaat dari pertanian berlanjut
2. Memahami karakteristik lanskap sehingga mampu menetukan tindakan yang
diperlukan guana mencapai pertanian berlanjut
3. Memahami indicator keberhasilan pertanian

BAB II
METODOLOGI
2.1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Fieldtrip Pertanian Berlanjut pada semester ganjil 2012-2013 ini
dilaksanakan di Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang. Lokasi ini masuk dalam
kawasan Sub Daerah Aliran Sungai Kalikonto. Susunan/konfigurasi penggunaan
lahan di lokasi ini adalah perkebunan monokultur pinus di lereng bagian atas
lanskap (plot 1), kebun campuran atau agroforestri di lereng bagian tengah (plot
2), tanaman semusim di lereng bagian tengah dan bawah (plot 3), serta campuran
antara tanaman semusim dan permukiman di lereng bawah (plot 3).
Dalam melakukan pengamatan di Desa Tulungrejo ini. Empat kelas ini
akan di pecah menjadi dua grup yaitu grup Tulungrejo I dan grup Tulungrejo II.
Grup Tulungrejo I melakukan pengamatan di bagian sebelah kiri sungai (dengan
arah menghadap ke lereng atas), sedangkan grup Tulungrejo II dibagian sebelah
kanan sungai. Kecuali pada plot 3 dan 4, pada plot ini grup Tulungrejo I dan
Tulungrejo II melakukan pengamatan dibagian sebelah kiri sungai. Plot 1
merupakan lahan hutan alami, plot 2 merupakan lahan agroforestri pisang,
lamtoro, untuk plot 3 merupakan lahan tanaman semusim baik jagung maupun
kubis. Dan yang terakhir plot 4 merupakan lahan semusim dan pemukiman warga.

2.2. Metode Pelaksanaan


2.2.1. Pemahaman Karakteristik Lansekap
1) Menentukan lokasi yang representatif untuk dapat melihat lansekap secara
keseluruhan.
2) Melakukan pengamatan secara menyeluruh terhadap berbagai bentuk
penggunaan lahan yang ada. Isikan pada kolom penggunaan lahan,
dokumentasi dengan foto.
3) Identifikasi jenis vegetasi yang ada, isi hasil identifikasi ke dalam kolom
tutupan lahan.
4) Melakukan pengamatan secara menyeluruh terhadap berbagai tingkat
kemiringan lereng yang ada serta tingkat tutupan kanopi dan seresahnya.
5) isi hasil pengamatan pada form.

2.2.2. Pengukuran Kualitas Air


Pengambilan sampel untuk mengukur DO (dissolve oxygen) di laboratorium
dilakukan dalam beberapa langkah:
1) Pada saat pengambilan contoh air, sungai harus dalam kondisi yang alami
(tidak ada orang yang masuk dalam sungai). Hal ini untuk menghindari
kekeruhan air akibat gangguan tersebut.
2) Ambil contoh air dengan menggunakan botol ukuran 1 liter (sampai
penuh) dan tutup rapat.
3) Beri label berisi waktu (jam, tanggal, bulan, tahun), tempat pengambilan
contoh, dan nama pengambil contoh.
4) Contoh air segera dianalisis di laboratorium.

Pendugaan kualitas air secara fisik (kekeruhan) dilakukan dalam beberapa


langkah:
1) Tuangkan contoh air dalam tabung / botol air mineral sampai ketinggian
30 cm.
2) Aduk air secara merata.
3) Masukkan secchi disc ke dalam tabung yang berisi air secara perlahanlahan dan amati secara tegak lurus sampai warna hitam-putih pada secchi
disc tidak dapat dibedakan.
4) Baca berapa sentimeter kedalaman secchi disc tersebut.
5) Masukkan data kedalaman yang diperoleh ke dalam persamaan berikut:
Konsentrasi sedimen (mg/l) = (3357.6 * D-1.3844)
Dimana D adalah kedalaman secchi disc dalam cm.

Pengamatan suhu air dilakukan dalam beberapa langkah:


1) Catat udara sebelum mengukur suhu dalam air.
2) Masukkan termometer ke dalam air selama 1-2 menit.
3) Baca suhu saat termometer masih dalam air, atau secepatnya setelah
dikeluarkan dari dalam air.
4) Catat pada form pengamatan.

Pengamatan pH air dilakukan dalam beberapa langkah:


1) Siapkan gelas ukur / tabung untuk pengujian, isi dengan air yang akan
diuji.
2) Celupkan kertas lakmus ke dalamnya, biarkan beberapa saat sampai terjadi
perubahan warna. Bandingkan warna kertas lakmus dengan warna standar.
3) Catat pH sesuai dengan warna standar.

2.2.3. Pengukuran Biodiversitas


2.2.3.1. Aspek Agronomi
Indikator yang digunakan dalam mengukur biodiversitas dari aspek
agronomi adalah populasi dan jenis gulma pada lahan. Metode yang digunakan
adalah:
1) Membuat sebuah kerangka persegi berukuran 1m x 1m dari bahan bambu.
2) kerangka persegi dilempar secara acak ke tempat yang diduga memiliki
populasi gulma yang dapat mewakili keseluruhan lahan.
3) Catat jumlah dan jenis gulma yang ditemukan dalam kerangka persegi
tersebut. Untuk mengetahui jenis gulma dapat menggunakan buku Flora.
4) Olah semua data yang telah diperoleh dengan bantuan modul fieldtrip
mata kuliah Pertanian Berlanjut.

2.2.3.2. Aspek Hama Penyakit


1) Membuat jalur transek pada hamparan yang akan dianalisis
2) Menentukan titik-titik pengambilan sampel pada jalur (transek) yang
mewakili mewakili agroekosistem dalam hamparan

3) Tangkap serangga ndengan menggunakan sweep net dengan metode yang


benar pada agroekosistem yang telah ditentukan
4) Kumpulkan semua serangga yang tertangkap sweep net dan masukkan
kedalam kantong plastik yang telah diberi secarik kertas tissu
5) Serangga yang telah terkumpu dibunuh dengan memberikan etil asetat.
6) Semua kantong plastik berisi serangga (sudah mati) dibawa ke
Laboratorium Hama. Apabila belum segera diamati hendaknya semua
serangga tersebut disimpan dilemari pendingin.
7) Hasil pengamatan disajikan dalam bentuk tabel.

2.2.4. Pendugaan Cadangan Karbon


Peran lansekap dalam menyimpan karbon bergantung pada besarnya
luasan tutupan lahan hutan alami dan lahan pertanian berbasis pepohonan baik
tipe campuran atau monokultur. Besarnya karbon yang tersimpan di lahan
bervariasi antar penggunaan lahan tergantung pada jenis, kerapatan dan umur
pohon. Oleh karena itu ada tiga parameter yang diamati pada setiap penggunaan
lahan yaitu jenis pohon, umur pohon, dan biomassa yang diestimasi dengan
mengukur

diameter

pohon

dan

mengingrasikannya

kedalam

persamaan

allometrik.

2.2.5. Identifikasi keberlanjutan lahan dari Aspek Sosial Ekonomi


Dalam

mengevaluasi

keberlanjutan

dari

aspek

sosial

ekonomi

menggunakan indikator-indikator sebagai berikut (dengan melakukan wawancara


terhadap petani):
1. Macam/jenis komoditas yang ditanam
2. Akses terhadap sumber daya pertanian
3. Penguasaan lahan
4. Saprodi
5. Faktor-faktor produksi
6. Diversifikasi sumber pendapatan
7. Kepemilikan hewan ternak.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
3.1.1. Kondisi Umum Wilayah.

Peta wilayah Desa Tulungrejo


Secara geografis Desa Tulungrejo terletak pada posisi 721-731 Lintang Selatan
dan 11010-11140 Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa
daratan sedang yaitu sekitar 156 m di atas permukaan air laut.Secara administratif,
Desa Tulungrejo terletak di wilayah Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang
dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah Utara
berbatasan dengan Hutan Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang. Di sebelah
Barat berbatasan dengan Desa Waturejo. Di sisi Selatan berbatasan dengan Desa
Sumberagung/Kaumrejo Kecamatan Ngantang, sedangkan di sisi Timur
berbatasan dengan Hutan Kecamatan Pujon.Luas Wilayah Desa Tulungrejo adalah
779,699 Ha. Luas lahan yang ada terbagi ke dalam beberapa peruntukan, yang
dapat dikelompokkan seperti untuk fasilitas umum, pemukiman, pertanian,
perkebunan, kegiatan ekonomi dan lain-lain.Luas lahan yang diperuntukkan untuk
pemukiman adalah 46.859 Ha. Luas lahan yang diperuntukkan untuk Pertanian
adalah 98,620 Ha. Luas lahan untuk ladang tegalan dan perkebunan adalah

216.645 Ha. Luas lahan untuk Hutan Produksi adalah 404,500 Ha. Sedangkan
luas lahan untuk fasilitas umum adalah sebagai berikut: untuk perkantoran 0,050
Ha, sekolah 0,200 Ha, olahraga 0,020 Ha, dan tempat pemakaman umum 0,005
Ha.Wilayah Desa Tulungrejo secara umum mempunyai ciri geologis berupa lahan
tanah hitam yang sangat cocok sebagai lahan pertanian dan perkebunan. Secara
prosentase kesuburan tanah Desa Tulungrejo terpetakan sebagai berikut: sangat
subur 10,600 Ha, subur 248,865 Ha, sedang 45,800 Ha, tidak subur/ kritis 0 Ha.
Hal ini memungkinkan tanaman padi untuk dapat panen dengan menghasilkan 4
ton/ ha. Tanaman jenis palawija juga cocok ditanam di sini.
3.1.2. Indikator Pertanian Berlanjut dari Aspek Biofisik
3.1.2.1. Kualitas Air

Plot 1 : Hutan,

Posisi Lereng: Lereng Atas,

Kemiringan: 19o , 42%

No

Penggunaan
lahan

Hutan

Produksi

Tutupan lahan

Manfaat

Posisi
lereng

Tingkat tutupan

Jumlah
spesies

Kerapatan

Kanopi Seresah (per ha)

Pinus

Getah, Kayu

43

Pisang

Buah, Daun

Biji, Daun,
3

Lamtoro

Kayu

10

Rumput Gajah

Daun

2500

Paku-pakuan

86

6
7
8
9
10
Tabel 1. Hasil pengamatan di plot 1

CStock
37,5

Plot 2 : Agroforestri,

Posisi Lereng: Lereng Tengah, Kemiringan:

10 , 18%
Tutupan

Lahan

Lahan

Nangka

Bu

20

Kopi

Bi

20

80

Pisang

Bu

10

50

Lamtoro

Bi

15

50

Talas

50

Pohon waru

20

Kersen

Bu

20

Manfaat

Posisi

Tingkat Tutupan

Penggunaan

No

Jumlah

Lereng Kanopi Seresah Populasi

C-Stock

Kerapatan

(ton/ha)

S
T
R
I
Tabel 2. Pengamatan hasil plot 2

NO

Plot 3:Tanaman semusim ,Kemiringan: 3o Lereng Bawah

penggunaan

Tutupan

lahan

lahan

Manfaat

Posisi

Tingkat tutupan

Kerapatan

C-stock

156

12

31.250

112

D, B

10

D, B

15.625

87

lereng

Kanopi

Kelapa

K, B, D

Kubis

Cabai

Jagung

Pisang

Tegalan

2
3

Sawah

Rumput
gajah

Rumput
gajah

Jumlah

seresah

Tabel 3 hasil pengamatan plot 3

species

plot : 4 pemukiman dan pekarangan


Posisi

Tingkat tutupan

lereng

Kanopi Seresah

Penggunaan

Tutupan

lahan

lahan

Pemukiman

Rumah

Pekarangan

Pisang

B/D

44

Kelapa

No

Manfaat

Jumlah spesies

Kerapatan

Rumput
4

Gajah

594

Pepaya

Singkong

Rambutan

Kelengkeng

Mangga

10

bambu

68

11

Labu

12

Pokak

Tabel 4 hasil pengamatan plot 4


Manfaat: B (buah). D (daun), K (kayu), B (biji). Posisi lereng: A (atas), T
(tengah), B (Bawah). Tingkat tutupa kanopi dan seresah: T (tinggi), S
(sedang), R (rendah).
Dokumentasi Karakteristik lanskap
Plot 1 hutan

CStock

Plot 2 agroforest

Plot 2 tanaman semusim

Plot 4 Pemukiman+ tan semusim

Penggunaan lahan dan jenis tutupan lahan


Kondisi Umum wilayah Fieldtrip Pertanian Berlanjut yaitu adalah Desa
Tulungrejo,Kecamatan Ngantang untuk susunan penggunaan lahan di lokasi ini
terdiri dari 4 Plot yaitu pada Plot 1 dengan penggunaan lahan Hutan, Plot 2
penggunaan lahan Agroforestri, Plot 3 penggunaan lahan Tanaman semusim dan
Plot 4 dengan penggunaan lahan tanaman semusim dan pemukiman. Untuk
mengetahui karakteristik lanskap di daerah Ngantang maka perlu mengidentifikasi
jenis penggunaan lahan (landuse) dan jenis tutupan lahan (land cover) pada suatu
lanskap.
Pada plot 1 dengan tingkat kemiringan mencapai 42% dan posisi lereng
berada paling atas, penggunaan lahan masyarakat menggunakan lahan sebagai
hutan produksi dengan jenis tutupan lahan dengan tanaman pinus, pisang,
lamtoro, rumput gajah dan paku-pakuan, untuk plot pada lereng atas ini

sebenarnya milik perhutani. Akan tetapi masyarakat dijinkan untuk dapat


memanfaatkan hasil dari hutan produksi dengan menyisipi tanaman budidaya
diantara tanaman pohon perhutani. Dari tanaman pada plot 1 (hutan produksi )
masyarakat memanfaatkan tanaman pada bagian kayu dan getahnya untuk pohon
pinus,kemudian untuk tanaman pisang masyarakat memanfaatkan pada bagian
buah,daun,biji. Untuk tanaman lamtoro marayakat memanfaatkan kayunya
sebagai bahan bakar atau untuk penggunaan lain, Sedangkan untuk rumput gajah
masyarakat memanfaatkannya untk pakan ternak. Untuk tingkat tututapn lahan
pada plot 1 yaitu paling tinggi adalah tanaman pinus dengan tingkat kerapatan
kanopi tinggi sedangkan untuk tanaman lamtoro,pisang,rumput gajah memiliki
tingkat tutupan lahan kanopi yang rendah. Tingkat tutupan lahan pada seresah dari
berbagai jenis pohon di plot 1 memiliki tingkat tutupan seresah yang rendah.
Pada Plot 2 dengan tingkat kemiringan 18% dan posisi lereng berada di
tengah penggunaan lahan masyarakat yaitu sebagai lahan Agroforestri dengan
jenis tutupan lahan yaitu nangka,kopi,pisang,lamtoro,talas,pohon waru,kersen.
Masyarakat memanfaatkan jenis tanaman penanaman jenis tanaman tahunan
dengan

kombinasi

tanaman

semusim

yaitu

tanaman

tahunan

seperti

kopi,lamtoro,pohon waru,nangka. Sedangkan untuk tanaman semusim yang


dibudidayakan masyarakat yaitu tanaman pisang dan tanaman kersen. Untuk
tanaman nangka masyarakat lebih memilih untuk memanfaatkan buah,pohon kopi
dimanfaatkan bijinya,tanaman lamtoro dimanfaatkan pada bagian bijinya dan
pohon waru dimanfaatkan masyarakat pada bagian daunnya. Sedangkan untuk
tanaman semusim masyarakat memanfaatkan tanaman pisang yang diambil
buahnya kemudian tanaman kersen yang dimanfaatkan buahnya. Tingkat
kerapatan paling tinggi yaitu adalah pada pohon kopi kemudian kerapatan sedang
pada jenis tutupan lahan pisang,lamtoro dan talas. Sedangkan untuk tanaman
nangka,pohon waru dan kersen memiliki tingkat kerapatan tutupan lahan yang
tendah.
Pada plot 3 masyarakat memanfaatkan dengan penanaman tanaman
semusim pada kemiringan 3 % bagian lereng bawah yaitu dengan penggunaan
lahan sebagai tegalan dan lahan sawah. Untuk penggunaan lahan tegalan jenis
tutupan lahan yaitu rumput gajah dan kelapa yang dimanfaatkan masyarakat pada

bagian kayu,buah,daun pada pohon kelapa sedangkan untuk rumput gajah


masyarakat memanfaatkanya untuk pakan ternak. Tingkat tutupan lahan pada
penggunaan tegalan baik tingkat kanopi maupun tingkat seresah termasuk dalam
kategori rendah. Penggunaan lahan sawah memilki jenis tutupan lahan
kubis,cabai,pisang,jagung dan rumput gajah. Masyarakat setempat memanfaatkan
pada bagian daun yaitu pada tanaman kubis dan rumpt gajah, cabai dimanfaatkan
bagian buahnya sedangkan pisang jagung dimanfaatkan daun dan buahnya oleh
masyarakat. Tingkat tutupan lahan pada penggunaan lahan sawah untuk tingkat
kanopi dan seresah termasuk ke dalam jenis rendah.
Pada plot 4, lahan dimanfaatkan masyarakat sebagai penggunaan tempat
pemukiman dan pekarangan tanaman semusim untuk jenis tutupan lahan yaitu
pada penggunaan pemukiman dengan jenis tutupan rumah masyarakat pada posisi
lereng bagian atas, kemudian pada penggunaan pekarang dengan jenis tutupan
lahan tanaman pisang yang dimanfaatkan bagian buah dan daun dimana terletak
pada posisi lereng tengah,tanaman kelapa dimanfaatkan masyarakat pada bagian
buah dengan posisi lereng bagian tengah,tanaman rumput gajah dimanfaatkan
bagian daunnya untuk pakan ternak dimana terletak pada lereng tengah,tanaman
pepaya dimanfaatkan masyarakat bagian buahnya pada lereng atas,tanaman
singkong dimanfaatkan masyarakat bagian daunnya pada lereng tengah,tanaman
rambutan diambil manfaatnya pada bagian buahnya pada lereng tengah,tanaman
kelengkeng dimanfaatkan masayarakat pada bagian buahnya di lereng
tengah,tanaman mangga dimanfaatkan masyarakat pada bagian buahnya di lereng
bawah,pohon bambu juga dimanfaatkan masyarakat pada bagian kayunya untuk
bahan bakar terletak pada lereng tengah,tanaman labu dimanfaatkan masyarakat
pada bagian buahnya terletak pada lereng atas sedangkan untuk tanaman pokak
dimanfaatkan pada bagian buah di lereng bawah. Untuk tingkat tututpan lahan
dibagi menjadi dua yaitu dilihat dari tingkat kanopi dan tingkat seresah, tanaman
yang memiliki tingkat kerapatan kanopi tinggi yaitu pohon bambu dan rumput
gajah, tingkat kerapatan kanopi sedang pada tanaman pisang,singkong, tingkat
kerapatan kanopi rendah yaitu pada tanaman kelapa ,pepaya, rambutan,
kelengkeng, mangga, labu dan tanaman pokok. Untuk tingkat kerepatan seresah
yang paling tinggi yaitu pada tanaman rumput gajah dan tanaman bambu, tingkat

