Anda di halaman 1dari 35

KATA PENGANTAR

Puji dan rasa syukur senantiasa kami haturkan ke hadirat Tuhan


Yang Maha Esa, karena atas karunia-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah Multivibrator. Makalah ini dapat terselesaikan tepat pada
waktunya meskipun banyak terdapat kendala dan hambatan yang dialami
dalam proses pembuatannya.
Terselesaikannya penulisan makalah ini tidak lepas dari bimbingan,
bantuan, motivasi yang diberikan oleh berbagai pihak. Oleh karena itu,
penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada dosen mata kuliah yang
telah membantu dan membimbing. Penulis juga mengucapkan terimakasih
kepada teman teman yang telah membantu baik berupa moril maupun
materil.
Segala usaha telah penulis lakukan demi kesempurnaan makalah ini,
namun penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dan
keterbatasan dalam pembuatan. Oleh karena itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun terutama dari
bapak dosen demi penyempurnaan makalah ini. Harapannya, penulis
membuat makalah ini untuk dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi para
pembacanya.

Bogor,10 Oktober 2014

Penulis

Daftar isi
KATA PENGANTAR.............................................................................................................. 1
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................... 3
1.1. LATAR BELAKANG ..................................................................................................... 3
1.2. RUMUSAN MASALAH ............................................................................................... 4
1.3. TUJUAN PENULISAN ................................................................................................. 4
1.4. METODOLOGI PENULISAN........................................................................................ 4
1.5. MANFAAT PENULISAN .............................................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................... 5
2.1. PENGERTIAN MULTIVIBRATOR ................................................................................ 5
2.1. JENIS JENIS MULTIVIBRATOR ................................................................................... 5
2.2.1 ASTABLE MULTIVIBRATOR ................................................................................. 6
2.2.2 MONOSTABLE MULTIVIBRATOR ...................................................................... 21
2.2.3 BISTABLE MULTIVIBRATOR .............................................................................. 29
BAB III PENUTUP .............................................................................................................. 34
3.1 KESIMPULAN ........................................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 35

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam dunia elektronik terdapat proses yang pada prinsipnya hanya
sekedar memutus ataupun mengubungkan suatu rangkaian listrik (proses
pensaklaran). Proses pensaklaran ini harus memenuhi beberapa syarat
tertentu, yaitu cepat. Cepat yang dimaksud adalah tidak menimbulkan
getaran. Syarat selanjutnya adalah tidak menimbulkan percikan bunga api
listrik. Tetapi sangat disayangkan dikarenakan saklar mekanik ataupun
manual tidak dapat memenuhi persyaraan tersebut. Proses pensaklaran
dapat kita jumpai pada sistem pewaktu agar suau rangkaian dapat bekerja
dalam selang waktu tertentu.
Multivbrator adalah dua buah piranti aktif dengan keluaran yang
saling berhubungan dengan masukan yang lain dan terdapat di dalam suatu
rangkaian. piranti yang satu harus di cut off, sedangkan piranti yang lain
dipaksa melakukan penghantaran. Multivibrator adalah rangkaian yang
dapat menghasilkan sinyal kontinyu yang digunakan sebagai pewaktu dari
rangaian rangkaian digital sekuensial. Multivibrator juga merupakan
rangkaian

elektronik

yang menghasilkan

gelombang kotak,

atau

gelombang lain yang bukan sinusoida seperti gelombang segi empat dan
gelombang gigi gergaji, untuk membangkitkan frekuensi dasar dengan
banyak harmonik, dan untuk menimbulkan tegangan untuk menyalakan
dan memadamkan rangkaian elektronik gerbang ataupun sakelar. dengan
input clock yang dihasilkan oleh sebuah multivibrator, rangkaian seperti
counter, shift register maupun memory dapat menjalankan fungsinya
dengan benar.
Nama dari multivibrator sendiri diturunkan dari kenyataan bahwa
gelombang kotak terdiri dari sejumlah besar gelombang sinusoida dengan
frekuensi yang berbeda beda

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan multivibrator?
2. Bagaimana

bentuk

rangkaian

serta

penjelasan

mengenai

multivibrator?
3. Apa saja jenis jenis multivibrator?

1.3. Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui apa yang dimaksudkan dengan multivibrator?
2. Untuk mengetahui apa jenis jenis dari multivibrator sendiri?
3. Untuk mengetahui bagaimana bentuk rangkaian serta penjelasan
mengenai multivibrator?
4. Mengetahui apa saja kekurangan dan kelebihan dari multivibrator
itu sendiri?

1.4. Metodologi Penulisan


Dalam

penyusunan

makalah,

penulis

menggunakan

metode

kepustakaan dan sebagian besarnya diperoleh dari internet.

1.5. Manfaat Penulisan


Dalam pembuatan makalah ini, pastiya mempunyai tujuan yang
dicapai yaitu untuk memberikan informasi kepada teman teman dan dosen
sekalian, memenuhi tugas dosen, menambah pengetahuan tentang
multivibrator dan belajar untuk membuat dan menulis makalah.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN MULTIVIBRATOR


Multivibrator mendapatkan namanya karena isyarat kekuasannya
kaya akan harmonik. Multivibrator berasal dari istilah yang digunakan
oleh William Eccles dan F.W. Jordan pada tahun 1919 untuk sirkuit
tabung hampa yang dibuatnya. Multivibrator adalah sebuah sirkuit
regeneratif dengan dua buah piranti aktif dengan keluaran yang saling
berhubungan dengan masukan yang lain dan terdapat di dalam suatu
rangkaian yang digunakan untuk bermacam macam sistem seperti
osilator, pewaktu dan register. Multivibrator dapat menyimpan bilangan
biner, mencacah pulsa, menyerempakkan operasi operasi aritmatika,
menghasilkan tegangan ac gigi-gergaji atau gelombang persegi,untuk
membangkitkan frekuensi dasar dan banyak harmonik, dan untuk
menimbulkkan

tegangan

untuk

menyalakan

dan

memadamkan

rangkaian elektronik gerbang atau sakelar. Rangkaian multivibrator


dapat menghasilkan sinyal kontinyu yang diguakan sebagai pewaktu
dari rangkaian rangkaian digital sekuensial. Dengan input clock yang
dihasilkan oleh sebuah pewaktu dari rangkaian rangkaian digital
sekuensial. Dengan input clock yang dihasilkan oleh sebuah
multivibrator, rangkaian seperti counter, shift register maupun memory
dapat menjalankan fungsinya dengan benar.
2.2 JENIS JENIS MULTIVIBRATOR
pada dasarnya terdapat 3 jenis dari rangkaian multivibrator, yaitu :

1. Astable multivibrator
dimana sirkuit tidak stabil pada salah satu keadaan, ini
berosilasi terus-menerus dari satu keadaan ke keadaan lainnya.

