Anda di halaman 1dari 119

LABORATORIUM PEDOLOGI DAN SISTEM INFORMASI SUMBERDAYA LAHAN

Panduan Fieldtrip
MK. Survei Tanah dan Evaluasi Lahan
Christanti Agustina, SP

MINAT MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN


JURUSAN TANAHFAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2013

PENGANTAR
Buku panduan ini disusun sebagai acuan pelaksanaan fieldtrip lapangan dan lembar
kerja kegiatan di lapangan. Kegiatan ini mengacu pada kegiatan praktikum Survei Tanah dan
Evaluasi Lahan yang dimulai dari : pembuatan peta kerja, identifikasi kondisi sumberdaya
lahan di lapangan, interpretasi data, dan pembuatan laporan survei.
Adanya buku panduan ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan
dan memudahkan bagi peserta praktikum untuk mengimplementasikan kegiatan survei tanah
dan evaluasi lahan.

DAFTAR ISI
PENGANTAR ............................................................................................................................ i
DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
Pembuatan Peta Kerja ................................................................................................................ 1
Survei Lapangan: Deskripsi Morfologi Tanah .......................................................................... 5
Survei Lapangan: Identifikasi Kondisi Lahan ......................................................................... 11
Survei Lapangan: Interpretasi Kesuburan Tanah di Lapangan ................................................ 14
Analisis Data Iklim .................................................................................................................. 17
Evaluasi Lahan ......................................................................................................................... 20
Lembar Kerja-1 (Fieldtrip 1) ................................................................................................... 24
Lembar Kerja-2 (Fieldtrip 2) ................................................................................................... 32
Lembar Kerja-3 (Fieldtrip 3) ................................................................................................... 41
Titik 1 ............................................................................................................................... 41
Titik 2 ............................................................................................................................... 51
Titik 3 ............................................................................................................................... 61
Titik 4 ............................................................................................................................... 71
Titik 5 ............................................................................................................................... 81
Titik 6 ............................................................................................................................... 91
Titik 7 ............................................................................................................................. 101
Lampiran : Kriteria Kesesuaian Lahan .................................................................................. 112
Padi Gogo (Oryza sativa) ............................................................................................... 112
Jagung (Zea mays) .......................................................................................................... 113
Kacang tanah (Arachis hypogea) .................................................................................... 114
Kelapa (Cocos nicifera L.).............................................................................................. 115
Ubi Kayu (Manihot esculenta) ....................................................................................... 116

ii

Pembuatan Peta Kerja


1. Pendahuluan
Peta kerja merupakan suatu peta yang disusun berdasarkan peta dasar yang berupa peta
rupa bumi, foto udara, dan atau citra satelit, dan digunakan sebagai peta acuan dalam
melakukan survei di lapangan. Peta kerja disusun dengan melakukan teknik tumpang tindih
peta dasar dengan tingkat skala peta dua kali lebih besar dari peta hasil untuk menentukan
unit lahan di lokasi survei. Peta dasar yang digunakan dapat berupa peta cetak (peta analog)
maupun peta digital.
2. Alat alat
Peralatan yang digunakan dalam penyusunan peta kerja antara lain :
a. Komputer
b. Scanner
c. Software Pemetaan (ArcGIS 9.3)
3. Bahan bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penyusunan peta kerja antara lain :
a. Peta rupa bumi
b. Peta geologi
c. Peta sistem lahan
d. Citra satelit
e. Foto udara
4. Cara Kerja :
Langkah-langkah dalam penyusunan peta kerja terbagi dalam 3 tahapan, yaitu :
scanning, digitasi, dan tumpang tindih peta (overlay).
1. Scanning
Scan peta analog menggunakan scanner,
Atur resolusi peta dalam ukuran 300 dpi,
Atur scan peta sehingga ada pertampalan di tiap bagian peta yang discan,
Gabung tiap bagian peta menjadi satu bagian utuh peta analog yg telah discan
menggunakan photoshop.
2. Digitasi
Rektifikasi / Georeference
- Buka ArcMap, Pilih A new empty map klik OK
- Add Data. Masukkan file peta analog ke dalam arcmap, Klik Add
- Aktifkan toolbar Georeferencing. Klik kanan pada toolbar dan pilih
Georeferencing. Akan muncul toolbar georeferencing di layar
- Tambahkan titik kontrol dari peta analog dengan memasukkan koordinat peta
dari tiap pojok peta analog. Zoom pojok kiri atas peta.
- Arahkan ke pertemuan koordinat X,Y di pojok kiri atas. Klik kiri.
- Klik kanan, lalu klik kiri pada Input X and Y, masukkan koordinat X =
6665367 dan Y = 9129224 pada kolom X dan Y. Lakukan langkah untuk
tiap pojok peta analog.
- Setelah selesai zoom to layer, dan buka view link table (klik )
Tiap koordinat yg telah dimasukkan akan muncul di Link Table. Total RMS
Error menunjukkan tingkat keakuratan posisi peta, semakin besar nilainya
makan posisi peta kurang tepat.

Apabila terjadi salah pengisian koordinat, entri data pada table ini dapat
dihapus sekaligus secara bersamaan, sehingga memudahkan dalam
melakukan koreksi.
- Klik OK
- Update georeferencing dengan klik tombol georeferencing pilih update
georeferencing.
- Simpan hasil georeference dengan meng-klik Rectify pada toolbar
Georeferencing.
- Selanjutnya akan muncul kotak dialog Save As. Dan isilah nama output file
hasil rektifikasi
- Kemudian klik tombol Save untuk menjalankan proses rektifikasi. Tunggu
beberapa saat sampai proses rektifikasi selesai.
Membuat Layer atau Shapefile
Langkah langkah untuk memulai digitasi onscreen adalah sebagai berikut
berikut ini :
- Identifikasi terlebih dahulu objek-objek yang akan didigitasi.
- Setelah objek teridentifikasi, buatlah shapefile untuk masing-masing kategori
objek melalui ArcCatalog. Untuk membuka ArcCatalog klik menu
ArcCatalog di menu toolbar.
- Setelah ArcCatalog terbuka, masuklah ke dalam folder dimana shapefile yang
akan dibuat ingin disimpan. Pada contoh berikut kita akan menyimpan
shape file yang akan dibuat di folder 2. GEOREFERENCE di drive
D:\PRAKTIKUM GIS\.
- Klik kanan jendela sebelah kanan ArcCatalog, kemudian akan muncul
beberapa pilihan, kemudian klik New > pilih Shapefile.
- Kemudian akan muncul jendela Create New Shapefile. Isikan nama
shapefile yang akan dibuat di text box Name, dan tentukan jenis feature
(Feature Type) di dropdown list Feature Type.
- Misalkan Anda akan mendigitasi objek jalan, maka isikan Jalan dalam text
box Name, kemudian pilih Polyline di dropdown list Feature Type sebagai
jenis feature-nya.
- Feature Type atau jenis feature merupakan representasi objek-objek dalam
dunia nyata ke dalam bentuk geometri yang lebih sederhana. Misalnya
untuk objek yang memanjang seperti jalan, pipa air, telkom, jaringan listrik,
dan lain-lain direpresentasikan dalam betuk garis (Line/Polyline). Untuk
objek-objek yang berbentuk luasan seperti sawah, kolam, rumah, batas
desa, dan lain-lain direpresentasikan dalam bentuk Polygon. Untuk objekobjek yang berbentuk titik-titik seperti tower, tiang listrik, sumur bor, dan
lain lain dipresentasikan dalam bentuk Point.
Menentukan Sistem Koordinat Shapefile
- Untuk menentukan sistem koordinat shapefile yang akan dibuat, tekan tombol
Edit, kemudian akan muncul jendela Spatial Reference Properties seperti
tampak pada gambar di bawah ini :

- Tekan tombol Select, sehingga muncul jendela Browse for Coordinat


System, kemudian pilih pilihan Projected Coordinate Systems seperti
gambar berikut. Tentukan sistem koordinat Jawa Timur, yaitu UTM
(Universal Transverse Mercator) zone 49S, dengan datum WGS 1984,
maka pilih UTM, kemudian pilih WGS 1984, setelah itu pilih WGS 1984
UTM Zone 49S.prj.
- Shapefile Jalan.shp telah selesai dibuat.
Digitasi
- Setelah shapefile dibuat, selanjutnya siap untuk dilaksanakan proses digitasi.
Buka kembali ArcMap, kemudian tambahkan shapefile-shapefile yang akan
digitasi, mengunakan tombol Add Data.
- Untuk memulai digitasi, klik tombol untuk menampilkan toolbar Editor. Pilih
menu Editor > Start Editing
- Kemudian akan muncul jendela seperti gambar di bawah ini. Dalam jendela
tersebut akan muncul nama-nama layer yang akan diedit yang berada dalam
satu folder yang sama. Tekanlah tombol Start Editing untuk memulai
digitasi.
- Pada Menu utama pilih View > Toolbars > Editor, kemudian pilihlah layer
yang akan didigitasi di dropdown list Target. Misalnya layer jalan, pada
dropdown list Task pastikan Anda memilih Create New Feature. Kemudian
pilih tombol Sketch Tool.
- Untuk memulai digitasi arahkan mouse ke objek jalan dalam gambar, klik
pada sebuah titik permulaan, kemudian ikuti sepanjang jalan tersebut
dengan mouse, klik pada tiap-tiap belokan atau persimpangan jalan (setiap
klik akan menghasilkan vertex), sehingga tergambar garis hasil digitasi
tersebut.
- Untuk mendigitasi layer-layer yang lain, ganti nama layer pada menu Target di
toolbar menu Editor.
- Untuk menghentikan digitasi, cukup double click pada titik akhir digitasi.
- Untuk menyimpan hasil digitasi, klik menu Editor > Save Edits. Untuk
menghentikan digitasi pilih Stop Editing.
Memasukkan Data Atribut
- Klik kanan pada layer Lokasi, pilih Open Attribute Table.
- Tambahkan Field baru dengan klik tombol Options
- Akan muncul window Add Field. Pada kotak Name isikan Bangunan, pada
Type pilih Text. Klik OK.
- Mulai Start Editing lagi, kemudian pilih feature yang akan diberi data atribut
menggunakan tombol Edit Tool . Klik pada tiap titik di map display,
sehingga tersorot warna biru pada display dan tabel.
- Ketik nama bangunan yang tertera pada gambar di field Bangunan.
- Lakukan hal yang sama pada tiap feature titik di map display.
- Simpan shapefile Editor > Save Edit > Stop Editing.
- Data atribut telah diisi.

3. Overlay
- Buka Analysis Tools > Overlay > Intersect.
- Again, select peta asal dan peta kedua sebagai fitur input.
- Buat nama fitur baru sebagai hasil overlay
- Setelah Anda memilih kedua layer, klik OK. Dalam hal ini, urutan yang Anda
pilih layer tidak penting, karena output hanya akan berisi geometri yang
terpotong dengan geometri umum semua set data input.
- Buka tabel atribut untuk layer baru. Perhatikan bahwa ada kolom untuk kedua
masukan layer.

Survei Lapangan: Deskripsi Morfologi Tanah


1. Pendahuluan
Kegiatan survei lapang ditujukan untuk mengetahui sebaran jenis tanah dan bentang
lahan di lokasi studi, dengan cara identifikasi lokasi dengan mengacu pada panduan survei
yang baku. Informasi yang didapatkan dari kegiatan ini adalah : 1) Informasi bentang lahan
pada unit lahan yang berbeda, terdiri dari fisiografi (pola dan kondisi drainase), relief
(kemiringan lahan, panjang dan bentuk lereng), bahan induk, jenis tanaman, penggunaan
lahan, bahaya erosi, dan sebagainya; 2) Informasi morfologi tanah pada unit lahan yang
berbeda, terdiri dari kedalaman tanah, batas horison, warna, tekstur, struktur, karatan,
konkresi, jenis dan jumlah bantuan, dan ciri-ciri lain yang sebagai penciri khusus tanah; 3)
Pengecekan batas satuan peta landsystem; 4) Korelasi tanah, melalui modifikasi atau
pembetulan batas satuan peta berdasarkan perbedaan tanah yang dijumpai di lapang atau
laboratorium. Korelasi antara fisiografi, kenampakan foto dan kondisi tanah dibuat lebih jelas
pada daerah survei dan membetulkan beberapa kesalahan.
2. Alat alat
Peralatan yang digunakan dalam penyusunan peta kerja antara lain :
a. Bor Tanah (Auger/Core)
b. Cangkul, sekop, garpu tanah
c. Meteran
d. Pisau belati
e. Palu geologi
f. Munsell Soil Color Chart
g. Pengukur pH
h. Loop
i. Botol semprot
j. Handboard
k. Cetok
l. Abney level atau Clinometer
m. GPS (Global Position System)
3. Bahan bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penyusunan peta kerja antara lain :
a. HCl
b. Kertas Lakmus
c. Air
4. Cara Kerja :
Penentuan Titik Pengamatan
a. berada jauh dari lokasi penimbunan sampah, tanah galian atau bekas bangunan,
kuburan atau bahan-bahan lainnya.
b. Berjarak > 50m dari pemukiman, pekarangan, jalan, saluran air dan bangunan
lainnya.
c. Jauh dari pohon besar, agar perakaran tidak menyulitkan penggalian profil.
d. Pada daerah berlereng, profil dibuat searah lereng.

Prosedur Deskripsi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan pengamatan atau deskripsi
profil tanah, adalah sebagai berikut:
a. sisi profil yang akan diamati harus bersih dan tidak ternaungi
b. hindari pengamatan kondisi fisik (warna) dalam kondisi hujan atau pada waktu
sinar matahari kurang terang. (max pukul 4 sore).
c. Jika keadaan tanah kering, sebaiknya sisi profil yang diamati dibasahi dengan air
(kondisi lembab).
d. Jika air tanahnya dangkal, maka air harus selalu dikuras agar tidak mengganggu
pengamatan.
Tahapan deskripsi tanah :
a. Buat batas berdasarkan kenampakan perbedaan-perbedaan yang terlihat secara jelas,
misalnya warna tanah.
b. Gunakan pisau lapang untuk menusuk-nusuk bidang profil tanah untuk mengetahui
konsistensi atau kepadatan keseluruhan profil. Perbedaan kepadatan merupakan
salah satu kriteria untuk membedakan horizon profil.
c. Apabila warna tanah, kepadatan dan tekstur tanah sama, maka perbedaan
konsistensi, struktur, kenampakan redoksimorfik dapat digunakan sebagai dasar
penarikan batas horizon.
d. Setelah horizon ditentukan , letakkan meteran tegak lurus bidang profil tanah dan
jangan lupa pasang sabuk profil. Kemudian foto bidang profil yang diamati.
e. Tentukan tebal penampang horizon menggunakan meteran yang telah terpasang.
f. Tentukan karakteristik tanah, yaitu :
Nomor Horison
Penomoran horizon menggunakan numeric dimulai dari angka 1 untuk horizon
paling atas.
Simbol Horison
Penyimbolan horizon mengikuti kaidah yang telah ditentukan dalam sistem
klasifikasi tanah menurut USDA (1999). Notasi yang diberikan mengikuti
batasan berikut ini :
- Diskontinyu (discontinuities) : untuk menduga diskontinyuitas litologi,
berikan nomor didepan symbol horizon. Sebagai contoh, jika horizon C
berbeda dengan bahan horizon yang berbatasan maka simbolnya menjadi A,
B, 2C. Lapisan yang sangat kontras di dalam horizon C dapat disajikan
dalam symbol A, B, C, 2C, 3C, dst.
- Master Horizon dan Lapisan : huruf kapitas O, A, E, B, C, dan R adalah
master horizon dan lapisan dalam tanah. Konbinasi dari dua huruf capital
digunakan untuk horizon peralihan, sebagai contoh AB, BA, CR. Huruf
capital pertama menunjukkan horizon yang lebih dominan. Horizon dengan
dua bagian yang berbeda dituliskan dengan garis miring (/) diantara huruf
capital. B/A bisa berarti horizon B dengan bahan berbeda dari horizon A
- Simbol pembeda kedua dalam horizon dan lapisan : Huruf kecil a, b, c, d, e, f,
g, h, I, j, k, l, m, n, o, p, q, r, s, ss, t, v, w, x, y, z digunakan sebagai imbuhan
untuk menunjukkan karakteristik khusus dari horizon utama. Imbuhan lebih
dari tiga jarang sekali digunakan. Jika memerlukan lebih dari satu imbuhan,
a, d, e, h, I, r, s, t dan w dituliskan lebih dahulu (kecuali dalam horizon Bhs
dan Crt), semua huruf ini tidak digunakan dalam kombinasi dalam horizon
tunggal dan c, f, g, m, v, dan x, kecuali dalam horizon timbunan symbol6