kerapatan seresah sedang yaitu pada tanaman singkong dan tingkat kerapatan
seresah yang rendah yaitu pada tanaman pisang, kelapa, pepaya, rambutan,
kelengkeng, mangga, labu dan pokak.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan maka lahan daerah
tulungrejo ini termasuk dalam jenis lanskap Fragmented dengan karakteristik
habitat alami yang masih tersisa sebesar 10-60%. Dimana tipe fragmented yaitu
jenis lanskap dengan tipe konservasi habitat alami terpecah dalam kondisi yang
baik artinya plot hutan terpecah antara plot agroforestri,semusim ataupun
pemukiman akan tetapi masih dalam kondisi yang baik, kemudian untuk tipe
perbaikan yaitu kualitas habitat alami yang telah terpecah dengan pengelolaannya
pada bidang pertanian. Dalam hal ini dikatakan karakteristik lanskap yang tidak
berkelanjutan karena penggunaan bahan-bahan kimia yang dilakukan masyarakat
ataupun karakteristik lanskap baik penggunaan ataupun tutupan lahan yang tidak
mencerminkan keberlanjutan pertanian. Dapat dilihat dari kondisi hutan yaitu
sebagai habitat alami yang tidak memiliki koridor dengan habitat yang terdapat
pada lahan agroforestri, semusim ataupun lahan pekarangan masyarakat. Sehingga
dapat menyebabkan biodiversitas fauna yang kurang antar tanaman. Dalam hal ini
dapat dikatakan lanskap tidak berkelanjutan dimana seharusnya masyarakat tetap
memperhatikan kelestraian lingkungan dengan penggunaan bahan yang ramah
lingkungan sehingga tidak menyebabkan pencemaran lingkungan baik tanah,air
ataupun udara sekitar, selain itu masyarakat juga memperhatikan lanskap yang
saling berhubungan antara hutan,agroforestri, tanaman semusim ataupun lahan
pekarangan sehingga dapat memudahkan organisme berpindah yang akan
menimbulkan keseimbangan lingkungan akibat hama dan predator yang mampu
menjalankan fungsinya dalam setiap plot.
Perubahan bentuk lanskap terutama dalam bidang pertanian yang terjadi
saat ini merupakan salah satu masalah yang dapat menimbulkan terjadinya
kerusakan alam sehingga mengakibatkan adanya perubahan pada lingkungan
manusia. Terjadinya kerusakan ini dapat diakibatkan oleh beberapa faktor dalam
bidang pertanian misalnya terjadinya alih fungsi lahan, penebangan hutan,
penanaman

tanaman

dengan

pola

monokultur

dan

lain-lain

sehingga

menyebabkan banyak tanah dan air menjadi kurang produktif dan banyak daerah

yang kekurang air. Prospek dari pengelolaan lanskap dalam pembangunan


pertanian berkelanjutan adalah adanya konservasi tanah dan air untuk
memperbaiki kesimbangan ekosistem yang rusak dan membangun kembali
lanskap serta dilakukan pendekatan dengan menggunakan teknologi yang ramah
lingkungan untuk meningkatkan produksi tanaman (Ryszkowski, 2002).
3.1.2. Indikator Pertanian Berlanjut dari Aspek Biofisik
3.1.2.1. Kualitas Air
Lokasi pengambilan sampel air
Parameter

Suhu Air

Kedalaman

Plot 2

Plot 3

UL

UL

UL

UL 2

UL 3

UL 1

UL 3

UL 1

UL 2

UL 3

27,22

27,22 27,22

27

27

27

27,27 27,27 27,27

27,76

27,76

27,76

4,43

4,43

4,43

4,88

4,88

4,88

5,32

5,32

5,32

4,35

4,35

4,35

mg/L

0,08

0,08

0,08

0,07

0,07

0,07

0,07

0,07

0,07

0,09

0,09

0,09

Cm

36

36

36

30

30

30

30

30

30

36

36

36

UL 2

Plot 4

UL 1

Ph
DO

Plot 1

Satuan

Tabel 5. Tabel kualitas air


Klasifikasi kualitas air berdasarkan nilai DO dan pH
Parameter

Kelas (PP No. 82 Tahun 2001)


Plot 1

Plot 2

Plot 3

Plot 4

DO

IV

IV

IV

IV

pH

IV

IV

III

IV

Tabek 6 klasifikasi kualitas air berdasarkan nilai DO dan pH


Dokumentasi Pengamatan Kualitas air
Plot 1 hutan

Plot 2 agroforest

Plot 3 tanaman semusim

Plot 4 Pemukiman+ tan semusim

Pengamatan kualitas air dilakukan pada setiap plotnya. Parameter yang


diamati antara lain suhu air, pH, DO, Kedalaman. Hasil pengamatan setiap
parameter pada setiap plot pengamatan itu berbeda-beda. Akan tetapi, perbedaan
hasil pengamatan pada setiap plot tidak terlalu signifikan. Pada setiap pengamatan
dilakukan tiga kali pengulangan dan setiap pengulangan memperoleh hasil yang
sama pada pengukuran pengulangan yang lain. Kedalaman sungai pada saat
pengamatan juga diukur. Kedalaman sungai pada plot 2 dan plot 3 sebesar 30 cm,
sedangkan pada plot 1 dan plot 4 sebesar 36 cm. Menurut Munir (2010),
kedalaman suatu perairan dapat berpengaruh terhadap jumlah organisme yang
ada. Naiknya tinggi permukaan air dan kecepatan arus sungai dapat menyebabkan
substrat-substrat yang ada disungai mudah terkoyak dan terbawa arus, sehingga
tingkat kecerahan menjadi berkurang atau sungai menjadi lebih keruh.

Pengukuran suhu air, suhu yang paling tinggi adalah suhu air yang ada
pada plot 4 yakni sebesar 27,760 dan yang paling rendah adalah pada plot
pengamatan kedua yakni sebesar 270 sedangkan untuk plot 3 suhu air sebesar
27,270 dan plot pengamatan kualitas air plot 1 suhunya sebesar 27,220.Pola
temperature ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas
cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara sekelilingnya,
ketinggian geografis dan juga oleh faktor kanopii (penutup oleh vegetari) dari
pepohonan yang tumbuh sel tepi (Brehm dan Melfering, 1990, dalam Barus,
2010). Disamping itu pola temperature perairan dapat dipengaruhi oleh faktorfaktor anthrcopogen (faktor yang diakibatkan oleh aktifitas manusia) seperti
limbah panas yang berasal dari pendinginan pabrik. Pengunduran BAS yang
menyebabkan hilangnya perlindungan sehingga badan air terkena cahaya matahari
secara langsung. Hal ini terutama akan menyebabkan peningkatan temperatur
suatu sistem perairan (Barus, 2001).Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi
suhu dan salinitas di perairan ini adalah penyerapan panas (heat flux) curah hujan
(prespiration) aliran sungai (Flux) dan pola sirkulasi air (Hadikusumah, 2008)
Oksigen terlarut (DO) merupakan gas yang tercampur dengan air
sedemikian rupa sehingga bagian yang terkecil berukuran molekuler. Dissolve
oxygen (DO) pada pengamatan yang dilakukan data yang diperoleh pada setiap
pengamatannya berbeda. DO yang paling rendah pada plot 2 dan 3 yakni sebesar
0,07 dan paling tinggi pada plot 4 sebesar 0,09, sedangkan pada plot 8 DO nya
sebesar 0,08.Untuk nilai DO dari plot1 sampai dengan plot 4 termasuk dalam
kelas kualitas air ke IV dimana air dapat digunakan untuk mengairi dan untuk
peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kualitas air
tersebut.
Tabel 7. Tingkat pencemaran perairan berdasarkan nilai DO
Tingkat Pencemaran

Parameter DO (ppm)

Rendah

>5

Sedang

0-5

Tinggi

0
Sumber : (Wirosarjono,1974)

Berdasarkan data yang diperoleh pada setiap plot tersebut maka kita dapat
menyimpulkan tingkat pencemaran pada semua plotnya sedang. Adanya oksigen
terlarut dalam air berasal dari udara dan dari proses fotosintesa tumbuh-tumbuhan
air kelarutan oksigen dalam air, tergantung pada temperatur, tekanan atmosfer,
dan kandungan mineral dalam air. Kadar oksigen terlarut di perairan dipengaruhi
oleh proses aerasi, fotosintesis, respirasi, dan oksidasi (Deazy,2011).
Tabel 8. Klasifikasi Kualitas Air Berdasarkan Nilai DO dan pH
Parameter

Kelas (PP No. 82 Tahun 2001)


Plot 1

Plot 2

Plot 3

Plot 4

DO

IV

IV

IV

IV

pH

IV

IV

IV

IV

Pengamatan pH setiap plotnya juga dilakukan 3 kali pengulangan.


Berdasarkan data yang diperoleh maka air tersebut dapat diketahui asam hal ini
dikarenakan pH dari setiap pengamatan itu dibawah dari 7. Pada plot 1 pH air
yang diperoleh adalah sebesar 4,43, pada plot 2 sebesar 4,48, pada plot 3 sebesar
5,32, sedangkan plot 4 sebesar 4,35. Dengam demikian maka kondisi air asam
terletak pada plot pengamatan plot 1 dengan pH 4,43.Untuk kelas kualitas air
dilihat dari PH, plot 1 sampai dengan plot 4 masuk ke dalam kelas ke IV yaitu air
diperuntukan untuk mengairi pertanaman dan untuk peruntukan lainyang
mempesyaratkan mutu tanaman sama dengan kegunaannya.
Peran masyarakat sangat diharapkan dalam menunjang keseimbangan
kadar PH dalam air. Apabila kandungan PH rata-rata sangat rendah maka kualitas
air buruk dan tidak layak dipergunakan. Air yang sudah terkontaminasi zat-zat
kimia banyak mengandung zat asam contoh: karbondioksida. Apabila kadar PH
tinggi berarti tingkat kandungan basa kuat. Kadar PH dapat dipengaruhi oleh
faktor alami dan faktor manusia. Pengendapan mineral tanah dan zat-zat asam dari
air hujan merupakan faktor alami siklus kadar asam. Faktor pendorong terjadinya
tingkat pencemaran terbesar yaitu aktivitas manusia sehari-hari. Pembuangan
limbah industry baik kecil maupun besar menjadi pemicu besar pencemaran air.
Zat-zat asam ataupun basa akan mengikat kadar oksigen dalam air sehingga
menyebabkan tingkat pencemaran air meningkat.

3.1.2. Biodiversitas Tanaman


Plot 1

Informasi tutupan lahan dan Tanaman dalam


lansekap

Titik pengambilan sample sampel tutupan

Semusim/

lahan

Tahunan/Campuran

Luas
(m2)

Jarak tanam

Populasi

Sebaran

Plot 1.1 (Pinus)

Tahunan

2878,4

2,5

50

Luas

Plot 1.2 (Lamtoro)

Tahunan

115,6

Sedang

Plot 1.3 (Rumput Gajah)

Campuran

Acak

Banyak

Sedang

Plot 1.4 (Pisang)

Musiman

Sedang

Plot 1.5 (Paku-pakuan)

Campuran

Acak

Banyak

Sedang

Tabel 9. Biodiversitas pada plot 1


Pada plot 1 terdapat tanaman pinus, lamtoro, rumput gajah, pisang, dan paku-pakuan. Tanaman pinus yang
merupakan tanaman tahunan dengan luas

2878,4

m2, populasi 50, dengan sebaran yang luas. Tanaman lamtoro

merupakan tanaman tahunan dengan luas 115,6 m2, populasi 6, dan sebaran yang sedang. Tanaman rumput gajah
merupakan tanaman campuran dengan jarak tanam acak, jumlah populasinya banyak, dan sebaran yang sedang. Tanaman
pisang merupakan tanaman semusim yang mempunyai populasi 6 tanaman dengan sebaran yang sedang. Pada plot
tersebut terdapat sebaran tanaman paku-pakuan yang sedang dengan populasi yang banyak. Sehingga pada plot 1 tersebut
memiliki sebaran sedang. Karena plot 1 merupakan daerah yang lebih tinggi daripada plot-plot yang lain maka daerah
tersebut sudah sesuai untuk mencegah adanya erosi dan penanaman mengikuti pola agroforestri.

Biodiversitas tanaman
Plot 2

Titik pengambilan sample sampel tutupan

Semusim/

lahan

Tahunan/Campuran

Informasi tutupan lahan dan Tanaman dalam


lansekap
Luas

Jarak tanam

Populasi

8m x
1(Kubis)

Semusim

10m

campuran (kopi ; pisang ;

5m x

lamtoro)

10 m

Tabel 10. Biodiversitas pada plot 2

30cm x 40cm

667

1m x 1m

50 kopi

Sebaran

Pada plot 2 terdapat tanaman kubis dan tanaman campuran yaitu kopi, pisang, serta lamtoro. Tanaman kubis
merupakan tanaman semusim yang pada plot tersebut ditanam secara monokultur. Tanaman kubis mempunyai luas 80 m2
dengan jarak tanam (30cm x 40cm). Kemudian pada lahan sebelahnya terdapat tanaman campuran yaitu tanaman kopi,
pisang dan lamtoro. Pada lahan tersebut memiliki luas lahan 50 m2 dengan jumlah tanaman kopi 55.

Biodiversitas tanaman
Form pengamatan biodiversitas tanaman pangan dan tahunan
Plot 3

Informasi tutupan lahan dan Tanaman dalam


Titik pengambilan sampel tutupan lahan

lansekap

Semusim/
Tahunan/Campuran

Luas

Jarak tanam (cm

(ha)

x cm)

Populasi

Sebaran

Plot 3.1 (jagung)

Semusim Monokultur

1/4

40 x 40

15.625

Rapat

Plot 3.2 (kubis)

Semusim Monokultur

1/2

40 x 40

31.250

Rapat

143

Jarang

Plot 3.3 (tanaman pagar cabai)

Tabel 11. Biodiversitas pada plot 3


Pada plot 3 memiliki tutupan yang beragam. Tanaman budidaya yang diamati pada plot 3 yaitu tanaman Jagung
dan Kubis yang memiliki pola tanam monokultur. Tanaman Jagung pada lahan tersebut memiliki kerapatan yang rapat
dengan jarak tanam (40 x 40) cm, luas lahan 1/4 ha, dan populasi 15.625 tanaman jagung. Tanaman Kubis pada lahan
tersebut memiliki kerapatan yang rapat dengan jarak tanam (40 x 40) cm, luas lahan ha, dan populasi 31.250 tanaman
Kubis. Pada tanaman pagar Cabai terdapat populasi 143 tanaman dengan kerapatan yang jarang. Sehingga pada plot
tersebut memiliki kerapatan yang cukup rapat.

Biodiversitas tanaman
Form pengamatan biodiversitas tanaman pangan dan tahunan
Plot 4

Titik pengambilan sampel tutupan lahan

Informasi tutupan lahan dan Tanaman dalam

Semusim/
Tahunan/Campuran

lansekap
Luas

Jarak tanam

Populasi

Sebaran

Jagung

Semusim

142 m2

(100x40)cm

355

Sedang

Kopi

Tahunan

400 m 2

(2 x 2) m

100

Sedang

Pisang

Semusim

400 m 2

(5x5)m

16

Rendah

Lamtoro

Tahunan

400 m2

(5x4)m

20

Rendah

Tabel 12. Biodiversitas pada plot 4


Pada plot 4 memiliki tutupan yang beragam. Tanaman budidaya yang diamati pada plot 4 yaitu tanaman Jagung dan
Kopi yang memiliki tanaman pendamping yaitu Pisang dan Petai Cina(Lamtoro). Tanaman Jagung pada lahan tersebut
memiliki kerapatan yang sedang dengan jarak tanam (100x20) cm, luas lahan 142 m2, dan populasi 355 tanaman jagung.
Tanaman Kopi pada lahan tersebut memiliki kerapatan yang sedang dengan jarak tanam (4x4) m, luas lahan 400 m2, dan
populasi 100 tanaman Kopi. Tanaman Pisang pada lahan kopi tersebut memiliki kerapatan yang rendah dengan jarak tanam
(5x5) m, luas lahan 400 m2, dan populasi 16 tanaman. Tanaman Lamtoro pada lahan kopi tersebut memiliki kerapatan
yang rendah dengan jarak tanam (5x4) m, luas lahan 400 m2, dan populasi 20 tanaman. Tanaman Lamtoro dengan pisang
memiliki sebaran yang rendah karena tanaman-tanaman tersebut sebagai tanaman pendamping pada lahan Kopi. Dalam
budidayanya, tanaman kopi memerlukan tanaman pelindung untuk mengurangi intensitas matahari yang sampai di kanopi
daun, karena tanaman ini tidak dapat tumbuh dengan baik apabila diusahakan pada areal yang terbuka. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa sebaran tanaman pada plot 4 adalah sedang dengan plot yang dekat dengan pemukiman penduduk.