2. Monostable multivibrator
dimana salah satu keadaan adalah stabil, tetapi yang lainnya
takstabil. Sirkuit akan berubah ke keadaan takstabil untuk
waktu tertentu, tetapi akan selalu kembali ke keadaan stabil.
Sirkuit ini berguna untuk membuat pewaktuan dengan jeda
tetap untuk menanggapi isyarat luar.

3. Bistable
dimana sirkuit akan tetap berada pada salah satu keadaan.
Sirkuit dapat diubah dari satu keadaan ke keadaan lainnya
dengan penyulut eksternal. Sirkuit ini adalah blok fasis dari
register dan memori digital.

2.2.1 Astable Multivibrator

Multivibrator merupakan jenis osilator relaksasi yang sangat


penting. Rangkaian osilator ini menggunakan jaringan RC dan
menghasilkan

gelombang

kotak

pada

keluarannya.

Astabel multivibrator biasa digunakan pada penerima TV untuk


mengontrol berkas elektron pada tabung gambar. Pada komputer
rangkaian ini digunakan untuk mengembangkan pulsa waktu.
Astable multivibrator atau disebut freerunning multivibrator adalah
mutivibrator yang tidak mempunyai stable state yang permanen.
Setiap transistor secara bergantian saturated dan cut off.
Disebut sebagai multivibrator astable apabila kedua tingkat
tegangan keluaran yang dihasilkan oleh rangkaian multivibrator
tersebut adalah quasistable. Rangkaian tersebut hanya mengubah
keadaan tingkat tegangan keluarannya di antara 2 keadaan, masingmasing

keadaan

memiliki

periode

yang

tetap.

Rangkaian

multivibrator tersebut akan bekerja secara bebas dan tidak lagi


memerlukan pemicu. Periode waktu masing-masing level tegangan

keluarannya ditentukan oleh komponen-komponen penyusun


rangkaian tersebut. Banyak metode digunakan untuk membentuk
rangkaian multivibrator astabil, di antaranya adalah dengan
menggunakan Operational Amplifier, menggunakan IC 555, atau
transistor NPN.

Gambar 1 Bentuk Gelombang Keluaran Multivibrator

Multivibrator difungsikan sebagai piranti pemicu (trigerred device)


atau freerunning. Multivibrator pemicu memerlukan isyarat masukan
atau pulsa. Keluaran multivibrator dikontrol atau disinkronkan
(sincronized) oleh isyarat masukan. Astable multivibrator termasuk
jenis free-running
Sebuah multivibrator terdiri atas dua penguat yang digandeng
secara silang. Keluaran penguat yang satu dihubungkan dengan
masukan penguat yang lain. Karena masing-masing penguat membalik
isyarat masukan, efek dari gabungan ini adalah berupa balikan positif.
Dengan adanya (positif) balikan, osilator akan regenerative (selalu
mendapatkan tambahan energi) dan menghasilkan keluaran yang
kontinyu. Astabil Multivibrator adalah suatu rangkaian yang
mempunyai dua state dan yang berosilasi secara kontinu guna
menghasilkan bentuk gelombang persegi atau pulsa dioutputnya. Pada
multivibrator astabil, outputnya tidak stabil pada setiap state, tapi akan
berubah secara kontinudari 0 ke 1 dan dari 1 ke 0. Prinsip ini sama

dengan rangkaian osilator dan kondisi ini sering disebut dengan free
running.
Operasi dari osilator seperti pada gambar Rangkaian Multivibrator
Astabil Schmitt Trigger adalah:

Tegangan supply IC dalam keadaan hidup/ ON, sehingga


Vkap adalah 0 V dan Vout akan tinggi/ sama dengan
tegangan IC 5 V.

Kapasitor akan mulai mengisi yang sama dengan tegangan


Vout.

Ketika Vkap menuju tegangan positif (VT+) dari schmitt


trigger yaitu sebesar 5 V, maka output

Dari Schmitt akan berubah menjadi rendah (0 V).

Karena Vout 0 V, maka akan terjadi pengosongan


kapasitor terhadap 0 V.

Ketika Vka pdrop menuju tegangan negatif (VT-), maka


output Schmitt akan kembali menjadi tinggi.

Kejadian seperti ini akan terus berulang, dimana saat


pengisian tegangan kapasitor menjadi VT+ dan saat
pengosongan tegangan kapasitor turun menjadi VT-.

Bentuk gelombang dari Vout dan Vkap dapat dilihat pada gambar
dibawah.

Gambar 2 astable multivibrator

Perancangan Rangkaian
Rangkaian multivibrator astabil yang dibuat dengan teknologi film
tebal ini memanfaatkan kombinasi dua buah transistor NPN, dua buah
kapasitor, dan empat buah resistor. Pada rangkaian multivibrator
astabil ini. Dua buah transistor yang digunakan akan dioperasikan
sebagai suatu saklar (switch). Nilai-nilai 4 buah resistor yang
digunakan, yaitu 2 buah digunakan sebagai resistansi kolektor dan 2
buah digunakan sebagai resistansi basis haruslah memiliki nilai
resistansi yang tepat untuk memastikan transistor akan on pada saat
transistor berada dalam keadaan saturasi (on) dan akan off pada saat
berada dalam keadaan cutoff (tersumbat). Resistor-resistor tersebut
akan menentukan besarnya arus basis transistor, nilai arus basis ini
yang akan menentukan apakah transistor akan berada dalam keadaan
saturasi atau berada dalam keadaan tersumbat. Untuk menentukan
periode masing-masing level tegangan keluaran, digunakan resistor
dan kapasitor dengan nilai tertentu.
Rangkaian

multivibrator

astabil

tersebut

menggunakan sepasang transistor NPN

disusun

dengan

yang disusun secara

menyilang sebagai common emitter amplifier. Apabila satu dari dua


transistor tersebut memulai untuk menghantar, maka sinyal umpan
balik kepada basis transistor akan meningkat dan transistor tersebut
akan secepat mungkin berubah menjadi on. Dengan proses yang sama,
transistor kedua akan secepat mungkin berubah menjadi off. Susunan
rangkaian multivibrator astabil tersebut ditunjukkan dalam Gambar 2.