simbol ini masih dapat diikuti dengan imbuhan b. Dalam horizon B, symbol
t tidak diimbuhkan dengan symbol h, s, dan w. Imbuhan h, s, dan w
biasanya tidak digunakan dalam kombinasi dengan g, k, n, y, z, atau o.
- Perbedaan vertikal : ketika dua horizon memiliki kesamaan penamaan, maka
horizon ini akan dikenali oleh adanya imbuhan angka, sebagai contoh Bt1,
Bt2.
Ketebalan Horison
Batas horizon diukur menggunakan meteran dengan menuliskan batas atas dan
batas bawah dari tebal horizon tersebut.
Batas Horison
i. Kejelasan, dibagi dalam 4
macam :
a Abrupt
nyata
N
c Clear
jelas
J
g Gradual berangsur A
d Diffuse baur
B

ii. Topografi
s smooth
w wavy
i irregular
b broken

rata
berombak
tidak teratur
terputus

R
O
T
A

Warna
Identifikasi warna matriks tanah menggunakan notasi dalam buku Munsell Soil Color
Chart. Warna tanah diamati dalam kondisi lembab atau kering, sesuai dengan kondisi
alami penampang tanah yang diamati.
- Ambil sedikit agregat lalu cocokkan warna dengan menggunakan Munsell, sesuaikan
dengan simbol yang mendekati warna tanah tersebut.
- Warna tanah terdiri dari 3 komponen, yaitu Hue, Value dan Chroma. Hue
menunjukkan panjang gelombang dominan, Value menunjukkan jumlah cahaya
yang dipantulkan, atau terang atau gelap warna. Sedangkan Chroma menunjukkan
derajat kemurnian warna atau kejenuhan warna. Contoh : 10 YR 3/2
Tekstur
Tekstur di lapangan diidentifikasi dengan metode feeling, langkahnya adalah :
- Ambil sebagian tanah lalu tambahkan sedikit air
- Pirit tanah sampai homogen
- Tentukan tekstur tanahnya
Kode
S

Nama
Pasir

LS

Pasir
berlempung

SL

Lempung
berpasir

Si

Debu

CL

Lempung
berliat

Uraian sifat
saat dipirit terasa kasar sangat jelas,
tidak membentuk bola dan gulungan,
tidak melekat
Rasa kasar sangat jelas
Membentuk bola yang mudah sekali hancur
Sedikit melekat
Rasa kasar agak jelas
Membentuk bola agak keras, mudah hancur
Melekat
Rasa licin sekali
Membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan
permukaan mengkilat, agak melekat
- Rasa agak kasar
- Membentuk bola agak teguh, kering, dapat sedikit digulung
jika dispirit, gulungan mudah hancur
- Melekatnya sedang

Kode
SCL

Nama
Lempung liat
berpasir

SC

Liat berpasir

SiC

Liat berdebu

Liat

Liat keras

Lempung

SiCL

Lempung liat
berdebu

SiL

Lempung
berdebu

Uraian sifat
- Rasa kasar agak jelas
- Membentuk bola teguh (kering), membentuk gulungan jika
dispirit, gulungan mudah hancur
- Melekat
- Rasa licin agak kasar
- Membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipijit, mudah
digulung
- Rasa agak licin
- Membentuk bola dalam keadaan kering, sukar dipijt, mudak
digulung
- Rasa berat
- Membentuk bola baik
- Melekat
- Rasa berat sekali
- Membentuk bola baik
- Melekat sekali
- Rasa tidak kasar dan tidak licin
- Membentuk bola teguh dapat sedikit digulung dengan
permukaan mengkilat
- Mengkilat
- Rasa licin jelas
- Membentuk bola teguh, gulungan mengkilat
- Melekat
- Rasa licin
- Membentuk bola mudah hancur
- Dapat digulung mudah hancur

Struktur
Bentuk :

Granular:
Seperti remah kue dengan ukuran
diameter biasanya kurang dari 0,5
cm. umumnya ditemukan di
horizon permukaan dimana
banyak akar tumbuh

Butir:
Tanah rusah dalam partikel
individual yang tidak berikatan.
Selalu memiliki konsistensi
lepas. Biasanya berada pada
tanah berpasir

Gumpal bersudut & membulat:


Gumpal tak beraturan dengan
diameter antara 1,5 5 cm

Tiang:
Tanah berbentuk tiang tegak yang
memiliki topi garam di bagian
atas. Bisanya berada pada daerah
beriklim arid

Prisma:
Tanah berbentuk tiang tegak
dengan panjang tertentu.
Biasanya ditemukan di horizon
paling bawah

Keping (Platy):
Kepingan tipis dan rata yang
tersusun secara horisontal.
Biasanya berada pada tanahtanah yang mengalami
pemadatan

Sumber Gambar : Soil Science Society of America


Ukuran :
Keping
Sangat halus

< 1 mm

Prisma &
tiang
< 10 mm

Gumpal
< 5 mm

Butir & Remah


< 1 mm

Halus
Sedang
Kasar
Sangat Kasar

1 2 mm
2 5 mm
5 10 mm
> 10 mm

10 20 mm
20 50 mm
50 100 mm
> 100 mm

5 10 mm
10 20 mm
20 50 mm
> 50 mm

1 2 mm
2 5 mm
5 10 mm
> 10 mm

Tingkat perkembangan :
Pejal/massive (0) :
kohesi besar
Lemah (1)
: kohesi kecil
Cukup (2)
: bentuk satuan struktur tak jelas, kemantapan kecil, diremas hancur
Kuat (3)
: bentuk satuan struktur jelas, kemantapan besar, diremas tetap
Konsistensi
Basah
Kelekatan

Plastisitas

Tidak lekat
Agak lekat
Lekat
Sangat lekat
Tidak plastis
Agak plastis
Sangat plastis

Tidak ada bahan tertingkal


Tanah tertanggal pada salah satu jari
Tanah tertanggal pada kedua belah jari
Sukar untuk melepaskan kedua belah jari
Tidak dapat terbentuk gelintir tanah, massa tanah
mudah berubah bentuk
Terbentuk gelintir tanah, massa tanah berubah bentuk
Dapat terbentuk gelintir tanah, tahan terhadap tekanan

Lembab
Lepas

Butir-butir tanah terlepas satu sama lain tidak terikat, melekat bila
ditahan
Sangat gembur
Dengan sedikit tekanan mudah bercerai, bila digenggam mudah
bergumpal, melekat bila ditekan
Gembur
Bila diremas dapat bercerai, bila digenggam massa tanah
bergumpal, melekat bila ditekan
Teguh
Massa tanah tahan terhadap remasan, hancur dengan tekanan
besar
Sangat teguh
Massa tanah tahan terhadap remasan tak mudah berubah-ubah
Sangat
teguh Massa tanah sangat tahan terhadap remasan dan genggaman
sekali

Kering
Lepas
Lunak
Agak keras
Keras
Sangat keras

Butir-butir tanah terlepas satu sama lain tidak terikat


Dengan sedikit tekanan antara jari-jari, tanah tanah mudah
bercerai menjadi butir, kohesi kecil
Agak tahan terhadap tekanan, massa tanah rapuh
Tahan terhadap tekanan, massa tanah dapat dipatahkan dengan
tangan
Sangat tahan terhadap tekanan dan tak dapat dipatahkan dengan
tangan

Gejala redoksimorfik
Jumlah

2 20%
Biasa (bi)

<2%
Sedikit (sd)
Ukuran
Diameter

0,5 cm
Kecil (k)

Bandingan
Baur (b)
Warna matriks dan
karatan
hampir
sama

> 20%
Banyak (ba)
0,5 1,3 cm
Sedang (s)

Jelas (j)
Warna matriks dan
karatan
berbeda
dalam hue dan
chroma

1,5 cm
Biasa (b)

Nyata (n)
Bintik-bintik
karatan merupakan
gejala utama dari
horizon

Batas
Jelas (c)
Sedang (g)
Kabur (d)
Warna beralih tiba- Warna peralihan < Warna peralihan >
tiba
2 mm
2 mm
Bentuk

Bintik

Bintik
berganda

Lidah

Api

Pipa

Kandungan bahan kasar (0,2 2 cm)


Fe : konkresi besi berwarna merah/coklat, umumnya berbentuk benjol/bulat
Mn : konkresi mangan, sama dengan besi tetapi berwarna kehitaman
Ca : konkresi kapur, warna keputihan, umumnya membuih dengan HCl
B : pecahan batu atau bahan lain sebagai pengisi
Kondisi Perakaran
Ukuran
< 2 cm
2 10 cm
> 10 cm
(halus)
(sedang)
(kasar)
Jumlah
< 2%
2 20%
> 20%
(Sedikit)
(Sedang)
(Banyak)
Dalam
Diukur dari permukaan tanah

10

Survei Lapangan: Identifikasi Kondisi Lahan


Mengenal Jenis-jenis Erosi
1. Pendahuluan
Erosi pada dasarnya adalah proses perataan kulit bumi. Proses ini terjadi dengan
penghancuran, pengangkutan, dan pengendapan. Di alam ada dua penyebab utama yang aktif
dalam proses ini yakni angin dan air. Erosi yang disebabkan oleh angin disebut erosi angin dan
erosi jenis ini terutama dialami di daerah yang kering atau padang pasir. Di daerah tropis basah
seperti di Indonesia ini penyebab erosi yang paling dominan adalah air. Proses erosinya di sebut
erosi air. Air yang menyebabkan erosi adalah air hujan/pukulan air hujan, air limpasan
permukaan, air sungai, air danau dan air laut. Begitu air hujan mengenai kulit bumi, maka secara
langsung hal ini akan menyebabkan hancurnya agregat tanah. Pada keadaan ini penghancuran
agregat tanah dipercepat dengan adanya daya penghancuran dan daya urai dari air itu sendiri.
Penghancuran agregat tanah terjadi karena pukulan air hujan dan kikisan air limpasan
permukaan. Di samping itu massa tanah yang terangkut dalam limpasan permukaan, terutama
debu, pasir dan kerikil di dalam perjalanan menuju tempat pengendapan juga mampu untuk
menggerus permukaan tanah. Proses ini akan menimbulkan erosi dengan bentuk yang berbedabeda. Untuk itu mahasiswa perlu mengetahui dan memahami bentuk-bentuk erosi di lapangan.
2. Alat alat
Alat yang dibutuhakan untuk kegiatan ini adalah kertas dan alat tulis untuk diskusi
3. Bahan bahan
4. Cara Kerja :
1. Mahasiswa memahami tujuan kegiatan ini
2. Mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelas
didampingi oleh satu fasilitator
3. Semua kelompok melakukan pengamatan di lapangan dan memahami bentuk-bentuk erosi
4. Setelah itu didiskusikan antar kelompok tentang upaya pencegahan dari fenomena erosi
tersebut.

11

12

Menentukan Erosi di Lapangan


Adanya erosi pada suatu daerah dapat dengan mudah dikenali jika kita mengadakan
pengamatan di lapangan, baik pada waktu proses erosi sedang berlangsung (misalnya segera setelah
hujan) atau pada waktu tidak terjadi erosi. Adanya aliran air keruh pada saluran, parit dan sungai
yang mengalir pada suatu daerah pengamatan menunjukkan bahwa pada daerah tersebut terjadi
erosi. Gejala erosi juga dapat dengan mudah dikenali dengan terlihatnya alur, parit dan erosi massa.
Peneliti konservasi tanah yang berpengalaman, setelah melihat gejala tersebut, akan dengan mudah
membuat prakiraan besarnya erosi yang telah terjadi.
Adanya akar tanaman pohon yang terbuka, terlihatnya lapisan padas (batu-batuan) juga
merupakan gejala adanya kehilangan lapisan-lapisan tanah di atas. Jika penelitian konservasi tanah
membandingkan tanah tersebut dengan profil tanah yang relatif tidak tererosi pada areal yang sama
maka ia akan mampu membuat perkiraan secara kuantitatif tanah yang tererosi.
Berdasarkan gejala erosi yang telah ada, LPT (1967) Bogor menggolongkan erosi berdasarkan jenis
dan tingkatan yaitu :
JENIS EROSI :
e1

:Sebagian kecil tanah lapisan atas (Horison A) telah tererosi, perlu diusahakan pencegahan
erosi

e2

:Sebagian besar tanah lapisan atas (Horison A) telah tererosi : lapisan olah (Horison Ap)
tercampur dengan lapisan dibawahnya (Horison B atau C), pemakaian tanah tidak
mengalami perubahan

e3

:Semua lapisan atas (Horison A) telah tererosi, pengolahan tanah telah sampai di lapisan
bawah (Horison B atau C). Untuk mencegah erosi perlu diadakan tindakan lebih sempurna
(Membuat teras, mempengaruhi pemakaian tanah)

e4

:Sebagian besar solum tanah telah tererosi, sebaiknya dihutankan

TINGKATAN EROSI :
Erosi Ringan

:Sebagian Horison A (Lapisan I) hilang dan di setempat terdapat parit-parit


sebagai gejala timbulnya erosi parit (e1 dan e2)

Erosi Sedang

:Seluruh horison A (lapisan I) telah hilang dan banyak parit-parit sebagai akibat
erosi parit (e3)

Erosi Berat

:Sebagian besar solum tanah lenyap dan di setempat-setempat terdapat alur-alur


sebagai gejala timbulnya erosi alur (e4)

13

Survei Lapangan: Interpretasi Kesuburan Tanah di Lapangan


Penentuan Gejala Defisiensi Unsur Hara di Lapangan
1. Pendahuluan
Gejala defisiensi/kekurangan/kahat unsur hara pada tanaman/tumbuhan timbul karena
kebutuhan hara yang tidak terpenuhi baik dari tanah maupun dari pemberian pupuk. Gejala
defisiensi unsur hara sifatnya sangat spesifik, kekurangan unsur hara tertentu akan menunjukkan
gejala visual tertentu pula. Metode visual ini sangat unik karena tidak memerlukan perlengkapan
yang mahal serta dapat digunakan sebagai penunjang informasi yang sangat penting untuk
perencanaan pemupukan pada musim berikutnya bagi teknik-teknik diagnostik lainnya. Namun
demikian, tidak selalu tanaman yang menunjukkan gejala abnormalitas adalah tanaman yang
mengalami defisiensi unsur hara, adanya gangguan hama maupun penyakit juga dapat
memunculkan gejala yang mirip dengan gejala defisiensi unsur hara.
2. Alat alat
Alat yang digunakan pada kegiatan ini adalah
Kaca pembesar
Diagram penentuan defisiensi unsur hara
3. Bahan bahan
Bahan yang digunakan adalah
Sampel tanaman yang diduga terkena defisiensi unsur hara
Lembar kerja
4. Cara Kerja :
Penentuan defisiensi unsur hara di lapangan dapat dilakukan dengan melihat gejala-gejala
visual yang ditujukkan oleh tanaman. Gejala defisiensi unsur hara bersifat spesifik, kekurangan
unsur hara yang berbeda menunjukkan gejala yang berbeda pula. Namun harus dapat dibedakan
terlebih dahulu, apakah tanaman tersebut memang terindikasi defisiensi atau terserang hama dan
penyakit. Salah satu indikasi bahwa tanaman tersebut terserang hama atau penyakit adalah dalam
satu areal lahan tidak semua tanaman menunjukkan gejala abnormalitas, gejala abnormalitas
akibat serangan hama biasanya terpencar-pencar. Selain itu, adanya serangan hama pasti
meninggalkan jejak dari hama itu sendiri, baik berupa kotoran ataupun bekas-bekas gigitan. Uji
coba juga dapat dilakukan untuk membuktikan tanaman itu mengalami defisiensi atau serangan
penyakit. Ambil contoh tanaman yang dicurigai terkena defisiensi/serangan penyakit, gesekgesekkan contoh tanaman tersebut pada tanaman yang normal. Apabila dalam beberapa hari
kedepan tidak terjadi perubahan pada tanaman yang normal maka kemungkinan tanaman
tersebut memang defisiensi. Namun, apabila tanaman yang normal tadi kemudian menunjukkan
gejala yang sama dengan contoh tanaman tadi, berarti tanaman tersebut kemungkinan terserang
penyakit.
Adapun penentuan defisiensi unsur hara di lapangan dapat mengacu pada diagram dan langkah
kerja berikut ini:

14

15

Langkah kerja:
1. Perhatikan gejala yang tampak pada bagian tanaman, apakah gejala muncul di daun tua
(bagian bawah) atau di daun muda (bagian atas);
2. Apabila gejala muncul pada daun tua, maka perhatikan dengan detail ciri-cirinya;
3. Apabila tepi daun tua (bagian bawah) berwarna coklat maka ada kemungkinan tanaman
tersebut defisiensi unsur hara P, namun bisa juga tanaman tersebut mengalami keracunan
Na dan Bo;
4. Lakukan langkah-langkah yang sama untuk identifikasi gejala defisiensi unsur hara yang
lain;
5. Hal yang perlu diingat, pastikan gejala yang diamati memang karena defisiensi dan bukan
karena serangan hama atau penyakit ataupun akibat kekeringan;
6. Kegiatan identifikasi defisiensi unsur hara secara langsung ini hanya digunakan untuk
perkiraan awal saja, untuk hasil lebih akurat maka harus dilaksanakan uji tanah ataupun
uji jaringan tanaman di laboratorium.