Pengelolaan Gulma
Kelebatan Gulma

Titik Pengambilan
sampel

Lebat (>

Agak lebat (25%-

Jarang (<

50%)

50%)

25%)

2
3

Tabel 13. Pengelolaan gulma

Form Pengamatan biodiversitas gulma


Plot 1
Nama lokal

Nama ilmiah

Lokasi sampel

Rumput

Pennisetum

Pinus (Plot

Gajah

purpureum

1.1.1)

Cyperus

Lamtoro (Plot

rotundus

1.2.1)

Ageratum

Lamtoro (Plot

Bandotan

conyzoides

1.2.2)

Rumput

Brachiaria

Rumput teki

malela

mutica

Jumlah

Fungsi

80

Gulma

Gulma

15

Gulma

10

Gulma

12

Gulma

10

Gulma

Rumput gajah
(Plot 1.3.1)

Mimosa

Pisang ( Plot

Putri malu

pudica

1.4.1)

Rumput

Cynodon

Pisang ( Plot

grinting

dactylon

1.4.2)

Tabel 14. Form pengamatan biodiversitas gulma pada plot 1


Plot 3
Nama Lokal

Nama Ilmiah

Lokasi Sampel

Jumlah

Fungsi

Bayam Duri

Amaranthus spinosus

Plot 3.1 (kubis)

13

Gulma

Rumput Grinting

Cynodon dactylon

Plot 3.1 (kubis)

14

Gulma

Rumput gajah

Pennisetum purpureum

Plot 3.1 (kubis)

Gulma

Krokot

Portulaca L

Plot 3.1 (kubis)

17

Gulma

Bayam duri

Amaranthus spinosus

Plot 3.2 (kubis)

46

Gulma

Rumput Grinting

Cynodon dactylon

Plot 3.2 (kubis)

41

Gulma

Babandotan

Ageratum conyzoides

Plot 3.2 (kubis)

Gulma

Krokot

Portulaca L

Plot 3.2 (kubis)

24

Gulma

Rumput Belulang

Eleusine indica

Plot 3.1 (jagung)

14

Gulma

Rumput teki

Cyperus rotundus

Plot 3.1 (jagung)

Gulma

Rumput Grinting

Cynodon dactylon

Plot 3.1 (jagung)

30

Gulma

Rumput Belulang

Eleusine indica

Plot 3.2 (jagung)

80

Gulma

Babandotan

Ageratum conyzoides

Plot 3.2 (jagung)

16

Gulma

Krokot

Portulaca L

Plot 3.2 (jagung)

14

Gulma

Bayam duri

Amaranthus spinosus

Plot 3.2 (jagung)

Gulma

Tabel 15. Form pengamatan biodiversitas gulma pada plot 3


Plot 2
Nama lokal
Nama Lokal
Krokot

Rumput
grinting

Nama ilmiah
Nama Ilmiah
Portulaca oleracea

Cynodon dactylon

Semanggi

Marsilea crenata

Putri Malu

Mimosa pudica

Rumput
malela
Rumput kenop

Rumput Teki

Rumput kenop

Brachiaria mutica

Lokasi sampel
Lokasi Sampel
Plot 2.1.1
(kubis)
Plot 2.1.1
(kubis)
Plot 2.1.2
(Kubis)
Plot 2.1.2
(Kubis)
Plot 2.2.1
(kopi)

Cyperus kyllingia

Plot 2.2.1

Endl

(kopi)

Cyperus rotundus

Plot 2.2.2
(kopi)

Cyperus kyllingia

Plot 2.2.2

Endl

(kopi)

Jumlah

Fungsi

Jumlah

Fungsi

jarang

Gulma

jarang

Gulma

jarang

Gulma

jarang

Gulma

jarang

Gulma

jarang

Gulma

jarang

Gulma

jarang

Gulma

Tabel 16. Form pengamatan biodiversitas gulma pada plot 2


Plot 4
Nama lokal
Teki ladang

Nama ilmiah
Cyperus rotundus

Lokasi sampel
Plot 4.1.1

Jumlah
lebat

Fungsi
Gulma

(jagung)
Ketul

Bidens pilosa

Rumput
grinting

lebat

Gulma

lebat

Gulma

lebat

Gulma

lebat

Gulma

lebat

Gulma

lebat

Gulma

lebat

Gulma

lebat

Gulma

Plot 4.2.1 (kopi)

Gulma

Setaria plicata

Plot 4.2.1 (kopi)

banyak

Gulma

Ageratum

Plot 4.1.2

conyzoides

(jagung)

18

Gulma

Setaria plicata

Plot 4.2.2 (kopi)

banyak

Gulma

Cynodon dactylon

1. Rumput malela Brachiaria mutica

Ketul

Bidens pilosa

Rumput
grinting

Cynodon dactylon

Rumput malela Brachiaria mutica

Krokot

Bandotan

Rumput kenop
Jamarak
Bandotan
Jamarak

Plot 4.1.1
(jagung)
Plot 4.1.1
(jagung)
Plot 4.1.1
(jagung)
Plot 4.1.2
(jagung)
Plot 4.1.2
(jagung)
Plot 4.1.2
(jagung)

Portulaca

Plot 4.1.2

oleracea

(jagung)

Ageratum

Plot 4.1.2

conyzoides

(jagung)

Cyperus kyllingia
Endl

Tabel 17. Form pengamatan biodiversitas gulma pada plot 4

Form tabulasi data


Kelompok A1
Tutupan Lahan
Kelompok Gulma

Pinus (Plot

Lamtoro

Rumput

Pisang

1.1)

(Plot 1.2)

Gajah (1.3) (1.4)

Pennisetum
Teki-tekian

Daun sempit/rumput

purpureum

Cyperus

Brachiaria

Cynodon

rotundus

mutica

dactylon

Ageratum
Daun Lebar

conyzoides

Mimosa
-

pudica

Tabel 18. Form tabulasi data kelompok A1


Penjelasan Hasil Pengamatan Gulma
Pada pengamatan gulma dilakukan pada lahan pinus, lamtoro, rumput gajah,
dan pisang. Pada lahan pinus didapatkan Pennisetum purpureum yang merupakan
kelompok gulma teki-tekian dengan jumlah 80. Pada lahan tersebut tidak terdapat
kelompok gulma berdaun sempit dan lebar. Pada lahan lamtoro terdapat kelompok
gulma daun sempit yaitu Cyperus rotundus dan kelompok kelompok gulma berdaun
lebar yaitu Ageratum conyzoides dengan jumlah 15. Pada lahan rumput gajah hanya
terdapat kelompok gulma bardaun sempit Brachiaria mutica dengan jumlah 10.
Pada tanaman pisang terdapat kelompok gulma berdaun sempit yaitu Cynodon
dactylon dengan jumlah 10 dan kelompok gulma berdaun lebar yaitu Mimosa pudica
dengan jumlah 12.

1. Cyperus rotundus ( teki ladang)

Gulma ini ditemukan pada lahan


Jagung.

Teki

ladang

atau

Cyperus

rotundus adalah gulma pertanian yang


biasa dijumpai di lahan terbuka. Apabila
orang menyebut "teki", biasanya yang
dimaksud adalah jenis ini, walaupun ada banyak jenis Cyperus lainnya yang
berpenampilan mirip. Teki sangat adaptif dan karena itu menjadi gulma yang
sangat sulit dikendalikan. Ia membentuk umbi (sebenarnya adalah tuber,
modifikasi dari batang) dan geragih (stolon) yang mampu mencapai kedalaman
satu meter, sehingga mampu menghindar dari kedalaman olah tanah (30 cm). Teki
menyebar di seluruh penjuru dunia, tumbuh baik bila tersedia air cukup, toleran
terhadap genangan, mampu bertahan pada kondisi kekeringan.
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

: Commelinidae

Ordo

: Cyperales

Famili

: Cyperaceae

Genus

: Cyperus

Spesies

: Cyperus rotundus L.(Helmi, 2013)

2. Rumput grinting
Rumput grinting ini ditemukan pada
lahan jagung. Rumput grinting (Cynodon
Dactylon) adalah jenis rumput yang memiliki
kemampuan agak berlebihan dalam hal

bertahan hidup dibandingkan rumput jenis lain seperti rumput teki, rumput gajah,
rumput manila, dan sebagainya. Rumput ini mampu bertahan hidup di lahan yang
tandus dalam musim kemarau sekalipun pertumbuhan daunnya menjadi minim.
Ketika terkena mata bajak dan garu rumput ini akan tetap terus hidup selama
akarnya bersinggungan dengan tanah.
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

: Commelinidae

Ordo

: Poales

Famili

: Poaceae (suku rumput-rumputan)

Genus

: Cynodon

Spesies

: Cynodon dactylon (L.)

Cynodon dactylon memiliki daya ekspansi yang besar, pada awalnya adalah
tumbuhan pantai, saat ini sudah merambah di areal pertanian sebagai gulma
yangmenjengkelkan

petani.

Rumput

grinting

merupakan

gulma

pada

tanamanjagung, tebu kapas dan pada tanah perkebunan. Rumput yang sulit
untukdi basmi dengan cara mekanik, seperti dibajak atau di cangkul
maupundengan cara kimia dengan menggunakan herbisida. Kemampuan
diabertahan dan dapat menyebar dengan cepat di pinggiran sugai,pinggiran irigasi
dan pematang sawah sehingga dapat mengalahkan tumbuhan lain, membuat
menarik untuk dibicarakan.(Sutrisno, 2012)
3. Brachiaria mutica
Gulma ini ditemukan pada lahan Jagung di titik
pengamatan yang kami lakukan. Nama lokal gulma
ini adalah rumput malela. Akar Brachiaria mutica
merupakan akar serabut (radi x adventica), akar

keluar dari pangkal batang, jumlahnya banyak dan hampir sama besar, memiliki
banyak rambut pada akarnya.
Batang Brachiaria mutica bagian bawahnya tumbuh menjalar, membentuk
panjang 100-400 cm,bagian tetras tumbuh tegak buku-buku batang ditumbuhi
bulu halus yang panjang, batang berwarna hijau pucat, didekat buku berwarna
agak keunguan, duduk daun berseling. Daun Brachiaria mutica berupa lembaran
atau helaian daun tegar atau tidak elastis bebrbentuk garis atau garis lanset,
permukaan daun berambut jarang, warna helaian daun hijau muda, dan tepnya
merah ungu. Ukuran panjang nya 10-30cm dan lebarnya 5-25 cm. Upih daun
berbentuk bulat ditumbuhi rambut-rambut panjang. Bunga Brachiaria mutica
merupakan bunga majemuk. Tumbuh di ujung batang atau cabang, sumbu utama
persegi panjangnya 15-25cm, cabang tandan berjumlah 9-20.Buah berbentuk
bulat terlur dengan ujung runcing berwarna hijau dan berukuran sangat kecil. Biji
Brachiaria mutica berukuran kurang lebih 3mm, berbentuk bulat panjang dengan
ujung yang runcing, berwarna hijau bercorak ungu, benang sari tiga biasanya
cepat rontok, dan putik dua berwarna ungu.(Mentari, 2013)
Klasifikasi Brachiaria mutica
Kingdom

: Plantae

Phyllum

: Spermatophyta

SubPhyllum

: Angiospermae

Classis

: Monocotyledoneae

Ordo

: Gramineae

Familia

: Gramineae

Genus

: Brachiaria

Species

: Brachiaria mutica(Helmi, 2012)

4. Mimosa pudica(Putri Malu)


Klasifikasi Mimosa pudica
Kingdom

: Plantae

Subkingdom : Tracheobionta
Divisi

: Magnoliophyta

Super Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Sub Kelas

: Rosidae

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae

Genus

: Mimosa

Spesies

: Mimosa Pudica

Putri malu tumbuh di pinggir jalan, tanah lapang cepat berkembang biak,
tumbuh tidur ditanah. Bentuk batang bulat berbulu dan berduri. Bentu daun kecil2
tersusun majemuk, bentuk lonjong dengan ujung lancip, warna hijau ( ada yang
warna kemerah-merahan). Apabila daun disentuh akan menutup (sensitif plant).
Bunga bulat seperti bola, warna merah muda bertangkai.
5. Pennisetum purpureum (Rumput Gajah)

Klasifikasi rumput gajah adalah :


Phylum

: Spermatophyta

Sub phylum

: Angiospermae

Class

: Monocotyl

Ordo

: Glumiflora

Family

: Graminae

Sub Family

: Panicoldea

Genus

: Pennisetum

Spesies

: Pennisetum Purpureum

Rumput gajah tumbuh merumpun dengan perakaran serabut yang kompak,


dan terus menghasilkan anakan apabila dipangkas secara teratur. Pada lahan

tumpang sari, rumput gajah dapat ditanam pada guludan-guludan sebagai


pencegah longsor akibat erosi. Rumput ini baik sebagai bahan silage dan sebagai
rumput potongan ataupun gembala asal pertumbuhannya bias dipertahankan
pendek-pendek.
6. Ageratum conyzoides L (bandotan )
Gulma

Bandotan

(Ageratum

conyzoides)

ditemukan di lahan Jagung dan Kopi. Gulma ini


adalah sejenis gulma pertanian anggota suku
Asteraceae. Gulma ini merupakan kelompok
gulma berdaun lebar. Disebut juga sebagai
babandotan atau babadotan (Sd.); wedusan (Jw.);
dus-bedusan

(Md.);

serta

Billygoat-weed,

Goatweed, Chick weed, atau Whiteweed dalam bahasa Inggris, tumbuhan ini
mendapatkan namanya karena bau yang dikeluarkannya menyerupai bau
kambing.
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Asteridae

Ordo

: Asterales

Famili

: Asteraceae

Genus

: Ageratum

Spesies

: Ageratum conyzoides L.(Helmi, 2013)

Form tabulasi data


Kelompok A2
Tutupan Lahan

Kelompok
Gulma

Teki-tekian

kubis (Plot

Kubis (Plot

2.1.1)

2.1.2)

Kopi(Plot 2.2)

Kopi(Plot 2.2)
Cyperus

Cyperus kyllingia

rotundus

Endl
Cyperus rotundus

Daun

Cynodon

Brachiaria

sempit/rumput dactylon

mutica

Portulaca
Daun Lebar

oleracea

Marsilea crenata

Mimosa pudica

Tabel 19. Form tabulasi data kelompok A2


Penjelasan Pengamatan Gulma pada Plot 2
Pada plot 2 mengamati gulma pada lahan kubis dan kopi. Pengamatan pada
setiap lahan diambil dua titik. Pada lahan kubis di titik pertama tidak didapatkan
kelompok

gulma teki-tekian. Pada kelompok gulma berdaun sempit/rumput

ditemukan Cynodon dactylon dengan jumlah jarang. Pada kelompok berdaun lebar
ditemukan Portulaca oleracea dengan jumlah jarang. Pada lahan kubis di titik kedua
tidak didapatkan adanya kelompok gulma teki-tekian dan kelompok gulma berdaun
sempit. Pada kelompok berdaun lebar ditemukan Marsilea crenata dan Mimosa
pudica dengan jumlah jarang.
Pada lahan kopi di titik pertama didapatkan adanya kelompok gulma tekitekian yaitu Cyperus rotundus dengan jumlah jarang. Selanjutnya pada kelompok
gulma berdaun sempit/rumput ditemukan Brachiaria mutica dengan jumlah jarang.
Pada lahan kopi di titik pertama tidak ditemukan adanya kelompok gulma berdaun
lebar. Pada lahan kopi di titik kedua hanya didapatkan kelompok gulma teki-tekian
yaitu Cyperus kyllingia Endl dan Cyperus rotundus dengan jumlah jarang.

1. Cyperus rotundus ( teki ladang)

Gulma ini ditemukan pada lahan Jagung.


Teki ladang atau Cyperus rotundus adalah
gulma pertanian yang biasa dijumpai di
lahan terbuka. Apabila orang menyebut
"teki", biasanya yang dimaksud adalah jenis
ini, walaupun ada banyak jenis Cyperus
lainnya yang berpenampilan mirip. Teki sangat adaptif dan karena itu menjadi
gulma yang sangat sulit dikendalikan. Ia membentuk umbi (sebenarnya adalah
tuber, modifikasi dari batang) dan geragih (stolon) yang mampu mencapai
kedalaman satu meter, sehingga mampu menghindar dari kedalaman olah tanah
(30 cm). Teki menyebar di seluruh penjuru dunia, tumbuh baik bila tersedia air
cukup, toleran terhadap genangan, mampu bertahan pada kondisi kekeringan.
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

: Commelinidae

Ordo

: Cyperales

Famili

: Cyperaceae

Genus

: Cyperus

Spesies

: Cyperus rotundus L.(Helmi, 2013)

2. Cyperus kyllingia Endl


Gulma ini ditemukan pada lahan kopi.
Gulma Cyperus kyllingia Endl merupakan
kelompok gulma berdaun sempit. Gulma
tersebut memiliki nama lokal rumput knop.

Kingdom

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Sub Divisio

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledoneae

Bangsa

: Cyperales

Famili

: Cyperaceae

Genus

: Cyperus

Spesies

: Cyperus kyllingia Endl(Menatri, 2013)

3. Rumput grinting
Rumput grinting ini ditemukan pada
lahan jagung. Rumput grinting (Cynodon
Dactylon) adalah jenis rumput yang memiliki
kemampuan agak berlebihan dalam hal
bertahan hidup dibandingkan rumput jenis
lain seperti rumput teki, rumput gajah,
rumput manila, dan sebagainya. Rumput ini mampu bertahan hidup di lahan yang
tandus dalam musim kemarau sekalipun pertumbuhan daunnya menjadi minim.
Ketika terkena mata bajak dan garu rumput ini akan tetap terus hidup selama
akarnya bersinggungan dengan tanah.
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

: Commelinidae

Ordo

: Poales

Famili

: Poaceae (suku rumput-rumputan)

Genus

: Cynodon

Spesies

: Cynodon dactylon (L.)

Cynodon dactylon memiliki daya ekspansi yang besar, pada awalnya adalah
tumbuhan pantai, saat ini sudah merambah di areal pertanian sebagai gulma
yangmenjengkelkan

petani.