Gambar 3 susunan rangkaian multivibrator astabil

Dalam Gambar 2, keluaran transistor pertama (Q1) yaitu vA,


melalui kapasitor C1 dihubungkan ke masukan transistor kedua (Q2).
Untuk menganalisis rangkaian tersebut, pada awalnya kedua transitor
dianggap dalam keadaan saklar on, kedua transistor tersebut berubah
ke keadaan aktifnya. Kemudian, jika vA meningkat, vC akan mengikutinya. Setelah itu vD akan turun yang akan menyebabkan vB juga
ikut turun, keadaan tersebut akan memperkuat peningkatan di vA. Jika
komponen-komponen yang digunakan untuk menyusun rangkaian
multivibrator tersebut dipilih secara benar, maka dalam satu waktu
satu transistor (Q1) akan bekerja sampai keadaan saturasi (on) dan
transistor lainnya (Q2) akan berada dalam keadaan off. Kondisi
tersebut biasa disebut sebagai suatu kondisi regenerative switch.
Apabila digunakan suatu pendekatan nilai tegangan, maka untuk
transistor yang berada dalam keadaan on:
vA = VCE (on) = 0 V (1)
vB = VBE (on) = 0 V (2)
Sedangkan untuk transistor yang berada dalam keadaan off:
vC < 0 V (3)
vD = VCC (4)
Nilai tegangan-tegangan tersebut seperti yang ditunjukkan dalam
diagram bentuk gelombang dalam Gambar 3, pada t = 0. Sebagai

10

catatan bahwa dengan ujung atas R2 dihubungkan dengan VCC dan


ujung bawah dihubungkan dengan vC (negatif), maka arus akan
mengalir melewatinya. Karena Q2 off, maka arus tersebut harus
mengalir melalui C1 dan Q1 ke bumi, sehingga transistor Q1 akan on.
Bagian yang penting rangkaian multivibrator pada waktu tersebut
ditunjukkan dalam Gambar 4. Nilai vA adalah telah tetap pada sekitar
0 V karena Q1 telah berada dalam keadaan saturasi, sehingga vC akan
meningkat secara eksponensial dari nilai negatif ke nilai VCC dengan t
= C1R2 (dengan menganggap bahwa resistansi kolektor-emitor
transistor Q1 tidak diperhatikan pada saat mengalami keadaan
saturasi).
Ketika vC mencapai nilai 0 V, transistor Q2 menjadi on, sehingga
vD akan turun dan transisi kebalikannya akan terjadi yang
menyebabkan Q1 menjadi off dan Q2 menjadi on. Apabila 4 bentuk
gelombang dalam Gambar 3 dilihat secara rinci lagi, maka akan
menunjukkan bahwa setelah Q2 berubah menjadi on, tegangan
kolektornya (vD) akan turun dari VCC ke 0 V. Penurunan ini
dikonduksikan ke vB melalui C2, sehingga vB juga akan turun melalui
VCC, tetapi penurunan tersebut dimulai dari 0V menuju -VCC.

Gambar 4 Bentuk Gelombang Keluaran Multivibrator Astabil

11

Walaupun vA meningkat dari 0 V ke +VCC, vC tidak dapat


mengikutinya karena vC telah mencapai nilai 0 V dan membawa Q2
menjadi on. vC terpotong setelah basis-emitter junction dari Q2
terhubung (on). Ketika nilai tegangan bagian kanan C2 (Gambar 2)
turun, bagian kiri C2 tersebut dapat mengikutinya karena Q1 adalah off
(rangkaian terbuka). Akan tetapi ketika nilai tegangan bagian kiri C1
meningkat dengan vA, bagian kanan C1 tersebut tidak dapat
mengikutinya karena vC telah terpotong oleh arus basis pada Q2. Hal
tersebut akan menyebabkan C1 harus mengisi muatan melalui R1 oleh
VCC agar vA meningkat dengan (= C1R1 pada bentuk gelombang vA.
Pada saat Q1 off, maka Q2 on, dan vB berada pada nilai -VCC. Arusnya
sekarang mengalir melalui R3 dan C2 dan melalui Q2, sehingga vB
akan meningkat secara eksponensial dari -VCC menuju +VCC dengan
(= C2R3. Ketika vB mencapai nilai 0 V, Q1 akan kembali menhantar
sehingga Q1 akan on dan Q2 off.

Gambar 5 Jalur Arus Melewati C1 ketika Q1 on

Jika dilihat bentuk gelombang vB dalam Gambar 3, periode T1


adalah waktu vB untuk mencapai setengah peningkatan dari -VCC ke
+VCC, yaitu waktu yang digunakan untuk mencapai nilai 0 V.

12

Untuk melihat ketidaksimetrian keluaran rangkaian multivibrator


astabil, ditentukan suatu siklus kerja (duty cycle) berdasarkan
Persamaan (5).

D = W / T x 100% (5)
Besarnya W dan T ditunjukkan dalam Gambar 5 yang merupakan
bentuk gelombang keluaran multivibrator astabil. W merupakan waktu
osilasi keluaran pada saat mencapai tegangan VCC, sedangkan T
merupakan periode osilasi keluaran.

Gambar 6 Bentuk Gelombang Keluaran Multivibrator Astabil

Siklus kerja (duty cycle) selalu berada di antara 50 dan 100 persen,
tergantung pada nilai-nilai komponen kapasitor dan resistor yang
menyusunnya.
Komponen Surface Mount Device (SMD)
Teknologi film tebal tidak dapat digunakan untuk pembuatan
komponen-komponen aktif, seperti: dioda, transistor, dan komponen
semikonduktor lainnya. Oleh karena itu komponen-komponen aktif
yang diperlukan dalam suatu rangkaian elektronika yang dibuat harus

