Anda di halaman 1dari 9

Terapi Perilaku Kognitif pada Pasien Kanker

BAB 1

KANKER

1.1. Apa itu Kanker?

anker adalah penyakit yang tidak mengenal status sosial dan


dapat manyerang siapa saja dan muncul akibat pertumbuhan
tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel
kanker dalam perkembangannya.
Sel kanker berbahaya karena dapat menyebabkan
kematian baik secara langsung maupun tidak langsung (Laszlo
dalam Sarafino, 1998). Sel kanker tumbuh dengan cepat,
sehingga sel kanker pada umumnya cepat menjadi besar. Di
samping itu, sel kanker dapat menyebar (metastasis) ke bagian
alat tubuh lainnya yang jauh dari tempat asalnya melalui pembuluh
darah dan pembuluh getah bening sehingga tumbuh kanker baru
di tempat lain. Penyeberan sel kanker ke jaringan sehat pada alat
tubuh lainnya dapat merusak alat tubuh tersebut sehingga fungsi
alat tersebut menjadi terganggu.
Awalnya kanker tidak menimbulkan keluhan karena hanya
melibatkan beberapa sel. Bila sel kanker bertambah, maka
keadaan bergantung kepada orang yang terkena. Misalnya, pada
usus berongga besar, tumor harus mencapai ukuran besar
sebelum memicu keluhan (Familiys Doctor, 2006). Pada taraf
stadium lanjut sel kanker menyebar sampai ke organ vital seperti

Bab 1. Kanker

otak atau paru lalu mengambil nutrisi yang dibutuhkan oleh organ
tersebut, akibatnya organ itu rusak dan mati.

1.2. Epidemi
Dari data WHO diketahui, setiap tahun jumlah penderita
kanker di dunia bertambah menjadi 6,25 juta orang. Di negara
maju, kanker merupakan penyebab kematian nomor dua setelah
penyakit-penyakit kardiovaskuler. Sepuluh tahun mendatang,
diperkirakan 9 juta orang di seluruh dunia akan meninggal karena
kanker setiap tahunnya (Familiys Doctor, 2006).
Gumawan Achmad seorang ginekolog (Kompas, 2001)
menyatakan bahwa dua pertiga dari penderita kanker di dunia
berada di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Hal ini
sejalan dengan pernyataan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
pada Kabinet Indonesia Bersatu, Siti Fadilah Supari dalam
sambutannya ketika membuka Temu Ilmiah Dokter Bedah
Onkologi Indonesia ke-1 (1st International Scientific Meeting di
Indonesi Society of Surgical Oncologyst/ISSO), menyatakan
bahwa jumlah pasien kanker di Indonesia mencapai 6% dari 200
juta lebih penduduk Indonesia (Media Indonesia, 2005). Bahkan
telah diperkirakan bahwa menjelang permulaan abad ke-21, peta
penyakit di Indonesia akan mendekati peta penyakit di negara
maju dimana penyakit kanker berada pada urutan ketiga penyebab
terjadinya kematian setelah penyakit kardiovaskuler dan
kecelakaan (Tambunan, 1995).
Walaupun demikian, apabila penyakit ini dapat dideteksi
pada tahap awal, maka lebih daripada separuh penyakit kanker
dapat dicegah, bahkan dapat disembuhkan (KBI Gemari, 2003).
Sayangnya hasil diagnosis kanker menyatakan bahwa 80%
penderita kanker ditemukan pada stadium lanjut, yakni stadium 3
dan 4 (Kompas, 2002). Pada tahap ini kanker sudah menyebar ke
bagian-bagian lain di dalam tubuh sehingga semakin kecil peluang
untuk sembuh dan pulih, dan berkemungkinan langsung tidak

Terapi Perilaku Kognitif pada Pasien Kanker

akan sembuh. Keadaan di atas menjadi salah satu penyebab


meningkatnya penyakit kanker di Indonesia.
Oleh karena sangat pesatnya pertambahan penderita
kanker di Indonesia, sangat penting bagi masyarakat untuk
menghindari penyakit kanker dengan mengetahui faktor-faktor
risiko penyebab kanker.