Rumput

grinting

merupakan

gulma

pada

tanamanjagung, tebu kapas dan pada tanah perkebunan. Rumput yang sulit
untukdi basmi dengan cara mekanik, seperti dibajak atau di cangkul
maupundengan cara kimia dengan menggunakan herbisida. Kemampuan
diabertahan dan dapat menyebar dengan cepat di pinggiran sugai,pinggiran irigasi
dan pematang sawah sehingga dapat mengalahkan tumbuhan lain, membuat
menarik untuk dibicarakan.(Sutrisno, 2012)
4. Brachiaria mutica
Gulma ini ditemukan pada lahan Jagung di titik
pengamatan yang kami lakukan. Nama lokal gulma
ini adalah rumput malela. Akar Brachiaria mutica
merupakan akar serabut (radi x adventica), akar
keluar dari pangkal batang, jumlahnya banyak dan
hampir sama besar, memiliki banyak rambut pada
akarnya.
Batang Brachiaria mutica bagian bawahnya tumbuh menjalar, membentuk
panjang 100-400 cm,bagian tetras tumbuh tegak buku-buku batang ditumbuhi
bulu halus yang panjang, batang berwarna hijau pucat, didekat buku berwarna
agak keunguan, duduk daun berseling. Daun Brachiaria mutica berupa lembaran
atau helaian daun tegar atau tidak elastis bebrbentuk garis atau garis lanset,
permukaan daun berambut jarang, warna helaian daun hijau muda, dan tepnya
merah ungu. Ukuran panjang nya 10-30cm dan lebarnya 5-25 cm. Upih daun
berbentuk bulat ditumbuhi rambut-rambut panjang. Bunga Brachiaria mutica
merupakan bunga majemuk. Tumbuh di ujung batang atau cabang, sumbu utama
persegi panjangnya 15-25cm, cabang tandan berjumlah 9-20.Buah berbentuk
bulat terlur dengan ujung runcing berwarna hijau dan berukuran sangat kecil. Biji
Brachiaria mutica berukuran kurang lebih 3mm, berbentuk bulat panjang dengan

ujung yang runcing, berwarna hijau bercorak ungu, benang sari tiga biasanya
cepat rontok, dan putik dua berwarna ungu.(Mentari, 2013)
Klasifikasi Brachiaria mutica
Kingdom

: Plantae

Phyllum

: Spermatophyta

SubPhyllum

: Angiospermae

Classis

: Monocotyledoneae

Ordo

: Gramineae

Familia

: Gramineae

Genus

: Brachiaria

Species

: Brachiaria mutica(Helmi, 2012)

5. Portulaca oleracea (krokot)


Klasifikasi krokot yaitu:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Portulacales

Familia

: Portulaceae

Genus

: Portulaca

Spesies

: Portulaca oleracea

Krokot merupakan gulma yang sukulen. Batangnya penuh berdaging lunak


dan tumbuh tegak atau merata tergantung cahaya. Batang terbentang dan 10 50
cm, di mana ruas berwarna kemerahan, berbentuk bulat, panjang

tua tak

berambut. Tergolong tumbuhan semusim, yang berasosiasi dengan 45 jenis


pertanaman. Berkembang biak dengan biji dan dapat tumbuh dari bagian batang
apabila tumbuh pada tanah yang lembab. Daunnya sebagian tersebar, berhadapan,
bertangkai pendek, ujung daun melekuk ke dalam, bulat, atau tumpul (0.2 4
cm). Biji (0.5 mm) berbentuk oval warna hitam mengkilat, permukaannya
tertutup kulit yang agak mengekerut. Bunganya terbentuk sepanjang musim di
daerah tropis (daur hidupnya 3 5 bulan) di bawah kondisi ternaung akan tumbuh

membentang dan tegak, serta membentuk bunga. Di bawah intensitas cahaya yang
tinggi dapat layu.(Mentari, 2013).
6. Marsilea crenata
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Divisi

: Pteridophyta (paku-pakuan)

Kelas

: Pteridopsida

Ordo

: Salviniales

Famili

: Marsileaceae

Genus

: Marsilea

Spesies

: Marsilea crenata Presl

Semanggi adalah sekelompok paku air (Salviniales) dari marga Marsilea)


yang di Indonesia mudah ditemukan di pematang sawah atau tepi saluran irigasi.
Morfologi tumbuhan marga ini khas, karena bentuk entalnya yang menyerupai
payung yang tersusun dari empat anak daun yang berhadapan. Akibat bentuk
daunnya ini, nama "semanggi" dipakai untuk beberapa jenis tumbuhan dikotil
yang bersusunan daun serupa, seperti klover. Tumbuhan ini juga berpotensi
sebagai tumbuhan bioremediasi, karena mampu menyerap logam berat Cd dan Pb.
Kemampuan ini perlu diwaspadai dalam penggunaan daun semanggi sebagai
bahan makanan, terutama bila daunnya diambil dari lahan tercemar logam berat.
Habitat: Tumbuh pada tempat yang terkena sinar matahari atau agak rindang pada
dataran rendah hingga ketinggian 3000 m dpl.
7. Mimosa pudica(Putri Malu)
Klasifikasi Mimosa pudica
Kingdom

: Plantae

Subkingdom : Tracheobionta
Divisi

: Magnoliophyta

Super Divisi : Spermatophyta


Kelas

: Magnoliopsida

Sub Kelas

: Rosidae

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae

Genus

: Mimosa

Spesies

: Mimosa Pudica

Putri malu tumbuh di pinggir jalan, tanah lapang cepat berkembang biak,
tumbuh tidur ditanah. Bentuk batang bulat berbulu dan berduri. Bentu daun kecil2
tersusun majemuk, bentuk lonjong dengan ujung lancip, warna hijau ( ada yang
warna kemerah-merahan). Apabila daun disentuh akan menutup (sensitif plant).
Bunga bulat seperti bola, warna merah muda bertangkai.

Form tabulasi data


Kelompok A3(Plot 3)
Kelompok Gulma

Tutupan Lahan
3.1 (kubis)

3.2 (kubis)

Teki-tekian

Daun sempit/rumput

3.1 (jagung)

3.2 (jagung)

Cyperus rotundus

Cynodon

Pennisetum

dactylon

purpureum

Eleusine
Cynodon dactylon

indica

Eleusine indica

Daun Lebar

Amaranthus

Amaranthus

Amaranthus

tricolor L

spinosus

tricolor L

Portulaca

Amaranthus

Ageratum

tricolor L

conyzoides

Ageratum

Portulaca L

conyzoides
Portulaca L
Tabel 20. Form tabulasi data kelompok A3
Penjelasan Hasil Pengamatan Gulma
Pada pengamatan gulma dilakukan pada lahan kubis dengan 2 titik
pengamatan dan lahan jagung dengan dua titik pengamatan. Pada lahan kubis di titik
pertama tidak didapatkan kelompok gulma teki-tekian. Selanjutnya pada kelompok
gulma berdaun sempit/rumput ditemukan Cynodon dactylon dengan jumlah 14. Pada
kelompok berdaun lebar ditemukan Amaranthus tricolor L dengan jumlah 13 dan
Portulaca L dengan jumlah 17. Pada lahan kubis di titik kedua tidak didapatkan
adanya kelompok gulma teki-tekian. Selanjutnya pada kelompok gulma berdaun
sempit/rumput ditemukan Pennisetum purpureum dengan 1. Pada kelompok berdaun
lebar ditemukan Amaranthus spinosus dengan jumlah 46,

Portulaca oleracea

dengan jumlah 24, dan Ageratum conyzoides dengan jumlah 9.


Pada lahan jagung di titik pertama didapatkan adanya kelompok gulma tekitekian yaitu Cyperus rotundus dengan jumlah 1. Selanjutnya pada kelompok gulma
berdaun sempit/rumput ditemukan Cynodon dactylon dengan jumlah 30 dan Eleusine
indica dengan jumlah 14.. Pada lahan kopi di titik pertama tidak ditemukan adanya
kelompok gulma berdaun lebar. Pada lahan jagung di titik kedua tidak didapatkan
adanya kelompok

gulma teki-tekian dan gulma berdaun lebar. Di titik tersebut

ditemukan kelompok gulma berdaun sempit yaitu Eleusine indica dengan jumlah 80.
Pada lahan tersebut ditemukan kelompok gulma berdaun lebar yaitu Amaranthus
spinosus dengan jumlah 3, Ageratum conyzoides dengan jumlah 16, dan Portulaca
L dengan jumlah 14.
1. Cyperus rotundus ( teki ladang)

Gulma ini ditemukan pada lahan Jagung.


Teki ladang atau Cyperus rotundus adalah
gulma pertanian yang biasa dijumpai di

lahan terbuka. Apabila orang menyebut "teki", biasanya yang dimaksud adalah
jenis ini, walaupun ada banyak jenis Cyperus lainnya yang berpenampilan mirip.
Teki sangat adaptif dan karena itu menjadi gulma yang sangat sulit dikendalikan.
Ia membentuk umbi (sebenarnya adalah tuber, modifikasi dari batang) dan
geragih (stolon) yang mampu mencapai kedalaman satu meter, sehingga mampu
menghindar dari kedalaman olah tanah (30 cm). Teki menyebar di seluruh
penjuru dunia, tumbuh baik bila tersedia air cukup, toleran terhadap genangan,
mampu bertahan pada kondisi kekeringan.
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

: Commelinidae

Ordo

: Cyperales

Famili

: Cyperaceae

Genus

: Cyperus

Spesies

: Cyperus rotundus L.(Helmi, 2013)

2. Rumput grinting
Rumput grinting ini ditemukan pada
lahan jagung. Rumput grinting (Cynodon
Dactylon) adalah jenis rumput yang memiliki
kemampuan agak berlebihan dalam hal
bertahan hidup dibandingkan rumput jenis
lain seperti rumput teki, rumput gajah,
rumput manila, dan sebagainya. Rumput ini mampu bertahan hidup di lahan yang
tandus dalam musim kemarau sekalipun pertumbuhan daunnya menjadi minim.
Ketika terkena mata bajak dan garu rumput ini akan tetap terus hidup selama
akarnya bersinggungan dengan tanah.

Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

: Commelinidae

Ordo

: Poales

Famili

: Poaceae (suku rumput-rumputan)

Genus

: Cynodon

Spesies

: Cynodon dactylon (L.)

Cynodon dactylon memiliki daya ekspansi yang besar, pada awalnya adalah
tumbuhan pantai, saat ini sudah merambah di areal pertanian sebagai gulma
yangmenjengkelkan

petani.

Rumput

grinting

merupakan

gulma

pada

tanamanjagung, tebu kapas dan pada tanah perkebunan. Rumput yang sulit
untukdi basmi dengan cara mekanik, seperti dibajak atau di cangkul
maupundengan cara kimia dengan menggunakan herbisida. Kemampuan
diabertahan dan dapat menyebar dengan cepat di pinggiran sugai,pinggiran irigasi
dan pematang sawah sehingga dapat mengalahkan tumbuhan lain, membuat
menarik untuk dibicarakan.(Sutrisno, 2012)
3. Portulaca oleracea (krokot)

Klasifikasi krokot yaitu:


Kingdom : Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Portulacales

Familia

: Portulaceae

Genus

: Portulaca

Spesies

: Portulaca oleracea

Krokot merupakan gulma yang sukulen. Batangnya penuh berdaging lunak


dan tumbuh tegak atau merata tergantung cahaya. Batang terbentang dan 10 50
cm, di mana ruas berwarna kemerahan, berbentuk bulat, panjang

tua tak

berambut. Tergolong tumbuhan semusim, yang berasosiasi dengan 45 jenis


pertanaman. Berkembang biak dengan biji dan dapat tumbuh dari bagian batang
apabila tumbuh pada tanah yang lembab. Daunnya sebagian tersebar, berhadapan,
bertangkai pendek, ujung daun melekuk ke dalam, bulat, atau tumpul (0.2 4
cm). Biji (0.5 mm) berbentuk oval warna hitam mengkilat, permukaannya
tertutup kulit yang agak mengekerut. Bunganya terbentuk sepanjang musim di
daerah tropis (daur hidupnya 3 5 bulan) di bawah kondisi ternaung akan tumbuh
membentang dan tegak, serta membentuk bunga. Di bawah intensitas cahaya yang
tinggi dapat layu.(Mentari, 2013).
4. Amaranthus tricolor L (Bayam Daun)
Sistematika tanaman bayam cabut adalah sebagai berikut :
Divisio

: Spermatophyta

Sub divisio

: Angiospermae

Classis

: Dicotyledoneae

Familia

: Amaranthaceae

Genus

: Amaranthus

Spesies

: Amaranthus tricolor L

Bentuk tanaman bayam cabut adalah terna (perdu), tinggi tanaman dapat
mencapai 1,5-2 meter, dan berumur semusim atau lebih. Sistem perakaran
menyebar dangkal pada kedalaman antara 20-40 cm dan berakar tunggang.
Tanaman bayam mempunyai daun berbentuk bulat telur dengan ujung agak

meruncing serta urat-urat daun kelihatan jelas. Bayam banyak mengandung


vitamin dan garam-garam mineral penting yang diperlukan tubuh. Bayam dapat
tumbuh sepanjang tahun, baik pada dataran rendah maupun tinggi, namun
demikian bayam lebih baik dibudidayakan di dataran rendah dan merupakan
bentuk sayuran komoditas dataran rendah. pH tanah yang sesuai untuk
pertumbuhan tanaman bayam cabut adalah 6-7 dan temperatur yang dikehendaki
adalah 35-400 C. Sayuran daun banyak menyerap unsur N,P,K dan mineral.
5. Pennisetum purpureum (Rumput Gajah)

Klasifikasi rumput gajah adalah :


Phylum

: Spermatophyta

Sub phylum

: Angiospermae

Class

: Monocotyl

Ordo

: Glumiflora

Family

: Graminae

Sub Family

: Panicoldea

Genus

: Pennisetum

Spesies

: Pennisetum Purpureum

Rumput gajah tumbuh merumpun dengan perakaran serabut yang kompak,


dan terus menghasilkan anakan apabila dipangkas secara teratur. Pada lahan
tumpang sari, rumput gajah dapat ditanam pada guludan-guludan sebagai
pencegah longsor akibat erosi. Rumput ini baik sebagai bahan silage dan sebagai
rumput potongan ataupun gembala asal pertumbuhannya bias dipertahankan
pendek-pendek.

6. Amaranthus spinosus L. (Bayam Duri)

Klasifikasi Bayam Duri


Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Hamamelidae

Ordo

: Caryophyllales

Famili

: Amaranthaceae (suku bayam-bayaman)

Genus

: Amaranthus

Spesies

: Amaranthus spinosus L.

Memiliki nama-nama lokal yaitu Bayem eri, bayem raja, bayem roda, bayem
cikron (Jawa); Senggang cucuk (Sunda), Bayam keruai (Lampung); Ternyak duri,
ternyak lakek (Madura), Podo aduri (Bugis); Thorny amaranthus (Inggris),
Bayam Duri (Indonesia). Tanaman ini termasuk dari famili Amaranthaceae
. Bayam duri tumbuh baik di tempat-tempat yang cukup sinar matahari dengan
suhu udara antara 25 - 35 Celcius.Sebagai tanda khas dari tumbuhan bayam duri
yaitu pada pohon batang, tepatnya dipangkal tangkai daun terdapat duri, sehingga
orang mengenal sebagai bayamduri.Bentuk daunnya menyerupai belahan ketupat
dan berwarna hijau.

7. Eleusine indica

Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (berpembuluh)

Superdivisio

: Spermatophyta (menghasilkan biji)

Divisio

: Magnoliophyta (berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub-kelas

: Commelinidae

Ordo

: Poales

Familia

: Poaceae (suku rumput-rumputan)

Genus

: Eleusine

Spesies

: Eleusine indica

Gulma tersebut memiliki perakaran kuat, berumpun dengan jumlah sedikit.


Buluh sering bercabang pada bagian pangkalnya, tinggi tiap buluh bisa mencapai
50 cm, tiap buku terdapat 3-5 daun yang saling menutupi, dari ketiak daun
tumbuh tunas baru. Pelepah berwarna hijau muda, berbulu halus penjang, 1 atau 2
bulir yang dibawah berseling, panjang bulir 3-5 cm, buliran rata dan licin.
8. Ageratum conyzoides L

(bandotan )
Gulma

Bandotan

(Ageratum

conyzoides)

ditemukan di lahan Jagung dan Kopi. Gulma ini


adalah sejenis gulma pertanian anggota suku
Asteraceae. Gulma ini merupakan kelompok
gulma berdaun lebar. Disebut juga sebagai
babandotan atau babadotan (Sd.); wedusan (Jw.);
dus-bedusan

(Md.);

serta

Billygoat-weed,

Goatweed, Chick weed, atau Whiteweed dalam bahasa Inggris, tumbuhan ini
mendapatkan namanya karena bau yang dikeluarkannya menyerupai bau
kambing.
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Asteridae

Ordo

: Asterales

Famili

: Asteraceae

Genus

: Ageratum

Spesies

: Ageratum conyzoides L.(Helmi, 2013)

Form tabulasi data


Tutupan Lahan
Kelompok Gulma

Jagung (Plot
4.1.1)

Teki-tekian

Cyperus rotundus

Jagung (Plot 4.1.2)


-

Cynodon
Daun sempit/rumput

Kopi(Plot 4.2.1)
-

Kopi(Plot 4.2.2)
-

Cyperus kyllingia

dactylon

Cynodon dactylon

Endl

Setaria plicata

mutica

Brachiaria mutica

Setaria plicata

Bidens pilosa

Bidens pilosa

Ageratum

Portulaca

conyzoides

oleracea

Brachiaria

Daun Lebar

Ageratum
conyzoides
Kelompok A4
Tabel 21. Form tabulasi data kelompok A4
Penjelasan Hasil Pengamatan Gulma
Pada pengamatan gulma dilakukan pada lahan Jagung dengan 2 titik
pengamatan dan lahan kopi dengan dua titik pengamatan. Pada lahan jagung di
titik pertama didapatkan Cyperus rotundus yang merupakan kelompok gulma
teki-tekian dengan jumlah lebat. Selanjutnya pada kelompok gulma berdaun
sempit/rumput ditemukan Cynodon dactylon dan Brachiaria mutica dengan
jumlah lebat. Pada kelompok berdaun lebar ditemukan Bidens pilosa dan
Ageratum conyzoides dengan jumlah lebat. Pada lahan jagung di titik kedua tidak
didapatkan adanya kelompok

gulma teki-tekian. Selanjutnya pada kelompok

gulma berdaun sempit/rumput ditemukan Cynodon dactylon dan Brachiaria


mutica dengan jumlah lebat. Pada kelompok berdaun lebar ditemukan Bidens
pilosa dan Portulaca oleracea dengan jumlah lebat, dan Ageratum conyzoides
dengan jumlah 18.
Tanaman gulma pada lahan pertanaman jagung dapat menurunkan hasil
dan mutu biji. Penurunan hasil bergantung pada jenis gulma, kepadatan, lama

persaingan, dan senyawa allelopati yang dikeluarkan oleh gulma. Pola tanam yang
dipakai pada lahan tersebut adalah monokultur. Pada lahan tersebut tidak ada
pengelolaan tata letak gulma. Pengendalian gulma pada lahan jagung tersebut
masih relatif kurang yang ditandai banyaknya gulma yang

tumbuh di lahan

tersebut. Jagung yang ditanam secara monokultur dan dengan masukan rendah
dapat menurunkan hasil akibat persaingan intensif dengan gulma (Rizal, 2004).
Pada lahan kopi di titik pertama tidak didapatkan adanya kelompok gulma
teki-tekian . Selanjutnya pada kelompok gulma berdaun sempit/rumput ditemukan
Cyperus kyllingia Endl dengan jumlah 5 dan Setaria plicata dengan jumlah
banyak. Pada lahan kopi di titik kedua tidak didapatkan adanya kelompok gulma
teki-tekian dan gulma berdaun lebar. Di titik tersebut ditemukan kelompok gulma
berdaun sempit yaitu Setaria plicata dengan jumlah yang banyak.
Macam-macam Gulma yang Ditemukan di Lahan Jagung dan Lahan Kopi
1. Ageratum conyzoides L

(bandotan )
Gulma Bandotan (Ageratum conyzoides)
ditemukan di lahan Jagung dan Kopi. Gulma
ini adalah sejenis gulma pertanian anggota
suku

Asteraceae.