13

ditambahkan sendiri ke dalam rangkaian tersebut. Komponenkomponen aktif yang cocok untuk digabungkan dalam proses
teknologi film tebal ini adalah yang berupa Surface Mount Device
(SMD), karena SMD tidak memerlukan lubang pada substrat untuk
menempelkan kaki-kakinya. Apabila tidak digunakan SMD atau
hanya digunakan komponen standar, komponen-komponen tersebut
tentunya akan memerlukan lubang pada substrat. Proses pelubangan
dilakukan dengan menggunakan pengeboran ultrasonik atau oleh
laser. Proses tersebut memerlukan biaya yang sangat besar, oleh
karena itu agar biaya pembuatan dapat ditekan digunakanlah
komponen SMD yang tentunya tidak memerlukan proses pengeboran
pada substrat.
Penempatan komponen SMD yang digunakan pada substrat adalah
dengan cara penyolderan SMD tersebut yang sebelumnya telah
ditempatkan pada pad konduktor yang telah tercetak. Penyolderan
dilakukan dengan menggunakan pasta solder.
Di

samping

berupa

komponen-komponen

aktif,

SMD

juga

menyediakan komponen-komponen pasif, seperti: resistor, kapasitor,


dan induktor. Komponen-komponen pasif tersebut disediakan untuk
mengantisipasi terbatasnya bahan pasta yang tersedia dalam proses
pembuatan rangkaian hibrida film tebal.
Pembuatan Multivibrator Astabil
Perancangan dimulai dengan penentuan spesifikasi multivibrator
astabil yang akan dibuat.
Penentuan spesifikasi multivibrator astabil ini harus memperhatikan
batasan-batasan yang ada, yaitu:

Jenis pasta yang digunakan adalah pasta konduktor Palladium


Perak dengan nilaii resistansi lembar pasta 20 mW .

14

-1

, pasta

resistor dengan nilai resistansi lembar pasta 10 W .

-1

dan

-1

1000 W . .

Komponen-komponen SMD (kapasitor dan transistor) yang


tersedia adalah kapasitor dengan nilai 10 m F/10V dan
transistor BCW60B yang mempunyai hFE antara 180-310.

Substrat yang digunakan adalah Alumina

Keterbatasan proses, yaitu proses pencetakan (screen printing)


dilakukan secara manual dan tidak dilakukannya proses
trimming pada resistor.

Dengan memperhatikan batasan-batasan tersebut, spesifikasi


multivibrator astabil baru dapat ditentukan setelah komponenkomponen penyusunnya, yaitu resistor, kapasitor, dan transistor
didapatkan nilainya.
Rangkaian multivibrator astabil memiliki 4 resistor yaitu: R1, R2.
R3, dan R4. Untuk membentuk suatu rangkaian yang simetris, R1 dan
R4 haruslah memiliki nilai resistansi yang sama, begitu pula dengan
R2 dan R3. Keempat resistor tersebut harus memiliki nilai resistansi
yang tepat untuk memastikan transistor akan on pada saat transistor
berada dalam keadaan saturasi dan akan off pada saat berada dalam
keadaan cutoff (tersumbat).
Tegangan catu (VCC) yang digunakan ditetapkan sebesar 5 volt,
kemudian R1 dan R4 (resistansi kolektor) ditetapkan bernilai 30 W .
Penentuan nilai-nilai tersebut berdasarkan pertimbangan karakteristik
komponen-komponen SMD yang menyusunnya dan jenis pasta yang
tersedia. Nilai R2 dan R3 (resistansi basis) harus cukup kecil untuk
memastikan transistor akan berada dalam keadaan saturasi pada saat
on.
Untuk menentukan nilai R2 dan R3 (resistansi basis), dilakukan
perhitungan sebagai berikut:

15

R1 dan R4 = RC
R2 dan R3 = RB
Pada kondisi saturasi (transistor on),
IC (sat) = VCC /RC = 5V/30W = 167 mA
IB (sat) = I C (sat) /hFE (min) = 167 mA/180 = 0,928 mA
IB = IB(sat)
IB = 0,928 mA

Supaya transistor berada dalam keadaan saturasi pada saat on, arus
basis IB transistor haruslah lebih besar atau sama dengan IB(sat). Pada
saat arus basis IB transistor nol, transistor akan off dalam keadaan
cutoff (tersumbat). Nilai resistansi basis adalah :
RB1 = (VCC - VBE) / IB(sat) = (5V 0,7V) / 0,928 mA = 4650 W
RB harus (RB1 karena IB harus lebih besar atau sama dengan IB(sat).
Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa nilai R2 dan R3
(resistansi basis) yang diijinkan adalah (4650 W . Untuk mendapatkan
nilai R2 dan R3 yang tepat, yaitu supaya rangkaian multivibrator
astabil yang dirancang dapat menghasilkan bentuk pulsa keluaran
terbaik, maka digunakan bantuan komputer dengan memanfaatkan
software Spice untuk mensimulasikan rangkaian multivibrator astabil
tersebut.
Dalam listing Spice, transistor yang digunakan adalah tipe 2N4124
yang memiliki banyak persamaan dengan tipe BCW60B yang
digunakan dalam pembuatan rangkaian multivibrator astabil ini.
Digunakannya transistor 2N4124 dalam listing tersebut dikarenakan
dalam library Spice tidak terdapat transistor BCW60B.
Berdasarkan hasil simulasi maka dapat ditentukan spesifikasi
multivibrator astabil yang akan dibuat, yaitu:

16

Catu daya = DC 5 volt

Duty cycle (siklus kerja) osilasi keluaran = 50 %

Periode osilasi keluaran = 7 ms

Frekuensi osilasi keluaran = 142,86 Hz

Perancangan Resistor
Rangkaian multivibrator astabil ini terdapat 4 buah resistor, yaitu
R1, R2, R3, dan R4, dengan R1 = R4 dan R2 = R3. Berdasarkan hasil
perancangan, ditunjukkan bahwa R1 = R4 = 30 (dan R2 = R3 = 500 W .
Untuk R1 dan R4 digunakan pasta resistor dengan nilai resistansi
lembar pasta 10W .&157; -1, sedangkan untuk R2 dan R3 digunakan
pasta resistor dengan nilai resistansi lembar pasta 1000 W .&157; -1.
Untuk R1 dan R4 yang mempunyai nilai resistansi 30 (dan
menggunakan pasta resistor dengan nilai resistansi lembar pasta 10W
. -1, dapat diketahui aspek rasio (perbandingan L/W)
R = Rs x (L/W)
(L/W) = R/Rs = 30/10 = 3
Sedangkan untuk R2 dan R3 yang mempunyai nilai resistansi 500
(dan menggunakan pasta resistor dengan nilai resistansi lembar pasta
1000 W . -1, aspek rasio dimensi resistor tersebut adalah:
R=Rsx(L/W)
(L/W)=R/Rs=500/1000=1/2
Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa aspek rasio dimensi
resistor-resistor yang dirancang masih berada dalam batas yang
diijinkan, yaitu berada di antara 1/3 dan 3.
Setelah diketahui aspek rasio masing-masing resistor, langkah
selanjutnya adalah menghitung panjang (L) dan lebar (W) dimensi
resistor-resistor tersebut. Perhitungan didasarkan pada peraturan