16

Analisis Data Iklim


Data Hujan
1. Pendahuluan
Curah hujan adalah banyaknya jumlah/banyaknya hujan yang turun pada satuan waktu
tertentu. Dalam prakteknya, data yang berhubungan dengan curah hujan yang sering
digunakan untuk kegiatan yang berhubungan dengan pertanian adalah curah hujan rata-rata,
jumlah hari hujan dan pembagian bulan basah dan bulan kering. Seringkali di lokasi yang
ingin diolah curah hujannya, data curah hujan tidak tersedia dikarenakan tidak terdapat
stasiun pengamat curah hujan dilokasi tersebut, untuk mengatasi kondisi seperti ini salah satu
cara yang dapat dilakukan adalah dengan interpolasi data curah hujan. Salah satu metode
interpolasi curah hujan adalah dengan metode Poligon Thiessen. Metode ini telah banyak
digunakan secara luas karena dianggap dapat memberikan data hujan yang lebih akurat,
karena pada metode polygon setiap bagian wilayah tangkapan hujan diwakili secara
proporsional oleh satu alat penangkar hujan. Besarnya curah hujan rata-rata untuk suatu
daerah tangkapan merupakan hasil rata-rata data hujan dari seluruh bagian daerah tangkapan
yang diwakili oleh satu alat penangkar hujan.
2. Alat alat
Data curah hujan
Alat hitung (kalkulator/excel)
3. Bahan bahan
4. Cara Kerja :
A. Penghitungan curah hujan rata-rata, penentuan bulan basah dan bulan kering serta
jumlah hari hujan.
a. Penghitungan curah hujan rata-rata dilakukan dengan menjumlahkan
banyaknya curah hujan dibagi dengan jumlah data hujan;
b. Bulan basah ditentukan dengan menyeleksi bulan yang memiliki curah hujan
lebih dari 100 mm;
c. Bulan kering ditentukan dengan menyeleksi bulan yang memiliki curah hujan
kurang dari 60 mm;
d. Jumlah hari hujan diketahui dengan melihat dari data curah hujan dalam satu
bulan/tahun berapa jumlah hari yang teridentifikasi turun hujan.

B. Interpolasi Data Curah Hujan dengan Poligon Thiessen.


a. Hubungkan tiga stasiun penangkar hujan atau lebih yang berdekatan dengan
garis lurus, kemudian ditarik garis bantu yang tegak lurus dengan garis
penghubung;
b. Hubungkan garis-garis bantu tersebut sehingga wilayah yang akan dihitung
curah hujannya terbagi menjadi beberapa poligon;
c. Masing-masing poligon tersebut mewakili luasan tiap stasiun penakaar curah
hujan;
17

d. Curah hujan rata-rata dihitung dengan menjumlahkan curah hujan pada


masing-masing stasiun kemudian dibagi dengan luas wilayah masing-masing
poligon;

( R1 . A1 ) R2 . A2 ... Rn .Rn
A1 A2 ... An

Dimana :
R
R1 , R2 ,.., Rn

= Curah hujan rata-rata wilayah


= Curah hujan masing-masing stasiun

(mm/ha)
(mm)

A1 , A2 ,.., An

= Luas wilayah masing-masing polygon

(ha).

Contoh pembagian wilayah berdasarkan poligon thiessen lebih jelas lihat Gambar 1.

Gambar 1. Penentuan curah hujan rata-rata dengan metode Poligon Thiessen

18

Data Suhu
1.

Pendahuluan
Temperatur udara adalah tingkat atau derajat panas dari kegiatan molekul dalam
atmosfer yang dinyatakan dengan skala Celcius, Fahrenheit, atau skala Reamur. Suhu
udara antara satu daerah dengan daerah yang lain sangat berbeda, hal ini dipengaruhi
oleh: sudut datangnya sinar matahari, tinggi rendahnya tempat, angin dan arus laut,
lamanya penyinaran dan awan.

2.

Alat - alat
Alat hitung (kalkulator/excel)
Alat tulis
Bahan
Data temperatur
Cara Kerja :
A. Penghitungan Temperatur Udara Rata-rata

3.
4.

a. Temperatur udara rata-rata dihitung dengan menjumlahkan data suhu udara


selama satu bulan/tahun kemudian dibagi dengan jumlah hari dalam satu
bulan/tahun.
B. Interpolasi Data Temperatur Udara dengan Poligon Thiessen.
a) Hubungkan tiga stasiun pencatat temperatur udara atau lebih yang berdekatan
dengan garis lurus, kemudian ditarik garis bantu yang tegak lurus dengan garis
penghubung;
b) Hubungkan garis-garis bantu tersebut sehingga wilayah yang akan dihitung
curah hujannya terbagi menjadi beberapa poligon;
c) Masing-masing poligon tersebut mewakili luasan tiap stasiun pencatat
temperatur udara;
d) Temperatur udara rata-rata dihitung dengan menjumlahkan curah hujan pada
masing-masing stasiun kemudian dibagi dengan luas wilayah masing-masing
poligon;

T
Dimana :
T
T1,T2,,Tn
A1 , A2 ,.., An

(T1 . A1 ) T2 . A2 ... Tn .Rn


A1 A2 ... An

= Temperatur udara rata-rata wilayah


= Temperatur udara masing-masing
= Luas wilayah masing-masing polygon

(mm/ha)
stasiun (mm)
(ha).

Contoh pembagian wilayah berdasarkan poligon thiessen lebih jelas lihat Gambar 2.

Gambar 2. Penentuan temperatur udara rata-rata dengan metode Poligon Thiessen


19

Evaluasi Lahan
1. Pendahuluan
Evaluasi lahan merupakan suatu kegiatan melakukan interpretasi data lapangan untuk
menentukan suatu rancangan penetapan tata guna lahan. Urutan kegiatan dalam evaluasi
lahan antara lain : evaluasi kemampuan lahan, evaluasi kesesuaian lahan, dan analisis kelas
kesuburan tanah.
2. Alat alat
Peralatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah :
a. Komputer
b. Alat tulis
3. Bahan bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah :
a. Data-data hasil pengukuran lapangan (deskripsi tanah & kondisi sumberdaya lahan)
b. Data hujan
c. Data hasil interview kondisi sosial ekonomi masyarakat
4. Cara Kerja :
Penentuan Kemampuan Lahan
a. Pengkelasan data-data pengukuran lapangan di tiap satuan lahan
Kode
I0
I1
I2
I3
I4
I5
I6
t1
t2
t3
t4
t5
k0
k1
k2
k3
d0
d1
d2
d3
d4

Faktor Pembatas dan Kriteria


Lereng :
- Datar (0 3%)
- Landai/berombak (3 8%)
- Agak miring/bergelombang (8 15%)
- Miring berbukit (15 30%)
- Agak curam (30 45%)
- Curam (45 65%)
- Sangat curam (> 65%)
Tekstur tanah :
- Halus : liat dan liat berdebu
- Agak halus : liat berpasir, lempung liat berdebu, lempung berliat, lempung liat
berpasir
- Sedang : debu, lempung berdebu, lempung
- Agak kasar : lempung berpasir
- Kasar : pasir berlempung dan pasir
Kedalaman efektif tanah :
- Dalam : > 90 cm
- Sedang : 50 90 cm
- Dangkal : 25 50 cm
- Sangat dangkal : < 25 cm
Drainase :
- Baik : Tanah mempuyai peredaran udara baik, seluruh profil tanah dari atas sampai
lapisan bawah berwarna terang seragam, tidak terdapat bercak-bercak
- Agak baik : Tanah mempunyai peredaran udara baik, tidak terdapat bercak-bercak
berwarna kuning, coklat atau kelabu pada lapisan atas dan sebagian lapisan bawah
- Agak buruk : Lapisan tanah atas mempunyai peredaran udara baik, jadi pada lapisan
ini tidak terdapat bercak-bercak berwarna kuning, kelabu atau coklat
- Buruk : Pada tanah atas bagian bawah dan seluruh lapisan tanah terdapat bercakbercak berwarna kuning, kelabu atau coklat
- Sangat buruk : Seluruh lapisan tanah berwarna kelabu atau terdapat bercak-bercak
berwarna kuning, kelabu atau coklat

20

e0
e1
e2
e3
e4
b0
b1
b2
b3
b0
b1
b2
b3
b4
o0
o1
o2
o3
o4

Erosi :
- Tidak ada erosi
- Ringan, jika 25% lapisan tanah atas hilang
- Sedang, jika 25 75% lapisan tanah atas hilang
- Berat, jika 75% lapisan tanah atas hilang dan 25% lapisan tanah bawah hilang
- Sangat berat, jika lebih dari 25% lapisan bawah hilang
Bahan kasar dalam tanah :
- Tidak ada atau sedikit 0 15% volume tanah
- Sedang, 15 50% volume tanah
- Banyak, 50 90% volume tanah
- Sangat banyak, > 90% volume tanah
Batuan di permukaan tanah :
- Tidak ada : 0,01% luas area
- Sedikit : 0,01 3% luas area
- Sedang : 3 15% luas area
- Banyak : 15 90% luas area
- Sangat banyak : > 90% luas area
Ancaman banjir :
- Tidak pernah : Dalam waktu satu tahun tidak pernah mengalami banjir untuk waktu
24 jam
- Kadang-kadang : Banjir lebih dari 24 jam terjadinya tidak teratur dalam jangka waktu
kurang dari satu bulan
- Selama satu bulan dalam setahun secara teratur menderita banjir lebih dari 24 jam
- 2 5 bulan dalam setahun secara teratur menderita banjir lebih dari 24 jam
- 6 bulan atau lebih dilanda banjir secara teratur lebih dari 24 jam

b. Cocokkan informasi data lapangan dengan tabel kemampuan lahan


No

Faktor Pembatas

Kelas Kemampuan
I

II

III

IV

VI

VII

VIII

a. Lapisan atas (40 cm)

t2/t3

t1/t4

t1/t4

t5

b. Lapisan bawah

t2/t3

t1/t4

t1/t4

t5

Lereng (%)

l0

l1

l2

l3

l4

l5

l6

Drainase

d0/d1

d2

d3

d4

**

Kedalaman Efektif

k0

k0

k1

k2

k3

Tingkat Erosi

e0

e1

e1

e2

e3

e4

Batu/Kerikil

b0

b0

b0

b1

b2

b3

Bahaya banjir

o0

o1

o2

o3

o4

Tekstur tanah (t)

c. Penentuan faktor pembatas dengan melihat faktor yang memiliki potensi kerusakan
lahan terberat
d. Penentuan kelas dan subkelas kemampuan lahan
e. Penyusunan arahan penggunaan lahan berdasarkan kelas kemampuan lahan

21

Kebebasan memilih semakin berkurang dan


alternatif penggunaan lahan semakin terbatas

Pembatas dan Ancaman semakin meningkat

Sangat Intensif

Bercocok Tanam
Intensif

Bercocok Tanam
Sedang

Bercocok Tanam
Terbatas

Penggembalaan
Intensif

Penggembalaan
Sedang

Penggembalaan
Terbatas

Hutan Alam

Kelas
Kemampuan
Lahan

Cagar Alam

Intensitas Penggunaan Lahan Bertambah Tinggi

I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII

Penentuan Kesesuaian Lahan


a. Isikan data lapangan ke dalam tabel isian evaluasi kesesuaian lahan
b. Cocokkan data lapangan ke dalam persyaratan tumbuh suatu tanaman
c. Tentukan kelas kesesuaian lahan tiap karakteristik lahannya
d. Tentukan faktor pembatas terberat yang ditentukan dari karakteristik lahan yang
dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman
e. Tentukan kelas kesesuaian lahannya
Penentuan Kelas Kemampuan Kesuburan Tanah
a. Isikan data lapangan (karakteristik lahan) ke dalam tabel isian kemampuan
kesuburan tanah
b. Tentukan tipe kesuburan tanahnya berdasarkan karakteristik di lapisan tanah atas
S
tekstur berpasir
L
tekstur berlempung
C
tekstur berliat
O
bahan organik
c. Tentukan tipe/subtipe kesuburan tanahnya berdasarkan karakteristik di lapisan
tanah bawah
S
tekstur berpasir
L
tekstur berlempung
C
tekstur berliat
R
batuan induk

22

d. Tentukan unit (kondisi modifier) berdasarkan kendala kesuburan tanah yang ada
G
tanah sering jenuh air
d
daerah kering/kekurangan air
e
nilai kapasitas tukar kation rendah, KTK
a
keracunan aluminium, Al
h
bereaksi masam, pH
i
kemampuan tanah memfiksasi fosfot
tinggi, P
k
cadangan mineral yang mengandung
kalium rendah, K
X
mineral allophan dominan
V
tanah vertik
b
tanah alkalis, pH
s
tanah salin
n
takaran natrium tertukar tinggi, Na
c
takaran asam sulfat tinggi, S
()
kandungan batuan dipermukaan dengan
ukuran lebih dari 2 mm sebanyak 15
35%
()
kandungan batuan dipermukaan dengan
ukuran lebih dari 2 mm sebanyak lebih
dari 35%
()
besarnya kemiringan lahan (%)
e. Tentukan kelas kemampuan kesuburan tanahnya dengan cara :
Nama tipe/sub tipe ditulis dengan huruf besar dan diletakan didepan sedang
nama unit ditulis dengan huruf kecil diletakan dibelakan nama tipe/sub tipe
Kandungan batuan ditulis dibelakan nama tipe/sub tipe/unit yang ada
Kemiringan lahan ditulis dibelakang nama tipe/sub tipe/unit/kandungan batuan
yang ada
Contoh : LCgh(15%)

23

Lembar Kerja-1 (Fieldtrip 1)


1.