Gulma

ini

merupakan

kelompok gulma berdaun lebar. Disebut juga


sebagai babandotan atau babadotan (Sd.);
wedusan (Jw.); dus-bedusan (Md.); serta
Billygoat-weed, Goatweed, Chick weed, atau Whiteweed dalam bahasa
Inggris, tumbuhan ini mendapatkan namanya karena bau yang dikeluarkannya
menyerupai bau kambing. Klasifikasi:
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Asteridae

Ordo

: Asterales

Famili

: Asteraceae

Genus

: Ageratum

Spesies

: Ageratum conyzoides L.(Helmi, 2013)

2. Cyperus rotundus ( teki ladang)

Gulma ini ditemukan pada lahan


Jagung. Teki ladang atau Cyperus
rotundus adalah gulma pertanian yang
biasa dijumpai di lahan terbuka. Apabila
orang menyebut "teki", biasanya yang
dimaksud adalah jenis ini, walaupun ada
banyak jenis Cyperus lainnya yang berpenampilan mirip. Teki sangat adaptif
dan karena itu menjadi gulma yang sangat sulit dikendalikan. Ia membentuk
umbi (sebenarnya adalah tuber, modifikasi dari batang) dan geragih (stolon)
yang mampu mencapai kedalaman satu meter, sehingga mampu menghindar
dari kedalaman olah tanah (30 cm). Teki menyebar di seluruh penjuru dunia,
tumbuh baik bila tersedia air cukup, toleran terhadap genangan, mampu
bertahan pada kondisi kekeringan.
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

: Commelinidae

Ordo

: Cyperales

Famili

: Cyperaceae

Genus

: Cyperus

Spesies

: Cyperus rotundus L.(Helmi, 2013)

3. Rumput grinting
Rumput grinting ini ditemukan pada
lahan jagung. Rumput grinting (Cynodon
Dactylon) adalah jenis rumput yang
memiliki kemampuan agak berlebihan

dalam hal bertahan hidup dibandingkan rumput jenis lain seperti rumput teki,
rumput gajah, rumput manila, dan sebagainya. Rumput ini mampu bertahan
hidup di lahan yang tandus dalam musim kemarau sekalipun pertumbuhan
daunnya menjadi minim. Ketika terkena mata bajak dan garu rumput ini akan
tetap terus hidup selama akarnya bersinggungan dengan tanah.
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

: Commelinidae

Ordo

: Poales

Famili

: Poaceae (suku rumput-rumputan)

Genus

: Cynodon

Spesies

: Cynodon dactylon (L.)

Cynodon dactylon memiliki daya ekspansi yang besar, pada awalnya


adalah tumbuhan pantai, saat ini sudah merambah di areal pertanian sebagai
gulma yangmenjengkelkan petani. Rumput grinting merupakan gulma pada
tanamanjagung, tebu kapas dan pada tanah perkebunan. Rumput yang sulit
untukdi basmi dengan cara mekanik, seperti dibajak atau di cangkul
maupundengan cara kimia dengan menggunakan herbisida. Kemampuan
diabertahan dan dapat menyebar dengan cepat di pinggiran sugai,pinggiran
irigasi dan pematang sawah sehingga dapat mengalahkan tumbuhan lain,
membuat menarik untuk dibicarakan.(Sutrisno, 2012)

4. Bidens pilosa (Ketul)


Ketul

(Bidens

pilosa)

ditemukan pada lahan jagung. Gulma


ini adalah sejenis tumbuhan anggota
suku

Asteraceae

kelompok

gulma

dan

merupakan

berdaun

lebar.

Tanaman ini umumnya ditemukan liar sebagai gulma di tepi jalan, di kebunkebun pekarangan, di perkebunan-perkebunan, atau pada lahan-lahan terlantar.
Nama-nama lainnya adalah acerang, ajeran, hareuga (ketul, petul, ketulan,
ketul kebo, ketul sapi, jaringan, caringan; lanci thuwa, lancing thuwa, cinglancingan. Tumbuhan ini tergolong terna, tinggi dapat mencapai 150 cm.
Batang berbentuk segi empat, warna hijau. Daun bertiga-tiga, masing-masing
berbentuk bulat telur, pinggir bergerigi. Bunga bertangkai panjang, mahkota
bunga berwarna putih dengan putik berwarna kuning. Bagian yang digunakan
Seluruh bagian tumbuhan yang berada di atas tanah.
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Asteridae

Ordo

: Asterales

Famili

: Asteraceae

Genus

: Bidens

Spesies

: Bidens pilosa L.(Mentari, 2013)

5. Cyperus kyllingia Endl


Gulma ini ditemukan pada lahan kopi.
Gulma Cyperus kyllingia Endl merupakan
kelompok gulma berdaun sempit. Gulma
tersebut memiliki nama lokal rumput knop.
Kingdom

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Sub Divisio

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledoneae

Bangsa

: Cyperales

Famili

: Cyperaceae

Genus

: Cyperus

Spesies

: Cyperus kyllingia Endl(Menatri, 2013)

6. Brachiaria mutica
Gulma ini ditemukan pada lahan Jagung di
titik pengamatan yang kami lakukan. Nama
lokal gulma ini adalah rumput malela. Akar
Brachiaria mutica merupakan akar serabut (radi
x adventica), akar keluar dari pangkal batang,
jumlahnya banyak dan hampir sama besar,
memiliki banyak rambut pada akarnya.
Batang Brachiaria mutica bagian bawahnya tumbuh menjalar, membentuk
panjang 100-400 cm,bagian tetras tumbuh tegak buku-buku batang ditumbuhi
bulu halus yang panjang, batang berwarna hijau pucat, didekat buku berwarna
agak keunguan, duduk daun berseling. Daun Brachiaria mutica berupa
lembaran atau helaian daun tegar atau tidak elastis bebrbentuk garis atau garis
lanset, permukaan daun berambut jarang, warna helaian daun hijau muda, dan
tepnya merah ungu. Ukuran panjang nya 10-30cm dan lebarnya 5-25 cm. Upih
daun berbentuk bulat ditumbuhi rambut-rambut panjang. Bunga Brachiaria
mutica merupakan bunga majemuk. Tumbuh di ujung batang atau cabang,
sumbu utama persegi panjangnya 15-25cm, cabang tandan berjumlah 920.Buah berbentuk bulat terlur dengan ujung runcing berwarna hijau dan
berukuran sangat kecil. Biji Brachiaria mutica berukuran kurang lebih 3mm,
berbentuk bulat panjang dengan ujung yang runcing, berwarna hijau bercorak
ungu, benang sari tiga biasanya cepat rontok, dan putik dua berwarna
ungu.(Mentari, 2013)
Klasifikasi Brachiaria mutica
Kingdom

: Plantae

Phyllum

: Spermatophyta

SubPhyllum

: Angiospermae

Classis

: Monocotyledoneae

Ordo

: Gramineae

Familia

: Gramineae

Genus

: Brachiaria

Species

: Brachiaria mutica(Helmi, 2012)

7. Portulaca oleracea (krokot)


Klasifikasi krokot yaitu:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Portulacales

Familia

: Portulaceae

Genus

: Portulaca

Spesies

: Portulaca oleracea

Krokot merupakan gulma yang sukulen. Batangnya penuh berdaging lunak


dan tumbuh tegak atau merata tergantung cahaya. Batang terbentang dan 10
50 cm, di mana ruas berwarna kemerahan, berbentuk bulat, panjang tua tak
berambut. Tergolong tumbuhan semusim, yang berasosiasi dengan 45 jenis
pertanaman. Berkembang biak dengan biji dan dapat tumbuh dari bagian
batang apabila tumbuh pada tanah yang lembab. Daunnya sebagian tersebar,
berhadapan, bertangkai pendek, ujung daun melekuk ke dalam, bulat, atau
tumpul (0.2 4 cm). Biji (0.5 mm) berbentuk oval warna hitam mengkilat,
permukaannya tertutup kulit yang agak mengekerut. Bunganya terbentuk
sepanjang musim di daerah tropis (daur hidupnya 3 5 bulan) di bawah
kondisi ternaung akan tumbuh membentang dan tegak, serta membentuk
bunga. Di bawah intensitas cahaya yang tinggi dapat layu.(Mentari, 2013).
8. Setaria plicata
Nama Daerah

: Jamarak

Kel. Gulma

: Rumput(gulma berdaun

sempit)
Pengendalian
umum lebih efektif

Penggunaan

herbisida

3.1.2.3. Biodiversitas Hama Penyaki


a. Komoditas
Pada survey pertanian berlanjut dilakukan survey dikecamatan Ngantang,
Desa Tulungrejo. Dimana terdapat pengamatan pengukuruan Biodiversitas
dari aspek hama penyakit sebagai indikator pertanian berlanjut titik
pengamatan yang dilakukan terletak di plot 2. Dalam plot 2 terdapat berbagai
macam komoditas yang dibudidayakan, yaitu meliputi Petai cina (Leucaena
leucocephala), kopi (Coffea arabica), dan pisang (Musa paradissiaca). Dalam plot
yang diamati ada sebanyak 17 pohon petai cina, 30 pohon kopi, dan 14 pohon pisang
yang tersebar didalamnya. Dapat diketahui bahwa komoditas unggulan di plot 2
adalah pohon kopi.

b. Pola tanam yang digunakan


Pola tanaman yang digunakan adalah pola tanam tumpangsari, dimana
suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa dua jenis atau lebih
tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak
bersamaan. Model pola tanam yang diaplikasikan pada plot 2 adalah adanya
penanaman 3 jenis tanaman, yaitu petai cina Petai cina (Leucaena
leucocephala), kopi (Coffea arabica), dan pisang (Musa paradissiaca). Pola tanam
tumpang sari ini bisa diaplikasikan pada tanaman tahunan (Kopi, Petai cina) dan
tanaman semusim (Pisang) dimana sering disebut dengan wana tani / sistem tanam
agroforestri.

a). Ketersediaan air dan unsur hara


Kandungan unsur hara dan air dalam tanah sangat dibutuhkan oleh
tanaman. Keduanya termasuk kedalam komponen yang butuhkan saat
tanaman melakukan fotosintesis. Ketersediaan suatu hara bagi tanaman
merupakan fungsi bentuk kimia dan posisinya terhadap akar yang aktif
menyerap. Unsur hara dapat diperoleh dari dalam tanah sendiri karena adanya
sumber dari pelapukan mineral, dekomposisi bahan organik oleh organisme
mikro, pupuk, dll. Tanah yang subur tidak hanya mampu menyediakan unsur
hara dalam jumlah besar secara cepat, tetapi juga dapat membebaskan unsurunsur yang belum tersedia sehingga dapat memenuhi kebutuhan tanaman
dalam waktu lama. Sebaliknya tanah tidak subur/miskin perlu diberi tambahan
unsur hara atau dipupuk agar mampu menyediakan hara untuk tanaman.

Ketersediaan unsur hara yang ada dalam plot pengamatan, memiliki tingkat
unsur hara yang mampu menyokong kebutuhan tumbuh tanaman dapat dilihat
dari secara menyeluruh tanaman yang ada dalam plot dapat tumbuh dengan
baik. Walaupun ada lebih dari 1 tanaman dalam plot tetapi sistem
perakarannya yang digunakan untuk menyerap unsur hara berbeda-beda
jenisnya, untuk tanaman pisang memiliki sistem perakaran serabut, dan tidak
memiliki akar tunggang, untuk petai cina Mempunyai sistem perakaran akar
tunggang, sedangkan untuk tanaman kopi Meskipun merupakan tanaman
tahunan, tetapi umumnya mempunyai akar tunggang dimana perakaran
dangkal. Dengan begitu ketersediaan unsur hara dalam tanah dapat diserap
oleh masing-masing tanaman sesuai dengan kebutuhannya.
Ketersediaan air dalam tanah dapat diperoleh dari dalam tanahnya
langsung, ataupun dengan menggunakan alat untuk melakukan irigasi.
Ketersediaan air tergantung pada curah hujan, kemampuan tanah menahan air,
besarnya

evapotranspirasi

(penguapan

langsung

melalui

tanah

dan

melaluivegetasi), kedalaman solum tanah atau lapisan tanah, kadar bahan


organik tanah. Air yang ada diserap oleh tanaman sesuai dengan
kebutuhannya. Hasil dilapang plot 2 memiliki ketersediaan air yang baik,
karena terdapatnya sungai yang ada di depan plot. Sungai tersebut yang
menjadi salah satu penunjang ketersediaan air dalam tanah.
1.

Lahan 1
a. Kupu-Kupu (Appias libythea)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Pieridae

Genus

: Appias

Spesies

: Appias libythea

Peranan Serangga

: Serangga Lain
(Kartasapoetra,1991)

b. Semut Hitam (Camponotus caryae)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Formicideae

Genus

: Camponotus

Spesies

: Camponotus caryae

Peranan Serangga : Musuh Alami


(Kusnaedi,1999)
c. Capung (Neurothemis sp)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Libellulidae

Genus

: Neurothemis

Spesies

: Neurothemis sp

Peranan Serangga : Musuh Alami


(Sudarmono, 1999)

d. Jangkrik (Gryllide)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Gryllidae

Genus

: Gryllide

Spesies

: Gryllide

Peranan Serangga : Serangga Lain


(Agus,2008)
e. Laba-Laba (Lycosa pseudoannulata)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

:-

Genus

: Lycosa

Spesies

: Lycosa pseudoannulata

Peranan Serangga : Musuh Alami


(Heru,2006)

f. Belalang Hijau (Oxya chinensis)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Acrididae

Genus

: Oxya

Spesies

: Oxya chinensis

Peranan Serangga : Hama


(Raharjo,2012)

2. Lahan 2
a. Belalang Hijau (Oxya chinensis)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Acrididae

Genus

: Oxya

Spesies

: Oxya chinensis

Peranan Serangga : Hama


(Raharjo,2012)

b. Kepik Hitam (Coccinella arcuata)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Coccinelidae

Genus

: Coccinella

Spesies

: Coccinella arcuata

Peranan Serangga : Hama


(Arifin,1994)
c. Capung (Neurothemis sp)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Libellulidae

Genus

: Neurothemis

Spesies

: Neurothemis sp

Peranan Serangga : Musuh Alami


(Sudarmono, 1999)

d. Laba-Laba (Lycosa pseudoannulata)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

:-

Genus

: Lycosa

Spesies

: Lycosa pseudoannulata

Peranan Serangga : Musuh Alami


(Heru,2006)
e. Semut Hitam (Camponotus caryae)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Formicideae

Genus

: Camponotus

Spesies

: Camponotus caryae

Peranan Serangga : Serangga lain


(Kusnaedi,1999)

3. Lahan 3
a. Semut Hitam (Camponotus caryae)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Formicideae

Genus

: Camponotus

Spesies

: Camponotus caryae

Peranan Serangga : Serangga lain


(Kusnaedi,1999)
b. Kutu Busuk (Limex totundatus)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Cimicidae

Genus

: Limex

Spesies

: Limex totundatus

Peranan Serangga : Hama


(Surachman,1998)

c. Belalang Hijau (Oxya chinensis)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Acrididae

Genus

: Oxya

Spesies

: Oxya chinensis

Peranan Serangga : Hama


(Raharjo,2012)
d. Belalang Coklat (Phlaeoba furnosa)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Acrididae

Genus

: Phlaeoba

Spesies

: Phlaeoba furnosa

Peranan Serangga : Hama


(Arifin,1994)

e. Laba-Laba (Lycosa pseudoannulata)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

:-

Genus

: Lycosa

Spesies

: Lycosa pseudoannulata

Peranan Serangga : Musuh Alami


(Heru,2006)
4. Lahan 4
a. Capung (Arthatrum sabina)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Libellulidae

Genus

: Orthetrum

Spesies

: Orthetrum sabina

Peranan Serangga : Musuh Alami


(Sudarmono, 1999)

b. Belalang Hijau (Oxya chinensis)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Acrididae

Genus

: Oxya

Spesies

: Oxya chinensis

Peranan Serangga : Hama


(Raharjo,2012)
c. Belalang Coklat (Phlaeoba furnosa)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Acrididae

Genus

: Phlaeoba

Spesies

: Phlaeoba furnosa

Peranan Serangga : Hama


(Arifin,1994)

d. Jangkrik (Gryllide)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Gryllidae

Genus

: Gryllide

Spesies

: Gryllide

Peranan Serangga : Serangga Lain


(Agus,2008)

e. Kupu-Kupu (Appias libythea)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Pieridae

Genus

: Appias

Spesies

: Appias libythea

Peranan Serangga : Serangga Lain


(Kartasapoetra,1991)

f. Semut Hitam (Camponotus caryae)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Formicideae

Genus

: Camponotus

Spesies

: Camponotus caryae

Peranan Serangga : Musuh Alami


(Kusnaedi,1999)
g. Kepik Hijau (Nezara viridula)

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Pentatomidae

Genus

: Nezara

Spesies

: Nezara viridula

Peranan Serangga : Hama


(Surachman,1998)

h. Semut Merah

Kingdom

: Animalia

Filum

: Artropoda

Kelas

: Insekta

Family

: Formicidae

Genus

: Oechophylla

Spesies

: Oechophylla smaragdina

Peranan Serangga : Musuh Alami


(Johnson,1992)

c.