17

penggunaan dimensi minimum. Untuk resistor, dimensi minimum


berdasarkan aturan perancangan yang ada adalah LxW = 1mm x 1mm.
Berdasarkan aturan perancangan tersebut, perhitungan dimensi
resistor-resistor adalah sebagai berikut:
Untuk R1 dan R4,
Aspek rasio = 3,
L/W = 3/1, dimensi terkecil adalah bagian lebar (W) = 1 mm,
berarti L = 3 mm, W = 1 mm.
Untuk R2 dan R3,
Aspek rasio = ,
L/W = , dimensi terkecil adalah bagian panjang (L) = 1 mm,
berarti L = 1 mm, W = 2 mm.
Setelah ditentukan dimensi masing-masing resistor, hal lain yang
perlu diperhatikan adalah masalah disipasi daya resistor. Dalam
perancangan resistor ini harus diketahui berapa besar daya maksimum
yang dapat didisipasi oleh masing-masing resistor agar kerja
rangkaian normal dan usia resistor lebih panjang.

Perancangan Konduktor
Konduktor yang dirancang dalam pembuatan multivibrator astabil
film tebal ini berfungsi sebagai: jalur interkoneksi antar komponen,
terminal resistor, pad devais (SMD), dan pad eksternal. Dalam
perancangan ini ditetapkan aturan sebagai berikut :

Konduktor berbentuk segiempat dengan membentuk sudut


90(dan 0(dari arah penyaputan (paralel dengan tepi
substrat) supaya hasil konduktor yang tercetak tidak
melebar atau mblobor.

18

Jalur konduktor diusahakan sependek mungkin, lebar jalur


konduktor 0,5 mm (mi-nimum 0,4 mm) dan jarak antar
jalur konduktor diusahakan lebih besar dari 0,4 mm.

Untuk terminal resistor, konduktor dirancang lebih besar


0,5 mm ke segala arah dari ujung-ujung resistor (minimum
0,4 mm).

Untuk pad komponen, konduktor dirancang lebih besar


dari 0,5 mm ke segala arah dari kaki-kaki komponen
(minimum 0,25 mm). Komponen SMD yang digunakan
sebanyak 4 buah, yaitu 2 buah kapasitor (masing-masing 2
kaki) dan 2 buah transistor (masing-masing 3 kaki).

Untuk pad eksternal, konduktor dirancang sebesar 1,5 mm


x 2 mm. Pada rangkaian ini dibuat 4 buah pad eksternal,
yaitu untuk tegangan catu, ground, keluaran 1,dan keluaran
2.

Pada rangkaian ini diperlukan suatu jalur crossover yang


menghubungkan antara kapasitor 2 (negatif) dan transistor 1 (basis).
Sebagai

jalur crossover tersebut

digunakan

kawat,

sehingga

diperlukan 2 buah pad untuk menyolder ujung-ujung kawat tersebut.


Masing-masing pad berukuran 0,5mm x 0,5mm dan berhubungan
langsung dengan pad komponen yang dihubungkan.
Perancangan Layout Multivibrator Astabil
Setelah masing-masing resistor dan konduktor telah ditetapkan
bentuk dan ukurannya (berdasarkan aturan perancangan). selanjutnya
dilakukan perancangan layout keseluruhan rangkaian multivibrator
astabil. Perancangan layout ini dilakukan dengan menggunakan
bantuan komputer, software yang digunakan adalah Visio Technical
versi 4.5 for Win95. Dalam perancangan ini diusahakan bentuk
seluruh rangkaian dalam ukuran yang sekecil mungkin dan simetris
supaya tampak baik, akan tetapi tidak boleh bertentangan dengan

19

aturan perancangan yang ditetapkan. Berdasarkan aturan perancangan,


untuk mempermudah penggambaran rancangan dan memberikan
ketelitian yang lebih baik, ukuran layout yang dibuat merupakan
perbesaran dari ukuran yang sebenarnya. Pada penggambaran
rancangan ini, ukuran layout merupakan perbesaran 4 kali dari ukuran
yang sebenarnya.

Gambar 7 Perancangan Layout: (a) Resistor 30 ((R1 dan R4) ; (b) Resistor 500 ((R2 dan R3) ; (c) Konduktor.

Dari perancangan layout tersebut akan didapatkan 3 bagian layout


yang terpisah yaitu 2 layout resistor (30 (untuk R1 dan R4 dan 500
(untuk R2 dan R3) dan 1 layout konduktor. Dibuat layout resistor
dalam 2 bagian yang terpisah karena masing-masing nilai resistansi
menggunakan pasta resistor yang berbeda nilai resistansi lembar
pastanya sehingga dalam proses pencetakan diperlukan 2 buah screen
yang berbeda untuk masing-masing nilai tersebut. Hasil perancangan
layout tersebut kemudian dicetak di atas kertas putih dengan
menggunakan printer laser agar didapatkan hasil yang baik. Gambar 6
menunjukkan hasil perancangan layout resistor dan konduktor dalam
ukuran yang sebenarnya.

20

Gambar 8 bentuk gelombang multivibrator astable

2.2.2 Monostable Multivibrator

Monostable multivibrator ini mempunyai sebutan lain yaitu ekamantap one-shot, atau monoflop. Sesuai dengan namanya,
rangkaian multivibrator monostabil mempunyai keluaran dengan
satu keadaan stabil (mantap). Rangkaian multivibrator ini tetap
dalam keadaan stabil sampai ada pemicu. Apabila sekali saja
multivibrator monostable ini dipicu, keluarannya akan berubah dari
keadaannya yang semula yaitu stabil menjadi keadaan tak stabil
(keadaan baru). Kadaan tak stabil ini bertahan selama waktu
tertentu dan setelah itu dengan sedirinya kembali ke keadaan
stabilnya lagi.
Disebut quasistable apabila rangkaian multivibrator membentuk
suatu pulsa tegangan keluaran sebelum terjadi peralihan tingkat
tegangan keluaran ke tingkat lainnya tanpa satupun pemicu dari
luar. Pulsa tegangan itu terjadi selama 1 periode (T1), yang lamanya
ditentukan

oleh

komponen-komponen

multivibrator tersebut.