Amati kondisi karakteristik lahan dengan mengisi tabel di bawah ini.


FORM PENGAMATAN KARAKTERISTIK LAHAN
Pemeta
1 No SPL

No Seri :

2 Koordinat

X:
Elevasi :

Y:
704

m dpl

3 Waktu Pengambilan
Hari :

Tanggal :

4 Lokasi Pengambilan Sampel


Sub DAS/Kali :
Dusun :
Desa :

Kecamatan :

5 Iklim

Klasifikasi Iklim

Curah Hujan :
BB / BK :

mm

Oldeman :

bln

Koppen :

5 Landform
Kode :

Nama :

Lereng tengah vulkan

6 Bahan Induk :

Batuan :

7 Relief
Makro :

Mikro :
a
b
c
d
e
f
g
h

Datar
Agak Datar
Berombak
Bergelombang
Bergumuk
Berbukit kecil
Berbukit
Bergunung

Amplitudo :

(<1% <2m)
(1-3% <2m)
(3-8% 2-10m)
(8-15% 10-50m)
(15-30% <10m)
(15-30% 10-50m)
(15-30% 50-300m)
(>30% >300m)

w
g
l
m
r
s
c
t
o

liang
gilgai
leveled (bertingkat)
mounds (gundukan)
terraced (teras)
terraced n bunded (sawah, tegal)
terracettes
tree-throw
other

8 Kelerengan
Posisi :

Bentuk :
aa
bp
la
lt
lb
xx

Punggung antara aliran


Bagian puncak
Lereng atas
Lereng tengah
Lereng bawah
Tidak ada hubungan

b
l
k
i
t
x

Cembung
Lurus
Cekung
Tidak teratur
Diteras
Tidak ada hubungan

n
ne
e
se
s

Utara
Timur Laut
Timur
Tenggara
Selatan

sw
w
nw
x

Barat Daya
Barat
Barat Laut
Tidak ada hubungan

Aspek :

Kemiringan :

Panjang :

24

9 Keadaan Permukaan
Batuan :
0
1
2
3
4
5
6

Tidak berbatu
Sedikit berbatu
Agak berbatu
Cukup berbatu
Sangat berbatu
Amat sangat berbatu
Singkapan Batuan

0%
<2%
2-10%
10-25%
25-50%
50-90%
>90%

0
1
2
3
4

Tidak berkerikil
Agak berkerikil
Cukup berkerikil
Sangat berkerikil
Amat sangat berkerikil

0%
<15%
15-35%
35-60%
>60%

t
k
h
l
g
u

tugal
gundukan
dibajak
pelumpuran
guludan
penghalusan

Batu dlm tanah :


0 Tidak berkerakal
1 Sedikit berkerakal
2 Agak berkerakal
3 Cukup berkerakal
4 Sangat berkerakal
5 Amat sangat berkerakal
6 Lahan kerakal

0%
<0.01%
0.01-0.1%
0.1-3.0%
3-15%
15-90%
>90%

Kerikil :

Pengelolaan :
b
r
d
s
z
x

guludan terputus
pengolahan menurut kontur
bajak dalam
pengolahan strip
tanpa pengolahan
tidak penting

10 Bahan Induk
Jenis Akumulasi / Deposisi
r residual (dari hasil pelapukan batuan terkonsolidasi)
f fluvial (alluvial; fans & deposit sungai)
c colluvial (transprtasi oleh gravitasi & air dispanjang lereng)
m marine (lagoon pantai, deposit dasar laut)
l lacustrine (alluvial, deposit di danau, termasuk glacial lacustrine)
a aeolian (transportasi oleh angin)
v volcanic (lava, debu, dll)
o organic sediment (topo-, obrogenic & sedimen gambut)
Lithologi :
11 Drainase Tanah
Kelas Drainase Alami :
0
1
2
3

Sangat terhambat
Terhambat
Agak terhambat
Agak baik

4
5
6

Baik
Agak cepat
Sangat cepat

Permeabilitas :
1
2
3
4

Sangat lambat
Lambat
Sedang
Cepat

<0.2
0.2 - 0.6
0.6 - 6.0
>6.0

0
1
2

Tidak ada
3 Sedang
Lambat sekali 4 Cepat
Lambat
5 Cepat sekali

Runoff :

cm/jam
cm/jam
cm/jam
cm/jam
Pengelolaan Air :

12 Muka Air Tanah


Jenis :

r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

d
i

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Drainase buatan
Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

sangat dangkal < 0.25 m

Kedalaman :

1
2
3
4

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln25
> 1 bln

1
2
12 Muka Air Tanah
Jenis :

Lambat sekali 4 Cepat


Lambat
5 Cepat sekali
r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

1
2
3
4
5

sangat dangkal < 0.25 m


dangkal
0.25 - 0.5 m
sedang
0.5 - 1.5 m
dalam
1.5 - 3.0 m
sangat dalam > 3.0 m

1
2

sangat rendah
rendah

x
s
r
g
b
a
c
l

Tidak ada
Erosi lembar
Erosi alur
Erosi parit
Erosi tebing sungai
Abrasi
Korasi
Tanah longsor
cm

f
c
p

fragipan
clay pan
plough pans

Kedalaman :

1
2
3
4

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln
> 1 bln

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari
2 harian
3 2 mingguan
4 bulanan

Amplitudo Pasang :

14 Erosi
Jenis :

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

3
4
5

sedang
tinggi
sangat tinggi

1
2
3
4

Ringan
Sedang
Berat
Sangat Berat

m
t
l
c
r
p

montana
submontana
lowland
coastal
swamp
tidal swamp

Derajat :

15 Kedalaman Efektif :
16 Pans

17 Penutupan Lahan/Penggunaan Lahan


Vegetasi Alami
Grup vegetasi alami
h hutan
b belukar
s semak
r padang rumput

Kondisi Iklim
altitud > 2000 m
alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis vegetasi alami


Kelas penutupan lahan (coverage) oleh kanopi tanaman *
a. 0-30 %, jarang; b. 30-60 %, sedang; c. 60-90 %, rapat; d.>90 %, sangat rapat
Kelas jumlah pohon/ luasan area (pohon/m2 ) *
a. jarang, < 5 pohon/10 m2 ; b. sedang, 5-10 pohon/10m2 ; c. rapat, >10 pohon/10 m2
Pertanian
Lahan Pertanian
e
u
k
l
w
p
t

Kondisi Iklim
perkebunan besar
m montana
lahan kering
t submontana
kebun campuran
l lowland
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

altitud > 2000 m


alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

26

k
l
w
p
t

kebun campuran
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

lowland

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

27

2.

Lakukan pengamatan morfologi tanah dengan mengisi tabel di bawah ini.

28

3.

Tentukan Kelas Kemampuan Lahan


No.

Faktor Pembatas

KELAS KEMAMPUAN LAHAN


Data
Kode
Kelas

Tekstur tanah (t)


a. Lapisan atas
b. Lapisan bawah
2
Lereng (%)
3
Drainase
4
Kedalaman Efektif
5
Tingkat Erosi
6
Batu/Kerikil
7
Bahaya banjir
KELAS KEMAMPUAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KEMAMPUAN LAHAN
4.

Tentukan Kelas Kesesuaian Lahan


Jagung
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

29

Kacang Tanah
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

30

Kelapa
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

5.

Tentukan Kelas Kemampuan Kesuburan Tanahnya


No.

Sistem Klasifikasi

1
2
3
4

Tipe
SubTipe
Modifier
Kelas Kemampuan Kesuburan Tanah

SPL 1
Data

Kelas

31

Lembar Kerja-2 (Fieldtrip 2)


1.

Amati kondisi karakteristik lahan dengan mengisi tabel di bawah ini.


FORM PENGAMATAN KARAKTERISTIK LAHAN
Pemeta
1 No SPL

No Seri :

2 Koordinat

X:
Elevasi :

Y:
704

m dpl

3 Waktu Pengambilan
Hari :

Tanggal :

4 Lokasi Pengambilan Sampel


Sub DAS/Kali :
Dusun :
Desa :

Kecamatan :

5 Iklim

Klasifikasi Iklim

Curah Hujan :
BB / BK :

mm

Oldeman :

bln

Koppen :

5 Landform
Kode :

Nama :

Lereng tengah vulkan

6 Bahan Induk :

Batuan :

7 Relief
Makro :

Mikro :
a
b
c
d
e
f
g
h

Datar
Agak Datar
Berombak
Bergelombang
Bergumuk
Berbukit kecil
Berbukit
Bergunung

Amplitudo :

(<1% <2m)
(1-3% <2m)
(3-8% 2-10m)
(8-15% 10-50m)
(15-30% <10m)
(15-30% 10-50m)
(15-30% 50-300m)
(>30% >300m)

w
g
l
m
r
s
c
t
o

liang
gilgai
leveled (bertingkat)
mounds (gundukan)
terraced (teras)
terraced n bunded (sawah, tegal)
terracettes
tree-throw
other

8 Kelerengan
Posisi :

Bentuk :
aa
bp
la
lt
lb
xx

Punggung antara aliran


Bagian puncak
Lereng atas
Lereng tengah
Lereng bawah
Tidak ada hubungan

b
l
k
i
t
x

Cembung
Lurus
Cekung
Tidak teratur
Diteras
Tidak ada hubungan

n
ne
e
se
s

Utara
Timur Laut
Timur
Tenggara
Selatan

sw
w
nw
x

Barat Daya
Barat
Barat Laut
Tidak ada hubungan

Aspek :

Kemiringan :

Panjang :

32

9 Keadaan Permukaan
Batuan :
0
1
2
3
4
5
6

Tidak berbatu
Sedikit berbatu
Agak berbatu
Cukup berbatu
Sangat berbatu
Amat sangat berbatu
Singkapan Batuan

0%
<2%
2-10%
10-25%
25-50%
50-90%
>90%

0
1
2
3
4

Tidak berkerikil
Agak berkerikil
Cukup berkerikil
Sangat berkerikil
Amat sangat berkerikil

0%
<15%
15-35%
35-60%
>60%

t
k
h
l
g
u

tugal
gundukan
dibajak
pelumpuran
guludan
penghalusan

Batu dlm tanah :


0 Tidak berkerakal
1 Sedikit berkerakal
2 Agak berkerakal
3 Cukup berkerakal
4 Sangat berkerakal
5 Amat sangat berkerakal
6 Lahan kerakal

0%
<0.01%
0.01-0.1%
0.1-3.0%
3-15%
15-90%
>90%

Kerikil :

Pengelolaan :
b
r
d
s
z
x

guludan terputus
pengolahan menurut kontur
bajak dalam
pengolahan strip
tanpa pengolahan
tidak penting

10 Bahan Induk
Jenis Akumulasi / Deposisi
r residual (dari hasil pelapukan batuan terkonsolidasi)
f fluvial (alluvial; fans & deposit sungai)
c colluvial (transprtasi oleh gravitasi & air dispanjang lereng)
m marine (lagoon pantai, deposit dasar laut)
l lacustrine (alluvial, deposit di danau, termasuk glacial lacustrine)
a aeolian (transportasi oleh angin)
v volcanic (lava, debu, dll)
o organic sediment (topo-, obrogenic & sedimen gambut)
Lithologi :
11 Drainase Tanah
Kelas Drainase Alami :
0
1
2
3

Sangat terhambat
Terhambat
Agak terhambat
Agak baik

4
5
6

Baik
Agak cepat
Sangat cepat

Permeabilitas :
1
2
3
4

Sangat lambat
Lambat
Sedang
Cepat

<0.2
0.2 - 0.6
0.6 - 6.0
>6.0

0
1
2

Tidak ada
3 Sedang
Lambat sekali 4 Cepat
Lambat
5 Cepat sekali

Runoff :

cm/jam
cm/jam
cm/jam
cm/jam
Pengelolaan Air :

12 Muka Air Tanah


Jenis :

r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

d
i

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Drainase buatan
Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

sangat dangkal < 0.25 m

Kedalaman :

1
2
3
4

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln33
> 1 bln

1
2
12 Muka Air Tanah
Jenis :

Lambat sekali 4 Cepat


Lambat
5 Cepat sekali
r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

1
2
3
4
5

sangat dangkal < 0.25 m


dangkal
0.25 - 0.5 m
sedang
0.5 - 1.5 m
dalam
1.5 - 3.0 m
sangat dalam > 3.0 m

1
2

sangat rendah
rendah

x
s
r
g
b
a
c
l

Tidak ada
Erosi lembar
Erosi alur
Erosi parit
Erosi tebing sungai
Abrasi
Korasi
Tanah longsor
cm

f
c
p

fragipan
clay pan
plough pans

Kedalaman :

1
2
3
4

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln
> 1 bln

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari
2 harian
3 2 mingguan
4 bulanan

Amplitudo Pasang :

14 Erosi
Jenis :

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

3
4
5

sedang
tinggi
sangat tinggi

1
2
3
4

Ringan
Sedang
Berat
Sangat Berat

m
t
l
c
r
p

montana
submontana
lowland
coastal
swamp
tidal swamp

Derajat :

15 Kedalaman Efektif :
16 Pans

17 Penutupan Lahan/Penggunaan Lahan


Vegetasi Alami
Grup vegetasi alami
h hutan
b belukar
s semak
r padang rumput

Kondisi Iklim
altitud > 2000 m
alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis vegetasi alami


Kelas penutupan lahan (coverage) oleh kanopi tanaman *
a. 0-30 %, jarang; b. 30-60 %, sedang; c. 60-90 %, rapat; d.>90 %, sangat rapat
Kelas jumlah pohon/ luasan area (pohon/m2 ) *
a. jarang, < 5 pohon/10 m2 ; b. sedang, 5-10 pohon/10m2 ; c. rapat, >10 pohon/10 m2
Pertanian
Lahan Pertanian
e
u
k
l
w
p
t

Kondisi Iklim
perkebunan besar
m montana
lahan kering
t submontana
kebun campuran
l lowland
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

altitud > 2000 m


alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

34

k
l
w
p
t

kebun campuran
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

lowland

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

35

2.

Lakukan pengamatan morfologi tanah dengan mengisi tabel di bawah ini.

36

3.

Tentukan Jenis Tanah


No.

4.

Kategori

Rejim Lengas Tanah

Rejim Suhu Tanah

Epipedon

Endopedon

Ordo

Sub Ordo

Great Group

Sub Group

Jenis Tanah
Data penciri

Tentukan Kelas Kesesuaian Lahan


Jagung
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

Nama

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
37

Bahan kasar (%)


Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

38

Kacang Tanah
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

39

Kelapa
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

5.

Tentukan Kelas Kemampuan Kesuburan Tanahnya


No.

Sistem Klasifikasi

1
2
3
4

Tipe
SubTipe
Modifier
Kelas Kemampuan Kesuburan Tanah

SPL 1
Data

Kelas

40

Lembar Kerja-3 (Fieldtrip 3)


Titik 1
1.

Amati kondisi karakteristik lahan dengan mengisi tabel di bawah ini.