Form pengamatan biodiversitas

Tabel 22. Form pengamatan biodiversitas HPT


d.

Form pengamatan Tabulasi data


Titik Pengambilan
Sampel/Agroekosistem
Titik 1
Titik 2
Titik 3
Titik 4

Jumlah Individu
Hama
1
3
9
19

MA
5
2
3
9

SL
3
1
2
2

Total
9
6
14
30

Titik Pengambilan Sampel/Agroekosistem


Titik 1
Titik 2
Titik 3
Titik 4
Tabel 23. Form tabulasi data

e.

Hama
11,11
50,00
64,29
30,00

Segitiga Fiktorial

1. Plot 1
Serangga Lain

Hama

Musuh Alami

2. Plot 2
Serangga Lain

Hama

Musuh Alami

Presentase (%)
MA
55,56
33,33
21,43
30,00

SL
33,33
16,67
14,29
6,67

3. Plot 3
Serangga Lain

4.

Musuh Alami

Hama
Plot 4

Serangga Lain

Hama

Musuh Alami

Pembahasan dari hasil pengamatan plot 2 ( lahan kopi,lamtoro dan pisang)


Berdasarkan hasil pengamatan yang telah didapatkan pada plot 2 yaitu
dengan komoditas tanaman kopi sebanyak 28, pisang 20 dan tanaman lamtoro 23.
Dari tanaman budidaya tersebut ditemukan 3 ekor hama yaitu seekor belalang
hijau dan dua ekor kepik hitam, kemudian untuk musuh alami ditemuan 2 spesies
terdiri dari capung dan laba-laba sedangkan untuk serangga lain pada lahan 2
ditemukan semut hitam. Presentasi dari hama yaitu sebesar 50%, musuh alami
sebesar 33,33% dan untuk serangga lain ditemukan sebesar 16,67%. Sehingga

dapat ditarik kesimpulan pada lahan 2 yang berpopulasi paling banyak adalah
hama dimana presentasi populasinya mencapai 50% kemudian populasi terbesar
kedua adalah musuh alami sebanyak 33,33% dan untuk presentasi populasi yang
paling sedikit adalah serangga lain sebesar 16,67%.
Ciri biologi dari hama kepik hitam adalah serangga dewasa (kumbang)
berwarna hitam, aktif pada malam hari dan bersembunyi di dalam dan di sekitar
bonggol pisang atau di antara pelepah batang semu pisang. Serangga dewasa
berukuran 12 mm dan dapat hidup 1-3 tahun, akan tetapi produksi telur relatif
sedikit yaitu 1-3 butir per minggu (Gold et al., 1993 cit Purnomo, 1996).
Kebanyakan telur diletakkan pada tanaman pisang terutama dekat pelepah dan
dasar batang semu kira-kira 5 cm di bawah permukaan tanah.
Kerusakan yang ditimbulkan berupa larvanya membuat terowongan pada
bonggol pisang yang merupakan tempat masuknya patogen penyebab penyakit
lain seperti Fusarium sehingga menyebabkan kerusakan dan busuknya jaringan
bonggol pisang. Pada serangan berat, bonggol pisang dipenuhi lubang gerekan
yang kemudian menghitam dan membusuk. Kerusakan yang diakibatkan oleh
hama ini menyebabkan tanaman muda mati, lemahnya sistem perakaran dan
transportasi makanan terhenti. Gejala serangan terlihat daun menguning dan
ukuran tandan berkurang sehingga produksi menurun. Pengendaliannya dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Tanam bibit yang bebas dari hama penggerek bonggol.
b. Sanitasi lingkungan dengan membersihkan sisa-sisa batang dan bonggol
yang telah ditebang, kemudian dibakar.
c. Menangkap kumbang dewasa dengan perangkap yang terbuat dari bonggol
dan batang pisang, kemudian serangga dikumpulkan dan dimusnahkan.
d. Menggunakan musuh alami seperti Beauveria bassiana Balsamo.
e. Insektisida berbahan aktif karbofuran, monokrotofos.
Capung (Ordonata) termasuk serangga karnivora karena capung suka
menyantap hewan lain pada saat menetaskan telur-telurnya. Pada saat masih larva,
mereka memakan plankton, ikan-ikan kecil, serta larva lain. Disaat sayap mereka
mulai berkembang, capung muda memiliki bagian tubuh khusus yang berada
disekitar kepalanya yang berfungsi sebagai tongkat untuk memudahkan

menangkap ikan-ikan kecil. Disaat dewasa capung merupakan predator alami dari
nyamuk sehingga populasi capung yang banyak bisa menjadi pengontrol yang
efektif dalam menanggulangi penyebaran nyamuk pada suatu tempat(Price,
1997).Menurut Dadan hindayanan (2011), Bila terdapat banyak laba-laba di
kebun petani, hama lebih mudah terkendali. Laba-laba tidak mengalami
metamorfosa. Setelah telur menetas, keluarlah laba-laba kecil, dan berganti kulit
beberapa kali. Laba-laba kecil bentuknya sama dengan laba-laba dewasa. Ada
jenis laba-laba yang membuat jaring untuk menangkap mangsanya. Ada juga yang
berburu di tanah atau di tanaman. Laba-laba betina biasanya jauh lebih besar
daripada laba-laba jantan. Karenanya, sulit dipercaya bahwa betina dan jantan
adalah jenis yang sama. Laba-laba jantan harus mendekati betina dengan hati-hati
karena berbahaya. Mungkin si betina sedang lapar. Kadang-kadang jantan tidak
jadi kawin, tetapi dimakan oleh si betina. Sering pula terjadi bahwa si betina
memakan jantan setelah selesai kawin.
Semut merupakan serangga yang tergolong ke dalam famili Formicidae dan
ordo Hymenoptera. Sebagian besar semut mempunyai lokasi tertentu dan
mempunyai sarang perenial dengan wilayah untuk mencari makan yang terbatas
(Chung & Mohamed, 1996; Peck et al., 1998; Hashimoto et al., 2001, Andersen et
al., 2002; Longino et al., 2002).
Berdasarkan segitiga fiktorial plot 2 dapat diketahui bahwa titik-titik
koordinat lebih mendekati titik sudut hama dan musuh alami dengan presentase
hama sebesar 50% dan musuh alami sebesar 33,33%. Dari persentase tersebut
kami menyimpulkan bahwa jumlah serangga paling dominan di plot
agroforestri tersebut adalah serangga hama dibandingkan dengan populasi
musuh alami dan serangga lain. Hal itu menunjukkan bahwa kemungkinan
terjadinya ledakan hama agak besar sebab populasi musuh alami lebih sedikit
dibanding populasi serangga hama.
Tindakan yang perlu dilakukan untuk menangani kondisi tersebut adalah
dengan cara melakukan pengendalian hama menggunakan pestisida tetapi dalam
jumlah yang tidak terlalu banyak dan tidak mencemari lingkungan. Hal tersebut
dikarenakan apabila pengendalian hama hanya dilakukan dengan musuh alami
saja maka dapat dimungkinkan terjadi ledakan hama pada plot agroforestri

tersebut. Oleh karena itu masih diperlukan penggunaan pestisida hingga jumlah
dari serangga hama tidak jauh melebihi musuh alami atau selisih presentase
jumlah serangga hama dan musuh alami hanya sedikit sehingga musuh alami
masih bisa mengendalikan hama yang ada.
Perbandingan Hasil Pengamatan
a. Jumlah
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada titik 1, titik 2, titik 3, dan
titik 4. Jumlah hama, musuh alami, serangga lain setiap titik memiliki jumlah
yang berbeda.pada titik 1 jumlah hama yang ditemui sebanyak 1ekor atau 11,11%
dari total jumlah hama yang ditemui pada plot tersebut, di titik 2 sebanyak 3 ekor
atau 50% dari total jumlah hama yang ditemui pada plot tersebut , di titik 3
sebanyak 9 atau 64,29% dari total jumlah hama yang ditemui pada plot tersebut
ekor dan dititik 4 ada 19 ekor atau 30% dari total jumlah hama yang ditemui pada
plot tersebut. Hama yang paling banyak ditemui pada titik 4. Jumlah musuh alami
juga berbeda-beda pada setiap titik. Pada titik 1 ditemui sebanyak 5 ekor atau
55,56% dari total jumlah hama yang ditemui pada plot tersebut, pada titik 2
sebanyak 2 ekor atau 33,33% dari total jumlah hama yang ditemui pada plot
tersebut, pada titik tiga sebanyak 3 ekor 21,43% dari total jumlah hama yang
ditemui pada plot tersebut dan pada titik 4 sebanyak 9 ekor atau 30% dari total
jumlah hama yang ditemui pada plot tersebut. Keberadaan musuh alami yang
paling banyak ditemui pada plot 4. Sedangkan untuk serangga lain, sama halnya.
Setiap titik memiliki jumlah yang berbeda. Dititk satu ditemui serangga lain
sebanyak 3 atau 33,33% dari total jumlah hama yang ditemui pada plot tersebut ,
pada titik dua sebanyak 1 atau 16,67% dari total jumlah hama yang ditemui pada
plot tersebut, pada titik tiga sebanyak 2 ekor atau 14,29% dari total jumlah hama
yang ditemui pada plot tersebut, dan pada titik empat sebanyak 2 ekor atau 6,67%
dari total jumlah hama yang ditemui pada plot tersebut. pada plot 1 lebih banyak
ditemui serangga lain. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh maka hama
yang paling banyak pada titik pengamatan ke 4, hal ini juga dipengaruhi
oleh factor pengolahan lahannya, yang mana pada lahan ke 4 sistem tanam
yang dilakukan adalah system monokultur dengan tanaman pinus. Selain itu,
factor lain yang menyebabkan adalah bahwa titik ke empat itu memiliki

ketinggian yang lebih tinggi dari titik pengamatan yang lainnya hal ini akan
mendorong penyebaran hama karena pada lahan yang tinggi itu anginnya
lebih kencang.
Angin akan berpengaruh terhadap proses penyebaran hama. Pergerakan udara
merupakan salah satu faktor yang penting dalam penyebaran serangga. Arah dari
penyebaran serangga terkadang mengikuti arah angin. Angin berpengaruh
terhadap perkembangan hama, terutama dalam proses penyebaran hama tanaman.
Misalnya kutu daun dapat terbang terbawa angin sejauh 1.300 km, seperti
penyebaran kutu loncat (Heteropsylla cubana). Seperti pada tahun 1986, kutu
loncat lamtoro mengalami ledakan (Outbreak atau Explosive) pada daerah yang
luas dalam waktu relatif singkat. Belalang kayu (Valanga nigricornis Zehntneri
Krauss), bila terdapat angin dapat terbang sejauh 3-4 km. Selain mendukung
penyebaran hama, angin kencang dapat menghambat kupu-kupu untuk bertelur,
bahkan dapat mematikannya (Tarumingkeng, 1994).
b. Jenis hama
Jenis hama, musuh alami, dan serangga lain yang dijumpai pada titik satu, titik
dua, titik tiga dan titik empat memiliki jenis hama yang sama dan ada yang
berbeda. Pada titik 1 hama yang ditemukan adalah belalang hijau (Oxya
chinensis). Musuh alaminya adalah semut (Camponotus caryae), laba-laba
(Lycosa pseudoannulata) dan capung (Neurothemis sp).

Sedangkan untuk

serangga lainnya,serangga lain yang ditemukan pada titik 1 adalah kupu-kupu


(Appias libythea). Pada titik pengamatan yang kedua hamanya adalah belalang
dan kepik hitam (Coccinella arcuata). Musuh alamniya capung dan laba-laba
sedangkan serangga lainnya adalah semut. Titik pengamatan yang ketiga yang
serangga lain yang ditemukan adalah semut hitam. Hama yang ditemui adalah
kutu busuk, belalang hijau dan belalang coklat (Phlaeoba furnosa). Sedangkan
untuk musuh alami yang ditemui adalah laba-laba. Pengamatan pada titik ke
empat yang ditemui untuk musuh alaminya antara lain capung, semut hitam dan
merah. Hama yang ditemui adalah belalang hijau, belalang coklat dan kepik hijau.
Sedangkan untuk serangga lain yang ditemui antara lain jangkrik (Gryllide ) dan
kupu-kupu. Keberadaan jenis hama pada suatu daerah itu dipengaruhi oleh jenis

tanaman dan pola tanam yang sedang di aplikasikan. Jenis tanaman yang
dimaksudkan sebagai inang pada hama tersebut.
Tanaman inang adalah tanaman yang menjadi makanan dan tempat tinggal
organisme hama. Makanan merupakan faktor lainnya yang sangat menentukan
perkembangan populasi serangga hama. Faktor kualitas dan kuantitas makanan
akan memberikan pengaruh pada tinggi rendahnya perkernbangan populasi.
Makanan merupakan sumber gizi yang dipergunakan oleh serangga untuk hidup
dan berkembang biak. Jika makanan tersedia dengan kualitas yang sesuai, maka
populasinya akan cepat meningkat. Sebaliknya, jika makan kurang, maka
populasinya akan menurun. Pengaruh jenis makanan, kandungan air dalam
makanan dan besarnya butiran material juga berpengaruh terhadap perkembangan
suatu jenis serangga. Dalam hubungannya dengan makanan, masing-masing jenis
serangga memiliki kisaran inang yang berbeda yaitu Monofag (hidup dan makan
hanya pada satu atau beberapa spesies dalam satu famili tertentu), Polifag (hidup
dan makan pada berbagai spesies pada berbagai famili), dan Oligofag (hidup dan
makan pada berapa spesies dalam satu famili) (Jumar, 2000).

3.1.2.4. Cadangan Karbon


Upaya meningkatkan cadangan C di alam secara vegetatif (misalnya dengan
memperbanyak

penanaman

pepohonan)

merupakan

pelayanan

terhadap

lingkungan yang diharapkan dapat mengurangi emisi karbon yang ada.


Kebanyakan CO2 di udara dipergunakan oleh tanaman selama fotosintesis dan
memasuki ekosistem melalui seresah tanaman yang jatuh dan selanjutnya terjadi
akumulasi karbon (C) dalam biomasa (tajuk) tanaman. Separuh dari jumlah C
yang diserap dari udara bebas tersebut diangkut ke bagian akar berupa karbohidrat
dan masuk ke dalam tanah melalui akar-akar yang mati.
Dengan demikian keberadaan tanaman dapat mengurangi konsentrasi CO2
di atmosfer, dan hasilnya berupa karbohidrat diakumulasi dalam biomasa
tanaman. Tinggi rendahnya serapan CO2 di atmosfer bervariasi, tergantung pada
jenis tanaman penyusun dan umur lahan.

Menurut Murdiyarso (2002), salah satu indikator keberhasilan usaha


pengelolaan tanah adalah tetap terjaganya cadangan C sehingga keseimbangan
lingkungan dan biodiversitas dapat terjaga pula.
Peran lanskap dalam menyimpan karbon bergantung pada besarnya
luasan tutupan lahan hutan alami dan lahan pertanian berbasis pepohonan
baik tipe campuran (agroforestri) atau monokultur (perkebunan). Namun
demikian besarnya karbon tersimpan di lahan bervariasi antar penggunaan lahan
tergantung pada jenis, kerapatan dan umur pohon.

Tabel 24. Above ground C-Stock


Berikut data Cadangan Karbon (C-Stock) pada masing-masing plot yang
telah diamati saat dilaksanakannya praktikum lapang (fieldtrip) mata kuliah
Pertanian Berlanjut di Desa Tulungrejo :
a.

Stop 1 : Hutan
Kemiringan : 190 atau 42%
Gambar 1. Stopsite 1. Hutan

Tabel 25. Karakteristik Lansekap Hutan

No

Penggunaan Tutupan
lahan

lahan

Manfaat

lereng

Hutan
1

Produksi

Pinus

G, K

B, K,
Lamtoro

Bi

Rumput
Gajah

Tingkat tutupan

Posisi

pakuan

Pisang

B, D

Paku-

Kanopi

Seresah

Jumlah
spesies

43

10

2500

86
8

CKerapatan

(ton/ha)
S

S
R

Manfaat : A (akar), B (buah), D (daun), G (getah), K (kayu), Bi (Biji). Posisi


lereng : A (atas), T (tengah), B (bawah). Tingkat tutupan kanopi dan seresah :
T (tinggi), S (sedang), R (rendah). Kerapatan : T (tinggi), S (sedang), R (rendah)
b. Stop 2 : Agroforestri
Kemiringan : 10 lereng tengah
Gambar 2. Stopsite 2. Agroforestri

Stock

150

Tabel 26. Karakteristik Lansekap Agroforestri


No

Penggunaan

Tutupan

lahan

lahan

Kebun
1

campuran

Manfaat

Posisi

Tingkat tutupan

Jumlah

lereng

Kanopi Seresah

spesies

B, D,

Kerapatan

15

B, K

20

Gajah

A/T/B

Pisang

D, B

10

Sawo

B, K

Jambu

B, K

Waru

Kersen

B, K

Nangka

K, Bi

Lamtoro

K, D, B

Kopi
Rumput

(ton/ha)

Pohon

Talas

C-Stock

Manfaat : A (akar), B (buah), D (daun), G (getah), K (kayu), U (umbi), Bi (Biji).