21

penyusun

rangkaian

Ketika rangkaian multivibrator mengalami peralihan di antara


dua tingkat keadaan tegangan keluarannya maka keadaan tersebut
disebut sebagai keadaan unstable atau kondisi transisi.
Multivibrator stabil merupakan rangkaian yang penting, bahkan
sangat penting, untuk membangkitkan pulsa yang dapat diatur
polaritas dan lebarnya pada amplitudo tetap.
Monostabil dapat dibuat dengan menggunakan gerbang logika
NAND yang dilengkapi dengan resistor dan kapasitor sebagai
komponen pewaktunya terdapat dua jenis monostabil yaitu :
1. Monostabil terpicu positif ,dan
2. Monostabil terpicu negatif.

Gambar 9 rangkaian monostabil terpicu positif

Masukan pemicu mula-mula dianggap T=0, keluaran

=1, dan

keluaran Q=0. perhatikan keluaran dari NAND-2 dalam keadaan 1


sehingga K=1. pada saat masukan T berubah dari 0 ke 1 (terpicu
positif), tentu saja kedua masukan NAND-1 ada pada keadaan 1,
sehingga

berubah dari 1 ke 0. tetapi begitu T berubah dari 0 ke 1,

maka keluaran dari NAND-2 juga berubah menjadi 0. muatan pada


kapasitor C yang mula-mula memberikan K=1 sedikit demi sedikit
dikosongkan melalui resistor R sehingga tegangan pada K turun
menjadi 0. perubahan K dari 1 ke 0 ini akan melewati tegangan

22

ambang yang akan menyebabkan K dianggap 0. pada saata ini,


keluaran NAND-1, yaitu

akan kembali ke keadaan 1 lagi (keadaan

sebelum dipicu). lama pulsa t (keadaan tak stabil) di

tersebut

tergantung pada resistansi R dan kapasitansi C yang terpasang,


berlaku t=RC.
Karena NAND-3 berperan sebagai NOT, maka antara
saling komplemen, artinya

dan Q

=1 maka Q=0, dan sebaliknya jika

=0

maka Q=1. Kelemahan dari monostabil terpicu positif adalah adanya


syarat agar pulsa pemicu di T harus lebih lama dari pulsa keluaran di
hal ini dikarenakan oleh adanya hubungan langsung antara T
dengan salah satu masukan NAND-1 yang menyebabkan jika T=0
maka

=1. Sehingga jika T berubah ke 0 lagi sebelum pulsa pemicu

T mencapai tegangan ambang maka lebar pulsa keluaran

tidak

cepat samadengan R.C dan tentu saja harga t (lama tak stabil) pasti
kurang dari R.C. Jenis lain dari monostabil adalah yang terpicu
negative (dipicu dari 1 ke nol). Cara menyusunnya antara lain dengan
menambahkan NAND-4 seperti gambar dibawah ini:

Gambar 10 rangkaian monostabil terpicu negatif menggunakan gerbang logika NAND

Mula-mula T=1 dan

= 1, keadaan ini adalah stabil. jika T

berubah dari 1 ke nol maka keluaran NAND-4 dalam keadaan 1(A=1).


Karena masukan NAND-1 keduanya dalam keadaan 1 maka

= 0.

selanjutnya tegangan di titik B semakin lama semakin turun akibat

23

lucutan muatan pada C melalui R . sehingga pada saat melewati


tegangan ambang membuat
keluaran

=1 kembali semula. dengan demikian

menjadi tidak tergantung pada perubahan masukan T dari

0 ke 1, oleh karenanya benar-benar berlaku bahwa lama keadaan tak


stabilnya adalah t = R.C. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat bentuk
pulsa monostabil terpicu positif dan terpicu negative pada gambar
berikut:

Gambar11a pulsa monostabil terpicu positif

Gambar 11b pulsa monostabil negatif

24

Masih banyak cara untuk menyusun monostabil dari gerbang


logika lain, seperti NOT ataupun NOR bahkan menggunakan NAND
dengan konfigurasi yang berbeda-beda. Pada gambar 9.4 tampak
rangkaian monostabil dari gerbang NAND dengan konfigurasi yang
berbeda dengan sebelumnya. Misalnya mula-mula

adalah stabil

dalam keadaan 1. Ketika pulsa sempit 0 dikenakan pada masukan A,


maka keluaran NAND-1 menjadi 1 dan melalui C2 memuat kedua
masukan NAND-2 dalam keadaan 1. Hal ini menghasilkan keluaran
pada NAND-2 menjadi 0 yang menjamin keluaran NAND-1 tetap 1
meskipun pulsa masukan telah berakhir. Sekarang C2 membuang
muatan melalkui R2 dan dengan demikian kedua masukan NAND-2
menjadi 0. Keadaan ini membuat keluran NAND-2 menjadi 1 dan
keluaran NAND-1 menjadi1. Akhirnya rangkaian tersebut mencapai
keadaan stabilnya lagi dengan masukan NAND-1 dalam keadaan 1
dan keluaran NAND-2 juga 1. Lama monostabil tersebut dalam
keadaan tidak stabil ditentukan oleh nilai R2 dan C2.

Gambar 12 monostable multivibrator yang dibangun dengan gerbang NAND

Cara kerja rangkaian tersebut adalah:

Ketika tegangan diberikan, anggaplah bahwa dalam


keadaan tinggi, Q=rendah,=tinngi dan pada C terjadi
pengosongan tegangan sehingga titik D=tinggi.

Jika diberikan pulsa negatif pada, maka Q menjadi tinggi


dan = rendah.

25

Tegangan kapasitor akan berubah dengan segera dan titik D


akan drop menjadi 0 V.

Karena pada titik d = 0 V, maka akan menyebabkan salah


satu input pada gerbang 1 menjadi rendah, meskipun di
trigger menjadi tinggi. Oleh karena itu Q tetap dalam
keadaan tinggi dan = rendah.

Beberapa lama kemudian akan terjadi pengisian kapasitor


terhadap VCC. Ketika tegangan kapasitor pada titik D
menuju level tegangan input (VIH) dari gerbang 1 dalam
keadaan tinggi, maka Q akan menjadi rendah dan menjadi
tinggi.