1.3.

Penyebab Kanker

Ada empat faktor utama penyebab kanker seperti


lingkungan, makanan, biologis, dan psikologis. Berikut ini adalah
penjelasan mengenai keempat faktor penyebab kanker tersebut,
yaitu:

1.3.1. Lingkungan
a. Bahan kimia
Zat yang terdapat pada asap rokok yang dapat
menyebabkan kanker paru pada perokok aktif dan perokok pasif
(orang yang bukan perokok atau tidak sengaja menghirup asap
rokok orang lain) dalam jangka waktu yang lama (Familys Doctor,
2006).
b. Penyinaran yang berlebihan
Sinar ultra violet yang berasal dari matahari dapat
menimbulkan kanker kulit. Sinar radio aktif sinar X yang berlebihan
atau radiasi dapat menimbulkan kanker kulit dan leukimia
(Familys Doctor, 2006).
c. Merokok
Menurut Yayat Sutratmo (Majalah Bulan Kabari dalam
www.kabari news.com) perlu diketahui bahwa rokok putih
bertanggung jawab 90% dari semua kasus kanker paru-paru yang
menjadi penyebab utama kematian baik dari wanita daripada pria.

Bab 1. Kanker

d. Polusi udara
Menurut Chen Zichou (www.antara.co.id) seorang ahli
Institut Penelitian Kanker mengatakan, penyebab utama
meningkatnya jumlah kanker di China disebabkan polusi udara,
lingkungan, dan kondisi air yang kian hari kian memburuk.

1.3.2. Makanan
Makanan
yang
dapat
menyebabkan
kanker
(www.susukolostrum.com) adalah:
a. Daging yang mengandung hormon sex buatan (DES or
Diethylstilbestrol).
b. Bahan pemanis buatan seperti biang gula dan saccharin.
c. Nitrosamines pada bahan-bahan pengawet buatan, dan bahan
pewarna buatan, yang umumnya dipakai dalam produk daging,
yang telah diproses dan juga banyak dalam produk makanan
kaleng.
d. Zat pewarna yang ada dalam makanan, minuman, kosmetik,
maupun obat obatan.
e. Zat radioaktif yang sekarang ini terdapat hampir di seluruh
bulatan bumi sebagai akibat dari percobaan bom atom serta
peledakan bom, yang masuk dalam tubuh manusia melalui
makanan, khususnya susu.
f. Kebanyakan makan garam.
g. Makanan yang sudah menjadi Tengik.

1.3.3. Biologi
a. Virus
Salah satu virus yang dapat menyebabkan kanker adalah
virus HIV (human immunodefiency virus). Dimana virus HIV
(human immunodefiency virus) ini dapat merusak sistem
kekebalan tubuh. Akibatnya wanita yang terinfeksi virus HIV
(human immunodefiency virus) akan rentan terhadap infeksi HPV
(human papillomavirus) (Familys Doctor, 2006).

Terapi Perilaku Kognitif pada Pasien Kanker

b. Hormon
Hormon adalah zat yang dihasilkan kelenjar tubuh yang
fungsinya adalah mengatur kegiatan alat-alat tubuh dan selaput
tertentu.
c. Keturunan
Sejumlah penelitian menemukan bahwa sekitar 5% dari
kasus kanker diakibatkan oleh faktor keturunan. Faktor keturunan
ini memang susah untuk dihindari. Tetapi sejauh apa peranan gen
yang abnormal masih belum diketahui (Misky, 2005).