Posisi lereng : A (atas), T (tengah), B (bawah). Tingkat tutupan kanopi dan

80

seresah : T (tinggi), S (sedang), R (rendah). Kerapatan : T (tinggi), S (sedang),


R (rendah)
c. Stop 3 : Tanaman Semusim
Kemiringan : 3 lereng tengah
Gambar 3. Stopsite 3. Tanaman semusim

Tabel 27. Karakteristik Lansekap Tanaman Semusim

No

Penggunaan Tutupan
lahan

lahan

Manfaat

Posisi
lereng

Rumput
1

Tegal

Sawah

Tingkat tutupan

Kanopi Seresah

Jumlah
spesies

CKerapatan

(ton/ha)

12

31250

Cabai

B, K

112

Pisang

D, B

10

Jagung

D, B

15625

87

Gajah

Kelapa

K, D, B

Kubis

156

Rumput
Gajah

Stock

Manfaat : A (akar), B (buah), D (daun), G (getah), K (kayu), U (umbi), Bi (Biji).


Posisi lereng : A (atas), T (tengah), B (bawah). Tingkat tutupan kanopi dan

seresah : T (tinggi), S (sedang), R (rendah). Kerapatan : T (tinggi), S (sedang),


R (rendah)

d. Stop 4 : Tanaman Semusim dan pemukiman


Kemiringan : Gambar 4. Stopsite 4. Tanaman semusim dan pemukiman

Tabel 28. Karakteristik Lansekap Tanaman Semusim dan


pemukiman
Posisi

Tingkat tutupan

lereng

Kanopi

Penggunaan

Tutupan

lahan

lahan

Pemukiman

Rumah

Pekarangan

Pisang

B, D

44

Kelapa

Gajah

Pepaya

Singkong

Rambutan

Kelengkeng

Mangga

No

Manfaat

Jumlah

Seresah spesies

Rumput

Kerapatan
S

594

C-Stock
(ton/ha)
0

T
1

Bambu

68

Labu

Pokak

Manfaat : A (akar), B (buah), D (daun), G (getah), K (kayu), U


(umbi), Bi (Biji). Posisi lereng : A (atas), T (tengah), B (bawah).
Tingkat tutupan kanopi dan seresah : T (tinggi), S (sedang), R
(rendah). Kerapatan : T (tinggi), S (sedang), R (rendah)
Penggunaan lahan pada stop 1 adalah Hutan. Tutupan lahannya antara
lain rumput gajah dengan tingat kerapatan tinggi, pinus dan paku-pakuan dengan
tingkat kerapatan sedang, serta pisang dan lamtoro dengan tingkat kerapatan
rendah. Berdasarkan sumber dari Hairiah et al., (2009,2010) lahan hutan dengan
tingkat kerapatan komponen yang menyusunnya (terutama pohon) rendah
memiliki tingkat cadangan karbon (C-stock) 150 ton/ha.
Pada stop 2, penggunaan lahan agroforestri dengan tutupan lahan nangka,
rumput gajah, sengon, pisang, kopi, sawo, jambu, dan talas dengan tingat
kerapatan sedang, serta lamtoro, pohon waru, dan kersen dengan tingkat kerapatan
rendah. Berdasarkan sumber dari Hairiah et al., (2009,2010) lahan Agroforestri
seperti yang terdapat pada stop 2 tersebut memiliki tingkat cadangan karbon (Cstock) 80 ton/ha.
Pada stop 3 penggunaan lahan adalah tegal dan sawah dengan vegetasi
tanaman semusim. Tutupan lahan dalam stop ini antara lain kubis dan jagung
dengan tingkat kerapatan tinggi, rumput gajah dengan tingkat kerapatan sedang,
serta cabai, pisang, dan kelapa dengan kerapatan rendah. Berdasarkan sumber
dari Hairiah et al., (2009,2010) lahan dengan vegetasi tanaman semusim seperti
yang terdapat pada stop 3 tersebut memiliki tingkat cadangan karbon (C-stock) 1
ton/ha.
Pada stop 4 penggunaan lahannya adalah pekarangan dan pemukiman.
Tutupan lahan stop tersebut antara lain rumah penduduk serta rumput gajah dan
bambu dengan tingkat kerapatan tinggi, pisang dan singkong dengan tingkat
kerapatan sedang, kelapa, papaya, kelengkeng, labu, pokok dengan tingkat
kerapatan rendah. Berdasarkan sumber dari Hairiah et al., (2009,2010) lahan

dengan vegetasi tanaman semusim seperti yang terdapat pada stop 4 tersebut
memiliki tingkat cadangan karbon (C-stock) 1 ton/ha.
Perbedaan nilai cadangan karbon (C-stock) pada tiap stop site tersebut
dikarenakan jenis penggunaan lahan yang berbeda serta jenis tutupan lahannya.
Lahan hutan memiliki nilai cadangan karbon yang lebih tinggi dibandingkan
dengan lahan yang lain. Hal tersebut dikarenakan pada lahan hutan masih terdapat
banyak pohon yang bisa menyimpan karbon dalam jumlah yang banyak. Hutan
pada stop site 1 yang telah kita amati memiliki nilai C-ctock sebesar 150 ton/ha.
Selanjutnya lahan yang memiliki nilai cadangan karbon tinggi setelah
hutan adalah agroforestri. Pada lahan agroforestri masih terdapat beberapa pohon
yang dapat menyimpan karbon dalam jumlah banyak. Namun jumlah dan
kerapatan tanaman pada lahan agroforestri tidak sebanyak pada lahan hutan
sehingga cadangan karbonnya lebih rendah apabila dibandingkan dengan hutan.
Pada lahan agroforestri yang telah kami amati memiliki nilai cadangan karbon
sebesar 80 ton/ha.
Setelah agroforestri terdapat lahan dengan budidaya tanaman semusim
yang memiliki nilai cadangan karbon sebesar 1 ton/ha. Hal tersebut dikarenakan
pada lahan tanaman semusim sangat jarang dijumpai pohon sehingga nilai
simpanan karbon hanya sedikit. Selanjutnya untuk pemukiman tidak memiliki
nilai simpanan karbon.

3.1.3. Indikator Pertanian Berlanjut dari Sosial Ekonomi


3.1.3.1. Economically viable (keberlangsungan secara ekonomi)
Data ekonomi yang didapatkan oleh kelompok kami adalah pada plot satu.
Nama petani responden yang memberikan informasi mengenai faktor ekonomi di
lahan yang dimiliki pada plot satu adalah P.Imam. Berikut data ekonomi yang
kami peroleh:
Tabel 29. Total Pendapatan
Jenis

Luas

Jumlah

Tanaman

tanam(ha)

Produksi(kg)

Jagung
Kopi

Nilai
Harga/unit Produksi

0.25

2000

3600

7200000

4000

4000 16000000

1. Tanaman Jagung
Tabel 30. Biaya Total Tanaman Jagung dalam 1x Panen

Jagung

Unit

Harga/unit

Jumlah biaya

Biaya Tetap
Peralatan(penyusutan)
Traktor

100000

100000

Selang(m)

50

200

10000

Alat Semprot

3333

3333

Cangkul

1000

2000

0.25

116667

29167

20

15000

300000

Urea(sak)

90000

720000

Ponska(sak)

125000

250000

TS(sak)

125000

250000

Curacron(liter)

75000

150000

40000

80000

Luas Lahan(ha)
Biaya Variabel
Benih(Kg)

Pupuk

Tenaga Kerja
Dalam Keluarga

Luar Keluarga

P
endapat

Penggarapan lahan

60000

120000

Panen

15

40000

600000

Jumlah

2014500
=Rp 5.185.500

Kelayakan Usaha Tani Jagung


R/C

= TR/TC
= 7.200.000/2.014.500
= 2.6

an

= TR-TC

=Rp

Berdasarkan data perhitungan R/C ratio diatas, dapat disimpulkan bahwa


nilai R/C ratio>1 sehingga usaha tani Jagung tersebut layak secara finansial untuk
dijalankan karena penerimaan lebih besar daripada biaya. Sehingga memenuhi
konsep pertanian berkelanjutan dari segi aspek ekonomi.
Tanaman Kopi
Biaya Tetap
Tanaman Kopi

Unit

Harga/unit

Jumlah biaya

Gunting

5000

20000

Alat Semprot

10000

20000

Cangkul

3000

12000

Luas Lahan(ha)

350000

350000

Peralatan(penyusutan)

Jumlah

402000

Tabel 34. Biaya tetap tanaman kopi


Biaya Variabel
Bibit

10

15000

150000

Ponska(sak)

125000

500000

TS(sak)

125000

500000

105000

105000

1.5

160000

240000

Pupuk

Pestisida
Dithane M-45
Sevin 85 S
Tenaga Kerja
Dalam Keluarga

40000

80000

Luar Keluarga
Penyiangan

80000

320000

Pemangkasan

120000

480000

Panen

200000

1000000

Jumlah

3375000

Tabel 34. Biaya variabel tanaman kopi

TFC (biaya

TVC (Biaya

tetap)

variabel

402.000

3.375.000

Total biaya(TC)
3.777.000

Total

Total

biaya(TC)

Penerimaan

3.777.000

Total
Penerimaan
16.000.000

16.000.000

Pendapatan
1.222.3000

Keterangan:
1. Penyiangan dilakukan 1 tahun 2x, dengan biaya tenaga kerja per hari Rp
40.000
2. Pemangkasan dilakukan 1 tahun 3x, dengan biaya tenaga kerja per hari Rp
40.000
3. Pemanenan dilakukan 1 tahun sekali semala 5 hari dengan biaya tenaga
kerja per hari Rp 40.000
Kelayakan Usaha Tani Tanaman Kopi
I

= 14 % tingkat suku bunga saat ini.

NPV

= I ,pendapatan
=14% ,12.223.000
= 10.721.929,82
Berdasarkan perhitungan NPV untuk tanaman kopi tersebut, tanaman kopi

layak untuk dilakukan karena NPV kopi lebih besar dari 1 (>1) yaitu sebesar
10.721.929,82.

3.1.3.2. Ecologically sound (ramah lingkungan)


1. Kualitas dan kemampuan agroekosistem yang terjadi di lingkungan landscape
(manusia, tanaman, hewan dan organisme tanah) dipertahankan dan
ditingkatkan.
Menurut Reintjes, 1992 dalam praktik pelaksanaan pertanian berlanjut
haruslah ramah lingkungan (ecologically sound and friendly) dimana sistem
pertanian yang ramah lingkungan diintegrasikan sedemikian rupa dalam
sistem ekologi yang lebih luas dan fokus pada upaya pelestarian dan

peningkatan basis sumberdaya alamnya. Dengan demikian sistem pertanian


ramah lingkungan juga berorientasi pada keragaman hayati atau biodiversitas.
Yang berarti bahwa kualitas sumber daya alam dipertahankan dan
kemampuan agroekosistem secara keseluruhan, dari manusia, tanaman, dan
hewan sampai organisme tanah ditingkatkan. Kedua hal ini akan terpenuhi
jika tanah dikelola dan kesehatan tanaman, hewan serta masyarakat
dipertahankan melalui proses biologis (regulasi sendiri). Sumber daya lokal
dipergunakan sedemikian rupa sehingga kehilangan unsur hara, biomassa,
dan energi bisa ditekan serendah mungkin serta mampu mencegah
pencemaran. Tekanannya adalah pada penggunaan sumber daya yang bisa
diperbarui. Pada sistem pertanian berkelanjutan tersebut juga menerapkan
bagaiman saling menjaga biodiversitas termasuk manusia, tanaman, hewan
serta menjaga keadaan lingkungan seperti tanah, air dan udara agar dapat
digunakan secara maksimal (berkelanjutan).
1. Sistem pertanian berorientasi pada ramah lingkungan dan keragaman
hayati (biodiversitas)
Budidaya yang dilakukan oleh bapak Imam tidak dapat dikatakan
menerapkan pertanian yang berlanjut,

justru cara budidaya beliau

cenderung konvensional yang menggunakan pupuk dan pestisida kimia.


Hal ini dikarenakan

penggunaan

pupuk

dan pestisida kimia yang

intensif digunakan pada lahan budidayanya, terutama pada lahan sawah


dengan tanaman

budidaya

jagung. Akan tetapi lahan tersebut tetap

diseimbangkan dengan penggunaan pupuk organik (pupuk kandang) agar


tanah tidak rusak. Serta tidak mematikan musuh alami yang ada pada
lahan tersebut seperti laba-laba dibiarkan hidup pada tanaman yang
ditempatinya. Selain itu dilihat dari benih yang digunakan, beliau
menggunakan bibit hibrida berupa bisi 2. Pada lahan tegal beliau telah
memberikan input pupuk organik berupa kotoran kambing, namun beliau
masih menambahkan pupuk phonska dan TS dalam budidaya serta
penggunaan pestisida kimia. Namun bapak Imam telah menerapkan
sistem agroforestry pada lahan tegalnya karena lahan tegalnya di tanami
dengan tanaman kopi, alpukat, durian dan petai, sehingga lahan tersebut

sangat kompleks. Jika dibandingkan dengan lahan sawah yang


dibudidayakan beliau, pengolahan lahan tegal beliau lebih ramah
lingkungan dan kompleks. Menurut

Budowski (1981) menjelaskan

beberapa keuntungan Agroforestry antara lain pengurangan tekanan


terhadap hutan, daur ulang usnur hara yang cukup efisien pada lahan oleh
pohon-pohon yang mempunyai perakaran dalam, perlindungan yang
lebih baik bagi sistem ekologi, pengurangan aliran permukaan, pencucian
unsur hara dan erosi tanah melalui efek rintangan yang dihasilkan oleh
akar-akar dan batang pohon pada proses-proses tersebut, perbaikan iklim
mikro, seperti penurunan

suhu permukaan tanah dan pengurangan

penguapan kelembaban tanah melalui pemulsaan dan penaungan oleh


pohon, peningkatan unsur hara tanah melalui penambahan dan
dekomposisi seresah yang jatuh, perbaikan struktur tanah melalui
penambahan bahan organik secara tetap dari seresah yang terdekomposisi.
2. Pelestarian sumberdaya alam yang dilakukan oleh masyarakat
Bapak Imam merupakan salah satu petani di Desa Tulungrejo yang
memiliki lahan berupa sawah seluas 0,25 ha dan lahan tegal 1 ha. Bapak
Imam membudidayakan tanaman jagung pada lahan sawahnya, dan pada
lahan tegal, beliau menanami dengan tanaman kopi, alpukat, durian dan
petai. Untuk lahan sawahnya yang di tanami jagung beliau membeli benih
jagung karena beliau membudidayakan jagung hibrida yakni bisi 2,
namun untuk tanaman tegal sekitar 75% beliau membuat sendiri bibitnya
dari tanaman terdahulu. Untuk pupuk kimia yang digunakan beliau
menggunakan pada lahan sawah berupa urea, phonska dan TS. Sedangkan
pada lahan tegal untuk tanaman kopi, alpukat, durian dan petai beliau
menggunakan phonska, TS dan pupuk kandang yang di dapatkan dari
hasil ternak kambing beliau. Untuk hama dan penyakit beliau
menggunakan pestisida kimia, baik pada lahan sawah maupun tegal. Dan
untuk modal sebesar 75% merupakan modal sendiri, dan 25% sisanya di
dapatkan dari bank BRI dengan jaminan berupa akta tanah. Dari
pengolahan lahan tersebut Bapak Imam tidak hanya menerapkan
pertanian yang berbasis kimia, melainkan beliau juga menggunakan

pupuk organik agar keadaan tanah tetap terjaga dan unsur hara yang
tersedia untuk tanaman tetap tercukupi.
3. Minimalisasi resiko-resiko alamiah yang mungkin terjadi di lapang
a. Risiko Sosial
Sumber pertama risiko adalah masyarakat, artinya tindakan orangorang menciptakan kejadian yang menyebabkan penyimpangan yang
merugikan dari harapan kita. Contohnya: banyaknya alih fungsi lahan
yang awalnya lahan pertanian berubah menjadi lahan perumahan
(bangunan-bangunan).
b. Risiko Fisik
Ada banyak risiko fisik yang sebagiannya adalah fenomena alam,
sedangkan lainnya disebabkan kesalahan manusia. Contohnya antara
lain:

Kebakaran, kebakaran adalah penyebab utama cidera, kematian


dan kerusakan lahan hutan

Cuaca, Iklim adalah risiko yang serius. Kadang-kadang hujan


terlalu banyak sehingga panen kena banjir dan sungai meluap.

Petir, menyebabkan kebakaran yang selanjutnya merusakan harta,


membunuh atau mencederai orang dan merusak tanaman yang
tinggi.

Tanah longsor, telah umum menjadi sumber kerusakan pada alam


atau tanah yang berbukit (erosi).

Hama, yaitu binatang yang menyerang tanaman budidaya sehingga


mengurangi kualitas dan kuantitas hasil panen.

c. Risiko Ekonomi
Banyak risiko yang dihadapi petani yang ada di daerah Tulungrejo
yaitu terjadinya kenaikan harga bibit, benih dan pupuk, serta
penyewaan lahan. Sedangkan harga panen (hasil panen) yang rendah
atau fluktuatif sehingga keuntungan petani tidak stabil.
Yang berarti bahwa

petani bisa cukup menghasilkan untuk

pemenuhan kebutuhan dan atau pendapatan sendiri, serta mendapatkan


penghasilan yang mencukupi untuk mengembalikan tenaga dan biaya

yang dikeluarkan. Keberlanjutan ekonomis ini bisa diukur bukan


hanya dalam hal produk usaha tani yang langusng namun juga dalam
hal fungsi seperti melestarikan sumber daya alam dan meminimalkan
resiko. Untuk meminimalisasi ketiga resiko tersebut harus dilakukan
tata ruang atau tata guna lahan, standar bangunan, insentif dan
disinsentif dalam pemanfaatan ruang dikawasan rawan bencana,
adanya kerjasama dengan pemerintah dan penstabilan harga komoditas
pertanian.