Rangkaian kembali pada state yang stabil, sampai


munculnya sinyal trigger dari. Dan pada kapasitor terjadi
lagi pengosongan tegangan 0 V.

Bentuk gelombang pada gambar menunjukkan karakteristik


input/output dari rangkaian dan akan digunakan untuk membangun
suatu persamaan untuk menentukan tw.Pada kondisi state stabil( =
tinggi), tegangan pada titik D akan sama dengan VCC.

Sinyal Triger Dan Output Monostable

Gambar 13 bentuk gelombang input/output untuk rangkaian monostable


multivibrator dengan menggunakan gerbang NAND

26

Bentuk gelombang pada gambar menunjukkan karakteristik


input/output dari rangkaian dan akan digunakan untuk membangun
suatu persamaan untuk menentukan tw.Pada kondisi state stabil( =
tinggi), tegangan pada titik D akan sama dengan VCC
Multivibrator sinyal input multivibrator,output multivibrator
monostabil,bentuk output one-shoot multivibrator,timing diagram
one-shoot multivibrator,perbandingan input output multivibrator
monostabil,diagram waktu mutlivibrator monostabil,timing diagram
monostable multivibrator,waktu one-shoot multivibrator,rumus T oneshoot multivibrator Saat basis Q2 pada rangkaian multivibrator
monostable menerima negative spike, ini akan membawa transistor ke
arah cutoff. Ini akan mengakibatkan tegangan kolektor Q2 naik
dengan cepat ke harga +VCC dan membuat basis Q1 menjadi positif.
Saat Q1 berkonduksi, sehingga resistansi sambungan kolektor-basis
menjadi sangat rendah. Arus pengisian mengalir melewati Q1, C1 dan
R2. Kaki R2 bagian bawah menjadi negatif akibat pengisian C1 dan
mengakibatkan basis Q2 negatif. Q2 tetap berada pada keadaan cutoff.
Proses ini akan tetap berlangsung sampai C1 terisi. Arus pengisian
lewat R2 kemudian akan menurun dan bagian atas R2 menjadi positif.
Q2 secepatnya menjdi berkonduksi dan membawa Q1 cutoff.
Rangkaian multivibrator monostable kembali berubah pada kondisi
stabil dan akan terus dipertahankan sampai ada pulsa masukan pemicu
berikutnya datang.
Rangkaian Monostable Multivibrator Pada saat pertama kali
sumber tegangan DC diberikan ke rangkaian multivibrator monostable
diatas. Awalnya tidak ada pulsa masukan pemicu, Q2 mendapatkan
bias maju dari rangkaian pembagi tegangan R2, D1 dan R5. Harga R2
dipilih agar Q2 mencapai titik jenuh. Resistor R1 dan R3 masingmasing membuat kolektor Q1 dan Q2 mendapat bias mundur. Dengan
basis Q2 mendapat bias maju, maka transistor menjadi jenuh dengan
cepat. Tegangan kolektor Q2 drop kenilai sangat rendah dan

27

terhubung ke basis Q1 melalui R4. Namun VB tidak cukup besar


untuk membuat Q1 berkonduksi. Karenanya rangkaian akan tetap
berada pada kondisi ini selama daya masih diberikan, sehingga
rangkaian berada pada kondisi stabil sampai ada sinyal picu (triger)
yang diberikan ke jalur input rangkaian multivibrator monostabil.
Untuk mengawali suatu perubahan, pulsa pemicu harus diberikan pada
jalur input rangkaian monostable multivibrator. C2 dan R5 pada
rangkaian masukan membentuk jaringan deferensiator. Tepi kenaikan
(leading edge) dari pulsa pemicu menyebabkan terjadinya aliran arus
yang besar melalui 5 R . Setelah C2 mulai termuati arus lewat R5
mulai menurun. Saat pulsa pemicu sampai pada tepi penurunan
(trailing edge), tegangan C2 jatuh ke nol. Dengan tidak adanya sumber
tegangan yang dikenakan pada C2 , kapasitor akan terkosongkan
melalui R5. Karena pulsa dengan polaritas berkelablikan terjadi pada
tepi penurunan pulsa input. Pulsa input kemudian berubah ke positif
dan suatu pulsa negatif tajam (negative spike) muncul pada R5. D1
hanya berkonduksi selama terjadi negative spike dan diumpankan
pada

basis

Q2.

Ini

mengawali

terjadinya

perubahan

pada

multivibrator. Gambar berikut merupakan diagram waktu antar pulsa


pemicu dan keluaran yang dihasilkan monostable multivibrator. Sinyal
Triger Dan Output Monostable Multivibrator Saat basis Q2 pada
rangkaian multivibrator monostable menerima negative spike, ini akan
membawa transistor ke arah cutoff. Ini akan mengakibatkan tegangan
kolektor Q2 naik dengan cepat ke harga +VCC dan membuat basis Q1
menjadi positif. Saat Q1 berkonduksi, sehingga resistansi sambungan
kolektor-basis menjadi sangat rendah. Arus pengisian mengalir
melewati Q1, C1 dan R2. Kaki R2 bagian bawah menjadi negatif
akibat pengisian C1 dan mengakibatkan basis Q2 negatif. Q2 tetap
berada pada keadaan cutoff. Proses ini akan tetap berlangsung sampai
C1 terisi. Arus pengisian lewat R2 kemudian akan menurun dan
bagian atas R2 menjadi positif. Q2 secepatnya menjdi berkonduksi
dan membawa Q1 cutoff. Rangkaian multivibrator monostable

28

kembali berubah pada kondisi stabil dan akan terus dipertahankan


sampai ada pulsa masukan pemicu berikutnya datang.

Gambar 14 Bentuk gelombang monostable multivibrator

2.2.3 Bistable Multivibrator

Bisatable Multivibrator ditrigger oleh sebuah sumber dari luar


(external source) pada salah satu dari dua state digital. Ciri khas dari
multivibrator ini adalah state-nya tetap bertahan pada nilai tertentu,
sampai ada trigger kembali yang mengubah ke nilai yang berlawanan.
SR

Flip-flop

adalah

contoh

multivibrator

bistable.

Bistable

multivibrator mempunyai dua keadaan stabil.


Pulsa pemicu masukan akan menyebabkan rangkaian diasumsikan
pada

salah

satu

kondisi

stabil.