1.3.4. Psikologis
a. Kepribadian
Orang dengan tipe kepribadian tertutup termasuk tipe yang
mudah terkena stres. Akibatnya mereka akan memiliki risiko tinggi
untuk
terkena
penyakit
kanker
dan
jantung
(dalam
www.bemfhui.com).
b. Stres
Salah satu sebab menurunnya kekebalan tubuh
(immunitas) adalah adanya stres dan kondisi stres ini akan
melemahkan respon imunitas. Menurunnya sistem imunitas ini
mempermudah masuknya sel-sel kanker menyerang tubuh,
karena kemampuan sel tersebut untuk mengenal dan melawan
musuh tidak dapat berfungsi secara baik. Hal ini dapat dijelaskan
dari Gambar 1.
Dari Gambar 1 dapat dijelaskan bahwa pengaruh stres dan
konflik yang dialami oleh individu serta karateristik kepribadian
sangat berperan dalam timbulnya kanker.

Bab 1. Kanker

Stres
Konflik Psikologis
Karateristik Kepribadian

Kematian

Konsekuensi psikologis:
Depresi, Penolakan,
Marah, Cemas

Diagnosis/
Treatmen
Respon Endokrin

Tumor/
Kanker

Perubahan Sistem Kekebalan

Gambar 1. Pengaruh psikososial terhadap timbulnya kanker (Sumber:


Prokop, C.K. Bradley, L.A. 1981. Medical Psychology.
Cotributions to Behavioral Medicine. New York: Academic
Press).

1.4. Kondisi Psikologis


Penderita Kanker

yang

Dialami

oleh

Pada pasien penderita kanker dimana ketika dokter


mendiagnosis bahwa seseorang menderita penyakit berbahaya
seperti kanker, secara umum ada tiga bentuk respon emosional
yang bisa muncul pada pasien penyakit kronis seperti kanker,
yaitu penolakan, kecemasan, dan depresi (Taylor, 1988). Dalam
keadaan tersebut sangat sulit bagi pasien kanker untuk dapat
menerima dirinya karena keadaan dan penanganan penyakit
kanker ini dapat menimbulkan stres yang terus-menerus, sehingga
tidak hanya mempengaruhi penyesuaian fisik tapi juga
penyesuaian psikologi individu (Lehmann, deLisa, Warren,
deLateur, Bryant, and Nicholson, 1978).

Terapi Perilaku Kognitif pada Pasien Kanker

Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh Utami &


Hasanat (1998) menunjukkan ketika mengetahui bahwa mereka
menderita kanker, pasien kanker akan mengalami kondisi
psikologis yang tidak menyenangkan, misalnya merasa kaget,
cemas, takut, bingung, sedih, panik, gelisah atau merasa sendiri,
dan dibayangi oleh kematian. Kecemasan meningkat ketika
individu membayangkan terjadinya perubahan dalam hidupnya di
masa depan akibat dari penyakit yang diderita ataupun akibat dari
proses penanganan suatu penyakit. Kadangkala proses
penanganan kanker sangat membebani pasien dibandingkan
penyakitnya sendiri, misalnya proses radiasi dan obat-obatan yang
digunakan untuk membunuh sel kanker tenyata dapat
mengakibatkan kerusakan tubuh bahkan bepotensi untuk
menyebabkan hilangnya fungsi tubuh yang tidak dapat diperbaiki
(Burish, 1987). Proses penanganan kanker juga disertai dengan
rasa sakit, kecemasan, disfungsi seksual, dan kemungkinan
perawatan di rumah sakit dalam jangka waktu yang lama (Redd &
Jacobsen, 1988).
Perawatan di rumah sakit merupakan salah satu hal yang
cukup mencemaskan bagi pasien, misalnya ketika akan dilakukan
operasi dan merasa tidak nyaman atau mengalami rasa sakit
setelah dilakukannya operasi. Setelah operasi, penderita kanker
seringkali mengalami perasaan kecewa ketika harus kehilangan
salah satu organ tubuh. Hal lainnya, pendekatan yang tidak
personal dari dokter, perawat ataupun pegawai rumah sakit
menyebabkan pasien merasa hanya menjadi objek pemeriksaan
semata. Dalam kondisi demikian, pasien seringkali mengalami
kehilangan identitas diri dan kehilangan kontrol atas tubuh,
lingkungan fisik, dan sosialnya, sehingga membuat pasien kurang
nyaman menjalani pemeriksaan dan perawatan di rumah sakit.
Meskipun reaksi psikologis terhadap diagnosis penyakit
dan penanganan kanker sangat beragam dan keadaan serta
kemampuan masing-masing penderita tergantung pada banyak
faktor, namun ada enam reaksi psikologis utama (Prokop, 1991)
yang biasanya muncul yaitu kecemasan, depresi, perasaan
kehilangan kontrol, gangguan kognitif atau status mental