3.1.3.3. Socially just (berkeadilan = menganut azas keadilan)


1. Kebutuhan dasar sebagai pengelola pertanian
a. Penggunaann fungsi lahan pertanian
Pada praktikum lapang yang telah dilakuakan di Tulungrejo didapatkan
hasil dari wawancara petani yaitu bapak imam, beliau mengatakan bahwa
lahan yang ada di Tulungrejo digunakan semaksimal mungkin untuk
pertanian tetapi untuk lahan atas digunakan oleh Perhutani sebagai hutan
produksi yang dapat melindungi terjadinya degradasi lahan seperti erosi,
banjir dan tanah longsor serta dapat diambil hasilnya dari getah pinus
tersebut. Dan pada lahan atas tersebut hanya ditanami tanaman tahunan
seperti pinus agar dapat menghindari terjadinya degradasi lahan. Untuk
keanekaragaman hayati yang ada pada daerah Tulungrejo sangat dijaga dan
dilestarikan dengan baik. Kita dapat membantu melestarikan keanekaragaman
makhluk hidup dengan cara:
a. tidak membunuh hewan dan tumbuhan liar
b. tidak mempermainkan hewan liar dan memetik tumbuhan langka
c. tidak terlalu banyak menggunakan obat-obatan kimia sintetis pada
tanah
d. tidak membuang sampah di sembarang tempat, karena dapat
mengganggu kesehatan hewan jika termakan hewan tersebut
e. tidak membuang limbah ke lingkungan, misal limbah rumah tangga
atau pestisida, karena dapat membahayakan kehidupan hewan dan
tumbuhan yang ada di lingkungan tersebut.

Pemuliaan dan pengembangan lahan budidaya Bapak Imam yaitu


penggunaan sistem pertanian konvensional yaitu penggunaan pestisida dan
pupuk kimia, akan tetapi tetap diimbangi dengan menggunakan pupuk
organik agar tanah yang ada tidak merusak, sehingga budidaya tanaman
dapat berkelanjutan. Informasi mengenai harga untuk penjualan komoditas
hasil pertanian Bapak Imam memperoleh dari kelembagaan (gapoktan)
dan tengkulak. Dan untuk permintaan komoditas biasanya Bapak Imam
melihat keadaan contohnya apabila lebaran akan tiba maka permintaan
akan padi meningkat dan harga tinggi

sehingga Bapak Imam

membudidayakan padi tersebut.


b. Memiliki karakter yang humanistik (manusiawi), artinya semua
bentuk kehidupan baik tanaman, hewan dan manusia dihargai
secara proporsional
Kawasan pertanian adalah kawasan yang sangat baik, Karena
pertanian mencakup semua kegiatan yang melibatkan pemanfaatan
makhluh hidup (tanaman, hewan, dan mikrobia) untuk kepentingan
manusia. Manusia, tanaman dan hewan tetap saling menjaga agar dapat
menikmati keberlangsungan hidup, dan dari ketiga tersebut saling
memanfaatkan contohnya pada hewan dan tanaman, hewan menghasilkan
makan dari tanaman yang ada sedangkan pemupukan tanaman
menggunakan kotoran hewan tersebut dan dari kedua aspek tersebut
manusia

yang

mengaplikasikannya

agar

tetap

simbiosis

atau

memanfaatkan satu sama lain. Dan pada dasarnya manusia tidak merusak
tanaman dan hewan, harus saling mengasihi agar ketersediaan pangan
antara manusia, hewan dan tanaman tetap ada (terjaga). Dan tidak hanya
ketiga aspek tersebut yang diperhatikan melainkan lingkungan adalah
pendukung besar keberlangsungan hidup ketiga aspek tersebut seperti
tanah, air dan udara. Contoh pada tanah, apabila tanah digunakan sebagai
lahan budidaya maka penggunaan pestisida dan pupuk kimia terlalu
berlebih, agar tanah tidak rusak sehingga dapat digunakan untuk budidaya
dalam jangka waktu yang panjang sehingga kesediaan makan dari ketiga
aspek tersebut terpenuhi.

c. Martabat dasar semua mahluk hidup dihormati


Semua bentuk kehidupan tanaman, hewan, dan manusia dihargai.
Martabat dasar semua makhluk hidup dihormati, dan hubungan serta
institusi menggabungkan nilai kemanusiaan yang mendasar, seperti
kepercayaan, kejujuran, harga diri, kerjasama dan rasa sayang. Integritas
budaya dan spiritual masyarakat dijaga dan dipelihara. Maksud dari
pernyataan tersebut bahwa manusia, tanaman dan hewan harus saling
menyayangi dan saling berbagi (memanfaatkan) satu dengan yang lainnya
agar dari ketiga aspek tersebut dapat terjaga keberlangsungan hidupnya.
3.1.3.4. Culturally acceptable (berakar pd budaya setempat)
Berdasarkan hasil pengamatan pada lahan daerah ngantang para
petani mengelola lahan pertanian yang berfungsi sebagai lahan budidaya
tanaman semusim ataupun tanaman tahunan yang kemudian di jual kepada
para tengkulak untuk mendapatkan pendapatan guna memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari.untuk kepemilikan lahan sendiri para masyarakat
memiliki lahan dari warisan orang tua mereka berupa lahan yang telah
dibagi oleh sanak keluarga lainnya sehingga kepemilikan lahan yang
dimiiliki masyarakat cenderung petani berlahan kecil. Masyarakat
mengembangkan budidaya tanaman semusim seperti jagung,sedang untuk
tanaman tahunan yaitu kopi dan alpukat. Untuk dapat mengembangkan
tanaman budidaya di daerah tersebut. Kemudian untuk dapat memenuhi
kebutuhan budidaya tanaman masyarakat lebih memilih untuk membeli
langsung ke toko kios pertanian yang terdapat didaerah tersebut. Para
masyarakat membeli pestisida dan pupuk kimia di toko kimia karena
memang tidak disediakan oleh kelembagaan daerah setempat, kemudian
untuk pupuk kandang masyarakat lebih memilih untuk membuat sendiri
denganmenggunakan kotoran ternak milik mereka.kebutuhan budidaya
masyarakat seperti penyediaan bibit,pupuk kimia ataupun pestisida mereka
mencari sendiri tanpa adanya saling tukar-menukar antar para petani.
Untuk mengetahui informasi pasar tentang komoditas pertanian yang
sedang dibudidayakan masyarakat mengetahui harga pasar dari para
gapoktan ataupun dari para petani lainnya yang biasanya menjual kepada

para tengkulak. Para masyarakat memilih untuk menjual hasil budidaya


tanaman mereka sepenuhnya kepada para gapoktan yang menyediakan jasa
penjualan komoditas pertanian masyarakat sekitar ngantang. Lembaga di
pedesaan lahir untuk memenuhi kebutuhan sosial masyarakatnya. Sifatnya
tidak linier, namun cenderung merupakan kebutuhan individu anggotanya,
berupa : kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan hubungan
sosial, pengakuan, dan pengembangan pengakuan. Manfaat utama lembaga
adalah mewadahi kebutuhan salah satu sisi kehidupan sosial masyarakat,
dan sebagai kontrol sosial, sehingga setiap orang dapat mengatur
perilakunya menurut kehendak masyarakat (Elizabeth dan Darwis, 2003).
Kelembagaan yang ada di daerah ngantang tersebut terdiri dari
kelembagaan sumber makmur yang diketuai oleh pak Prajit,kemudian
kelembagaan rukun makmur,koperasi wanita dan KUD. Para masyarakat
sendiri masih memiliki kesadaran yang kurang dalam suatu kelembagaan
tersebut sehingga fungsi dari kelembagaan dirasakan kurang manfaatnya.
Factor utama penyebab terjadinya kelesuan kelembagaan pertanian adalah
karena tidak tepatnya metoda dan prosedur pembentukan lembaga. Factor
kedua adalah tidak seriusnya pembinaan yang dilakukan yang mengarah
pada peningkatan kualitas sumberdaya manusia petani. Dan bisa juga
dikemukakan factor lainnya seperti kurangnya pantauan dan evaluasi yang
dilakukan oleh para pejabat pengambil kepurusan secara mendalam.
Mereka lebih banyak hanya menerima laporan dan mengetahui kondisi
yang diluar atau permukaannya saja (Daniel,2010). selain itu menurut
(Saptana, dkk, 2003) Kegagalan pengembangan kelembagaan petani
selama ini salah satunya akibat mengabaikan kelembagaan lokal yang
hidup di pedesaan, karena dianggap tidak memiliki jiwa ekonomi yang
memadai. Ciri kelembagaan pada masyarakat tradisional adalah dimana
aktivitas ekonomi melekat pada kelembagaan kekerabatan dan komunitas.
Pemenuhan ekonomi merupakan tanggungjawab kelompok-kelompok
komunal genealogis. Ciri utama kelembagaan tradisional adalah sedikit
kelembagaan, namun banyak fungsi. Beda halnya dengan pada masyarakat
modern yang dicirikan oleh munculnya banyak kelembagaan dengan

fungsi-fungsi yang spesifik dan sempit-sempit. Sudah jelas berdasarkan


literatur bahwa keberadaan dari kelembagaan sangat diperlukan bagi
masyarakat setempat dimana dapat menjadi suatu lembaga yang dapat
menampung aspirasi masyarakat ataupun untuk pengembangan masyarakat
petani sehingga menjadi lebih sejahtera dengan adanya fasilitas
kelembagaan yang mampu menyediakan keperluan para petani dalam hal
budidaya ataupun dapat saling menjadi berinteraksi antar petani dalam
menghadapi permasalahan yang ditemukan dalam lahan budidaya dan
kemudian bisa secara bersama diselesaikan. Sehingga dengan adanya suatu
kelembagaan dalam masyarakat petani maka pengetahuan dan pengalaman
petani dalam melakukan budidaya tanaman akan senantiasa mengalami
perkembangan yang baik ke arah kedepan.
Sedangkan untuk aspek budaya yang terdapat didaerah ngantang
yaitu adat istiadat bersih desa yang merupakan acara selametan di balai
dukuh untuk mengenang para leluhur mereka yaitu selama 5 hari 5 malam
dimana

acara

yang

dilakukan

masyarakat

seperti

tayub

gamelan,dangdutan,kuda lumping,pencak silat dan pengajian pada bulan


besar idul adha. Kemudian sebelum panen masyarakat sendiri melakukan
selametan dan syukuran tumpengan yaitu berfungsi juga sebagai ucap
syukur masyarakat kepada tuhan YME karena mereka telah dapat
menerima hasil dari budidaya tanaman. Untuk tanaman padi masyarakat
memiliki perhitungan pada bulan-bulan yang sesuai untuk tanaman yaitu
pada tanaman padi masyarakat memilih pada awal bulan januari dan bulan
februari untuk musim tanam padi yang baik. (Menurut Bowono,2011)
Pranata Mangsa atau aturan waktu musim biasanya digunakan oleh para
petani pedesaan, yang didasarkan pada naluri saja, dari leluhur yang
sebetulnya belum tentu dimengerti asal-usul dan bagaimana uraian satusatu kejadian di dalam setahun. Walau begitu bagi para petani tetap
dipakai dan sebagai patokan untuk mengolah pertanian. Uraian mengenai
Pranata Mangsa ini diambil dari sejarah para raja di Surakarta, yang
tersimpan di musium Radya-Pustaka.

Masyarakat

melakukan

pengendalian

hama/penyakit

tanaman

dengan menggunakan pestisida kimia yang sesuai dengan batas, dimana


jika hama penyakit dirasakan telah berkurang maka masyarakat
menghentikan penggunaan bahan kimia tersebut,penggunaan pestisida ini
memang sudah berlangsung terus-menerus dari para pengalaman orang tua
yang bermatapencaharian sebagai petani juga.Menurut (BPTP,2011) Jasad
pengganggu tanaman dapat dikendalikan secara baik dengan pestisida pada
dosis (konsentrasi dan jumlah volume cairan semprot) yang dianjurkan
sesuai alat aplikasi yang akan digunakan. Konsentrasi pestisida dinyatakan
dalam volume formulasi pestisida di dalam satu liter air. Tepat dosis,
konsentrasi yang tepat sangat berhubungan dengan dosis aplikasinya.
Dosis aplikasi dinyatakan dengan banyaknya bahan aktif pestisida yang
digunakan pada areal seluas satuan tertentu atau banyaknya cairan semprot
per satuan luas tertentu. Dosis yang kurang akan menyebabkan hama yang
diaplikasi tidak mati, bahkan akan menjadi kebal karena kemampuannya
beradaptasi terhadap pestisida yang kurang efektif tersebut.Berdasarkan
literatur yang didapatkan dari BPTP penggunaan pestisida memang harus
sesuai dengan dosis yang dianjurkan,jika dosis kurang maka hama akan
menjadi kebal akan tetapi jika dosis yang digunakan terlalu banyak maka
akan terjadi pencemaran lingkungan. Sehingga pengetahuan petani dalam
hal penggunaan pestisida sangat dibutuhkan agar tepat sasaran.
Kemudian untuk wilayah daerah ngantang masyarkat mengatakan
bahwa tidak ada kegiatan gotong-royong ataupun kerjasama dalam
melakukan panen,sehingga masyarakat cenderung melakukan sendirisendiri. Selain itu masyarakat memiliki tokoh panutan dalam usaha
budidaya tanaman yaitu adalah bapak Kusnan seorang petani sayuran yang
sangat terkenal di daerah ngantang, diyakini masyarakat beliau mampu
melakukan usaha budidaya sayuran dengan baik dan mau berbagi
pengetahuan dengan masyarakat sekitar ataupun membantu dalam
mengatasi masalah para petani dengan memberikan nasehat kepada para
petani.para petani cenderung sulit untuk mengikuti perkembangan
teknologi yang ada jika manfaatnya dirasakan kurang,sehingga perlu

adanya contoh real yang menguntungkan sehingga para petani tertarik


untuk mengubah cara budidaya ataupun penggunaan teknologi yang
digunakan. Yang hidup di desa, baik yang berupa elemen lunak (soft
element) seperti manusia dengan sistem nilai, kelembagaan, dan
teknostrukturnya, maupun yang berupa elemen keras (hard element)
seperti lingkungan alam dan sumberdayanya, merupakan identitas dinamis
yang senantias menyesuaikan diri atau tumbuh dan berkembang (Syahyuti,
2007).

3.2. Pembahasan Umum


3.2.1. Keberlanjutan Sistem Pertanian di Lokasi Pengamatan
Tabel 35. Indikator keberhasilan pertanian di lokasi pengamatan
Indikator

Plot 1

Plot 2

Plot 3

Plot 4

Produksi

vvv

vvv

Vvv

vvv

Air

Karbon

vvv

vvv

Hama

Gulma

Keberhasilan

Keterangan : v=kurang; vv=sedang; vvv=baik; vvvv=sangat baik


Plot 1 = Perkebunan Pinus, Plot 2 = Agroforestri, Plot 3 = Tanaman Semusim,
Plot 4 = Pemukiman
Berdasarkan hasil fieldtrip yang di laksanakan pada 23 November 2013 di
Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang. Dilihat dari sisi produksi pada plot 1
hingga plot 4, produktivitas lahan cukup tinggi, karena lahan masih mampu untuk
memberikan output berupa hasil pertanian yang tinggi. Hasil produksi tersebut
digunakan petani untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Hasil
produktifitas tersebut diketahui berdasarkan wawancara dengan petani, kemudian
data yang diperoleh dari wawancara tersebut dianalisis.
Dari segi kualitas air dapat dilihat bahwa kualitas air didaerah tersebut
masih kurang. Hal ini dapat diketahui berdasarkan pengamatan yang dilakukan

pada parameter suhu, pH, DO dan kedalaman sungai. Berdasarkan parameter


tersebut pHnya tergolong asam, DO nya masih sedang karena berada pada kisaran
0-5, dan untuk kedalaman sungainya masih rendah yakni 30-36 cm. Menurut
Munir (2010), kedalaman suatu perairan dapat berpengaruh terhadap jumlah
organisme yang ada. Naiknya tinggi permukaan air dan kecepatan arus sungai
dapat menyebabkan substrat-substrat yang ada disungai mudah terkoyak dan
terbawa arus, sehingga tingkat kecerahan menjadi berkurang atau sungai menjadi
lebih keruh.
Peran masyarakat sangat diharapkan dalam menunjang keseimbangan
kadar pH dalam air. Apabila kandungan pH rata-rata sangat rendah maka kualitas
air buruk dan tidak layak dipergunakan. Air yang sudah terkontaminasi zat-zat
kimia banyak mengandung zat asam contoh: karbondioksida. Apabila kadar pH
tinggi berarti tingkat kandungan basa kuat. Kadar pH dapat dipengaruhi oleh
faktor alami dan faktor manusia. Pengendapan mineral tanah dan zat-zat asam dari
air hujan merupakan faktor alami siklus kadar asam. Faktor pendorong terjadinya
tingkat pencemaran terbesar yaitu aktivitas manusia sehari-hari.
Untuk cadangan kabon hanya plot 1 dan plot 2 yang mampu cukup baik
menyerap karbon hal ini disebabkan karena pada plot 1 dan 2 merupakan tanaman
tahunan yang memiliki daya serap yang tinggi, sedangkan untuk plot 3 dan 4
hanya dapat menyerap karbon rendah karena merupakan tanaman semusim.
Karbon yang diserap oleh tanaman disimpan dalam bentuk biomasa kayu,
sehingga cara yang paling mudah untuk meningkatkan cadangan karbon adalah
dengan menanam dan memelihara pohon (Lasco et al., 2004).
Sedangkan untuk hama dan gulma pada plot 1 hingga plot 4 masih
tergolong rendah apabila dilihat dari segi keberlanjutannya. Hal ini dikarenakan
dalam system budidaya, para petani melakukan pengendalian terhadap hama dan
gulma. Untuk mengendalikan hama petani, menggunakan pestisida kimia dan
mengendalikan gula petani sendiri menggunakan herbisida atau secara mekanik
yaitu mencangkul hama atau mentraktor lahan sekalian mengolah tanahnya.
Jadi lansekap yang kami kunjung ini belum termasuk ke dalam lansekap
yang menerapkan pertanian berlanjut. Hal ini dapat kami katakan karena dalam
pelaksanaannya pertanian pada lansekap tersebut masih menggunakan pupuk dan

pestisida kimia pada lahan budidaya, dengan adanya praktek tersebut maka akan
mencemari baik tanah maupun air yang berada pada lansekap, selain itu
pembukaan lahan besar-besaran pada era orde baru yang digunakan sebagai lahan
monokultur maka berdampak pada penurunan serapan karbon yang berakibat
tingkat polusi yang semakin tinggi. Dilihat di lapang tidak ada koridor sebagai
sarana perpindahan serangga dari satu plot ke plot yang lain.
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

LAMPIRAN
1. Sketsa Transek Lokasi Pengamatan (Plot 2)

2. Sketsa Transek Skala Lanskap (Konfigurasi Penggunaan Lahan)