Pulsa

kedua

akan

menyebabkan terjadinya pergeseran ke kondisi stabil lainnya.


Multivibraator tipe ini hanya akan berubah keadaan jika diberi pulsa

29

pemicu. Multivibrator ini sering disebut sebagai flip-flop. Ia akan


lompat ke satu kondisi (flip) saat dipicu dan bergeser kembali ke
kondisi lain (flop) jika dipicu. Rangkaian kemudian menjadi stabil
pada suatu kondisi dan tidak akan berubah atau toggle sampai ada
perintah dengan diberi pulsa pemicu. Multivibrator ini disebut juga
dengan flip flop atau latch (penahan) yang mempunyai dua state. Flip
flop merupakan elemen dasar dari rangkaian logika sekuensial. Output
dari flip flop tergantung dari keadaan rangkaian sebelumnya.
Keadaan stabil pertama adalah bila Tr1 tidak menghantar, maka
Basis Tr2 pasti pada posisi low dan berarti Tr2 menghantar. Keadaan
ini stabil sampai ada switching pulse yang mengakibatkan Tr1
menghantar, dengan begitu Tr2 tidak menghantar dan terjadilah
keadaan stabil kedua.
Merancang Multivibrator

Digital

Dengan

Gerbang

Logika

Dalam elektronika digital saklar transistor dikembangkan menjadi


gelombang-gelombang

logika,

selanjutnya

gelombang

logika

dikembangkan menjadi berbagai bentuk multivibrator. Ada empat


macam multivibrator tiga diantaranya yaitu: astabil, monostabil dan
picu Schmitt.
Astabil berfungsi sebagai osilator relaksasi yang dapat digunakan
sebagai pembangkit isyarat dan pembangkit Clock. Monostabil
mempunyai satu keadaan stabil sehingga dapat digunakan untuk
menghasilkan pulsa dengan lebar tertentu oleh adanya transisi logika.
Sedangkan Picu Schmitt berubah keadaan bila isyarat masukan
melampaui suatu harga tegangan tertentu. Picu Schmitt tak lain adalah
komparator dengan histeresis sehingga dapat digunakan sebagai
komparator jendela dengan waktu naik yang cepat serta dapat
digunakan sebagai astabil.

Ciri ciri dari multivibrator bistable adalah :

Multivibrator bistabil adalah multivibrator yang memiliki


dua keadaan stabil.

30

Tidak adanya waktu pengisian/pengosongan karena tidak


memiliki kapasitor, sehingga waktu aktif dari komponen
penguat diatur oleh pemicu (trigger) eksternal.

Memiliki dua keadaan set dan reset yang menyebabkan


pada keadaan awal komponen-komponen aktif menghantar.

Gambar 15 Rangkaian Multivibrator Bistabil (BJT)

Cara kerja multivibrator bistable :

Pada awal rangkaian diaktifkan, kedua transistor berada dalam


keadaan aktif karena tak adanya kapasitor.

Jika ada masukan denyut pemicu dari terminal set, maka Q1


akan berada pada daerah aktif, sedangkan Q2 akan berada pada
daerah cut-off.

Jika ada masukan denyut pemicu dari terminal reset, maka


Q2 akan berada pada daerah aktif, sedangkan Q1 akan berada
pada daerah cut-off.

31

Gambar 16 Rangkaian Multivibrator Bistabil (Op-Amp)

Ada/tidaknya denyut masukan dari terminal VIN mempengaruhi nilai


keluaran (output) dari op-amp, di mana jika ada sinyal masukan pada
terminal masukan negatif op-amp, maka akan timbul nilai 1 pada
terminal keluaran dan begitu juga sebaliknya untuk nilai 0 pada
keluaran diperoleh dengan meniadakan sinyal masukan pada terminal
masukan negatif.

Kegunaan dari multivibrator bistabil antara lain:

Membangkitkan dan memproses sinyal-sinyal denyut.

Melakukan operasi-operasi seperti penyimpanan bit data dan


operasi logika (aljabar Boole)

Pembentuk sistem memori dalam bentuk flip-flop RS atau JK.

32

Gambar 17 Bentuk gelombang multivibrator bistabil

33

BAB III
PENUTUP

4.1 Simpulan

Multivibrator adalah suatu rangkaian yang terdiri dari dua buah piranti
aktif dengan keluaran yang saling berhubungan dengan masukan yang
lain. Pada dasarnya ada 3 jenis dari multivibrator, yaitu:

Astable Multivibrator Astable multivibrator atau disebut


freerunning multivibrator adalah mutivibrator yang tidak
mempunyai stable state yang permanen. Setiap transistor secara
bergantian saturated dan cut off.

Monostable Multivibrator Multivibrator monostable : disebut


juga multivibrator one-shoot, menghasilkan pulsa output tunggal
pada waktu pengamatan tertentu saat mendapat trigger dari luar.

Bistable Multivibrator Bisatable Multivibrator : ditrigger oleh


sebuah sumber dari luar (external source) pada salah satu dari
duastatedigital.

34

DAFTAR PUSTAKA

1) http://id.wikipedia.org/wiki/Multivibrator diakses pada tanggal 30


September 2014 pada pukul 14.00 WIB
2) http://wahyukr.staff.gunadarma.ac.id

diakses

pada

tanggal

30

September2014 pada pukul 14.15 WIB


3) http://davidmaulanamakruf.wordpress.com/2013/09/27/multivibratordan-multivibrator-monostabil/ diakses pada tanggal 30 September
2014 pada pukul 15.00 WIB
4) http://elektronika-dasar.web.id/rangkaian/monostable-multivibrator/
diakses pada tanggal 7 Oktober 2014 pada pukul 15.00 WIB
5) http://lecturer.eepisits.edu/~prima/elektronika%20digital/elektronika_d
igital2/bahan-ajar/bab5-multivibrator.pdf diakses pada tanggal 7
Oktober 2014 pada pukul 15.30 WIB
6) http://Henryranu.files.wordpress.com diakses pada tanggal 10 Oktober
2014 pada pukul 10.08 WIB
7) http://wahyu.staff.gunadarma.ac.id diakses pada tanggal 10 Oktober
2014 pada pukul 11.20 WIB
8) http://imamst1.files.wordpress.com diakses pada tanggal 10 Oktober
2014 pada pukul 11.30 WIB

35