FORM PENGAMATAN KARAKTERISTIK LAHAN
Pemeta
1 No SPL

No Seri :

2 Koordinat

X:
Elevasi :

Y:
704

m dpl

3 Waktu Pengambilan
Hari :

Tanggal :

4 Lokasi Pengambilan Sampel


Sub DAS/Kali :
Dusun :
Desa :

Kecamatan :

5 Iklim

Klasifikasi Iklim

Curah Hujan :
BB / BK :

mm

Oldeman :

bln

Koppen :

5 Landform
Kode :

Nama :

Lereng tengah vulkan

6 Bahan Induk :

Batuan :

7 Relief
Makro :

Mikro :
a
b
c
d
e
f
g
h

Datar
Agak Datar
Berombak
Bergelombang
Bergumuk
Berbukit kecil
Berbukit
Bergunung

Amplitudo :

(<1% <2m)
(1-3% <2m)
(3-8% 2-10m)
(8-15% 10-50m)
(15-30% <10m)
(15-30% 10-50m)
(15-30% 50-300m)
(>30% >300m)

w
g
l
m
r
s
c
t
o

liang
gilgai
leveled (bertingkat)
mounds (gundukan)
terraced (teras)
terraced n bunded (sawah, tegal)
terracettes
tree-throw
other

8 Kelerengan
Posisi :

Bentuk :
aa
bp
la
lt
lb
xx

Punggung antara aliran


Bagian puncak
Lereng atas
Lereng tengah
Lereng bawah
Tidak ada hubungan

b
l
k
i
t
x

Cembung
Lurus
Cekung
Tidak teratur
Diteras
Tidak ada hubungan

n
ne
e
se
s

Utara
Timur Laut
Timur
Tenggara
Selatan

sw
w
nw
x

Barat Daya
Barat
Barat Laut
Tidak ada hubungan

Aspek :

Kemiringan :

Panjang :

41

9 Keadaan Permukaan
Batuan :
0
1
2
3
4
5
6

Tidak berbatu
Sedikit berbatu
Agak berbatu
Cukup berbatu
Sangat berbatu
Amat sangat berbatu
Singkapan Batuan

0%
<2%
2-10%
10-25%
25-50%
50-90%
>90%

0
1
2
3
4

Tidak berkerikil
Agak berkerikil
Cukup berkerikil
Sangat berkerikil
Amat sangat berkerikil

0%
<15%
15-35%
35-60%
>60%

t
k
h
l
g
u

tugal
gundukan
dibajak
pelumpuran
guludan
penghalusan

Batu dlm tanah :


0 Tidak berkerakal
1 Sedikit berkerakal
2 Agak berkerakal
3 Cukup berkerakal
4 Sangat berkerakal
5 Amat sangat berkerakal
6 Lahan kerakal

0%
<0.01%
0.01-0.1%
0.1-3.0%
3-15%
15-90%
>90%

Kerikil :

Pengelolaan :
b
r
d
s
z
x

guludan terputus
pengolahan menurut kontur
bajak dalam
pengolahan strip
tanpa pengolahan
tidak penting

10 Bahan Induk
Jenis Akumulasi / Deposisi
r residual (dari hasil pelapukan batuan terkonsolidasi)
f fluvial (alluvial; fans & deposit sungai)
c colluvial (transprtasi oleh gravitasi & air dispanjang lereng)
m marine (lagoon pantai, deposit dasar laut)
l lacustrine (alluvial, deposit di danau, termasuk glacial lacustrine)
a aeolian (transportasi oleh angin)
v volcanic (lava, debu, dll)
o organic sediment (topo-, obrogenic & sedimen gambut)
Lithologi :
11 Drainase Tanah
Kelas Drainase Alami :
0
1
2
3

Sangat terhambat
Terhambat
Agak terhambat
Agak baik

4
5
6

Baik
Agak cepat
Sangat cepat

Permeabilitas :
1
2
3
4

Sangat lambat
Lambat
Sedang
Cepat

<0.2
0.2 - 0.6
0.6 - 6.0
>6.0

0
1
2

Tidak ada
3 Sedang
Lambat sekali 4 Cepat
Lambat
5 Cepat sekali

Runoff :

cm/jam
cm/jam
cm/jam
cm/jam
Pengelolaan Air :

12 Muka Air Tanah


Jenis :

r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

d
i

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Drainase buatan
Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

sangat dangkal < 0.25 m

Kedalaman :

1
2
3
4

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln42
> 1 bln

1
2
12 Muka Air Tanah
Jenis :

Lambat sekali 4 Cepat


Lambat
5 Cepat sekali
r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

1
2
3
4
5

sangat dangkal < 0.25 m


dangkal
0.25 - 0.5 m
sedang
0.5 - 1.5 m
dalam
1.5 - 3.0 m
sangat dalam > 3.0 m

1
2

sangat rendah
rendah

x
s
r
g
b
a
c
l

Tidak ada
Erosi lembar
Erosi alur
Erosi parit
Erosi tebing sungai
Abrasi
Korasi
Tanah longsor
cm

f
c
p

fragipan
clay pan
plough pans

Kedalaman :

1
2
3
4

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln
> 1 bln

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari
2 harian
3 2 mingguan
4 bulanan

Amplitudo Pasang :

14 Erosi
Jenis :

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

3
4
5

sedang
tinggi
sangat tinggi

1
2
3
4

Ringan
Sedang
Berat
Sangat Berat

m
t
l
c
r
p

montana
submontana
lowland
coastal
swamp
tidal swamp

Derajat :

15 Kedalaman Efektif :
16 Pans

17 Penutupan Lahan/Penggunaan Lahan


Vegetasi Alami
Grup vegetasi alami
h hutan
b belukar
s semak
r padang rumput

Kondisi Iklim
altitud > 2000 m
alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis vegetasi alami


Kelas penutupan lahan (coverage) oleh kanopi tanaman *
a. 0-30 %, jarang; b. 30-60 %, sedang; c. 60-90 %, rapat; d.>90 %, sangat rapat
Kelas jumlah pohon/ luasan area (pohon/m2 ) *
a. jarang, < 5 pohon/10 m2 ; b. sedang, 5-10 pohon/10m2 ; c. rapat, >10 pohon/10 m2
Pertanian
Lahan Pertanian
e
u
k
l
w
p
t

Kondisi Iklim
perkebunan besar
m montana
lahan kering
t submontana
kebun campuran
l lowland
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

altitud > 2000 m


alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

43

k
l
w
p
t

kebun campuran
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

lowland

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

44

2.

Lakukan pengamatan morfologi tanah dengan mengisi tabel di bawah ini.

45

3.

Tentukan Jenis Tanah


No.

4.

Kategori

Rejim Lengas Tanah

Rejim Suhu Tanah

Epipedon

Endopedon

Ordo

Sub Ordo

Great Group

Sub Group

Jenis Tanah
Data penciri

Nama

Tentukan Kelas Kemampuan Lahan


No.

Faktor Pembatas

KELAS KEMAMPUAN LAHAN


Data
Kode
Kelas

Tekstur tanah (t)


a. Lapisan atas
b. Lapisan bawah
2
Lereng (%)
3
Drainase
4
Kedalaman Efektif
5
Tingkat Erosi
6
Batu/Kerikil
7
Bahaya banjir
KELAS KEMAMPUAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KEMAMPUAN LAHAN
46

5.

Tentukan Kelas Kesesuaian Lahan


Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

47

Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

48

Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

49

6.

Tentukan Kelas Kemampuan Kesuburan Tanahnya


No.

Sistem Klasifikasi

Tipe

SubTipe

Modifier

Kelas Kemampuan Kesuburan Tanah

SPL 1
Data

Kelas

50

Titik 2
1.

Amati kondisi karakteristik lahan dengan mengisi tabel di bawah ini.


FORM PENGAMATAN KARAKTERISTIK LAHAN
Pemeta
1 No SPL

No Seri :

2 Koordinat

X:
Elevasi :

Y:
704

m dpl

3 Waktu Pengambilan
Hari :

Tanggal :

4 Lokasi Pengambilan Sampel


Sub DAS/Kali :
Dusun :
Desa :

Kecamatan :

5 Iklim

Klasifikasi Iklim

Curah Hujan :
BB / BK :

mm

Oldeman :

bln

Koppen :

5 Landform
Kode :

Nama :

Lereng tengah vulkan

6 Bahan Induk :

Batuan :

7 Relief
Makro :

Mikro :
a
b
c
d
e
f
g
h

Datar
Agak Datar
Berombak
Bergelombang
Bergumuk
Berbukit kecil
Berbukit
Bergunung

Amplitudo :

(<1% <2m)
(1-3% <2m)
(3-8% 2-10m)
(8-15% 10-50m)
(15-30% <10m)
(15-30% 10-50m)
(15-30% 50-300m)
(>30% >300m)

w
g
l
m
r
s
c
t
o

liang
gilgai
leveled (bertingkat)
mounds (gundukan)
terraced (teras)
terraced n bunded (sawah, tegal)
terracettes
tree-throw
other

8 Kelerengan
Posisi :

Bentuk :
aa
bp
la
lt
lb
xx

Punggung antara aliran


Bagian puncak
Lereng atas
Lereng tengah
Lereng bawah
Tidak ada hubungan

b
l
k
i
t
x

Cembung
Lurus
Cekung
Tidak teratur
Diteras
Tidak ada hubungan

n
ne
e
se
s

Utara
Timur Laut
Timur
Tenggara
Selatan

sw
w
nw
x

Barat Daya
Barat
Barat Laut
Tidak ada hubungan

Aspek :

Kemiringan :

Panjang :

51

9 Keadaan Permukaan
Batuan :
0
1
2
3
4
5
6

Tidak berbatu
Sedikit berbatu
Agak berbatu
Cukup berbatu
Sangat berbatu
Amat sangat berbatu
Singkapan Batuan

0%
<2%
2-10%
10-25%
25-50%
50-90%
>90%

0
1
2
3
4

Tidak berkerikil
Agak berkerikil
Cukup berkerikil
Sangat berkerikil
Amat sangat berkerikil

0%
<15%
15-35%
35-60%
>60%

t
k
h
l
g
u

tugal
gundukan
dibajak
pelumpuran
guludan
penghalusan

Batu dlm tanah :


0 Tidak berkerakal
1 Sedikit berkerakal
2 Agak berkerakal
3 Cukup berkerakal
4 Sangat berkerakal
5 Amat sangat berkerakal
6 Lahan kerakal

0%
<0.01%
0.01-0.1%
0.1-3.0%
3-15%
15-90%
>90%

Kerikil :

Pengelolaan :
b
r
d
s
z
x

guludan terputus
pengolahan menurut kontur
bajak dalam
pengolahan strip
tanpa pengolahan
tidak penting

10 Bahan Induk
Jenis Akumulasi / Deposisi
r residual (dari hasil pelapukan batuan terkonsolidasi)
f fluvial (alluvial; fans & deposit sungai)
c colluvial (transprtasi oleh gravitasi & air dispanjang lereng)
m marine (lagoon pantai, deposit dasar laut)
l lacustrine (alluvial, deposit di danau, termasuk glacial lacustrine)
a aeolian (transportasi oleh angin)
v volcanic (lava, debu, dll)
o organic sediment (topo-, obrogenic & sedimen gambut)
Lithologi :
11 Drainase Tanah
Kelas Drainase Alami :
0
1
2
3

Sangat terhambat
Terhambat
Agak terhambat
Agak baik

4
5
6

Baik
Agak cepat
Sangat cepat

Permeabilitas :
1
2
3
4

Sangat lambat
Lambat
Sedang
Cepat

<0.2
0.2 - 0.6
0.6 - 6.0
>6.0

0
1
2

Tidak ada
3 Sedang
Lambat sekali 4 Cepat
Lambat
5 Cepat sekali

Runoff :

cm/jam
cm/jam
cm/jam
cm/jam
Pengelolaan Air :

12 Muka Air Tanah


Jenis :

r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

d
i

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Drainase buatan
Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

sangat dangkal < 0.25 m

Kedalaman :

1
2
3
4

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln52
> 1 bln

1
2
12 Muka Air Tanah
Jenis :

Lambat sekali 4 Cepat


Lambat
5 Cepat sekali
r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

1
2
3
4
5

sangat dangkal < 0.25 m


dangkal
0.25 - 0.5 m
sedang
0.5 - 1.5 m
dalam
1.5 - 3.0 m
sangat dalam > 3.0 m

1
2

sangat rendah
rendah

x
s
r
g
b
a
c
l

Tidak ada
Erosi lembar
Erosi alur
Erosi parit
Erosi tebing sungai
Abrasi
Korasi
Tanah longsor
cm

f
c
p

fragipan
clay pan
plough pans

Kedalaman :

1
2
3
4

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln
> 1 bln

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari
2 harian
3 2 mingguan
4 bulanan

Amplitudo Pasang :

14 Erosi
Jenis :

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

3
4
5

sedang
tinggi
sangat tinggi

1
2
3
4

Ringan
Sedang
Berat
Sangat Berat

m
t
l
c
r
p

montana
submontana
lowland
coastal
swamp
tidal swamp

Derajat :

15 Kedalaman Efektif :
16 Pans

17 Penutupan Lahan/Penggunaan Lahan


Vegetasi Alami
Grup vegetasi alami
h hutan
b belukar
s semak
r padang rumput

Kondisi Iklim
altitud > 2000 m
alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis vegetasi alami


Kelas penutupan lahan (coverage) oleh kanopi tanaman *
a. 0-30 %, jarang; b. 30-60 %, sedang; c. 60-90 %, rapat; d.>90 %, sangat rapat
Kelas jumlah pohon/ luasan area (pohon/m2 ) *
a. jarang, < 5 pohon/10 m2 ; b. sedang, 5-10 pohon/10m2 ; c. rapat, >10 pohon/10 m2
Pertanian
Lahan Pertanian
e
u
k
l
w
p
t

Kondisi Iklim
perkebunan besar
m montana
lahan kering
t submontana
kebun campuran
l lowland
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

altitud > 2000 m


alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

53

k
l
w
p
t

kebun campuran
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

lowland

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

54

2.

Lakukan pengamatan morfologi tanah dengan mengisi tabel di bawah ini.

55

3.

Tentukan Jenis Tanah


No.

4.

Kategori

Rejim Lengas Tanah

Rejim Suhu Tanah

Epipedon

Endopedon

Ordo

Sub Ordo

Great Group

Sub Group

Jenis Tanah
Data penciri

Nama

Tentukan Kelas Kemampuan Lahan


No.

Faktor Pembatas

KELAS KEMAMPUAN LAHAN


Data
Kode
Kelas

Tekstur tanah (t)


a. Lapisan atas
b. Lapisan bawah
2
Lereng (%)
3
Drainase
4
Kedalaman Efektif
5
Tingkat Erosi
6
Batu/Kerikil
7
Bahaya banjir
KELAS KEMAMPUAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KEMAMPUAN LAHAN
56

5.

Tentukan Kelas Kesesuaian Lahan


Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

57

Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

58

Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

59

6.

Tentukan Kelas Kemampuan Kesuburan Tanahnya


No.

Sistem Klasifikasi

Tipe

SubTipe

Modifier

Kelas Kemampuan Kesuburan Tanah

SPL 1
Data

Kelas

60

Titik 3
1.

Amati kondisi karakteristik lahan dengan mengisi tabel di bawah ini.