Bab 1. Kanker

(impairment), gangguan seksual serta penolakan terhadap


kenyataan (denial). Jay, Elliot & Varni (1986) menyatakan bahwa
profil psikologis pasien yang datang pada pemeriksaan medis
menunjukkan tingginya tingkat kecemasan, rasa marah, dan
keterasingan.
Menghadapi penderitaan fisik dan mental akibat penyakit
yang parah seperti kanker, umumnya pasien akan memiliki
penerimaan diri yang rendah, harga diri yang rendah, merasa
putus asa, bosan, cemas, frustasi, tertekan, dan takut kehilangan
seseorang (Charmaz dalam Radleay, 1994). Banyak penelitian
menunjukkan pasien kanker akan mengalami masalah harga diri
rendah (Berter, 2002; Carpenter, Brockop, & Andrykowski, 1999;
Kurnia, 1995; Cocker, Bell, & Kidmans, 1994; Edelman, Bell, &
Kidman, 1999; Curbow, Somerfield, Legro, & Sonnega, 1990;
Trunzo & Pinto, 2003; Carpenter, Brockopp, & Andrykowski, 1999;
Symister, & Friend 2003; Helgeson, Lepore, & Eton, 2006).
Jika perasaan-perasaan rendah tersebut dirasakan pasien
dalam waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan depresi. Oleh
sebab itu, pasien kanker biasanya mengalami sakit dua kali lipat
dari kebanyakan penyakit lain, yakni selain menderita penyakit
kanker itu sendiri mereka juga menderita depresi (Keitel & Kopala,
2000). Penelitian yang dilakukan oleh Hadjam (2000) terhadap
pasien kanker menemukan bahwa pasien yang mengalami kanker
memperlihatkan adanya stres dan depresi yang ditunjukkan
dengan perasaan sedih, putus asa, pesimis, merasa diri gagal,
tidak puas dalam hidup, merasa lebih buruk dibandingkan dengan
orang lain, penilaian rendah terhadap tubuhnya, dan merasa tidak
berdaya.
Kemungkinan terjadinya gangguan psikologi seperti
depresi, kecemasan, kemarahan, perasaan tidak berdaya dan
tidak berharga dialami antara 23%-66% pasien kanker.
Diperkirakan saat ini ada sekitar 25% pasien kanker yang
mengalami depresi berat (Sinar Harapan, 2003). Banyak penelitian
juga menunjukkan pasien kanker mengalami masalah depresi
yang berat (Antoni, Lehmann, Kilbourn, Boyers, Culver, Alferi,
Yount, Mc Gregor, Arena, Harris, Price, & Carver, 2001;

Terapi Perilaku Kognitif pada Pasien Kanker

Blackburn, Bishop, Glen, Whalley, & Christie, 1981; Ciaramella, &


Poll 2001; Evans, & Connis, 1995; Hipkins, Whitworth, Tarrier, &
Jayson G, 2004; Hopko, Bell, Armento, Hunt, & Lejuez, 2005;
Love, Love, Grabsch, Clarke, Bloch, David, & Kissane, 2004;
Osborn & Demoncada, 2006; Spiegel & Giese, 2003; Wong-Kim, &
Bloom, 2005).