FORM PENGAMATAN KARAKTERISTIK LAHAN
Pemeta
1 No SPL

No Seri :

2 Koordinat

X:
Elevasi :

Y:
704

m dpl

3 Waktu Pengambilan
Hari :

Tanggal :

4 Lokasi Pengambilan Sampel


Sub DAS/Kali :
Dusun :
Desa :

Kecamatan :

5 Iklim

Klasifikasi Iklim

Curah Hujan :
BB / BK :

mm

Oldeman :

bln

Koppen :

5 Landform
Kode :

Nama :

Lereng tengah vulkan

6 Bahan Induk :

Batuan :

7 Relief
Makro :

Mikro :
a
b
c
d
e
f
g
h

Datar
Agak Datar
Berombak
Bergelombang
Bergumuk
Berbukit kecil
Berbukit
Bergunung

Amplitudo :

(<1% <2m)
(1-3% <2m)
(3-8% 2-10m)
(8-15% 10-50m)
(15-30% <10m)
(15-30% 10-50m)
(15-30% 50-300m)
(>30% >300m)

w
g
l
m
r
s
c
t
o

liang
gilgai
leveled (bertingkat)
mounds (gundukan)
terraced (teras)
terraced n bunded (sawah, tegal)
terracettes
tree-throw
other

8 Kelerengan
Posisi :

Bentuk :
aa
bp
la
lt
lb
xx

Punggung antara aliran


Bagian puncak
Lereng atas
Lereng tengah
Lereng bawah
Tidak ada hubungan

b
l
k
i
t
x

Cembung
Lurus
Cekung
Tidak teratur
Diteras
Tidak ada hubungan

n
ne
e
se
s

Utara
Timur Laut
Timur
Tenggara
Selatan

sw
w
nw
x

Barat Daya
Barat
Barat Laut
Tidak ada hubungan

Aspek :

Kemiringan :

Panjang :

61

9 Keadaan Permukaan
Batuan :
0
1
2
3
4
5
6

Tidak berbatu
Sedikit berbatu
Agak berbatu
Cukup berbatu
Sangat berbatu
Amat sangat berbatu
Singkapan Batuan

0%
<2%
2-10%
10-25%
25-50%
50-90%
>90%

0
1
2
3
4

Tidak berkerikil
Agak berkerikil
Cukup berkerikil
Sangat berkerikil
Amat sangat berkerikil

0%
<15%
15-35%
35-60%
>60%

t
k
h
l
g
u

tugal
gundukan
dibajak
pelumpuran
guludan
penghalusan

Batu dlm tanah :


0 Tidak berkerakal
1 Sedikit berkerakal
2 Agak berkerakal
3 Cukup berkerakal
4 Sangat berkerakal
5 Amat sangat berkerakal
6 Lahan kerakal

0%
<0.01%
0.01-0.1%
0.1-3.0%
3-15%
15-90%
>90%

Kerikil :

Pengelolaan :
b
r
d
s
z
x

guludan terputus
pengolahan menurut kontur
bajak dalam
pengolahan strip
tanpa pengolahan
tidak penting

10 Bahan Induk
Jenis Akumulasi / Deposisi
r residual (dari hasil pelapukan batuan terkonsolidasi)
f fluvial (alluvial; fans & deposit sungai)
c colluvial (transprtasi oleh gravitasi & air dispanjang lereng)
m marine (lagoon pantai, deposit dasar laut)
l lacustrine (alluvial, deposit di danau, termasuk glacial lacustrine)
a aeolian (transportasi oleh angin)
v volcanic (lava, debu, dll)
o organic sediment (topo-, obrogenic & sedimen gambut)
Lithologi :
11 Drainase Tanah
Kelas Drainase Alami :
0
1
2
3

Sangat terhambat
Terhambat
Agak terhambat
Agak baik

4
5
6

Baik
Agak cepat
Sangat cepat

Permeabilitas :
1
2
3
4

Sangat lambat
Lambat
Sedang
Cepat

<0.2
0.2 - 0.6
0.6 - 6.0
>6.0

0
1
2

Tidak ada
3 Sedang
Lambat sekali 4 Cepat
Lambat
5 Cepat sekali

Runoff :

cm/jam
cm/jam
cm/jam
cm/jam
Pengelolaan Air :

12 Muka Air Tanah


Jenis :

r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

d
i

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Drainase buatan
Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

sangat dangkal < 0.25 m

Kedalaman :

1
2
3
4

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln62
> 1 bln

1
2
12 Muka Air Tanah
Jenis :

Lambat sekali 4 Cepat


Lambat
5 Cepat sekali
r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

1
2
3
4
5

sangat dangkal < 0.25 m


dangkal
0.25 - 0.5 m
sedang
0.5 - 1.5 m
dalam
1.5 - 3.0 m
sangat dalam > 3.0 m

1
2

sangat rendah
rendah

x
s
r
g
b
a
c
l

Tidak ada
Erosi lembar
Erosi alur
Erosi parit
Erosi tebing sungai
Abrasi
Korasi
Tanah longsor
cm

f
c
p

fragipan
clay pan
plough pans

Kedalaman :

1
2
3
4

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln
> 1 bln

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari
2 harian
3 2 mingguan
4 bulanan

Amplitudo Pasang :

14 Erosi
Jenis :

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

3
4
5

sedang
tinggi
sangat tinggi

1
2
3
4

Ringan
Sedang
Berat
Sangat Berat

m
t
l
c
r
p

montana
submontana
lowland
coastal
swamp
tidal swamp

Derajat :

15 Kedalaman Efektif :
16 Pans

17 Penutupan Lahan/Penggunaan Lahan


Vegetasi Alami
Grup vegetasi alami
h hutan
b belukar
s semak
r padang rumput

Kondisi Iklim
altitud > 2000 m
alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis vegetasi alami


Kelas penutupan lahan (coverage) oleh kanopi tanaman *
a. 0-30 %, jarang; b. 30-60 %, sedang; c. 60-90 %, rapat; d.>90 %, sangat rapat
Kelas jumlah pohon/ luasan area (pohon/m2 ) *
a. jarang, < 5 pohon/10 m2 ; b. sedang, 5-10 pohon/10m2 ; c. rapat, >10 pohon/10 m2
Pertanian
Lahan Pertanian
e
u
k
l
w
p
t

Kondisi Iklim
perkebunan besar
m montana
lahan kering
t submontana
kebun campuran
l lowland
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

altitud > 2000 m


alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

63

k
l
w
p
t

kebun campuran
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

lowland

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

64

2.

Lakukan pengamatan morfologi tanah dengan mengisi tabel di bawah ini.

65

3.

Tentukan Jenis Tanah


No.

4.

Kategori

Rejim Lengas Tanah

Rejim Suhu Tanah

Epipedon

Endopedon

Ordo

Sub Ordo

Great Group

Sub Group

Jenis Tanah
Data penciri

Nama

Tentukan Kelas Kemampuan Lahan


No.

Faktor Pembatas

KELAS KEMAMPUAN LAHAN


Data
Kode
Kelas

Tekstur tanah (t)


a. Lapisan atas
b. Lapisan bawah
2
Lereng (%)
3
Drainase
4
Kedalaman Efektif
5
Tingkat Erosi
6
Batu/Kerikil
7
Bahaya banjir
KELAS KEMAMPUAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KEMAMPUAN LAHAN
66

5.

Tentukan Kelas Kesesuaian Lahan


Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

67

Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

68

Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

69

6.

Tentukan Kelas Kemampuan Kesuburan Tanahnya


No.

Sistem Klasifikasi

Tipe

SubTipe

Modifier

Kelas Kemampuan Kesuburan Tanah

SPL 1
Data

Kelas

70

Titik 4
1.

Amati kondisi karakteristik lahan dengan mengisi tabel di bawah ini.


FORM PENGAMATAN KARAKTERISTIK LAHAN
Pemeta
1 No SPL

No Seri :

2 Koordinat

X:
Elevasi :

Y:
704

m dpl

3 Waktu Pengambilan
Hari :

Tanggal :

4 Lokasi Pengambilan Sampel


Sub DAS/Kali :
Dusun :
Desa :

Kecamatan :

5 Iklim

Klasifikasi Iklim

Curah Hujan :
BB / BK :

mm

Oldeman :

bln

Koppen :

5 Landform
Kode :

Nama :

Lereng tengah vulkan

6 Bahan Induk :

Batuan :

7 Relief
Makro :

Mikro :
a
b
c
d
e
f
g
h

Datar
Agak Datar
Berombak
Bergelombang
Bergumuk
Berbukit kecil
Berbukit
Bergunung

Amplitudo :

(<1% <2m)
(1-3% <2m)
(3-8% 2-10m)
(8-15% 10-50m)
(15-30% <10m)
(15-30% 10-50m)
(15-30% 50-300m)
(>30% >300m)

w
g
l
m
r
s
c
t
o

liang
gilgai
leveled (bertingkat)
mounds (gundukan)
terraced (teras)
terraced n bunded (sawah, tegal)
terracettes
tree-throw
other

8 Kelerengan
Posisi :

Bentuk :
aa
bp
la
lt
lb
xx

Punggung antara aliran


Bagian puncak
Lereng atas
Lereng tengah
Lereng bawah
Tidak ada hubungan

b
l
k
i
t
x

Cembung
Lurus
Cekung
Tidak teratur
Diteras
Tidak ada hubungan

n
ne
e
se
s

Utara
Timur Laut
Timur
Tenggara
Selatan

sw
w
nw
x

Barat Daya
Barat
Barat Laut
Tidak ada hubungan

Aspek :

Kemiringan :

Panjang :

71

9 Keadaan Permukaan
Batuan :
0
1
2
3
4
5
6

Tidak berbatu
Sedikit berbatu
Agak berbatu
Cukup berbatu
Sangat berbatu
Amat sangat berbatu
Singkapan Batuan

0%
<2%
2-10%
10-25%
25-50%
50-90%
>90%

0
1
2
3
4

Tidak berkerikil
Agak berkerikil
Cukup berkerikil
Sangat berkerikil
Amat sangat berkerikil

0%
<15%
15-35%
35-60%
>60%

t
k
h
l
g
u

tugal
gundukan
dibajak
pelumpuran
guludan
penghalusan

Batu dlm tanah :


0 Tidak berkerakal
1 Sedikit berkerakal
2 Agak berkerakal
3 Cukup berkerakal
4 Sangat berkerakal
5 Amat sangat berkerakal
6 Lahan kerakal

0%
<0.01%
0.01-0.1%
0.1-3.0%
3-15%
15-90%
>90%

Kerikil :

Pengelolaan :
b
r
d
s
z
x

guludan terputus
pengolahan menurut kontur
bajak dalam
pengolahan strip
tanpa pengolahan
tidak penting

10 Bahan Induk
Jenis Akumulasi / Deposisi
r residual (dari hasil pelapukan batuan terkonsolidasi)
f fluvial (alluvial; fans & deposit sungai)
c colluvial (transprtasi oleh gravitasi & air dispanjang lereng)
m marine (lagoon pantai, deposit dasar laut)
l lacustrine (alluvial, deposit di danau, termasuk glacial lacustrine)
a aeolian (transportasi oleh angin)
v volcanic (lava, debu, dll)
o organic sediment (topo-, obrogenic & sedimen gambut)
Lithologi :
11 Drainase Tanah
Kelas Drainase Alami :
0
1
2
3

Sangat terhambat
Terhambat
Agak terhambat
Agak baik

4
5
6

Baik
Agak cepat
Sangat cepat

Permeabilitas :
1
2
3
4

Sangat lambat
Lambat
Sedang
Cepat

<0.2
0.2 - 0.6
0.6 - 6.0
>6.0

0
1
2

Tidak ada
3 Sedang
Lambat sekali 4 Cepat
Lambat
5 Cepat sekali

Runoff :

cm/jam
cm/jam
cm/jam
cm/jam
Pengelolaan Air :

12 Muka Air Tanah


Jenis :

r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

d
i

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Drainase buatan
Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

sangat dangkal < 0.25 m

Kedalaman :

1
2
3
4

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln72
> 1 bln

1
2
12 Muka Air Tanah
Jenis :

Lambat sekali 4 Cepat


Lambat
5 Cepat sekali
r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

1
2
3
4
5

sangat dangkal < 0.25 m


dangkal
0.25 - 0.5 m
sedang
0.5 - 1.5 m
dalam
1.5 - 3.0 m
sangat dalam > 3.0 m

1
2

sangat rendah
rendah

x
s
r
g
b
a
c
l

Tidak ada
Erosi lembar
Erosi alur
Erosi parit
Erosi tebing sungai
Abrasi
Korasi
Tanah longsor
cm

f
c
p

fragipan
clay pan
plough pans

Kedalaman :

1
2
3
4

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln
> 1 bln

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari
2 harian
3 2 mingguan
4 bulanan

Amplitudo Pasang :

14 Erosi
Jenis :

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

3
4
5

sedang
tinggi
sangat tinggi

1
2
3
4

Ringan
Sedang
Berat
Sangat Berat

m
t
l
c
r
p

montana
submontana
lowland
coastal
swamp
tidal swamp

Derajat :

15 Kedalaman Efektif :
16 Pans

17 Penutupan Lahan/Penggunaan Lahan


Vegetasi Alami
Grup vegetasi alami
h hutan
b belukar
s semak
r padang rumput

Kondisi Iklim
altitud > 2000 m
alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis vegetasi alami


Kelas penutupan lahan (coverage) oleh kanopi tanaman *
a. 0-30 %, jarang; b. 30-60 %, sedang; c. 60-90 %, rapat; d.>90 %, sangat rapat
Kelas jumlah pohon/ luasan area (pohon/m2 ) *
a. jarang, < 5 pohon/10 m2 ; b. sedang, 5-10 pohon/10m2 ; c. rapat, >10 pohon/10 m2
Pertanian
Lahan Pertanian
e
u
k
l
w
p
t

Kondisi Iklim
perkebunan besar
m montana
lahan kering
t submontana
kebun campuran
l lowland
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

altitud > 2000 m


alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

73

k
l
w
p
t

kebun campuran
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

lowland

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

74

2.

Lakukan pengamatan morfologi tanah dengan mengisi tabel di bawah ini.

75

3.

Tentukan Jenis Tanah


No.

4.

Kategori

Rejim Lengas Tanah

Rejim Suhu Tanah

Epipedon

Endopedon

Ordo

Sub Ordo

Great Group

Sub Group

Jenis Tanah
Data penciri

Nama

Tentukan Kelas Kemampuan Lahan


No.

Faktor Pembatas

KELAS KEMAMPUAN LAHAN


Data
Kode
Kelas

Tekstur tanah (t)


a. Lapisan atas
b. Lapisan bawah
2
Lereng (%)
3
Drainase
4
Kedalaman Efektif
5
Tingkat Erosi
6
Batu/Kerikil
7
Bahaya banjir
KELAS KEMAMPUAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KEMAMPUAN LAHAN
76

5.

Tentukan Kelas Kesesuaian Lahan


Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

77

Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

78

Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

79

6.

Tentukan Kelas Kemampuan Kesuburan Tanahnya


No.

Sistem Klasifikasi

Tipe

SubTipe

Modifier

Kelas Kemampuan Kesuburan Tanah

SPL 1
Data

Kelas

80

Titik 5
1.

Amati kondisi karakteristik lahan dengan mengisi tabel di bawah ini.


FORM PENGAMATAN KARAKTERISTIK LAHAN
Pemeta
1 No SPL

No Seri :

2 Koordinat

X:
Elevasi :

Y:
704

m dpl

3 Waktu Pengambilan
Hari :

Tanggal :

4 Lokasi Pengambilan Sampel


Sub DAS/Kali :
Dusun :
Desa :

Kecamatan :

5 Iklim

Klasifikasi Iklim

Curah Hujan :
BB / BK :

mm

Oldeman :

bln

Koppen :

5 Landform
Kode :

Nama :

Lereng tengah vulkan

6 Bahan Induk :

Batuan :

7 Relief
Makro :

Mikro :
a
b
c
d
e
f
g
h

Datar
Agak Datar
Berombak
Bergelombang
Bergumuk
Berbukit kecil
Berbukit
Bergunung

Amplitudo :

(<1% <2m)
(1-3% <2m)
(3-8% 2-10m)
(8-15% 10-50m)
(15-30% <10m)
(15-30% 10-50m)
(15-30% 50-300m)
(>30% >300m)

w
g
l
m
r
s
c
t
o

liang
gilgai
leveled (bertingkat)
mounds (gundukan)
terraced (teras)
terraced n bunded (sawah, tegal)
terracettes
tree-throw
other

8 Kelerengan
Posisi :

Bentuk :
aa
bp
la
lt
lb
xx

Punggung antara aliran


Bagian puncak
Lereng atas
Lereng tengah
Lereng bawah
Tidak ada hubungan

b
l
k
i
t
x

Cembung
Lurus
Cekung
Tidak teratur
Diteras
Tidak ada hubungan

n
ne
e
se
s

Utara
Timur Laut
Timur
Tenggara
Selatan

sw
w
nw
x

Barat Daya
Barat
Barat Laut
Tidak ada hubungan

Aspek :

Kemiringan :

Panjang :

81

9 Keadaan Permukaan
Batuan :
0
1
2
3
4
5
6

Tidak berbatu
Sedikit berbatu
Agak berbatu
Cukup berbatu
Sangat berbatu
Amat sangat berbatu
Singkapan Batuan

0%
<2%
2-10%
10-25%
25-50%
50-90%
>90%

0
1
2
3
4

Tidak berkerikil
Agak berkerikil
Cukup berkerikil
Sangat berkerikil
Amat sangat berkerikil

0%
<15%
15-35%
35-60%
>60%

t
k
h
l
g
u

tugal
gundukan
dibajak
pelumpuran
guludan
penghalusan

Batu dlm tanah :


0 Tidak berkerakal
1 Sedikit berkerakal
2 Agak berkerakal
3 Cukup berkerakal
4 Sangat berkerakal
5 Amat sangat berkerakal
6 Lahan kerakal

0%
<0.01%
0.01-0.1%
0.1-3.0%
3-15%
15-90%
>90%

Kerikil :

Pengelolaan :
b
r
d
s
z
x

guludan terputus
pengolahan menurut kontur
bajak dalam
pengolahan strip
tanpa pengolahan
tidak penting

10 Bahan Induk
Jenis Akumulasi / Deposisi
r residual (dari hasil pelapukan batuan terkonsolidasi)
f fluvial (alluvial; fans & deposit sungai)
c colluvial (transprtasi oleh gravitasi & air dispanjang lereng)
m marine (lagoon pantai, deposit dasar laut)
l lacustrine (alluvial, deposit di danau, termasuk glacial lacustrine)
a aeolian (transportasi oleh angin)
v volcanic (lava, debu, dll)
o organic sediment (topo-, obrogenic & sedimen gambut)
Lithologi :
11 Drainase Tanah
Kelas Drainase Alami :
0
1
2
3

Sangat terhambat
Terhambat
Agak terhambat
Agak baik

4
5
6

Baik
Agak cepat
Sangat cepat

Permeabilitas :
1
2
3
4

Sangat lambat
Lambat
Sedang
Cepat

<0.2
0.2 - 0.6
0.6 - 6.0
>6.0

0
1
2

Tidak ada
3 Sedang
Lambat sekali 4 Cepat
Lambat
5 Cepat sekali

Runoff :

cm/jam
cm/jam
cm/jam
cm/jam
Pengelolaan Air :

12 Muka Air Tanah


Jenis :

r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

d
i

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Drainase buatan
Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

sangat dangkal < 0.25 m

Kedalaman :

1
2
3
4

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln82
> 1 bln

1
2
12 Muka Air Tanah
Jenis :

Lambat sekali 4 Cepat


Lambat
5 Cepat sekali
r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

1
2
3
4
5

sangat dangkal < 0.25 m


dangkal
0.25 - 0.5 m
sedang
0.5 - 1.5 m
dalam
1.5 - 3.0 m
sangat dalam > 3.0 m

1
2

sangat rendah
rendah

x
s
r
g
b
a
c
l

Tidak ada
Erosi lembar
Erosi alur
Erosi parit
Erosi tebing sungai
Abrasi
Korasi
Tanah longsor
cm

f
c
p

fragipan
clay pan
plough pans

Kedalaman :

1
2
3
4

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln
> 1 bln

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari
2 harian
3 2 mingguan
4 bulanan

Amplitudo Pasang :

14 Erosi
Jenis :

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

3
4
5

sedang
tinggi
sangat tinggi

1
2
3
4

Ringan
Sedang
Berat
Sangat Berat

m
t
l
c
r
p

montana
submontana
lowland
coastal
swamp
tidal swamp

Derajat :

15 Kedalaman Efektif :
16 Pans

17 Penutupan Lahan/Penggunaan Lahan


Vegetasi Alami
Grup vegetasi alami
h hutan
b belukar
s semak
r padang rumput

Kondisi Iklim
altitud > 2000 m
alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis vegetasi alami


Kelas penutupan lahan (coverage) oleh kanopi tanaman *
a. 0-30 %, jarang; b. 30-60 %, sedang; c. 60-90 %, rapat; d.>90 %, sangat rapat
Kelas jumlah pohon/ luasan area (pohon/m2 ) *
a. jarang, < 5 pohon/10 m2 ; b. sedang, 5-10 pohon/10m2 ; c. rapat, >10 pohon/10 m2
Pertanian
Lahan Pertanian
e
u
k
l
w
p
t

Kondisi Iklim
perkebunan besar
m montana
lahan kering
t submontana
kebun campuran
l lowland
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

altitud > 2000 m


alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

83

k
l
w
p
t

kebun campuran
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

lowland

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

84

2.

Lakukan pengamatan morfologi tanah dengan mengisi tabel di bawah ini.

85

3.

Tentukan Jenis Tanah


No.

4.

Kategori

Rejim Lengas Tanah

Rejim Suhu Tanah

Epipedon

Endopedon

Ordo

Sub Ordo

Great Group

Sub Group

Jenis Tanah
Data penciri

Nama

Tentukan Kelas Kemampuan Lahan


No.

Faktor Pembatas

KELAS KEMAMPUAN LAHAN


Data
Kode
Kelas

Tekstur tanah (t)


a. Lapisan atas
b. Lapisan bawah
2
Lereng (%)
3
Drainase
4
Kedalaman Efektif
5
Tingkat Erosi
6
Batu/Kerikil
7
Bahaya banjir
KELAS KEMAMPUAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KEMAMPUAN LAHAN
86

5.

Tentukan Kelas Kesesuaian Lahan


Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

87

Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

88

Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

89

6.

Tentukan Kelas Kemampuan Kesuburan Tanahnya


No.

Sistem Klasifikasi

Tipe

SubTipe

Modifier

Kelas Kemampuan Kesuburan Tanah

SPL 1
Data

Kelas

90

Titik 6
1.

Amati kondisi karakteristik lahan dengan mengisi tabel di bawah ini.


FORM PENGAMATAN KARAKTERISTIK LAHAN
Pemeta
1 No SPL

No Seri :

2 Koordinat

X:
Elevasi :

Y:
704

m dpl

3 Waktu Pengambilan
Hari :

Tanggal :

4 Lokasi Pengambilan Sampel


Sub DAS/Kali :
Dusun :
Desa :

Kecamatan :

5 Iklim

Klasifikasi Iklim

Curah Hujan :
BB / BK :

mm

Oldeman :

bln

Koppen :

5 Landform
Kode :

Nama :

Lereng tengah vulkan

6 Bahan Induk :

Batuan :

7 Relief
Makro :

Mikro :
a
b
c
d
e
f
g
h

Datar
Agak Datar
Berombak
Bergelombang
Bergumuk
Berbukit kecil
Berbukit
Bergunung

Amplitudo :

(<1% <2m)
(1-3% <2m)
(3-8% 2-10m)
(8-15% 10-50m)
(15-30% <10m)
(15-30% 10-50m)
(15-30% 50-300m)
(>30% >300m)

w
g
l
m
r
s
c
t
o

liang
gilgai
leveled (bertingkat)
mounds (gundukan)
terraced (teras)
terraced n bunded (sawah, tegal)
terracettes
tree-throw
other

8 Kelerengan
Posisi :

Bentuk :
aa
bp
la
lt
lb
xx

Punggung antara aliran


Bagian puncak
Lereng atas
Lereng tengah
Lereng bawah
Tidak ada hubungan

b
l
k
i
t
x

Cembung
Lurus
Cekung
Tidak teratur
Diteras
Tidak ada hubungan

n
ne
e
se
s

Utara
Timur Laut
Timur
Tenggara
Selatan

sw
w
nw
x

Barat Daya
Barat
Barat Laut
Tidak ada hubungan

Aspek :

Kemiringan :

Panjang :

91

9 Keadaan Permukaan
Batuan :
0
1
2
3
4
5
6

Tidak berbatu
Sedikit berbatu
Agak berbatu
Cukup berbatu
Sangat berbatu
Amat sangat berbatu
Singkapan Batuan

0%
<2%
2-10%
10-25%
25-50%
50-90%
>90%

0
1
2
3
4

Tidak berkerikil
Agak berkerikil
Cukup berkerikil
Sangat berkerikil
Amat sangat berkerikil

0%
<15%
15-35%
35-60%
>60%

t
k
h
l
g
u

tugal
gundukan
dibajak
pelumpuran
guludan
penghalusan

Batu dlm tanah :


0 Tidak berkerakal
1 Sedikit berkerakal
2 Agak berkerakal
3 Cukup berkerakal
4 Sangat berkerakal
5 Amat sangat berkerakal
6 Lahan kerakal

0%
<0.01%
0.01-0.1%
0.1-3.0%
3-15%
15-90%
>90%

Kerikil :

Pengelolaan :
b
r
d
s
z
x

guludan terputus
pengolahan menurut kontur
bajak dalam
pengolahan strip
tanpa pengolahan
tidak penting

10 Bahan Induk
Jenis Akumulasi / Deposisi
r residual (dari hasil pelapukan batuan terkonsolidasi)
f fluvial (alluvial; fans & deposit sungai)
c colluvial (transprtasi oleh gravitasi & air dispanjang lereng)
m marine (lagoon pantai, deposit dasar laut)
l lacustrine (alluvial, deposit di danau, termasuk glacial lacustrine)
a aeolian (transportasi oleh angin)
v volcanic (lava, debu, dll)
o organic sediment (topo-, obrogenic & sedimen gambut)
Lithologi :
11 Drainase Tanah
Kelas Drainase Alami :
0
1
2
3

Sangat terhambat
Terhambat
Agak terhambat
Agak baik

4
5
6

Baik
Agak cepat
Sangat cepat

Permeabilitas :
1
2
3
4

Sangat lambat
Lambat
Sedang
Cepat

<0.2
0.2 - 0.6
0.6 - 6.0
>6.0

0
1
2

Tidak ada
3 Sedang
Lambat sekali 4 Cepat
Lambat
5 Cepat sekali

Runoff :

cm/jam
cm/jam
cm/jam
cm/jam
Pengelolaan Air :

12 Muka Air Tanah


Jenis :

r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

d
i

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Drainase buatan
Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

sangat dangkal < 0.25 m

Kedalaman :

1
2
3
4

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln92
> 1 bln

1
2
12 Muka Air Tanah
Jenis :

Lambat sekali 4 Cepat


Lambat
5 Cepat sekali
r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

1
2
3
4
5

sangat dangkal < 0.25 m


dangkal
0.25 - 0.5 m
sedang
0.5 - 1.5 m
dalam
1.5 - 3.0 m
sangat dalam > 3.0 m

1
2

sangat rendah
rendah

x
s
r
g
b
a
c
l

Tidak ada
Erosi lembar
Erosi alur
Erosi parit
Erosi tebing sungai
Abrasi
Korasi
Tanah longsor
cm

f
c
p

fragipan
clay pan
plough pans

Kedalaman :

1
2
3
4

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln
> 1 bln

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari
2 harian
3 2 mingguan
4 bulanan

Amplitudo Pasang :

14 Erosi
Jenis :

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

3
4
5

sedang
tinggi
sangat tinggi

1
2
3
4

Ringan
Sedang
Berat
Sangat Berat

m
t
l
c
r
p

montana
submontana
lowland
coastal
swamp
tidal swamp

Derajat :

15 Kedalaman Efektif :
16 Pans

17 Penutupan Lahan/Penggunaan Lahan


Vegetasi Alami
Grup vegetasi alami
h hutan
b belukar
s semak
r padang rumput

Kondisi Iklim
altitud > 2000 m
alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis vegetasi alami


Kelas penutupan lahan (coverage) oleh kanopi tanaman *
a. 0-30 %, jarang; b. 30-60 %, sedang; c. 60-90 %, rapat; d.>90 %, sangat rapat
Kelas jumlah pohon/ luasan area (pohon/m2 ) *
a. jarang, < 5 pohon/10 m2 ; b. sedang, 5-10 pohon/10m2 ; c. rapat, >10 pohon/10 m2
Pertanian
Lahan Pertanian
e
u
k
l
w
p
t

Kondisi Iklim
perkebunan besar
m montana
lahan kering
t submontana
kebun campuran
l lowland
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

altitud > 2000 m


alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

93

k
l
w
p
t

kebun campuran
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

lowland

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

94

2.

Lakukan pengamatan morfologi tanah dengan mengisi tabel di bawah ini.

95

3.

Tentukan Jenis Tanah


No.

4.

Kategori

Rejim Lengas Tanah

Rejim Suhu Tanah

Epipedon

Endopedon

Ordo

Sub Ordo

Great Group

Sub Group

Jenis Tanah
Data penciri

Nama

Tentukan Kelas Kemampuan Lahan


No.

Faktor Pembatas

KELAS KEMAMPUAN LAHAN


Data
Kode
Kelas

Tekstur tanah (t)


a. Lapisan atas
b. Lapisan bawah
2
Lereng (%)
3
Drainase
4
Kedalaman Efektif
5
Tingkat Erosi
6
Batu/Kerikil
7
Bahaya banjir
KELAS KEMAMPUAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KEMAMPUAN LAHAN
96

5.

Tentukan Kelas Kesesuaian Lahan


Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

97

Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

98

Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

99

6.

Tentukan Kelas Kemampuan Kesuburan Tanahnya


No.

Sistem Klasifikasi

Tipe

SubTipe

Modifier

Kelas Kemampuan Kesuburan Tanah

SPL 1
Data

Kelas

100

Titik 7
1.

Amati kondisi karakteristik lahan dengan mengisi tabel di bawah ini.


FORM PENGAMATAN KARAKTERISTIK LAHAN
Pemeta
1 No SPL

No Seri :

2 Koordinat

X:
Elevasi :

Y:
704

m dpl

3 Waktu Pengambilan
Hari :

Tanggal :

4 Lokasi Pengambilan Sampel


Sub DAS/Kali :
Dusun :
Desa :

Kecamatan :

5 Iklim

Klasifikasi Iklim

Curah Hujan :
BB / BK :

mm

Oldeman :

bln

Koppen :

5 Landform
Kode :

Nama :

Lereng tengah vulkan

6 Bahan Induk :

Batuan :

7 Relief
Makro :

Mikro :
a
b
c
d
e
f
g
h

Datar
Agak Datar
Berombak
Bergelombang
Bergumuk
Berbukit kecil
Berbukit
Bergunung

Amplitudo :

(<1% <2m)
(1-3% <2m)
(3-8% 2-10m)
(8-15% 10-50m)
(15-30% <10m)
(15-30% 10-50m)
(15-30% 50-300m)
(>30% >300m)

w
g
l
m
r
s
c
t
o

liang
gilgai
leveled (bertingkat)
mounds (gundukan)
terraced (teras)
terraced n bunded (sawah, tegal)
terracettes
tree-throw
other

8 Kelerengan
Posisi :

Bentuk :
aa
bp
la
lt
lb
xx

Punggung antara aliran


Bagian puncak
Lereng atas
Lereng tengah
Lereng bawah
Tidak ada hubungan

b
l
k
i
t
x

Cembung
Lurus
Cekung
Tidak teratur
Diteras
Tidak ada hubungan

n
ne
e
se
s

Utara
Timur Laut
Timur
Tenggara
Selatan

sw
w
nw
x

Barat Daya
Barat
Barat Laut
Tidak ada hubungan

Aspek :

Kemiringan :

Panjang :

101

9 Keadaan Permukaan
Batuan :
0
1
2
3
4
5
6

Tidak berbatu
Sedikit berbatu
Agak berbatu
Cukup berbatu
Sangat berbatu
Amat sangat berbatu
Singkapan Batuan

0%
<2%
2-10%
10-25%
25-50%
50-90%
>90%

0
1
2
3
4

Tidak berkerikil
Agak berkerikil
Cukup berkerikil
Sangat berkerikil
Amat sangat berkerikil

0%
<15%
15-35%
35-60%
>60%

t
k
h
l
g
u

tugal
gundukan
dibajak
pelumpuran
guludan
penghalusan

Batu dlm tanah :


0 Tidak berkerakal
1 Sedikit berkerakal
2 Agak berkerakal
3 Cukup berkerakal
4 Sangat berkerakal
5 Amat sangat berkerakal
6 Lahan kerakal

0%
<0.01%
0.01-0.1%
0.1-3.0%
3-15%
15-90%
>90%

Kerikil :

Pengelolaan :
b
r
d
s
z
x

guludan terputus
pengolahan menurut kontur
bajak dalam
pengolahan strip
tanpa pengolahan
tidak penting

10 Bahan Induk
Jenis Akumulasi / Deposisi
r residual (dari hasil pelapukan batuan terkonsolidasi)
f fluvial (alluvial; fans & deposit sungai)
c colluvial (transprtasi oleh gravitasi & air dispanjang lereng)
m marine (lagoon pantai, deposit dasar laut)
l lacustrine (alluvial, deposit di danau, termasuk glacial lacustrine)
a aeolian (transportasi oleh angin)
v volcanic (lava, debu, dll)
o organic sediment (topo-, obrogenic & sedimen gambut)
Lithologi :
11 Drainase Tanah
Kelas Drainase Alami :
0
1
2
3

Sangat terhambat
Terhambat
Agak terhambat
Agak baik

4
5
6

Baik
Agak cepat
Sangat cepat

Permeabilitas :
1
2
3
4

Sangat lambat
Lambat
Sedang
Cepat

<0.2
0.2 - 0.6
0.6 - 6.0
>6.0

0
1
2

Tidak ada
3 Sedang
Lambat sekali 4 Cepat
Lambat
5 Cepat sekali

Runoff :

cm/jam
cm/jam
cm/jam
cm/jam
Pengelolaan Air :

12 Muka Air Tanah


Jenis :

r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

d
i

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Drainase buatan
Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

sangat dangkal < 0.25 m

Kedalaman :

1
2
3
4

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari

< 2 hr
2 - 7 hr
102
1 mg - 1 bln
> 1 bln

1
2
12 Muka Air Tanah
Jenis :

Lambat sekali 4 Cepat


Lambat
5 Cepat sekali
r : rembesan
m : muka air tanah
x : tidak tahu

Batas Atas :
Batas Bawah :

13 Bahaya Banjir
Frekuensi :

Irigasi

cm
cm

Duration :
0
1
2
3
4

tidak
tidak pernah
jarang
1 x tiap 6-10 th
kadang-kadang 1 x tiap 2 - 5 th
sering
1 x per th
sering sekali > 1 x per th

1
2
3
4
5

sangat dangkal < 0.25 m


dangkal
0.25 - 0.5 m
sedang
0.5 - 1.5 m
dalam
1.5 - 3.0 m
sangat dalam > 3.0 m

1
2

sangat rendah
rendah

x
s
r
g
b
a
c
l

Tidak ada
Erosi lembar
Erosi alur
Erosi parit
Erosi tebing sungai
Abrasi
Korasi
Tanah longsor
cm

f
c
p

fragipan
clay pan
plough pans

Kedalaman :

1
2
3
4

< 2 hr
2 - 7 hr
1 mg - 1 bln
> 1 bln

Frekuensi Banjir Pasang :


1 2 x sehari
2 harian
3 2 mingguan
4 bulanan

Amplitudo Pasang :

14 Erosi
Jenis :

sangat singkat
singkat
lama
lama sekali

3
4
5

sedang
tinggi
sangat tinggi

1
2
3
4

Ringan
Sedang
Berat
Sangat Berat

m
t
l
c
r
p

montana
submontana
lowland
coastal
swamp
tidal swamp

Derajat :

15 Kedalaman Efektif :
16 Pans

17 Penutupan Lahan/Penggunaan Lahan


Vegetasi Alami
Grup vegetasi alami
h hutan
b belukar
s semak
r padang rumput

Kondisi Iklim
altitud > 2000 m
alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis vegetasi alami


Kelas penutupan lahan (coverage) oleh kanopi tanaman *
a. 0-30 %, jarang; b. 30-60 %, sedang; c. 60-90 %, rapat; d.>90 %, sangat rapat
Kelas jumlah pohon/ luasan area (pohon/m2 ) *
a. jarang, < 5 pohon/10 m2 ; b. sedang, 5-10 pohon/10m2 ; c. rapat, >10 pohon/10 m2
Pertanian
Lahan Pertanian
e
u
k
l
w
p
t

Kondisi Iklim
perkebunan besar
m montana
lahan kering
t submontana
kebun campuran
l lowland
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

altitud > 2000 m


alt 1000 - 2000 m
alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

103

k
l
w
p
t

kebun campuran
ladang berpindah
padi
pengangonan/padang rumput ternak
hutan tanaman

lowland

m
s
b
p

merana
sedang
baik
penyakit, hama

l
h
r

layu
kekurangan hara
gejala keracunan

alt < 1000 m

Jenis tanaman
Knampakan tanamn

SKETSA :

104

2.

Lakukan pengamatan morfologi tanah dengan mengisi tabel di bawah ini.

105

3.

Tentukan Jenis Tanah


No.

4.

Kategori

Rejim Lengas Tanah

Rejim Suhu Tanah

Epipedon

Endopedon

Ordo

Sub Ordo

Great Group

Sub Group

Jenis Tanah
Data penciri

Nama

Tentukan Kelas Kemampuan Lahan


No.

Faktor Pembatas

KELAS KEMAMPUAN LAHAN


Data
Kode
Kelas

Tekstur tanah (t)


a. Lapisan atas
b. Lapisan bawah
2
Lereng (%)
3
Drainase
4
Kedalaman Efektif
5
Tingkat Erosi
6
Batu/Kerikil
7
Bahaya banjir
KELAS KEMAMPUAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KEMAMPUAN LAHAN
106

5.

Tentukan Kelas Kesesuaian Lahan


Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

107

Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

108

Komoditi :
Persyaratan penggunaan/karakteristik
lahan

SPL 1
Data

Kelas

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN

109

6.

Tentukan Kelas Kemampuan Kesuburan Tanahnya


No.

Sistem Klasifikasi

Tipe

SubTipe

Modifier

Kelas Kemampuan Kesuburan Tanah

SPL 1
Data

Kelas

110

111

Lampiran : Kriteria Kesesuaian Lahan


Padi Gogo (Oryza sativa)
Kelas kesesuaian lahan

Persyaratan penggunaan/
karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) bulan ke-1
Curah hujan (mm) bulan ke-2
Curah hujan (mm) bulan ke-3
Curah hujan (mm) bulan ke- 4
Kelembaban (%)
Media perakaran (rc)
Drainase
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Gambut:
Ketebalan (cm)
Ketebalan (cm), jika ada
sisipan bahan mineral/
pengkayaan
Kematangan
Retensi hara (nr)
KTK liat (cmol)
Kejenuhan basa (%)
pH H2O
C-organik (%)
Toksisitas (xc)
Salinitas (dS/m)
Sodisitas (xn)
Alkalinitas/ESP (%)
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)

S1

S2

S3

24 - 29

22 - 24
29 - 32

18 - 22
32 - 35

< 18
> 35

400 - 550
400 - 550
75 - 100
400 - 550
75 - 100
400-550;< 50
30 - 33

550 - 650
550 - 650
50 - 75
550 - 650
50 75
550 - 650
< 30 > 90

> 650; < 50

terhambat,
sangat
terhambat

50 - 400
100 - 400
100 - 400
50 - 400
33 - 90
baik, sedang, agak
cepat, agak terhambat

> 650; < 50


> 650; < 50
> 650

cepat

halus, agak halus,


sedang
< 15
> 50

agak kasar

15 - 35
40 - 50

35 55
25 40

> 55
< 25

< 60

60 - 140

140 - 200

> 200

< 140

140 - 200

200 - 400

> 400

saprik+

saprik, hemik+

hemik, fibrik+

fibrik

> 16
> 35

16
20 - 35
5,0 - 5,5
7,5 - 7,9
0,8 - 1,5

< 20
< 5,0
> 7,9
< 0,8

5,5 - 7,5
> 1,5

kasar

<2

2-4

46

>6

< 20

20 - 30

30 40

> 40

> 75

50 - 75

50 30

< 30

<8

8 16

sangat rendah

rendah sedang

16 30
16 50
berat

> 30
> 50
sangat berat

F11

F12 - F13

> F13

<5
<5

5 - 15
5 - 15

15 40
15 25

> 40
> 25

112

Jagung (Zea mays)


Persyaratan penggunaan /
karakteristik lahan

Kelas kesesuaian lahan


S1

S2

S3

26 30

16 - 20
30 - 32

< 16
> 32

1.200 - 1.600
400 - 500
36 42

> 1.600
300 400
30 - 36

< 300
< 30

agak cepat,
sedang

terhambat

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)

20 - 26

Ketersediaan air (wa)


Curah hujan tahunan (mm)
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase

500 1.200
> 42
baik, agak
terhambat

sangat terhambat,
cepat

Media perakaran (rc)


Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Gambut:
Ketebalan (cm)
Ketebalan (cm), jika ada
sisipan bahan mineral/
pengkayaan
Kematangan
Retensi hara (nr)
KTK liat (cmol)
Kejenuhan basa (%)
pH H2O
C-organik (%)
Toksisitas (xc)
Salinitas (dS/m)
Sodisitas (xn)
Alkalinitas/ESP (%)
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)

halus, agak halus,


sedang
< 15
> 60

agak kasar

kasar

15 35
40 60

35 - 55
25 - 40

> 55
< 25

< 60

60 140

140 - 200

> 200

< 140

140 - 200

200 - 400

> 400

saprik+

saprik,
hemik+

hemik,
fibrik+

fibrik

< 35
< 5,5
> 8,2

> 0,4

16
35 - 50
5,5 - 5,8
7,8 8,2
0,4

<4

4-6

6-8

>8

< 15

15 - 20

20 - 25

> 25

> 100

75 - 100

40 - 75

< 40

<8

8-16

16 - 30

> 30

sangat rendah

rendah - sedang

berat

sangat berat

F0

F1

> F2

<5
<5

5-15
5-15

> 16
> 50
5,8 - 7,8

15 - 40
15 - 25

> 40
> 25

113

Kacang tanah (Arachis hypogea)


Persyaratan penggunaan /
karakteristik lahan

Kelas kesesuaian lahan


S1

S2

S3

25 - 27

20 - 25
27 - 30

18 - 20
30 - 34

< 18
> 34

1.100 - 1.600
300 - 400
> 80
< 50

1.600 -1.900
200 - 300

> 1.900
< 200

terhambat

sangat terhambat,
cepat

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada
masa pertumbuhan
Kelembaban (%)

400 - 1.100
50 - 80

Ketersediaan oksigen (oa)


Drainase

baik, agak
terhambat

agak cepat,
sedang

Media perakaran (rc)


Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Gambut:
Ketebalan (cm)
Ketebalan (cm), jika ada
sisipan bahan mineral/
pengkayaan
Kematangan
Retensi hara (nr)
KTK liat (cmol)
Kejenuhan basa (%)
pH H2O
C-organik (%)
Toksisitas (xc)
Salinitas (dS/m)
Sodisitas (xn)
Alkalinitas/ESP (%)
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)

halus, agak halus,


sedang
< 15
> 75

15 - 35
50 - 75

sangat halus, agak


kasar
35 - 55
25 - 50

< 60

60 - 140

140 - 200

> 200

< 140

140 - 200

200 - 400

> 400

saprik+

saprik,
hemik+

hemik,
fibrik+

fibrik

> 1,2

16
35
5,0 - 6,0
7,0 - 7,5
0,8 - 1,2

< 5,0
> 7,5
< 0,8

<4

4-6

6-8

>8

< 10

15-Oct

15 - 20

> 20

> 100

75 - 100

40 - 75

< 40

<8
sangat rendah

8-16
rendah - sedang

16 - 30
berat

> 30
sangat berat

F0

> F0

<5
<5

5-15
5-15

15 - 40
15 - 25

> 40
> 25

> 16
> 35
6,0 - 7,0

kasar
> 55
< 25

114

Kelapa (Cocos nicifera L.)


Persyaratan penggunaan /
karakteristik lahan

Kelas kesesuaian lahan


S1

S2

S3

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)

25 - 28

28 - 32
23 - 25

32 - 35
20 - 23

> 35
< 20

Ketersediaan air (wa)


Curah hujan (mm)

2.000 - 3.000
0-2
> 60

1.300 - 2.000
3.000 - 4.000
2-4
50 - 60

1.000 - 1.300
4.000 - 5.000
4-6
< 50

< 1.000
> 5.000
>6

baik, sedang

agak terhambat

terhambat,
agak cepat

sangat terhambat,
cepat

agak kasar

sangat halus

kasar

15 - 35
75 - 100

35 - 55
50 - 75

> 55
< 50

< 60

60 - 140

140 - 200

> 200

< 140

140 - 200

200 - 400

> 400

saprik+

saprik,
hemik+

hemik,
fibrik+

fibrik

> 20
5,2 - 7,5

> 0,8

20
4,8 - 5,2
7,5 - 8,0
0,8

< 12

12-16

16 - 20

> 20

> 125

100 - 125

60 - 100

< 60

<8
sangat rendah

8-16
rendah - sedang

16 - 30
berat

> 30
sangat berat

F0

F1

> F1

<5
<5

5-15
5-15

15 - 40
15 - 25

> 40
> 25

Lamanya masa kering (bln)


Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Gambut:
Ketebalan (cm)
Ketebalan (cm), jika ada
sisipan bahan mineral/
pengkayaan
Kematangan
Retensi hara (nr)
KTK liat (cmol)
Kejenuhan basa (%)
pH H2O
C-organik (%)
Toksisitas (xc)
Salinitas (dS/m)
Sodisitas (xn)
Alkalinitas/ESP (%)
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)

halus, agak halus,


sedang
< 15
> 100

< 4,8
> 8,0

115

Ubi Kayu (Manihot esculenta)


Persyaratan penggunaan/
karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)

Kelas kesesuaian lahan


S1

S2

S3

22 - 28

28 - 30

18 - 20
30 - 35

< 18
> 35

600 - 1.000
2.000 - 3.000
5-6

500 - 600
3.000 -5.000
6-7

< 500
> 5.000
>7

baik, agak
terhambat

agak cepat, sedang

terhambat

sangat terhambat,
cepat

agak halus, sedang

halus, agak kasar

sangat halus

kasar

< 15
> 100

15 - 35
75 - 100

35 - 55
50 - 75

> 55
< 50

< 60

60 - 140

140 - 200

> 200

< 140

140 - 200

200 - 400

> 400

saprik+

saprik,
hemik+

hemik,
fibrik+

fibrik

Ketersediaan air (wa)


Curah hujan (mm)
Lama bulan kering (bln)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase

1.000 - 2.000
3,5 - 5

Media perakaran (rc)


Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Gambut:
Ketebalan (cm)
Ketebalan (cm), jika ada
sisipan bahan mineral/
pengkayaan
Kematangan
Retensi hara (nr)
KTK liat (cmol)
Kejenuhan basa (%)
pH H2O
C-organik (%)
Toksisitas (xc)
Salinitas (dS/m)
Sodisitas (xn)
Alkalinitas/ESP (%)
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)

> 0,8

16
< 20
4,8 - 5,2
7,0 - 7,6
0,8

<2

2-3

3-4

>4

> 100

75 - 100

40 - 75

< 40

<8
sangat rendah

8 - 16
rendah - sedang

16 - 30
berat

> 30
sangat berat

F0

F1

> F1

<5
<5

5 - 15
5 - 15

15 - 40
15 - 25

> 40
> 25

> 16
20
5,2 - 7,0

< 4,8
> 7,6

116